• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Wilayah Pesisir Berbasis Mas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengelolaan Wilayah Pesisir Berbasis Mas"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Pengelolaan Wilayah Pesisir Berbasis Masyarakat Yang Berkelanjutan

1

R.HAMDANI HARAHAP2

Pendahuluan

Ekosistem Wilayah Pesisir

Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut. Ke arah darat wilayah pesisir

meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut

seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin. Sedangkan ke arah laut wilayah pesisir

mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat

seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat

seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Bengen, 2002).

Besarnya potensi kekayaan alam pesisir telah menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan

hidup seperti kelebihan tangkap (over fishing) di sektor perikanan, perusakan hutan mangrove,

terumbu karang dan padang lamun serta abrasi pantai dan gelombang pasang hingga masalah

kerusakan akibat bencana alam seperti tsunami. Permasalahan ini secara langsung maupun tidak

langsung terkait dengan kemiskinan masyarakat pesisir, kebijakan yang tidak tepat, rendahnya

penegakan hukum (law enforcement), dan rendahnya kemampuan sumberdaya manusia (SDM).

Permasalahan di pesisir di atas bila dikaji lebih lanjut memiliki akar permasalahan yang mendasar.

Menurut Dahuri (2003) ada lima faktor, yaitu pertama tingkat kepadatan penduduk yang tinggi

dan kemiskinan, kedua konsumsi berlebihan dan penyebaran sumberdaya yang tidak merata,

ketiga kelembagaan, keempat, kurangnya pemahaman tentang ekosistem alam, dan kelima

kegagalan sistem ekonomi dan kebijakan dalam menilai ekosistem alam.

Beberapa hasil studi mengungkapkan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembangunan

sumberdaya pesisir yang selama ini dijalankan bersifat sektoral dan terpilah-pilah. Padahal

1

Makalah ini merupakan makalah yang disampaikan pada pengukuhan Guru Besar Tetap pada bidang Ekologi Manusia pada tanggal 12 Pebruari 2015, dengan perubahan kecil selanjutnya disampaikan pada Workshop Membangun Sinergitas Ekonomi, Lingkungan, Hukum, Budaya dan Keamanan Untuk Menegakkan Negara Maritim Yang Bermartabat yang diselenggarakan di Ruang IMT-GT Biro Rektor USU Lantai 3, pada tanggal 5-6 Maret 2015, Forum Rektor Indonesia dan USU.

2

(2)

karakteristik ekosistem pesisir yang secara ekologis saling terkait satu sama lain termasuk

dengan ekosistem lahan atas, serta beraneka sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan sebagai

potensi pembangunan yang pada umumnya terdapat dalam suatu hamparan ekosistem pesisir.

Sehingga pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir secara optimal dan berkelanjutan hanya dapat

diwujudkan melalui pendekatan terpadu dan holistik. Pengelolaan wilayah pesisir terpadu

dinyatakan sebagai proses pemanfaatan sumberdaya pesisir serta ruang yang memperhatikan

aspek konservasi dan keberlanjutannya. Adapun konteks keterpaduan meliputi dimensi sektor,

ekologis, hirarkhi pemerintahan, antar bangsa/negara, dan disiplin ilmu (Cicin-Sain dan Knect,

1998; Kay dan Alder, 1999).

Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir atau sering disebut masyarakat pesisir menjadi bagian

penting dalam ekosistem pesisir. Komponen terbesar dari masyarakat pesisir adalah nelayan

yang memiliki ketergantungan yang besar terhadap keberlanjutan sumberdaya alam pesisir.

Nelayan adalah orang yang melakukan penagkapan (budidaya) di laut dan di tempat yang masih

dipengaruhi pasang surut (Tarigan, 2000). Harahap (1992,1993,1994,) telah melakukan

serangkaian penelitian yang berkaitan dengan kemiskinan masyarakat pesisir di tiga desa di

Pantai Timur Sumatera Utara. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penyebab

kemiskinan mereka adalah faktor budaya dan degradasi sumberdaya. Degradasi sumberdaya

seperti rusaknya ekosistem mangrove dan perikanan sebagian diakibatkan oleh penggunaan alat

tangkap perikanan yang destruktif, aktivitas illegal lodging, alih fungsi lahan menjadi tambak dan

perkebunan sawit. Berdasarkan kondisi spesifik dan kemiskinan yang seakan menjadi trade mark

komunitas di pesisir, maka pemahaman lebih jauh tentang pengelolaan wilayah pesisir menjadi

penting.

Berkaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir, menurut Bromley dan Cernea (dalam Adhuri,

2005), ada empat tipe pemilikan dan penguasaan sumberdaya pesisir, yaitu: a. Open access

property, b. Common property, c. Public property, dan d. Private property. Masing-masing

karakteristik tipe pemilikan dan penguasaan sumberdaya pesisir ini turut menentukan bagaimana

cara pengelolaan wilayah pesisir dilakukan.

Di Sulawesi Utara terdapat keempat tipe pemilikan dan penguasaan sumberdaya tersebut,

(3)

milik quasi-pribadi. Di perairan Bunaken masyarakat nelayan masih menganggap sumberdaya

ikannya sebagai open access property sehingga nelayan dari tempat lain dibiarkan menangkap ikan.

Di desa Tumbak dan Biongko masyarakat menganggap sumberdaya ikan, mangrove dan terumbu

karang yang ada di depan desa mereka adalah milik komunal dari desa tersebut (Mancoro dalam

Adhuri, 2005). Akan tetapi UU Pokok Perairan no. 6/1996 dengan tegas menyatakan

sumberdaya alam yang ada di perairan adalah milik pemerintah. Dalam skala tertentu

pemerintah membiarkan kelompok masyarakat pesisir untuk mengelolanya. Sehingga timbul

kerancuan (ambiguim) bahwa disatu sisi pesisir dianggap milik penduduk, tetapi disisi lain dianggap

milik pemerintah. Kerancuan pemilikan dan penguasaan sumberdaya pesisir (ambiguity of

property regimes) ini mendorong timbuinya konflik pemanfaatan (user conflict) dan konflik

kewenangan (yurisdictional conflict). Konflik dapat muncul dari beberapa sebab, namun yang

dominan adalah kerancuan tipe pemilikan. Konflik yang berkaitan dengan penguasaan

sumberdaya alam laut sering kali muncul misalnya seperti kasus di Kepulauan Kei, Maluku

Tenggara. (Adhuri, 2005). Dalam tulisannya Adhuri menyatakan ada dua tantangan dalam

mempraktekkan manajemen sumberdaya laut secara berkelanjutan yaitu pertama, kesadaran

yang ditunjukkan oleh pelaku akan pentingnya manajemen yang berkelanjutan dan berkeadilan

tidak tampak pada stakeholder (termasuk aparat militer dan birokrasi daerah) di daerah. Kedua,

terdapatnya kontestasi di antara semua kelompok yang terkait dengan pemanfaatan sumber daya

laut. Pada arena kontestasi ini tampaknya masing-masing kelompok cenderung saling mengklaim

hak khusus mereka terhadap sumberdaya laut dan menafikan klaim dari pihak-pihak lain.

Model Pengelolaan Berbasis Masyarakat

Salah satu unsur penting dalam pembangunan berkelanjutan adalah adanya partisipasi masyarakat

dan desentralisasi pengelolaan. Implementasi dari adanya partisipasi masyarakat dalam

pembangunan pengelolaan wilayah pesisir dan laut adalah pengelolaan sumberdaya perikanan

berbasis masyarakat. Pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis masyarakat dapat didefinisikan

sebagai suatu proses pemberian wewenang, tanggung jawab dan kesempatan kepada masyarakat

untuk mengelola suberdaya perikananannya sendiri dengan terlebih dahulu mendefinisikan

kebutuhan dan keinginan, tujuan serta aspirasinya.(Nikijuluw, 2002). Dua komponen penting

(4)

1. Konsensus yang jelas dari tiga pelaku utama, yaitu pemerintah, masyarakat pesisir, dan

peneliti (sosial, ekonomi, dan sumberdaya)

2. Pemahaman yang mendalam dari masing-masing pelaku utama akan peran dan tanggung

jawabnya dalam mengimplementasikan program pengelolaan berbasis masyarakat

(Dahuri, 2003).

Pengelolaan atau pembangunan berbasis masyarakat diawali oleh Korten (1984), yang

memunculkan teori baru yang menyajikan potensi baru yang penting guna memantapkan

pertumbuhan dan kesejahteraan manusia, keadilan dan kelestarian pembangunan itu sendiri, yang

disebut teori pembangunan berpusat pada rakyat (people centered development). Teori ini

menyatakan bahwa proses pembangunan harus berorientasi pada peningkatan kualitas hidup

manusia, bukan pada pertumbuhan ekonomi melalui pasar maupun memperkuat negara, teori ini

disebut sebagai Alternative Development Theory.(Mardikanto dan Soebiato, 2012). Moelyarto

Tjokrowinoto (dalam Mardikato dan Seobiato, 2012) memberikan ciri-ciri pembangunan yang

berpusat pada rakyat (manusia) yaitu :

1. Prakarsa dan proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat

tahap demi tahap harus diletakkan pada masyarakat itu sendiri.

2. Fokus utamanya adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengelola dan

memobilisasikan sumber-sumber yang terdapat di komunitas untuk memenuhi kebutuhan

mereka.

3. Pendekatan ini mentoleransi variasi lokal dan karenanya, sifatnya fleksibel menyesuaikan

dengan kondisi lokal.

4. Di dalam melaksanakan pembangunan, pendekatan ini menekankan pada proses social

learning yang didalamnya terdapat interaksi kolaboratif antara birokrasi dan komunitas

mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi proyek dengan mendasarkan diri saling

belajar.

5. Proses pembentukan jejaring (networking) antara birokrasi dan lembaga swadaya

masyarakat, satuan-satuan organisasi tradisonal yang mandiri, merupakan bagian integral

dari pendekatan ini, baik untuk meningkatkan kemampuan mereka mengidentifikasi dan

(5)

vertikal maupun horizontal. Melalui proses networking ini diharapkan terjadi simbiose

antara struktur-struktur pembangunan di tingkat lokal.

Secara garis besar, ada lima prinsip dasar yang penting dilaksanakan dalam pengelolaan berbasis

masyarakat (COREMAP LIPI dalam Dahuri, 2003) yaitu :1). pemberdayaan, 2).pemerataan akses

dan peluang, 3).ramah lingkungan dan lestari, 4).pengakuan terhadap pengetahuan dan kearifan

tradisional, dan 5).kesetaraan jender.

Dalam prakteknya pengelolaan berbasis masyarakat dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok,

yaitu tradisional dan neotradisonal (Dahuri, 2003). Pengelolaan berbasis masyarakat tradisional

umumnya berdasarkan adat dan tradisi yang lazim atau telah ada di masyarakat sejak lama,

misalnya sasi di Maluku (Elikisia, 2000), pengelolaan perairan pesisir desa Tanjung Bararai Biak

dan Panglima Laot di Aceh (Nikijuluw, 2002). Sedangkan keberadaan PBM neotradisional

sengaja dilahirkan berdasarkan aturan-aturan baru yang ditetapkan oleh masyarakat sendiri

ataupun difasilitasi oleh pemerintah atau LSM. Dalam beberapa kasus, program yang bersifat

kegiatan proyek PBM hanya mampu menghasilkan tumpukan laporan proyek yang tidak

memberikan pemecahan masalah bagi masyarakat pesisir yang ada di lapangan.

Secara mendasar, PBM harus mampu memecahkan dua persoalan utama yang secara luas telah

diketahui khalayak umum, yaitu : 1) masalah sumberdaya hayati (misalnya tangkap lebih,

penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, kerusakan ekosistem serta konflik antara

nelayan tradisional dan industri perikanan modren dan 2) masalah lingkungan yang

mempengaruhi kesehatan keanakaragaman hayati laut (misalnya berkurangnya daerah mangrove

dan padang lamun sebagai daerah pembesaran sumberdaya perikanan, penurunan kualitas air,

pencemaran dsb).

Pengelolaan berbasis masyarakat dapat terlaksana jika masyarakat lokal mampu memanfaatkan

potensi alam, budaya dan infrastruktur yang ada. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami

dan sadar akan potensi serta kendala yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya laut

mereka. Penyadaran dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka pengelolaan sumberdaya

berbasis masyarakat dapat dilaksanakan lewat lima tingkatan yaitu: 1) meningkatkan

kesejahteraan masyarakat dengan memberikan alternatif usaha yang secara ekonomis

(6)

sumberdaya alam, pasar dan perlindungan hukum, 3) menumbuhkan dan meningkatkan

kesadaran masyarakat akan arti pelestarian ekosistem pesisir/laut, 4) menumbuhkan dan

meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga dan melestarikan ekosistem pesisir dan laut

dan 5) meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola dan melestarikan ekosistem laut.

Dari sisi kehadirannya, pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis masyarakat dapat dilembagakan

melalui tiga cara (Fauzi, 2005), yaitu; 1) Pemerintah beserta masyarakat mengakui praktik-praktik

pengelolaan sumberdaya perikanan yang selama ini dilakukan masyarakat secara turun temurun

dan merupakan adat atau budaya dianut selama ini. 2) Pemerintah dan masyarakat menghidupkan

kembali atau merevitalisasi adat dan budaya masyarakat dalam mengelola sumberdaya perikanan.

Adat dan budaya tersebut barangkali telah hilang atau tidak digunakan lagi karena berubahnya

zaman dan waktu. Meski demikian, masyarakat dan pemerintah menyadari bahwa adat dan

budaya itu perlu dihidupkan lagi karena ternyata hilangnya adat dan budaya tersebut tidak

membuat masyarakat makin sejahtera dan bahagia. 3)Pemerintah memberikan tanggung jawab

sepenuhnya dan wewenang pengelolaan sumberdaya kepada masyarakat. Semangat melahirkan

PBM di Indonesia saat ini semakin terbuka seiring dengan diberlakukannya UU No. 6 Tahun

2014 tentang Desa yang memberi kewenangan bagi desa untuk menyelenggarakan pemerintahan

desa secara otonom termasuk memberi ruang buat desa dalam menetapkan aturan adat sebagai

aturan hukum. Namun implementasi tentang hal ini masih menyisakan masalah terkait dengan

arsiran kewenangan antara desa dengan satuan pemerintahan di atasnya yaitu kecamatan,

kabupaten dan propinsi. Saat ini lingkup kewenangan itu belum diatur dengan jelas. Sekalipun

dianggap ideal, terdapat beberapa variabel yang ikut menentukan keberhasilan atau kegagalan

pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis masyarakat (Fauzi, 2005), yaitu : kepercayaan,

tertulisnya aturan, teknologi, pembangunan industri perikanan, perubahan pemerintahan,

perdagangan dan harga.

Selanjutnya Fauzi (2005) telah mengidentifikasi beberapa kelemahan dan keunggulan pengelolaan

pesisir berbasis masyarakat. Adapun kelemahannya adalah (1) tidak mengatasi masalah

interkomunitas, (2) bersifat lokal, (3) mudah dipengaruhi faktor eksternal, 4) sulit mencapai

skala ekonomi dan tingginya biaya institusionalisasi. Sedangkan keunggulan pengelolaan pesisir

berbasis masyarakat adalah (1) Sesuai aspirasi dan budaya lokal, (2) diterima masyarakat lokal,

(7)

Pengelolaan sumberdaya pesisir yang neotradisional salah satunya adalah yang dilakukan oleh

pemerintah. Pengelolaan sumberdaya perikanan oleh pemerintah adalah pengelolaan

sumberdaya dengan pemerintah sebagai pemegang kuasa dan wewenang dalam memanfaatkan

sumberdaya seperti hak akses, hak memanfaatkan, hak mengatur, hak eksklusif, dan hak

mengalihkan. Jentoft (1989 dalam Fauzi, 2005) mengatakan bahwa pemerintah harus terlibat

atau campur tangan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan karena tiga alasan berikut ini :

1. Pemerintah ikut mengelola sumberdaya perikanan karena alasan efisiensi. Hal ini berarti

keikutsertaan pemerintah dalam mengelola sumberdaya perikanan supaya efisien dapat

ditingkatkan. Keterlibatan pemerintah adalah dalam hal mengendalikan upaya

penangkapan sehingga tidak terjadi kelebihan kapasitas yang berakhir pada inefisiensi.

2. Pemerintah terlibat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan supaya keadilan dapat

diwujudkan. Jika pemerintah tidak ikut campur tangan, nelayan yang kuat dan besar akan

mengambil manfaat secara berlebihan dan membiarkan nelayan kecil dalam kemiskinan

dan kemelaratan. Jika tidak ada upaya dan aksi pemerintah yang dilakukan secara

afirmatif dalam membantu nelayan kecil, kondisi ketimpangan akan terus berlanjut.

3. Keterlibatan pemerintah diperlukan dalam hal mengelola sumberdaya perikanan karena

alasan administrasi. Di sisi lain, asumsi dan fakta menyatakan bahwa hanya pemerintah

yang berhak menjalankan administrasi dengan otoritas dan kemampuannya.

Model Pengelolaan Berbasis Pemerintah

Dalam perkembangan selanjutnya peran institusi pemerintah dalam mengelola wilayah pesisir

dan laut sangat besar terutama dalam menjamin pengelolalaan sumberdaya perikanan khususnya

dalam pembangunan perikanan yang dilakukan sesuai dengan permintaan dan standar

internasional. Namun dalam beberapa hal institusi pemerintah mengalami kelemahan dalam

mengelola sumberdaya perikanan (Lawson dalam Fauzi, 2005) yaitu :

1. Gagal dalam mencegah eksploitasi sumberdaya perikanan karena kelambatan dalam

pelaksanaan peraturan yang sudah ditetapkan.

(8)

3. Kemampuan dan keberhasilan masyarakat untuk menghindar dari peraturan.

4. Kebijakan yang tidak tepat dan jelas atau adanya kebijakan yang saling bertentangan.

5. Administrasi yang tidak efisien dalam bentuk biaya transaksi yang relatif tinggi.

6. Wewenang yang terbagi-bagi kepada beberapa lembaga atau departemen.

7. Data dan informasi tidak (kurang) benar dan akurat.

8. Kegagalan dalam merumuskan keputusan manajemen.

Model Ko Manajemen

Berdasarkan model pengelolaan di atas terlihat di satu sisi baik rezim pengelolaan berbasis

masyarakat maupun oleh pemerintah memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Untuk

itu ditawarkan pengintegrasian kedua pengelolaan tersebut yang disebut kolaborasi manajemen,

kooperasi manajemen atau ko-manajemen. Ko-manajemen adalah pembagian atau

pendistribusian tanggung jawab dan wewenang antara pemerintah dan masyarakat lokal dalam

mengelola sumberdaya perikanan.

Salah satu rezim pengelolaan sumberdaya perikanan yang dianggap pula sebagai rezim

ko-manajemen adalah desentralisasi wewenang dan tanggung jawab dari pusat kepada pemerintah

yang ada di bawahnya. Dalam pustaka mengenai administrasi publik, desentralisasi secara

vertikal mempunyai empat bentuk yaitu (1) dekonsentrasi, yaitu penyerahan wewenang dan

tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada lembaga atau instansi pemerintah di daerah atau

kepada unit instansi pusat yang berlokasi di daerah. (2) Delegasi yaitu penyerahan sebagian

wewenang dan kekuasaan untuk mengambil keputusan dari pemerintah pusat kepada instansi

atau staf pemerintah yang ada di daerah, namun setiap saat pemerintah pusat tetap memiliki hak

dan kuasa untuk menerima atau menolak keputusan yang diambil di daerah tersebut. (3)

Devolusi yaitu penyerahan kekuasaan dan tanggung jawab hal-hal spesial atau khusus dari

pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, dan (4) swastanisasi, yaitu penyerahan tanggung

(9)

organisasi voluntir swasta (private voluntary organization, atau PVO), organisasi atau asosiasi

masyarakat dan perusahaan swasta.3

Menurut Pomeroy and Berkes (dalam Fauzi, 2005) terdapat 10 tingkatan atau bentuk

ko-manajemen yang dapat disusun dari yang paling sedikit partisipasi masyarakat hingga paling tinggi

partisipasi masyarakat. Bila suatu tanggung jawab dan wewenang masyarakat rendah pada suatu

bentuk ko-manajemen maka tanggung jawab dan wewenang pemerintah akan tinggi. Sebaliknya

bila tanggung jawab dan wewenang masyarakat tinggi, maka tanggung jawab dan wewenang

pemerintah rendah. Adapun 10 tingkatan ko-manajemen tersebut adalah :

1. Masyarakat hanya memberikan informasi kepada pemerintah dan informasi tersebut

digunakan sebagai bahan perumusan manajemen.

2. Masyarakat dikonsultasi oleh pemerintah

3. Masyarakat dan pemerintah seling bekerja sama.

4. Masyarakat dan pemerintah saling berkomunikasi.

5. Masyarakat dan pemerintah saling bertukar informasi.

6. Masyarakat dan pemerintah saling memberi nasihat dan saran.

7. Masyarakat dan pemerintah melakukan kegiatan atau aksi bersama.

8. Masyarakat dan pemerintah bermitra.

9. Masyarakat melakukan pengawasan terhadap peraturan yang dibuat oleh pemerintah.

10.Masyarakat lebih berperan dalam melakukan koordinasi antar lokasi atau antar daerah

dan hal tersebut didukung oleh pemerintah.

Selain 10 bentuk ko manajemen di atas, ada juga pembagian ko-manajemen sbb :

3

(10)

1. Ko-manajemen Instruktif yaitu pemerintah sangat berperan, masyarakat hanya menerima

apa saja yang direncanakan dan diatur oleh pemerintah, misalnya Ko-manajemen

Perairan Umu di Bangladeh, Ko-manajemen Danau Karibia di Zambia.

2. Ko-manajemen Konsultatif yaitu masyarakat lokal begitu banyak keterlibatannya dalam

proses perencanaan hingga pelaksanaan rencana pengelolan, namun pemerintah melalui

orang-orangnya serta instansinya masih memegang peranan yang sangat vital, contohnya

pengelolaan Danau Malombe di Malawi, pengelolaan Teluk San Miguel di Filipina.

3. Ko-manajemen Kooperatif yaitu dimana masyarakat dan pemerintah mempunyai peran

yang seimbang atau pemerintah dan pemegang kepentingan lainnya bekerja sama dalam

hubungan kemitraan yang sejajar, contohnya, pengelolaan Kawasan Lindung Laut, Pulau

San Salvador, Filipina, Dewan Pengelolaan Perikanan Pasifik, Amerika Serikat, Kawasan

Hak Ulayat, Fiji, Pembangunan Perikanan Visayasa Tengah, Filipina.

4. Ko-manajemen Advokatif yaitu pemerintah kurang begitu besar peranannya sementara

masyarakat melalui kelompok kerja yang lebih banyak berperan, atau pemerintah hanya

memberikan dukungan legal terhadap permintaan dan usulan nelayan atau contohnya

Regulasi Waktu Penangkapan, Denmark, Perikanan Pukat Pantai, Sri Lanka, Model

Pengelolaan Perikanan di Queensland.

5. Ko-manajemen Informatif yaitu keterlibatan pemerintah sangat minimal, yaitu hanya

dalam bentuk membuat kesepakatan dan kerjasama dalam masyarakat. Keterlibatan

pemerintah pun hanya terbatas pada pemerintah desa contohnya Organisasi Produsen

Ikan Sebelah di Belanda, Perikanan Herring di Denmark, Perikanan Pukat Pantai di

Mozambik, Perikanan Pantai di Kepulauan Faroe, Kawasan Lindung Laut di Pulau Apo,

Negros, Filipina.

Dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara kolaboratif, peranan stake holder sangat

penting. Alikodra (2006) mendefinisikan stake-holder adalah individu atau group yang mempunyai

kepentingan kuat terhadap sumberdaya atau manajemen sumberdaya. Tidak ada strategi

pengelolaan sumberdaya yang berhasil tanpa mengikut sertakan kepentingan mereka. Claridge

(11)

1. Masyarakat lokal yang langsung menggunakan sumberdaya, dan masyarakat lokal yang

memiliki kepentingan secara tidak langsung dengan sumberdaya.

2. Individu atau group yang secara legal memiliki kegiatan komersial pemanfaatan

sumberdaya secara langsung ataupun mereka yang datang untuk memanfaatkan

sumberdaya dan seringkali menyebabkan terjadinya kompetisi dengan

pengguna-pengguna setempat.

3. Perusahaan yang memberikan limbah, ataupun yang memutus mata rantai siklus hidup

organisma.

4. Suplliers dan marketers, seperti pensuplai bahan bakar, peralatan yang berkaitan dengan

pemanfaatan sumberdaya dan

5. Pemerintah, LSM, pencinta alam dan lingkungan, konservasionis dan konsumen yang

menggunakan produk-produk.

Lebih lanjut Alikodra (2006) menyampaikan butir-butir penting sebagai pegangan untuk

melakukan evaluasi karakteristik keberhasilan pengelolaan secara kolaboratif, yang dapat dilihat

dari adanya :

1. Keuntungan integrasi konservasi dan pembangunan yang diakui oleh pemerintah dan

stake-holder lain.

2. Pemerintah mendukung dan memfasilitasi secara aktif involvement masyarakat setempat

dalam manajemen SDA berbasis konservasi.

3. Para pihak memberikan perhatian dan berpartisipasi secara penuh terhadap konservasi

SDA dan lingkungannya.

4. Terselenggaranya appropriate sharing (sumberdaya, informasi, kedudukan/kemampuan,

keputusan).

5. Para pihak mengerti secara penuh dan saling percaya dengan peran masing-masing yang

(12)

6. Akar permasalahan dimengerti dan disetujui untuk ditindak lanjuti.

7. Keuntungan yang jelas diantara para pihak; dan

8. Para pihak memiliki kemampuan yang cukup (skills, financial, capability) sebagai salah satu

syarat penting untuk melanjutkan program secara berkelanjutan.

Pendekatan ko-manajemen bila dikaitkan dengan isu poros maritime harus memperhatikan

budaya masyarakat pesisir. Poros maritime adalah upaya mengubah mindset penduduk Indonesia

dari darat dan udara sentris menjadi laut sentries. Konsep poros maritim adalah upaya

pemerintah untuk menjadikan laut sebagai matra penghubung antar pulau yang kemudian segala

sumberdaya di dalamnya harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejehteraan rakyat. Artinya

laut menjadi jangkar pembangunan ekonomi. Apakah ide poros maritime sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia? Pertanyaaan tersebut diikuti dengan pertanyaan berikutnya “Bagaimana kebudayaan maritim yang ada di Indonesia?, dan Apakah mental masyarakat pesisir kita yang

terekam dalam catatan sejarah menampilkan karakteristik sebagai nelayan atau pelaut?

Dalam beberapa literature sejarah dikisahkan bahwa kerajaan yang dulu jaya di nusantara selalu

dibarengi dengan kekuatan tentara kerajaan tersebut di lautan. Ini mengindikasikan bahwa

kekuatan militer di laut menjadi ciri khas kerajaan besar di nusantara. Fakta sejarah lainnya yang

juga bisa diakses adalah adanya gambaran bahwa hukum adat laut yang tersebar di nusantara

masih meniktik beratkan pemanfaatan laut sebagai jalur perdangangan/ pelayaran. Sebut saja

hukum laut di Kerajaan Serdang (baca Sinar dan Wan Saifuddin, 2002) dan hukum Amanna

Gappa dari Kesultanan Bugis yang melegenda. Penelusuran atas substansi kedua contoh hukum

adat tersebut memperlihatkan bahwa semangat utama kelautan yang diatur menitik beratkan

pada tatacara pelayaran yang berhubungan dengan perdagangan. Hanya sedikit yang secara

spesifik memuat aturan pengelolaan sumberdaya laut dan perikanan untuk kesejahteraan seperti

praktek berburu paus oleh masyarakat Lamarera dan Lamakera Nusa Tenggara Timur dan Sasi

di Maluku. Untuk itu perlu digali dan direvitalisasi kembali nilai budaya masyarakat yang

berkaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir dalam rangka mensejahterakan masyarakat pesisir,

agar ide poros maritim yang muaranya adalah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat

(13)

Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Pendekatan pengelolaan wilayah pesisir harus dilakukan secara terpadu (Integrated Coastal

Management =ICM) yaitu keterpaduan perencanaan yang menyeimbangkan kepentingan

ekonomi, sosial budaya dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup (Alikodra, 2006).

ICM merupakan pendekatan pengelolaan yang memberikan arah bagi pemanfaatan sumberdaya

pesisir dan laut secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan berbagai perencanaan sektoral,

berbagai tingkat pemerintahan dan sekaligus mengintegrasikan komponen ekosistem darat dan

komponen ekosistem laut, serta sains dan manajemen. Istilah pembangunan berkelanjutan telah

memasuki perbendaharaan kata para ahli serta masyarakat setelah diterbitkannya laporan

mengenai pembangunan dan lingkungan serta sumberdaya alam. Laporan ini diterbitkan oleh

Komisi Dunia untuk Lingkungan Hidup dan Pembangunan - PBB (UN World Commission on

Environment and Development - WCED) yang diketuai oleh Harlem Brundtland, dalam laporan

tersebut didefinisikan istilah pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan

berkelanjutan adalah: "Pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa

mengorbankan generasi yang akan datang untuk dapat memenuhi kebutuhannya." (Siregar,

2004). Pembangunan Berkelanjutan adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu terhadap

pembangunan yang menggabungkan sekaligus tiga pilar pembangunan, yaitu pembangunan

ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan hidup. Lebih jauh, dikatakan bahwa

pada tingkat yang minimum, pembangunan berkelanjutan tidak boleh membahayakan sistem alam

yang mendukung semua kehidupan di muka bumi. Pembangunan berkelanjutan sebagai suatu

paradigma pembangunan baru yang menyepakati suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu

terhadap pembangunan, yang menggabungkan sekaligus tiga pilar pembangunan, yaitu

pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan hidup.

Siregar (2004) menjelaskan ada 3 aset dalam pembangunan berkelanjutan yaitu sumberdaya

alam, sumberdaya manusia, dan infrastruktur. Sumberdaya alam adalah semua kekayaan alam

yang dapat digunakan dan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sumberdaya

manusia adalah semua potensi yang terdapat pada manusia seperti akal pikiran, seni, dan

keterampilan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri maupun orang

lain atau masyarakat pada umumnya. Sedangkan infrastruktur adalah sesuatu buatan manusia

(14)

memanfaatkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia dengan semaksimalnya, baik untuk

saat ini maupun keberlanjutannya di masa yang akan datang.

Dalam pembangunan berkelanjutan terkandung dua gagasan penting yaitu pertama gagasan

kebutuhan yaitu kebutuhan esensial yang memberlanjutkan kehidupan manusia. Kedua gagasan

keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan

lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan hari depan (Djajadiningrat, dan Famiola, 2004).

Selanjutnya Djajadiningrat dan Famiola (2004) menyatakan bahwa setiap elemen pembangunan

berkelanjutan diuraikan menjadi empat hal yaitu: pemerataan dan keadilan sosial,

keanekaragaman, integratif dan perspektif jangka panjang.

Sistem pengelolaan lingkungan termasuk pengelolaan lingkungan pesisir juga harus memerlukan

indikator kinerja (performance indicator). Indikator kinerja pembangunan berkelanjutan telah

dilakukan di berbagai negara di dunia ini. Indonesia belum menjadikan indikator kinerja

pembangunan berkelanjutan. Tetapi Propinsi Sumatera Utara telah mulai menginisiasi indikator

kinerja pembangunan berkelanjutan (Bapedalda SU). PBB divisi pembangunan berkelanjutan

(UN, 2001) telah menyusun indikator pembangunan berkelanjutan, sebagaimana dilihat pada

Tabel.1. berikut ini:

Tabel. 1. Indikator Pembangunan Berkelanjutan

No. Kategori Indikator Parameter I. Indikator Sosial

1. Kemiskinan a. Jumlah persentase penduduk yang

hidup

di bawah garis kemiskinan.

b. Indeks gini ketidakadilan pendapatan. c. Tingkat pengangguran.

2. Kesehatan a. Status gizi anak-anak.

b. Tingkat kematian anak-anak di bawah 5 tahun.

c. Tingkat harapan hidup.

d. Persentase penduduk yang memiliki saluran pembuangan limbah (MCK). e. Immunisasi.

(15)

No. Kategori Indikator Parameter

5. Kriminalitas Jumlah kriminalitas per 100.000 penduduk.

6. Kependudukan a. Tingkat pertumbuhan penduduk.

b. Pemukiman penduduk formal dan informal

di perkotaan. II. Indikator Lingkungan

1. Perubahan Iklim Emisi gas rumah kaca.

2. Berlubangnya lapisan ozon Tingkat konsumsi zat yang merusak lapisan ozon.

3. Kualitas Air Konsentrasi pencemaran air ambien di perkotaan.

4. Pertanian a. Peruntukan lahan pertanian.

b. Penggunaan pupuk.

c. Penggunaan pestisida untuk pertanian.

5. Kehutanan a. Persentase lahan untuk hutan.

b. Intensitas pengambilan kayu.

6. Penggurunan Lahan yang menjadi gurun.

7. Perkotaan Permukiman penduduk formal dan informal

di perkotaan.

8. Pesisir a. Konsentrasi algae di laut.

b. Persentase dari total penduduk menetap

di pesisir.

9. Kuantitas Air Bersih Persentase air yang diambil dari ABT dan APU dari air yang tersedia setiap tahun. 10. Kualitas Air Bersih a. BOD di badan air.

b. Konsentrasi Bakteri Coli pada air bersih.

11. Spesies Kelimpahan spesies terpilih.

III. Indikator Ekonomi

1. Kinerja ekonomi GDP perkapita.

2. Perdagangan Keseimbangan perdagangan barang dan

jasa.

3. Status keuangan GNP.

4. Konsumsi Material Intensitas penggunaan material.

5. Penggunaan Energi a. Konsumsi penggunaan energi per kapita/tahun.

b. Intensitas penggunaan energi.

(16)

No. Kategori Indikator Parameter

6. Manajemen Sampah a. Sampah industri dan sampah padat. b. Limbah B3.

c. Sampah Radioaktif.

d. Penggunaan kembali dan recycle sampah.

IV. Indikator Kelembagaan 1. Implementasi Strategi

Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan Berkelanjutan Nasional.

2. Kerjasama Internasional Implementasi dari ratifikasi Perjanjian Global.

3. Akses Informasi Jumlah internet yang terdaftar per 1000 penduduk.

4. Komunikasi Jumlah nomor telepon per 1000 penduduk.

5. Infrastruktur

6. Sains dan teknologi Persentase biaya litbang dibandingkan dengan GDP.

7. Persiapan dan tanggung jawab terhadap bencana

Kerugian manusia akibat bencana.

Sementara itu Dahuri (2003) telah menulis indikator pembangunan berkelanjutan dalam

pengelolaan sumberdaya keanekaragaman hayati laut, yang minimal harus meliputi 4 dimensi

yaitu: (1) ekonomi, (2)sosial, (3)ekologi, (4)pengaturan (governance). Adapun indikator

pembangunan berkelanjutan sumberdaya perikanan yang diungkap oleh Dahuri (2003) dapat

dilihat pada Tabel 2.

Tabel. 2. Indikator Pembangunan Berkelanjutan di Wilayah Pesisir

Dimensi Indikator

1. Ekonomi

 Volume dan nilai produksi.

 Volume dan nilai ekspor (dibandingkan dengan nilai total ekspor nasional).

 Kontribusi sektor perikanan terhadap PDB.  Pendapatan nelayan.

(17)

pengolahan.

2. Sosial

 Penyerapan tenaga kerja.  Budaya kerja.

 Tingkat pendidikan.  Tingkat kesehatan.

 Distribusi jender dalam proses pengambilan keputusan (gender distribution in decision making).  Kependudukan (demography).

3. Ekologi

 Komposisi hasil tangkap.

 Hasil tangkap per satuan upaya (CPUE).  Kelimpahan relatif spesies target.

 Dampak langsung alat tangkap terhadap spesies non target.

 Dampak tidak langsung penangkapan terhadap struktur tropik.

 Dampak langsung alat tangkap terhadap habitat.  Perubahan luas area dan kualitas habitat penting

perikanan.

 Hak kepemilikan (property rights).

4. Governance

 Ketaatan terhadap peraturan perundangan (compliance regime).

 Transparansi dan partisipasi. Sumber: Dahuri (2003).

Dalam kaitannya dengan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development),

pengembangan institusi lingkungan sangat berbeda dengan pengembangan institusi pembangunan.

Prinsipnya adalah institusi lingkungan harus mampu mempromosikan pembangunan yang

terlanjutkan. Oleh karena itu institusi harus mampu merubah mandat ataupun kebijakan yang

(18)

suasana institusi pembangunan saat ini yang diwarnai dengan eksploitasi dan mengutamakan

kepentingan ekonomi (Karwono, 2008).

Untuk mencapai sasaran kolaborasi secara tepat, Alikodra (2006) menyarankan perlu

dikembangkan tiga prinsip dasar, yaitu pertama, pemberdayaan dan pembangunan kapasitas.

Kedua, pengakuan terhadap kearifan dan pengelolaan tradisional, serta perbaikan hak masyarakat

lokal. Serta ketiga, pembangunan berkelanjutan, akuntabel dan transparan, pelestarian

lingkungan, pengembangan mata pencaharian, keadilan dan keterpaduan.

Penutup

1. Pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat dapat didefinisikan sebagai suatu proses

pemberian wewenang, tanggung jawab dan kesempatan kepada masyarakat untuk

mengelola suberdaya perikananannya sendiri dengan terlebih dahulu mendefinisikan

kebutuhan dan keinginan, tujuan serta aspirasinya.

2. Ko-manajemen adalah pembagian atau pendistribusian tanggung jawab dan wewenang

antara pemerintah dan masyarakat lokal dalam mengelola wialayah pesisir dan

sumberdaya perikanan, yang merupakan integrasi dari model pengelolaan berbasis

masyarakat dan model pengelolaan berbasis pemerintah.

3. Pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat yang berkelanjutan merupakan

keniscayaan yaitu suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu terhadap pembangunan

yang menggabungkan sekaligus tiga pilar pembangunan, yaitu pembangunan ekonomi,

pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan hidup.

4. Model Ko-manajemen merupakan model pengelolaan terbaru yang merupakan integrasi

dari model pengeloaan berbasis masyarakat dan model pengelolaan berbasis pemerintah.

Secara konseptual model ini, diyakini bisa menanggulangi permasalahan kerusakan

lingkungan sekaligus pengentasan kemiskinan pada masyarakat pesisir.

5. Memahami komunitas pesisir dan nilai yang mereka miliki akan bisa membantu

(19)

perubahan yang berpotensi negatif. Tidak itu saja, memahami masyarakat akan bisa

membatu upaya merancang penguatan kapasitas bagi seluruh stakeholder yang terlibat

dalam implementasi model ko manajemen. Dalam hal inilah tampaknya perguruan tinggi

harus berperan. Peran itu tentunya berkenaan dengan kemampuan perguruan tinggi

untuk bisa membantu mengelaborasi kekuatan masyarakat sebagai modal dalam

pengelolaan dan pembangunan serta membantu pemerintah dalam merancang perannya

sebagai fasilitator yang responsif pada kebutuhan masyarakat. Bila semua pihak paham

akan kedudukannya serta mampu memainkan peran dengan baik, maka upaya besar

meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan wilayah pesisir berbasis

(20)

DAFTAR PUSTAKA

1. Alikodra, Hadi S. 2006. Integrasi Konsep Pengelolaan SDAL Dalam Perencanaan Pembangunan Daerah. Makalah Disampaikan Pada Diklat Perencanaan Daerah. Badan Diklat DEPDAGRI. Jakarta.

2. ---. 2006. Pengembangan Institusi Lingkungan Hidup. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

3. ---, 2006. Pengelolaan Kolaboratif Kawasan Konservasi Di Era Otonomi Daerah. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengelolaan Kolaboratif Taman Nasional Karimunjawa. Semarang 19 September 2006.

4. Adhuri, Dedi Supriadi. 2005. Perang-perang Atas Laut, Menghitung Tantangan pada Manajemen Sumberdaya Laut di Era Otonomi : Pelajaran dari Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Dalam Jurnal Antropologi Indonesia Vol 29, No.3. Hal.300-308.

5. Bengen, D. G. 2002. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Lautan. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. Bogor.

6. Cicin-Sain and Knecht R.W. 1998. Integrated Coastal and Marine Management. Island Pres, Washington D.C.

7. Dahuri, Rokhmin. 1997. Pengembangan Rencana Pengelolaan Pemanfaatan Berganda Ekosistem Mangrove di Sumatera. Dalam Panduan Pelatihan Pelestarian dan Pengembangan Ekosistem Mangrove Secara Terpadu dan Berkelanjutan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Brawijaya. Malang.

8. --- 2000. Reposisi Pembangunan Perikanan Indonesia Dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Makalah Dalam Seminar Sehari Kementerian Eksplorasi Laut : Mampukah Menjamin Hak-hak Nelayan Tradisional. JALA, SNSU dan FISIP USU. Medan.

9. --- 2000. Pemberdayaan Wilayah Pesisir Yang Berbasis Pada Pemberdayaan Masyarakat. Makalah disampaikan pada Rapat Kerja Center For Regional Resource Development and Community Enpowerment (CRESCENT). Bogor 20-23 April 2000. Bogor.

10.--- 2003. Keanekaragaman Hayati Laut. Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

(21)

12. Djajadiningrat, S, T. Dan Melia F. 2004. Kawasan Industri Berwawasan Lingkungan (Eko-Industrial Park) Fenomena Baru dalam Membangun Industri dan Kawasannya Demi Masa Depan Berkelanjutan. Rekayasa Sains. Bandung.

13.Elikisia. 2000. Model Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Berbasis Masyarakat

(Sasi) di Maluku dalam Prosiding Konperensi Nasional II Pengelolaan Sumberdaya

Pesisir dan Lautan Indonesia. Makasar. Kerjasama Proyek Pesisir Jakarta-UNHAS, DELP, CRC – Univ.Rhode Island-Pemda Sulsel dan LSM Konsosium Kelautan Sulsel.

14.Fauzi, A. 2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan. Gramedia Pustaka Utama. 2005. Jakarta.

15.Harahap, R.Hamdani. 2002. Kajian Akademik Peraturan Daerah Sektor Kelautan dan Perikanan. Makalah, Medan, Sumatera Utara.

16.Harahap, R.Hamdani. 1992. Nelayan dan Kemiskinan (Studi Antropologis Di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang). Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian USU.

17.Harahap, R.Hamdani. 1993. Kearifan Ekologi Masyarakat Nelayan Desa Jaring Halus,

Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara. Laporan

Penelitian. Lembaga Penelitian USU.

18.Harahap, R.Hamdani. 1994. Orientasi Nilai Budaya Nelayan Propinsi Sumatera Utara( Studi Perbandingan Terhadap Masyarakat Nelayan Desa Jaring Halus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat dan Masyarakat Nelayan Cina di Desa Sungai

Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhan Batu). Laporan Penelitian.

Lembaga Penelitian USU.

19.Harahap, R.Hamdani. 1994a. Keterkaitan Faktor Kebudayaan Dalam Pemenuhan Kebutuhan Masyarakat Nelayan dan Pelestarian Lingkungan Di Daerah Pantai Timur Sumatera Utara. Tesis S2. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

20.Harahap, R.Hamdani dan Subhilhar. 1998. Partisipasi Masyarakat Nelayan Dalam Pengelolaan Mangrove. Laporan Penelitian Tidak Diterbitkan. DP3M Dirjen Dikti dan FISIP USU. Medan.

21.Hawley, Amos. H. 1950 Human Ecology: A Theory Of Community Structure. New York. Ronald Press.Co

(22)

23.Karwono, H. Pengembangan Kapasitas Berkelanjutan untuk Desentralisasi (Sustainbale

Capacity Building Decentralization) dan Peran Lembaga Pendidikan.

http://karwono.wordpress.com. Tgl 28 Oktober 2008.

24.Kay, R.and Alder, J. 1999. Coastal Planning and Management. E & FN Spon. London.

25.Kluckhohn, Clyde. 1944. Mirror for Man, New York: Fawcett

26.Korten, D.C. 1984. People Centered Development. West Harford. Kumarian Press.

27.Lubis, Kamaluddin. 1991. Hukum Sebagai Sarana Rekayasa Konflik Kepentingan Dalam Pemanfaatan Laut dan perikanan (pesisir) Mangrove di Sumatera Utara. Dalam Seminar Nasional Kehidupan Nelayan dan Aspek Hukumnya di Wilayah Pantai Pesisir Timur. Fakultas Hukum USU. Medan.

28.Mardikanto, Totok dan Poerwoko Soebiato. 2012. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Kebijakan Publik. Bandung. Alfabeta.

29.Nikijuluw, Victor P.H. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. P3R. Jakarta.

30.Nybakken, James W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

31.Person, Gerard A, Diny M.E. dan Tessa Minter. 2005. Decentralisation of Natural Resource Management : Some Themes and Unresolved Issues. Dalam Jurnal Antropologi Indonesia Vol 29, No.3. Hal.225-238.

32.Sinar, Tengku Lukman dan Wan Saifuddin. 2002. Kebudayaan Melayu Sumatera Timur. Medan: USU Press

33.Siregar, Doli D. 2004. Manajemen Aset Strategi Penataan Konsep Pembangunan

Berkelanjutan Secara Nasional Dalam Konteks Kepala Daerah Sebagai CEO’s pada Era

Globalisasi & Otonomi Daerah. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

34.Tarigan, Kelin. 1990. Pengaruh Motorisasi Penangkapan Terhadap Distribusi Pendapatan Nelayan di Sumatera Utara. Disertasi S3 UNPAD. Bandung.

35.Wartaputra, Sutisna. 1991. Kebijaksanaan Pengelolaan Mangrove Dari Sudut Konservasi. Dalam Prosiding Seminar IV Ekosistem Mangrove. LIPI. Jakarta.

Gambar

Tabel. 1. Indikator Pembangunan Berkelanjutan
Tabel. 2. Indikator Pembangunan Berkelanjutan di Wilayah Pesisir

Referensi

Dokumen terkait

pada konsep termoregulasi dalam model pembelajaran guided inquiry.

sekuriti yang dibuat dalam mengamankan data tiap user yang menggunakan TOR project.. Aplikasi shadow-plugin-TOR memberikan model simulasi TOR project untuk

Maka dari itu dalam hal ini responden dapat menjaga pola hidup sehat yang baik. Jika dilihat melalui diagram, maka hasil distribusi jawaban

Bab ini berisi tentang ulasan mengenai teori dari Jan Hendriks mengenai Pembangunan Jemaat menjadi Jemaat vital dan menarik serta kaitannya dengan visi-misi dan konsepsi

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Lembaga Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang ada di Desa Kotobaru Kecamatan Singingi Hilir Kabupaten Kuantan Singingi

Kepada para sponsor, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Pengprov Kepri, PLN Batam, Management Hotel Golden View dan berbagai pihak yang mendukung kegiatan ini yang tidak

Inkubasi PCR tube pada suhu 65°C selama 5 menit dengan menggunakan thermal cycler, kemudian dinginkan pada suhu 4°C selama 1 menit dan dilanjutkan dengan sentrifugasi secara

stabilizer pati talas lokal dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap total keasaman yogurt yang diproduksi pada