EVALUASI PROSES DAN HASIL BELAJAR FISIKA FISIKA DIK B 2015
KAITAN ASESMEN DENGAN EVALUASI O
L E H KELOMPOK I
RKAWATI (4152121013)
ELA ROJA (4151121022)
EFI RAMAYANI (4152121021)
FANI APRILLIANA (4153121020)
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penyusun mampu menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Fisika. Kami juga berterima kasih pada Bapak Teguh Pebri Suherman,Spd.,M.Pd selaku Dosen mata kuliah Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Fisika Universitas Negeri Medan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap tugas ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Fisika Kami juga menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi. Di dalam makalah ini mungkin terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Fisika Universitas Negeri Medan ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan.
Medan, Agustus 2017
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...2
DAFTAR ISI...3
BAB I PENDAHULUAN...4
1. Latar Belakang...4
2. Rumusan Masalah...4
3. Tujuan...4
BAB II PEMBAHASAN...5
1. ASESMEN...5
A. Pengertian Asesmen...5
B. Sejarah Asesmen...7
C.
Tujuan Asesmen...8
D. Prinsip-prinsip Asesmen...10
E.
A
sesmen Autentik (Asesmen Kinerja)...12F. Asesmen Portofolio...14
2. EVALUASI...19
1. Devinisi Evaluasi...19
2. Tujuan Evaluasi...19
3. Fungsi Evaluasi Pendidikan...20
4. Fungsi evaluasi...21
5. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi...21
6. Kaitan Assesment dan Evaluasi...25
BAB III PENUTUP...26
Kesimpulan...26
DAFTAR PUSTAKA...27
BAB I
PENDAHULUAN
Istilah evaluasi dan asesmen seringkali dipertukarkan, namun sebenarnya terdapat perbedaan yang ensesial diantara keduanya. Asesmen dalam hal ini dinyatakan sebagai suatu cara yang tepat untuk mengungkap proses dan kemajuan belajar. Asesmen dapat memberikan umpan balik secara berkesenambungan tentang siswa untuk perbaikan pembelajaran.
Sementara itu evaluasi dinyatakan sebagai pemberian nilai (judgement) terhadap hasil belajar berdasarkan data yang diperoleh melalui asesmen. Selain dari itu, terdapat pula beberapa istilah lainya yaitu tes, testing, dan pengukuran yang juga sering kali dipertukarkan oleh guru.
2. Rumusan Masalah
a) Apa pengertian asesmen b) Bagaimana sejarah asesmen c) Apa saja tujuan asesmen
d) Bagaimana prinsip-prinsip asesmen
3. Tujuan
Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar-mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan intruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya. Tindak lanjut termaksud merupakan fungsi evaluasi dan dapat berupa:
1. Penempatan pada tempat yang tepat. 2. Pemberian umpan balik.
3. Diagnosis kesulitan belajar siswa, 4. Penentuan kelulusan.
BAB II
PEMBAHASAN
1. ASESMEN
Istilah asesmen (assessment) diartikan oleh stigginis (1994) sebagai penilaian prosrs, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outcomes. Sementara itu asesmen diartikan oleh Kumano (2001) sebagai “ The process of Collecting data which s,hows the development of learning “. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan istilah yang tepat untuk penilaian proses belajar belajar siswa. Namun meskipun proses belajar siswa merupakan hal penting yang dinilai dalam asesmen, faktor hasil belajar juga tetap tidak dikesampingkan.
Gabel (1993 : 388 – 390) mengkategorikan asesmen ke dalam kedua kelompok besar yaitu asesmen tradisional dan asesmen alternatif. Asesmen yang tergolong tradisional adalah tes benar – salah, tes pilihan ganda , tes melengkapi, dann tes jawaban terbatas. Sementara itu yang tergolong ke dalam asesmen alternatif (non –tes) adalah essay/uraian, penilaian praktek, penilaian proyek, kuesioner, inventori, daftar Cek, penilaian oleh teman sebaya/sejawat, penilaian diri (self assessment), portofolio, observasi, diskusi dan interview (wawancara).
Wiggins (1984) menyatakan bahwa assessmen merupakan sarana yang secara kronologis membantu guru dalam monitor siswa. Oleh karena itu, maka Popham (1995) menyatakan bahwa assessmen sudah seharusnya merupakan bagian dari pembelajaran, bukan merupakan hal yang terpisahkan. Resnick (1985) menyatakan bahwa pada hakikatnya asesmen ,menitikberatkan penilaian pada proses belajar siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, Marzano et al . (1994) menyatakan bahwa dalam mengungkap penguasaan konsep siswa, asesmen tidak hanya mengungkap penguasaan konsep siswa, asesmen tidak hanya mengungkap konsep yang tellah dicapai, akan tetapi juga tentang proses perkembangan bagaimana suatu konsep tersebut diperoleh. Dalam hal ini asesmen tidak hanya dapat menilai hasil dan proses belajar siswa, akan tetapi juga kemajuan belajarnya.
Asesmen merupakan proses mendokumentasi, melalui proses pengukuran, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan keyakinan peserta didik. Dapat dinyatakan pula bahwa asesmen merupakan sistematik untuk memperoleh informasi tentang apa yang diketahui, dilakukan, dan dikerjakan oleh peserta didik. Berikut disajikan beberapa pengertian asesmen yang disampaikan oleh pakar asesmen pembelajaran:
a) Khan, Hardas, dan Ma (2005) menyatakan bahwa asesmen merupakan proses mendokumentasikan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan keyakinan.
b) NAEYC (1990) menyatakan bahwa asesmen merupakan proses pengamatan, pencatatan dan selanjutnya pendokumentasian pekerjaan yang dikerjakan peserta didik dan cara-cara peserta didik mengerjakannya, untuk dijadikan sebagai dasar dari berbagai pembuatan keputusan pendidikan yang mempengaruhi anak.
d) Hills (1992) menyatakan bahwa asesmen terdiri atas tahap pengumpulan data tentang perkembangan dan belajar peserta didik, menentukan kebermaknaan tujuan program, memadukan informasi kedalam perencanaan program, dan mengkomunikasikan temuan kepada orang tua dan pihak-pihak yang berkepentingan.
Dari keempat pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa assasmen merupakan
Metode dan alat asesmen meliputi: observasi, asesmen amndiri oleh pesertadidik, tugas praktek harian, contoh hasil pekerjaan peserta didik, tes tertulis, skala penilaian, proyek, laporan tertulis, review kinerja, dan asesmen portofolio. Kinerja peserta didik dinilai dari informasi yang dikumpulkan melalui kegiatan asesmen, pendidik menggunakan pemahamannya, pengetahuan tentang belajar, dan pengalaman peserta didik, kemudian membandingkannya dengan criteria yang telah dirumuskan dalam membuat penilaian mengenai kinerja peserta didik berkenaan dengan hasil belajaryang telah ditetapkan.
Evaluasi memiliki kesamaan dengan asesmen, asesmen biasanya berkaitan dengan prestasi belajar peserta didik. Dalam pemakaian yang lebih sempit, asesmen disamakan dengan ujian, sedangkan dalam pemakaian yang lebih luas, asesmen disamakan dengan evaluasi. Oleh karena itu evaluasi pendidikan biasanya meliputi asesmen hasil belajar peserta didik. Evaluasi memiliki tujuan untuk mengetahui sikap peserta didik, kesadaran karir, kepekaan budaya, praktek pembelajaran, kurikulum, personel sekolah, dan sebagainya. Beberapa pratisi pendidikan ada yang menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian, namun ada pula yang memandang berbeda, yakni isi evaluasi dipandang lebih luas dibandingkan dengan asesmen karena evaluasi berkaitan dengan pembuatan keputusan tentang nilai atau harga dari suatu objek. Asesmen dipandang sebagai proses pengukuran terhadap suatu karakteristik tertentu, seperti deskripsi tujuan, sementara evaluasi dipandang sebagai proses pengukuran terhadap suatu karakteristik dan penentuan nilai atau harga suatu objek. Shepard (1994) membedakan antara istilah asesmen dengan tes, walaupun secara teknis keduanya memiliki makna yang sama. Dia menyatakan tes sebagai kegiatan pengukuran tradisional, pengukuran pra akademik dan perkembangan anak yang tidak standar, dan menggunakan istilah asesemen yang mengacu pada proses pengamatan dan penilaian anak yang sesuai dengan perkembangan anak.
lebih luas. Evaluasi dapat mencakup tujuan seperti sikap peserta didik, kesadaran karier peserta didik, kepekaan cultural, praktik mengajar, dan sebagainya.
B.Sejarah Asesmen
Kegiatan asesmen muncul pertama kali di China pada tahun 206 sebelum masehi ketika dinasti Han memperkenalkan ujian untuk membantu proses seleksi pegawai kerajaan. Pada tahun 822 setelah masehi dinasti Tang melaksanakan ujian tertulis bagi calon pegawai kerajaan, ujian itu berlangsung selama beberapa hari dan yang lulus mencapai 2%, calon pegawai yang berhasil kemudian diberikan asesmen lisan oleh raja.
Di Eropa, ujian yang digunakan selama abad pertengahan digunakan untuk membantu seleksi calon pendeta dan kesatria, dan anak-anak sekolah di uji pengetahuan tentang katekismus. Universitas Paris pertama kali memperkenalkan ujian forma selama abad 12. Ujian itu adalah perselisihan tentang teologi. Pada tahun 1974an, Universitas Cambridge mulai menggunakan ujian lisan untuk membandingkan peserta didik, sama dengan ujian yang diselenggarakan oleh dinasti Han di China. Selama abad ke 18, Universitas Cambridgedan Oxford mulai menguji kemampuan matematika kepada peserta didiknya dengan menggunakan ujian tertulis kemudian menggunakan kertas untuk asesmen pada semua mata kuliah.
Amerika Serikat memperkenalkan ujian tertulis pada pada tahun 1830an dalam upaya mengurangi subjektivitas asesmen. Horace Mann memperkenalkan ujian tertulis di Boston Public School untuk membandingkan kinerja sekolah. Walaupun demikian, kontribusi utama Amerika Serikat dalam sejarah ujian itu dating selama perang dunia pertama ketika Angkatan Bersenjata Amerika Serikat memperkenalkan tes IQ berskala besar untuk mengangkat sejumlah besar calon prajurit yang akan menduduki jabatan di Angkatan Bersenjata. The Army Alpha, sebagaimana yang telah dikenal, merupakan pertanyaan pilihan ganda dan diterapkan pada dua juta calon prajurit.
C.
Tujuan Asesmen
kekuatan dan kelemahan peserta didik serta merencanakan pembelajaran yang sesuai
dengan kondisi peserta didik.
asesmen pembelajaran pada dasarnya tergantung pada penggunaan jenis-jenis
asesmen. Ada empat jenis asesmen dalam pembelajaran, yaitu: (a) asesmen formatif
dan sumatif; (b) asesmen objektif dan subjektif; (c) asesmen acuan normatif dan acuan
patokan, dan (d) asesmen formal dan informal.
a)
Asesmen formatif dan sumatif
Asesmen sumatif biasanya dilaksanakan di akhir pembelajaran, dan digunakan
untuk membuat keputusan tentang kenaikan kelas peserta didik. Asesmen formatif
umumnya dilaksanakan selam proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan asesmen
formatif dapat berbentuk pemberian balikan atas pekerjaan peserta didik, dan tidak
akan dijadikan sebagai dasar untuk kenaikan kelas peserta didik. Dalam konteks
belajar, asesmen sumatif dan formatif disebut dengan asesmen belajar.
Salah satu bentuk asesmen formatif adalah asesmen diagnostic. Asesmen diagnostic
mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta didik untuk mengidentifikasi
program belajar yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Asesmen mandiri oleh
peserta didik merupakan bentuk asesmen diganostik yang melibatkan peserta didik
mengakses dirinya sendiri.
b)
Asesmen objektif dan subjektifAsesmen bentuk objektif merupakan bentuk pertanyaan yang memiliki satu jawaban yang benar. Asesmen subjektif merupakan bentuk pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban yang benar (atau lebih dari satu cara mengungkapkan jawaban yang benar). Ada beberapa jenis pertanyaan berbentuk objektif dan subjektif. Jenis pertanyaan berbentuk objektif yaitu pertanyaan yang memiliki alternatif jawaban benar dan salah, pilihan ganda, pertanyaan menjodohkan, dan jawaban ganda. Pertanyaan subjektif yaitu pertanyaan yang membutuhkan jawaban luas dan ada yang berbentuk uraian.
c)
Asesmen acuan patokan dan acuan normatifcriteria atau standar absolute. Asesmen acuan patokan seringkali digunakan untuk mengukur kompetensi peserta didik.
Prosedur asesmen acuan patokan mencakup urutan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
Identifikasi hasil belajar yang diharapkan.
Rumuskan kriteria. Jika memungkinkan, libatkan peserta didik dalam merumuskankriteria
Rencanakan kegiatan belajar yang membantu peserta didik memperoleh pengetahuandan keterampilan
Sebelum kegiatan belajar berlangsung, komunikasikan kriteria tersebut dan pekerjaanyang akan diakses.
Berikan contoh kinerja yang diinginkan.
Implementasikan kegiatan belajar.
Gunakan beberapa metode asesmen berdasarkan tugas yang diberikan.
Kaji kembali data asesmen dan evaluasi masing-masing tingkat kinerja peserta didik atau kualitas pekerjaan dengan menggunakan kriteria
Apabila diperlukan, berikan tanda huruf (misalnya A, B, C, D) yang menunjukkanpemenuhan hasil belajar peserta didik dan orangtua
Laporkan hasil asesmen kepada peserta didik dan orangtuaAsesmen acuan normatif, atau dikenal dengan penentuan rangking berdasarkan kurva norml, biasanya menggunakan tes acuan normatif, tidak digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan kata lain yaitu asesmen yang distandarkan pada sekelompok individu yang kinerjanya dinilai dalam hubungannya dengan kinerja individu lainnya. Asesmen ini sangat efektif untuk membandingkan kemampuan peserta didik satu dengan peserta didik lainnya. Asesmen untuk ujian masuk sekolah biasanya emnggunakan asesmen acuan normative, karena asesmen ini dapat menunjukkan proporsi jumlah calon peserta didik yang lulus datau diterima di sekolah atau di universitas , dan bukan menunjukkan tingkat kemampuan calon peserta didik yang sesungguhnya.
d)
Asesmen formal dan informalAsesmen informal tidak dimaksudkan untuk menentukan rangking akhir peserta didik. Asesmen ini biasanya dilakuan dengan cara yang lebih terbuka, seperti kegiatan asesmen yang dilaksanakan melalui observasi, inventori, partisipasi, evaluasi diri dan teman sebaya, dan diskusi.
D. Prinsip-prinsip Asesmen
Asesmen yang baik harus berdasarkan pada landasan pendidikan. Landasan pendidikan ini meliputi pengorganisasian sekolah dalam memenuhi kebutuhan belajar seluruh peserta didik, memahami cara peserta didik belajar, menetapkan standar tinggi pada kegiatan belajar peserta didik dan memberikan kesempatan bealajar peserta didik yang memadai.
Ada tujuh prinsip dalam menerapkan asesmen belajar. Berikut disajikan ketujuh prinsip yang dimaksud :
a)
Tujuan utama asesmen adalah memperbaiki belajar peserta didikAsesmen kelas maupun berskala besar, diorganisir dengan tujuan untuk memperbaiki belajar peserta didik. Asesmen ini memberikan informasi yang sangat bermanfaat mengenai apa yang telah dicapai oleh peserta didik terhadap tujuan belajar dan mengenai kemampuan belajar masing-masing peserta didik. Asesmen menggunakan metode yang konsisten dengan tujuan belajar, kurikulum, pembelajaran, dan pengetahuan mutakhir tentang peserta didik.
b)
Asesmen bertujuan untuk mendukung belajar peserta didikAsesmen baik yang digunakan untuk laporan kemajuan peserta didik, sertifikasi peserta didik, dan informasi untuk perbaikan dan akuntabilitas sekolah adalah dimaksudkan untuk mendukung belajar peserta didik. Pendidik dan sekolah membuat keputusan, seperti kenaikan kelas, kelulusan peserta didik adalah didasarkan pada informasi yang diperoleh secara terus menerus, bukan data yang diperoleh dari asesmen akhir semester. Demikian pula informasi yang digunakan untuk perbaikan dan akuntabilitas sekolah juga berasal dari data pekerjaan dan asesmen peserta didik yang diperoleh secara terus menerus.
Asesmen akuntabilitas menggunakan prosedur pengambilan sampel pekerjaan peserta didik. Asesmen ini mengembangkan standar teknis dan standar itu digunakan untuk memastikan agar asesmen yang diterapkan memiliki kualitas tinggi, serta digunakan untuk memantau konsekuensi pendidikan atas penggunaan asesmen tersebut.
c)
Objektif bagi semua peserta didikpeserta didik serat cara-cara peserta didik mengungkapkan pengetahuan dan pemahamannya terhadap mata pelajaran. Asesmen tidak akan melenceng dan mampu menggambarkan pengetahuan dan keterampilan aktual peserta didik.
d)
Kolaborasi professionalPendidik yang memiliki sikap objektif adalah penting bagi persyaratan asesmen yang berkualitas. Pendidik menentukan dan berperan serta dalam pengembangan professional serta bekerjasama untuk memperbaiki system asesmen. Kemampan professional iu diperkuat melalui sekelompok pendidik memberikan skor pekerjaan peserta didik. Sekolah, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Pusat perlu menyediakan sumberdaya yang diperlukan untuk pengembangan professional pendidik dalam menerapkan asesmen pembelajaran.
e)
Partisipasi Komite Sekolah dalam Pengembangan AsesmenPelaksanaan asesmen perlu melibatkan orangtua, anggota masyarakat, peserta didik, bersama-sama pendidik dan pakar yang memiliki keahlian tertentu, dalam pengembangan asesmen. Diskusi tujuan dan metode asesmen perlu melibatkan orang-orang yang peduli dengan pendidikan. Orangtua, peserta didik, anggota masyarakat memiliki latar belakang berbagai keahlian, pendidik dan tenaga kependidikan perlu melibatkan diri dalam membentuk sistem asesmen yang berkualitas.
f)
Keteraturan Dan Kejelasan Komunikasi Mengenai Asesmen
P
endidik, sekolah, pemerintah kabupaten/ kota, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat secara jelas dan teratur mendiskusikan praktik asesmen dan peserta didik serta kemajuan program dengan peserta didik , keluarga , dan masyarakat. Penddik dan sekolah mengkomunikasikan tujuan, metode, dan hasil asesmen. Pendidik dan sekolah melaporkan apa yang diketahui dan yang mampu dilakukan oleh peserta didik, apa yang perlu dipelajari oleh peserta didik, dana apa yang akan dilakukan oleh peserta didik untuk perbaikan perilaku pesertadidik.Laporan tentang prestasi belajar peserta didik berkenaan dengan pencapaian tujuan belajar juga perlu dilaporkan. Contoh-contoh asesmen dan pekerjaan peserta didik perlu diperlihatkan kepada orang tua dan masyarakat agar mereka mnegetahui kinerja peserta didik. Hasil asesmen perlu dilaporkan bersama-sama dengan informasi tertentu yang erkaitan dengan program pendidikan, ketersediaan sumberdaya, dan prestasi sekolah lainnya.
Asesmen perlu dikaji kembali dan diperbaki untuk memastikan bahwa asesmen itu benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik. Tindakan ini harus dilakukan secara berkesinambungan. Meskipun asesmen itu telah dipandang memadai, namun perlu diperbaiki mengingat kondisi selalu berubah dan pengetahuan yang terjadi di masyarakat selalu meningkat.
Peninjauan kembali merupakan dasar bagi pembuatan keputusan dalam mengubah
sebagian atau seluruh asesmen. Peninjauan kembali itu melibatkan pihak-pihak yang
berkepentingan ( Stakeholders) dalam system pendidikan. Analisis biaya manfaat
(cost- benefit analysis) juga perlu dilakukan untuk mengetahui efek asesmen terhadap
belajar.
E.
A
sesmen Autentik (Asesmen Kinerja)A
sesmen yang diterapkan di sekolah umumnya menggunakan test formal. Implementasi ujan seperti ini banyak menimbulkan pertanyaan karena tidak mampu memberikan indikator terhadap apa yang telah dipelajari oleh peserta didik, dan seringkali peserta didik membuat terkaan atas butir soal pilihan ganda, sehingga peserta didik tidak belajar berpartisipasi di dunia nyata. Pendekatan alternatif untuk menilai peserta didik dewasa ini lebih banyak melibatkan peserta didik di dalamproses evaluasi yang dipandang mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar.Test standar umumnya digunakan untuk memungkinkan sekolah untuk membuat standar yang jelas dan konsisten terhadap peserta didik. Test tersebut akhir-akhir ini digunakan untuk berbagai tujuan di luar evaluasi kelas. Test tersebut digunakan untuk menempatkan peserta didik di kelas tertentu, membimbing peserta didik untuk membuat keputusan mengenai berbagai mata pelajaran, dan untuk akuntabilitas terhadap keefektivan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berdasarkan kinerja peserta didik.
Untuk mendorong peserta didik menggunakan keterampilan kognitif tngkat tinggi dan mengevaluasi peserta didik secara lebih komprehensif, ada beberapa assesmen alternatif yang dapat digunakan. Umumnya assesmen alternatif itu menggunakan teknik evaluasi non standar untuk menilai proses berpikir kompleks. Asesmen alternatif tersebut melput asesmen berbasis kinerja dan asesmen acuan patokan.
Asesmen berbasis kinerja ( performance based assesment)merupkan bentuk ujian dimana peserta didik menjawab suatu pertanyaan atau membuat produk atau mendemonsrasikan ketrampilan atau menampilkan kemampuan atau pengetahuan. Dapat juga dinyatakan bahwa assesmen berbasis kinerja merupakan assesmenyang mengaharuskan peserta didik membuat respon terhadap suatu persoalan. Penerapan asesman berbasis kinerja ini mempersyaratkan peserta didik secara aktif menyelesaikan tugas-tugas kompleks dengan menggunakan pengetahuan dan ketrampilan tingkat tinggi yang telah dimiliki dalam memmecahkan masalah yang bersifat realistik atau autentik. Beberapa jenis assesmen kinerja itu adalah tugas-tugas membuat proyek individual atau kelompok, contoh tulisan atau karangan, memecahkan masalah terbuka, wawancara atau presentasi lisan, eksperimen ilmiah, simulasi komputer, pertanyaan yang membutuhkan kontruksi jawaban, dan portofolio . asesmen kinerja ini umumnya mendekati kehidupan nyata, dimana peserta didik harus mengerjakan tugas dalam batas waktu tertentu.
Asesmen autentik merupakan jenis asesmen kinerja. Nama autentik itu diperoleh dari fokus teknik evaluasi yang digunakan untuk mengukur tugas-tugas kompleks, relevan, dan di dalam duna nyata. Asesmen autentikdapat berbentuk karya ilmiah dan memperbaiki karya tulis ilmiah, memberikan analisis tentang peristiwa-peristiwa secara tertulis atau lisan, berkolaborasi dengan orang lain dalam melaksanakan perdebatan dan melaksanakanpenelitian. Tugas-tugas tersebut mempersyaratkan peserta didik mensintesis pengetahuan dan membuat jawaban dengan benar. Validitas asesmen autentik didasarkan pada relevansi materi yang tersaji di dalam kurikulum dengan keterterapannya di dalam dunia nyata. Asesmen autentik itu dapat memperoleh reliabilitas tinggi apabila menggunakan kriteria evaluasi yang telah ditentukan sebelumnya.
a)
aIdentifikasi hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran itu diperoleh dari tujuan pembelajaran. Pertanyaannya adalah apakah yang ingin diketahui oleh peserta didik dan apa yang dapat mereka kerjakan? Misalnya, dalam pelajaran IPS, pendidik menghendakiagar peserta didik memahami dan menerapkan prinsip-prinsip demokratis, seperti perlindungan hak-hak sipil.b)
Kembangkan tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh peserta didik dalam mempelajaritujuan pembelajaran. Setelah mengidentifikasi hasil belajar, pertanyaaan berikutnya adalah apakah yang akan dilakukan oleh peserta didik dalam mempelajari tujuanpembelajaran. Dalam hal ini peserta didik belajar dan mendemonstrasikan tujuan pembelajaran denganberbagai cara, misalnya, dengan cara membaca, berbicara, berdiskusi, bermain peran, menulis, pembuatan keputusan, atau pemecahan masalah.
c)
Identifikasi hasil belajar tambahan yang didukung oleh tugas. Tugas yang kompleks adalah lebih dari sekedar mendemonstrasikan dan menerapkan pengetahuan, misalnya hak-hak sipil sebagai suatu prinsip-prinsip demokratis. Tugas seperti ini mempersyaratkan beberapa tugas, termasuk di dalamnya ketrampilan dasar seperti membaca, memperoleh informasi, menulis, dan ketrampilan berpikir kritis, mengevaluasi data dan menarik kesimpulan. Karena tugas kinerja itu bersifat autentik, maka tugas itu lebih banyak mendukung belajar dan lebih dari satu tujuan belajar.d)
Rumusan kriteria dan tingkat kinerja untuk mengevaluasi kinerja peserta didik. Dalam tahap ini, pertanyannya adalah bagaimana pendidik mengetahui kualitas kegiatan peserta didik? Salah satu cara untuk mengakses kinerja peserta didik adalah mengembangkan krteria yang dapat digunakan untuk menilai dan mendeskrepsikan tingkat kinerja.F. Asesmen Portofolio
Asesmen portofolio merupakan bentuk evaluasi kinerja yang paling populer. Portofolo biasanya berbentuk file atau folder yang berisi koleksi karya pesertadidik. Pada mulanya portofolio digunakan di bidang seni dan menulis, yang diawali mulai dari penulisan draft, revisi, dan produk akhir untuk mengetahui kemajuan peserta didik. Walaupun begitu, asesmen portofolio ini juga digunakan di bidang lain seperti matematika dan IPA. Dengan mencatat kemajuan peserta didik, asesmen portofolio digunakan untuk mencatat keberhasilan peserta didik dalam melaksanakan tugas.
kesempatan untuk memahami apa yang sedang dipelajari oleh peserta didk. Sebagai produk dari kegiatan pembelajaran, portofolio menggambarkan ketrampilan berpikir kompleks dan belajar kontekstual. Keputusan mengenai hal-hal apa yang dimaksudkan ke dalam portofolio tergantung pada tujuan pembuatan portofolio. Pembuatan portofolio dapat digunakan untuk merekam karya peserta didk, mengkomunikasikan pekerjaannya
, dan menghubungkan pekerjaan
peserta didik dengan konteks yang lebih luas. Portofolio dapat dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik, meningkatkan belajar melalui refleks dan asesmen diri, dan digunakan untuk menilai proses menulis dan berpikir peserta didik. Isi portofolio dapat digunakan untuk mengukur kebutuhan peserta didik tertentu atau bidang-bidang studi tertentu. Materi di dalam portofolio hendaknya diorganisir dalam bentuk kronologis. Pengorganisasian ini dapat memperlancar penetapan waktu pembuatan komponen-komponen dari suatu folder. Portofolio juga dapat diorganisir berdasarkan pada bidang-bidang kurikulum atau kategori perkembangan anak.Portofolio dapat dievaluasi dengan dua cara, tergantung pada penggunaan skor. Pertama, yaitu evaluasi berbasis kriteria. Kemajuan peserta didik dibandingkan dengan standar kinerja yang sesuai dengan kinerja peserta didik lainnya, atau kurikulum. Tingkat prestasi dapat diukur dalam bentuk seperti dasar, terampil, mahir atau dapat dievaluasi dengan berbagai tingkatan yang pada akhirnya memberikan peluang untuk membuat perbedaan antar peserta didik. Tenik evaluasi portofolio kedua adalah mengukur kemajuan peserta didik individual pada periode waktu tertentu. Teknik ini digunakan asesmen perubahan pengetahuan atau keterampilan peserta didik.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengakses portofolio. Metode evaluasi portofolio dapat dioperasionalisasikan dengan menggunakan rubrik, yaitu pedoman penskoran yang berisi rumusan semua dimensi yang diakses. Rubrik itu dapat berbentuk holistik yang menghasilkan skor tunggal, atau dapat berbentuk analitik yang menghasilkan beberapa skor yang memberi peluang evaluasi pengetahuan dan keterampilan penting. Penentuan rangking yang bersifat holistik, kadang-kadang menggunakan asesmen portofolio, didasarkan pada kesan umum dari suatu kinerja. Dalam hal ini penilai memadukan kesannya dengan skala nilai, umumnya terfokus pada aspek-aspek kinerja spesifik.
Evaluasi portofolio juga dapat memanfaatkan pendidik dan peserta didik serta evaluasi teman sebaya. Beberapa pendidik dapat meminta peserta didiknya mengevaluasi pekerjaannya sendiri sebagai bentuk refleksi dan memantau kemajuan belajarnya sendiri.
Ada beberapa masalah berkenaan dengan asesmen portofolio. Salah satu masalahnya adalah ketika asesmen ini digunakan dalam skala besar, karena portofolio memerlukan banyak waktu dan biaya dalam melaksanakan evaluasi, terutama apabila dibandingkan dengan jenis evaluasi lainnya. Pertanyaan lain yang muncul yaitu apakah peserta didik akan menerima rangking atau skor yang diperoleh peserta didik mungkin beberapa apabila pekerjaan peserta didik dikoreksi oleh pendidik yang berbeda.
Ada berbagai cara untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan objektivitas dan reliabilitas asesmen portofolio. Pertama, ketika menilai kinerja, penggunaan rentang skor yang kecil, misalnya A, B, C, D, dan E, dapat menghasilkan skor yang lebih reliabel jika dibandingkan dengan penggunaan rentang skor yang lebih besar. Demikian pula, beberapa guru dapat menggunakan grading holistik dalam mengevaluasi peserta didik. Apabila asesmen portofolio didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, reliabilitasnya akan tinggi. Kedua, peningkatan objektivitas asesmen portofolio dapat menggunakan beberapa evaluator. Dengan menggunakan beberapa evaluator, penilaian portofolio dapat membantu memastikan bahwa skor awal yang diberikan oleh evaluator akan menggambarkan kompetensi pekerjaan peserta didik. Ketiga, untuk menguji reliabilitas kor adalah menilai kembali portofolio selama periode waktu tertentu, mungkin satu bulan, kemudian membandingkannya dengan skor portofolio yang diberikan awal penskoran, untuk menegtahui konsistensi penskoran.
Masalah lain adalah pengembangan dan pembuatan rangking pada tugas-tugas portofolio. Untuk memcahkan masalah itu, tugas-tugas portofolio dapat didiskusikan oleh beberapa pendidik yang memiliki latar belakang kebudayaan berbeda. Pendidik tersebut dapat melacak kembali cara-cara peserta didik yang memiliki berbagai latar belakang kebudayaan melaksanakan suatu pekerjaan dan mengakses kembali untuk mengetahui konsistensi penskoran.
Dibandingkan dengan tes formal (tes tertulis dan sejenisnya) asesmen portofolio memiliki berbagai keuntungan, diantaranya :
b)
Karena terfokus pada hasil pembelajaran, portofolio dapat diintegrasikan dengankegiatan pembelajaran.
c)
Sasaran asesmen portofolio adalah kemampuan peserta didik dalam berpikir kompleks, pemahaman mendalam dan penerapan pengetahuan. Bukan sebaliknya pengetahuan dan keterampilan terbatas, seperti mengingat fakta ataupun konsep.d)
Karena portofolio menawarkan berbagai cara kepada peserta didik untuk mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka dapat kerjakan, maka peserta didik terdorong menjadi pembelajar reflektif yang bertanggung jaawab atas pertumbuhan dan perkembangannya sendiri.e)
Portofolio memberikan kesempatan kepada pendidik untuk memahami apa yang dipelajari oleh peserta didiknya, sehingga para pendidik dapat merancang pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.Walaupun para pendidik dalam menggunakan asesmen portofolio itu memerlukan banyak waktu dalam mengembangkan, mengimplementasikan, dan menskor portofolio, namun penggunaannya memiliki konsekuensi positif terhadap belajar dan pembelajaran. Demikian pula asesmen ini dapat meningkatkan keterampilan, prestasi, dan motivasi peserta didik untuk belajar. Dalam menerapkan asesmen portofolio, ada beberapa tahap yang harus dilalui yaitu:
a)
Perencanaan dan pengorganisasian1)
Kembangkan perencanaan portofolio yang bersifat fleksibel. Apakah tujuan yang akan dicapai melalui portofolio itu ? aspek-aspek apa saja yang diperlukan ? kapan dan bagaimana aspek-aspek itu ditetapkan ? kriteria apakah yang akan diterapkan untuk refleksi dan evaluasi ?2)
Rencanakan waktu secukupnya agar peserta didik mempersiapkan dan mendiskusikan aspek-aspek portofolio. Asesmen portofolio memerlukan banyak waktu dan pemikiran dibandingkan dengan koreksi ujian tertulis.3)
Mulai dengan satu aspek belajar dan hasil belajar peserta didik, kemudian semakin meningkat sejalan dengan apa yang dipelajari peserta didik. Proses menulis karangan, misalnya adalah sangat cocok untuk didokumentasikan melalui portofolio.4)
Pilih aspek-aspek yang dimaksudkan di dalam portofolio yang mampu menunjukkan kemajuan peserta didik atau penugasan tujuan pembelajaran.hendaknya menunjukkan kemajuan peserta didik. Sampel pekerjaan pilihan menunjukkan kekuatan dan minat individu peserta didik.
6)
Tempatkan daftar tujuan di depan masing-masing portofolio, bersamaan dengan daftar indikator yang dipersyaratkan dan tempat mencatat aspek-aspek pilihan, agar supaya pendidik dan peserta didik mudah mengetahui isinya.b)
Implementasi1)
Lekatkan perkembangan aspek-aspek portofolio di dalam kegiatan kelas yang sedang berlangsung untuk menghemat waktu, dan pastikan bahwa aspek-aspek portofolio itu merupakan cerminan dari pekerjaan peserta didik, dan mampu meningkatkan keautentikan.2)
Berikan tanggung jawab kepada peserta didik untuk mempersiapkan, memilih, menilai,dan menyimpan portofolionya sendiri.
3)
Bagi aspek-aspek portofolio yang telah dipilih, refleksi model dan asesmen diri akan membantu peserta didik menyadari proses yang mereka lakukan, apa yang mereka pelajari dan telah mereka pelajari, dan apa yang dapat mereka lakukan pada waktu yang berbeda.4)
Catat komentar pendidik dan peserta didik dengan segera terhadap portofolio tersebut,dan lekatkan komentar itu pada aspek-aspek portofolio. Biarkan peserta didik membuat komentar atas portofolionya sendiri.
5)
Selektif. Portofolio bukan sebagai kumpulan sampel karya peserta didik yang sembarangan. Portofolio berisi aspek-aspek dari karya peserta didik terpilih yang mampu meningkatkan belajar peserta didik.c)
Hasil1)
Analisis aspek-aspek portofolio untuk memahami pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Melalui analisis ini pendidik akan memahami kekuatan dan kebutuhan peserta didik, proses berpikir, prakonsepsi, kesalahan konsepsi, pola-pola kesalahan, dan perbandingan perkembangan.2. EVALUASI
PENGERTIAN EVALUASI PENDIDIKAN
1. DEFINISI EVALUASI Bloom et. Al (1971)
“ evaluasi, sebagaimana kita lihat, adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan badam pribadi siswa”
Stufflebeam et. Al (1971)
Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.
2. TUJUAN EVALUASI
Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar- mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan intruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya. Tindak lanjut termaksud merupakan fungsi evaluasi dan dapat berupa:
a. Penempatan pada tempat yang tepat. b. Pemberian umpan balik.
c. Diagnosis kesulitan belajar siswa, d. Penentuan kelulusan.
Untuk masing-masing tindak lanjut yang di kehendaki ini diadakan tes, yang diberi nama:
a. Tes penempatan (placement test)
Tes ini disajikan pada awal tahun pelajaan untuk mengukur kesiapan siswa dan mengetahui tingkat pengetahuan yang telah dicapai sehubungan dengan pelajaran untuk mengukur kesiapan siswa dan mengetahui tingkat pengetahuan yang telah dicapai sehubungan dengan pelajaran yang akan disajikan.
b. Tes formatif (formative test)
Tes ini disajikan di tengah program pengajaran untuk memantau (memonitor) kemajuan belajar siswa demi memberikan umpan balik, baik kepada siswa maupun kepada guru.
c. Tes diagnostik (diagnostic test)
d. Tes sumatif (sumative test)
Tes jenis ini biasannya di berikan pada akhir tahun ajaran atau akhir suatu jenjang pendidikan. Tes ini di maksudkan untuk memberikan memberikan nilai yang menjdi dasar penentuan kelulusan dan atau pemberian sertifikat bagi yang telah menyelesaikan pelajaran dengan berhasil baik.
3. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN a. Evalusi Berfungsi Selektif.
Dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain :
1). Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu.
2). Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya. 3). Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
4). Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah.
b. Evaluasi bersifat Diagnostik.
Apabila alat yang di gunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu diketahui pula sebab musebab kelemahan itu. Jadi dengan mengadakan evaluasi, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasi.
c. Evaluasi bersifat sebagai penempatan.
Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan dinegara barat adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan menggunakan paket belajar, baik berbentuk modul atau paket belajar lain.sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan besar terhadap pengakuan individual.
d. Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan.
Fungsi keempat dari evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum,sarana, dan sistem kurikulum.
4. FUNGSI EVALUASI
Evaluasi lebih merupakan kebutuhan yang datang dari dalam sistem itu sendiri karena evaluasi itu dipandang sebagai faktor yang memungkinkan dicapainya hasil pengembangan yang optimal dari sistem yang bersangkutan. 2. Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat
Dalam Pertanggungjawaban hasil yang telah dicapainya, pihak pengembang perlu mengemukakan kekuatan dan kelemahan dari sistem yang sedang dikembangkannya serta usaha lebih lanjut yang diperlukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut.
3. Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan.
5. PRINSIP-PRINSIP DAN TEKNIK EVALUASI
A. Prinsip-prinsip Evaluasi
Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi. Betapapun baiknya prosedur evaluasi diikuti dan disempurnanya teknik evaluasi diterapkan, apabila tidak dipadukan dengan prinsip-prinsip penunjangnya maka hasil evaluasi pun akan kurang dari yang diharapkan. Prinsip-prinsip termaksud adalah sebagai berikut:
1. Keterpaduan
Evaluasi merupakan komponen integral dalam program pengajaran di samping tujuan instruksional dan materi serta metode pengajaran (ingat segitiga Tyler). Tujuan instruksional, materi dan metode pengajaran, serta evaluasi merupakan tiga kesatuan terpadu yang tidak boleh dipisahkan. Karena itu, perencanaan evaluasi harus sudah ditetapkan pada waktu menyusun satuan pengajaran sehingga dapat disesuaikan secara harmonis dengan tujuan instruksional dan materi pengajaran yang hendak disajikan.
2. Keterlibatan siswa
Prinsip ini berkaitan erat dengan metode belajar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang menuntut keterlibatan siswa secara aktif, siswa mutlak. Untuk dapat mengetahui sejauh mana siswa berhasil dalam kegiatan belajar-mengajar yang dijalaninya secara aktif, siswa membutuhkan evaluasi. Penyajian evaluasi oleh guru merupakan upaya guru untuk memenuhi kebutuhan siswa akan informasi mengenai kemajuannya dalam program belajar –mengajar. Siswa akan merasa kecewa apabila usahanya tidak dievaluasi.
3. Koherensi
Dengan prinsip koherensi dimaksudkan evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur. Tidak dapat dibenarkan menyusun alat evaluasi hasil belajar atau evaluasi pencapaian belajar yang mengukur bahan yang belum disajikan dalam kegiatan belajar-mengajar.
Di samping sebagai alat penilai hasil/pencapaian belajar, evaluasi juga perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi pedagogis. Evaluasi dan hasilnya hendaknya dapat dipakai sebagai alat motivasi untuk siswa dalam kegiatan belajarnya. Hasil evaluasi hendaknya dirasakan sebagai ganjaran (reward) yakni sebagai penghargaan bagi yang berhasil tetapi merupakan hukuman bagi yang tidak/kurang berhasil.
5. Akuntabilitas
Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggung jawaban (accountability). Pihak-pihak termaksud antara lain orang tua, calon majikan, masyarakat lingkungan pada umumnya, dan lembaga pendidikan sendiri. Pihak-pihak ini perlu mengetahui keadaan kemajuan belajar siswa agar dapat dipertimbangkan pemanfaatannya.
B. Teknik Evaluasi
Secara garis besar, teknik evaluasi yang digunakan dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu: teknik tes dan teknik non-tes.
1. Teknik non-tes
Ada beberapa teknik non-tes yaitu:
a. Skala bertingkat (rating scale) b. Kuesioner (questionnaire) c. Daftar cocok (check-list) d. Wawancara (interview) e. Pengamatan (observation) f. Riwayat hidup.
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: a. Skala bertingkat (rating scale)
Skala menggambarkan suatu nilai hasil yang berbentuk angka terhadap suatu hasil pertimbangan. Seperti Oppenheim menggatakan “Rating gives a numerical value to some kind of judgement”, maka suatu skala disajikan dalam bentuk angka.
b. Kuesioner
Kuesioner (questionnaire) juga sering dikenal sebagai angket. Pada dasarnya, kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Dengan kuesioner ini orang dapat diketahui tentang keadaan/data diri, pengalaman, pengetahuan, sikap atau pendapatnya dan lain-lain.
1) Ditinjau dari segi siapa yang menjawab, maka ada: Kuesioner langsung
Kuesioner dikatakan langsung jika kuesioner tersebut dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan dimintai jawaban tentang dirinya. Kuesioner tidak langsung
langsung biasanya digunakan untuk mencari informasi tentang bahan, anak, saudara, tetangga dan sebagainya.
2) Ditinjau dari segi cara menjawab
Ditinjau dari segi cara menjawabnya maka dibedakan atas: Kuesioner tertutup
Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban langkah sehingga pengisi hanya tinggal member tanda pada jawaban yang dipilih.
Kuesioner terbuka
Kuesioner terbuka adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya. Kuesioner terbuka disusun apabila macam jawaban pengisi belum terperinci dengan jelas sehingga jawabannya akan beranekaragam.
c. Daftar cocok (check list)
Yang dimaksud dengan daftar cocok (check list) adalah deretan pertanyaan (yang biasanya singkat-singkat), di mana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok ditempat yang sudah disediakan.
d. Wawancara (interview)
Wawancara atau interview adalah suatu cara digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak.
Wawancara dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
1. Interviu bebas, dimana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya.
2. Interviu terpimpin, yaitu interviu yang dilakukan oleh subjek evaluasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun terlebih dahulu. Jadi dalam hal ini responden pada waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan oleh penanya.
e. Pengamatan (observation)
Pengamatan atau observasi (observation) adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis. Ada 3 macam observasi:
1. Observasi partisipan, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat, tetapi dalam pada itu pengamatmemasuki dan mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati.
2. Observasi sistematik, yaitu observasin di mana faktor-faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis, dan sudah diatur menurut kategorinya.
3. Observasi eksperimental, terjadi jika pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok. Dalam hal ini ia dapat mengendalikan unsure-unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi itu dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi.
Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian kebiasaan dan sikap dari objek yang dimulai.
. 2. Teknik tes
Di dalam bukunya yang berjudul Evaluasi Pendidikan, drs. Amir Daien Indra kusuma mengatakan demikian:
“Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.”
Selanjutnya, di dalam bukunya. Teknik-teknik Evaluasi, Muchtar Bukhori mengatakan:
“Tes ialah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seseorang murid atau kelompok murid.”
Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya 3 macam tes, yaitu:
a. Tes diagnostik
Seorang guru yang baik, tentu akan merasa berbahagia apabila dapat membantu siswanya sehingga dapat mencapai kemajuan secara maksimal sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Untuk mengetahui apakah bantuan yang diberikan sudah memadai, maka diadakan suatu penilaian. Namun informasi hasil penilaian ini tidak aka nada gunanya seandainya tidak digunakan untuk bahan pertimbangan bagi tindakan selanjutnya.
b. Tes formatif
Dari arti kata “form” yang merupakan dasar dari istilah “formatif” maka evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelah mengikuti sesuatu program tertentu. Dalam kedudukannya seperti ini tes formatif dapat juga dipandang sebagai tes diagnostik pada akhir pelajaran. Evaluasi formatif atau tes formatif diberikan pada akhir setiap program. Tes ini merupakan post-test atau tes akhir proses.
c. Tes sumatif
Evaluasi sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Dalam pengalaman di sekolah, tes formatif dapat disamakan dengan ulangan harian, sedangkan tes sumatif ini dapat disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada tiap akhir catur wulan atau akhir semester.
Dalam pelaksanaannya di sekolah tes formatif ini merupakan ulangan harian, sedangkan tes sumatif biasa kita kenal sebagai ulangan umum yang diadakan pada akhir catur wulan atau akhir semester.
6. KAITAN ASSEMENT DAN EVALUASI
Dapat disimpulkan bahwa antara evaluasi dan asesmen memang memiliki kesamaan yaitu sama-sama untuk menilai. Tapi jika dilihat lagi antara asesmen dan evaluasi memiliki sedikit perbedaan. Evaluasi adalah suatu penilaian dengan melihat proses yang dilakukan anak dan hasil yang telah dibuat anak dari sebuah proses pembelajaran. Sedangkan asesmen merupakan penilaian yang melihat hasil akhir dari pembelajaran anak saja. Perbedaan inilah yang membuat asesmen menjadi bagian dari evaluasi.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Istilah asesmen (assessment) diartikan oleh stigginis (1994) sebagai penilaian prosrs, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outcomes. Sementara itu asesmen diartikan oleh Kumano (2001) sebagai “ The process of Collecting data which s,hows the development of learning “. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan istilah yang tepat untuk penilaian proses belajar belajar siswa. Namun meskipun proses belajar siswa merupakan hal penting yang dinilai dalam asesmen, faktor hasil belajar juga tetap tidak dikesampingkan.
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto, H. 1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Rifa’i RC, Achmad. dan Catharina Tri Anni. 2010. Psikologi Pendidikan. Semarang : UNNES Press.
Poerwanti, Endang, dkk. 2008. Asesmen Pembelajaran SD. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.