MODEL PENGUNGKAPAN INTELLECTUAL CAPITAL PADA
LEMBAGA KEUANGAN YANG TERDAFTAR DI BURSA
EFEK INDONESIA
Saifudin†1dan Lattifah Noer Hidayah2
Fakultas Ekonomi Universitas Semarang (USM) Jalan Soekarno Hatta Semarang 50196 Telp.+6224-6702757
Email: [email protected]
Abstrak
Intellectual capital menjadi modal penting bagi perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji tingkat pengungkapan intellectual capital dalam laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penelitian ini menguji hubungan antara pengungkapan intellectual capital sebagai variabel dependen dan konsentrasi kepemilikan, leverage, komisaris independen, ukuran perusahaan, umur perusahaan dan tipe auditor sebagai variabel independen. Penelitian dilakukan dengan metode data sekunder yang berasal dari data laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013. Sampel penelitian adalah 62 perusahaan perbankan, finance, dan asuransi yang dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat rata-rata pengungkapan intellectual capital hanya sebesar 51,10%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan intellectual capital. Sedangkan konsentrasi kepemilikan, leverage, komisaris independen, umur perusahaan dan tipe auditor tidak berpengaruh signifikan pengungkapan intellectual capital.
Kata Kunci : pengungkapan intellectual capital, konsentrasi kepemilikan, leverage, komisaris independen, ukuran perusahaan, umur perusahaan dan tipe auditor.
Abstract
Intellectual capital become an important capital for the company in developing its business. This study aimed to test the level of intellectual capital disclosure in annual reports of listed companies in Indonesian Stock Exchange (IDX). This study examines the relationship between intellectual capital disclosure as the dependent variable and the ownership concentration, leverage, independent commissioners, company size, company age, and type of auditor as the independent variables.
The research was conducted using secondary data from company financial report and annual report are listed in the IDX in 2013. The research samples were 62 banking, finance, and insurance
companies which have been selected using purposive sampling method. The analysis method used was multiple linear regression.
The results show that the average level of intellectual capital disclosure is only 51,10%. The results also show that the company size has an effect and significant on intellectual capital disclosure. Mean while average, ownership concentration, leverage, independent commissioners, company age, and type of auditor have no effect on intellectual capital disclosure.
Keywords : intellectual capital disclosure, ownership concentration, leverage, independent commissioners, company size, company age, and type of auditor
1. Latar Belakang Masalah
Globalisasi telah mensiratkan bahwa kompetisi berjalan sangat ketat. Yang mana dalam dunia bisnis, pengetahuan untuk memanfaatkan sumber daya dengan efisien
adalah sebuah kebutuhan dan dapat
digunakan sebagai strategi untuk bersaing
(Meizaroh dan Lucyanda, 2012).
Ditambahkan pula oleh, Suwarjuwono dan Kadir (2003) dalam Marisanti dan Kiswara (2012) menyatakan bahwa agar dapat terus
bertahan dengan cepat
perusahaan-perusahaan mengubah dari bisnis yang didasarkan pada tenaga kerja (labor-based business) menuju knowledge based business
(bisnis berdasarkan pengetahuan), dengan karakteristik utama ilmu pengetahuan.
Yuniasih, dkk (2011) menyatakan
bahwa transparansi informasi yang
diungkapkan dalam pengungkapan wajib
tidak cukup menggambarkan kondisi
perusahaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, perusahaan melakukan pengungkapan sukarela untuk mempengaruhi pasar. Salah
satu informasi yang termasuk dalam
pengungkapan sukarela yaitu tentang modal intelektual (intellectual capital). Menurut Mavridis (2005) dalam Artinah (2013),
intellectual capital adalah suatu aset tidak berwujud dengan kemampuan memberi nilai kepada perusahaan dan masyarakat meliputi paten, hak atas kekayaan intelektual, hak cipta dan waralaba.
Dalam kenyataannya semenjak
pemerintah menegaskan peraturan mengenai
perlakuan dan pengungkapan intellectual capital yang dituangkan dalam IAS 38 atau PSAK pasal 19, ternyata sampai saat ini masih terdapat keterbatasan atas kesadaran
dari pemangku kepentingan mengenai
pentingnya pelaporan intellectual capital.
Hal ini terlihat dari sedikitnya perusahaan yang telah terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) yang telah melakukan
pengungkapan intellectual capital
(Zulkarnaen dan Mahmud, 2013).
Pengungkapan intellectual capital menjadi tantangan bagi setiap perusahaan untuk
dapat mengelola modal intelektualnya
dengan sebaik-baiknya. Hal ini dilakukan perusahaan agar tetap bertahan di dalam dunia perekonomian saat ini dan di masa datang, mengingat ketatnya persaingan yang ada.
Ada beberapa alasan yang
mendukung penelitian tentang
pengungkapan modal intelektual menarik
untuk dilakukan, antara lain karena
pemerintah akan memperbesar insentif pajak bagi perusahaan yang mau melakukan penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D) di Indonesia.
Dengan semakinmeningkatnya aktivitas
R&D diharapkan dapat memacu
perkembangan industri di berbagai sektor dan meningkatkan perhatian perusahaan terhadap pentingnya intellectual capital dan pengungkapannya.
Alasan yang lain didasarkan pada
survey global yang dilakukan oleh Taylor and Associates padatahun 1998. Hasil
survey tersebut menunjukkan bahwa ternyata isu-isu tentang intellectual capital disclosure merupakan salah satu dari 10 jenis informasi yang dibutuhkan user. Namun, pada kenyataannya tipe informasi yang dipertimbangkan oleh investor tersebut tidak diungkapkan sehingga menyebabkan terjadinya“information gap” (Bozzolan et al,
2006 dalam Nugroho, 2012). Selanjutnya
Nugroho (2012) menyatakan bahwa
banyaknya pengungkapan wajib yang
disyaratkan oleh profesi akuntansi hanya
berkaitan dengan physical capital.
Sedangkan hal yang juga mempengaruhi
pengambilan keputusan investasi oleh
perusahaan adalah mengenai intellectual capital. Hal ini menimbulkan kesenjangan informasi terkait pengambilan keputusan investasi.
Alasan yang terakhir yakni Indonesia segera memasuki era Masyarakat Ekonomi
ASEAN(ASEAN Economic Community)
pada tahun 2015 yang merupakan salah satu
pilar dalam ASEAN Community. Namun
dunia bisnis di Indonesia kurang memiliki keunggulan kompetitif yang menyebabkan rendahnya daya saing dan kurangnya
kemampuan untuk mempertahankan
eksistensi perusahaan. Dalam hal ini peran
intellectual capital dan pengungkapannya menjadi sangat penting mengingat ketatnya persaingan yang akan dihadapi.
Banyak peneliti yang meneliti
tentang hubungan variabel independen dengan variabel dependen pengungkapan
intellectual capital. Menurut penelitian terdahulu terdapat hasil yang berbeda-beda
antara hubungan variabel independen
dengan variabel dependen pengungkapan
intellectual capital. Dalam penelitian Rahim,
et al (2011), leverage, ukuran perusahaan, dan tipe auditor tidak berpengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital. Begitu pula dengan penelitian Nugroho (2012) yang
menyimpulkan bahwa konsentrasi
kepemilikan, leverage, komisaris
independen, ukuran perusahaan, umur
perusahaan, dan tipe auditor tidak
berpengaruh terhadap pengungkapan
intellectual capital. Namun, dalam penelitian Ferreira, et al (2012), ukuran perusahaan dan tipe auditor berpengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital. Dalam penelitian Artinah (2013) juga
menunjukkan bahwa konsentrasi
kepemilikan dan ukuran perusahaan
berpengaruh terhadap pengungkapan
intellectual capital.
Penelitian ini ingin menguji kembali
faktor-faktor yang mempengaruhi
pengungkapan intellectual capital dalam
annual report. Variabel independen terdiri atas konsentrasi kepemilikan, leverage, komisaris independen, ukuran perusahaan, umur perusahaan, dan tipe auditor.
2. Landasan Teori
Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan Terhadap Pengungkapan Intellectual Capital
Singhvi dan Desai (1971) dalam Widowati (2011) mengemukakan alasan mengapa distribusi kepemilikan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas pengungkapan di dalam laporan tahunan.
Pertama, perusahaan dengan jumlah
stockholders yang besar cenderung untk menjadi perhatian publik, oleh karena tekanan dari stockholders dan analis maka pengungkapan dilakukan dengan lebih baik.
Kedua, perusahaan dengan jumlah
stockholders yang besar mungkin mengungkapkan informasi lebih besar untuk meminimalisasi tekanan yang besar oleh
regulatory agencies. Ketiga, untuk memenuhi permintaan marketibilitas pada sekuritas perusahaan maka perusahaan dengan jumlah stockholders yang besar
cenderung untuk lebih banyak
dengan jumlah stockholders yang semakin meningkat, manajer perusahaan semakin sadar untuk lebih banyak mengungkapkan
informasi sebagai bentuk
pertanggungjawaban sosial. Penelitian yang dilakukan Artinah (2013) menunjukkan adanya pengaruh konsentrasi kepemilikan terhadap pengungkapan intellectual capital.
Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis
pertama adalah sebagai berikut :
H1 : Terdapat pengaruh signifikan
konsentrasi kepemilikan terhadap
pengungkapan intellectual capital.
Pengaruh Leverage Terhadap
Pengungkapan Intellectual Capital Semakin tinggi rasio ini maka akan semakin buruk kinerja perusahaan oleh
karena itu perusahaan berusaha
mengungkapkan secara sukarela modal
intelektual yang dimilikinya untuk
mengurangi kekhawatiran investor atas investasi yang ditanamkan serta sebagai
pertanggungjawaban manajer dalam
pengelolaan perusahaan. Hasil penelitian White, et al(2007) dalam Rahim, et al
(2011) menunjukkan bahwa leverage
berpengaruh terhadap pengungkapan
intellectual capital. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis kedua adalah sebagai berikut :
H2 : Terdapat pengaruh signifikan leverage
terhadap pengungkapan intellectual capital.
Pengaruh Komisaris Independen Terhadap Pengungkapan Intellectual Capital
Brickley dan James (1987) dalam Yuniasih, dkk (2011) menyatakan bahwa selain berperan dalam aktivitas pengawasan,
keberadaan outside directors akan
membantu manajemen menyusun strategi bisnis dengan keahlian dan pengetahuan mengenai teknologi dan pasar yang dimiliki oleh mereka. Salah satu bentuk perlindungan yang dapat dilakukan komisaris independen adalah dengan melakukan pengungkapan
yang lebih luas. Hasil penelitian Cerbioni dan Parbonetti (2007) dalam Yuniasih, dkk (2011) menunjukkan bahwa komisaris
independen berpengaruh terhadap
pengungkapan intellectual capital.
Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis ketiga adalah sebagai berikut :
H3 : Terdapat pengaruh signifikan komisaris
independen terhadap pengungkapan
intellectual capital.
Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Pengungkapan Intellectual Capital Purnomosidhi (2005) dalam Artinah (2013) menyatakan ukuran perusahaan digunakan sebagai variabel independen dengan asumsi bahwa perusahaan yang lebih besar melakukan aktivitas yang lebih banyak dan biasanya memiliki banyak unit usaha dan memiliki potensi penciptaan nilai jangka panjang. Tingkat pengungkapan informasi yang tinggi akan mengarahkan investor untuk merevisi penilaian mereka terhadap harga saham perusahaan dan meningkatkan likuiditas sahamnya. Hasil penelitian Lina (2013) dan Artinah (2013) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital.
Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis
keempat sebagai berikut :
H4 : Terdapat pengaruh signifikan ukuran
perusahaan terhadap pengungkapan
intellectual capital.
Pengaruh Umur Perusahaan Terhadap Pengungkapan Intellectual Capital Wallace et al. (1994) dan Li et al. (2008) dalam Meizaroh dan Lucyanda (2012) mengungkapkan bahwa semakin panjang umur perusahaan akan memberikan pengungkapan informasi yang lebih luas dibanding perusahaan lain yang umurnya lebih pendek dengan alasan perusahaan tersebut memiliki pengalaman lebih dalam
pengungkapan laporan tahunan. Hasil
umur perusahaan berpengaruh terhadap
pengungkapan modal
intelektual.Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis kelima adalah sebagai berikut : H5 : Terdapat pengaruh signifikan umur
perusahaan terhadap pengungkapan
intellectual capital.
Pengaruh Tipe AuditorTerhadap Pengungkapan Intellectual Capital
Auditor Big Four cenderung menginginkan kualitas pengungkapan yang lebih tinggi dalam annual report perusahaan klien untuk melakukan lebih banyak pengungkapan (Wallace dan Naser, 1995 dalam Setiono dan Rudiawarni, 2012). Hasil
penelitian Ferreira, et al (2012)
menunjukkan bahwa tipe auditor
berpengaruh positif terhadap pengungkapan
intellectual capital.Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis keenam adalah sebagai berikut :
H6 : Terdapat pengaruh signifikan tipe
auditor terhadap pengungkapan intellectual capital.
Gambar 1 Kerangka Pemikiran
3. Metodologi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan, finance, dan asuransi yang terdaftar di BEI pada tahun 2013 karena merupakan bagian dari industri jasa keuangan yang bersifat knowledge intensive
karena aktivitasnya lebih banyak
memanfaatkan intellectual capital
dibandingkan industri manufaktur yang lebih banyak menggunakan aset fisik dan periode tersebut digunakan sebagai sampel dalam
penelitian ini karena dianggap telah
mewakili kondisi akhir keuangan perusahaan sebelum penelitian dilakukan.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini
dilakukan secara purposive sampling,
dengan kriteria sebagai berikut: (1)
perusahaan perbankan, finance dan asuransi yang terdaftar di BEI untuk tahun 2013 yang dapat diakses saat pengumpulan data dilakukan; (2) mempublikasikan laporan tahunan (annual report) lengkap selama tahun 2013.
Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan data
dokumentasi. Data dokumentasi yang
diperoleh dari data-data sekunder yang meliputi laporan keuangan, annual report, dan informasi perusahaan atau berbagai artikel dan jurnal. Analisis data dalam
penelitian ini menggunakan statistik
deskriptif dan pengujian hipotesis. Uji hipotesis yang digunakan untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah analisis regresi berganda. Model regresi yang digunakan yaitu:
Y = α + b1X1 +b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 +
b6X6 + e
Keterangan:
α : Nilai konstanta b1, b2, dst : Koefisien regresi X1 : Konsentrasi kepemilikan X2 :Leverage X3 : Komisaris independen X4 : Ukuran perusahaan X5 : Umur perusahaan X6 : Tipe auditor e : Error
Tabel 1
Definisi Operasional Variabel
Nama Variabel Definisi Variabel Indikator
Pengungkapan
Intellectual Capital
Pengungkapan modal intelektual yang dilakukan perusahaan.
Score = (Σdi / M) x 100%
di : pengungkapan
intellectual capital oleh perusahaan
M : jumlah item yang
diukur Konsentrasi
Kepemilikan
Sejumlah saham
perusahaan yang tersebar dan dimiliki oleh beberapa pemegang saham.
Persentase kepemilikan saham terbesar yang dimiliki oleh pemegang saham tertinggi perusahaan
Leverage Pengukur besarnya aset yang dibiayai dengan hutang.
Leverage = Total Hutang / Total Aset
Komisaris Independen
Anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya.
Persentase pembagian jumlah komisaris
independen dengan jumlah komisaris yang ada pada perusahaan.
Ukuran Perusahaan
Gambaran besar kecilnya perusahaan yang
ditunjukkan dengan nilai total aset.
Total aset yang dimiliki perusahaan
Umur Perusahaan Awal perusahaan beroperasi hingga
perusahaan tersebut dapat mempertahankan
eksistensinya dalam dunia bisnis.
Tanggal mulai
beroperasinya perusahaan sampai dengan tanggal 31 Desember 2013 (dalam hitungan tahun)
Tipe Auditor Kantor audit yang
mengaudit perusahaan sampel.
Big Four = 1 Non Big Four = 0
4. Hasil dan Pembahasan Statistik Deskriptif
Tabel 2
Statistik Deskriptif Variabel Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean
Std. Deviation Pengungkapan Intellectual Capital 62 .08 .76 .5110 .15320 Konsentrasi Kepemilikan 62 16.70 100.00 54.9402 22.71039 Leverage 62 .01 .93 .7715 .18242 Komisaris Independen 62 20.00 100.00 52.9134 14.11335 Ukuran Perusahaan 62 24.57 34.23 29.8907 2.13551 Umur Perusahaan 62 8.00 118.00 41.1774 23.49574 Tipe Auditor 62 0 1 .55 .502 Valid N (listwise) 62
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2014.
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Tipe Auditor Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Non Big
Four 28 45.2 45.2 45.2
Big Four 34 54.8 54.8 100.0
Total 62 100.0 100.0
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2014.
Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah unit analisis dalam penelitian (N) adalah 62. Variabel pengungkapan intellectual capital
dari sampel perusahaan memiliki nilai minimum sebesar 0,08 yang diperoleh PT Capitalinc Investment Tbk. Nilai maksimum
sebesar 0,76 diperoleh PT Bank
Internasional Indonesia Tbk. Rata-rata untuk variabel pengungkapan intellectual capital
sebesar 0,5110.Variabel konsentrasi
kepemilikan memiliki nilai minimum
sebesar 16,70 yang diperoleh PT Bank Artha Graha Internasional Tbk. Nilai maksimum sebesar 100,00 diperoleh PT Bank Mutiara Tbk. Rata-rata untuk variabel konsentrasi kepemilikan sebesar 54,9402. Variabel
leverage memiliki nilai minimum sebesar
Erapacific Tbk. Nilai maksimum sebesar 0,93 diperoleh PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk. Rata-rata untuk variabel leverage
sebesar 0,7715. Variabel komisaris
independen memiliki nilai minimum sebesar 20,00 yang diperoleh PT Asuransi Dayin Mitra Tbk. Nilai maksimum sebesar 100,00 diperoleh PT Bank ICB Bumiputera Tbk.
Rata-rata untuk variabel komisaris
independen sebesar 52,9134.
Variabel ukuran perusahaaan
memiliki nilai minimum sebesar 24,57 yang diperoleh PT Danasupra Erapacific Tbk
dengan total aset sebesar Rp
46.701.674.122. Nilai maksimum sebesar 34,23 diperoleh PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk dengan total aset sebesar Rp
733.099.762.000.000. Rata-rata untuk
variabel ukuran perusahaan sebesar 29,8907. Variabel umur perusahaan memiliki nilai minimum sebesar 8,00 yang diperoleh PT Indomobil Multi Jasa Tbk. Nilai maksimum sebesar 118,00 diperoleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Rata-rata untuk variabel umur perusahaan sebesar 41,1774.
Variabel tipe auditor memiliki nilai
minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 1. Rata-rata untuk variabel tipe
auditor sebesar 0,55, hal ini
mengindikasikan bahwa perusahaan yang
dijadikan sampel lebih banyak
menggunakan KAP yang termasuk dalam
kategori Big Four. Perusahaan yang
menggunakan KAP Big Four sebanyak 34
sampel atau 54,8 persen, sedangkan
perusahaan yang tidak menggunakan KAP
Big Four sebanyak 28 sampel atau 45,2 persen.
Uji Asumsi Klasik
Gambar 1 Uji Normalitas
Grafik
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2014.
Dari tampilan grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal, serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas.
Tabel 4 Uji Normalitas Statistik
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardiz ed Residual
N 62
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation .10492269 Most Extreme Differences Absolute .087 Positive .081 Negative -.087 Kolmogorov-Smirnov Z .686
Asymp. Sig. (2-tailed) .734
a. Test distribution is Normal. Sumber : Data sekunder yang diolah, 2014.
Besarnya nilai Kolmogorov-Smirnov adalah 0,686 dengan tingkat signifikansi jauh di atas 0,05, yaitu 0,734. Dengan kata lain bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov tidak signifikan, berarti residual terdistribusi secara normal. Tabel 5 Uji Multikolinieritas Coefficientsa Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 Konsentrasi Kepemilikan .805 1.242 Leverage .581 1.721 Komisaris Independen .833 1.200 Ukuran Perusahaan .531 1.884 Umur Perusahaan .793 1.261 Tipe Auditor .646 1.549
a. Dependent Variable: Pengungkapan Intellectual Capital
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2014.
Hasil perhitungan nilai Tolerance
menunjukkan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai Tolerance kurang dari 0,10 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen yang nilainya lebih dari 95 persen. Hasil perhitungan VIF juga menunjukkan bahwa tidak ada variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak
ada multikolinieritas antar variabel
independen dalam model regresi.
Tabel 6 Uji Autokorelasi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .729a .531 .480 .11050 1.909
a. Predictors: (Constant), Tipe Auditor, Komisaris Independen, Umur Perusahaan, Konsentrasi Kepemilikan, Leverage, Ukuran Perusahaan b. Dependent Variable: Pengungkapan Intellectual Capital
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2014.
Nilai DWhitung sebesar 1,909 akan
dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan derajat kepercayaan 5%, jumlah sampel 62 dan jumlah variabel independen 6. Oleh karena nilai DWhitung
lebih besar daripada batas atas 1,8066 dan lebih kecil daripada 4 – du = 4 – 1,8066 =
2,1934, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi positif dan negatif dalam model.
Tabel 7 Uji Heteroskedastisitas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .188 .141 1.336 .187 Konsentrasi Kepemilikan .001 .000 .236 1.729 .089 Leverage -.041 .061 -.107 -.665 .509 Komisaris Independen .000 .001 -.120 -.895 .375 Ukuran Perusahaan -.002 .005 -.060 -.358 .721 Umur Perusahaan .000 .000 -.061 -.443 .660 Tipe Auditor -.039 .021 -.284 -1.866 .067
a. Dependent Variable: AbsUi
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2014.
Hasil tampilan luaran SPSS dengan jelas menunjukkan variabel konsentrasi
kepemilikan, leverage, komisaris
independen, ukuran perusahaan, umur
perusahaan, dan tipe auditor memiliki nilai signifikansi 0,089; 0,509; 0,375; 0,721; 0,660; dan 0,067 yang kesemuanya di atas
0,05. Berarti tidak terdapat
heteroskedastisitas dalam model ini, dengan kata lain semua variabel independen yang terdapat dalam model ini memiliki sebaran varian yang sama/ homogen.
Pengujian Hipotesis Tabel 8
Uji Regresi Berganda
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -.695 .235 -2.962 .005 Konsentrasi Kepemilikan .001 .001 .081 .786 .435 Leverage .150 .102 .178 1.472 .147 Komisaris Independen .001 .001 .057 .568 .573 Ukuran Perusahaan .033 .009 .455 3.588 .001 Umur Perusahaan .001 .001 .147 1.421 .161 Tipe Auditor .024 .035 .078 .677 .501
a. Dependent Variable: Pengungkapan Intellectual Capital
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2014.
Dari tabel 7, maka persamaan regresi akhir adalah sebagai berikut :
ICD = -0,695 + 0,001OWN + 0,150LEV + 0,001IND + 0,033SIZE + 0,001 AGE + 0,024AUD + e
Variabel konsentrasi kepemilikan secara statistik menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada α = 0,05, yaitu sebesar 0,435. Jadi konsentrasi kepemilikan tidak
berpengaruh terhadap pengungkapan
intellectual capital, sehingga H1 ditolak. Variabel leverage secara statistik menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada α = 0,05, yaitu sebesar 0,147. Jadi
leverage tidak berpengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital, sehingga
H2 ditolak.
Variabel komisaris independen
secara statistik menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada α = 0,05, yaitu sebesar
0,573. Jadi komisaris independen tidak
berpengaruh terhadap pengungkapan
intellectual capital, sehingga H3 ditolak. Variabel ukuran perusahaaan secara statistik menunjukkan hasil yang signifikan pada α = 0,05, yaitu sebesar 0,001. Jadi ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital, sehingga H4 diterima.
Variabel umur perusahaan secara statistik menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada α = 0,05, yaitu sebesar
0,161. Jadi umur perusahaan tidak
berpengaruh terhadap pengungkapan
intellectual capital, sehingga H5 ditolak. Variabel tipe auditor secara statistik menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada α = 0,05, yaitu sebesar 0,501. Jadi tipe
auditor tidak berpengaruh terhadap
pengungkapan intellectual capital, sehingga
H6 ditolak. Tabel 8 Koefisien Determinasi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .729a .531 .480 .11050 1.909
a. Predictors: (Constant), Tipe Auditor, Komisaris Independen, Umur Perusahaan, Konsentrasi Kepemilikan, Leverage, Ukuran Perusahaan b. Dependent Variable: Pengungkapan Intellectual Capital
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2014.
Tampilan luaran SPSS model
summary menunjukkan besarnya adjusted R2
sebesar 0,480, hal ini berarti 48 persen variasi pengungkapan intellectual capital
(ICD) dapat dijelaskan oleh variasi dari
enam variabel independen konsentrasi
kepemilikan, leverage, komisaris
independen, ukuran perusahaan, umur
perusahaan, dan tipe auditor. Sedangkan
sisanya 52 persen dijelaskan oleh sebab-sebab lain di luar model.
Pembahasan
Konsentrasi kepemilikan tidak
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan intellectual capital dengan tingkat signifikansi 5 persen. Konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan kebijakan atau keputusan sepihak karena adanya voting right (hak suara) dalam RUPS, sehingga hasil yang dicapai tidak maksimal, kebijakan perusahaan tidak efektif dan pencapaian tujuan kurang baik. Dengan keadaan itu, maka governance dalam perusahaan kurang
optimal sehingga dengan otomatis
intellectual capital tidak terungkapkan dengan luas. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Nugroho (2012) dan Ferreira, et al (2012) yang menyimpulkan
bahwa konsentrasi kepemilikan tidak
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan intellectual capital.
Leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan
intellectual capital dengan tingkat signifikansi 5 persen. Tinggi atau rendahnya tingkat leverage suatu perusahaan bukanlah
penentu kebijakan manajemen dalam
mengungkapkan informasi perusahaan.
Sehingga walaupun kinerja keuangan suatu perusahaan tersebut buruk, perusahaan tetap
melakukan pengungkapan intellectual
capital dengan sebaik-baiknya. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Rahim, et al (2011), Nugroho (2012), Ferreira, et al (2012),dan Artinah (2013) yang menyimpulkan bahwa leverage
tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan intellectual capital.
Komisaris independen tidak
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan intellectual capital dengan tingkat signifikansi 5 persen. Jumlah komisaris independen yang besar pada suatu
perusahaan tidak optimal karena akan mengganggu fungsi dan tugas komisaris independen. Dengan komisaris yang besar, maka tugas dan wewenangnya mengawasi manajemen tidak optimal sehingga tingkat konservatisme menyebabkan tidak optimal
yang mengakibatkan tidak optimalnya
informasi yang diungkapkan. Hasil
penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Nugroho (2012) dan Artinah
(2013) yang menyimpulkan bahwa
komisaris independen tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap
pengungkapan intellectual capital.
Ukuran perusahaan berpengaruh
signifikan terhadap pengungkapan
intellectual capital dengan tingkat signifikansi 5 persen, dengan arah koefisien positif. Marwata (2001) dalam Artinah
(2013) menyatakan bahwa perusahaan
dengan sumber daya yang relatif kecil mungkin tidak memiliki informasi siap saji sebagaimana perusahaan besar, sehingga perlu ada tambahan biaya yang relatif besar untuk dapat melakukan pengungkapan selengkap yang dilakukan perusahaan besar. Perusahaan kecil umumnya berada pada situasi persaingan yang ketat dengan perusahaan yang lain. Mengungkapkan terlalu banyak tentang jati dirinya kepada
pihak eksternal dapat membahayakan
posisinya dalam persaingan sehingga
perusahaan kecil cenderung tidak melakukan pengungkapan selengkap perusahaan besar. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Ferreira, et al (2012), Lina (2013), dan Artinah (2013) yang menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap
pengungkapan intellectual capital.
Umur perusahaan tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap
pengungkapan intellectual capital dengan tingkat signifikansi 5 persen. Semakin lama umur perusahaan belum tentu semakin baik tingkat pemahaman dan pengalamannya
terkait pengungkapan intellectual capital.
Umur perusahaan tidak bias jadi tolak ukur tingginya pengungkapan intellectual capital
karena fungsi dan peran governance yang kurang optimal, sehingga perusahaan yang mempunyai umur kecil atau barupun dengan
Good Corporate Governance (GCG) dapat mengungkapkan intellectual capital yang
tinggi dibanding perusahaan yang
mempunyai umur lama. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Nugroho
(2012) dan Artinah (2013) yang
menyimpulkan bahwa umur perusahaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan intellectual capital.
Tipe auditor tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan
intellectual capital dengan tingkat
signifikansi 5 persen. Dengan hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa KAP non
Big Four juga meminta kliennya untuk menyajikan laporan tahunan yang lebih detail guna menjaga reputasi KAP non Big Four. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Rahim, et al (2011) yang menyimpulkan bahwa tipe auditor tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan intellectual capital.
5. Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dijelaskan diatas, maka dapat diambil kesimpulan yaitu tidak terdapat pengaruh
signifikan konsentrasi kepemilikan,
leverage, komisaris independen, umur perusahaan, dan tipe auditor terhadap pengungkapan intellectual capital pada lembaga keuangan yang terdaftar di BEI. Sedangkan ukuran perusahaan berpengaruh
signifikan terhadap pengungkapan
intellectual capital pada lembaga keuangan yang terdaftar di BEI.
Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilaksanakan, keterbatasan dalam penelitian ini adalah besarnya adjusted R2
hanya 0,480, hal ini berarti 48 persen variasi pengungkapan intellectual capital (ICD) dapat dijelaskan oleh variasi dari enam
variabel independen konsentrasi
kepemilikan, leverage, komisaris
independen, ukuran perusahaan, umur
perusahaan, dan tipe auditor. Sedangkan sisanya 52 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diamati dalam penelitian ini.
Agenda penelitian yang akan datang sebaiknya menggunakan variabel lain selain
konsentrasi kepemilikan, leverage,
komisaris independen, ukuran perusahaan, umur perusahaan dan tipe auditor dalam pengungkapan intellectual capital. Peneliti yang akan datang hendaknya menggunakan variabel independen tidak hanya terbatas pada karakteristik perusahaan saja, tetapi
juga menggunakan variabel eksternal
lainnya. Diharapkan objek penelitian lebih diperluas dengan objek penelitian semua perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
6. Saran
Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka terdapat beberapa saran yaitu bagi investor dan
masyarakat, sebaiknya memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi
pengungkapan intellectual capital.Hal ini mengindikasikan bahwa apabila perusahaan tidak mengungkapkan intellectual capital
secara maksimal, dipastikan ada masalah dalam hal yang berhubungan dengan kinerja keuangan atau manajemen. Selanjutnya bagi
perusahaan, diharapkan lebih
memperhatikan pengungkapan intellectual
capital, hal ini dilakukan agar menghindari penilaian kurang baik yang diberikan publik
terhadap perusahaan, sehingga image
perusahaan bisa turun.
REFERENSI
Artinah, Budi. 2013. “Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pengungkapan
Intellectual Capital pada Lembaga Keuangan yang Terdaftar di Bursa
Efek Indonesia”. Jurnal
Socioscientia, Vol. 5, No. 2, hlm. 235-242.
Ferreira, Ana Lucia, et al. 2012. “Factors
Influencing Intellectual Capital
Diclosure by Portuguese
Companies”.International Journal of Accounting and Financial Reporting, Vol.2, No. 2, hlm.278-298.
Ghozali, Imam. 2012. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 20 Edisi 6. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Lina. 2013. “Faktor- Faktor Penentu Pengungkapan Modal Intelektual”. Media Riset Akuntansi, Vol. 3, No. 1, hlm. 48-64.
Marisanti dan Endang Kiswara. 2012. “Analisis Hubungan Profitabilitas Terhadap Pengungkapan Intellectual Capital”. Diponegoro Journal Of Accounting, Vol. 1, No. 2, hlm. 1-11.
Meizaroh dan Jurica Lucyanda. 2012. “Pengaruh Corporate Governance,
Kinerja Perusahaan, dan Umur
Perusahaan Terhadap Pengungkapan Modal Intellectual”. Media Riset Akuntansi, Vol. 2, No. 1, hlm. 65-81. Nugroho, Ahmadi. 2012. “Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Intellectual
Capital Disclosure (ICD)”
Accounting Analysis Journal, Vol. 1, No. 2, hlm.1-11.
Purwanto, Agus. 2011. “Pengaruh Struktur Kepemilikan Perusahaan Terhadap Intellectual Capital Performance”. Jurnal Prestasi, Vol. 8, No. 2, hlm. 11-33.
Rahim, Azlina, et al. 2011. “Intellectual
Capital Reporting in Malaysian Technology Industry”. Asian Journal of Accounting and Governance 2 : 51-59.
Setiono, Isyana Ningsih dan Felizia Arni
Rudiawarni. 2012. “Analisis
Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Human Capital Disclosure pada Perusahaan High IC Intensive Industries yang Terdaftar di BEI Periode 2009-2011”. Jurnal Calyptra, Vol. 1, No. 1, hlm. 1-16.
Widowati, Amerti Irvin. 2011.
“Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Pelaporan Aset Tak Berwujud pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI”. Seminar Nasional dan Call for Paper.
Yuniasih, Ni Wayan, dkk. 2011. “Pengaruh
Diversitas Dewan pada Luas
Pengungkapan Modal Intelektual”. Simposium Nasional Akuntansi XIV Aceh.
Zulkarnaen, Eric Iskandarsjah dan Amir Mahmud. 2013. “Pengaruh Good
Corporate Governance Terhadap
Luas Pengungkapan Intellectual
Capital”. Jurnal Dinamika