Penurunan Kandungan Protein Ransum terhadap Respon Ayam
KUB Umur 7 - 12 Minggu
(Decrease in Protein Content of Rations against Response of KUB
Chicken Age 7 - 12 Weeks)
Takdir M, Wardi, Asnidar
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tengah, IP2TP Sidondo Jl. Poros Palu-Kulawi Sidondo III, Sigi Biromaru, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah 94364, Indonesia
[email protected] ABSTRACT
The study was aimed to examine the effect of decreasing protein content of rations on the response of KUB chickens aged 7 - 12 weeks. The number of KUB chickens sampled was 25, randomly selected from a total population of 200 tail. Decrease in protein content of rations is carried out gradually every week, starting from the 7th to 12th week. Data analysis was carried out descriptively on measured variables including final body weight (g/head), daily body weight gain (g/head/day) and ration conversion. The results showed that the average KUB chicken body weight at the age of 12 weeks was 1,123.9 g/head, or an increase of 703.9 g/head. The highest body weight gain was 161.3 g/head and the average daily body weight gain of 23 g/head/day was obtained in 11 weeks KUB chickens who were given rations with 12% protein content and EM 2985 kcal/kg. It was concluded that the decrease in protein content of rations gave a non-optimal response to the growth of KUB aged 7-12 weeks and the efficiency of the use of low rations with FCR values ranged from 3.7-4.4.
Key words: Protein ration, response growth, KUB chicken ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penurunan kandungan protein ransum terhadap respon ayam KUB umur 7-12 minggu. Penelitian dilaksanakan pada bulan April–Juli 2019 di Desa Kalukubula, Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Sebanyak 25 ekor ayam KUB jantan dan betina dijadikan sampel yang dipilih secara acak dari total populasi 200 ekor. Penurunan kandungan protein ransum dilakukan secara bertahap setiap minggu, mulai minggu ke-7 sampai minggu ke-12. Analisis data dilakukan secara deskriptif terhadap variabel-variabel terukur meliputi bobot badan akhir (g/ekor), pertambahan bobot badan harian (g/ekor/hari) dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata bobot badan akhir ayam KUB umur 12 minggu 1.123,9 g/ekor, atau meningkat sebesar 703,9 g/ekor. Pertambahan bobot badan tertinggi sebesar 161,3 g/ekor dan rata-rata pertambahan bobot badan harian 23 g/ekor/hari diperoleh pada ayam KUB umur 11 minggu yang diberi ransum dengan kandungan protein 12% dan EM 2985 kkal/kg. Disimpulkan bahwa penurunan kandungan protein ransum memberikan respon yang tidak maksimal terhadap pertumbuhan ayam KUB umur 7-12minggu dan berdampak pada rendahnya efisiensi penggunaan ransum dengan nilai FCR yang diperoleh berkisar antara 3,7-4,4.
PENDAHULUAN
Merespon kebutuhan bibit unggul ayam kampung maka Kementerian Pertanian melalui Balai Penelitian Ternak (Balitnak) telah melakukan berbagai penelitian dan telah menghasilkan Ayam KUB sebagai galur baru ayam kampung berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 274/Kpts/SR.120/2/2014 (Kementan RI 2014). Ayam KUB adalah singkatan dari ayam kampung unggul Balitbangtan merupakan salah satu jenis ayam kampung hasil inovasi penelitian dari Balitnak Ciawi-Bogor. Ayam KUB memiliki keunggulan yakni mampu memproduksi telur lebih tinggi dibandingkan dengan ayam kampung biasa (Hidayat et al. 2011), mencapai 160-180 butir/tahun dan bobot panen 800-900 g dalam waktu pemeliharaan selama 10 minggu (Sartika et al. 2014).
Hingga kini ayam KUB telah tersebar ke beberapa daerah dan dipelihara oleh masyarakat secara intensif untuk berbagai tujuan usaha seperti menghasilkan telur tetas, telur konsumsi dan produksi daging karena mempunyai prospek menjanjikan secara ekonomi maupun sosial. Yuwono & Prasetyo (2013) berpendapat bahwa usaha ayam kampung memberikan kinerja yang bagus melalui peningkatan sistem pemeliharaan dari yang awalnya secara semi intensif menjadi intensif dan mengarah kepada usaha agribisnis. Pada perkembangannya terdapat kekurangan dalam pola pemeliharaan khususnya manajemen ransum, dimana formulasi ransum sebagai acuan belum optimal dan belum memperhitungkan kebutuhan zat-zat makanan untuk berbagai periode pemeliharaan.
Pada masa pertumbuhan ayam membutuhkan asupan nutrisi yang baik agar memberikan respon pertumbuhan yang baik pula (Hidayat et al. 2011). Ayam KUB pada periode pertumbuhan membutuhkan protein kasar sebesar 17,5% dan energi metabolis (EM) sebesar 2.800 kkal/kg (Iskandar et al. 2014). Menurut Iqbal et al. (2012) bahwa jumlah konsumsi protein berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan, hal ini disebabkan karena pertambahan bobot badan berasal dari sintesis protein tubuh yang berasal dari protein. Perbedaan tingkat protein dalam ransum akan menyebabkan adanya perbedaan pertumbuhan. Sarwono (2005) melaporkan bahwa kebutuhan zat-zat nutrisi untuk ayam kampung lebih rendah dibandingkan dengan ayam ras pedaging maupun ras petelur.
Menurut Nawawi (2015) kandungan gizi yang dibutuhkan ayam kampung pada umur 0–12 minggu dibutuhkan protein kasar 15-17% dan kebutuhan energi metabolik 2.600 kkal/kg. Pemberian protein kasar pada ransum ayam kampung yang bersumber dari ransum komersial ayam ras dianggap kurang optimal dan tidak efisien, baik ditinjau dari segi teknis maupun ekonomis, oleh karena itu perlu dikaji tentang kebutuhan protein kasar yang optimal untuk ayam KUB. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penurunan kandungan protein dalam ransum terhadap respon ayam KUB umur 7-12 minggu.
MATERI DAN METODE Waktu dan lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2019. Lokasi penelitian di Desa Kalukubula Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah.
Materi penelitian
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 200 ekor ayam KUB yang dipelihara sejak DOC - 12 minggu. Bibit DOC diperoleh dari penetasan lokal milik salah satu peternak pembibit Ayam KUB binaan BPTP Sulawesi Tengah pada kegiatan pengembangan model perbibitan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) di Sulawesi Tengah.
Ayam KUB umur 7-12 minggu dipelihara dalam kandang postal berukuran panjang x lebar x tinggi (7,0 m x 3,5 m x 4,0 m) dilengkapi alas kandang (litter) dari sekam padi. Pakan yang diberikan terdiri dari konsentrat komersial (pabrikan) dengan kandungan protein kasar (PK) 20–21%, jagung giling (PK 8%) dan dedak (PK 12%).
Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksperimental, menggunakan 25 ekor sampel ayam KUB umur 7-12 minggu, terdiri dari 13 ekor jantan dan 12 ekor betina. Pemilihan sampel dilakukan secara acak dari populasi sebanyak 200 ekor yang di anggap homogen antara jantan dan betina. Sampel kemudian ditimbang untuk memperoleh berat badan (BB) awal, lalu diberi tanda untuk memudahkan pengamatan dan penimbangan setiap minggu. Semua sampel yang dipilih dipelihara bersama-sama populasinya dalam satu kandang selama 7-12 minggu.
Ransum diberikan berdasarkan kebutuhan protein kasar (PK) yang dihitung secara sederhana menggunakan metode bujur sangkar (pearson square method) dan kebutuhan Energi Metabolisme (EM) dihitung dengan metode coba-coba (trial and error). Pencampuran ransum dilakukan setiap minggu disesuaikan dengan kebutuhan setiap minggu untuk perlakuan penurunan kandungan protein ransum yang dicobakan. Ransum diberikan 3 kali sehari (pagi, siang dan sore) dan air minum secara ad-libitum. Komposisi dan kandungan nutrisi ransum disusun berdasarkan perlakuan umur pemeliharaan (Tabel 1).
Tabel 1. Komposisi dan kandungan nutrisi ransum sesuai umur pemeliharaan
Bahan pakan Persentase bahan pakan sesuai umur pemeliharaan (minggu)
7 8 9 10 11 12
Konsentrat komersil (%) 50 50 40 40 35 30
Jagung giling (%) 35 20 30 35 30 35
Dedak padi(%) 15 30 30 25 35 35
Total (%) 100 100 100 100 100 100
Kandungan nutrisi ransum
Protein kasar (%) 20 18 16 14 12 10
EM (Kkal/kg) 3056 3023 2998 2965 2985 3006
Pengamatan dan analisis data
Data yang diamati dalam penelitian ini adalah pertambahan bobot badan (PBB) (g/ekor) mingguan dan PBB harian (g/ekor/hari) dan konversi ransum. Penimbangan dilakukan setiap minggu pada pagi hari antara pukul 08.00-09.00 WITA. Pertambahan
dimana bobot badan diperoleh dari perbandingan antara selisih bobot akhir dan bobot awal dengan lamanya pemeliharaan dan konversi ransum di hitung berdasarkan perbandingan antara jumlah total konsumsi ransum dengan bobot badan akhir minggu (Fahrudin et al. 2016) dengan rumus sebagai berikut:
- Pertambahan Bobot Badan PBB (g) = BBt (g) – BBt-1 (g) Keterangan:
PBB = Pertambahan bobot badan
BBt = Bobot badan akhir minggu (berat akhir) BBt-1 = Bobot badan minggu sebelumnya (berat awal) t = Waktu pengukuran (satu minggu)
- Konversi ransum
FCR (Feed Convertion Rate)= Konsumsi ransum (g/minggu) Pertambahan Bobot Badan (g/minggu)
Data yang diperoleh dianalisis deskriptif menggunakan bantuan program Microsoft Excel 2010 pada perangkat komputer.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kebutuhan ransum selama pemeliharaan
Jumlah ransum yang diberikan sesuai standar kebutuhan ayam KUB yang direkomendasikan Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak 2017). Dalam penelitian ini total ransum yang dihabiskan ayam KUB sebanyak 200 ekor yang dipelihara mulai umur 7 - 12 minggu sebagaimana pada Tabel 2.
Tabel 2.Jumlah ransum berdasarkan jenis pakan dan umur pemeliharaan ayam KUB.
Jenis pakan Umur pemeliharaan (minggu)
7 8 9 10 11 12
Konsentrat komersial (kg) 24,5 31,5 30,8 36,4 36,75 35,7
Jagung giling (kg) 17,15 18,9 23,1 22,75 31,5 41,65
Dedak padi (kg) 7,35 12,6 23,1 31,85 36,75 41,65
Total ransum (kg/minggu) 49 63 77 91 105 119
Total ransum dihabiskan (kg) 504 kg
Respon ayam KUB umur 7 – 12 minggu
Respon ayam KUB dalam penelitian ini dinilai berdasarkan pertambahan bobot badan (PBB) mingguan (g/ekor) dan PBB harian (g/ekor/hari). Hasil pengamatan terhadap 25 ekor sampel diperoleh rata-rata respon ayam KUB umur 7-12 minggu sebagaimana pada Tabel 3.
Tabel 3.Respon ayam KUB selama pemeliharaan umur 7–12 minggu
Respon (rata-rata) Umur ayam (minggu)
7 8 9 10 11 12
Bobot badan akhir (g/ekor) 521,3 623,9 735,7 831,5 992,8 1.123,9 Bobot badan harian (g/ekor/hari) 74,5 89,1 105,1 118,8 141,8 160,5
Konsumsi ransum (FCR) 3,7 4,1 4,2 4,4 4,2 4,2
Pertambahan bobot badan
Hasil pengamatan setiap minggu terlihat bahwa bobot badan ayam KUB bertambah seiring dengan bertambahnya jangka waktu pemeliharaan dan umur ayam, sehingga dapat dikatakan bahwa meskipun kandungan protein ransum diturunkan setiap minggu sebesar hingga pada level 10% relatif masih mampu memberikan peningkatan bobot badan ayam KUB selama pemeliharaan umur 7-12 minggu.
Menurut Sidadolog (2007) bobot badan awal ayam sangat penting sebelum perlakuan pakan karena dapat berpengaruh terhadap bobot badan pada minggu selanjutnya. Pada penelitian ini rata-rata bobot badan awal adalah 420 g/ekor, pada umur 12 minggu rata-rata bobot badan akhir adalah 1.123,9 g/ekor, dengan demikian rata-rata pertambahan bobot badan ayam KUB yang diperoleh selama penelitian adalah 703,9 g/ekor. Kurva nilai rata-rata pertambahan bobot badan ditampilkan pada Gambar 1.
Pertambahan bobot ayam pada umur tertentu tergantung dari pakan yang diberikan. Bobot badan akhir yang diperoleh dalam penelitian ini belum maksimal dan relatif lebih rendah dibanding yang pernah dilaporkan sebelumnya. Sinurat et al. (2017) melaporkan bahwa ayam KUB umur 10-12 minggu yang diberi pakan dengan kandungan protein kasar 17,50% mampu mencapai bobot badan akhir pada jantan 1.323 g/ekor, betina 1.021 g/ekor dan gabungan (jantan dan betina) sebesar 1.167 g/ekor. Rendahnya hasil yang diperoleh ini diduga karena ransum yang diberikan tidak mampu memenuhi kebutuhan protein dan energi untuk menunjang pertambahan bobot badan ayam secara maksimal. Menurut Sidadolog & Yuwanta (2011) perlakuan ransum dengan tingkat protein dan energi rendah tidak dapat menunjang pertambahan berat badan yang maksimal karena adanya keterbatasan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan protein dan energi.
Nilai pertambahan bobot badan yang ditunjukkan pada kurva menggambarkan bahwa perlakuan penurunan kandungan protein ransum tidak berdampak pada penurunan bobot badan ayam secara drastis. Sebaliknya, pertambahan bobot badan cenderung meningkat meskipun diberikan ransum dengan kandungan protein lebih rendah pada setiap minggunya. Menurut Urva et al. (2017) kurva pertumbuhan merupakan pencerminan kemampuan suatu individu ternak dalam menampilkan potensi genetik dan perkembangan bagian-bagian tubuh hingga dewasa. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa ayam KUB memiliki potensi genetik yang baik. Pertambahan bobot badan tertinggi dicapai pada ayam KUB umur 11 minggu, yakni pada saat ayam diberi ransum dengan kandungan protein 12% dan EM 2985 kkal/kg dengan nilai rata-rata PBB mingguan 161,3 g/ekor dan rata-rata-rata-rata PBB harian sebesar 23 g/ekor/hari. Potensi ini dapat lebih dioptimalkan apabila ayam mendapat dukungan pakan yang baik sesuai kebutuhannya pada setiap periode pertumbuhan.
Gambar 1. Kurva nilai pertambahan bobot badan ayam KUB umur 7 - 12 minggu
Konversi ransum
Menurut Allama et al. (2012) nilai konversi pakan yang rendah menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan pakan yang baik, karena semakin efisien ayam mengkonsumsi pakan untuk memproduksi daging. Nilai FCR antara 3,7 - 4,4 yang diperoleh dalam penelitian ini lebih tinggi dibandingkan yang dilaporkan Suryana (2017) bahwa rata-rata nilai FCR pada induk ayam KUB umur 10 dan 15 bulan masing-masing sebesar 3,50 dan 3,70.
Tingginya nilai FCR ayam KUB umur 7-12 minggu dalam penelitian ini diduga karena rendahnya kualitas nutrisi akibat adanya penurunan kandungan protein ransum yang dicobakan. Menurut Andriyanto et al. (2015) salah satu faktor yang dapat mempengaruhi nilai FCR yaitu kualitas nutrisi. Mahardika et al. (2013) menyatakan bahwa penurunan kandungan energi dan protein menyebabkan rendahnya protein yang dicerna dan menurunnya retensi protein sehingga akan menurunkan pertumbuhan yang pada akhirnya meningkatkan nilai konversi ransum. Ransum ayam kampung umur 10-20 minggu dengan kandungan energi pada level 2.900 kkal/kg dan protein ransum 18% semakin meningkatkan nilai konversi ransum antara 7,43-9,39.
KESIMPULAN
Penurunan kandungan protein ransum memberikan respon yang tidak maksimal terhadap pertumbuhan ayam KUB umur 7-12 minggu. Bobot badan akhir ayam KUB umur 12 minggu relatif lebih rendah dibanding hasil penelitian sebelumnya. Nilai pertambahan bobot badan tertinggi diperoleh pada umur pemeliharaan 11 minggu, yakni pada ayam KUB yang diberi ransum dengan kandungan protein 12% dan EM 2985 kkal/kg. Perlakuan penurunan kandungan protein dalam ransum setiap minggu berdampak pada rendahnya efisiensi penggunaan ransum dengan nilai FCR yang diperoleh berkisar antara 3,7-4,4.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada Bapak Dr. Andi Baso Lompengeng Ishak, S.Pt., MP selaku kepala BPTP Sulawesi Tengah atas saran serta masukan dalam berbagai diskusi selama penelitian berlangsung hingga pada penulisan makalah ini. Terima kasih pula disampaikan kepada rekan-rekan peneliti/penyuluh BPTP Sulteng, ibu Mardiana Dewi, S.Pt penanggungjawab kegiatan pengembangan model perbibitan ayam KUB di Sulawesi Tengah, bapak Pujo Haryono, S.St dan Arif Cahyono, S.St penanggungjawab dan pelaksana kegiatan pengembangan ayam KUB berbasis rumah tangga, serta bapak Arif Sutte selaku peternak pembibit ayam KUB di Sulawesi Tengah atas bantuannya dalam pengadaan bibit DOC ayam KUB untuk penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Allama H, Sofyan O, Widodo E, Prayogi HS. 2012. Pengaruh penggunaan tepung ulat kandang (Alphitobius diaperinus) dalam pakan terhadap penampilan produksi ayam pedaging. J Ilmu-ilmu Peternakan. 22:1-8.
Andriyanto, Satyaningtijas AS, Yufiadri R, Wulandari R, Darwin VM, Siburian SNA. 2015. Performan dan kecernaan pakan ayam broiler yang diberi hormon testosteron dengan dosis bertingkat. J Acta Veterinaria Indonesiana. 3:29-37.
Fahruddin A, Tanwirah W, Indrijani H. 2016. Konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum ayam lokal di Jimm’s Farm Cipanas Kabupaten Cianjur. Bandung (Indonesia): Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran.
Hidayat C, Iskandar S, Sartika T. 2011. Respon kinerja perteluran ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) terhadap perlakuan protein ransum pada masa pertumbuhan. JITV. 16:83-89.
Iqbal F, Atmomarsono U, Muryani R. 2012. Pengaruh berbagai frekuensi pemberian pakan dan pembatasan pakan terhadap efisiensi penggunaan protein ayam broiler. Anim Agric. 1:4-5.
Iskandar S, Hidayat C, Sartika T, Resnawati H. 2014. Optimizing dietary energy and protein for growing “KUB” chicken in supporting maximum egg production. In: Wina E, Prasetyo LH, Inounu I, Priyanti A, Anggraeni A, Yulistiani D, Sinurat AP, Situmorang P, Wardhana AH, Dharmayanti NLPI, et al., editors. Proceedings International Seminar on Livestock Production and Veterinary Technology. Bogor (Indonesia): Indonesian Center for Animal Research and Development. p. 159-164.
[Kepmentan] Keputusan Menteri Pertanian. 2014. SK Menteri Pertanian tentang pelepasan galur ayam KUB-1. Jakarta (Indonesia): Kementerian Pertanian.
Mahardika IG, Dewi KGAM, Sumadi IK, Suasta IM. 2013. Kebutuhan energi dan protein untuk hidup pokok dan pertumbuhan pada ayam kampung umur 10-20 minggu. MIP. 16:8-9.
Nawawi NT, Nurrohmah S. 2015. Pakan ayam kampung. Jakarta (Indonesia): Penebar Swadaya.
[Puslitbangnak] Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. 2017. Petunjuk Teknis Produksi Ayam Lokal Pedaging Unggul. Program Perbibitan Tahun 2017-2018. Bogor (Indonesia): Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Sartika T, Desmayati H, Resnawati S, Iskandar M, Purba D, Zainuddin dan Unadi A. 2014. Teknik formulasi ransum ayam KUB berbasis bahan pakan lokal. Prosiding Seminar
Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor (Indonesia): Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Sidadolog JHP. 2007. Pemanfaatan dan kegunaan ayam lokal Indonesia. Dalam: Diwyanto K, Prijono SN, editors. Keanekaragaman sumber daya hayati ayam lokal Indonesia: Manfaat dan potensi. Bogor (Indonesia): Puslit Biologi LIPI. hlm. 27-42.
Sidadolog JHP, Yuwanta T. 2011. Pengaruh konsentrasi protein-energi pakan terhadap pertambahan berat badan, efisiensi energi dan efisiensi protein pada masa pertumbuhan ayam merawang. Anim Prod. 11:15-22.
Sinurat AP, Hidayat C, Haryati T, Wardhani T, Sartika T. 2017. Pemberian enzim BS4 untuk meningkatka performan ayam KUB masa pertumbuhan. Dalam: Puastuti W, Muharsini S, Inounu I, Triesnamurti B, Kusumaningtyas E, Wina E, Herawati T, Hartati, Hutasoit R, penyunting. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor (Indonesia): IAARD Press.
Suryana. 2017. Pengembangan ayam kampung unggul Balitbangtan (KUB) di Kalimantan Selatan. Wartazoa. 27:045-052.
Urfa SH, Indrijani, Tanwiriah W. 2017. Model kurva pertumbuhan ayam kampung unggul Balitnak (KUB) umur 0-12 minggu. J Ilmu Ternak. 17.
Yuwono DM, Prasetyo FR. 2013. Analisis teknis dan ekonomis agribisnis ayam buras sistem semi intensif (Studi kasus di KUB "Ayam Kampung Unggul” Desa Kreseng, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang). Dalam: Prosiding Seminar Nasional Menggagas Kebangkitan Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan. Madura (Indonesia): Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura. hlm. 17-24.