PEDOMAN
PENILAIAN PEMBELAJARAN PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI NONFORMAL DAN INFORMAL
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI 2014
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL
Kurikulum dipandang sebagai jantungnya sebuah program pendidikan. Kurikulum dapat dipandang sebagai strategi dan cara yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan secara nasional. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyadari betapa pentingnya kedudukan dan peran kurikulum sebagai suatu elemen yang memberi arah dalam program pendidikan. Seyogyanya kurikulum mengarah kepada pemebentukan kompetensi output pendidikan yang bagaimana yang diharapkan. Kompetensi tersebut diharapkan selaras dengan kompetensi yang dituntut sesuai dengan era atau zaman dimana anak menjalani kehidupannya.
Kurikulum 2013 sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada dasarnya penguatan terhadap kurikulum sebelumnya dan pengembangan pada aspek struktur kurikulum, proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik, dan penilaian yang bersifat otentik. Kurikulum 2013 mengusung pada pengembangan kurikulum konstruktivisme yang lebih bersifat fleksibel dalam pelaksanaan tetapi lebih member ruang pada anak untuk mengembangkan potensi dan talentanya. Model pendekatan kurikulum tersebut berlaku dan ditetapkan di seluruh tingkat serta jenjang pendidikan sejak Pendidikan Anak Usia Dini hingga pendidikan menengah. Keajegan model pendekatan disemua jenjang ditujukan untuk membentuk sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik yang lebih konsisten sejak awal, sehingga diharapkan peserta didik mampu berkembang menjadi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang keatif, inovatif, dan berdaya saing dalam lingkup yang lebih luas.
Sebagai jenjang paling dasar, Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini diharapkan menjadi fundamental penyiapan peserta didik menjadi lebih siap dalam memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi. Untuk pencapaian tujuan tersebut maka perlu diberikan pedoman, pelatihan, dan acuan-acuan yang dapat dijadikan sebagai rujukan para pendidik menerapkan kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini di satuan pendidikannya.
Kami berkeyakinan dengan tekad untuk memajukan negara Indonesia yang lebih maju melalui layanan pendidikan yang lebih baik, maka penerapan Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini merupakan suatu keniscayaan. Terima kasih
Jakarta, Agustus 2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberkahi kita semua sehingga Penyusun Pedoman Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini terselesaikan sesuai waktu yang ditetapkan. Pedoman Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini sebagai jembatan penghubung dari kajian yuridis, filosofis, sosiologis, teoretis, dan pedagogis yang menjadi landasan pengembangan kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini menjadi langkah praktis dalam menerapkan kurikulum 2013 kepada peserta didik di satuan PAUD masing-masing.
Pedoman-pedoman disusun sesederhana mungkin agar mampu dipahami oleh seluruh pendidik Pendidikan Anak Usia Dini yang sangat beragam dan tersebar dengan tetap merujuk pada teori-teori yang melandasinya. Pedoman-pedoman implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini ini bersifat terbuka dan fleksibel. Artinya sangat memungkinkan pada penerapannya disesuaikan dengan kondisi, potensi, dan budaya setempat. hal yang paling diusung dalam Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini adalah keterbukaan kita menerima perubahan cara berpikir, perubahan kebiasaan, perubahan sikap. Perubahan tersebut akan berimbas pada perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.
Untuk semua usaha yang telah dilakukan, kami mengucapkan terima kasih kepada Tim Penyusun, Tim Penelaah, Tim Reviewer yang telah bekerja keras memfinalkan pedoman implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini.
Terima kasih.
Jakarta, Agustus 2014
Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini,
DR. Erman Syamsuddin
Sambutan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal 2
Kata Pengantar 3
Daftar Isi 4
Bab I. Pendahuluan 5
A. Latar Belakang 5
B. Tujuan 6
C. Dasar 6
D. Sasaran 6
E. Ruang Lingkup 6
Bab II. Pendahuluan
A. Definisi Penilaian 8
B. Tipe Penilaian 9
C. Aspek Penilaian 9
D. Tahap Penilaian 10
E. Penggabungan Data Hasil Belajar Anak 17
F. Pengolahan Data Hasil Belajar Anak 18
G. Pengarsipan Data Hasil Belajar Anak 21
H. Pelaporan 23
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penilaian dan pelaporan perkembangan anak usia dini merupakan bagian penting dalam rangkaian program pendidikan anak usia dini. Penilaian dan pelaporan memiliki banyak makna dan tujuan yang utamanyanya berpusat pada bagaimana memahami anak dan member program yang lebih sesuai dengan perkembangan anak. Hal yang perlu ditegaskan dalam tujuan penilaian, proses penilaian, pelaporan penilaian, dan bagaimana menindaklanjuti hasil penilaian untuk perbaikan layanan atau peningkatan layanan yang paling sesuai dengan anak.
Penilaian dan pelaporan pada pendidikan anak usia dini harusnya tidak difokuskan pada hasil yang ingin dicapai oleh sehingga guru kurang member perhatian yang cukup pada bagaimana anak belajar, atau yang anak perlukan yang terkait dengan konteks lingkungan anak. Penilaian pada program pendidikan anak usia dini. memang bukan hal yang sederhana karena banyak factor yang diperhatikan, dan memerlukan keseriusan pada saat pengumpulan fakta, pemahaman terhadap perkembangan dan indicator yang dimunculkan anak melalui perilakunya saat bermain, ketelitian mengamati tanpa dicampuri dengan asumsi-asumsi, dan obyektivitas di dalam pencgelolaan fakta sehingga menjadi data yang menggambarkan siapa dan abagaimana anak sesungguhnya. Data-data inilah yang kemudian dikomunikasikan kepada orang tua untuk ditindaklanjuti bersama baik di satuan PAUD maupun pengasuhan di rumah.
Menyadari kerumitan tersebut, maka dipandang perlu untuk disusun pedoman pelaksanaan penilaian dan pelaporan pada program pendidikan anak usia dini.
1. Membantu pendidik PAUD untuk memahami konsep penilaian pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013
2. Meningkatkan kemampuan pendidik PAUD dalam melaksanakan penilaian Pembelajaran berdasarkan kurikulum PAUD 2013
C. Dasar
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
4. Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
5. Peraturan Menteri No. 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini;
6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. …… Tahun 2014 tentang Implementasi Kurikulum PAUD 2013
D. Sasaran
Sasaran pengguna pedoman ini adalah:
1. Pendidik PAUD 2. Pengelola PAUD 3. Orangtua
4. Pihak lain yang terkait dengan Pendidikan Anak Usia Dini
BAB II UMUM
usianya harusnya menjadi kemampuan yang dipersyaratkan bagi pendidik PAUD. Melalui kegiatan penilaian, banyak hal yang dapat dikembangkan. .
A. Definisi Penilaian
Penilaian merupakan suatu proses pengum[ulan informasi tentang anak untuk memahami dan mendukung kegiatan pembelajaran serta perkembangan anak yamg lebih baik. Penilaian mencakup perilaku, keterampilan, kemampuan, kesukaan, dan interaksi anak dengan anak, anak dengan guru, dan anak dengan bahan/alat main. Hasil penilaian dapat menjabarkan beberapa informasi yang lebih rinci tentang apa saja yang anak ketahui dan yang dapat dilakukan anak. Penilaian juga merupakan proses menafsirkan berbagai informasi secara sistematis, berkala, berkelanjutan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan serta perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui kegiatan pembelajaran dan menginterpretasikan informasi tersebut untuk membuat keputusan.
B. Manfaat
Penilaian memiliki manfaat bagi semua unsure, termasuk bagi anak itu sendiri. Di bawah ini beberapa manfaat melakukan penilaian:
1. Anak-anak
• Lebih memahami kebutuhan dan perkembangan anak-anak
• Memberikan dukungan untuk anak yang lebih sesuai dengan kebuuhan perkembangan anak.
2. Keluarga
• Membangun komunikasi dengan orang tua untuk memberikan informasi tentang kemajuan perkembangan dan belajar anak-anak mereka
Menghubungkan kegiatan sekolah dengan kegiatan rumah
3. Guru Anak Usia Dini
Memahami kemampuan keterampilan, pengetahuan, sikap, dan kebutuhan anak-anak.
Memudahkan dalam pembuatan rencana pembelajaran yang tepat
Pengaturan ruang kelas dan pemilihan kegiatan yang tepat Memberikan dukungan yang tepat selama anak berkegiatan.
D. Prinsip
Prinsip-prinsip umum berikut ini harus memandu kebijakan dan praktik untuk penilaian: 1. Penilaian dilakukan melalui observasi atas perilaku dan kinerja yang anak tunjukkan
pada saat mereka melakukan kegiatan.
2. Fokus pada apa yang dapat dilakukan anak, kekuatan, minat, hal yang perlu diperkuatkan, dan potensi-potensi anak.
3. Penilaian didasarkan pada hasil observasi yang berulang dengan kegiatan anak yang beragam.
4. Mengakomodasi seluruh anak yang memilki keragaman budaya, bahasa, sosial ekonomi, termasuk anak yang berkebutuhan khusus.
5. Penilaian harus memiliki manfaat baik jelas dalam pelayanan langsung kepada anak atau peningkatan kualitas program pendidikan.
6. Penilaian harus disesuaikan dengan tujuan secara tepat dan adil.
7. Penilaian harus sesuai dengan anak usia baik isi dan metode pengumpulan data. 8. Orang tua harus menjadi sumber informasi penilaian yang sangat berharga.
E. Aspek Penilaian
yang ada dalam Kompetensi Dasar (KD) terdiri dari 4 ranah yakni: kompetensi sikap religius, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.
Rumusan KD ini dapat dilihat pada “Pemetaan Kesiapan Belajar Anak, Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Indikator Perkembangan Pendidikan Anak Usia Dini; 0 – 6 tahun”
Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator-indikator inilah yang membantu pendidik untuk mengetahui apakah sebuah KD telah dimiliki oleh peserta didik.
Indikator akan muncul bilamana guru memberikan kesempatan berupa kegiatan-kegiatan main yang dapat mendorong anak menampilkan indikator tersebut. Misalnya anak dapat menunjukkan kemampuan membuat pola yang lebih kompleks/bervariasi (indikator 4) jika guru seringkali menata alat ronce dengan berbagai warna, bentuk, ukuran, bahan baku (bahan alam atau bahan pabrikan seperti balok) yang membolehkan anak bermain dengan benda-benda tersebut.
Kemampuan guru dalam memahami perkembangan anak sangat membantu mengenal indicator yang muncul saat ia mengamati anak bermain.
F. Tipe Penilaian
Penilaian pada anak usia dini berupa penilaian otentik. Penilaian otentik adalah jenis penilaian yang berhubungan dengan kondisi nyata dan dalam konteks yang bermakna. Penilaian otentik dilakukan pada saat anak terlibat dalam kegiatan bermain (tugas) secara mandiri atau bersama anak lain. Dengan demikian penilaian anak usia dini harus dilakukan secara alami, pada saat anak terlibat dalam kegiatan (tugas) selama bermain sehari-hari.
BAB III
PROSES PENILAIAN
A. TAHAP PENILAIAN
Tantangan setiap pendidik dalam melaksanakan penilaian adalah menentukan seberapa banyak data yang harus dikumpulkan dan bagaimana menggunakan data yang sudah terkumpul tersebut agar menjadi informasi yang penuh makna. Sebelum kita membahas bagaimana menggunakan data, ada baiknya kita sepaham tentang bagaimana penilaian yang dilakukan.
1. Informasi untuk penilaian dikumpulkan secara periodic dan berkelanjutan. Asnak usia dini belajar sangat cepat. Guru dan juga orang tua harus lebih teliti dalam mengumpulkan, menterjemahkan, dan menerapkan penilaian dalam kegiatan harian anak.
2. Untuk mendapatkan data yang lebih akurat maka seharusnya menggunakan berbagai metode pengumpulan data, karena banyak informasi ditunjukkan anak saat anak berada di luar kelas
3. Setiap data yang terkumpul dari hasil observasi hendaknya diarsipkan untuk menjaga keajegan data.
4. Instrumen penilaian maupun hasil penilaian seharusnya sejalan dengan budaya dan bahasa yang biasa digunakan anak
Penilaian pada Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dilakukan melalui penilaian otentik dilakukan melalui tahap:
B. Perencanaan:
1. Pemilihan Kompetensi Dasar
a. Sebelum penilaian dilakukan langkah pertama adalah menetapkan dahulu aspek apa yang akan dinilai. Tahap ini seharusnya sudah masuk saat menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Dalam RPPH ada bagian yang disebut dengan Rencana penilaian yang isinya sikap, pengetahuan, dan keterampilan apa yang akan dilihat pada anak.
terbiasa dengan proses penilaian otentik tersebut, maka jumlah indicator yang dinilai mulai bertambah. Misalnya 1 unsur dari sikap, 1 indikator dari keterampilan, dan 2 indikator pengetahuan.
2. Menentukan waktu dan tempat yang terbaik.
Seringkali pertanyaan guru adalah bagaimana mungkin dapat mengobservasi dan mencatat banyak informasi saat anak main, sebab banyak yang harus dikerjakan dengan member dukungan saat anak bermain. Untuk mengatasi kondisi tersebut maka:
a. Tentukan waktu yang paling cocok untuk melihat indicator tertentu, misalnya untuk melihat anak dapat bekerja sama, maka waktu observasi yang lebih tepat disaat membereskan mainan. Saat ingin melihat seberapa sabarnya anak mengantri maka pilih waktu saat anak menunggu waktu mengantri ke kamar kecil atau saat mau mencuci tangan.
b. Ketika guru sudah menentukan apa yang akan dilihat, maka ia hanya perlu beberapa menit untuk mengamati anak, maka ia akan dapat informasi yang lebih banyak disbanding bila guru tidak menyiapkan tentang apa yang akan diobservasi. c. Apabila guru sudah menetapkan indicator apa yang diobservasi maka memudahkan ia melakukannya karena diberbagai tempat dia dapat mengobservasi anak dengan waktu yang lebih singkat, sehingga lebih banyak anak yang dapat diobservasi.
C. Pelaksanaan
1. Observasi/Pengamatan
Hal yang paling penting dalam melakukan penilaian terhadap anak adalah melakukan pengamatan (observasi). Observasi adalah cara pengumpulan data/informasi melalui pengamatan langsung terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan anak.
Observasi dilakukan guru saat anak bermain atau melakukan suatu kegiatan sekalipun tidak sedang bermanin di dalam ruangan.
1. Pencatatan
Teknik yang dapat dilakukan pendidik dalam pencatatan atau mendokumentasikan perkembangan dan hasil belajar anak dengan menggunakan:
b. Catatan anekdot (anecdotal records) c. Daftar periksa (checklist)
d. Karya anak
1. Catatan harian
Catatan harian dilakukan guru selama melakukan observasi disaat anak bermain. Jika anak cukup banyak sebaiknya guru memfokuskan pada beberapa anak di setiap harinya secara bergilir, sehingga dalam satu minggu (sub tema) semua anak sudah teramati dan tercatat perkembangannya dalam catatan harian.
Catatan harian dibuat dengan memperhatikan:
1) Catatan tidak berdasarkan asumsi (menurut sudut pandang pengamat), misalnya menuliskan: Yasmin agresif, bosan, marah, dll.
2) Tidak menggunakan kata-kata yang subjektif dan ambigu (memiliki lebih dari satu makna), misalnya: Yasmin bermain berantakan. Ia terlalu banyak menggunakan mainan.
3) Catat kejadian segera pada saat peristiwa berlangsung, oleh karena itu sebaiknya guru selalu membawa buku kecil di dalam saku dan mencatat kata-kata kunci terkait dengan hal yang diamati. Bila tidak memungkinkan segera lakukan pencatatan saat anak pulang.
4) Tulis nama dan usia anak, tanggal/waktu, tempat kejadian, serta peristiwa yang diamati.
CONTOH: CATATAN HARIAN.
Pendidik mengamati Yasmin (usia 5,5 tahun) yang sedang bermain peran sebagai penjual sayuran. Yasmin menata jualannyanya: tomat di piring besar, cabe di piring lainnya, sayuran di baskom kecil. Saat ada pembeli terjadi percakapan:
Yasmin : “mau membeli apa? Alysha: “tomat”
Yasmin : “tomat yang besar atau kecil?”
Alysha : “besar”
Dari kejadian di atas guru mencatat, Yasmin sudah dapat:
Membereskan dagangan sambil menunggu pembeli (sikap sabar dan teliti)
Menyebutkan nama benda
Mengelompokan benda sesuai bentuk Membedakan ukuran besar dan kecil
Memahami bahasa reseptif (mengerti pembicaraan temannya) Berkomunikasi (menggunakan bahasa ekspresif)
(KD 2.7Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap sabar (mau menunggu giliran, mau mendengar ketika orang lain berbicara) untuk melatih kedisiplinan,
KD 3.6 – 4.6 Mengenal benda benda disekitarnya (nama, warna, bentuk, ukuran, sebagai penjual sayuran. Yasmin menata jualannyanya: tomat di piring besar, cabe di piring lainnya, sayuran di baskom kecil. Saat ada pembeli terjadi percakapan:
Yasmin : “mau membeli apa?
Alysha: “tomat”
Yasmin : “tomat yang besar atau kecil?”
Alysha : “besar”
Dari kejadian di atas guru mencatat, Yasmin sudah dapat:
Membereskan dagangan sambil menunggu pembeli (sikap sabar dan teliti)
Menyebutkan nama benda
Mengelompokan benda sesuai bentuk Membedakan ukuran besar dan kecil
Memahami bahasa reseptif (mengerti pembicaraan temannya) Berkomunikasi (menggunakan bahasa ekspresif)
(KD 2.7 Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap sabar (mau menunggu giliran, mau mendengar ketika orang lain berbicara) untuk melatih kedisiplinan,
KD 3.6 – 4.6 Mengenal benda benda disekitarnya (nama, warna, bentuk, ukuran,
KD 3.10 – 4.10 Memahami bahasa reseptif menyimak dan membaca awal KD 3.11 – 4.11 Memahami bahasa ekspresif (mengungkapkan bahasa secara
verbal dan non verbal)
Catatan harian dapat juga dilakukan dengan cara seperti berikut: CONTOH 2 : CATATAN HARIAN
Apabila menggunakan ceklis sederhana untuk membuat catatan harian juga sangat dimungkinkan.
CONTOH CEKLIST CATATAN HARIAN:
Tanggal: 15 Mei 2014
Kegiatan :Bermin peran / main di area drama.
CATATAN HARIAN
Berdasarkan hasil pengamatan di beberapa kegiatan, guru dapat memasukkan nama anak ke dalam kolom yang tersedia dengan merujuk pada pencapaian Kompetensi dasar.
1. Kolom KI diisi dengan komponen pengembangan yang diharapkan yaitu Sikap Religius, Sikap Sosial, Pengetahuan dan Keterampilan.
2. Kolom KD diisi dengan Kompetensi dasar apa yang ingin dikembangkan pada anak. Pemilihan kompetensi dasar ini sesuai dengan yang tercantum pada RPPH.
3. Kolom BB (belum berkembang) diisi dengan nama-nama anak yang belum menunjukkan perilaku/ sikap, pengetahuan/keterampilan yang diharapkan sesuai dengan KD. Untuk menentukan apakah anak tersebut sudah memiliki kemampuan yang diharapkan, guru dapat merujuk pada indicator yang sesuai dengan KD.
4. Kolom BSH (Berkembang sesuai dengan harapan) diisi dengan nama-nama anak yang sudah menunjukkan kemampuan sikap, pengetahuan/keterampilan yang diharapkan sesuai dengan KD seperti yang tercantum dalam indicator.
5. Kolom keterangan diisi dengan penjelasan yang menunjukkan kemampuan setiap anak yang tercantum pada kolom BSH.
2. Catatan anekdot
Merupakan catatan sikap dan perilaku anak secara khusus terhadap suatu peristiwa yang terjadi pada saat tertentu dan dalam situasi tertentu.
Karakteristik catatan anekdot adalah:
1) Catatan simpel (tidak bertele-tele); hanya mencatat apa yang diucapkan anak, sikap yang dieskpresikan anak baik melalui kata maupun bahasa tubuh, serta perilaku yang ditampilkan anak.
2) Mencatat perilaku yang tidak biasa pada anak baik positif (kemajuan yang diperoleh) maupun negatif (misalnya Ahmad yang biasanya tenang, namun hari ini menangis terus).
3) Akurat (tepat), objektif (apa adanya) dan spesifik (khusus/tertentu).
Tujuan catatan Anekdot:
1) Memperkuat pemahaman guru terhadap setiap anak sebagai suatu pola atau munculnya profil anak.
Rambu-rambu mencatat catatan anekdot sama dengan rambu-rambu membuat catatan anekdot, yakni:
1) Catatan sederhana tentang perilaku tertentu atau tidak biasa 2) Sebagai hasil dari pengamatan secara langsung
3) Akurat dan spesifik
4) Dalam banyak kasus, menggambarkan interaksi antar anak, anak dengan orang dewasa, dan anak dengan material
5) Memberikan konteks dari munculnya perilaku tersebut
Catatan anekdot dapat ditulis dalam format tabel seperti contoh di bawah, namun dapat juga berupa narasi (tidak menggunakan tabel). Pendidik dapat memilih teknik pencatatan yang paling mudah dan sederhana untuk dilakukan.
Contoh:
Hari Senin tanggal 21 Juli 2014, Yasmin bermain di area membaca, dia memegang buku dan hanya menatapnya. Yasmin bahkan tidak menjawab ketika Alisha menanyakan tentang buku yang dipegangnya.
Melihat catatan di atas sepertinya Yasmin sedang tidak berminat untuk melakukan kegiatan bermain. Guru harus mengetahui lebih lanjut apa yang menyebabkan perilaku Yasmin berubah untuk hari ini sebelum memberikan kesimpulan, apalagi mencap anak sebagai anak”pemalas”. Informasi yang dikumpulkan dapat bersumber dari anak dan orang tua. Kesimpulan pendidik disampaikan kepada orang tua dan dijadikan sebagai catatan untuk dijadikan bahan dalam memberi dukungan pembelajaran selanjutnya untuk Yasmin.
3. Hasil Karya
Hasil karya adalah hasil kerja anak didik setelah melakukan suatu kegiatan dapat berupa pekerjaan tangan, karya seni atau tampilan anak. Misalnya: gambar, lukisan, melipat, kolase, hasil guntingan, tulisan/coretan-coretan, hasil roncean, bangunan balok, tari, dll.
Rambu-rambu membuat Catatan Hasil Karya Anak.
melihat perkembangan hasil karya yang dibuat anak di waktu sebelumnya.
2) Perhatikan apa yang sudah dibuat oleh anak (looking) dengan teliti. Semakin guru melihat dengan rinci maka akan lebih banyak informasi yang didapatkan guru dari hasil karya anak tersebut.
3) Tanyakan kepada anak apa yang terlihat oleh guru, tidak menggunakan pikiran atau kesimpulan guru (naming). Misalnya Yasmin membuat gambar banyak kepala dengan berbagai warna. Maka yang dikatakan guru adalah: ”ada banyak gambar yang sudah kamu buat, bisa diceritakan gambar apa saja?, warna apa saja yang kamu pakai?” dst.
4) Tuliskan semua yang dikatakan oleh anak untuk mengkonfirmasi hasil karya yang dibuatnya agar tidak salah saat guru membuat interpretasi karya tersebut.
5) Dari hasil catatan guru akan nampak Kompetensi Dasar apa saja yang muncul dari hasil karya anak tersebut.
CONTOH HASIL KARYA ANAK:
KUMPULAN HASIL KARYA BULAN APRIL 2014
Nama Anak : Yasmin 14 Juli 2014
Hasil Karya Anak Hasil Pengamatan Indikator- KD
Tanggal: 14 Juli 2014
- Huruf-huruf belum terangkai
- Gambar kepala, tangan dan kaki tanpa badan
lingkaran dan garis
- Menjawab pertanyaan dengan tepat.
Hasil Pengamatan Indikator – KD - Bentuk segi empat,
dan persegi panjang
- Layar dan antene tv
- Huruf-huruf belum terangkai
- Cerita menunjukkan karyanya sambil cerita
D. PENGOLAHAN DATA HASIL BELAJAR ANAK
2. Apabila yang menangani anak berupa tim guru, maka yang menentukan hasil belajar anak adalah semua guru yang menangani anak.
3. Penggabungan data yang terkumpul untuk melihat perkembangan termatang yang dicapai anak.
4. Penggabungan data dapat dimasukkan ke dalam format berikut
Hasil penggabungan data hasil belajar dapat dimasukkan ke dalam cheklist.
Checklist merupakan alat perekam hasil observasi terhadap aspek perkembangan anak usia dini. Checklist tersebut memuat indikator perkembangan untuk setiap Kompetensi Dasar (KD) anak usia dini. Melalui checklist dapat diketahui tingkat perkembangan anak sehingga dapat menjadi pedoman dalam mengembangkan berbagai rencana dan kegiatan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Hasil checklist juga menjadi materi komunikasi dengan orangtua perihal segala sesuatu yang telah dipelajari anak dan bagaimana anak berproses dalam belajar.
Rambu-rambu menggunakan checklist: a. Checklist dilaksanakan setiap bulan sekali
b. Indikator perkembangan diambil dari indikator yang terdapat pada pemetaan. Sesuaikan dengan usia anak yang diamati.
c. Indikator perkembangan untuk KD 3 dan KD 4 digandeng menjadi satu untuk memberikan pemahaman bahwa pengetahuan dan keterampilan merupakan dua hal yang menyatu.
Berikut adalah contoh penilaian berupa Checklist untuk anak usia 5-6 tahun:
Nama Anak : Yasmin Kelompok : B1
Usia : 5 tahun Bulan : Juli – September 2014
NO INDIKATOR PERKEMBANGAN BB MB BSH BSB
KOMPETENSI DASAR:
1.1 Mempercayai adanya Tuhan melalui ciptaan-Nya 1
2 Menyadari semua benda ada penciptanyaMenyadari dirinya sebagai ciptaan Tuhan berbeda dengan benda yang dibuat manusia
KOMPETENSI DASAR:
1.2. Menghargai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar sebagai rasa syukur kepada Tuhan
1 2 3
Menghargai diri sebagai ciptaan Tuhan
Menghargai binatang dan alam sekitar sebagai ciptaan Tuhan
Menghargai teman sebagai ciptaan Tuhan KOMPETENSI DASAR:
2.1 Memiliki perilaku yang mencerminkan hidup sehat 1
2 3 4
Senang membuang sampah di tempatnya
Senang mencuci tangan sesudah melakukan kegiatan Senang mengganti baju bila sudah terasa berkeringat Menyadari bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain
KOMPETENSI DASAR:
3.1 Mengenal kegiatan beribadah sehari-hari
4.1. Melakukan kegiatan beribadah sehari-hari dengan tuntunan orang dewasa 1
2 3
Mengucapkan doa-doa pendek
Melakukan ibadah sesuai dengan agamanya.
Menerapkan ajaran agama sehari-hari dalam perilakunya (contoh: suka memaafkan, tidak bohong, tidak berkelahi) dst
3.2 Mengenal perilaku baik sebagai cerminan akhlak mulia 4.2. Menunjukkan perilaku santun sebagai cerminan akhlak mulia
Berkata sopan Bersikap sopan
3.3 Mengenal anggota tubuh, fungsi, dan gerakannya untuk pengembangan motorik kasar dan motorik halus
1
Menyebutkan anggota tubuh dan fungsinya
Menunjukkan gerakan koordinasi (mengkap dan melempar bola, berjalan dengan berbagai variasi, berlari dengan variasi, dll)
Menyebutkan fungsi gerakan-gerkan motorik kasar dan halus
Melakukan gerakan tubuh secara terkoordinasi lentur seimbang dan lincah
Melakukan koordinasi gerakan kaki, tangan, kepala dalam menirukan gerakan
Melakukan permainan fisik menggunakan tangan kanan dan kiri
v
KOMPETENSI DASAR
3.4 Mengetahui cara hidup sehat
4.5 Mampu menolong diri sendiri untuk hidup sehat
Mulai terbiasa melakukan hidup bersih dan sehat
Mengenali bagian tubuh yang harus dilindungi dan cara melindungi dari kekerasan seksual
Mulai terbiasa mengkonsumsi makanan yang bersih, sehat dan bergizi
Menggunakan toilet tanpa bantuan KOMPETENSI DASAR
3.6 Mengenal benda-benda disekitarnya (nama, warna, bentuk, ukuran, pola, sifat, suara, tekstur, fungsi, dan ciri-ciri lainnya)
4.6 Menyampaikan tentang apa dan bagaimana benda-benda disekitar yang
dikenalnya (nama, warna, bentuk, ukuran, pola, sifat, suara, tekstur, fungsi, dan ciri-ciri lainnya) melalui berbagai hasil karya
1 Menyebutkan nama-nama benda di sekitar atau sesuai tema V 2 Menyebutkan dan menunjukkan warna benda disekitar atau
sesuai tema
V
3 Menyebutkan dan membedakan bentu-bentuk benda di sekitarnya atau sesuai tema
V
4 Menyebutkan/membedakan benda berdasarkan ukurannya V 5 Membuat pola sederhana dengan menggunakan benda
disekitarnya
membeku, mencair, terapung, tenggelam, dst)
7 Membedakan suara yang didengarnya (keras-lembut, cepat-lambat, tinggi-rendah, dan sumber-sumber bunyi)
8 Mengenal benda berdasarkan tekstur (halus-kasar, licin-bergerigi/bergelombang)
9 Menggunakan alat main dengan tepat 10 Menggunakan alat makan dengan tepat
3.11 Memahami bahasa ekspresif(mengungkapkan bahasa secara verbal dan non verbal)
4.11. Menunjukkan kemampuan ber bahasa ekspresif (mengungkapkan bahasa secara verbal dan non verbal
Mengungkapkan perasaan, ide dengan pilihan kata yang sesuai ketika berkomunikasi
Mengajukan dan menjawab pertanyaan secara tepat sesuai dengan kondisi.
V
V
Dst
Keterangan:
BB : Belum Berkembang. Bila sampai akhir bulan penilaian kemampuan itu belum nampak pada anak
MB : Mulai Berkembang. Bila kemampuan tersebut sekali-kali nampak pada anak, misalnya membuang sampah pada tempatnya muncul bila diingatkan tetapi seringkali membuang dimana saja.
BSH : Berkembang Sesuai Harapan. Bila kemampuan tersebut sudah dimiliki anak secara terus menerus sesuai indicator di usianya.
BSB : Berkembang Sangat Baik, bila kemampuan yang dimiliki anak secara terus menerus melebihi kemampuan yang tercantum dalam indicator di usianya
E. PELAPORAN
pendidik/guru tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
1. Pengertian
Pelaporan merupakan kegiatan mengkomunikasikan dan menjelaskan hasil penilaian pendidik/guru tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
2. Teknik Pelaporan
Laporan Perkembangan Anak Didik dilaporkan oleh kepala lembaga /pendidik/ secara lisan dan tertulis. Cara yang ditempuh dapat dilaksanakan dengan bertatap muka serta dimungkinkan adanya hubungan dan informasi timbal balik antara pihak lembaga dengan orang tua. Hal yang perlu diingat dalam pelaksanaan kegiatan ini hendaknya menjaga kerahasiaan data atau informasi, artinya bahwa data atau informasi tentang anak didik hanya diinformasikan dan dibicarakan dengan orang tua anak didik yang bersangkutan atau tenaga ahli dalam rangka bimbingan selanjutnya.
Pada umumnya orang tua menginginkan jawaban dari pertanyaan tentang:
Keadaan anak waktu belajar di sekolah secara fisik, akademik, sosial dan emosional.
Partisipasi anak dalam kegiatan di lembaga PAUD.
Kemampuan/kompetensi yang sudah dan belum dikuasai anak.
Yang harus dilakukan orang tua untuk membantu dan mengembangkan anak lebih lanjut.
3. Waktu pelaporan
Tatacara dalam penulisan laporan:
Menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai
anak.
Memberikan informasi tentang tingkat pencapaian dan
perkembangan hasil belajar anak secara bijaksana.
Memberikan masukan tentang tingkat pencapaian anak
pada seluruh kompetensi dasar untuk membantu
mengembangkan kemampuan anak lebih lanjut.
Tatacara dalam penulisan laporan:
Menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai
anak.
Memberikan informasi tentang tingkat pencapaian dan
perkembangan hasil belajar anak secara bijaksana.
Pelaporan hasil perkembangan anak diberikan oleh pendidik kepada orangtua murid melalui tatap muka langsung untuk menyampaikan laporan secara lisan, sekaligus diikuti penyerahan laporan tertulis. Pemberian laporan dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu seperti triwulan atau enam bulan (satu semester).
4. Bentuk Pelaporan Smester
Laporan smester disampaikan dalam bentuk naratis, hasil rangkuman perkembangan anak didik dalam proses belajar melalui bermain dan hasil belajar selama satu smester.
Dalam menyusun uralan (deskripsi) ditulis dengan kalimat yang efektif/ tidak terlalu rumit dan dibuat secara obyektif sehingga tidak menimbulkan persepsi yang salah bagi orang tua atau bagi yang berkepentingan dalam bentuk Laporan Perkembangan Anak Didik.
Laporan yang ditulis pendidik hendaklah dalam kalimat positif, jelas, mudah dipahami, serta menggunakan tata bahasa dan ejaan yang benar.
5. Isi Pelaporan
Adapun rambu-rambu penulisan laporan perkembangan anak yang perlu diperhatikan guru adalah:
Informasi isi laporan sudah menggambarkan hasil belajar yang mendukung tingkat pencapaian perkembangan anak (TPPA)
Menggambarkan perilaku khusus anak di kelas
Menyajikan informasi secara komunikatif, autentik, dan bermakna
Tidak menyalahkan anak ataupun orangtua
Pengaruh laporan terhadap perasaan anak dan orangtua Pengaruh laporan terhadap hubungan anak dan guru juga
hubungan anak dan orangtua.
Laporan harus mendidik orang tua tentang perkembangan anak.
Adapun rambu-rambu penulisan laporan perkembangan anak yang perlu diperhatikan guru adalah:
Informasi isi laporan sudah menggambarkan hasil belajar yang mendukung tingkat pencapaian perkembangan anak (TPPA)
Menggambarkan perilaku khusus anak di kelas
Menyajikan informasi secara komunikatif, autentik, dan bermakna
Tidak menyalahkan anak ataupun orangtua
Pengaruh laporan terhadap perasaan anak dan orangtua Pengaruh laporan terhadap hubungan anak dan guru juga
hubungan anak dan orangtua.
Laporan berisi Kekuatan dan Rekomendasi. Kekuatan diambil dari kolom BSH dan BSB pada rekapitulasi penilaian bulanan yang terakhir.
Rekomendasi berisi saran yang dapat dilakukan orang tua terhadap anak pada saat pengasuhan, yang diambil dari kolom BB dan MB pada rekap penilaian bulanan yang terakhir dan yang sebelumnya.
Berikut adalah contoh laporan tertulis hasil evaluasi perkembangan anak:
CONTOH PELAPORAN
LAPORAN PERKEMBANGAN ANAK SEMESTER II TAHUN AJARAN 2013/2014
PAUD BUNGA MEKAR
---CONTOH PENGISIAN LAPORAN PERKEMBANGAN ANAK
LAPORAN PERKEMBANGAN ANAK Tahun Pelajaran : …………
Nama Anak Didik : Yasmin Usia : 5-6
tahun
Nomor Induk : …….. Semester : I
(Satu)
Perkembangan Nilai Agama dan Moral
Yasmin anak yang membanggakan. Di usianya yang menginjak 5 tahun, Yasmin telah memiliki kemampuan seperti:
Mengenal Tuhan sesuai dengan agamanya. Ia dapat melakukan gerakan salat, senang mendengarkan cerita kitab suci (3.1; 4.1).
Setiap pagi datang ke sekolah mengucapkan salam dan selalu mengucapkan terimakasih jika telah menerima bantuan, serta minta ijin jika akan meminjam suatu barang dari teman (3.2 – 4.2).
Sebaiknya Yasmin lebih sering diajak sholat berjamaah……
Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik Yasmin cukup baik, terlihat Yasmin telah mampu: Menggunakan anggota tubuhnya
untukpengembangan motorik kasar dan halus. Ia dapat bergerak dengan lincah dan luwes dalam setiap kegiatan seperti melompat, memanjat, berlari, dsb.(3.3 – 4.3)
Melakukan gerakan-gerakan menggunakan jari-jari tangannya seperti menggunting, meronce, menggambar dan menulis.
Melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri seperti memakai sepatu, minum dan makan sendiri, ke toilet sendiri, dengan meminta bantuan ibu guru ketika mengalami kesulitan(3.3 -4.3).
Menjaga keamanan dirinya agar tidak disentuh oleh orang yang tidak dikenal baik pada saat menggunakan kamar kecil ataupun saat menunggu jemputan (3.4 - 4.4).
Sebaiknya ……….
Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif Yasmin berada pada perkembangan yang sesuai dengan usianya. Hal ini ditunjukkan oleh kemampuan Yasmin dapat:
Menyelesaikan masalah secara kreatif di kegiatan mainnya (3,5; 4,5).
Mengenal teknologi sederhana dan fungsi alat tersebut. Yasmin mengerti apa fungsi alat pompa dan cara menggunakannya (3.9 - 4.9).
dari warna, bentuk, ukuran, fungsi, sifat dan berbagai ciri-ciri yang ada pada benda itu. Ketika bermain peran “Berbelanja di Supermarket”, Yasmin memilih benda-benda yang akan dibeli berdasarkan kelompoknya (3.6 – 4.6).
Yasmin dapat mengenali lingkungan sosialnya. Ia mengetahui bahwa rumahnya berdekatan dengan rumah Dio, tetangganya. Yasmin juga bisa menceritakan bahwa Dio adalah saudaranya, anak dari adik ayah Yasmin. Kata Yasmin suatu hari,”Bunda, ayahnya Dio itu adiknya ayahku.” (3.7 – 4.7)
Perkembangan Sosial-Emosional
Yasmin mengenal emosi diri sendiri dan orang lain. Ia dapat mengekspresikannya secara wajar. (2.11)
Yasmin juga mampu mengenali perasaan orang lain dan merespon secara tepat. Ia menghibur temannya yang sedih karena ibunya ke luar kota karena sekolah lagi. (3.13 – 4.13)
Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa Yasmin melebihi usianya. Ia terlihat cakap dalam:
Mengekspresikan perasaan dan keinginannya melalui bahasa lisan. (3.11-4.11)
Mengenal keaksaraan dengan menuliskan nama dirinya secara lancar, walaupun kadang ia menuliskan huruf “d” pada namanya terbalik dengan huruf “b”, Beberapa kata sederhana mulai dapat ditunjukkannya melalui merangkai kartu-kartu huruf atau huruf-huruf plastik, atau Membentuk huruf menggunakan playdough yang dipilin dan digulung menjadi kata-kata (3.12 – 4.12)
Perkembangan Seni
media. Ia senang menggambar dan melukis menggunakan kuas dan cat.
Yasmin juga sering secara ekspresif menunjukkan kekaguman pada karya seni teman dengan berkata,”Ih... bagus....”, begitu seru Yasmin pada saat melihat gambar temannya yang berwarna-warni (3.15 - 4.15).
Keterangan
Sakit :………..(hari) Ijin :………. (hari) Alpa :………..(hari)
Mengetahui, Jakarta, 27 Maret 2014
Diana Safira, S.Pd Surya Anita, S.Pd
Kepala Sekolah Guru Kelas
Komentar Orang Tua
……… ……… ……… ……… ……… ……… ………..
Jakarta,………
F. Pengarsipan Hasil Belajar Anak
Hasil belajar anak baik dari hasil pengamatan catatan anekdot, checklist, dan hasil karya anak kemudian dikumpulkan dalam bentuk portofolio.
Kumpulan data tersebut pada awalnya hanya sedikit namun seiring dengan waktu akan menjadi sangat banyak. Oleh karena itu pendidik harus memiliki wadah penyimpan dan sistem yang teratur untuk mengelolanya. Bila tidak memungkinkan untuk membeli wadah khusus (folder), maka pendidik dapat memanfaatkan kotak atau kardus bekas atau dapat membuat kantong, amplop, map atau wadah dari kertas poster dan bahan bekas lain.
Rambu-rambu mengelola hasil karya:
Portofolio pada hakikatnya merupakan kumpulan atau rekam jejak berbagai hasil kegiatan secara berkesinambungan serta catatan pendidik tentang berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kurun waktu tertentu.
CARA MENATA PORTOFOLIO
Susun hasil karya anak, foto-foto dan catatan-catatan berdasarkan urutan tanggal. Cantumkan nama anak pada setiap folder/wadah yang digunakan untuk menyimpan. Susun secara alfabet sesuai nama anak untuk memudahkan pemanfaatannya.
Libatkan anak untuk memilih hasil karya yang disukainya untuk dimasukkan dalam portfolio.
Tambahkan/perbaharui karya anak setiap 2 minggu, sehingga portofolio dapat memberikan gambaran lengkap tentang kemampuan anak dan menceritakan kemajuan yang diraih anak.
Tunjukkan kepada orangtua setiap triwulan atau semester dan simpan di tempat yang mudah dibaca oleh orangtua bila mereka ingin membacanya.
CARA MENATA PORTOFOLIO
Susun hasil karya anak, foto-foto dan catatan-catatan berdasarkan urutan tanggal. Cantumkan nama anak pada setiap folder/wadah yang digunakan untuk menyimpan. Susun secara alfabet sesuai nama anak untuk memudahkan pemanfaatannya.
Libatkan anak untuk memilih hasil karya yang disukainya untuk dimasukkan dalam portfolio.
Tambahkan/perbaharui karya anak setiap 2 minggu, sehingga portofolio dapat memberikan gambaran lengkap tentang kemampuan anak dan menceritakan kemajuan yang diraih anak.
Setiap hasil karya selesai dibuat anak, pendidik harus memberi nama, tanggal serta analisa, dan KD yang muncul. Catatan pendidik dapat dituliskan pada hasil karya anak atau menggunakan kertas lain yang disertakan di setiap hasil karya anak.
Berikut contoh karya dan catatan pendidik.
Tidak semua hasil karya anak dikumpulkan untuk dijadikan portofolio. Hasil karya anak yang dikumpulkan cukup diambil 1 bulan sekali untuk setiap jenis karya anak. Misalnya gambar, foto balok, lukisan anak diambil setiap bulan.
Portofolio juga disusun berdasarkan program perkembangan, yakni perkembangan nilai moral dan agama, sosio-emosional, motorik, kognitif, bahasa, dan seni, misalnya:
Perkembangan nilai moral dan agama, berupa hasil pengamatan guru terhadap kemampuan anak dalam beribadah dan mendengarkan cerita-cerita keagamaan.
Perkembangan sosio-emosional, berupa catatan guru dan catatan anekdot mengenai interaksi anak dengan kelompoknya (kemampuan memilih, memecahkan masalah dan kerja sama dengan orang lain).
Perkembangan kognitif, berupa foto-foto tentang aktivitas anak ketika menghitung dan mengukur bahan-bahan untuk kegiatan memasak, sampel kerja anak yang menunjukkan anak memahami konsep angka, foto dan data yang diperoleh dari checklist dan rekaman percakapan mengenai pemahaman konsep, eksplorasi, hipotesis, dan pemecahan masalah
Perkembangan bahasa, berupa rekaman anak ketika membaca cerita yang ditulis, rekaman percakapan tentang penguasaan perbendaharaan kata dan keterampilan menggunakan bahasa.
Perkembangan seni, berupa kumpulan karya seni yang menunjukkan kreativitas anak ketika bekerja menggunakan berbagai media.
BAB IV PENUTUP Aktivitas:
Susunlah contoh portofolio seorang anak di kelas Anda. Hasil karya apa saja yang dapat anda masukkan? Anda dapat pergunakan bekas kotak lebar pipih atau kantong map, atau folder sebagai tempat menyimpan. Aktivitas:
Kemampuan belajar anak di lembaga pendidikan khususnya lembaga PAUD perlu dilakukan dengan seksama melalui program penilaian yang efektif. Penilaian yang efektif adalah penilaian yang terus menerus berlangsung. Hal ini sesuai dengan perkembangan anak yang bersifat dinamis dan terus mengalami proses. Untuk selanjutnya hasil dari penilaian ini akan menjadi rujukan bagi pendidikan untuk melakukan perencanaan pada program-program pembelajaran selanjutnya. Dengan demikian pembelajaran menjadi suatu siklus antara penilaian, perencanaan, dan pelaksanaan yang berlangsung secara terus menerus.
Pendidik yang memahami perkembangan anak menjadi syarat mutlak agar pendidik dapat melakukan penilaian dengan baik. Kerjasama dengan guru yang lainnya serta orangtua akan memberikan gambaran yang utuh terhadap anak dalam pengumpulan berbagai bukti tentang perkembangan anak.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.educate.ece.govt.nz/learning/curriculumAndLearning/Assessmentforlearning/Kei TuaotePae/Book1/WhatAreTheEarlyChildhoodExemplars.aspx
PAUD Bukit Aksara Semarang, dokumentasi foto.
Puskurbuk, Pedoman Kurikulum 2013.
Wortham, Sue. Assessment in Early Childhood Education, Ohio: Pearson Merrill Prentice Hall, New Jersey, Columbus, 2005.
National Alliance, Provocations on Assesment in Early Childhood Education, Children’s Services Central, New South Wales, 2012.