• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH KURIKULUM SEJARAH DAN PERKEMBANG (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH KURIKULUM SEJARAH DAN PERKEMBANG (1)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KURIKULUM ( SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA )

Di susun oleh kelompok 1 :

Fahri Siregar PBSI ( 1703012 ) Rizki Alfajri PBSI ( 1703003 ) Siti Aisyah PBSI ( 1703013 ) Nurjannah PGSD ( 1701017 ) Krisdianti Monika PGSD ( 1701018 ) Sudiharti PGSD ( 1701042 ) Sri Wahyuni PGSD ( 1701025 )

Dosen Pengampu :

Pariang Sonang Siregar,S.Pd.,M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ROKANIA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan pada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayahNYA agar kita semua dapat mengambil sedikit ilmu yang telah di berikanNYA.

Oleh sebab itu kami dapat menyelesaikan makalah KURIKULUM dengan baik meskipun banyak terdapat kesalahan di dalamnya.

Kami sangat mengharapkan makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta ilmu pengetahuan tentang ilmu pendidikan inklusi.

Semoga makalah ini dapat di pahami dan bisa menjadi ilmu yang berguna bagi saudara dan diri saya pribadi. Dengan adanya kesalahan dalam penulisan maupun kata – kata, kami selaku yang membuat makalah mohon maaf yang sebesar – besarnya. Kritik dan saran sangat di perlukan demi perbaikan makalah di masa yang akan datang.

Langkitin, 2018

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR PUSTAKA ii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG 1

B. RUMUSAN MASALAH 1

BAB 2 PEMBAHASAN

A. SEJARAH KURIKULUM DAN PERKEMBANGANNYA di INDONESIA 2

a) Rentjana pelajaran 1947 2

b) Rentjana pelajaran terurai 1952 2

c) Rentjana pendidikan 1964 3

d) Kurikulum 1968 3

e) Kurikulum periode 1975 4

f) Kurikulum 1984,kurikulum 1975 yang di sempurnakan 4

g) Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999 5

h) Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) 5 i) Kurikulum Periode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran) 2006 6

j) Kurikulum periode 2013 7

B. SEJARAH KURIKULUM DAN PERKEMBANGAN DI JENJANG PENDIDIKAN 8 a) Sejarah kurikulum dan perkembangannya di tingkat SD 8 b) Sejarah kurikulum dan perkembangannya di tingkat SMP 11 c) Sejarah kurikulum dan perkembangannya di tingkat SMA 13

BAB 3 PENUTUP

A. KESIMPULAN 15

B. SARAN DAN KRITIK 15

DAFTAR PUSTAKA 16

(4)

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pada dasarnya perkembangan kurikulum sebagai suatu disiplin ilmu, dewasa ini berkembang sangat pesat, baik secara teoretis maupun praktis. Jika dahulu kurikulum tradisional lebih banyak terfokus pada mata pelajaran dengan sistem penyampaian penuangan, maka sekarang kurikulum lebih banyak diorientasikan pada dimensi-dimensi baru, seperti kecakapan hidup, pengembangan diri, pembangunan ekonomi dan industry, era globalisasi, dengan berbagai permasalahannya, politik, bahkan dalam praktiknya telah menyentuh dimensi teknologi informasi dan komunikasi.

Kurikulum sendiri adalah sebagai kombinasi bahan untuk membentuk kerangka isi materi serta metode belajar apa yang akan di terapkan oleh seorang guru untuk menyampaikan pelajaran tersebut kepada siswa atau akan di ajarkan kepada siswa di sekolah. Jika ingin membangun suatu bangsa, maka bangunlah yang pertama sistem pendidikannya, dan jika anda ingin membangun pendidikan, maka bangunlah yang tersendiri. Dengan demikian, konsep kurikulum teknologis dapat berbentuk aplikasi teknologi pendidikan dan dapat juga berbentuk penggunaan perangkat keras dan perangkat lunak dalam pendidikan. Prosedur pembelajaran didasarkan pada psikologi

behaviorisme dan teori stimulus-respons (S – R Bond). Artinya, tujuan yang dirumuskan harus berbentuk perilaku (behavioral objective) yang dapat diukur dan diamati serta diarahkan untuk menguasai sejumlah kompetensi.

Metode stimulus-respons ini sangat sering di gunakan oleh guru, karena metode ini sangat baik untuk menumbuhkan semangat belajar siswa, karena dengan metode stimulus-respons ini guru banyak memberikan rangsangan-rangsangan, seperti pertanyaan, tugas, dan kuis. Yang menuntut peserta didik memberikan respons. Jika jawaban peserta didik betul, maka harus segera diberitahukan karena merupakan reinforcement antara stimulus dengan respons atau antara pertanyaan dengan jawaban. Jika salah harus diberikan perbaikan atau feedback. Sehingga siswa dapat memberikan respons yang tepat dan tuntas (mastery learning). Pendekatan pembelajaran ini secara individual, artinya peserta didik menghadapi tugas dengan kecepatan masing-masing.

B. RUMUSAN MASALAH

Dari uraian latar belakang diatas maka dapat kita simpulkan beberapa rumusan masalah tentang KURIKULUM sebagai berikut :

A. Bagaimana sejarah kurikulum dan perkembangannya di indonesia ?

B. Bagaimana sejarah kurikulum dan perkembangannya di tingkat sd, smp, dan sma ?

(5)

BAB 2 PEMBAHASAN

A. SEJARAH dan PERKEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA

Sejarah mencatat bahwa Kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia yakni kurikulum 1947 sampai kurikulum 2013, kurikulum tersebut mengalami pembaruan-pembaruan mengikuti perkembangan dunia pendidikan yang semakin modern dan tentunya karena faktor perkembangan zaman. Berikut kurikulum dari dulu sampai sekarang.

1) Rentjana pelajaran 1947

Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah dalam bahasa Belanda leer plan artinya rencana pelajaran, istilah ini lebih popular dibanding istilah curriculum (bahasa Inggris). Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Sedangkan asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Kurikulum yang berjalan saat itu dikenal dengan sebutan Rentjana Pelajaran 1947, yang baru dilaksanakan pada tahun 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok:

a. Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, b. Garis-garis besar pengajaran.

Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Orientasi Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pada pendidikan pikiran. Yang diutamakan adalah: pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

2) Rentjana Pelajaran Terurai 1952

Pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang kemudian diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

(6)

Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali, seorang guru mengajar satu mata pelajaran,” kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Pada masa itu juga dibentuk kelas Masyarakat. Yaitu sekolah khusus bagi lulusan Sekolah Rendah 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti

pertanian, pertukangan, dan perikanan tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja

3) Kurikulum 1964, Rentjana Pendidikan 1964

Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional prak tis.Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964 pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pendidikan di indonesia. Kali ini diberi nama dengan Rentjana Pendidikan 1964. Yang menjadi ciri dari kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerigelan dan jasmani.

Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keterampilan, dan jasmani. Ada yang menyebut Panca wardhana berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral,

kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis

4) Kurikulum 1968

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan kurikulum 1964, yakni dilakukan perubahan struktur kulrikulum pendidikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.

Kurikulum ini merupakan perwujudan perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis yaitu mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan

organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja,” katanya. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.

(7)

Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.

5) Kurikulum Periode 1975

Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.

Setiap satuan pelajaran dirinci lagi dalam bentuk Tujuan Instruksional Umum (TIU), Tujuan Instruksional Khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi. Guru harus trampil menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.

6) Kurikulum 1984, Kurikulum 1975 yang Disempurnakan

Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut Kurikulum 1975 yang disempurnakan. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986.

Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Akhiran penolakan CBSA bermunculan.

(8)

7) Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Tujuan pengajaran menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan.

Pada kurikulum 1994 perpaduan tujuan dan proses belum berhasil karena beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kehadiran Suplemen Kurikulum 1999 lebih pada menambal sejumlah materi.

8) Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)

Kurikulum 2004, disebut juga Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu: pemilihan kompetensi yang sesuai; spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi; dan pengembangan pembelajaran. Ciri-ciri KBK sebagai berikut:

 Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

 Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi,

3. sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

 Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.  Struktur kompetensi dasar KBK ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan semester.

 Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut.

(9)

5 5 Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan,

1. Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?

2. Hasil belajar mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian.

9.

Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator. Perumusan indikator adalah untuk menjawab pertanyaan, Bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan?.

Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan kompetensi tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran.

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Puskur, 2002:55).

Kurikulum 2004 lebih keren dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap mata pelajaran dirinci berdasarkan kompetensi apa yang mesti di capai siswa. Kerancuan muncul pada alat ukur pencapaian

kompetensi siswa yang berupa Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Nasional yang masih berupa soal pilihan ganda. Bila tujuannya pada pencapaian kompetensi yang diinginkan pada siswa, tentu alat ukurnya lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur sejauh mana pemahaman dan kompetensi siswa. Walhasil, hasil KBK tidak

memuaskan dan guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.

9) Kurikulum Periode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran) 2006

(10)

6 Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP dimana panduan tersebut berisi sekurang-kurangnya model-model kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tersebut dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/ karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.

Tujuan KTSP ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk

memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Tujuan Panduan Penyusunan KTSP ini untuk menjadi acuan bagi satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,

SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.

Dengan terbitnya permen nomor 24 tahun 2006 yang mengatur pelaksanaan permen nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi kurikulum dan permen nomor 23 tahun 2006 tentang standar kelulusan, lahirlah kurikulum 2006 yang pada dasarnya sama dengan kurikulum 2004. Perbedaan yang menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada jiwa dari desentralisasi sistem pendidikan.

Pada kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, sedangkan sekolah dalam hal ini guru dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran, dihimpun menjadi sebuah perangkat yang dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan KTSP menjadi tanggung jawab sekolah di bawah binaan dan pemantauan dinas pendidikan daerah dan wilayah setempat.

Pada akhir tahun 2012 KTSP dianggap kurang berhasil, karena pihak sekolah dan para guru belum memahami

seutuhnya mengenai KTSP dan munculnya beragam kurikulum yang sulit mencapai tujuan pendidikan nasional. Maka mulai awal tahun 2013 KTSP dihentikan pada beberapa sekolah dan digantikan dengan kurikulum yang baru.

10) Kurikulum Periode 2013

(11)

7 B. SEJARAH KURIKULUM DI TINGKAT PENDIDIKAN

A. SEJARAH KURIKULUM DI TINGKAT SD

1. Kurikulum Sekolah Dasar pada Masa Kompeni (sampai 1960)

Bangsa Eropa baik Portugis maupun Belanda pada awalnya belum memperhatikan pendidikan dan tujuan mereka ke Indonesia hanya akan mencari rempah-rempah dan berdagang. Walaupn demikian tetapi bangsa Eropa ada tujuan lain ke Indonesia yaitu untuk menyebarkan agama. Pada abad 16 dan 17, berdirilah lembaga-lembaga

pendidikan dalam upaya penyebaran agama Kristen ditanah air. Sedangkan Portugis mendirikan lembaga pendidikan di Maluku dalam upaya penyebaran agama Katolik. Dengan adanya lembaga pendidikan tersebut, pihak kompeni

merasakan perlunya ada pegawai untuk membantu mengembangkan lembaga tersebut. Pada zaman Inggris (1811-1816), masalah pendidikan tidak diperhatikan. Sekolah-sekolah yang dibangun pada zaman Deandels (1808-1811) hampir tidak ada lagi.

Namun pada zaman Van den Bosch (1830-1834), Belanda memerlukan pegawai rendahan yang dapat membaca dan menulis yang jumlahnya cukup banyak untuk keperluan tanam paksa. Untuk keperluan tersebut sekolah-sekolah mulai dibuka kembali, tetapi hanya untuk anak pribumi atau priyayi pribumi. Pada tahun 1848, biaya pendidikan di tanah air lumayan besar jumlahnya. Berdirilah sekolah-sekolah bagi bangsa Belanda dan juga bagi pribumi. Sekolah sangat diutamakan bagi Belanda pada tahun 1892 terdapat dua macam sekolah rendah. Pertama, Sekolah Kelas Dua untuk anak pribumi,dengan lama pendidikan 3 tahun, dan pelajaran yang diprogramkan adalah berhitung, menulis, dan membaca.

Sekolah Kelas Satu untuk anak pegawai pemerintah Hindia Belanda. Lama pendidikan awalnya 4 tahun, kemudian 5 tahun dan akhirnya 7 tahun. Tujuaannya untuk mendidik pegawai-pegawai rendahan untuk keperluan kantor-kantor pemerintah dan kantor-kantor dagang.

2. Kurikulum SD pada Zaman Kolonial Belanda

Seiring munculnya revolusi social dan industry di Eropa pada abad 20, muncul paham humanis. Di Indonesia muncul Politik Etisch yang member pengaruh terhadap perluasan sekolah pada putra-putri Indonesia. Pada masa itu di Jawa Tengah dibangun Sekolah Dasar yang lamanya 3 tahun, semacam Sekolah Kelas Dua. Sekolah-Sekolah Kelas Dua pada tahun 1905 sudah menjadi 5 tahun. Kemudian pada tahun 1914, didirikan Sekolah Sumbangan yang lamanya 2 tahun setelah Sekolah Desa.

3. Kurikulum SD pada Zaman Jepang

(12)

8 Jenis pendidikan ini kurang memerhatikan isi. Anak didik pada masa itu harus membantu Jepang dalam

peperangan sehingga anak-anak pribumi harus mengikuti latihan militer di sekolah. Pelajaran olahraga sangat penting, karena itu anak didik harus mengumpulkan batu, kerikil, dan pasir untuk kepentingan pertahanan. Kemudian anak-anak sekolah juga disuruh untuk menanam pohon jarak untuk membuat minyak demi kepentingan perang. Selanjutnya, pelajaran berbau Belanda dihilangkan, dan Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar.

4. Kurikulum SD Pascakemerdekaan a. Masa Setelah Merdeka Sampai 1952

Setelah merdeka, pedoman pelaksanaan pendidikan berdasarkan UUD 1945. Atas usul dari badan pekerja KNIP, pada Desember 1945 dibentuklah Panitia Penyelidikan Pendidikan oleh Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebeudayaan (PP dan K). pada masa kedudukan Belanda (NICA), Indonesia dibagi menjadi Negara bagian (RIS), setelah kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang diresmikan pada 17 Agustus 1945, pendidikan disatukan kembali, keadaan ini berlangsung sampai 1952.

b. 1952-1964

Pada masa ini, pendidikan di Indonesia mengalami penyempurnaan. Tujuan pendidikan dan pengajaran Republik Indonesia pada waktu itu adalah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Pada tahun 1952 pemerintah Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan menerbitkan Rencana pengajaran terurai untuk Sekolah Rakyat III dan IV yang berguna untuk guru sebagai pedoman dalam proses belajar mengajar pada sekolah dasar. Jenis-jenis pelajaran pada waktu itu adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, dan Sejarah.

Mata pelajaran lain yang juga diajarkan di sekolah selain mata pelajaran yang telah tercantum di dalam Rencana Pelajaran Terurai, sesuai dengan peraturan Kementerian PP dan K mengenai Sapta Usaha Tama, yaitu Penerbitan aparatur dan usaha-usaha Kementerian PP dan K

 Menggiatkan kesenian dan olahraga  Mengharuskan penabungan

 Mewajibkan usaha-usaha koperasi  Mengadakan kelas masyarakat

(13)

9 Kurikulum Sekolah Dasar (SD) dari 1952 sampai 1964 dapat dikategorikan sebagai kurikulum tradisional, yaitu separated subject curriculum. Tujuan pendidikan pada masa ini adalah membentuk manusia Pancasila dan

Manipol/Usdek yang bertanggung jawab atas terselenggaranya masyarakat adil dan makmur, materiil, dan spiritual. Sistem pendidikan dinamakan Sistem Panca Wardana atau sistem lima aspek perkembangan yaitu perkembangan moral, perkembangan intelegensi, perkembangan emosional artistik (rasa keharuan), perkembangan keprigelan, dan perkembangan jasmaniah.

Kelima wardana tersebut diuraikan menjadi beberapa bahan pembelajaran, yaitu :

 Perkembangan moral: pendidikan kemasyarakatan dan pendidikan agama/budi pekerti

 Perkembangan intelegensi: bahasa Indonesia, bahasa daerah, berhitung, dan pengetahuan alamiah  Perkembangan emosional/artistik: seni sastra/music, seni lukis/rupa, seni tari, dan seni sastra/drama

 Perkembangan keprigelan: pertanian/peternakan, industri kecil/pekerjaan tangan, dan keprigelan-keprigelan yang lain

 Perkembangan jasmaniah: pendidikan jasmaniah dan pendidikan kesehatan

Dalam pelaksanaan kurikulum terdapat petunjuk bahwa keberadaan anak didik lebih efektif, tetapi masih dalam bimbingan pendidik (guru). Disamping mata pelajaran Wardana, dikenal juga Krida, yang berarti hari untuk berlatih menurut bakat dan minat anak didik. Kurikulum sekolah dasar tahun 1964 dapat dikategorikan sebagai Correlated Curriculum. Hal ini tampak dari kurikulum masa ini yang mengarahkan dan anak didik untuk terjun ke dunia kerja.

c. Kurikulum SD Sejak Orde Baru (1965) hingga 1968

Pada tahun 1968 pemerintah c.q. Departemen P dan K menerbitkan buku Pedoman Kurikulum Sekolah Dasar yang dinamakan kurikulum SD, sebagai reaksi terhadap Rencana Pendidikan TK dan SD, yang didalamnya berbau politik Orla (Orde Lama). Perubahan-perubahan terletak pada landasan pendidikannya yang berdasarkan falsafah Negara Pancasila. Berikut ini uraiannya :

1. Dasar Pendidikan Nasional

Ketetapan MPRS No. XXVI/MPRS/1996 Bab II Pasal 2

2. Tujuan Pendidikan Nasional

Ketetapan MPRS No. XXVII/Bab II Pasal 3

3. Isi Pendidikan Nasional

Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1996 Bab II Pasal 4

(14)

mata pelajaran agar seorang pendidik lebih aktif mendorong anak didik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

10 B. Kurikulum di tingkat SMP

SMP merupakan Lembaga Pendidikan Formal sesudah SD dan merupakan persiapan bagi Sekolah Menengah Atas (SMA). Perkembangan kurikulum di Indonesia mengalami masa yang meliputi masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, dan masa Republik Indonesia.

1. Masa Penjajahan Belanda

Pada masa pemerintahan Belanda, kurikulum Sekolah Menengah Pertama yang formal sudah ada kesesuaiannya dengan masa sekarang.

a. Periode sebelum 1900

Sekolah Menengah Pertama mulai pada zaman penjajahan Belanda dan didirikan pada 1960 yang bernama

Gymnasium. Lamanya belajar 3 tahun dan siswa-siswanya hanya terbatas pada orang-orang Barat/golongan ningkrat. Hal ini didasarkan atas kebutuhan akan pegawai-pegawai yang terdidik, baik untuk jawatan-jawatan pemerintahan maupun untuk organisasi-organisasi.

b. Periode 1900-1914

Situasi politik dunia pada akhir abad ke-19 mengalami perubahan disebabkan adanya revolusi social dan industry serta pandangan atau aliran humanisme. Hal ini berlaku pula pada Negara Belanda sehingga timbul paham yang disebut politik etnis atau erschuld. Aliran ini menuntut agar pemerintahan jajahan memerhatikan rakyat jajahannya.

c. Periode 1914-1935

Dengan dilatarbelakangi oleh meluasnya paham humanitas di kalangan orang Belanda, akhirnya pemerintah didesak untuk memperluas pendidikan bagi kaum pribumi. Dengan demikian, didirikanlah sekolah MULO yang lam belajarnya 4 tahun.

d. Periode 1935-1945

Karena keterbatasan pendidikan yang bersifat skill pada sekolah MULO, pemerintah Belanda pun dituntut untuk meninjau kembali rencana pendidikan dan pembelajaran MULO. Berdasarkan hal itu pemerintah Belanda mengubah struktur organisasi MULO dengan mengembangkan bahasa Indonesia (yang dulunya bahasa Melayu) pada kelas tiga, dan hal itu dilakukan untuk memenuhi tuntutan masyarakat.

2. Kurikulum SMP pada Masa Jepang (1942-1945)

Pada masa penjajahan Jepang. Kurikulum yang diterapkan bertujuan agar rakyat dapat membantu pertahanan Jepang. Hal itu dimulai dari perubahan bahasa, dari bahasa Belanda diubah menjadi menjadi bahasa Jepang, mata pelajaran ilmu pasti, ilmu alam, ilmu hayat,dijadikan pengetahuan dasar, seperti yang diberikan di MULO, yaitu pada ilmu pasti,alam. Mata pelajaran ilmu bumi, sejarah, dan tata Negara yang dahulunya terpusat pada Belanda sekarang berubah terpusat pada Jepang (Asia Timur Raya).

(15)

11 3. Masa Republik Indonesia

a. Masa 1945-1950

Seperti yang telah dijelaskan, isi kurikulum pendidikan masa penjajahan Belanda berorientasi pada tujuan untuk mempersiapkan tenaga pegawai yang diperlukan oleh pemerintah Belanda, dan pada masa penjajahan Jepang isi kurikulumnya bertujuan untuk membantu kelancaran dan pertahanan Jepang selama mereka berada di Indonesia merdeka, yang diawali dengan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, telah menciptakan hidup baru dalam segala bidang,termasuk bidang pendidikan. Sebagai pedoman bagi rakyat pemerintah menggunakan Rencana

Pendidikan dan Pengajaran yang telah disiapkan pada saat-saat terakhir pendudukan Jepang. Kemudian, Ki Hajar Dewantara, Menteri PP dan K, mengeluarkan intruksi umum yang memerintahkan kepada semua kepala sekolah dan guru-guru, yaitu :

Pengibaran Sang Saka Merah Putih di halaman sekolah pada setiap harinya Menyanyikan lagu Indonesia Raya, sebagai lagu kebangsaan

Menurunkan Bendera Jepang dan menghilangkan Kimigayo

Menghapuskan Bahasa Jepang dan semua upacara yang berasal dari bala tentara Jepang; Memberikan semangat kebangsaan kepada anak didik atau murid

b. Masa 1950-1962

(16)

12 C. KURIKULUM DI TINGKAT SMA

Kurikulum SMA

Berikut ini kategori kurikulum SMA di Indonesia sejak masa penjajahan dan pascakemerdekaan.

1. Kurikulum SMA pada Masa Belanda

Sekolah Menengah Atas (SMA) pada zaman Belanda adalah AMS (Algemene Midelbare School). Sekolah ini berdiri pada tahun 1919, setelah mendirikan Sekolah Menengah Pertama, seperti MULO (Meer Uifgebried Order Wijs) pada 1914, Gymnasium Villen 3 tahun (1897) dan HBS (1875) denagn lama pendidikan 3 tahun, kemudian berubah menjadi 5 tahun.

AMS mempunyai tujuan sebagai berikut :

Memberi kesempatan kepada pemuda Indonesia untuk meneruskan pelajaran. Sebagai jembatan untuk meneruskan ke perguruan tinggi.

Mendidik anak didik untuk menjadi pegawai-pegawai Kolonial Belanda dan mempertahankan kekuasaannya. Lamanya pendidikan AMS adalah 3 tahun, bagian A dan B.

Bagian A : Ilmu Pengetahuan Kebudayaan, yaitu Kesusastraan Timur (AI), Kesusastraan Klasik Barat (AII). Bagian B : Ilmu Pengetahuan Kealaman.

Mata pelajaran pokok AMS bagian AI (Kesusastraan Timur) adalah Bahasa Jawa, Bahasa Melayu, Sejarah Indonesia, dan ilmu bangsa-bangsa. Mata pelajaran pokok AII (Kesusastraan Klasik Barat) adalah Bahasa Latin.

2. Kurikulum SMA pada Masa Jepang

Pada tahun 1942, AMS (milik Belanda) diganti oleh Jepang menjadi Sekolah Tinggi (SMT) dengan lama belajar 3 tahun. Isi di dalam rencana pelajaran SMT yang sangat penting untuk diketahui adalah sebagai berikut :

Pemakaian Bahasa Belanda dilarang.

Bahasa resmi dan pengantar Bahasa Indonesia. Bahasa Jepang menjadi mata pelajaran wajib. Pengajaran adat istiadat Jepang.

Sejarah Jepang sangat penting.

Pelajaran Ilmu Bumi dalam aspek geopolitik perlu dipelajari.

(17)

13 3. Kurikulum SMA Masa RI

a. Masa 1950-1965

Pada 1950, lahirlah UU Pendidikan dan Pengajaran di sekolah yang berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 yang kemudian diubah menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1945. Pada Bab II pasal 3, diungkapkan tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah, yaitu membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Sejak 1959, Indonesia menganut paham Demokrasi Terpimpin sehingga pendidikan yang sedang berlangsung pun disesuaikan dengan paham ini. Berdasarkan rapat Direktur semua SMA pada Mei 1962, dinyatakan “ Hubungan antara haluan Negara dengan pendidikan erat sekali, karena pendidikan menyiapkan anak supaya kelak manjadi warga Negara yang baik ”.

b. Masa 1965-1985

Perkembangan kurikulum sekolah meliputi beberapa dimensi dasar(falsafah), tujuan pendidikan nasional, orientasi pelajaran, kualifikasi lulusan yang dikehendaki, orientasi dan isi kurikulum desain kurikulum, pendekatan metodologis, pembimbing dan fasilitas.

c. Masa 1994

Pada PP No. 29/1990 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan pengetahuan siswa untuk melancarkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,dan kesenian (Pasal 2: 1). Kemudian tujuaannya adalah untuk

meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbale balik dengan lingkungan sosial budaya alam dan sekitarnya (pasal 2: 2). Untuk mencapai tujuan di atas, penyelenggaraan pendidikan menengah berpedoman pada tujuan pendidikan nasional.

(18)

14 BAB 3

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari pembahasan tentang Sejarah Kurikulum dari Masa ke Masa, maka dapat di simpulkan bahwa kurikulum tersebut merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dalam mengelola pengembangan pendidikan di sekolah dan untuk mencapai tujuan yang efektif serta efisien dalam bidang pendidikan maka di butuhkan sumber daya yang berupa person, money, materials, method, machines, market, minute dan information.

B. KRITIK DAN SARAN

(19)

15 DAFTAR PUSTAKA

Model-Model Pengembangan Kurikulum. (online) http://wulanendang.blogspot.com/model-model-pengembangan-kurikulum Diakses 13 November 2013

Pengertian Menurut Para Ahli. (online) http://www.pengertianahli.com/2013/09/pengertian-kurikulum-menurut-para-ahli.html Diakses 13 November 2013

Idi, Abdullah. 2011, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik : Ar-Ruzz Media. Jogjakarta

http://www.gurungapak.com/2016/03/perkembangan-kurikulum-1947-sampai.html

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Pemerintah hanya memberikan rambu-rambu yang perlu dirujuk dalam hal mengembangkan kurikulum, yakni: (1) Undang-Undang No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;

Merujuk pada pengertian kurikulum sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa “Kurikulum adalah seperangkat

KTSP disusun dan dikembangkan sebagai berikut: (1) Pengembangan kurikulum mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional; (2) Kurikulum pada

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Perencanaan kurikulum yang dilaksanakan berdampak positif terhadap keefektivan pembelajaran, yang meliputi: penyusunan program

2. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana

Analisis terhadap kurikulum sebelumnya yaitu tahun 1984, 1994, dan 2006 menunjukkan target tujuan pembelajaran atau standar kompetensi berdasarkan domain kognitif

Kebijakan UM dalam Pengembangan Kurikulum 1 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2 Undang-undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi 3

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan KTSP adalah Kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan dan dilaksanakan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan