RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI (2)

12  27  Download (0)

Teks penuh

(1)

RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI

Makalah ini di susun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Fiqh

Mu’amalah

Dosen Pengampu : Imam Mustofa, S.H.I., M.SI.

Disusun Oleh:

Suci Kartini (1502100221)

Kelas B

PROGRAM STUDY S1 PERBANKAN SYARIAH

JURUSAN SYARIAH

SEKOLAH TINNGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

JURAI SIWO METRO

(2)

A. PENDAHULUAN

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Fiqih Mu’amalah, dan materi yang akan dibahas mengenai pengertian dan Syarat dan rukun jual Beli. Disini penulis akan membahas mengenai pengertian jual beli, syarat jual beli dan rukun jual beli menurut jumhur,ulama,.

Sedangkan mengenai pembahasan dasar hukum jual beli, materi yang akan dibahas bisa berupa tentang pengertian jual beli pada hadis-hadis nabi, yang membahas mengenai rukun dan syarat jual beli dan juga bagaimana kesepakatan para ulama tentang rukun dan syaratnya.

Dalam menyesaikan tugas ini penyusun mengambil beberapa referensi yang bersumber dari buku maupun jurnal yang membahas mengenai materi tersebut.

(3)

B. PENGERTIAN JUAL BELI

Jual beli atau perdagangan dalam istilah fiqh disebut al-ba’I yang menurut etimologi berarti menjual atau mengganti. Wahbah al-Zuhaily mengartikan secara bahasa dengan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kata al-Ba.i dalam Arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yaitu kata al-Syira (beli).Dengan demikian, kata al-ba’I berarti jual, tetapi sekalius juga berarti beli.1

Secara terminologi, terdapat beberapa definisi jual beli yang masing definisi sama.

Sebagian ulama lain memberi pengertian :

1.

Ulama Sayyid Sabiq

Ia mendefinisikan bahwa jual beli ialah pertukaran harta dengan harta atas dasar saling merelakan atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan. Dalam definisi tersebut harta dan, milik, dengan ganti dan dapat dibenarkan.Yang dimaksud harta harta dalam definisi diatas yaitu segala yang dimiliki dan bermanfaat, maka dikecualikan yang bukan milik dan tidak bermanfaat.Yang dimaksud dengan ganti agar dapat dibedakan dengan hibah (pemberian), sedangkan yang dimaksud dapat dibenarkan (ma’dzun fih) agar dapat dibedakan dengan jual beli yang melalui saling memberikan barang dan harga dari penjual dan pembeli.

3.

Ulama Ibn Qudamah

Menurutnya jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan.Dalam definisi ini ditekankan kata milik dan pemilikan, karena ada juga tukar menukar harta yang sifatnya tidak haus dimiliki seperti sewa menyewa.2

C. RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI

1 Al-Zuhaily Wahbah sebagaimana dikutip oleh Hakam Abas, Al-Fiqh al-Islami wa

Adillatuh, (Damaskus, 2005), hlm 4

2

(4)

Sebagai salah satu bentuk transaksi, dalam jual beli harus ada beberapa hal agar akadnya dianggap sah dan mengikat. Beberapa hal tersebut disebut rukun. Ulama hanafiyah menegaskan bahwa rukun jual beli hanya satu, yaitu ijab. Menurut mereka hal yang paling prinsip dalam jual beli adalah saling rela yang mewujudkan dengan kerelaan untuk saling memberikan barang. Maka jika telah terjadi ijab, disitu jual beli telah dianggap berlangsung. Tentunya dengan adanya ijab, pasti ditemukan hal-hal yang terkait denganya, seperti para pihak yang bek akad, objek jual beli dan nilai tukarnya.

Jumhur ulama menetapkan empat rukun jual beli, yaitu : para pihak yang bertransaksi (penjual dan pembeli), sighat (lafal ijab qabul), barang yang diperjual belikan, dan nilai tukar pengganti barang.3

Sementara syarat jual beli ada empat macam, yaitu : syarat terpenuhinya akad (syurut al-in iqad), syarat pelaksanaan jual beli (syurut al-nafadz), syarat sah (syurut al-sihhah), dan syarat mengikat (syurut al-luzum). Adanya syarat-syarat ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa jual beli yang dilakukan akan membawa kebaikan bagi kedua belah pihak dan tidak ada yang dirugikan.

Pertama,syarat terbentuknya akad (syuruth al-in’iqad). Syarat ini merupakan syarat yang harus dipenuhi masing-masing akad jual beli. Syarat ini ada empat, yaitu para pihak yang melakukan transaksi atau akad, lokasi atau tempat terjadinya akad dan objek transaksi. Syarat yang terkait dengan pihak yang melakukan transaksi atau akad ada dua, yaitu :

1. Pihak yang melakukan transaksi harus berakal atau mumayyiz4. Dengan adanya syarat ini maka trnsaksi yang dilakukan oleh orang gila maka tidak sah. Menurut hanafiyah dalam hal ini tidak disyaratkan baliqh, transaksi yang dilakukan anak kecil yang sudah mumayyiz adalah sah;

2. Pihak yang melakukan transaksi harus lebih dari satu pihak, karena tidak mungkin akad hanya dilakukan oleh satu pihak, dimana ia menjadi orang yang menyerahkan dan menerima.

Syarat yang terkait dengan akad hanya satu, yaitu kesesuaian atara ijab dan qabul. Sementara mengenai syarat dan akad, akad harus dilakukan dalam satu

3 Wahbah al-zuhaili sebagaimana dikutip oleh Imam Mustofa, al-fiqih al-islami wa

adillatuh, (Beirut: dar al-fikr, 2005), V/6

4Mumayyiz adalah mempunyai kecakapan untuk membedakan mana yang baik dan yang

(5)

majelis. Sedangkan syarat yang berkaitan dengan barang yang dijadikan objek transaksi ada empat, yaitu :

1. Barang yang dijadikan transaksi harus benar-benar ada dan nyata. Transaksi terhadap barang yang belum atau yang tidak ada tidak sah, begitu juga barang yang belum pasti adanya, seperti binatang yang masih ada di dalam kandungan induknya;

2. Objek transaksi berupa barang yang bernilai, hala, dan dapat dimiliki, dapat disimpan dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya serta tidak menimbulkan kerusakan;

3. Barang yang dijadikan objek transaksi merupakan hak milik secara sah, kepemilikan sempurna. Berdasarkan syarat ini maka tidak sah jual belipasir ditengah padang, jual beli air laut yang masih di laut, atau jual beli panas matahari, karena tidak adanya kepemilikan yang sempurna;

4. Objek harus dapat diaerahkan pada saat ttransaksi. Berdasarkan syarat ini maka tidak sah jual beli binatang liar, ikan dilautan tau burung yang berada di awng karena tidak dapat diserahkan kepada pembeli.

Sementara syarat yang terkait ijab dan qabul ada tiga, yaitu

1. Ijab dan qabul harus dilakukan oleh orang yang cakap hukum. Kedua belah pihak harus berakal, mumayyiz, tahu akan hak dan kewajibanya.msyarat ini pada hakikatnya merupakan syarat pihak yang berakad dan bukan sighat akad. Berkaitan dengan syarat ini, maka media transaksi berupa tulisan atau isyarat juga harus berasal dari pihak yang mempunyai criteria dan memenuhi syarat tersebut;

2. Kesesuaian antara qabul dengan ijab, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Pembeli menjawab semua yang di utarakan pembeli. Apabila pihak pembeli menjawab lebih dari ijab yang di ungkapkan penjual, maka transaksi tetap sah. Sebaliknya, apabila pembeli menjawab lebih singkat dari ijab yang diucapkan penjual, maka transaksi tidak sah. Kesesuaian ini termasuk dalam harga dan system pembayaran;

(6)

(ijab dan qabul) dilakukan tidak dalam satu tempat. Ulama syafi’iyah dan hanabiyah mengemukakan bahwa jarak antara ijab dan qabul, tidak boleh terlalu lama. Adapun transaksi yang dilakukan dengan media surat juga sah, meskipun pihak-pihak yang bertransaksi tidak berada dalam satu lokasi, karena ungkapan yang ada dalam surat pada hakikatnya mewakili para pihak.5

Kedua, syarat berlakunya akibat hokum jual beli (syurut al-nafadz) ada dua, yaitu:

1. Kepemilikan dan oyoritasnyan. Artinya masing masing pihak yang terlibat dalam transaksi harus cakap hokum dan merupakan pemilik otoritas atau kewenangan untuk melakukan penjualan atau pembelian suatu barang. Otoritas ini dapat diwakilkan kepada orang lain yang juga harus cakap hukum6.

2. Barang yang menjadi objek transaksi jual beli benar-benar milik sah sang penjual, attinya tidak tersangkut dengan kepemilikan orang lain.

Ketiga, syarat keabsahan akad jual beli ada dua macam, yaitu syarat umum dan syarat khusus. Adapun syarat umum adalah syarat-syarat yang telah di sebutkan di atas dan ditambah empat syarat, yaitu:

1. Barang dan harganya diketahui (nyata);

2. Jual beli tidak boleh bersifat sementara (muaqqad) karena jual beli merupakan akad tukar menukar untuk perpindahan hak untuk selamanya; 3. Transaksi jual beli harus membawa manfaat, dengan demikian maka tidah

sah jual beli dirham dengan dirham yang sama;

4. Tidak adanya syarat yang dapat merusak transaksi, seperti syarat yang mengutungkan salah satu pihak. Syarat yang merusak yaitu syarat yang tidak dikenal dalam syara’dan tidak di perkrnankan secara adat atau kebiasaan suatu masyarakat.7

Sementara syarat khusus ada lima, yaitu:

5

Imam Mustofa, FIQIH MU’AMALAH Kontemporer, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h.27-28

6 Wahbah al-zuhaili sebagaimana dikutip oleh Imam Mustofa, al-fiqih al-islami wa

adillatuh, (Beirut: dar al-fikr, 2005),…,V/31.

7

(7)

1. Penyerahan barang yang menjadi objek transaksi sekiranya barang tersebut dapa diserahkan atau barang tidak bergerak dan ditakutkan akan rusak bila tidak segera diserahkan;

2. Diketahuinya harga awal pada jual beli murabahah, tauliyah, dan wadi’ah; 3. Barang dan harga penggantinya sama nilainya;

4. Terpenuhinya syarat salam, seperti penyerahan uang sebagai modal dalam jual beli salam;

5. Salah satu dari barang yang ditukar bukan utang piutang.8

Selain syarat diatas, ada syarat tambahan yang menentukan keabsahan sebuah akad setelah syarat terbentuknya akad terpenuhi. Syarat tambahan ini ada empat macam, yaitu:

1. Pernyataan kehendak harus dilakukan secara bebas, tanpa pelaksanaan dari pihak manapun;

2. Penyerahan objek transaksi jual beli tidak menimbulkan bahaya; 3. Bebas dari gharar;

4. Bebas dari riba.

Syarat-syarat keabsahan diatas menentukan sah tidaknya sebuah akad jual beli. Apabila sebuah akad tidak memenuhi syarat-syarat tersebut meskipun rukun dan syarat terbentuknya akad sudah terpenuhi akad sah tidak sah. Akad semacam ini dinamakan akad fasid. Menurut ulama kalangan hanafiah akad fasid adalah akad yang menurut syara’ sah pokoknya, tetapi tidak sah sifatnya. Artinya akad yang telah memenuhi rukun dan syarat terbentuknya tetapi belum memenuhi syarat keabsahanya.9

Keempat, syarat mengikat dalam akad jual beli.10 Sebuah akad yang sudah memenuhi rukun dan syarat sebagaimana dijelaskan di atas, belum tentu membuat akad tersebut dapat mengikat para pihak yang telah melakukan akad. Ada syarat yang menjadikanya mengikat para pihak yang melakukan akad jual beli:

1. Terbebas dari sifat atau syarat yang pada dasarnya tidak mengikat para pihak;

8Ibid.,V/43-44

9 Ibnu Nujaim sebagaimana dikutip oleh Imam Mustofa, al-Asybah wa al-Nashair,

(Beirut: dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1985), hal. 337.

10

(8)

2. Terbebas dari khiyar, akad yang masih tergantung dengan hak khiyar baru mengikat ketika hak khiyar telah berahir, selama hak khiyar blm berahir, maka akad tersebut belum mengikat.

Apapun bentuk jual beli, apapun cara dan media transaksinya, maka harus memenuhi syarat dan rukun.

D. RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI

Dalam buku Rukun Dan Syarat Jual Beli yang dikutip oleh Hakam Abas, Jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga jual beli itu dpat dikatakan sah oleh syara’.Dalam menentukan rukun jual beli terdapat perbedaan pendapat ulama Hanafiyah dengan jumhur ulama. Rukun jual beli .

Menurut ulama Hanafiyah hanya satu, yaitu ijab qabul, ijab adalah ungkapan membeli dari pembeli, dan qabul adalah ungkapan menjual dari penjual. Menurut mereka, yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah kerelaan (ridha) kedua belah pihak untuk melakukan transaksi jual beli.Akan tetapi, karena unsur kerelaan itu merupakan unsur hati yang sulit untuk diindra sehingga tidak kelihatan, maka diperlukan indikasi yang menunjukkan kerelaan itu dari kedua belah pihak. Indikasi yang menunjukkan kerelaan kedua belah pihak yang melakukan transaksi jual beli menurut mereka boleh tergambar dalam ijab dan qabul, atau melalui cara saling memberikan barang dan harga barang.11

Akan tetapi jumhur ulama menyatakan bahwa rukun jual beli itu ada empat, yaitu :

1. Ada orang yang berakad (penjual dan pembeli).

2. Ada sighat (lafal ijab qabul).

3. Ada barang yang dibeli (ma’qud alaih)

4. Ada nilai tukar pengganti barang.

Menurut ulama Hanafiyah, orang yang berakad, barang yang dibeli, dan nilai tukar barang termasuk kedalam syarat-syarat jual beli, bukan rukun jual beli.

(9)

Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang dikemukakan jumhur ulama diatas sebagai berikut :

a. Syarat-syarat orang yang berakad

Para ulama fiqh sepakat bahwa orang yang melakukan akad jual beli itu harus memenuhi syarat, yaitu :

1. Berakal sehat, oleh sebab itu seorang penjual dan pembeli harus memiliki akal yang sehat agar dapat meakukan transaksi jual beli dengan keadaan sadar. Jual beli yang dilakukan anak kecil yang belum berakal dan orang gila, hukumnya tidak sah.

2. Atas dasar suka sama suka, yaitu kehendak sendiri dan tidak dipaksa pihak manapun.

3. Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda, maksudnya seorang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai penjual sekaligus sebagai pembeli.

E. Syarat yang terkait dalam ijab qabul

1.

Orang yang mengucapkannya telah baligh dan berakal.

2.

Qabul sesuai dengan ijab. Apabila antara ijab dan qabul tidak sesuai

Syarat-syarat yang terkait dengan barang yang diperjualbelikan sebagai berikut :

1. Suci, dalam islam tidak sah melakukan transaksi jual beli barang najis, seperti bangkai, babi, anjing, dan sebagainya.

2. Barang yang diperjualbelikan merupakan milik sendiri atau diberi kuasa orang lain yang memilikinya.

3. Barang yang diperjualbelikan ada manfaatnya. Contoh barang yang tidak bermanfaat adalah lalat, nyamauk, dan sebagainya. Barang-barang seperti ini tidak sah diperjualbelikan. Akan tetapi, jika dikemudian hari

(10)

barang ini bermanfaat akibat perkembangan tekhnologi atau yang lainnya, maka barang-barang itu sah diperjualbelikan.

4. Barang yang diperjualbelikan jelas dan dapat dikuasai.

5. Barang yang diperjualbelikan dapat diketahui kadarnya, jenisnya, sifat, dan harganya.

6. Boleh diserahkan saat akad berlangsung.13 G. Syarat-syarat nilai tukar (harga barang)

Nilai tukar barang yang dijull (untuk zaman sekarang adalah uang) tukar ini para ulama fiqh membedakan al-tsaman dengan al-si’r.Menurut mereka,

al-tsaman adalah harga pasar yang berlaku di tengah-tengah masyarakat

secara actual, sedangkan al-si’r adalah modal barang yang seharusnya diterima para pedagang sebelum dijual ke konsumen (pemakai).Dengan demikian, harga barang itu ada dua, yaitu harga antar pedagang dan harga antar pedagang dan konsumen (harga dipasar).

Syarat-syarat nilai tukar (harga barang) yaitu :

1. Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.

2. Boleh diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukumseperti pembayaran dengan cek dan kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar kemudian (berutang) maka pembayarannya harus jelas.

3. Apabila jual beli itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh syara’, seperti babi, dan khamar, karena kedua jenis benda ini tidak bernilai menurut syara’.14

Menurut ulama Hanafiyah rukun jual beli hanya satu, yaitu ijab (ungkapan membeli dari pembeli) dan kabul (ungkapan menjual dari penjual). Menurut mereka, yang menjadi rukun dari jual beli itu hanyalah kerelaan (rida/taradhi) kedua belah pihak untuk melakukan transaksi jual beli. Akan tetapi, jumhur ulama menyatakan bahwa syarat dan rukun jual beli itu ada empat, yaitu:

Ada orang yang berakad atau al-muta’aqidain(penjual dan pembeli). 1. Ada shighat(lafal ijab dan kabul)

2. Ada barang yang dibeli.

13MS. Wawan Djunaedi, Fiqih, (Jakarta : PT. Listafariska Putra, 2008), hlm. 98

14Drs. Ghufron Ihsan. MA, Fiqh Muamalat, (Jakarta : Prenada Media Grup, 2008), hlm.

(11)

3. Ada nilai tukar pengganti barang

4. Menurut ulama Hanafiyah, orang yang berakad, barang yang dibeli, dan nilai tukar barang termasuk kedalam syarat-syarat jual beli, bukan rukun jual beli.15

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalat, Jakarta: Prenadamedia Group, 2010 Al-Zuhaily Wahbah, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Damaskus, 2005

Drs. Ghufron Ihsan. MA, Fiqh Muamalat, Jakarta : Prenada Media Grup, 2008 Ibnu Nujaim, al-Asybah wa al-Nashair, Beirut: dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1985

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...