BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tanah adalah salah satu kekayaan Indonesia yang memiliki fungsi yang luar biasa. Tanah disini diartikan sebagai lahan yang bisa ditempati dan digunakan untuk berbagai macam kepentingan. Misalnya tanah pertanian, tanah perkebunan, tanah usaha, tanah untuk bangunan dan lain-lain. Kepemilikan Tanah pun perlu dijaga dan dilegalisasi melalui mekanisme tertentu dengan lembaga yang berwenang. Dengan kepemilikan dan pengaturannya yang sedemikian rupa, untuk itu dalam sejarahnya Hukum tentang tanah mengalami perkembangan yang cukup banyak.
Perkembangan pengaturan hukum tanah di Indonesia di awali dengan adanya agraricsh wet pada masa kolonial Belanda. Pada masa itu Hukum Tanah terbagi menjadi dua dengan ketentuan Dualistis dari Belanda. Hukum dualistis mengakui Hukum Barat sebagai Hukum pada penjajah dan mengakui Hukum adat sebagai hukum milik pribumi. Pada masa itu pula kepemilikan tanah masih berpedoman pada klasifikasi hukum perdaya. Yakni golongan barat, golongan timur asing dan golongan Pribumi. Dama agraricsh Wet, hukum adat diakui namun ada beberapa batasan yang membuat dualisme tersebut lebih mengarah pada Hukum Barat.
Dualisme hukum yang tercantum pada agraricsh wet telihat semakin tidak konsisten dengan adanya asas domein verklaring. Asas tersebut menyatakan bahwa siapapun boleh memiliki Tanah sepanjang dapat membuktikan. Jika tidak dalam hal ini tidak dapat membuktikan tanah tersebut miliknya, maka Negara yang berhak memiliki. Dalam Hukum Barat juga dikenal dengan hak eigendom yaitu Hak milik secara mutlak. Negara memiliki tanah sehingga dapat melakukan apapun terhadap tanah itu.
Selain asas domein verklaring, dalam ketentuan hukum tanah kolonial terdapat hak-hak atas tanah yang tidak menguntungkan pribumi. Antara lain adalah hak-hak opstal dan hak-hak erfpach. Kedua hak tersebut memberikan penderitaan bagi rakyat karena jenjang waktu sewa yang diberikan pada investor mencapai 75 tahun.
terlalu menguntungan rakyat karena lebih banyak menggunakan hukum Belanda meskipun dibatasi yakni asal tidak bertentangan dengan kepentingan Masyarakat Indonesia.
Pada tahun 1960 merupakan tonggak sejarah yang besar bagi masyarakat Indonesia dan pada perkembangan Hukum Agraria. Untuk pertama kalinya Indonesia memiliki Hukum Tanah Nasional sendiri dengan ketentuan yang disesuaikan dengan kepentingan Rakyat. Hukum Tanah Nasional tersebut adalah Undang-Undang nomor 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar Pokok-pokok Agraria atau lebih sering disebut UUPA.
Konstruksi Hukum tanah dalam UUPA berbeda dengan hukum tanah pada masa kolonial. Pada UUPA menghapus Dualisme Hukum menjadi satu Hukum Nasional, peraturan yang terkandung di dalamnya memihak kepentingan Rakyat. Serta menyatakan bahwa Tanah di Indonesia melekat pada seluruh bangsa Indonesia selama Indonesia masih ada.
Hak –hak atas tanah dalam UUPA berbeda dengan hak atas tanah pada hukum kolonial. Hak atas tanah dalam UUPA berprinsip pada asas fungsi sosial yakni mengedepankan kepentingan masyarakat atau bersama. Dengan adanya ketentuan sedemikian rupa, siapapun dapat memperoleh hak atas tanah.
Dengan adanya perkembangan hukum yang siginificant, membuat masyarakat banyak yang memiliki hak atas tanahnya. Hak atas tanah tersebut beragam bentuknya. Dalam UUPA hak atas tanah terbagi atas hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah, hak memungut hasil hutan dan hak-hak lain yang akan dicantumkan pada peraturan yang terpisah.
Meskipun peraturan tentang Tanah telah diperbarui, sengketa tentang tanah tidak berhenti sampai pada pembuatan UUPA. Sengketa yang berobjekkan tanah semakin banyak dan beragam bentuknya. Salah satu kasus yang terjadi di Purwokerto desa Darmakradenan kecamatan Ajibarang. Serikat Petani meminta pada Pemerintah untuk mencabut Hak guna Usaha milik PT Rumpun Sari Antan. Pada awalnya, lahan yang dipakai PT Rumpun Sari Antan tersebut pada masa Kolonial adalah lahan milik Petani. Namun seiring berjalannya waktu dan perubahan peraturan, Tanah pertanian tersebut dikelola oleh Pemerintah. Kemudian tanah tersebut di sewa oleh PT Rumpun Sari Andan hingga tahun 2018. Hal ini membuat pada petani merasa hak nya telah dikurangi bahkan dihilangkan.
Dengan permasalahan itu, maka perlu dikaji lebih dalam tentang hak guna usaha dan hak atas tanah yang lain.
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kedudukan para pihak dalam kasus sengketa tanah Hak Guna Usaha antara Petani dengan PT. Rumpun Sari Andan?
2. Bagaimana Penyelesaian sengketa tanah Hak Guna Usaha tersebut ditinjau dari instrumen Hukum agraria Indonesia?
C. TUJUAN
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengkaji kedudukan para pihak dalam kasus sengketa tanah Hak Guna Usaha.
2. Untuk mengkaji dan menganalisis penyelesaian sengketa tanah Hak Guna Usaha dilihat dari ketentuan Hukum Agraria.
D. MANFAAT
Adapun manfaat dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis, yaitu sebagai sumbangsih ilmu pengetahuan bagi perkembangan Hukum Agraria di Indonesia.
2. Manfaat Praktis, yaitu terdiri dari beberapa komponen yakni:
a. Pemerintah, yaitu agar Pemerintah mengetahui dan merespon permasalahan sengketa tanah Hak Guna Usaha yang belum terselesaikan.
BAB II PEMBAHASAN
A. KEDUDUKAN PARA PIHAK DALAM KASUS SENGKETA TANAH HAK GUNA USAHA DARMAKRADENAN
Dalam kasus ini terdapat beberapa pihak yang terkait dalam sengketa yang kemudian dapat dibagi menjadi tiga yaitu: pihak Petani dan warga Darmakradenan sebagai pihak yang memohonkan serta mengklaim kepemilikan dari lahan sengketa; pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI), KODAM Diponegoro, sebagai pihak yang mengambilalih kepemilikan tanah ketika terjadi kekosongan kepemilikan dan dikemudian hari menyewakan tanah kepada PT RSA dengan menggunakan Hak Guna Usaha (selanjutnya disebut HGU); dan pihak PT RSA sebagai pihak yang menguasai tanah sengketa dengan menggunakan HGU.
Kasus sengketa tanah HGU Darmakradenan ini sebelumnya berawal dari jaman penjajahan Belanda dengan kronologis singkat sebagai berikut1:
a. Tahun 1890 lahan seluas 227 hektar di Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang tersebut adalah milik warga Darmakradenan.
b. Saat itu Berdasarkan Undang-undang Agrarische wet de wall 1870 Belanda, petani diberikan sertifikat tanah, namun dengan pajak yang sangat tinggi. c. Karena mahalnya pajak tersebut, dengan persetujuan semua warga, lahan
disewakan kepada pengusaha Belanda (Tuan Maryon) menggunakan hak erfpacht dengan jangka waktu selama 75tahun dari tahun 1890-1967
d. Tn. Maryon kemudian menyewakan kembali kepada pengusaha Belanda lain (Tuan Volls)
e. Tahun 1930 Tuan Volls menyerahkan lahan kepada Pengusaha Tionghoa (Babah Thong Pho perusahaan Ho Tong Po & co)
f. Dipegang oleh pengusaha Tionghoa dari Babah Thong Pho kemudian beralih kepada Tan Giok Kien hingga tahun 1965.
g. Sampai tahun 1965, warga masih diberi perkebunan garapan seluas 10-20ha di lahan tersebut.
h. Saat terjadi peristiwa GESTAPU, Tan Giok Kien melarikan diri sehingga terjadi kekosongan pemilik dari lahan tersebut.
i. Ketika petani ingin mengklaim tanah tersebut, petani malah dianggap sebagai komunis oleh pemerintah pasca G30SPKI.
j. Dengan alasan pengamanan TNI mengambil alih dan dipercayakan kepada kolonel Ngaspin (KODAM Diponegoro)
k. Dari Kolonel Ngaspin dilimpahkan kepada Kapten Subur Sunaryo
l. Kepala Desa Darmakradenan diperintah TNI untuk menandatangani surat yang tidak diketahui isinya, namun ditolak.
m. Tahun 1967 ketika masa sewa (efpracht) telah berakhir, tanah tidak dikembalikan pada rakyat sebagaimana mestinya.
n. Tahun 1956-1976, Yayasan Rumpun Diponegoro (YARDIP) bentukan KODAM Diponegaoro mengelola perkebunan dengan bekerjasama dengan PT Rumpun Sari Antan (RSA)
o. Salah satu tanah yang disewakan oleh YARDIP kepada PT RSA adalah lahan Darmakradenan dengan menggunakan Hak Guna Usaha.
p. HGU tersebut dipegang oleh PT RSA selama 20 tahun dan masih akan berlangsung hingga tahun 2018
Berdasarkan kronologis tersebut, terdapat beberapa permasalahan yang kemudian timbul, diantaranya adalah tuntutan dari rakyat Darmakradenan yang menuntut dihapuskan atau dicabutnya HGU PT. RSA dan dikembalikannya hak atas tanah tersebut kepada rakyat Darmakradenan.
Kedudukan para pihak yang terkait dengan sengketa tersebut terhadap tanah sengketa kemudian akan diuraikan sebagai berikut.
1. Petani dan Warga Darmakradenan
Petani dan warga Darmakradenan mengklaim bahwa lahan sengketa adalah milik mereka sejak jaman penjajahan Belanda. Berdasarkan kronologis yang diposting dalam suatu website yang mengawali perkembangan sengketa ini, pada tahun 1890 oleh pemerintah Belanda, warga telah diberikan sertifikat tanah dengan pajak yang sangat tinggi yang mengakibatkan warga bersepakat untuk menyewakan tanah tersebut kepada pengusaha Belanda, praktek yang banyak terjadi pada saat itu.
15 Juli 1892 VERPONDING No. 5 seluas areal 230,10 Ha, tanggal expirasi 15 Juli 1967.
Hak Erfpacht
Hak erfpacht adalah hak atas tanah yang berlaku sebelum adanya Undang-undang Nomor 50 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (selanjutnya disebut sebagai UUPA) yang diatur dalam pasal 720 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) atau Burgerlijk Wetboek (BW). Menurut pasal tersebut, hak erfpacht adalah suatu hak kebendaan untuk menikmati sepenuhnya akan kegunaan suatu barang tidak bergerak milik orang lain, dengan kewajiban membayar upeti tahunan kepada pemilik sebagai pengakuan atas kepemilikannya, baik berupa uang, berupa hasil atau pendapatan2. Milik orang lain disini mempunyai dua
pengertian, yaitu sebagai tanah eigendom orang atau sebagai tanah eigendom negara (tanah domein negara)3.
Hak Erpacht dibagi menjadi tiga jenis4:
a. Hak untuk perkebunan dan pertanian besar, maksimum 500 bahu dengan harga sewa maksimum lima florint per bahu;
b. Hak untuk perkebunan dan pertanian kecil bagi orang Eropa "miskin" atau perkumpulan sosial di Hindia Belanda, maksimum 25 bahu dengan harga sewa satu florint per bahu (tetapi pada tahun 1908 diperluas menjadi maksimum 500 bahu);
c. Hak untuk rumah tetirah dan pekarangannya (estate) seluas maksimum 50 bahu.
KUHPerdata tidak menetapkan batas waktu dari hak erpacht dan biasanya hak erpacht berlaku untuk waktu yang diperjanjikan, sehingga ada kemungkinan berlaku untuk selama-lamanya5. Dalam kasus sengketa Darmakradenan ini, lahan yang
disewakan warga kepada pengusaha Belanda tersebut memiliki jangka waktu 75 tahun yaitu dari tahun 1890 hingga tahun 1967 (Hak erphact No. 1 tanggal 15 Juli 1892 VERPONDING No. 5). HGU ini dapat diberikan atas tanah hak eigendom maupun tanah domein negara dengan melalui perjanjian6.
2 Lihat pasal 720 Kitab Undang-undang Hukum Perdata
3 Arie S. Hutagalung,dkk, 2012, Hukum Pertanahan di Belanda dan Indonesia, Pustaka
Larasan, Bali, hlm. 145
4 Harsono B, 1995, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-undang
Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya Jilid 1, Hukum Tanah Nasional, Jakarta.
5 Muhadjirin, 2003, Konflik Penguasaan Tanah Negara Bekas Hak Erfpaahht, Masters
thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro
Konversi Hak Barat menjadi Hak UUPA
Saat ini, setelah adanya unifikasi dan penyatuan peraturan mengenai tanah di Indonesia dengan UUPA, hak-hak tanah Belanda seperti hak eigendom, hak opstal dan hak erfpracht tidak lagi digunakan dan dikonversikan menjadi hak-hak menurut UUPA. Konversi atau perubahan terjadinya karena hukum (“van rechtswege”) dan secara serentak sejak tanggal 24 September 1960. Ini berarti bahwa terhitung sejak tanggal tersebut tidak berlaku lagi lembaga-lembaga atau hak-hak atas tanah yang diatur oleh Hukum Tanah Barat maupun Hukum Tanah Adat7. Hak erfpracht sendiri
dikonversikan menjadi Hak Guna Usaha atau HGU.
Hak atas tanah yang melekat pada tanah Darmakradenan adalah tanah dengan Hak eigendom yang dibebani hak erfpracht. Ada lima cara konversi Hak Barat yang diberikan di atas Tanah Hak Eigendom yang dibebani Hak Erfpacht/Hak Opstal/Hak Hipotik, yaitu8:
a. Hak Eigendomya dikonversi menjadi Hak Milik, sedangkan Hak Erfpacht/Hak Opstal dikonversi menjadi HGB selama jangka waktunya dan paling lama 20 tahun.
b. Hak Eigendomnya tidak dapat dikonversi menjadi Hak Milik, melainkan hanya dapat dikonversi menjadi HGB saja karena eigenaarnya hanya menguasai secara yuridis saja, ia tidak menggunakan tanahnya. Hal ini berarti eigenaar tersebut tidak memenuhi kewajibannya untuk menggunakan tanah sesuai dengan fungsi tanahnya (menurut pasal 6 UUPA, tanah berfungsi sosial). Oleh karenanya tidak dikonversi dan dinyatakan gugur menjadi tanah negara dan kelak dapat diberikan kembali HGB sampai dengan tanggal 24 September 1980 (pasal 2 PMA nomor 7/1965).
c. Hak Eigendomnya dijadikan jaminan utang dengan dibebani Hak Hipotik yang diberikan kepada sesuatu Bank atau orang selaku kreditor. Hak Eigendom itu dikonversi menjadi Hak Milik atau Hak Guna Bangunan sedangkan Hak hipotik tersebut dikonversi menjadi Hak Tanggungan (pasal 1 ayat 6 KK). Jika hak Eigendom itu dinyatakan hapus menjadi tanah negara, maka Hak Hipotiknya menjadi
hapus pula. Sedangkan perjanjian utang piutangnya tetap berlangsung terus.
d. Menurut ketentuan pasal I ayat 6 Ketentuan Konversi, Tanah Hak Eigendom dapat pula dibebani Hak Servituut atau Erfdientsbaarheid, maka hak itu ikut pula dikonversi menjadi Hak Pakai.
e. Hak Eigendom yang dibebani Hak Sewa maka Hak Sewa tersebut dikonversi pula menjadi Hak Sewa.
Hak Erfpacht dikonversi menjadi dua jenis yaitu9;
a. Hak Guna Bangunan apabila:
Berdasarkan Pasal I ayat (4) Ketentuan-Ketentuan Konversi UUPA Jo. Pasal 12 Peraturan Menteri Agraria Nomor 2 Tahun 1960 tentang Pelaksanaan Beberapa Ketentuan UUPA, hak Erfpacht itu membebani hak Eigendom yang bersangkutan selama sisa waktu hak Erfpacht tersebut, tetapi selama-lamanya 20 tahun.
Berdasarkan Pasal V Ketentuan-Ketentuan Konversi UUPA, hak Erfpacht itu untuk perumahan, berlangsung selama sisa waktu hak Erfpacht tersebut, tetapi selama-lamanya 20 tahun. b. Hak Guna Usaha apabila:
Sejak berlakunya UUPA, yang mempunyainya memenuhi syarat sebagai yang tersebut dalam Pasal 30 UUPA.
Berdasarkan Pasal III ayat (1) Ketentuan-Ketentuan Konversi UUPA, hak Erfpacht untuk perkebunan besar, yang sebagaimana tersebut dalam pasal 29, guna perusahaan pertanian, perikanan, atau peternakan. PP No. 40 Tahun 1996 menambahkan guna perusahaan perkebunan10.
9 Lihat Undang-undang Nomor 50 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok
Agararia
10 Urip Santoso, 2010, Hukum Agraria dan Hak-hak Atas Tanah, Prenada Media Group,
Luas Hak Guna Usaha adalah untuk perseorangan luas minimalnya 5 hektar dan luas maksimalnya 25 hektar. Sedangkan untuk badan hukum luas minimalnya 5 hektar dan luas maksimalnya ditetapkan oleh Badan Pertanahan Nasional (Pasal 28 ayat (2) UUPA jo. Pasal 5 PP No. 40 tahun 1996).
Didalam ketentuan UUPA pasal 28 ayat (2) menyebutkan luas yang dapat dimiliki adalah 25 hektar atau lebih, harus memakai investasi modal yang layak dan teknik perusahaan yang baik sesuai dengan perkembangan zaman. Kemudian dalam pasal 5 PP No. 40 tahun 1996 dijelaskan pula luas maksimum tanah yang dapat diberikan dengan Hak Guna Usaha kepada badan hukum ditetapkan oleh Menteri dengan memperhatikan pertimbangan dari pejabat yang berwenang di bidang usaha yang bersangkutan11.
Dalam kasus sengketa ini, lahan yang menjadi sengketa adalah lahan seluas 227 hektar yang terletak di desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang.
Asal Tanah HGU adalah tanah negara12, apabila tanah tersebut berupa tanah
hak, maka tanah hak tersebut harus dilakukan pelepasan atau penyerahan hak oleh pemegang hak dengan pemberian ganti kerugian oleh calon pemegang Hak Guna Usaha dan selanjutnya mengajukan permohonan pemberian Hak Guna Usaha kepada Badan Pertanahan Nasional. Kalau tanahnya berasal dari kawasan hutan, maka tanah tersebut harus dikeluarkan statusnya sebagai kawasan hutan (Pasal 4 PP No. 40 Tahun 1996).
sertifikat dari pemegang hak guna usaha yang lama kepada pemegang hak guna usaha yang baru.
Dalam kasus ini terjadi beberapa kali peralihan hak guna usaha, peralihan pertama yaitu pada masa penguasaan tanah oleh pengusaha Belanda Tuan Maryon yang melakukan perjanjian dengan masa sewa selama 75 tahun (15 Juli 1892-15 Juli 1967) dimana lahan tersebut dijadikan perkebunan karet. Kemudian peralihan kedua kepada Tuan Volls. Peralihan ketiga terjadi sekitar tahun 1930an dari pengusaha belanda kepada pengusaha Tionghoa yang bernama babah tong pho yang kemudian dialihkan lagi kepada Tan Giok Kien pada tahun 1965. Pada saat ini terjadi peristiwa GESTAPU, dimana Tan Giok Kien meninggalkan tanah nya dan kemudian tana tersebut diambil alih oleh KODIM Diponegoro. Mulai tahun 1956-1975 KODIM memuat perjajian HGU dengan PT. RSA , hingga sekarang tanah tersebut masih di HGU kan kepada PT tersebut dan di kelola sebagai lahan perkebunan coklat (cocoa)14
Jika dikaitkan dengan kasus yang terjadi di Darmakradenan, tanah yang menjadi sengketa merupakan tanah berhak milik yang dikuasai oleh masyarakat dalam hal ini adalah petani dan buruh tani yang dikuatkan dengan dikeluarkan sertifikat tanah oleh pemerintah belanda kepada petani dan buruh tani15. Hal inilah
yang kemudian memicu terjadinya sengketa atas tanah HGU tersebut. Petani mengklaim bahwa tanah tersebut adalah tanah berhak milik yang menyebabkan HGU yang diberikan kepada PT RSA tidak sah dan harus dicabut.
2. PT. Rumpun Sari Antan
PT Rumpun Sari Antan (PT. RSA) adalah pihak yang menjadi subyek HGU lahan sengketa, Menurut pasal 30 UUPA jo Pasal 2 PP No. 40 Tahun 1996 yang dapat mempunyai hak guna usaha adalah:
a. Warga Negara Indonesia
b. Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia (badan hukum Indonesia)
Dalam hal ini, PT. Rumpun Sari Antan (RSA) dapat secara sah dikatakan sebagai subyek HGU, karena merupakan badan hukum yang bergerak di bidang perkebunan coklat (cacao). Berdasarkan pasal pasal 14 PP No. 40 Tahun 1996, pemegang Hak Guna Usaha berhak menguasai dan mempergunakan tanah yang diberikan dengan 14 Ibid. hlm. 103
15 Permasalahan Tanah dan Sengketa Lahan Darmakradenan, dikutip pada http://
Hak Guna Usaha untuk melaksanakan usaha di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Penguasaan dan penggunan sumber air dan sumber daya alam lainnya diatas tanah dilakukan untuk oleh pemegang Hak Guna Usaha16.
Jangka waktu Hak Guna Usaha PT. RSA adalah 20 tahun. Hal ini berdasarkan kesepakatan dengan KODIM daerah tersebut, yang jangka waktu nya akan berakhir pada tahun 2018. Hak guna usaha mempunyai jangka waktu untuk pertama kalinya paling lama 35 dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 25 tahun (Pasal 29 UUPA).
Pasal 8 PP No. 40 Tahun 1996 mengatur jangka waktu Hak Guna Usaha adalah untuk pertama kalinya paling lama 35 tahun, diperpanjang paling lama 25 tahun dan diperbarui paling lama 35 tahun. Permohonan perpanjangan jangka waktu atau pembaruan Hak Guna Usaha diajukan selambat-lambatnya dua tahun sebelum berakhirnya jangka waktu Hak Guna Usaha tersebut. Perpanjangan atau pembaruan dicatat dalam buku tanah pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat. Syarat-syarat perpanjangan jangka waktu atau pembaruan Hak Guna Usaha adalah17:
a. Tanahnya masih diusahakan dengan baik sesuai dengan keadaan, sifat, dan tujuan pemberian hak tersebut;
b. Syarat-syarat pemberian hak tersebut dipenuhi dengan baik oleh pemegang hak; c. Pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang hak.
HGU hanya dapat terjadi dengan adanya penetapan pemerintah. Permohonan pemberian HGU dimintakan oleh pemohon kepada Badan Pertanahan Nasional. Apabila semua persyaratan yang ditentukan dalam permohonan tersebut dipenuhi, makan Badan Pertanahan Nasional menerbitkan Surat Keputusan Pemberian Hak (SKPH). SKPH ini wajib didaftarkan ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat untuk dicacat dalam Buku Tanah dan diterbitkan sertifikat sebagai tanda bukti hak nya. Pendaftaran SKPH tersebut menandai lahirnya HGU (Pasal 31 UUPA jo. Pasal 6 dan Pasal 77 PP No. 40 Tahun 1996)18.
3. Tentara Nasional Indonesia
Sebagai pihak yang mengambilalih ketika terjadi kekosongan kepemilikan terhadap tanah Darmakradenan, militer dalam hal ini TNI memegang peranan penting
16 Urip Santoso, Opa.Cit., hlm. 100 17 Ibid. hlm.102
dalam sengketa tanah HGU ini. Karena adanya peristiwa GESTAPU pada tahun (tahun gestapu), Tan Giok Kien, pengusaha Tinghoa yang saat itu memegang hak erfpracht atas tanah Darmakradenan melarikan diri karena Serikat Buruh Republik Indonesia (SARBUPRI) yang mayoritas buruh perkebunan di bubarkan oleh TNI yang mengakibatkan adanya kekosongan kekuasaan selama hampir satu bulan. Kemudian dengan alasan pengamanan perkebunan dikuasai TNI yang dipercayakan kepada kolonel Ngaspin dari KODAM Diponegoro dan selanjutnya dilimpahkan kepada Kapten Subur Sunaryo19.
Pada saat itu lahan diambil alih oleh militer dengan alasan pengamanan dari penguasaan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu adalah ancaman besar terhadap negara. Pengamanan dilakukan karena pada sekitar tahun 1950-1953 PKI memiliki strategi nasional anti imperialisme dan taktik kerusuhan agraris yang sasarannya adalah perkebunan asing20, sehingga ketika militer berusaha menghentikan
PKI dan menumpas akar-akarnya, semua pemilik perkebunan asing dianggap sebagai pihak PKI sehingga sebagian besar melarikan diri. Tanah yang kehilangan pemiliknya kemudian diambil alih oleh militer.
Banyak tanah perkebunan sejak setelah Proklamasi Kemerdekaan dikuasai oleh tentara Republik Indonesia karena pemerintah kekurangan tenaga manusia yang handal untuk mengelola perkebunan tersebut yang ditinggalkan pemiliknya. Di sinilah awal mulanya tentara mengelola bisnis (perkebunan) yang oleh John Robison dalam bukunya The Rise of Capitalism dianggap sebagai awal mula bangkitnya kapitalisme di kalangan militer. Setelah pengambilalihan tersebut militer sering bentrok dengan aktivis petani (kiri) karena perebutan lahan perkebunan21.
Berdasarkan kedudukan masing-masing pihak tersebutlah maka warga Darmakradenan meyakini areal perkebunan yang di klaim KODAM Diponegoro adalah hak milik rakyat dan harus di kembalikan. Prosedur Yayasan Diponegoro dalam menganeksasi tanah dinilai rakyat tidak benar dan menyalahi aturan. Pada peringatan ulang tahun STAN Ampera ke-13, warga kemudian menuntut:
1. Hapuskan HGU beserta rekomendasinya milik PT Rumpun Sari Antan
19 Kronologi Kasus Sengketa Tanah Perkebunan Darmakradenan 2014, dikutip pada
desa.bloggerbanyumas.net pada tanggal 20 Oktober 2014
20 Kuntowijoyo, 1993, Radikalisasi Petani, Bentang Intervisi Utama, Yogyakarta, hlm.12
21 Achmad Sodiki, 2012, Kebijakan Pertanahan dalam Penataan Hak Guna Usaha untuk
Sebesar-besar Kemakmuran Rakyat, Makalah dalam Seminar Nasional Konsorsium
2. Kembalikan tanah perkebunan kepada Rakyat dan laksanakan reforma agrarian
HGU sebagai salah satu hak atas tanah dapat dihapuskan berdasarkan pasal pasal 34 UUPA yang menyatakan bahwa hak guna usaha hapus salah satu nya karena beberapa hal, yaitu:
1. Jangka waktunya berakhir
2. Dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir karena suatu syarat tidak dipenuhi. 3. Dilepaskan oleh pemegang haknya sebelum jangka waktunya berakhir,
4. Dicabut untuk kepentingan umum 5. Diterlantarkan
6. Tanahnya musnah
B. PENYELESAIAN SENGKETA TANAH HAK GUNA USAHA DILIHAT DARI KETENTUAN HUKUM AGRARIA
Dalam sengketa HGU terdapat beragam penyelesaian, yaitu baik dengan cara non-litigasi seperti musyawarah maupun dengan cara non-litigasi atau pengadilan.
Terhadap suatu kasus pertanahan yang disampaikan atau diadukan dan ditangani oleh Badan Pertanahan Nasional, solusi penyelesaiannya dapat dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut22:
1. Pelayanan pengaduan dan Informasi Kasus
Pengaduan disampaikan melalui Loket pengaduan. Dilakukan Register terhadap pengaduan yang diterima. Penyampaian informasi, digolongkan menjadi :
Informasi rahasia : Perlu ijin Kepala BPN RI atau Pejabat yang ditunjuk. Informasi Terbatas : Diberikan pada pihak yang memenuhi syarat.
Informasi Terbuka untuk umum : Diberikan pada pihak yang membutuhkan. 2. Pengkajian Kasus
Untuk mengetahui faktor penyebab. Menganalisis data yang ada.
Menyusun suatu rekomendasi penyelesaian kasus. 3. Penanganan Kasus
Penanganan suatu kasus pertanahan yang disampaikan atau diadukan dan ditangani oleh Badan Pertanahan Nasional RI dilakukan dengan tahapan :
Pengolahan data pengaduan, penelitian lapangan/koordinasi/investigasi. Penyelenggaraan gelar kasus/penyiapan berita acara.
Analisis/Penyusunan Risalah Pengolahan Data/surat keputusan. Monitoring dan evaluasi terhadap hasil penanganan kasus.
Untuk suatu kasus pertanahan tertentu yang dianggap strategis, dilaksanakan pembentukan tim penanganan kasus potensi konflik strategis.
4. Penyelesaian Kasus
Penyelesaian suatu kasus pertanahan dikelompokkan menjadi 2 yaitu : Penyelesaian melalui jalur hukum/pengadilan.
Penyelesaian melalui proses mediasi.
22 http://www.bpn.go.id/Program-Prioritas/Penanganan-Kasus-Pertanahan diakses pada 24
Dalam skema ini jelas bahwa ada dua jalan penyeleseaian sengketa yaitu dengan cara non-litigasi maupun dengan cara litigasi. Namun dalam prakteknya, tuntutan melalui pengadilan seringkali tidak dilakukan oleh rakyat terutama karena kurangnya bukti formal terutama berupa sertifikat sebagai bukti tertulis paling kuat atas kepemilikan tanah.
Yang paling sering dilakukan oleh rakyat adalah dengan melalui jalur non-litigasi, tekanan massa ataupun dengan lobbying politik melalui wakil-wakil rakyat di DPR atau DPRD. Sebagaimana yang juga dilakukan oleh warga Darmakradenan, karena kurangnya bukti formal, sehingga dalam caranya untuk menuntut pembebasan HGU adalah dengan meminta bantuan pihak eksekutif, wakil rakyat dari daerah Banyumas sehingga Pemerintah Daerah.
Karena kurangnya bukti formal yang harus hadir dalam pengadilan, maka opsi penyelesaian sengketa secara litigasi tidak dapat diambil oleh warga Darmakradenan sehingga untuk seterusnya langkah yang harus diambil adalah dengan menggunakan metode non-litigasi. Ada beberapa metode penyelesaian sengketa non litigasi yang dapat ditempuh yaitu:
1. Mediasi 2. Konsiliasi 3. Arbitrase 4. Konsultasi 5. Negosiasi
6. Pemberian Pendapat Hukum
Dalam menyelesaikan sengketa-sengketa pertanahan yang terjadi diberbagai daerah di Indonesia, penggunaan alternatif penyelesaian sengketa biasanya tergantung pada kasus yang dihadapi. Terutama pada kasus-kasus tanah adat dan ulayat, maka langkah yang ditempuh oleh pemerintah dimasing-masing daerah berbeda sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Sebagian besar langkah tersebut dengan menggunakan pemerintah sebagai lembaga penyedia mekanisme penyelesaian sengketa.
Untuk kasus sengketa tanah HGU Darmakradenan ini yang paling baik dilakukan adalah dengan melakukan mediasi.
yang baik. Mediasi tersebut dilakukan dengan pertemuan-pertemuan dan perundingan dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat antara kedua belah pihak23.
Mediasi dapat terjadi di dalam pengadilan maupun diluar pengadilan. Mediasi yang terjadi di dalam pengadilan diatur dalam Peraturan MA No. 2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan yang mewajibkan pihak yang bersengketa perdata, lebih dulu menempuh proses mediasi. Yaitu melalui perundingan antara pihak yang bersengketa dengan bantuan pihak ketiga yang netral dan tidak memiliki kewenangan memutus (mediator)24.
Dalam rangka menangani dan menyelesaikan sengketa, konflik dan perkara pertanahan secara khusus, penyelesaian melalui Alternative Dispute Solution (ADR) telah secara inplisit dimuat dalam Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional dimana dalam struktur organisasi BPN terdapat satu kedeputian bernama Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan yang berfungsi untuk melaksanakan alternatif penyelesaian masalah melalui bentuk mediasi, fasilitasi, dan lain-lain25.
Kemudian secara efektif telah ditetapkan sebuah Keputusan Kepala Badan Pertanahan RI No.11 Tahun 2009 Tentang Kebijakan dan Strategi Kepala BPN RI Menangani dan Menyelesaikan Sengketa, Konflik dan Perkara Pertanahan Tahun 2009. Mediasi juga diatur dalam Petunjuk Teknis Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor : 05/JUKNIS/ D.V/2007 (Keputusan Kepala BPN RI No.34 Tahun 2007) tentang Mekanisme Pelaksanaan Mediasi yang dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 31 Mei 2007. Putusan mediasi ini bersifat mengikat dan dapat langsung dilaksanakan (landasan hukumnya Pasal 1338 dan Pasal 1320 KUH Perdata)26.
Berdasarkan Keputusan Kepala BPN RI No. 34 Tahun 2007 Petunjuk Teknis No. 05/JUKNIS/D.V/2007 berikut adalah mekanisme pelaksanaan mediasi yang seharusnya dilakukan oleh warga Darmakradenan dengan pihak PT RSA:
1. Mediasi dilaksanakan oleh pejabat/pegawai yang ditunjuk dengan surat tugas/surat perintah dari Kepala Kantor Pertanahan, Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasionai, Kepala Badan Pertanahan Nasionai Republik Indonesia.
23 Alo Liliweri, 2005, Prasangka dan KonflikkKomunikasi Lintas Budaya Masyarakat
Multikultur, LkiS Yogyakarta, Yogyakarta, hlm. 357.
24 Riduan Syahrani. 2004, Seluk-Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, PT Alumni,
Bandung, hlm. 75
25 Naomi Helena Tambuan, 2010, Peran Lembaga Mediasi dalam Penyelesaian Sengketa
Tanah, Master Thesis, Program Pascasarjana Kenotariatan, Universitas Indonesia, hlm. 39
26 A Tampubolon, 2011, Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Snegketa di Bidang
Pertanahan, Master Thesis, Program Pascasarjana Hukum, Universitas Sumatera Utara,
2. Mediator yang melakukan mediasi tersebut adalah termasuk tipe Authoritative Mediator atau pejabat yang berwenang.
3. Para pihak yang bersengketa harus mempunyai kepentingan langsung terhadap masalah yang dimediasikan.
4. Persiapan: mengetahui pokok permasalahan, menyiapkan bahan, menentukan waktu dan tempat mediasi.
5. Undangan: disampaikan kepada pihak yang berkepentingan dan instansi terkait 6. Kegiatan mediasi: mengatasi hambatan antar pihak, mencairkan suasana antara
pihak, penjelasan peran mediator, klarifikasi para pihak, menyamakan pemahaman, identifikasi kepentingan, generalisasi opsi para pihak, penentuan opsi yang dipilih, negosiasi akhir, dan formalisasi kesepakatan penyelesaian sengketa. Selain dengan menggunakan mediasi, terdapat jalur lain yang paling sering dilakukan oleh masyarakat yang terlibat dalam sengketa pertnahan ketika jalur-jalur lain tidak berhasil. Menurut Prof. Sodiki terdapat cara lain yang digunakan oleh rakyat apabila jalur non-litigasi dan jalur litigasi tersebut buntu. Cara yang ditempuh ini adalah jalur ilegal yang kemudian akan berproses menjadi semi legal dan akhirnya akan menjadi legal.
Cara ini jika diuraikan akan sebagai berikut27:
a. Rakyat awalnya akan melakukan pendudukan massal secara paksa yang merupakan sebuah tindakan ilegal. Namun jika dalam prosesnya aparat hukum tidak melakukan tindakan apapun dan rakyat dapat mempertahankan keadaan tersebut dalam waktu yang lama maka keadaan akan berubah menjadi semi ilegal dimana walaupun rakyat tidak memiliki tanah secara formal tetapi dapat menikmati dengan menanam dan mengambil hasilnya.
b. Keadaan ini kemudian dipertahankan dengan menggunakan Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1979 yang menyatakan bahwa tanah tanah HGU hanya dapat diperpanjang masa haknya apabila di areal tersebut tidak terjadi sengketa atau diduduki oleh rakyat. Dengan adanya pengaturan ini, apabila rakyat mampu mempertahankan kondisi semi ilegal tersebut diatas, maka hanya bagian HGU yang bebas konflik dapat dimohonkan perpanjangannya. c. Tahap selanjutnya ialah menunggu masa habisnya HGU. Begitu habis masa
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Alo Liliweri. 2005. Prasangka dan Konflik;Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta: LkiS Yogyakarta.
Arie S. Hutagalung,dkk. 2012. Hukum Pertanahan di Belanda dan Indonesia. Bali: Pustaka Larasan.
Harsono B. 1995. Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya. Jakarta: Hukum Tanah Nasional.
Kuntowijoyo. 1993. Radikalisasi Petani. Yogyakarta: Bentang Intervisi Utama.
Riduan Syahrani. 2004. Seluk-Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata. Bandung: PT Alumni. Urip Santoso. 2010. Hukum Agraria dan Hak-hak Atas Tanah. Jakarta: Prenada Media
Group.
Penelitian Terdahulu
A Tampubolon. 2011. Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Snegketa di Bidang Pertanahan. Master Thesis Program Pascasarjana Hukum Universitas Sumatera Utara.
Achmad Sodiki. 2012. Kebijakan Pertanahan dalam Penataan Hak Guna Usaha untuk Sebesar-besar Kemakmuran Rakyat. Makalah dalam Seminar Nasional Konsorsium Pembaruan Agraria. Jakarta.
Muhadjirin. 2003. Konflik Penguasaan Tanah Negara Bekas Hak Erfpacht. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro
Naomi Helena Tambuan. 2010. Peran Lembaga Mediasi dalam Penyelesaian Sengketa Tanah. Master Thesis Program Pascasarjana Kenotariatan. Universitas Indonesia.
Peraturan Perundang-undangan
Kitab Undang-undang Hukum Perdata
Undang-undang Nomor 50 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agararia
Internet
Kronologi Kasus Sengketa Tanah Perkebunan Darmakradenan 2014, dikutip pada desa.bloggerbanyumas.net pada tanggal 20 Oktober 2014
http://www.bpn.go.id/Program-Prioritas/Penanganan-Kasus-Pertanahan diakses pada 24 Oktober 2014 pukul 1:04 WIB
MAKALAH HAK GUNA USAHA
(Studi Kasus Sengketa Lahan Hak Guna Usaha Warga Darmakradenan dengan PT Rukun Sari Antan)
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Agraria
Kelas : D
Oleh : KELOMPOK IV
M. Arie Herdianto 115010100111124
Harits Jamaludin 115010100111125
Nury Annisa 115010101111001
Hana Setiawati Anggono 115010101111002 Anisatul Istiqomah 115010101111026 Yulia Permatasari 115010101111050 Kania Galuh Savitri 115010101111051 Sarah Nurainy Bouty 115010101111056
Lana Septiana 115010101111061
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS HUKUM MALANG