1
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bila mencermati kehidupan manusia sehari-hari khususnya di Indonesia ini tidak akan pernah lepas dari keragaman dan kebinekaan (pluralitas). Sehingga pluralisme identik dengan kehidupan manusia itu sendiri. Tidak ada kehidupan yang tidak plural dan sebaliknya tidak akan pernah ada pluralisme tanpa adanya kehidupan. Yang artinya keduanya mengandung unsur dinamika, interaksi, aktif dan hidup.1 Secara harfiah pluralisme berarti jamak, beberapa, berbagai hal, kepelbagaian atau banyak. Oleh sebab itu suatu hal yang dikatan plural senantiasa terdiri dari beberapa hal yang berbeda tentunya.2
Secara sosiologis, pluralisme agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda. Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme yang paling sederhana, karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain.
Dalam kehidupan sehari-hari sebelum dicampuri dengan kepentingan ideologis, ekonomis, sosial-politik, agamis dan lainnya, manusia menjalani kehidupan yang bersifat pluralitas secara alamiah, tanpa begitu banyak mempertimbangkan sampai pada tingkat "benar tidaknya" realitas pluralitas yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Baru ketika manusia dengan berbagai kepentingannya (organisasi, politik, agama, budaya dan lainnya) mulai mengangkat isu pluralitas pada puncak kesadaran mereka dan menjadikannya sebagai pusat perhatian. Maka pluralitas yang semula bersiat wajar, alamiah berubah menjadi hal yang sangat penting dan terkadang terasa sensitif.
Melihat kondisi yang sangat majemuk seperti ini, bisa dikatakan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya menyimpan potensi konflik yang cukup tinggi.3
1 Th. Sumartana (Ed.). Pluralisme, Konflik dan Perdamaian. (Yogyakarta: DIAN/Interfidei, 2002), 93. 2 Ibid., 7.
3
2
Hal itu dapat diketahui dari realitas dan fakta yang pernah terjadi di Indonesia ini yang banyak meletuskan konflik atas nama agama, yang menjadikan masyarakat merasa tegang, takut, gelisah, tidak aman, dan saling curiga. Konflik dan kerusuhan yang terjadi di masyarakat yang diusung dengan isu agama, selalu membuat orang terkesima. Terkadang mereka tercengang melihat fenomena seperti itu, begitu ganaskah agama yang seharusnya menjadi dasar pijakan hidup manusia namun justru menjadi pemicu terjadinya penindasan, kekerasan dan bahkan pembantaian. Apakah demikian hakekat agama yang dianut manusia?4 Diantara faktor yang menjadikan agama sebagai pemicu konflik ialah cara masyarakat yang beragama berorientasi ―kedalam‖ sebagai pemahaman yang dangkal atas apa yang dipandang memiliki nilai absolut (religion of authority).5
Dapat dibayangkan ketika semua potensi, fanatisme, dan emosi dalam beragama masyarakat diarahkan sedemikian rupa hanya untuk melakukan tindak kekerasan atas nama agama, anak bangsa yang biasanya hidup damai berdampingan baik ketika kerja di kantor, di kampus, di sekolah, di pasar misalnya, mereka akan berbalik arah menjadi saling curiga dan bermusuhan. Mereka yang keseharianya adalah saudara, akan berubah menjadi beringas dan sadis.6Tentunya ―moment-moment‖ penting itu tidak akan terjadi atau setidaknya dapat dieliminir jika masyarakat Indonesia memahami pluralitas yang ada. Maka dari itu, untuk menjaga keharmonisan hubungan antar agama di Indonesia yang penuh dengan kemajemukan itu, pemahaman atas pluralisme agama perlu digugah kembali.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pluralisme dan titik temu agama-agama yang terjadi di Indonesia? 2. Bagaimana prinsip dan etika pluralisme yang ditawarkan Al-Qur‘an?
3. Mengapa pemahaman keagamaan perlu untuk di-refresh?
4
Abdurrahman Wahdi, et.al, Dialog: Kritik & Identitas Agama. (Yogyakarta: DIAN/Interfidei, 2004), V.
5 Ngainun Na‘im. Teologi Kerukunan: mencari titik temu dalam keragaman. (Yogyakarta: Teras,
2011),159.
6
3
BAB II PEMBAHASAN
A. PLURALISME AGAMA
Realitas itu majemuk dan tak terbatas. Tidak ada dua hal yang ada di dunia ini yang sama persis (kembar identik). Sama halnya dengan keyakinan dan agama yang dianut manusia. Agama merupakan hal yang paling prinsip bagi kehidupan manusia, sehingga banyaknya agama adalah sebanyak manusia itu sendiri. Akan tetapi jika agama itu dilembagakan dalam bentuk komunitas tentu tidak akan sebanyak jumlah manusia yang ada. Sebagaimana perkataan Paulus II yang dikutip oleh Syafa‘tun Elmirzanah, sebagai berikut; ―Agama itu banyak dan bermacam-macam. Semuanya merefleksikan keinginan manusia baik itu laki-laki maupun perempuan sepanjang abad untuk masuk dalam perjumpaan dengan Wujud yang Absolut (Tuhan).‖7
Fenomena pluralisme ini dapat muncul karena beberapa hal yang melatar belakangi, diantaranya: Pertama, ketika Tuhan mewahyukan dan menampakkan dirinya, hal ini dilakukan dalam konteks, situasi historis, serta bahasa dan budaya tertentu. Kedua, komunitas manusia akan menerima dan menginterpretasikan dan mengekspresikan wahyu tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi yang menjadi akar budaya tertentu. Ketiga, wahyu tersebut memerlukan interpretasi secara terus menerus menurut situasi historis dan konteks yang berbeda-beda serta berubah-ubah. Dan yang keempat, merupakan sumber terdalam dari adanya pluralisme ini adalah merupakan kehendak Tuhan sendiri dalam mengomunikasikan dengan banyak cara. Barang kali dapat dikatakan bahwa agama adalah keanekaragamannya jalan untuk menuju kepada satu titik yang sama, ―Tuhan‖.8
Menurut Prof. Fauzan Saleh Ph.D., pluraisme agama secara longgar dapat didefinisikan sebagai bentuk hubungan yang damai antara agama-agama yang tengah berkembang disuatu wilayah tertentu.9 Kemudian Nurcholish Madjid memaknai pluralisme agama sebagai suatu sistem nilai yang memandang secara
7Syafa‘atun Elmirzanah, ―Pluralisme, Antara Cita dan Fakta‖ dalam Th.
Sumartana (Ed.). Pluralisme, Konflik dan Perdamaian. (Yogyakarta: DIAN/Interfidei, 2002), 107.
8 Ibid.,109.
9 Fauzan Saleh. Kajian Filsafat Tentang Keberadaan Tuhan dan Pluralisme Agama. (Kediri: STAIN
4
positif-optimis terhadap kemajemukan, dengan menerimanya sebagai sebuah kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu.10 Sedangkan Alwi Shihab memberikan batasan dan catatan mengenai pluralisme agama sebagai berikut: pertama, pluralisme tidak semata-mata menunjuk pada kenyataan adanya kemajemukan, tetapi juga keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut. Maka dari itu, dengan pluralisme ini tiap pemeluk agama tidak hanya dituntut mengakui eksistensi dan hak agama yang lain, akan tetapi juga ikut terlibat dalam memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya pola kehidupan yang harmonis dalam kebinekaan.
Kedua, pluralisme harus dibedakan dengan kosmopiltanisme. Kosmopolitanisme ini merujuk kepada suatu realitas, yang di dalamnya terdapat keanekaragaman agama, keyakinan, ras dan bangsa, hidup secara berdampingan di suatu lokasi. Namun tidak terjadi interaksi positif antar penduduk lokasi tersebut, khususnya dalam persoalan agama. Ketiga, konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan konsep relativisme11. Seorang yang menganut paham relativisme ini akan selalu berasumsi bahwa hal-hal yang dianggap suatu kebenaran atau nilai akan ditentukan oleh pandangan hidup serta pola berpikir seseorang atau masyarakat tertentu. Implikasinya jika paham ini diproyeksikan dalam ranah doktrin agama tentu mereka akan berpandangan bahwa doktrin semua agama adalah sama. Keempat, pluralisme bukanlah sinkretisme, yang artinya mencampuradukkan ajaran agama yang satu dengan ajaran agama yang lain, sehingga terciptalah ajaran baru yang melahirkan agama baru.12
Akan tetapi disisi yang lain, sebaik apa pun konsep dan rumusan tentang pluralisme agama dan sekuat apapun argumen yang diutarakan untuk membenarkanya, ternyata di Indonesia masih banyak orang dan kalangan yang belum bisa dan tidak setuju dengan adanya wacana pluralisme agama.13 MUI (Majlis Ulama Indonesia) salah satunya, yang dengan tegas telah menfatwakan
10 Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992), LXXV.
11 Sebagaimana diketahui, bahwa konsep relativisme ini bermula pada sekitar abad ke-5 SM. Yakni
pada masa Protagoras yang merupakan sofis Yunani. Konsep ini menerangkan bahwa kebenaran, dan kebaikan bersifat relatif, tergantung pada setiap individu, keadaan setempat atau institusi sosial dan agama. Karena itu konsep ini tidak mengenal kebenaran absolut. Lihat Alwi Sihab, Islam Inklusif, (Jakarta: Mizan, 1999), 42.
12 Alwi Sihab, Islam Inklusif, (Jakarta: Mizan, 1999), 41-42. 13
5
bahwa pluralisme , liberalisme dan sekulerisme agama adalah haram. Dalam fatwa tersebut MUI menyatakan bahwa ―Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga‖. Diantara ayat-ayat Al-Qur‘an yang digunakan penguat argumen mereka adalah, ―Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi‖. (QS. Al-Imram 3 : 85). ―Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam..‖ (QS. Al -Imran 3 : 19). Disamping itu mereka juga menggunakan hadits nabi, ―Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salllam :―Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.‖ (HR. Muslim). Ketetapan ini ditetapkan di Jakarta tanggal 21 Jumadil Akhir 1426 H/28 Juli 2005 M14.
Setelah mengetahui adanya pertarungan wacana yang begitu dahsyat tentang pluralisme agama, tentu ada orang-orang yang pro dan kontra baik pada sisi penggagas pluralisme agama maupun dari sisi penentang adanya pluralisme agama itu sendiri. Maka dari itu, siapa pun boleh untuk memihak kepada salah satu yang dianggap sesuai dengan keyakinanya, ataupun tidak memihak pada keduanya pun juga tidak menjadi persoalan. Mengingat bahwa agama merupakan persoalan individu dan yang paling prinsip bagi kehidupan manusia.
B. TITIK TEMU AGAMA-AGAMA
Secara historis perjumpaan Islam dengan agama-agama lain sudah berlangsung sejak masa Nabi Muhammad saw. Islam lahir pada masa agama Yahudi dan Nasrani. Oleh karenanya dalam membentuk tatanan sosial di Madinah, Nabi tidak pernah meninggalkan kedua kelompok ini. Justru beliau mengakomodir kepentingan kaum Yahudi dan Nasrani tersebut dan kemudian
14Media Islam, ―Fatwa MUI-Pluralisme/Islam Liberal Sesat‖, (online), (
6
mengajak mereka dalam kerjasama dan hidup berdampingan secara harmonis. Dalam sejarah langkah Nabi ini dikenal hingga saat ini sebagai ―Piagam Madinah‖.15
Lain dari pada itu, seorang mistikus yang bernama Fritchof Schuon yang telah berganti nama Muhammad Isa Nurrudin semenjak ia menjadi Muslim, dengan sungguh-sungguh mencari titik temu agama-agama itu dengan membawa konsep eksoterik dan esoterik. Sebagaimana perkataan Schoun yang pernah dikutip oleh Huston Smith, ―Bila tidak ada persamaan pada agama-agama, kita tidak akan menyebutnya dengan nama yang sama „agama‟. Bila tidak ada
perbedaaan diantaranya, kita pun tidak akan menyebutnya dengan kata majemuk
„agama-agama‟.‖ Menurut Schoun, titik persamaan antara agama-agama itu
terletak pada sisi esoterik-nya (hakikat), dan letak perbedaannya terletak pada aspek eksoterik(bentuk luar, syari‘at).16
Untuk lebih jelasnya dalam memahami konsep esoterik dan eksoterik yang ditawarkan oleh Schuon dapat digambarkan dalam sebuah diagram berikut.17
YAH
Jika pemahaman manusia akan keanekaragaman agama hanya dilihat dari sisi eksoterik-nya saja sudah barang tentu yang didapati hanyalah perbedaan belaka, karena sudah sangat jelas sekali bahwa penerapan syari‘at tiap-tiap agama berbeda. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur‘an QS. Al-Maidah (5): 48.
15 Dimyati Huda, Pluralisme., 23.
16Syahrin Harahap, Teologi Kerukunan, (Jakarta: Prenada, 2011), 72. 17
Agama dapat dilihat dari aspek esoterik (dimensi hakikat) dan dari sisi eksoterik (dimensi syari‘at).
MANUSIA
ESOTERIK
7
―Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu‖.18
Ultimate. Sebagai konsekuensi logis dari konsep ini Islam mengajarkan kesatuan wahyu, kenabian, dan agama.20
Di dalam al-Qur‘an terdapat ayat-ayat yang bisa dianalogikan dengan The Ten Commandement-nya Nabi Musa as21. Ayat-ayat tersebut ialah:
18 Depag RI, al-Qur‟an Dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro, 2005), 92. 19
Mengenai titik temu agama-agama yang dinamakan kalimatun sawa, diterangkan dalam Al-Qur‘an Surat Ali-Imran 3: 64. ―Katakanlah: ‗Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)‘.
20 Syahrin Harahap, Teologi.,73.
21 (The Ten Commandements) adalah sepuluh ajaran pokok dalam Yahudi yang isinya sebagai berikut:
8
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. (QS. Al-Nisa 5 :131 )
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama22 dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. Al-Syuura 42: 13)
Menurut Nurcholish Madjid atau yang biasa disapa dengan Cak Nur, ayat-ayat di atas menegaskan bahwa perintah itu sama untuk pengikut Nabi Muhammad saw, dan mereka yang menerima Kitab Suci sebelum datangnya Al-Qur‘an. Yang inti dari pesan itu ialah perintah untuk ber-taqwa23 kepada Allah.24
Disamping konsep kesatuan wahyu yang masih ada hubungannya dengan konsep pluralisme agama adalah keyakinan pada konsep kesatuan Nubuwwah (kenabian). Dalam ajaran Islam bahwa iman kepada Nabi dan Rasul merupakan fondasi dari keimanan dalam Islam itu sendiri. Al-Qur‘an mengajarkan pada kita (umat Muslim) untuk tidak memebeda-bedakan mereka satu sama lain. Hal itu tertera di dalam (QS. Al-Baqarah 1: 136) .
pekerjaan apapun, termasuk anak-anakmu, hamba-hambamu baik laki-laki maupun perempuan, binatang kamu, orang yang tinggal bersamamu. 5) Hormatilah bapak dan ibumu agar hari-harimu (umur) dan hidupmu di dunia ini menjadi panjang sebagai anugerah Tuhan kepadamu. 6) Janganlah membunuh. 7) Janganlah berzina. 8) janganlah mencuri. 9) jangan bersaksi palsu. 10) Jangan tamak terhadap rumah kerabatmu, jangan inginkan istri kerabatmu, jangan hambanya, jangan kerbaunya atau keledainya dan apa saja yang dimiliki oleh kerabatmu. Lihat Burhanudin Daya, Agama Yahudi, (Yogyakarta: Bagus Arafah, 1982), 163.
22Yang dimaksud: agama di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati segala perintah dan larangan-Nya.
23Taqwa disini tidak sekedar taqwa sebagaimana banyak ditafsirkan orang dengan arti ‖takut kepada Tuhan‖, akan tetapi penekanannya lebih pada soal ―kesadaran ketuhanan‖ yaitu kesadaran bahwa Tuhan
selalu hadir dalam kehidupan manusia sehari-hari.
24 Budhi Munawar Rachman, ―Kesatuan Transendental Dalam Teologi: Perspektif Islam Kesamaan
9
―Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".
Ayat diatas menunjukkan bahwa pada esensinya para Nabi itu membawa risalah (pesan) yang sama dan dari Tuhan yang sama pula. Mereka adalah bersaudara, bukan karena mereka bersaudara berasal dari keturunan yang sama melainkan karena mereka membawa risalah dari Tuhan yang sama, agama kedamaian yang lebih mengutamakan kepasrahan dan ketundukan kepada Tuhan Semesta Alam. Islam juga mengakui titik temu dalam agama-agama khususnya agama ‗samawi‘ itu terletak pada hal yang esensial, yakni keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa sebagai landasan untuk hidup bersama. Hal ini bisa dilihat pada Ayat Al-Qur‘an Surat Ali Imran 3: 63.25
Maka kemudian, Ka‘bah dalam kerangka konsep kesatuan Nubuwwah, merupakan simbol daripada kesatuan kenabian itu sendiri. Ia melambangkan himpunan para Nabi yang diutus dari zaman kezaman diberbagai tempat diseluruh bagian muka bumi ini, yang puncaknya adalah kedatangan Nabi Muhammad saw, yang di situ Ia berperan sebagai khatamu al-nabiyyin. Hal itu dapat ditarik dari perkataan Nabi26:
―sesungguhnya perumpamaan aku dengan para Nabi sebelumku adalah ibarat seseorang yang membangun sebuah gedung. Ia bangun gedung itu dengan baik dan indah kecuali kurang sebuah batu bata disalah satu pojok gedung itu. Lalu orang-orang mengitari gedung itu sambil mengaguminya, ‗mengapa kau tinggal satu batu bata lagi‘. Maka akulah batu bata itu, akulah penutup para Nabi.‖ (Al-Hadits)
Setelah itu, Islam juga mengajarkan kesatuan agama, sebab agama ‗samawi‘ khususnya diyakini datang dari wahyu Tuhan yang sama. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Asyura 42: 13. Disamping titik temu agama pada konsep kesatuan wahyu, kenabian dan agama, Islam juga mengajarkan
25 Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), Maka sesunguhnya Allah Maha mengetahui orang
orang yang berbuat kerusakan.
26 Djohan Effendi, ―Kemusliman Dan Kemajemukan Agama‖, dalam Abdurrahman Wahdi, et.al,
10
universalisme27 prinsip-prinsip moralitas, seperti keharusan menegakkan keadilan, bermusyawarah, menolong orang yang lemah dan larangan melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan bencana bagi masyarakat.
Dalam hal ini Marcel A. Borsard memberikan komentarnya yang cukup mengesankan tentang prinsip-prinsip moralitas yang diajarkan Islam28:
―Islam mengajarkan universalitas prinsip-prinsip moral. Prinsip moral Islam ini memperkuat hubungan antar anggota masyarakat, mempersatukan perasaan yang merupakan dasar kebajikan universal dan mempersatukan kaidah-kaidah yang memaksa, yang sangat perlu bagi kehidupan kolektif.‖
C. ETIKA PLURALISME DALAM AL-QUR’AN
Secara normatif di dalam Al-Qur‘an terdapat ayat-ayat yang isinya mengarah pada nilai-nilai dan etika pluralisme,29 diantaranya: ―Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara
kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal‖.30
Ayat ini dapat dipahami bahwa sebagai konsep pluralisme universal dalam ajaran Islam.
Sejalan dengan itu, Al-Qur‘an juga sudah memberikan prinsip kebebasan dan toleransi beragama, hal itu senada dengan firman Tuhan: ―Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar
daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut31
dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul
tali yang amat kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha mendengar lagi Maha
Mengetahui.32 Selain itu Tuhan juga telah berfirman ―Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.
27
Secara sederhana kata Universal itu dapat diartikan dengan sesuatu yang mendunia. Jika ajaran Islam memiliki nilai universal, itu artinya ajaran Islam cocok dan sesuai dengan kehidupan manusia dan dapat diterima oleh semua manusia di dunia. Lihat Syahrin Harahap, Teologi Kerukunan, (Jakarta: Prenada, 2011), 28.
28
Harahap, Teologi., 74-75.
29 Huda, Pluralisme., 22. 30 QS. Al-Hujurat 49: 13.
31 Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t. 32
11
Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi
orang-orang yang beriman semuanya ?‖33
Disamping ayat-ayat tersebut Tuhan juga sudah mempertegas pada manusia, bahwa Tuhan memberikan kebebasan untuk beriman kepada-Nya atau pun inkar kepada-Nya. Hal itu dapat digali dari firman-Nya: ―Dan Katakanlah, „Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia
kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka,
yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya
mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang
menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat
yang paling jelek.‖34 Dan juga terdapat dalam Surat Al-Kafirun 109: 6, yang isinya sebagai berikut: ―untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
―Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin35 siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah36, hari kemudian dan beramal saleh37, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.‖38
Ayat di atas menunjukkan bahwa Al-Qur‘an menerima pluralitas agama, bahkan merupakan salah satu doktrin penting, serta menegaskan kesatuan iman39. Pluralisme merupakan kebijakan Tuhan yang berlaku dalam sejarah40. Hal itu
33
QS. Yunus 10: 99.
34 QS. Al-Kahfi 18: 29.
35 Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari'at nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang
menyembah bintang atau dewa-dewa.
36
Orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah Termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.
37 Ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama Islam, baik yang berhubungan dengan
agama atau tidak.
38 QS. Al-Baqarah 2 : 62.
39 Kesatuan bukanlah keseragaman. Dengan demikian ,sekalipun berada dalam kesatuan iman, tetapi
agama dalam realitasnya berbeda-beda, karena kondisi sosial, budaya dan bahasa dimana agama tertentu diturunkan. Penegasan ini juga berarti menunjukkan adanya kepercayaan yang satu, yakni keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang mencuptakan langit dan bumi besserta isinya dan yang mengajarkan kebaikan pada segenap umat manusia.
40Syafa‘atun Elmirzanah, ―Pluralisme, Konflik Dan Perdamaian, Perspektif Agama-Agama‖ dalam Th.
12
termaktub dalam QS. Ar-Ruum 30: 22.41 Dan QS. Yunus 10: 19. ―Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih42. kalau tidaklah
karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu43, pastilah telah
diberi keputusan di antara mereka44, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.”
Mengenai kepelbagaian komunitas, Al-Qur‟an menyebutkan bahwa “untuk tiap
-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang”45 “dan
tiap-tiap umat ada kiblatnya sendiri yang ia menghadap kepadanya‖46 dan ayat ini langsung diikuti dengan perintah fastabiqu al-khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).47
Maka dari itu, jikalau pluralisme ditinjau dari ayat-ayat Al-Qur‘an, merupakan ajaran dalam Islam itu sendiri. Dimana Islam merupakan agama Universal yang mengedepankan ketundukan dan kepasrahan kepada Tuhan Sang Pencipta. Ajaran Islam bukan hanya untuk segelintir orang yang sudah mengaku dirinya ―muslim‖, akan tetapi Islam adalah ―rahmatan lil „alamin‖. Sejalan dengan itu, nilai-nilai sosial yang diajarkan Islam pun juga berlaku universal, umat Islam harus bisa bekerja sama dengan umat manusia yang lain, hal itu tentunya dalam kerja sama yang konstruktif. Misalnya, meretas kemiskinan, kesenjangan, ketidak-adilan dan kebodohan.
41 Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan
bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
42
Maksudnya: manusia pada mulanya hidup rukun, bersatu dalam satu agama, sebagai satu keluarga. tetapi setelah mereka berkembang biak dan setelah kepentingan mereka berlain-lain, timbullah berbagai kepercayaan yang menimbulkan perpecahan. oleh karena itu Allah mengutus Rasul yang membawa wahyu dan untuk memberi petunjuk kepada mereka. baca ayat 213 surat Al-Baqarah.
43
Ketetapan Allah itu ialah bahwa, perselisihan manusia di dunia itu akan diputuskan di akhirat.
44 Maksudnya: diberi keputusan di dunia. 45 QS. Al-Maaidah 5: 48.
46 QS. Al-Baqarah 2: 148. ―dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap
kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu‖
47Syafa‘atun Elmirzanah, ―Pluralisme, Konflik Dan Perdamaian, Perspektif Agama-Agama‖ dalam Th.
13
D. MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN AGAMA
Mengawali pembahasan dalam permasalahan penyegaran pamahaman keagamaan, disini penulis akan banyak mengutip dari pemikiran-pemikiran tokoh pembaharu Islam di Indonesia, atau yang sering disebut-sebut banyak orang sebagai kaum liberal. Diantaranya ialah Ulil Abshar Abdalla, Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid. Mungkin terasa aneh ketika membahas bab ini harus merujuk pada pemikiran mereka. Menurut hemat penulis, hal itu disebabkan karena mereka-merekalah yang selama ini banyak menyuarakan penyegaran dalam beragama. Dimana pemikiran-pemikiran mereka banyak melawan arus dominan yang ada dikalangan ―ulama‖ yang katanya pewaris para nabi.
Dalam pandangan Ulil Abshar Abdalla, Islam bukanlah sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ketujuh masehi, yang kemudian dianggap ―patung‖ yang tak boleh disentuh oleh tangan sejarah. Islam adalah organisme yang ―hidup‖ yang mengharuskan untuk berkembang. Yang artinya bahwa pemikiran dalam Islam tidak boleh membeku terutama dalam soal penafsiran teks dasar agama (Al-Qur‘an). Menurutnya hal itu sangat membahayakan bagi kemajuan Islam. Setidaknya beliau menawarkan beberapa konsep untuk menuju kearah Islam yang lebih maju.48 Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai dengan peradaban manusia yang sedang dan terus berubah. Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan antara mana yang merupakan hasil dari kebudayaan setempat dan mana yang merupakan nilai fundamental. Umat Islam harus bisa membedakan mana yang benar-benar ajaran Islam dan mana yang mendapat pengaruh budaya Arab. Diantara aspek-aspek Islam yang merupakan hasil dari konteks Arab ialah seperti: jilbab, potong tangan, qishash, rajam, memelihara jenggot, jubah. Kesemuanya itu tidak perlu dan tidak wajib untuk diikuti. Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang menjadi fundamen atas praktik-praktik itu semua.
Ketiga, umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai ―masyarakat‖ yang terpisah dari umat yang lain. Meskipun sebagai sebuah komunitas, tentu umat Islam meyakini bahwa mereka adalah umat terbaik (khair al-ummah). Yang pada akhirnya perasaan semacam ini akan menumbuhkan sikap
48Ulil Abshar Abdalla, ―Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam‖ dalam Abdurrahman Wahid, et.al.
14
eksklusif dalam beragama.49 Seharusnya semua manusia harus bisa bersatu dengan manusia yang lain. Karena semua manusia itu adalah saudara universal yang dipersatukan dengan kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan dengan Islam. Keempat, dibutuhkannya kejelasan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana ranah politik dan mana yang agama. Agama adalah urusan individu, sementara pengaturan kehidupan publik adalah hasil dari kesepakatan demokrasi.50
Melihat apa yang telah disampaikan oleh Ulil, masyarakat beragama dapat mengetahui, bahwa bukan dogma, kulit muka, institusi dan ritus agama yang harus diutamakan dalam beragama dewasa ini. Akan tetapi yang lebih penting adalah bagaiamana umat manusia melihat agama sebagai bentuk-bentuk pengalaman kemanusiaan. Dalam konteks agama-agama, model keberagamaan umat yang lebih mengedepankan praktik-praktik ritual dan sikap eksklusif itu akan menambah ruwet keadaan. Keyakinan pemeluk suatu agama akan terus berubah menjadi bentuk keberingasan untuk menyerang orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya.51
Umat beragama hendaknya mengembangkan pemahaman bahwa suatu penafsiran atas wahyu Tuhan bukanlah merupakn satu-satunya kebenaran (absolut), akan tetapi adanya kesadaran bahwa nilai kebenaran itu datangnya bisa dari manapun. Sehingga tidak menutup kemungkinan, bahwa kebenaran bisa datang dari luar agama yang dianutnya.52 Nurcholis Madjid. Ia mengemukakan ketidaksetujuannya dengan absolutisme, karena absolutisme adalah pangkal dari segala permusuhan. Ia mengatakan:
―Petunjuk konkret lain untuk memelihara ukhuwah adalah tidak dibenarkannya sama sekali suatu kelompok dari kalangan orang-orang beriman untuk memandang rendah atau kurang menghargai kelompok lainnya, sebab siapa tahu mereka yang dipandang rendah itu lebih baik daripada mereka yang memandang rendah. Ini mengajajarkan kita –dalam pergaulan dengan sesama manusia,
49 Adonis, Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam, terj. Khairon Nahdiyyin, (Yogyakarta: LKIS,
2007), V: vii.
50Ulil Abshar Abdalla, ―Menyegarkan., 9.
51Beny Susetyo Pr, ―Menyegarkan Kembali Pemahaman Agama‖, dalam Abdurrahman Wahid, et.al.
Islam Liberal & Fundamental: Sebuah Pertarungan Wacana, (Yogyakarta: eLSAQ, 2007), 33.
15
khususnya sesama kalangan yang percaya kepada Tuhan—tidak melakukan absolutisme, suatu pangkal dari segala permusuhan.‖53
Amat konyol umat manusia bertikai hanya karena perbedaan ―baju‖ yang dipakai, sementara mereka lupa dengan inti ―memakai baju‖ itu sendiri, yaitu untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk yang beradab. Agama hanyalah sebuah baju, sarana, wasilah atau alat untuk menuju pada tujuan yang inti, yaitu Tuhan.54 Jika manusia mau untuk memahami bahwa agama itu ―baju‖, tentu mereka akan bisa menerima perbedaan yang ada. Kita tahu, pola baju orang-orang di Jawa dan di Arab jauh berbeda, hal itu disebabkan karena banyak faktor, diantaranya ialah iklim yang ada, selain itu juga dipengaruhi budaya setempat. Yang terjadi dengan agama pun tidak jauh dari itu. Bahwa agama yang lahir di Arab sudah barang tentu memiliki perbedaan dengan agama yang muncul di Jawa. Akan tetapi mempertentangkan perbedaan agama bukanlah hal yang penting saat ini, dan juga tidak ada gunanya.
Maka kemudian, yang lebih penting ialah bagaimana agama bisa menjadi
problem solver atas terjadinya ketidakadilan. Islam mengutamakan nilai keadilan yang sesungguhnya. Bagaimana nilai-nilai keadilan benar-benar dapat ditegakkan dimuka bumi ini, terutama dalam bidang politik dan ekonomi.55 Mahmud Syaltut, seorang ulama al-Azhar menerangkan bahwa perintah Al-Qur‘an untuk menegakkan keadilan dimuka bumi ini adalah berlaku universal, tanpa adanya diskriminasi satu sama lain. Keadilan tidak hanya berlaku untuk satu golongan tertentu, sebab prinsip keadilan merupakan perintah Tuhan yang berlaku objektif. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan mesti mendapatkan keadilan yang sama baik laki-laki maupun perempuan, umat Islam maupun non-Islam.56
Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat jika disebut sebagai ―proses‖ untuk selalu tunduk dan pasrah kepada Tuhan dari pada sekedar sebuah ―lembaga agama‖ yang sudah mati, beku, jumud dan mengungkung kebebasan. Mengenai
53 Paragraf itu merupakan komentar Nurcholish Madjid yang dicantumkan dalam buku Atas Nama
Agama. Lihat Andito (ed.), Atas Nama Agama: Wacana Agama dalam Dialog “Bebas” Konflik, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1998), 259.
54Ulil Abshar Abdalla, ―Menyegarkan., 12. 55 Ibid.
56 Buddhy Munawar Rachman, Argumen Islam Untuk Liberalisme; Islam Progresif dan Perkembangan
16
ayat Al-Qur.an yang terdapat dalam QS. Ali-Imran 3: 19 ―Inna al-diina „ind allah al-islam‖ Ulil menerjemahkan ayat tersebut dengan ―sesungguhnya jalan religious
yang benar adalah proses yang tak pernah selesai menuju ketundukan (kepada Tuhan Yang Maha Benar)‖57
Disamping itu, Al-Qur‘an telah menyatakan ―Telah kusempurnakan bagi kalian agama kalian hari ini,‖ (QS. Al-Maidah 5: 3). ―dan masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh‖. Ketika memahami ayat-ayat diatas secara tekstual tentu yang terbesit dalam benak adalah bahwa pintu ijtihad dan kebebasn berpikir sudah tidak ada lagi. Namun Abdurrahman Wahid menginterpretasikan ayat tersebut dengan ―terwujudnya prinsip-prinsip kebenaran dalam Islam, bukannya perincian kebenaran dalam Islam‖.58
Maka dari itu, ajaran Islam sebagaimana yang sudah termaktub dalam Al-Qur‘an, harus terus menerus ditafsirkan sesuai dengan perkembangan masyarakat diberbagai tempat dan masa. Ini bukan berarti mencocok-cocokkan ajaran Islam secara oportunistik dengan perkembangan situasi, hali ini dikarenakan perkembangan dan tuntutan zaman dan kekhasan lokalitas yang secara objektif terus berkembang.
Keharusan ini muncul karena masalah sederhana yang azasi, yakni masyarakat manusia niscaya menghadapi aneka masalah dengan segenap karakteristik masalah-masalah tersebut, baik yang timbul dari nalurinya untuk menghindari keburukan yang mungkin menimpanya maupun justeru guna mengejar kebaikan demi keberlangsungan hidupnya, secara pribadi maupun kelompok.59
57Ulil Abshar Abdalla, ―Menyegarkan., 15.
58Abdurrahman Wahid, ―Ulil Abshar Abdalla Dengan Liberalismenya‖ dalam Abdurrahman Wahid,
et.al. Islam Liberal & Fundamental: Sebuah Pertarungan Wacana , (Yogyakarta: eLSAQ, 2007), 309.
59Hamid Basyaib, ―Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam‖ dalam Abdurrahman Wahid, et.al.
17
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kini tibalah saatnya untuk menarik benang merah dari pembahasan ―pluralisme dan titik temu agama-agama‖. Secara sederhana pluralisme merupakan keniscayaan dalam kehidupan di dunia ini. Hal itu sebenarna lebih tepat jika dikatakan sebagai sunnatullah (kepastian Tuhan). Karena Tuhan sendiri yang dengan kuasanya menciptakan keanekaragaman. Hal itu pun juga terjadi dalam permasalahan keyakinan dan agama manusia. Agama itu banyak sebanyak manusia itu sendiri sebenarnya, hal itu disebabkan karena setiap manusia tentu akan menginterpretasikan pemahaman keagamaannya sesuai dengan kemampuannya. Akan tetapi jika agama yang dimaksud adalah agama yang sudah terlembagakan dalam sebuah komunitas, sudah barang tentu agam itu tidak sebanyak manusia yang ada.
Mengenai titik temu agama-agama (kalimatun sawa), Schuon meyakini bahwa semua agama itu memiliki persamaan disamping juga memiliki perbedaan. Persamaan agama-agama itu terdapat pada dimensi esoteik, yaitu aspek hakikat dari semua agama, yaitu untuk menuju kepada satu titik yang sama, ―Tuhan Sang Maha segalanya‖. Dan letak perbedaan dari agama-agama hanyalah pada aspek
eksoterik, yaitu bentuk luar ataupun syari‘at yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
―Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara
18
mengedepankan ketundukan dan kepasrahan kepada Tuhan Sang Pencipta. Ajaran Islam bukan hanya untuk segelintir orang yang sudah mengaku dirinya ―muslim‖, akan tetapi Islam adalah ―rahmatan lil „alamin‖. Sejalan dengan itu, nilai-nilai sosial yang diajarkan Islam pun juga berlaku universal, umat Islam harus bisa bekerja sama dengan umat manusia yang lain, hal itu tentunya dalam kerja sama yang konstruktif. Misalnya, meretas kemiskinan, kesenjangan, ketidak-adilan dan kebodohan.
Islam bukanlah sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ketujuh masehi, yang kemudian dianggap ―patung‖ yang tak boleh disentuh oleh tangan sejarah. Islam adalah organisme yang ―hidup‖ yang mengharuskan untuk berkembang. Yang artinya bahwa pemikiran dalam Islam tidak boleh membeku terutama dalam soal penafsiran teks dasar agama (Al-Qur‘an). Dalam beragama yang lebih dikedepankan adalah bagaimana agama itu bisa menjadi problem solver untuk mengatasi ketidakadilan, penindasan, kesenjangan dan kebodohan. Pemahanman pada agama tidak boleh berhenti dan membeku begitu saja, Kitab suci sebagai sumber informasi yang telah disediakan Tuhan harus selalu ditafsiri dan disesuaikan dengan perkembangan zaman dan masa.
B. SARAN (REKOMENDASI)
19
DAFTAR PUSTAKA
Adonis, Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam, terj. Khairon Nahdiyyin, Yogyakarta: LKIS, 2007.
Andito (ed.), Atas Nama Agama: Wacana Agama dalam Dialog “Bebas” Konflik, Bandung : Pustaka Hidayah, 1998.
Daya, Burhanudin. Agama Yahudi, Yogyakarta: Bagus Arafah, 1982. Depag RI, al-Qur‟an Dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro, 2005. Harahap, Syahrin. Teologi Kerukunan, Jakarta: Prenada, 2011.
Huda, M. Dimyati. Pluralisme Dalam Beragama. Kediri: STAIN Kediri Press, 2009.
Madjid, Nurcholish. Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1992. Media Islam, ―Fatwa MUI-Pluralisme/Islam Liberal Sesat‖, (online),
(http://media-islam.or.id/2007/09/27/fatwa-mui-pluralismeislam-liberal-sesat/. Diakses pada 22 September 2012).
Na‘im, Ngainun. Teologi Kerukunan: mencari titik temu dalam keragaman. Yogyakarta: Teras, 2011.
Rachman, Buddhy Munawar. Argumen Islam Untuk Liberalisme; Islam Progresif dan Perkembangan Diskursusnya, Jakarta: PT Grasindo, 2010.
Saleh, Fauzan. Kajian Filsafat Tentang Keberadaan Tuhan dan Pluralisme Agama. Kediri: STAIN Kediri Press, 2011.
Sihab, Alwi. Islam Inklusif, Jakarta: Mizan, 1999.
Sumartana, Th. (Ed.). Pluralisme, Konflik dan Perdamaian. Yogyakarta: DIAN/Interfidei, 2002.
Wahid, Abdurrahman. et.al. Dialog: Kritik Dan Identitas, Yogyakarta: DIAN/Interfidei, 2004.