• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR KONSEP PENYAKI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR KONSEP PENYAKI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 2615-1650 Vol. I No.1, Feb 2018

PENINGKATAN HASIL BELAJAR KONSEP PENYAKIT SOSIAL DALAM PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DENGAN

MODEL PEMBELAJARAN DLPS (DOUBLE LOOP PROBLEM SOLVING)

Ekana Takari Widiyastuti SMPN 13 CIREBON ABSTRAK

DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap yang menyebabkan munculnya masalah tersebut. Prosedur penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan berdasarkan tahapan-tahapan sebagai berikut: (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi.

Model Pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada topik segitiga Peningkatan hasil belajar tugas no 1 adalah 25-15=10. Selisih tugas no 2 adalah 25-16=9. Selisih tugas no 3 adalah 25-16=9. Selisih tugas no 4 adalah 25-13=12. Rata-rata ketercapaian tugas adalah 100-60=40. Peningkatan hasil kelompok I adalah 18%; kelompok II adalah 20%; Kelompok III adalah 24%; kelompok IV adalah 20%; Kelompok V adalah 18%.

Kata kunci:Hasil belajar, model pembelajaran DPLS

PENDAHULUAN

Kemampuan memahami perubahan Penyakit Sosial merupakan suatu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa kelas VIII. Pembelajaran Penyakit Sosial telah peneliti lakukan dengan praktek langsung di lapangan. Hasil pembelajaran tersebut ternyata di bawah Kriteria Ketercapaian Minimal (KKM). Hasil refleksi peneliti diperoleh data bahwa hasil belajar siswa mengenai Penyakit Sosial masih rendah. Hal ini merupakan gambaran kegagalan praktek langsung di lapangan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menawarkan peluang sebagai strategi pengembangan kinerja, sebab pendekatan penelitian ini menempatkan pendidik dan tenaga kependidikan lain sebagai agen pengubah yang pola kerjanya bersifat kolaboratif.

DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut.

(2)

ISSN 2615-1650 Vol. I No.1, Feb 2018

utama.Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kompetensi dasar di atas setelah ditambah dengan Model Pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving) sehingga berubah menjadi Penyakit Sosial dengan Model Pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving).

Pada dasarnya setiap orang memiliki potensi kreatif, tetapi dibutuhkan kondisikondisi tertentu, baik kondisi-kondisi eksternal (dari lingkungan dalam arti kata sempit dan luas, mencakup kondisi sosio-kultural dan politis) maupun kondisi-kondisi internal (pribadi, dalam diri individu) agar dapat muncul, tumbuh dan berwujud menjadi karyakarya kreatif yang bermakna untuk individu dan masyarakat. Jadi, hasil kegiatan kreativitas disini merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya. Seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada, dengan demikian baik perubah di dalam peserta didik maupun lingkungan dapat menunjang atau menghambat upaya kreatif. Implikasinya adalah bahwa kemampuan kreatif dapat ditingkatkan melalui pendidikan.

Dengan konsep belajar tersebut, peniliti merasa yakin bahwa hasil belajar Penyakit Sosial akan meningkat secara signifikan. Oleh karena itu peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas di SMP dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Konsep Penyakit Sosial dalam Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan Model Pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving) (PTK pada Siswa Kelas VIII SMPN 13 CIREBON)”.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan berdasarkan tahapan-tahapan sebagaimana yang dikemukakan Kasihani Kasbolah (1999:78) yaitu : (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi. Instrument yang digunakan observasi dan tes. Hasil tes berupa angka sehingga teknik pengolahan data yang digunakan adalah teknik kuantitatif. Teknik kuantitatif yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut. Peneliti mencari selisih hasil tes siklus pertama dan siklus kedua. Selisih siklus pertama dan keuda merupakan hasil belajar siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data hasil diskusi kelompok atau hasil tes setiap kelompok pada siklus pertama dan siklus kedua adalah data yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar pembelajaran Model Pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving). Karena teknik pengolahan data yang digunakan adalah teknik kuantitatif, data tersebut berupa angka. Sedangkan teknik kuantitatif yang digunakan peneliti dalam pembelajaran sehari-hari adalah mencari selisih hasil belajar atau hasil tes siklus pertama dan siklus kedua. Adapun selisih-selisih yang dicapai adalah: (1) Peneliti mencari selisih ketercapaian setiap tugas siklus kedua dengan siklus pertama, (2) Peneliti mencarai selisih ketercapaian seluruh tugas dari setiap kelompok siklus kedua dan siklus pertama, (3) Hasil pengolahan data tersebut dibuat diagram batang dan diagram lingkaran.

(3)

ISSN 2615-1650 Vol. I No.1, Feb 2018

 Menjelaskan mengenai pengertian Penyakit Sosial berdasarkan buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII

 Menjelaskan jenis-jenis Penyakit Sosial berdasarkan buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII

 Menjelaskan cara penanggulangan Penyakit Sosial berdasarkan buku

pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII

 Menjelaskan mengenai penyakit sosial di lingkungan sekolah berdasarkan buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII

Langkah-langkah :

 Kegiatan Pendahuluan:

 Memberi salam dan mengabsen.

 Apersepsi materi.  Kegiatan Inti:

 Guru menerangkan pelajaran

 Guru melakukan diskusi kelas

 Memberikan contoh soal

 Siswa mengerjakan tes  Kegiatan Penutup:

 Guru memberikan kesimpulan

 Melakukan refleksi materi Siklus II

Indikator

 Menjelaskan mengenai pengertian Penyakit Sosial dengan menggunakan model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving)

 Menjelaskan jenis-jenis Penyakit Sosial dengan menggunakan model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving)

 Menjelaskan cara penanggulangan Penyakit Sosial dengan menggunakan

model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving)

 Menjelaskan mengenai penyakit sosial di lingkungan sekolah dengan

menggunakan model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving) Langkah-langkah :

 Kegiatan Pendahuluan:

 Memberi salam dan mengabsen.

 Apersepsi materi, dan motivasi pentingnya materi.

 Memberikan motivasi siswa  Kegiatan Inti:

 Guru membentuk kelompok

 Guru melakukan identifkasi, deteksi kausal pada pelajaran Penyakit Sosial  Guru mencari solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi

kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih Penyakit Sosial

 Langkah penyelesaian masalah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama.

(4)

ISSN 2615-1650 Vol. I No.1, Feb 2018

 Guru memberikan kesimpulan

 Melakukan refleksi materi yang telah dibahas

1. Ketercapaian Setiap Tugas

Berdasarkan penjelasan diatas, berikut ini meneliti mencantumkan ketercapaian setiap tugas dari setiap kelompok pada siklus pertama dengan kedua. Pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.3

Skor Ketercapaian Tugas

Tugas Ke-

Siklus Pertama Siklus Kedua

I II III IV V Rata2 I II III IV V Rata2

1 15 15 15 15 15 15 25 25 25 25 25 25

2 20 15 15 15 15 16 25 25 25 25 25 25

3 15 20 15 15 15 16 25 25 25 25 25 25

4 15 15 10 10 15 13 25 25 25 25 25 25

Rata2 16.25 16.25 13.75 13.75 15 15 25 25 25 25 25 25 Hasil

Belajar

65 65 55 55 60 60 100 100 100 100 100 100

Selisih tugas no 1 adalah 25-15=10. Selisih tugas no 2 adalah 25-16=9. Selisih tugas no 3 adalah 25-16=9. Selisih tugas no 4 adalah 25-13=12. Rata-rata ketercapaian tugas adalah 100-60=40

Berikut ini peneliti sajikan peningkatan ketercapaian tugas yang merupakan peningkatan hasil belajar dalam bentuk diagram batang sebagai berikut.

Diagram 4.1

Peningkatan Hasil Belajar Setiap Soal

Tes yang digunakan adalah tes mengenai materi pembelajaran Penyakit Sosial. Tes dilakukan untuk mengetahui pengaruh penyampaian materi pada siswa. Tes yang dilakukan berupa tes esay yang terdiri dari empat soal. Setiap soal berbobot 25%. Nilai maksimal adalah 100. Peneliti membuat empat soal dalam tes, yaitu:

 Jelaskan mengenai pengertian Penyakit Sosial  Jelaskan jenis-jenis Penyakit Sosial

 Jelaskan cara penanggulangan Penyakit Sosial

 Jelaskan mengenai penyakit sosial di lingkungan sekolah

Pada diagram 4.1 menunjukan peningkanan hasil belajar dari setiap soal, dapat dilihat bahwa pembelajaran Model Pembelajaran DLPS (Double Loop

0 2 4 6 8 10 12

1 2 3 4

(5)

ISSN 2615-1650 Vol. I No.1, Feb 2018

Problem Solving) dapat peningkatan hasil belajar setiap tugas menunjukan hasil yang merata. Hal ini berarti bahwa siswa telah memahami materi Penyakit Sosial secara keseluruhan karena keempat soal tersebut diambil berdasarkan indikator keberhasilan pembelajaran Penyakit Sosial. Indikator keberhasilan Penyakit Sosial terdiri dari:

Siklus I

 Menjelaskan mengenai pengertian Penyakit Sosial berdasarkan buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII

 Menjelaskan jenis-jenis Penyakit Sosial berdasarkan buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII

 Menjelaskan cara penanggulangan Penyakit Sosial berdasarkan buku

pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII

 Menjelaskan mengenai penyakit sosial di lingkungan sekolah berdasarkan buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII

Siklus II

 Menjelaskan mengenai pengertian Penyakit Sosial dengan menggunakan model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving)

 Menjelaskan jenis-jenis Penyakit Sosial dengan menggunakan model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving)

 Menjelaskan cara penanggulangan Penyakit Sosial dengan menggunakan

model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving)

 Menjelaskan mengenai penyakit sosial di lingkungan sekolah dengan

menggunakan model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving) Selanjutnya peneliti mencari perbandingan ketercapaian seluruh tugas yang dijelaskan dalam bentuk diagram lingkara, sebagai berikut.

Diagram 4.2

Ketercapaian Hasil Belajar Setiap Soal

Selanjutnya peneliti akan mencari perbandingan ketercapaian seluruh tugas sebagai berikut. Perbandingan ketercapaian tugas nomor 1 sampai 4 adalah 10:9:9:12=40. Selanjutnya masing-masing angka ketercapaian tugas dibagi 40 lalu dibagi 100. Dengan perhitungan (10/40x100%=24%), (9/40x100%=23%), (9/40x100%=23%), (12/40x100%=30%). Jadi perbandingan hasil ketercapaian terhadap tugas sebagai berikut: 24 : 23 : 23: 30 = 100.

Pada diagram 4.2 menunjukan peningkanan hasil belajar dari setiap soal. Warna biru menunjukan soal nomor 1, warna merah menunjukan soal nomor 2, warna kuning menunjukan soal nomor 3, warna biru muda menunjukan soal nomor 4. Pada siklus kedua hasil belajar siswa mencapai nilai maksimal yaitu benar 100%, dengan jumlah soal empat dan bobot soal 25% setiap soal. Berdasarkan Diagram 4.2 dapat dilihat bahwa pembelajaran Model Pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving) dapat peningkatan hasil belajar setiap tugas menunjukan hasil yang merata.

(6)

ISSN 2615-1650 Vol. I No.1, Feb 2018

2. Ketercapaian Seluruh Tugas

Berdasarkan tabel 4.3, berikut ini peneliti mencantumkan data ketercapaian seluruh tugas dari setiap kelompok pada siklus I dan siklus II. Ketercapaian hasil belajar kelompok I adalah 100-65=35; kelompok II adalah 100-65=35; Kelompk III adalah 100-55=45; kelompok IV adalah 100-55=45; Kelompok V adalah 100-60=40. Data tersebut menunjukan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar kelompok pada materi Penyakit Sosial. Berikut ini peneliti sajikan diagram ketercapaian seluruh tugas sebagai berikut.

Diagram 4.3

Hasil Belajar Setiap Kelompok

Diagram 4.3 adalah diagram batang yang menjelaskan mengenai peningkatan hasil belajar setiap kelompok. Diagram batang 4.3 berbeda dengan Diagram batang 4.1, pada Diagram batang 4.3 peneliti menjelaskan mengenai peningkatan hasil belajar setiap kelompok dan pada Diagram batang 4.1 peneliti menjelaskan mengenai peningkatan hasil belajar setiap soal. Telah terjadi peningkatan hasil belajar kelompok yaitu. ketercapaian seluruh tugas dari setiap kelompok pada siklus I dan siklus II. Peningkatan hasil belajar Peningkatan hasil belajar kelompok I adalah 35; kelompok II adalah 35; Kelompk III adalah 45; kelompok IV adalah 45; Kelompok V adalah 40.

Perbandingan tugas hasil belajar kelompok I, II, III, IV, V adalah 35:35:45:45:40=200. Selanjutnya masing-masing ketercapaian tugas dibagi 200 lalu dibagi 100. Dengan perhitungan (35/200x100%=17%), (35/200x100%=17%), (45/200x100%=23%), (45/200x100%=23%), (40/200x100%=20%). Berdasarkan data perbandingan tersebut, peneliti menyajikan diagram lingkaran sebagai berikut.

Diagram 4.4

Ketercapaian Hasil Belajar Setiap Kelompok

0 10 20 30 40 50

I II III IV V

Tugas

(7)

ISSN 2615-1650 Vol. I No.1, Feb 2018

Hasil observasi Siswa

Siklus I

 Menjelaskan mengenai pengertian Penyakit Sosial berdasarkan buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII (dinilai kurang baik)

 Menjelaskan jenis-jenis Penyakit Sosial berdasarkan buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII (dinilai kurang baik)

 Menjelaskan cara penanggulangan Penyakit Sosial berdasarkan buku

pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII (dinilai kurang baik)

 Menjelaskan mengenai penyakit sosial di lingkungan sekolah berdasarkan buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII (dinilai kurang baik) Siklus II

 Menjelaskan mengenai pengertian Penyakit Sosial dengan menggunakan model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving) (dinilai baik/meningkat dari siklus I ke siklus II)

 Menjelaskan jenis-jenis Penyakit Sosial dengan menggunakan model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving) (dinilai baik/meningkat dari siklus I ke siklus II)

 Menjelaskan cara penanggulangan Penyakit Sosial dengan menggunakan

model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving) (dinilai baik/meningkat dari siklus I ke siklus II)

 Menjelaskan mengenai penyakit sosial di lingkungan sekolah dengan

menggunakan model pembelajaran DLPS (Double Loop Problem Solving) (dinilai baik/meningkat dari siklus I ke siklus II)

Hasil observasi

Siklus I guru menerangkan satu arah dan sswa kurang aktif dalam KBM, Siklus II guru melakukan KBM di kelas secara dua arah, siswa terlihat antusias dan tertarik pada cara pengajaran guru. Siklus I, kelas cenderung gaduh dan kurang terkontrol, Pembelajaran di kelas kurang kondusif. Siklus II, kelas dapat terkontrol dengan baik, dan pembelajaran di kelas terlihat aktif dan terkendali.

SIMPULAN

(8)

ISSN 2615-1650 Vol. I No.1, Feb 2018

DAFTAR PUSTAKA

Dahlan, MD. 1990. Model-model Mengajar. Bandung: CV Diponogoro

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Depdiknas.

Kasbolah, Kasihani. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Malang: Depdikbud

Mafrukhi, Hanif Nurcholis. 2014. Saya Senang Berbahasa Indonesia (Untuk SD Kelas V). Erlangga: Jakarta

Maleong. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosadakarya

Permen Diknas. 2014. Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Rahman. (2014). Alternatif Model Penelitian Tindakan Kelas. Panduan Seminar Nasional Pendidikan

Sadulloh, Uyih, dkk. 2014. Pedagogik. Bandung: Cipta Utama

Sarwono, B. Membuat tempe dan oncom. Jakarta : PT. Penebar Swadaya, 1982. Hal. 10-15.

Soedarsono. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Bagian Kedua Rencana, Desain, dan Implementasi. Yogyakarta: Depdikbud Suparman, Atwi. 1997. Model-model Pembelajaran Interaktif. Jakarta:

STIALAN Press

Gambar

Tabel 4.3 Skor Ketercapaian Tugas

Referensi

Dokumen terkait

Pada kasus di mana tidak ada pemain yang menyerah, maka cara yang dilakukan untuk menentukan pemenangnya adalah dengan membandingkan kekuatan dari kombinasi lima kartu

Menurut Heddy Shri Ahimsa-Putra, sebuah festival seni rakyat merupakan sebuah upaya untuk memuliakan kesenian rakyat (2007: 232). Ahimsa berpendapat, penyelenggaraan

Melihat kembali konteks pemilihan kepala daerah yang terdapat dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 yang menyatakan: “Gubernur, Bupati dan Walikota masing- masing

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Analisis dan Perancangan

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kedisiplinan pemimpin madrasah dan motivasi kerja guru secara bersama-sama terhadap kinerja guru MTs di Kecamatan

Padang lamun merupakan suatu penciri dari suatu perairan yang memiliki kondisi lingkungan yang subur, dengan suburnya perairan tersebut menyebabkan ikan dengan mudah

Abdurrahman Konoras , Op-cit, hal. ketentuan peralihannya, maka hal tersebut merupakan hukum tradisional yang memerlukan waktu untuk penyesuaiannya. Terkait erat dengan

Kekakuan dimulai pada tempat masuk kuman atau pada otot masseter (trismus), pada saat toxin masuk ke sungsum belakang terjadi kekakuan yang makin berat, pada extremitas,