BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan
Dalam kehidupan di dunia ini Allah swt. menciptakan segala sesuatu berpasangan-pasangan, ada pria dan wanita, ada suka dan duka, ada pertemuan
dan perpisahan, ada yakin dan ragu, ada iman dan ingkar, ada pahala dan siksa, ada nikmat ada laknat, termasuk juga ada pernikahan dan perceraian bagi
pasangan suami istri.
Pasangan suami dan istri yang mengalami perceraian, dalam Islam diatur secara rinci dalam Al Quran dan diperjelas dalam Al Hadits, dari dua sumber
hukum Islam tersebut diuraikan oleh para pemikir hukum Islam sejak zaman shahabat Nabi s.a.w. sampai dengan sekarang, pemikiran Ulama Fiqih tersebut
tertuang dalam banyak kitab, dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Arab dan dengan berbagai bahasan.
Bagi warga Negara Indonesia khususnya kaum muslimin, masalah perkawinan dan perceraian serta sesuatu yang terkait dengannya diatur dalam
Undang-Undang № 1/1974 Tentang Perkawinan yang secara effektif berlaku sejak tanggal 1 Oktober 1975 dengan diterbitkan Peraturan Pemerintah № 9/1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang № 1/1974 Tentang Perkawinan.
Kajian tesis ini membahas masalah yang terkait dengan akibat perceraian dengan fokus mengenai waktu tunggu atau masa iddah seperti tersebut dalam
Undang-Undang № 1/1974 pasal 11 jis. Peraturan Pemerintah № 9/1975 pasal 39 dan Kompilasi Hukum Islam1 pasal 153. Dalam Undang-undang № 1 Tahun 1974 disebutkan dalam pasal 11 :
(1) Bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.
(2) Tenggang waktu jangka waktu tunggu tersebut ayat (1) akan diatur dalam Peraturan Pemerintah lebih lanjut.
Penjelasan dari pasal 11 tersebut diatas baik ayat (1) maupun ayat (2) tertulis cukup jelas.
Dalam Peraturan Pemerintah № 9 Tahun 1975 pasal 39 disebutkan:
(1)Waktu tunggu bagi seorang janda sebagai dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) Undang-undang ditentukan sebagai berikut :
a.apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari;
1 (Instruksi Presiden RI № 1 tahun 1991 tanggal 10 Juli 1991 kepada Menteri Agama tentang perintah penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam kepada seluruh warga Negara Indonesia yang ditindaklanjuti oleh Menteri Agama dengan Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia № 154 tahun 1991 tertanggal 22 Juli 1991 tentang
b. apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih berdatang bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya
90 (sembilan puluh) hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari;
c. apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan;
(2)Tidak ada waktu tunggu bagi janda yang putus perkawinan karena perceraian sedang antara janda tersebut dengan bekas suaminya belum pernah terjadi
hubungan kelamin;
(3)Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum
yang tetap, sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak kematian suami.
Penjelasan dari pasal 39 tersebut diatas selain ayat (2) cukup jelas, sedangkan ayat (2) dijelaskan sebagai berikut:
(2) Bagi wanita yang kawin kemudian bercerai, sedangkan antara wanita itu dengan bekas suaminya belum pernah terjadi hubungan kelamin maka bagi
wanita tersebut tidak ada waktu tunggu, ia dapat melangsungkan perkawinan setiap saat setelah perceraian itu.
Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 153 disebutkan:
(1)
Bagi seorang istri yang putus perkawinannya berlaku waktu tunggu atau iddah, kecuali qabladdukhul dan perkawinannya putus bukan karena
kematian suami.
(2)
Waktu tunggu bagi seorang janda ditentukan sebagai berikut:
a.
apabila perkawinan putus karena kematian walaupun qabladdukhul, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari;
b.
apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih haidl ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya
90 (sembilan puluh) hari, dan bagi yang tidak haidl ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari;
c.
apabila perkawinan putus karena perceraian sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan;
d.
apabila perkawinan putus karena kematian, sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.
(3)
Tidak ada waktu tunggu bagi yang putus perkawinan karena perceraian sedang janda tersebut dengan bekas suaminya qabladdukhul .
(5)
Waktu tunggu bagi istri yang pernah haidl sedang pada waktu menjalani iddah tidak haidl karena menyusui, maka iddahnya tiga kali waktu
suci.
(6)
Dalam haidl keadaan pada ayat (5) bukan karena menyusui, maka iddahnya selama satu tahun, akan tetapi bila dalam waktu satu tahun tersebut
ia berhaidl kembali, maka iddahnya menjadi tiga kali waktu suci.
Pasal 154 : Apabila istri tertalak raj'i kemudian dalam waktu iddah menjalani sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b, ayat (5) dan ayat (6)
Pasal 153, ditinggal mati oleh suaminya, maka iddahnya berubah menjadi empat bulan sepuluh hari terhitung saat matinya bekas suaminya.
Pasal 155 : Waktu iddah bagi janda yang putus perkawinannya karena khulu', fasakh dan li'an berlaku iddah talak.
Penjelasan dari pasal 153 sampai dengan pasal 155 tersebut diatas seluruhnya dikatakan cukup jelas.
Pasal pasal mengenai masa iddah janda karena bercerai di Pengadilan Agama, baik cerai gugat atau cerai talak, semuanya sesuai dengan
makna yang tercantum dalam ayat-ayat Al Quran Surat ke 2 Al Baqarah ayat 228, 234, Surat ke 33 Al Zumar ayat 49, Surat ke 65 Al Thalak ayat 4, dan
Hadits yang dijadikan rujukan utama para ahli hukum Islam baik salaf maupun khalaf, namun timbul paradigma baru yang mempertanyakan apakah masih
diperlukan lagi waktu tunggu tersebut kalau ternyata dalam rahim janda itu benar-benar tidak ada janin atau bahkan rahimnya sudah diangkat/dikeluarkan dari
perutnya. Kenyataan rahim kosong tersebut pada masa kini mudah dideteksi oleh seorang ahli dibidangnya dengan menggunakan alat modern yang canggih dan
akurat seperti HCG …Human Chorionic Gonadotropin… Test, USG …Ultra Sound Gonadotropin… Test, Eva Test, dan sebagainya sehingga hasil
pemeriksaan dokter ahli tersebut dapat saja dibuat semacam pernyataan tertulis tentang ketiadaan janin dalam rahim untuk dijadikan bukti tertulis dihadapan
petugas yang berwenang dalam bidang perkawinan agar dapat kawin lagi dalam masa iddah pada umumnya.
Letak permasalahan dalam penelitian ini tertuju pada pasal 39 (1) b. Peraturan Pemerintah № 9/1975 yang redaksinya berbunyi :
"Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih berdatang bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90
(sembilan puluh) hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari".
Pasal 39 (1) b Peraturan Pemerintah № 9/1975 tersebut didukung oleh pasal 153 (2) b Kompilasi Hukum Islam yang redaksinya berbunyi :
"Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih haidl ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90
Pasal 153 ayat (5) dan ayat (6) serta pasal 155 Kompilasi Hukum Islam yang redaksinya seperti tersebut diatas, karena substansinya sama
dengan substansi dalam pasal 39 (1) b Peraturan Pemerintah
№ 9/1975 dan pasal 153 (2) b Kompilasi Hukum Islam, maka juga termasuk dalam fokuspermasalahan, dapat juga kalau dianggap cukup dengan menyebutkan pasal 39 (1) b Peraturan Pemerintah № 9/1975 dan pasal 153 (2) huruf b Kompilasi Hukum Islam tersebut.
Redaksi Pasal 153 (2) b Kompilasi Hukum Islam bila dibandingkan dengan redaksi pasal 39 (1) b Peraturan Pemerintah № 9/1975 hanya berbeda istilah "berdatang bulan" diganti dengan "haidl" yang maknanya sama, karena itu untuk selanjutnya dipandang cukup jika dalam penelitian ini hanya menyebutkan
pasal 39 (1) b Peraturan Pemerintah № 9/1975. B. Rumusan Masalah
1.Apakah janda yang sedang menjalani masa iddah dan nyata-nyata tidak hamil, masih wajib menyempurnakan masa iddahnya?
2.Latar belakang apa sehingga wacana untuk menafikan masa iddah bagi janda yang nyata-nyata tidak hamil tersebut muncul dengan mengesampingkan jenis
dan macam iddah yang tujuannya berbeda?
C. Tujuan Penelitian
1.Maksud penelitian ini untuk memberikan penjelasan tentang ketentuan masa iddah itu sebenarnya apa dan bersumber dari mana sehingga menjadi norma
dalam kehidupan perkawinan yang mengalami perceraian khususnya bagi warga negara Indonesia utamanya umat Islam bahkan ketentuan tersebut sudah
merupakan hukum positif sebagai aturan hukum formal2 dan hukum materiil3.
2.Perkembangan kemajuan sarana teknologi dalam bidang kedokteran khususnya yang berhubungan dengan alat canggih untuk mengetahui secara dini tentang
keberadaan atau ketiadaan janin dalam rahim seorang wanita dapat menimbulkan wacana tersendiri dalam menentukan suatu ketentuan hukum materiil,
tetapi dalam penerapannya sering berbenturan dengan hakikat dan maksud ketentuan hukum itu sendiri, dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan
2
Sisi formalnya apabila ia mau kawin lagi maka petugas Kantor Urusan Agama setempat pasti menanyakan apakah sudah habis masa iddahnya sebagai syarat yang sangat diperhatikan karena akan berpengaruh kepada sah tidaknya suatu akad nikah.
3 Sisi materiilnya wanita yang dalam masa iddah itu mempunyai hak-hak yang tidak boleh diabaikan seperti nafkah selama iddah dan mempunyai kewajiban tertentu
masukan agar dalam menghubungkan kecanggihan alat modern itu dengan suatu ketentuan hukum tidak sampai mengorbankan ketentuan hukum itu
sendiri, justru sangat diharapkan dapat menerapkannya secara proporsional.
D. Manfaat Penelitian
1. Sebuah penelitian dibidang hukum lebih banyak diharapkan manfaatnya kepada para pemikir hukum itu sendiri dalam memahami suatu ketentuan
hukum, karena merekalah yang berkompeten untuk menjelaskan lebih lanjut kepada masyarakat sebagai pelaksana suatu ketentuan hukum, apabila
terjadi kesalahan penjelasan kepada masyarakat awam yang pada umumnya mereka percaya kepada setiap ucapan yang disampaikan oleh orang yang
dianggap pakar dibidangnya bahkan dianggap sebagai suatu kebenaran yang dapat dijadikan pedoman dalam pelaksanaan, padahal setelah diteliti lebih
cermat dan detil ternyata perkataan atau pernyataan itu bukanlah suatu kebenaran yang dapat diikuti bahkan dapat menyesatkan.
2. Lebih jauh lagi penelitian ini diharapkan untuk dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dibidang hukum positif yang secara historis ada
hubungannya dengan suatu akidah yang telah lama tertanam di hati masyarakat yang bersangkutan, setelah mengetahui secara komprehensif masalah
iddah diharapkan dapat menjadi pencerahan dan jawaban bagi wacana yang muncul baik berupa statmen maupun sekedar mempertanyakan sehubungan
dengan kecanggihan alat modern khususnya dibidang medis seperti HCG dan USG tester dan semacamnya.
E. Tinjauan Pustaka / Kajian Teori
Penelitian ini terfokus kepada aturan formal yang berlaku di negara kita Indonesia yaitu hukum positif berupa ketentuan hukum yang tercantum dalam
pasal 39 ayat (1) b Peraturan Pemerintah № 9/1975 tentang waktu tunggu bagi wanita yang bercerai dengan suaminya sehingga penelitian ini lebih banyak bersifat normatif. Norma dalam hal ini secara historis tidak dapat dipisahkan dengan aqidah religius Islam yang didalamnya terkandung pula tentang suatu
ketentuan hukum. Untuk mencapai suatu ketentuan hukum yang akan menjadi hukum terapan tidaklah mungkin terlepas dari asas-asas atau kaidah yang
mendasarinya, dalam istilah hukum Islam atau fiqih dikenal dengan istilah kaidah ushul yang berarti kaidah pokok yang tidak boleh diabaikan begitu saja
apabila suatu ketentuan hukum terapan ingin dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan secara kajian religi, sebab kalau tidak demikian maka dampak
negatif dapat dipastikan datang secara beruntun dan terus menerus baik kepada suatu ketentuan hukum terapan itu sendiri maupun kepada pemikir yang
mencetuskan, minimal pemikirnya dianggap sebagai pemikir yang tidak berkompeten dalam masalah yang dibahasnya, dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah
bersabda bahwa apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya. 4
ع سل ظـتـن ف هلـهأ يـغل ـمأ ـس
4Zain bin Ibrohim bin Muhammad,
Dalam Al Quran surat ke 17 Al Israa' ayat 36 disebutkan:
ع سـل ملـع هب كل سيل م فـقـت ا ا سـم هنـع ك ك ل أ لك د ـفل صبـل
Artinya: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya".
Satu kaidah ushul dalam menetapkan suatu ketentuan hukum diantaranya adalah bahwa hukum itu ditetapkan ada dan tidaknya bergantung kepada atau
dengan mempertimbangkan alasan/illatnya.
م ـع دوـج لـعل عم ي م ـحل Dampak yang kurang menguntungkan tersebut diatas hanyalah mengarah kepada sebuah proposisi atau pernyataan tentang suatu ketentuan hukum yang
sifatnya merubah ketentuan hukum yang sebelumnya menjadi ketentuan hukum baru yang berbeda terhadap sebuah objek hukum yang sama dengan
mendasarkan pada sebuah alasan/illat hukum karena pengaruh akurasi sarana modern, bukan mengarah kepada yang sifatnya sekedar bertanya atau
mempertanyakan, bila demikian halnya sudah tentu yang perlu disampaikan hanyalah sebuah jawaban ilmiyah melalui sebuah kajian hukum secara teori dengan
menggunakan suatu metode penelitian tertentu.
Sebuah contoh yang terkait dengan penelitian ini apabila para pemikir dibidang hukum menanyakan atau mempertanyakan masalah iddah wanita yang
bercerai dengan suaminya, dalam menjalani masa iddah tersebut ternyata memang tidak ada tanda-tanda kehamilan yang diketahui melalui pemeriksaan yang
amat teliti dengan alat yang sangat canggih dan meyakinkan, dalam kenyataan seperti ini apakah masih diperlukan untuk menyempurnakan masa iddahnya
sampai batas akhir.
Pertanyaan semacam itu bukanlah terangkat begitu saja ke permukaan tanpa alasan-alasan yang mendorongnya, dan kemungkinan yang mendorong
kemunculan pertanyaan itu antara lain adalah :
a. bagi wanita yang dalam keadaan qabladdukhul dalam perkawinannya, apabila bercerai dengan suaminya seperti dimaksud dalam pasal 39 ayat (2) Peraturan
Pemerintah № 9/1975 jo. pasal 153 ayat (3) Kompilasi Hukum Islam, bagi wanita tersebut tidak ada waktu tunggu, artinya ia boleh segera kawin lagi kapan saja dan terlepas dari hak serta kewajiban yang terkait dengan masa iddah. Kalau masih qabladdukhul dapat diyakini secara pasti tidak ada sperma suami
b. dalam Al Quran Surat ke 2 Al Baqarah ayat 228 dijelaskan tentang larangan menyembunyikan kehamilan atau keberadaan janin yang diciptakan oleh Allah
s.w.t. dalam rahim wanita yang sedang beriddah tersebut. Dari ayat ini tujuan utama dalam beriddah seakan hanya untuk mengetahui hamil atau tidak hamil,
pandangan seperti ini tidak utuh dalam mengenali hukum tentang iddah secara keseluruhan, atau kajian parsial belaka.
c. pendapat sebagian ahli hukum Islam tentang maksud iddah itu sendiri ada yang mengatakan bahwa iddah itu tujuannya adalah hanya untuk mengetahui
keberadaan atau ketiadaan janin dalam rahim5, dari pendapat tersebut dapat berkembang pemikiran dengan menerapkan kaidah ushul fiqih berupa Mafhum
Mukhalafah / acontrario maksudnya kalau sudah ternyata tidak hamil berarti tidak perlu lagi menyempurnakan waktu tunggu tersebut.
F. Metode penelitian 1. Pendekatan masalah
Masalah yang menjadi fokus penelitian ini dikaji dengan menggunakan pendekatan hukum normatif atau doktrinal karena objek kajiannya adalah suatu
ketentuan hukum yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah № 9/ 1975 sebagai peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang № 1/1974 Tentang Perkawinan, beberapa tipe kajian dalam penelitian ini sepanjang masih dalam koridor normatif juga digunakan karena ada kaitannya walau sedikit, sehingga dalam kajian
tesis ini akan dijumpai pula pendekatan secara yuridis-filosofis, yuridis-historis dan dari perspektif yuridis-religius;
2. Sumber bahan hukum
a. Bahan hukum primer dalam penelitian ini adalah Undang-Undang № 1/1974 Tentang Perkawinan dengan peraturan pelaksanaannya berupa Peraturan Pemerintah № 9/1975 dengan bahan pendukungnya berupa Kompilasi Hukum Islam di Indonesia yang sudah dijadikan hukum terapan oleh Majelis Hakim di Pengadilan Agama.
b. Bahan hukum skunder berupa bacaan virtual yang membahas hukum Islam berbahasa Arab yaitu kitab fiqih Islam, dan tarjamah Al Quran ke dalam
bahasa Indonesia versi Departemen Agama RI berupa software digital dan virtual.
c. Bahan non hukum berupa hasil wawancara dengan pejabat yang berwenang antara lain adalah Hakim Tinggi Agama Jawa Timur via Short Massage
System dan beberapa tokoh Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama.
Bahan hukum primer dan skunder dalam penelitian ini lebih banyak diperoleh dari Compac Disk Digital yang bersisi pustaka-pustaka virtual disamping dari
situs-situs internet / Word Wild Web, tapi bahan yang sama berupa cetakan buku / kitab juga digunakan, karena terkait dengan pengetikan via Laptop maka
5
yang berupa buku dirasakan sudah tidak optimal dalam mendukung percepatan penelitian, walau demikian dari beberapa sisi manfaat leteratur yang berupa
buku tetap dipakai sebagai bahan studi komparatif.
3. Tehnik Pengumpulan dan pengolahan Bahan hukum
Bahan hukum primer dalam penelitian ini hakikatnya hanya satu yaitu Undang-Undang Perkawinan № 1/1974 dengan peraturan pelaksanaannya berupa Peraturan Pemerintah № 9/1975, untuk ini hanya diambil masing-masing satu pasal yang terkait yaitu masalah waktu tunggu bagi wanita yang bercerai dengan suaminya. Dari satu pasal tersebut karena penelitian ini memfokuskan pada satu persoalan saja maka bagian yang terkait berupa satu ayat dan satu huruf dari
ayat yang dikembangkan, sekalipun satu pasal secara keseluruhan tetap diillustrasikan untuk membatasi pemikiran normatif dari hal-hal yang bersifat dugaan.
Tehnik pengolahan bahan hukum dengan mengelaborasikan bahan hukum primer kepada bahan hukum skunder dan bahan non hukum tersebut diatas,
pengolahan tersebut hanya sebatas yang ada korelasinya.
4. Analisis Bahan hukum
Setelah bahan hukum terkumpul, khususnya bahan hukum skunder sudah diklasifisir, kemudian dianalisis secara yuridis histories, filosofis dan dogmatis,
hasil analisis dari bahan hukum skunder tersebut dipadukan dengan bahan hukum primer, dari hasil paduan kedua bahan hukum itulah diharapkan untuk
dijadikan dasar pijakan dalam menjawab rumusan masalah tersebut diatas.
5. Pertanggung jawaban sistematika
Kemudahan memahami hasil penelitian secara tertib dan tidak terkesan non sistemik sangat diutamakan, untuk itu maka dalam penelitian ini diupayakan
menggunakan sebuah sistem sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan, sebagai awal dari seluruh rangkaian pembahasan. Bab ini berisi tentang gambaran umum --illustrasi-- permasalahan yang diteliti. Sub-sub
Pendahuluan ini terdiri dari:
A.Latar Belakang Masalah;
B.Rumusan Masalah;
C.Tujuan Penelitian;
D.Manfaat Penelitian;
E.Tinjauan Pustaka/Kajian Teori, dan
Bab II : Memaparkan pemikiran para Ulama salaf yang tercantum dalam kitab-kitab fiqih serta beberapa pemikir kontemporer dalam masalah masa iddah bagi
janda cerai maupun janda yang ditinggal mati suaminya, sedikit juga disinggung masalah iddah bagi laki-laki, disamping itu juga tentang peraturan
perundangan yang terkait dengan pokok masalah secara lengkap disertai uraian atau penjelasan umum mengenai materi permasalahan yaitu masalah waktu
tunggu atau iddah, dalam hal tersebut dijelaskan tentang pengertian, jenis dan macam-macam iddah serta tujuan dan hikmah pensyari'atannya berikut sumber
atau dasar dari ketentuan hukum tentang masa iddah tersebut secara histories sehingga menjadi sebuah hukum positif, kemudian dengan wacana yang seakan
hendak menafikan aturan tentang masa iddah itu apakah aturan itu masih perlu dipertahankan sebagai hukum positif.
BAB III : Menguraikan tentang apakah masih diperlukan atau tidak suatu ketentuan hukum tentang masa iddah tersebut tetap dipertahankan dalam sebuah
hukum positip dan untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata bagi janda yang bersangkutan. Dalam hal ini diuraikan tentang dasar-dasar kajian yuridis,
filosofis dan historis serta religius dogmatis. Sedikit disinggung dalam bab ini beberapa faktor akidah khususnya bagi umat Islam mengenai hal-hal yang terkait
dengan pokok permasalahan serta dampak negatif terhadap sebuah pelanggaran akidah secara vertikal --hablumminallah-- dan secara horizontal --hablum
minannas--.
BAB IV : Mengkaji tentang apa yang melatarbelakangi sehingga muncul sebuah wacana yang seakan hendak menafikan masa iddah walaupun sekedar
mempertanyakan yaitu apakah masih diperlukan atau tidak bagi janda cerai yang ternyata tidak hamil, kiranya faktor apa yang mendorong sehingga masalah itu
diangkat ke permukaan bahkan untuk kedepan mungkin dijadikan sebuah pernyataan/proposisi kendatipun untuk sementara waktu hanyalah sebatas wacana,
namun tidak menutup kemungkinan untuk ke depan akan diperjuangkan menjadi suatu ketentuan hukum yang dapat menggantikan ketentuan hukum yang lama
dalam masalah masa iddah sehingga akhirnya menjadi hukum positif. Uraian dalam bab IV ini diharapkan dapat menjelaskannya dengan tujuan kalau memang
wacana yang muncul itu benar maka perlu dukungan dengan segala macam cara yang baik, tapi jika tidak benar maka wacana itu tinggallah wacana seperti
wacana-wacana lainnya yang menjadi sekedar bertanya untuk memperkaya bahasa dan memacu pikiran untuk mendalami lebih jauh lagi sebuah permasalahan
hukum yang kira-kira akan memberikan manfaat kepada umat.
BAB V : Penutup berisi Kesimpulan dan Saran. Konklusi dalam permasalahan pertama dan kedua terangkum disini sehingga memudahkan para pembaca
menentukan sikap awal terhadap hasil penelitian ini sebelum mencermati uraian dalam bab-bab sebelumnya. Dalam bab penutup ini sengaja disediakan uraian
berupa saran dari peneliti dengan harapan hasil penelitian ini dikaji lebih cermat lagi, mungkin ada hal-hal yang belum terkupas yang seharusnya masuk dalam
penelitian ini baik dari sisi kajian yang berbeda yang menyangkut materi maupun sisi penyajiannya, sehingga hasil penelitian ini dapat direvisi atau
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian, Jenis Dan Macam Iddah
1. Pengertian Iddah
Perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa pengertian iddah itu sendiri secara bahasa adalah hitungan, kata iddah berasal dari bahasa Arab dari mashdar6
'Adda _Ya'uddu_'Addan_wa Ma'addan_fahua 'Adidun_wadzaka Ma'dudun.
Asy Syarbini7 memberikan definisi iddah sebagai berikut :
Kata iddah yang dalam bentuk jamaknya adalah 'adad biasanya berarti penghitungan masa suci/haidl atau penghitungan bulan.
Iddah dalam pengertian syara' adalah suatu nama untuk waktu tunggu bagi seorang wanita yang bercerai dengan suaminya, dengan alternative tujuan untuk :
a.
mengetahui kekosongan rahimnya dari janin, ataub.semata melakukan ibadah yang diperintahkan oleh Allah s.w.t., atau
c.
berdukacita atas kematian suaminya.Sumber asal dari istilah iddah dan hukumnya adalah ayat Al Quran dan Hadits Nabi, kemudian menjadi suatu kesepakatan para Fuqoha atau sering disebut
Ijma' Ulama.
2. Jenis Iddah
Yang dimaksud dengan jenis iddah disini adalah sebuah perspektif dari sisi keadaan si janda itu ketika memulai atau ditengah-tengah melaksanakan
iddahnya dalam arti yang menyangkut keadaan dirinya, seperti :
1.hamil atau tidak hamil,
2.menjanda karena cerai hidup atau karena cerai mati,
8
3.ba'dad dukhul atau qoblad dukhul,
4.dalam masa usia haidl atau sudah ayisah/menopouse,
6
Mashdar adalah istilah dalam Ilmu Shorrof (bagian dari pelajaran bahasa Arab) yang berarti sumber asal dari kata kerja (fi'il).
7Muhammad al Khothib asy Syarbiniy, Mughniy Al Muhtaj Ila Ma'rifah Ma'aniy Alfadh Al Minhaj, Beirut,Dar al Fikr, Juz 3 halaman 384.
8Cerai hidup maksudnya adalah bahwa wanita yang menjanda tersebut akibat diceraikan dari suaminya oleh Hakim setelah mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan
5.masih aktif haidl atau berhenti cukup lama karena menyusui maupun karena ikut program kontrasepsi keluarga berencana.
Mengenai jenis iddah, Ad Damasyqy9 menjelaskan sebagai berikut :
Jenis iddah yang tertera dalam Kitabullah ada empat dan yang tercantum dalam hadits Rasulullah s.a.w. ada satu, yakni :
1.janda hamil masa iddahnya sampai melahirkan anaknya;
2.istri yang ditinggal mati suaminya, beriddah selama 4 bulan 10 hari;
3.wanita yang ditalak suaminya hendaklah beriddah selama tigakali suci/haidl;
4.wanita yang tidak berhaidl lagi, bila ragu-ragu maka masa iddahnya 3 bulan.
5.sabda Nabi s.a.w.: Janda hamil tidak boleh dikawini sampai ia melahirkan dan janda yang tidak hamil tidak boleh dikawini sampai ia terbebas rahimnya
dengan haidl satu kali.
Jenis-jenis iddah dan hukumnya tersebut harus diikuti, bagi janda yang hamil masa iddahnya berakhir sampai melahirkan anaknya, dan tidak boleh
berubah kepada selain melahirkan, dalam hal ini sebagian ulama salaf pernah berbeda pendapat dalam masalah janda yang ditinggal mati suaminya bahwa janda
tersebut harus menunggu masa iddah dengan batas yang lebih jauh dari dua masa iddah itu, kemudian terjadi kesepakatan bahwa masa iddah janda hamil yang
ditinggal mati suaminya tersebut berakhir dengan melahirkan.
Iddah wafat harus dilaksanakan oleh janda karena sebab kematian suaminya, apakah dalam keadaan ba'daddukhul --sudah disetubuhi-- atau
qobladdukhul --belum disetubuhi--, hal ini didasarkan kepada dalil yang bersifat umum dari Al Quran dan Hadits Shohih serta kesepakatan ulama, karena
kematian itu merupakan masa akhir suatu akad dan dengan kematian itu hukum kewarisan menjadi eksis, maksud beriddah disini bukanlah semata-mata
kekosongan rahim dari janin seperti anggapan sebagian fuqoha', karena ternyata iddah wafat itu diwajibkan pula bagi janda yang belum disetubuhi dan karena
ternyata kekosongan rahim dari janin dapat juga dengan satukali haidl saja, bahkan dalam hal iddah wafat ini, bagi gadis kecil yang belum datang bulan dengan
wanita yang sudah berdatang bulan ternyata dipersamakan.
Ketika masalah iddah ini dalam keadaan demikian, ada segolongan ulama berpendapat bahwa iddah itu adalah ibadah murni yang tidak dapat
dirasionalkan. Akan tetapi pendapat seperti ini menurut ad Dimasyqy dinilai tidak benar dengan alasan-alasan bahwa :
1.tidak satu hukumpun dalam syari'at itu kecuali di dalamnya terkandung makna dan hikmah yang dapat dirasionalkan bagi orang yang mampu merasionalkan,
namun hal itu tertutup bagi orang yang tidak mampu merasionalkan;
9
2.iddah itu tidaklah termasuk dalam kelompok ibadah murni, karena ternyata iddah itu juga diwajibkan terhadap janda yang masih belum cukup umur / belum
baligh dan terhadap janda yang sudah dewasa / baligh, juga terhadap janda yang berakal sehat maupun yang gila, berlaku pula terhadap janda muslimah
dan dzimmiyah, dan didalam melaksanakan iddah itu tidak memerlukan niat.
3. memelihara hak mantan suami, mantan istri dan anak serta memelihara hak calon suami berikutnya akan tanpak nyata dengan melaksanakan iddah itu,
karena itulah maka yang seharusnya dikatakan adalah bahwa iddah itu merupakan suatu penghormatan atas suatu pernikahan yang berakhir ketika nikah itu
telah sempurna, dalam beriddah itu wanita dapat merasakan dan menemukan suatu penjagaan terhadap hak suami dan suatu penghormatan bagi suami, Nabi
s.a.w. dalam menghargai serta memelihara hak beliau adalah dengan mengharamkan mantan istri-istri beliau untuk dinikahi orang lain dan ketika pernah
menjadi istri-istri beliau di dunia itu pasti akan menjadi istri-istri beliau di akhirat nanti, sehingga tidak dihalalkan bagi siapapun sesudah beliau untuk
menikahi mereka, berbeda dengan selain beliau, karena hal ini tidak diketahui dalam hak suami selain beliau, seandainya jandanya diharamkan kepada
selainnya, tentu akan memberi mudlorot yang nyata bagi mantan istrinya tanpa diketahui secara pasti adanya manfaat dengan pengharaman mantan istri tadi
kepada lelaki lain, akan tetapi kalau janda itu sengaja tidak mau kawin karena bermaksud mengasuh anak-anak yatim yang ada padanya maka sikap
semacam itu sangatlah terpuji, pada zaman jahiliyah dahulu penghormatan akan hak-hak suami serta pengagungan terhadap kehormatan nilai-nilai akad
sangat tinggi sekali bahkan berlebihan dengan menunggu berkabung selama satu tahun dengan berpakaian yang sama sekali tidak indah --kumal dan jelek--
di dalam rumah yang serba tidak teratur dan kumuh sekali, kemudian Allah meringankan beban janda itu dengan syari'atnya sebagai rahmat, hikmah,
mashlahat serta nikmat, bahkan dari sisi nikmat itu sendiri kepada mereka sifatnya mutlak, maka harus disyukuri dengan menjalani masa iddah itu selama 4
bulan 10 hari sesuai dengan hikmah dan mashlahat, karena bagi janda yang beriddah dengan masa iddah wafat itu dapat mengetahui wujud tidaknya janin
dalam rahim, karena janin itu selama 40 hari dalam rahim untuk tahapan pertama berupa sperma, lalu tahapan kedua selama 40 hari berikutnya berupa
segumpal darah, kemudian tahapan ketiga selama 40 hari lagi berupa segumpal daging, jadi semua tahapan ini masanya berjumlah 4 bulan, berikutnya
ditiupkanlah ruh pada janin tersebut pada tahapan keempat, kemudian ditambah dengan waktu 10 hari lagi untuk menampakkan hidupnya dengan tanda
bergerak-gerak saat masih berada dalam kandungan.
3. Macam Iddah
Yang dimaksud dengan macam iddah disini adalah sebuah perspektif dari sisi waktu atau masa yang harus dihitung oleh si janda ketika memulai
melaksanakan iddahnya dan masa penghitungan waktu iddah itu berakhir dalam arti bahwa si janda itu sudah lepas dari hak dan kewajiban yang terkait dengan
Macam iddah sudah ditentukan secara tauqifi dan terinci dalam Syari'at Islam, tidak bisa diganti bentuk dan modelnya kecuali dari sisi waktu saja, yaitu:
a.
menunggu tiga kali quru' 10 --suci atau haidl--,b.
melahirkan anak yang dikandungnya,c.
menunggu selama tiga bulan11 berturut-turut sejak berstatus janda,d.menunggu selama 4 bulan sepuluh hari
12 berturut-turut sejak berstatus janda,e.
menunggu selama satu tahun berturut-turut sejak berstatus janda,f.
menunggu selama 9 bulan ditambah 3 bulan berturut-turut sejak menjanda.Macam-macam iddah tersebut diatas penerapannya sendiri-sendiri sesuai dengan keadaan si janda saat bercerai dan sesuai pula dengan penyebab
menjandanya, terapan demikian tak bisa diganti maupun dirasionalkan atau bahkan ditukar diputar digilir atau dimodifide, misalnya wanita menjanda dengan
kondisi yang sama dan sebab yang sama, karena berulangkali cerai dalam hidupnya, mencobalah berganti-ganti macam iddahnya, mestinya 4 bulan 10 hari
diganti dengan 3 bulan saja karena yang pertama tadi sudah pengalaman, dlsb.
B. Filosofi syari'at iddah
Iddah dalam perspektif filosofis yang dimaksudkan dalam uraian ini adalah suatu kajian secara mendalam dan detail mengenai pensyari'atan iddah itu
dalam dunia perkawinan/perceraian bagi para janda, latar belakang dan dasar rasionalisasi hukum iddah serta beberapa hikmah yang terkandung di dalam
pensyari'atan iddah.
Dalam perspektif filosofis pensyari'atan iddah, Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Bakr bin Ayyub Ad Damasyqy dalam Kitab I'lamul Muwaqqi'in13,
menjelaskan yang maknanya sebagai berikut :
1. Kriterianisasi Iddah
Pembedaan iddah tersebut adalah antara:
a.iddah karena kematian suami dan iddah karena talak,
b.iddah wanita merdeka dan iddah wanita sahaya,
10Kata quru' merupakan lafadh musytarok (majmuk) yang multimakna. 11hukum positif (UU №.1/1974 dan KHI) menetapkan minimal 90 hari.
12Pasal 39 (1) a. PP. 9/1975 dan pasal 153 (2) a. KHI memakai istilah 130 hari . 13
c.istibro' dengan iddah sebatas mengetahui ketiadaan janin dalam rahim,
perbedaan masing-masing iddah akan jelas arahnya apabila telah mengetahui hikmah filosofi yang terkandung dalam pensyari'atan iddah itu sendiri, serta telah
diketahui pula tentang jenis-jenis iddah dan macam-macamnya.
2. Pengelompokan Wanita Terkait Dengan Iddah
Syari'at mengelompokkan wanita terkait dengan iddah dalam tiga bagian, dalam pengelompokan ini terdapat hikmah, yaitu :
a.
wanita yang diceraikan suaminya dalam keadaan qobladdukhul tidak wajib beriddah karena suaminya tidak berhak rujuk;b.
wanita yang ditalak dalam keadaan ba'daddukhul, suaminya berhak rujuk, karena itu kewajiban iddahnya selama tiga kali quru', iddah tiga kaliquru' tersebut hanya untuk kelompok ini, dalam Al Quran Surat Al Baqoroh ayat 228 dijelaskan yang artinya :
"Dan wanita-wanita yang ditalak oleh suaminya hendaklah diri mereka menunggu dalam masa iddah selama tiga kali suci/haidl, dan tidak halal
bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan oleh Allah di dalam rahim mereka apabila mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, dan
suami-suami mereka lebih berhak untuk kembali kepada mereka, apabila suami mereka menghendaki perdamaian dengan rujuk",
Dalam surat Ath Tholaq ayat 4, ketika menyebutkan masalah iddah dengan tiga bulan, dalam hal ini hak suami yang terkait dengan iddah adalah
menjelang akhir iddahnya diberi pilihan berupa mempertahankan istrinya secara baik-baik atau menceraikannya dengan cara yang lebih baik yakni
mentalaknya, hal ini hanya untuk iddah roj'iyah saja, karena itu Allah tidak menyebutkan quru' atau penggantinya bagi yang beriddah karena cerai
atau talak bain14,
c. wanita yang bercerai secara bain, hak suaminya terputus, cerai bain terjadi karena wanita tertawan dalam peperangan, berhijrah atau karena khulu' /
talak tebus, bagi kelompok ini Rasulullah s.a.w. menetapkan iddahnya dengan satu kali haidl untuk membebaskan rahimnya dari janin dan tidak
menetapkan iddahnya dengan tiga kali haidl karena suaminya tidak punya hak rujuk, inilah ketetapan yang paling jelas dan sesuai, sedangkan bagi
wanita yang berzina atau wanita yang disetubuhi karena sebagai tawanan perang, maka iddahnya adalah dia membebaskan rahimnya dari janin dengan
satu kali haidl saja, ketetapan hukum ini didukung oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan guru Syekh Ad Damasyqy, pendapat inilah yang dimenangkan,
menganalogikan dua macam iddah tersebut kepada wanita yang tertalak roj'i sangat tidak tepat bahkan merusak analogi itu sendiri;
3. Hikmah Pensyari'atan Iddah
Dalam pensyari'atan iddah ada beberapa hikmah, yaitu untuk:
a. mengetahui kekosongan rahim dari janin untuk menghindari percampuran dua sperma dari dua lelaki atau lebih di dalam satu rahim yang akan
berakibat percampuran nasab dan mengacaukannya, dampak demikian termasuk kerusakan yang tidak dikehendaki oleh syari'at maupun oleh hikmah
itu sendiri dan harus dicegah.
b. mengagungkan nilai akad nikah serta mengangkat derajatnya dan menampakkan kemuliaannya,
c. memperpanjang waktu rujuk bagi suami yang mentalaknya, karena boleh jadi suaminya menyesal dan ingin kembali kepadanya, karena itulah
disediakan waktu yang cukup memungkinkan bagi suami untuk rujuk,
d. memenuhi hak suami dan menampakkan pengaruh kesendiriaannya tanpa didampingi suami yaitu berupa larangan bagi si istri untuk bersolek, karena
itulah disyari'atkan berkabung atas kematian suami lebih lama dari berkabung atas kematian orangtua maupun anaknya,
e. bersikap hati-hati untuk menjaga hak suami, kemaslahatan istri itu sendiri, hak anak dan hak Allah, karena dalam beriddah itu ada 4 macam hak.
Allah swt mendudukkan status kematian itu sebagai :
batas akhir pemenuhan suatu perjanjian yakni akad nikah yang batas akhirnya adalah wafat,
batas akhir penyempurnaan mahar yang terhutang,
batas akhir keharaman anak tiri menurut pendapat sebagian shahabat dan tabi'in seperti Zaid bin Tsabit dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam
salah satu dari dua riwayatnya, karena maksud beriddah itu tidak semata-mata kekosongan rahim dari janin, tetapi kekosongan rahim itu sendiri
merupakan bagian dari maksud serta hikmah pensyari'atan iddah.
Menurut Ad Dimasqy, jenis iddah ada lima macam, yang empat tercantum dalam kitabullah dan yang satu dalam hadits Rasulullah s.a.w, yaitu :
1. janda hamil masa iddahnya sampai melahirkan;
2. janda karena ditinggal mati suaminya, beriddah selama 4 bulan 10 hari;
3. wanita yang ditalak suaminya, beriddah selama tigakali quru',
4. wanita yang sudah tidak berhaidl lagi, beriddah tiga bulan,
5. sabda Nabi s.a.w15: Janda hamil tidak boleh dinikahi sampai melahirkan dan janda yang tidak hamil tidak boleh dinikahi sampai terbebas rahimnya dengan
haidl satu kali.
15
Add 1. Jenis iddah ini semuanya harus diikuti oleh janda, bagi janda hamil masa iddahnya sampai melahirkan, jangan berubah kepada selain melahirkan, dalam
hal ini diantara ulama salaf pernah berbeda pendapat yakni janda hamil itu harus beriddah dengan batas yang lebih jauh dari dua masa iddah itu, tapi akhirnya
sepakat bahwa iddah janda hamil yang ditinggal mati suaminya berakhir dengan melahirkan.
Add 2. Iddah wafat berdasarkan dalil yang bersifat umum dari Al Quran dan Hadits Shohih serta Ijma' Ulama, karena kematian itu masa akhir suatu akad dan
awal hukum kewarisan dan keberhakan tentang mahar.
Lebih lanjut Ad Dimasyqy menjelaskan bahwa maksud beriddah tidak semata kekosongan rahim seperti anggapan sebagian fuqoha', sebab ternyata :
iddah wafat itu diwajibkan pula atas janda yang qobladdukhul,
kekosongan rahim dari janin dapat terjadi dengan 1x haidl saja,
iddah wanita belum haidl disamakan dengan wanita sudah haidl.
Karena itulah segolongan ulama berpendapat bahwa iddah itu ibadah murni yang tidak dapat dirasionalkan. Menurut Ad Dimasyqy, pendapat seperti ini
tidak benar dengan alasan bahwa :
1. setiap hukum syari'at mengandung makna dan hikmah yang rasional bagi yang mampu merasionalkan, namun tertutup bagi yang tidak mampu,
2. iddah itu bukan ibadah murni, karena ternyata juga diwajibkan kepada:
wanita bawah umur & wanita dewasa,
wanita berakal sehat & wanita gila,
muslimah & dzimmiyah --non muslimah--,
3. beriddah itu sendiri tidak memerlukan niat, sedangkan ibadah harus niat.
Hikmah beriddah itu menurut Ad Dimasyqy antara lain adalah :
untuk memelihara hak suami, istri, anak dan suami berikutnya, hal ini akan tanpak nyata dengan melaksanakan iddah,
untuk iddah wafat sebagai penghormatan atas nikah yang berakhir dengan sempurna,
dengan beriddah, wanita merasakan telah melakukan penghormatan bagi suami serta penjagaan atas haknya.
Rasulullah s.a.w. dalam menghargai & memelihara hak beliau dengan melarang janda beliau dinikahi orang lain, karena bila pernah menjadi istri beliau
Hak suami selain beliau tidak diketahui. Andaikan jandanya diharamkan kepada selainnya, tentu akan memberi mudlorot baginya tanpa diketahui
secara pasti manfaat pengharaman tersebut, berbeda kalau janda itu sengaja tidak mau kawin dengan maksud mengasuh anak yatim yang ada padanya, sikap itu
sangat terpuji.
Pada zaman jahiliyah dahulu penghormatan atas hak suami dan pengagungan atas nilai-nilai akad sangat tinggi bahkan berlebihan yaitu berkabung
selama setahun dengan berpakaian yang tidak indah dalam rumah yang serba tidak teratur, kemudian Allah meringankan beban janda itu dengan syari'atNya
sebagai rahmat dan nikmat untuk kemashlahatannya serta hikmah baginya, dari sisi nikmat itu sendiri bersifat mutlak.
Beriddah 4 bulan 10 hari sesuai dengan hikmah dan mashlahat, karena dengan iddah tersebut diketahui kondisi rahim, berjanin atau tidak, karena janin
itu fase I selama 40 hari dalam rahim berupa sperma, fase II selama 40 hari berupa segumpal darah, fase III selama 40 hari berupa segumpal daging, jadi semua
4 bulan, fase IV ditiupkan ruh padanya, lalu ditambah 10 hari lagi untuk menampakkan hidupnya dengan tanda bergerak dalam kandungan.
4. Hikmah Iddah Talak
Mengenai iddah talak, menurut Ad Dimasyqy berbeda alasannya, karena iddah talak diwajibkan hanya bagi yang ba'daddukhul, hal ini sudah ijma'
ulama, dan tidak mungkin diberi alasan dengan kekosongan rahim dari janin, karena ketiadaan janin dalam rahim itu dapat terjadi dengan satu kali haidl saja,
seperti istibro'16, walaupun kekosongan rahim itu sendiri bagian dari tujuan beriddah.
Iddah talak ini bukan ibadah murni dengan alasan seperti tersebut diatas, hikmahnya akan jelas setelah mengetahui hak yang ada di dalamnya, yaitu :
1. hak Allah berupa melaksanakan perintahNya & mencari ridloNya;
2. hak suami yang mentalaknya berupa kesempatan rujuk baginya;
3. hak istri berupa nafkah, kiswah/pakaian dan maskan/tempat tinggal;
4. hak anak berupa sikap hati-hati menjaga kepastian nasabnya agar tidak kacau;
5. hak suami berikutnya berupa agar tidak menyirami janin orang lain;
Hak-hak tersebut diikuti dengan hukum yang terkait, yaitu untuk:
a. istri harus tetap tinggal di rumah suami, tidak boleh keluar atau dikeluarkan, ini ketetapan Al Quran yang dipegang oleh Imam ahli hadits & ahli ro'yi
untuk memelihara hak suami;
b. boleh rujuk dalam masa iddah sebagai hak suami;
16
c. kewajiban nafkah, kiswah & maskan selama beriddah;
d. kepastian nasab anak dengan ayahnya saja;
e. hak suami berikutnya adalah keyakinan hati bahwa rahim istrinya tidak terisi janin dari lelaki lain.
Untuk menjaga hak-hak tersebut Allah menjadikan iddah itu 3x quru'.
Al Quran Surat al Baqoroh ayat 228 yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi wanita-wanita yang beriman kemudian
kamu mentalak mereka sebelum kamu setubuhi, maka kamu tidak punya hak apapun atas mereka berupa iddah yang harus mereka lakukan", ayat ini
menunjukkan bahwa iddah itu hak suami atas istri yang telah disetubuhi.
Dalam ayat itu pula dijelaskan : "Dan suami mereka lebih berhak atas mereka apabila suami itu menghendaki kebaikan untuk rujuk", Allah menjadikan
suami itu lebih berhak untuk rujuk selama masa iddah.
Iddah 3x quru' atau 3 bulan adalah masa penantian yang cukup lama untuk berfikir, apakah akan mempertahankan rumahtangganya dengan baik atau
melepaskan istrinya dengan cara yang lebih baik.
Dalam sumpah ila'17 diberi kesempatan berfikir 4 bulan, apakah suami itu akan rujuk atau mentalaknya, sama halnya kesempatan bagi orang kafir
selama 4 bulan untuk berfikir menentukan pilihan, tetap dalam kekafirannya atau beriman.
Alasan tersebut diatas ada yang mengatakan tidak benar karena wanita yang minta cerai, yang nikahnya difasakh, yang ditalak tiga, tawanan perang
yang disetubuhi dan wanita yang dizinai, mereka harus beriddah 3x quru' tapi suaminya tidak boleh rujuk, karena ada hukum yang tidak disertai alasannya,
hukum seperti ini membatalkan alasan beriddah bagi wanita yang minta cerai.
Hikmah dalam bentuk tertentu itu harus berdasarkan nash atau ijma' ulama, kalau sekedar pendapat sebagian ulama saja tidak cukup menjadi dasar,
padahal ulama berbeda pendapat dalam masalah iddah bagi wanita yang diceraikan secara khulu', menurut pendapat Ishak & Ahmad bin Hanbal cukuplah
beriddah 1x haidl saja, sesuai pendapat Utsman bin Affan & Abdullah bin Abbas.
Ijma' shohabat yang tidak diketahui oleh Utsman bin Affan & Abdullah bin Abbas, ternyata ada pendapat yang berbeda dengannya berdasarkan Hadits
Shohih dari Rasulillah s.a.w., dari itu orang yang tidak sependapat diabaikan saja karena dasar itu belum sampai pada mereka, atau mereka menganggap dasar
itu tidak kuat menurut mereka, atau ia menganggap bahwa ijma' shohabat dalam hal itu bertentangan dengan Sunnah Nabi s.a.w.
17
Pendapat 1x haidl adalah pendapat yang rojih berdasarkan hadits dan nalar, karena Nabi s.a.w. tidak memerintahkan wanita yang minta cerai khulu' itu
untuk beriddah selama 3x haidl.
Ahli hadits meriwayatkan dari Ar Robi' binti Mu'awwadz bahwa Tsabit bin Qois telah memukul istrinya bernama Jamilah binti Abdillah bin Ubai
hingga tangan istrinya retak, kemudian saudara dari Jamilah itu mengadu kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau mendatangi Tsabit seraya memerintahkan kepada
Tsabit :"Ambillah apa yang ada pada Jamilah untukmu dan ceraikanlah", Tsabit menjawab:"Ya", lalu Rasulullah s.a.w. menyuruh Jamilah beriddah 1x haidl dan
kembali pada keluarganya.
Abu Daud & An Nasai meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa istri Tsabit bin Qois minta cerai dari suaminya, lalu Nabi s.a.w. memerintahkannya atau
ia diperintahkan untuk beriddah dengan satu kali haidl saja.
At Turmudzi membenarkan bahwa Jamilah diperintahkan beriddah 1x haidl saja. Hadits-hadits tersebut punya beberapa sanad yang saling
membenarkan, At Turmudzi menunjukkan dua cacat yaitu:
a. hadits tersebut mursal,
b. yang benar dalam masalah tersebut adalah ia diperintahkan,
kedua-duanya berpengaruh sendiri-sendiri, karena telah diriwayatkan dari berbagai arah yang bersambung dan tidak saling bertentangan antara
"diperintahkan" dan "Rasulullah s.a.w. memerintahkannya" karena tidak mungkin ketika Rasulullah s.a.w. masih hidup akan memerintahkan demikian.
Suatu hadits yang diriwayatkan dengan kata-kata yang multi-interpretasi, kemudian dijelaskan, tapi penjelasannya justru bertentangan bahkan
didahulukan. Maka penjelasan semacam itu cukuplah dianggap sebagai fatwa shohabat.
Abu Jakfar An Nuhas berpendapat bahwa yang dihapus hukumnya adalah ijma' dari Shohabat, dengan penalaran bahwa wanita yang minta cerai tak ada lagi beban iddah, dia telah memiliki dirinya sendiri & lebih berhak atas vaginanya, dia boleh kawin setelah kosong rahimnya dengan 1x haidl saja seperti
iddah wanita tawanan, wanita sahaya dengan perjanjian tukar menukar tawanan perang, sedangkan wanita yang berhijrah dari daerah pertempuran harus
beriddah 3x quru' dalam talak roj'i, dan wanita yang gugat cerai maka iddahnya ditetapkan sesuai kasusnya, diantara dua pokok iddah itu lebih sesuai
dikelompokkan pada wanita yang beriddah dengan haidl.
5. Hikmah Iddah Wanita Yang Ditalak Tigakali
Ijma' ulama menetapkan iddah wanita yang ditalak tiga itu dengan 3x kali quru', suaminya tidak berhak rujuk, tujuan kebebasan rahim dari janin juga
Pertama : ulama berbeda pendapat dalam masalah iddahnya, apakah dengan 3x quru' atau 1x quru' saja, Jumhur ulama menetapkan iddahnya 3x quru', dengan
alasan bahwa talak yang ketiga itu tergolong pada dua kelompok wanita pertama dan kedua diatas, maka hukum keduanyalah yang diterapkan, karena bab talak
itu semuanya satu topik pembahasan maka tidak ada perbedaan pendapat mengenai hukumnya, hukum syari'at selalu mengutamakan kemaslahatan umum yang
tidak bertentangan dengan mashlahat itu sendiri. Hikmah dalam persepektif yang lain adalah mencegah dari kefakuman hukum, ini kaidah syar'i yang harus
diterapkan.
Kedua : Allah swt mengharamkan wanita yang tertalak tiga kepada mantan suaminya sampai dia kawin lagi dengan suami yang lain, hal ini sebagai hukuman
bagi mantan suami, dan Allah swt melaknat muhallil18 dan suami wanita yang mengupayakan kawin tahlil tersebut karena kedua-duanya bertentangan dengan
maksud Allah s.w.t. dengan menghukum suami yang mentalak 3x yakni lama waktu keharaman wanita tersebut baginya, hukuman seperti itu lebih effektif
untuk mencapai maksud yang dikehendaki oleh Pencipta syari'at itu sendiri, karena kalau ia tahu bahwa mantan istrinya itu tidak halal lagi baginya sampai
mantan istrinya menjalani masa iddah 3x quru' selesai lalu dia kawin dengan lelaki lain dengan niat perkawinan yang semestinya bukan kawin tahlil yang
dilaknat, kemudian suaminya menceraikan dan ia beriddah 3x quru', penantian panjang semacam itu akan menghilangkan kesabarannya, dengan demikian
diharapkan ia menahan diri untuk melakukan talak tiga, ini sesuai dengan hikmah dan maslahat disamping sebagai pencegahan, karena penantian 3x quru'
dalam talak roj'i itu sebagai kesempatan berfikir bagi suami dan untuk menjaga kebaikannya sendiri sebelum menjatuhkan talak tiga yang berakibat mantan
istrinya diharamkan baginya, penantian itu sebagai hukuman dan sebagai pencegahan baginya sebelum menjatuhkan talak yang berakibat keharaman wanita
yang semula dihalalkan oleh Allah, keharaman wanita itu semakin diperkuat dengan suatu keharusan telah kawin lagi dengan lelaki lain dan disetubuhi, lalu
bercerai dan beriddah yang kedua kalinya.
Menurut pendapat Abil Hasan bin Allabban bahwa iddahnya cukup 1x haidl saja, existensi pendapat ini sesudah Ijma' maka harus mengikuti ijma', dan
tidak boleh mengikuti pendapatnya, seandainya belum ada ijma' dalam masalah tersebut maka pendapat itu kuat dan jelas, wallahu a'lam.
6. Hikmah Iddah Wanita Dewasa
Sunnah nabi menetapkan bahwa wanita dewasa harus beriddah 3x haidl, seperti hadits riwayat Ibnu Majah dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa
"Bariroh diperintahkan beriddah dengan 3x haidl", ada hadits mungkar19 yang sanadnya masyhur, dan disandarkan pada Aisyah r.a. Ummil Mukminin padahal
beliau mengatakan bahwa Aqro' itu suci bukan haidl.
18lelaki yang mengawini wanita hanya untuk sekedar menghalalkannya kepada mantan suami yang mentalak tiga kali. 19
Kalau hadits Aisyah r.a. itu benar maka harus dipegangi sebagai dasar dan tidak meluas penentangnya, hukum beriddah yang diterapkan adalah hukum
wanita yang ditalak tiga yakni 3x quru' dan suaminya tidak berhak rujuk.
Allah swt. berkompeten menetapkan hukum secara khusus terhadap suatu peristiwa, perbuatan dan waktu serta tempat dan keadaan yang hal itu tidak
tampak pada kita, pilihan iddah itu jelas, karena :
kalau wanita itu ditetapkan iddahnya 1x haidl, dapat segera kawin sesudah iddah, dan suaminya memang sudah tidak berhak rujuk,
kalau ditetapkan iddahnya 3x haidl, maka penantiannya cukup lama dan tertahan dari calon suami berikutnya sehingga diharapkan si janda ingat
terhadap mantan suaminya dan merasa senang bila suaminya kembali kepadanya, sehingga lenyaplah kenangan pahit sebelumnya.
Kalau iddah wanita yang minta cerai itu dengan 3x haidl sebenarnya lebih baik karena sesuai dengan hikmah yang dikehendaki syari'at, tetapi hal ini
tidak untuk wanita yang berhijrah, yang berzina dan tawanan yang disetubuhi.
7. Hikmah Iddah Wanita Menopause Dan Bawah Umur
Wanita yang menopause dan wanita yang belum cukup umur yang pada umumnya belum dapat disetubuhi secara normal, hanya untuk orang yang
menjadikan alasan iddah itu kekosongan rahim dari janin saja, jawaban yang tepat bahwa iddah dalam hal ini disyari'atkan semata-mata ta'abbudi, kekosongan
rahim itu hanya sebagian dari tujuan iddah dan masih ada lagi tujuan iddah selain itu yakni menyempurnakan, menghormatinya dan menampakkan nilai yang
ada dalam akad nikah itu serta menampakkan kemuliannya, sehingga keharaman janda karena kematian suami tidak berbeda dengan karena perceraian, antara
wanita menopause dengan tidak menopause, antara wanita dewasa dengan yang belum cukup umur, waktunya diperpanjang bagi suami dengan iddah haidl
untuk talak roj'i dan wanita yang ditalak tiga, hal seperti ini juga sama dalam hak wanita yang telah mengalami menopause dan wanita yang masih belum cukup
umur, sedangkan maksud utama yang terkandung dalam hikmah yang dapat dirasionalkan dalam hal demi kemaslahatan suami dalam talak roj'i dan akibatnya
serta pencegahannya terhadap talak yang menyebabkan keharaman istri tertalak tiga disamakan bagi seluruh wanita dalam masalah itu, hal ini jelas sekali..
8. Hikmah Pengharaman Wanita Setelah Talak Tiga
Menurut Ad Dimasyqy bahwa pengharaman wanita terhadap mantan suaminya setelah talak tiga dan pembolehannya kepadanya setelah pernikahannya
dengan suami yang kedua, maka tidak diketahui hikmahnya selain orang yang mengerti rahasia syari'at dan hikmah yang terkandung atas pengharaman dan
pembolehan wanita tersebut & mengerti tentang kemaslahatan umum secara utuh.
Kehalalan dan keharaman vagina wanita bagi suami itu merupakan nikmat dan kebaikan Allah kepada kaum suami, namun jarang disyukuri, jarang
kemaslahatan yang diajarkan Allah s.w.t. bagi setiap umat di setiap zaman, syari'at Taurat menetapkan kehalalan wanita bagi mantan suaminya setelah ditalak
selama belum menikah lagi, bila telah pernah menikah lagi maka haram selamanya bagi mantan suami untuk menikahi.
Ketetapan Taurat itu ada hikmah dan kemaslahatan yang tidak tersembunyi, karena seorang suami yang mengetahui bahwa bila ia mentalak istrinya dan
istrinya punya hak untuk kawin dengan lelaki lain, setelah kawin dengan lelaki lain itu dia tidak boleh lagi untuk kawin dengannya selamanya, maka sudah
tentu dia akan lebih ketat mempertahankan istrinya dan lebih serius mencegah untuk menceraikannya. Syari'at Taurat itu hanya untuk umat nabi Musa a.s. saja
karena sudah keterlaluan dan terus menerus dalam kedurhakaannya, kemudian datanglah syari'at Injil yang mencegah sama sekali untuk bercerai setelah
perkawinan, karena bila lelaki telah menikahi seorang wanita maka dia tidak berhak mentalaknya.
Kemudian datanglah syari'at paling sempurna dan utama dari nabi Muhammad s.a.w., paling sosiologis dalam menegakkan kemaslahatan bagi hamba
Allah, lebih baik dari semua syari'at sebelumnya, baik dalam kehidupan sekarang maupun di akhirat nanti, lebih sesuai dengan rasio serta kemaslahatan, karena
syari'at Islam lebih sempurna untuk umat ini dan menyempurnakan nikmatNya kepada ummatNya serta membolehkan kepada umat ini sesuatu yang baik yang
tidak diperbolehkan kepada umat lain sebelumnya, dan membolehkan kepada laki-laki umat ini untuk menikahi wanita yang disukainya sampai 4 orang, serta
membolehkan laki-laki untuk menikahi budak wanita seberapa banyak yang mereka kehendaki, dalam syari'at sebelumnya tidak ada pernikahan dengan budak,
kemudian melengkapi dengan kepemililikan hak untuk menceraikan istrinya dan mengambil wanita lain untuk dinikahi karena mungkin istri pertama tidak
serasi dan tidak seirama lagi dengannya, Dia tidak menjadikannya sebagai belenggu di lehernya, rantai di kakinya, dan beban diatas punggungnya, dan
disyari'atkan kepadanya boleh menceraikan istrinya atas dasar pertimbangan yang lebih sempurna baik bagi istrinya maupun bagi dia sendiri dengan
menceraikan istrinya satu kali, lalu istrinya beriddah 3x quru', pada umumnya ia beriddah 3 bulan, pada masa iddah itu ia :
akan menjaga istrinya karena punya harapan untuk rujuk,
menata hatinya yang gelisah itu dan merubahnya dengan kecintaan pada istrinya sampai menemukan jalan untuk rujuk yang pintunya masih terbuka,
ingin kembali pada istri yang dicintainya, kembali menguasai emosi kemarahan serta tipu daya syetan, kemudian tidak lagi menuruti keangkuhan nafsu
yang terbujuk syetan sehingga rujuk kembali.
Demikian juga untuk yang kedua kalinya, mungkin dirinya akan merasakan kepahitan talak serta kesuraman rumahtangga yang tidak dikehendaki & yang
Kemudian apabila datang yang ketiga kalinya, datanglah sesuatu yang tidak sejalan lagi baginya dengan perintah Allah, katakan padanya : kau telah
menyerahkan dengan sendirinya kebutuhanmu dengan peristiwa talak pertama dan kedua, sedangkan untuk yang ketiga tiada jalan bagimu untuk rujuk
kepadanya.
Kalau dia tahu bahwa talak yang ketiga itu merupakan perpisahan antara dia dengan istrinya, dan terhalang untuk rujuk bahkan tidak halal lagi baginya
kecuali setelah menunggu selesai iddah 3x quru', lalu kawin dengan suami lain atas dasar cinta dalam menikahi dan suami yang kedua telah menyetubuhi secara
sempurna sehingga sama-sama merasakan kenikmatan persetubuhannya, seakan tak mungkin untuk terburu-buru bercerai, namun ternyata kemudian dia
bercerai juga dengan istrinya karena kematian, talak atau karena cerai khulu', lalu dia beriddah atas perceraiannya itu dengan iddah sempurna, maka saat itu
akan terasa akibat perbuatan talak yang halal tersebut tapi paling dibenci di sisi Allah.
Pada saat itu pula masing-masing tahu bahwa sesudah talak yang ketiga itu tidak ada jalan baginya untuk rujuk kembali, baik atas kehendak suami maupun
istri, hal ini diperkuat lagi dengan laknat terhadap suami kedua apabila dia dalam menikahinya itu tidak atas dasar cinta untuk seterusnya, namun nikahnya
sekedar untuk penghalal saja --muhallil-- dan laknat pula terhadap suami pertama yang kembali rujuk dengan pernikahan tahlil ini, namun kalau pernikahan
suami kedua itu seperti pernikahan pertama, lalu dia mentalaknya seperti suami pertama mentalaknya, maka diperbolehkan bagi suami pertama seperti
diperbolehkan kepada suami-suami yang lain.
Dapat dibandingkan antara syari'at ini dengan dua syari'at sebelumnya, dan antara syari'at ini dengan aturan lain yang membolehkan suatu perkawinan yang
pelakunya telah dilaknat oleh Allah dan RasulNya, dengan perbandingan ini akan nampak jelas kebesaran syari'at ini serta keunggulannya diatas semua syari'at
yang ada.
Syari'at Islam datang dalam bentuk yang sangat sempurna, lengkap dan lebih baik serta lebih bermanfaat kepada umat sedangkan dua syari'at sebelumnya,
karena Allah s.w.t. menurunkan dua syari'at itu untuk waktu dan umat tertentu.
Kemampuan memahami hal-hal yang bersifat halus / tersembunyi adalah suatu kekhususan atau keistimewaan yang diberikan kepada seseorang yang
dikehendaki Allah s.w.t., bersyukurlah bagi yang sudah mencapai level pemahaman semacam itu, namun bagi yang belum mencapai level pemahanan seperti
itu sebaiknya serahkan kepada Hakim Yang Maha Adil dan Maha Mengerti tentang alam semesta, dengan demikian akan sadar bahwa syari'at Allah swt. diatas
Sebuah rangkaian puisi bebas disampaikan oleh Syekh Ad Dimasyqy dalam menghadapi orang yang tidak mampu memahami kelembutan hikmah yang
terkandung dalam Syari'ah Islam, maknanya20 sebagai berikut :
o katakanlah kepada mata nan lagi sakit, janganlah dikau menghadap
o pada sang surya dan menutup kegelapan dengan bulu mata
o berlapang dadalah, janganlah dikau ingkari matamu, bebaskanlah ia
o bila dikau ingkari kebenaran, katakana : lepaskan selain kebenaran itu
o Cacatlah pemikiran suatu kaum yang tidak menggunakan akal mereka
o apa yang ada padanya apabila mereka mencelanya karena keterpaksaan
o Mentari pagi di kala dluha tiada membahayakan, sang surya pasti terbit
o Tak kan dapat memandang sinar cahyanya,
o orang yang tak punya penglihatan
Menurut pendapat Imam Nawawi, hikmah pensyari'atan iddah itu diuraikan sebagai berikut 21:
Kata iddah bentuk jamaknya adalah 'adad biasanya berarti penghitungan masa suci/haidl atau penghitungan bulan. Iddah dalam pengertian syara'
adalah suatu nama untuk waktu tunggu bagi seorang janda untuk mengetahui kekosongan rahimnya dari janin atau untuk semata-mata melaksanakan kegiatan
ibadah yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. atau untuk berdukacita atas kematian suaminya.
Istilah iddah itu bersumber dari ayat AlQuran dan Hadits Nabi. kemudian menjadi Ijma' Ulama. Iddah disyari'atkan untuk :
1. menjaga & memelihara keturunan dari kekacauan nasab,
2. menjaga hak suami-istri, anak serta calon suami berikutnya.
Maksud utama dalam beriddah adalah semata-mata faktor 'ubudiyahnya berdasarkan dalil bahwa janda itu tidak berakhir iddahnya dengan 1x quru'
walau rahimnya telah bersih dari janin dengan 1x quru' tersebut.
9. 'Iddah Bagi Laki-Laki
Sebuah artikel tanya jawab dalam internet mengenai masa iddah terdapat uraian yang sadurannya sebagai berikut 22 :
20 Vide teks aslinya dalam lampiran II. 21
Sebuah pertanyaan yang disampaikan oleh Fatimah dari Garut :
"Enam bulan yang lalu saya ditinggal suami saya. Ia meninggal karena kecelakaan. Baru kurang dari dua bulan ini saya selesai masa Iddah. Kebetulan
ada tetangga saya pria berumur 40 yang ditinggal mati istrinya. Namun baru tiga bulan ia sudah menikah dengan wanita lain. Saya kok merasa tidak adil. Kalau
pria bisa seenaknya menikah lagi tanpa dikenai masa iddah, tapi kalau perempuan punya dan bermacam-macam. Apakah lelaki enggak bisa dikenai massa iddah
juga?"
Jawabannya diuraikan sebagai berikut :
Ulama fikih menyatakan bahwa 'iddah adalah tenggang waktu tertentu yang harus dihitung oleh seorang perempuan semenjak ia bercerai dengan
suaminya, baik perpisahan itu disebabkan karena talak maupun karena suaminya meninggal dunia, dalam masa tersebut perempuan tidak dibolehkan kawin
dengan laki-laki lain. Lihat Zakaria al-Anshariy, Fath al-Wahhab, hlm. 103.
Ketentuan 'iddah ini didasarkan pada Alquran Surat al Baqarah ayat 228 dan 234: "Perempuan-perempuan yang ditalak hendaklah menahan diri 3x
quru`" dan "Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri, hendaklah perempuan itu ber'iddah 4 bulan 10 hari", dalam
Surat ath Thalaq ayat 4: "Dan perempuan-perempuan yang putus dari haidl di antara isteri-isterimu, jika kamu ragu-ragu tentang masa 'iddahnya, maka 'iddah
mereka adalah tiga bulan, dan begitu pula perempuan-perempuan yang sudah haidl. Sedangkan perempuan-perempuan yang hamil waktu 'iddah mereka adalah
sampai melahirkan kandungannya", dan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan 'iddah ini.
Namun, Alquran tak pernah menjelaskan sebab atau illat hukum yang mendasari ketentuan 'iddah. Dari itu, para ulama menciptakan argument sendiri
bahwa 'iddah disyari'atkan misalnya untuk mengetahui apakah dalam rahim perempuan ada benih atau tidak. Kelompok Syafi'iyyah menyatakan bahwa 'iddah
memiliki tiga fungsi yaitu barâ`ah al-rahim --kekosongan rahim dari janin--, ta'abbud /pengabdian diri kepada Tuhan, dan bela sungkawa/tafajju' atas kematian
suami. vide, Al-Syarbiniy, Mughniy al-Muhtaj, Juz III hlm. 384.
22 Dwi W.Soegardi - Sat, 10 Mar 2007 14:28:28 -0800, * Pengasuh PP Zainul Huda Arjasa Sumenep Madura, Sumber: Syir'ah.com 55/V/Juli 2006. Beredar Selasa 6 Nopember 2006
Akan tetapi, berargumen bahwa 'iddah diundangkan untuk mengetahui kondisi terakhir rahim perempuan agaknya tak bisa dipertahankan. Dengan
kecanggihan teknologi modern sekarang, pengecekan terhadap rahim seorang perempuan bukan perkara sulit. Teknologi sudah dapat mendeteksi dengan akurat
dan valid tentang ada dan tidak benih dalam rahim perempuan.
Karena itu, perlu dicarikan argumen lain dari pensyari'atan 'iddah ini, yaitu argumen etik-moral. Dengan pertimbangan moral ini, walau dengan
kecanggihan teknologi modern keadaan rahim bisa diketahui, 'iddah tetap harus dijalankan.
Pertama, dalam kasus karena pasangan meninggal dunia, 'iddah di samping untuk tujuan mengetahui status rahim perempuan juga dimaksudkan sebagai
pernyataan sikap berkabung --tafajju'-- atas kematian mendiang suaminya. Karena itu, selama masa 'iddahnya --4 bulan 10 hari--, di samping perempuan
tersebut harus membiarkan rahimnya tidak menampung benih baru, yang bersangkutan juga diminta untuk tidak mengekspresikan satu sikap yang mengesankan
bahwa dirinya tidak sedang tertimpa musibah.
Dengan alasan tafajju' itu, 'iddah mestinya tak hanya dikenakan pada seorang isteri, tapi juga pada suami. Baik suami maupun isteri secara etika sosial
sangat pantas untuk menjalani masa berkabung. Tidak selayaknya seorang suami yang baru beberapa hari ditinggal mati oleh isterinya melangsungkan
perkawinan dengan perempuan lain.
Dan kenyataannya sudah banyak laki-laki yang menerapkan konsep ini. Mereka tidak mau melakukan pernikahan dalam waktu tertentu karena
berkabung dengan kematian isteri tercinta. Namun, Islam mengajarkan seseorang untuk tidak berlama-lama larut dalam suasana berkabung tersebut.
Bagaimanapun ia harus bangkit karena kehidupan harus tetap berjalan. Setelah 'iddah sudah selesai, ia diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk menikah
dengan laki-laki atau perempuan lain.
Kedua, dalam kasus perceraian biasa, fungsi 'iddah adalah membuka kesempatan seluas-luasnya kepada mereka berdua suami-istri untuk bisa rujuk
kembali. 'Iddah adalah medium untuk melakukan refleksi dan evaluasi bagi kedua belah pihak untuk selanjutnya dianjurkan berada kembali dalam ikatan
perkawinan.
Ini paralel dengan harapan Islam. Bahwa ketika pernikahan sudah dilangsungkan, ia harus diusahakan sekuat mungkin untuk tidak putus. Sebuah hadits
menyatakan, perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian. --Abghadl al-halâl 'inda Allah al-thalâq--.
Dalam Alquran, pernikahan digambarkan sebagai perjanjian yang kukuh --mitsâqan ghalidhan--. Karenanya tali pernikahan tak boleh diputus kecuali
dalam keadaan yang luar biasa. Dan sekiranya perceraian tak bisa dihindari, Islam masih memberi kesempatan --'iddah-- agar keduanya bisa kembali lagi
pernikahan, baik secara terang-terangan maupun sembunyi dengan orang lain. Dengan argumen ini, kedua belah pihak mestinya sama-sama menjalani masa
'iddah.
Selanjutnya, setelah masa 'iddah mereka habis, sementara rekonsiliasi --ruju'-- sudah tak dimungkinkan lagi, maka perceraian tetap harus dilakukan
dengan cara yang baik dan dengan menghadirkan dua orang saksi. Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat al-Thalaq 65:2.
"Apabila mereka telah mendekati akhir 'iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua
orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah."
Perceraian tak boleh dilangsungkan dengan saling mengumbar rahasia dan aib masing-masing. Begitu juga orang-orang yang menjadi saksi perceraian
haruslah orang-orang yang saleh, jujur, dan memiliki komitmen kuat untuk melindungi kepentingan pihak yang lemah yang biasanya adalah pihak isteri. Sebab,
sepanjang sejarah kemanusiaan, perempuan hampir selalu berada pada posisi yang dirugikan.
Demikian mengenai iddah laki-laki yang menurut saya adalah hukum moral yang harus dijalankan, karena Nabi saw. itu diutus untuk menyempurnakan
akhlaq yang mulia.
10. 'Iddah Talak Dihitung Dengan Haidl
Dalam masalah iddah, Syaikh Muhammad bin Shaleh Al 'Utsaimin menjelaskan dalam kitabnya23 yang maknanya sebagai berikut:
Jika seorang suami menceraikan isteri yang telah digauli atau berkumpul dengannya, maka si isteri harus beriddah selama tiga kali haidl secara
sempurna apabila termasuk wanita yang masih mengalami haidl dan tidak hamil. Hal ini didasarkan pada firman Allah :
Artinya: "Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri /menunggu tiga kali quru'..." Al-Baqarah : 228
Tiga kali quru' artinya tiga kali haidl. Tetapi jika si isteri dalam keadaan hamil, maka iddahnya ialah sampai melahirkan, baik masa iddahnya itu lama maupun
sebentar. Berdasarkan firman Allâh :
Artinya: "..Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya..." Ath Thalâq : 4
Jika si isteri termasuk wanita yang tidak haidl, karena masih kecil dan belum mengalami haidl, atau sudah menopause, atau karena pernah operasi pada
rahimnya, atau sebab-sebab lain sehingga tidak diharapkan dapat haidl kembali, maka iddahnya adalah tiga bulan. Sebagaimana firman Allah:
23
Artinya : "Dan perempuan-perempuan yang tidak haidl lagi (menopouse) di antara isteri-isterimu jika kamu ragu-ragu tentang masa iddahnya maka iddah
mereka adalah tiga bulan, dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haidl .." At-Thalaaq : 4
Jika si isteri termasuk wanita yang masih mengalami haidl, tetapi terhenti haidlnya karena suatu sebab yang jelas seperti sakit atau menyusui, maka ia
tetap dalam iddahnya sekalipun lama masa iddahnya sampai ia mendapati haidl dan beriddah dengan haidl itu. Jika sebab itu sudah tidak ada, seperti sudah
sembuh dari sakit atau telah selesai menyusui ssementara haidlnya tak kunjung datang, maka iddahnya sebulan penuh terhitung mulai tidak adanya sebab
tersebut.
Inilah pendapat yang shahih sesuai dengan kaidah syar'iyah. Dengan alasan, jika sebab itu sudah tidak ada sementara haidl tak kunjung datang maka
wanita tersebut hukumnya seperti wanita yang terhenti haidlnya karena sebab yang tidak jelas. Jika terhenti haidlnya karena sebab yang tidak jelas, maka
iddahnya yaitu setahun penuh dengan perhitungan 9 bulan sebagai sikap hati-hati untuk kemungkinan hamil karena masa kehamilan pada umumnya 9 bulan dan
3 bulan untuk iddahnya.
Jika talak terjadi setelah akad nikah sedang sang suami belum menggauli isterinya, maka dalam hal ini tidak ada iddah sama sekali, baik dengan haidl
maupun yang lain. Berdasarkan firman Allah Ta'ala.
Artinya : "Hai prang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu menceraikan mereka sebelum kamu
mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah yang kamu minta menyempurnakannya ..." Al-Ahzaab : 49
11. Keputusan Tentang Rahim Bebas Janin
Keputusan bahwa rahim bebas dari janin itu diperlukan berkaitan dengan beberapa hal antara lain :
1. Apabila seseorang mati dan meninggalkan isteri yang kandungannya dapat menjadi ahli waris orang tersebut, padahal si wanita setelah itu bersuami
lagi, maka suaminya yang baru itu tidak boleh menggaulinya sebelum ia haidl atau jelas kehamilannya.
2. Jika telah jelas kehamilannya, maka hukum bagi janin yang dikandungnya adalah men