BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1 Definisi Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi, berupa ringkasan atau ikhtisar peristiwa-peristiwa keuangan suatu perusahaan untuk suatu periode tertentu. Oleh sebab itu untuk memberikan suatu batasan yang baik, maka terlebih dahulu akan diberikan pengertian akuntansi. Fess et al, (2006 : 10) “akuntansi adalah sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan”.
Fesset al, (2006 : 24) mengatakan bahwa “laporan keuangan merupakan laporan akuntansi yang menghasilkan informasi bagi pemakai yang diperoleh dari transaksi yang dicatat dan diikhtisarkan”. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa laporan keuangan meliputi laporan laba rugi, laporan ekuitas pemilik, laporan posisi keuangan, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.
2.1.2 Tujuan dan Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran atau laporan kemajuan secara periodik yang dilakukan pihak manajemen atau akuntan. Harahap, (2007 : 121) menurut SAK Nomor 1, tujuan laporan keuangan sebagai berikut :
1) tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. 2) laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama
ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.
3) laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), atau Pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Menurut Wild (2005) “analisis laporan keuangan merupakan kumpulan proses analisis yang merupakan bagian dari analsis bisnis”. Instrumen dalam analisis laporan keuangan adalah laporan keuangan perusahaan yang diterbitkan pada periode tertentu. Analisis laporan keuangan ada berbagai jenis, diantaranya adalah analisis laporan keuangan komparatif, analisis laporan keuangan common – size, analisis rasio, dan analisis arus kas.
2.1.3 Bank
Pengertian bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Menurut Kasmir (2008:9), Ada tiga kegiatan pokok yang dilakukan oleh bank yaitu :
1) Menghimpun dana (funding) dari masyarakat dalam bentuk simpanan (giro, tabungan, deposito), dalam hal ini bank sebagai tempat menyimpan uang atau berinvestasi bagi masyarakat.
2) Menyalurkan dana (lending) ke masyarakat dalam bentuk kredit dan investasi, dalam hal ini bank menyediakan dana bagi masyarakat yang membutuhkannya.
3) Memberi jasa-jasa bank lainnya (services) seperti transfer, clearing, inkaso, letter of credit, safe deposit box, bank garansi, dan lain- lain yang merupakan jasa pendukung dari kegiatan pokok bank.
4) Menghimpun dana (funding) dari masyarakat dalam bentuk simpanan (giro, tabungan, deposito), dalam hal ini bank sebagai tempat menyimpan uang atau berinvestasi bagi masyarakat.
5) Menyalurkan dana (lending) ke masyarakat dalam bentuk kredit dan investasi, dalam hal ini bank menyediakan dana bagi masyarakat yang membutuhkannya.
2.1.4 Analisis Penilaian Saham
Ahmad (2004:74) menyatakan bahwa “saham merupakan surat berharga yang paling banyak dan luas perdagangannya”. Pemegang surat berharga ini memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham dan memperoleh pembagian keuntungan (deviden) dari perusahaan juga kemungkinan adanya keuntungan atas kenaikan modal (nilai) surat berharga tersebut (capital gain).
Terdapat berbagai jenis saham yang diperdagangkan di bursa efek, yaitu: Saham Biasa, Saham Preferen, dan Saham Treasuri.
1. Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa adalah saham yang tidak memperoleh hak istimewa. Pemegang Saham biasa mempunyai hak untuk memperoleh dividen sepanjang perseroan memperoleh keuntungan. Pemilik saham mempunyai hak suara pada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya ( one share one vote).“Pada likuidasi perseroan, pemilik saham memiliki hak memperoleh sebagian dari kekayaan setelah semua kewajiban dilunasi” (Anoraga, 2006 : 54). Menurut Darmadji, et al(2001 : 8), karakteristik saham biasa :
a. Deviden dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.
b. Memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham (one share one vote).
c. Memiliki hak terakhir (junior) dalam hal pembagian kekayaan perusahaan jika perusahaan tersebut dilikuidasi (dibubarkan) setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
d. Memiliki tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sebesar proporsi sahamnya. e. Hak untuk mengalihkan kepemilikan sahamnya.
2. Saham Preferen (Preferred Stock)
preferen mempunyai ciri-ciri yang merupakan gabungan dari utang dan modal sendiri (debt and equity)” (Anoraga, 2006 : 55).
Menurut Darmadji, et al(2001 : 8), karakteristik saham preferen : a. Memiliki hak lebih dahulu memperoleh dividen.
b. Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan pengurus perusahaan.
c. Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih dahulu setelah kreditor apabila perusahaan tersebut dilikuidasi (dibubarkan).
d. Kemungkinan dapat memperoleh tambahan dari pembagian laba perusahaan di samping penghasilan yang diterima secara tetap.
e. Dalam hal perusahaan dilikuidasi, memiliki hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan di atas pemegang saham biasa setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi. 3. Saham Treasuri
Saham treasuri (treasury stock) merupakan saham milik perusahaan yang sudah pernah dikeluarkan dan beredar yang kemudian dibeli kembali oleh perusahaan untuk disimpan sebagai treasuri yang nantinya dapat dijual kembali” Jogiyanto (2003 : 76). Alasan-alasan perusahaan emiten membeli kembali saham beredar sebagai saham treasuri adalah sebagai berikut:
a. Akan digunakan dan diberikan kepada manajer-manajer atau karyawan-karyawan di dalam perusahaan sebagai bonus dan kompensasi dalam bentuk saham.
b. Meningkatkan volume perdagangan di pasar modal dengan harapan meningkatkan nilai pasarnya.
c. Menambah jumlah lembar saham yang tersedia untuk digunakan menguasai perusahaan lain.
d. Mengurangi jumlah lembar saham yang beredar untuk menaikkan laba per lembarnya. e. Alasan khusus lainnya yaitu dengan mengurangi jumlah saham yang beredar sehingga
dapat mengurangi kemungkinan perusahaan lain untuk menguasai jumlah saham secara mayoritas dalam rangka pengambilan alih tidak bersahabat (hostile takeover).
Menurut Darmadji, et al (2001 : 6), dilihat dari cara peralihannya saham dapat dibedakan atas:
2. Saham Atas Nama (registered stocks) merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa pemiliknya, di mana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.
Menurut Darmadji, et al (2001 : 7), ditinjau dari kinerja perdagangan maka saham dapat dikategorikan atas:
1. Blue-Chips Stocks, yaitu saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen.
2. Income Stocks, yaitu saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya. Emiten seperti ini biasanya mampu menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur membagikan dividen tunai. Emiten ini tidak suka menahan laba dan tidak mementingkan potensi pertumbuhan harga saham.
3. Growth Stocks, yaitu saham-saham dari emiten yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai leader di industri sejenis yang mempunyai reputasi tinggi.
4. Speculative Stocks, yaitu saham suatu perusahaan yang tidak secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai kemungkinan penghasilan yang tinggi di masa mendatang meskipun belum pasti.
5. Counter Cyclical Stocks, yaitu saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Pada saat resesi ekonomi, harga saham ini tetap tinggi, dimana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi sebagai akibat dari kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi. Emiten seperti ini biasanya bergerak dalam produk yang dibutuhkan masyarakat seperti consumer goods.
Dalam konteks teori ada dua pendekatan untuk melakukan analisis investasi dalam bentuk saham, yaitu :
1. Analisis Fundamental
dapat diketahui beberapa faktor fundamental, antara lain: rasio-rasio keuangan, arus kas, dan
ukuran-ukuran kinerja lainnya yang dihubungkan dengan return saham.
Dengan analisis fundamental yang mendalam dan menyeluruh atas kondisi suatu
perusahaan emiten, investor akan memilih mana saham dinilai terlalu rendah dan mana saham
yang dinilai terlalu tinggi. Faktor-faktor fundamental yang mencerminkan kinerja keuangan
suatu perusahaan dapat dianalisis dari laporan keuangan yang dikeluarkan secara periodik yang
tercermin melalui rasio-rasio keuangan. Rasio keuangan adalah perbandingan antara dua elemen
laporan keuangan yang menunjukkan suatu indikator kesehatan keuangan pada waktu tertentu.
Rasio keuangan menyederhanakan informasi yang mengambarkan hubungan antara pos tertentu
dengan pos lainnya. Menurut Ang (1997) Penilaian secara cepat hubungan antara pos tadi
kemudian membandingkannya dengan rasio
lain sehingga diperoleh informasi untuk kemudian diberikan suatu penilaian, dapat dilakukan
dengan penyederhanaan informasi ini.
Ang (1997) menyatakan bahwa “analisis faktor fundamental didasarkan pada analisis
keuangan yang tercermin dalam rasio-rasio keuangan yang terdiri dari lima rasio, yaitu Rasio
Likuiditas, Rasio Rentabilitas (profitabilitas), Rasio Solvabilitas (solvency), Rasio Pasar, dan Rasio Aktivitas”.
2. Analisis Teknikal
Merupakan suatu teknik analisis yang menggunakan data atau catatan pasar untuk berusaha
mengakses permintaan dan penawaran suatu saham maupun pasar secara keseluruhan. Analisis
teknikal menggunakan data pasar yang sudah dipublikasikan seperti harga saham, volume
menekankan pada perilaku investor di masa yang akan datang berdasarkan kebiasaan di masa lalu (nilai psikologis).
2.1.5 Price Earning Ratio (PER)
Menurut Ang (1997 : 6.24) “price Earning Ratio merupakan perbandingan antara harga pasar suatu saham (market price) dengan Earning Per Share (EPS) dari saham yang bersangkutan”.
Sedangkan menurut Garrison (1998 ; 788) “PER merupakan hubungan antara harga pasar saham dengan EPS saat ini yang digunakan secara luas oleh investor sebagai panduan umum untuk mengukur nilai saham”. PER yang tinggi menunjukkan bahwa investor bersedia untuk membayar dengan harga saham premium untuk perusahaan PER juga merupakan ukuran untuk menentukan bagaimana pasar memberi nilai atau harga pada saham perusahaan.
Keinginan investor melakukan analisis saham melalui rasio-rasio keuangan seperti PER, dikarenakan adanya keinginan investor atau calon investor akan hasil (return) yang layak dari suatu investasi saham. Semakin besar PER suatu saham maka menyatakan saham tersebut akan semakin mahal terhadap pendapatan bersih per saham. Jika dikatakan suatu saham mempunyai PER 10 kali, berarti harga saham tersebut 10 kali lipat terhadap EPSnya. Saham yang memiliki PER yang semakin kecil bagi pemodal akan semakin bagus, karena saham tersebut memiliki harga yang semakin murah. PER merupakan salah satu segi untuk memandang kinerja harga saham. Menurut Ang (1997 : 6.24) “penilaian PER dapat dirumuskan sebagai berikut :
=
ℎ
Dengan :
Closing Price : Harga pasar suatu saham
Earning per share : Laba per lembar saham
2.1.6 Debt to Equility Ratio (DER)
DER (Debt to Equity Ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat
leverage (penggunaan hutang) terhadap total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan,
yang dirumuskan sebagai berikut :
=
’
Dengan :
DER : Debt to Equity Ratio
Total Debt : Total hutang
Total Shareholders’ Equity : Total modal sendiri
Debt to Equity Ratio mencerminkan kemampuan dari suatu perusahaan dalam memenuhi
seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh modal sendiri yang digunakan sebagai pembayaran
hutang. Dengan demikian debt to equity ratio dapat memberikan gambaran mengenai struktur
modal yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga dapat dilihat risiko tidak tertagihnya suatu
hutang. Semakin tinggi beban / hutang (DER) maka resiko yang ditanggung juga besar. Hal ini
akan mempengaruhi tingkat kepercayaan investor terhadap perusahaan dan selanjutnya akan
mempengaruhi returnsaham investor tersebut.
2.1.7 Price to Book Value(PBV)
Rasio ini memberikan petunjuk lain bagaimana investor memandang suatu perusahaan.
Perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian yang tinggi akan memiliki nilai buku (book
Nilai buku dan ekuitas adalah perbedaan nilai buku asset dengan nilai buku kewajiban sebagai berikut:
PBVn
=
Pn
BVn
Dengan :
PBVn : Price to Book Value
Pn : Harga per lembar saham pada tahun ke –n BVn : Nilai buku per lembar saham pada tahun ke –n
Pengukuran nilai buku aset umumnya dinyatakan melalui nilai asset pada saat membeli dikurangi dengan depresiasi aset tersebut. Konsekuensinya, nilai buku aset akan menurun dengan bertambahnya usia. Sedangkan nilai buku kewajiban merupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan perusahaan pada saat penilaian
Beberapa keunggulan PBV:
1. Nilai buku memberikan nilai yang relatif stabil dan dapat dibandingkan dengan harga pasar.
2. PBV rasio dapat diperbandingkan antar perusahaan-perusahaan yang menggunakan standar akuntansi yang sama.
3. Perusahaan dengan negative earning tidak dapat dinilai dengan PER tetap dapat dinilai dengan menggunakan PBV rasio.
2.1.8 ReturnSaham
Return saham adalah keuntungan yang diperoleh dari kepemilikan saham investor atas investasi yang dilakukannya, yang terdiri dari deviden dan capital gain/loss.Deviden merupakan keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dalam suatu periodik tertentu.
akhir periode. Bila harga saham pada akhir periode lebih tinggi dari harga awalnya, maka
dikatakan investor memperoleh capital gain, sedangkan bila yang terjadi sebaliknya maka
investor dikatakan memperoleh capital loss.
Menurut Jogiyanto (2003) “return adalah hasil yang diperoleh dari investasi”. Jogiyanto
membagi returnmenjadi dua yaitu :
1) Return realisasi, yaitu return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis dan bisa digunakan sebagai pengukur kinerja perusahaan serta sebagai penentuan return ekspektasi dan resiko masa datang.
2) Return ekspektasi, yaitu return yang diharapkan akan diperoleh investor di masa yang akan datang.
Berdasarkan pengertian return, bahwa return saham adalah hasil yang diperoleh dari
investasi dengan cara menghitung selisih harga saham periode berjalan dengan periode
sebelumnya dengan mangabaikan deviden karena sebagian dari perusahaan perbankan yang
terdaftar di BEI tersebut selama periode penelitian tidak menerbitkan nilai dividennya, maka
dapat ditulis rumus:
Ri =
Dengan :
Ri : Return saham
Pt : Harga saham pada periode t
Pt-1 : Harga saham pada periode t-1
2.2 Review Penelitian Terdahulu
Beberapa peneliti telah melakukan penelitian yang berkaitan dengan beberapa faktor
fundamental yang dihubungkan dengan prediksi return saham. Hasil dari beberapa peneliti :
1. Marisa (2010) melakukan penelitian Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Perusahaan
independen dalam penelitian ini adalah DER, ROE, EPS, PER, OCF, sedangkan
variable dependennya yaitu return saham. Hasil penelitian menunjukkan secara
simultan, DER ,ROE, EPS, PER, OCF tidak berpengaruh signifikan terhadap return
saham. Sementara secara parsial, DER, ROE, OCF, EPS tidak memiliki pengaruh
terhadap return saham. Hanya PER yang berpengaruh signifikan terhadap return saham.
2. Artatik (2007) melakukan penelitian mengenai Pengaruh Earning Per Share, dan Price
Earning Ratio terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek
Jakarta . Variabel penelitian yaitu price earning ratio dan earning per share secara
simultan ada pengaruh antara EPS dan PER terhadap return saham pada perusahaan
manufaktur di BEJ. Secara parsial EPS berpengaruh terhadap return saham sedangkan
PER tidak berpengaruh terhadap return saham.
3. Nathaniel (2008) melakukan penelitian pada saham-saham Real Estate and Property
yang listed di Bursa Efek Indonesia periode 2004 sampai 2006 dengan menggunakan
beberapa variabel, yaitu DER, EPS, NPM dan PBV. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa hanya variabel PBV yang berpengaruh signifikan terhadap return saham,
sedangkan DER, EPS, NPM berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hasil
yang signifikan ini menunjukkan bahwa DER, EPS, dan NPM tidak dapat dijadikan
sebagai acuan dalam menentukan strategi investasi para investor dalam menanamkan
sahamnya di pasar modal.
4. Ikhsan (2011) meneliti Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada
Perusahaan Perbankan Yang terdaftar di BEI. Yang menjadi variable independen dalam
return saham. Hasil penelitian menunjukkan secara simultan maupun parsial
berpengaruh signifikan terhadap return saham.
5. Trisnaeni (2007) melakukan penelitian mengenai Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap
Return Saham pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta.Variabel yang sama
diantara variabel penulis dengan variabel penelitian terdahulu adalah variabel Price
Earning Ratio, Price to Book Value, Debt to Equit Ratio, Price to Book Value dan
Return Saham. Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian terdahulu adalah
perbedaan pada segi jumlah periode, jenis perusahaan dan variabel – variabel yang
digunakan di dalam penelitian ini.
Berikut ini disajikan tabel penelitian terdahulu yang membahas tentang returnsaham.
No saham. Secara parsial, DER, ROE, OCF, EPS tidak memiliki pengaruh terhadap return saham. Hanya PER yang
berpengaruh signifikan terhadap return perusahaan manufaktur di BEJ. Secara parsial EPS berpengaruh terhadap return saham sedangkan PER tidak berpengaruh terhadap return saham
Hanya variabel PBV yang berpengaruh signifikan terhadap return saham, sedangkan DER, EPS, NPM tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham.
2.3 Kerangka Konseptual
Suatu kerangka konseptual akan menghubungkan secara teoritis antar variabel penelitian
yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai.
Sedangkan dalam penelitian ini variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari
orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2003). Variabel bebas adalah variabel
yang mempengaruhi variabel lain (Umar, 2003). Variabel terikat merupakan variabel yang
dijelaskan atau yang dipengaruhi oleh variabel independen (Umar, 2003). Kerangka konseptual
yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang diteliti (Sugiyono,
2007). Kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini:
H1
rasio keuangan yang terdiri dari rasio EPS, PER, DER, ROI dan ROE tidak berpengaruh secara serentak terhadap
H2
H3
H3 H4
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Perusahaan dengan peluang tingkat pertumbuhan tinggi biasanya mempunyai PER yang
tinggi pula, dan hal ini menunjukkan bahwa pasar mengharapkan pertumbuhan laba di masa
mendatang. Sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung
mempunyai PER yang rendah pula. Semakin rendah harga PER suatu saham maka semakin baik
atau murah harganya untuk diinvestasikan. PER menjadi rendah nilainya bisa karena harga
saham cenderung semakin turun atau karena meningkatnya laba bersih perusahaan. Jadi semakin
kecil nilai PER maka semakin murah saham tersebut untuk dibeli dan semakin baik pula kinerja
per lembar saham dalam menghasilkan laba bagi perusahaan. Semakin baik kinerja per lembar
saham akan mempengaruhi banyak investor untuk membeli saham tersebut.
DER adalah rasio yang menunjukan persentase penyedian dana oleh pemegang saham
terhadap pemberi pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan yang
disediakan oleh pemegang saham. Dari perspektif kemampuan membayar kewajiban jangka
panjang, semakin rendah rasio akan semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban jangka panjangnya. Perusahaan yang tidak dapat membayar kewajiban jangka panjang
perusahan tersebut. Menunjukkan bahwa perusahaan tersebut berada dalam kondisi tidak baik
yang dapat mengurangi niat investor untuk menanamkan untuk berinvestasi. Investasi kecil
menunjukkan kecilnya minat investor untuk menamkan sahamnya.
Return Saham(Y) PER (X1)
DER (X2)
PBV menunjukkan bagaimana penilaian seseorang investor terhadap kinerja perusahaan.
Dengan menggunakan rasio PBV, investor dapat memperkirakan saham-saham yang mengalami
undervalued dan overvalued sehingga membuka peluang bagi investor untuk menentukan
strategi investasi yang sesuai untuk menghasilkan imbal hasil saham yang relative tinggi. Untuk
saham yang undervalued, strategi investasinya adalah membeli saham yang bersangkutan,
sedangkan strategi untuk saham yang overvalued adalah menjual saham tersebut. Perusahaan
yang memiliki tingkat pengembalian ekuitasnya tinggi biasanya menjual sahamnya dengan nilai
buku yang lebih tinggi dari perusahaan lain yang lebih rendah. Jadi dengan PBV yang tinggi
maka harga saham akan tinggi, dan sebaliknya dengan PBV yang rendah maka harga saham akan
rendah.
2.4 Hipotesis
Hipotesis adalah proposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris.
Proposisi merupakan ungkapan atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal, atau diuji
kebenarannya mengenai konsep atau konstruk yang menjelaskan atau memprediksi
fenomena-fenomena. Dengan demikian “hipotesis adalah penjelasan sementara tentang perilaku ,
fenomena, atau kejadian tertentu yang terjadi atau akan terjadi” (Erlina, 2008: 49). Hipotesis
memungkinkan kita menghubungkan teori dengan pengamatan, atau pengamatan dengan teori.
Fungsi hipotesis dalam penelitian kuantitatif adalah menyatakan menjelaskan masalah
penelitian dan pemecahannya secara rasional, variabel-variabel penelitian, sebagai pedoman
untuk memilih metode pengujian data, dan menjadi dasar untuk membuat kesimpulan:
a. Hipotesis nol (nully hyphothesis) merupakan hipotesis tentang tidak adanya perbedaan,
b. Hipotesis pengganti (Ha) merupakan hipotesis penelitian yang berupa pernyataan
sementara atau dugaan yang dinyatakan secara operasional.
Berdasarkan pada latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian serta
telaah pustaka seperti yang telah diuraikan tersebut di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1 :variabelPrice Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER), dan Price to Book Value
(PBV) berpengaruh secara simultan terhadap Return Saham
H2:Price Earning Ratio (PER)berpengaruh secara parsial terhadap Return
Saham
H3 : Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh secara simultan terhadap Return
Saham
H4 : Price to Book Value(PBV)berpengaruh secara simultan terhadap Return