• Tidak ada hasil yang ditemukan

Korelasi Kadar Gula Darah dengan Konsentrasi Berpikir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Korelasi Kadar Gula Darah dengan Konsentrasi Berpikir"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah faktor yang paling mendominasi dalam semua sistem dimana manusia juga merupakan bagian dari sistem itu sendiri. Tingkah laku pikiran dan kebutuhan manusia adalah faktor utama dalam kekuatan yang mendasari hampir semua kegiatan manusia dalam performa, pengaturan mesin, dan sosialisasi. (Wang, 2008).

Dalam berbagai disiplin pengetahuan manusia, hampir semua permasalahan sulit yang harus ditangani memiliki akar yang sama yakni dalam pemahaman mekanisme intelegensia alami dan bagian kognisi dari faktor manusia. (Eagly & Chaiken, 1992). Proses berpikir merupakan cara saat seseorang menyatukan semua ide-ide dan asosiasi-asosiasi yang membentuk pemikiran seseorang. Sensorium dan kognisi ditujukan untuk penilaian fungsi otak organik, taraf intelegensi, kapasitas berpikir abstrak, tingkatan tilikan dan daya nilai (judgment). (Rediyani, 2013).

Konsentrasi atau perhatian adalah usaha untuk mengarahkan aktivitas mental pada pengalaman tertentu. Gangguan perhatian meliputi ketidakmampuan memusatkan perhatian, mempertahankan perhatian, maupun mengalihkan perhatian. (Dharmono, 2013).

Kebanyakan jaringan memiliki tingkat kebutuhan untuk glukosa. Di otak, kebutuhan ini sangat penting. Suplai glukosa dibutuhkan terutama untuk sistem saraf dan eritrosit. Kegagalan glukoneogenesis biasanya bersifat fatal. Hipoglikemia dapat menyebabkan disfungsi otak, yang dapat mengarah ke kondisi koma dan kematian (Bender & Mayes, 2015).

Glukosa darah adalah gula dalam aliran darah yang mudah melewati sawar darah otak, karena otak tidak dapat menyimpan glukosa, ia membutuhkan pasokan terus menerus glukosa untuk berfungsi dengan baik. Segala kekurangan dalam

(2)

2

ketersediaan glukosa ke otak dapat mengakibatkan konsekuensi buruk untuk fungsi otak (Bender & Mayes, 2015).

Glukosa merupakan produk akhir metabolisme karbohidrat dan merupakan sumber energi utama untuk organisme hidup, yang kegunaannya dikontrol oleh insulin. (Dorland, 2007). Kadar gula darah normal setelah lebih dari delapan jam puasa pada manusia adalah 70-100 mg/dl, sewaktu adalah kurang dari 125 mg/dl, dan dua jam setelah makan adalah kurang dari 180 mg/dl (American Diabetes Association, 2014).

Berbagai studi yang dilakukan telah menunjukkan adanya hubungan glukosa dengan fungsi kognisi. (Benton, 1998) menyatakan adanya hubungan antara kadar glukosa darah dengan kognisi manusia. (Donohoe dan Benton, 1999) menyatakan fungsi kognisi suseptibel terhadap kadar glukosa darah. Gold, 1992 menyatakan kadar glukosa untuk memori optimal berkisar antara 150-175 mg/dl. Fungsi kognisi terdiri dari kesadaran, orientasi, memori, konsentrasi/ perhatian, pikiran abstrak, dan kemampuan informasi dan intelegensi (Rediyani, 2013).

Berdasarkan uraian di atas, pentingnya kemampuan berpikir manusia dalam berbagai disiplin pengetahuan dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya adalah nutrisi yakni glukosa. Penelitian mengenai konsentrasi berpikir manusia masih kurang, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai hubungan kadar gula darah dengan konsentrasi berpikir terutama pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utara.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah adalah, “Adakah korelasi antara kadar gula darah dengan konsentrasi berpikir?”

(3)

3

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui korelasi kadar gula darah dengan konsentrasi berpikir.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran kadar gula darah preprandial pada responden. b. Mengetahui gambaran kadar gula darah postprandial pada responden. c. Mengetahui gambaran konsentrasi berpikir preprandial pada responden. d. Mengetahui gambaran konsentrasi berpikir postprandial pada responden. e. Mengetahui korelasi kadar gula darah preprandial dengan konsentrasi berpikir. f. Mengetahui korelasi kadar gula darah postprandial dengan konsentrasi berpikir. g. Mengetahui korelasi peningkatan kadar gula darah dengan konsentrasi berpikir.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk

a. Pendidikan:

Optimalisasi belajar melalui kebijakan pengaturan jam istirahat makan. b. Masyarakat umum:

Mengetahui pentingnya pengontrolan kadar gula darah dalam kehidupan sehari-hari.

c. Medis:

Edukasi pasien mengenai pengontrolan kadar gula darah. d. Ketenagakerjaan:

Optimalisasi kinerja pekerja. e. Penelitian:

Melakukan penelitian berikutnya terutama dalam hal faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konsentrasi berpikir.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kecemasan dengan kadar gula darah penderita DM tipe 2 di RSUD Salatiga.. Kata kunci : Kecemasan, kadar gula darah, DM

Fenomena yang ada di Puskesmas Kedungmundu tersebut membuat peneliti tertarik untuk meneliti Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Diet Dengan Kadar Gula Darah

Pada penelitian ini, didapatkan hasil bahwa tidak terdapat korelasi bermakna antara indeks massa tubuh (IMT) dengan kadar gula darah puasa (r= 0,149; p= 0,414)

Setelah mendapat keterangan secara terperinci dan jelas mengenai penelitian yang berjudul, “ PERBANDINGAN KADAR GULA DARAH DAN KADAR LIPID SERUM PADA PENDERITA

Dengan adanya beberapa penelitian mengenai asupan tiamin dan serat yang berpengaruh terhadap kadar gula darah penderita DM tipe 2 maka saya tertarik untuk melakukan

Setelah dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa, pasien akan diminta makan dan minum obat sebelum dilakukan pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah makan

viii UNIVERSITAS BINAWAN HUBUNGAN KADAR GULA DARAH SEWAKTU DAN KADAR KOLESTEROL TOTAL TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II Reynita Dwi Chaerunissa

ABSTRACT ARTIKEL RISET URL artikel: http://jurnal.fkmumi.ac.id/index.php/woh/article/view/woh6201 Korelasi Usia dengan Kadar Kolesterol, Gula Darah Sewaktu GDS dan Asam Urat Yusuf