5
LANDASAN TEORI 2.1. State of Art
Pada state of art ini, diambil dari beberapa contoh penelitian terdahulu sebagai panduan ataupun contoh untuk penelitian yang dilakukan yang nantinya akan menjadi acuan dan perbandingan dalam melakukan penelitian ini. Dalam
state of art ini terdapat 5 jurnal, 3 merupakan jurnal nasional dan 2 lainnya
merupakan jurnal internasional.
Tabel 2.1 State of Art NO. JUDUL PENELITI
DAN NAMA PENELITI TEORI METODE PENELITIAN HASIL 1 Analisis Proses Produksi Program “Sportvaganza” di Trans TV dalam meningkatkan rating dan share. Ellen Tendy 1) Televisi 2) Program Televisi 3) Program Magazine 4) Olah Raga 5) Tahapan Produksi
6) Rating dan Share 7) Analisis SWOT 1) Metode Penelitian Kualitatif 2) Pendekatan Deskriptif 3) Wawancara Mendalam
1) Dalam proses produksi akan melalui tiga
tahapan,yaitu Praproduksi dengan menentukan topik, naskah,dllnya;b. Produksi dilakukan pengambilan suara Fitri Tropica dengan
membacakan naskah; c. paska produksi dilakukan editing offline,
online,mixing,dan scoring.
2) Terdapat analisis SWOT pada program
“Sportvaganza” yang dilihat dari kekuatannya 3) Sebagai program baru
sudah memiliki rating dan share dengan hasil yang cukup baik pada bulan Februari – Maret 2013.
2 Peran Tim Kreatif dalam Pembuatan Acara Masterpiece di RCTI. Satrio Bayu Aji 1) Media Massa 2) Komunikasi Organisasi 3) Groupthink 4) Proses Produksi Televisi 1) Metode Penelitian Kualitatif 2) Pendekatan Deskriptif 3) Wawancara
1) Tim Kreatif memiliki peranan dalam seluruh proses produksi program TV MASTERPIECE 2) Strategi dan
5) SWOT Mendalam dilakukan dari tim kreatif untuk menjadikan
MASTERPIECE sebagai sebuah program unggulan 3) Tim kreatif memiliki
tools seperti intramail,
maupun Blackberry
Messenger dan Whatsapp
untuk terus memberi atau menerima informasi terbaru dari tim lainnya. 3 Strategi Programming Program “Gila Liga” Trans TV dalam Meningkatkan Rating dan Share. Rizki Dermawan 1) Program TV 2) Program GiLa LIGA 3) Konsep Programming 4) Elemen Programming 5) Konsep rating & share 1) Metode Penelitian Kualitatif 2) Pendekatan Deskriptif 3) Wawancara Mendalam 1) Konsep programming di dalam stasiun Trans TV ternyata sedikit berbeda dengan konsep
programming oleh Susan
Taylor
2) Peran programming dalam program GiLa LIGA yang tidak terlalu mendalam dalam
meningkatkan rating dan
share, pada faktanya programming hanya
berperan dari segi
selecting dan juga scheduling.
3) Peningkatan rating dan
share program GiLA
LIGA dikarenakan pergantian talent dalam tahapan selecting , dimana talent yang digantikan tersebut dianggap dapat mewakili target penonton dari GiLA LIGA
4) Meningkatnya rating dan
share program GiLA
LIGA juga disebabkan adanya perubahan jadwal yang telah diatur oleh divisi programming, sehingga dengan adanya perubahan jadwal tersebut penayangan program menjadi lebih cepat diterima penonton.
4 Ouyang, Chun. (2008) Camera Set , Action: Process Innovation for Film and TV Production Cultural Science. Vol. 1 1) TV Production 2) Production office 3) Innovation 1) Metode Penelitian Kualitatif 2) Study case Pengaplikasian teknik BPM untuk sebuah proses
pembentukan innovasi 5 Barker, David. (2009) .Television Production Technique as Communication. Critical Studies in Mass Communication. Vol. 2 1) Communication 2) Programming 3) Television 4) Encoding 5) Decoding 1) Metode Penelitian Kualitatif 2) Grounded Theory Televisi menggunakan kemampuan bernarasi sebagai proses encoding
2.2. Teori Umum 2.2.1. Komunikasi Massa
Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik). Sebab awal perkembangan saja, komunikasi massa berasal dari pengembangan kata media of communication (media komunikasi massa). (Nurudin, 2011:4)
Dennis McQuail (2011:32) mengatakan bahwa komunikator dalam komunikasi massa bukanlah satu orang melainkan sebuah organisasi formal. Komunikasi massa menciptakan pengaruh secara luas dalam waktu singkat kepada banyak orang serentak.
Komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio,televisi), berbiaya relative mahal, yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim, dan heterogen. (Mulyana,2011:83)
Dari beberapa definisi diatas, penulis dapat menyimpulkan jika komunikasi massa adalah sebuah kumpulan orang yang masuk didalam suatu organisasi formal yang berkomunikasi dengan masyarakat luas agar menciptakan pengaruh dalam waktu singkat.
− Karakteristik Komunikasi Massa
Menurut Elvinaro Aldianto (2012:7-11), karakteristik komunikasi massa adalah sebagai berikut.
a. Komunikator memiliki lembaga
Sistem komunikasi yang berskala besar pada umumnya dikendalikan oleh sebuah lembaga, dimana komunikatornya dikendalikan berada dalam sebuah organisasi dan proses pengiriman pesan yang bersifat kompleks sebelum pesan tersebut dapat disampaikan kepada penonton.
b. Penonton bersifat anonim dan heterogen
Karena ditujukan oleh khayalak luas, pada umumnya komunikatsor tidak mengenal penonton mereka. Hal tersebut karena komunikator menggunakan media massa sebagai medium dalam menyampaikan pesannya, serta setiap penonton berasal dari lapisan masyarakat yang berbeda,serta memiliki perbedaan-perbedaan lainnya seperti usia, jenis kelamin, dan pendidikan.
c. Pesan-pesan bersifat umum
Sebuah pesan yang berasal dari media massa pada dasarnya bersifat umum. Hal ini dikarenakan pesan-pesan tersebut ditujukan untuk semua orang, sehingga konten yang dibuat harus dapat dimengerti oleh mayoritas penonton.
d. Penyebaran pesan media bersifat serentak
Walaupun memiliki jenis penonton yang sangat luas, pesan, dari komunikasi massa dapat tersampaikan kepada penonton secara serentak pada waktu yang bersamaan (khusus media elektronik seperti televisi, radio, dan internet)
e. Pesan lebih mengutamakan isi dibandingkan hubungan
Pesan yang berasal dari komunikasi massa cenderung mengarah pada isi atau konten, karena isi merupakan muatan atau isi dari pesan yang akan disampaikan, sedangkan hubungan merupakan cara menyampaikan pesan tersebut.
f. Komunikasi massa bersifat satu arah
Pada umumnya, jenis penyampaian pesan komunikasi massa adalah satu arah karena komunikan menggunakan media massa sebagai medium penyampaian pesan kepada penonton. Dalam beberapa kesempatan, komunikan masih dapat menerima feedback dari penonton, namun tidak semua saran penonton dapat disampaikan karena saran tersebut sebelumnnya sudah disaring dan dibatasi oleh pihak gatekeeper.
g. Stimulasi alat indra terbatas
Stimulasi alat indra penonton dalam komunikasi massa dibatasi oleh medium itu sendiri. Misalnya radio yang hanya mengandalkan indra pendengar, dan koran yang hanya mengandalkan indra penglihatan.
h. Umpan balik yang tertunda dan bersifat tidak langsung
Kendala dari media massa itu sendiri adalah sifat umpan balik yang bersifat tidak langsung (harus melalui medium seperti telepon, dan jejaring sosial), serta penonton membutuhkan waktu untuk dapat mengutarakan opini mereka kepada komunikator.
− Fungsi Komunikasi Massa
Menurut DeVito menyebutkan fungsi komunikasi massa secara khusus, adalah : meyakinkan (to persuade), menganugerahkan status, membius (narcotization), menciptakan rasa kebersatuan, privatisasi dan hubungan parasosial (Ardianto, et al 2009 : 19).
1) Fungsi Meyakinkan
Mengukuhkan. Usaha untuk melakukan persuasi, kita pusatkan pada
upaya mengubah atau memperkuat sikap atau kepercayaan khalayak agar mereka bertindak dengan cara tertentu. Sikap adalah kecenderungan berperilaku dengan cara tertentu. Sikap merupakan produk dari proses sosialisasi, di mana seseorang beraksi sesuai dengan rangsangan yang diterimanya.
Mengubah. Media akan mengubah orang yang tidak memihak pada
demokrat (di Amerika) akhirnya akan terseret ke salah satu pihak akibat pengaruh pesan – pesan media.
Menggerakan. Dilihat dari sudut pengiklan (advertiser), fungsi
terpenting media massa adalah menggerakan (activating) konsumen untuk mengambil tindakan. Media berusaha mengajak pembaca atau pemirsa untuk membeli dan menggunakan produk merek tertentu. Menawarkan etika. Fungsi persuasif dari media massa lainnya adalah mengetikakan (ethicizing). Dengan mengungkapkan secara terbuka tentang adanya penyimpangan tertentu dari suatu norma yang berlaku.
2) Fungsi Menganugerahkan Status
Penganugerahan status (status conferal) terjadi apabila berita yang disebarluaskan melaporkan kegiatan individu – individu tertentu sehingga prestise (gengsi) mereka meningkat.
Komunikasi massa mempunyai fungsi mengakhlakkan kalau komunikasi itu memperkuat kontrol sosial atas anggota – anggota masyarakat yang membawa penyimpangan perilaku ke dalam pandangan masyarakat.
3) Fungsi Membius (Narcotization)
Maksud dari fungsi membius (Narcotization) ini adalah apabila media menyajikan informasi tentang sesuatu, penerima percaya bahwa tindakan tertentu harus diambil. Sebagai akibatnya, pemirsa atau penerima terbius ke dalam keadaan pasif, seakan – akan berada dalam pengaruh narkotik.
4) Fungsi Menciptakan Rasa Kebersatuan
Fungsi menciptakan rasa kebersatuan ini adalah kemampuannya untuk membuat penerima pesan merasa menjadi anggota suatu kelompok atau dalam dunia pertelevisian dapat diartikan penonton televisi terhanyut terbawa suasana dengan program yang disaksikannya.
5) Fungsi Privatisasi
Privatisasi adalah kecenderungan bagi seseorang untuk menarik diri dari kelompok sosial dan mengucilkan diri ke dalam dunianya sendiri.
Berlimpahnya informasi yang dijejalkan telah membuat penerima pesan merasa kekurangan.
Program Dahsyat Weekend memiliki fungsi seperti meyakinkan, karena didalam proses produksi program Dahsyat Weekend mengandung unsur meyakinkan kepada penonton tentang jalannya program Dahsyat
Weekend.
2.2.2. Media Massa
Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak, sedangkan pengertian media massa adalah alat–alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara cepat kepada
audience yang luas dan heterogen dan mampu menyebarkan pesan hampir
seketika pada waktu yang tak terbatas (Nurudin, 2007:9).
Morissan (2011:21) mengatakan bahwa, “Dalam komunikasi massa, media teknis yang dimaksudkan adalah surat kabar, pesawat radio, dan televisi. Dalam komunikasi interpersonal, pesan yang disampaikan pada dasarnya juga bersifat tidak langsung dan harus melewati media teknis”.
Dari beberapa definisi di atas penulis menyimpulkan jika media massa adalah sarana menyampaikan pesan kepada khalayak yang dapat merubah persepsi khalayak.
− Karakteristik Media Massa
Media Massa memiliki karakter sebagai berikut (Cangara, 2008:126) : 1. Bersifat melembaga
Pihak yang mengolah media terdiri dari banyak orang mulai dari pengumpulan, pengelolaan, hingga penyajian informasi.
2. Bersifat satu arah
Komunikasi yang dilakukan kurang memungkinkan terjadinya dialog antara pengirim pesan dan penerima.
3. Meluas dan serempak
Dimana informasi yang disampaikan diterima oleh banyak orang pada saat yang sama.
4. Memakai perlatan teknis atau mekanis, seperti radio, surat kabar, majalah, dan sejenisnya.
5. Bersifat terbuka
Pesan yang diterima oleh siapapun dan dimana saja tanpa mengenal usia, kelamin, dan suku bangsa.
− Jenis-Jenis Media Massa
Media massa, sebagai media yang menunjang komunikasi massa terbagi atas 2 jenis, yaitu media cetak dan media elektronik.
1. Media Cetak
Media cetak adalah suatu media statis yang mengutamakan fungsinya sebagai media penyapaian informasi. Maka media cetak terdiri dari lembaran dengan sejumlah kata, gambar, atau dalam tata warna dan halaman putih, dengan fungsi utama untuk memberikan informasi atau menghibur. Media cetak juga adalah suatu dokumen atas segala hal yang dikatakan orang lain dan rekaman peristiwa yang ditangkap oleh jurnalis dan diubah dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, dan sebagainya. (Ardianto, et al 2009 : 99).
2. Media Elektronik
Media elektronik merupakan media komunikasi atau media massa yang menggunakan alat-alat elektronik (mekanis), media elektronik kini terdiri dari : (Deddy Iskandar, 2005:4)
a. Radio
Radio adalah media massa elektronik tertua dan paling fleksibel. Keunggulan radio siaran ini adalah berada dimana saja, apabila surat kabar memperoleh julukan sebagai kekuatan keempat, maka radio siaran mendapat julukan kekuatan kelima atau the fifth estate. Hal ini disebabkan karena radio siaran juga dapat melakukan fungsi control
sosial seperti surat kabar, di sampng empat fungsi lainnya, yaitu memberi informasi, menghibur, mendidik, dan melakukan persuasi.
b. Film
Gambar bergerak (Motion pictures) atau film adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual di belahan dunia ini. Lebih dari ratusan juta orang menonton film di bioskop, film televisi, dan film video laser setiap minggunya.
Meskipun pada kenyataannya adalah bentuk karya seni, industri film adalah bisnis yang memberikan keuntungan, kadang – kadang menjadi mesin uang yang sering kali, demi uang, keluar dari kaidah artistik film itu sendiri.
c. Televisi
Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar.Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang memiliki arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision).Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh.Pada dasarnya media televisi lahir karena perkembangan teknologi. Peletak dasar utama teknologi pertelevisian adalah Paul Nipkow dari Jerman yang dilakukannya pada tahun 1884. Ia kemudian menemukan sebuah alat yang kemudian disebut sebagai
Jantra Nipkow atau Nipkow Sheibe. Penemuannya tersebut
melahirkan electrische teleskop atau televisi elektris.
d. Internet
Menurut LaQuey, yang membedakan internet (dan jaringan global lainnya) dari teknologi komunikasi tradisional adalah tingkat interaksi dan kecepatan yang dapat dinikmati pengguna untuk menyiarkan pesannya.
Internet adalah perkakas sempurna untuk menyiagakan dan mengumpulkan sejumlah besar orang secara elektronis, karena geografis tak lagi menjadi pembatas di dalam internet.
Program Dahsyat Weekend merupakan program yang berasal dari media elektronik televisi karena menangkap siaran gambar program Dahsyat Weekend
dari hari sabtu dan minggu pukul 09.00-10.00 WIB dan program yang berkarakter sebagai program yang terlembaga dari stasiun televisi RCTI, bersifat sebagai komunikasi satu arah, diterima oleh banyak orang, menggunakan teknologi, serta bersifat terbuka.
2.2.3. Televisi
Televisi adalah alat penangkap siaran bergambar, yang berupa audio visual dan penyiaran videonya secara broadcasting. Istilah ini berasal dari bahasa yunani yaitu tele (jauh) vision (melihat), jadi secara harfiah berarti “melihat jauh”, karena pemirsa berada jauh dari studio tv. (ilham Z, 2010:255)
Sedangkan menurut Adi Badjuri (2010:39) Televisi adalah media pandang sekaligus media pendengar (audio-visual), yang dimana orang tidak hanya memandang gambar yang ditayangkan televisi, tetapi sekaligus mendengar TV Online atau mencerna narasi dari gambar tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa televisi merupakan salah satu media massa elektronik yang dapat menyiarkan siarannya dalam bentuk gambar atau video serta suara yang berfungsi memberikan informasi dan hiburan kepada khalayak luas.
− Karakteristik Televisi
Televisi memiliki karakteristik, antara lainnya adalah (Elvinaro dan Erdinaya,2007:137) :
1. Audiovisual
Televisi memiliki kelebihan dapat di dengar (audio) dan di lihat (visual), karena sifat audio visual ini, selain kata-kata televisi juga menampilkan informasi-informasi yang disertai gambar, baik gambar diam seperti foto, gambar peta, maupun film berita, yaitu rekaman peristiwa.
2. Berpikir dalam gambar
Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses ini, pertama adalah visualisasi, yaitu menerjemahkan kata-kata yang menggandung gagasan yang menjadi gambar-gambar. Kedua adalah penggambaran, yaitu kegiatan merangkai gambar-gambar individual sedemikian rupa sehingga kontinuitasnya mengandung makna tertentu.
3. Pengoperasian atau cara kerja yang kompleks
Dibandingkan dengan media radio, pengoperasoan atau cara kerja yang kompleks karena lebih banyak melibatkan orang.
− Kekuatan Televisi
Menurut skomis (1985) kekuatan televisi salah satunya adalah memberikan gambaran bila dibandingkan dengan dengan media massa lainnya. Televisi tampaknya memberikan sifat yang istimewa. Ia merupakan gabungan dari media dengan dan gambar. Bisa bersifat informatif, hiburan, maupun pendidikan bahkan gabungan antara ketiga unsur tersebut.
Ada 4 kekuatan televisi, yaitu: (Syahputra, 2006:70)
1. Menguasai jarak dan waktu, karena teknologi televisi menggunakan elektromagnetik, kabel-kabel dan fiber yang dipancarkan transmisi melalui satelit.
2. Sasaran yang dicapai untuk menjangkau massa cukup besar, nilai aktualitas terhadap suatu liputan atau pemberitaan cukup cepat.
3. Daya rangsang terhadap media televisi cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh kekuatan suara dan gambarnya yang bergerak (ekspresif).
4. Informasi atau berita-berita yang disampaikan lebih singkat, jelas dan sistematis.
− Kekurangan Televisi
Berikut adalah kekurangan dari media televisi (Syahputra, 2006:70) 1. Media televisi terikat waktu tontonan.
2. Televisi tidak bisa melakukan kritik sosial dan pengawasan sosial secara langsung dan vulgar.
3. Pengaruh televisi lebih cenderung menyentuh aspek psikologis massa. Bersifat “transitory”, karena sifat ini membuat isi pesannya tidak dapat dimemori oleh pemirsanya. Lain halnya dengan media cetak, informasi dapat disimpan dalam bentuk kliping.
2.3. Landasan Konseptual 2.3.1. Program Acara Televisi
Penayangan sebuah program acara televisi bukan hanya bergantung pada konsep penyutradaraan atau kreativitas penulisan naskah, melainkan sangat bergantung pada kemampuan profesionalisme dari seluruh kelompok kerja di dunia broadcast dengan seluruh mata rantau divisinya. Acara yang bagus bisa ambruk karena kurang promosi dan juga bisa jatuh bila kualitas gambar on air-nya mengalami gangguan frekuensi seperti suaraair-nya bergema atau gambarair-nya rusak. Namun, semuanya masih bisa diantisipasi. Kuncinya ada pada penentuan Format Acara Televisi (Naratama, 2006:62).
Format acara televisi adalah sebuah perencanaan dasar dari suatu konsep acara televisi yang akan menjadi landasan kreatifitas dan desain produksi yang akan terbagi dalam berbagai kriteria utama yang disesuaikandengan tujuan dan target pemirsa acara tersebut (Naratama, 2006 : 63).
− Jenis Program Televisi
(Soenarto, 2007: 62-63) membagi program menjadi dua jenis, yaitu Drama dan non-drama, yang pembagiannya sebagai berikut :
a. Program Drama
Program siaran drama berisi cerita fiksi. Istilah ini juga disebut sinetron cerita. Untuk membedakannya dengan sinetron noncerita adalah: format sinetron yang terdiri dari beberapa jenis, yaitu: sinetron drama modern, sinetron drama legenda, sinetron drama komedi, sinetron drama saduran dan sinetron yang yang dikembangkan dari cerita atau buku novel, cerita pendek dan sejarah (Soenarto, 2007: 62-63).
b. Program non Drama
Format program nondrama yang terdiri dari hal-hal yang realistits dibagi dalam beberapa kategori, diantaranya musik, permainan, reality show,
talk show, dan pertunjukan. Program nondrama adalah program format
program yang sangat fleksibel, karena terdiri dari unsur drama dan jurnalistik yang dikombinasikan menjadikan satu program. (Rusman Latief, 2015 : 7)
Program non-drama di televisi menurut Sony Set adalah acara terbanyak yang kita tonton selama hidup kita. Dari tayangan reality show, talkshow, kuis, games, features, star talentsearch, audisi para bintang, kombinasi program televisi dan sebagainya menghiasi hari-hari kita dengan wacana (Set, 2008: 20). Kombinasi berbagai macam program televisi seperti berita, talkshow, live band performance, live cooking dan sebagainya, yang digabung dalam sebuah program, biasa disebut sebagai Variety
Show.
Menurut Morissan (2008:297-218) dalam dunia televisi program acara tersebut terdiri dari:
1) Program informasi adalah segala jenis siaran yang tujuannya untuk memberikan tambahan pengetahuan (informasi) kepada khalayak audience. Program informasi tidak harus program berita dimanapresenter membacakan berita , tapi jug termasuk di dalamnya acara talk show (perbincangan). Program ini dibagi 2, yakni berita keras (hard news) dan berita lunak (soft news).
a. Hard News
Hard News adalah segala informasi penting dan menarik yang harus
segera disiarkan oleh media penyiaran, karena sifatnya terikat waktu agar diketahui oleh pemirsa. (Rusman Latief, 2015 : 33)
b. Soft News
Soft News atau berita lunak adalah segala informasi penting dan
menarik yang disampaikan secara mendalam (in-depth), namun tidak bersifat harus segera tayang (timeless) (Rusman Latief, 2015 : 38)
2) Program Hiburan, segala bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur audien dalam bentuk musik, lagu, cerita, dan permainan. Yang termasuk dalam kategori hiburan adalah drama, permainan (game), musik, dan pertunjukan.
3) Permainan atau Game Show
Bentuk program yang melibatkan sejumlah orang baik secara individu ataupun kelompok (tim) yang saling bersaing untuk mendapatkan sesuatu, menjawab pertanyaan dan memenangkan permainan.
2.3.2. Tim Produksi Televisi
Pada saat produksi akan berlangsung, tentu dibutuhkan kru yang sudah disiapkan pada pekerjaannya masing – masing. Untuk itu ada beberapa kru yng bertugas dalam proses produksi/shooting yaitu diantaranya (Mabruri, 2010:39)
− Executive Producer
Bertanggung jawab terhadap pengembangan dan pembuatan ide baik program yang bersifat regular atau program – program tertentu yang bersifat spesial atau khusus. Pada tahapan ini mulanya eksekutif produser mendapat ide dan konsep dari tim kreatif kemudian dipresentasikan pada saat rapat.
− Producer
Bertanggung jawab terhadap proses penciptaan dan pengembangan suatu program sesuai dengan tema yang ditentukan dan di sepakati oleh production manager, executive producer. Produser adalah orang yang ditunjuk mewakili produser pelaksana (Eksekutif Produser) untuk melaksanakan apa yang diinginkan oleh Eksekutif Produser .
− Associate Producer
Associate producer memiliki tanggung jawab sama seperti seorang
produser tetapi denga program yang relativ lebih kecil. Dan ia juga memiliki tanggung jawab untuk memaintain program itu sendiri agar tetap mendapatkan rating dan share yang bagus, kemudian menjaga keutuhan dari tim itu sendiri sehingga dapat saling bekerja sama dalam mempertahankan rating dan share program.
− Production Assistant (PA)
Bisa dikatakan mereka merupakan assiten produser pada saat menyiapkan segala sesuatunya mengenai teknik. Mereka yang bertanggung jawab membantu produser dalam menyiapkan praproduksi program, proses produksi sangat penting, hingga pascaproduksi.
− Tim Kreatif (Creative)
Sebuah tim yang mengembangkan ide–ide kreatif dan membuat naskah (scrypt, storyline, dan screenplay) untuk diproduksi menjadi program acara tv tentunya dengan arahan dari produser. Berbagai macam konsep , ide, dan gagasan kreatif sebuah program acara tv itu lahir dari tim ini, dimana tim tersebut terdiri dari: penulis naskah, supervisi naskah, pembuat konsep, dan editor naskah.
Tim kreatif memiliki peran yang cukup penting dalam industri penyiaran karena merupakan industri kreatif, sehingga strategi yang digunakan pun, harus strategi yang kreatif. Menurut Fred Wibowo, kunci sukses dari setiap program televisi sebagian berkat perencanaan dan sikap kreatif menjadi faktor yang paling penting dalam memproduksi program televisi. (Wibowo, 2009: 21)
− Director
Adalah mereka yang bertanggung jawab megarahkan seluruh aspek teknik sinematografi, broadcast, dan elemen kreatif lainnya dari sebuah produksi program acara tv tentunya atas kesepakatan produser.
− Program Director
Seorang PD (Program Direktor) bertugas mengkoordinasikan semua
Floor Director yang bertugas, ia biasanya berada di ruang MCR (Master Control Room) sebuah ruangan yang berfungsi untuk mengontrol dan
memonitori pergerakan kamera dan tata letak kamera yang ditampilkan melalui monitor – monitor kontrol. PD memberikan perintahnya secara langsung kepada kameramen dan FD yang berada di studio. PD
mempunyai tanggung jawab yang besar karena sebuah program acara tv berlangsung dengan baik.
− Technical Director
Adalah mereka yang bertanggung jawab secara teknik MCR terhadap proses jalannya proses produksi program acara tv baik bersifat live atau
taping (rekaman).
− Unit Talent
Bertanggung jawab mengkoordinasikan terhadap kehadiran para pemain (talent) yang akan tampil dalam produksi program acara tv. Termasuk para penonton sebagai pelengkap kemeriahan program acara tersebut.
− Floor Director (FD)
Orang yang bertugas di belakang panggung untuk mengatur keluar masuk nya pengisi acara dan mempersiapkan pengisi acara untuk tampil ke panggung. Mereka mendapat arahan langsung dari Program Director dalam menjalankan tugas.
− Cameraman
Bertanggung jawab mengambil seluruh shot/gambar yang diperlukan dalam proses produksi sesuai naskah atau komando dari PD. Seorang kameraman yang baik adalah mampu mengesplorasi gambar dari produksi program acara tv tentunya atas persetujuan dari PD.
− Wardrobe
Bertanggung jawab menyiapkan busana dan tata rias untuk talent acara dalam proses produksi program acara tv.
− Set Property
Bertanggung jawab menyiapkan seluruh kebutuhan property yang dibutuhkan dalam sebuah setting produksi program acara televisi.
− Audioman
Bertanggung jawab terhadap audio (suara) sebuah produksi program acara tv. Biasanya seorang audioman akan berkonsultasi kepada produser mengenai kebutuhan audio kemudian mengecek guna memastikan baik tidaknya peralatan audio tersebut. Selain itu mereka juga akan berkoordinasi dengan PD guna mendapat informasi dan menyiapkan peralatan audio yang diperlukan dalam proses produksi program acara televisi.
2.3.3. Strategi Produksi Televisi
Menurut zettl (2012:4) dalam bukunya television production
handbook sebuah program dari stasiun televisi memiliki tiga tahapan dalam
memproduksi sebuah program televisi agar program tersebut menjadi baik, yaitu:
1. Strategi Praproduksi
Kegiatan yang di mulai dari pembahasan ide gagasan atau konsep suatu program televisi, konten acara yang akan dibahas, sampai dengan penentuan pengambilan gambar. Dalam perencanaan ini terjadi suatu proses interaksi antara kreativitas manusia degan peraltan pendukung yang tersedia. Baik buruknya suatu proses produksi akan amat sangat bergantung dengan tahap perencanaan atau praproduksi.
Tahapan ini juga neliputi tiga bagian sebagai berikut: (Wibowo, 2007:39)
a. Penemuan Ide
Menemukan ide dan gagasan, membuat riset dan menulis naskah atau mengembangkan gagasan menjadi naskah sebuah riset.
Perencanaan mencakup kegiatan penentuan tujuan (objectives) serta mempersiapkan rencana dan strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut (Morissan,2008:130).
c. Persiapan
Latihan para artis, pembuatan setting, dan meneliti dan melengkapi peralatan yang digunakan.
Program Dahsyat Weekend dalam menentukan strategi produksi, memulai sesuatu dari tahapan praproduksi. Pada tahapan ini program
Music & Variety Show Dahsyat Weekend melakukan suatu brainstorming dalam merencanakan segala sesuatu yang dibutuhkan
pada saat produksi dilapangan nantinya.
Banyak strategi yang direncanakan agar bejalan menjadi baik, yang dimulai dari pencarian tema yang unik, ide yang menarik, dan bintang tamu yang heboh, penetapan konten acara yang akan disuguhkan pada saat dilapangan merupakan strategi yang dibutuhkan oleh program Dahsyat Weekend, karena dalam penentuan tema akan berpengaruh dalam produksi program Dahsyat Weekend.
Industri penyiaran merupakan industri kreatif, sehingga strategi yang digunakan pun, harus strategi yang kreatif. Menurut Fred Wibowo, kunci sukses dari setiap program televisi sebagian berkat perencanaan dan sikap kreatif menjadi faktor yang paling penting dalam memproduksi program televisi. (Wibowo, 2009: 21)
Menurut Naratama, ada elemen elemen dalam pencarian ide yang menarik dalam produksi acara, yaitu (Naratama, 2006: 111 – 118) :
a. Target Penonton
Sebelum merencanakan suatu program, seorang produser perlu mengkaji secara teliti tentang target penonton, yaitu segmen penonton
yang menjadi sasaran program. Klasifikasi target penonton menurut Naratama dibedakan menjadi 3, yaitu : (Naratama, 2006 : 111)
1) Usia, penggolongan segmentasi penonton berdasarkan usia, menurut Keputusan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Nomor 009/SK/KPI/8/2004 tentang pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran KPI, pasal 65 yaitu : (Askurifai, 2006: 235)
a) Klasifikasi A : tayangan untuk Anak, yaitu penonton berusia di bawah 12 tahun
b) Klasifikasi R : tayangan untuk Remaja, yaitu penonton berusia 12 – 18 tahun
c) Klasifikasi D : tayangan untuk Dewasa, yaitu penonton berusia > 18 tahun.
d) Klasifikasi SU : tayangan untuk Semua Umur.
2) Jenis Kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan.
3) Status Sosial, menurut Lloyd Warner, kelas sosial dapat dibagi menjadi enam bagian, yaitu : (Morissan, 2008: 174)
a) Kelas atas atas (A+)
b) Kelas atas bagian bawah (A) c) Kelas menengah atas (B+) d) Kelas menengah bawah (B) e) Kelas bawah bagian atas (C+) f) Kelas bawah bagian bawah (C)
b. Bahasa Naskah
Bahasa naskah yang ditulis oleh penulis naskah perlu menjadi perhatian khusus, karena bahasa naskah yang tidak sesuai dengan target penonton bisa menjadi faktor kegagalan suatu program, sebagai contoh, penggunaan istilah asing yang terlalu banyak pada program dengan target penonton kelas C (kelas bawah bagian bawah). (Morrisan, 2011: 174)
c. Punching Line
Punching line adalah kejutan-kejutan dalam dialog naskah yang
dimainkan oleh para pemain yang sengaja dituliskan untuk menghentak perhatian penonton yang mulai jenuh dan bosan. Kejutan naskah dapat berupa komedi, pertanyaan, tangisan, dan ungkapan peribahasa.
d. Gimmick and Funfare
Gimmick adalah trik-trik yang digunakan untuk mendapatkan perhatian penonton dalam bentuk sound effects , musik ilustrasi, adegan suspense (tegang), mimic, ekspresi dan acting pemain, jokes (kelucuan), teknik editing dan penggerakan kamera. Sedangkan
Funfare adalah puncak acara yang dimeriahkan dengan kegembiraan,
kemewahan, keindahan, dan kebersamaan. Biasanya funfare diletakkan di akhir acara di mana seluruh pendukung acara naik ke panggung dan bernyanyi bersama, namun bisa juga dipakai sebagai kemeriahan pembukaan acara.
e. Clip Hanger
Clip hanger adalah sebuah scene atau shot yang diambangkan
karena adegan terpaksa dihentikan oleh commercial break (iklan).
Clip Hanger digunakan untuk membuai penonton dengan membuat
penonton penasaran pada apa yang akan terjadi selanjutnya sehingga penonton tidak berpindah ke lain channel. (Narratama, 2006: 63 – 64).
Pada program Dahsyat Weekend sering menggunakan Clip Hanger pada akhir segmen dengan tujuan untuk menahan penonton Dahsyat
Weekend tidak pergi meninggalkan televisi dan penonton mempunyai
rasa penasaran dengan tayangan program Dahsyat Weekend selanjutnya seletalh commercial break.
Pada tahapan praproduksi ini penentuan ide juga merupakan
2. Strategi Produksi
Hal yang berhubungan dengan kegiatan praproduksi seperti penentuan konsep acara, konten acara, penentuan tema yang akan digunakan, penentuan peserta yang akan diundang, serta penentuan lokasi yang akan digunakan untuk shooting, semua itu merupakan segala sesuatu yang mendukung strategi produksi dan paskaproduksi.
Namun, segala sesuatunya harus diingat, apa yang sudah direncakan pada kegiatan praproduksi akan berbeda dengan keadaan yang akan dihadapi dilapangan nantinya, seperti talent yang berhalangan hadir, pada program Dahsyat Weekend jika talent berhalangan hadir maka tim harus bekerja keras mengisi talent yang tidak hadir dengan cara lain.
a. Organizing
Proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya yang dimiliki dan lingkungan yang melingkupinya (Morissan, 2008:142)
b. Actuating
Memberikan pengaruh (penggerak) mencakup usaha untuk mempengaruhi (influencing) tertuju pada upaya untuk merangsang antusiasme karyawan untuk melaksanakan tanggung jawab mereka secara efektif (Morissan,2008:154).
c. Controlling
Suatu proses untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan organisasi atau perusahaan sudah tercapai atau belum (Morissan,2008:159), dan dapat mengetahui apakah prosesnya berjalan dengan baik dan tidak ada penyimpangan-penyimpangan dari rancangan semula yang telah di tetapkan.
3. Strategi Paskaproduksi
Kegiatan setelah pengambilan gambar atau tahap produksi sudah selesai dilakukan maka hasil yang sudah di dapat bisa langsung diputar atau materi hasil produksi tersebut akan diberikan kepada
editor yang nantinya akan melewati tahap editing baik online maupun offline.
Selain editing pada tahapan ini juga dilakukanya evaluasi yang dilakukan oleh crew-crew yang terlibat dalam pengambilan gambar. Strategi yang digunakan pada tahapan paskaproduksi ini terutama dalam evaluasi yaitu dengan dilakukannya evaluasi maka segala sesuatu yang terjadi pada saat pengambilan gambar dapat dibahas pada evaluasi ini, seperti kesalahan yang terjadi, dan apa yang harus dirubah.
Program Dahsyat Weekend pada tahapan paskaproduksi ini lebih kepada evaluasi yang dilakukan oleh para crew yang terlibat dalam kegiatan pengambilan gambar atau produksi. Strategi yang digunakan yaitu melihat dari antusias para penonton yang ada dilokasi, jika penonton terlihat heboh maka konten yang sudah dilakukan sudah baik, sebaliknya jika penonton tidak heboh maka konten dan tema acara harus segara diperbaiki.
Jadi tahap paskaproduksi terutama dalam melakukan evaluasi merupakan strategi yang baik untuk dapat memulai kegiatan selanjutnya dengan baik.
2.3.4. Strategi Kreatif Terhadap Penayangan Program
Head-Sterling (1982), menyatakan bahwa stasiun televisi memiliki sejumlah strategi dalam upaya menarik audien masuk ke stasiun sendiri
(inflow) dan menahan audien yang sudah ada untuk tidak pindah saluran atau mencegah tidak terjadi aliran audien keluar (outflow), yaitu (Morissan, 2008:306-308) :
1. Head to Head
Suatu program yang menarik audien yang sama sebagaimana audien yang dimiliki satu atau beberapa stasiun televisi saingan. Dalam hal ini, stasiun televisi mencoba menarik audien yang tengah menonton program televisi saingan untuk pindah ke stasiun sendiri dengan menyajikan program yang sama dengan televisi saingan itu.
Dengan melihat program kompetitor dengan jenis yang sama, maka tim kreatif dapat melihat konten-konten yang dapat digunakan di dalam program Dahsyat Weekend.
2. Program Tandingan
Strategi penayangan program tandingan (counterprogramming) adalah strategi untuk merebut audien yang berada di stasiun saingan untuk pindah ke stasiun sendiri dengan cara menjadwalkan suatu program yang memiliki daya tarik berbeda untuk menarik audien yang belum terpenuhi kebutuhannya.
Dengan melihat program kompetitor yang berlawanan jenis, maka tim kreatif dapat mengembangkan unsur-unsur tambahan ke dalam program Dahsyat Weekend.
3. Bloking Program
Strategi bloking program (block programming) adalah sama dengan konsep flow through Nielsen dimana audien dipertahankan untuk tidak pindah saluran dengan menyajikan acara yang sejenis selama waktu siaran tertentu.
4. Pendahuluan Kuat
Strategi penayangan yang dinamakan dengan “pendahuluan kuat” (strong lead-in) adalah strategi untuk mendapatkan sebanyak
mungkin audien dengan menyajikan program yang kuat pada pemulaan segmen waktu siaran, misalnya menyajikan program berita lokal atau kriminalitas yang kuat pada awal waktu siaran day time (sekitar jam 10.00 atau 11.00) sebagai pengantar menuju program berita nasional.
5. Strategi Buaian
Disebut strategi membuat buaian (creating hammock) karena hammock berarti buaian yang diikat pada dua batang pohon. Ini merupakan strategi untuk membangun audien atas suatu program yang mulai mengalami penurunan popularitas.
6. Penghalang (Stunting)
Strategi untuk merebut perhatian audien dengan cara melakukan perubahan jadwal program secara cepat. Misalnya, menyajikan suatu seri film baru yang memiliki durasi waktu yang panjang. Cara lain adalah menginterupsi suatu program yang kuat dengan cara lain yang lemah atau sebaliknya menginterupsi program regular dengan acara khusus yang kuat.
7. Strategi Lainnya
Beberapa strategi lainnya adalah dengan tetap mempertahankan program-program yang berhasil pada posisinya yang sekarang. Audien umumnya sudah terbiasa dengan jadwal program yang menjadi kegemarannya. Perubahan jadwal akan membingungkan audien dan bahkan program itu dapat kehilangan audiennya.
2.3.5. Rating dan Share
Penyiaran televisi juga merupakan sebuah sistem yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain untuk menjadi sebuah sistem yang sempurna. Maka dapat digambarkan dalam diagram looping sebagai berikut (Setyobudi, 2012:101-102):
UMPAN BALIK
OG. TV PENONTON PENONTON
UMPAN BALIK
Gambar 2.1 Diagram Sistem Penyiaran
Peringkat program atau rating menjadi hal yang sangat penting bagi pengelola stasiun penyiaran komersial. Perusahaan atau lembaga rating, menyediakan jasa kepada stasiun penyiaran dengan mengeluarkan laporan rutin mengenai program apa saja yang sudah ditinggalkan audiennya, rating merupakan hal yang penting karena pemasang iklan selalu mencari stasiun penyiaran atau program siaran yang paling banyak ditonton atau didengar orang (Morissan,2011 :379)
Media sebagai industri yang menghasilkan produk informasi tidak hanya bersaing dengan sesama produsen, tetapi juga harus berkompetisi dalam pasar dengan khalayak, yaoti konsumennya sendiri. Sehingga dibutuhkan strategi-strategi yang diterapkan stasiun televise dalam menjalankan misinya agar mampu bertahan dalam persaingan bisnis media yang semakin ketat (Fachruddin, 2012:185-186)
Eko Harry Susanto (2009: 52) AGB Nielsen, sebagai lembaga pemeringkat
rating, selama ini tidak ada yang bisa menandingi. Akibatnya para praktisi layar
kaca lebih banyak tunduk terhadap rating AGB Nielsen, dibandingkan dengan upaya untuk memberikan tontonan bermutu dan mencerdaskan bangsa dalam perspektif ideal. Para pekerja televisi pun sepertinya berlomba-lomba untuk membuat program yang mampu menghasilkan rating tinggi.
AGB Nielsen Media Research sejak tanggal 5 Agustus 2004 telah mengabungkan AGB Grup dan Nielsen Media Research Internasional. Yang mengumumkan penggabungan keduanya untuk menawarkan layanan rating televisi di lebih dari 30 negara dibawah nama AGB Nielsen Media Research.
Proses kerja riset yang menghasilkan rating diolah oleh software yang diinstal pada komputer yang dipisahkan. Komputer tersebut berupa local area network (LAN) yang spesifikasinya ditentukan oleh AGB Nielsen agar mampu mengoperasionalkan data yang diolah. Software yang dikembangkan AGB Nielsen juga mengalami banyak kemajuan untuk meningkatkan kualitasnya. Setelah
software telescope, adwatch dan sekarang Arianna Viewing behaviour untuk
analisa program dan Arianna Post Evaluation untuk analisa iklan. PROSES
Universe dalam pengertian AGB Nielsen adalah total individu/rumah pada populasi, yaitu rumah tangga televisi. Sedangkan target penonton merupakan kelompok individu didalam komunitas yang terpilih sebagai target atau kelompok individu yang paling cocok untuk jadwal atau kampanye iklan tertentu. Adapun bagaimana cara menghitung rating program adalah rata-rata jumlah penonton selama berlangsungnya program televisi yang dinyatakan dalam persentase dari total potensi atau kelompok sampel. Point rating program didasarkan atas unit waktu terkecil, yaitu 1 menit. (Nielsen,2009)
Rating program = Jumlah pemirsa program televisi x 100% Total populasi (universe)
Sedangkan menghitung rating iklan adalah rata-rata jumlah penonton selama jeda iklan yang dinyatakan dalam persentase dari total potensi atau kelompok sampel. Rating iklan juga didasarkan atas unit waktu terkecil, 1 menit.
Rating iklan = Jumlah pemirsa selama iklan x 100% Total populasi (universe)
Share (kepemirsaan) adalah persentase yang menonton program tertentu dari penonton potensial pada periode waktu tertentu. Agar lebih lengkapnya mencari share, pembilang merupakan jumlah penonton suatu program televisi A pada waktu tertentu dibagi jumlah penonton program televisi lainnya selain televisi A pada waktu yang sama.
Share = Rating program x 100% Rating total
Populasi pemilik televisi 10.000 TV A 2000 TV B 1000
TV C 1000 Viewers = 4000
Maka rating TV A = 20%, rating TV B = 10%, rating TV C = 10%, sedangkan channel sharenya TV A = 50% , share TV B = 25% dan share TV C = 25%.
Share dari stasiun televisi A, diperoleh dengan cara membagi jumlah penonton
betul-betul menyaksikan televisi. Hasil pembagian ini merupakan jumlah audien yang betul-betul menyaksikan acara televisi A atau bagian dari audien yang betul-betul menyaksikan acara televisi A, dan hasil pembagian ini disebut dengan Audience
Share,
Stasiun penyiaran televisi akan selalu memiliki nilai audience share yang lebih tinggi daripada nilai rating-nya (hal ini disebabkan angka pembaginya yang lebih kecil). Misalnya suatu program stasiun televisi memperoleh rating 30, maka
audience share-nya berkisar 45 dan seterusnya.
Hasil perhitungan audience share ini biasanya lebih disukai pengelola stasiun televisi untuk menarik pemasang iklan daripada rating, selain karena angkanya yang lebih tinggi daripada rating, juga karena audience share memberikan informasi kepada pemasang iklan secara lebih real mengenai posisi suatu stasiun televisi terhadap televisi lainnnya (Morissan, 2011: 385).
Peneliti menyimpulkan jika hasil rating dan share sebagai hasil nilai dari ide dan kreatif yang telah diproduksi pada program Dahsyat Weekend dan hasil tersebut dapat dikembangkan kembali pada selanjutnya jika konten tersebut disukai oleh penonton program Dahsyat Weekend.
2.4. Kerangka Pemikiran
Dalam penelitian ini, penulis ingin menjabarkan bagaimana Strategi Proses Produksi Program Dahsyat Weekend (Studi Kasus Tim Kreatif) . Berikut adalah kerangka pemikirannya
Dahsyat
Weekend
Music &
Variety Show
RCTI
Strategi
Produksi
Praproduksi Produksi
Paska
Produksi
Pada penelitian ini, peneliti akan meneliti program unggulan yang tayang di RCTI berjenis Music dan Variety Show yang bernama Dahsyat Weekend yang tayang pada hari Sabtu dan Minggu pukul 09.00-10.00 WIB. Dengan menggunakan strategi produksi, peneliti dapat menganalisa mengenai tim kreatif dalam memproduksi program Dahsyat Weekend hingga menjadi program unggulan di RCTI, dari praproduksi, produksi, sampai paskaproduksi. Dengan adanya tim kreatif, maka dalam pencarian ide dan kreatif program Dahsyat Weekend akan mudah lebih terencana walaupun ide dan kreatif muncul dari siapa saja dan kapan saja