LAPORAN PENDAHULUAN TYPHOID DI RUANG MEL

16  11 

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN TYPHOID

DI RUANG MELATI RSUD TUGUREJO SEMARANG

Oleh

Nafisah Amalia Mukhtar 22020111120011

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

(2)

TYPHOID

A. DEFINISI

Demam tifoid atau Typhoid Fever atau Typhus Abdominalis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii yang merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang yang masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Tapan, 2004).

Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi oleh bakteri Salmonella typhii dan bersifat endemik yang termasuk dalam penyakit menular (Cahyono, 2010).

Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhii (Elsevier, 2013).

Jadi, demam tifoid merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri gram negatif (bakteri Salmonella typhii ) yang menurunkan sistem pertahanan tubuh dan masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Aspek paling penting dari infeksi ini adalah kemungkinan terjadinya perfusi usus, karena organisme memasuki rongga perut sehingga menyebabkan timbulnya peritonitis yang mengganas.

B. ETIOLOGI

1. Salmonella typhii

2. S. Paratyphii A, S. Paratyphii B, S. Paratyphii C.

3. S typhii atau S. paratyphii hanya ditemukan pada manusia.

4. Demam bersumber dari makanan-makanan atau air yang dikontaminasi oleh manusia lainnya.

5. Di USA, kebanyakan kasus demam bersumber baik dari wisatawan mancanegara atau makanan yang kebanyakan diimpor dari luar.

(3)

Pemulihan mulai terjadi pada minggu ke-empat dalam perjalanan penyakit. Orang yang pernah menderita demam tifoid akan memperoleh kekebalan darinya, sekaligus sebagai karier bakteri. Jadi, orang yang pernah menderita tipus akan menjadi orang yang menularkan tipus pada yang belum pernah menderita tipus.

C. PATOFISIOLOGI

Bakteri Salmonella typhi bersama makanan/minuman masuk kedalam tubuh melalui mulut. Pada saat melewati lambung dengan suasana asam (pH < 2) banyak bakteri yang mati. Keadaan-keadaan seperti aklorhidiria, gastrektomi, pengobatan dengan antagonis reseptor histamin H2, inhibitor pompa proton atau antasida dalam jumlah besar, akan mengurangi dosis infeksi. Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus. Di usus halus, bakteri melekat pada sel-sel mukosa dan kemudian menginvasi mukosa dan menembus dinding usus, tepatnya di ileum dan jejunum. Sel-sel M, sel epitel khusus yang melapisi Peyer’s patch, merupakan tempat internalisasi Salmonella typhi. Bakteri mencapai folikel limfe usus halus, mengikuti aliran ke kelenjar limfe mesenterika bahkan ada yang melewati sirkulasi sistemik sampai ke jaringan RES di organ hati dan limpa. Salmonella typhi mengalami multiplikasi di dalam sel fagosit mononuklear di dalam folikel limfe, kelenjar limfe mesenterika, hati dan limfe. (Soedarmo, dkk, 2012).

Setelah melalui periode waktu tertentu (periode inkubasi) yang lamanya ditentukan oleh jumlah dan virulensi kuman serta respons imun pejamu maka Salmonella typhi akan keluar dari habitatnya dan melalui duktus torasikus masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Dengan cara ini organisme dapat mencapai organ manapun, akan tetapi tempat yang disukai oeh Salmonella typhi adalah hati, limpa, sumsum tulang belakang, kandung empedu dan Peyer’s patch dari ileum terminal. Invasi kandung empedu dapat terjadi baik secara langsung dari darah atau penyebaran retrograd dari empedu. Ekskresi organisme di empedu dapat menginvasi ulang dinding usus atau dikeluarkan melalui tinja.

(4)

melalui pemeriksaan limulus. Diduga endotoksin dari Salmonella typhi menstimulasi makrofag di dalam hati, limpa, folikel limfoma usus halus dan kelenjar limfe mesenterika untuk memproduksi sitokin dan zat-zat lain. Produk dari makrofag inilah yang dapat menimbulkan nekrosis sel, sistem vaskular yang tidak stabil, demam, depresi sumsum tulang belakang, kelainan pada darah dan juga menstimulasi sistem imunologik (Soedarmo, dkk, 2012).

Pada minggu pertama sakit, terjadi hiperplasia plaks Peyer. Ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi plaks Peyer. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan, bahkan sampai perforasi usus. Selain itu hepar, kelenjar-kelenjar mesenterial dan limpa membesar (Suriadi & Rita, 2006).

Komplikasi infeksi dapat terjadi perforasi atau perdarahan. Kuman Salmonella typhi terutama menyerang jaringan tertentu, yaitu jaringan atau organ limfoid seperti limpa yang membesar, juga jaringan limfoid di usus kecil yaitu plak Peyer terserang dan membesar. Membesarnya plak Peyer membuat jaringan ini menjadi rapuh dan mudah rusak oleh gesekan makanan yang melaluinya. Inilah yang menyebabkan pasien tifus harus diberikan makanan lunak, yaitu konsistensi bubur yang melalui liang usus tidak sampai merusak permukaan plak Peyer ini. Bila tetap rusak, maka dinding usus setempat yang memang sudah tipis, makin menipis, sehingga pembuluh darah ikut rusak akibat timbul perdarahan, yang kadang-kadang cukup hebat. Bila berlangsung terus, ada kemungkinan dinding usus itu tidak tahan dan pecah (perforasi)., diikuti peritonitis yang dapat berakhir fatal

D. MANIFESTASI KLINIK

Manisfestasi klinis dari demam tifoid adalah:

1. Gejala pada anak: Inkubasi antara 5- 40 hari dengan rata-rata 10-14 hari. 2. Demam meninggi sampai akhir minggu pertama

3. Demam turun pada minggu ke empat, kecuali demam tidak tertangani akan menyebabkan shock, stupor dan koma.

(5)

5. Nyeri kepala 6. Nyeri perut 7. Kembung 8. Mual, muntah 9. Diare

10. Konstipasi 11. Pusing 12. Nyeri otot 13. Batuk 14. Epistaksis 15. Bradikardi

16. Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung merah serta tremor) 17. Hepatomegaly

18. Splenomegaly 19. Meteroismus

20. Gangguan mental berupa somnolen 21. Delirium atau spikosis

22. Dapat timbul dengan gejala yang tidak tipikal terutama pada bayimuda sebagai penyakit demam akut disertai syok dan hipotermia. (Sudoyo Aru, 2009)

Masa inkubasi biasanya 7-14 hari, tetapi dapat berkisar antara 3-30 hari tergantung pada besar inokulum yang tertelan:

1. Anak Usia Sekolah dan Remaja

Gejala awal demam, malaise, anokreksia, mialgia, nyeri kepala dan nyeri perut berkembang selama 2-3 hari. Mual dan muntah dapat menjadi tanda komplikasi, terutama jika terjadi pada minggu kedua atau ketiga. Pada beberapa anak terjadi kelesuan berat, batuk, dan epistaksis. Demam yang terjadi bisa mencapai 40 derajat celsius dalam satu minggu.

(6)

tingginya demam. Anak mengalami hepatomegali, splenomegali dan perut kembung dengan nyeri difus. Pada sekitar 50% penderita demam tifoid dengan demam enterik, terjadi ruam makulaatau makulo popular (bintik merah) yang tampak pada hari ke tujuh sampai ke sepuluh. Biasanya lesi mempunyai ciri tersendiri, eritmatosa dengan diameter 1-5 mm. Lesi biasanya berkhir dalam waktu 2 atau 3 hari. Biakan lesi 60% menghasilkan organisme Salmonella.

2. Bayi dan balita

Pada balita dengan demam tifoid sering dijumpai diare, yang dapat menimbulkan diagnosis gastroenteritis akut.

3. Neonatus

Demam tifoid dapat meyerang pada neonatus dalam usia tiga hari persalinan. Gejalanya berupa muntah, diare, dan kembung. Suhu tubuh bervariasi dapat mencapai 40,5 derajat celsius. Dapat terjadi kejang, hepatomegali, ikterus, anoreksia, dan kehilangan berat badan.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan fisis

Pemeriksaan fisis pada penderita demam tipoid dilakukan secara berulang dan regular. Semua tanda-tanda vital merupakan petunjuk yang relevan. Perhatian khusus harus diberikan pada pemeriksaan jasmani harian yang kadang-kadang harus dilakukan lebih sering sampai kepastian diagnosis didapat dan respon yang diperkirakan terhadap pengobatan penyakitnya sudah tercapai. Begitu juga dilakukan pemeriksaan secara teliti pada kulit, kelenjar limfe, mata, dasar kuku, sistem kardiovaskuler, dada, abdomen, sistem musculoskeletal dan sistem saraf.

2. Pemeriksaan laboratorium a. Hematologi

(7)

b. Kimia darah

Pemeriksaan elektrolit, kadar glukosa, blood urea nitrogen dan kreatinin harus dilakukan.

c. Imunorologi

Widal : pemeriksaan serologi ini ditujukan untuk mendeteksi adanya antibody di dalam darah terhadap antigen kuman Salmonella typhi. Hasil positif dinytakan dengan adanya aglutinasi. Hasil negative palsu dapat disebabkan oleh karena antara lain penderita sudah mendapatkan terapi antibiotika, waktu pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit, keadaan umum pasien buruk, dan adanya penyakit imunologik lain. d. Urinalis

Protein: bervariasi dari negative sampai positif (akibat demam).

Leukosit dan eritrosit normal : bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit

e. Mikrobiologi

Sediaan apus dan kultur dari tenggorok, uretra, anus, serviks dan vagina harus dibuat dalam situasi yang tepat. Pemeriksaan sputum diperlukan untuk pasien yang demam disertai batuk-batuk. Pemeriksaan kultur darah dan kultur cairan abnormal serta urin diperlukan untuk mengetahui komplikasi yang muncul.

f. Radiologi

Pembuatan foto toraks biasanya merupakan bagian dari pemeriksaan untuk setiap penyakit demam yang signifikan.

g. Biologi molekuler

(8)

G. PENATALAKSANAAN MEDIS

Penatalaksanaan pada demam tifoid adalah sebagai berikut: 1. Perawatan

Pasien dengan demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi dan pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih 14 hari. Mobilisasi pasien harus dilakukan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Pasien dengan kesadaran yang menurun, posisi tubuhnya harus di ubah – ubah pada waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus. Defekasi dan buang air kecil perlu di perhatikan karena kadang – kadang terjadi obstipasi dan retensi air kemih.

2. Diet

Makanan yang dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak serat. 3. Obat

a. Obat - obat antimikroba yang sering dipergunakan ialah: 1) Kloramfenikol

Menurut Damin Sumardjo, 2009. Kloramfenikol atau kloramisetin adalah antibiotik yang mempunyai spektrum luas, berasal dai jamur Streptomyces venezuelae. Dapat digunakan untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh beberapa bakteri gram posistif dan bakteri gram negatif. Kloramfenikol dapat diberikan secara oral. Rektal atau dalam bentuk salep. Efek samping penggunaan antibiotik kloramfenikol yang terlalu lama dan dengan dosis yang berlebihan adalah anemia aplastik. Dosis pada anak : 25 - 50 mg/kg BB/hari per oral atau 75 mg/kg BB/hari secara intravena dalam empat dosis yang sama.

2) Thiamfenikol

(9)

3) Ko – trimoksazol

Adalah suatu kombinasi dari trimetoprim-sulfametoksasol (10 mg TMP dan 50 mg SMX/kg/24 jam). Trimetoprim memiliki daya kerja antibakteriil yang merupakan sulfonamida dengan menghambat enzim dihidrofolat reduktase. Efek samping yang ditimbulkan adalah kerusakan parah pada sel – sel darah antara lain agranulositosis dan anemia hemolitis, terutama pada penderita defisiensi glukosa-6-fosfodehidrogenase. efek samping lainnya adalah reaksi alergi antara lain urticaria, fotosensitasi dan sindrom Stevens Johnson, sejenis eritema multiform dengan risiko kematian tinggi terutama pada anak – anak. kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 6 bulan. Dosis pada anak yaitu trimetoprim-sulfametoksasol (10 mg TMP dan 50 mg SMX/kg/24 jam, secara oral dalam dua dosis). Pengobatan dengan dosis tepat harus dilanjutkan minimal 5-7 hari untuk menghindarkan gagalnya terapi dan cepatnya timbul resistensi, (Tan Hoan Tjay & Kirana Rahardja, 2007, hal:140).

4) Ampisilin dan Amoksilin

Ampisilin : Penbritin, Ultrapen, Binotal. Ampisilin efektif terhadap E.coli, H.Inflienzae, Salmonella, dan beberapa suku Proteus. Efek samping, dibandingkan dengan perivat penisilin lain, ampisilin lebih sering menimbulkan gangguan lambung usus yang mungkin ada kaitannya dengan penyerapannya yang kurang baik. Begitu pula reaksi alergi kulit (rash,ruam) dapat terjadi. Dosis ampisilin pada anak (200mg/kg/24 jam, secara intravena dalam empat sampai enam dosis). Dosis amoksilin pada anak (100 mg/kg/ 24 jam, secara oral dalam tiga dosis).

b. Obat – obat simptomatik:

1) Antipiretika (tidak perlu diberikan secara rutin)

(10)

3) Vitamin B komplek dan C sangat di perlukan untuk menjaga kesegaran dan kekutan badan serta berperan dalam kestabilan pembuluh darah kapiler.

Secara fisik :

a. Mengawasi kondisi klien dengan : pengukuran suhu secara berkala setiap 4 – 6 jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau. Perhatikan pula apakah mata anak cenderung melirik keatas, atau apakah anak mengalami kejang – kejang.

Demam yang disertai kejang yang terlalu lama akan berbahaya bagi perkembangan otak, karena oksigen tidak mampu mencapai otak. Terputusnya sulai oksigen ke otak akan berakibat rusaknya sel otak. Dalam kedaan demikian, cacat seumur hidup dapat terjadi berupa rusaknya intelektual tertentu.

b. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan c. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan

d. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke otak yang akan berakibat rusaknya sel – sel otak.

e. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak – banyaknya. Minuman yang diberikan dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan), air buah atau air teh. Tujuannya agar cairan tubuh yang menguap akibat naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya.

f. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang

g. Kompres dengan air hangat pada dahi, ketiak, lipat paha. Tujuannya untuk menurunkan suhu tubuh di permukaan tubuh anak.

H. ANALISA DATA KEPERAWATAN Diagnosa yang muncul

1. Hipertemia berhubungan (00007)

(11)

Do:

a. Suhu Tubuh klien lebih dari 36,50C b. Kulit terasa hangat

c. Kulit terlihat kemerahan

d. Nadi klien lebih normal {anak,-anak (>120x/menit), prasekolah (>140x/menit), dibawah 3tahun (>150x/menit), bayi (>160x/menit)}

e. Nafas klien lebih normal { anak-anak (>30x/menit), prasekolah (>34x/menit), dibawah 3 tahun (40x/menit), bayi (60x/menit)} f. Apakah adanya kejang

2. Kekurangan volume cairan (00027) Ds:

a. ibu klien mengatakan anaknya susah minum b. klien mengatakan anaknya buang air kecil terus Do:

a. bibir klien terlihat pecah-pecah b. mukosa klien kering dan pucat c. penurunan tugor kulit

d. kulit klien terlihat lembab e. peningkatan konsentrasi urin f. klien terlihat lemas

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari tubuh (00002) Ds:

a. ibu klien mengatakan anaknya susah makan b. klien mengatakan anaknya mengalami muntah Do:

(12)

c. Klien terlihat tidak memilki nafsu makan d. Membra mukosa klien pucat

e. Adanya sariawan

f. Klien tanpak menghindari makanan

I. RENCANA KEPERAWATAN diterima, dan kehilangan panas

4. Temperature stabil : 36,5 – 37,5°C

5. Tidak ada kejang

6. Tidak ada perubahan warna kulit

2. Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu

3. Monitor tekanan darah, nadi dan respiratory rate

4. Monitor warna dan suhu kulit 5. Monitor tanda-tanda

8. Ajarkan pada orang tua pasien cara mencegah keletihan akibat panas

(13)

8. Pengendalian risiko: hipotermia

9. Pengendalian risiko: proses menular

10. Pengendalian risiko: paparan sinar matahari

terjadinya keletihan dan penanganann emergency yang diperlukan

11.Ajarkan indikasi dari hipotermia dan penanganan yang diperlukan yang

3. Nutritional status: food and fluid intake

Kriteria hasil:

1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan berat badan, berat jenis urine normal , HT normal 2. Tekanan darah, nadi, suhu

tubuh dalam batas normal 3. Tidak ada tanda-tanda

dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.

NIC

Fluid management

1. Timbang popok jika perlu 2. Pertahankan catatan intake

dan output yang akurat atau cairan dan hitung intake kalori harian

6. Kolaborasikan pemberian cairan IV

7. Berikan cairan IV pada suhu ruangan

8. Dorong masukan oral

9. Berikan nasogastrik sesuai output

(14)

(jus buah, buah segar) untuk

3. Monitor tingkat Hb dan Ht 4. Monitor tanda vital

5. Monitor respon pasien terhadap penambahan cairan 6. Monitor berat badan

7. Dorong pasien atau orang tua pasien untuk menambah intake oral

8. Pemberian cairan IV monitor untuk mengindikasi adanya tanda dan gejala kelebihan

(15)

1. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan 2. Berat badan ideal sesuai

dengan tinggi badan

3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

4. Tidak ada tanda malnutrisi 5. Menunjukan peningkatan

fungsi pengecapan dari menelan

6. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

3. Jelaskan kelurga klien tentang kondisi berat badan klien 4. Jelaskan resiko dari

kekurangan berat badan 5. Berikan motivasi keluarga

klien untuk meningkatkan berat badan klien

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, J.B. Suharyo B. 2010. Vaksinasi, Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. Yogyakarta: Kanisius

Damin, Sumardjo. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksata. Jakarta: EGC

http://www.slideshare.net/septianraha/penatalaksanaan-medik. Diakses pada tanggal senin, 3 maret 2014, 16:05 WIB

Muslim. 2009. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC Rubenstein, David. et all. 2007. Kedokteran Klinis. Jakarta: Erlangga

Soedarmo, Sumarmo S Poorwo., dkk. 2012. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Jakarta: IDAI

Sukandarrumidi. 2010. Bencana Alam dan Bencana Anthoropogene. Yogyakarta: Kanisius

Sidoyo Aru, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi keempat. Jakarta: Internal Publishing

Tapan, Erik. 2004. Flu, HFMD, Diare pada Pelancong, Malaria, Demam Berdarah, Tifus. Jakarta: Pustaka Populer Obor

Team Elsevier. 2013. Ferri’s Clinical Advisor 2013: 5 Books in 1. Philadelphia: Elsevier, Inc

Tjay, Tan Hoan dan Raharja, Kirana. 2007. Obat-obat Penting: Kasiat, Penggunaan, dan Efek – Efek Sampingnya.Ed 6. Jakarta: EGC

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...