BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang akan dilaksanakan peneliti adalah deskriptif dengan

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang akan dilaksanakan peneliti adalah deskriptif dengan desain non eksperimental. Penelitian deskriptif digunakan ketika peneliti ingin memperoleh gambaran secara sistematis akan suatu situasi, masalah, dan fenomena. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu mendapatkan gambaran tentang attachment pada dewasa muda baik yang belum memiliki pasangan dan yang sudah memiliki pasangan. Design non eksperimental adalah telaah empirik sistematis dimana peneliti tidak mengontrol secara langsung variabel bebas karena manifestasi dari variabel bebas telah ada atau karena variabel bebas tersebut tidak dapat dikontrol (Kothari, 2004). Penelitian ini tidak melakukan manipulasi pada variabel-variabel yang ada.

Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan kuesioner AAQ (Adult Attachment Quetionnaire). AAQ diteliti sebelumnya oleh Simpson, Rholes dan Phillip pada tahun 1996. AAQ memiliki 17 item atau pernyataan yang sudah diterjemahkan. Dalam penelitian ini akan dilakukan penambahan item pada kedua domain, karena perbedaan budaya. Budaya indonesia lebih cenderung budaya yang kolektif.

3.2 Operational Variabel Penelitian 3.2.1 Attachment Style

Variabel yang akan diukur pada penelitian ini adalah gambaran attachment pada dewasa muda baik yang belum memiliki pasangan dengan yang belum memiliki pasangan. Berdasarkan definisi-definisi dari para ahli maka attachment dapat diartikan

(2)

sebagai suatu ikatan emosional antara individu dengan signifant others pada masa kecilnya yang cenderung bertahan dan dapat mempengaruhi hubungan individu dengan orang lain dalam kehidupan sosialnya. Menurut Hazan dan Shaver (dalam Feeney & Noller,1996) attachment memiliki tiga dimensi yaitu secure, dan dua dimensi insecure: avoidant dan ambivalent/anxious yang merupakan manifestasi didalam percintaan romantis dewasa muda

Dimensi yang pertama, dewasa yang memiliki tipe secure attachment dapat digambarkan sebagai seseorang yang mudah dekat dengan orang lain, berharap dapat mempertahankan suatu intimate relationship dan dapat menerima orang lain sebagai seseorang yang dapat dipercaya. Selain individu dewasa yang bertipe attachment secure akan memiliki emosi positif lebih besar dibandingkan dengan emosi negatif. Hal ini dikarenakan mereka juga memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan tipe attachment lainnya dalam menerima dan menginterpretasikan kejadian pada suatu hubungan dengan cara yang positif.

Dimensi kedua, individu dewasa dengan tipe avoidance attachment, memiliki perasaan tidak nyaman bila harus menjadi intim dengan orang lain. Hal ini terjadi karena ia tidak memiliki kepercayaan terhadap orang lain, sehingga jarang sekali individu dengan tipe ini menemukan cinta sejatinya. Dimensi ketiga, individu dewasa dengan tipe ambivalent/ anxious attachment yang memiliki perasaan tidak nyaman dalam hubungan intimate dengan orang lain. Hanya pada tipe ini individu dewasa memiliki kecenderungan untuk menjadi terobsesi dan khawatir dengan pasangan mereka, selain itu mereka juga merasa takut bila cinta mereka yang kuat tidak mendapat balasan dari pasangannya (Hazan & Shaver, dalam Mikulincer & Shaver,2007).

(3)

Tipe attachment individu dalam penelitian ini akan diukur dengan menggunakan adaptasi dari skala Adult Attachment Queationnaire (AAQ) yang telah diuji Simpson, Rholes & Phillips pada tahun 1996. Peneliti akan melalui proses uji coba alat ukur sebelum menyebarkan kepada sampel sebenarnya. Peneliti juga akan menambahkan beberapa item pada kuesioner yang akan diadaptasi.

3.2.2 Subjek Penelitian

Responden dalam penelitian yang direncanakan terdiri dari orang dewasa muda laki-laki dan perempuan dengan karakteristik seperti dibawah ini:

a. Dewasa awal berusia 20-30 tahun

Pada usia tersebut, responden berasal dari tahap mencari pasangan hidup dan membangun keluarga (Papalia, Olds, & Feldman, 2005). Menurut Levinson (dalam Berk, 2007), umur 18 tahun sampai 30 tahun. Pengelompokkan umur ini sesuai dengan pengelompokkan umur dewasa muda. Selain itu, pengelompokkan umur ini sesuai dengan pengelompokkan umur pada dewasa di Indonesia. Hal ini dikarenakan pada umur 17 tahun, seseorang telah dianggap memasuki tahap peralihan dewasa muda. Karena cinta romantis sangat penting khususnya bagi usia dewasa muda yang kebanyakan berstatus sebagai mahasiswa. Dalam satu penelitian, mahasiswa laki-laki dan perempuan yang belum menikah diminta untuk mengidentifikasikan hubungan dekat mereka. Hasilnya lebih banyak mengaku dekat dengan pasangannya daripada dengan keluarga atau saudara (Berscheid, Snyder & Omoto dalam Santrock, 2002).

(4)

b. Berpendidikan minimal SMU

Pendidikan responden minimal telah lulus SMU (Sekolah Menengah Umum) dengan harapan responden akan mampu untuk memahami dan mengerti pernyataan dalam kuesioner yang digunakan karena pengetahuan dan aspek kognitifnya telah mencukupi (Papalia, Olds, & Feldman, 2005)

c. Berdomisili di Jakarta Barat

Responden banyak diambil hanya wilayah Jakarta Barat saja. Penelitian ini akan dilakukan pada beberapa daerah di Jakarta Barat. Penelitian dilakukan di Jakarta barat juga untuk alasan kemudahan dalam pengambilan data.

d. Romantic Relationship

Pada penelitian ini, peneliti mengelompokkan romantic relationship menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang belum mempunyai pasangan dan mempunyai pasangan. Kelompok belum mempunyai pasangan terdiri dari responden single yang belum pernah menikah. Sedangkan kelompok yang mempunyai pasangan terdiri dari responden yang berpacaran (courtship), tunangan (engagement) dan menikah (marriage).

Responden dalam penelitian ini diambil secara general (tidak dengan spesifik partner). Beberapa hubungan romantis seperti single, courtship, engagement dan marriage.

1. Single beragam populasi termasuk tidak pernah menikah, pernah menikah namun terpisah karena kematian dan cerai (Bird & Melville, 1994). Dalam penelitian ini responden single akan dispesifikan adalah single yang tidak pernah menikah.

(5)

2. Courtship adalah pertemuan antara dua orang yang khusus dirancang untuk berkembang menjadi komitmen perkawinan (Bird & Melville, 1994). Courtship bisa juga disebut sebagai pacaran.

3. Engagement adalah seseorang sudah matang untuk menjadikan pasangannya sebagai calon pendamping hidupnya. Maka, biasanya dirinya memberi simbol seperti cincin dan membuat pesta untuk memberitahukan kepada orang lain bahwa mereka berdua akan segera menikah (Duvall & Miller dalam Asrianti, 1985).

4. Marriage adalah individu yang sudah mempunyai komitmen pernikahan untuk membentuk keluarga dengan orang yang dicintai (Bird & Melville, 1994).

3.3 Jenis dan Sumber Data Penelitian

Jenis dan sumber data penelitian terdapat dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang digunakan untuk keperluan penelitian. Sedangkan peneliti tidak menggunakan data sekunder dalam penelitian. Data primer dalam penelitian ini berupa kuesioner.

3.3.1 Kuesioner

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner secara personal. Teknik ini memberikan tanggung jawab kepada responden untuk membaca dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Peneliti dapat memberikan penjelasan mengenai tujuan survey dan pertanyaan yang kurang dipahami oleh responden serta tanggapan atas kuesioner dapat langsung dikumpulkan oleh peneliti setelah diisi oleh responden.

Kuesioner yang digunakan bersifat tertutup, yaitu mengajukan pertanyaan kepada responden mengenai variabel-variabel penelitian yang telah ditentukan

(6)

sebelumnya. Skala yang dipakai dalam penyusunan kuesioner adalah skala likert. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial (Kothari, 2004).

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan suatu alat pengumpul informasi dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis pula oleh responden.

3.5 Teknik Pengambilan Sampel 3.5.1 Teknik sampling

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik non-probability sampling dalam bentuk incidental sampling. Non-probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan tidak secara acak (Kothari,2004). Sedangkan incidental sampling artinya sampel dipilih berdasarkan karakteristik yang paling mendekati dan mudah didapat (Guilford & Fruchter, 1978). Teknik tersebut dilakukan karena tidak memungkinkan untuk mengambil data dari semua jumlah populasi.

3.5.2 Jumlah Sampel

Jumlah sampel yang direncanakan akan digunakan pada uji coba adalah 45 responden sedangkan pada uji field, sampel yang akan diambil sekitar 100 responden. dewasa muda dan memiliki karakteristik yang sesuai dengan tujuan penelitian. Sampel diambil dari salah satu universitas X, beberapa gereja dan beberapa kantor di daerah Jakarta Barat. Hal ini dilakukan untuk dapat mengontrol keseragaman lingkungan dan status kelas sosial.

(7)

3.6 Instrument Penelitian 3.6.1 Alat Ukur Attachment

Penulis menggunakan kuesioner alat ukur attachment yang diadaptasi oleh peneliti, yaitu Adult Attachment Quetionnaire (AAQ). AAQ disusun oleh Simpson, Rholes & Phillips pada tahun1996. AAQ merupakan alat ukur yang dikembangkan oleh Simpson dkk. Ada 17 item atau pernyataan di dalam AAQ. AAQ merepresentasikan adult attachment style dengan dua dimensi, yaitu anxiety dan avoidance. Bukan berarti hasil penelitian hanya menemukan dua attachment saja. Sama seperti yang diuraikan dalam bab dua bahwa bila skor total avoidance dan anxiety rendah, maka responden memiliki secure attachment. Sebaliknya jika Skor total avoidance dan anxietynya tinggi maka dapat dikategorikan sebagai fearful avoidance. Dalam penelitian ini, peneliti membuat norma kelompok. Norma kelompok hanya bisa digunakan hanya di dalam kelompok penelitian ini. Jika kelompoknya sudah berbeda, peneliti harus membuat norma kembali.

Pengukuran skala dengan menggunakan internal consistency. Koefisien Cronbach Alpha. Alat ukur Adult Attachment Quetionnaire (AAQ) disusun oleh Simpson et al., menghasilkan skor alpha croncbach pada laki-laki sebesar 0,70 dan pada perempuan sebesar 0,74 untuk domain avoidance sedangkan pada laki-laki sebesar 0,72 dan pada perempuan sebesar 0,76 untuk domain anxiety. Pada penelitian ini, peneliti melakukan adaptasi dengan kuesioner AAQ dengan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Kemudian peneliti juga menambahkan beberapa item atau pernyataan. Untuk domain avoidance sebanyak 3 pernyataan dan untuk domain anxiety sebanyak 4 pernyataan.

(8)

Tabel 3.1 Konstruk alat ukur AAQ Attachment Avoidant Attachment • Ketakutan terhadap kelekatan dan bergantung dengan pasangan • Preferensi terhadap hubungan emosional dan kemandirian

• Bersikap deaktif sebagai strategi untuk

menghadapi

ketidaknyamanan dan masalah

1) Saya merasa relatif mudah untuk mendekati orang lain. 2) Saya merasa nyaman saat

orang lain bergantung kepada saya.

3) Saya merasa tidak nyaman ketika harus bergantung pada orang lain.

4) Saya tidak suka ada orang lain yang terlalu dekat dengan saya.

5) Saya merasa agak tidak nyaman berada terlalu dekat dengan orang lain.

6) Saya merasa sulit untuk mempercayai orang lain sepenuhnya.

7) Saya merasa ketakutan setiap kali ada yang terlalu dekat dengan saya.

8) Sebenarnya saya merasa tidak nyaman ketika orang lain yang ingin menjalin hubungan akrab dengan saya.

9) Saya merasa tidak nyaman bila ada orang lain yang menawarkan bantuan kepada saya (*)

10) Saya nyaman tanpa orang lain harus memiliki hubungan emosional yang dekat (*)

(9)

11) Saya lebih suka tidak memiliki orang lain (teman dekat) yang bergantung kepada saya (*)

Attachment Anxiety Attachment

• Memiliki kecemasan terhadap keinginan untuk dekat dan perlindungan • Memiliki kekhawatiran

ketika partner meninggalkannya • Bersikap hiperaktif

sebagai strategi untuk menghadapi

ketidaknyamanan dan masalah

1) Saya merasa jarang khawatir bila tidak diperhatikan oleh orang lain. 2) Orang lain sering tidak mau

menjalin relasi dekat dengan saya, padahal saya menginginkannya.

3) Saya sering merasa khawatir ketika teman dekat atau pasangan saya tidak menyayangi saya sungguh-sungguh.

4) Saya jarang merasa khawatir bila ditinggal pergi oleh teman dekat atau pasangan saya.

5) Saya ingin selalu bersama dengan orang lain tetapi keinginan saya ini membuat orang lain menjadi takut dengan saya.

6) Saya merasa yakin orang lain tidak akan menyakiti saya dengan tiba-tiba mengakhiri hubungan.

7) Saya selalu ingin lebih dekat dan akrab dengan teman dekat atau pasangan daripada siapapun.

(10)

8) Saya jarang memikirkan bahwa orang lain akan meninggalkan saya.

9) Saya merasa yakin bahwa teman dekat atau pasangan saya menyayangi saya seperti saya menyayangi dia.

10) Saya khawatir akan

penolakan dengan orang lain (*)

11) Saya khawatir bahwa orang lain tidak akan peduli terhadap saya sama seperti saya peduli terhadap mereka(*)

12) Saya banyak khawatir

tentang relasi saya dengan orang lain. (*)

Note. * penambahan item oleh peneliti; item yang dihitamkan merupakan item unfovorable

Peneliti melakukan uji coba terlebih dahulu terhadap kuesioner yang telah dibuat. Total item attachment memiliki 23 item, di mana terdapat 11 item untuk domain avoidance (item 1, 4, 6, 7, 10, 12, 14, 19, 20, 21, 22) dan 12 item untuk domain anxiety (item 2, 3, 5, 8, 9, 11, 13, 15, 16, 17, 18, 23). Skala ini diukur melalui respon yang diberikan responden yang mengindikasikan dari skala1 yang menyatakan sangat tidak setuju sampai skala 6 yang menyatakan sangat setuju.

Dalam mengerjakan alat ukur ini subyek penelitian diminta untuk memberikan lingkaran pada setiap skala yang tersedia. Skor yang diberikan menurut pada dua bentuk pernyataan yaitu favourable dan unfavourable. Untuk jawaban favourable diberikan angka 6 untuk jawaban sangat setuju dan 1 untuk jawaban sangat tidak

(11)

setuju. Sedangkan untuk pernyataan unfavourable nilai yang diberikan adalah 1 untuk jawaban sangat setuju dan 6 untuk jawaban sangat tidak setuju.

3.7 Prosedur Penelitian

3.7.1 Tahap Menerjemahkan dan Memodifikasi Alat Ukur

Dalam penelitian ini, dikarenakan kuesioner orisinil memakai bahasa Inggris maka kuesioner diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia untuk memudahkan partisipan memahami pernyataan yang diberikan. Adapun tahap-tahap yang dilakukan oleh peneliti sebagai berikut:

1. Peneliti mempersiapkan Adult Attachment Quetionnaire (AAQ) original yang disusun oleh Simpson dkk pada tahun 1996 dan memperlihatkan kepada dosen pembimbing untuk disetujui dalam melakukan penelitian.

2. Setelah disetujui, peneliti bersama beberapa teman mahasiswa dari Universitas Bina Nusantara kemudian menerjemahkan kuesioner yang berisi 17 item ke dalam Bahasa Indonesia. Seharusnya setelah diterjemahkan oleh peneliti harus diterjemahkan kembali ke Bahasa Inggris. Namun, karena keterbatasan waktu peneliti tidak menerjemahkan kembali dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.

3. Memberikan kuesioner yang telah diterjemahkan kepada dosen pembimbing skripsi untuk dikoreksi dan untuk melakukan expert judgment.

4. Setelah diperbaiki, peneliti memperbanyak kuesioner dan melakukan penyebaran kuesioner tersebut untuk uji coba.

(12)

3.7.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian

Ketika melakukan pelaksanaan penyebaran atau pembagian kuesioner kepada partisipan, peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Peneliti menyebarkan kuesioner kepada partisipan dengan cara mendatangi berbagai tempat dimana biasanya dewasa muda berkumpul, seperti misalnya di kampus, kantin, tempat kerja atau tempat beraktifitas lainnya.

2. Saat membagikan kuesioner kepada calon partisipan, peneliti akan bertanya apakah mereka mau secara sukarela berpartisipasi di dalam penelitian dengan mengisi kuesioner yang dibagikan.

3. Setelah itu, peneliti akan menjelaskan maksud dari kuesioner tersebut sebagai bagian penelitian pada tugas akhir peneliti. Selain itu, peneliti juga akan memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum menjelaskan maksud dari kuesioner tersebut. Peneliti juga akan menjelaskan kepada partispan bahwa informasi yang diisi di dalam kuesioner yang dibagikan akan dijaga kerahasiaannya dan akan dihancurkan setelah penelitian berakhir.

4. Ketika partisipan sudah bersedia untuk mengisi kuesioner tersebut, peneliti memberikan alat tulis untuk dipakai mengisi kuesionernya. Pada saat partisipan sedang mengisi kuesioner, peneliti kemudian akan memberi waktu para partisipan mengisi kuesionernya. Saat memberi waktu kepada partisipan yang telah bersedia, maka peneliti akan mencari partisipan lainnya.

5. Selain itu, peneliti juga melakukan teknik snowball dalam mengambil data. Dalam mengumpulkan data dengan meminta bantuan kepada teman-teman peneliti untuk ikut mencarikan dan mengenalkan kepada dewasa muda lainnya yang saat ini sedang menjalankan hubungan romantis maupun dewasa muda maupun yang tidak sedang menjalankan hubungan romantis.

(13)

6. Setelah partisipan selesai mengisi kuesioner yang dibagikan, peneliti akan memberikan ucapan terima kasih dan menjelaskan kembali tujuan dari kuesioner tersebut. Sebagai tanda terima kasih, setiap partisipan akan diberikan reward berupa gantungan handphone. Untuk uji coba kuesioner, peneliti menyebarkan 45 kuesioner dan kuesioner yang kembali sebanyak 36 data dikumpulkan dan terdiri dari 10 orang laki-laki dan 26 orang perempuan. 7. Setelah responden uji coba terkumpul. Peneliti melakukan perhitungan analisis

item, validitas dan realibilitas. Kemudian dari perhitungan tersebut jika item tersebut sudah valid dan realibel maka, peneliti akan menyebarkan kuesioner yang sebenernya kepada responden sebenernya.

8. Setelah selesai pengambilan data pada responden yang sebenarnya maka, peneliti akan mengolah data tersebut secara statistik.

9. Tahap terakhir peneliti menggunakan analis data dengan menggunakan tabulasi silang.

3.8 Teknik Pengolahan Data 3.8.1 Uji Validitas

Uji validitas dilakukan berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur sehingga benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Aiken & Marnat (2006) mengemukakan tiga tipe utama validitas yang akan dijelaskan dibawah ini :

a. Validitas isi (Content Validity) merupakan suatu metode pengukuran validitas yang secara sistematis menelaah apakah suatu alat ukur telah memuat sampel yang representatif dari domain tingkah laku yang akan diukur (Aiken & Marnat, 2006).

(14)

b. Criterion Predictive Validity merupakan prosedur yang hendak melihat efektivitas sebuah tes dalam memprediksi kinerja seseorang dalam aktivitas-aktivitas tertentu dengan cara menghubungkan skor tes dengan kriteria-kriteria diluar situasi tes (Aiken & Marnat,2006).

c. Construct Validity: sebuah tes menggambarkan sejauh mana tes bisa dikatakan mengukur suatu konstruk atau sifat yang teoritis (Aiken & Marnat, 2006).. Teknik uji validitas yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah construct identification validity, dengan metode internal consistency. Untuk mengukur validitas alat ukur, terlebih dahulu dicari harga korelasi antara bagian-bagian dari alat ukur secara keseluruhan dengan cara mengkorelasikan setiap butir alat ukur dengan total skor yang merupakan jumlah skor tiap butir. Untuk menghitung validitas alat ukur digunakan rumus Pearson Product Moment:

Dimana:

r hitung = koefisien korelasi

= jumlah skor item

= jumlah skor total (seluruh item) n = jumlah responden

Kaidah keputusan : Jika r hitung > r tabel berarti valid, sebaliknya : Jika r hitung < r tabel berarti tidak valid

(15)

3.8.2 Uji Realibilitas

Reliabilitas dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran konsisten bila diadakan pengujian 2 kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama. Untuk dapat melakukan hal tersebut akan digunakan tipe reliabilitas Alpha Cronbach, yaitu teknik untuk menguji konsistensi internal dari item- item dengan kemungkinan jawaban yang berbeda-beda (Anastasi & Urbina, 2007). Dalam realibilitas menggunakan batasan tertentu. Menurut Ghozali (2002), realibilitas dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan di atas 0,8 adalah baik.

3.9 Hasil Uji Coba Validitas dan Realibilitas

Berdasarkan pengambilan data untuk uji coba, peneliti memperoleh 36 orang responden penelitian, yang seluruhnya adalah dewasa awal yang memiliki rentang usia 20 – 30 tahun. Data dari subyek tersebut kemudian diolah dengan menggunakan SPSS (Statiscal Program fro Social Science ) versi 16.0 sehingga diperoleh hasil perhitungan validitas dan reliabilitas sebagai berikut :

Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan SPSS, diperoleh item- item untuk alat ukur attachment sebagai berikut.

(16)

3.9.1 Hasil Validitas Uji coba AAQ

Tabel 3.2 Item domain attachment yang valid

Dimensi Avoidant

Item r hitung Ket

Item1 -.080 Tidak Valid

Item4 .351 Valid

Item6 .307 Valid

Item7 .323 Valid

Item10 .151 Tidak Valid

Item12 .589 Valid Item14 .440 Valid item19 .250 Valid

item20 .236 Tidak Valid

item21 .353 Valid item22 .414 Valid

Sumber data: Pengolahan data SPSS

Dimensi Anxiety

Item r hitung Ket

Item2 .134 Tidak Valid

Item3 -.151 Tidak Valid

Item5 .405 Valid

Item8 .261 Valid

Item9 -.157 Tidak Valid

Item11 -.019 Tidak Valid

Item13 .371 Valid

Item15 -.066 Tidak Valid

item16 .034 Tidak Valid

item17 .295 Valid

item18 .175 Tidak Valid

item23 .259 Valid

Keterangan : signifikan pada level 0.05; n = 36

Dari tabel diatas terlihat bahwa semua item tidak memiliki koefisien r yang lebih besar dari r kritis sebesar 0,25, maka dapat disimpulkan bahwa untuk dimensi avoidance ada 3 item yang tidak valid yaitu item 1,10 dan 20. Peneliti membuang r-hitung yang minus. Jika nilai r-r-hitung tidak minus. maka peneliti melakukan revisi kepada beberapa item yang dibawah 0,25. Dimensi anxiety ada 7 item yang tidak valid yaitu item 2, 3, 9, 11, 15, 16, dan 18. Pada dimensi anxiety, peneliti akan melakukan revisi kepada hampir semua item yang dibawah 0,25. Karena hanya ada beberapa

(17)

item yang valid. Dengan demikian peneliti harus melakukan revisi beberapa item kemudian peneliti akan menguji kembali kepada sampel yang berbeda.

Berikut adalah hasil revisi kuesioner yang akan disebarkan kepada responden dalam penelitian sebenernya.

Tabel 3.3 Item-item kuesioner revisi

NO Avoidance Attachment

1 Saya merasa cukup mudah untuk bisa dekat dengan orang lain. 4 Saya merasa sulit untuk mempercayai orang lain.

6 Saya merasa tidak nyaman ketika harus bergantung pada orang lain.

10 Saya lebih suka tidak memiliki orang lain (teman dekat) yang bergantung kepada saya.

12 Saya merasa agak tidak nyaman berada terlalu dekat dengan orang lain.

14 Sebenarnya saya merasa tidak nyaman ketika ada orang lain yang ingin menjalin hubungan akrab dengan saya.

19 Saya merasa gugup jika ada seseorang yang terlalu dekat dengan diri saya.

20 Saya merasa nyaman jika orang lain bergantung pada saya. 21 Saya tidak suka ada orang lain yang terlalu dekat dengan saya. 22 Saya merasa nyaman tanpa harus memiliki kedekatan emosional

dengan orang lain.

Anxiety Attachment

2 Orang lain sering menjalin relasi dekat dengan saya, padahal saya menginginkannya.

3 Saya merasa yakin orang lain tidak akan menyakiti saya dengan tiba-tiba mengakhiri hubungan.

5 Saya khawatir bahwa orang lain tidak akan peduli terhadap saya sama seperti saya peduli terhadap mereka.

8 Saya sering merasa khawatir ketika teman dekat atau pasangan saya tidak menyayangi saya sungguh-sungguh

(18)

9 Saya jarang memikirkan bahwa orang lain akan meninggalkan saya.

11

Saya merasa yakin bahwa teman dekat atau pasangan saya menyayangi saya seperti saya menyayangi dia.

15 Saya selalu ingin lebih dekat dan akrab dengan teman dekat atau pasangan daripada siapapun

16 Saya banyak khawatir tentang relasi saya dengan orang lain. 18 Saya ingin selalu bersama dengan orang lain tetapi keinginan

saya ini membuat orang lain menjadi takut dengan saya.

23 Saya sangat jarang khawatir jika orang lain tidak memperhatinkan 13 Pikiran tentang ditinggalkan oleh orang lain jarang sekali muncul

dalam pikiran saya.

3.9.2 Hasil Realibilitas Uji Coba AAQ

Uji reliabilitas terhadap kuesioner Attachment Adult Questionaire (AAQ) dalam penelitian ini menghasilkan koefisien alpha sebagai berikut :

Tabel 3.4 Tabel Koefisien Alpha

Attachment Koefisien alpha

Avoidance 0.654

Anxiety 0.346

Sumber data: Pengolahan data SPSS

Mengacu pada pernyataan bahwa suatu instrumen dapat dikatakan reliabel bila memiliki konsistensi keterandalan reliabilitas sebesar 0,7 – 0,9 atau lebih (Anastasi & Urbina, 2007). Secara domain realibilitas untuk alat ukur AAQ untuk domain avoidance adalah 0,654 dan untuk domain anxiety 0,346. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa AAQ memiliki nilai reliabilitas yang cukup rendah, sehingga belum dapat dipergunakan dalam penelitian ini. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil pengukuran

(19)

AAQ akan tidak konsisten bila dilakukan pengukuran tipe attachment kembali pada subyek yang sama dikondisi yang berbeda, sehingga perlu beberapa item direvisi. Oleh karena itu, peneliti akan menghitung realibilitas kembali dengan menghilangkan item yang tidak valid dan merevisi kemudian melakukan uji ulang.

3.9.3 Norma

Norma adalah penyebaran skor-skor dari suatu kelompok yang digunakan sebagai patokan untuk memberi makna pada skor-skor individu (Azwar, 2005). Terdapat dua jenis norma, yaitu:

a. Norma perkembangan; digunakan untuk menginterpretasikan skor-skor pada tes-tes perkembangan. Norma perkembangan dibagi menjadi mental age, basal age, nilai rata-rata yang diperoleh kelompok umur tertentu, skala ordinal, criterion referenced testing, expectancy tables.

b. Norma kelompok (within-group norms) digunakan untuk mengetahui posisi responden dalam distribusi sample normative. Sample normative adalah skor subjek dibandingkan dengan skor kelompok. Saat peneliti hendak menggambarkan posisi individu dengan cara membandingkan antar kemampuan dan kelompok, raw score harus ditransformasikan ke dalam skala yang sama. Macam-macam skala:

• Percentile rank

• Standard score, yang dibagi menjadi: z-score, t-scale, c-scale, stanine, deviation IQ

(20)

Menurut Azwar (2005) Cara menghitung norma kelompok :

1. Mencari raw score, persentil, mean (rerata) dan standar deviasi.

2. Mean sebagai rerata, namun karena mode dan median mengandung pengertian rerata maka dalam penelitian ini istilah mean digunakan dengan rumus :

M = fX/N

3. Deviasi rata-rata didefinisikan sebagai rata-rata penyimpangan angka dari mean yaitu selisih antara angka tersebut dengan mean atau (X – M). Penyimpangan angka mean dapat bernilai positif dan negatif. Bila seluruh penyimpangan tersebut dijumlahkan hasilnya akan selalu sama dengan nol atau ( X – M) = 0. Dalam hal ini varians adalah jumlah kuadrat deviasi angka dibagi N-1

4. Norma terdiri dari skor mentah dapat dinyatakan sebagai berikut: (M+1,50s) < X Tinggi

(M+1,50s) < X ≤ (M+1,50s) Rendah 5. Mencari Skor Z dapat dihitung dengan rumus,

z = (X-M)/s 6. Mencari Skor T dengan rumus,

Figur

Tabel 3.1 Konstruk alat ukur AAQ  Attachment Avoidant  Attachment • Ketakutan terhadap  kelekatan dan  bergantung dengan  pasangan  • Preferensi terhadap  hubungan emosional dan  kemandirian

Tabel 3.1

Konstruk alat ukur AAQ Attachment Avoidant Attachment • Ketakutan terhadap kelekatan dan bergantung dengan pasangan • Preferensi terhadap hubungan emosional dan kemandirian p.8
Tabel 3.3 Item-item kuesioner revisi

Tabel 3.3

Item-item kuesioner revisi p.17
Tabel 3.4 Tabel Koefisien Alpha  Attachment  Koefisien alpha

Tabel 3.4

Tabel Koefisien Alpha Attachment Koefisien alpha p.18

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :