• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Teknologi pesawat tempur dan pengebom diakui sebagai senjata ofensif ‘par excellence’ (Freedman), yang menyediakan jalan independen untuk memenangkan perang dengan kerusakan yang lebih sedikit dibandingkan dengan perang darat. Oleh karenanya tidak heran jika negara berlomba-lomba memiliki pertahanan udara dalam berbagai bentuk, mulai dari pesawat pengebom jarak jauh, pesawat tempur, pesawat pengintai, hingga rudal dengan daya jelajah ratusan kilometer.

Salah satu negara yang memiliki pertahanan udara yang diperhitungkan adalah India. Belanja pertahanan India merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Pada tahun 2016, India membelanjakan 55 miliar dolar AS untuk pertahanan, melebihi Jepang (46 miliar dolar AS) dan Inggris (48 miliar dolar AS) (SIPRI, 2017). Besarnya perhatian India pada pertahanan tidak lepas dari fakta geografis, di mana India berbatasan dengan dua negara yang memiliki senjata nuklir yakni Pakistan dan Tiongkok. Hubungan antara India dengan kedua negara tersebut mengalami pasang surut dalam aspek politik-keamanan, sehingga menjadi persepsi ancaman bagi India (Garretson, 2015).

Pemenuhan kebutuhan senjata India dilakukan melalui kombinasi impor, produk dalam negeri, dan kerja sama pengembangan alat pertahanan. India menjadi importir senjata terbesar di dunia pada tahun 2012 sampai 2016 (Dr Kate Blanchfield, 2017), mengambil alih posisi yang sebelumnya diduduki Tiongkok. Meskipun demikian India juga memiliki industri pertahanan domestik yang sedang berkembang, seperti Hindustan Aeronautics Limited (HAL) yang masuk ke dalam 100 industri pertahanan terbesar dunia. HAL merupakan kontraktor pertahanan milik pemerintah India di bidang dirgantara. Mereka mampu memproduksi pesawat tempur ringan multiperan secara mandiri seperti Tejas (Bitzinger, 2014). Untuk meningkatkan kemampuannya, industri domestik India mengembangkan sistem pertahanan melalui kerja sama dengan negara lain, contohnya misil Brahmos yang merupakan hasil kerja sama mereka dengan Rusia (economictimes.com, 2017).

Khusus untuk teknologi pesawat, mayoritas inventaris India diimpor dari Uni Soviet/Rusia. Akan tetapi ketika India memutuskan untuk mengadakan pesawat tempur

(2)

menengah multiperan (medium multirole combar aircraft, MMRCA), diputuskan untuk melalui tender terbuka. Pada tahun 2007 India membuka tender untuk pengadaan 126 MMRCA senilai 10 miliar dolar AS, salah satu pengadaan terbesar yang pernah ada di dunia. Akibatnya, kontraktor dari negara dengan industri pertahanan yang besar langsung mengajukan proposal atas produk mereka untuk dimasukkan ke dalam kompetisi tender.

Ada enam kontraktor yang ikut dalam tender, namun hanya dua yang lolos seleksi, yaitu Eurofighter Typhoon dan Dassault Rafale (Balachandran, 2015). Pada tahapan berikutnya Rafale secara resmi memenangkan tender tapi terjadi berbagai permasalahan sampai kontrak berhasil disepakati dan ditandatangani. Oleh karena itu, keputusan India dalam tahapan-tahapan pengadaan Rafale tersebut memunculkan pertanyaan apa yang menjadi pertimbangan mereka atas keputusan tersebut, dan mengapa India tetap mengadakan Rafale walaupun terjadi permasalahan-permasalahan pasca pemenangan tender MMRCA.

1.2 Masalah Penelitian

Proses pengadaan MMRCA melibatkan kontraktor-kontraktor utama dunia yang menawarkan produk unggulan mereka. Setiap produk MMRCA yang mereka tawarkan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tapi proses seleksi hanya meloloskan Rafale dan Typhoon dari enam MMRCA. Hasil seleksi mengindikasikan keduanya memiliki kemampuan yang baik, namun pemerintah India memilih Rafale. Pemilihan tersebut tidak membuat India langsung menyepakati kontrak, butuh waktu empat tahun hingga mereka menandatangani kontrak. Hal-hal tersebut apakah disebabkan oleh faktor teknis, biaya, politik atau lainnya yang memunculkan pertanyaan penelitian sebagai berikut: Apa yang menjadi pertimbangan terbesar India dalam pengadaan Dassault Rafale tahun 2007-2016?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari pembahasan kompetisi tender pengadaan pesawat tempur multiperan di India adalah untuk menganalisis pertimbangan utama India memilih Dassault Rafale.

1.4 Signifikansi

I. Signifikansi Teoritis:

- Membantu akademisi Hubungan Internasional, khususnya Kajian Keamanan dalam menganalisis suatu isu proses pengadaan senjata.

(3)

II. Signifikansi Praktis:

- Memberikan bahan perbandingan bagi pemerintah atas proses pengadaan senjata.

1.5 Kajian Pustaka 1.5.1 Kajian Konseptual

Konsep pembuatan kebijakan pengadaan senjata yang menjadi pisau analisis skripsi ini merujuk kepada studi banding yang dilakukan Singh (1998) terhadap Tiongkok, India, Israel, Jepang, Korea Selatan dan Thailand. Menurut beliau ada 4 (empat) area kepentingan yang menjadi faktor proses pengambilan keputusan pengadaan senjata suatu negara. Keempat area kepentingan tersebut adalah: isu militer dan politik-keamanan, isu anggaran, isu tekno-industri serta isu organisasi dan kepentingan umum.

Pertama, isu militer dan politik-keamanan melihat karakteristik perencanaan keamanan nasional, persepsi ancaman dan struktur pengambilan keputusan pengadaan. Karakteristik dari ketiga aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Pengadaan senjata harus dibuat berdasarkan persepsi ancaman yang dirumuskan dengan baik dan perencanaan pertahanan jangka panjang jika strategi nasional dengan kebijakan pengadaan senjata saling berkaitan.

2. Koordinasi antara proses pengambilan keputusan pertahanan dan luar negeri maupun antara militer adalah kondisi pengambilan keputusan keamanan nasional yang koheren. 3. Pengaruh militer dan otonomi dalam proses pengambilan keputusan menjadi penghambat

utama untuk memperkenalkan norma akuntabilitas publik dan bagi pengadaan senjata. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pengaruh militer adalah: meningkatnya masalah keamanan nasional; organisasi politik nasional; peran militer dalam politik domestik dan dalam beberapa kasus pengaruh negara penyedia senjata atau aliansi militer yang dominan (Singh R., 1998).

Kedua, isu anggaran, perencanaan keuangan dan audit menjelaskan aspek dalam perencanaan keuangan pengadaan senjata, kapasitas badan pengawas legislatif untuk memantau dan meninjau penganggaran, dan peran otoritas audit perundang-undangan. Aspek-aspek tersebut dapat dianalisis berdasarkan:

1. Anggaran pertahanan terpadu yang dirancang untuk menunjukkan biaya fungsi militer tertentu, seperti pertahanan udara, pengawasan, logistik dan sebagainya, memfasilitasi

(4)

evaluasi keputusan pengadaan senjata sehubungan dengan prioritas jangka panjang. Di sisi lain, anggaran pertahanan yang dialokasikan oleh kepala biaya konvensional seperti gaji dan tunjangan, peralatan, dan operasi dan perawatan kurang informatif dan menghambat evaluasi untung-rugi.

2. Meskipun departemen audit memeriksa probabilitas pengeluaran militer, audit menurut undang-undang harus memiliki tujuan yang lebih luas untuk mengevaluasi efektivitas pengambilan keputusan pengadaan senjata sehubungan dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dan untuk menilai kinerja dan kegunaan sistem senjata. Audit undang-undang yang efektif memerlukan kapasitas multi-disiplin dan kerja sama yang erat dengan angkatan bersenjata, badan eksekutif dan badan pengawas legislatif yang bertanggung jawab untuk memantau pemborosan, kecurangan dan inefisiensi dalam sistem (Singh R., 1998).

Ketiga, isu teknologi industri fokus terhadap kapasitas penelitian dan pengembangan alat pertahanan, manufaktur senjata dalam sektor publik maupun swasta, dan hambatan dalam pengawasan publik terhadap isu-isu teknologi militer dan industri. Isu ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Biaya dan risiko dalam bisnis pertahanan cukup tinggi membuat organisasi litbang pertahanan dan industri pertahanan cenderung mencari otonomi dan uang negara untuk membangun kapasitas mereka, dengan menggunakan argumentasi kemandirian industri pertahanan atau efisiensi dalam memenuhi persyaratan militer. Namun, agar litbang pertahanan menjadi kompetitif, evaluasi teknis independen dan kapasitas pemantauan profesional sangat penting.

2. Industri teknik yang kompetitif secara internasional merupakan kondisi penting bagi pembangunan industri pertahanan suatu negara. Program industri pertahanan yang sukses memerlukan keterampilan manajemen tingkat lanjut, seperti technology assesement (TA) dan integrasi sistem, dan difusi teknologi antara industri pertahanan dan industri teknik secara general. Dengan tidak adanya kapasitas seperti itu, industri pertahanan akan cenderung berjalan dengan caranya sendiri (Singh R., 1998).

Keempat, isu organisasi dan kepentingan umum fokus pada pembatasan dan peluang untuk peningkatan pengawasan publik, pengawasan kebijakan pertahanan dan pengambilan keputusan pengadaan senjata. Isu ini dapat dianalisis melalui 2 (dua) aspek, yakni:

(5)

1. Pemeriksaan publik terhadap pengambilan keputusan pengadaan senjata membutuhkan ketentuan konstitusional, ketegasan dari legislatif dan ketersediaan informasi yang cukup untuk publik. Dalam beberapa kasus, ketahanan Pemerintah terhadap pengawasan legislatif ditunjukkan oleh keengganannya bahkan untuk menerbitkan buku putih atau dokumen kebijakan untuk mengidentifikasi kebijakan pertahanan atau pedoman pengadaan senjata. Dalam keadaan seperti itu, otonomi militer dalam pengambilan keputusan pengadaan senjata berkembang dengan mengorbankan prioritas masyarakat yang lebih besar.

2. Sejauh mana tuntutan dibuat untuk informasi terkait keamanan oleh badan legislatif dikondisikan oleh sikap masyarakat terhadap keamanan militer, perilaku elit tradisional, dan sifat organisasi politik negara tersebut. Karena sikap yang mendorong otonomi militer dan kerahasiaan yang berlebihan dapat menciptakan hambatan terhadap akuntabilitas publik, mereka juga dapat membiarkan inefisiensi merayap ke dalam proses pengadaan senjata, yang memungkinkan terjadinya pemborosan, penipuan dan penyalahgunaan (Singh R., 1998).

1.5.2 Kajian Empiris

Ada 4 (empat) kajian yang telah melakukan analisis terhadap proses pengambilan kebijakan pengadaan senjata di India, yakni Singh (1998), Tellis (2011), dan Kapur (2013), dan Singh (2016). Simpulan dari keempatnya dapat dilihat pada tabel 1.1. kajian empiris di bawah ini.

Singh (1998) membagi 3 (tiga) periode pengadaan senjata yang dilakukan oleh India, yakni: (1) masa kemerdekaan India tahun 1947 sampai pertengehan 1960an; (2) pertengahan 1960an sampai pertengahan 1980an; dan (3) pertengahan 1980an sampai 1998. Pada periode pertama India melakukan impor senjata yang didominasi oleh Inggris dan Perancis karena ingin membangun kekuatan pertahanan mereka pasca kemerdekaan. Pada periode kedua, India mulai melakukan perakitan dan produksi senjata Uni Soviet dan Perancis oleh industri dalam negeri melalui lisensi yang diberikan oleh mereka. Periode ketiga, India melakukan pengembangan dan penelitian agar dapat membuat senjata secara mandiri. Sebagai studi kasus dipilih pengadaan pesawat tempur Rafale dari Perancis.

(6)

Kajian kedua adalah mengenai pengadaan MMRCA. Menurut Tellis (2011), pengadaan ini, yang didorong oleh keinginan India untuk meningkatan kapasitas sistem dan industri pertahanan, menjadi kompetisi tender yang menarik perhatian pengamat militer dan aviasi dunia karena beberapa hal. Pertama, pengadaan MMRCA India merupakan salah satu pengadaan yang terbesar untuk alat pertahanan. Kedua, sebagai dampaknya, terdapat 8 negara (Amerika Serikat, Konsorsium Inggris, Italia, Jerman dan Spanyol, Perancis, Rusia, dan Swedia) yang ikut bersaing memperebutkan pengadaan tersebut. Tellis berargumen bahwa India sebagai negara dengan kekuatan udara terbesar ke-4 dunia sedang melakukan transisi kekuatan dari level regional ke level global. Sehingga pemerintah India perlu mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari setiap MMRCA yang ditawarkan oleh para kompetitor agar dapat menguntungkan pihak India terutama dalam kebijakan kompensasi pengadaan atau offset. Tellis mengunggulkan MMRCA dari Amerika Serikat, yaitu Boeing F/A-18EF untuk memenangkan tender berdasarkan kemampuan teknis.

Kajian ketiga dari Kapur (2013) yang mengkaji tentang ketidakjelasan status kontrak MMRCA dengan pihak Dassault Aviation yang akhirnya memenangkan tender. Menurut Kapur pihak Dassault tidak serius dalam kontrak yang telah disepakati di awal karena secara sepihak mereka mengubah kebijakan transfer teknologi dengan India. Produksi Rafale oleh Hindustan Aeronautics Limited (HAL) harus memenuhi kriteria yang ditentukan oleh pihak Dassault Perancis, sehingga pihak India tidak memiliki kuasa penuh terhadap produksi Rafale. Sikap Dassault diprediksi dapat merusak kerja sama pertahanan antara India dengan Perancis di masa depan (Kapur, 2013).

Kajian keempat dari Singh (2016), yang merupakan asisten peneliti Institute of South Asian Studies (ISAS) di National University of Singapore, menyoroti 2 (dua) hal: berlarutnya pengadaan MMRCA dan deadlock yang terjadi pasca penentuan kemenangan Dassault. Setelah hampir satu dekade negosiasi antara India dengan pihak kontraktor mengalami deadlock yang pada akhirnya India sepakat dengan Perancis untuk membeli Rafale dalam kondisi siap terbang (Singh, 2016). Kontrak antara pemerintah India dengan pihak Dassault mengalami penundaan dikarenakan offset yang diajukan oleh pihak India sulit untuk dicapai. Dassault diwajibkan melakukan investasi sebanyak 50% terhadap sektor industri pertahanan domestik India. Masalah berikutnya adalah pengurangan jumlah MMRCA yang dibeli oleh India, yang dianggap dapat menghambat mereka untuk menuju kekuatan udara yang dominan pada abad 21 ini.

(7)

Tabel 1.1 Kajian Empiris

Kajian Variabel Indikator

Arms Procurement Decision Making Volume I: China, India, Israel, Japan, South Korea and Thailand (Chapter 3: India) - India ingin mendapatkan lisensi produksi dari pengadaan senjata - India sedang melakukan pengembangan dan penelitian senjata

- Biaya dan Offset - Modernisasi - Pembangunan industri pertahanan Dogfight! India’s Medium Multi-Role Combat Aircraft Decision - Pengadaan MMRCA dengan jumlah 126 unit menarik perhatian produsen MMRCA - Penelitian dan pengembangan industri pertahanan nasional India agar dapat bersaing di level global

- Ada banyak produsen MMRCA yang mengikuti kompetisi tender, yaitu 6 kompetitor

- Offset ditawarkan masing-masing kompetitor untuk transfer teknologi

- Pemerintah India menginginkan produksi MMRCA dilakukan oleh industri pertahanan mereka India’s Medium Multi-Role Combat Aircraft (MMRCA) Contract: Uncertainty Continues - Pemangkasan jumlah pengadaan dari 126 unit menjadi 36 unit

- Ada permasalahan anggaran dari pemerintah India untuk melakukan pengadaan MMRCA

- Pihak Dassault tidak ingin 108 unit Rafale diproduksi oleh HAL

The Rafale Saga: Indian Air Force’s Never-Ending Wait for a Medium Multi-Role Combat Jet

- Pihak Dassault membatalkan kontrak untuk mengizinkan HAL memproduksi 108 unit Rafale dan investasi.

- Pihak Dassault keberatan untuk melakukan investasi sebanyak 50% terhadap Hindustan Aerospace Limited (HAL) - India tetap melakukan

(8)

Sumber: diolah dari buku Arms Procurement Decision Making Volume I: China, India, Israel, Japan, South Korea and Thailand karya Ravinder Singh (1998), dogfight! India’s Medium

Multi-Role Combat Aircraft Decision karya Ashley J. Tellis (2011), India’s Medium Multi-Multi-Role Combat Aircraft (MMRCA) Contract: Uncertainty Continues karya Vivek Kapur (2013), dan The Rafale Saga: Indian Air Force’s Never-Ending Wait for a Medium Multi-Role Combat Jet

karya Jay Singh (2016)

Berdasarkan empat kajian empiris di atas, jelas terlihat ada banyak permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam pengadaan MMRCA yang telah melibatkan perhatian kontraktor-kontraktor utama dunia. Pertama, berlarutnya proses pengadaan. Kedua, ketidakjelasan kontrak meskipun tender sudah ditetapkan. Ketiga, faktor pengurangan jumlah MMRCA yang dibeli dan prasyarat offset memaksa perubahan kesepakatan pasca pemenangan Rafale. Kajian tersebut menjelaskan bahwa pengadaan ini merupakan kasus yang kompleks dan perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhinya.

1.6 Kerangka Teori

1.6.1 Operasionalisasi Konsep

Tabel 1.2 Kajian Konsep Singh 36 unit

(9)

Sumber: diolah dari buku Arms Procurement Decision Making Volume I: China, India, Israel, Japan, South Korea and Thailand karya Ravinder Singh (1998)

Dengan mengacu pada variabel pengambilan keputusan dalam pengadaan senjata dari Singh (1998), dapat disimpulkan bahwa ada 3 (tiga) variabel utama yang dapat diaplikasikan pada kasus MMRCA di India. Variabel politik-keamanan, anggaran, dan tekno-industri merupakan area-area kepentingan yang dapat digunakan untuk menganalisis keputusan India dalam tender tersebut. Isu politik-keamanan dapat menganalisis pengadaan MMRCA akibat dari urgensi AU India untuk menghadapi ancaman dari luar, kemudian isu anggaran melihat proses perencanaan anggaran untuk pengadaan MMRCA dan kebijakan offset dari setiap kompetitor

Variabel Indikator Sumber Data

Isu militer dan politik-keamanan: 1. Persepsi ancaman 2. Pengaruh militer 1. Peningkatan kemampuan militer Pakistan dan Tiongkok 2. Konflik perbatasan dengan Pakistan dan Tiongkok 3. Target skuadron AU India • IDSA • Hasil Wawancara.

India’s Department of Defense Annual Report

The Military Balance 2007, 2011 dan 2015

India’s Standing Committee of Depatrement of Defence Annual Report Isu anggaran, perencanaan keuangan dan audit: 1. Anggaran pertahanan 2. Audit anggaran pertahanan 1. Alokasi anggaran Kemenhan India untuk MMRCA 2. Penawaran terendah kontraktor MMRCA • SIPRI.

dogfight! India’s Medium Multi-Role Combat Aircraft Decision (2011).

World Bank

• Hasil Wawancara

India’s Department of Defense Annual Report Isu tekno-industri: 1. Pengembanga n dan penelitian industri pertahanan nasional 2. Teknologi industri pertahanan 1. Kebijakan offset India dengan peserta tender 2. Pengembangan industri pertahanan nasional India.

dogfight! India’s Medium Multi-Role Combat Aircraft Decision (2011)

IDSA

Hasil Wawancara

India’s Department of Defense Annual Report

(10)

tender. Sedangkan isu tekno-industri dapat menjelaskan adanya keterkaitan antara pengadaan MMRCA di India dengan pengembangan dan penelitian sistem pertahanan mereka, serta melihat seberapa besar tingkat partisipasi industri nasional India dalam basis pertahanan mereka.

Namun, isu organisasi dan kepentingan umum tidak digunakan karena pengadaan Rafale tidak diintervensi oleh organisasi-organisasi atau tokoh-tokoh politik tertentu. Hal tersebut dapat dipastikan melalui keputusan yang diambil dari setiap tahapan pengadaan Rafale.keputusan untuk meloloskan Rafale dalam tahapan kompetisi tender MMRCA sampai penandatanganan kontrak memiliki pertimbangan yang didasari oleh alasan-alasan bersifat teknis, seperti kemampuan MMRCA, offset dan teknologi yang ditawarkan oleh setiap kontraktor, serta perimbangan kekuatan di kawasan Asia Selatan.

Selain konsep pengambilan keputusan Singh, ada 2 (dua) konsep teknis yang menjadi bagian dari indikator pengadaan senjata di India: offset dan life cycle costing. Offset merupakan kompensasi atau tambahan yang dibutuhkan pengadaan besar bersifat teknis antar negara. Kompensasi tersebut dapat berupa transfer sumber daya maupun untuk meningkatkan nilai bisnis negara pembeli. Herniksson (2011) membagi offset menjadi tiga bagian yakni:

1. Indirect offset, yaitu kompensasi yang tidak ada kaitannya dengan alat pertahanan maupun layanan yang dibeli, dan juga tidak berkaitan dengan industri pertahanan nasional negara pembeli.

2. Direct offset, yaitu kompensasi yang diberikan berkaitan langsung dengan alat pertahanan atau layanan yang dibeli.

3. Semi direct offset, yaitu kompensasi yang berkaitan dengan industri alat pertahanan, tapi tidak berkaitan dengan produk atau layanan yang dibeli (Herniksson, 2011).

Pemerintah India pertama kali memformulasikan offset dalam Defence Procurement Procedure (DPP) tahun 2005 dengan mewajibkan pihak kontraktor untuk memberikan offset sebesar 30% dari nilai kontrak di atas 3 juta rupee atau setara dengan 46.88 juta dolar untuk kategori “buy” dan ”buy & make” (Matthew, 2009). Kategori buy merupakan pembelian senjata secara langsung, sedangkan buy & make adalah pembelian senjata dari kontraktor asing yang diikuti dengan pemberian izin atau lisensi produksi senjata tersebut untuk kontraktor domestik (DPP 2006).

Life cycle costing (LCC) adalah sistem manajemen pembiayaan yang dibuat untuk mengevaluasi konsekuensi dari sebuah barang, sistem, dan fasilitas selama masa pemakaiannya.

(11)

LCC digunakan untuk membandingkan berbagai opsi dengan melakukan identifikasi dampak ekonomis selama penggunaan dari barang yang akan dibeli (Kirk, 2003). Terdapat enam isu dampak ekonomis LCC, yaitu perencanaan, kepemilikan, operasional, perawatan, pembaharuan, dan pemusnahan (Woodward, 1997). Keenam isu tersebut menjadi pertimbangan utama suatu negara dalam sebuah pengadaan alat pertahanan dilihat dari aspek anggaran.

Menurut Singh (1998), LCC dalam konteks pengadaan senjata di India dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu:

1. Masa penggunaan, setiap alat pertahanan atau layanan yang dibeli harus ditentukan periode penggunaannya, semakin lama digunakan, maka semakin besar resikonya yang beberapa parameter dapat menjadi tidak akurat. Oleh karena itu, komponen biaya atau resiko dalam masa penggunaan harus spesifik seperti biaya buruh atau dampak perubahan kondisi ekonomi.

2. Nilai diskon, pengaruh nilai dikson akan menjadi aspek penting pada hasil LCC dalam suatu periode. Nilai diskon harus ditentukan secara spesifik dalam suatu periode.

3. Pemusnahan, biaya yang dikeluarkan untuk pemusnahan barang dapat mempengaruhi LCC.

(12)

1.6.2 Kerangka Pemikiran

Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran

Gambar di atas menjelaskan hubungan antara dua variabel, yaitu independen yang merupakan isu-isu dalam proses pengambilan keputusan pengadaan senjata dari Singh, yang mencakup isu militer dan politik, isu anggaran, dan isu tekno-industri. Isu-isu tersebut memengaruhi variabel dependen yang merupakan keputusan-keputusan pemerintah India dalam proses pengadaan, yaitu Rafale dan Typhoon lolos seleksi seleksi MMRCA, pemenangan Rafale, dan penandatanganan kontrak.

1.7 Hipotesis

Berdasarkan latar belakang dan kajian pustaka dapat disimpulkan hipotesa sebagai berikut. Pertama, India memilih Rafale karena kemampuan teknis, offset dan transfer teknologi yang ditawarkan oleh pihak Dassault bersama-sama dengan Eurofighter Typhoon pada tahapan kompetisi tender. Kedua, India mempertimbangkan aspek anggaran untuk menentukan pilihan

Variabel Independen Variabel Dependen

Rafale dan Typhoon lolos seleksi tahun 2011

Pemenangan Rafale tahun 2012

Penandatanganan kontrak Rafale tahun 2016

(13)

mereka atas Rafale dibandingkan dengan Eurofighter Typhoon karena LCC yang lebih murah. Ketiga, India tetap membeli Rafale karena adanya urgensi skuadron AU India yang disebabkan oleh jumlah armada udara yang terus berkurang dan perimbangan kekuatan di kawasan Asia Selatan.

1.8 Metode Penelitian

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, yakni metodologi yang menghasilkan kata-kata dilakukan dengan survei dan hasil penelitian bukan berupa angka (Patton, 2002). Metode tersebut digunakan untuk menganalisis beberapa data dan isu dengan menggunakan kerangka pemikiran untuk mengukur dan mengkonstruksikan data yang akan menjadi hasil analisa. Sedangkan untuk analisis akan digunakan studi kasus, yakni dengan menjelaskan dan menganalisis suatu kasus secara komprehensif (Starman, 2013).

Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu primer dan sekunder. Data primer merupakan sumber penelitian yang memiliki substansi yang lebih kuat dari data sekunder. Data primer dapat diperoleh dari dua cara, baik melalui permohonan kepada narasumber atau instansi terkait seperti wawancara maupun dokumen atau laporan resmi dari suatu institusi terkait. Sedangkan data sekunder merupakan sumber pendukung data primer yang agar menjadi lebih substansial. Data ini diperoleh melalui sumber yang telah dibuat oleh peneliti maupun hasil karya tulis lain seperti artikel, jurnal, website, dan komentar (Hoox, 2005). Peneliti membutuhkan data yang terkait dengan proses pengambilan keputusan India atas pengadaan MMRCA, khususnya Rafale. Untuk memperkuat bukti dari setiap kelebihan dan kekurangan MMRCA, peneliti juga membutuhkan data atas spesifikasi teknis dari setiap pesawat tempur.

Gambar

Tabel 1.1 Kajian Empiris
Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Seperti halnya dengan pengetahuan komunikasi terapeutik perawat, kemampuan perawat yang sebagian besar pada kategori cukup baik tersebut kemungkinan karena adanya

Penelitian yang dilakukan di TK AndiniSukarame Bandar Lampung betujuan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media gambar pada usia

Ketersediaan informasi lokasi rumah sakit, fasilitas dan layanan yang tersedia di rumah sakit dan tempat kejadian dapat tersedia secara jelas dan terkini sehingga penentuan

Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji syukur dan sembah sujud, penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya sehingga penyusun

H1: (1) Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan yang diberi insentif dengan karyawan yang tidak diberi insentif (2) Terdapat perbedaan

7.4.4 Kepala LPPM menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan pada periode Pelaporan Hasil Pengabdian kepada masyarakat berikutnya.. Bidang Pengabdian kepada masyarakat

Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik bahkan

Dengan cara yang sama untuk menghitung luas Δ ABC bila panjang dua sisi dan besar salah satu sudut yang diapit kedua sisi tersebut diketahui akan diperoleh rumus-rumus