PPOK
Kelompok 10
1. Dhaneswara Pradipta S. 1361050058
2. Mawar Suci 1361050067
3. Anastasia Basaria 1361050073
4. Jack Benjamin Nalle 1361050120
5. Iglesia Rawati 1361050160
6. Risky Wulandari 1361050181
7. Benedick Johanes Alvian 1361050223
8. Daniels 1361050243
9. Yeni Rosa Sitohang 1361050247
Tujuan pembelajaran
1. Definisi & Epidemiologi
2. Klasifikasi PPOK
3. Etiologi & faktor resiko
4. Manifestasi klinis
5. Patofisiologi PPOK
6. Pemeriksaan
7. Penatalaksanaan PPOK
PPOK
Definisi &
Epidemiologi
DEFINISI
Definisi PPOK
◦Penyakit paru kronik, ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran nafas yang progresif.
(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia)
◦Penyakit kronis yang ditandai dengan batuk produktif, dispneu & obstruktif saluran nafas
Definisi
Emfisema
Adalah penyakit yang ditandai dengan pelebaran dari alveoli yang diikuti oleh
destruksi dari dinding alveoli.
Batuk berulang dan
berdahak selama lebih dari
3 bulan setiap tahun dalam
periode paling sedikit
3tahun. Hipersekresi dan
tanda-tanda adanya
penyumbatan saluran
napas yg kronik
merupakan tanda dari
penyakit ini.
Ilmu Penyakit Paru-Prof.dr.H.Tabrani Rab
Klasifikasi PPOK berdasarkan Global Initiative for Chronic Lung Disease (GOLD, 2006)
Derajat
Karakteristik
0 : Beresiko Spirometri normal
Gejala kronik (batuk, produksi sputum)
1 : Ringan
FEV1/FVC <70% , FEV1 ≥ 80%
Dengan atau tanpa gejala kronik (batuk, produksi sputum)
2 : Sedang
FEV1/ FVC < 70% FEV1 ≥30%-80% (IIa) FEV1 ≥50%-80% (Iib) FEV1 ≥ 30%-50%
Dengan atau tanpa gejala kronik (batuk, produksi sputum, sesak)
3 : Berat
FEV1/FVC <70%
Klasifikasi GOLD, 2008
Stage 1: PPOK ringan
Keterbatasan airflow ringan (FEV1/FVC < 70%, FEV1 ≥ 80% predicted), dan kadang, tapi tidak selalu, batuk dan produksi sputum kronik.
Pada tahap ini individu tidak menyadari bahwa fungsi parunya abnormal.
Stage 2: PPOK Sedang
Keterbatasan airflow memburuk (FEV1/FVC < 70%, 50% ≤ FEV1 < 80% predicted), timbul sesak napas setelah aktivitas (exertion)
Pada tahap ini individu biasanya mulai mencari pengobatan karena gejala pernapasan kronik atau eksaserbasi.
Stage 3: PPOK berat
Keterbatasan airflow makin memburuk (FEV1/FVC < 70%, 30% ≤ FEV1 < 50% predicted), sesak napas makin berat, kemampuan latihan menurun, dan eksaserbasi berulang yang berdampak pada kualitas hidup pasien.
Stage 4: PPOK sangat berat
Keterbatasan airflow sangat berat (FEV1/FVC < 70%, FEV1 < 30% predicted) atau FEV1<50% dengan gagal napas kronik.
KLASIFIKASI PPOK (COPD)
menurut GOLD 2010
,
I : Gejala klinis : gejala batuk kronik dan sputum (+), tetapi tidak sering. pasien sering tidak menyadari bahwa fungsi paru sudah menurun;
PFT : FEV1/FVC <70 %, DAN FEV1>= 80% predicted
II: Gejala klinis : sesak mulai dirasakan saat aktivitas dan kadang ditemukan gejla batuk dan produksi sputum; pasien sudah mulai datang berobat
PFT : FEV1/FVC <70 %, 50%<FEV1<80%
III : Gejala klinis : gejala sesak lebih berat; penurunan aktivitas, rasa lelah dan serangan eksaserbasi semakin sering (*) dan berdampak pada QOL.
PFT : FEV1/FVC<70%, 30%<FEV1<50%
IV :Gejala klinis : gejala di atas, ditambah dengan gejala-gejala GAGAL NAPAS atau GAGAL JANTUNG KANAN dan ketergantungan oksigen. Pada derajat ini, QOL px memburuk, dan pada eksaserbasi, pasien dapat meninggal (mengancam jiwa).
Klasifikasi menurut PDPI,
2005
1. PPOK Ringan
Gejala klinis:
- Dengan atau tanpa batuk
- Dengan atau tanpa produksi sputum.
- Sesak napas derajat sesak 0 sampai derajat sesak 1 Spirometri:
- VEP1 • 80% prediksi (normal spirometri) atau - VEP1 / KVP < 70%
2. PPOK Sedang
Gejala klinis:
- Dengan atau tanpa batuk
- Dengan atau tanpa produksi sputum.
- Sesak napas : derajat sesak 2 (sesak timbul pada saat aktivitas). Spirometri:
- VEP1 / KVP < 70% atau
3. PPOK Berat
Gejala klinis:
- Sesak napas derajat sesak 3 dan 4 dengan gagal napas kronik.
- Eksaserbasi lebih sering terjadi
- Disertai komplikasi kor pulmonale atau gagal jantung kanan. Spirometri:
- VEP1 / KVP < 70%,
- VEP1 30% dengan gagal napas kronik
Gagal napas kronik pada PPOK ditunjukkan dengan hasil pemeriksaan analisa
gas darah, dengan kriteria:
ETIOLOGI &
Faktor Resiko PPOK
Kebiasaan merokok
Riwayat infeksi saluran
pernapasan
Polusi udara
Tujuan mengerutkan bibir
◦ Meningkatkan ventilasi
◦ Menjaga salran udara terbuka lebih lama dan mengurangi kerja pernafasan
◦ Memperlambat laju pernafasan
Hipoksia
kronik vasodilatasi
Penambahan jaringan ikat
Bagian jaringan lunak
PATOFISIOLOGI
Anamnesis
- Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan
- Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja
- Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, mis berat badan lahir rendah (BBLR), infeksi
saluran napas berulang, lingkungan asap rokok dan polusi udara
- Batuk berulang dengan atau tanpa dahak
Pemeriksaan fisik
inspeksi
1. Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu)
2. - Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding)
3. - Penggunaan otot bantu napas
4.
-4. Hipertropi otot bantu napas
5. - Pelebaran sela iga
6. - Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut
Pemerik
saan fis
ik
(inspek
si)
Pursed l
ips brea
Pemerik
saan fis
ik
(inspek
si)
Pink pu
fer & b
lue
palpasi
◦ Pada emfisema fremitus melemah
perkusi
◦ hipersonor
◦ batas jantung mengecil,
◦ letak diafragma rendah,
auskultasi
◦ suara napas vesikuler normal, atau melemah
◦ - terdapat ronki / mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa
◦ - ekspirasi memanjang
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Pemeriksaan Penunjang
Rutin
◦ Faal paru (spirometri dan uji bronkodilator)
◦ Radiologi (foto toraks)
◦ Laboratorium darah
Tidak Rutin
◦ Faal paru
◦ Uji coba kortikosteroid
◦ Analisa gas darah
◦ EKG
◦ Mikrobiologi sputum
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Spirometri
u/ menilai beratnya PPOK dg menggunakan parameter FEV1,
dan memantau perjalan penyakit
◦ PPOK ringan (FEV1 > 80%)
◦ PPOK sedang (50% < FEV1 < 80%)
◦ PPOK berat (30% < FEV1 < 50%)
◦ PPOK sangat berat (FEV1 < 30%)
Uji Bronkodilator dengan
Spirometri
◦ Dilakukan pada PPOK stabil
Radiologi
u/ menyingkirkan diagnosis penyakit paru lainnya
◦ Pada bronkitis kronik:
◦ Normal
◦ Corakan bronkovaskuler
◦ Pada emfisema terlihat:
◦ Hiperinflasi
◦ Hiperlusen
◦ Ruang retrosternal melebar
◦ Diafragma mendatar
Laboratorium Darah
◦ u/ mendeteksi timbulnya polisitemia telah terjadi hipoksia kronik
◦ Hematokrit ↑ (> 55%) : polisitemia
◦ ↑ PaCO2
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Faal Paru
◦ Volume residu (VR), Kapasitas Residu Fungsional (KRF), Kapasitas Paru Total (KPT), VR/KRF, VR/KPT meningkat
◦ DLCO menurun pada emfisema (difusi karbon monoksida, 25-30ml CO/mmHg/menit)
◦ Raw (airway resistance) meningkat ada bronkitis kronik
Uji Coba Kortikosteroid
Menilai perbaikan paru setelah pemberian kortikosteroid
◦ Kortikosteroid oral (prednison / metilprednisolon) 30-50mg per hari selama 2 minggu
◦ Uji dg spirometri: peningkatan FEV1 > 20%
Elektrokardiografi
◦ Mengetahui komplikasi pada jantung
◦ P pulmonal
◦ Deviasi axis ke kanan
◦ “Low voltage” pada emfisema
Mikrobiologi Sputum
◦ Dg perwarnaan Gram dan kultur resistensi u/ mengetahui pola kuman dan u/ memilih antibiotik yang tepat bila terjadi
eksaserbasi
◦ Bakteri gram negatif: Klebsiella sp (paling sering ditemukan), Pseudomonas aeruginosa, Proteus mirabilis
◦ Bakteri gram positf: Streptococcus alfa hemolitycus, Streptococcus penumoniae, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis
◦ Resistensi tertinggi thd antibiotik: Ampicilin
Kadar alfa-1-antitripsin
◦ Dilakukan dg pemeriksaan darah
Tujuan
dan mencegah
penurunan faal
paru
Meningkatkan
kualiti hidup
Penatalaksanaan
6. Rehabilitasi
5. Nutrisi
4. Ventilasi mekanik
3. Terapi oksigen
Edukasi
1. Pengetahuan dasar tentang PPOK
2. Obat - obatan, manfaat dan efek sampingnya
3. Cara pencegahan perburukan penyakit
4. Menghindari pencetus (berhenti merokok)
Obat
Bronkodilator
Anti Inflamasi
Antibiotika
Antioksidan
Mukolitik
Nutrisi
Pemasukan
Kalori
Rehabilitasi
1.Latihan Fisik
2.Psikososial
•
1. Gagal napas
•
a. Gagal napas
kronik
•
b. Gagal napas akut
•
2. Infeksi berulang
•
3. Kor pulmonal
•
4. Pneumotoraks
Daftar Pustaka
1. Kuliah Pakar Tinjauan Fisiologis
Sistim Pernapasan oleh dr. Marwito
2. Ganong, W. F. 2005. Fisiologi
Daftar Pustaka
◦ http://jurnal.fk.unand.ac.id/images/articles/vol3/no3/354-357.pd f
◦ Mark A. Graber, Peter P. Toth, Robert L. Herting, Jr. 2006. Buku Saku Dokter Keluarga UNIVERSITY OF IOWA. Jakarta: EGC.
◦ Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) PEDOMAN DIAGNOSIS &