LAPORAN PENDAHULUAN " TYPHOID "

458 

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN TYPHOID

1.1 Definisi

Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan

infeksi Salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah

terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi

kuman Salmonella (Smeltzer, 2014).

Typhus abdominalis atau demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada

saluran cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13

tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13

tahun sebanyak (5%-10%) (Arief, 2010).

Demam typhoid atau Typhus abdominalis adalah suatu penyakit infeksi akut yang

biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu,

gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran (Price A. Sylvia, 2006).

Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut disebabkan oleh kuman gram negatif

Salmonella typhi. Selama terjadi infeksi, kuman tersebut bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan dilepaskan ke aliran darah. (Darmowandowo, 2006)

1.2 Etiologi

Etiologi demam thypoid adalah salmonella thypi (S.thypi) 90 % dan salmonella

parathypi (S. Parathypi A dan B serta C). Bakteri ini berbentuk batang, gram negatif,

mempunyai flagela, dapat hidup dalam air, sampah dan debu. Namun bakteri ini dapat mati

dengan pemanasan suhu 600 selama 15-20 menit. Akibat infeksi oleh salmonella thypi,

pasien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :

1. Aglutinin O (antigen somatik) yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari

tubuh kuman).

2. Aglutinin H (antigen flagela) yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari

(2)

3. Aglutinin Vi (envelope) terletak pada kapsul yang dibuat karena rangsangan antigen Vi

(berasal dari simpai kuman)

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk

diagnosa, makin tinggi titernya makin besar pasien menderita tifoid (Sudoyo, 2009).

1.3 Patofisiologi

Penularan salmonella typi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan

5f yaitu : food (makanan), fingers (jari tangan/kuku), fomitus (muntah), fly (lalat), dan

melalui feses. Feses dan muntah pada penderita thypoid dapat menularkan kuman

salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara

lalat dimana lalat akan hinggap di makanan yang akan di makan oleh orang yang sehat.

Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan

dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat

melalui mulut. Sebagian kuman akan di musnahkan oleh asam lambung, sebagian masuk

ke usus halus, jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vulli usus halus.

Kemudian kuman masuk keperedaran darah (bakteremia primer) dan mencapai sel-sel

retikuloendoteal, hati, limpa, dan organ lain.

Proses ini terjadi pada masa tunas dan berakhir saat sel-sel retukuloendoteal

melepaskan kuman kedalam peredaran darah dan menimbulkan bakteremia untuk kedua

kali. Kemudian kuman masuk ke beberapa jaringan organ tubuh terutama limp, usus dan

kandung empedu

Pada minggu I, terjadi hyperplasia plaks player pada kelenjar limfoid usus halus.

Minggu II terjadi nekrosis. Minggu III terjadi ulserasi plaks player. Minggu IV terjadi

penyembuhan dengan menimbulkan sikatrik, ulkus dapat menyebabkan perdarahan sampai

perforasi usus, hepar, kelenjar mesenterikal dan limpa membesar. Gejala demam

disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala saluran cerna karena kelainan pada usus

(3)

bakteri salmonella typhi (lewat perantara 5 F)

saluran pencernaan

lambung

infeksi usus halus nausea, vomit intake & nafsu makan menurun

inflamasi Peristaltik usus menurun

pembuluh limfe Bising usus menurun

suhu tubuh meningkat, demam bakteri masuk ke aliran darah Gangguan pada termoregulator

Hepatomegali&splenomegali

(4)

Menurut Mansjoer, 2010 pada demam typoid memiliki masa tunas 7-14 (rata-rata 3 –

30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya

penyakit/gejala yang tidak khas) :

1. Perasaan tidak enak badan 2. Lesu

3. Nyeri kepala 4. Pusing 5. Diare 6. Anoreksia 7. Batuk 8. Nyeri otot

Menyusul gejala klinis yang lain demam yang berlangsung 3 minggu :

1. Demam

a. Minggu I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada

sore dan malam hari

b. Minggu II: Demam terus

c. Minggu III : Demam mulai turun secara berangsur - angsur.

2. Gangguan pada saluran pencernaan

a. Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang

disertai tremor

b. Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan

c. Terdapat konstipasi, diare

3. Gangguan kesadaran

a. Kesadaran yaitu apatis–somnolen

b. Gejala lain “Roseola” (bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler

kulit)

1.5 Komplikasi

Menurut Sudoyo, 2010 komplikasi dari typoid dapat dibagi dalam :

(5)

a. Perdarahan usus b. Perforasi usus c. Ileus paralitik

2. Komplikasi ekstra intestinal

a. Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis) miokarditis, trombosis, dan tromboflebitie.

b. Darah : anemia hemolitik, tromboritopenia, sindrom uremia hemolitik c. Paru : pneumonia, empiema, pleuritis

d. Hepar dan kandung empedu : hipertitis dan kolesistitis. e. Ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis. f. Tulang : oeteomielitis, periostitis, epondilitis, dan arthritis.

g. Neuropsikiatrik : delirium, sindrom Guillan-Barre, psikosis dan sindrom katatonia. Pada anak-anak dengan demam paratifoid, komplikasi lebih jarang terjadi. Komplikasi

sering terjadi pada keadaan tokremia berat dan kelemahan umum, terutama bila perawatan

pasien kurang sempurna.

1.6 Pemeriksaan Penunjang

1. Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada

kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada

batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada

komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak

berguna untuk diagnosa Pemeriksaan leukosit demam typhoid.

2. Pemeriksaan SGOT Dan SGPT

SGOT Dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali

3. Biakan darah

Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah

negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan

(6)

a. Teknik pemeriksaan Laboratorium

Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini

disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu

pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia

berlangsung.

b. Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit

Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan

berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat

positif kembali.

c. Vaksinasi di masa lampau

Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam

darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.

d. Pengobatan dengan obat anti mikroba

Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan

kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.

4. Uji Widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).

Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan

typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan

pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di

laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam

serum klien yang disangka menderita tifoid

Uji widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibody terhadap kuman Salmonella

typhi. Uji widal dikatakan bernilai bila terdapat kenaikan titer widal 4 kali lipat (pada

pemeriksaan ulang 5-7 hari) atau titer widal O > 1/320, titer H > 1/60 (dalam sekali

pemeriksaan.

(7)

Pengobatan typoid sampai saat ini masih menganut Trilogi penatalaksanaan demam

thypoid, yaitu :

a. Kloramphenikol : dosis hari pertama 4 x 250 mg, hari kedua 4 x 500 mg, diberikan

selama demam berkanjut sampai 2 hari bebas demam, kemudian dosis diturunkan

menjadi 4 x 250 mg selama 5 hari kemudian

b. Ampisilin/Amoksisilin : dosis 50 – 15- mg/Kg/BB/hari, diberikan selama 2 minggu

c. Kotrimoksasol : 2 x 2 tablet (1 tablet mengandung 400 mg sulfametosazol-80 mg

trimetropim), diberikan selama dua minggu.

2. Penatalaksanaan Keperawatan

a. Diet

1) Cukup kalori dan tinggi protein

2) Pada keadaan akut klien diberikan bubur saring, setelah bebas panas dapat diberikan

bubur kasar, dan akhirnya diberikan nasi sesuai tingkat kesembuhan. Namun

beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini, yaitu nasi

dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat

diberikan secara aman.

3) Pada kasus perforasi intestinal dan renjatan septik diperlukan perawatan intensif

dengan nutrisi parenteral total.

b. Istirahat

Bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Klien harus tirah

baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari.

Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan kondisi. Klien dengan

kondisi kesadaran menurun perlu diubah posisinya setiap 2 jam untuk mencegah

dekubitus dan pneumonia hipostatik. Defekasi dan buang air kecil perlu perhatian karena

kadang – kadang terjadi obstipasi dan retensi urine.

c. Perawatan sehari – hari

Dalam perawatan selalu dijaga personal hygiene, kebersihan tempat tidur, pakaian, dan

peralatan yang digunakan oleh klien.

(8)

Prognosis demam typoid tergantung dari umur, keadaan umum, derajat kekebalan

tubuh, jumlah dan virulensi Salmonela, serta cepat dan tepatnya pengobatan. Angka

kematian pada anak-anak 2,6% dan pada orang dewasa adalah 7,4%

1.9 Pencegahan

1. Terhadap lingkungan

a. Penyediaan air minum yang memenuhi syarat kesehatan

b. Pembuangan kotoran manusia (faeces) BAB dan BAK yang tertutup c. Pemberantasan lalat

d. Pengawasan terhadap rumah-rumah makan dan penjualan makanan. 2. Terhadap manusia

a. Imunisasi aktif maupun pasif

b. Menemukan dan mengawasi Carier Typhoid

c. cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu mentah (yang belum dipsteurisasi), hindari minum air

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Typhus Abdominalis