1 BAB I
PENDAHULUAN
Subjective well-being merupakan hal yang diinginkan setiap orang, hampir tidak ada manusia yang tidak ingin bahagia di dalam hidupnya, walaupun kebahagiaan itu harus diusahakan karena tiap orang secara subjektif menentukan ukuran kebahagiaannya, sekali menentukan ukuran kebahagiaannya maka ia akan mengusahakan untuk memenuhi ukuran-ukuran itu. Dengan demikian dalam bab I akan diuraikan mengenai latar belakang penulis ingin melakukan penelitian tentang, quality of life, religiusitas dan subjective well-being pada mahasiswa Sekolah Teologi di bawah naungan Yayasan PINTA.
1.1 Latar Belakang
Subjective well-being adalah kemampuan individu dalam menghadapi tantangan dalam rangka berjuang untuk memfungsikan dirinya secara penuh dan menyadari talenta uniknya (Keyes dan Magyar-Moe, 2003). Selain itu, Argyle (1999) menyatakan bahwa Subjective well-being juga dapat dikatakan sebagai pengalaman positif, kenikmatan yang tinggi, dan motivator utama dari segala perilaku
manusia (dalam Meina 2012). Ryff (1995) menyatakan bahwa
diperolehnya kebahagiaan, kepuasan hidup, dan tidak adanya gejala-gejala depresi merupakan ciri-ciri dari Subjective well-being.
Subjective well-being seringkali dimaknai bagaimana seorang individu mengevaluasi dirinya. Adapun evaluasi tersebut memiliki dua bentuk (Angelina 2011), yaitu: evaluasi yang bersifat kognitif, seperti penilaian umum (kepuasan hidupnya/ life satisfaction), dan kepuasan
2 spesifik/ domain spesifik (kepuasaan kerja, kepuasaan perkawinan). Bentuk evaluasi yang kedua adalah evaluasi yang bersifat afektif, berupa frekuensi dalam mengalami emosi yang menyenangkan (misal: menikmati) dan mengalami emosi yang tak menyenangkan (misal: depresi). Subjective well-being dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Dalam Amawidyati dan Utami (2007), faktor‐faktor yang mempengaruhi subjective well‐being antara lain: latar belakang budaya, kelas sosial, tingkat ekonomi dan tingkat pendidikan, kepribadian, pekerjaan, pernikahan, anak‐anak, kondisi masa lalu seseorang terutama pola asuh keluarga, kesehatan dan fungsi fisik, serta faktor kepercayaan dan emosi, jenis kelamin, serta religiusitas.
Subjective well-being memiliki hubungan positif pada mahasiswa, misalnya ada korelasi positif antara kebutuhan kognitif dengan kepuasan hidup pada mahasiswa (Coutinho dan Woolery, 2004), kebutuhan kognisi juga berhubungan secara positif dengan performansi dan peringkat akademis (Leon dan Dalton, Sadowski dan Gulgoz, dalam Coutinho dan Woolery, 2004). Padahal penelitian (Cummins, 2003, Stewart dan Podbury, 2003; Vaez, Kristenson dan Laflamme, 2004 (dalam O’Connor, 2005) menunjukkan bahwa tingkat kepuasan hidup mahasiswa lebih rendah dibanding orang dewasa pada populasi secara umum. Kesejahteraan subjektif pada mahasiswa dipengaruhi oleh faktor situasi hidup, sumber finansial, transportasi dan yang terkait, kesehatan fisik, teman lama dan teman baru, dukungan, pelayanan, tugas-tugas akademis, dan dukungan keluarga (O’Connor, 2005). Mahasiswa sebagai kelompok remaja akhir akan sering mengalami gangguan pada idealisme yang berlebihansehingga mereka harus segera
3 menuju kehidupan yang bebas saat mereka mencapai status orang dewasa (Hurlock, 2002).
Kepuasan hidup sebagai tingkatan perilaku individu terhadap kualitas hidup mereka yang dapat disamakan dengan subjective well-being (Pavot dan Diener, 2008). Kepuasan hidup merupakan penilaian secara kognitif mengenai seberapa baik dan memuaskan hal-hal yang sudah dilakukan individu dalam kehidupannya secara menyeluruh (Diener, Emmons, Larsen, dan Griffin, 1985; Diener, Ingleheart, dan Tay, 2012).
Quality of life memberikan dampak yang positif terhadap subjective well-being seseorang, seperti yang dikatakan oleh Keyes dan Magyar-Moe (2003) sesuai dengan hasil penelitiannnya bahwa dengan seseorang memiliki subjective well-being yang baik akan menjadi sarana untuk hidup yang lebih baik dan lebih produktif. Karena aspek dari subjective well-being akan dapat berkontribusi terhadap kualitas hidup individu. Secara khusus berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental serta produktivitas kerja. Lebih lanjut Park dan Peterson (2009) menyatakan bahwa individu yang memiliki kualitas hidup akan berdampak pada karakter yang baik dan memiliki kepuasan hidup, kesejahteraan dan kebahagian.
Hubungan pertememanan yang saling mendukung dan memiliki kualitas hidup yang baik secara emosional akan berdampak kepada subjective well-being individu. Hal ini dikatakan oleh Kahneman, Diener, dan Schwarz (1999) dalam (Nofitri, 2009) menyatakan bahwa pada saat kebutuhan akan hubungan dekat dengan orang lain terpenuhi, baik melalui hubungan pertemanan yang saling mendukung maupun melalui pernikahan, manusia akan memiliki kualitas hidup yang lebih
4 baik baik secara fisik maupun emosional akan mempengaruhi subjective well-being individu.
Lebih lanjut Arku, Glen, Filson, dan Shute (2007) yang menyatakan bahwa pengetahuan seseorang tentang hidup, makna hidup sangat mempengaruhi kesejahteraan subjektif seseorang. Beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan Diener dan Chan (2010); Joshi (2010); Joshi, Singh dan Bindu (2009); Scherer, dan Frisina (2008); Kashdan (2004); Hoorn (2007); dan Kahneman dan Krueger (2006), menjelaskan beberapa faktor penting dalam pencapaian subjective well being, salah satunya adalah adjustment dalam konsep kesehatan mental (mental health). Schneiders (dalam Semiun, 2003) menjelaskan bahwa adjustment merupakan dasar dari pembentukan kesehatan mental yang bisa membuat terjadinya quality of life individu.
Faktor lain yang mempengaruhi subjective well-being adalah religiusitas. Myers dalam Suhail dan Chaudhry (2004) menulis sebuah literatur yang menujukkan bahwa faktor individu, seperti kepercayaan agama menjadi prediktor yang baik terhadap subjective well being. Terdapat beberapa penelitian yang menyatakan hubungan antara religiusitas dengan subjective well-being (Amawidyati dan Utami (2007), diantaranya adalah Penelitian Argyle (2001) menyatakan bahwa religiusitas membantu individu mempertahankan kesehatan mental individu pada saat‐saat sulit. Selain itu Najati (2005) menyatakan bahwa kehidupan religius dapat membantu manusia dalam menurunkan kecemasan, kegelisahan, dan ketegangan.
Koenig dan Larson (2001) yang melakukan kajian terhadap konsep religiusitas mendapati bahwa dalan 80 % hasil penelitian yang ditelaah didapati fakta bahwa keyakinan dan praktik religiusitas
5 berhubungan dengan semakin besarnya kepuasan hidup, kebahagiaan, afek positif dan meningkatnya moral. Salah satunya adalah teori dari Ellison (dalam Trankle, 2009) yang menjelaskan adanya korelasi antara religiusitas dengan subjective well-being, dimana pada individu dengan religiusitas yang kuat, lebih tinggi tingkat subjective well-beingnya dan semakin sedikit dampak negatif yang dirasakan dari peristiwa traumatik dalam hidup. Bastaman (dalam Saputri 2011) menyatakan, bahwa individu yang memiliki tingkat religiusitas tinggi lebih mampu memaknai setiap kejadian hidupnya secara positif, sehingga hidupnya menjadi lebih bermakna dan terhindar dari stres maupun depresi. Dengan kata lain, seseorang yang menjalankan kegiatan keagamaan, seperti beribadah, berdoa, dan membaca kitab suci agama diasumsikan akan memiliki kondisi subjective well-being yang baik pula. Hal ini terjadi karena dengan beribadah dapat mengurangi stres dan menahan produksi hormon stres oleh tubuh, seperti adrenalin. Pengurangan hormon stres ini dihubungkan dengan aspek kesehatan, yaitu sistem kekebalan tubuh yang semakin meningkat (McCulloug dan Others, dalam Saputri 2011).
Dalam penelitian Sirgy (2012) dijelaskan salah satu faktor subjektif yang cukup penting adalah nilai nilai internal individu seperti religi, spiritualitas, dan kepuasan hidup. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya subjective well-being, antara lain religiusitas (Hui.Watkins, Wong dan Sun, 2011; McCullough dan Worthington 1999; Jose dan Alfons, 2007) peran gaya kasih sayang (Lawler-Row, Younger, Piferi dan Jones, 2006). Heaven dan Ciarrochi (2007), memaparkan faktor religiusitas berkaitan kepuasan hidup yang menjadi
6 bagian penting dan memberikan sumbangan terhadap pencapaian subjective well being.
Beberapa penelitian yang dilakukan Compton, Smith, Cornish, dan Qualls (1996); McGregor dan Little (1998) menyatakan bahwa quality of life tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap subjective well-being. Penelitian yang dilakukan oleh, M. Lies Endarwaty, Penny Rahmawaty dan Arif Wibowo (2016) di Universitas Negeri Yogyakarta dengan sampel 262 orang mahasiswa fakultas ekonomi angkatan 2012 dan 2013 di temukan bahwa aspek sosial mahasiswa yang diukur dengan pengalaman di asrama kampus, program dan layanan (terutama untuk siswa internasional) studi internasional, program layanan spiritual, klub olahraga, dan kegiatan
rekreasi ternyata tidak berpengaruh terhadap kualitas hidup
mahasiswaPenelitian yang dilakukan oleh, hasil penelitian ini
bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sirgy,
Grzeskowiak dan Rahtz (2005) yang menyatakan bahwa semakin tinggi kepuasan aspek akademik akan meningkatkan kualitas hidup mahasiswa
.
lebih lanjut penelitian yang dilakukan oleh Collard, Avny dan Boniwell (2008) menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kebahagian dan kepuasan hidup.Beberapa penelitian telah menguji hubungan antara agama terhadap kesejahteraan dengan menggunakan berbagai sampel dan pengukuran. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan arah yang tidak konsisten. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa di berbagai negara seperti UK oleh Robbin dan Francis 1996 dalam Lewis (2002), di USA Francis dan Lester 1997 dalam Lewis (2002) dan di Wales oleh Francis, Jones dan Wilcox 2000, dalam, Lewis (2002) menunjukan
7 bahwa adanya hubungan antara religiusitas yang diukur dengan Francis Scale of Attitude toward Christianity dan kebahagian di ukur dengan Oxford Happiness inventory.
Namun demikian ada beberapa penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan antara religiusitas terhadap subjective well-being yang di ukur dengan Francis Scale of Attitude toward Christianity dan kebahagian yang di ukur dengan Depression Happines Scale, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Lewis (2002) pada mahasiswa Northern Irish, dan penelitian Lewis, Maltby dan Burkinshaw (2000) pada pendeta Anglican. Selain itu Lewis (2002) menunjukkan tidak ada hubungannya antara religiusitas dan kebahagiaan pada mahasiswa University of Ulster, dengan menggunakan kehadiran ke gereja untuk mengukur religiusitas, dam Depression Happines Scale untuk mengukur kebahagian. Menurut lewis (2002) hal ini disebabkan karena adanya definisi operasional dan alat ukur yang digunakan, Oxford Happines Inventory mengukur intensitas kebahagian, sedangkan Deppression Happiness Scale mengukur frekuensi kebahagian.
Meski sudah ada penelitian tentang subjective well-being pada mahasiswa, yang perlu diperhitungkan adalah kultur Indonesia yang berbeda dengan kultur Barat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sumber subjective well-being yang diakibatkan oleh perbedaan budaya (Reid, 2004). Dalam budaya individualistik, evaluasi diri yang positif merupakan hal yang penting dari penilaian global atas kesejahteraan, sedangkan dalam budaya kolektif kesejahteraan bergantung kepada konteks sosial dan hubungan dengan orang lain. Oleh karena itu penelitian mengenai subjective well-being pada mahasiswa di budaya indonesia dengan budaya barat perlu di lakukan
8 dan masih beragamnya hasil penelitian tentang subjective well-being mahasiswa sehingga perlu dilakukan penelitian ulang untuk memastikan tingkat signifikansi pengaruh quality of life dan religiuitas secara simultan terhadap subjective well being mahasiswa serta dalam penelitian ini quality of life dan religiusitas dikaitkan dengan subjective well-being karena penelitian terdahulu masih bersifat parsial. Oleh sebab itu peneliti merasa perlu untuk meninjau kembali tentang pengaruh antar variabel tersebut secara simultan dan masih sangat sedikitnya studi penelitian terhadap subjective well-being pada mahasiswa teologi.
Penelitian ini dilakukan di Yayasan Pekabaran Injil Nusantara (PINTA) yang menaungi dua sekolah teologi yaitu sekolah tinggi Alkitab Nusantara yang berada di Malang (STAN Malang) dan sekolah tinggi teologi nusantara (STTN) yang berada di Salatiga. Wawancara yang dilakukan oleh penulis dengan dosen yang mengajar di sekolah teologi yang bernaung di Yayasan PINTA yaitu di STT Nusantara Salatiga dan STAN yang berada di Malang (15/8/2017) dan meminta data pelanggaran mahasiswa yang dilakukan selama studi di STT Nusantara Salatiga maupun STAN Malang, terdapat beberapa permasalahan yang terjadi yaitu: ada mahasiswa yang datang terlambat ke kelas, tidak berkonsentrasi dan mengganggu teman di kelas, ada juga mahasiswa yang merasa tertekan, sedih, takut, khawatir serta lekas marah jika mendapatkan banyak tugas kuliah dan harus mengikuti banyak kegiatan di lingkungan kampus maupun di gereja.
Selain itu dilakukan juga wawancara kepada beberapa mahasiswa semester 1- 5 menyatakan bahwa mereka senang dan memiliki perasaan positif ketika berada di kampus, mereka merasa sangat
9 bersemangat dan aktif ketika melaksanakan kegiatan kampus dan juga merasa dekat dan senang dengan dosen-dosen yang ada. Mereka sangat senang karena bisa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karena bisa berkumpul dengan teman-teman dan melakukan kegiatan yang mereka senangi.
Mahasiswa yang dapat mencapai tujuan dan merasa puas akan semua pencapaiannya, maka pemaknaan mengenai hidupnya akan baik pula (Diener, 2009). Subjective well-being pada remaja bergantung pada kebutuhan yang dipenuhi remaja dalam mencapai kepuasan dan tujuannya untuk hidup (Eryilmaz, 2011). Menurut penuturan dari mahasiswa, mereka sering merasa tidak puas pada berbagai ranah kehidupan dan memiliki afek negatif yang tinggi. Masalah yang ditemukan antara lain, stres, jenuh, kecewa dengan sikap teman maupun sikap dosen dan gembala di tempat mahasiwa melayani melalui program pelayanan weekend. Serta adanya masalah finasial yang dialami oleh mahasiswa hal ini akan mengakibatkan rendahnya tingkat subjective well being mahasiswa.
Dalam penelitian yang akan dilakukan saat ini lebih memfokuskan subjective well-being pada mahasiswa Sekolah Teologi yang bernaung di bawah yayasan PINTA yaitu STT Nusantara Salatiga dan STAN Malang merupakan pendidikan bagi calon pendeta yang datang dari berbagai pulau di Indonesia yaitu pulau Sulauwesi, Sumatera, Kalimantan, Papua dan kepulauan bagian Timur seperti Nusa Tenggara Timur dan kepulauan lainnya atau dapat dikatakan dari Sabang sampai Merauke.
Mahasiswa STTN dan STAN yang bernaung pada Yayasan PINTA mempunyai kekhasan tersendiri dalam mengikuti pendidikan
10 menjadi calon pendeta. Batas usia tidak menjadi syarat dalam belajar sebagai mahasiswa dan untuk mewujudkan tugas dan panggilan dalam menjalankan panggilannya sebagai hamba Tuhan yang hidup suci, sehat jasmnai dan rohani serta bertanggung jawab terhadap Amanat Agung Yesus Kristus dalam konteks masyarakat yang majemuk. Tugas akademik ini mewujudkan para calon pendeta yang terpanggil bukan berada pada batasan usia tertentu tetapi untuk belajar sepanjang hayat ( long life learning). Sesuai dengan data pendaftaran mahasiswa STTN dan STAN umumnya berada pada rentang usia 18 – 60 tahun dengan proporsi jenjang usia 18-30 tahun 90% dan jenjang usia 31-60 tahun 10% dari total mahasiswa yang ada pada saat ini.
Meskipun variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini mungkin memiliki sebuah kesamaan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, tetapi yang membedakan penelilitian ini dengan penelitian yang lain adalah subjek penelitian dalam menjalankan aktivitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari dalam ruang lingkup asrama dan ruang perkuliahan pada satu area. Di samping itu, ada juga aktivitas kebersamaan yang dilakukan kelompok-kelompok kerja maupun extrakurikuler serta kondisi etnis yang beragam. Hal inilah yang, membuat penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya di mana subjek dalam penelitian-penelitian sebelumnya pada umumnya adalah mahasiswa yang bersekolah di sekolah umum (SMP, SMU, dan Universitas) dan mereka tidak tinggal dalam lingkungan asrama. Dalam hal ini, lembaga pendidikan diharapkan untuk lebih memperhatikan kondisi tempat tinggal, psikologis serta hubungan sosial antara dosen dan mahasiswa maupun antara mahasiswa itu sendiri serta mempersiapkan mahasiswa untuk memiliki tingkat religius yang tinggi
11 yang tercermin dari ketaatan beribadah serta dapat mengaplikasikan nilai-nilai keagaaman yang dianut dalam kehidupan mereka sendiri maupun dalam tugas-tugas gerejawi di kalangan organisasi-organisasi gerejawi di dalam masyarakat dan di lingkungan sosial dimanapun mereka berada. Dengan dasar inilah maka masih dibutuhkan penelitian pengembangan pada subjective well-being bagi mahasiswa.
1.2 Rumusan Masalah
Adakah pengaruh yang signifikan dari quality of life dan religiusitas secara simultan terhadap subjective well being mahasiswa di sekolah Teologi yang bernaung di bawah yayasan PINTA?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memastikan signifikansi pengaruh quality of life dan religiusitas secara simultan terhadap Subjective Well Being mahasiswa Sekolah Teologi di bawah naungan yayasan PINTA.
1.4 Manfaat Penelitian
Merujuk pada tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat bagi disiplin ilmu Psikologi
Memberikan informasi dan dapat menjadi bukti empiris mengenai subjective well-being mahasiswa teologi tentang adanya pengaruh quality of life dan religiusitas secara simultan terhadap Subjective Well Being mahasiswa teologi.
12 2. Manfaat Praktis
Bagi Yayasan Pekabaran Injil Nusantara (PINTA) memberikan masukan dalam pengembangan program subjective well-being mahasiswa teologi.
1.5 Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh pembahasan yang sistematis, penulis menyusun tulisan ini ke dalam beberapa bab antara lain:
Bab I, dalam bab ini penulis menguraikan pendahuluan yang di dalamnya membahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II, dalam bab ini penulis menguraikan tentang landasan teoritis yang terdiri dari masing-masing variabel, teori-teori yang berhubungan dengan permasalahan penelitian, yakni teori subjective well-being, teori quality of Life, teori religiusitas, aspek, komponen, dimensi, faktor-faktor, hasil-hasil penelitian sebelumnya, landasan teori, model penelitian dan hipotesis penelitian.
Bab III, dalam bab ini penulis menguraikan tentang variabel penelitian, definisi operasional, populasi, sampel dan teknik sampling dalam penelitian, kemudian aspek dan indikator sehingga dapat dikembangkan skala penelitian yang dibangun dari teori yang digunakan, bagaimana validitas dan reliabilitas alat ukur, serta teknik analisis data. deskripsi tempat penelitian, prosedur penelitian, deskripsi hasil try-out,
13 Bab IV, dalam bab ini penulis menguraikan tentang uji diskriminasi dan reliabilitas skala, deskripsi responden penelitian, identifikasi skor, uji asumsi klasik, uji hipotesis serta pembahasan.
Bab V, dalam bab ini penulis menguraikan tentang kesimpulan dari penelitian ini, dan saran penelitian yang berkaitan dengan hasil penelitian ini, serta rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.