Makalah dan Pemanasan dan Global

27 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semenjak manusia zaman purbakala sampai dengan zaman sekarang, manusia selalu mengalami perkembangan dalam setiap periode waktu yang dilewatinya. Peradaban manusia sekarang telah mengalami banyak kemajuan. Selama perkembangan itu, manusia menjalani kehidupan dengan bergantung pada pertanian dan agrikultur. Melalui orientasi kehidupan tersebut, manusia selalu berusaha menjaga dan melestarikan lingkungannya dengan sebaik-baiknya yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Manusia sekarang telah mengalami zaman revolusi industri yang menggantungkan kehidupan pada bidang perindustrian. Dengan menggunakan orientasi hidup tersebut, dunia agrikultur pun mengalami kemunduran secara perlahan-lahan.

(2)

Para ahli ilmiah percaya perubahan iklim seperti pemanasan global telah terjadi sepanjang sejarah bumi dan akan terus terjadi di masa depan. Beberapa bukti mengenai terjadinya pemanasan global sudah banyak terlihat saat ini. Indonesia yang terletak di equator, merupakan negara yang pertama akan merasakan dampak pemanasan global. Contohnya saja perubahan iklim yang terjadi di Indonesia. Perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global atau global warming telah menjadi isu besar di dunia. Mencairnya es kutub utara dan kutub selatan yang akan menyebabkan kepunahan habitat di sana merupakan bukti dari pemanasan global. Deretan bencanapun kian panjang seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, gagal tanam dan panen hingga konflik-konflik horizontal di dalam masyarakat

Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha perindustrian yang dilakukan dan telah berkembang pesat saat ini. Dampak negatif ini adalah terjadinya pemanasan di dunia dan sering disebut sebagai Global Warming. Namun, masalah Global Warming sebagai masalah lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa pihak yang menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan untuk membatasi laju perkembangan perindustrian. Masalah Global Warming ini tidaklah dapat diungkiri untuk diteliti dan diteliti lebih lanjut demi kelangsungan kehidupan manusia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana penyebab terjadinya pemanasan global ?

2. Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global ?

3. Bagaimana upaya pencegahan yang ditimbulkan dari pemanasan global ?

1.3 Tujuan Penulisan

(3)

2. Mengetahui dampak yang diakibatkan dari pemanasan global. 3. Mengetahui cara atau upaya pencegahan dari pemanasan global.

1.4 Manfaat Penulisan

1. Memberikan wawasan bagi penulis maupun pembaca terhadap penyebab terjadinya pemanasan global yang dengan sengaja atau tidak terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

2. Memberikan wawasan bagi penulis maupun pembaca dampak yang diakibatkan dari pemanasan global.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pemanasan Global

2.1.1 Pengertian Pemanasan Global Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemanasan berarti proses, cara, perbuatan memanasi atau memanaskan. Sedangkan global berarti bersangkut paut, mengenai, meliputi seluruh dunia. Jadi, pemanasan global yaitu proses menaiknya suhu rata-rata bumi. 2.1.2 Pengertian Pemanasan Global Menurut Lembaga Dunia

Terdapat beberapa lembaga dunia yang mengemukakan definisi dari pemanasan global, diantaranya yaitu Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, Asosiasi Energi New Mexico, Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam, dan National Wildlife Federation. Penjelasannya sebagai berikut:

a. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata di permukaan bumi, baik yang telah berlalu dan yang terjadi pada saat ini.

b. Asosiai Energi New Mexico

(5)

c. Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam

Menurut Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam, pemanasan global adalah krisis lingkungan terbesar dan kemanusiaan yang terjadi saat ini. Atmosfer bumi sangat panas karena terperangkap oleh gas karbon dioksida yang bisa mengancam perubahan iklim dan dapat menyebabkan bencana di permukaan bumi.

d. National Wildlife Federation

Menurut National Wildlife Federation, pemanasan global adalah peristiwa dimana bumi semakin hari panas demi hari, semakin banyak hujan lebat dan banjir, badai yang lebih intens dan kekeringan diperdalam. Peristiwa merupakan dampak nyata yang terjadi sebagai akibat dari pemanasan global di bumi. Pemanasan global juga mengubah lanskap kehidupan di bumi dan mematikan banyak spesies.

2.2 Penyebab Pemanasan Global 2.2.1 Penipisan Lapisan Ozon

Ozon merupakan suatu lapisan oksigen yang tiap molekulnya terdiri atas tiga atom O (rumus kimia: O3). Ozon merupakan gas beracun sehingga apabila berada dekat permukaan tanah akan berbahaya karena akan merusak paru-paru jika terhisap. Sebaliknya, lapisan ozon di atmosfer melindungi kehidupan di Bumi dari bahaya radiasi ultraviolet. Dalam industri, ozon digunakan untuk membunuh kuman, meniadakan pencemaran dalam air (besi, arsen, hidrogen sulfida, nitrit, dan bahan organik kompleks yang dikenal sebagai warna), mencuci, dan memutihkan kain.

(6)

Sebagian besar ozon yang berada dalam lapisan stratosfer inilah yang disebut lapisan ozon. Dengan demikian, lapisan ozon berada pada stratosfer pada ketinggian 19 sampai 48 km.

Pengukuran menunjukkan bahwa ozon sangat sedikit terdapat di atmosfer, yaitu kira-kira satu molekul per satu juta molekul dalam atmosfer bumi. Walaupun ozon yang terdapat dalam stratosfer berjumlah sangat kecil, keberadaanya sangat vital untuk keberlangsungan hidup makhluk hidup di permukaan bumi. Tanpa ozon di stratosfer akan lebih banyak radiasi UV sampai ke permukaan bumi. Radiasi UB menyebabkan mutasi pada hampir semua organisme. Terhadap manusia, radiasi UV berlebih dapat menyebabkan kanker kulit. Tanpa perisai dari lapisan ozon, dipercaya kasus kanker kulit dapat meningkat dengan pesat.

Bagaimana ozon di stratosfer dapat menjadi perisai bumi dari radiasi UV berlebih? Konsentrasi ozon di stratosfer tidaklah statis karena ada proses terus-menerus pembentukan dan pemusnahan ozon. Ozon terbentuk atas bantuan dari sinar UV yang memiliki energi lebih besar daripada cahaya tampak. Pertama, radiasi UV gelombang pendek (energi tinggi) diserap oleh oksigen diatomik (O2) yang berlimpah di atmosfer. Energi ini mampu memecah ikatan kimia pada O2 sehingga menjadi atom O bebas yang bersifat reaktif.

O2 + UV O + O

Reaksi tersebut penting karena :

1. Radiasi UV berenergi tinggi dari sinar matahari telah disaring, 2. Atom O bebas yang reaktif tersebut akan bergabung dengan

oksigen diatomik untuk membentuk ozon, yang akan menyerap radiasi berlebih.

(7)

stratosfer selalu mempertahankan keseimbangan dinamis melalui proses pembentukan dan pemusnahan. Dengan kata lain, jumlah ozon yang terbentuk dan musnah setiap saatnya selalu sama.

Dari sudut pandang pembentukan dan pemusnahan, ozon berfungsi sebagai katalisator yang mengubah energi radiasi dari sinar UV melalui penyerapan dalam pembentukan ozon menjadi panas yang dilepaskan melalui proses pemusnahan ozon. Oleh karena itu, semakin tinggi kita naik ke stratosfer, semakin tinggi suhunya. Hal ini disebabnya semakin banyaknya energi radiasi UV yang diubah menjadi panas oleh ozon.

Pada tahun 1950, ilmuwan memperkenalkan suatu senyawa baru bernama Chlorofluorocarbon (CFC) dengan rumus kimia CF2Cl2 (dikenal dengan nama dagang Freon). Senyawa ini memiliki sifat fisis maupun kimia yang menguntungkan dari aspek teknologi karena sangat stabil, tidak berbau, tidak mudah terbakar, tidak beracun terhadap manusia, serta tidak korosif terhadap logam-logam di sekitarnya. Dengan sifat-sifat yang menguntungkan dan harga CFC yang tidak mahal, CFC sering digunakan terutama untuk mengganti senyawa-senyawa kimia seperti amonia dan sulfur dioksida yang mudah terbakar, beracun, dan berbau menyengat sebagai bahan pendingin dalam mesin pendingin ruangan (AC) maupun lemari pendingin es. Penggunaan lain yang banyak dijumpai dalam keseharian adalah pada pendorong aerosol.

(8)

Pada pertengahan 1970, sebelum lubang ozon ditemukan, sekelompok peneliti menyadari bahwa CFC yang stabil ini dapat menyebabkan kerusakan ozon dalam atmosfer. Seperti telah Anda ketahui bahwa CFC dapat berada di stratosfer selama 100 tahun tanpa mengalami kerusakan. Di lapisan ozon, oleh pengaruh radiasi UV matahari berenergi tinggi, molekul-molekul CFC yang terurai membebaskan atom-atom klorin (Cl). Atom-atom klorin yang dibebaskan bereaksi dengan ozon, dan mengubah ozon menjadi oksigen biasa (O2) dan klorin terbentuk kembali. Jadi, dalam reaksi ini klorin bertindak sebagai katalis. Adapun reaksinya sebagai berikut,

Kata-kata: (ozon + klorin + UV) menjadi (oksigen biasa + klorin). Reaksi Kimia: 2O3 + Cl + UV 3O2 + Cl

Klorin yang terbentuk kembali selanjutnya dapat melakukan reaksi berantai untuk memusnahkan ozon. Hal itu menyebabkan satu atom klorin yang dibebaskan dari CFC dan tinggal di lapisan ozon dapat memusnahkan 100.000 molekul ozon. Walaupun oksigen diatomik (O2) yang terlepas dari ozon nantinya dapat bergabung lagi membentuk ozon, proses ini memerlukan waktu cukup lama, lebih lambat dibandingkan dengan pemusnahan ozon menjadi oksigen diatomik oleh klorin yang dibebaskan dari CFC. Akibatnya, penipisan lapisan ozon tetap berlangsung. Oleh karena itu, kerusakan lapisan ozon yang teramati saat ini kemingkinan besar disebabkan oleh CFC yang sebenarnya sudah terlepas ke atmosfer sejak 20-30 tahun sebelumnya.

(9)

semi di Antartika dan berlanjut selama beberapa bulan sebelum menebal kembali. Studi-studi yang dilakukan dengan balon pada ketinggian tinggi dan satelit-satelit cuaca menunjukkan bahwa persentase ozon secara keseluruhan di Antartika terus menurun.

Dugaan penipisan lapisan ozon oleh CFC semakin diperkuat ketika pada tahun 1986, ilmuwan menemukan daerah-daerah dalam stratosfer dengan jumlah ozon yang sangat rendah. Sebuah libang ozon besar ditemukan di atas Antartika. Lubang ozon yang lebih kecil ditemukan di Kutub Utara.

2.2.2 Rumah Kaca

Berdasarkan urutan panjang gelombang, mulai dari yang terpanjang ke yang terpendek, radiasi sinar matahari dibagi tiga, yaitu infra merah (IM), cahaya tampak, dan ultraviolet (UV). Ketika sinar matahari mengenai kaca sebuah rumah kaca (green house) radiasi dengan gelombang pendek diserap oleh tanah dan tanaman di dalam rumah kaca, dan tanaman menjadi hangat. Tanah dan tanaman yang hangat dapat digolongkan sebagai sumber kalor yang lebih dingin dibandingkan dengan matahari yang suhunya sangat tinggi. Tanah dan tanaman sebagai sumber kalor yang lebih dingin pada gilirannya akan memancarkan kembali kalor yang diserapnya dalam bentuk radiasi IM dengan panjang gelombang yang lebih panjang. Energi dari kalor radiasi IM yang dipancarkan kembali oleh tanah dan tanaman ini tidak mampu menembus kaca. Energi ini diserap oleh molekul-molekul udara dalam kaca sehingga suhu udara dalam rumah kaca meningkat. Ini membuat suhu dalam rumah kaca dapat tetap hangat dibandingkan suhu luarnya. Keadaan ini membuat tanaman

dalam rumah kaca dapat tumbuh subur.

(10)

memantulkan radiasi sinar matahari yang datang padaya. Bumi memantulkan rata-rata 30% dari radiasi matahari, 20% dipantulkan oleh awan, 6% dihamburkan oleh partikel-partikel udara, dan 4% dipantulkan oleh permukaan bumi. Tentu saja persentase yang dipantulkan bumi bergantung pada jangkauan penutupan awan, jumlah debu di atmosfer, dan luas salju serta tumbuh-tumbuhan pada permukaan. Perubahan besar dari variabel-variabel itu dapat meningkatkan atau mengurangi pemantulan radiasi matahari, yang akhirnya mengarah ke peningkatan pemanasan atau pendinginan atmosfer.

Setelah melalui penyaringan, penyerapan, dan pemantulan, hanya setengah dari radiasi matahari yang diserap oleh permukaan bumi. Bebatuan, tanah, dan air menyerap energi radiasi matahari yang sampai kepadanya, sehingga daratan menjadi hangat. Pada giliran material sebagai sumber dingin ini akan memancarkan kembali energi yang diserapnya menuju ke atmosfer dalam bentuk radiasi IM yang memiliki panjang gelombang lebih panjang. Frekuensi radiasi IM yang dipancarkan oleh material-material di permukaan bumi ke atmosfer sesuai dengan beberapa frekuensi alami getaran-getaran molekul-molekul gas rumah kaca (teruatama karbon dioksidan dan uap air).

(11)

angkasa, dan sejumlah radiasi lainnya dipancarkan kembali ke permukaan bumi. Secara total dapat dikatakan bahwa sejumlah kecil radiasi IM menghilang ke luar angkasa, sedangkan sebagian besar diarahkan kembali ke permukaan bumi untuk meningkatkan suhu permukaan bumi.

Proses pemanasan atmosfer bagian bawah oleh penyerapan radiasi gelombang pendek matahari dan pemancaran kembali berbentuk radiasi gelombang panjang infra merah, inilah yang disebut efek rumah kaca (greenhouse effect). Disebut efek rumah kaca karena pemancaran kembali radiasi IM yang dihasilkan permukaan bumi oleh atmosfer menuju ke permukaan bumi kembali untuk menghangatkan bumi mirip dengan terkurungnya radiasi IM yang dipancarkan kembali oleh tanah dan tanaman dalam rumah kaca.

Efek rumah kaca alamiah sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa sehingga seluruh makhluk hidup bisa bertahan hidup di Bumi yang diciptakan-Nya. Jika tidak ada efek rumah kaca alamiah ciptaan Tuhan ini, suhu rata-rata bumi (siang-malam, musim dingin-musim panas) kira-kira akan mencapai -20°C. Jika ini yang terjadi maka kehidupan makhluk hidup seperti saat ini tidak mungkin berlangsung. Dengan kata lain Bumi tidak layak untuk mendukung kehidupan. Sebagai perbandingan, planet Mars dengan lapisan atmosfer tipis dan tidak memiliki efek rumah kaca, bersuhu rata-rata -32°C. Itulah sebabnya kita tidak menjumpai kehidupan di planet Mars.

(12)

dengan panjang gelombang pendek untuk lewat ke dalam rumah kaca. Energi ini diserap oleh tanah dan tumbuh-tumbuhan dan kemudian dipancarkan kembali sebagai radiasi IM dengan panjang gelombang yang lebih panjang. Akan tetapi, radiasi IM ini tidak diijinkan keluar oleh lapisan kaca pada rumah kaca. Dengan kata lain kaca dari rumah kaca “mengurung” radiasi IM yang dipancarkan kembali oleh tanah dan tumbuh-tumbuhan. Sebaliknya, molekul-molekul karbon dioksida dan uap air tidak “mengurung” radiasi IM melainkan terlibat dalam proses penyerapan dinamis dan pemancaran kembali radiasi IM kembali ke arah bawah sehingga meningkatkan suhu permukaan bumi. Semakin banyak molekul-molekul karbon dioksida dan uap air yang terlibat dalam proses dinamis ini, semakin banyak radiasi IM yang diarahkan kembali ke permukaan bumi. Sebagai akibatnya suhu permukaan bumi akan meningkat lebih besar. Sebaliknya, lapisan-lapisan kaca pada rumah kaca tidak meningkatkan suhu dalam rumah kaca secara berarti. Faktor pemanasan dalam rumah kaca sebenarnya adalah lapisan kaca menahan konveksi kalor radiasi tetap dalam rumah kaca. Proses ini tidak terjadi dengan kehadiran karbon dioksida dan uap air di atmosfer.

2.2.3 Efek Umpan Balik

Efek umpan adalah salah satu dari efek rumah kaca yang berpengaruh dari awan dan merupakan dampak dari pemanasan global, dimana lapisan ozon rusak maka sinar matahari tak ada yg menghalanginya, sehingga bumi makin panas.

(13)

Karena uap air tersebut adalah gas rumah kaca, pemanasan akan berkelanjutan dan akan terus menambah kuota uap air di udara hingga tercapainya kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkan lebih besar dari efek CO2 saja.

Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi lebih hangat.Umpan balik ini hanya mempengaruhi lambat karena CO2 memiliki waktu yang lama di atmosfer.

2.2.4 Variasi Matahari

Variasi Matahari adalah perubahan jumlah energi radiasi yang dipancarkan oleh Matahari. Terdapat beberapa komponen periodik yang memengaruhi variasi ini, yang terutama adalah siklus matahari 11-tahunan (atau siklus bintik hitam matahari), selain fluktuasi-fluktuasi lainnya yang tidak periodik. Aktivitas matahari diukur dengan menggunakan satelit selama beberapa dekade terakhir setelah pada waktu sebelumnya pengukuran dilakukan melalui variabel-variabel 'proksi'. Para ilmuan iklim tertarik untuk mengetahui apakah variasi matahari berpengaruh terhadap Bumi.

(14)

berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University memperkirakan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan suhu rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat perkiraan berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari, mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa, bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.

Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.

(15)

persen. Output total matahari yang telah diukur (selama 3 kali periode siklus bintik hitam 11-tahunan) menunjukkan variasi sekitar 0,1% atau sekitar 1,3 W/m2 dari maksimum ke minimum selama siklus bintik hitam 11-tahunan. Jumlah radiasi matahari yang diterima permukaan luar atmosfer Bumi sedikit bervariasi dari nilai rata-rata 1366 watt per meter persegi (W/m2).

Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan beberapa efek perubahan iklim, sebagai contoh selama Maunder Minimum. Sebuah studi tahun 2006 dan review dari beberapa literatur, yang dipublikasikan dalam Nature, menyatakan bahwa tidak terdapat peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari sejak 1970, dan bahwa perubahan output matahari selama 400 tahun terakhir kecil kemungkinannya berperan dalam pemanasan global. Perlu ditekankan, laporan tersebut juga menyatakan, "Selain tingkat "keterangan" matahari, hal-hal lain yang dapat memengaruhi iklim seperti radiasi sinar kosmik atau sinar ultraviolet matahari tidak dapat dikesampingkan, kata penulis tersebut. Akan tetapi, pengaruh-pengaruh lain ini belum dapat dibuktikan, tambah mereka, karena model-model fisik untuk efek-efek ini masih belum sempurna dikembangkan."

2.2.4 Konsumsi Energi Bahan Bakar Fosil

(16)

penduduk yang gaya hidupnya sangat boros, dengan mengonsumsi energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Sebaliknya, negara berkembang mengemisikan sejumlah gas rumah kaca karena akumulasi jumlah penduduk.

2.2.5 Sampah Organik

Sampah organik menghasilkan gas rumah kaca metana (CH4). Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Menurut kementrian lingkungan hidup pada tahun 1995 rata-rata orang Indonesia di perkotaan menghasilkan sampah sebanyak 0,8 kg per hari, dan setiap tahun kecenderungannya terus meningkat. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat maka pada tahun 2020 diperkirakan dihasilkan sampah 500 juta kg per hari atau 190 ribu ton per tahun. Dengan jumlah ini maka sampah akan mengemisikan metana sebesar 9.500 ton per tahun. Dengan demikian sampah pada perkotaan berpotensi besar mempercepat proses terjadinya pemanasan global.

2.2.6 Kerusakan Hutan

Salah satu fungsi tumbuhan yaitu menyerap karbon dioksida (CO2) dan mengubahnya menjadi oksigen (O2). Gas karbon dioksida merupakan gas rumah kaca sehingga kerusakan atau penggundulan hutan secara besar-besaran berarti hilangnya faktor penyerap gas rumah kaca karbon dioksida di atmosfer. Laju kerusakan hutan di Indonesia, menurut data Forest Watch Indonesia (2001) sekitar 22 juta per tahun. Ini disebabkan oleh kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan, seperti perubahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran. Dengan kerusakan hutan tentu saja penyerapan karbon dioksida tidak optimal, sehingga akan mempercepat terjadinya pemasan global.

(17)

Sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca melalui sawah-sawah yang tergenang yang menghasilkan gas metana, penggunaan pupuk, pembakaran sisa-sisa tanaman dan pembusukan sisa-sisa pertanian. Bahkan dalam laporan PBB (FAO) yang berjudul Livestock’s Long Shadow: Environmental Issues and Options (dirilis bulan November 2006), PBB mencatat bahwa industri peternakan merupakan penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%). Junlah itu lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). Emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9% karbon dioksida, 37% gas metana (efek pemanasannya 72 kali lebih kuat daripada karbon dioksida), nitrogen oksida (efek pemanasan 296 kali lebih kuat daripada karbon dioksida), serta amonia penyebab hujan asam. Peternakan menempati 30% dari seluruh permukaan tanah kering di Bumi dan 33% dari are tanah subur yang dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak. Peternakan sudah menyebabkan 80% penggundulan hutan Amazon. Menurut laporan yang baru saja dirilis World Watch Institute menyatakan bahwa peternakan bertanggung jawab terhadap sedikitnya 51 persen dari pemanasan global.

2.3 Dampak Pemanasan Global

(18)

2.3.1 Iklim Mulai tidak Stabil

Para ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian utara dari Belahan Bumi Utara akan memanas lebih tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan berkurang. Akan lebih sedikit es mengapung di perairan utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan mungkin tidak mengalaminya lagi. Pegunungan di daerah subtropis bagian utara yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa daerah. Suhu pada musim dingin dan malam hari akan cenderung meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembap karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Kelembapan yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya, beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air akan menjadi lebih besar. Dengan demikian, pola cuaca menjadi sukar diprediksi dan lebih ekstrem. 2.3.2 Peningkatan Permukaan Laut

(19)

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm saja misalnya akan menenggelamkan 6% daerah Belanda, 17,5% daerah Bangladesh, dan mungkin banyak pulau akan tenggelam. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai maka akan terjadi banjir akibat air pasang di daratan. Negara-negara kaya mungkin akan menghabiskan banyak dana untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara miskin mungkin hanya bisa mengevakuasi penduduknya untuk meninggalkan daerah pantai. Untuk negara kita mungkin kenaikan permukaan laut akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang, serta terjadinya pemutihan terumbu karang.

2.3.3 Pertanian

(20)

Hewan dan tumbuhan merupakan makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan global karena sebagian besar lahan telah dikuasai oleh manusia. Akibat pemanasan global, hewan cenderung untuk berimigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan untuk mencari wilayah yang lebih dingin. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan yang dilakukan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang berimigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

2.3.5 Kesehatan Manusia

Kenaikan suhu global telah memicu banyaknya penyakit yang berkaitan dengan panas dan kematian, seperti stress, stroke, dan gangguan kardiovaskular. Tidak hanya itu, penyakit dengan vektor seperti demam berdarah dan malaria juga mengalami perluasan wilayah lokasi serangan dan durasi penularan yang lebih lama. Penyebabnya adalah dengan meningkatnya suhu daerah subtropis, memungkinkan perkembangan patogen di daerah tersebut.

2.4 Upaya Pencegahan atau Mengurangi Pemanasan Global

(21)

2.4.1 Batasilah Pemakaian Energi yang Menghasilkan Karbon Dioksida dan Gas-Gas Lain.

Bila memungkinkan, carilah sumber-sumber energi alternatif yang tidak menghasilkan emisi CO2 seperti tenaga matahari, air, angin, nuklir, dan lain-lain. Bila terpaksa harus menggunakan bahan bakar fosil (yang mana akan menghasilkan emisi CO2), gunakanlah dengan bijak dan efisien. Hal ini termasuk menghemat listrik dan energi, apalagi Indonesia termasuk negara yang banyak menggunakan bahan bakar fosil (minyak, batubara) untuk pembangkit listriknya. Matikanlah peralatan listrik ketika tidak digunakan, gunakan lampu hemat energi, dan gunakanlah panel surya sebagai energi alternatif. Kurangi penggunaan atau pemakaian kulkas dan AC yang akan menghasilkan gas CFC.

2.4.2 Tanamlah Lebih Banyak Pohon

Tanaman hijau menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya dalam jaringannya. Tetapi setelah mati mereka akan melepaskan kembali CO2 keudara. Lingkungan dengan banyak tanaman akan mengikat CO2 dengan baik, dan harus dipertahankan oleh generasi mendatang. Jika tidak, maka karbon yang sudah tersimpan dalam tanaman akan kembali terlepas ke atmosfer sebagai CO2.

2.4.3 Daur Ulang (Recycle) dan Gunakan Ulang (Reuse)

Kalkulasi yang dilakukan di California menunjukkan bahwa apabila proses daur ulang dapat diterapkan hingga di level negara bagian California, maka energi yang dihemat cukup untuk memberikan suplai energi bagi 1,4 juta rumah, mengurangi 7.047 ton polusi air, menyelamatkan 14 juta pohon, dan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga setara dengan 3,8 juta mobil.

2.4.4 Batasi Penggunaan Kertas

(22)

pohon. Oleh karena itu gunakan kertas se-efektif mungkin misalnya dengan mencetak print out bolak-balik pada setiap kertas. Bila Anda menge-print sesuatu yang tidak terlalu penting, gunakanlah kertas bekas yang dibaliknya masih kosong.

2.4.5 Ganti Bohlam Lampu

Segera ganti bola lampu pijar anda dengan lampu neon. Lampu neon ini membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding lampu pijar. Ingat setiap daya listrik yang Anda pakai maka Anda turut serta menghabiskan sumber daya energi listrik yang kebanyakan berbahan bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah bahan bakar tak terbarukan, dan dalam jangka sepuluh tahun ke depan mungkin bahan bakar jenis ini akan habis.

2.4.6 Gunakan Pupuk Organik

Pupuk yang digunakan kebanyakan petani mengandung unsur nitrogen, yang kemudian berubah menjadi N2O yang menimbulkan efek GRK (Gas Rumah Kaca) 320 kali lebih besar dari pada karbon dioksida (CO2). Jika Anda memiliki hobi berkebun, sebaiknya gunakanlah pupuk organik. Disamping aman, juga memiliki harga yang murah.

2.4.7 Naik Kendaraan Umum

Saat ini jumlah kendaraan pribadi sudah teramat banyak dan bikin sumpek. Sector transportasi menyumbang sampai 13% emisi gas rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kendaran umum maka kita mengurangi emisi gas rumah kaca.

2.4.8 Tidak Menggunakan Kantong Plastik

(23)

tanah. Efek gas rumah kaca yang ditimbulkannya juga cukup besar. Maka beralihlah ke kantong kain, misal dari kain serat alami.

2.4.9 Hidup Efisien

Apapun aktivitas manusia di bumi akan berdampak pada bumi yang kita diami ini. Pola komsumsi energi, pola lingkungan dan sebagainya. Hiduplah seefisien mungkin, gunakan sedikit energi, komsumsilah sedikit makanan, tinggalkan pola hidup konsumtif, ramahlah terhadap lingkungan, sedikit bicara lebih banyak berpikir, dan sebagainya.

2.4.10 Mengemudi dengan Cerdas

Hindari perjalanan yang panjang dan menghabiskan waktu, bila mungkin memotong jalan lakukanlah. Kurangilah aktivitas yang menggunakan kendaraan pribadi. Jika terpaksa menggunakan kendaraan pribadi, pilihlah jalan-jalan alternatif yang bebas macet dan tidak mengkonsumsi energi. Bila Anda menunggu, matikan mesin sebab gas buangan tetap keluar sementara bahan bahan bakar terpakai.

2.5 Perjanjian Internasional Berkaitan Ancaman Penipisan Lapisan Ozon Pada tahun 1986 lubang besar ozon ditemukan di Antartika dan lubang ozon kecil ditemukan di atas Kutub Utara. Secara mayoritas para ilmuwan juga sudah sepakat bahwa pemicu utama penipisan lapisan ozon adalah penggunaan gas CFC secara besar-besaran untuk industri. Kekhawatiran tentang dampak penipisan lapisan ozon yang akhirnya akan membahayakan kelangsungan hidup manusia, maka pada tahun 1986 dalam pertemuan internasional di Montreal dihasilkan suatu perjanjian di mana seluruh Negara industri dunia setuju untuk membatasi produk CFC sambil mencari bahan pengganti yang tidak berbahaya, dan pada akhirnya CFC dilarang untuk diproduksi.

(24)

pengganti CFC yang tidak merusak lapisan ozon. Pada tahun 1992, penggunaan CFC berhasil dikurangi secara cepat sehingga kemudian dijadwalkan untuk menghilangkan produksi CFC pada tahun 1996. Jika penggunaan CFC berhasil dikurangi secara besar-besaran pada tahun 1996, maka hitungan menunjukkan bahwa lapisan ozon baru kembali akan normal paling cepat pada abad dua puluh satu. Pemerintah kita melalui Kementrian Lingkungan Hidup telah menerbitkan berbagai peraturan terkait larangan memproduksi dan memperdagangkan bahan perusak lapisan ozon seperti Freon. Pelarangan ini mulai berjalan pada akhir tahun 2013.

2.6 Perjanjian Internasional Berkaitan Pemanasan Global

Perjanjian internasional yang membahas masalah pemanasan global dimuat dalam Protokol Kyoto. Protokol Kyoto adalah amandemen terhadap konversi rangga kerja PBB tentang perubahan iklim (UNFCC), sebuah persetujuan internasional mengenai masalah pemanasan global. Negara-negara yang meratafikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.

Jika berhasil diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050. Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). Protokol ini dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk penandatanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.

(25)
(26)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Penyebab dari pemanasan global adalah penipisan lapisan ozon, efek rumah kaca, konsumsi energi bahan bakar fosil, sampah organik, kerusakan hutan, pertanian, dan peternakan.

2. Dampak yang ditimbulkan oleh pemanasan global adalah iklim mulai tidak stabil, peningkatan permukaan laut, pertanian yang menurun, kehidupan hewan liar dan tumbuhan yang terancam, dan timbulnya penyakit bagi kesehatan manusia.

3. Upaya untuk mencegah terjadinya pemanasan global yaitu dengan mengurangi pemakaian energi yang menghasilkan gas-gas emisi yang mengakibatkan terjadinya efek rumah kaca, menanam pohon lebih banyak kembali dan melakukan 3R (reduce, reuse dan recycle).

3.2 Saran

1. Satu langkah kecil yang kita ambil untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global akan menyelamatkan kehidupan semua makhluk bumi. 2. Mengajak sesama manusia untuk melakukan pencegahan terhadap dampak

(27)

DAFTAR PUSTAKA

As-syakur, A.R., 2008, “Hubungan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan

Perubahan Iklim”, wordpress, Bali.

(http://mbojo.wordpress.com/2008/07/17/hubungan-efek-rumah-kaca-pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/) di akses 10 Maret 2016 jam 20.38 WIB

Resita, Vira, 2014, “Global Warming”, Academia.edu, Malang. (https://www.academia.edu/9646162/FISIKA_GLOBAL_WARMING ) di akses 10 Maret 2016 jam 20.27 WIB

S, Agus, dkk. 2008. Global Warming. (e-book). Di akses 10 Maret 2016 jam 20.46 WIB

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :