MAKALAH EKONOMI PEMBANGUNAN PERTANIAN
ANALISIS MDG 4
“REDUCE CHILD MORTALITY”
Disusun oleh :
Titik Pitaloka 23040113140012 Vickitra Aufanada 23040113140013 Vincent P 23040113140015 Eva Yuliana Dewi K. 23040113190016 Talasi Ruqaya Y 23040113140034
AGRIBISNIS
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
PENDAHULUAN
MDGs adalah singkatan dari Millennium Development Goals yang dalam bahasa Indonesia disebut Tujuan Pembangunan Milenium. Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan September 2000, sebanyak 189 negara anggota PBB, termasuk Indonesia, yang sebagian besar diwakili oleh kepala pemerintahan sepakat untuk mengadopsi Deklarasi Milenium. Dalam konteks inilah, negara-negara anggota PBB kemudian mengadopsi MDGs dengan 8 Tujuan. Setiap tujuan memiliki satu atau
beberapa target beserta indikatornya. MDGs menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus utama pembangunan, memiliki tenggat waktu dan kemajuan yang terukur. MDGs didasarkan pada konsensus dan kemitraan global, sambil menekankan tanggung jawab negara berkembang untuk melaksanakan pekerjaan rumah mereka, sedangkan negara maju
berkewajiban mendukung upaya tersebut. Ada 189 negara. Ini pertama kalinya dalam sejarah, bahwa begitu banyak pemimpin dunia bergabung untuk menghadapi tantangan-tantangan abad 21. Ke-189 pemimpin dunia tersebut sepakat untuk menciptakan dunia yang bebas dari kemiskinan dan kelaparan, dunia yang dimana setiap orang sehat, dan setiap anak lelaki maupun perempuan memiliki akses pada pendidikan. MDGs mendesak setiap orang untuk peduli akan lingkungan, serta menjembatani solidaritas internasional.
Deklarasi ini merupakan kesepakatan anggota PBB mengenai sebuah paket arah pembangunan global yang dirumuskan dalam beberapa tujuan yaitu:
1. Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan,
2. Mencapai Pendidikan Dasar untuk semua,
3. Mendorong Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Perempuan,
4. Menurunkan Angka Kematian Anak,
5. Meningkatkan Kesehatan Ibu,
6. Memerangi HIV/AIDs, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya,
7. Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup, dan
Deklarasi MDGs merupakan hasil perjuangan dan kesepakatan bersama antara negara-negara berkembang dan maju. Negara-negara berkembang berkewajiban untuk melaksanakannya, termasuk salah satunya Indonesia dimana kegiatan MDGs di Indonesia mencakup pelaksanaan kegiatan monitoring MDGs. Sedangkan negara-negara maju berkewajiban mendukung dan memberikan bantuan terhadap upaya keberhasilan setiap tujuan dan target MDGs.
Sebagai salah satu negara yang ikut menandatangani deklarasi MDGs, Indonesia mempunyai komitmen untuk melaksanakannya serta menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan program pembangunan nasional baik jangka pendek, menengah, dan panjang. Pada hakikatnya setiap tujuan dan target MDGs telah sejalan dengan program pemerintah jauh sebelum MDGs menjadi agenda pembangunan global dideklarasikan. Potret dari
kemakmuran rakyat diukur melalui berbagai indikator seperti bertambah tingginya tingkat pendapatan penduduk dari waktu ke waktu, kualitas pendidikan dan derajat kesehatan yang membaik, bertambah banyaknya penduduk yang menempati rumah layak huni, lingkungan permukiman yang nyaman bebas dari gangguan alam dan aman. Penduduk mempunyai kesempatan untuk mengakses sumber daya yang tersedia, lapangan kerja yang terbuka untuk semua penduduk, serta terbebas dari kemiskinan dan kelaparan.
Pemerintah Indonesia mengklaim delapan target MDGs hampir semuanya tercapai. Itu tertera dalam laporan Bappenas 2010. Di antaranya pemerintah mengklaim berhasil menurunkan angka kemiskinan penduduk yang berpendapatan 1 dolar per hari (standar Bank Dunia), dari 20,6 persen tahun 1990 menjadi 5,8 persen tahun 2008. Namun, klaim
keberhasilan itu dibantah oleh sejumlah organisasi massa yang berhimpun dalam Indonesian Peoples Alliance (IPA) atau Aliansi Rakyat Indonesia. IPA menilai, pencapaian MDGs gagal. Ini seiring meningkatnya kemiskinan, tidak adanya akses masyarakat terhadap kesehatan, pendidikan dasar, ketahanan pangan, dan kerusakan lingkungan serta konflik agraria. Namun, gagal atau tidaknya kembali lagi kepada masyarakat Indonesia sendiri bagaimana
menanggapinya.
Kerja Pemerintah (RKP) Tahunan, dan dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam memenuhi komitmen tersebut Indonesia menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Perdagangan bebas, harga minyak yang masih meningkat yang diikuti oleh subsidi BBM yang semakin membengkak, perubahan iklim dan pemanasan global dan dampaknya pada harga pangan yang semakin mahal, mewarnai dinamika sosial dan ekonomi pembangunan nasional.
Tujuan-tujuan MDGs yang telah menunjukkan kemajuan signifikan dan diharapkan dapat tercapai pada tahun 2015 (on-track) adalah:
MDG 1, yaitu terdapat kemajuan yang sangat besar dari indeks kedalaman
kemiskinan, proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri dan pekerja bebas keluarga terhadap total kesempatan kerja, dan prevalensi balita dengan berat badan rendah/kekurangan gizi.
MDG 2, yaitu APM SD, proporsi murid kelas 1 yang berhasil menamatkan sekolah dasar, serta angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun, perempuan dan laki-laki yang semuanya sudah mendekati 100 persen.
MDG 3, yaitu rasio APM perempuan/laki-laki di tingkat SD/MI/Paket A,
SMP/MTs/Paket B, dan pendidikan tinggi yang hampir mendekati 100 persen serta kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor nonpertanian, dan proporsi kursi yang diduduki perempuan di DPR yang meningkat.
MDG 4, yaitu penurunan yang sudah mendekati dua pertiga angka kematian neonatal, bayi, dan balita serta proporsi anak usia 1 tahun yang mendapat imunisasi campak yang meningkat pesat.
MDG 5, yaitu berupa peningkatan angka pemakaian kontrasepsi bagi perempuan menikah dengan menggunakan cara modern, penurunan angka kelahiran remaja perempuan umur 15-19 tahun, peningkatan cakupan pelayanan antenatal baik 1 maupun 4 kali
kunjungan, dan penurunan kebutuhan KB yang tidak terpenuhi (unmet need).
balita yang tidur dengan kelambu berinsektisida belum memadai dalam rangka menurunkan jumlah kasus baru malaria.
MDG 7, yaitu berupa penurunan konsumsi bahan perusak ozon, proporsi tangkapan ikan yang tidak melebihi batas biologis yang aman, serta rasio luas kawasan lindung untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati terhadap total luas kawasan hutan dan rasio rasio kawasan lindung perairan terhadap total luas perairan teritorial yang keduanya meningkat.
MDG 8, yaitu berupa keberhasilan pengembangan sistem keuangan dan
perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi dan tidak diskriminatif yang diindikasikan oleh rasio ekspor dan impor terhadap PDB, rasio pinjaman terhadap simpanan di bank umum, dan rasio pinjaman terhadap simpanan di BPR yang semuanya meningkat pesat. Selain itu juga keberhasilan dalam menangani utang untuk dapat mengelola utang dalam jangka panjang yang diindikasikan oleh rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB dan rasio pembayaran pokok utang dan bunga utang luar negeri terhadap penerimaan hasil ekspor yang menurun tajam. Keberhasilan selanjutnya adalah dalam hal pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, yang diindikasikan oleh peningkatan proporsi penduduk yang memiliki jaringan telepon tetap dan telepon seluler.
PEMBAHASAN
“GOAL 4 : Menurunkan angka kematian balita sebesar dua-pertiganya, antara tahun 1990 hingga 2015.”
Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, namun tanpa sarana kesehatan yang layak mereka akan rentan terhadap bahaya. Itu sebabnya mengapa penurunan angka kematian balita akibat berbagai penyakit dan kurangnya sarana kesehatan, menjadi tujuan penting dalam pencapaian MDG. Kurangnya informasi perawatan atau pencegahan penyakit bagi anak-anak, akan berisiko pada kematian diusia dini. Perawatan rutin baik oleh para medis handal serta orang tua merupakan hal penting bagi perkembangan anak. Program imunisasi yang dicanangkan oleh pemerintah merupakan salah satu bentuk perawatan penting bagi anak-anak.
Namun demikian, jika dibandingkan hasil SDKI 2002-2003 dengan SDKI 2007 penurunan kematian neonatal, bayi maupun balita cenderung stagnan. Penyebab utama kematian balita adalah masalah neonatal (asfiksia, berat badan lahir rendah, dan infeksi neonatal), penyakit infeksi (utamanya diare dan pneumonia), dan masalah gizi (gizi buruk dan gizi kurang). Kondisi ini disebabkan oleh masalah akses dan kualitas pelayanan
kesehatan, masalah sosial ekonomi dan budaya, pertumbuhan infrastruktur serta kerterbukaan wilayah tersebut akan pembangunan ekonomi dan pendidikan.
Menurut data tahun 2008 di Indonesia, angka kematian balita adalah sebesar 44 per 1000 kelahiran hidup, atau ada lebih dari 200.000 balita Indonesia yang meninggal setiap tahunnya. Sedangkan di Malaysia, dengan angka kematian balita sebesar 6.1 kematian per 1000 kelahiran hidup, ada 3.694 kematian balita, jauh lebih sedikit daripada Indonesia. Sementara di Filipina, yang juga merupakan negara kepulauan dengan penduduk yang besar, ada sekitar 85.400 kematian balita, tidak sampai setengah dari angka kematian di Indonesia.
Angka kematian bayi di bawah usia 1 tahun (Angka Kematian Bayi) di Indonesia adalah sebesar 34 kematian per 1000 kelahiran hidup. Dengan kata lain, ada sekitar 157.000 kematian anak setiap tahunnya. Dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya, angka ini jauh lebih dari Malaysia (3.633 kematian anak per tahun) dan dari Filipina (67.092 kematian anak per tahun).
KESIMPULAN
Millenium Development Goals keempat adalah menurunkan angka kematian balita sebesar dua-pertiganya, antara tahun 1990 hingga 2015.
Berdasarkan grafik di samping ada beberapa negara yang mengalami peningkatan angka kematian balita. Afrika dekat Sahara adalah daerah yang mengalami peningkatan yang signifikan karena mencapai dua kali lipat dari sebelumnya. Namun secara keseluruhan kematian balita di dunia mengalami penurunan. Dari 32 kematian per 1000 kelahiran di tahun 1990 menjadi 23 kematian per 1000 kelahiran di tahun 2010. Dan kematian balita sering terjadi di daerah pedesaan. Hal ini terjadi karena kurangnya pelayanan kesehatan di daerah pedesaan. Selain itu pengetahuan ibu juga mempengaruhi tingkat kematian balita.
Berdasarkan informasi laporan MDG 2012 dan 2013 dapat dilihat bahwa angka kematian balita di dunia menurun walaupun belum sesuai target yaitu dua pertiga jumlah balita yang meninggal. Hal ini dapat dilihat dari grafik di bawah ini.
sumber :
http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/13/apa-itu-mdgs-583450.html
http://www.undp.or.id/pubs/docs/Komik%20MDGs.pdf
http://www.bappenas.go.id/files/1913/5229/9628/laporan-pencapaian-tujuan-pembangunan-milenium-di-indonesia-2011__20130517105523__3790__0.pdf