STUDI KRITIS PEMAHAMAN HADIS
TENTANG BID’AH PERSPEKTIF MAJELIS
TAFSIR AL-
QUR’AN
Mokhamad Sukron
Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta
Abstract
Thisattempts to answer at least three research questions. First, what is the method
applied in MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an) for reading and understanding hadith
on heresy (bid’ah)? Second, how is the aplication process for the hadith among
MTA’s activist? Third, what is the criticism of the hadith among MTA’s activist? Using topical approach, this reseacrh will focus on expalining and criticizing the hadith which is normally used and regularly apllied by MTA to discuss and criticize
heresy (bid’ah). It is also to reconstruct the understanding of MTA on the hadith
of heresy, by examining authenticity of matan (text) and sanad.
147 Volume 4, Nomor 2, September 2014
Pendahuluan
Setiap Muslim pasti ingin bisa melaksanakan semua tuntunan agamanya agar bisa mencapai derajat shalih dan bisa bertemu denga Allah bersama para nabi, para rasul, auliya dan sidqun. Namun untuk bisa melakukan hal tersebut setiap Muslim terlebih dahulu harus memahami syari’at Islam yang termaktub dalam al-Qur’an dan hadis Nabi. Dalam memahami sebuah ayat maupun hadis sudah barang tentu akan berbeda dengan muslim yang lainnya baik dari segi metode maupun hasil dari pemahaman tersebut. Perbedaan metode maupun pemahaman atas ayat atau hadis ketika memasuki ranah aksiomatik, sejatinya, tidak akan ada perselisihan di antara sesama muslim jika diaplikasikan pada diri sendiri dan tanpa menyalahkan satu sama lainnya. Berbeda halnya dengan adanya pemaksaan pemahaman seseorang terhadap lainnya dan menganggap pemahaman selain dirinya salah.
Perbedaan hasil pemahaman terhadap suatu ayat maupun hadis sebetulnya telah terjadi pada masa Rasulullah Saw masih hidup, namun hal itu segera terselesaikan dengan rapih di hadapan Rasulullah. Pada masa generasi kedua, perbedaan pemahaman bisa diselesaikan melalui forum diskusi di kalangan para sahabat Nabi dan hal tersebut terus berlanjut pada masa-masa sesudahnya. Hal yang mengherankan adalah pada masa kini menyalahkan satu sama lainnya antara sesame muslim adalah menjadi hal lumrah bahkan saling mengkafirkan. Sehingga tidak jarang terjadi pertumpahan darah di antara sesama umat Islam. Di antara terjadinya hal-hal semacam itu adalah pemahaman tentang hadis-hadis bid’ah. Selain di Jazirah Arab sendiri, perbedaan pemahaman hadis-hadis bid’ah juga terjadi di Indonesia. Perbedaan pemahaman tersebut tidak hanya terjadi dalam masyarakat Islam Indonesia dan antar organisasi Islam saja, bahkan dalam satu organisasi keislaman pun tidak terelakkan.
bahwa dakwah MTA telah meresahkan masyarakat, terutama di kalangan masyarakat NU.1 Disebutkan oleh Zainal Abidin Petir,
bahwa Materi dakwah itu disampaikan melalui radio oleh Ketua Umum MTA Solo, Ahmad Sukino, sampai ke pelosok desa di Jawa Tengah. Ahmad Sukino menyatakan bahwa orang meninggal tidak perlu diperingati hari ke-tiga, tujuh, hingga hari ke-1000 dan tidak perlu ada ajaran tahlilan maupun yâsinan. Apa yang didakwahkan oleh Ahmad Sukino ini merupakan bentuk applikasi dari pemahaman hadis-hadis tentang bid’ah yang mana hadis-hadis tersebut mempunyai pemahaman yang berbeda-beda bagi setiap Muslim di seluruh dunia, terutama Indonesia.
Dari latar belakang tersebut, penulis merasa perlu meneliti dan mengkaji beberapa permasalahan di antaranya; pertama bagaimana metode MTA dalam memahami sebuah hadis, khususnya hadis-hadis tentang bid’ah? Kedua, bagaimana aplikasi pemahaman MTA terhadap hadis-hadis tentang bid’ah? Ketiga, bagaimana kritik hadis terhadap pemahaman hadis-hadis bid’ah menurut MTA? Penelitian ini menggunakan metode tematik (maud}û’i), di mana peneliti akan fokus meneliti hadis-hadis yang digunakan oleh MTA dalam permasalahan bid’ah dan variannya dilanjutkan mendiskripsikan seluruh hadis-hadis tentang bid’ah perspektif MTA beserta metodologi syarah dan keontentikan hadisnya. Selanjutnya penulis merekonstruksi ulang pemahaman hadis-hadis bid’ah dengan mengkaji dua aspek, yakni otentisitas hadis jalur sanad dan matan serta pemahaman hadis untuk membuktikan kekonsistenan MTA dalam menggunakan metodologi syarah dan pengujian otentisitas hadis.
Penyeleksian dari jalur sanad, penulis akan berpedoman dengan teori-teori sanad pada umumnya (mayoritas ulama hadis) namun ketika menganalisisa tingkatan jarh dan ta’dil penulis akan merujuk pada kualifikasi tingkatan yang dilakukan oleh Rid}\a Zakaria
1 Rofiuddin, Melarang Tahlilan, KPI Jawa Tengah Tegur Radio MTA Solo,
(TEMPO Online Kamis, 28 Mei 2009), link
149 Volume 4, Nomor 2, September 2014 Muhammad Abdullah Hamidah.2 Pada penyeleksian dari jalur matan,
penulis akan merujuk pada teorinya Muhammad al-Ghazali.
Kemudian, dalam merekonstruksi pemahaman hadis, penulis menawarkan hermeneutika hadis dari teori hermeneutika al-Qur’annya Fazlur Rahman, yaitu teori ‘gerakan ganda’ (double movement). Di dalam rangka teori gerakan gandanya, Fazlur Rahman menjelaskan bahwa gerakan ganda tersebut sebagai langkah menelusuri dari situasi kini kepada situasi Nabi Saw bersabda, dan kemudian kembali dari lampau kepada masa kini.3
Di dalam gerakan kembali kepada situasi Nabi Saw bersabda, ada dua langkah yang diperlukan. Pertama, memahami makna hadis sebenar-benarnya dengan mengkaji situasi atau problem historis yang ingin dijawabnya. Namun sebelumnya perlu dikaji juga situasi makro dalam batasan-batasan masyarakat, agama, adat-istiadat, lembaga bahkan keseluruhan kehidupan masyarakat di Arabia pada saat Islam datang, khususnya Makkah dan sekitarnya.
Kedua, mengeneralisasikan respon spesifik sabda Nabi Saw dan menyatakannya sebagai ungkapan yang memiliki tujuan moral sosial umum berdasarkan latar belakang sosio-historis dan unsur ratio legis (‘illat al-ḫukm) yang dikandungnya. Bersamaan dengan itu, ajaran hadis harus dipahami sebagai suatu keseluruhan, sehingga setiap arti yang dipahami, setiap hukum yang dinyatakan dan setiap tujuan yang dirumuskan akan saling koheren satu sama lain.4
2Yakni membagi tingkatan 6 tingkatan untuk ta’dil dan 6 tingkatan untuk
jarh. Adapun dilihat dari derajat ta’dil adalah derajat pertama samapai ketiga hadisnya s}ahih dan dijadikan hujjah. Sedangkan derajat keempat hadisnya hasan liz\|atihi. Derajat ta’dil kelima dan keenam hadisnya d}a’if yang mana jika ada mutabi’ãt dan syawãhid maka hadisnya menjadi hasan lighairihi. Sedangkan Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh rawi ahli marãtib at-tajrih al-d}a’ifah sebagian bisa diamalkan selagi ada syawãhid dan mutabi’ãt (derajat tajrih pertama samapi ketiga),sebagin tidak bisa dibantu dengan syawãhid dan mutabi’ãt (derajat tajrih keempat) dan sebagian lagi tidak bisa diamalkan sama sekali (derajat tajrih kelima dan keenam). Lihat Rid}a Zakariya Muhammad Abdullah Hamidah, Al-Irsyad Ila Kaifiyah Dirasat al-Isnad, (Kairo: Maktabah Al-Iman, 2008), hlm. 154-206.
3 Mawardi, Hermeneutika Al-Qur’an Fazlur Rahman, dalam Hermeneutika
Al-Qur’an dan Hadis editor Sahiron Syamsudin (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2010), hlm. 70.
4 Mawardi, Hermeneutika Al-Qur’an Fazlur Rahman, dalam Hermeneutika Al
Dari yang umum kepada yang khusus merupakan upaya penerapan rumusan prinsip-prinsip umum, nilai-nilai dan tujuan-tujuan (ideal moral) hadis pada situasi aktual sekarang ini. Dalam gerakan ini terdapat dua kerja yang saling berkaitan. Pertama, merumuskan prinsip umum al-Qur’an menjadi rumusan-rumusan spesifik dengan mempertimbangkan konteks sosio-historis yang kongkrit. Kedua, Memahami kehidupan aktual yang sedang berkembang dalam berbagai aspeknya; ekonomi, politik, kebudayaan dan lain-lain secara akurat.5
MTA di Solo
Melihat sosio agama masyarakat Solo dan sekitarnya, di mana masih banyak praktik sinkretisme, animisme, dinamisme, Hinduisme dan Budhaisme yang merasuk dalam masyarakat Muslim dengan menambahkan ayat-ayat suci al-Qur‟an dan lain sebagainya, Ust. Abdullah Thufail Saputro prihatin dan tergugah untuk mengajak merekan dan berdakwah ke jalan yang benar, yakni kembali kepada al-Qur‟an dan Sunnah Nabi Saw. Dakwah tersebut dimuali dengan merintis pengajian di Nahd}atul Muslimat Kauman dan Pengajian Tauhid pada setiap Ahad pagi di Kemlayan Serengan Surakarta.Selain mengisi di dua tempat tersebut, Ust. Abdullah Thufail Saputro juga aktif mengisi pengajian di Majelis Pengajian Islam (MPI) yang dipimpin oleh Abdullah Marzuki dan pengajian-pengajian lainnya.6
Dari aktifitas dakwahnya di beberapa pengajian, Ust. Abdullah Thufail Saputro mempunyai keinginan yang luhur, yakni membentuk suatu wadah dakwah Islam yang menyerukan umat mengkaji al-Qur‟an dan Sunnah secara kontinu dengan mengundang ormas-ormas Islam seperti Nahd}atul Ulama, Muhammadiyah, PSII, Al-Irsyad dan MUI. Setelah melakukan pertemuan sebanyak tiga kali, ide Ust. Abdullah Thufail Saputro pupus dikarenakan tidak menemukan kesepakatan di antara ormas-ormas tersebut dan memilih untuk berdakwah sendiri-sendiri sehingga beliau
5Ibid.
6Mutohharun Jinan, Kepemimpinan Imamah Dalam Gerakan Purifikasi
Islam di Pedesaan, (Yogyakarta: Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2013),
151 Volume 4, Nomor 2, September 2014 mengalihkan dengan membentuk jama‟ah pengajian. Pada awalnya, pengajian ini hanya diikuti oleh tujuh siswa yang pernah mengaji di Pengajian Angkatan Muda Islam Nahd}atul Muslimat Kauman. Karena ketujuh murid tersebut terkesan dengan pengajian yang disampaikan oleh Ust. Abdullah Thufail Saputro, maka mereka meminta untuk dilanjutkan pada minggu-minggu berikutnya diadakan di kampung Semanggi Pasar Kliwon.
Sepeninggal Ust. Abdullah Thufail Saputro kepemimpinan MTA diamanatkan kepada Ahmad Sukina. Beliau adalah murid generasi pertama dan murid yang terdekat yang selalu menyertai Ust. Abdullah Thufail Saputuro. Pada masa Ahmad Sukina ini MTA mengalami perkembangan yang cukup signifikan dalam berbagai lini terutama perkembangan pengikut di berbagai penjuru nusantara. Mutohharun Jinan membagi perkembangan MTA di masa kepemimpinan Ahmad Sukina menjadi dua tahap, yakni tahap pemantapan dan tahap perluasan.7 Tahap pemantapan adalah tahapan
MTA memantapkan diri sebagai gerakan keagamaan yang lebih terbuka dengan membuka berbagai macam usaha sehingga dakwahnya tidak hanya terpaku melalui pengajian saja tetapi juga melalui berbagai media dakwah seperti sekolah, jaringan bisnis, penerbitan, majalah, koperasi simpan pinjam syari‟ah, balai pengobatan dan lainnya.
Memahami Bid’ah
Bid’ah secara etimologi, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Manz|ûr, adalah kata bada’a: bad’u as-syai’ yabda’uhu bad’an wa ibtida’ah (هَعَدَتْ باو ًاعْدَب هُعَدْبَ ي َءيشلا عَدب) yang mempunyai makna ansya’ahu wa badaahu
(هَأدبو هَأشنَأ) yakni mengadakan, menjadikan, menciptakan dan memulai.
Kemudian kata al-badî’ dan al-bid’u adalah al-syai’ al-laz\î yakûnu awalan ( ًلّوَأ ُنوُكَي يِذَلا ُءْيَشلا) yakni sesuatu yang pertama. Sedangkan al-bid’ah adalah al-hadas|wama ibtudi’a min al-dîn ba’da ikmãl ( ِنيِّدلا َنِم َعِدُتْ با اَمَو ثَدَحا لامكِإا َدْعَ ب) yakni sesuatu yang baru dan hal yang baru tersebut
7Mutohharun Jinan, Kepemimpinan Imamah Dalam Gerakan Purifikasi
merupakan permasalahan agama setelah agama dinyatakan sempurna.8 Sedangkan secara epistimologi, sebagaimana dijelaskan
oleh Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa bid’ah merupakan hal yang bertentangan dengan teks-teks agama (nus}ûs}). Menurut Al-‘Iz bin Abdussalam mendefinisikan bid’ah sebagai mengerjakan sesuatu yang tidak ada dan tidak dikenal di zaman Nabi Saw. Sementara Ibnu hajar memberikan definisi bid’ah dengan mengkategorikan dengan hal baru yang diciptakan namun tidak memiliki dalil dalam syari’at.9 Abdul Ilah
bin Husain al-‘Afraj mendefinisikan bid’ah yang termasuk dalam syari’at adalah hal-hal baru yang diciptakan bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Islam dan bertentangan dengan teks-teksnya (nus}ûs}). Hal-hal baru tersebut hanya berhubungan dengan urusan agama dan bukan berkaitan dengan kehidupan yang sangat ditentukan oleh kemaslahatan manusia dan keberlangsungan hidupnya. Bid’ahyang seperti ini, menurut beliau, adalah bid’ah yang sesat.10 Menurut Hasyim Asy’ari bid’ah adalah perkara yang baru
dalam masalah agama yang seakan-akan bagian dari agama padahal bukan baik secara hakikat maupun secara bentuknya dan tidak ada dalil syar’inya.11
Dari uraian definisi bid’ah beberapa ulama baik klasik atau kontemporer dapat disimpulkan bahwa bid’ah secara istilah syar’i adalah hal-hal baru, di mana hal baru tersebut merupakan urusan agama bukan urusan dunia, yang diciptakan yang tidak termaktub atau bahkan tidak merepresentasikan inti dalam al-Qur’an maupun hadis Nabi Saw atau tidak ada dalil atau nas} syar’i. Sehingga jika ada orang mendakwakan bahwa amalannya merupakan bukan bid’ah atau bid’ah hasanah maka perlu dimintai dalil atau nas} syar’i-nya dan apabila tidak bisa menunjukkan dalil atau nas} syar’i-nya secara jelas atau setidaknya tidak memiliki representasi terhadap keduanya maka amalanya dianggap bid’ah yang sesat.
8 Ibnu Manz|ûr, Lisãn al-'Arab, (Beirut: Dar S}ãdir, 1414 H), cet. III, juz.
8, hlm. 6
9Abdul Ilah bin Husain al-‘Afraj, Konsep Bid’ah dan Toleransi Fiqih... 10Ibid., hlm. 36.
11 Hasyim Asy'ari, Risalah Ahl as-Sunnah, terj. A. Zainul Hakim, hlm. 7-14.
153 Volume 4, Nomor 2, September 2014
Bid’ah menurut MTA
Bid’ah menurut definisi MTA, sebagaimana yang dijelaskan oleh Masduki, adalah sesuatu yang baru atau suatu aturan-aturan yang dahulu belum ada kemudian dianggap sebagai syari’at.12 Ahmad
Sukina menjelaskan bahwa yang dinamakan bid’ah adalah suatu ibadah yang di masa Nabi dan setelah Nabi wafat serta di masa para sahabat tidak pernah dilakukan sedangkan kita melakukan ibadah tersebut dengan anggapan hal itu merupakan bagian dari syari’at.13
Dan ibadah yang tidak ada di masa Nabi dan sahabat tersebut merupakan sejelek-jelek perkara yang diada-adakan sehingga masuk kategori bid’ah yang menjadikan pelaku masuk neraka.14
Masduki menjelaskan secara lanjut bahwa ketika kita melakukan hal-hal yang baru (belum ada di zaman Nabi Saw dan di zaman sahabat Nabi) namun mempunyai hujjah atau dalil dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw maka hal-hal baru tersebut bukanlah termasuk bid’ah.15Dengan demikian, yang dinamakan bid’ah adalah
sesuatu yang baru yang tidak ada di zaman Nabi Saw dan zaman sahabat Nabi serta tidak mempunyai hujjah atau dalil dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw di mana hal baru tersebut dianggap bagian dari syari’at Islam. Hal itu sesuai dengan hadis Nabi Saw yang
12 Wawancara dengan Masduki (Ahli Ilmu Majelis Tafsir Al-Qur’an Pusat)
pada tanggal 27 April 2014.
13 Pengajian Ahad Pagi pada tanggal 20 Januari 2008 dalam file MP3.
14 Wawancara dengan Ahmad Sukina (pimpinan tertinggi MTA) pada
tanggal 08 Mei 2014.
15 Wawancara dengan Masduki (Ahli Ilmu Majelis Tafsir Al-Qur’an Pusat)
pada tanggal 27 April 2014.
16 Hadis riwayat an-Nasa’i dalam kitab Sunan An-Nasa’i juz. 3, hlm. 188,
Dari Jãbir bin ‘Abdullah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “sesungguhnya sebenar-benar perkataan ialah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad, sejelek-jelek perkara itu yang diada-adakan, tiap-tiap yang diada-adakan itu bid’ah, tiap-tiap bid’ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan itu di neraka”. HR. An-Nasa’i.
َل اََمَع َ ِمَع ْنَمإ :َلاَق ََهلَسََ َِِْْلَع ُه ىهلَص ِه َلوُسَر ه ََ ،ُةَشِئاَع نع
َ ْْ
إدَر َوُهَ ف ََُرْمََ َِِْْلَع
.
17
Dari ‘Aisyah bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, “barang siapa yang melakukan suatu amalan yang bukan perintah kami, maka ia shadaqahnya, hajinya, umrahnya, jihadnya, taubatnya dan tidak pula tebusannya. Ia telah keluar dari Islam seperti keluarnya sehelai rambut dari adonan tepung”. HR. Ibnu Majjah.
1343, hadis no. 1718 yang dikutip dalam Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Kumpulan
Brosur-Brosur Pengajian Ahad Pagi Sunnah dan Bid’ah..., hlm. 28.
18 Hadis riwayat Ibnu Majjah dalam kitab Sunan Ibnu Majjah juz. 1, hlm.
34, hadis no. 49 yang dikutip dalam Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Kumpulan Brosur-Brosur Pengajian Ahad Pagi Sunnah dan Bid’ah..., hlm. 30-31.
19 Hadis riwayat Imam Bukhari dalam kitab S}ahih Bukhari juz. 9, hlm. 46,
155 Volume 4, Nomor 2, September 2014 Dari ‘Abdullah (bin Mas’ûd), ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “aku adalah pendahulu kalian semua di telaga (haud}). Sesungguhnya ada orang-orang di antara kalian yang diangkat kepadaku sehingga ketika aku mengulurkan (tangan) untuk menjangkau mereka seketika mereka ditarik dariku, lalu aku berseru ‘wahai Tuhanku, mereka itu ummatku’. Maka Allah berfirman, ‘kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu’”. HR. Bukhari.
Hadis riwayat Muslim di atas harus diperhatikan bahwa kata kullun dalam kalimat kullu bid’atin d}alãlah adalah keseluruhan bukan bermakna kebanyakan sehingga seluruh bid’ah adalah sesat dan sesat akan masuk neraka.20
Hal senada juga diungkapkan oleh Yoyok Sugiyatna dan Ahmad Sukina bahwa bid’ah secara syari’at hanya ada satu, yakni bid’ah d}alalah. Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) sendiri tidak sependapat dengan pendapat yang menyatakan bahwa bid’ah dalam syari’at itu terbagi menjadi berbagai varian seperti bid’ah hasanah, bid’ah d}alalah, bid’ah wajib, bid’ah sunnah, bid’ah mubah, bid’ah makrûh dan bid’ah haram. Adapun jika MTA berbeda pendapat dan pandangan dalam masalah ini adalah absah. NamunMTA akan menghormati semua pendapat dan pandangan yang ada karena berpedoman pada ayat yang menerangkan “lana a’mãluna walakum a’malukum” sehingga jika (perbuatan yang dianggap bid’ah hasanah misalnya) itu merupakan pahala berarti pahala itu milikmu dan jika sebaliknya maka dosa milikmu.21 Kemudian, bid’ah atau hal-hal baru yang bersifat
duniawi (bukan berkaitan dengan ibadah) bagi MTA justru harus didukung dan dikembangkan sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Saw sebagai berikut:
َسَح اةهُس ِم ََْسِْْا ِِ هنَس ْنَمإ :ََهلَسََ َِِْْلَع ُه ىهلَص ِه ُلوُسَر َلاَق
َ ِمُعَ ف ،اةَ
َش َِْهِروُجَُ ْنِم ُصُقْ َ ي ََََ ،اَِِ َ ِمَع ْنَم ِرْجََ ُ ْثِم َُِل َبِتُك ،َُدْعَ ب اَِِ
ْنَمََ ،ٌءْي
20 Wawancara dengan Masduki (Ahli Ilmu Majelis Tafsir Al-Qur’an Pusat)
pada tanggal 27 April 2014.
21 Wawancara dengan Ahmad Sukina (pemimpin tertinggi MTA) pada
َس
َِ ُ ْثِم َِِْْلَع َبِتُك ،َُدْعَ ب اَِِ َ ِمُعَ ف ،اةَئِ َْس اةهُس ِم ََْسِْْا ِِ هن
،اَِِ َ ِمَع ْنَم ِرْْ
.إٌءْيَش َِْهِراََََْْ ْنِم ُصُقْ َ ي ََََ
Artinya: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengadakan suatu cara yang baik di dalam Islam lalu (cara itu) diikuti orang sesudahnya maka ditulis pahala baginya sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya dengan tidak kurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengadakan suatu cara yang buruk di dalam Islam lalu (cara itu) diikuti orang sesudahnya maka ditulis pahala baginya sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya dengan tidak kurang sedikitpun dari dosa mereka”. HR. Muslim dan lainnya.
Ahmad Sukina memberikan penjelasan lebih lanjut hadis di atas bahwa maksudnya adalah sunnah (cara yang diadakan) yang berkenaan dengan hal-hal bersifat duniawi saja, yakni mengadakan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia di dalam Islam sangat dihargai dan diperintahkan dalam urusan dunia agar kita selalu kreatif. Jika kita (sebagai orang Islam) menelurkan hasil kreatifitas yang bermanfaat maka pahalanya akan kita dapat sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya dengan tidak kurang sedikitpun dari pahala mereka seperti kreatifitas orang yang menemukan mesin perontok padi yang sangat bermanfaat bagi orang banyak. Beliau melanjutkan, bahwa ketika hal-hal yang berkaitan dengan ibadah jangan melakukan kreatifitas dengan merubah-rubah ibadah karena ibadah itu sudah paten dan kita diperintahkan hanya mengikuti saja tidak boleh menciptakan atau membuat cara sendiri. Adapun hal-hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt adalah dengan mengikuti cara-cara yang dilakukan oleh Nabi Saw karena beliaulah yang paling tau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.22
Mengenai batasan antara urusan dunia dan urusan agama, menurut Ahmad Sukina, terletak pada ritual peribadatan agama Islam, di mana ritual tersebut harus berdasar dari al-Qur’an dan hadis yang shahih. Walaupun ketika seorang muslim melakukan segala aktivitas
22Penjelasan brosur sunnah dan bid’ah pertemuan kesatu oleh Ahmad
157 Volume 4, Nomor 2, September 2014 kesehariannya di luar ritual peribadatan Islam seperti bekerja dengan niat beribadah bukan berarti hal tersebut masuk ritual peribadatan akan tetapi nilai atau esensi bekerjanya sama dengan pahala orang melakukan ritual peribadatan Islam.23 Hal itu jelas sekali diterangkan
dalam hadis Nabi Saw yang berbunyi:
ِهَا َلوُسَر ُتْعََِ :َلاَق ََِْ ِما ىَلَع َُِْع ُهَا َيِضَر ِباهطَخا َنْب َرَمُع
ُه ىهلَص
َف ،ىَوَ ن اَم ٍئِرْما ِ ُُِل اَهَََِِ ، ِتاهِْ لِِ ُلاَمْعَْا اَهَِِإ :ُلوُقَ ي ََهلَسََ َِِْْلَع
ْتَناَك ْنَم
َلِِ ُُِتَرْجِه
َم َلِِ ُُِتَرْجِهَف ،اَهُحَُِْ ي ٍةَََرْما َلِِ َََْ ،اَهُ بِْصُي اَْْ نُد
.إَِِْْلِِ َرَجاَه ا
Artinya: ‘Umar bin al-Khat}t}ab di atas mimbar berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya perbuatan ditentukan dengan niat dan setiap orang mempunyai niat, barangsiapa hijrahnya dikarenakan hal dunia atau dikarenakan perempuan yang dinikahinya maka hijarhnya tergantung dengan niatan hijrahnya”. HR. Bukhari.
Selain itu, batasan antara urusan dunia dan urusan agama juga dijelaskan dalam QS. Ali Imran ayat 31 yang berbunyi:
ُنُذ ََُُۡل ۡرِفۡغَ يََ ُهَٱ َُُُۡبِبُُۡ ِِوُعِبهتٱَف َهَٱ َ وُبُُِ َُۡت ُك ِِ ۡ ُق
روُفَغ ُهَٱََ
ََُُۚۡبو
ٞ
َِْحهر
ٞ
١٣
Artinya: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Dan hadis Nabi Saw yang menerangkan tata cara melaksanakan shalat yakni:
ِ لَصَُ ِِوُمُتْ يَََر اَمَك اوُلَصإ :ََهلَسََ َِِْْلَع ُهَا ىهلَص ِهَا ُلوُسَر َلاَق
ي
.إ
23 Wawancara dengan Ahmad Sukina (pimpinan tertinggi MTA) dan
Artinya: Rasulullah Saw bersabda: “Shalatlah seperti kalian semua melihatku shalat”. HR. Bukhari.
Sedangkan mengenai urusan dunia Nabi Saw sudah menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing individu Muslimin, sehingga muncullah kaidah ushul fikih )عا تاا دا علا ىف لصاا( dengan artian ketika hal yang berkaitan dengan ibadah harus dicari tuntunannya bukan dicari larangannya dan hal yang berkaitan dengan dunia maka dicarilah larangannya.
Dengan begitu, sangat jelas batasan-batasan antara urusan dunia dan urusan agama dan dengan batasan itu kita bisa membedakan mana yang termasuk kategori bid’ah syar’i dan mana yang berkaitan dengan urusan dunia. Kaitannya dengan bid'ah MTA tidak akan menghakimi pelaku bid'ah akan masuk neraka tetapi lebih menekankan pada seluruh kalangan masyarakat mengajak agar tidak menjadi pelaku bid’ah dan mengamalkan al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw dalam kehidupan sehari-hari khususnya ritual peribadatan Islam harus berlandaskan keduanya karena tugas seorang muslim adalah saling mengingatkan dan berwasiat dalam hal kebenaran dan kesabaran.24
Dari penjabaran di atas, istilah bid’ah secara syar’i perspektif MTA lebih cenderung masuk golongan yang pertama yang mempunyai pemahaman luas tentang bid’ah. Namun, ketika MTA memahami hadis riwayat Muslim yang mempunyai redaksi “kullu
bid’atin d}alãlah”, kata “kullun” bermakna keseluruhan bukan bermakna kebanyakan. Dengan kata lain, MTA tidak sepakat dengan adanya tahs}sîs} dalam hadis tersebut. Dengan demikian, terkait dengan kategori bid’ah MTA lebih identik dengan pendapat yang kedua.
Adapun kegiatan masyarakat Islam Indonesia yang dianggap bid’ah bagi MTA adalah sebagai berikut;
1. Yasinan, yakni suatu acara atau kegiatan membaca surat Yasin yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara bersama-sama atau individu pada waktu-waktu tertentu dengan maksud tertentu seperti menghadiahkan kepada mayat, menyembuhkan orang sakit, meminta agar dimudahkan dalam sakaratil maut,
159 Volume 4, Nomor 2, September 2014 sekadar berharap mendapatkan keutamaan-keutamaan dari surat yasin atau yang lainnya.25 Yang dipermaslahkan oleh MTA adalah
membaca Surat Yasin baik individu maupun kelompok dengan maksud tertentu seperti mengirimkan pahala bacaannya kepada mayit, meminta agar dimudahkan dalam sakaratil maut, membaca di makam, sekadar berharap mendapatkan keutamaan-keutamaan dari surat yasin (mengobati penyakit, agar matinya sahid, dapat pahala seperti pahala infaq, dosanya diampuni dan dapat pahala seperti pahala haji berkali-kali) atau yang lainnya, di mana maksud-maksud tersebut tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an maupun Sunnah Nabi Saw. Kalaupun ada yang terkait dengan keutamaan-keutamaan surat Yasin akan tetapi hadis-hadis yang terkait dengan keutamaan-keutamaan surat Yasin semua d}a’if bahkan ada yang maud}û’ sehingga tidak bisa dijadikan landasan dalam beribadah.26
2. Tahlilan. Menurut MTA Tahlilan dan Tahlil adalah hal yang berbeda. Tahlil adalah z\ikiryang paling utama di antara z\ikir-z\ikir
yang lain. Tahlil sangat dianjurkan oleh Islam dan sudah barang tentu ada tuntunannya sebagaimana firman Allah Swt yang memerintahkan umat Islam agar selalu z\ikir kepada-Nya sebanyak-banyak baik di pagi hari maupun di sore hari dalam QS. Al-Ahzab ayat 41-42.27 Sedangkan tahlilan adalah sebagaimana
apa yang dipahamai oleh orang Jawa pada umumnya dan biasanya bacaan tahlil dibacakan pada saat acara kematian seperti peringatan tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, seribu hari dan lain sebagainya, di mana itu bukan ajaran Islam namun ajaran agama Hindu. Peringatan-peringatan ajaran agama Hindu tersebut bacaan-bacaannya diganti dengan bacaan-bacaan dari
25 Definisi ini merupakan definisi yang diasumsikan oleh penulis sendiri
dari realitas kegiatan masyarakat Islam Indonesia yang sering melakukan hal tersebut.
26 Pengajian Ahad Pagi pada tanggal 25 November 2007, 02 Desember
2007, 03 dan 10 Febuari 2008, 27 Januari 2014 dalam bentuk file MP3, wawancara dengan Ahmad Sukino (pimpinan tertinggi MTA) pada tanggal 30 Maret 2014 dan wawancara dengan Masduki (ahli ilmu MTA) pada tanggal 08 Mei 2014.
27 Wawancara dengan Ahmad Sukina (pimpinan tertinggi MTA) dan
agama Islam oleh ulama-ulama terdahulu, yakni bacaan tahlil dan z|ikir lainnya sehingga ritual tersebut disebut dengan tahlilan, di mana bacaan-bacaan tahlil tersebut dikirimkan kepada mayat disertai dengan hadiah fatihah dengan s}ighat ila hadroti nabi Muhammad... dan seterusnya. Dengan pengertian seperti itu tahlilan bagi MTA adalah sauatu ritual yang tidak ada tuntunannya dalam Islam dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi Saw dan sahabatnya atau tidak pernah ada di zaman Nabi Saw sehingga ritual itu dianggap bid’ah.
3. Tawasul. Tawasul secara bahasa adalah suatu hal yang dapat mendekatkan diri kepada yang lain.28 Sedangkan tawasul secara
istilah syara’ adalah ketika seseorang mempersembahkan sesuatu kepada Allah sebagai bentuk pendekatan diri kepada-Nya agar doanya dipenuhi seperti berdoa dengan wasilah al-asmã’ al-husna.29
Sedangkan menurut MTA yang dinamakan tawasul adalah sebuah jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt dan dalam mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt tidak melalui orang mati melainkan dengan amal shaleh kita sendiri sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Saba’ ayat 37.30 Sehingga, jika
bertawasul kepada selain amal shaleh kita sendiri maka bagian dari bid’ah.
4. Talqin secara istilah, menurut MTA, adalah menuntun orang yang sedang sakarat al-maut untuk mengucapkan kalimat la ilaha illallah bukan menuntut kalimat kalimat-kalimat thayyibah ketika sudah meninggal atau sudah dikubur.31
5. Ziarah Kubur. Menurut MTA, ziarah kubur yang bid’ah adalah ketika seorang Muslim ziarah kubur melebihi dari mengingat mati dan salam. Karena tidak ada tuntunannya dalam Islam seperti shalat, membaca ayat-ayat atau surat dari al-Qur'an di makam terlebih dengan maksud-maksud tertentu dan mengharapkan barakah mayit. Karena, selain kita diperintahkan untuk menyinari
28 Ibnu Manz\ur, Lisan al-'Arab..., juz. 11, hlm. 724-725.
29 Lihat http://vb.uiraqi.com/t51863.html diakses pada tanggal 13 Mei
2014.
30 Pengajian Ahad Pagi tanggal 25 November 2007 dalam file MP3.
31 Wawancara dengan Ahmad Sukina (pimpinan tertinggi MTA) pada
161 Volume 4, Nomor 2, September 2014 rumah dengan bacaan al-Qur'an, kegiatan seperti itu akan mendekatkan kita kepada perbuatan syirik (menyekutukan Allah). 6. Z|ikir, Doa Berjama’ah (Imam dan Makmum) dan Takbiran. ketika melaksanakan shalat bersama juga melakukan z\ikir bersama di mana sang imam berz\ikirdengan suara sedikit keras dengan harapan diikuti oleh jama’ah makmumnya sehingga z\ikir
berjama’ah saling bersautan hingga doa bahkan bershalawat bersama sebelum kembali meneruskan aktifitasnya masing-masing. Dalam keadaan berz\ikir, baik berjama’ah maupun
sendirian, juga kita sering temukan orang menghitung z\ikirannya dengan tasbih. Fenomena semacan itulah sekarang ini mulai banyak yang menyangsikannya, sehingga tidak jarang dengan lantang bahwa hal itu merupakan suatu perilaku bid’ah. Selain itu juga, fenomena lainnya yang mempunyai kriteria bid’ah adalah melakukan takbiran di malam hari raya Idul fitri baik yang ada di masjid-masjid maupun dengan keliling kampung dengan musik bedug dan shalawatan diringi musik. Fenomena-fenomena semacam itu MTA juga mempunyai pandangan tersendiri dalam menyikapinya. Menurut MTA, ketika seseorang salaman setelah shalat tidak apa-apa jika tadi sebelum shalat belum salaman kanan kiri dan jika melakukannya berkali-kali (sebelum dan sesudah shalat dengan orang yang sama) itu tidak ada tuntunannya dalam Islam. Dan ketika seseorang melakukan z|ikir setelah shalat dengan menghitung bilangan z|ikirnya dengan tasbih maka hal itu sah-sah saja jika digunakan sebagai alat menghitung bahkan tidak hanya dengan tasbih tetapi juga dengan kerikil, lidi ataupun alat hitung lainnya. Karena yang terpenting dalam berzikir adalah hitungannya bukan alat hitungnya seperti menghitung z\ikir sehabis shalat “subhanallah, alhamdulillah, allahuakbar” sebanyak 33 kali.32 Namun, ketika berzikir dan berdoa dengan suara keras,
menurut MTA, merupakan bid’ah dan bertentangan dengan al -Qur’an dan hadis s}ahihsebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Al-A’raf 55. Begitu pula dengan takbiran di malam Idul fitri baik dalam masjid maupun keliling kampung dengan diringi dengan musik seperti bedug dan bershalawat diringi musik adalah bagian
dari bid’ah karena keduanya merupakan doa yang harus dilakukan dengan khusuk dan suara lirih. Hal yang sama juga tentang doa berjamaah selesai shalat di mana imam membaca doa dan makmum membaca amin itu tidak ditemukan pada zaman Nabi Saw dan tidak ada hadisnya.
7. Maulid Nabi. Menurut pandangan MTA sendiri berpendapat bahwa maulid Nabi adalah bid’ah, namun kebid’ahan maulid Nabi tersebut tidak masuk dalam urusan agama tetapi dalam urusan dunia. Hal itu diungkapkan oleh Ahmad Sukina bahwa MTA menganggap bahwa Maulid Nabi adalah suatu metode dakwah Islam di mana jika metode tersebut dianggap tidak efektif maka harus dievaluasi. Namun, Ahmad Sukina sangat menyayangkan peringatan maulid Nabi justru terjebak dalam sekadar merayakan dengan mengadakan pengajian sesaat dan bershalawat yang disertai musik serta membaca al-barzanji yang tidak ada pada zaman Nabi tanpa melihat seberapa jauh keberhasilan metode dakwah Islamnya. Sehingga kegiatan semacam itu, yakni bershalawat dan al-barzanji, adalah suatu bentuk kebid’ahan. Kalaupun ada yang mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kecintaannya terhadap Nabi justru anggapan itu salah. Kecintaan terhadap Nabi yang benar adalah mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi dan mengamalkan apa yang dilakukan oleh Nabi serta mengkaji al-Qur’an dan Sunnahnya sehingga panji-panji serta syari’at Islam benar-benar ditegakkan di bumi.33
8. Sedekah atas nama Mayit. Selain berkeyakinan bahwa hadiah fatihah, tahlilan dan yasinan merupakan bukan bid’ah, masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat Jawa) juga berkeyakinan bahwa sedekah untuk mayit yang pahalanya dihadiahkan untuknya merupakan kesunahan di mana sedekah tersebut diberikan ketika kenduren dilaksanakan. Menurut MTA fenomena tersebut bukanlah kesunahan melainkan kebid’ahan. Hal itu sesuai dengan firman Allah Swt dalam QS. Fus}s}ilat ayat 46.
33 Pengajian Ahad Pagi pada tanggal 25 November 2007, 03 Febuari 2008,
163 Volume 4, Nomor 2, September 2014
Penutup
Dari pemaparan pada bab sebelumnya diperoleh data bahwa metode yang dipakai oleh MTA dalam memahami satu hadis sebagai berikut:
a. Menentukan tema yang akan dibahas baik yang berkaitan dengan tafsir ayat al-Qur’an maupun langsung yang berkaitan dengan hadis sesuai tema.
b. Langkah selanjutnya adalah mencari hadis-hadis sesuai tema tersebut dengan menggunakan kitab-kitab takhrij, seperti Tuhfat al-Asyrãf dan Mu’jam al-Mufahras dan melacaknya dalam kitab-kitab hadis mu’tabar (S}ahih Bukhari, S}ahih Muslim, Sunan Abu
Daud, Sunan at-Tirmiz\i, Sunan an-Nasa'i, Musnad Ahmad, Sunan Ibnu Majjah, Sunan ad-Darimi dan Muwat}t}a' Imam Malik).
c. Langkah selanjutnya adalah mencari kitab syarah dari kitab-kitab hadis mu’tabar tersebut, seperti Fath al-Bãrî, 'Umdat al-Qãrî,
Irsyãd asy-Syãri, ‘Arid}atul Ahwadi, Tuhfat al-Ahwadi, ‘Aun al
-Ma’bûd, dan lainnya. Dari kitab-kitab syarah tersebut MTA mengambil keterangan yang telah dijelaskan oleh syãrih kitab dan dari kitab syarah tersebut juga diketahui kualitas sanad hadis yang berkenaan dengan tema.
d. Dalam menyajikan hadis-hadis sesuai tema, MTA, hanya mencantumkan hadisnya, mukharij al-hadîs\, kes}ahihahhadis dan terjemahan tanpa memberikan bahwa terjemahan tersebut merupakan hasil dari terjemahan syarah hadis tersebut serta tidak mencantumkan referensinya.
pemahaman kita yang salah atau memerlukan pentakwilan terhadap hadis shahih tersebut sehingga makna hadis sejalan dengan al-Qur’an.
Dalam aplikasi pemahaman terhadap hadis-hadis tentang bid’ah diperoleh data bahwa MTA memahaminya bernuansa teologis, psikologis dan sosial kemasyarakatan dengan menggunakan pendekatan tekstual dan menampilkan fenomena kekinian akan tetapi lebih menekankan pada wacana teks. Hal itu terbukti dengan pemahamannya tehadap redaksi hadis yang berbunyi “kullu bid’atin
d}alalah” di mana kalimat kullu dimaknai keseluruhan bukan kebanyakan atau mayoritas, sehingga bisa dikatakan bahwa MTA dalam memahami hadis tersebut dengan pandangan yang sempit (tekstualis).
Selain itu, MTA juga tidak sepakat dengan varian bid’ah sebagaimana yang diterangkan oleh ulama terdahulu seperti Imam Syafi’i, as-Suyuthi, al-‘Izuddin bin ‘Abdussalam dan lainnya, MTA beralasan bahwa yang dimaksud bid’ah dalam hadis Nabi Saw adalah bid’ah dalam urusan agama (ibadah) yang sudah barang tentu secara keseluruhan adalah sesat dan kesesatan dalam urusan agama balasannya adalah neraka. Adapun bid’ah yang berkaitan dengan urusan dunia, bagi MTA, seharusnya terus diberi ruang gerak untuk berkembang selama bid’ah tersebut memberikan dampak positif dan memacu kreatifitas bagi masyarakat secara umum. Hal tersebut sesuai dengan hadis Nabi Saw yang berbunyi “man sanna sunatan hasanatan... man sanna sunatan sayiatan...”. Dengan demikian, menurut hemat penulis, sebenarnya MTA secara tidak langsung menerima adanya varian bid’ah itu sendiri namun klasifikasi berbeda dengan klasifikasi bid’ah ulama-ulama baik mutaqadimîn maupun muta’akhirîn pada umumnya melainkan klasifikasinya bertolak pada urusan agama (ibadah) dan urusan dunia.
165 Volume 4, Nomor 2, September 2014 berarti hal tersebut masuk ritual peribadatan akan tetapi nilai atau esensi bekerjanya sama dengan pahala orang melakukan ritual peribadatan Islam.
Pemahaman bid’ah dengan makna sempit seperti itu akan berdampak pada isu-isu bid’ah yang diangkat, di antaranya adalah tentang Yasinan yang mempunyai tujuan tertentu seperti mengirimkan pahala kepada mayat baik membacanya secara individu maupun berjama’ah dan sedekah atas nama mayat. Menurut MTA, ritual semacam itu tidak ada tuntunannya dalam agama, kalaupun ada hadis-hadis tentang keutamaan atau fad}ilah QS. Yasin ternyata hadisnya d}a’if dan hadis tentang sedekah atas nama mayat orang salah memahaminya. Tentang masalah tahlilan, MTA sendiri setuju dengan hal tersebut akan tetapi tahlilan dengan makna zikir bukan ritual yang berkembang di masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat jawa. Yang menjadi permasalahan adalah ritual tahlilan diadakan ketika ada kematian, di mana ritual tersebut diadakan tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, seribu hari dan lain sebagainya. MTA beralasan bahwa ritual kematian seperti itu adalah warisan agama Hindu-Budha bukan dari Islam.
Kemudian tentang tawasul, MTA mempunyai pandangan bahwa itu merupakan sebuah jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt dan dalam mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt tidak melalui orang mati melainkan dengan amal shaleh kita sendiri. Kemudian terkait dengan masalah talqin, MTA mempunyai pandangan berbeda dengan pandangan masyarakat pada umumnya, yakni yang dimaksud dengan talqin adalah menuntun orang yang sedang sakarat al-maût untuk mengucapkan kalimat la ilaha illallah bukan menuntunnya ketika mayit sudah dikebumikan. Sedangkan masalah ziarah kubur, bagi MTA, merupakan hal yang dianjurkan oleh Islam namun ziarah kuburnya hanya sekedar untuk mengingatkan kita pada kematian agar keimanan kita terus bertambah sehingga kita bisa mempersiapkan diri di hari kemudian dan ketika berziarah disunnahkan mengucapkan assalamu’alaikum ya ahla al-diyãr al-mukminîn antum salafuna wanahnulakum taba’ wainna insyaallah bikum lahikûn.
maupun keliling kampung dengan diringi dengan musik seperti bedug dan bershalawat diringi musik, bagi MTA, merupakan bagian dari bid’ah karena kesemuanya merupakan doa yang harus dilakukan dengan khusuk dan suara lirih. Namun, ketika seseorang dalam jama’ah shalat melakukan salaman setelah shalat usai tidak apa-apa jika tadi sebelum shalat belum salaman kanan kiri dan jika melakukannya berkali-kali (sebelum dan sesudah shalat dengan orang yang sama) itu tidak ada tuntunannya dalam Islam. Begitu pula dengan menghitung zikir dengan tasbih adalah hal yang sah-sah saja jika digunakan sebagai alat menghitung bahkan tidak hanya dengan tasbih tetapi juga dengan kerikil, lidi ataupun alat hitung lainnya.
Selanjutnya tentang masalah peringatan maulid Nabi Saw, bagi MTA sendiri berpendapat bahwa maulid Nabi adalah bid’ah, namun kebid’ahan maulid Nabi tersebut tidak masuk dalam urusan agama tetapi dalam urusan dunia, di mana maulid Nabi adalah satu bentuk metode dakwah Islam dan metode tersebut seharusnya dievaluasi seberapa efektif kah metode tersebut.
Kaitannya dengan kritik pemahaman hadis-hadis bid’ah, MTA tidak melakukan kritik sanad dalam mengutip hadis yang berkaitan dengan tema yang diangkat, khususnyanya tentang hadis-hadis bid’ah. MTA hanya mengutip pendapat para ulama hadis-hadis dalam kitab syarah hadisnya tentang hukum dan jarh wa ta’dîl perawi hadis. Namun, dalam memahami hadis terutama hadis-hadis bid’ah, MTA melakukan kritik matan yang selalu diuji dengan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis s}ahihlainnya, seperti pengujian hadis tentang shalat tasbih. Menurut MTA, sebagaimana dijelaskan oleh Ahamad Sukina, bahwa hadis tentang shalat tasbih tersebut bertentangan dengan al-Qur’an, seperti QS. An-Nisa’ ayat 4834 di mana Allah akan mengampuni dosa
hambanya kecuali dosa besar (syirik). Dan secara logikanya, tidak mungkin Allah mengampuni dosa hambanya hanya karena shalat sekali saja dalam seumur hidup.35 Selain melakukan kritik matan,
34 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat
dosa yang besar”.
35 Wawancara dengan Ahmad Sukina (pimpinan tertinggi) pada tanggal 08
167 Volume 4, Nomor 2, September 2014 MTA juga melakukan kritik pemahaman hadis yang menyatakan
“kullu muhdas|ãtin bid’ah wa kullu bid’atin d}alãlah wa kullu d}alãlatin fi
an-nãr” di mana diksi “kullun” menunjukkan makna semua atau keseluruhan dan menganggap diksi “kullun” tersebut tidak ada takhs}is} atas hal baru. Kemudian, hadis Nabi Saw yang berbunyi “man sanna sunatan hasanatan... man sanna sunatan sayiatan...”, menurut MTA tidaklah memberikan indikasi bahwa bid’ah mempunyai dua kategori, yakni bid’ah hasanah (mahmûdah) dan bid’ah sayyiah (maz\mûmah). Hadis tersebut hanya memberikan informasi bahwa agama Islam sangat menganjurkan umat Islam selalu termotivasi untuk membuat hal baru yang besifat positif dalam urusan dunia saja.
Dari uraian di atas, ada beberapa yang penulis perlu kritisi di antaranya adalah tentang takhrij al-hadis\. Setelah melakukan studi kritis terhadap hadis-hadis tentang bid’ah yang dikutip oleh MTA, penulis sepakat dengan apa yang dijelaskan dalam buku “Kumpulan Brosur Pengajian Ahad Pagi: Sunnah dan Bid’ah” bahwa hadis-hadis tentang bid’ah tersebut adalah s}ahih dan salah satunya maudû’. Namun, alangkah baiknya tidak hanya mengambil pendapat ulama hadis tentang keshahihan hadis, tetapi juga mengujinya terlebih dahulu agar benar-benar yakin bahwa hadis tersebut adalah s}ahih. Karena semua pendapat tentang kes}ahihan suatu hadis adalah bersifat ijtihad indiviual sehingga besar kemungkinan ada kesalahan dalam berijtihad.
Selanjutnya, tentang hadis “man sanna sunatan hasanatan... man sanna sunatan sayiatan...” yang dimaknai sebagai bentuk anjuran agama agar umat Islam selalu termotivasi membuat hal baru yang bersifat positif dalam urusan dunia saja, menurut penulis, kurang tepat. Jika melihat hadis lain yang berbunyi sebagai berikut:
ْنَمإ
ِلَذ ُصُقْ َ ي ََ ،َُِعِبَت ْنَم ِروُجَُ ُ ْثِم ِرْجَْْا َنِم َُِل َ اَك ،ىادُه َلِِ اَعَد
ْنِم َك
َت ْنَم ِمََآ ُ ْثِم ِِْْْْا َنِم َِِْْلَع َ اَك ،ٍةَل َََض َلِِ اَعَد ْنَمََ ،اائْ َْش َِْهِروُجَُ
ََ ،َُِعِب
.إاائْ َْش َِْهِمََآ ْنِم َكِلَذ ُصُقْ َ ي
.َلسم اَر
169 Volume 4, Nomor 2, September 2014
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
‘Abisan al-Mut}iri, Hakim, Tarikh Tadwin as-Sunnah wa Subhãt al-Mustasyriqîn, Safat: Kuwait University, 2002.
Abdul Fattah, Munawir, Tradisi Orang-Orang NU, cet. 6, Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara, 2008.
Al-‘Afraj, Abdul Ilah bin Husain, Konsep Bid’ah dan Toleransi Fiqih, terj. Mohamad Taufiq Q. Hulaimi dkk, Jakarta: Al-I’tishom, 2013. _______, Abdul Ilah bin Husain, Mafhûm al-Bid'ah wa As}ãruhu fi
Id}t}irãb al-Fatãwa al-Mu'ãs}irah; Dirasah Ta's}îliyah Tat}bîqiyah, Yordan: Dar al-Fath, 2012.
Al-'Aini, Badaruddin, 'Umadat al-Qãri Syarh S}ahih al-Bukhãri, juz. 23, Beirut: Dar Ihya al-Turas\ al-'Arabi, 2010.
Al-'Arabi, Abu Bakar Ibnu, al-Qibsu fi Syarh Muwat}t}a' Malik bin
Anas, juz. 1, Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1992.
Al-Ashfahani, Abu Na'im Ahmad bin 'Abdullah, Hilyat al-Auliã' wa
T}abaqãt al-As}fiyã', cet. IV, juz. 9, Beirut: Dar al-Kutub al'Arabi, 1405 H.
Al-Barhanfuri, 'Ilauddin 'Ali bin Hisamuddin al-Hindi, Kanz al-'Umãl, tahqiq Bakri Hayani dkk, juz. 1, Kairo: Muasasah al-Risalah, 1981.
Al-Farmawi, Abd al-Hay, Al-Bidãyah fi at-Tafsir al-Maud}u’i: Dirasah
Manhajiyyah Maud}u'iyyah, t.tp: Matba’ah al-Hadarah, 1977. Al-Hajaj, Imam Muslim, S}ahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad
'Abdul Baqi, juz. 2, Beirut: Dar Ihya al-Turas\ al-Arabi, tt.
Al-Hasani, Hãsyim Ma'rouf, Dirasãt fi al-Hadîs| wa al-Muhadis|ûn, Beirut: Dar al-Ta'aruf lil Mat}bu'ãt, tt.
Ali, Nizar, Memahami Hadis Nabi: Metode dan Pendekatan, Yogyakarta: Center for Educational Studies and Development (CESaD) YPI Al-Rahmah, 2001.
Al-'Irâqi, Abou al-Fad}l, At-Taqyid wa Al-Id}ãh Syarh Muqadimah Ibnu
As}-S}alãh, tahqiq Abdurrahman Muhammad Utsman, Madinah: Muhammad Abdul Muhsin Al-Kutubi, 1969. Al-'Iz bin 'Abdussalam, Qawã'id al-Ahkãm fi Mas}ãlih al-Anãm, juz. 2,
Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, tt.
Al-Jauzi, 'Abdurrahman bin 'Ali, Zãd al-Musayar fi 'Ilm at-Tafsîr, cet. III, juz. 8, Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1404 H.
Al-Kallabaz\i, Abu Nas}r, Rijãl S}ahih al-Bukhari, tahqiq Abdullah al-Laitsi, juz. 2, Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1407 H.
Al-Khathib, ‘Ajaj, Us}ûl al-Hadîs|;’Ulûmuhu wa Mus}t}alahuhu, Beirut: Dar al-Fikr, 1971.
Al-Khudair, 'Abdul Karim, Syarah Muqadimah Sunan Ibnu Majah, juz. 7, Maktabah Syamela Ver. 3.5 - CD-ROM.
Al-Mazi, Jamaluddin, Tuhfat al-Asyraf bi Ma’rifat al-At}rãf, tahqiq 'Abdushshamad Syarafuddin, juz. 14, Kairo: Dar al-Qimah, 1983.
Al-Qaht}ani, Sa'id bin 'Ali bin Wahf, Nûr as-Sunnah wa Z|ulumãt
al-Bid'ah fi D}u'i al-Kitãb wa as-Sunnah, Riyad}: Muasasah al-Jarisi, 1419 H.
Al-Qarafi, Al-Furûq wa Anwãr al-Burûq fi Anwã' al-Furûq, juz. 4, Beirut: Dar al-Ma'rifah, tt.
Al-Qast}alani, Sihabudin, Irsyãd al-Sãrî li Syarh S}ahih al-Bukhãri, juz. 10, Kairo: al-Mathba'ah al-Kubra al-Amiriyah, 1323 H.
Al-'Us\aimin, Muhammad bin Shâlih bin Muhammad, Mus}t}alah
al-Hadîs\, Kairo: Maktabah al-'Ilm, 1994.
171 Volume 4, Nomor 2, September 2014 __________, At-Taqrîb wa at-Taisîr li Ma'rifah Sunan al-Basyîr
an-Naz|îr fi Us}ûl al-Hadîs|\, tahqiq Muhammad Us\man al-Khasyat, juz. 1, Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1985.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Praktik, Jakarta: PT. Bina Aksara, 1986.
As-Sijistani, Abu Daud, Sunan Abu Daud, tahqiq Syu'aib al-Arnauth dkk, cet. 1, juz. 7, Beirut: Dar al-Risalah al-'Alamiyah, 2009. _________, Abu Daud, Sunan Abu Daud, tahqiq Syu'aib al-Arnauth
dkk, cet. 1, juz. 5, Beirut: Dar al-Risalah al-'Alamiyah, 2009.
As}-S}idiqî, Hasbi, Criteria Antara Sunnah dan Bid’ah, cet. II, Jakarta:Bulan Bintang, 1967.
Asy-Syaqîry, Muhammad Abdussalam Khadr, Bid’ah-Bid’ah Yang Dianggap Sunnah, terj. Ahmad Munir Awood Badjeber dkk, cet. 15, Jakarta: Qisthi Press, 2008.
Asy-Syat}ibi, Al-I'tishãm, tahqiq Salim bin 'Id al-Hilali, juz. 1, Riyad}: Dar Ibnu 'Afan, 1992.
At-Tuwaijari, 'Abdullah bin 'Abdul 'Aziz bin Ahmad, Al-Bida' al-Hauliyah, Riyad}: Program Pascasarjana Muhammad bin Sa'ud al-Islamiyah University, 1406 H.
Furchan, Arief, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, Surabaya, Usaha Nasional, 1992.
Halimah, Nur, Manajemen Produksi Siaran Langsung “Jihad Pagi” di Radio Majelsi Tafsir Al-Qur’an (MTA) FM Surakarta, Yogyakarta: Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga, 2011.
Hamidah, Rid}a Zakariya Muhammad Abdullah, Al-Irsyãd Ila Kaifiyah Dirasat al-Isnad, Kairo: Maktabah Al-Iman, 2008.
Ibnu al-As\îr, Jami' al-Us}ûl fi Ahãdîs| ar-Rasûl, juz. 5, Beirut: Dar Al-Fikr, 1972.
Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bãrî, juz. 13, Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H.
Ibnu Hajar, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996.
Ibnu Manz\ûr, Lisân al-'Arab, cet. III, juz. 8 dan 11, Beirut: Dar S}ãdir, 1414 H.
Ibnu Rajab, Jãmi' al-'Ulûm wa al-Hukm fi Syarh Khamsîn Hadîs}an min
Jawã'mi' al-Kalam, tahqiq Muhammad Ahmadi Abu al-Nur, juz. 1, Kairo: Dar as-Salam, 2004.
Ibnu Taimiyah, Iqtid}ã' as}-S}irât} Mustaqîm li Mukhãlafah As}hãb
al-Jahîm, tahqiq Nashir Abdurrahman al-'Aql, juz. 1, Beirut: Dar 'Alam al-Kutub, 1999.
Imam Syafi’i, Ar-Risãlah, Beirut: Darul al-Kutub al-Ilmiyah, 2008. Jinan, Mutohharun, Kepemimpinan Imamah Dalam Gerakan Purifikasi
Islam di Pedesaan, Yogyakarta: Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2013.
Ma’shum bin ‘Ali, Muhammad, Al-Ams|ilãt at-Tas}rîfiyah, Surabaya: Maktabah Syeikh Salim bin Sa’d Nabhan, tt.
Mawardi, “Hermeneutika Al-Qur’an Fazlur Rahman” dalam Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadis, editor Sahiron Syamsudin, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2010.
Mazid, ‘Ali ‘Abdul Basit}, Taisir Mus}t}alah al-Hadîs| wa ‘Ulûmihi, Kairo: Maktabah al-Iman, 2011.
Minhaji, Ahmad, Strategies For Social Research: The Methodological Imagination In Islamic Studies, Yogyakarta: SUKA-Press, 2009. MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an), Kumpulan Brosur-Brosur Pengajian
Ahad Pagi Sunnah dan Bid’ah, Surakarta: MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an), tt.
173 Volume 4, Nomor 2, September 2014 Munawwar, Said Agil Husain, dan Abdul Mustaqim, Asbãb al-Wurûd,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
Mutoharoh, Dina, Perencanaan Produksi Berita di MTA TV, Yogyakarta: Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga, 2010. Nisa’, Mir’atun, Pemahaman Terhadap Al-Qur’an Dalam Rubrik Tausiyah
di Majelis Tafsir Al-Qur’an, Yogyakarta: Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2011.
Sumardjono, Maria S.W., Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian Sebuah Panduan Dasar, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001. Surakhmat, Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung: Tarsito,
1992.
Suryadi, Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi Perspektif Muhammad Al-Ghazali dan Yusuf Al-Qard}awi, Yogyakarta: TERAS, 2008. Syafi’ah, Khulwatin, Sunnah dan Bid’ah Dalam Pandangan K.H. Hasyim Asy’ari: Telaah Terhadap Kitab Risalah Ahl as-Sunnah wa
al-Jama’ah, Yogyakarta: Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, 2003.
Brosur-Brosur:
Brosur Ahad, 09 Januari 2008 No. 1406/1446/IF tentang “Kedudukan Hadits-Hadits Fadlilah Yaasin (ke-1).
Brosur Ahad, 20 Januari 2008 No. 1407/1447/IF tentang “Kedudukan Hadits-Hadits Fadlilah Yaasin (ke-2).
Brosur Ahad, 03 Febuari 2008 No. 1409/1449/IF tentang “Kedudukan Hadits-Hadits Fadlilah Yaasin (ke-4).
Brosur Ahad, 10 Febuari 2008 No. 1410/1450/IF tentang “Kedudukan Hadits-Hadits Fadlilah Yaasin (ke-5).
Pengajian Ahad Pagi di kantor pusat MTA di Surakarta pada tanggal 27 April 2014.
Pengajian Ahad Pagi pada tanggal 02 Desember 2007 dalam file MP3.
Pengajian Ahad Pagi pada tanggal 03 Febuari 2008 dalam file MP3. Pengajian Ahad Pagi pada tanggal 10 Febuari 2008 dalam file MP3. Pengajian Ahad Pagi pada tanggal 13 Januari 2008 dalam file MP3. Pengajian Ahad Pagi pada tanggal 25 November 2007 dalam file
MP3.
Pengajian Ahad Pagi pada tanggal 27 Januari 2014 dalam file MP3. Pengajian Ahad Pagi tanggal 20 Febuari 2008 dalam file MP3.
Pengajian Ahad Pagi tanggal 20 Januari 2008 dalam file MP3. Profil Yayasan Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA), CD-ROM.
Software:
Jawâmi’ al-Kalim Versi 4.5. Maktabah Shamela Versi 3.57.
Website:
Hasyim Asy'ari, Risalah Ahl as-Sunnah, terj. A. Zainul Hakim, hlm. 7-14. dalam file Pdf. www.kangridho.blogspot.com diakses 03 Mei 2014.
http://vb.uiraqi.com/t51863.html diakses pada tanggal 13 Mei 2014.
http://www.mta-online.com/ (diakses 29 Oktober 2013).
Rofiuddin, Melarang Tahlilan, KPI Jawa Tengah Tegur Radio MTA Solo,
(TEMPO Online Kamis, 28 Mei 2009),
175 Volume 4, Nomor 2, September 2014 www.mta.or.id diakses pada tanggal 30 April 2014.
Wawancara:
Wawancara dengan Ahmad Sukina (pemimpin tertinggi MTA) pada tanggal 30 Maret 2014.
Wawancara dengan Ahmad Sukina (pemimpin tertinggi MTA) pada tanggal 27 April 2014.
Wawancara dengan Ahmad Sukina (pemimpin tertinggi MTA) pada tanggal 8 Mei 2014.
Wawancara dengan Khalid (biasa dipanggil Ipung) dari istri pertamanya (Alm. Ibu Fathiyati) Ahmad Sukina pada bulan 20 Febuari 2014.
Wawancara dengan Khalid (biasa dipanggil Ipung) dari istri pertamanya (Alm. Ibu Fathiyati) Ahmad Sukina pada tanggal 08 Mei 2014.
Wawancara dengan Masduki (ahli Ilmu MTA) pada tanggal 30 Maret 2014.
Wawancara dengan Masduki (ahli ilmu MTA) pada tanggal 27 April 2014.
Wawancara dengan Masduki (ahli ilmu MTA) pada tanggal 8 Mei 2014.