Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang

Pada dasarnya bank adalah suatu lembaga keuangan yang mempunyai nilai strategis dalam kehidupan perekonomian nasional yang mana lembaga perbankan sebagai suatu badan yang berfungsi sebagai financial intermediary atau perantara keuangan dari dua pihak yakni pihak yang kelebihan dana (surplus of funds) dan pihak yang kekurangan dana (lack of funds). Dari berbagai lembaga perbankan tersebut salah satunya yaitu lembaga keuangan bank.1 Sebagai institusi yang sangat penting peranannya dalam masyarakat, bank adalah suatu lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang.

(2)

tidak mengucur-kan kredit dan ketika program restrukturisasi dan rekapitulasi kredit sudah berjalan, bank-bank secara selektif baru berani untuk mengucurkan kreditnya.

Berbicara mengenai perjanjian kredit tidak terlepas dari peraturan-peraturan yang sudah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang mana relevansi atas judul tesis ini dapat kita jumpai pada syarat-syarat untuk melakukan suatu perjanjian yaitu ada 4 (empat) syarat tertuang dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang berbunyi:2

“Untuk sahnya persetujuan-persetujuan diperlukan empat syarat: 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.

2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. 3. Suatu hal tertentu.

4. Suatu sebab yang halal.”

Berdasarkan dengan yang diuraikan dalam pasal diatas yang dikatakan dengan “cakap bertindak” membuat suatu perikatan dalam KUHPerdata juga diatur mengenai hal tersebut yaitu diatur dalam Pasal 1329 KUHPerdata yang berbunyi: “Setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh undang-undang tidak dinyatakan cakap”.

Pasal 1330 KUHPerdata berbunyi:

“Tak cakap untuk membuat persetujuan-persetujuan adalah: 1. Orang-orang yang belum dewasa

2. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan

3. Orang-orang perempuan, dalam hal yang ditetapkan oleh undang-undang dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat persetujuan-persetujuan tertentu.”

(3)

Sedangkan dalam hukum Islam, perjanjian yang sering disebut dengan akad merupakan suatu perbuatan yang sengaja dibuat oleh dua orang atau lebih berdasarkan persetujuan masing-masing. Dengan kata lain akad adalah perikatan antara ijab dan kabul secara yang dibenarkan syara’, yang menetapkan persetujuan kedua belah pihak.Masing-masing pihak haruslah saling menghormati terhadap apa yang telah mereka perjanjikan dalam suatu akad. Sifat perjanjian Pembiayaan berdasarkan prinsip Syariah, merupakan perjanjian konsensual dan riel. Dikatakan bersifat konsensual yang mempunyai arti bahwa perjanjian telah dianggap sah saat adanya kata sepakat, kemudian ditindaklanjuti dengan penjanjian riel dimana perjanjian itu dianggap sah bilamana telah ada prestasi misalnya penyerahan uang dan barang.3

Dari ketentuan pasal-pasal yang ada dalam KUHPerdata dan ketentuan hukum Islam tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk melakukan suatu perjanjian khususnya perjanjian kredit baik yang ada pada perjanjian syariah Islam maupun dalam perjanjian kredit bank konvensional syarat dasar yang ada pada KUHPerdata tersebut harus lebih dahulu dipenuhi oleh para pihak yang akan melakukan suatu perjanjian kredit. Setelah semua syarat-syarat tersebut dipenuhi para pihak yang melakukan suatu perjanjian kredit akan menuangkannya dalam suatu kesepakatan bersama yang mana dalam hal ini untuk membuat suatu kesepakatan tersebut haruslah dibuat secara tertulis.

(4)

Adapun setelah mendapatkan persetujuan dari pihak bank kepada calon nasabah untuk mengucurkan kredit, pihak bank akan memberikan suatu surat kepada calon nasabah bahwa permohonannya untuk mendapatkan fasilitas kredit telah disetujui oleh bank dan pemohon yang bersangkutan akan dimintakan oleh bank untuk memberikan persetujuannya secara tertulis apakah pemohon bersedia untuk menerimanya.

Setelah semua syarat yang diuraikan diatas telah dipenuhi oleh para pihak barulah oleh bank mempersiapkan suatu bentuk “perjanjian kredit” penyebutan dalam istilah bank konvensional dan “Aqad” dalam istilah Syari’ah.Perjanjian-perjanjian tersebut oleh pihak bank akan dituangkan dalam bentuk tertulis, kenapa harus dibuat dalam bentuk tertulis alasannya adalah untuk adanya suatu kepastian hukum dan sebagai pembuktian. Yang mana menurut pengertian yang ada pada KUHPerdata tentang pembuktian pada umumnya dalam Pasal 1865 KUHPerdata mengatakan:“Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuk-tikan adanya hak atau peristiwa tersebut”.

Dan bertalian dengan Pasal 1866 KUHPerdata mengatakan Alat-alat bukti terdiri atas:

1. Bukti Tulisan

(5)

4. Pengakuan. 5. Sumpah.

Dari bunyi pasal yang diatas pada point pertama dapat dilihat bahwa untuk sebagai alat bukti yang terkuat adalah dalam bentuk tertulis. KUHPerdata juga ada membagi mengenai bukti tertulis tersebut dalam 2 (dua) kategori yaitu:

1. Bukti tertulis yang dibuat dihadapan pejabat umum untuk itu (Pasal 1868 KUHPerdata);

2. Bukti tertulis yang dibuat secara dibawah tangan tanpa adanya kehadiran dari pejabat umum. (Pasal 1874 KUHPerdata).

Untuk suatu proses dari persetujuan kredit sampai dengan Perjanjian kredit ataupun suatu aqad ditandatangani ketentuan yang disebutkan diatas haruslah dilakukan oleh para pihak yang akan melakukan suatu perjanjian kredit. Setelah proses itu dijalani maka perjanjian itu akan mengikat bagi para pihak yang membuat dan ini merupakan asas kebebasan berkontrak dapat dilihat pada Pasal 1338 ayat(1) KUHPerdata dimana pasal tersebut menentukan bahwa “Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”

Selain Pasal 1338 ayat (1) mengandung asas kebebasan berkontrak juga sekaligus mengandung pembatasan terhadap kebebasan itu sendiri.Pembatasan ini dapat kita simpulkan dari perkataan “yang dibuat secara sah”, yang terletak di tengah kalimat dari ayat tersebut. Dengan demikian hanya perjanjian-perjanjian yang dibuat secara sah saja yang mempunyai kekuatan mengikat yang sama dengan mengikatnya undang-undang.4

(6)

Pasal 1339 KUHPerdata berbunyi:“Bahwa persetujuan tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang”.

Kredit dalam kegiatan perbankan merupakan kegiatan usaha yang paling utama, karena pendapatan terbesar dari usaha bank berasal dari pendapatan usaha pemberian kredit yaitu berupa bunga danprovisi. Menurut ketentuan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, dan dalam Pasal 1 ayat (11) mengatakan yang dimaksud dengan kredit adalah:“Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Secara etimologi kata “Kredit” berasal dari bahasa Yunani yaitu “Credere” yang diindonesiakan menjadi kredit, yang mempunyai berarti “Kepercayaan”,5 maksudnya adalah bahwa seseorang yang memperoleh kredit berarti orang tersebut memperoleh kepercayaan sedangkan bagi pemberi kredit berarti telah memberi kepercayaan kepada seseorang dan yakin bahwa uangnya pasti akan kembali sesuai dengan perjanjian.6Kata Kredit dalam dunia bisnis pada umumnya diartikan sebagai kesanggupan dalam meminjam uang atau kesanggupan dalam mengadakan transaksi

5Ibid., hal. 1

(7)

dagang atau memperoleh penyerahan barang atau jasa dengan perjanjian akan membayarnya kelak.7

Dalam prosedur pelaksanaan pemberian kredit si penerima kredit diikat dengan suatu perjanjian. Menurut Pasal 1313 KUH Perdata "Suatu persetujuan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.

Rumusan perjanjian dalam Pasal 1313 KUH Perdata menurut para sarjana hukum perdata memiliki banyak kelemahan.8Perjanjian kredit tidak mempunyai suatu bentuk tertentu karena tidak ditentukan oleh undang-undang. Hal ini menyebabkan perjanjian kredit antara bank yang satu dengan bank yang lainnya tidak sama karena disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bank akan tetapi pada umumnya perjanjian kredit bank dibuat dalam bentuk tertulis baik secara notariil maupun dibawah tangan.

Pengertian pemberian kredit oleh pihak bank dilihat dari sudut pemberi kredit dan dari sudut penerima kredit adalah sebagai berikut:9

a. Dari sudut pemberi kredit.

Mendapatkan keuntungan berupa bunga sebagai balas jasa dari pinjaman yang diberikan kepada debitur.

b. Dari sudut penerima kredit.

7

Munir Fuady,Hukum Perkreditan Kontemporer, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996, hal. 5.

(8)

Untuk mendapatkan uang/barang/jasa dengan kewajiban untuk mengganti bunga pada waktu tertentu.

Bila dilihat dari sudut pandang hukum perikatan, maka syarat dan ketentuan dari perjanjian kredit ini termasuk kedalam perjanjian sepihak.Dikatakan perjanjian sepihak karena tidak dapat tawar menawar antara pelaku usaha dan konsumen, pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan.10 Inilah yang disebut perjanjian standar atau perjanjian baku. Perjanjian baku merupakan perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir.11Didalam formulir tersebut berisi kesepakatan antara si pelaku usaha dan konsumen, pihak bank sudah mengatur mengenai hak dan kewajiban masing-masing para pihak. Nantinya yang perlu dilengkapi hanya hal-hal yang bersifat subjektif, seperti waktu dan identitas. Secara praktikal kontrak baku ini sangat praktis dan ekonomis bagi para pelaku bisnis karena dapat disiapkan dalam waktu singkat bila kapan saja harus menghadapi kastemernya dalam berkontrak tentang suatu objek tertentu karena faktor efisiensi serta kecepatan pelayanan bagi nasabah masing-masing bank, akan tetapi patut pula dicermati dan diwaspadai bahwa dengan penandatanganan akta atau surat perjanjian termasuk kontrak baku ini ternyata telah menempatkan kedudukan nasabah dalam posisi yang lemah dan tidak seimbang dengan pelaku bisnis itu sendiri, padahal dari sudut ekonomi pelaku bisnis itu berada dalam posisi sebagai pihak yang kuat dan yang menurut ajaran atau teori fiducia 10 Sutan Remy Syahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak DalamPerjanjian Kredit Bank Indonesia, Bankir Indonesia, Jakarta, 1993, hal. 3.

(9)

maupun filosofi bangsa kita tidak patut diperlakukan sewenang-wenang. Karena hukum kontrak menentukan bahwa setiap perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak dan perjanjian itu harus dilaksanakan dengan itikad baik.12

Pengertian kredit yang diberikan oleh Savelberg menjurus pada pengertian kredit pada umumnya.Hal mana dapat dilihat pada kata “setiap perikatan”, sebab dengan kata setiap perikatan berarti mengandung pengertian bahwa perikatan itu dapat terjadi atas uang, barang atau kedua-duanyauang dan barang. Dan pengertian Kredit menurut Muchdarsyah Sinungan memberikan pengertian bahwa Kredit adalah suatu pemberian prestasi oleh suatu pihak kepada pihak lainnya dan prestasi itu akan dikembalikan lagi pada suatu masa tertentu yang akan datang disertai dengan suatu kontra prestasi berupa uang.13

Bank dalam menyalurkan dana yang telah dihimpun dengan cara mengeluarkan kredit dilaksanakan dengan ditandatanganinya perjanjian kredit yang dalam hal ini menjadi perjanjian pokok (Obligator) oleh bank kepada masyarakat dan dengan perjanjian kredit yang telah ditandatangani tersebut karena dengan adanya suatu jaminan yang diberikan oleh nasabah kepada bank, baik jaminan barang bergerak dan barang tidak bergerak maupun jaminan berupa piutang dagang, oleh bank diikat dengan suatu perjanjian (Accessoir) yang diwujudkan dalam berbagai bentuk antara lain dalam bentuk Hak Tanggungan, Penyerahan Hak Milik atas 12Syahril Sofyan,Standart Perjanjian Misrepresentasi Dalam Transaksi Bisnis,Program Studi Doktor Ilmu Hukum, Fakultas Hukum USU, Ringkasan Disertasi, Medan, 2011, hal. 58.

(10)

Kepercayaan (Fidusia), Gadai (Pand), Pemindahan Piutang (Cessie), Gadai Pensiun/Tunjangan serta Penanggungan Hutang (Borgtocht).

Pasal 1131 KUHPerdata berbunyi :“Segala kebendaan seorang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan”.

Pasal inilah yang merupakan dasar dari kreditor (bank) untuk meminta suatu jaminan harta dari debitor (nasabah) seperti yang disebutkan diatas. Ketentuan tersebut diatas menunjukan bahwa penanggungan itu adalah suatu perjanjian “accessoir” seperti halnya dengan perjanjian hak tanggungan dan pemberian gadai yaitu bahwa eksistensi atau adanya penanggungan itu tergantung dari adanya suatu perjanjian pokok yaitu perjanjian yang pemenuhannya ditang-gung atau dijamin dengan perjanjian penanggungan itu.14

Dalam Al-Qur’an ada 2 (dua) istilah yang berhubungan dengan perjanjian yaitu al-‘aqdu (akad) dan al-‘ahdu (janji).Pengertian akad secara bahasa adalah ikatan, mengikat.Dikatakan ikatan (al-rabih) maksudnya adalah menghimpun atau mengumpulkan dua ujung tali yang mengikat salah satunya pada yang Iain hingga keduanya bersambung dan menjadi seperti seutas tali yang satu.15Kata akad

(al-‘

aqdu) terdapat dalam QS. Al-Maidah (5): 1, bahwa manusia diminta untuk memenuhi akadnya. Menurut Fathurrahman Djamil, istilah al-‘aqdu ini dapat disamakan dengan istilahverbintenisdalam KUHPerdata. Sedangkan istilah al-'ahdu

14R. Subekti,Aneka Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1987, hal. 164

(11)

dapat dipersamakan dengan istilah perjanjian overeenkomst, yaitu suatu pernyataan dari seseorang untuk mengiyakan atau tidak mengiyakan suatu yang tidak berkaitan dengan orang lain.16Istilah ini terdapat dalam QS. Ali Imran (3) : 76, yaitu “sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat) nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang bertakwa”.17Para ahli Hukum Islam

(jumhur ulama) memberikan definisi akad sebagai pertalian antara Ijab dan Kabul

yang dibenarkan olehsyara’ yang menimbulkan akibat hukum terhadap obyeknya. Sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah Islam, yang berlandaskan Al-Quran dan hadist, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara Islam, pengertian riba merupakan suatu perbuatanyang sangat dilarang sebagaimana yang tercantum dalam SurahAl BaqarahAyat 275 yang berbunyi sebagai berikut:

“Orang-orang yang makan (mengambil riba tidak dapat berdiri, melainkan berdiri seperti orang yang kerasukan setan lantaran terkena penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berpendapat bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti dari mengambil riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan dan urusannya terserah kepada Allah. Orang yang mengurangi (mengambil riba, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal didalamnya).”18

Pada umumnya masyarakat memahami riba sebagai sinonim dari istilah

interest atau bunga yang banyak dipraktekkan pada institusi keuangan

16 Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hal. 247-248.

17

Gemala Dewi, Wirdyaningsih, Yeni Salma Barlinti,Hukum Perikatan Islam di Indonesia, FH UI, Jakarta, 2005, hal. 3.

(12)

konvensional.19 Prinsip Syari’ah adalah aturan perjanjian berdasarkan Hukum Islam antara bank dan pihak yang lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau yang dinyatakan sesuai dengan syari’ah.

Pada Bank Syari’ah hampir tidak ada hutang atau kredit dan hanya pada Aqad Murabahahyang ada kredit (hutang) sedangkan pada Mudharabah dan Musyarakah

tidak ada kredit (hutang).Falsafah dasar beroperasinya Bank Syari’ah yang menjiwai seluruh hubungan transaksinya adalah efisiensi, keadilan dan kebersamaan. Dalam Bank Syari’ah hubungan bank dengan nasabah adalah hubungan kontrak (akad) antara investor pemilik dana (shohibul mal) dengan investor pengelola dana (mudharib) melakukan kerjasama yang produktif yang keuntungannya dibagi secara adil (mutual investment relationship). Dengan demikian dapat terhindar dari hubungan eksploitatif antara bank dengan nasabah atau sebaliknya antara nasabah dengan bank. Efisiensi mengacu pada prinsip saling membantu secara sinergis untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin, keadilan mengacu pada hubungan yang tidak dicurangi, ikhlas, dengan persetujuan yang matang atau proporsi masukan dan keluarannya. Kebersamaan mengacu pada prinsip saling menawarkan bantuan dan nasihat untuk saling meningkatkan produktifitas.

Jadi melihat dari latar belakang yang telah diuraikan diatas peneliti merasa tertarik untuk mengangkatnya menjadi tesis dan peneliti merasa ada suatu benang merah antara perjanjian kredit bank konvensional dengan perjanjian kredit bank syari’ah.

(13)

Untuk membahas lebih lanjut mengenai perjanjian kredit bank konvensional dengan perjanjian kredit Bank Syari’ah peneliti melihat ada persamaan dan perbedaannya yang mana dalam hal ini persamaannya adalah :

1. Sama-sama mengaju pada ketentuan yang telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, mengenai syarat sahnya suatu perjanjian, syarat cakap dan kewenangan bertindak dalam hukum.

2. Dari segi sifat perjanjiannya sama-sama mempunyai sifat perjanjian konsensuil riel.20

3. Dari segi bentuk perjanjian, baik perjanjian kredit bank maupun aqad mudharabah, musyarakahdan murabahahmempunyai bentuk perjanjian tertulis dan menggunakan standar kontrak.

4. Sama-sama adanya jaminan dalamaqadpembiayaan pada Bank Syariah maupun perjanjian kredit pada Bank Konvensional, jaminan mempunyai unsur kepercayaan, tenggang waktu, resiko, prestasi dan kontra prestasi.

5. Dalam isi perjanjian sama-sama memuat tentang jumlah uang, besar bunga (Bank Konvensional) atau porsi bagi hasil (Bank Syari’ah), cara pembayaran, waktu pelunasan dan agunan berupa surat-surat tanah (Sertipikat dan Surat Pelepasan Hak dan GantiRugi yang dikeluarkan Camat) dan Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor.

Sedangkan perbedaannya antara Bank Syariah dan Bank Konvensional antara lain adalah:

(14)

1. Dari segi obyeknya pada perjanjian kredit bank konvensional obyeknya adalah berupa uang sedangkan pada aqad pembiayaan perbankan syariah obyeknya tidak selalu uang tapi dapat juga berupa barang atau benda, hal ini terlihat pada

Aqad Murabahah.21

2. Terletak pada landasan falsafah yang dianutnya. Bank Syari’ah tidak melaksanakan sistim bunga dalam seluruh aktifitasnya sedangkan bank konvensional justru kebalikannya. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkanoleh bank syari’ah, dimana untuk menghindari sistim bunga maka sistim yang dikembangkan adalah jual beli atau kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Dengan demikian sebenarnya semua jenis transaksi perniagaan dalam bank syari’ah diperbolehkan asalkan tidak mengandung unsur bunga (riba). Riba secara sederhana berarti sistim bunga berbunga atau compound interest dalam semua prosesnya bisa mengakibatkan membengkaknya kewajiban salah satu pihak, berpotensi mengakibatkan keuntungan besar di suatu pihak namun kerugian besar dipihak lain atau malah kedua-duanya.

(15)

perjanjian kredit, perjanjian pinjam meminjam ataupun perjanjian pengakuan hutang yang mana untuk keperluan apa saja disebut kredit sedangkan pada bank syari’ah dikenal 3 (tiga) kategori produk pembiayaan yaitu bagi hasil, jual beli dan jasa, dimana pada tiap-tiap produk keuntungan yang didapat berbeda-beda, dari jual beli misalnya bank mendapat keuntungan (margin) dari investasi bank mendapatkan keuntungan bagi hasil, dan dari jasa bank mendapatkan imbalan (fee), dari ketiga jenis produk pembiayaan tersebut hanyaAqad Murabahahyang ada kredit (hutang).

4. Dalam perbankan Syari’ah istilah kredit tidak dikenal karena Bank Syari’ah memiliki skema yang berbeda dengan bank konvensional dalam menyalurkan dananya kepada pihak yang membutuhkan. Bank Syari’ah menyalurkan dananya kepada nasabah dalam bentuk pembiayaan, sifat pembiayaan bukan merupakan utang piutang, tetapi merupakan investasi yang diberikan bank kepada nasabah dalam melakukan usaha.22

5. Dalam perjanjian kredit bank konvensional nasabah sebagai debitor harus mengembalikan kreditnya disertai dengan imbalan bunga, sementara dalam pembiayaan perbankan syari’ah khususnya dalam aqad murabahah yang mana prinsip ini merupakan suatu sistim tata cara jual beli, dimana bank akan membeli terlebih dahulu barang yangdibutuhkan atau mengangkat nasabah sebagai agen bank melakukanpembelian barang atas nama bank, kemudian bank menjual

(16)

barang tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli ditambah keuntungan (margin/mark up).23

6. PadaAqad Syari’ah dalam aqadnya pemilik dana (shohibul mal) dengan investor pengelola dana (mudharib) melakukan kerjasama yang produktif yang keuntungannya dibagi secara adil (mutual investment relationship) dan hubungan yang terjalin antara bank syari’ah dengan nasabah adalah hubungan berserikat (partnership) bukan hubungan kreditor dan debitor seperti halnya pada perjanjian kredit.

Murabahah merupakan produk yang paling popular dalam praktek pembiayaan pada perbankan syariah.Selain mudah perhitungannya, baik bagi nasabah maupun managemen bank, produk ini memiliki banyak kesamaan dengan sistem kredit perbankan konvensional.Penelitian ini berlatar belakang pada adanya persamaan dan perbedaan antara pembiayaan murabahah di bank syariah dengan kredit konsumtif di bank konvensional sehingga menimbulkan kritikan dari kalangan ahli hukum Islam atau ekonomi Islam. Pembiayaan Murabahah dianggap bukannya meniadakan bunga, tetapi tetap mempertahankan praktek pembebanan bunga dengan istilah lain, sehingga praktekMurabahahyang berlaku sekarang ini tidak ada bedanya dengan sistem bunga pada bank konvensional.

Pada awalnya murabahah merupakan transaksi penjualan dimana pedagang membeli barang yang diinginkan oleh pengguna akhir dan kemudian akan

(17)

menjualnya kepada pengguna akhir tersebut dengan harga yang telah diperhitungkan dengan menggunakan margin keuntungan yang telah disepakati di luar biaya yang ditanggung oleh pedagang. Dengan adanya intermediasi keuangan seperti bank, peran pedagang sebagai penyandang dana diambil alih oleh bank.

Dalam transaksi pada pembiayaan murabahah antara bank, nasabah, dan

developer, setidaknya akan terjadi dua transaksi jual beli. Pertama, jual beli antara

developer (sebagai penjual) dan bank syariah (sebagai pembeli).Kedua, jual beli antara bank syariah (sebagai penjual) dan nasabah (sebagai pembeli).Dengan demiki-an, transaksi yang terjadi antara bank dan nasabahnya juga adalah transaksi jual beli (bukan perjanjian kredit) sehingga di dalam pembiayaan murabahah oleh bank syariah tersebut, terjadi dua kali perjanjian jual beli, sebagaimana disebutkan di atas.

Kenyataan dalam praktek yang terjadi tidaklah demikian, praktek pembiayaan

(18)

ini tidak berbeda dengan kredit investasi atau kredit consumer atau kredit kepemilikan rumah (KPR) bank konvensional.

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk menelaah lebih lanjut mengenai perbedaan perjanjian kredit antara bank syariah dengan bank konvensional. Penelaahan ini nantinya akan dilakukan melalui suatu penelitian dengan judul “Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam danKitab Undang-Undang Hukum Perdata“.

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas maka yang menjadi pokok permasalahan adalah :

1. Bagaimana ketentuan hukum perjanjian kredit di bank syari’ah dan bank konvensional?

2. Bagaimana bentuk klausul antara akad pembiayaan bank syari’ah dengan perjanjian kredit bank konvensional?

3. Bagaimana hubungan hukum perjanjian perbankan syari’ah dengan KUHPerdata berkaitan dengan perjanjian kredit?

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :

(19)

2. Untuk mengetahui substansi perjanjian kredit antara akad pembiayaan bank syari’ah dengan perjanjian kredit bank konvensional.

3. Untuk mengetahui hubungan hukum perjanjian perbankan syari’ah dengan KUHPerdata berkaitan dengan kredit.

D. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis, yaitu:

1. Secara akademis teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan masukan bagi ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh pihak yang membutuhkan sebagai bahan kajian pada umumnya, khususnya pengetahuan dalam perjanjian kredit perbankan syari’ah dan konvensional. 2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi para mahasiswa

dan masyarakat dalam hal perbandingan perjanjian kredit perbankan syari’ah dengan perbankan konvensional dengan jelas.

E. Keaslian Penelitian

(20)

1. Saudara Ridha Kurniawan Adnans (NIM. 057011074), Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Penerapan Sistem Jual Beli Murabahah Pada Bank Syariah (Studi Terhadap Pembiayaan Rumah/Properti Pada Bank Negara Indonesia Syariah Cabang Medan)”, dengan permasalahan yang diteliti adalah :

a. Bagaimanakah konsep jual beli murabahah menurut syariat Islam?

b. Bagaimanakah penerapan sistem jual beli murabahah terhadap pembiayaan rumah/properti pada Bank BNI Syariah?

c. Faktor-faktor apa saja yang menjadi kendala dalam pelaksanaan sistem jual beli murabahah terhadap pembiayaan rumah/property pada BankBNI Syariah? 2. Saudara Azwar (NIM. 027011004), Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Penerapan Prinsip Syariah Dalam Operasional Perbankan Islam (Studi Pada Bank Negara Indonesia Syariah Cabang Medan dan BPRS Puduarta Insani)”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:

a. Prinsip-prinsip syariah apa saja yang diterapkan dalam pelaksanaan operasional Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Cabang Medan dan BPRS Puduarta Insani?

(21)

c. Apa yang menjadi kendala dan pendukung dalam penerapan prinsip-prinsip syariah di Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Cabang Medan dan BPRS Puduarta Insani?

Permasalahan-permasalahan yang dibahas dalam penelitian-penelitian tersebut berbeda dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini. Dengan demikian penelitian ini adalah asli baik dari segi subtansi maupun dari permasalahan, sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Dalam setiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu yang terjadi.24

Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis. Kerangka teori dimaksud adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui.25

Bagi suatu penelitian, teori dan kerangka teori mempunyai kegunaan. Kegunaan tersebut paling sedikit mencakup hal-hal sebagai berikut :26

a. Teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam fakta;

24

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1986, hal. 122.

(22)

b. Teori sangat berguna di dalam klasifikasi fakta;

c. Teori merupakan ikhtiar dari hal-hal yang diuji kebenarannya.

Dalam setiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, teori adalah suatu penjelasan yang berupaya untuk menyederhanakan pemahaman mengenai suatu fenomena atau teori merupakan simpulan dari rangkaian berbagai fenomena menjadi sebuah penjelasan.27

Adapun kerangka teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini adalahteori kepastian hukum. Dalam pengertian teori kepastian hukum yang oleh Roscue Pound dikatakan bahwa adanya kepastian hukum memungkinkan adanya “Predictability”.28Dengan demikian kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian, yang pertama adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.

Selain itu digunakan juga teori positivisme sebagaimana dikemukakan oleh Jhon Austin, Aliran hukum positif yang dianalitis dari Jhon Austin, mengartikan :

“Hukum itu sebagai a command of the lawgiver (perintah dari pembentuk undang-undang atau penguasa), yaitu suatu perintah mereka yang memegang kekuasaan tertinggi atau yang memegang kedaulatan, hukum dianggap sebagai suatu sistem yang logis, tetap dan bersifat tertutup (closed logical system).

27

Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, hal.134.

28

(23)

Hukum secara tegas dipisahkan dari moral dan keadilan tidak didasarkan pada penilaian baik-buruk”.29

Hukum pada hakikatnya adalah sesuatu yang abstrak, tetapi dalam manifestasinya bisa berwujud konkrit. Suatu ketentuan hukum baru dapat dinilai baik jika akibat-akibat yang dihasilkan dari penerapannya adalah kebaikan, kebahagiaan yang sebesar-besarnya dan berkurangnya penderitaan.30

Menurut teori positivisme, tujuan hukum adalah mewujudkan keadilan (rechtsgerechtigheid), kemanfaatan (rechtsutiliteit) dan kepastian hukum (rechtszekerheid).31

Adam Smith (1723-1790), Guru Besar dalam bidang filosofi moral dan ahli teori hukum dari Glasgow University pada tahun 1750,32 telah melahirkan ajaran mengenai keadilan (justice). Smith mengatakan bahwa: “tujuan keadilan adalah untuk melindungi diri dari kerugian” (the end of justice is to secure from injury).33

Satjipto Raharjo menyebutkan bahwa hukum berfungsi sebagai salah satu alat perlindungan bagi kepentingan manusia. Hukum melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut. Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara

29Rasjidi dan Ira Tania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum, Mandar Maju, Bandung, 2002, hal. 55.

30 Lili Rasjidi dan I.B. Wyasa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1993, hal. 79.

31Achmad Ali,Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), PT. Gunung Agung Tbk, Jakarta, 2002, hal. 85.

32

Bismar Nasution, Mengkaji Ulang Hukum sebagai Landasan Pembangunan Ekonomi, Pidato pada Pengukuhan Guru Besar, USU-Medan, 17 April 2004, hal. 4-5

(24)

terukur, dalam arti, ditentukan keluasan dan kedalamannya. Kekuasaan yang demikian itulah yang disebut hak. Tetapi tidak disetiap kekuasaan dalam masyarakat bisa disebut sebagai hak, melainkan hanya kekuasaan tertentu yang menjadi alasan melekatnya hak itu pada seseorang.34

Allots memandang bahwa hukum sebagai sistem merupakan proses komunikasi, oleh karena itu hukum menjadi subjek bagi persoalan yang sama dalam memindahkan dan menerima pesan, seperti sistem komunikasi yang lain. Ciri yang membedakan hukum adalah keberadaannya sebagai fungsi yang otonom dan membedakan kelompok sosial atau masyarakat politis. Ini dihasilkan oleh mereka yang mempunyai kompetensi dan kekuasaan yang sah. Suatu sistem hukum tidak terdiri dari norma-norma tetapi juga lembaga-lembaga termasuk fasilitas dan proses.35 Penerapan klausula-klausula terhadap perjanjian bank tersebut, terdapat hal yang penting dalam perjanjian kredit bank dalam hal mengamankan fasilitas kredit yang telah diberikan oleh bank yaitu adanya pemberian jaminan oleh debitur kepada pihak bank.Keberadaan jaminan tersebut merupakan persyaratan untuk memperkecil masalah bank dalam menyalurkan kredit, pemberian jaminan adalah untuk memberikan jaminan kepada bank, debitur kepada kreditur untuk melunasi kredit yang diberikan kepadanya sesuai dengan perjanjian kredit yang telah disepakati bersama.

34Satjipto Raharjo,Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hal. 53.

(25)

Ada beberapa syarat yang harus dipahami dalam pemberian fasilitas pinjaman pada bank yang berbasis Syari’ah yang mana pada bank-bank syari’ah pemberian pinjaman tidak disebutkan dengan istilah perjanjian kreditakan tetapi dengan Akad Pembiayaan.Apa yang dimaksud dengan akad di sini ialah ucapan atau tindakan yang dilakukan oleh pihak yang berakad yang menunjukkan kerelaannya untuk berkontrak. Jadi yang dimaksud dengan akad pembiayaan yang ada pada bank-bank syariah adalah adanya hubungan timbal balik berdasarkan persetujuan dan kesepakatan antara pihak bank syari’ah dengan calon nasabah yang menerima pembiayaan untuk mengembalikan uang atau tagihan setelah jangka waktu tertentu dengan imbalanatau bagi hasil.

Bank Indonesia dalam beberapa ketentuannya telah juga memberikan definisi akad yaitu perjanjian tertulis yang memuat Ijab (Penawaran) dan Kabul (Penerimaan) antara bank dan pihak lain yang berisi hak dan kewajiban masing-masing pihak, sesuai dengan prinsip syari’ah. Seperti antara lain yang disebutkan dalam peraturan Bank Indonesia Nomor: 7/46/PBI/2005 tentang akad penghimpunan dan penyaluran dana bagi Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syari’ah.

Syarat sahnya suatu akad pada Bank Syari’ah ada 3 yaitu:36

1. Syarat Rukun yang mana rukun adalah suatu unsur yang mutlak harus ada dalam sesuatu hal, peristiwa atau tindakan. Rukun Akad tidak lain adalah Ijab dan Kabul sebab Akad adalah suatu perikatan antara Ijab dan Kabul.

2. Syarat Subjek.

(26)

a. Al-muta’aqidain/al-aqidainatau pihak-pihak yang berakad. b. Shighat al-aqadatau pernyataan untuk mengikatkan diri. 3. Syarat Objek.

a. Al-ma’qud alaih/mahal al-aqdatau objek akad. b. Maudhu’ al-aqdatau tujuan akad.

Bank Konvensional dalam hal menyalurkan kredit memakai istilah Perjanjian Kredit maupun Perjanjian Pengakuan Hutang dan dari perjanjian-perjanjian tersebut ada memuat mengenai identitas para pihak dan kewenangannya dalam bertindak dan dalam pasal-pasalnya ada memuat jangka waktu, jumlah atau nilai hutang, bunga bank, provisi dan biaya administrasi bank serta obyek yang menjadi jaminannya.

2. Konsepsi

Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori, peranan konsepsi dalam penelitian ini untuk menggabungkan teori dengan observasi, antara abstrak dengan kenyataan.Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut defenisi operasional.37 Menurut Burhan Ashshofa, suatu konsep merupakan abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari jumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu.38

Adapun uraian konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Perjanjian adalah suatu perjanjian adalah suatu perbuatan hukum dengan mana satu orang atau lebihmengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.39

(27)

b. Perbankan Syari’ah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan unit usahasyariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses dalammelaksanakan kegiatan usahanya.40

c. Prinsip Syari’ah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa dibidang syariah.41

d. Akad adalah Adalah kesepakatan tertulis antara Bank syariah atau Usaha Unit Syariah danpihak lain yang memuat adanya hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak sesuai dengan prinsip syariah.42

e. Bank Konvensional adalah Bank yang menjalankankegiatan usahanya secara konvensional dan berdasarkan jenisnya terdiri atas Bank Umum Konvensional dan Bank Perkreditan Rakyat.43

f. Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah danmusyarakah, sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atausewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik, transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan

istishna’,transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutangqardh, dan transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentukijarahuntuk transaksi multijasa.44

40Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah 41

Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah 42

(28)

g. Syariah Islam adalah sistem hidup yang memiliki karakteristik menyeluruh (komprehensif) dan universal yang mencakupaqidah,syariah, danakhlaq.45

G. Metode Penelitian

1. Sifat dan Metode Pendekatan

Sifat dari penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, bersifat analisis deskriptif maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan.46

Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum dengan metode pendekatan yuridis normatif, yang disebabkan karena penelitian ini merupakan penelitian hukum doktriner yang disebut juga penelitian kepustakaan atau studi dokumen yang dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang lain.47maka penelitian ini menekankan pada sumber-sumber bahan sekunder, baik berupa peraturan perundang-undangan maupun teori-teori hukum, disamping menelaah kaidah-kaidah hukum yang berlaku di masyarakat, sehingga ditemukan suatu asas-asas hukum yang berupa dogma atau doktrin hukum yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat digunakan untuk menganalis permasalahan yang dibahas,48serta menjawab pertanyaan sesuai dengan pokok permasalahan dalam

45

Syahril Sofyan,Op.cit., hal. 38 46

Sunaryati Hartono,Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung, 1994, hal. 101

47

Bambang Waluyo,Metode Penelitian Hukum, PT. Ghalia Indonesia, Semarang, 1996, hal. 13

(29)

penulisan tesis ini, yaitu mengenai perjanjian kredit dalam perspektif perjanjian Syari’ah Islam danKitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2. Sumber Data

Bahan penelitian merupakan kajian terhadap objek yang berupa penelitian. Bahan penelitian merupakan kajian terhadap objek yang berupa penelitian. Untuk mendapatkan data yang diperlukan, pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan (Library Research) yaitu untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah data sekunder. Untuk menghimpun data sekunder tersebut, maka dibutuhkan bahan kepustakaan yang merupakan data dasar yang digolongkan sebagai data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.

Selain itu penelitian ini didukung oleh data primer yang diperoleh dari penelitian di lapangan (field research) guna memperoleh dokumen pendukung dan hasil wawancara yang akan digunakan sebagai data penunjang dalam penelitian ini. Data tersebut diperoleh dari pihak yang telah ditentukan sebagai informan atau narasumber yaitu pihak Notaris yang terkait dengan masalah perjanjian kredit dalam prespektif perjanjian Islam danKitab Undang-Undang Hukum Perdata yang akan diteliti dalam tesis ini.

3. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam penelitian ini yang dipergunakan adalah sebagai berikut:

(30)

Merupakan upaya pengumpulan data yang diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan atau data sekunder dalam bidang hukum antara lain :

1) Bahan hukum primer.

Sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini di antaranya adalah peraturan-peraturan terkait perjanjian kredit dalam perspektif perjanjian Syari’ah Islam danKitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang terkait dengan masalah perjanjian kredit dalam perspektif perjanjian Syari’ah Islam danKitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2) Bahan hukum sekunder.

Bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti hasil-hasil penelitian, hasil seminar, hasil karya dari kalangan hukum, serta dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan perlindungan konsumen.

3) Bahan hukum tertier.

Yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum sekunder seperti kamus hukum, ensiklopedia, dan lain-lain.

b. Pedoman Wawancara.

(31)

Wawancara dilakukan dengan berpedoman pada pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu sehingga diperoleh data yang diperlukan sebagai data pendukung dalam penelitian tesis ini.

4. Analisis Data

Dalam suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisa kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Padanya terdapat regularitas atau pola tertentu, namun penuh dengan variasi (keragaman).49

Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar.50 Sedangkan metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.51

Data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) dan data primer yang diperoleh dari penelitian lapangan (field research) kemudian disusun secara berurutan dan sistematis dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif, yaitu untuk memperoleh gambaran tentang pokok permasalahan dengan menggunakan metode berpikir deduktif, ditarik kesimpulannya dari hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus.

49

Burhan Bungin,Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis Kearah Penguasaan Modal Aplikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 53

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...