• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan Daya Saing Indonesia Melalu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Meningkatkan Daya Saing Indonesia Melalu"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Meningkatkan Daya Saing Indonesia Melalui Etos Kerja

Profesional Guru PAI dalam Rangka Era Regionalisasi ASEAN

2015

Andik Wahyu Muqoyyidin1 1

Dosen Fakultas Agama Islam UNIPDU Jombang

Email : [email protected]

ABSTRACT

This paper aims to describe the actual conditions of PAI teachers current thinking and seeks to contribute towards efforts to develop professional work ethic of PAI teachers. In fact, PAI teachers currently still has some drawbacks. First, the qualifications and educational background are not in accordance with its assignment. On the field, many of PAI teachers teach subjects that do not fit with the educational qualifications and educational background they have. Second, do not have the competencies required in accordance with its assignments. Professional teachers should have the four competencies, namely pedagogical competence, cognitive, personality and social. Therefore, a skilled teacher PAI besides teaching, also has extensive knowledge, wise and able to socialize well. Third, income is determined according to job performance. Meanwhile PAI teachers who excel and who did not earn the same achievements. Fourth, lack of opportunities for professional development in a sustainable manner. Many PAI teachers are stuck in the routine and the authorities did not encourage PAI teachers to the development of self-competence or career. A series of issues that educators, indicating the need for grand strategy in the setting of systemic educational policy, in order to more efficiently and professionally. Government of Indonesia thus will need to“revitalize the implementation of the management functions of

education” through the construction of professional work ethic of PAI teachers. These

call for a comprehensive human resource competencies that need to be spelled out in a consistent and proportionate in order to support the improvement of Indonesia‟s competitiveness in the era ASEAN regionalization of 2015.

Key words: regionalization of ASEAN, work ethic, professional, PAI teacher, student

services, the competitiveness of Indonesia

PENDAHULUAN

Salah satu implikasi yang cukup signifikan dari revolusi informasi adalah fenomena globalisasi yang semakin intens. Globalisasi telah menjadi gelombang besar yang tak terhindarkan dan telah memacu perubahan sosial dalam berbagai level (lokal, nasional, regional dan global) menjadi sangat dinamis.

(2)

akan diimplementasikan secara penuh pada tahun 2015 melalui Era Regionalisasi ASEAN. Dalam kaitannya dengan ASEAN Socio-Cultural Community Blueprint, cetak biru ini merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan “to promote a

people-oriented ASEAN in which all sectors or society are encouraged to participate in, and benefit from, the process of ASEAN integration and community building.(Pasal 1, ayat 13 Piagam ASEAN). Dengan kata lain, mulai Januari

tahun 2009 lalu diharapkan akan terdapat peningkatan interaksi dengan Entities Associated with ASEAN; interaksi antar rakyat negara-negara anggota ASEAN melalui berbagai kerjasama dalam bidang sosial-budaya khususnya pendidikan.

Secara demikian ASEAN Socio-Cultural Community dimaksudkan untuk membawa ASEAN lebih dekat dengan masyarakatnya, lebih melibatkan masyarakat negara-negara anggota dalam berbagai program kegiatan ASEAN sehingga pada masa mendatang ASEAN bukan lagi hanya didominasi oleh kalangan pejabat pemerintah dan diplomat. ASEAN Socio-Cultural Community ini juga menjadi sangat penting dalam membangun Masyarakat ASEAN (ASEAN Community) karena integrasi ekonomi dan kerjasama keamanan akan menjadi tidak berarti jika links di antara masyarakatnya lemah.

Lebih lanjut, ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) ini memuat tema inti atau core elements yang terdiri dari: (1) Human Development, (2) Social Welfare and Protection, (3) Social Justice and Rights, (4) Ensuring Environmental Sustainability, (5) Building ASEAN Identity, (6) Narrowing the Development Gap.

Sebagai penggagas pembentukan Komunitas ASEAN, Indonesia perlu melakukan pendalaman materi secara komprehensif terhadap ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) untuk mengetahui tingkat ketahanan nasional (tannas) bangsa Indonesia agar dalam tataran implementasi ASCC Blueprint dapat selaras dengan upaya pemenuhan kepentingan nasional Indonesia. Implementasi ASCC jelas secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya aspek pendidikan. Seperangkat sistemik kebangsaan harus dipersiapkan dalam rangka meningkatkan daya saing dan dari perspektif ini menjadi jelas bahwa membangun daya saing nasional suatu negara bukanlah persoalan sederhana. Oleh karena itu, Era Regionalisasi ASEAN 2015 harus disikapi dan direspons melalui upaya peningkatan daya saing Indonesia. Salah satu aspek penting dan mendasar yang perlu diperhatikan dalam upaya peningkatan daya saing Indonesia adalah peningkatan etos kerja profesional guru PAI.

(3)

Etos Kerja Guru Pendidikan Agama Islam dan Implikasinya terhadap Peningkatan Daya Saing Indonesia

Pendidikan agama di sekolah hingga saat ini, masih menghadapi berbagai tantangan dan kritik dari berbagai pihak, terutama ketika membaca buku-buku atau tulisan mengenai pendidikan Islam, dan/atau ketika dilakukan kegiatan seminar/diskusi ataupun forum-forum lain yang mengangkat persoalan tersebut. Di antara kritik yang patut dicermati adalah sebagai berikut.

1. Pendidikan Agama Islam (PAI) lebih terkonsentrasi pada persoalan-persoalan teoretis keagamaan yang bersifat kognitif semata serta amalan-amalan ibadah praktis, dan lebih berorientasi pada belajar tentang agama, kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi“maknadannilaiyang perlu diinternalisasikan dalam diri siswa.

2. Metodologi PAI tidak kunjung berubah, ia berjalan secara konvensional-tradisional, dan monoton.

3. Kegiatan PAI kebanyakan bersifat menyendiri, kurang berinteraksi dengan yang lain, bersifat marjinal dan periferal.

4. Pendekatan PAI cenderung normatif, tanpa ilustrasi konteks sosial budaya. 5. Guru PAI terlalu terpaku pada GBPP mata pelajaran PAI.

6. Guru PAI lebih bernuansa guru spiritual/moral, dan kurang diimbangi dengan nuansa intelektual dan profesional, dan suasana hubungan antara GPAI dan siswa lebih berperspektif doktriner, kurang tercipta suasana hubungan kritis-dinamis yang dapat berimplikasi dan berkonsentrasi pada peningkatan daya kreativitas, etos ilmu dan etos kerja/amal.

Berbagai kritik tersebut bukanlah bertendensi untuk mendiskreditkan PAI di sekolah umum, tetapi lebih berperspektif ke depan untuk peningkatan dan pengembangannya karena bagaimanapun PAI dirasakan sangat urgen dan mampu memberi kontribusi terhadap peningkatan keimanan dan ketakwaan para siswa. Apalagi di dalam Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan agama wajib diberikan pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan.

Berbagai tantangan dan kritik tersebut –dengan demikianperlu dicarikan

solusi pemecahannya mulai dari penggalian kembali akar permasalahannya sampai dengan perbaikan dan penyempurnaan dimensi-dimensi operasionalnya. Menurut hemat (Muhaimin et al., 2004) di antara akar permasalahannya terletak pada lemahnya etos kerja GPAI, dalam arti lemahnya semangat dan cara kerja, serta semangat keilmuan GPAI dalam pengembangan pendidikan agama di sekolah.

(4)

menghidupkan kegiatan keagamaan yang bersifat ekstrakurikuler atau lainnya, bahkan tercipta suasana religius di sekolahnya, dan kasus-kasus kenakalan pelajar bisa dieliminir. Kecenderungan ini tidak bisa dilepaskan dari komitmen GPAI dalam meningkatkan kualitas layanan PAI, serta etos kerja dan profesionalnya. Namun demikian, berapa banyak sekolah yang mampu berbuat semacam itu, belum lagi kalau dilihat dari tingkat keefektifan dan efisiensinya serta kualitas penyelenggaraan PAI. Hal ini rupanya masih perlu dicermati ulang dan diteliti lebih lanjut.

SMUN yang maju dan favorit biasanya diukur dari tingginya nilai UAN yang diraihnya, dan para lulusannya dapat diterima di beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkenal di Indonesia. Sebaliknya, biasanya disebut sebagai SMUN yang kurang maju atau tidak favorit. Menurut asumsi (Muhaimin et al., 2004) maju/tidaknya SMUN, antara lain, lebih ditentukan oleh tinggi/rendahnya etos kerja para guru dan pengelola pendidikannya. Tetapi apakah kemajuan itu diikuti oleh kemajuan dan tingginya kualitas keberagamaan para siswa atau masyarakat sekolahnya, serta tingginya etos kerja GPAI-nya di SMUN. Hal ini agaknya masih perlu dicermati ulang.

Kajian ini akan mendeskripsikan apa sebenarnya etos kerja guru agama, apa saja faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan bagaimana implikasinya terhadap peningkatan daya saing Indonesia dalam rangka Era Regionalisasi ASEAN 2015.

Ciri-Ciri Etos Kerja Profesional Guru Pendidikan Agama Islam

Kata“etosberasal dari bahasa Yunani “ethos, yang berarti ciri, sifat atau

kebiasaan, adat istiadat, atau juga kecenderungan moral, pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang, suatu golongan atau suatu bangsa (Buchori, 1994). Dari kata etos terambil pula kata etika dan etis yang mengacu kepada makna akhlak atau bersifat akhlaki, yakni kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok, termasuk suatu bangsa (Muhaimin, 1998). Jadi, etos kerja berarti karakteristik (ciri-ciri atau sifat) mengenai cara bekerja, kualitas esensial dari cara bekerja, sikap atau kebiasaan terhadap kerja, pandangan terhadap kerja, yang dimiliki oleh seseorang, suatu kelompok atau bangsa.

Etos kerja GPAI dapat berarti ciri-ciri atau sifat (karakteristik) mengenai cara bekerja, yang sekaligus mengandung makna kualitas esensialnya, sikap dan kebiasaannya serta pandangannya terhadap kerja yang dimiliki oleh GPAI dalam melaksanakan dan mengembangkan kegiatan pendidikan agama Islam di Sekolah.

Pada dasarnya, Islam adalah agama amal atau kerja (praksis). Inti ajarannya adalah bahwa hamba mendekati dan memperoleh rida Allah melalui kerja atau amal saleh dan dengan memurnikan sikap penyembahan hanya kepada-Nya (Q.S. Al-Kahfi: 110). Hal ini mengandung makna bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan “orientasi kerja(achievement orientation), sebagaimana juga

(5)

keturunan, sedangkan penghargaan dalam Islam berdasarkan amal” (Madjid,

1995). Tinggi atau rendahnya derajat takwa seseorang juga sangat ditentukan oleh prestasi kerja atau kualitas amal saleh sebagai aktualisasi dari potensi imannya.

Nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam ajaran Islam tersebut menggarisbawahi suatu totalitas pandangan hidup muslim yang seharusnya lebih menghargai dan concern terhadap kualitas proses dan produk kerja ketimbang bersikap dan bekerja apa adanya untuk sekadar melaksanakan tugas dan kewajiban yang bersifat rutinitas. Nilai-nilai tersebut sekaligus harus menjadi kekuatan pendorong dan sumber inspirasi bagi berbagai gerakan umat Islam, termasuk di dalamnya yang terkait dengan gerakan ilmiah dan/atau gerakan peningkatan dan pengembangan kualitas pendidikan agama Islam di sekolah.

Namun demikian, agaknya nilai-nilai mendasar tersebut belum tentu senantiasa menjadi kesadaran setiap muslim dan terefleksi dalam realitas kehidupannya, sungguhpun (kadangkala) ia dikenal sebagai muslim yang memiliki kesalehan ritual di kalangan masyarakatnya. Bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam sepatutnya merasa prihatin ketika membaca dan menyimak statement Amin Rais, sebagaimana pernah dimuat dalam Jawa Pos, yang mengemukakan hasil penelitian dari World Bank bahwa dari sekitar 45 bangsa di dunia ternyata bangsa Indonesia tidak termasuk yang paling rajin. Tetapi dari yang paling malas, ternyata bangsa Indonesia menduduki ranking ketiga dari 45 bangsa itu. Hal ini merupakan salah satu indikasi akan lemahnya etos kerja bangsa Indonesia.

Robert Levine, pada tahun 1985, telah mengadakan penelitian tentang kesadaran waktu dari masyarakat Jepang, Taiwan, Itali, Inggris, Amerika Serikat, dan Indonesia. Ia memilih indikator-indikator akurasi jam di Bank, kecepatan laju pejalan kaki dan waktu rata-rata yang dibutuhkan pegawai pos melayani pembeli sehelai perangko. Dari beberapa negara tersebut ternyata Indonesia adalah yang paling molor dan lamban (Ali, 1987). Kurang tingginya kesadaran terhadap waktu bisa dipandang sebagai salah satu indikator dari lemahnya etos kerja dari bangsa Indonesia.

Singgih D. Gunarsa juga menyatakan bahwa kepekaan orang Indonesia terhadap waktu agak kurang. Ada kebiasaan hidup santai yang akhirnya memasyarakat. Latar belakang hidup agraris, dijadikan alasan sikap santai tersebut. Bagi Robert Levine, melihat faktor lain yang patut dipertimbangkan lebih serius, yaitu menyangkut hubungan waktu dengan kondisi kesehatan (kelainan jasmani dan rohani). Karena itu, Slamet Iman Santosa (Maret 1985) menyatakan bahwa “jiwa santai nasional perlu diatasi dengan tekad panjang

berkesinambungan dalam mengejar ketinggalan di segala bidang” (Ali, 1987).

(6)

Sikap malas, lemahnya kesadaran terhadap waktu dan kebiasaan atau jiwa hidup santai pada seseorang akan berimplikasi pada sikap sembrono (acuh tak acuh) dalam bekerja, kurang peduli terhadap proses dan hasil kerja yang bermutu, suka memandang enteng bentuk-bentuk kerja yang dilaksanakannya, kurang sungguh-sungguh dan tidak teliti, tidak efisien dan efektif, dan kurang memiliki dinamika dan komitmen yang tinggi terhadap pekerjaannya.

Jika sikap semacam itu melekat pada diri GPAI di sekolah umum, di mana porsi pendidikan agama hanya 2 (dua) jam pelajaran maka pendidikan agama akan semakin berada pada posisi marginal dan periferal dan kurang memberikan makna bagi pengembangan wawasan, sikap dan mental yang religius bagi para siswa dan masyarakat sekolah itu sendiri.

Keadaan etos kerja seseorang setidak-tidaknya dapat dibidik dari cara kerjanya yang memiliki 3 ciri dasar, yaitu (1) keinginan untuk menjunjung tinggi mutu pekerjaan (job quality); (2) menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan; dan (3) keinginan untuk memberikan layanan kepada masyarakat melalui karya profesionalnya (Buchori, 1994).

Ketiga ciri dasar tersebut pada dasarnya terkait dengan kualifikasi yang harus dimiliki oleh guru pada umumnya, yaitu kualifikasi personal dan profesional (Sahertian, 1994). Ciri yang pertama terkait dengan kualifikasi profesional, sedangkan ciri kedua dan ketiga terkait dengan kualifikasi persona l dan sosial.

Dalam pola pemahaman sistem tenaga kependidikan di Indonesia, terdapat tiga dimensi umum kompetensi yang saling menunjang membentuk kompetensi profesional tenaga kependidikan, yaitu (1) kompetensi personal; (2) kompetensi sosial; dan (3) kompetensi profesional (Sahertian, 1994). Dilihat dari sisi ini, maka ciri dasar yang pertama tersebut di atas terkait dengan kompetensi profesional, yakni menyangkut kemampuan dan kesediaan serta tekad GPAI untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan agama yang telah dirancang melalui proses dan produk kerja yang bermutu. Ciri dasar yang kedua terkait dengan kompetensi personal, yakni ciri hakiki dari kepribadian GPAI untuk menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaannya guna mencapai tujuan pendidikan agama yang ditetapkan. Ciri dasar yang ketiga terkait dengan kompetensi sosial, yakni perilaku GPAI yang berkeinginan dan bersedia memberikan layanan kepada masyarakat melalui karya profesionalnya untuk mencapai tujuan pendidikan agama.

Para ulama telah memformulasikan sifat-sifat, ciri-ciri, dan tugas-tugas guru yang diharapkan agar berhasil dalam menjalankan tugas-tugas kependidikannya. Berbagai sifat, ciri-ciri, dan tugas tersebut sekaligus mencerminkan etos kerja guru yang diharapkan (ideal).

(7)

dan pola pikirnya bersifat Rabbani; ikhlas dalam bekerja atau bekerja karena mencari keridaan Allah; menjaga harga diri dan kehormatan; menjadi teladan bagi peserta didiknya; menerapkan ilmunya dalam bentuk perbuatan; sabar dalam mengajarkan ilmunya kepada peserta didik dan tidak mau meremehkan mata pelajaran lainnya.

Dilihat dari dimensi sosialnya, Imam Ghazali, Nahlawy, Al-Abrasyi, Al-Kailany, Al-Qurasyi menyatakan bahwa seorang guru harus bersikap lemah lembut dan kasih sayang terhadap peserta didik; suka memaafkan terhadap peserta didik, mampu menahan diri, menahan amarah, lapang dada, sabar, dan tidak mudah marah karena hal sepele; mampu mencegah peserta didik dari akhlak yang jelek (sedapat mungkin) dengan cara sindiran dan tidak tunjuk hidung; dan bersikap adil di antara peserta didiknya.

Dilihat dari dimensi profesionalnya, Imam al-Ghazali, Nahlawy, Al-Abrasyi, Al-Kailany, Al-Qurasyi menyatakan bahwa seorang guru harus mempelajari kehidupan psikis (tabiat, minat, kebiasaan, perasaan dan kemampuan) peserta didik selaras dengan masa perkembangannya sehingga dalam menyajikan pelajaran akan tepat pada sasarannya; menguasai bidang yang diajarkan serta berusaha mendalami dan mengembangkannya; mempunyai kemampuan mengajar; dan tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan kehidupan modern yang dapat mempengaruhi sikap, pola pikir dan tingkah laku peserta didik, serta mampu mencari solusi yang bersifat Islami dalam menghadapi masalah tersebut.

Dalam konteks pendidikan agama Islam di sekolah, rumusan para ulama tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk memahami etos kerja GPAI. Hanya saja, dalam konteks masa kini dan masa depan, yang masyarakatnya memiliki tiga karakteristik, yaitu masyarakat teknologi, masyarakat terbuka, dan masyarakat madani (Tilaar, 1998) etos kerja GPAI sudah barang tentu tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas dimensi personal dan sosial, tetapi juga perlu adanya keseimbangan dengan peningkatan kualitas dimensi intelektual dan profesionalnya. Karena itu, perlu adanya keseimbangan antara orientasi pendidikan agama yang menuntut kesalehan individu dan sosial dengan kesalehan intelektual dan profesional.

(8)

Sebagai implikasinya, GPAI akan selalu concern dan komitmen dalam peningkatan studi lanjut, mengikuti kegiatan-kegiatan diskusi, seminar, pelatihan dan lain-lainnya (Tilaar, 1998).

Berbagai uraian di atas, menggambarkan keadaan etos kerja guru, termasuk GPAI, yang positif dan tinggi. Sebaliknya, terdapat prototipe guru yang keadaan etos kerjanya rendah. Hasil penelitian Wiles (1955) yang dikutip oleh (Sahertian, 1998) menyebutkan sejumlah prototipe guru di sekolah, antara lain (1) guru yang malas; (2) guru yang pudar; (3) guru tua; (4) guru yang kurang demokratis; dan (5) guru yang suka menentang.

Menurut hasil penelitian Wiles tersebut, guru yang malas kebanyakan bersumber pada gaji yang tidak cukup, kemudian ia mencari pekerjaan tambahan di luar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tiap bulan. Akibatnya, etos kerjanya sebagai guru agama di sekolah semakin menurun. Guru yang pudar adalah guru yang jarang tersenyum, kurang humor, kurang ramah, sukar bergaul dengan orang lain dan seterusnya. Guru tua adalah guru yang sudah terlalu lama dinas, sehingga sukar diubah. Biasanya mereka kurang percaya diri dan merasa tersaingi dengan tampilnya guru-guru muda. Oleh karena itu, ia menunjukkan harga diri seolah-olah tinggi, padahal ia sendiri tidak lagi ingin mengembangkan dirinya agar terus bertumbuh dalam jabatannya. Guru yang kurang demokratis, yakni orang yang sudah terlalu lama bekerja biasanya terlalu memusatkan perhatian pada kepuasan dirinya sendiri. Rasa harga dirinya terlalu tinggi, sehingga memperlakukan diri melebihi batas kebebasan orang lain, ia bersifat tidak demokratis. Guru yang suka menentang, yakni guru yang sangat kritis, sehingga ia berpikir kritis dan selalu suka mengkritik orang lain. Suka mengkritik sudah merupakan suatu kebiasaan (habit). Kecenderungan ini tidak selalu baik bila berhadapan, baik dengan guru lain maupun dengan siswa karena bisa jadi menjatuhkan mental dan semangat belajar mereka untuk aktualisasi diri.

Sejumlah prototipe guru tersebut barangkali dapat dipakai sebagai kerangka teoretik untuk memahami keadaan etos kerja GPAI di Sekolah Umum, terutama dalam konteks etos kerja yang negatif dan rendah.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Etos Kerja Guru Pendidikan Agama Islam

(9)

Munculnya sikap malas, santai dan tidak disiplin waktu dalam bekerja dapat bersumber dari pandangannya terhadap pekerjaan dan tujuan hidupnya. Karena itu, adanya etos kerja yang kuat pada seseorang (GPAI) memerlukan kesadaran mengenai kaitan suatu pekerjaan dengan pandangan hidupnya yang lebih menyeluruh, dan yang memberinya keinsafan akan makna dan tujuan hidupnya.

Uraian di atas menggarisbawahi adanya faktor internal, antara lain sistem kepercayaan yang menjadi pandangan hidup seseorang, yang seringkali mempengaruhi dan ikut membentuk etos kerja seseorang sehingga latar belakang terbentuknya etos kerja GPAI, antara lain dapat dipantau dari sudut pandang tersebut. Hanya saja suatu kenyataan empiris tidaklah selalu berdiri sendiri dan bersifat linier, tetapi merupakan akibat dari beberapa faktor. Penjelasan tentang terbentuknya etos kerja seseorang (termasuk GPAI) juga tidak dapat hanya dilihat dari satu sudut pandang, seperti sistem kepercayaan sebagaimana uraian tersebut di atas karena bisa jadi faktor tersebut tidak mendukungnya, dan justru terdapat faktor-faktor lain yang lebih dominan.

Patutlah disimak beberapa pendapat para pakar berikut ini, antara lain (Ali, 1987) menyatakan bahwa ada tiga hal yang ikut membentuk watak karakter dan tindak laku seseorang, yaitu sistem budaya dan agama; sistem sosial; dan lingkungan alam di mana orang itu hidup. (Rahardjo, 1993) menyatakan bahwa etos kerja tidak semata-mata bergantung pada nilai-nilai agama dalam arti sempit, tetapi dewasa ini sangat dipengaruhi oleh pendidikan, informasi, dan komunikasi. Oleh sebab itu, yang perlu dikembangkan adalah etos ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan menurut kesimpulan (Madjid, 1995) bahwa masalah etos kerja tidak bisa dipandang dari satu sudut pertimbangan, yaitu pertimbangan ajaran (yang murni) semata, tetapi juga melibatkan sudut pandang historis, sosiologis, dan faktor-faktor lingkungan lain, baik di luar diri manusia maupun dalam dirinya sendiri.

Dari ketiga pendapat tersebut tampaknya terdapat titik temu dalam menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi etos kerja seseorang. Jika dikaitkan dengan etos kerja GPAI di sekolah, maka ada dua aspek esensial dalam menjelaskan faktor-faktor tersebut, yaitu (1) faktor pertimbangan internal, yang menyangkut: ajaran yang diyakini atau sistem budaya dan agama, semangat untuk menggali informasi dan menjalin komunikasi; dan (2) faktor pertimbangan eksternal, yang menyangkut: pertimbangan historis, termasuk di dalamnya latar belakang pendidikan dan lingkungan alam di mana ia hidup; pertimbangan sosiologis atau sistem sosial di mana ia hidup; dan pertimbangan lingkungan lainnya, seperti lingkungan kerja seseorang.

(10)

menggairahkan atau iklim yang ditunjang dengan komunikasi demokrasi yang serasi dan manusiawi antara pimpinan dan bawahan; (3) penanaman sikap dan pengertian di kalangan pekerja; (4) sikap jujur dan dapat dipercaya dari kalangan pimpinan terwujud dalam kenyataan; (5) penghargaan terhadap need for achievement (hasrat dan kebutuhan untuk maju) atau penghargaan terhadap yang berprestasi; dan (6) sarana yang menunjang bagi kesejahteraan mental dan fisik, seperti tempat olah raga, masjid, rekreasi, hiburan dan lain-lain.

Deskripsi dari M. Arifin tersebut rupanya banyak terkait dengan sistem manajemen kerja dan segala faktor pendukungnya yang perlu diciptakan dalam lingkungan masyarakat sekolah.

Implikasinya terhadap Peningkatan Daya Saing Indonesia dalam Rangka Era Regionalisasi ASEAN 2012

Masalah peningkatan etos kerja bukanlah masalah yang semata-mata menggenjot semangat kerja, melainkan juga merupakan masalah peningkatan mutu produk kerja sebagai implikasi dan konsekuensi dari etos kerja seseorang. Ada kaitan yang erat antara mutu produk kerja, profesionalisme, dan etos kerja. Upaya-upaya untuk meningkatkan mutu produk kerja akan selalu terjalin dengan usaha-usaha untuk meningkatkan semangat profesionalisme dan etos kerja. Demikian pula upaya untuk meningkatkan etos kerja akan merupakan pelengkap dari usaha untuk meningkatkan mutu produk dan semangat profesionalisme.

Untuk menjelaskan mutu produk tersebut dapat dilihat dari segi sejauhmana masyarakat merasakan produk-produk yang telah disajikan dan diserahkan di masyarakat sebagai implikasi dan konsekuensi dari etos kerja dan profesionalisme yang dikembangkan oleh seseorang atau kelompok, seperti jasa-jasa pelayanan, publikasi, lulusan suatu lembaga pendidikan dan lain-lain. Dalam konteks etos kerja dan profesionalisme guru agama, maka implikasi dan konsekuensi tersebut akan tampak pada kegiatan-kegiatan dan produk pendidikan agama, baik yang disajikan pada masyarakat sekolah tersebut, yang menyangkut kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler, penciptaan suasana religius yang tumbuh dan berkembang di lingkungan sekolah, maupun kualitas keagamaan lulusannya yang diserahkan pada masyarakat setamat dari sekolah.

(11)

atau luar sekolah) masih mengeluh terhadap mutu salah satu atau lebih dari kegiatan dan produk GPAI; dan (3) kegiatan-kegiatannya beserta produknya masih belum memecahkan secara tuntas persoalan-persoalan masyarakat sekolah yang merupakan sasaran garapannya.

Dalam Kongres Guru se-Dunia ke-27, masalah profesi guru menjadi topik utama yang dibahas secara luas dan mendalam demi kepentingan profesi guru untuk menyongsong masa depan. Dari 57 negara bersepakat bahwa pendidikan harus dikelola oleh guru yang profesional karena masyarakat yang makin modern menuntut profesionalisasi dalam bidang-bidang tugas kekaryaan kependidikan pada khususnya dan bidang-bidang lain pada umumnya (Arifin, 1991). Menurut (Muhaimin, 2004) guru yang profesional perlu dibarengi dengan etos kerja yang tinggi pula karena antara keduanya saling melengkapi untuk menghasilkan mutu akademik atau produk kerja yang bermutu.

Dalam konteks pendidikan agama di sekolah, suasana hubungan kesetiaan antara GPAI dan siswa tidak harus selalu berperspektif doktriner, tetapi juga harus diciptakan suasana hubungan kritis-dinamis yang dapat berimplikasi dan berkonsekuensi pada peningkatan daya kreativitas, etos ilmu dan etos kerja secara bersama-sama dari GPAI itu sendiri dan sekaligus siswanya.

GPAI di satu pihak dapat disebut sebagai guru spiritual dan/atau guru moral, sehingga ia dituntut untuk memiliki kompetensi personal dan sosial. Di lain pihak, GPAI juga sekaligus disebut sebagai profesi, sehingga ia dituntut untuk memiliki kompetensi profesional dan layanan. GPAI sebagai profesi bukan hanya mengandung makna kegiatan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian, tetapi juga tercakup pengertian calling professio, yakni panggilan terhadap pernyataan janji yang diucapkan di muka umum untuk ikut berkhidmat guna merealisasi terwujudnya nilai mulia yang diamanatkan oleh Tuhan dalam masyarakat melalui usaha kerja keras (Wignyosubroto, 1996).

Menurut (Buchori, 1994) bahwa kegiatan atau pekerjaan itu dikatakan profesi bila ia dilakukan untuk mencari nafkah dan sekaligus dilakukan dengan tingkat keahlian yang cukup tinggi. Agar suatu profesi dapat menghasilkan mutu produk yang baik, ia harus dibarengi dengan etos kerja yang mantap pula. Menurut (Buchori, 1994) ada tiga ciri dasar yang selalu dapat dilihat pada setiap profesional yang baik mengenai etos kerjanya, yaitu (1) keinginan untuk menjunjung tinggi mutu pekerjaan (job quality); (2) menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan; dan (3) keinginan untuk memberikan layanan kepada masyarakat melalui karya profesionalnya. Ketiga ciri dasar tersebut merupakan etos kerja yang seharusnya melekat pada setiap pekerjaan yang profesional.

(12)

akan dapat dirasakan oleh masyarakat melalui profil para lulusan (keluaran yang telah dididiknya di sekolah). Selama GPAI belum puas dengan mutu hasil pendidikan agama dari para lulusan suatu sekolah yang diserahkan kepada masyarakat, maka ia mempunyai kewajiban moral untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan agama, profesionalisme dan etos kerjanya di sekolah. Selama masyarakat mengeluh tentang mutu hasil pendidikan agama dari suatu sekolah, maka guru agama mempunyai kewajiban sosial untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan agama, profesionalisme dan etos kerjanya di sekolah.

Karena itu, bila GPAI dipandang sebagai profesi maka ada beberapa ketentuan yang harus ditaati, yaitu (1) setiap profesi dikembangkan untuk memberikan layanan tertentu kepada masyarakat; (2) profesi bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga tercakup pengertian “pengabdian kepada sesuatu; dan

(3) mempunyai kewajiban untuk menyempurnakan prosedur kerja yang mendasari pengabdiannya secara terus menerus dan tidak mandeg (Buchori, 1994).

Kalau kita simak hasil laporan lembaga internasional mengenai masalah pendidikan, pembangunan manusia, dan daya saing Indonesia, maka kita patut prihatin. Indeks pendidikan kita berada di urutan 7, indeks pembangunan manusia berada di urutan 6 dan indeks daya saing (competitiveness index) kita berada di ranking 5 dari 10 negara ASEAN. Terlepas setuju atau tidak dengan ukuran yang dipakai, itulah penilaian lembaga internasional ternama seperti United Nations Development Program (UNDP). Penulis berharap data ini dapat dipakai untuk memacu pembangunan pendidikan pada masa mendatang.

Salah satu instrumen kebijakan yang dapat dipakai untuk memperbaiki tiga macam indeks pengukuran di atas adalah dengan memajukan pendidikan. Banyak ahli berpendapat bahwa variabel pendidikan inilah sebenarnya yang dapat dipakai sebagai pemicu (trigger) dalam menggerakkan pembangunan suatu bangsa.

Instrumen kebijakan yang dapat ditawarkan untuk memicu pembangunan pendidikan, dengan tanpa berangkat dari nol, adalah dengan cara melakukan revitalisasi sumber daya pendidikan. Revitalisasi pendidikan untuk mencapai keunggulan kompetitif, memberi makna bahwa peran pendidikan itu diyakini sangat penting dan strategis, namun karena pengelolaan sumber dayanya tidak atau kurang baik, maka keunggulan kompetitif pendidikan di Indonesia menjadi rendah. Karena itu solusinya adalah bagaimana melakukan revitalisasi sumber daya pendidikan tersebut agar kemampuan kompetisi (competitiveness) menjadi tinggi.

Untuk mengetahui sampai seberapa besar tingkat kompetisi pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tetangga ASEAN, maka berikut ini disajikan secara singkat beberapa indikator pembangunan sumber daya manusia (yang erat kaitannya dengan kualitas pendidikan) dan pembangunan di sektor pendidikan.

(13)

United Nations Development Program (UNDP, 2006) yang membandingkan kemajuan pendidikan Indonesia dengan negara ASEAN lainnya; data evaluasi pendidikan Indonesia dari BPS, Bappenas, UNDP (2006), dan data dari Program Pembangunan Nasional (Propenas) Departemen Pendidikan.

1. Human Development Index (HDI)

Human Development Index (HDI) dapat mencerminkan bagaimana posisi sebuah negara dengan negara lain dalam tingkat kesejahteraan masyarakat yaitu pembangunan manusianya termasuk di dalamnya pembangunan di bidang pendidikan, sehingga analisis Human Development Index (HDI) dapat digunakan sebagai acuan untuk melaksanakan pembangunan (Rokhmani, 2009).

Human Development Index (HDI) diukur dari beberapa aspek, yaitu: Life expectancy at birth (harapan hidup saat lahir). Aspek ini digunakan sebagai tolok ukur kualitas kesehatan.

Adult litteracy rate (angka melek huruf orang dewasa). Aspek ini sebagai tolok ukur pemerataan pendidikan.

Combined gross enrollment ratio for primary, secondary, and tertiary education. Aspek ini untuk mengukur keterjangkauan masyarakat terhadap pendidikan.

Gross Domestic Product per capita (GDP per capita). Aspek ini jelas mengukur tentang taraf ekonomi masyarakat.

Human Development Index (HDI) untuk Indonesia pada tahun 2005 berada pada peringkat 107 dunia. Sedangkan pada tahun 2006 berada pada peringkat 109 dan pada tahun 2007 kembali lagi ke peringkat 107 dunia.

Tahun 2005, HDI Indonesia berada di peringkat 107 dunia, di bawah Vietnam (105) dan Palestina (106). Pada tahun tersebut, harapan hidup manusia Indonesia adalah 69,7 tahun. Selain itu, di tahun yang sama 90,4% penduduknya yang berusia di atas 15 tahun sudah melek huruf. Dibandingkan Malaysia yang duduk di peringkat 63, angka melek huruf Indonesia cukup membanggakan karena di tahun 2005 baru 88,7% penduduk Malaysia yang melek huruf. Untuk aspek ketiga, pencapaiannya baru 68,2% dengan GDP per capita 3.843 USD.

(14)

Sementara di ASEAN, kualitas manusia Indonesia di bawah 5 negara ASEAN lainnya. Singapura menduduki peringkat pertama di ASEAN untuk kualitas manusianya dengan nilai HDI 0,866. Kemudian Brunei dengan nilai HDI 0,838, Malaysia dengan HDI 0,761, Thailand 0,682, dan Filipina 0,644. Negara ASEAN di bawah Indonesia adalah Vietnam dengan nilai HDI 0,593, Laos 0,524, Kamboja 0,523, dan Myanmar yang menduduki posisi bawah yaitu 0,483.

Angka HDI Indonesia tahun 2006 seperti dalam tabel berikut ini:

Tabel 1: Indonesias human development index 2006 and underlying indicators in comparison with selected countries.

HDI value 20

1. Iceland (0.968) 1. Japan (82.4) 1. Georgia (100.0)

Republic of) (70.5) 61. Malta (91.4) 115. Oman (68.7)

120. Vanuatu

(40.2) 147. Mali (22.9) 179. Djibouti (25.5)

178. Congo (Democratic Republic of the)

(281)

Walaupun ukuran yang ditetapkan oleh UNDP ini memperoleh banyak kritik dari berbagai pihak, namun karena kurang atau tidak ada lembaga lain yang melakukan pengukuran HDI, maka hasil HDI yang dihasilkan oleh UNDP ini banyak dipergunakan oleh para ahli, baik para ahli Indonesia maupun ahli asing. Juga angka HDI karya UNDP ini justru banyak dipakai sebagai landasan membuat keputusan untuk menjelaskan dan membanding kemajuan pembangunan, khususnya pembangunan sumber daya manusia dari suatu negara.

2. Indeks Pendidikan

(15)

berada di urutan 65 dan Brunei di urutan 34. Brunei memang maju pesat dalam indeks pendidikannya yang tentu saja disebabkan oleh kepedulian pemerintah terhadap dunia pendidikan. Malaysia juga berkembang pesat dalam pengelolaan pendidikannya, meskipun di tahun 1970-an pernah memperoleh bantuan asistensi dalam program pendidikan tinggi dari Indonesia.

Berdasarkan konsepsi Education for All (EFA), yang kemudian dijadikan sebagai tolok ukur oleh Global Monitoring Report setiap tahun, maka Indonesia menempati angka 0,934 pada tahun 2008. EDI dikatakan tinggi jika capaiannya adalah 0,95-1. Kategori medium jika capaiannya adalah di atas 0,80 dan rendah adalah di bawah angka 0,80. Nilai EDI Indonesia sebesar 0,934 tersebut diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender dan angka bertahan siswa hingga kelas V sekolah dasar (SD).

Pencapaian angka EDI Indonesia ini tentu saja bukan sesuatu yang menggembirakan mengingat bahwa sebenarnya pemerintah Indonesia memiliki peluang yang besar untuk peningkatan EDI ini. Memang jika dibandingkan dengan beberapa negara Asia kita harus menyatakan kalah, sebab pada tahun 1995 saja anggaran pendidikan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand bahkan Filipina sudah berada jauh di atas anggaran pendidikan Indonesia. Kala itu anggaran pendidikan Indonesia baru sebesar 10,2% dari APBN, sementara Singapura sudah mencapai angka 21%.

Tetapi besaran anggaran bukanlah pengungkit utama di dalam perubahan pendidikan. Bagi bangsa Indonesia yang besar dengan jumlah pulau, penduduk dan juga varian-varian suku dan sebagainya juga menjadi persoalan khusus di dalam peningkatan EDI ini. Jika di Jawa kita bisa melihat perkembangan pendidikan yang sangat baik, akan tetapi ketika kita melihat kondisi pendidikan di daerah terpencil, maka kita harus menyatakan bahwa pendidikan Indonesia memang belum maju.

Kita masih melihat gap antara kualitas pendidikan di Jawa dengan wilayah lain. Pembangunan yang lebih terkonsentrasi di wilayah barat dengan berbagai dukungan potensi dan sumber daya mengakibatkan adanya kesenjangan tersebut. Dan akibatnya tentu saja EDI kita belum bisa masuk ke jajaran grade tinggi, sebab perimbangan kualitas pendidikan yang tidak balance. Jadi meskipun di wilayah barat maju akan tetapi di wilayah timur terpuruk. Akibatnya peringkatnya juga masih berada pada kategori medium.

(16)

Pendidikan adalah modal bangsa untuk pembangunan berkelanjutan. Makanya, investasi pendidikan merupakan kemutlakan bagi bangsa ini jika ke depan ingin sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Itulah sebabnya pendidikan harus dilakukan dengan kreatif dan inovatif. Untuk kepentingan ini maka perlu dikembangkanlah pendidikan soft skill selain menempa aspek hard skill-nya.

Dari sisi hard skill, mungkin relevansinya juga masih dipertanyakan, sebab kebanyakan lembaga pendidikan tinggi dan sekolah pada umumnya hanya mengusung dimensi kognitif di dalam proses pembelajaran, selain sentuhannya yang hanya bercorak teoretik. Tak terkecuali dengan kegiatan pendidikan agama di sekolah (sebagai suatu mata pelajaran) sebenarnya sukar disebut sebagai kegiatan pengajaran. Di samping itu, pendidikan agama Islam di sekolah umum dipandang sebagai suatu kegiatan dengan posisi yang bersifat marginal dan periferal dalam percaturan problematik pendidikan nasional. Artinya, tidak banyak yang dapat dilakukan oleh para GPAI lewat kegiatan pendidikan jenis ini untuk memberikan sumbangan yang berarti bagi lahirnya, baik proses peremajaan sistem pendidikan formal maupun proses pengembangan sistem pendidikan nonformal.

Di dalam hal ini, maka sesungguhnya diperlukan sinergi antara berbagai komponen agar tujuan pendidikan untuk mencetak manusia Indonesia yang profesional dan paripurna akan dapat dicapai. Program link and match yang pernah menjadi isu di dalam dunia pendidikan dalam hemat (Nur Syam, 2011) layak untuk dibuka kembali.

Lebih lanjut (Nur Syam, 2011) secara terus terang menghargai inovasi yang dikembangkan misalnya oleh President University yang melakukan program link and match dengan dunia perusahaan yang ada di sekitarnya. Melalui kerjasama tersebut, maka gambaran tentang profesionalitas dan dunia kerja tersebut sudah ada di depan mata. Hanya yang perlu ditambahkan adalah soft skill, yaitu pendidikan yang mengarah kepada bagaimana living together dalam paket to live together bisa diarahkan.

Jika bisa seperti itu, maka pendidikan tinggi akan menyumbang ahli-ahli profesional yang kelak sangat dibutuhkan oleh negeri ini dalam menghadapi Era Regionalisasi ASEAN 2015 tak terkecuali juga lembaga pendidikan tinggi Islam, terutama Fakultas/Jurusan Tarbiyah di UIN/IAIN/STAIN yang notabene hendak menyiapkan calon-calon GPAI.

3. Indeks Kemampuan Berkompetisi (Competitiveness Index)

(17)

Global (Global Competitiveness Index atau GCI) tahun 2005-2010. Dalam laporan itu, posisi Indonesia berada pada peringkat ke-69 sampai ke-44 dari 125 negara. Sedangkan Singapura (peringkat ke-5), Malaysia (ke-26) dan Thailand (ke-35). Di antara lima negara-negara ASEAN, peringkat Indonesia masih berada di bawah. Hal ini menunjukkan bahwa daya saing Indonesia berada pada tingkat menengah. Laporan ini sangat tidak mengejutkan karena penduduk Indonesia yang menyandang buta aksara saja masih begitu banyak (Rosyidah, 2011).

Bambang Soedibyo mantan Menteri Pendidikan Nasional RI melaporkan bahwa jumlah buta aksara pada awal 2005 sebanyak 14,6 juta atau 9,6% dari penduduk Indonesia. Bahkan menurut BNP2TKI (2010), 95% angkatan kerja di Indonesia tidak memiliki keterampilan yang siap pakai untuk memasuki dunia kerja. Selain itu, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar yaitu sekitar 63,2%. Masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara nasional di berbagai sektor ekonomi. Rendahnya alokasi APBN untuk sektor pendidikan pada era Orde Baru dan era Reformasi yakni tidak lebih dari 12%. Ini menunjukkan bahwa belum ada perhatian serius dari pemerintah pusat terhadap perbaikan kualitas SDM di masa lalu yang berdampak di masa sekarang.

KESIMPULAN

Pengembangan etos kerja profesional GPAI di dalam kerangka menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global sangat berimplikasi terhadap upaya meningkatkan daya saing Indonesia di Era Regionalisasi ASEAN 2015.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, A.M. 1987. Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini. Rajawali Press. Jakarta. Arifin, M. 1991. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum). Bumi Aksara.

Jakarta.

Buchori, M. 1994. Pendidikan dalam Pembangunan. Tiara Wacana. Yogyakarta. Martinis, Y. 2007. Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP. Gaung Persada

Press. Jakarta.

Muhaimin. 1998. Tema-Tema Pokok Dakwah Islam di Tengah Transformasi Sosial. Karya Abditama. Surabaya.

Muhaimin, et al. 2004. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Remaja Rosdakarya. Bandung. Nurcholish, M. 1995. Islam Agama Kemanusiaan. Paramadina. Jakarta.

Rahardjo, M.D. 1993. Intelektual Inteligensia dan Perilaku Politik Bangsa. Mizan. Bandung.

(18)

Rosyidah, E. 2011. Menjadi Bangsa Unggul dengan Beasiswa Unggulan. Retrieved from http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/08/menjadi-bangsa-unggul-dengan-beasiswa-unggulan/ [6 Februari 2012].

Soetjipto & Kokasih. 1999. Profesi Keguruan. Rineka Cipta. Jakarta.

Syam, N. 2011. Indeks Pendidikan Indonesia. Retrieved from http://www.sunan-ampel.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1327%3Ai

ndeks-pendidikan-indonesia&catid=45%3Aakademisi&Itemid=424&lang=in [6 Februari 2012].

Tilaar, H.A.R. 1998. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan dalam Perspektif Abad 21. Tera Indonesia. Magelang.

Gambar

Tabel 1: Indonesia’s human development index 2006 and underlyingindicators in comparison with selected countries.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian terdiri dari gambaran umum Bina autis Mandiri dan faktor-faktor resiko gangguan autisme yang diteliti seperti usia ayah, usia ibu, konsumsi obat, berat bayi

Rumah-rumah tinggal tradisional pada periode pertama, disamping sebagai generasi awal yang mungkin lebih banyak dibangun oleh orang-orang yang punya hubungan dengan

Dokumen Pelawan eTender ini hanya boleh diekses di dalam eProcure Portal ( https://app.procurehere.com ) sahaja dan hanya mereka yang diberikan kebenaran oleh pihak Penender/Pembida

Artinya modeling partisipan juga dapat dipergunakan untuk mengurangi perasaan dan perilaku menghindar pada diri seseorang yang dikaitkan dengan aktivitas atau

karena pengujian secara bertahap maka proses relatif lebih mudah (walaupun untuk software skala besar). Dan identifikasi kesalahan dan koreksi lebih mudah, walaupun dengan

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PENYUSUNAN SKALA KECEMASAN ASPEK FISIK UNTUK

Dalam penenuan lokasi dry port dengan menggunakan data jembatan timbang, Kabupaten Pasuruan merupakan lokasi yang paling tepat dengan batasan muatan menuju atau dari Tanjung

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kejelasan Rumusan, adalah bahwa setiap peraturan perundang2an harus memenuhi masyarakat.. Untuk itu pemerintah dalam hal ini