LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
(PKL)
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN TANAMAN JAGUNG MENGGUNAKAN MODEL ANALISA SPASIAL DI
KABUPATEN AGAM
Oleh :
MARA HAKIM NASUTION No. BP : 1311111039
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perkembangan pertanian lahan kering memiliki harapan besar dalam menunjang pertanian tangguh masa depan di Indonesia. Salah satu dari tanaman yang banyak dibudidayakan pada lahan kering adalah jagung ( Zea Mays, L). Jagung sebagai sumber karbohidrat kedua setelah beras, disamping itu jagung berperan juga sebagai bahan baku industri pangan, industri pakan, dan bahan provinsi penghasil jagung terbesar adalah Jawa Timur (31,12%), yang kemudian disusul oleh Jawa Tengah (15,83%), sedangkan provinsi Sumatera Barat hanya (2,96%) dari kebutuhan nasional.
Budidaya tanaman jagung sudah banyak dilakukan oleh masyarakat tani Sumatera Barat salah satunya Kabupaten Agam. Luas tanam jagung di Kabupaten Agam dari tahun 2013 hingga 2016 mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 seluas 7.625 hektar tahun 2015 seluas 10.239 hektar, dan pada tahun 2016 menjadi 14.084,3 hektar. Sementara luas panen tahun 2014 sebesar 7.932 hektar, tahun 2015 sebesar 9.419 hektar dan tahun 2016 12.252,1 hektar. (BPS Kabupaten Agam 2016). Pertambahan luas tanam komoditi jagung tidak sejalan dengan luas panen yang dilakukan setiap tahunnya.
Dapat dilihat dari data PBS Kabupaten Agam, terjadi pertambahan luasan lahan terjadi setiap tahunnya sementara luas panen lebih kecil dari luas tanam. Hal ini membuktikan tidak semua lahan dapat dikembangkan untuk tanaman jagung, perlu dilakukan evaluasi kesesuaian lahan dengan spasial untuk melihat daerah yang memiliki potensi pengembangan lahan jagung.
penggunaan lahan yang diperlukan, dan akhirnya nilai harapan produksi yang
kemungkinan akan diperoleh (Departemen Pertanian, 2002).
1.2 Tujuan
Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan tanaman
jagung di Kabupaten Agam serta memberikan informasi kepada petani mengenai
kawasan yang berpotensi dijadikan lahan budidaya jagung.
1.3 Topik Penelitian
Topik kegiatan penulis yakni “Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman
JagungMenggunakan Model Analisa Spasial di Kabupaten Agam”. 1.4 Tempat dan waktu
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilaksanakan di SEAMEO
BAB II
URAIAN TEMPAT PKL
2.1 Profil Tempat PKL
SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) adalah
Organisasi Menteri – Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara yang didirikan pada
tahun 1965 melalui SEAMEO Charter yang ditandatangani oleh 7 (tujuh) negara
di Asia Tenggara. Dengan terbentuk SEAMEO, maka dibentuklah pusat-pusat
penelitian regional di Negara-negara Asia Tenggara yang saat ini berjumlah 21
pusat, termasuk SEAMEO BIOTROP sebagai salah satu pusat penelitian regional
bidang biologi tropika. Negara-negara anggota SEAMEO adalah Indonesia,
Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippina, Singapura,
Thailand, Vietnam dan Timor Leste serta 8 (delapan) negara sahabat (Associate
Member Countries) yaitu Australia, Canada, Prancis, Jerman, Belanda, Selandia
Baru, Spanyol dan Inggris. SEAMEO BIOTROP merupakan Pusat Regional Asia
Tenggara untuk Biologi Tropika dan merupakan salah satu pusat (center) di
bawah SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) yang
didirikan pada tanggal 6 Februari 1968 berlokasi di Jl. Raya Tajur KM. 6, Bogor,
Jawa Barat 16134.
2.2 Ruang Lingkup Kegiatan
SEAMEO BIOTROP memiliki tugas dan mandat dari Dewan Pembina yang
meliputi pembinaan sumber daya manusia di Asia Tenggara. Kegiatan tersebut
terdiri dari penelitian, pelatihan, kerjasama, dan penyebaran informasi dalam
lingkup Biologi Tropika. SEAMEO BIOTROP melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0186/9/1997 menjadi salah satu pusat penelitian dan pengembangan biologi tropika dengan institusi pendamping utama (host) yaitu Institut Pertanian Bogor.
2.2.1 Visi
2.2.2 Misi:
Untuk memberikan pengetahuan ilmiah dan pengembangan kapasitas dalam melestarikan dan mengelola biologi tropis berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan di Asia Tenggara
2.2.3 Tujuan
1. Penyediaan informasi berbasis ilmu pengetahuan untuk memungkinkan masyarakat dan lembaga mengatasi masalah biologi dan mendapatkan keuntungan dari nilai-nilai yang nyata dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya biologi tropika di kawasan Asia Tenggara
2. Penguatan kapasitas individual dan institusional akan pengetahuan saat ini dan praktek-praktek yang baik dalam biologi tropis
3. Penyediaan akses yang sama terhadap informasi dalam biologi tropis untuk meningkatkan pengetahuan, praktik, dan kebijakan
4. Memfasilitasi intervensi pembangunan dan kemitraan yang efektif untuk pemanfaatan berkelanjutan dan pembagian keuntungan yang adil dari sumber daya biologi tropis di kawasan Asia Tenggara
5. Peningkatan manajemen organisasi dan efisiensi terhadap penggunaan maksimal dari sumber daya dan pelayanan yang efektif untuk klien dan mitra
Program Utama (Program Thrusts)
SEAMEO BIOTROP memjalankan kegiatan dengan program utama yang diharapkan akan memberikan kontribusi untuk mengatasi masalah kemiskinan dan perubahan iklim di wilayah ini dan sekitarnya dalam bidang:
2.3 Mnanajemen/Organisasi
SEAMEO BIOTROP dipimpin oleh direktur yang juga bertugas sebagai Governing Board SEAMEO di Indonesia. Direktur membagi tugas kepada dua deputi yaitu Deputi Bidang Program dan Deputi Bidang Manajemen Sumberdaya. Kedua deputi ini mengkoordinasikan tugas kepada kepala departemen yang disebut Manajer. Deputi Bidang Program membawahi 3 departemen yaitu Knowledge Management Department (KMD), Research Department(ReD) dan Capacity Building and Community Development Department. Sedangkan Deputy Bidang Manajemen Sumberdaya membawahi departemen pendukung seperti Financial and Accounting Department (FAD), Facilities Management Department (FMD), General Administration and Public Relation Department (GAPr), Human Resources Department (HRD), dan Products Development and Services Department (PDSD). Struktur organisasi SEAMEO BIOTROP dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Struktur Organisasi SEAMEO BIOTROP Sumber : http://www.biotrop.org/
Department (KMD) dalam mendukung kegiatan pertukaran informasi dan mengembangkan kapasitas ICT dan infrastruktur untuk mendukung kegiatan BIOTROP. Manajer membawahi dua supervisor yaitu Supervisor bidang Manajemen Informasi dan Supervisor bidang Pengembangan dan Pelayanan Sistem Informasi. Kedua supervisor ini mengkoordinasikan tugas kepada setiap staff yang ada di KMD. Struktur organisasi KMD dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Struktur Organisasi KMD Sumber : http://www.biotrop.org/
Adapun tugas dan fungsi KMD berdasarkan sasaran manajemen mutu SEAMEO BIOTROP adalah :
Mengelola dan memastikan ketersediaan informasi, literatur dan publikasi ilmiah di bidang biologi tropika untuk kepentingan organisasi dan stakeholders.
Memastikan pengelolaan dan ketersediaan informasi dan publikasi tentang organisasi untuk pihak eksternal.
Mengelola diseminasi dan pertukaran informasi/publikasi dengan pihak eksternal.
Mengelola media/fasilitas yang memberikan akses yang sama dan seluas-luasnya terhadap informasi/publikasi bidang biologi tropika yang dihasilkan organisasi.
Memastikan pengelolaan kegiatan penyediaan data citra satelit dan layanan analisis data spasial.
Mengembangkan, mendesain dan mengelola aplikasi perangkat lunak (software) untuk kepentingan organisasi.
BAB III
KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN
3.1 Jadwal Kegiatan
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan selama 30 hari dimulai pada tanggal 3 januari 2017 dan berakhir pada 5 Februari 2017. Berikut jenis kegiatan yang dilakukan dapat dilihat pata Tabel 1.
Tabel 1. Jadwal Kegiatan
Hari Ke- Hari Tanggal Kegiatan
1 Selasa 3 Januari 2017 Perkenalan tempat PKL,Penjelasan tantang jadwal kedepan
2 Rabu 4 Januari 2017 Pertemuan dengan pembimbing lapangan dan perkenalan GIS
3 Kamis 5 Januari 2017 Perkenalan menggunakan GIS
4 Senin 9 Januari 2017 Latihan Menggunakan GIS
5 Selasa 10 Januari 2017 Pengenalan citra satelit 6 Rabu 11 Januari 2017 Mengumpulkan bahan penelitian 7 Kamis 12 Januari 2017 Mengumpulkan bahan penelitian
8 Jum’at 13 Januari 2017 Mengumpulkan bahan penelitian dan
rapat pembetukan tim survey project biotrop
9 Senin 16 Januari 2017 Pembagian tugas tim prepare dan belajar GPS
10 Selasa 17 Januari 2017 Belajar GPS
11 Rabu 18 Januari 2017 Survey project biotrop
12 Kamis 19 Januari 2017 Input data survey dan evaluasi
13 Jum’at 20 Januari 2017 Survey
14 Senin 23 Januari 2017 Digitasi Land use dan merge data 15 Selasa 24 Januari 2017 Pengenalan Remote Sensing
16 Rabu 25 Januari 2017 Komposit Citra dan
pengenalan ER Mapper
17 Kamis 26 Januari 2017 Input data survey
18 Jum’at 27 Januari 2017 Mengerjakan project penelitian dan
peta administrasi
20 Selasa 31 Januari 2017 Pembuatan peta suhu, penggunaan lahan Membuat peta kelerengan
21 Rabu 1 Februari 2017 Pembuatan Laporan Akhir
22 Kamis 2 Februari 2017 remote sensing
23 Jum’at 3 Februari 2017 Administrasi dan perpisahan
3.2 Prosedur Kegiatan 3.2.1 Alat dan bahan
Adapun alat yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah seperangkat komputer dan bahan yang digunakan ialah data curah hujan tahun 2008 sampai dengan tahun 2015, data suhu bulanan tahun 2015, peta tutupan lahan tahun 2011, peta administrasi, SRTM skala 1 : 50.000 (lampiran 2), peta jenis tanah tahun 2009.
3.2.2 Metode
Kegiantan ini adalah evaluasi kesesuaian lahan jagung dengan menggunakan parameter kelerengan tanah, curah hujan, suhu, dan jenis tanah yang ada. Pengklasifikasian parameter dilakukan dengan menggunakan metoda scoring dimana parameter yang ada dikelompokkan menurut tingkat kesesuaiannya serta diberi nilai atau skor mulai dari 1 hingga 4. Nilai atau skor 1 merupakan kelas tidak sesuai, nilai 2 sesuai merginal, nilai 3 sesuai dan nilai 4 adalah sangat sesuai.
Setelah pengklasifikasian, maka selajutnya dilakukan overlay atau tumpang tindih semua parameter yang digunakan. Overlay ini akan memberikan informasi kawasan atau wilayah yang sesuai untuk budidaya jagung di Kabupaten Agam dengan menjumlahkan total nilai atau skor semua parameter.
3.2.3 Analisis data
Pada kegiatan ini dilakukan analisis terhadap parameter-parameter yang digunakan dalam evaluasi kesesuaian lahan. Parameter yang digunakan sebanyak empat macam diantarnya ialah curah hujan (CH), suhu, kemiringan atau kelerengan lahan serta jenis tanah.
a. Curah hujan
Pembagian kelas kesesuaian curah hujan Menurut Djaenuddin dkk (2000), dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Klasifikasi curah hujan
Curah Hujan (mm/tahun) Kelas Skor
500 – 1200 S1 4
400-500 S2 3
1200 – 1600 S3 2
1600 N 1
Sumber : Wirosoedarmo AGRITECH, Vol. 31, No. 1, FEBRUARI 2011
b. Suhu
Sumber : Devi Junita,/ Jurnal nasional Ecopedon Vol.2 No.2 (2014)33-35
c. Kelerengan
Menurut Deptan (2000), pembagian kelerengan untuk budidaya jagung dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Klasifikasi Kelerengan
Sumber : Devi Junita,/ Jurnal nasional Ecopedon Vol.2 No.2 (2014)33-35
d. Jenis tanah
Tersedianya zat makanan di dalam tanah sangat menunjang proses
pertumbuhan tanaman hingga menghasilkan atau berproduksi (Sudjana dkk.,
1991). Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus, hampir berbagai
macam tanah dapat diusahakan untuk pertanaman jagung.Klasifikasi tanah untuk
Tabel 5. Klasifikasi Tanah untuk jagung
Jenis Tanah Kelas Skor
andosol S1 4
grumusol dan regosol S2 3 Glei humus, organosol,
dan pedsolik.
S3 2
Sumber : Devi Junita,/ Jurnal nasional Ecopedon Vol.2 No.2 (2014)33-35
Setelah dilakukan pengklasifikasian semua parameter yang digunakan maka selanjutnya dilakukan overlay atau tumpang tindih seluruh parameter. Hal ini bertujuan untuk menentukan kelas kesesuaian lahan dengan berdasarkan total skor dari gabungan semua parameter.
Rentang skor atau interval untuk masing-masing kelas diketahui dengan menggunakan rumus :
= −1. ... 1
Keterangan : RS : rentang skor n : jumlah parameter
m : jumlah alternatif jawaban tiap item 3.3 Hasil Kegiatan
3.3.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Secara geografis Kabupaten Agam berada pada 000 01’ 34” – 000 28’ 43 LS dan 990 46’ 39” – 1000 32’ 50” BT yang memiliki 16 kecamatan yaitu Kecamatan Lubuk Basung, Ampek Nagari, Tanjung Raya, Tanjung Mutiara, Palembayan, Baso, Palupuh, Banuhampu, Canduang, IV Angkat, IV koto, Kamang Magek, Malalak, Matur, Tilatang Kamang, Sungai Pua dengan batas-batas daerah :
Utara : Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat Timur : Kabupaten 50 Kota
Selatan : Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Tanah Datar Barat : Samudera Indonesia
dengan sebaran bahaya potensi tsunami, barasi, gerakan tanah/longsor dan gempa serta letusan gunung berapi.
3.3.2 Parameter Kesesuaian Lahan a. Curah Hujan
Curah hujan merupakan salah satu unsur iklim yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Data curah hujan digunakan sebagai kriteria untuk mendapatkan keadaan iklim suatu daerah dalam hubungannya dengan kesesuaian dan persyaratan tumbuh tanaman.
Data pada Tabel 6 menginformasikan hasil analisis curah hujan dari beberapa stasiun yang akan dianalisis sesuai dengan metoda polygon thiessien.
Tabel 6. Curah Hujan Rata-Rata Tahunan Agam dan sekitar (2008-2015)
Sumber : Hasil Analisis 2017
Pada Tabel 6 disajikan rata-rata hujan tahunan dari enam stasiun yang tersebar disekitar wilayah Kabupaten Agam. Berdasarkan pengklasifikasian maka curah hujan di Kabupaten Agam berada pada klasifikasi S3 (sesuai marginal) dengan curah hujan minimum 1781,250 mm/tahun. Sebaran curah hujan Kabupaten Agam dapat dilihat pada Gambar 3.
b. Jenis tanah
Secara umum jenis tanah pda daerah penelitian Kabupaten Agam memiliki enam jenis tanah, seperti : andosol, glei humus, grumusol, organosol, pedsolik, regosol. Pada Tabel 7 dibawah ini menampilkan informasi mengenai jenis tanah pada kawasan Kabupaten Agam.
Tabel 7. Jenis Tanah Kabupaten Agam No Jenis Tanah Luas (Ha)
Sumber : BAKOSURTANAL
Berdasarkan Tabel 7 dijelaskan bahwa tanah grumusol sangat mendominasi dengan luas sebarannya 119845,93 Ha memiliki teksutur lempung dengan kandungan organik yang rendah, dan jenis tanah yang sebarannya paling sempit adalah Pedsolik dengan luas sebarannya 2,70 Ha yang memiliki tekstur liat hingga lempung berliat atau lempung berdebu dengan tingkat kesuburan yang sedang.
Jenis tanah andosol luasnya sebesar 58337,27 Ha dengan tekstur lempung dan atau lempung berdebu serta memiliki tekstur sedang, sedangkan jenis tanah regosol merupakan jenis tanah yang tekstur lempung berpasir dengan tingkat kesuburan yang rendah memiliki luas sebesar 4537,71 Ha. Jenis tanah organosol luasnya mencapai 18582,76 Ha yang memiliki tekstur lempung dan lempung berpasir dengan unsur hara rendah, jenis tanah glei humus memiliki tekstur debu dan atau liat berdebu yang memiliki luas sebesar 15494,52 Ha di Kabupaten Agam.
c. Kelerengan
Kelerengan merupakan salah satu faktor parameter yang digunakan dalam melakukan evaluasi lahan jagung. Kelerengan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Kelerengan Kabupaten Agam Besar Lereng Luas Wilayah
< 8 % 88381,348568
> 8% - < 16 % 31996,41505 >16 - < 30 % 46909,796456 > 30 % 46904,868376 Sumber : Hasil Analisis
Berdasarkan data tabel analisis yang didapat menunjukkan bahwa Kabupaten Agam merupakan wilayah yang cendrung datar dimana daerah yang memiliki kelerengan kurang dari 8 % sebesar 88381,35 Ha, luas daerah yang memiliki kelerengan besar dari 8 % dan kurang dari 16 % adalah 31996,42 Ha, daerah yang memiliki kelerengan besar dari 16 % dan kecil dari 30 % memiliki luas 46909,796456 Ha, sedangkan daerah yang memiliki kelerengan besar dari 30 % adalah seluas 46904,87 Ha. Sebaran kesesuaian kelerengan untuk tanaman jagung dapat dilihat pada Gambar 5.
d. Suhu
Suhu merupakan salah satu parameter dalam melakukan evaluasi lahan jagung di Kabupaten Agam, hal ini dikarenakan suhu termasuk dalam syarat tumbuh jagung. Data suhu yang digunakan merupakan data suhu bulanan yang dapat dilihat pada Lampiran 1. Hasil analisis suhu dapat dilihat pada Tabel 9.
(tidak sesuai) memiliki luas 5,84 Ha. Sebaran suhu Kabupaten Agam dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 memperlihatkan bahwa Kabupaten Agam memiliki potensi yang besar untuk pengembangan budidaya jagung hal ini dapat dilihat suhu dengan klasifikasi sangat sesuai (S1) memiliki luasan wilayah yang paling luas diantara klasifikasi lainnya. Sedangkan luas klasifikasi kesesuaian N (tidak sesuai) memiliki luasan paling sedikit.
3.3.3 Hasil Analisis Kesesuaian Lahan Tanaman Jagung
Kesesuaian lahan berguna untuk mengetahui penggunaan sumberdaya lahan dapt berlangsung dengan baik atau tidak. Dalam hal ini tipe penggunaan lahan adalah untuk tanaman jagung. untuk mendaptkan kelas kesesuaian lahan, pada masing-masing atribut peta satuan lahan dibandingkan dengan kriteria kelas kesesuaian lahan. Hasil analisis kesesuaian lahan jagung di Kabupaten Agam dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Kesesuaia Lahan
Kelas Lahan Luas Persentase (%)
S1 2128,765 0,99
S2 72175,889 33,68
S3 26861,644 12,53
N 83,294 0,04
Tidak Tersedia 113025,289 52,75
Pada Tabel 10 dapat dilihat kriteria lahan kelas S1 (sangat sesuai) seluas 2128,765 Ha atau 0,99 %, kelas kesesuaian S2 (sesuai) sebesar 33,66 % atau seluas 72175,889 Ha. Hal ini bisa menjadi pertimbangan dalam upaya menambah luas lahan untuk budidaya jagung karena kelas S1 dan S2 merupakn daerah dengan pengolahan lahan yang bisa dilakukan oleh petani.
Pada Tabel 6 terdapat kelas lahan tidak tesedia. Kelas lahan tidak tersedia merupakan lahan tidak bisa dilakukan budidaya jagung dikarenakan pada kelas ini merupakan lahan perkebunan, pemukiman, hutan, lahan sawah, dan tubuh air. sebaran kelas kesesuaian lahan dapat dilihat pada Gambar 7.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Kabupaten Agam mempunyai lahan dengan kategori kelas sangat sesuai (S1) untuk budidaya tanaman jagung dengan luas 2128,765 Ha (0,99%), dan lahan dengan kategori kelas sesuai (S2) 72275,889 Ha (33,64%). Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah hujan, suhu, kelerengan lahan serta jenis tanah tersedia untuk budidaya.
4.2 Saran
Saran untuk pelaksaan PKL adalah :
1. Peta yang digunakan sebagai sumber merupakan peta terbaru yang pernah ada.
2. Peta yang digunakan dalam melakukan kegiatan merupakan peta yang berasal dari satu sumber yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
Aniati Murni, Dr, GIS : Hardware & Software,Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia
Wirosoedarmo Ruslan. 2011. Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Jagung Menggunakan Metode Analisis Spasial. Jurusan Keteknikan Pertanian Universitas Sriwijaya. [Journal Agritech, Vol 31, No 1]
Sulistiyono Abidin Dwi. 2009. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Produktivitas Tanaman Jagung di DAS Grindulu Hulu Kabupaten Pacitan dan Ponorogo. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Junita Devi. 2014. Kesesuaian Jagung (Zea Mays) Dilahan Gambut Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Prodi Manajemen Produksi Pertanian Jurusan Budidaya Tanaman Pangan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. [Journal NEP Vol 2, No 2]
Denny charter, Irma Agtrisari.2002.Desain dan Aplikasi GIS, Elexmedia Komputindo, Bandung.
Kadir, Abdul.2003.Pengenalan Sistem Informasi Geograafis.Yogyakarta
Rivai. S. ,2010. Konsep Dasar GIS.http://tips-sahrul.blogspot.com (Diakses tanggal 21 Januari 2017).