3 Industri Batik di Indonesia
Oleh: Bai’atur Robi’ah, 1406538246
Universitas Indonesia
I. PENDAHULUAN
Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik”. Kata batik sendiri meruju pada teknik pembuatan corak menggunakan canting atau cap dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak “malam” (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Jadi kain batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam sebagai bahan perintang warna. Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan tidak bisa diterapkan di atas kain dengan serat buatan (polyester). Kain yang pembuatan corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik ini dikenal dengan kain bercorak batik biasanya dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak (print) bukan kain batik.
Batik sudah sejak lama menjadi sandang masyarakat Jawa. Pada mulanya batik dipakai oleh kalangan priyayi atau orang-orang keraton dengan mempergunakan batik yang disebut batik pedalaman. Batik pedalaman adalah batik yang berasal dari kraton dan mendapat pengaruh yang sangat kuat dari lingkungan keraton baik ragam hias maupun warnanya. Batik keraton merupakan wastra batik dengan pola tradisional terutama pada batik yang tumbuh dan berkembang di keraton Jawa. Tata susun ragam hias dan pewarnaannya merupakan paduan antara matra seni, adat, pandangan hidup, kepribadian lingkungan yang melahirkannya ditunjang dengan teknologi yang ada di lingkungan keraton.
perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
II. PEMBAHASAN
Batik merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan. Di
Indonesia terdapat pabrik tekstil di berbagai daerah. Memang hampir setiap daerah di Indonesia mempunyai khas dan motif batik masing masing dan masing-masing daerah tersebut juga mempunyai sejarah cerita batik masing masing yang berbeda. Di Indonesia sendiri ada 3 daerah yang mempunyai produsen batik di Indonesia yakni Pekalongan, Jogja dan Solo, bahkan dianggap sebagai kota batik karena selain memproduksi batik, juga memiliki ciri khas sendiri-sendiri.
Macam-macam batik Jawa Tengahan:
1. Batik Pekalongan
a. Sejarah
mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke daerah pengunsian di Pekalongan.
b. Ciri khas
Ciri khas utama batik pekalongan yaitu memiliki warna dan corak khas dan dimodifikasi dengan banyak variasi warna yang atraktif dan dinamis. Batik pekalongan memiliki corak serta komposisi warna yang lebih kaya. Unik dan berbeda dengan daerah yang lainnya, namun tak jarang ada beberapa kreasi batik yang memiliki ciri khas sama dengan daerah sentra penghasil kerajinan batik lainnya seperti jogja dan solo. Warna kreasi batik pekalongan memang cukup menarik karena biasanya produk kerajinan yang dihasilkan dari daerah ini memiliki perpaduan warna yang memukau dengan menggabungkan beberapa warna sekaligus ke dalam sebuah kain.
c. Motif
Motifnya bernuansa seperti motif Pesisir (dahulu pekalongan sebagai kota pesisir memiliki pelabuahan), motif Semen, motif Jlamprang (dipengaruhi budaya arab/india) jlamprang mengadopsi kain stola, motif Cina (seperti adanya ornamen Lion berupa naga besar berkaki dan burung Phoenix), dan motif tumbuhan.
2. Batik Yogyakarta
a. Sejarah
Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga Keraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok Keraton.
b. Ciri khas
Ciri khas dari batik Yogyakarta adalah dari latar atau warna dasar kain, lebih banyak menggunakan warna putih, hitam dan coklat. Batik dikerjakan dengan tangan yaitu motif batik tulis.
c. Motif
Ragam motif batik Yogyakarta sangat banyak dan semuanya sangat indah, mulai dari motif ceplok, motif kawung, motif parang(parang barong dan parang rusak), motif lereng, motif nitik, motif semen dan motif isen.
3. Batik Solo
a. Sejarah
menghubungkan Desa Laweyan menuju Sungai Bengawan Solo. Dari sinilah, batik terhubung dengan daerah pesisir.
b. Ciri Khas
Ciri khas batik solo khususnya yang klasik atau tradisional cukup mudah untuk dikenali karena dari keseluruhan sangat lain daripada yang lain terutama dari sisi warna. Dari sisi warna batik keraton memiliki warna yang lebih statisyang umumnya melambangkan warna tanah seperti warna cokelat, krem, putih dan biru. Batik solo memiliki warna dominan cokelat(sogan) sebagai simbol warna tanah lempung yang subur. Ciri khas lain yang terdapat pada batik Solo adalah perpaduan dari bentuk-bentuk geometris yang berukuran kecil-kecil terletak dalam pewarnaannya.
c. Motif
III. KESIMPULAN
Batik adalah suatu kekayaan Indonesia yang patut dilestarikan, dengan adanya 3 pabrik terbesar di Indoneisa batik mampu bertahan dengan eksistensinya hingga saat ini dan masa yang akan datang. 3 pabrik terbesar batik tersebut yakni batik pekalongan, batik jogja dan batik solo. Batik-batik tersebut memiliki sejarah asal-usul, ragam motif dan ciri khas masing-masing. Dengan adanya pabrik industri terbesar di daerah Jawa Tengah tersebut, selain untuk melestarikan batik Indonesia industri tersebut harapannya juga dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar. Untuk melestarikan batik secara pribadi kita harus mencintainya terlebih dahulu.
IV. DAFTAR PUSTAKA
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUARGA/197501
282001122-SUCIATI/Eksistensi_Batik.pdf
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=72933&val=4925
http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikelDF879C783D8AABDDCA9B63EFF7687A52.pdf
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-paper-29300-3407100084-Paper.pdf