1
EDISI 1
ii ASKES, JAMSOSTEK, ASABRI, TASPEN KE BPJS MENURUT UU BPJS
Asih Eka Putri & A.A. Oka Mahendra
Edisi 1 Cetakan Pertama, April 2013
PUSTAKA MARTABAT
Ruko Kebayoran Arcade Blok C2/31 Jl. Boulevard Bintaro Jaya
Pusat Kawasan Niaga, Sektor 7,
Tangerang Selatan, Banten, Indonesia – 15224 www.jamsosindonesia.com
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
iii
B
erangkat dari naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, negara Indonesia berfungsi sebagai alat di tangan Bangsa Indonesia untuk mencapai tujuannya sebagaimana tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945. Sejak itulah pemerintah secara substansial mulai menjalankan kewajibannya (amanah) sebagai pelayan publik terhadap rakyat (sebagai pemegang hak) yang memberinya kepercayaan untuk menjalankan (mengelola) pemerintahan. Langkah demi langkah, setahap demi setahap, negara seharusnya memiliki tujuan tersendiri. Mengingat tahap yang telah ditempuh bukan lagi tujuan tetapi sudah menjadi sejarah, maka ungkapan sakti ”For a fighting nation there is no journey’s end,” adalah tepat menuntun ke depan.Pemerintahan adalah proses pemenuhan dan perlindungan kebutuhan dan kepentingan manusia dan masyarakat. Semua badan atau organisasi yang berfungsi memenuhi dan melindungi kebutuhan dan kepentingan manusia dan masyarakat, disebut pemerintah. Berbicara tentang kebutuhan manusia, ada tiga kebutuhan yang paling asasi: kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Ketiga-tiganya secara objektif mutlak diperlukan oleh setiap jiwa begitu terjadi pembuahan dalam kandungan ibunya. Kesehatan menyangkut energi penunjang kehidupan, pendidikan berkaitan dengan kualitas manusia, sedangkan keamanan berhubungan dengan kelangsungan hidup dari generasi ke generasi. Ketiga macam kebutuhan itu harus dilindungi dan dipenuhi. Karena sifatnya, upaya-upaya tersebut berjangka panjang bahkan terus tidak berkeputusan. Bahkan semua kebutuhan tersebut merupakan tanggung jawab negara untuk merealisasikannya. Untuk merealisasikannya pemerintah perlu melaksanakan jaminan sosial, khususnya atas kebutuhan kesehatan dan ketenagakerjaan.
iv
Tahun 1945 serta dalam batang tubuh yaitu Pasal 28H (3) dan Pasal 34 memberikan jaminan bagi seluruh masyarakat untuk mendapat-kan jaminan sosial, dan juga memberimendapat-kan jaminan kesejahteraan sosial bagi masyarakat. Tindak lanjut amanat konstitusi tersebut adalah disahkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Undang-Undang ini mengatur tentang Badan Penyelenggara yang akan melaksanakan jaminan sosial sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang SJSN. Undang-undang ini mengamanatkan adanya transformasi badan penyelenggara dari badan penyelenggara yang telah ada saat ini untuk menjadi BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
Penyelenggaraan Jaminan Sosial keberadaannya sangat di-dambakan masyarakat, karena itu perlu komitmen dan kesungguhan Pemerintah dalam menyelenggarakan Jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan sekaligus membentuk Peraturan Perundang-undangan dan peraturan kebijakan sebagai payung hukum dan dasar hukum untuk melaksanakannya, oleh karena itu perlu kerja keras dan kesungguhan Pemerintah untuk dapat segera merealisasikannya. Dilihat dari aspek penggolongan hukum, maka hukum jaminan sosial termasuk dalam kategori hukum publik karena mengatur hubungan negara dan warga negara. Hukum jaminan sosial merupakan salah satu jenis hukum administrasi negara yang bersifat khusus, dan meliputi berbagai perangkat aturan yang kompleks dan tersebar dalam berbagai instrumen hukum. Pengaturan tersebut perlu untuk menyatukan sekaligus menyempurnakan pengaturan sistem jaminan sosial yang ada saat ini, agar tercipta sistem hukum jaminan sosial yang harmonis.
Catatan Penutup
v
dan ketentraman masyarakat. Harapan kita ke depan, dengan penyelenggaraan sistem jaminan sosial yang terencana dan baik, kita akan menuju negara kesejahteraan (welfare state) sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab negara untuk mengamankan dan menyejahterakan kehidupan warganya.
Tantangan yang perlu dipikirkan adalah bagaimana keberadaan undang-undang BPJS ini memberikan keuntungan bagi negara dan tidak menimbulkan dampak kerugian pada sektor swasta, sehingga semuanya dapat berjalan secara harmonis. Oleh karenanya pembuatan undang-undang ini harus direncanakan dengan baik dengan menganalisis budget dan dampak fiskal yang ditimbulkan. Keuntungan dengan diterapkannya UU BPJS adalah bangsa kita akan memiliki SDM yang sehat dan lebih kuat, produktivitas masyarakat lebih meningkat dan keuntungan perekonomian yang lain, serta yang paling utama adalah angka kriminalitas dalam berbagai bentuk akan berkurang bila program ini berjalan dengan baik.
Sikap dari penulis buku ini patut kita apresiasi sebagai bagian dari nilai-nilai keutamaan dalam membangun manusia Indonesia yang sejahtera dan adil. Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan dalam mengimplementasikan undang-undang yang sesuai dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Namun di atas semuanya itu, pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat sudah berada pada rel dan jalur yang benar. Masyarakat yang sehat dan sejahtera akan membuat Negara Indonesia kuat dan jaya.
Irman Gusman
vi
P
ertama-tama saya menyambut gembira atas terbitnya buku ini. Walaupun saya secara pribadi tidak sepenuhnya setuju dengan penilaian “setengah hati” atas proses transformasi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang sedang berlangsung, namun saya sangat mengapresiasi upaya keras para penulis untuk melakukan telaahan BPJS khususnya dari perspektif hukum. Penilaian “setengah hati” ini mungkin lebih dikarenakan masih tersendat-sendatnya perjalanan regulasi yang akan menjadi dasar yuridis untuk transformasi BPJS dimaksud.Sebagaimana kita pahami dan rasakan bersama bahwa Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang telah dirumuskan dalam UU Nomor 40 Tahun 2004 dan UU No 24 Tahun 2011 memberi ruang yang cukup lebar untuk membangun sistem jaminan sosial nasional di Indonesia. Dalam ruang lebar itu ditemui berbagai peraturan perundang-undangan yang masih perlu disinkronkan, dan di sisi lain masih banyak ruang yang perlu diisi dengan regulasi lainnya. Karena adanya ruang regulasi itulah kita dihadapkan berbagai tantangan pada saat ini.
Perjalanan persiapan implementasi SJSN dan BPJS sudah dimulai, dan akan terus diupayakan selesai pada waktunya. Di satu sisi proses persiapan regulasi dan teknis operasional dilakukan, di sisi lain faktor-faktor di luar sistem yang akan dibangun pun dijadikan pertimbangan, antara lain kondisi ketenagakerjaan, kemampuan keuangan negara, sarana dan prasarana pelayanan kesehatan, dan yang tidak kalah penting adalah komitmen Pemerintah serta penyiapan masyarakat untuk memasuki era SJSN. Masyarakat luas juga harus dipahami sebagai stakeholder dalam sistem ini, lebih dari itu mereka menjadi subyek dalam SJSN yang kita bangun.
vii
Ada sejumlah peraturan perundang-undangan yang harus diterbit-kan agar BPJS dapat sah dibentuk dan dapat operasional secara mulus, untuk BPJS Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014 dan untuk BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal 1 Juli 2015. Datangnya tanggal-tanggal momental itu memang harus dipersiapkan sebaik-baiknya dan selengkap-lengkapnya, jangan sampai ada yang cacat dan yang tertinggal baik dari aspek regulasi maupun dari aspek teknis operasional.
Saya selaku Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional berkomitmen untuk mengawal proses transformasi BPJS ini. Kepercayaan dan doa para pembaca sangat kami butuhkan.
Salam saya, SJSN menuju kehidupan yang lebih baik.
Chazali H. Situmorang
viii
P
rogram Jaminan Sosial, merupakan salah satu program yang dianggap strategis didalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat di banyak negara. Perkembangannya, sesuai dengan sistem politik dan ekonomi setiap negara. Jerman dengan “social statemodelnya” dan Inggris, dengan “welfare state” modelnya. Kedua model itulah yang banyak berkembang di banyak negara, dengan berbabagi penyesuaian sesuai dengan sistem ekonomi dan politiknya.
Indonesia, dengan UUD 1945, telah memiliki UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU N0 23/2012 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS ), yang merupakan wujud kehendak mewujudkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat. Dari UU No 40/2004 dan UU No. 23/2012, Sistem Jaminan Sosial yang diterapkan mendekati “welfare state model” dengan mengakomodir prinsip – prisip “social state model”. Hal ini disebabkan, oleh karena Indonesia memiliki UUD 1945, dimana dalam pasal 34 dikatakan :
1. Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
2. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
3. Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pasal ini diatur dalam undang-undang.
ix
Karena itu, pemahaman seperti ini perlu disosialisasikan kepada seluruh pemegang kepentingan, agar implementasinya bisa berjalan mulus. Hal ini diperlukan, mengingat implementasi UU No. 40/2004 sudah mengalami keterlambatan setidaknya lima tahun, sementara implementasi UU No. 23/2012 masih mengahadapi hal-hal yang nampaknya tidak mudah. Semuanya disebabkan pemahaman yang belum sama diantara semua yang berkepentingan dan semua yang bertanggung jawab terhadap implementasi kedua UU itu. Berbagai pendapat yang ada, termasuk dikalangan lembaga negara / instansi pemerintah, nampaknya masih harus disinkronisir, agar tumbuh persepsi yang sama, sehingga implementasi SJSN dapat diakselerasi.
Hal ini digambarkan dalam buku ini, yang berjudul “ TRANFOR-MASI SETENGAH HATI PERSERO” Askes, Jamsostek , Asabri , Taspen ke BPJS menurut UU BPJS.
Mudah-mudahan, dengan terbitnya buku ini, dapat dianggap sebagai krtitik yang membangun, sehingga terwujudnya SJSN dapat dipercepat. Hal ini penting kalau kita menyadari, bahwa Indonesia sudah sangat tertinggal jauh didalam mewujudkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh warganya. Hal ini nampak masih rendahnya kepesertaan program Jaminan Sosial di Indonesia.
Kepada Saudari Asih Eka Putri dan Saudara A.A Oka Mahendra kami sampaikan penghargaaaan dan apresiasi yang tinggi atas kepeduliannya terhadap Sistem Jaminan Sosial di Indonesia.
Dr. Sulastomo, MPH
xi
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR SINGKATAN ... xiii
PENDAHULUAN CATATAN AKHIR TAHUN 2012 ... 1
CATATAN AKHIR TAHUN 2011 ... 5
BAGIAN PERTAMA : UU BPJS 1. UU BPJS Melaksanakan UU SJSN ... 21
2. Materi Muatan UU BPJS Meluas... 29
3. Delapan Peraturan Pemerintah ... 32
4. Tujuh Peraturan Presiden ... 61
5. Satu Keputusan Presiden ... 86
6. Lima Peraturan Organisasi ... 88
7. UU BPJS Mencabut UU Jamsostek ... 97
BAGIAN KEDUA : PEMBENTUKAN BPJS 8. Dua BPJS ... 103
BAGIAN KETIGA : TATA KELOLA BPJS 9. BPJS, Badan Hukum Publik Menurut UU BPJS ... 109
10. Fungsi, Tugas dan Wewenang BPJS ... 111
11. Hak dan Kewajiban BPJS ... 115
12. Organ BPJS ... 119
13. Tata Cara Pemilihan dan Penetapan Anggota Dewan Pengawas dan Anggota Direksi ... 122
14. Pemberhentian Anggota Dewan Pengawas atau Anggota Direksi ... 124
xii
16. Pengelolaan Aset ... 131
17. Dana dan Biaya Operasional BPJS ... 133
18. Tiga Belas Larangan Bagi Anggota Dewan Pengawas dan Anggota Direksi ... 135
19. Kerjasama BPJS ... 138
BAGIAN KEEMPAT : TRANSFORMASI PERSERO MENJADI BPJS 20. Memahami Transformasi Penyelenggara Jaminan Sosial ... 143
21. Transformasi PT. Askes (Persero) ... 155
22. Transformasi PT. Jamsostek (Persero) ... 170
23. Transformasi PT. ASABRI (Persero) dan PT. TASPEN (Persero) ... 180
24. Transformasi JAMSOS, KUPU-KUPU, HEIMLICH ... 182
25. Kiat Sukses Transformasi ... 184
PENUTUP : ORGANISASI JAMINAN SOSIAL ... 189
INDEKS ... 197
LAMPIRAN ... 201
DAFTAR PUSTAKA ... 261
xiii
ABRI : Angkatan Bersenjata Republik Indonesia APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ASABRI : Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia
ASKES : Asuransi Kesehatan Indonesia ATM : Automatic Teller Machine
BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial BPK : Badan Pemeriksa Keuangan
BUMN : Badan Usaha Milik Negara DJSN : Dewan Jaminan Sosial Nasional DPR : Dewan Perwakilan Rakyat HAM : Hak Asasi Manusia
JAMKESMAS : Jaminan Kesehatan Masyarakat JAMSOS : Jaminan Sosial
JAMSOSTEK : Jaminan Sosial Tenaga Kerja JHT : Jaminan Hari Tua
JK : Jaminan Kesehatan JKK : Jaminan Kecelakaan Kerja JKM : Jaminan Kematian
JKN : Jaminan Kesehatan Nasional JP : Jaminan Pensiun
xiv
POLRI : Kepolisian Republik Indonesia PP : Peraturan Pemerintah
PT : Perseroan Terbatas
PTKP : Pendapatan Tidak Kena Pajak
PTKP K3 : Pendapatan Tidak Kena Pajak untuk pekerja berkeluarga dengan 3 orang anak
PUU : Pengujian Undang-Undang
RKT T.A. : Rencana Kerja Tahunan Tahun Anggaran RPerPres : Rancangan Peraturan Presiden
RPP : Rancangan Peraturan Pemerintah RUPS : Rapat Umum Pemegang Saham SJSN : Sistem Jaminan Sosial Nasional SPI : Satuan Pengawas Internal
TASPEN : Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri TNI : Tentara Nasional Indonesia
UMR : Upah Minimum Regional UU : Undang-Undang
xv
tAHUN 2012,
tAHUN WANPrEstAsi
W
aktu terus berjalan. Tak pernah menunggu, siapapun yang tak ikut bergerak akan ditinggal. Waktu tak pernah kembali. Ia akan hilang sia-sia atau penuh makna. Waktu terus bergerak meninggalkan jejak. Jejak yang kita buat sendiri.Hari ini, 31 Desember, hari terakhir tahun 2012. Pukul 00 nanti malam, terjadi pergantian tahun. Saat itu tahun 2012 sudah menjadi masa lalu dan tahun 2013 datang menjelang. Membawa sebuah harapan baru.
Banyak orang “merayakan” malam ”old and new” itu.
Berbagai acara dilakukan. Ada yang pesta pora di hotel mewah, atau tempat hiburan berkelas. Ada yang berkeliling kota sambil meniup terompet yang memekakkan telinga atau berjalan menikmati panggung hiburan yang disediakan pemerintah. Ada pula yang nongkrong sedih di rumah yang sedang kebanjiran.
Tetapi ada pula yang melakukan introspeksi atau mawas diri dan melakukan evaluasi atas capaiannya dalam tahun 2012 yang akan segera berlalu.
Maksudnya untuk mengetahui apa yang berhasil diraih dan apa yang belum, untuk ditingkatkan atau diperbaiki di masa mendatang.
EvALUASI KINERJA PEMBENTUKAN PERATURAN
PELAKSANAAN UU BPJS
Momentum akhir tahun sangat tepat dipergunakan untuk membuat neraca mengenai apa yang telah kita lakukan selama tahun 2012.
Apakah tugas dan tanggung jawab yang kita emban telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Presiden, sebagai pemegang kekuasaan pemerintah menurut
Undang-Undang Dasar, pantas untuk kita evaluasi kinerjanya terutama dalam menjalankan segala Undang-Undang dengan selurus-lurusnya.
Presiden disamping diberi atribusi kewenangan juga diberi delegasi kewenangan untuk membuat peraturan pelaksanaan Undang-Undang. Kewenangan tersebut harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, Presiden ditopang oleh kelembagaan pemerintahan dan birokrasi dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Tak ada alasan untuk tidak memenuhi kewajiban yang diembannya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.
Pada kesempatan ini, evaluasi kita fokuskan kepada pelaksanaan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS.
Sudahkah Presiden menjalankan perintah Undang-Undang BPJS dengan selurus-lurusnya, pada tahun 2012? Lebih spesifik lagi pertanyaannya, sudahkah Presiden menyelesaikan pembentukan peraturan pelaksanaan Undang-undang BPJS sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukan?
Ada 8 Pasal Undang-Undang BPJS mendelegasikan pembentukan Peraturan Pemerintah dan 7 Pasal mendelegasikan pembentukan Peraturan Presiden.
Menurut Pasal 70 Undang-Undang BPJS peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang BPJS harus ditetapkan paling lama:
a. 1 (satu) tahun untuk peraturan yang mendukung beroperasinya BPJS Kesehatan; dan
b. 2 (dua) tahun untuk peraturan yang mendukung beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan.
Artinya peraturan pelaksanaan untuk mendukung BPJS Kesehatan harus rampung pada 25 November 2012.
PRESIDEN WANPRESTASI
Tahun 2012 adalah tahun wanprestasi. Karena peraturan pelaksanaan Undang-Undang BPJS yang harus diselesaikan paling lambat pada 25 November 2012, ternyata nihil. Padahal, peraturan perundang-undangan merupakan ration d’etre dari sistem jaminan sosial.
Sistem jaminan sosial lahir karena ditentukan dalam peraturan perundang-undangan untuk menjamin terpenuhinya hak asasi setiap orang atas jaminan sosial dan terpenuhinya tugas Negara untuk mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat.
Tanpa peraturan perundang-undangan yang adekuat dan operasional sistem jaminan sosial nasional sulit terselenggara secara efektif.
Presiden telah bersumpah untuk menjalankan segala undang-undang dengan selurus-lurusnya. Sumpah Presiden adalah janji bagi dirinya sendiri dan bagi seluruh rakyat. Janji harus dipenuhi!
Jika Presiden tidak melakukan apa yang telah dijanjikan, atau melaksanakan apa yang telah dijanjikan tetapi tidak sebagaimana mestinya atau terlambat melakukannya, maka Presiden dapat dikatakan telah melakukan wanprestasi. Atau Presiden tidak memenuhi kewajibannya.
Presiden dapat digugat di muka pengadilan untuk memenuhi kewajibannya. Gugatan seperti itu pernah dilakukan oleh KAJS di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Gugatan KAJS dikabulkan oleh Pengadilan. Apakah tahun 2013 gugatan serupa akan diajukan ke Pengadilan? Boleh jadi!
Tujuannya agar Presiden memenuhi kewajibannya melaksanakan Undang-Undang BPJS dengan selurus-lurusnya, sehingga sistem jaminan sosial nasional terselenggara secara efektif untuk menjamin seluruh rakyat dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak.
LIKU-LIKU PENGUNDANGAN
DiNAmikA sJsN
Di GEDUNG PArLEmEN
Gedung Parlemen riuh rendah dengan perdebatan politik dan tak sepi dari isu-isu miring yang menerpa wakil rakyat yang terhormat. Di Gedung Parlemen kebijakan nasional dibahas dan diputuskan, baik menyangkut APBN maupun menyangkut pembentukan Undang-Undang yang mencerminkan arus utama politik anggaran dan politik hukum Negara kita.
Di sela-sela ramainya panggung politik di Senayan, selama tahun 2011 ada dua catatan penting dan menarik dilihat dari perspektif pelaksanaan SJSN.
Catatan pertama adalah bidang anggaran. Pada tahun 2011 Pemerintah dan DPR menempatkan perlindungan sosial melalui program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) sebagai salah satu dari tujuh sasaran utama. Sayangnya, perluasan cakupan kepesertaan dan peningkatan manfaat program jaminan sosial sebagai pelaksanaan UU SJSN belum dijadikan prioritas. Bahkan para pengambil kebijakan terkesan ragu-ragu untuk melaksanakan program jaminan sosial untuk seluruh rakyat sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Karena ada kekhawatiran akan membawa konsekuensi beban fiskal yang berat. Padahal program jaminan sosial menurut UU SJSN menganut sistem kontribusi, warga Negara wajib membayar iuran. Hanya fakir miskin dan orang yang tidak mampu sajalah yang iurannya dibayar oleh Pemerintah.
Celakanya, pelaksanaan SJSN tidak dianggap sebagai bagian dari percepatan pertumbuhan ekonomi, bahkan dipandang sebagai biaya yang harus ditanggung oleh Pemerintah.
Tidak mengherankan bila alokasi anggaran untuk mendukung pelaksanaan SJSN belum mendapat prioritas. Hal ini tampak jelas
pada tema pembangunan nasional yang dicanangkan pada tahun 2011, ”Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkeadilan, Didukung oleh Pemantapan Tata Kelola dan Sinergi Pusat Daerah”.
Catatan kedua adalah bidang legislasi. Meskipun dengan susah payah, DPR dan Pemerintah akhirnya berhasil mencapai kompromi untuk menyelesaikan pembahasan RUU BPJS yang telah mengalami perpanjangan pembahasan satu masa sidang. Pada 25 November 2011, UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS) disahkan dan diundangkan.
UU BPJS membentuk 2 BPJS, yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS tersebut merupakan badan hukum publik yang bertanggung jawab kepada Presiden.
TIDAK SELURUHNYA KELABU
Tahun 2011 memang tidak seluruhnya kelabu. Ada juga seberkas cahaya. Pepatah Inggris mengatakan “in every cloud there is a silver lining,” dalam setiap awan terdapat seguratan cahaya.
Berkas cahaya yang melegakan itu ialah disahkannya Undang-Undang Nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS) pada tanggal 25 November 2011.
UU BPJS mengakhiri perdebatan panjang tentang perlu tidaknya transformasi badan penyelenggara jaminan sosial yang telah beroperasi selama hampir dua dekade. Tanpa perlu bersilang pendapat, sebenarnya dengan dibacakannya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 007/PUU-III/2005 pada tanggal 31 Agustus 2005, transformasi empat BUMN penyelenggara jaminan sosial – PT. Askes (Persero), PT. ASABRI (Persero), PT. Jamsostek (Persero), PT. TASPEN (Persero) - menjadi sebuah tuntutan hukum yang harus dilaksanakan.
aset dan liabilitas, pegawai, serta hak dan kewajiban.
Dengan UU BPJS dibentuk 2 BPJS, yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan menyelenggarakan program jaminan kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan 4 program, yaitu program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian.
Dengan pembentukan kedua BPJS tersebut jangkauan ke-pesertaan program jaminan sosial akan diperluas secara bertahap hingga melindungi seluruh penduduk Indonesia.
Dengan disahkannya UU BPJS, memang kelembagaan BPJS menjadi lebih jelas. Tetapi, UU BPJS memberikan tenggat waktu yang berbeda bagi kedua BPJS tersebut untuk mulai beroperasi.
PT. Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan dan mulai beroperasi menyelenggarakan program jaminan kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014. Sedangkan PT. Jamsostek (Persero) menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal 1 Januari 2014 dan mulai beroperasi menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, program jaminan hari tua, program jaminan pensiun dan program jaminan kematian bagi peserta selain peserta yang dikelola PT. TASPEN (Persero) dan PT. ASABRI (Persero), paling lambat 1 Juli 2015.
UU BPJS juga menentukan bahwa PT. ASABRI (Persero) tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan program ASABRI dan program pembayaran pensiun bagi pesertanya, ter-masuk penambahan peserta baru. Ketentuan yang sama bagi PT. TASPEN (Persero), PT. TASPEN (Persero) tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan program tabungan hari tua dan pembayaran pensiun bagi pensiunan pegawai negeri sipil, termasuk penambahan peserta baru, sampai dengan dialihkannya ke BPJS Ketenagakerjaan.
8
DUO UU SJSN – UU BPJS
mEmAsUki PErADAbAN DUNiA
Indonesia merdeka mencatat sejarah baru. 25 November 2011 saat diundangkannya UU BPJS, adalah tonggak sejarah kedua dimulainya penataan ulang badan penyelenggara jaminan sosial rakyat Indonesia. UU BPJS melanjutkan sejarah yang tercatat pada tujuh tahun sebelumnya, yaitu pengundangan UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN) pada 19 Oktober 2004.
UU SJSN bersama UU BPJS mengakhiri anomali penyeleng-garaan jaminan sosial Indonesia yang terjadi hampir selama 20 tahun. Keduanya akan segera menutup praktek penyelenggaraan jaminan sosial yang bertentangan dengan prinsip-prinsip universal penyelenggaraan jaminan sosial di dunia, melalui dua cara.
Pertama, Negara tidak lagi mengumpulkan laba dari iuran wajib warga negara yang dipungut oleh badan usaha miliknya, melainkan ke depan Negara bertanggung jawab atas pemenuhan hak konstitusional rakyat atas jaminan sosial. Kedua, jaminan sosial Indonesia resmi keluar dari penyelenggaraan oleh badan usaha milik negara menjadi pengelolaan oleh badan publik.
REPOSISI RELASI NEGARA DAN WARGA NEGARA
Masih jelas dalam ingatan kita, begitu lemahnya jaminan sosial Indonesia sehingga tidak berdaya menanggulangi krisis di awal tahun 1998 hingga pertengahan tahun 2000. Saat itu jalan pintas yang diambil oleh Pemerintah adalah membayarkan dana jaminan hari tua kepada peserta Jamsostek yang terkena pemutusan kerja dengan syarat telah mengiur sekurangnya 5 tahun. Peserta Jamsostek yang terkena PHK terpaksa harus merelakan dirinya menggendong predikat miskin agar dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang disediakan oleh program jaring pengaman sosial bidang kesehatan Kementerian Kesehatan.
Dua tahun pasca kejatuhan rezim Orde Baru, jaminan sosial diletakkan kembali sebagai hak konstitusional warga negara dalam amandemen kedua UUD Negara RI 1945 pada tahun 2000 dan amandemen keempat pada tahun 2002. Implementasinya diwujudkan dua tahun kemudian dengan diundangkannya UU SJSN pada tahun 2004. Namun reposisi Negara dan implementasi hak konstitusional warga negara atas jaminan sosial tidaklah berjalan mulus. Perlu menunggu 7 tahun (2004-2011) untuk mengundangkan peraturan pelaksanaan UU SJSN guna mengatur pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
Tidak hanya menunggu kejelasan siapa pengelola program jaminan sosial, warga Negara Indonesia masih harus ekstra sabar dua tahun lagi (2012-2013) untuk menikmati program jaminan sosial. Perlu tambahan dua tahun untuk menuntaskan seluruh peraturan pelaksanaan UU SJSN dan UU BPJS sebelum BPJS beroperasi.
KELUAR DARI BADAN USAHA MILIK NEGARA
Peraturan ini segera mengakhiri penyelenggaraan program jaminan sosial oleh PT. Askes (Persero), PT. ASABRI (Persero), PT. Jamsostek (Persero) dan PT. TASPEN (Persero) - empat badan usaha milik negara yang terdiri dari persekutuan modal dan bertanggung jawab kepada pemegang saham. Sudah menjadi ketentuan baku badan usaha milik negara, uang-uang yang diperoleh dari kegiatan perusahaan termasuk iuran jaminan sosial yang dibayarkan oleh peserta adalah pendapatan badan yang harus dipertanggungjawab-kan kepada pemegang saham. Peserta jaminan sosial tidak lebih berperan sebagai klien perusahaan yang tidak memilki kontrol pada kinerja perusahaan.
Sebaliknya, relasi peserta dan badan publik penyelenggara jaminan sosial, dikenal sebagai badan penyelenggara jaminan sosial – BPJS, menempatkan peserta sebagai pemilik dana. Peserta adalah pemangku kepentingan yang memiliki kontrol atas badan. BPJS “hanya” boleh membelanjakan uang yang dikumpulkan dari iuran peserta untuk pengelolaan program dan seluruh sisa hasil usaha dikembalikan untuk kepentingan peserta.
Prinsip nirlaba tidak dapat dilaksanakan oleh keempat BUMN Persero tersebut secara utuh. Watak keempat Persero tersebut tidak terlepas dari maksud dan tujuan pendirian Persero. Pasal 12 UU No. 19 Tahun 2003 Tentang BUMN menetapkan bahwa maksud dan tujuan Persero adalah selain menyediakan barang dan/jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, juga untuk mengejar keuntungan guna meningkatkan hasil perusahaan.
UU BPJS memberi tenggat 2 tahun (1 Januari 2014) kepada PT. Askes (Persero) dan PT. Jamsostek (Persero) untuk beralih dari Persero-an menjadi BadPersero-an Hukum Publik. Dalam kurun waktu 2 tahun ke depPersero-an, Indonesia akan mengakhiri 20 tahun praktek anomali penyelenggara-an program jaminpenyelenggara-an sosial ypenyelenggara-ang dimulai sejak Pemerintah Orde Baru menetapkan PT. Askes (Persero) dan PT. Jamsostek (Persero) sebagai perseroan milik Negara pada tahun 1992.
dana sebagian kecil penduduk – pensiunan pegawai negeri, Prajurit TNI dan Anggota POLRI diberi tambahan 18 tahun untuk mengalih-kan programnya ke BPJS Ketenagakerjaan.
12
FASE KRITIS SJSN
PoiNt of No rEtUrN
Pelaksanaan SJSN sudah menyentuh point of no return. Tak ada waktu untuk menghentikan reformasi jaminan sosial Indonesia setelah hampir 8 (delapan) tahun terbengkalai.
Pengalaman pahit kegagalan menyelesaikan amanat Pasal 52 ayat (2) UU SJSN tidak boleh terulang. Tenggat lima tahun untuk menyesuaikan semua ketentuan yang mengatur mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial hingga 19 Oktober 2009, terlewati tanpa hasil. Lebih jauh lagi, dari dua puluh dua Pasal pendelegasian, hanya satu peraturan pelaksanaan UU SJSN berhasil diundangkan. Sisanya, ada rancangan peraturan pelaksanaan yang tengah dirumuskan dan dibahas materinya, ada pula yang belum diperbincangkan sama sekali.
Kelalaian ini membawa konsekuensi hukum kepada Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 120 Warga Negara Indonesia menggabungkan diri ke dalam “Komite Aksi Jaminan Sosial”, bersatu menggugat Pemerintah di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas kelalaian Pemerintah dan DPR dalam menyelenggarakan jaminan sosial bagi seluruh warga Negara Indonesia.
Para Penggugat yang tergabung dalam Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) tersebut, terdiri dari pimpinan atau wakil organisasi kemasyarakatan dari elemen serikat pekerja/serikat buruh, organisasi tani dan nelayan, organisasi mahasiswa, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, asosiasi profesi, serta masyarakat umum. Kuasa hukum penggugat terdiri dari 17 advokat yang tergabung dalam Tim Pembela Rakyat untuk Jaminan Sosial.
(Patrialis Akbar), Menteri Kesehatan (Endang Rahayu Sedyaningsih), Menteri Sosial (Salim Segaf Al-Jufri), Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Muhaimin Iskandar) dan Menteri Pertahanan (Purnomo Yusgiantoro).
“Rakyat” memenangkan gugatan dan sebagian tuntutannya dikabulkan. Majelis Hakim yang diketuai oleh Ennid Hassanuddin, SH. CN. MH, bersama dua anggotanya - Supraja, SH dan Sapawi, SH, bersepakat untuk menghukum Pemerintah dan DPR pada 13 Juli 2011. Ketiganya mewajibkan Penguasa Publik dan Wakil Rakyat untuk melaksanakan amanat UU SJSN dan membentuk UU BPJS.
Terasa ironis. Negara dan bangsa Indonesia dipermalukan oleh peristiwa gugatan warga Negara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Negara yang Pemerintahnya memproklamirkan kesejahteraan rakyat yang adil dan merata, mengabaikan penyelenggaraan jaminan sosial semesta, setidaknya menangguhkan pelaksanaannya.
Ironi semakin terasa menyesakkan, saat menyimak pesan seorang wakil dari negara berkembang kepada duta-duta negara yang mengikuti konferensi jaminan sosial di Berlin Jerman, setahun setelah UU SJSN diundangkan:
“I believe that social security is the only way to guarantee the social dimension of globalization. Therefore, the question is not
whether we can have social security but rather if we can allow ourselves not to invest in it. Those countries with consolidated
social security system are also in the leadership in term of competitivity and social peace”.1
(Dr. Alberto Sáenz Pacheo, President CCSS Costarica 2005)
1 Terjemahan: “Saya meyakini bahwa jaminan sosial adalah satu-satunya cara untuk
SELESAIKAN SELURUH PERATURAN PELAKSANAAN
Peraturan pelaksanaan UU SJSN dan UU BPJS dan proses transformasi PT (Persero) menjadi BPJS saling terkait dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan SJSN.
Peraturan pelaksanaan UU SJSN dan UU BPJS baik dalam bentuk Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden dan Keputusan Presiden diharapkan bersifat operasional. Artinya peraturan pelaksanaan tersebut sudah mengatur secara jelas dan rinci mengenai siapa melakukan apa, kapan dan bagaimana tata caranya, apa persyaratan yang harus dipenuhi, dan persoalan teknis lainnya yang terkait.
Yang tidak kalah pentingnya ialah peraturan pelaksanaan tersebut harus sinkron satu sama lain, tidak saling tumpang tindih atau saling bertentangan, sehingga membentuk satu sistem peraturan di bidang jaminan sosial yang harmonis dan dapat dilaksanakan secara efektif. Peraturan pelaksanaan UU SJSN dan UU BPJS sangat diperlukan oleh BPJS dalam menyelenggarakan fungsi, tugas, wewenang, hak dan kewajibannya.
Dari sisi lain, Dewan Komisaris dan Direksi PT. Askes (Persero), serta Dewan Komisaris dan Direksi PT. Jamsostek (Persero) juga perlu segera melaksanakan tugas masing-masing yang ditentukan dalam Pasal 58 dan Pasal 61 UU BPJS. Dewan Komisaris dan Direksi bertanggungjawab mengalihkan kedua Persero tersebut menjadi BPJS berikut mempersiapkan pengoperasian BPJS.
Perlu segera disepakati dan dilaksanakan strategi dan aksi yang jelas dan rinci sehingga reformasi jaminan sosial dan transformasi kedua Persero dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal waktu yang ditentukan dalam UU BPJS.
Kotak 1 : Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas Gugatan KAJS, 13 Juli 2011
Mengabulkan sebagian tuntutan Penggugat, yaitu:
1). Menolak eksepsi para tergugat,
2). Menyatakan para tergugat telah lalai melaksanakan UU SJSN, 3). Menghukum para tergugat untuk segera melaksanakan UU SJSN
dengan langkah-langkah konkrit sebagai berikut:
a. mengundangkan Undang-Undang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sesuai dengan perintah pasal 5 ayat (1) UU SJSN,
b. membentuk peraturan pelaksana Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden sebagaimana diperintahkan UU SJSN, c. melakukan penyesuaian 4 (empat) BUMN penyelenggara
Jaminan sosial terhadap UU SJSN.
4). Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya,
5). Menghukum para tergugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 2.300.000,- secara tanggung renteng.
Menolak sebagian tuntutan Penggugat, yaitu:
1). Memerintahkan para tergugat untuk meminta maaf kepada rakyat Indonesia melalui media massa.
16
AGENDA TAHUN 2012 - 2013
mEmPErsiAPkAN Diri
UNtUk PErUbAHAN
Tahun 2012-2013 merupakan tahun untuk mempersiapkan perubahan yang ditentukan dalam UU BPJS, sekaligus menyelesaikan peraturan pelaksanaan UU SJSN yang terbengkalai selama lebih dari 7 tahun. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan agar BPJS beroperasi secara efektif melaksanakan program jaminan sosial sebagaimana ditentukan dalam UU SJSN.
BPJS memerlukan kelengkapan peraturan pelaksanaan UU SJSN dan UU BPJS. Peraturan pelaksanaan untuk mendukung beroperasinya BPJS Kesehatan harus sudah dirampungkan dalam tenggat waktu 1 tahun pasca pengundangan UU BPJS, dan 2 tahun untuk BPJS Ketenagakerjaan. Artinya peraturan pelaksanaan untuk penyelenggaraan program jaminan kesehatan harus sudah diundangkan pada tahun 2012. Peraturan pelaksanaan untuk menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua dan jaminan pensiun harus sudah diundangkan selambat-lambatnya pada bulan November 2013.
Kita bersyukur, karena Pemerintah sebagai regulator dan salah satu aktor utama dalam penyelenggaraan SJSN sudah mulai bergerak. UU BPJS telah terbentuk. Presiden menunjuk Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) untuk mempersiapkan implementasi UU BPJS.
Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika.2
Di masa transisi (2012-2013) UU BPJS menugaskan Pemerintah bersama PT. Askes (Persero) dan PT. Jamsostek (Persero) untuk melakukan transformasi kelembagaan dan pengalihan program, kepesertaan, iuran dan manfaat ke BPJS. Lain halnya transformasi PT. ASABRI (Persero) dan PT. TASPEN (Persero), UU BPJS menugaskan Pemerintah untuk membentuk Peraturan Pemerintah sebagai pedoman transformasi PT. ASABRI (Persero) dan PT. TASPEN (Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan selambat-lambatnya pada tahun 2029.
SERIUS BERUBAH
Perubahan dari empat persero yang selama ini menyelenggara-kan program jaminan sosial menjadi 2 BPJS sudah menjadi perintah Undang-Undang, karena itu harus dilaksanakan. Perubahan yang multidimensi tersebut harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya agar berjalan sesuai dengan ketentuan UU BPJS.
DPR dan para pemangku kepentingan harus mengawal pelaksanaan UU BPJS dan UU SJSN, agar pelaksanaan jaminan sosial yang menyeluruh tidak tertunda lagi, seperti halnya pelaksanaan UU SJSN yang tidak menentu selama lebih dari 7 tahun.
Tugas utama Pemerintah adalah menyusun peraturan pelaksana-an UU SJSN dpelaksana-an UU BPJS, serta menetapkpelaksana-an stpelaksana-andar, prosedur dpelaksana-an kriteria yang terkait dengan pelayanan publik di bidang jaminan sosial.
Dewan Komisaris dan Direksi PT. Askes (Persero) dan PT. Jamsostek (Persero) ditugasi oleh UU BPJS untuk menyiapkan berbagai hal yang diperlukan untuk berjalannya proses transformasi atau perubahan
2 Keputusan Menko Kesra No. 17 Tahun 2012 tentang Tim Penyiapan Pelaksanaan
dari Persero menjadi BPJS dengan status badan hukum publik. Perubahan tersebut mencakup struktur, mekanisme kerja dan juga kultur kelembagaan.
Mengubah struktur, mekanisme kerja dan kultur kelembagaan yang lama, yang sudah mengakar dan dirasakan nyaman, sering menjadi kendala bagi penerimaan struktur, mekanisme kerja dan kultur kelembagaan yang baru, meskipun hal tersebut ditentukan dalam Undang-Undang.
Untuk itu diperlukan komitmen yang kuat dari mereka yang dipercaya mengemban tugas menyiapkan perubahan tersebut. Sebagai profesional tentu mereka paham bagaimana caranya mengatasi berbagai persoalan yang timbul dalam proses perubahan tersebut, dan bagaimana harus bertindak pada waktu yang tepat untuk membuat perubahan berjalan tertib efektif, efisien dan lancar sesuai dengan rencana.
bAGiAN PErtAmA
PERTAMA
UU bPJs mELAksANAkAN UU sJsN
UU BPJS adalah peraturan pelaksanaan UU SJSN. UU BPJS melaksanakan Pasal 5 UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN (UU SJSN) pasca putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara Nomor 07/PUU/ III/2005.
MATERI MUATAN
UU BPJS memuat materi pokok yang dikelompokkan ke dalam 18 bab dan terdiri dari 71 pasal. UU BPJS mengatur dua hal, yaitu tatakelola BPJS, pendaftaran kepesertaan dan pembayaran iuran. UU BPJS menetapkan pembentukan BPJS.
BAB PERTAMA
Bab pertama terdiri dari empat pasal, mengatur ketentuan umum, asas dan prinsip penyelenggaraan SJSN, serta tujuan BPJS. Ketentuan umum berisi batasan pengertian atau definisi-definisi terkait tatacara penyelenggaraan program jaminan sosial. Bab pertama mengatur kembali asas dan prinsip penyelenggaraan SJSN yang telah diatur dalam UU SJSN.
BAB KEDUA
Bab kedua terdiri dari dua pasal, mengatur pembentukan dua BPJS dan ruang lingkup BPJS. BPJS Kesehatan menyelenggarakan satu program, yaitu jaminan kesehatan. BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan 4 program terdiri dari jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian.
BAB KETIGA
Bab ketiga terdiri dari dua pasal dan mengatur status dan
tempat kedudukan BPJS. Status BPJS adalah badan hukum publik berkedudukan di ibu kota Negara RI dan bertanggungjawab kepada Presiden.
BAB KEEMPAT
Bab keempat terdiri dari lima pasal dan mengatur fungsi, tugas, wewenang, hak dan kewajiban BPJS. Pembagian fungsi BPJS sesuai dengan ruang lingkupnya dan dilaksanakan dalam serangkaian tugas dalam rangka penyelenggaraan program jaminan sosial.
BAB KELIMA
Bab kelima terdiri dari enam pasal, mengatur pendaftaran peserta dan pembayaran iuran. Sebagaimana diatur dalam UU SJSN, bab ini mengatur kembali kepesertaan wajib bagi setiap orang termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia. Bab ini mengatur pula tatacara pendaftaran, pembayararan iuran dan tatacara pengenaan sanksi.
BAB KEENAM
Bab keenam terdiri dari lima pasal, mengatur organ BPJS yang terdiri dari Dewan Pengawas dan Direksi. Bab ini mengatur struktur organisasi beserta fungsi dan wewenang BPJS.
BAB KETUJUH
Bab ketujuh terdiri dari sebelas pasal, mengatur persyaratan, tata cara pemilihan dan penetapan dan pemberhentian anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi.
BAB KEDELAPAN
BAB KESEMBILAN
Bab kesembilan terdiri dari satu pasal, mengatur pengawasan terhadap BPJS. Pengawasan terhadap BPJS terdiri dari pengawasan eksternal dan pengawasan internal.
BAB KESEPULUH
Bab kesepuluh terdiri dari lima pasal dan mengatur aset BPJS dan aset dana jaminan sosial. Bab ini mengatur pemisahan aset yang dikelola oleh BPJS dan biaya operasional BPJS.
BAB KESEBELAS
Bab kesebelas terdiri dari dua pasal, mengatur pembubaran BPJS.
BAB KEDUA BELAS
Bab kedua belas terdiri dari tiga pasal, mengatur penyelesaian sengketa. Bab ini mengatur tatacara penyelesaian pengaduan, penyelesaian sengketa melalui mediasi dan penyelesaian sengketa melalui pengadilan.
BAB KETIGA BELAS
Bab ketiga belas terdiri dari satu pasal, mengatur hubungan BPJS dengan lembaga lain.
BAB KEEMPAT BELAS
Bab keempat belas terdiri dari dua pasal, mengatur larangan bagi anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi. Bab ini mengatur pula sanksi administratif dan tatacara pengenaannya kepada anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi.
BAB KELIMA BELAS
BAB KEENAM BELAS
Bab keenam belas terdiri dari satu pasal dan mengatur ketentuan lain. Ketentuan lain dalam bab ini mencakup ketentuan tentang permintaan Presiden mengenai laporan BPJS, kebijakan khusus Pemerintah untuk menjamin kelangsungan program jaminan sosial, serta tindakan khusus Pemerintah untuk menjaga kesehatan keuangan dan kesinambungan penyelenggaraan program jaminan sosial.
BAB KETUJUH BELAS
Bab ketujuh belas terdiri dari satu pasal, mengatur peralihan PT. Askes (Persero), PT. Jamsostek (Persero), PT. ASABRI (Persero) dan PT. TASPEN (Persero) menjadi BPJS.
BAB KEDELAPAN BELAS
Bab kedelapan belas terdiri 14 pasal, mengatur ketentuan penutup. Ketentuan penutup mengatur tatacara penutupan PT. Askes (Persero), PT. Jamsostek (Persero) dan tatacara pengalihan program, aset dan liabilitas, pegawai serta hak dan kewajibannya ke BPJS. Bab ini mengatur pula pencabutan peraturan perundang-undangan yang mengatur kedua Persero tersebut. Perpanjangan waktu pengalihan program-program yang diselenggarakan oleh PT. ASABRI (Persero) dan PT. TASPEN (Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan.
DUAPULUH SATU PERATURAN PELAKSANAAN
UU BPJS belum sepenuhnya operasional karena masih harus dilengkapi dengan peraturan pelaksanaan. DPR dan Pemerintah selaku Pembentuk UU BPJS masih menyisakan pekerjaan lanjut yang harus diselesaikan untuk mengoperasionalkan UU BPJS.
Duapuluh satu Pasal UU BPJS mendelegasikan pengaturan lanjut ke duapuluh satu peraturan pelaksanaan. Peraturan pelaksanaan UU BPJS harus selesai diundangkan sebelum BPJS Kesehatan atau BPJS Ketenagakerjaan beroperasi.
Presiden, 1 (satu) Keputusan Presiden, 1 (satu) Peraturan BPJS, 2 (dua) Peraturan Direksi dan 1 (satu) Peraturan Dewan Pengawas.
Duapuluh satu pasal UU BPJS mendelegasikan pengaturan teknis operasional ke peraturan di bawah undang-undang. Daftar pasal UU BPJS dan pendelegasiannya tertera pada tabel 1.
Delapan pasal mendelegasikan ke dalam Peraturan Pemerintah untuk mengatur delapan hal di bawah ini:
1). tata cara pengenaan sanksi administratif kepada pemberi kerja selain penyelenggara Negara dan setiap orang yang tidak mendaftarkan diri kepada BPJS; pendelegasian dari pasal 17 ayat (5).
2). besaran dan tata cara pembayaran iuran program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian; pendelegasian dari pasal 19 ayat (5) huruf b.
3). sumber aset BPJS dan penggunaannya; pendelegasian dari pasal 41 ayat (3).
4). sumber aset dana jaminan sosial dan penggunaannya; pen-delegasian dari pasal 43 ayat (3).
5). persentase dana operasional BPJS dari iuran yang diterima dan/ atau dari dana hasil pengembangan; pendelegasian dari pasal 45 ayat (2).
6). tata cara hubungan BPJS dengan lembaga-lembaga di dalam negeri dan di luar negeri, serta bertindak mewakili Negara RI sebagai anggota organisasi/lembaga internasional; pendele-gasian dari pasal 51 ayat (4).
7). tatacara pengenaan sanksi administratif kepada anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi yang melanggar ketentuan larangan; pendelegasian dari pasal 53 ayat (4).
Delapan pasal mendelegasikan ke Peraturan Presiden untuk mengatur tujuh hal di bawah ini:
1). tata cara penahapan kepesertaan wajib bagi Pemberi Kerja untuk mendaftarkan dirinya dan Pekerjanya sebagai Peserta kepada BPJS sesuai dengan program Jaminan Sosial yang diikuti; pendelegasian dari pasal 15 ayat (3).
2). besaran dan tata cara pembayaran Iuran program jaminan kesehatan; pendelegasian dari pasal 19 ayat (5) huruf a.
3). tata cara pemilihan dan penetapan Dewan Pengawas dan Direksi; pendelegasian dari pasal 31.
4). tata cara pemilihan dan penetapan calon anggota Pengganti Dewan Pengawas dan/atau anggota Direksi antarwaktu; pendelegasian dari pasal 36 ayat (5).
5). bentuk dan isi laporan pengelolaan program; pendelegasian dari pasal 37 ayat (7).
6). gaji atau Upah dan manfaat tambahan lainnya serta insentif bagi anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi; pendelegasian dari pasal 44 ayat (8).
7). daftar pelayanan kesehatan tertentu berkaitan dengan kegiatan operasional Kementerian Pertahanan, TNI dan POLRI dan tidak dialihkan kepada BPJS Kesehatan; pendelegasian dari pasal 57 huruf c dan pasal 60 ayat (2) huruf b.
Satu pasal mendelegasikan ke keputusan Presiden untuk menetapkan keanggotaan panitia seleksi untuk memilih dan menetapkan anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi; pendelegasian dari pasal 28 ayat (3).
Dua pasal mendelegasikan ke Peraturan Direksi untuk mengatur: 1). tata cara pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang Direksi;
pendelegasian dari pasal 24 ayat (4).
2). gaji atau upah dan manfaat tambahan lainnya serta insentif bagi karyawan BPJS; pendelegasian dari pasal 44 ayat (7).
Satu pasal mendelegasikan ke Peraturan Dewan Pengawas untuk mengatur tata cara pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang Dewan Pengawas.
Tabel 1: Daftar Pasal UU BPJS Tahun 2011 dan Pendelegasiannya
Catatan :
• Pendelegasian Pasal 57 huruf c dan Pasal 60 ayat (2) huruf b diatur dalam satu Peraturan Presiden.
• Pendelegasian Pasal 48 ayat (3) diatur dalam dua Peraturan BPJS.
KEDUA
MATERI MUATAN UU BPJS MELUAS
UU BPJS memperluas pendelegasian Pasal 5 UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN (UU SJSN) pasca putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara Nomor 07/PUU/III/2005. Perluasan norma dalam UU BPJS mencakup pengulangan pengaturan UU SJSN dan penambahan norma yang tidak dimuat dalam UU SJSN.
PENGULANGAN MATERI UU SJSN
UU BPJS mengulang kembali tiga ketentuan norma yang telah diatur dalam UU SJSN. Ketiga ketentuan tersebut adalah:
1). pendaftaran peserta (UU BPJS Pasal 14 dan 15);
2). pembayaran iuran jaminan kesehatan (UU BPJS Pasal 19 ayat (5) huruf a);
3). pembayaran iuran jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian (UU BPJS Pasal 19 ayat (5) huruf b).
UU BPJS mengatur pendaftaran peserta dan pembayaran iuran dalam bab tersendiri, yaitu Bab V, Pasal 14 sampai dengan Pasal 19. Pengaturan dalam Bab V UU BPJS mempertegas dan memperkuat ketentuan dalam Bab V UU SJSN yang mengatur mengenai kepesertaan dan iuran.
UU BPJS mengatur ketentuan sanksi bagi kelalaian pendaftaran peserta dan pembayaran iuran. Ketentuan sanksi seharusnya tidak diatur dalam UU BPJS karena UU SJSN tidak mengaturnya dan tidak mendelegasikan pengaturan lanjut ke UU BPJS.
MENyATUKAN DALAM PERPEL UU SJSN
Ketentuan mengenai pendaftaran peserta dan pembayaran iuran dalam kedua UU tersebut tidak saling bertentangan, bahkan yang
terakhir memperkuat yang sebelumnya. Oleh karena itu, Pemerintah tidak perlu mengajukan usul penghapusan Bab V UU BPJS kepada DPR. Yang perlu dilakukan sekarang ialah menyusun peraturan pelaksanaan kedua UU tersebut secara rinci, jelas dan harmonis, sehingga SJSN dapat terlaksana sebagaimana mestinya.
Penyatuan pengaturan materi muatan pendelegasian UU SJSN dan UU BPJS yang serumpun adalah sebagai berikut:
1). Pelaksanaan pendelegasian Pasal 15 ayat (3) UU BPJS disatukan dengan pelaksanaan pendelegasian Pasal 13 ayat (2) UU SJSN dalam Peraturan Presiden tentang tata cara penahapan kepesertaan.
2). Pelaksanaan pendelegasian Pasal 19 ayat (5) huruf a UU BPJS disatukan dengan pelaksanaan pendelegasian Pasal 27 ayat (5), Pasal 28 ayat (2) UU SJSN dalam Peraturan Presiden tentang jaminan kesehatan.
3). Pelaksanaan pendelegasian Pasal 19 ayat (5) huruf b UU BPJS disatukan dengan pelaksanaan pendelegasian Pasal 34 ayat (4) UU SJSN dalam Peraturan Pemerintah tentang jaminan kecelaka-an kerja.
4). Pelaksanaan pendelegasian Pasal 19 ayat (5) huruf b UU BPJS disatukan dengan pelaksanaan pendelegasian Pasal 38 ayat (3) UU SJSN dalam Peraturan Pemerintah tentang jaminan hari tua. 5). Pelaksanaan pendelegasian Pasal 19 ayat (5) huruf b UU BPJS
disatukan dengan pelaksanaan pendelegasian Pasal 42 ayat (2) UU SJSN dalam Peraturan Pemerintah tentang jaminan pensiun. 6). Pelaksanaan pendelegasian Pasal 19 ayat (5) huruf b UU BPJS
KETIGA
DELAPAN PErAtUrAN PEmEriNtAH
1. PP TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI
ADMINISTRATIF
UU BPJS mendelegasikan pengaturan rinci mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif ke Peraturan Pemerintah oleh Pasal 17 ayat (5). Peraturan Pemerintah dibentuk untuk merinci lebih lanjut ketentuan-ketentuan pokok pengenaan sanksi administratif oleh BPJS, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Ketentuan-ketentuan pokok pengenaan sanksi administratif diatur dalam Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17 ayat (1), pasal 17 ayat (2), Pasal 17 ayat (3), dan pasal 17 ayat (4) UU BPJS.
POKOK-POKOK KETENTUAN PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF
(1). Subyek yang dikenakan sanksi
Terdapat dua subyek yang dikenakan sanksi. Pertama, adalah pemberi kerja selain penyelenggara Negara yang tidak memenuhi kewajiban untuk mendaftarkan dirinya dan pekerjanya sebagai peserta kepada BPJS sesuai dengan program jaminan sosial yang diikuti, dan/ atau tidak memberikan data dirinya dan pekerjanya berikut anggota keluarganya secara lengkap dan benar kepada BPJS.
Kedua, adalah setiap orang, selain pemberi kerja dan pekerja, serta penerima bantuan iuran, yang memenuhi persyaratan kepesertaan jaminan sosial yang tidak memenuhi kewajiban untuk mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya sebagai peserta kepada BPJS, dan/ atau memberikan data mengenai dirinya dan anggota keluarganya secara lengkap dan benar kepada BPJS.
(2). Jenis sanksi administratif
Terdapat tiga jenis sanksi administratif yang dapat dikenakan kepada peserta, yaitu teguran tertulis, denda atau tidak mendapatkan pelayanan publik tertentu. Penjelasan Pasal 17 ayat (2) huruf c menjelaskan bahwa pelayanan publik antara lain pemrosesan izin usaha, izin mendirikan bangunan, bukti kepemilikan hak tanah dan bangunan.
(3). Pihak berwenang mengenakan sanksi administratif
BPJS, Pemerintah dan Pemerintah Daerah berwewenang me-ngenakan sanksi administratif kepada peserta. BPJS berwewenang mengenakan sanksi teguran tertulis dan/atau denda. Pemerintah atau Pemerintah Daerah berwewenang mengenakan sanksi tidak mendapatkan pelayanan publik tertentu.
Peraturan Pemerintah mengatur tata cara pengenaan sanksi administratif oleh BPJS, Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Nama Peraturan Pemerintah disarankan adalah “Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif bagi Pelanggar Kewajiban Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 16 UU BPJS.”
POKOK-POKOK PIKIRAN MATERI MUATAN
Penulis mengusulkan Peraturan Pemerintah ini memuat tujuh tahap dalam satu kesatuan tata cara pengenaan sanksi administratif, sebagai berikut:
(1). Kriteria untuk menilai terjadinya kelalaian
(2). Cara memperoleh dugaan pelanggaran
Dugaan adanya pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) atau Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) diperoleh dengan dua cara. Pertama, diperoleh dari laporan tertulis disertai bukti yang cukup dari pihak yang kepentingannya dirugikan kepada BPJS. Kedua, dari hasil pengawasan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh BPJS atas kepatuhan peserta dan pemberi kerja dalam memenuhi kewajibannya.
(3). Tindak lanjut pelaporan oleh BPJS
BPJS wajib menindaklanjuti laporan tertulis dari pihak yang kepentingannya dirugikan atau hasil pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta dan pemberi kerja, dalam waktu paling lama 3 hari setelah laporan atau hasil pengawasan dan pemeriksaan diterima, dengan memanggil pihak yang bersangkutan untuk diminta keterangannya.
(4). Kesempatan untuk memenuhi kewajiban
Sebelum BPJS memutuskan untuk mengenakan sanksi, kepada yang bersangkutan terlebih dahulu diberikan kesempatan untuk memenuhi kewajibannya secara sukarela. Apabila yang bersangkutan tidak mau memenuhi kewajibannya secara sukarela, barulah sanksi dikenakan kepada yang bersangkutan.
(5). Syarat penjatuhan sanksi
Sanksi administratif hanya dapat dijatuhkan kepada pemberi kerja atau kepada setiap orang selain pemberi kerja, pekerja dan Penerima Bantuan Iuran jika:
1). BPJS dapat membuktikan bahwa yang bersangkutan berdasarkan alat bukti yang sah ternyata tidak memenuhi kewajiban yang ditentukan dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) atau Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) UU BPJS;
2). kepada yang bersangkutan telah diberi kesempatan yang cukup untuk membela diri;
(6). Cara pengenaan teguran tertulis atau denda
Sanksi admistratif diberikan secara bertingkat, mulai dari teguran tertulis, kemudian dikenakan sanksi denda yang jumlahnya ditetapkan sesuai dengan berat ringan kesalahan yang bersangkutan.
(7). Cara pengenaan sanksi “tidak mendapatkan pelayanan publik tertentu”
Dalam hal sanksi administratif yang dapat dikenakan kepada peserta adalah “tidak mendapat pelayanan publik tertentu”. BPJS menyampaikan permintaan pengenaan sanksi tersebut kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah yang berwenang memberikan pelayanan publik tertentu.
Permintaan dari BPJS tersebut disampaikan kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah yang berwenang dalam waktu yang ditetapkan setelah BPJS memutuskan bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap Pasal 15 ayat (1) atau Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) UU BPJS, yang dilakukan oleh pemberi kerja atau oleh setiap orang yang bukan pemberi kerja, pekerja atau Penerima Bantuan Iuran.
Pemerintah atau Pemerintah Daerah dalam waktu yang ditetapkan menindaklanjuti permintaan BPJS, dengan memanggil pihak yang bersangkutan untuk diminta keterangannya dan diberi kesempatan untuk membela diri, sebelum mengenakan sanksi kepada yang bersangkutan. BPJS diberikan tembusan hasil tindak lanjut permintaan BPJS.
2. PP TENTANG BESARAN DAN TATA CARA
PEM-BAyARAN IURAN SELAIN PROGRAM JAMINAN
KESEHATAN
Pokok-pokok ketentuan mengenai besaran dan tatacara pembayaran iuran adalah sebagai berikut:
1). Pemberi Kerja wajib memungut Iuran yang menjadi beban peserta dari pekerjanya dan menyetorkannya kepada BPJS.3
2). Pemberi kerja wajib membayar dan menyetor iuran yang menjadi tanggung jawabnya kepada BPJS.4
3). Peserta yang bukan Pekerja dan bukan Penerima Bantuan Iuran wajib membayar dan menyetor iuran yang menjadi tanggung jawabnya kepada BPJS.5
4). Pemerintah membayar dan menyetor iuran untuk Penerima Bantuan Iuran kepada BPJS.6
Merujuk pada ketentuan tersebut, maka ruang lingkup Peraturan Pemerintah ini meliputi besaran dan tata cara pembayaran iuran program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian, yang dibayarkan oleh pemberi kerja, oleh peserta yang bukan pekerja dan bukan Penerima Bantuan Iuran dan oleh Pemerintah untuk Penerima Bantuan Iuran.
Selain UU BPJS, UU SJSN juga mengatur dan mendelegasikan pengaturan lanjut mengenai besaran dan tata cara pembayaran iuran ke Peraturan Pemerintah. Duplikasi muatan materi UU SJSN dan UU BPJS, serta kesetaraan pendelegasian pengaturan lanjut, memberi peluang untuk tidak mengundangkan dua PP tentang iuran dan tatacara pembayaran iuran. Materi muatan tersebut cukup diatur dalam PP Jaminan Kecelakaan Kerja, PP Jaminan Pensiun, PP Jaminan Hari Tua dan PP Jaminan Kematian.
Jika besaran iuran dan tatacara pembayarannya ingin diatur tersendiri, Penulis mengusulkan nama rancangan Peraturan Pemerintah ini adalah “RPP tentang Besaran dan Tata Cara Pembayaran Iuran Selain Program Jaminan Kesehatan”.
3 UU No. 24 Tahun 2011 Pasal 19 ayat (1) 4 Ibid, Pasal 19 ayat (2)
POKOK-POKOK MATERI MUATAN
UU No. 24 Tahun 2011 mengelompokkan ketentuan mengenai besaran iuran dan tata cara pembayaran iuran berdasarkan jenis pekerjaan dan pembayar iuran. Kelompok pertama adalah pekerja, yaitu setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lain. Kelompok kedua adalah individu yang bukan Pekerja dan bukan Penerima Bantuan Iuran7.
Oleh karenanya, PP ini mengatur ketentuan iuran untuk dua kelompok peserta berdasarkan jenis pekerjaannya.
(1) Iuran bagi Pekerja
Besaran iuran program jaminan kesehatan proporsional terhadap upah.8 PP menetapkan nilai persentase untuk penghitungan
masing-masing program, batas bawah upah serta batas atas upah sebagai dasar penghitungan besaran iuran.
Besaran iuran program jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian tidak dipengaruhi oleh risiko lingkungan kerja9.
Besaran iuran program jaminan kecelakaan kerja dipengaruhi oleh risiko lingkungan kerja, semakin tinggi risiko kerja maka semakin tinggi besaran iurannya.10 Oleh karena itu, proporsi upah bagi
penghitungan iuran program jaminan kecelakaan kerja dibedakan berdasarkan kelompok risiko kerja. PP menetapkan tingkatan kelompok risiko. Rincian masing-masing kelompok risiko lingkungan kerja dicantumkan dalam lampiran.
Pembayar iuran sesuai dengan ketentuan UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN, sebagai berikut:
1). Ditanggung oleh pemberi kerja untuk jaminan kecelakaan kerja,11
7 Ibid, Pasal 1 angka 8 menetapkan bahwa, “Pekerja adalah setiap orang yang bekerja
dengan menerima gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lain.”
8 UU No. 40 Tahun 2004, Pasal 34 ayat (3), Pasal 38 ayat (1), Pasal 42 ayat (1), Pasal 46 ayat (2)
9 Ibid, Pasal 38 ayat (1), Pasal 42 ayat (1), Pasal 46 ayat (2) 10 Ibid, Pasal 34 ayat (3)
2). Ditanggung bersama oleh pekerja dan pemberi kerja untuk jaminan hari tua, dengan menetapkan pembagian tanggung jawab antara pemberi kerja dan pekerja,12
3). Ditanggung bersama oleh pekerja dan pemberi kerja untuk jaminan pensiun, dengan menetapkan pembagian tanggung jawab antara pemberi kerja dan pekerja13
4). Ditanggung oleh pemberi kerja untuk jaminan kematian.14
(2) Iuran bagi bukan Pekerja dan bukan Penerima Bantuan
Iuran
Merujuk UU SJSN, peserta bukan Pekerja dan bukan Penerima Bantuan Iuran disebut sebagai “Peserta yang tidak menerima upah”. Besaran iuran bagi peserta kelompok ini adalah dalam jumlah nominal yang ditetapkan secara berkala oleh Pemerintah.15
Untuk menghindari disparitas yang lebar antar jenis pekerjaan, PP ini hendaknya mengatur formula perhitungan besaran iuran dan menghindari penetapan nilai nominal. Jika terpaksa menetapkan nilai nominal, hendaknya nilai nominal tidak hanya satu bagi seluruh kelompok peserta ini, melainkan dibedakan sesuai kelompok pekerjaan.
Besaran iuran untuk masing-masing kelompok pekerja ditampilkan dalam tabel iuran. Pengelompokan didasarkan kepada kesamaan jenis pekerjaan (misalnya kelompok pedagang, petani, nelayan, pengrajin, usaha mikro kecil, profesional praktek mandiri, dan lainnya). Tabel iuran dan kelompok pekerjaan dicantumkan dalam lampiran.
Peserta yang tidak menerima upah tidak dapat mengikuti program jaminan pensiun. Batasan ini bersumber pada Pasal 40 dan Pasal 1 angka 11 UU No. 40 Tahun 2004. Pasal 40 membatasi kepesertaan program jaminan pensiun bagi pekerja yang telah membayar iuran. Pasal 1 angka 11, definisi pekerja secara tegas dinyatakan sebagai
12 Ibid, Pasal 38 ayat (1) 13 Ibid, Pasal 42 ayat (1) 14 Ibid, Pasal 46 ayat (1)
“setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lain.”
Peserta yang tidak menerima upah masih mungkin mengikuti program jaminan pensiun sepanjang ketentuan tersebut di atas dimaknai bahwa yang bersangkutan menerima upah dari dirinya sendiri sebagai pemberi kerja (pekerja mandiri). Hal ini perlu ditelaah lebih lanjut dari aspek yuridis maupun aspek ekonomi dan sosial.
(3) Tata cara pembayaran iuran bagi Pekerja
Tata cara pembayaran iuran oleh Pekerja mengikutsertakan peran aktif Pemberi Kerja. Usulan pengaturan adalah sebagai berikut: 1). Setiap Pemberi Kerja wajib memotong upah/gaji pekerjanya
untuk iuran jaminan sosial yang menjadi kewajiban Pekerja, menambahkan iuran yang menjadi kewajiban Pemberi Kerja dan membayarkan iuran tersebut kepada BPJS sesuai dengan program jaminan sosial yang diikuti.
2). Pembayaran iuran oleh Pemberi Kerja sebagaimana dimaksud angka 1) dilakukan setiap bulan dan dibayar lunas, paling lambat pada tanggal yang ditetapkan bulan berikutnya dari bulan iuran yang bersangkutan.
3). BPJS menghitung kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran dari Pemberi Kerja.
4). Dalam hal terjadi kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran, BPJS memberitahukan secara tertulis kepada pemberi kerja yang bersangkutan dalam waktu yang ditetapkan setelah diterimanya iuran.
5). Kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran tersebut di-perhitungkan dengan pembayaran iuran bulan berikutnya. 6). Dalam hal Pemberi Kerja menunggak, macet membayar atau
kekurangan membayar iuran, BPJS melakukan penagihan dengan mengeluarkan surat penagihan kepada pemberi kerja.
8). Pembayaran denda dilakukan bersama-sama dengan pem-bayaran iuran bulan berikutnya.
9). Iuran dan denda yang belum dibayar oleh Pemberi Kerja kepada BPJS merupakan piutang BPJS terhadap Pemberi Kerja yang bersangkutan.
10). Pembayaran dapat dilakukan melalui pembayaran langsung di Kantor BPJS Ketenagakerjaan, transfer via bank, transfer menggunakan ATM atau transfer elektronik lainnya.
(4) Tata cara pembayaran iuran bagi Peserta bukan
Pekerja dan bukan Penerima Bantuan Iuran
Peserta yang tergolong bukan Pekerja dan bukan Penerima Bantuan Iuran, wajib membayarkan sendiri iuran kepada BPJS. Selebihnya, tata cara pembayaran iuran bagi Peserta tergolong Pekerja secara mutatis mutandis berlaku bagi Peserta dari kelompok bukan pekerja dan bukan penerima bantuan iuran.
Tata cara pengumpulan iuran yang murah, mudah dan aman bagi peserta kelompok ini perlu dikembangkan. BPJS didorong untuk mengembangkan teknik pembayaran jarak jauh termasuk pemanfaatan teknologi telekomunikasi untuk pembayaran elektronik. Pembayaran dengan kartu prabayar (re-loaded prepaid card) yang dapat diisi di kantor pos, bank, bahkan otlet-otlet terpilih dapat menjadi pilihan bagi Peserta individu untuk membayar iuran secara teratur, murah dan mudah.
BPJS diberi peluang untuk bekerjasama dengan organisasi kemasyarakatan atau perkumpulan profesi dalam pemungutan dan pembayaran iuran. Peserta individu didorong untuk berkelompok, misalnya paguyuban pengemudi angkutan perkotaan/perdesaan, perkumpulan pedagang pasar, perkumpulan dokter, persatuan artis, dan lainnya. BPJS diperkenankan untuk memberi insentif bagi pemungut iuran di perkumpulannya.
kewenangan untuk bekerja sama dengan jejaring Perusahaan Listrik Negara, jejaring Pengelola air minum, dan lainnya.
3. PP TENTANG SUMBER DAN PENGGUNAAN
ASET BPJS
Pasal 41 ayat (3) menentukan, ”Ketentuan lebih lanjut mengenai sumber dan penggunaan aset BPJS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.” Pokok-pokok ketentuan mengenai kedua hal tersebut telah diatur dalam pengaturan Pasal 41 ayat (1) dan ayat (2) UU BPJS.
Pasal 41 ayat (1) mengatur sumber-sumber aset BPJS, yaitu dari: 1). modal awal dari Pemerintah yang merupakan kekayaan Negara
yang dipisahkan dan tidak terbagi atas saham;
2). hasil pengalihan aset BUMN yang menyelenggarakan program jaminan sosial;
3). hasil pengembangan aset BPJS;
4). dana operasional yang diambil dari Dana Jaminan Sosial; dan/ atau
5). sumber lain yang sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 41 ayat (2) mengatur penggunaan aset BPJS untuk:
1). biaya operasional penyelenggaraan program jaminan sosial; 2). biaya pengadaan barang dan jasa yang digunakan untuk
mendukung operasional penyelenggaraan jaminan sosial; 3). biaya untuk peningkatan kapasitas pelayanan; dan
4). investasi dalam instrumen investasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
POKOK-POKOK PIKIRAN MATERI MUATAN RPP
Pokok-pokok pikiran materi muatan RPP tentang Sumber dan Penggunaan Aset BPJS adalah sebagai berikut:
(1) Sumber Aset BPJS
PP mengatur tata cara pengalokasian dan penatausahaan sumber-sumber aset BPJS, sebagai berikut:
Modal Awal dari Pemerintah
Pasal 42 UU BPJS menetapkan bahwa Pemerintah mengalokasi-kan modal awal yang merupamengalokasi-kan kekayaan yang dipisahmengalokasi-kan dan tidak terbagi dalam saham untuk BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan masing-masing paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 yang bersumber dari APBN.
PP mengatur dengan rinci tatacara pengalokasian dan penata-usahaan modal awal tersebut dengan memerhatikan peraturan perundangan yang berlaku. Perlu diatur untuk mengalokasikan modal awal sekaligus dalam APBN tahun 2013, agar modal awal dapat dicantumkan dalam posisi laporan keuangan pembukaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang disahkan oleh Menteri Keuangan, tanggal 1 Januari 2014.
Pengalihan Aset BUMN
Pengalihan aset BUMN untuk menjadi aset BPJS, pengaturannya sebagai berikut:
1). Menteri BUMN selaku Rapat Umum Pemegang Saham PT. Askes (Persero) dan PT. Jamsostek (Persero) mengesahkan laporan posisi keuangan penutup PT. Askes (Persero) dan PT. Jamsostek (Persero) setelah dilakukan audit oleh kantor akuntan publik, pada 31 Desember 2013.
2). Semua aset PT. Askes (Persero) dialihkan menjadi aset BPJS Kesehatan dan dengan mencantumkannya dalam laporan keuangan pembukaan BPJS Kesehatan.