• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna Budaya Lagu Dolanan di Jawa Tengah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makna Budaya Lagu Dolanan di Jawa Tengah"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

33

JURNAL PENDIDIKAN, VOLUME 22, NOMOR 1, MARET 2013

33

Makna Budaya Lagu Dolanan di Jawa Tengah

Arini Hidayah

Mahasiswa S2 Program Studi Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

email: [email protected]

Abstrak, lagu dolanan Jawa Tengah, dhondhong apa salak, gundhul pacul, dan kupu kuwi,

mempunyai peranan yang penting untuk anak-anak karena di dalam lagu dolanan tersebut terdapat nilai-nilai pendidikan dan simbol-simbol kehidupan yang dapat dijadikan tuntunan untuk anak-anak. Penelitian ini akan menggali makna budaya yang tersembunyi di dalam lagu dolanan Jawa Tengah yakni dhondhong apa salak, gundhul pacul, dan kupu kuwi agar menemukan pemahaman budaya Jawa Tengah yang tersirat dalam lagu dolanan tersebut. Metode pengambilan data dalam makna budaya lagu dolanan di Jawa Tengah dengan cara interview atau wawancara secara personal yakni mewawancarai 3 informan. Model memvalidasi data ini mengarahkan peneliti mengambil data harus menggunakan beragam sumber data yang berbeda-beda. Lagu dolanan di Jawa Tengah seperti dhondhong apa salak,

gundhul pacul, dan kupu kuwi mempunyai makna budaya yang baik dalam pendidikan maupun

kehidupan anak-anak. Lagu dolanan dhondhong apa salak mempunyai makna budaya yakni karakter manusia ada 3 diilustrasikan seperti buah dhondhong, salak, dan duku. Sifat yang paling baik diantara ke tiga ilustrasi tersebut yaitu buah duku karena sifat luar dan dalam sama-sama baik, halus, dan lembut. Lagu dolanan gundhul pacul mengandung makna budaya yaitu jika orang yang mempunyai kehormatan, kedudukan, dan kemuliaan janganlah menjadi sombong karena Allah dapat memberikan balasaan yang setimpal karena kesombongannya. Sedangkan, lagu dolanan kupu kuwi juga mengandung makna budaya yakni bagaimana manusia mendapatkan kebahagiaan, kebahagiaan itu tidak bisa diprediksi kapan datangnya, kapan munculnya, dan arah mana kebahagiaan akan muncul.

Kata-kata Kunci: lagu dolanan Jawa Tengah, makna budaya

The Cultural Meaning of Nursery Rhyme in Central Java

Arini Hidayah

Students of S2 Linguistics Studies Program Culture Studies Faculty, Gajah Mada University

email: [email protected]

Abstract, Central Java nursery rhyme: ‘dhondong apa salak’, ‘gundhul pacul’, and ‘kupu kuwi’

have important roles for children because they contain education value and the symbols of life that can be such guidance for children. This research is to dig the meaning of culture lies in the central Java nursery rhyme, they are dhondong apa salak, gundhul pacul, and kupu kuwi to find out the understanding of Central Java culture that arise in those nursery rhymes. The Method of the collecting data of this research is by using personal interview, there are three informants involved. The data validity leads the researcher to use various data source. Nursery rhyme in Central Java like ‘dhondong apa salak’, ‘gundhul pacul’, and ‘kupu kuwi’ have cultural meaning that is well for both education and children life. The nursery rhyme ‘dhondong apa salak’ has cultural meaning that shows human characterization, there are three illustrations such as ‘dhondong’, ‘salak’, and ‘duku’. The best characteristic among the three

▸ Baca selengkapnya: makna dari lagu malaikat juga tahu

(2)

illustrated fruit is ‘duku’ because both inside and outside part of the fruit have well performance, soft, and smooth. ‘Gundhul pacul’ nursery rhyme contains cultural meaning if one has honor, position, and noble, never be conceited because God may give reprisal for his arrogance. Meanwhile, ‘kupu kuwi’ nursery rhyme contains cultural meaning about how human can get happiness, whereas that happiness cannot be predicted when it comes, and from which side it would come.

Keywords: Central Java nursery rhyme, cultural meaning

Pendahuluan

Linguistik antropologis (Foley, 2001) adalah cabang linguistik yang mempelajari

bahasa dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas. Linguistik antropologis mencoba

mencari makna tersembunyi di balik pemakaian bahasa, pemakaian bentuk-bentuk bahasa

yang berbeda, pemakaian register, dan gaya. Linguistik antropologis merupakan disiplin

interpretif yang mengupas bahasa untuk mendapatkan pemahaman budaya.

Indonesia mempunyai berbagai macam budaya, salah satunya budaya Jawa. Budaya

Jawa mempunyai ciri khas yang dapat menunjukkan identitas kebudayaan daerah itu

sendiri. Lagu dolanan adalah salah satu budaya yang dimiliki di daerah Jawa. Pulau Jawa

sendiri terdiri dari tiga propinsi terdiri dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Setiap propinsi mempunyai lagu dolanan sendiri-sendiri yang dapat diidentifikasikan

melalui bentuk bahasa pada lirik lagu dolanan tersebut.

Dibia (2000) berpendapat bahwa lagu dolanan merupakan: bagian dari budaya

tradisi, model pengembangan bangsa dalam memasuki globalisasi, salah satu warisan

budaya bangsa dalam memasuki globalisasi, salah satu warisan budaya bangsa yang patut

dilestarikan karena mempunyai fungsi yang amat penting bagi dunia pendidikan anak. Lagu

dolanan termasuk tradisi lisan yang biasanya dilakukan secara spontan di halaman rumah,

lorong, atau tempat terbuka lainnya.

Lagu dolanan Jawa mempunyai peranan yang penting untuk anak-anak karena di

dalam lagu dolanan tersebut terdapat nilai-nilai pendidikan dan simbol-simbol kehidupan

yang dapat dijadikan tuntunan untuk anak-anak. Nilai-nilai pendidikan dan simbol-simbol

kehidupan tersebut dapat dilihat melalui makna budaya yang terdapat pada lagu dolanan

Jawa. Lagu dolanan Jawa harus dipertahankan pada zaman sekarang ini karena lagu

dolanan Jawa sekarang mulai tergerus akan lagu anak-anak modern yang berbahasa

Indonesia yang isi lirik lagunya kebanyakan mengandung tentang percintaan antara anak

laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu penulis mengangkat topik lagu anak-anak dalam

kajian linguistik antropologis. Pada makalah ini akan menggali makna budaya yang

tersembunyi di dalam lagu dolanan Jawa agar mendapatkan pemahaman budaya Jawa.

Objek yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu lagu dolanan yang terdapat pada propinsi

Jawa Tengah. Pada makalah ini akan membahas 3 lagu dolanan Jawa Tengah yakni

dhondhong apa salak, gundhul pacul, dan kupu kuwi yang diambil dari buku yang

berjudul “Gending-Gending Dolanan” karangan Widodo (2001). Buku tersebut disusun

dengan tujuan sebagai sumber referensi Pendidikan Kesenian khususnya Sekolah Dasar

maupun Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan untuk melestaraikan lagu-lagu dolanan

daerah yang banyak mengandung pesan pendidikan bagi generasi muda sekarang.

▸ Baca selengkapnya: makna dari lagu selir hati

(3)

Arini Hidayah, Makna Budaya Lagu Dolanan di Jawa Tengah

35

Linguistik antropologis (Foley, 2001) adalah cabang linguistik yang mempelajari

bahasa dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas. Linguistik antropologis mencoba

mencari makna tersembunyi di balik pemakaian bahasa, pemakaian bentuk-bentuk bahasa

yang berbeda, pemakaian register, dan gaya. Sedangkan Kridalaksana (2011) menyebutkan

bahwa etnolinguistik juga disebut linguistik antropologi yang artinya cabang linguistik

yang menyelidiki hubungan bahasa sikap bahasawan terhadap bahasa, salah satu aspek

etnolinguistik yang sangat menonjol adalah masalah relativitas bahasa. Relatifitas bahasa

adalah salah satu pandangan bahwa bahasa seseorang menentukan pandangan dunianya

melalui kategori gramatikal dan klasifikasi semantik yang ada dalam bahasa itu dan yang

dikreasi bersama kebudayaannya.

Pada penelitian ini, 3 lagu dolanan di Jawa Tengah (yakni dhondhong apa salak,

gundhul pacul, dan kupu kuwi) akan menganalisis makna budaya yang terdapat pada lagu

dolanan di Jawa Tengah melalui bahasa. Jadi topik kajian pada penelitian ini termasuk

kajian linguistik antropologis karena dapat mengetahui kebudayaan masyarakat Jawa

melalui dari segi bahasa dalam lirik lagu dolanan Jawa Tengah tersebut.

Darsono (1995) menyebutkan bahwa lagu atau dalam masyarakat Jawa sering sisebut

tembang yang dapat diartikan sebagai lelagoning tembung (kalimat yang dilagukan dengan

suara manusia), pupuh, tabuh gitik, dan kidung. Tembang atau lagu dolanan juga disebut

lelagon yaitu penyusunannya bebas tidak terikat oleh aturan-aturan (gatra, guru lagu, dan

guru wilangan). Dalam Pendekatan stilistik dalam ‘Tembang Dolanan’ (Suciati: 2001)

mengemukakan bahwa lagu dolanan mengacu pada lagu-lagu Jawa, meskipun secara

tersurat tidak tercantum kata anak-anak dan Jawa pada kata lagu dolanan tersebut. Supanto

(1982) menjelaskan lagu dolanan adalah lagu-lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak, baik

dengan iringan atau tanpa iringan gamelan dan baik dengan gerakan atau tanpa gerakan

yang syair-syairnya diserasikan dengan alam fikiran dan imaginasi anak-anak.

Suyani (2012) berpendapat bahwa kata lagu dolanan Jawa menunjuk pada sebuah

objek yaitu lagu-lagu atau nyanyian yang digunakan untuk mengiringi sebuah atraksi

permainan Jawa. Dolanan (permainan) merupakan kegiatan yang dilakukan dengan spontan

dan dalam suasana riang gembira. Jadi dalam kegiatan bermain anak harus merasa senang.

Jika suatu kegiatan, meskipun permainan, kalau anak tidak merasa senang, berarti tidak lagi

bisa disebut permainan, melainkan sudah termasuk dalam kategori bekerja (melakukan

pekerjaan). Kata Jawa dalam pengertian umum bisa menunjuk nama sebuah pulau, nama

sebuh etnis atau suku bangsa, atau nama sebuah bahasa. Kata Jawa dalam tulisan ini

dibatasi dalam pengertian bahasa, yaitu lagu dolanan yang diungkapkan dalam bahasa

Jawa.

Dari pengertian-pengerian di atas, dapat disimpulkan bahwa lagu dolanan di Jawa

Tengah yaitu lagu-lagu atau nyanyian atau tembang berbahasa Jawa yang digunakan untuk

mengiringi sebuah kegiatan permainan anak-anak khususnya di propinsi Jawa Tengah.

Pateda (2001) dalam ‘Semantik Leksikal’ mengemukakan bahwa makna leksikal

adalah makna kata ketika kata itu berdiri sendiri, entah dalam bentuk leksem atau bentuk

berimbuhan yang maknanya kurang lebih tetap, seperti yang dapat dibaca dalam kamus

bahasa tertentu. Abdullah (2008) menyebutkan bahwa makna budaya adalah

ungkapantambahan yang merupakan proses perluasan dan pergeseran makna semantik.

Salah satu proses perluasan tersebut adalah metafora.

(4)

Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian

deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang mencatat dengan teliti dan cermat data yang

berwujud kata-kata, kalimat-kalimat wacana, gambar-gambar atau foto, catatan harian,

memorandum, video-tape (Subroto, 1992). Dalam penelitian ini, untuk mengambil sumber

data dalam makna budaya lagu dolanan di Jawa Tengah yakni terdiri dari tiga informan:

Drs. Imam Sutardjo, M.Hum (Dosen Jurusan Sastra Jawa Universitas Negeri Surakarta

sekaligus Dalang Wayang Kulit (Budayawan Jawa)), Nurnaningsih, S.S., M.Hum, dan Adi

Deswijaya, S.S., M.Hum (beliau berdua adalah Dosen Pendidikan Bahasa dan sastra Jawa

Fakultas dan Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Veteran Bangun

.Nusantara

Sukoharjo). Metode pengambilan data dalam makna budaya lagu dolanan di Jawa Tengah

dengan cara interview atau wawancara personal. Prosedur dalam wawancara personal

biasanya pewawancara menyiapkan pedoman wawancara yang berisikan beberapa

pertanyaan yang akan ditanyakan dan menyiapkan dalat untuk merekam

informasi-informasi yang ingin dicari dari informan (Scheaffer et al, 1990).

Menurut Sutopo (2006) triangulasi merupakan cara yang paling umum digunakan

bagi peningkatan validitas data dalam penelitian kualitatif. Dalam kaitannya dengan hal ini,

dinyatakan bahwa terdapat empat macam teknik triangulasi, yaitu (1) triangulasi

data/sumber (data triangulation), (2) triangulasi peneliti (investigator triangulation), (3)

triangulasi metodologis (methodological triangulation), dan (4) triangulasi teoritis

(theoretical triangulation). Pada dasarnya triangulasi ini merupakan teknik yang didasari

pola pikir fenomenologi yang bersifat multiperspektif. Artinya untuk menarik kesimpulan

yang mantap, diperlukan tidah hanya dari satu sudut pandang saja. Model memvalidasi data

ini mengarahkan peneliti mengambil data harus mengguanakan beragam sumber data yang

berbeda-beda. Artinya data yang sama atau sejenisakan lebih mantap kebenarannya apabila

dari beberapa sumber data yang berbeda. Oleh karena itu triangulasi data sering disebut

sebagai triangulasi sumber.

Hasil dan Pembahasan

Dari hasil wawancara ke tiga informan yakni Drs. Imam Sutardjo,M.Hum,

Nurnaningsih, S.S., M.Hum, dan Adi Deswijaya, S.S tentang makna lagu dolanan di Jawa

Tengah (dhondhong apa salak, gundhul pacul, dan kupu kuwi) dapat didiskripsikan dalam

tabel berikut.

(5)

37

JURNAL PENDIDIKAN, VOLUME 22, NOMOR 1, MARET 2013

37

Tabel 1. Makna Budaya Lagu Dolanan “Dhondhong Apa Salak”

Lirik lagu Dolanan Drs. Imam

Sutardjo,M.Hum Nurnaningsih, S.S.,M.Hum Adi Deswijaya, S.S.,M.Hum Kesimpulan

dhondhong apa salak dhuku cilik cilik

‘dondong atau salak, duku kecil-kecil’

Dilihat dari segi fisik

dhondhong mempunyai

tekstur luar yang halus tapi isi buahnya sangat kasar, hal ini

menandakan bahwa ada karakter manusia yang dilihat dari luar sikapnya halus tapi dalam hatinya sangat kasar.

Salak jika dilihat dari

segi fisik kulitnya sangat kasar tapi dalamnya halus, hal ini

menandakan bahwa ada karakter manusia yang dari luar itu sangat kasar tapi hatinya halus. Duku mempunyai tekstur halus baik di dalam buah duku maupun kulitnya, hal ini menandakan bahwa ada perbuataan atau sikap dan dalam hati manusia sama-sama halus.

Secara fisik dhondhong mempunyai kulit halus dan bijinya kasar, hal ini mewujudkan bahwa sifat manusia dilihat dari luar halus tapi dalam hatinya kasar.

Salak mempunyai kulit

yang kasar dan bijinya halus, hal ini

menunjukkan bahwa sifat manusia ada yang dari luar itu kasar dan mempunyai hati yang lembut. Duku

mempunyai kulit dan biji yang halus, bisa diibaratkan bahwa watak manusia baik diluar maupun di dalam (hati) yakni sama lembutnya.

Segi fisik kulit

dhondhong halus tapi isi

buahnya kasar, hal ini menunjukkan bahwa ada perilaku manusia lembut dan halus, tapi dilihat dari hatinya, hatinya sangat kasar. Kulit Salak sangat kasar dan isinya halus, hal ini menandakan bahwa perilaku manusia dari luar kasar tapi hatinya halus, lembut, dan baik. Kulit Duku itu halus baik di dalam maupun di dalam, hal ini

mewujudkan bahwa sifat manusi baik dalam maupun fifat hatinya yakni sama-sama halus, lembut, dan baik..

dhondhong mempunyai

tekstur luar yang halus tapi isi buahnya sangat kasar, hal ini mewujudkan bahwa sifat manusia dilihat dari luar sikapnya halus tapi dalam hatinya sangat kasar.

Salak mempunyai tekstur

kasar dari luar tetapi tekstur dalamnya halus, hal ini menenunjukkan bahwa sifat manusia dari luar itu sangat kasar tapi hatinya halus. Buah duku mempunyai tekstur halus baik isi duku maupun kulitnya, hal ini

menandakan bahwa sikap, perbuatan, dan dalam hati manusia sama-sama halus, lembut,dan baik. gendong apa mbecak mlaku thimik thimik Gendong berarti memanfaatkan seseorang untuk melakukan sesuatu.

Gendong berarti kalau

bekerja menyusahkan orang, kalau yang minta digendong orangnya

Maksud Gendong berarti memberikan beban kepada seseorang untuk melakukan sesuatu.

Gendong berarti

memanfaatkan tenaga atau memberikan beban kepada seseorang untuk

(6)

‘gendong atau naik becak, berjalan pelan-pelan’

Mbecak berarti membayar orang untuk melakukan sesuatu.

Mlaku berarti berjalan

sendiri, mandiri, tidak mau merugikan orang lain.

gemuk malah sulit.

Mbecak berarti

memperkerjakan orang lain dan memberi upah kepada orang yang yang berkerja tadi, di sisi lain orang yang dapat menelong seseorang dan di sisi lain menyusahkan orang lain. Mlaku maksudnya ekonomiss atau ekonomis, dan tidak mau meminta bantuan orng lain, di sisi lain selain mandiri, dengan berjalan maka badannya akan sehat.

Mbecak berarti

memberikan beban kepada orang lain dan memberikan uang kepada orang yang dibebani pekerjaan itu.

Mlaku maksudnya

berjalan mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain.

melakukan sesuatu.

Mbecak maksudnya

memanfaatkan tenaga dan membebani seseorang untuk bekerja dan tidak lupa memberikan uang kepada orang tersebut.

Mlaku maksudnya

seseorang yang dapat mengerjakan sesuatu dengan mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain.

adhik ndherek ibu tindak menyang pasar

‘adik ikut ibu pergi ke pasar’

Makna dari adhik

ndherek ibu tindak menyang pasar

yaitu seorang ibu harus memberikan perhatian lebih, dapat mengontrol, dan mengawasi anaknya.

Maksud dari adhik

ndherek ibu tindak menyang pasar yakni

seorang anak ikut kepada orang tua tidak sekedar ikut saja tapi mau membantu ibu dalam hal apapun. Seorang ibu juga harus memberikan waktu lebih, menasehati, dan mengontrol anaknya.

Arti dari adhik ndherek

ibu tindak menyang pasar yaitu seorang anak

harus selalu dinasehatin, diawasi, dididik, dan dikasih sayangin oleh ibu maupun orang tua.

Makna budaya adhik

ndherek ibu tindak menyang pasar yaitu

seorang anak harus dikntrol, dididik, diberi kasih sayang, dan dinasehatin oleh ibu agar anaknya kelak bisa dijadikan harapan bagi orang tua.

ora pareng rewel ora pareng nakal

‘tidak boleh rewel dan tidak boleh

Seorang anak kalau ingin ikut dengan ibunya atau orang tua harus tidak boleh nakal dan tidak boleh menuntut sesuatu

Seorang anak harus berbuat baik, tidak boleh menentang, dan tidak boleh menyakiti ibu atau orang tuanya.

Seorang anak tidak boleh berbuat buruk, tidak boleh banyak menuntu, dan taat kepada ibu maupun orang tuanya.

Seorang anak harus bisa bersikap baik, menurut, taat, tidak boleh menantang, tidak boleh menuntut berlebihan

(7)

Arini Hidayah, Makna Budaya Lagu Dolanan di Jawa Tengah

39

nakl’ yang berlebihan kepada ibu ataupun orang

tua.

mengko ibu mesthi mundhut oleh-oleh kacang karo roti adhik diparingi

‘nanti ibu pasti membelikan oleh-oleh kacang dan roti adik dikasih’

Kalau seorang anak tidak nakal,tidak menuntut sesuatu yang berlebihan, dan bersikap baik kepada ibu atau orang tua maka seorang ibu akan memberikan sesuatu penghargaan kepada anaknya

Jika seorang anak tidak nakal,tidak rewel menuntut sesuatu, dan taat kepada ibu atau orang tua maka ibu atau orang tua akan

memberikan hadiah kepada anaknya.

Apabila seorang anak berbuat baik dan berbakti kepada ibu atau orang tua maka ibu atau orang tua akan

memberikan sesuatu yang disukai oleh anaknya.

Jika seorang anak berbuat baik, tidak nakal, tidak meminta sesuatu yang berlebihan, taat, dan menurut kepada ibu atau orang tua, makan anak tersebut pantas mendapat hadiah atau penghargaan dari ibu atau orang tuanya.

(8)

Tabel 2. Makna Budaya Lagu Doalanan “Gundhul Pacul”

Lirik lagu Dolanan Drs. Imam

Sutardjo,M.Hum Nurnaningsih, S.S.,M.Hum Adi Deswijaya, S.S.,M.Hum Kesimpulan

gundhul-gundhul pacul-cul

‘botak-botak

pacul-cul’

Gundhul yang artinya

tidak mempunyai rambut di kepala maksudnya orang yang tidak mempunyai kehormatan, kehormatan disini biasanya disimbolkan dengan rambut. Secara fungsinya pacul adalah alat untuk mencangkul tanah, maksudnya yaitu mencari nafkah.

Gundhul maksudnya

orang yang kehilangan kehormatan. Pacul disini biasanya tertuju pada alat pertanian yakni pacul diartikan sebagai mencari nafkah untuk memenuhi keingianannya atau kehidupannya.

Makna dari gundhul yakni orang yang tidak mempunyai kemuliaan.

Pacul diartikan sebagai

alat untuk mencari nafkah karena dilihat dari fungsi pacul yaitu mencangkul sawah.

Makna budaya dari kata

gundhul yakni orang yang

kehilangan kemuliaan atau kehormatan karena gundhul berarti kepalanya plontos (tidak mempunyai rambut). Pacul maksudnya mencari penghasilan untuk hidup karena fungsi pacul sendiri yakni untuk menvangkul tanah baik di sawah maupun di ladang.

Gembelengan ‘gembelengan’ Gembelengan artinya sombong, berbuat seenaknya sendiri. Gembelengan maksudnya

orang yang mempunyai hati yang congkak, sombong, berbuat sesuka hati, dan tidak peduli kepada orang lain.

Gembelengan artinya

sikap yang jelek seperti sombong, congkak, tinggi hati, dan berbuat seenaknya sendiri.

Gembelengan artinya suatu

sikap yang buruk seperti sombong, berbuat sesuka hatinya sendiri tanpa peduli orang disekitarnya, dan congkak hati.

nyungi-nyungi wakul-kul

‘menyunggi wadah nasi di atas kepala’

Nyunggi maksudnya

seseorang harus hati-hati dalam mengerjakan sesuatu. Wakul itu untuk wadah atau tempat nasi berarti wakul disini dalam mengumpulakan nafkah. Nyunggi wakul berarti harus berhati-hati dalam mengurus hal keuangan.

Maksud dari nyunggi yakni seseorang harus berhati-hati dalam mengerjakan suatu hal. Wakul itu tempat nasi dapat diartikan sebagai hasil-hasil jerih payag dalam mencari nafkah. Makna nyunggi wakul yakni mengambil sikap kehati-hatian dalam hal mengurus keuangan.

Nyunggi maksudnya

kalau mengerjakan sesuatu harus sungguh-sugguh, tidah boleh lalai, karena kalau lalai atau tidak hati-hati akan jatuh. Wakul di sini menyangkut tentang keuangan yang mencari nafkah. Nyunggi wakul berarti melakukan sesuatu yang

Nyunggi artinya membawa

sesuatu yang tidak boleh disepelekan dan harus berhati-hati dalam membawanya. Wakul berarti suatu hal yang menyangkut tentang keuangan. Jadi dapat disimpulkan bahwa

nyunggi wakul yaitu dalam

mengurus suatu keuangan harus berhati-hati, cermat,

(9)

Arini Hidayah, Makna Budaya Lagu Dolanan di Jawa Tengah

41

berhubungan dengan keuangan harus berhati-hati dan kalau lalai bisa terjatuh.

tiak boleh lalaui untuk berhura-hura supaya tidak sia-sia dalam pekerjaannya. gembelengan ‘gembelengan’ Gembelengan artinya sombong, berbuat seenaknya sendiri. Jadi karena orang yang berbuat sombong dan berbuat seenaknya sendiri maka orang tersebut akan jatuh dari tahtanya.

Gembelengan maksudnya

orang yang mempunyai hati yang congkak, sombong, berbuat sesuka hati, dan tidak peduli kepada orang lain. Karena orang yang mempunyai hati yang congkak, sombong, berbuat sesuka hati, dan tidak peduli kepada orang lain maka orang tersebut akan jatuh, tidak manfaat usahanya selama ini.

Gembelengan artinya

sikap yang jelek seperti sombong, congkak, tinggi hati, dan berbuat seenaknya sendiri. Orang yang melakukan perbuatan buruk seperti sombong, congkak, tinggi hati, dan berbuat seenaknya sendiri akan berkaibat pada dirinya sendiri yakni orang tersebut akan jatuh dari kemuliaan atau kehormatannya.

Gembelengan artinya suatu

sikap yang buruk seperti sombong, berbuat sesuka hatinya sendiri tanpa peduli orang disekitarnya, dan congkak hati. Orang yang bersikap buruk pada orang kain dan mempunyai sifat sombong dan congkak hati, suatu saat akan mengalami hal yang fatal atau yang tidak

menguntungkan pada dirinya sendiri.

wakul nglimpang segane dadi sak latar

‘wadah nasi jatuh nasinya berceceran di halaman’

Maksudnya orang yang berbuat seenaknya sendiri dan mempunyai sifat sombong

mengalami pembalasan dari Allah dengan memberikan suatu bencana yang mana membuat kerugian yang besar pada orang tersebut, hal ini diibaratkan pada wakul

nglimpang. Orang yang

mengalami kerugian bisa

Orang yang mempunyai hati yang congkak, sombong, berbuat sesuka hati, dan tidak peduli kepada orang lain maka orang tersebut dijatuhkan oleh Allah sebagai hukuman jatuh dari kehormatan atau kemuliaan akan perbuatan-perbuatan dahulu yang dia lakukan yang diilustrasikan wakul

ngilmpang . Pada lirik

Wakul nglimpang dapat

digambarkan sebagai orang yang tadi melakukan perbuatan buruk seperti sombong, congkak dan tinggi berakibat pada dirinya sendiri yakni orang tersebut dijatuhi balasan dengan menjatuhkan orang tersebut dari tahta atau kemuliaan yang efeknyadapat dirasakan oleh dirinya sendiri dan

Wakul nglimpang

digambarkan sebagai orang yang tadi melakukan perbuatan buruk seperti sombong, congkak dan tinggi berakibat pada dirinya sendiri yakni orang tersebut dijatuhi balasan dengan menjatuhkan orang tersebut dari tahta , kemulaian, kehormatan yang efeknya dapat dirasakan oleh dirinya sendiri dan orang di

(10)

saja tidak hanya orang tersbut saja, mungkin bisa meluas kepada orang-orang yang disekitarnya, hal ini diibaratkan pada

nglimpang segane dadi sak latar.

nglimpang segane dadi sak latar menggambarkan

suatu akibat dari bencana hukuman tersebut yang dapat berefek pada orang disekitarnya seperti keluarga, teman, dan msyarakat.

orang di sekitarnya, hal ini digambarkan pada

nglimpang segane dadi sak latar.

sekitarnya seperti keluarga, teman, dan masyarakat sekitar, hal ini

diilustrasikan pada

nglimpang segane dadi sak latar.

Tabel 3. Makna Budaya Lagu Doalanan “Kupu Kuwi”

Lirik lagu Dolanan Drs. Imam

Sutardjo,M.Hum Nurnaningsih, S.S., M.Hum Adi Deswijaya, S.S., M.Hum Kesimpulan

kupu kuwi tak encupe

“kupu itu akan saya pegang”

Kupu itu indah, dilihat

dan disukai banyak orang hal ini

menggambarkan sesuatu yang indah seperti kebahagiaan. Tak

encupne berarti manusia

ingin meraih keindahan atau kebahagiaan tersebut.

Kupu mempunyai

berbagai macam warna keindahan yang tercermin pada kupu-kupu, hal ini menggambarkan suatu kebahagiaan yang berbagai macam wujud kebahagiaan.

Tak encupne mempunyai

makna bahwa manusia ingin meraih berbagai macam wujud kebahagiaan tersebut.

Kupu itu mempunyai

daya tarik keindahan dari sayap kupu-kupu yang mempunyai berbagai macam warna, kupu disini

menggambarkan kebahagiaan. Tak

encupne mengandung

arti manusia ingin menggapai kebahagiaan itu.

Kupu mempunyai berbagai

macam keindahan yang tercermin pada kupu-kupu, hal ini menggambarkan kebahagiaan yang menarik hati manusia untuk memilikinya. Tak encupne berarti manusia.ingin menggapai kebahagiaan karena semua manusia pasti menginginkan kebahagiaan.

mung abure ngewuhake

“hanya terbangnya sulit”

Mung abure ngewuhake

maksudnya kebahagiaan itu sulit didapat.

Mung abure ngewuhake

mempunyai makna yaitu untuk mendapatkan kebahagiaan itu ternyata sulit.

Mung abure ngewuhake

mendeskripsikan bahwa suatu kebahagiaan tidak mudah untuk

didapatkan seperti apa yang dibayangkan.

Mung abure ngewuhake

menggambarkan kebahagiaan sulit didapatkan, tidak mudah diambil seperti apa yang dibayangkan manusia.

(11)

Arini Hidayah, Makna Budaya Lagu Dolanan di Jawa Tengah

43

ngetan bali ngulon

“utara, selatan, timur, kembali ke barat”

bali ngulon maksudnya

yaitu kebahagiaan itu ada di mana-mana.

bali ngulon artinya

kebahagiaan itu bisa ditemukan di semua kalangan masyarakat tanpa panda bulu.

bali ngulon mempunyai

makna yaitu kebahagiann itu dimana-mana ada, kebahagiaan di masyarakat tingkat bawah, menengah, sampai atas pun bisa merasakan

kebahagiaan.

ngulon

dapat dimaknai bahwa kebahagiaan bisa dirasakan oleh semua kalangan dari tingkat bawah sampai ke tingkat atas. Mrana-mrene mung saparan-paran “kesan-kemari menurut kehendak sendiri” Mrana-mrene maksudnya kebahagiaan itu tidak bisa

diprediksikan datangnya kapan. Mung

saparan-paran maksudnya yaitu

kebahagiaan dapat dirasakan oleh semua masyarakat tergantung pada tingkat

kebahagiaaan yang diinginkan oleh manusia.

Mrana-mrene

mempunyai arti yaitu kebahagiaan tidak dapat ditentukan ke arah mana kebahagiaan akan muncul. Mung

saparan-paran

mempunyai arti bahwa ukuran kebahagiaan setiap individu berbeda-beda

Mrana-mrene

mempunyai arti bahwa kebahagiaan tidak bisa ditentukan kapan datangnya dan dimana arahnya kebahagiaan akan ditemuka. Mung

saparan-paran

menggambarkan bahwa masing-masing orang mempunyai tolak ukur tersendiri mengenai kebahagiaan.

Mrana-mrene

mendiskripsikan bahwa kebagagiaan tidak mudah diprediksi kapan akan datang, kapan akan muncul, dan kapan arahnya

kebahagiaan itu datang sulit diprediksi. Mung

saparan-saran mengilustrasikan

tolak ukur kebahagiaaan pada masing-masing manusia itu berbeda-beda.

Mbokya mencok tak encupne

“mbokya hinggap akan kupegang”

Mbokya mencok tak encupne

memiliki arti bahwa manusia berharap kebahagiaan cepatlah datang karena manusia segera ingin merasakan kebahagiaan.

Mbokya mencok tak encupne menggambarkan

manusia tidak sabar mendapatkan kebahagiaan.

Mbokya mencok tak encupne

mengilustrasikan bahwa manusia tidak sabar ingin

mendapatkan kebahagaian karena manusia ingin meraihnya.

Mbokya mencok tak encupne mendiskripsikan

manusia tidk sabar dalam mendapatkan kebahagian karena semua manusia berharap merasakan kebahagian.

Mentas mencok cegrok banjur mabur kleper

“baru saja hinggap terbang lagi”

Mentas mencok cegrok banjur mabur kleper

menggambarkan baru merasakan kebahagiaan sebentar, rasa

kebahagiaan itu cepat

Mentas mencok cegrok banjur mabur kleper

mengilustrasikan bahwa manusia hanya merasakan kebahagiaan baru saja, tetapi kebahagiaan itu

Mentas mencok cegrok banjur mabur kleper

menceritakan bahwa kebahagian cepatnya hilang karena manusia baru merasakan

Mentas mencok cegrok banjur mabur kleper

mendiskripsikan manusia baru saja menikmati kebahagiaa, kemudian kebahgiaan itu menghilang

(12)

menghilang. cepat pergi. sebentar nikmatnya kebahagian itu.

begitu saja.

kupu kuwi tak encupe

“kupu itu akan saya pegang”

Wujud Kupu itu sangat indah dilihat dan disukai banyak orang, hal ini menggambarkan sesuatu hal yang indah seperti kebahagiaan.Tak

encupne berarti manusia

ingin meraih keindahan atau kebahagiaan tersebut.

Kupu mempunyai

berbagai jenis warna kupu-kupu, hal ini menggambarkan suatu kebahagiaan yang berbagai macam wujud kebahagiaan.

Tak encupne mempunyai

makna bahwa manusia ingin meraih berbagai macam wujud kebahagiaan tersebut.

Kupu mempunyai daya

tarik keindahan dari sayap kupu-kupu yang mempunyai berbagai macam warna, kupu disini menggambarkan kebahagiaan. Tak

encupne mengandung

arti manusia ingin menggapai kebahagiaan itu.

Kupu mempunyai berbagai

macam keindahan yang tercermin pada warna kupu-kupu, hal ini

menggambarkan kebahagiaan yang dapat menarik hati manusia untuk memilikinya. Tak encupne berarti manusia.ingin menggapai kebahagiaan karena semua manusia pasti menginginkan kebahagiaan.

(13)

45

JURNAL PENDIDIKAN, VOLUME 22, NOMOR 1, MARET 2013

45

Simpulan dan Saran

Lagu dolanan di Jawa Tengah seperti dhondhong apa salak, gundhul pacul, dan kupu

kuwi mempunyai makna budaya yang dalam baik pada pendidikan dan kehidupan anak-anak.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulakn bahwa lagu dolanan dhondhong apa salak

mempunyai makna budaya yakni

karakter manusia ada 3 diilustrasikan seperti buah

dhondhong, salak, dan duku. Sifat yang paling baik diantara ke tiga ilustrasi tersebut yaitu

buah duku karena sifat luar dan dalam sama-sama baik, halus, dan lembut. Seorang anak itu

harus berbakti, berperilaku baik, dan tidak membantah kepada orang tua, nanti orang tua akan

memberikan penghargaan atau hadiah kepada anaknya.

Lagu dolanan Gundhul Pacul mengandung makna budaya yaitu jika orang yang

mempunyai kehormatan, kedudukan, dan kemuliaan karena mempunyai penghasilan yang

luar biasa, maka janganlah menjadi sombong, tinggi hati, dan congkak karena kalau orang

tersebut melakukan hal-hal yang mengarah negatif maka orang tersebut akan dihajar

hukuman oleh Allah dengan cara menjatuhkan kehormatan, kedudukan, dan kemuliaan orang

tersebut serta kekayaannya akan musnah, sehingga orang tersebut dan mungkin bisa menjalar

kepada orang-orang disekitarnya akan merasakan kerugian yang mendalam.

Lagu dolanan Kupu Kuwi juga mengandung makna budaya yakni bagaimana manusia

mendapatkan kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu tidak bisa diprediksi kapan datangnya,

kapan munculnya, dan arah mana kebahagiaan akan muncul. Kebahagiaan bisa didapatkan

oleh siapapun termasuk masyarakat dari tingkat bawah sampai ke atas. Manusia dapat

merasakan kebahagiaan tergantung tolak ukur kebahagiaan masing-masing. Ada manusia

yang tidak sabar mendapatkan kebahagiaan, ada juga manusia yang baru saja merasakan

kebahagiaan hanya sekejab kemudian kebahagiaan itu pergi entah kemana.

Lagu dolanan pada umumnya di pulau Jawa, pada khususnya di Propinsi Jawa Tengah,

harus dipertahankan pada zaman modern ini karena lagu dolanan Jawa sekarang mulai

tergerus akan lagu anak-anak modern yang berbahasa Indonesia yang isi lirik lagunya

kebanyakan mengandung tentang percintaan antara anak laki-laki dan perempuan. Penulis

berharap kepada guru bahasa Jawa di TK, SD, dan SMP bisa menerangkan makna budaya

yang terdapat pada lagu dolanan Jawa, tidak hanya pada hafalan lagu dolanan saja, tetapi agar

anak-anak bisa memahami betul makna budaya Jawa.

Daftar Rujukan

Abdullah,W. (1999). Bahasa Jawa Dialek Masyarakat Samin di Kabupaten Blora (Laporan

Penelitian Dasar), Surakarta, Fakultas Sastra dan Seni Rupa.

Dibia, I,W. (2000). Revitalisasi lagu anak-Anak Diperlukan, Warta Kota 7 September,

Direktorat Jenderal Kebudayaan: Seksi Dokumentasi Subdit Dokumentasi dan

Publikasi Direktorat Nilai Estetika.

Foley, W,A. (1997). Antropological Linguistics, Massachusetts, Blackwell Publisher.

Kridalaksana, H. (2011). Kamus Linguistik, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.

Pateda,M. (2001). Semantik Leksika, Jakarta, PT. Rhineka Cipta.

Scheaffer,R.L, Mendenhali,W,danOtt, L. (1990). Elementary Survey Sampling, Amerika,

PWS-KENT Publishing Company.

(14)

Subroto,E. (1992). Pengantar Metoda Penelitian Linguistik Struktural, Surakarta, Sebelas

Maret University Press.

Suciati, S. (2001). Ideologi Gender dalam Lagu Dolanan, Semarang, Balai Bahasa.

Supanto, dkk. (1982). Sejarah dan Budaya (Seri: Folklore), Balai Penelitian Sejarah dan

Budaya Yogyakarta.

Sutopo, H.B. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif, Surakarta, Universitas Sebelas Maret

Press.

Suyani. (2012). Makna Filosofis Dalam Lagu-Lagu Dolanan Jawa: Kajian Serat Rarya

Saraya’, Jantra, Vol. VII, No. 2, Desember 2012, pp. 204-223.

Gambar

Tabel 1. Makna Budaya Lagu Dolanan “Dhondhong Apa Salak”
Tabel 2. Makna Budaya Lagu Doalanan “Gundhul Pacul”
Tabel 3. Makna Budaya Lagu Doalanan “Kupu Kuwi”

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian upaya meningkatkan kemampuan berbahasa Jawa melalui Lagu Dolanan pada anak TK B di BA Aisyiyah Jati, Mulur, Bendosari, Sukoharjo Tahun

Anak usia dini saat ini banyak yang tidak mengetahui lagu-lagu dolanan yang merupakan lagu-lagu permainan tempo dulu yang turun temurun diwariskan oleh para orang tua. Anak

Kedua, nilai edukatif yang terkandung dalam lagu dolanan berbahasa Jawa relevan sebagai materi ajar berbicara untuk siswa kelas VII SMP/Sederajat.. Nilai edukatif

Sehingga, relevansi tradisi Nyeliwer Wengi dengan ajaran Islam mengandung sebuah makna akulturasi budaya Jawa ( Lokal ) dan ajaran Islam yaitu nilai-nilai Islam telah

Sebagai sebuah metode komunikasi, lagu Kacong tor Jhebbhing berisi lirik/teks yang mengandung pesan tentang budaya Madura.. Lagu Kacong tor Jhebbhing merupakan

Berdasarkan hasil kajian berkaitan dengan makna budaya yang tercermin dalam lagu-lagu tersebut secara gamblang disampaikan bahwa lagu-lagu tersebut menyimpan makna yang dalam bagi

Lirik lagu dolanan sebagai salah satu bentuk seni yang menggunakan bahasa dalam penyampaiannya memliki beberapa fungsi, yaitu (1) fungsi regulatoris, yaitu ditandai kata

Berdasarkan analisis data, diperoleh simpulan bahwa 1 Pada pemaknaan denotasi, konotasi, dan mitos, lirik lagu ini memiliki makna yang dalam dan merujuk pada elemen-elemen khas budaya