KONSEP ISLAM TENTANG WAHYU DAN NABI I
Selain menciptakan aayat yang terhampar dan tertuliskan (taanzil), Allah juga menciptakan nabi dan Rasul. Dalam tulisan ini saya ingin mengajak agar kita mentadabburi satu ayat yang sering kita baca. “innaznazzaltu ‘ala zikrowa’ula lahaafizun”. Wahyu berasal dari bahasa Arab, “wahaa-yuhii-wahyan”. Menurut Ibnu Manzur (seorang ahli bahasa pembuat Lisaanul Arab) wahyu adalah setiap yang kamu sampaikan kepada selain kamu (pesan yang secara umum). Dalam kamus Al munawwir wahyu adalah isyarat. Sesuatu yang tidak dapat semua orang mengetahuinya (kode-kode, petunjuk, tulisan, samar, cepat, ilham, dan suara). Semua kata ini memiliki hubungan satu sama lain.
Secara bahasa al-astaro as-syariah, isyarat yang cepat datangnya. Wahyu dapat berupa tulisan, ilham, suara. Pemberitahuan yang tersembunyi atau tidak diketahuioleh pihak lin. Pembicaraan yang tertutup tidak dapat diketahui orang lain dan cepat penyampaiannya (mabahis fii ulumil Qur’an). Wahaytu ilaihi bermakna saya menceritakan kepadanya secara rahasia.
Dalam Al Qur’an wahyu dalam surat an-nahl “dan Tuhanmu mewahyukan kepadamu (lebah). Masih berupa kata yang umum.” Wahyu dalam hal ini berupa naluri. Wahyu dapat berupa karunia (petunjuk kepada hewan-hewan). Wahyu dalam ayat ain berarti isyarat (tanda-tanda untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu). Makna yang lain adalah membisikkan dalam makna negatif. wahyu bermakna fitrah bagi manusia seperti seorang ibu yang menyusui anaknya. Wahyu dapat berarti perintah (dalam surat al anfal), Allah memerintahkan kepada malaikat. Secara istilah wahyu adalah kalamullah yang diturunkan dan menjadi konsep yang penting kepada seorang Nabi.
hasad. Oleh karena itu Nabi disebut pembuat syair yang gila, dukun, dan tukang sihir. Karena penyair-penyair Arab sangat hebat seperti orang gila.
Wahyu bukanlah kehendak Nabi. Para sahabat pernah melihat Nabi menerima wahyu tersebut. Nabi berasal dari kata Nabaa yang artinya pembawa berita besar dan penting. Dan berita penting adalah hari akhir dan ketauhidan. Nabi tidak diperintahkan menyampaikan wahyu seperti halnya Rasul. Nabi dan Rasul ada diciptakan untuk mengingatkan perjanjian di alam alastu. Karena dunia bersifat melupakan (daana sesuatu yang jauh namun dibawa dekat). Setelah Nabi tiada, ada seorang ulama yang meneruskan ajaran para Nabi. Nabi mengingatkan mengenai hutang manusia, kabar gembira, dan siksa. Inilah tujuan utama penciptaan Nabi.
Secara fisik, Nabi adalah seorang manusia biasa, tetapi tidak sama dengan manusia lain karena tidak pernah melakukan kesalahan (maksum). Kemudian Nabi memiliki hati yang bersih (seperti saat nabi dibelah dadanya). Seorang manusia biasa memiliki sifat dengki, seperti ta’azun (menginginkan kegagalan yang dihadapi orang lain) atau hasad (menginkan kenikmatan orang lain hilang dari dirinya). Nabi juga memiliki kekhuisusan syariat, seperti wajib mengerjakan sholat malam, dan menikah lebih dari empat kali. Nabi memiliki posisi yang unik, bukan sebagai Tuhan namun manusia yang dapat diteladani untuk seluruh manusia.
Agama para Nabi adalah sama, namun syariatnya yang berbeda-beda. Tidak benar jika mengatakan bahwa pembawa agama Kristen adalah nabi Isa, Yahudi adalah Nabi Musa. Agama selain Islam merupakan agama yang palsu karena dibuat oleh manusia. Bagaimana Al-Quran dapat sampai dari Allah SWT hingga saat ini. Wahyu dapat datang dalam bentuk bermacam-macam, contohnya dalam gemerincing lonceng yang menjadi hal terberat dirasakan Nabi. Wahyu dapat berupa malaikat yang bebentuk apapun, wahyu dapat juga berupa mimpi, wahyu dapat juga berupa gejala psikologis secara spontan. Nabi menghapal seluruh wahyu dan diperiksa oleh malaikat hapalannya setiap Ramadhan.
hapalan ke-tujuh orang sahabat yang utama. Selain dihapalkan, Al-Qur’an juga dituliskan oleh ke-empat sahabat. Dan tulisan mengikuti hapalan yang mengikuti cara membaca.
Tahap kedua setelah Nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam, Al Qur’an dituliskan. Hanya karena banyak sahabat yang meninggal para medan perang. Mushaf utsmani sesungguhnya telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar, Umar bin Khattab, setelah Umar meninggal, dipegang oleh Hafshah. Setelah masa kepemimpinan Utsman, Al-Qur’an menyebar ke berbagai penjuru dunia termasuk pada masyarakat nonArab yang tidak mengetahui kaidah bahasa Arab.