PETUNJUK TEKNIS
PETUNJUK TEKNIS
DETEKSI DINI HEPATITIS B DAN C
DETEKSI DINI HEPATITIS B DAN C
PADA KELOMPOK MASYARAKAT
PADA KELOMPOK MASYARAKAT
BERISIKO TINGGI
BERISIKO TINGGI
Kementerian Kesehatan RI
Kementerian Kesehatan RI
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung
i i Kata Pengantar Kata Pengantar
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya penyusunan Petunjuk Teknis Deteksi Dini
Puji syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya penyusunan Petunjuk Teknis Deteksi Dini
Hepatitis B dan C pada Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi ini dapat diselesaikan
Hepatitis B dan C pada Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi ini dapat diselesaikan
tepat waktu. Buku ini merupakan edisi pertama, se
tepat waktu. Buku ini merupakan edisi pertama, sehingga memerlukan masukan darihingga memerlukan masukan dari
berbagai pihak untuk penyempurnaan di masa yang akan datang.
berbagai pihak untuk penyempurnaan di masa yang akan datang.
Petunjuk teknis ini terutama ditujukan untuk penanggung jawab/pengelola program
Petunjuk teknis ini terutama ditujukan untuk penanggung jawab/pengelola program
pengendalian hepatitis di dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatan kabupaten/
pengendalian hepatitis di dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatan kabupaten/
kota, serta petugas puskesmas dan rumah sakit rujukan dalam melakukan deteksi
kota, serta petugas puskesmas dan rumah sakit rujukan dalam melakukan deteksi
dini hepatitis B dan C pada kelompok masyarakat berisiko untuk dapat dilakukan
dini hepatitis B dan C pada kelompok masyarakat berisiko untuk dapat dilakukan
pelayanan lebih lanjut, sehingga diharapkan infeksi baru, angka kesakitan, dan angka
pelayanan lebih lanjut, sehingga diharapkan infeksi baru, angka kesakitan, dan angka
kematian akibat hepatitis B dan C dapat diturunkan serendah mungkin.
kematian akibat hepatitis B dan C dapat diturunkan serendah mungkin.
Sasaran jangka panjang kegiatan deteksi dini hepatitis B dan C adalah
Sasaran jangka panjang kegiatan deteksi dini hepatitis B dan C adalah seluruh propinsiseluruh propinsi
di Indonesia melaksanakan deteksi
di Indonesia melaksanakan deteksi dini hepatitis B dadini hepatitis B dan C pada n C pada 80% kabupaten/ 80% kabupaten/ kotakota
di masing – masing propinsi pada tahun 2019
di masing – masing propinsi pada tahun 2019
Ucapan terima kasih disampaikan kepada para akademisi, klinisi, organisasi profesi,
Ucapan terima kasih disampaikan kepada para akademisi, klinisi, organisasi profesi,
lintas program dan lintas sektor, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan semua pihak
lintas program dan lintas sektor, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan semua pihak
yang telah meluangkan
yang telah meluangkan waktu, tenaga waktu, tenaga dan pikiran dalam dan pikiran dalam penyusunan petunjuk tpenyusunan petunjuk tekniseknis
ini, semoga Allah SWT meridhoi usaha kita semua dalam pengendalian hepatitis di
ini, semoga Allah SWT meridhoi usaha kita semua dalam pengendalian hepatitis di
Indonesia.
Indonesia.
Jakarta,
Jakarta, Agustus 2015Agustus 2015
Direktur Jenderal PP dan PL,
Direktur Jenderal PP dan PL,
dr. H.M. Subuh, MPPM
dr. H.M. Subuh, MPPM
NIP. 196201191989021001
iii iii Tim Penyusun Tim Penyusun
TIM PENYUSUN
TIM PENYUSUN
PengarahPengarah : : dr. dr. Sigit Sigit Priohutomo, Priohutomo, MPH MPH (Direktur (Direktur P2ML, P2ML, Ditjen Ditjen PP PP dan dan PL)PL)
Editor
Editor : : dr. dr. Toni Toni Wandra, Wandra, M.Kes, M.Kes, Ph.DPh.D
Prof.
Prof. David David H. H. Muljono, Muljono, Sp.PD, Sp.PD, Ph.DPh.D
Naning Nugrahini, SKM, MKM
Naning Nugrahini, SKM, MKM
Kontributor
Kontributor : : 1. 1. Naning Naning Nugrahini, Nugrahini, SKM, SKM, MKMMKM
(Kasubdit Diare dan ISP, Direktorat P2ML)
(Kasubdit Diare dan ISP, Direktorat P2ML)
2.
2. dr. dr. Yullita Yullita Evarini, Evarini, MARS MARS (Kasi (Kasi Bimev, Bimev, Subdit Subdit Diare Diare dan dan ISP)ISP)
3.
3. Eli Eli Winardi, Winardi, SKM, SKM, MKM MKM (Kasi (Kasi Standarisasi, Standarisasi, Subdit Subdit Diare Diare dan dan ISP)ISP)
4.
4. Prof. Prof. David David H. H. Muljono, Muljono, Sp.PD, Sp.PD, Ph.D Ph.D (Eikjman (Eikjman Institute)Institute)
5.
5. Prof. Prof. Dr. Dr. dr. dr. Ali Ali Sulaiman, Sulaiman, Sp.PD, Sp.PD, KGEH KGEH (Pokja (Pokja Hepatitis)Hepatitis)
6.
6. Dr. Dr. dr. dr. Rino Rino Gani, Gani, Sp.PD, Sp.PD, KGEH KGEH (Ketua (Ketua PPHI/RSCM-FKUI)PPHI/RSCM-FKUI)
7.
7. Dr. Dr. dr. dr. Ali Ali Sungkar, Sungkar, Sp.OG Sp.OG (K) (K) (RSCM-FKUI)(RSCM-FKUI)
8.
8. dr. dr. Irsan Irsan Hasan, Hasan, Sp.PD, Sp.PD, KGEH KGEH (PPHI/RSCM-FKUI)(PPHI/RSCM-FKUI)
9.
9. Dr. Dr. dr. dr. Hanifah Hanifah Oswari, Oswari, Sp.A Sp.A (K) (K) (RSCM-FKUI)(RSCM-FKUI)
10.
10. Dr. dr. Dr. dr. Julitasari Soendoro, Julitasari Soendoro, MSc-PH (Pokja MSc-PH (Pokja Hepatitis)Hepatitis)
11.
11. dr. Toni Wadr. Toni Wandra, M.Kes, Ph.D ndra, M.Kes, Ph.D (Ketua Prodi M(Ketua Prodi Magister Ilmuagister Ilmu
Kesehatan Masyarakat, Direktorat Pascasarjana, Universitas Sari
Kesehatan Masyarakat, Direktorat Pascasarjana, Universitas Sari
Mutiara Indonesia)
Mutiara Indonesia)
12.
12. dr. Sondang Mdr. Sondang Maryutka Sirait, aryutka Sirait, Sp.PK (BBLK Sp.PK (BBLK Jakarta)Jakarta)
13.
13. Ananta Rahayu, Ananta Rahayu, SKM, MKM SKM, MKM (Subdit Diare dan (Subdit Diare dan ISP)ISP)
14.
14. Emita Ajis, SKMEmita Ajis, SKM, MPH , MPH (Subdit Diare dan (Subdit Diare dan ISP)ISP)
15.
15. Lasmaria Marpaung, Lasmaria Marpaung, SKM (Subdit SKM (Subdit Diare dan Diare dan ISP)ISP)
16.
16. Muh Purwanto, Muh Purwanto, SKM, MKM SKM, MKM (Subdit Diare dan (Subdit Diare dan ISP)ISP)
17.
17. dr. dr. Nurindah Nurindah Sri Sri Lestari Lestari (Subdit (Subdit Diare Diare dan dan ISP)ISP)
18.
18. dr. Pratono dr. Pratono (Subdit Diare (Subdit Diare dan ISP)dan ISP)
19.
19. Retno Trisari, Retno Trisari, SKM (Subdit SKM (Subdit Diare dan Diare dan ISP)ISP)
20.
20. Windy Oktavina, SKWindy Oktavina, SKM, M.Kes M, M.Kes (Subdit Diare dan (Subdit Diare dan ISP)ISP)
21.
21. Yulistin, SKM Yulistin, SKM (Subdit Diare (Subdit Diare dan ISP)dan ISP)
22.
22. Yusmariami, SKM Yusmariami, SKM (Subdit Diare (Subdit Diare dan ISP)dan ISP)
23.
23. Nurjanah, SKM, M.KNurjanah, SKM, M.Kes (Subdit AIDS dan PMes (Subdit AIDS dan PMS, Direktorat P2ML)S, Direktorat P2ML)
24.
24. dr. Nies Andekayani, dr. Nies Andekayani, MS, Sp.Ok MS, Sp.Ok (Subdit AIDS dan (Subdit AIDS dan PMS,PMS,
Direktorat P2ML)
Direktorat P2ML)
25.
25. Eka Muhiriyah, Eka Muhiriyah, SPd, MKM SPd, MKM (Subdit Surveilans dan (Subdit Surveilans dan Respon KLB,Respon KLB,
Direktorat Surveilans, Imunisasi, Karantina dan Matra)
Direktorat Surveilans, Imunisasi, Karantina dan Matra)
26.
26. Ebbe Ebbe (PKNI)(PKNI)
27.
27. Edo Edo Agustian Agustian (PKNI)(PKNI)
28.
28. Endang Endang Sundari Sundari (IBI)(IBI)
29.
29. dr. dr. Beatrice Beatrice Iswari Iswari (WHO (WHO Indonesia)Indonesia)
Sekretariat
Sekretariat : : Arman Arman Zubair, Zubair, SAPSAP
Lilis
v
Dafar Isi
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar …...……….….………. i
Tim Penyusun ... iii
Daftar Isi ………...……….……… v Glossary ....………...……….………. vii Daftar Singkatan ………...………... ix BAB I. PENDAHULUAN ………...……… 1 A. Latar Belakang …………...………...……… 1 B. Tujuan ………...……...………...……….… 3 C. Sasaran ………...………... 4 D. Ruang Lingkup ………...……… 4 E. Dasar Hukum ………...…...……… 4
BAB II. DETEKSI DINI HEPATITIS B DAN C ...…………...………. 7
A. Deteksi Dini Aktif ………...………...………. 7
B. Deteksi Dini Pasif ………...………. 9
C. Penanganan Hasil Deteksi Dini Hepatitis B ………...………… 11
D. Penanganan Hasil Deteksi Dini Hepatitis C ……….………...…….. 12
E. Penanganan Hasil Pemeriksan HIV dan Syphilis ……...…. 13
F. Penanganan Hasil Pemeriksaan Hepatitis B dan C Non-reaktif …... 13
G. Penyuluhan (KIE) ………..………...…………. 13
BAB III. STANDAR PELAYANAN LABORATORIUM PEMERIKSAAN HEPATITIS B DAN C ... 15
A. Pemeriksaan Laboratorium untuk Deteksi Dini Hapatitis B dan C di Puskesmas …... 15
B. Pemeriksaan Laboratorium Untuk Konfrmasi ..……...………... 17
C. Keselamatan dan Keamanan Laboratorium ...……… 17
D. Pengendalian Infeksi …...……….. 18
BAB IV. PENCATATAN DAN PELAPORAN …...…..………..……… 19
A. Pencatatan …….…...……...………..………. 19
B. Pelaporan …...……...………. 20
BAB V. PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN DISTRIBUSI LOGISTIK …...…… 25
A. Kebutuhan Bahan dan Alat …………...……..………. 25
C. Jenis Obat Hepatitis B dan C ……...……….………...……… 26
B. Kualitan Bahan/Alat/Obat ……...……….……… 26
Daftar Pustaka ………...……… 27
LAMPIRAN Algoritma 1. Alur Deteksi Dini Aktif Hepatitis B, HIV dan Syphilis pada Ibu Hamil ...… 29
Algoritma 2. Alur Deteksi Dini Aktif Hepatitis B dan C pada Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi ……... 30
Algoritma 3. Alur Deteksi Dini Pasif Hepatitis B, HIV, dan Syphilis pada Ibu Hamil ... 31
Algoritma 4. Alur Deteksi Dini Pasif Hepatitis B dan C pada Kelompok MasyarakatBerisiko Tinggi …...…….… 32
Daftar Nonor Urut Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi …...……… 33
Informed Consent ………...……… 35 Form Pencatatan dan Pelaporan
vii
Glossary
Glossary
1. Ibu Hamil adalah ibu yang mengandung janin di dalam rahim dari has il pembuahan sel telur oleh sel sperma
2. Petugas Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan, memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang memerlukan kewenangan dalam menjalankan pelayanan kesehatan.
3. Mahasiswa Kesehatan adalah orang (mahasiswa) yang belajar di perguruan tinggi bidang kesehatan khususnya kedokteran, keperawatan, kebidanan, laboratorium, kesehatan masyarakat dan analis kesehatan.
4. Wanita Penjaja Seks (WPS) adalah wanita yang melakukan praktek seks komersial baik secara terbuka maupun terselubung.
5. Pengguna Napza Suntik (Penasun) adalah mereka yang menggunakan Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain) yang disuntikkan.
6. Waria adalah kependekan dari wanita-pria, yang berarti pria yang berjiwa dan bertingkah laku, berdandan serta mempunyai perasaan seperti wanita. Waria yang masuk dalam populasi bersiko tinggi adalah waria yang bekerja menjajakan
seks/melakukan praktek seks berisiko.
7. Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL)/Gay adalah Laki-laki bukan waria yang mengakui dirinya pernah melakukan kontak seksual dengan sesama laki-laki dan/atau waria.
8. Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) adalah pria dan wanita yang sudah divonis menjalani hukuman yang berada di LAPAS (Lembaga Pemasyarakatan) yang ada di Indonesia.
9. Pasien Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah mereka yang datang ke layanan klinik Infeksi Menular Seksual untuk mendapatkan layanan Infeksi Menular Seksual.
10. Orang dengan Infeksi HIV adalah orang yang telah terinfeksi HIV
11. Penerima Layanan Hemodialisis adalah setiap orang dengan keadaan gagal ginjal menerima layanan pembersihan darah dimana darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan beredar dalam sebuah mesin diluar tubuh yang disebut dialyzer. 12. Pasangan/Keluarga yang Tinggal Serumah dengan Penderita Hepatitis B dan C
adalah pasangan, keluarga dekat, orang lain, anak yang tinggal serumah secara permanen dengan orang yang terinfeksi Hepatitis B dan atau C.
ix
Dafar Singkatan
Daftar Singkatan
APD : Alat Pelindung Diri ANC : Ante Natal Care
BBLK : Balai Besar Laboratorium Kesehatan BLK : Balai Laboratorium Kesehatan
BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial DDHBC : Deteksi Dini Hepatitis B dan C
DNA VHB : Deoxyribonucleic Acid Virus Hepatitis B
EIA/CLIA : Enzyme Immunoassay/Chemiluminescent Immunoassay HBcAg : Hepatitis B core Antigen
HBeAg : Hepatitis B envelope Antigen HBsAg : Hepatitis B surface Antigen HIV : Human Imunodefciency Virus HBIg : Hepatitis B Immunoglobulin
IMLTD : Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah IPAL : Instalasi Pengelolaan Air Limbah
IMS : Infeksi Menular Seksual KIA : Kesehatan Ibu dan Anak KLB : Kejadian Luar Biasa
KIE : Komunikasi Informasi dan Edukasi Labkesda : Laboratorium Kesehatan Daerah LSL : Lelaki Seks dengan Lelaki
Penasun : Pengguna Napza Suntik ODHA : Orang dengan HIV/AIDS
RNA VHC : Ribonucleic Acid Virus Hepatitis C SOP : Standar Operasional Prosedur VHB : Virus Hepatitis B
VHC : Virus Hepatitis C
WBP : Warga Binaan Pemasyarakatan WHA : World Health Assembly
WHO : World Health Organization WPS : Wanita Penjaja Seks
1 Pendahuluan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada tanggal 20 Mei 2010, World Health Assembly (WHA) dalam sidangnya yang ke-63 di Geneva telah menyetujui mengadopsi resolusi hepatitis (Resolusi WHA 63.18 Tahun 2010 tentang Hepatitis), yaitu semua negara di dunia sudah saatnya melakukan pengendalian hepatitis. Resolusi WHA 63.18 tahun 2010 diperkuat lagi dengan resolusi WHA Nomor 67.6 tanggal 20 Mei 2014 tentang Perlunya ‘Aksi Konkrit’ dalam Pengendalian Hepatitis, kemudian pada bulan September 2014, WHO SEARO mengeluarkan resolusi SEA/RC67/R5 tentang hepatitis bagi negara-negara di kawasan South-East Asia Region (SEAR).Resolusi – resolusi tersebut diatas disponsori dan peran aktif Indonesia, sebagai salah satu bentuk kepedulian dan keprihatinan Indonesia terhadap besaran masalah dan dampak Hepatitis virus. Hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan oleh bakteri, parasit, virus, autoimmune, alcohol. Dari keseluruhan penyebab tersebut yang menj adi masalah kesehatan masyarakat adalah Hepatitis virus. Hepatitis virus terdapat beberapa jenis yaitu Hepatitis A dan E, yang ditularkan secara fecal oral, bersifat akut, sering timbul sebagai Kejadian Luar Biasa, dapat sembuh sempurna, dan tidak menjadi kronis; sedangkan Hepatitis B, C dan D ditularkan secara parenteral, dapat menjadi kronis, sirosis lalu menyebabkan kanker hati. Karena Hepatitis B dan C dapat menjadi kronis, sebagian besar dari masyarakat yang terinfeksi Hepatitis B dan C (Hepatitis D akan timbul apabila seseorang terinfeksi Hepatitis B) ini terlambat diketahui, sehingga diketahui pada saat mereka sudah menjadi kronis, sirosis bahkan kanker hati. Oleh karena itu perlu dilakukan Deteksi Dini Hepatitis B dan C, agar dapat dikurangi akibat lebih lanjut dari penyakit ini.
Hepatitis B adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang menimbulkan peradangan hati akut atau menahun, dan dapat berlanjut menjadi sirosis atau kanker hati. Virus Hepatitis B dapat ditemukan dalam cairan tubuh penderita, seperti darah dan produk darah, air liur, cairan serebrospinal, peritoneal, pleural, cairan amniotik, semen (air mani), cairan vagina dan cairan tubuh lainnya. Namun tidak semuanya memiliki kadar virus yang infeksius. Secara umum, penularan bisa terjadi secara vertikal dan horizontal.
Penularan secara vertikal adalah penularan yang terjadi pada masa perinatal, yaitu penularan dari ibu kepada bayi. Jika seorang ibu hamil karier hepatitis B dan HBeAg positif, maka kemungkinan 90% dari bayi yang dilahirkan terinfeksi dan
menjadi karier juga. Kemungkinan 25% dari jumlah tersebut meninggal karena hepatitis kronik atau kanker hati. Transmisi perinatal banyak terjadi terutama di negara-negara berkembang. Infeksi mungkin terjadi selama proses persalinan, namun diduga tidak berhubungan dengan proses menyusui.
Penularan secara horizontal adalah penularan dari satu individu ke individu lainnya. Selain melalui hubungan seksual tidak aman, penularan horizontal juga bisa terjadi melalui penggunaan jarum suntik bekas penderita hepatitis B, transfusi darah yang terkontaminasi virus hepatitis B, proses pembuatan tatto , penggunaan pisau cukur, sikat gigi, dan gunting kuku bekas pende rita hepatitis B. Berpelukan, berjabatan tangan, atau berciuman dengan penderita hepatitis B belum terbukti dapat menularkan virus ini.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), berdasarkan prevalensi HBsAg, endemisitas hepatitis suatu wilayah/negara dapat dikatagorikan dikategorikan Rendah (<2%), Sedang rendah (2-4%), Sedang tinggi (5-7%), dan Tinggi (≥8Gambaran endemisitas Hepatitis B di Indonesia dapat diketahui dari berbagai laporan dan hasil riset yang ada; sehingga saat ini Indonesia termasuk negara dengan endemisitas tinggi hepatitis B, terbesar kedua di Asia-Pasik setelah Myanmar. Diperkirakan sebanyak 28 juta orang terinfeksi hepatitis B dan C, dimana 14 juta diantaranya berpotensi menjadi kronik, dan dari yang kronik tersebut, 1,4 juta berpotensi menjadi sirosis dan kanker hati.
Hepatitis C adalah penyakit peradangan hati yang disebabkan infeksi Virus Hepatitis C (VHC). Penularan hepatitis C yang paling sering adalah melalui parenteral, yaitu pajanan dengan darah dan produknya. Oleh karena itu, kejadian hepatitis C sangat dipengaruhi oleh antara lain penggunaan Napza suntik.
Hepatitis C juga merupakan masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Jumlah penderita hepatitis C diperkirakan sebanyak 170 juta orang. Di Amerika Serikat dan Australia, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, penularan hepatitis C di kalangan Penasun dilaporkan sebesar 68-80%. Selain itu, penularan hepatitis C melalui praktik medis yang tidak aman juga cukup tinggi. Berdasarkan data WHO, sebanyak 2 juta kasus baru hepatitis C terjadi pada tahun 2000. Pe mberian transfusi produk darah terutama di negara-negara berkembang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penularan hepatits C. Berdasarkan WHO’s Global Database of Blood Safety diperkirakan sebesar 43% produk darah terutama di negara-negara berkembang tidak mendapatkan skrining hepatitis C yang adekuat. Risiko terinfeksi hepatitis C akibat tertusuk jarum suntik di kalangan tenaga medis sebesar 3-10%.
3 Pendahuluan
perinatal dari ibu yang terinfeksi hepatitis C ke bayi adalah sebesar 5%. Perilaku seks tidak aman terutama pada pasangan homoseksual, transplantasi organ yang terinfeksi VHC dan pembuatan tattoo juga dapat menularkan hepatitis C, walaupun angka kejadiannya lebih rendah. Kejadian hepatitis C dilaporkan meningkat pada narapidana, gelandangan, pasien hemodialisis dan pasien yang mendapatkan transfusi produk darah rutin sebelum tahun 1992.
Hasil surveilans hepatitis C yang dilaksanakan oleh Ditjen PP dan PL, Kemenkes RI di 21 provinsi di Indonesia (50 rumah sakit, 51 laboratorium, dan 27 unit transfusi darah PMI) tahun 2007-2012 dengan jumlah sampel sebanyak 5.064.431 menunjukkan bahwa 35.453 sampel positif anti-HCV (0,7%). Sampel positif tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (30,94%) dengan perbandingan 87%:15% pada laki-laki dan perempuan. Hasil Surveilans Cepat Perilaku (SCP) HIV terintegrasi dengan hepatitis B dan C di Kota Makassar, Sulawesi Selatan tahun 2014, co-infeksi hepatitis C sebesar 23,6%. Saat ini diperkirakan terdapat 3,1 juta orang yang terinfeksi Hepatitis C (Kemenkes 2015, Estimasi dan Pemodelan Hepatitis
2015, data belum dipublikasikan)
Tujuan jangka pendek deteksi dini hepatitis B dan C adalah: 1) Terdeteksinya hepatitis B dan C (termasuk HIV dan syphilis) sedini mungkin; dan 2) Terlaksananya pelayanan lanjutan hepatitis B dan C. Tujuan jangka panjang adalah: 1) Menurunnya jumlah kasus infeksi baru hepatitis B dan C; 1) Menurunnya angka kesakitan (prevalensi) hepatitis B dan C; dan 3) Menurunnya angka kematian akibat hepatitis B dan C.
Sasaran kegiatan deteksi dini hepatitis B dan C adalah: 1) Seluruh (100%) provinsi melaksanakan deteksi dini hepatitis B dan C pada tahun 2019; dan 2) Sebanyak 80% kabupaten/kota melaksanakan deteksi dini hepatitis B dan C pada tahun 2019.
B.
Tujuan
Tujuan petunjuk teknis ini adalah: 1. Tujuan umum
Terlaksanakan kegiatan deteksi dini hepatitis B dan C 2. Tujuan khusus
Petugas fasilitas kesehatan mampu melakukan:
a. Deteksi dini hepatitis B dan C pada kelompok masyarakat berisiko tinggi b. Melakukan rujukan kasus pada mereka yang menunjukkan hasil
c. Penyuluhan atau KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) tentang hepatitis B dan C
d. Melakukan upaya pencegahan
C.
Sasaran
Penanggungjawab/pengelola program/kegiatan pengendalian hepatitis di dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatan kabupaten/kota, serta petugas fasilitas kesehatan dan rumah sakit rujukan hepatitis B dan C.
D. Ruang Lingkup
Hepatitis dapat disebabkan oleh virus (hepatitis A, B, C, D dan E), bakteri (Salmonella typhosa ), parasit (Plasmodium tropica, Entamoeba histolytica , Fasciola hepatica ), gangguan autoimun, obat-obatan, perlemakan, alkohol dan zat berbahaya lainnya. Virus, bakteri, dan parasit merupakan penyebab infeksi terbanyak. Infeksi karena Virus Hepatitis A,B,C,D,E merupakan penyebab tertinggi dibandingkan dengan penyebab lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa , demam kuning (yellow fever ) dan sitomegalovirus. Sedangkan penyebab utama hepatitis non-virus adalah alkohol dan obat-obatan.
Dalam petunjuk teknis ini hanya difokuskan pada hepatitis yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B dan C, khususnya pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi tertular atau menularkan hepatitis B dan C.
Petunjuk teknis ini, selain di puskesmas, juga dapat dipergunakan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) lainnya.
E. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3273).
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Pertimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431).
5 Pendahuluan
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
6. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063).
7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637).
10. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
11. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1438/MENKES/PER/IX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran.
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi
13. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans.
15. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kese hatan Masyarakat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 1676)
16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Penyakit Menular (Berita Negara Republik Indonesia tahun 2010 Nomor 1755 17. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan
Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual.
18. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan.
19. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1479/MENKES/SK/X/2003 tentang Penyeleng-garaan Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular.
20. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisa-si dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan RI.
21. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.
22. Resolusi WHA Nomor 63.18 Tahun 2010 tentang Hepatitis Virus.
23. Resolusi WHA Nomor 67.7 Tahun 2014 tentang Concrete Action dalam Pengendalian Hepatitis Virus.
24. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 53 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Hepatitis Virus.
7
Deteksi Dini Hepatitis B dan C
BAB II
DETEKSI DINI HEPATITIS B DAN C
Kegiatan deteksi dini hepatitis B dan C meliputi deteksi dini aktif dan deteksi dini pasif.
A. Deteksi Dini Aktif
Deteksi Dini Aktif Hepatitis B dan C adalah kegiatan Deteksi Dini Hepatitis B dan C (DDHBC) pada kelompok masyarakat (populasi) berisiko tinggi (high risk ) yang dilaksanakan di luar gedung di wilayah kerja puskesmas.
1. Pelaksana Puskesmas
2. Kelompok Populasi Deteksi Dini Aktif
Kriteria kelompok populasi deteksi dini hepatitis B dan C adalah sebagai berikut: a. Ibu hamil yang berdomisili di wilayah kerja puskesmas.
b. Petugas Kesehatan, yaitu dokter, perawat, bidan dan analis laboratorium yang berada di wilayah kerja puskesmas dan telah bekerja di bidang kesehatan yang berisiko tertular atau menularkan hepatitis B dan C, karena dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari terdapat kemungkinan terjadinya kontak darah/cairan tubuh penderita.
c. Mahasiswa kesehatan (kebidanan/keperawatan/analis/kedokteran) di perguruan tinggi yang berlokasi di wilayah kerja puskesmas.
d. Wanita Penjaja Seks (WPS) berumur ≥15 tahun yang telah berhubungan seks komersial dengan satu orang atau lebih pelanggan.
e. Pengguna Napza suntik (Penasun) pria atau wanita berumur ≥15 tahun yang berdomisili di wilayah kerja puskesmas.
f. Waria berumur ≥15 tahun yang berdomisili di wilayah kerja puskesmas dan telah diketahui statusnya sebagai waria melalui teman seprofesi, ‘mami’, atau pekerja Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
g. Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) berumur ≥15 tahun yang berdomisili di wilayah kerja puskesmas dan telah berhubungan seks dengan seorang atau lebih laki-laki dan/atau waria.
h. Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di LAPAS yang berlokasi di wilayah kerja puskesmas.
i. Pasangan/keluarga yang tinggal serumah dengan penderita hepatitis B atau C yang berdomisili di wilayah kerja puskesmas.
j. Pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) yang berdomisili di wilayah kerja puskesmas.
k. Orang dengan infeksi HIV/AIDS (ODHA) yang berdomisili di wilayah kerja puskesmas.
l. Pasien hemodialisis yang berdomisili di wilayah kerja puskesmas.
m. Pasien yang mendapatkan transfusi darah lebih dari 1 kali yang berdomisili di wilayah kerja puskesmas.
n. Pasien yang menjalani tindakan bedah umum atau tindakan pada gigi yang berdomisili di wilayah kerja puskesmas.
o. Bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis C. 3. Lokasi
Di wilayah kerja masing-masing puskesmas 4. Sasaran Deteksi Dini
a. Kelompok berisiko tinggi
b. Pernah diperiksa hepatitis B dan C dengan hasil non reaktif > 6 bulan 5. Prosedur
a. Melakukan penjangkauan pada kelompok berisiko (ibu hamil, pasangan/ keluarga yang serumah dengan penderita hepatitis B atau C, pasien hemodialisis, pasien yang pernah mendapatkan transfusi >1 kali, pasien yang pernah menjalani operasi umum dan tindakan pada gigi, bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis C), fasyankes (petugas kesehatan), perguruan tinggi (mahasiswa kesehatan), klinik IMS (pasien yang didiagnosis IMS), kunjungan ke lokasi/komunitas prostitusi, Penasun, waria, LSL, WBP, ODHA.
b. Sebelum pelaksanaan kegiatan, penanggungjawab kegiatan menghubungi pimpinan/contact person dari kelompok tersebut.
c. Setelah ada kesepakatan, maka kegiatan dilaksanakan pada tempat dan waktu yang telah ditentukan.
d. Pimpinan/contact person tersebut dapat dilibatkan dalam menggerakkan masyarakat untuk ikut dalam kegiatan DDHBC.
e. Petugas pelaksana adalah dokter/perawat, bidan di poli KIA, konselor, pengelola program/kegiatan hepatitis, pengelola program/kegiatan asuhan keperawatan, analis dan petugas lainnya.
9
Deteksi Dini Hepatitis B dan C 6. Tahapan kegiatan
Tahapan kegiatan Deteksi Dini Aktif Hepatitis B dan Hepatitis C:
a. Persiapan, meliputi SOP, sosialisasi dan advokasi, logistik pendukung sesuai kebutuhan, dan persiapan di lapangan
b. Pelaksanaan, meliputi pelatihan petugas, pelaksanaan di lapangan, serta pengolahan dan analisis data
c. Pencatatan dan pelaporan d. Monitoring dan evaluasi.
B.
Deteksi Dini Pasif
Deteksi Dini Pasif Hepatitis B dan C adalah kegiatan Deteksi Dini Hepatitis B dan C (DDHBC) di dalam gedung puskesmas (poliklinik/klinik IMS/klinik konseling dan tes/klinik methadon, dll) pada kelompok masyarakat yang mempunyai faktor risiko yang berkunjung atau dirujuk ke puskesmas/klinik.
1. Pelaksana
Puskesmas/klinik
2. Sasaran Deteksi Dini Pasif
Adalah masyarakat yang berkunjung atau dirujuk ke puskesmas (Lihat target sasaran pada Deteksi Dini Hepatitis B dan C Aktif).
3. Lokasi
Di puskesmas/klinik
4. Jumlah yang dilakukan deteksi dini
Seluruh masyarakat yang mempunyai faktor risiko tertular dan menularkan yang berkunjung atau yang dirujuk ke puskesmas/klinik
5. Prosedur
a. Deteksi dini pada ibu hamil
Alur pemeriksaan sebagaimana terlihat pada Lampiran (Algoritma 3). 1) Ibu hamil pada kunjungan ANC (Antenatal Care ) pertama kali (K1)
ditawarkan pemeriksaan hepatitis B
2) Bila Ibu hamil tersebut bersedia, maka diberikan konseling dan diminta menandatangani informed consent sebagai bukti kesediaan
3) Petugas melakukan wawancara untuk pengisian data yang diperlukan menggunakan Form 9B.
4) Pengisian Form 9C oleh petugas dan pengambilan sampel darah di laboratorium puskesmas
5) Menggunakan Rapid Test
6) Bila hasil pemeriksaan reaktif, maka konrmasi lebih lanjut, spesimen dikirim ke laboratorium rujukan (B/BLK, Labkesda, laboratorium rumah sakit, dll) untuk pemeriksaan EIA (Enzyme Immunoassay )/ CLIA (Chemiluminescent Immu-noassay ). Pengiriman spesimen ke laboratorium rujukan disertai dengan Form 9D.
7) Bila hasil pemeriksaan dengan EIA/CLIA dari laboratorium rujukan reaktif, maka pasien dirujuk ke rumah sakit yang mampu melaksanakan tatalaksana hepatitis B dan atau C yang ditunjuk oleh dinas kesehatan provinsi.
8) Selain pemeriksaan hepatitis B, ibu hamil juga ditawarkan pemeriksaan HIV dan syphilis (apabila di puskesmas/klinik telah tersedia layanan untuk pemeriksaan HIV dan Syphilis)
9) Prosedur pemeriksan HIV dan syphilis sesuai ketentuan Kemenkes RI (Subdit AIDS dan PMS, Direktorat P2ML, Ditjen PP dan PL). b. Deteksi dini pada petugas dan mahasiswa/pelajar kesehatan
(kebidanan, keperawatan, analis, kedokteran).
Alur pemeriksaan dapat dilihat pada Lampiran (Algoritma 4).
1) Pelaksanaan kegiatan dimulai di poli umum atau tempat lainnya yang telah ditentukan oleh puskesmas
2) Petugas melakukan wawancara untuk pengisian data yang diperlukan dengan menggunakan form 10B dan penandatanganan informed consent
3) Pengisian Form 10C oleh petugas dan pengambilan sampel darah 4) Pemeriksan laboratorium terdiri dari pemeriksaan hepatitis B dan
hepatitis C, mengunakan Rapid Test .
5) Bila hasil pemeriksaan hepatitis B dan/atau C reaktif, maka konrmasi lebih lanjut, spesimen dikirim ke laboratorium rujukan (B/BLK, Labkesda, laboratorium rumah sakit) untuk pemeriksaan imunologi. Pengiriman spesimen ke laboratorium rujukan disertai dengan Form 10D.
6) Petugas pelaksana adalah petugas kesehatan di puskesmas yang terlibat dalam pelayanan di poli umum, seperti petugas pendaftaran, dokter/perawat di poli umum, konselor, dan analis.
c. Deteksi dini pada kelompok masyarakat berisiko tinggi lainnya Alur pemeriksaan dapat dilihat pada Lampiran (Algoritma 4).
11
Deteksi Dini Hepatitis B dan C
kesehatan) yang datang atau dirujuk ke puskesmas ditawarkan untuk pemeriksaan hepatitis B dan C.
2) Untuk pasien umum ditawarkan juga pemeriksaan hepatitis B dan C apabila hasil anamnesis menunjukkan adanya faktor risiko tertular dan menularkan hepatitis B dan C
3) Pelaksanaan kegiatan dimulai di poli umum atau tempat lain yang telah ditentukan puskesmas/poliklinik/faskes
4) Petugas melakukan wawancara untuk pengisian data yang diperlukan dan menggunakan Form 10B dan penandatanganan informed consent 5) Pengisian Form 10C dan pengambilan sampel darah di laboratorium
puskesmas
6) Pemeriksan terdiri dari pemeriksaan laboratorium hepatitis B dan hepatitis C, menggunakan Rapid Test
7) Bila hasil pemeriksaan hepatitis B dan atau C reaktif, maka konrmasi lebih lanjut, spesimen dikirim ke laboratorium rujukan (B/BLK, Labkesda, laboratorium rumah sakit) untuk pemeriksaan EIA/CLIA. Pengiriman spesimen ke laboratorium rujukan disertai dengan Form 10D
8) Petugas pelaksana adalah petugas kesehatan di puskesmas yang terlibat dalam pelayanan di poli umum, seperti petugas pendaftaran, dokter/perawat di poli umum, konselor, dan analis.
C. Penanganan Hasil Deteksi Dini Hepatitis B
1. Penanganan pada Ibu hamil
a. Bila hasil pemeriksaan konrmasi dari laboratorium rujukan hepatitis B reaktif, maka pasien dirujuk ke rumah sakit yang telah mampu melakukan tatalaksana Hepatitis B dan C terdekat atau rumah sakit rujukan yang mampu melakukan tatalaksana hepatitis B dan C
b. Penanganan selanjutnya sesuai SOP rumah sakit dalam melakukan tatalaksana Hepatitis B dan C
c. Pembiayaan pengobatan menggunakan BPJS/asuransi lainnya atau mandiri
d. Hasil pemeriksaan, penanganan dan rekomendasi tim ahli di rumah sakit rujukan dikirim ke puskesmas yang merujuk untuk umpan balik ( feedback ). e. Bila hasil deteksi dini hepatitis B di puskesmas non-reaktif, maka ibu hamil tersebut dilanjutkan pemeriksaan anti-HBs untuk mengetahui ada tidaknya antibodi.
f. Bila hasil pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs non-reakif, maka dianjurkan vaksinasi hepatitis B sebanyak 3 kali secara mandiri.
2. Penanganan bayi yang dilahirkan dari Ibu dengan hepatitis B reaktif
a. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang hepatitis B (HBsAg) reaktif, maka diberikan Hepatitis B Immunoglobulin (HBIg), vitamin K, vaksinasi hepatitis B hari ke-0 (HB 0) kurang dari 24 jam setelah kelahiran, diikuti vaksinasi hepatitis B berikutnya sesuai jadwal program imunisasi nasional.
b. Setelah bayi berusia di atas 9 bulan, agar dilakukan pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs.
3. Penanganan bayi yang dilahirkan dari Ibu dengan hepatitis B non-reaktif Bayi yang dilahirkan dari ibu dengan hepatitis B non-reaktif, maka diberikan vitamin K dan HB 0 kurang dari 24 jam setelah kelahiran, diikuti vaksinasi hepatitis B berikutnya sesuai jadwal program imunisasi nasional.
4. Penanganan pada kelompok populasi lainnya
a. Bila hasil konrmasi menunjukkan hepatitis B reaktif, maka dirujuk ke rumah sakit rujukan.
b. Penanganan selanjutnya sesuai SOP rumah sakit dalam melakukan tatalaksana Hepatitis B dan C
c. Pembiayaan pengobatan menggunakan BPJS/asuransi lainnya atau mandiri
d. Hasil pemeriksaan, penanganan dan rekomendasi tim ahli di rumah sakit rujukan dikirim ke puskesmas yang merujuk untuk umpan balik.
e. Bila hasil deteksi dini hepatitis B di puskesmas non-reaktif , maka dilanjutkan untuk melakukan pemeriksaan anti-HBs untuk mengetahui ada tidaknya antibodi.
f. Bila hasil pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs non-reakif, maka dianjurkan vaksinasi hepatitis B sebanyak 3 kali.
D.
Penanganan Hasil Deteksi Dini Hepatitis C
1. Bila hasil konrmasi di laboratorium rujukan menunjukkan hepatitis C reaktif, maka dirujuk ke rumah sakit yang mampu melakukan tatalaksana Hepatitis B dan C terdekat.
2. Penanganan selanjutnya sesuai SOP rumah sakit dalam melakukan tatalaksana Hepatitis B dan C.
3. Pembiayaan menggunakan BPJS/asuransi lainnya atau mandiri
4. Hasil pemeriksaan, penanganan dan rekomendasi tim ahli di rumah sakit rujukan dikirim ke puskesmas/poliklinik yang merujuk untuk umpan balik. 5. Bila hasil pemeriksaan hepatitis C non-reaktif, maka dilakukan penyuluhan
13
Deteksi Dini Hepatitis B dan C
E. Penanganan Hasil Pemeriksaan HIV dan Syphilis
Penanganan sesuai ketentuan Kemenkes RI (Subdit AIDS dan PMS, Direktorat P2ML, Ditjen PP dan PL).
F. Penanganan Hasil Pemeriksaan Hepatitis B dan C Non-reaktif
1. Bila pemeriksaan hepatitis B (HBsAg) dan hepatitis C (anti-HCV) konrmasi di laboratorium rujukan dinyatakan non-reaktif, maka hasil pemeriksaan reaktif di puskesmas dianggap sebagai non-reaktif.
2. Bila hasil pemeriksaan hepatitis B pada target sasaran non-reaktif, maka pemeriksaan ulang dilakukan 6 bulan setelah pemeriksaan, dan bila masih non-reaktif, pemeriksaan ulang dilakukan setiap 6-12 bulan berikutnya.
3. Bila hasil deteksi dini hepatitis C pada target sasaran non-reaktif, maka pemeriksaan ulang dilakukan 6 bulan setelah pemeriksaan, dan bila masih non-reaktif, pemeriksaan ulang dilakukan setiap 6-12 bulan berikutnya.
G. Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)
Informasi yang perlu diberikan kepada sasaran sebelum pemeriksaan laboratorium (Tes):
Risiko penularan hepatitis Tes bersifat kondensial
Masyarakat mempunyai hak untuk menolak menjalani tes Bila menolak, perlu membuat pernyataan tertulis
Penolakan menjalani tes, tidak mempengaruhi layanan selanjutnya
Beri kesempatan kepada masyarakat yang diberi KIE untuk mengajukan
pertanyaan kepada petugas.
Pesan atau materi KIE yang disampaikan kepada masyarakat dalam penyuluhan antara lain mencakup penjelasan tentang penyebab, cara penularan, perjalanan penyakit, gejala umum, pengobatan, dan komplikasi hepatitis B dan C.
Kegiatan penyuluhan atau KIE antara lain: 1) Menyediakan dan mendistribusikan media KIE tentang hepatitis B dan C dan faktor risiko; dan 2) Melaksanakan KIE tentang hepatitis B dan C dan faktor risiko dengan berbagai metode, baik perorangan, kelompok, maupun melalui media massa (media cetak, media elektronik) dan interaktif secara verbal, seperti konseling untuk meningkatkan pengetahuan dan diharapkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku.
Media massa yang umumnya digunakan adalah leafet , lembar bailik, poster, banner , buku saku, kipas, kaos, topi, payung, buku saku, radio spot, dan TV.
15
Standar Pelayanan Laboratorium Pemeriksaan Hepatitis B dan C
BAB III
STANDAR PEMERIKSAAN LABORATORIUM
HEPATITIS B DAN C
A.
Pemeriksaan Laboratorium untuk Deteksi Dini Hepatitis B dan C
di Puskesmas
1. Proses pengambilan dan pengolahan spesimen
a. Petugas laboratorium di puskesmas mempersiapkan semua alat dan bahan untuk melakukan ebotomi.
b. Dengan menggunakan APD, darah vena diambil sebanyak 5 ml, dimasukkan ke dalam tabung yang sudah ditempel stiker/label identitas pasien.
c. Catat jumlah tabung sampel yang sudah diambil, letakkan di rak tabung sampel. Diamkan selama ±20 menit. Kemudian bila puskesmas mempunyai sentrifus, langsung dilakukan pemisahan serum dengan memutar selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm.
d. Pemeriksaan hepatitis B dan C di puskesmas dilakukan dengan Rapid Test e. Untuk pemeriksaan konrmasi, serum dikirim ke laboratorium rujukan
dengan volume ±3 ml, dipindahkan ke dalam tabung tutup ulir yang sudah ditempel dengan nomor label yang sama.
f. Seal tabung yang berisi serum dengan paralm untuk menghindari terjadinya tumpahan atau bocor.
g. Letakkan di rak tabung dan bisa disimpan di lemari pendingin dengan suhu (2-8)0C selama 1 minggu sampai dikirim ke laboratorium rujukan.
Tidak boleh dibekukan.
h. Bila puskesmas tidak mempunyai sentrifus, sebaiknya dikirim langsung ke laboratorium rujukan (B/BLK/Labkesda, laboratorium rumah sakit) pada hari yang sama. Letakkan tabung darah beku di rak tabung dan tidak boleh disimpan lebih dari 6 jam di dalam lemari pendingin dengan suhu (2-8)0C untuk menghindari hemolisis. Kirim tabung darah beku di dalam
cool box ke laboratorium rujukan. 2. Kode atau Labeling
Pengkodean atau labeling mulai dari informed consent , kuesioner dan tabung spesimen untuk pemeriksaan hepatitis, HIV dan syphilis dibuat dalam 1 (satu) pengkodean. Kode atau labeling pada kegiatan ini disamakan dengan pengkodean pada pemeriksaan HIV, dengan sedikit penambahan. Bila puskesmas akan merujuk serum ke B/BLK/Labkesda/ rumah sakit untuk pemeriksaan konrmasi, maka pengkodean atau labelling ditempelkan pada tabung serum yang dirujuk.
Cara pengkodean sebagai berikut:
Pengkodean terdiri atas 21 digit dan tidak boleh kosong, dengan cara:
4 digit pertama : Ditulis 4 huruf pertama nama ibu hamil/kelompok masyarakat berisiko tinggi lainnya (jika nama hanya terdiri dari 3 huruf maka digit keempat ditulis angka nol)
Contoh: EKA → EKA0,
DEWI → DEWI, TRISA → TRIS
2 digit kedua : Ditulis 2 angka terakhir tahun kelahiran. Jika tidak tahu/lupa tahun kelahirannya tulis “00”
2 digit ketiga : Ditulis 2 angka bulan kelahiran. Jika tidak tahu/lupa bulan kelahirannya tulis “00”
2 digit keempat : Ditulis 2 angka tanggal kelahiran. Jika tidak tahu/lupa tanggal kelahirannya tulis “00”
2 digit kelima : Ditulis 2 huruf HB untuk pemeriksaan Hepatitis B dan HC untuk pemeriksaan Hepatitis C
2 digit keenam : Ditulis 2 angka. Untuk ibu hamil=19, dan kelompok masyarakat berisiko lainnya sesuai nomor urut, yaitu: 01=WPS, 04=Penasun, 20=Petugas Kesehatan, 21=Mahasiswa Kesehatan, dan lainnya.
4 digit ketujuh : Ditulis 4 angka dengan kode kabupaten/kota. 3 digit kedelapan : Ditulis 3 angka dengan kode fasyankes
Contoh 1 penulisan kode (tulis di pojok kiri): Lili820325HB19-0901-008
Nama ibu hamil: Lili, tahun kelahiran: 82, bulan: 03, tanggal lahir: 25, jenis pemeriksaan: Hepatitis B, sasaran: ibu hamil, Kota: Jakarta Pusat, Fasyankes: Johor Baru.
Contoh 2 penulisan kode, untuk kelompok berisiko : Agus941011HC21-0901-008 Nama kelompok masyarakat berisiko tinggi: Agustian, tahun kelahiran: 94, bulan: 10, tanggal lahir: 11, jenis pemeriksaan: Hepatitis C, sasaran: mahasiswa kesehatan, Kota: Jakarta Pusat, Fasyankes: Johor Baru.
3. Cara pemeriksaan hepatitis B dan C
Pemeriksaan hepatitis B dan C di puskesmas menggunakan Rapid Test . Cara pemeriksaan mengikuti prosedur masing-masing Rapid Test . Sampel dapat berupa serum atau plasma atau darah lengkap. Setiap reaksi positif divisualisasikan sebagai bulatan (dot) atau pita (band ) yang muncul pada strip pemeriksaan. Semua Rapid Test harus menyertakan dot atau pita kontrol yang digunakan untuk menilai validitas hasil pemeriksaan.
Cara pemeriksaan hepatitis B dan C dengan Rapid Test dalam kegiatan deteksi dini hepatitis B dan C sesuai dengan prosedur masing-masing Rapid Test yang digunakan.
4. Cara pengiriman sampel darah ke laboratorium rujukan
a. Masukkan tabung darah kedalam rak tabung dan tempatkan kedalam cool box yang sudah diberi ice pack dengan tutup tabung di bagian atas.
Ice pack dibungkus kedalam koran, agar tidak basah. Jangan sampai tabung serum menempel dengan ice pack .
b. Masukkan daftar sampel kedalam amplop.
17
Standar Pelayanan Laboratorium Pemeriksaan Hepatitis B dan C
d. Beri alamat tujuan dengan lengkap dan beri label hati-hati, bahan cair mudah pecah.
e. Beri nama dan alamat pengirim.
f. Setelah dikirim, petugas puskesmas sebaiknya menelpon petugas di laboratorium rujukan untuk memberitahukan bahwa sampel sudah dikirim.
B. Pemeriksaan Laboratorium Untuk Konrmasi
Enzyme Immunoassay (EIA) dan Chemiluminescent Immunoassay (CLIA) saat ini merupakan metode pemeriksaan yang paling umum digunakan untuk tujuan diagnostik atau uji saring infeksi menular lewat transfusi Darah (IMLTD) pada darah donor. Prinsip EIAs dan CLIAs adalah sama. Perbedaannya hanya dalam model deteksi dari kompleks imun yang terbentuk, yakni terbentuknya warna pada EIAs dan pengukuran cahaya yang terbentuk oleh reaksi kimia pada CLIAs. EIA, dengan sensitivitas yang tinggi akan mendeteksi petanda target dari infeksi. Reagen yang telah dievaluasi dengan baik untuk tujuan diagnostik maupun uji saring harus memenuhi standar. EIAs dan CLIAs cocok untuk pemeriksaan sampel dalam volume besar dan membutuhkan beberapa peralatan khusus. Pemeriksaan ini bisa dikerjakan secara manual atau sistem otomatik yang spesik (sistem tertutup).
C.
Keselamatan dan Keamanan Laboratorium
Spesimen hepatitis B dan C merupakan spesimen risiko tinggi, sehingga perlu kewaspadan tinggi untuk mencegah pajanan. Fasyankes harus menerapkan kewaspadaan standar di laboratorium dengan berbagai tindakan untuk mencegah terjadinya infeksi pada petugas laboratorium, pasien, dan lain-lain.
1. Penanganan limbah laboratorium
Limbah laboratorium adalah bahan buangan infeksius maupun non-infeksius yang bersifat cair (sisa pewarnaan dan bahan kimia) maupun padat (sampel
organ dan media pertumbuhan bakteri) yang dihasilkan dari kegiatan pelayanan laboratorium. Penanganan limbah adalah prosedur untuk menangani limbah guna mencegah terjadinya penularan penyakit akibat bahan infeksius maupun non-infeksius ke manusia maupun lingkungan sekitar melalui tahapan tertentu.
2. Prosedur penanganan limbah infeksius laboratorium
a. Petugas menggunakan sarung tangan dan masker bila perlu sebelum penanganan limbah.
b. Membuang langsung ke wastafel untuk cairan non-infeksius yang mudah larut dalam air dengan dibilas menggunakan kran mengalir sedangkan untuk cairan yang bersifat asam atau basa perlu dinetralkan terlebih dahulu sebelum dibuang.
c. Membuang langsung ke tempat sampah untuk tisu, kertas, botol dan limbah tidak berbahaya atau tidak terkontaminasi mikroorganisme
d. Semua limbah padat yang tercemar darah, cairan tubuh, spesimen laboratorium, jaringan tubuh harus ditempatkan dalam kantong berwarna kuning yang kedap air, tidak bocor dan berlambang biohazard .
e. Pemusnahan limbah padat dilakukan dengan insinerasi. Apabila tidak memiliki incinerator , limbah padat sebaiknya dikelola oleh pihak ketiga. f. Limbah cair harus dibuang melalui IPAL (Instalasi Pen gelolan Air Limbah). g. Limbah cair infeksius berupa pelarut organik, bahan kimia untuk pengujian,
air bekas pencucian alat, sisa spesimen (darah dan cairan tubuh).
h. Desinfektan menggunakan bahan kimia untuk membunuh mikroorganisme yang diaplikasikan pada peralatan.
i. Sterilisasi untuk membunuh mikroorganisme berbahaya menggunakan otoklaf.
j. Insinerasi bahan infeksi dapat digunakan sebagai pengganti otoklaf. 3. Tindakan kewaspadaan bagi petugas laboratorium
Kewaspadaan standar merupakan upaya pengendalian infeksi yang harus diterapkan dalam pelayanan kesehatan kepada semua pasien, setiap waktu, untuk mengurangi risiko infeksi yang ditularkan melalui darah atau cairan tubuh lain.
4. Penerapan kewaspadaan standar
Kewaspadaan standar meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah melakukan tindakan atau perawatan.
b. Penggunaan alat pelindung yang sesuai untuk setiap tindakan seperti sarung tangan, jas laboratorium, celemek, masker, kaca mata pelindung untuk setiap kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lain.
c. Pengelolaan dan pembuangan alat tajam dengan hati-hati.
d. Pengelolaan limbah yang tercemar oleh darah atau cairan tubuh dengan aman.
e. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai dengan melakukan dekontaminasi, disinfeksi dan sterilisasi dengan benar.
D.
Pengendalian Infeksi
Sterilisasi dan disinfeksi merupakan tindakan untuk mencegah terjadinya infeksi virus hepatitis. Cara sterilisasi yang dikomendasikan adalah sterilisasi uap bertekanan (otoklaf atau pressure cooker ), atau panas kering seperti oven. Disinfeksi umumnya menggunakan alkohol 70% atau hipoklorit 5% mampu menginaktifasi virus hepatitis.
19 Pencatatan dan Penomoran
BAB IV
PENCATATAN DAN PELAPORAN
Pencatatan dan pelaporan adalah salah satu indikator keberhasilan suatu kegiatan. Tanpa ada pencatatan dan pelaporan, kegiatan deteksi dini hepatitis B dan C yang dilaksanakan tidak akan terlihat wujudnya. Output dari pencatatan dan pelaporan ini adalah data dan informasi yang berharga dan bernilai bila dilakukan den gan cara yang tepat dan benar.
Tujuan pencatatan dan pelaporan adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan data dan informasi hasil pelaksanaan Deteksi Dini Hepatitis B dan C (DDHBC)
2. Mengidentikasi masalah dan menetapkan prioritas untuk bimbingan teknis dan intervensi
3. Mengetahui keberhasilan kegiatan DDHBC
Untuk itu diperlukan pencatatan dan pelaporan yang baku, berkualitas, akurat dan tepat waktu.
A.
Pencatatan
Ada beberapa pencatatan yang merupakan hasil kegiatan DDHBC, meliputi registrasi dan surat rujukan pengiriman sampel di puskesmas, rekapitulasi di tingkat puskesmas, dinas kesehatan kabupaten/kota, dan dinas kesehatan provinsi (Tabel 1).
Tabel 1. Jenis Form Pencatatan di Puskesmas
No. Kode Form Pencatatan
Peruntukan Lokasi Pencatatan
1. 9B
Registrasi Ibu Hamil yang melakukan Deteksi Dini Hepatitis B, dilakukan oleh pemberi layanan (bidan).
Ruang KIA
2. 9C
Registrasi pemeriksaan HBsAg bagi Ibu Hamil yang melakukan Deteksi Dini Hepatitis B, dilakukan oleh pemberi layanan di Laboratorium (analis).
Ruang Laboratorium
3. 9D
Formulir pengiriman spesimen reaktif hepatitis B yang akan dikonfirmasi ke B/BLK/Labkesda/Laboratorium rumah sakit, dilakukan oleh analis.
Ruang Laboratorium
B.
Pelaporan
Pelaporan DDHBC merupakan penyampaian hasil kegiatan DDHBC atau intervensi yang telah dilaksanakan petugas kesehatan di suatu wilayah kerja dalam kurun
waktu tertentu dengan benar dan tepat waktu.
Pelaporan dalam kegiatan DDHBC ini merupakan data dari pelaksanaan DDHBC dan dilaporkan dalam bentuk tertulis dalam periode Bulanan-Triwulanan-Semesteran secara berjenjang. Jenis pelaporan DDHBC adalah sebagai berikut (Tabel 2):
Tabel 2. Jenis Pelaporan No. Kode Form
Laporan
Jenis Pelaporan
1. Hep.
03.Bumil_Pkm
Laporan Bulanan Rekapitulasi Ibu Hamil Yang Melakukan Deteksi Dini Hepatitis B
Hep.
03.Bumil_Kab
Laporan Triwulan Rekapitulasi Hasil Deteksi Dini Hepatitis B Pada Ibu Hamil
Hep.
03.Bumil_Prov
Laporan Triwulan Rekapitulasi Hasil Deteksi Dini Hepatitis B Pada Ibu Hamil
4. 9E
Rekapitulasi Hasil Pemeriksaan Lanjutan dan Saran Tindak Lanjut bagi Kasus Hepatitis B pada Ibu Hamil di Rumah Sakit, dilakukan oleh pemberi layanan Hepatitis B di Rumah Sakit
Rumah Sakit
5. 10B
Registrasi Registrasi Tenaga Kesehatan Dan Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi Lain Yang Melakukan Deteksi Dini Hepatitis B dan/atau C, dilakukan oleh pemberi layanan.
Ruang Poli Umum
6. 10C
Registrasi Pemeriksaan HBsAg Dan HCV Bagi Tenaga Kesehatan Dan Kelompok Masyarakat Berisiko Lain Yang Melakukan Deteksi Dini Hepatitis B dan/atau C, dilakukan oleh pemberi layanan di laboratorium (analis).
Ruang Laboratorium
7. 10D
Pengiriman spesimen reaktif hepatitis B dan/atau C pada Tenaga Kesehatan dan Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi Lain ke B/BLK/ Labkesda/laboratorium rumah sakit, dilakukan oleh analis.
Ruang Laboratorium
8. 10E
Rekapitulasi Hasil Pemeriksaan Lanjutan dan Saran Tindak Lanjut bagi Kasus Hepatitis B dan/atau C pada Tenaga Kesehatan dan Kelompok Berisiko Lain di Rumah Sakit, dilakukan oleh pemberi layanan Hepatitis B di Rumah Sakit
Rumah Sakit
C. Alur Pelaporan
Dalam kegiatan DDHBC pelaporan dimulai dari puskesmas secara berjenjang hingga Ditjen PP dan PL.
1. Pelaporan tingkat puskesmas
a. Petugas pelaksana deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil (bidan/petugas KIA) mencatat data ibu hamil yang bersedia diperiksa hepatitis B dan data diperoleh dengan melakukan wawancara menggunakan (form) kuesioner dan form 9B.
b. Petugas/penanggung jawab kegiatan DDHBC puskesmas merekapitulasi data layanan hepatitis B pada ibu hamil dari formulir registrasi bumil 9B ke dalam formulir pelaporan puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten/ kota (Hep. 03.Bumil_Pkm)
c. Petugas pelaksana deteksi dini Hepatitis B dan C pada nakes dan kelompok berisiko lain (dokter/perawat poli umum) mencatat nakes dan kelompok berisiko lain yang bersedia diperiksa hepatitis B dan/atau C dan data diperoleh dengan melakukan wawancara menggunakan (form) kuesioner dan form 10B
d. Petugas/penanggung jawab kegiatan DDHBC puskesmas merekapitulasi data layanan hepatitis B dan/atau C pada nakes dan kelompok berisiko lain dari formulir registrasi bumil 10B ke dalam formulir pelaporan puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten/kota (Hep. 03. Nakes&Lain_Pkm)
2. Pelaporan tingkat kabupaten/kota
Pengelola program/kegiatan hepatitis/petugas yang ditunjuk merekapitulasi data kegiatan DDHBC pada ibu hamil (Hep. 03.Bumil_Kab/Kota), tenaga kesehatan dan kelompok masyarakat berisiko tinggi lain (Hep. 03. Nakes&Lain_ Kab/Kota) dari seluruh puskesmas di kabupaten/kota.
3. Pelaporan tingkat provinsi
Pengelola program/kegiatan hepatitis/petugas yang ditunjuk merekapitulasi data kegiatan DDHBC pada ibu hamil (Hep. 03.Bumil_Prov), tenaga kesehatan dan kelompok masyarakat berisiko tinggi lain (Hep. 03.Nakes&Lain_Prov) dari seluruh kabupaten/kota di provinsi.
Pelaporan hasil kegiatan DDHBC dilakukan setiap bulan, dengan ketentuan: 1. Dari puskesmas ke kabupaten/kota paling lambat tanggal 5
2. Dari kabupaten/kota ke provinsi paling lambat tanggal 10 3. Dari provinsi ke pusat paling lambat tanggal 15
23 Pencatatan dan Penomoran
Bagan. Alur Pelaporan Kegiatan Deteksi Dini Hepatitis B dan C
Laporan setiap3 bulan
Laporan setiap 3 bulan
Laporan setiap bulan
Laporan setiap bulan
Alur pelaporan
Umpan balik ( feedback ) pelaporan
DITJEN PP DAN PL c/q
DIT. P2ML
PUSKESMAS
DINKES
KABUPATEN/
KOTA
DINKES PROVINSIB. Jenis Obat Hepatitis B dan C
Pada saat ini terdapat 2 kelompok obat untuk hepatitis B yang digunakan secara luas dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing obat. Kedua kelompok terdiri dari 6 jenis obat, yaitu 1) Interveron; 2) Lamivudin; 3) Adefovir; 4) Entecavir; 5) Telbivudin, dan 6) Tenofovir.
Untuk hepatitis C, pengobatan menggunakan Pegylated Interveron-α (Peg-INF-α) + Ribavirin atau menggunakan obat baru yaitu Sofosbovir + Ribavirin, Sofosbovir + Ledipasvir + 2D ABBVIE, dan kombinasi lainnya.
Sedangkan untuk bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HBsAg reaktif, maka diberikan HBIg lambat <24 jam setelah kelahiran, bersamaan dengan imunisasi Hepatitis B program nasional.
Perhitungan perkiraan kebutuhan HBIg adalah 5% (estimasi) x jumlah ibu hamil yang diperiksa dikurangi stok yang masih ada.
Untuk bahan/alat/obat di laboratorium dan rumah sakit rujukan, memerlukan perhitungan tersendiri sesuai kebutuhan.
C. Kualitas Bahan/Alat/Obat
Kualitas bahan/alat/obat yang digunakan memerlukan perhatian tersendiri. Pada tahun 2014 Direktorat P2ML, Ditjen PP dan PL, Kemenkes RI bekerjasama dengan Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan dan BBLK Jakarta (Tim Teknis), telah melakukan evaluasi kualitas reagen hepatitis B dan C yang beredar di Indonesia. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, maka ditetapkan
kriteria pemilihan reagen sebagai berikut (Tabel 4): Tabel 4. Kriteria Pemilihan Reagen Hepatitis B dan C
Pemilihan reagen (Rapid Test ) untuk deteksi dini hepatitis B dan C adalah berdasarkan sensitivitas dan spesisitas yang paling tinggi.
No.
Kategori
Sensitivitas
(%)
Spesifisitas
(%)
1.
Sangat Tinggi
≥95
≥95
2.
Tinggi
80-94
80-94
3.
Sedang
65-79
65-79
4.
Rendah
50-64
50-64
5.
Sangat Rendah
<50
<50
27
Dafar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
Pedoman Manajemen Pengendalian HDISP, Kemenkes RI, Tahun 2014 Pedoman Nasional Manajemen Program HIV dan AIDS, Tahun 2014
Pedoman Pelayanan Laboratorium Pemeriksaan Hepatitis, Kemenkes RI, Tahun 2014 Pedoman Tatalaksanan dan Rujukan Hepatitis B di Fasyankes, Kemenkes RI,
Tahun 2014
Pedoman Tatalaksana dan Rujukan Hepatitis C di Fasyankes, Kemenkes RI, Tahun 2014
Pedoman Pelaksanaan Pencegahan Penularan HIV dan Silis dari Ibu ke Anak Bagi Tenaga Kesehatan, Kemenkes RI, Tahun 2014.
29
Lampiran
Lampiran
Algoritma 1. Alur Deteksi Dini Aktif Hepatitis B, HIV dan Syphilis pada Ibu Hamil
KUNJUNGAN RUMAH
(Di Ruangan yang Bisa Digunakan Untuk Konseling)
Tawarkan Pemeriksaan Hepatitis B, HIV dan Syphilis
BERSEDIA
1. Diberikan Konseling dan Penandatangan Informed Concent
2. Pengambilan dan Pemisahan Darah di Lokasi Kunjungan
LABORATORIUM PUSKESMAS
1. Data Dicatat dalam Form 9B dan 9F
2. Pemeriksaan Hepatitis B, HIV dan Syphilis
Hasil Pemeriksaan Hepatitis B Reaktif, Konrmasi ke
Laboratorium Rujukan
TINDAK LANJUT
1. Bila hasil konrmasi hepatitis B reaktif, pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan untuk penanganan lebih lanjut.
2. Penanganan selanjutnya sesuai SOP rumah sakit rujukan
3. Pembiayaan menggunakan BPJS/asuransi lainnya atau mandiri
4. Hasil pemeriksaan, penanganan dan rekomendasi tim ahli di rumah sakit rujukan
dikirim ke puskesmas yang merujuk untuk umpan balik.
5. Bila hasil deteksi dini hepatitis B di puskesmas non-reaktif, maka ibu hamil tersebut dilanjutkan pemeriksaan anti-HBs untuk mengetahui ada tidaknya antibodi.
6. Bila hasil pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs non-reakif, maka dianjurkan vaksinasi
hepatitis B sebanyak 3 kali.
7. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang hepatitis B reaktif, diberikan HBIg, vitamin K, dan vaksinasi HB 0 kurang dari 12 jam setelah kelahiran dan vaksinasi hepatitis B berikutnya sesuai program imunisasi nasional.
8. Setelah bayi berusia di atas 9 bulan, dilakukan pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs. 9. Bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HBsAg non-reaktif, diberikan vitamin K, dan HB
0 kurang 12 jam setelah kelahiran dan vaksinasi hepatitis B berikutnya sesuai program imunisasi nasional.
10. Tindak lanjut hasil pemeriksaan HIV dan syphilis sesuai ketentuan Kemenkes RI (Subdit AIDS dan PMS, Direktorat P2ML, Ditjen PP dan PLP).
TIDAK BERSEDIA
(Tawarkan Kembali pada Saat Kunjungan
Rumah Ulang)
TETAP TIDAK
BERSEDIA
PERKENALKAN
KTS
Algoritma 2. Alur Deteksi Dini Aktif Hepatis B dan C pada Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi Lainnya
KUNJUNGAN RUMAH ATAU KOMUNITAS
KELOMPOK MASYARAKAT BERISIKO TINGGI ATAU
MOBILE CLINIC
(Di Ruangan yang Bisa Digunakan Untuk Konseling)
DITAWARKAN PEMERIKSAAN HEPATITIS B DAN C
BERSEDIA
1. Diberikan Konseling dan Penandatangan
Informed Concent
2. Pengambilan dan pemisahan darah di Lokasi Kunjungan
LABORATORIUM PUSKESMAS
1. Data dicatat dalam Form 10B dan 10F 2. Pemeriksaan Hepatitis
B dan C
Hasil Pemeriksaan Hepatitis B Reaktif, Konrmasi ke
Laboratorium Rujukan
TINDAK LANJUT
1. Bila hasil konrmasi menunjukkan hepatitis B atau hepatitis C reaktif, maka pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan.
2. Penanganan selanjutnya sesuai SOP rumah sakit rujukan
3. Pembiayaan menggunakan BPJS/asuransi lainnya atau mandiri 4. Hasil pemeriksaan, penanganan dan rekomendasi tim ahli di rumah
sakit rujukan dikirim ke puskesmas yang merujuk untuk umpan balik.
5. Bila hasil deteksi dini hepatitis B di puskesmas non-reaktif, maka dilanjutkan untuk melakukan pemeriksaan anti-HBs untuk mengetahui ada tidaknya antibodi.
6. Bila hasil pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs non-reakif, maka dianjurkan vaksinasi hepatitis B sebanyak 3 kali.
HEPATITIS C
31
Lampiran
Algoritma 3. Alur Deteksi Dini Pasif Hepatis B, HIV dan Syphilis pada Ibu Hamil
IBU HAMIL PADA KUNJUNGAN ANC PERTAMA KALI (K1)
KE PUSKESMAS
(Datang Sendiri atau Rujukan dari Fasyankes Lainnya)
DITAWARKAN PEMERIKSAAN HEPATITIS B, HIV DAN SYPHILIS)
BERSEDIA
(Diberikan Konseling dan Penandatangan Informed Concent) LABORATORIUM PUSKESMAS (Wawancara dan Pemeriksaan Hepatitis
B, HIV dan Syphilis)
Hasil Pemeriksaan Hepatitis B Reaktif, Konrmasi ke
Laboratorium Rujukan
TIDAK BERSEDIA
(Tawarkan Kembali pada Saat Kunjungan ANC
Ulang)
TETAP TIDAK
BERSEDIA
PERKENALKAN
KTS
TINDAK LANJUT
1. Bila hasil konrmasi hepatitis B reaktif, pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan untuk penanganan lebih lanjut.
2. Penanganan selanjutnya sesuai SOP rumah sakit rujukan
3. Pembiayaan menggunakan BPJS/asuransi lainnya atau mandiri
4. Hasil pemeriksaan, penanganan dan rekomendasi tim ahli di rumah sakit rujukan
dikirim ke puskesmas yang merujuk untuk umpan balik.
5. Bila hasil deteksi dini hepatitis B di puskesmas non-reaktif, maka ibu hamil tersebut dilanjutkan pemeriksaan anti-HBs untuk mengetahui ada tidaknya antibodi.
6. Bila hasil pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs non-reakif, maka dianjurkan vaksinasi
hepatitis B sebanyak 3 kali.
7. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang hepatitis B reaktif, diberikan HBIg, vitamin K, dan vaksinasi HB 0 kurang dari 12 jam setelah kelahiran dan vaksinasi hepatitis B berikutnya sesuai program imunisasi nasional.
8. Setelah bayi berusia di atas 9 bulan, dilakukan pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs. 9. Bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HBsAg non-reaktif, diberikan vitamin K, dan HB
0 kurang 12 jam setelah kelahiran dan vaksinasi hepatitis B berikutnya sesuai program imunisasi nasional.
10. Tindak lanjut hasil pemeriksaan HIV dan syphilis sesuai ketentuan Kemenkes RI (Subdit AIDS dan PMS, Direktorat P2ML, Ditjen PP dan PLP).
Algoritma 4. Alur Deteksi Dini Pasif Hepatis B dan C pada Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi Lainnya
KELOMPOK MASYARAKAT BERISIKO TINGGI LAINNYA (POLI UMUM PUSKESMAS)
(Datang Sendiri atau Rujukan dari Fasyankes Lainnya)
DITAWARKAN PEMERIKSAAN HEPATITIS B DAN C
BERSEDIA
Diberikan Konseling dan Penandatangan
Informed Concent
Hasil Pemeriksaan Hepatitis B Reaktif, Konrmasi ke
Laboratorium Rujukan
TINDAK LANJUT
1. Bila hasil konrmasi menunjukkan hepatitis B atau hepatitis C reaktif, maka pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan.
2. Penanganan selanjutnya sesuai SOP rumah sakit rujukan
3. Pembiayaan menggunakan BPJS/asuransi lainnya atau mandiri 4. Hasil pemeriksaan, penanganan dan rekomendasi tim ahli di rumah
sakit rujukan dikirim ke puskesmas yang merujuk untuk umpan balik.
5. Bila hasil deteksi dini hepatitis B di puskesmas non-reaktif, maka dilanjutkan untuk melakukan pemeriksaan anti-HBs untuk mengetahui ada tidaknya antibodi.
6. Bila hasil pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs non-reakif, maka dianjurkan vaksinasi hepatitis B sebanyak 3 kali.
HEPATITIS C
NON-REAKTIF
PENYULUHAN LABORATORIUM PUSKESMAS (Wawancara dan Pemeriksaan Hepatitis B dan C)33
Dafar Nomor Urut Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi
Daftar Nomor Urut Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi
Nomor Urut Kelompok Masyarakat Berisiko Tinggi
01 WPS
04 Pengguna Jarum Suntik (Penasun)
06 Waria
09 Lelaki seks dengan lelaki (LSL)/Gay 16 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP)
19 Ibu Hamil
20 Petugas Kesehatan 21 Mahasiswa Kesehatan
22 Pasangan/Keluarga yang tinggal serumah dengan penderita Hepatitis B dan C
23 Pasien klinik Infeksi Menular Seksual 24 Orang dengan Infeksi HIV
25 Penerima layanan hemodialisis dan hemophilia
26 Pasien yang mendapatkan transfusi darah lebih dari 1 kali
27 Pasien yang menjalani tindakan bedah umum atau tindakan pada gigi 28 Bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis C
35
Informed Consent
FORMULIR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN
BAGI IBU HAMIL
(INFORMED CONSENT)
Kami meminta anda bersama ibu hamil yang lain untuk ikut serta dalam Deteksi dini Hepatitis B, yang akan melihat besarnya prevalensi Hepatitis B, HIV dan Syphilis ibu hamil. Pengambilan Darah :
Kami akan meminta kesediaan anda untuk diambil darahnya Jumlah darah yang diperlukan sebanyak 6 ml dari lengan anda. Pengambilan darah ini menyebabkan sedikit rasa sakit. Darah tersebut digunakan untuk deteksi dini HBsAg dengan metode Rapid Test di puskesmas. Bila HBSAg reaktif akan dilanjutkan dengan pemeriksaan konrmasi di Laboratorium rujukan dengan metode EIA/CLIA. Apabila hasil konrmasi dideteksi HBsAg reaktif maka selanjutnya akan dirujuk ke Rumah Sakit dengan menggunakan BPJS/asuransi lainnya/mandiri.
Risiko dan Usaha Pengamanan :
Ada risiko sedikit infeksi berkaitan dengan pengambilan darah di lengan anda, tetapi risiko ini dapat dicegah, karena sebelum pengambilan darah, kulit disekitar tempat pengambilan darah akan dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan antiseptik dan menggunakan jarum baru yang steril dan sekali pakai. Manfaat:
Apabila anda diketahui telah terinfeksi virus hepatitis B maka anda akan menularkannya pada bayi anda. Penderita hepatitis B yang ditularkan dari ibu ke bayi nantinya berpotensi menjadi sirosis dan kanker hati yang dapat menyebabkan kematian. Dari deteksi dini ini, apabila anda diketahui terinfeksi virus hepatitis B maka anda akan mendapat manfaat karena bayi anda akan mendapatkan imunisasi Hepatitis B 0 hari ditambah Imunoglobulin Hepatitis B (HBIG) yang akan diberikan paling lambat dalam waktu 24 jam sesudah kelahiran. Pemberian imunisasi ini diharapkan dapat memutus rantai penularan dari ibu kepada bayi yang dilahirkan. Selain itu, anda akan mendapat manfaat lain yaitu anda akan mengetahui apakah anda perlu mendapat terapi hepatitis B sehingga anda akan dirujuk ataupun belum memerlukan terapi. Keikutsertaan anda dalam pemeriksaan ini tidak akan menyebabkan beban keuangan bagi anda atau keluarga anda, karena Negara telah memberikan biaya yang cukup besar. Untuk pemeriksaan laboratorium hepatitis B (pemeriksaan awal sebesar RP 90.000) dan pemberian HBIG untuk bayi dari ibu dengan HBsAg (+) sebesar Rp 2.200.000.
Kerahasiaan :
Catatan mengenai hasil pemeriksaan laboratorium anda akan dirahasiakan, bahkan bila ada kajian lanjutan dari badan kesehatan pemerintah, anda hanya akan dikenal dalam sebuah nomor/kode.
Pertanyaan :
Bila ada pertanyaan mengenai deteksi dini ini, anda dapat menghubungi Subdit Hepatitis, Diare & ISP no 021-42870659 atau Subdit AIDS dan IMS 021-42803901 Partisipasi Sukarela:
Anda tidak akan dan tidak dapat dipaksa untuk mengikuti pemeriksaan ini apabila anda tidak mengehendakinya. Keikutsertaan anda dalam pemeriksaan ini berdasar atas keinginan anda sendiri (bersifat sukarela)
Persetujuan untuk partisipasi:
Saya telah membaca atau dibacakan apa yang tertera di atas dan diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Saya memahami maksud dan manfaat dari deteksi dini ini. Dengan membubuhkan tanda tangan di bawah ini, saya menegaskan bahwa keikut sertaan saya dalam pemeriksaan Hepatitis B bersifat sukarela dan saya telah menerima tembusan dari surat persetujuan ini.
______________________ ________________
Tanda tangan klien Tanggal
_______________________ ________________