• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Teoritis - Pengaruh Price Earning Ratio, Debt To Equity Ratio, Price To Book Value Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bei

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Teoritis - Pengaruh Price Earning Ratio, Debt To Equity Ratio, Price To Book Value Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bei"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Definisi Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi, berupa ringkasan atau ikhtisar peristiwa-peristiwa keuangan suatu perusahaan untuk suatu periode tertentu. Oleh sebab itu untuk memberikan suatu batasan yang baik, maka terlebih dahulu akan diberikan pengertian akuntansi. Fess et al, (2006 : 10) “akuntansi adalah sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan”.

Fesset al, (2006 : 24) mengatakan bahwa “laporan keuangan merupakan laporan akuntansi yang menghasilkan informasi bagi pemakai yang diperoleh dari transaksi yang dicatat dan diikhtisarkan”. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa laporan keuangan meliputi laporan laba rugi, laporan ekuitas pemilik, laporan posisi keuangan, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

2.1.2 Tujuan dan Analisis Laporan Keuangan

Laporan keuangan dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran atau laporan kemajuan secara periodik yang dilakukan pihak manajemen atau akuntan. Harahap, (2007 : 121) menurut SAK Nomor 1, tujuan laporan keuangan sebagai berikut :

1) tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. 2) laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama

(2)

ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.

3) laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), atau Pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

Menurut Wild (2005) “analisis laporan keuangan merupakan kumpulan proses analisis yang merupakan bagian dari analsis bisnis”. Instrumen dalam analisis laporan keuangan adalah laporan keuangan perusahaan yang diterbitkan pada periode tertentu. Analisis laporan keuangan ada berbagai jenis, diantaranya adalah analisis laporan keuangan komparatif, analisis laporan keuangan common – size, analisis rasio, dan analisis arus kas.

2.1.3 Bank

Pengertian bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Menurut Kasmir (2008:9), Ada tiga kegiatan pokok yang dilakukan oleh bank yaitu :

1) Menghimpun dana (funding) dari masyarakat dalam bentuk simpanan (giro, tabungan, deposito), dalam hal ini bank sebagai tempat menyimpan uang atau berinvestasi bagi masyarakat.

2) Menyalurkan dana (lending) ke masyarakat dalam bentuk kredit dan investasi, dalam hal ini bank menyediakan dana bagi masyarakat yang membutuhkannya.

3) Memberi jasa-jasa bank lainnya (services) seperti transfer, clearing, inkaso, letter of credit, safe deposit box, bank garansi, dan lain- lain yang merupakan jasa pendukung dari kegiatan pokok bank.

4) Menghimpun dana (funding) dari masyarakat dalam bentuk simpanan (giro, tabungan, deposito), dalam hal ini bank sebagai tempat menyimpan uang atau berinvestasi bagi masyarakat.

5) Menyalurkan dana (lending) ke masyarakat dalam bentuk kredit dan investasi, dalam hal ini bank menyediakan dana bagi masyarakat yang membutuhkannya.

(3)

2.1.4 Analisis Penilaian Saham

Ahmad (2004:74) menyatakan bahwa “saham merupakan surat berharga yang paling banyak dan luas perdagangannya”. Pemegang surat berharga ini memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham dan memperoleh pembagian keuntungan (deviden) dari perusahaan juga kemungkinan adanya keuntungan atas kenaikan modal (nilai) surat berharga tersebut (capital gain).

Terdapat berbagai jenis saham yang diperdagangkan di bursa efek, yaitu: Saham Biasa, Saham Preferen, dan Saham Treasuri.

1. Saham Biasa (Common Stock)

Saham biasa adalah saham yang tidak memperoleh hak istimewa. Pemegang Saham biasa mempunyai hak untuk memperoleh dividen sepanjang perseroan memperoleh keuntungan. Pemilik saham mempunyai hak suara pada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya ( one share one vote).“Pada likuidasi perseroan, pemilik saham memiliki hak memperoleh sebagian dari kekayaan setelah semua kewajiban dilunasi” (Anoraga, 2006 : 54). Menurut Darmadji, et al(2001 : 8), karakteristik saham biasa :

a. Deviden dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.

b. Memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham (one share one vote).

c. Memiliki hak terakhir (junior) dalam hal pembagian kekayaan perusahaan jika perusahaan tersebut dilikuidasi (dibubarkan) setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.

d. Memiliki tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sebesar proporsi sahamnya. e. Hak untuk mengalihkan kepemilikan sahamnya.

2. Saham Preferen (Preferred Stock)

(4)

preferen mempunyai ciri-ciri yang merupakan gabungan dari utang dan modal sendiri (debt and equity)” (Anoraga, 2006 : 55).

Menurut Darmadji, et al(2001 : 8), karakteristik saham preferen : a. Memiliki hak lebih dahulu memperoleh dividen.

b. Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan pengurus perusahaan.

c. Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih dahulu setelah kreditor apabila perusahaan tersebut dilikuidasi (dibubarkan).

d. Kemungkinan dapat memperoleh tambahan dari pembagian laba perusahaan di samping penghasilan yang diterima secara tetap.

e. Dalam hal perusahaan dilikuidasi, memiliki hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan di atas pemegang saham biasa setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi. 3. Saham Treasuri

Saham treasuri (treasury stock) merupakan saham milik perusahaan yang sudah pernah dikeluarkan dan beredar yang kemudian dibeli kembali oleh perusahaan untuk disimpan sebagai treasuri yang nantinya dapat dijual kembali” Jogiyanto (2003 : 76). Alasan-alasan perusahaan emiten membeli kembali saham beredar sebagai saham treasuri adalah sebagai berikut:

a. Akan digunakan dan diberikan kepada manajer-manajer atau karyawan-karyawan di dalam perusahaan sebagai bonus dan kompensasi dalam bentuk saham.

b. Meningkatkan volume perdagangan di pasar modal dengan harapan meningkatkan nilai pasarnya.

c. Menambah jumlah lembar saham yang tersedia untuk digunakan menguasai perusahaan lain.

d. Mengurangi jumlah lembar saham yang beredar untuk menaikkan laba per lembarnya. e. Alasan khusus lainnya yaitu dengan mengurangi jumlah saham yang beredar sehingga

dapat mengurangi kemungkinan perusahaan lain untuk menguasai jumlah saham secara mayoritas dalam rangka pengambilan alih tidak bersahabat (hostile takeover).

Menurut Darmadji, et al (2001 : 6), dilihat dari cara peralihannya saham dapat dibedakan atas:

(5)

2. Saham Atas Nama (registered stocks) merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa pemiliknya, di mana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.

Menurut Darmadji, et al (2001 : 7), ditinjau dari kinerja perdagangan maka saham dapat dikategorikan atas:

1. Blue-Chips Stocks, yaitu saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen.

2. Income Stocks, yaitu saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya. Emiten seperti ini biasanya mampu menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur membagikan dividen tunai. Emiten ini tidak suka menahan laba dan tidak mementingkan potensi pertumbuhan harga saham.

3. Growth Stocks, yaitu saham-saham dari emiten yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai leader di industri sejenis yang mempunyai reputasi tinggi.

4. Speculative Stocks, yaitu saham suatu perusahaan yang tidak secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai kemungkinan penghasilan yang tinggi di masa mendatang meskipun belum pasti.

5. Counter Cyclical Stocks, yaitu saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Pada saat resesi ekonomi, harga saham ini tetap tinggi, dimana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi sebagai akibat dari kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi. Emiten seperti ini biasanya bergerak dalam produk yang dibutuhkan masyarakat seperti consumer goods.

Dalam konteks teori ada dua pendekatan untuk melakukan analisis investasi dalam bentuk saham, yaitu :

1. Analisis Fundamental

(6)

dapat diketahui beberapa faktor fundamental, antara lain: rasio-rasio keuangan, arus kas, dan

ukuran-ukuran kinerja lainnya yang dihubungkan dengan return saham.

Dengan analisis fundamental yang mendalam dan menyeluruh atas kondisi suatu

perusahaan emiten, investor akan memilih mana saham dinilai terlalu rendah dan mana saham

yang dinilai terlalu tinggi. Faktor-faktor fundamental yang mencerminkan kinerja keuangan

suatu perusahaan dapat dianalisis dari laporan keuangan yang dikeluarkan secara periodik yang

tercermin melalui rasio-rasio keuangan. Rasio keuangan adalah perbandingan antara dua elemen

laporan keuangan yang menunjukkan suatu indikator kesehatan keuangan pada waktu tertentu.

Rasio keuangan menyederhanakan informasi yang mengambarkan hubungan antara pos tertentu

dengan pos lainnya. Menurut Ang (1997) Penilaian secara cepat hubungan antara pos tadi

kemudian membandingkannya dengan rasio

lain sehingga diperoleh informasi untuk kemudian diberikan suatu penilaian, dapat dilakukan

dengan penyederhanaan informasi ini.

Ang (1997) menyatakan bahwa “analisis faktor fundamental didasarkan pada analisis

keuangan yang tercermin dalam rasio-rasio keuangan yang terdiri dari lima rasio, yaitu Rasio

Likuiditas, Rasio Rentabilitas (profitabilitas), Rasio Solvabilitas (solvency), Rasio Pasar, dan Rasio Aktivitas”.

2. Analisis Teknikal

Merupakan suatu teknik analisis yang menggunakan data atau catatan pasar untuk berusaha

mengakses permintaan dan penawaran suatu saham maupun pasar secara keseluruhan. Analisis

teknikal menggunakan data pasar yang sudah dipublikasikan seperti harga saham, volume

(7)

menekankan pada perilaku investor di masa yang akan datang berdasarkan kebiasaan di masa lalu (nilai psikologis).

2.1.5 Price Earning Ratio (PER)

Menurut Ang (1997 : 6.24) “price Earning Ratio merupakan perbandingan antara harga pasar suatu saham (market price) dengan Earning Per Share (EPS) dari saham yang bersangkutan”.

Sedangkan menurut Garrison (1998 ; 788) “PER merupakan hubungan antara harga pasar saham dengan EPS saat ini yang digunakan secara luas oleh investor sebagai panduan umum untuk mengukur nilai saham”. PER yang tinggi menunjukkan bahwa investor bersedia untuk membayar dengan harga saham premium untuk perusahaan PER juga merupakan ukuran untuk menentukan bagaimana pasar memberi nilai atau harga pada saham perusahaan.

Keinginan investor melakukan analisis saham melalui rasio-rasio keuangan seperti PER, dikarenakan adanya keinginan investor atau calon investor akan hasil (return) yang layak dari suatu investasi saham. Semakin besar PER suatu saham maka menyatakan saham tersebut akan semakin mahal terhadap pendapatan bersih per saham. Jika dikatakan suatu saham mempunyai PER 10 kali, berarti harga saham tersebut 10 kali lipat terhadap EPSnya. Saham yang memiliki PER yang semakin kecil bagi pemodal akan semakin bagus, karena saham tersebut memiliki harga yang semakin murah. PER merupakan salah satu segi untuk memandang kinerja harga saham. Menurut Ang (1997 : 6.24) “penilaian PER dapat dirumuskan sebagai berikut :

=

Dengan :

(8)

Closing Price : Harga pasar suatu saham

Earning per share : Laba per lembar saham

2.1.6 Debt to Equility Ratio (DER)

DER (Debt to Equity Ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat

leverage (penggunaan hutang) terhadap total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan,

yang dirumuskan sebagai berikut :

=

Dengan :

DER : Debt to Equity Ratio

Total Debt : Total hutang

Total Shareholders’ Equity : Total modal sendiri

Debt to Equity Ratio mencerminkan kemampuan dari suatu perusahaan dalam memenuhi

seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh modal sendiri yang digunakan sebagai pembayaran

hutang. Dengan demikian debt to equity ratio dapat memberikan gambaran mengenai struktur

modal yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga dapat dilihat risiko tidak tertagihnya suatu

hutang. Semakin tinggi beban / hutang (DER) maka resiko yang ditanggung juga besar. Hal ini

akan mempengaruhi tingkat kepercayaan investor terhadap perusahaan dan selanjutnya akan

mempengaruhi returnsaham investor tersebut.

2.1.7 Price to Book Value(PBV)

Rasio ini memberikan petunjuk lain bagaimana investor memandang suatu perusahaan.

Perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian yang tinggi akan memiliki nilai buku (book

(9)

Nilai buku dan ekuitas adalah perbedaan nilai buku asset dengan nilai buku kewajiban sebagai berikut:

PBVn

=

Pn

BVn

Dengan :

PBVn : Price to Book Value

Pn : Harga per lembar saham pada tahun ke –n BVn : Nilai buku per lembar saham pada tahun ke –n

Pengukuran nilai buku aset umumnya dinyatakan melalui nilai asset pada saat membeli dikurangi dengan depresiasi aset tersebut. Konsekuensinya, nilai buku aset akan menurun dengan bertambahnya usia. Sedangkan nilai buku kewajiban merupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan perusahaan pada saat penilaian

Beberapa keunggulan PBV:

1. Nilai buku memberikan nilai yang relatif stabil dan dapat dibandingkan dengan harga pasar.

2. PBV rasio dapat diperbandingkan antar perusahaan-perusahaan yang menggunakan standar akuntansi yang sama.

3. Perusahaan dengan negative earning tidak dapat dinilai dengan PER tetap dapat dinilai dengan menggunakan PBV rasio.

2.1.8 ReturnSaham

Return saham adalah keuntungan yang diperoleh dari kepemilikan saham investor atas investasi yang dilakukannya, yang terdiri dari deviden dan capital gain/loss.Deviden merupakan keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dalam suatu periodik tertentu.

(10)

akhir periode. Bila harga saham pada akhir periode lebih tinggi dari harga awalnya, maka

dikatakan investor memperoleh capital gain, sedangkan bila yang terjadi sebaliknya maka

investor dikatakan memperoleh capital loss.

Menurut Jogiyanto (2003) “return adalah hasil yang diperoleh dari investasi”. Jogiyanto

membagi returnmenjadi dua yaitu :

1) Return realisasi, yaitu return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis dan bisa digunakan sebagai pengukur kinerja perusahaan serta sebagai penentuan return ekspektasi dan resiko masa datang.

2) Return ekspektasi, yaitu return yang diharapkan akan diperoleh investor di masa yang akan datang.

Berdasarkan pengertian return, bahwa return saham adalah hasil yang diperoleh dari

investasi dengan cara menghitung selisih harga saham periode berjalan dengan periode

sebelumnya dengan mangabaikan deviden karena sebagian dari perusahaan perbankan yang

terdaftar di BEI tersebut selama periode penelitian tidak menerbitkan nilai dividennya, maka

dapat ditulis rumus:

Ri =

Dengan :

Ri : Return saham

Pt : Harga saham pada periode t

Pt-1 : Harga saham pada periode t-1

2.2 Review Penelitian Terdahulu

Beberapa peneliti telah melakukan penelitian yang berkaitan dengan beberapa faktor

fundamental yang dihubungkan dengan prediksi return saham. Hasil dari beberapa peneliti :

1. Marisa (2010) melakukan penelitian Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Perusahaan

(11)

independen dalam penelitian ini adalah DER, ROE, EPS, PER, OCF, sedangkan

variable dependennya yaitu return saham. Hasil penelitian menunjukkan secara

simultan, DER ,ROE, EPS, PER, OCF tidak berpengaruh signifikan terhadap return

saham. Sementara secara parsial, DER, ROE, OCF, EPS tidak memiliki pengaruh

terhadap return saham. Hanya PER yang berpengaruh signifikan terhadap return saham.

2. Artatik (2007) melakukan penelitian mengenai Pengaruh Earning Per Share, dan Price

Earning Ratio terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek

Jakarta . Variabel penelitian yaitu price earning ratio dan earning per share secara

simultan ada pengaruh antara EPS dan PER terhadap return saham pada perusahaan

manufaktur di BEJ. Secara parsial EPS berpengaruh terhadap return saham sedangkan

PER tidak berpengaruh terhadap return saham.

3. Nathaniel (2008) melakukan penelitian pada saham-saham Real Estate and Property

yang listed di Bursa Efek Indonesia periode 2004 sampai 2006 dengan menggunakan

beberapa variabel, yaitu DER, EPS, NPM dan PBV. Hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa hanya variabel PBV yang berpengaruh signifikan terhadap return saham,

sedangkan DER, EPS, NPM berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hasil

yang signifikan ini menunjukkan bahwa DER, EPS, dan NPM tidak dapat dijadikan

sebagai acuan dalam menentukan strategi investasi para investor dalam menanamkan

sahamnya di pasar modal.

4. Ikhsan (2011) meneliti Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada

Perusahaan Perbankan Yang terdaftar di BEI. Yang menjadi variable independen dalam

(12)

return saham. Hasil penelitian menunjukkan secara simultan maupun parsial

berpengaruh signifikan terhadap return saham.

5. Trisnaeni (2007) melakukan penelitian mengenai Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap

Return Saham pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta.Variabel yang sama

diantara variabel penulis dengan variabel penelitian terdahulu adalah variabel Price

Earning Ratio, Price to Book Value, Debt to Equit Ratio, Price to Book Value dan

Return Saham. Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian terdahulu adalah

perbedaan pada segi jumlah periode, jenis perusahaan dan variabel – variabel yang

digunakan di dalam penelitian ini.

Berikut ini disajikan tabel penelitian terdahulu yang membahas tentang returnsaham.

(13)

No saham. Secara parsial, DER, ROE, OCF, EPS tidak memiliki pengaruh terhadap return saham. Hanya PER yang

berpengaruh signifikan terhadap return perusahaan manufaktur di BEJ. Secara parsial EPS berpengaruh terhadap return saham sedangkan PER tidak berpengaruh terhadap return saham

Hanya variabel PBV yang berpengaruh signifikan terhadap return saham, sedangkan DER, EPS, NPM tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham.

(14)

2.3 Kerangka Konseptual

Suatu kerangka konseptual akan menghubungkan secara teoritis antar variabel penelitian

yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai.

Sedangkan dalam penelitian ini variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari

orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2003). Variabel bebas adalah variabel

yang mempengaruhi variabel lain (Umar, 2003). Variabel terikat merupakan variabel yang

dijelaskan atau yang dipengaruhi oleh variabel independen (Umar, 2003). Kerangka konseptual

yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang diteliti (Sugiyono,

2007). Kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini:

H1

rasio keuangan yang terdiri dari rasio EPS, PER, DER, ROI dan ROE tidak berpengaruh secara serentak terhadap

(15)

H2

H3

H3 H4

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Perusahaan dengan peluang tingkat pertumbuhan tinggi biasanya mempunyai PER yang

tinggi pula, dan hal ini menunjukkan bahwa pasar mengharapkan pertumbuhan laba di masa

mendatang. Sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung

mempunyai PER yang rendah pula. Semakin rendah harga PER suatu saham maka semakin baik

atau murah harganya untuk diinvestasikan. PER menjadi rendah nilainya bisa karena harga

saham cenderung semakin turun atau karena meningkatnya laba bersih perusahaan. Jadi semakin

kecil nilai PER maka semakin murah saham tersebut untuk dibeli dan semakin baik pula kinerja

per lembar saham dalam menghasilkan laba bagi perusahaan. Semakin baik kinerja per lembar

saham akan mempengaruhi banyak investor untuk membeli saham tersebut.

DER adalah rasio yang menunjukan persentase penyedian dana oleh pemegang saham

terhadap pemberi pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan yang

disediakan oleh pemegang saham. Dari perspektif kemampuan membayar kewajiban jangka

panjang, semakin rendah rasio akan semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar

kewajiban jangka panjangnya. Perusahaan yang tidak dapat membayar kewajiban jangka panjang

perusahan tersebut. Menunjukkan bahwa perusahaan tersebut berada dalam kondisi tidak baik

yang dapat mengurangi niat investor untuk menanamkan untuk berinvestasi. Investasi kecil

menunjukkan kecilnya minat investor untuk menamkan sahamnya.

Return Saham(Y) PER (X1)

DER (X2)

(16)

PBV menunjukkan bagaimana penilaian seseorang investor terhadap kinerja perusahaan.

Dengan menggunakan rasio PBV, investor dapat memperkirakan saham-saham yang mengalami

undervalued dan overvalued sehingga membuka peluang bagi investor untuk menentukan

strategi investasi yang sesuai untuk menghasilkan imbal hasil saham yang relative tinggi. Untuk

saham yang undervalued, strategi investasinya adalah membeli saham yang bersangkutan,

sedangkan strategi untuk saham yang overvalued adalah menjual saham tersebut. Perusahaan

yang memiliki tingkat pengembalian ekuitasnya tinggi biasanya menjual sahamnya dengan nilai

buku yang lebih tinggi dari perusahaan lain yang lebih rendah. Jadi dengan PBV yang tinggi

maka harga saham akan tinggi, dan sebaliknya dengan PBV yang rendah maka harga saham akan

rendah.

2.4 Hipotesis

Hipotesis adalah proposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris.

Proposisi merupakan ungkapan atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal, atau diuji

kebenarannya mengenai konsep atau konstruk yang menjelaskan atau memprediksi

fenomena-fenomena. Dengan demikian “hipotesis adalah penjelasan sementara tentang perilaku ,

fenomena, atau kejadian tertentu yang terjadi atau akan terjadi” (Erlina, 2008: 49). Hipotesis

memungkinkan kita menghubungkan teori dengan pengamatan, atau pengamatan dengan teori.

Fungsi hipotesis dalam penelitian kuantitatif adalah menyatakan menjelaskan masalah

penelitian dan pemecahannya secara rasional, variabel-variabel penelitian, sebagai pedoman

untuk memilih metode pengujian data, dan menjadi dasar untuk membuat kesimpulan:

a. Hipotesis nol (nully hyphothesis) merupakan hipotesis tentang tidak adanya perbedaan,

(17)

b. Hipotesis pengganti (Ha) merupakan hipotesis penelitian yang berupa pernyataan

sementara atau dugaan yang dinyatakan secara operasional.

Berdasarkan pada latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian serta

telaah pustaka seperti yang telah diuraikan tersebut di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1 :variabelPrice Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER), dan Price to Book Value

(PBV) berpengaruh secara simultan terhadap Return Saham

H2:Price Earning Ratio (PER)berpengaruh secara parsial terhadap Return

Saham

H3 : Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh secara simultan terhadap Return

Saham

H4 : Price to Book Value(PBV)berpengaruh secara simultan terhadap Return

Gambar

Gambar 2.1Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Pengaruh Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Price to Book Value (PBV) Pada..

Stock split yang di lakukan oleh perusahaan yang terdapat di BEI pada tahun 2007- 2011, faktor-faktor yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah return saham dimana return

dengan judul “ PENGARUH RETURN ON ASSET (ROA), DEBT TO EQUITY RATIO (DER),EARNING PER SHARE (EPS), PRICE EARNING RATIO (PER) TERHADAP RETURN SAHAM (STUDI PADA PERUSAHAAN

Ratio (DER) terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2010- 2011.. Disusun

Sehingga dalam penelitian ini ditentukan dengan judul “Pengaruh Price To Book Value (PBV), Price to Earning Ratio (PER), Debt To Equity Ratio (DER), dan Return On Asset (ROA)

Apakah Debt to Equity Ratio, Return On Asset, Earning Per share, dan Price Earning Ratio berpengaruh secara parsial terhadap return saham pada Perusahaan Jasa

Simpulan pengaruh pada setiap variabel bebas terhadap Return Saham perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2017-2020 dalam penelitian ini adalah Return On Equity

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Return on Equity ROE, Debt to Equity Ratio DER dan Earning Per Share EPS terhadap Harga Saham perusahaan manufaktur sub