PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk
Laporan Keuangan
Periode Sembilan Bulan yang Berakhir pada
Tanggal-tanggal 30 September 2009 dan 2008
(Tidak Diaudit)
30 SEPTEMBER 2009 DAN 2008 (TIDAK DIAUDIT)
Daftar Isi
Halaman
Neraca ………... 1 - 2 Laporan Laba Rugi ...……… 3 Laporan Perubahan Ekuitas ...……….………… 4 Laporan Arus Kas …...………... 5 - 6 Catatan atas Laporan Keuangan …...……….…... 7 - 36
Catatan atas laporan keuangan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan. Catatan 2009 2008 AKTIVA AKTIVA LANCAR
Kas dan setara kas 2b,3,22 203.879 168.223
Investasi jangka pendek 2c 594 457
Piutang 2d
Usaha 4
Pihak hubungan istimewa 2e,18 21.916 35.317
Pihak ketiga 202.340 226.128
Lain-lain 2e,18 16.212 17.051
Persediaan - bersih 2f,5,8 763.908 678.269
Pajak Pertambahan Nilai dibayar di muka 15.661 12.617
Bagian lancar biaya sewa dibayar di muka 2g,2k,6,
20f 76.678 58.944
Aktiva lancar lainnya 17.861 25.912
Jumlah Aktiva Lancar 1.319.049 1.222.918
AKTIVA TIDAK LANCAR
Piutang pihak hubungan istimewa 2e,18 - 181
Aktiva pajak tangguhan - bersih 2q,10h - 4.263
Penyertaan saham 2h,18 30.000 30.000
Aset tetap - setelah dikurangi
akumulasi penyusutan sejumlah 2e,2i,2j, Rp517.023 pada tahun 2009 dan 2k,7,8,11,
Rp371.358 pada tahun 2008 12,17,18 912.350 717.144 Biaya sewa dibayar di muka -
setelah dikurangi bagian lancar 2g,2k,6,
20f 261.055 201.253
Biaya ditangguhkan - bersih 2i,2l 17.010 14.622
Taksiran tagihan pajak penghasilan 2q,10e 14.516 18.032
Lain-lain 2e,18 5.721 2.827
Jumlah Aktiva Tidak Lancar 1.240.652 988.322
JUMLAH AKTIVA 23 2.559.701 2.211.240
Catatan 2009 2008
KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN LANCAR
Hutang bank jangka pendek 5,7,8 - 145.000
Hutang
Usaha 9
Pihak hubungan istimewa 2e,18 10.821 8.305
Pihak ketiga 1.377.021 1.165.418
Lain-lain 22 69.216 79.521
Hutang dividen 14 - - -
Hutang pajak 10a 57.222 10.093
Biaya masih harus dibayar 45.807 33.187
Bagian hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun:
Hutang sewa pembiayaan 2k,7,12 1.919 3.684
Hutang bank 7,11 35.256 20.566
Penghasilan diterima di muka 2e,2k,2m,
2o,18 31.675 22.244
Jumlah Kewajiban Lancar 1.628.937 1.488.018
KEWAJIBAN TIDAK LANCAR
Kewajiban pajak tangguhan - bersih 2q,10h 5.392 -
Hutang jangka panjang - setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun:
Hutang sewa pembiayaan 2k,7,12 713 1.971
Hutang bank 7,11 41.132 85.203
Penghasilan diterima di muka 2e,2k,2m,
2o,18 13.164 9.154
Kewajiban diestimasi atas
imbalan kerja karyawan 2r,19 53.733 42.004
Jumlah Kewajiban Tidak Lancar 114.134 138.332
Jumlah Kewajiban 23 1.743.071 1.626.350
EKUITAS
Modal saham - nilai nominal Rp100 per saham Modal dasar - 12.000.000.000 saham
Modal ditempatkan dan disetor penuh -
3.431.777.000 saham pada tahun 2009 dan
3.088.600.000 saham pada tahun 2008 13 343.178 308.860
Tambahan modal disetor - bersih 2n 97.251 - Laba (rugi) yang belum direalisasi
dari efek tersedia untuk dijual 2c 94 (43)
Saldo laba
Laba yang dicadangkan 14 1.000 -
Laba yang belum dicadangkan 375.107 276.073
Jumlah Ekuitas 816.630 584.890
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 2.559.701 2.211.240
Catatan atas laporan keuangan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
Catatan 2009 2008
PENJUALAN BERSIH 2e,2m,2o,
15,18,23 7.588.852 6.075.723
BEBAN POKOK PENJUALAN 2e,2o,
16,18,23 (6.434.435) (5.153.921)
LABA KOTOR 23 1.154.417 921.802
BEBAN USAHA 2e,2o,6,7
17,18
Penjualan 2r,19,20c 876.276 697.189
Umum dan administrasi 149.425 117.946
Jumlah Beban Usaha 1.025.701 815.135
LABA USAHA 23 128.716 106.667
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN 2o
Laba penjualan aset tetap - bersih 2i,7b 7.919 10.965
Pendaftaran produk 6.480 7.256
Sewa ruangan 2e,18 7.584 5.135
Penghasilan bunga 8.077 3.245
Beban keuangan 8,11,12 (32.869) (22.819)
Lain-lain - bersih 2i,2o,10 6.602 (379)
Penghasilan (Beban) Lain-lain - Bersih 23 3.793 3.403
LABA SEBELUM PAJAK
PENGHASILAN BADAN 23 132.509 110.070
MANFAAT (BEBAN) PAJAK
PENGHASILAN BADAN 2q,10b,23
Tahun berjalan (20.538) 1.675
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan Badan (20.538) 1.675
LABA BERSIH 23 111.971 111.745
LABA BERSIH PER SAHAM DASAR 2t,21 32,80 36,18
Modal Saham Laba (rugi) yang belum
ditempatkan dan Tambahan modal direalisasi dari efek tersedia Saldo Laba
Catatan disetor penuh disetor – bersih untuk dijual Dicadangkan Belum Dicadangkan Jumlah Ekuitas
________________ ______________________________ ______________________________ _____________________________________________ _______________________ __________________________________ _____________________________
Saldo, 1 Januari 2008 308.860 - 53 - 164.328 473.241 Penurunan nilai wajar dari efek
tersedia untuk dijual 2c - - (96) - - (96)
Pembayaran dividen kas 14 - - - - - -
Laba bersih untuk periode
sembilan bulan - - - - 111.745 111.745 ___________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Saldo, 30 September 2008 308.860 - (43) - 276.073 584.890
Saldo, 1 Januari 2009 308.860 - (40) - 297.081 605.901
Penambahan modal melalui
penawaran umum perdana 2n 34.318 101.237 - - - 135.555
Biaya emisi saham 2n - (3.986) - - - (3.986)
Kenaikan nilai wajar dari efek
tersedia untuk dijual - - 134 - - 134
Laba bersih untuk periode
sembilan bulan - - - - 111.971 111.971 - Dividen 14 - - - - (32.945) (32.945)
- Penyisihan untuk cadangan
wajib 14 - - - 1.000 (1.000) - __________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ Saldo, 30 September 2009 343.178 97.251 94 1.000 375.107 816.630
Catatan atas laporan keuangan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
Catatan 2009 2008
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan 7.542.791 5.931.820
Penghasilan bunga 8.077 3.245
Pembayaran kas kepada pemasok (6.309.270) (4.985.141)
Pembayaran kas untuk gaji, upah
dan kesejahteraan karyawan (459.765) (353.667)
Pembayaran kas untuk:
Beban usaha (306.061) (291.917)
Beban keuangan (32.869) (22.819)
Pajak penghasilan (29.048) (11.770)
Penerimaan kas dari kegiatan usaha lainnya 79.590 28.973
Kas Bersih yang Diperoleh dari
Aktivitas Operasi 493.445 298.724
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Hasil penjualan aset tetap 7b 14.038 15.521
Perolehan:
Aset tetap (244.233) (374.961)
Sewa jangka panjang (121.564) (89.017)
Penyertaan saham 18 - (30.000)
Biaya ditangguhkan (3.211) (11.036)
Investasi jangka pendek - -
Kas Bersih yang Digunakan untuk
Aktivitas Investasi (354.970) (489.493)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan kas dari:
Hutang bank jangka pendek 3.550.000 785.000
Hutang bank jangka panjang - -
Tambahan modal disetor - bersih 97.251 -
Tambahan modal ditempatkan disetor penuh 34.318 -
Pembayaran kas untuk:
Hutang bank jangka pendek (3.895.000) (890.000)
Hutang sewa pembiayaan (2.993) (3.019)
Hutang bank jangka panjang (26.442) 105.769
Dividen kas (32.945) -
Kas Bersih yang Diperoleh dari
Aktivitas Pendanaan (275.811) (2.250)
KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH
KAS DAN SETARA KAS (137.336) (193.019)
KAS DAN SETARA KAS AWAL PERIODE 341.215 361.242
KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE 3 203.879 168.223
Catatan 2009 2008
AKTIVITAS YANG TIDAK MEMPENGARUHI ARUS KAS
Perolehan aset sewaan melalui
hutang sewa pembiayaan 2k,7 2.735 4.289
Penghapusan aset tetap 2i 1.235 1.911
1. UMUM
a. Pendirian Perusahaan
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (“Perusahaan”) didirikan diIndonesiaberdasarkan Akta Notaris Gde Kertayasa, S.H., No. 21 tanggal 22 Februari 1989. Akta Pendirian ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2-7158.HT.01.01.Th.89 tanggal 7 Agustus 1989 dan telah didaftarkan pada Buku Register Pengadilan Negeri Jakarta Utara No. 11/LEG/1999, serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 59 tanggal 23 Juli 1999, Tambahan No. 4414. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Notaris Frans Elsius Muliawan, S.H., No. 3 tanggal 6 November 2008, sehubungan dengan, antara lain, perubahan status Perusahaan menjadi perusahaan terbuka (Tbk) dan perubahan Anggaran Dasar sesuai dengan ketentuan pasar modal. Perubahan Anggaran Dasar tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-86971.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 17 November 2008.
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan, antara lain, meliputi usaha dalam bidang perdagangan eceran untuk produk konsumen. Kantor pusat Perusahaan berdomisili di Jl. M.H. Thamrin No. 9, Tangerang.
Kegiatan usaha Perusahaan dimulai pada tahun 1989 bergerak dalam bidang perdagangan terutama rokok. Sejak tahun 2002, Perusahaan bergerak dalam kegiatan usaha perdagangan eceran untuk produk konsumen dengan mengoperasikan jaringan minimarket dengan nama “Alfamart” yang berlokasi di beberapa tempat di Jakarta, Cileungsi, Tangerang, Bekasi, Bandung, Surabaya, Cirebon, Cilacap, Semarang, Lampung, Malang dan Bali.
Jaringan minimarket tersebut terdiri dari minimarket milik sendiri dan minimarket dalam bentuk kerjasama waralaba, dengan jumlah minimarket sebagai berikut:
2009 2008
Milik sendiri 2.396 2.067
Kerjasama waralaba 798 592
b. Penawaran Umum Efek Perusahaan
Pada tanggal 31 Desember 2008, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (“BAPEPAM-LK”) dalam suratnya No. S-9320/ BL/2008 untuk melakukan penawaran umum perdana sebanyak 343.177.000 saham dengan nilai nominal Rp100 (Rupiah penuh) per saham kepada masyarakat melalui Bursa Efek Indonesia dengan harga penawaran perdana sebesar Rp395 (Rupiah penuh) per saham. Pada tanggal 15 Januari 2009, seluruh saham Perusahaan telah dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.
c. Komisaris, Direksi, Komite Audit dan Karyawan
Padatanggal 30September 2009, susunanDewan Komisaris dan Direksi Perusahaan berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (“RUPSLB”) yang diaktakan dalam Akta Notaris Frans Elsius Muliawan, S.H., No. 3 tanggal 6 November 2008 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris Direksi
Djoko Susanto - Presiden Komisaris Feny Djoko Susanto - Presiden Direktur Glenn T. Sugita - Wakil Presiden Komisaris Henryanto Komala - Wakil Presiden Direktur
Tan Joseph Hadilianto - Komisaris Pudjianto - Direktur
Imam Santoso Hadiwidjaja - Komisaris Independen Ang Gara Hans Prawira - Direktur Hanafiah Djajawinata - Komisaris Independen Hendra Djaya - Direktur Bambang Setyawan Djojo - Direktur
1. UMUM (lanjutan)
c. Komisaris, Direksi, Komite Audit dan Karyawan (lanjutan)
Padatanggal 30September 2008, susunanDewan Komisaris dan Direksi Perusahaan berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (“RUPSLB”) yang diaktakan dalam Akta Notaris Frans Elsius Muliawan, S.H., No. 5 tanggal 12 Maret 2007 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris Direksi
Djoko Susanto - Presiden Komisaris Feny Djoko Susanto - Presiden Direktur Glenn T. Sugita - Wakil Presiden Komisaris Henryanto Komala - Wakil Presiden Direktur
Tan Joseph Hadilianto - Komisaris Pudjianto - Direktur
Ang Gara Hans Prawira - Direktur
Hendra Djaya - Direktur
Bambang Setyawan Djojo - Direktur
Soeng Peter Suryadi - Direktur
Pada tanggal 30 September 2009, susunan Komite Audit Perusahaan berdasarkan surat keputusan Dewan Komisaris tanpa rapat Dewan Komisaris pada tanggal 26 Juni 2009, susunan keanggotaannya adalah sebagai berikut:
Imam Santoso Hadiwidjaja : Ketua (Merangkap Komisaris Independen)
The Ignatius Agus Salim : Anggota
Dra Lucia Hadisurya, Ak : Anggota
Pada tanggal 30 September 2009 dan 2008, Perusahaan mempunyai masing-masing sejumlah 14.190 dan 11.909 orang karyawan tetap (tidak diaudit).
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI a. Dasar Penyajian Laporan Keuangan
Laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (“PSAK”) dan peraturan BAPEPAM-LK. Laporan keuangan disusun berdasarkan metode akrual menggunakan konsep biaya perolehan (historical cost),kecuali investasi jangka pendek dalam reksadana yang dicatat sebesar nilai aktiva bersih, dan persediaan yang dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara harga perolehan atau nilai realisasi bersih (the lower of cost or net realizable value).
Laporan arus kas disusundengan mengklasifikasikan penerimaandan pengeluaran kas dan setara kas ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan berdasarkan metode langsung (direct
method).
Mata uang pelaporan yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan adalah Rupiah.
b. Kas dan Setara Kas
Kas dan setara kas meliputi kas dan bank dan deposito berjangka dengan jangka waktu 3 (tiga) bulan atau kurang sejak tanggal penempatan, tidak dijadikan jaminan pinjaman dan tidak dibatasi penggunaannya.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) c. Investasi Jangka Pendek
Investasi jangka pendek merupakan investasi dalam reksadana yang diklasifikasikan sebagai efek yang tersedia untuk dijual (available for sale) yang dicatat sebesar nilai aktiva bersih. Keuntungan atau kerugianyang belumdirealisasi dariperubahan nilaiaktivabersih dikreditkan atau dibebankan pada akun “Laba (Rugi) yang Belum Direalisasi dari Efek Tersedia untuk Dijual” dalam kelompok ekuitas dan akan dikreditkan atau dibebankan pada usaha pada saat realisasi.
d. Penyisihan Piutang Ragu-ragu
Perusahaan menetapkan penyisihan piutang ragu-ragu berdasarkan hasil penelaahan terhadap kemungkinan tidak tertagihnya piutang masing-masing pelanggan pada akhir periode.
e. Transaksi dengan Pihak-pihak Hubungan Istimewa
Perusahaanmelakukantransaksi dengan pihak-pihaktertentu yang mempunyaihubungan istimewa sesuai dengan PSAK No. 7, “Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa”. Seluruh transaksi material dengan pihak-pihak hubungan istimewa telah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
f. Persediaan
Persediaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai realisasi bersih (the lower of cost or net realizable value). Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata bergerak (moving-average method). Penyisihan persediaan usang dan hilang ditentukan berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan persediaan pada akhir periode.
g. Biaya Sewa Dibayar di Muka
Biaya sewa dibayar di muka diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line
method) selama jangka waktu sewa. Bagian sewa yang akan dibebankan pada usaha dalam 1 (satu)
tahun diklasifikasikan sebagai aktiva lancar.
h. Penyertaan Saham
Penyertaan saham dengan persentase kepemilikan kurang dari 20% disajikan berdasarkan biaya perolehan.
i. Aset Tetap
1) Kepemilikan Langsung
Sebelum tanggal 1 Januari 2008, aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan (kecuali tanah yang tidak disusutkan).
Efektif tanggal 1 Januari 2008, Perusahaan menerapkan PSAK No. 16 (Revisi 2007), “Aset Tetap”, yang menggantikan PSAK No. 16 (1994), “Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain” dan PSAK No. 17 (1994), “Akuntansi Penyusutan”, dimana Perusahaan telah memilih model biaya. Penerapan PSAK revisi ini tidak menimbulkan dampak yang signifikan terhadap laporan keuangan Perusahaan.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)
i. Aset Tetap (lanjutan)
1). Kepemilikan Langsung (lanjutan)
Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan rugi penurunan nilai. Biaya perolehan termasuk biaya penggantian bagian aset tetap saat biaya tersebut terjadi, jika memenuhi kriteria pengakuan. Selanjutnya, pada saat inspeksi yang signifikan dilakukan, biaya inspeksi itu diakui ke dalam jumlah tercatat (carrying amount) aset tetap sebagai suatu penggantian jika memenuhi kriteria pengakuan. Semua biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan diakui dalam laporan laba rugi pada saat terjadinya.
Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus selama umur manfaat aset tetap yang diestimasi sebagai berikut:
Tahun
Bangunan dan prasarana 20 dan 5
Peralatan dan inventaris 5
Kendaraan 5
Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan dan jumlah tercatat dari aset) dimasukkan dalam laporan laba rugi pada tahun aset tersebut dihentikan pengakuannya.
Pada setiap akhir periode buku, nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan di-review, dan jika sesuai dengan keadaan, disesuaikan secara prospektif.
2) Aset dalam Penyelesaian
Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan dan disajikan sebagai bagian dari aset tetap. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke akun aset tetap yang bersangkutan pada saat aset telah selesai dan siap untuk digunakan.
3) Biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan perolehan atau perpanjangan izin hak atas tanah ditangguhkan dan disajikan dalam akun “Aktiva Tidak Lancar - Biaya Ditangguhkan - Bersih” dalam neraca, terpisah dari harga perolehan tanah. Biaya ditangguhkan tersebut diamortisasi sepanjang periode hak atas tanah atau umur ekonomis tanah, mana yang lebih pendek.
j. Penurunan Nilai Aktiva
Perusahaan melakukan penelaahan untuk menentukan adanya indikasi peristiwa atau perubahan kondisi yang mengindikasikan bahwa nilai tercatat tidak dapat dipulihkan seluruhnya pada setiap tanggal pelaporan. Apabila kondisi tersebut terjadi, Perusahaan diharuskan untuk menentukan taksiran jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount) atas semua aktivanya dan mengakuinya sebagai kerugian dalam laporan laba rugi tahun berjalan.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) k. Sewa
Sebelum tanggal 1 Januari 2008, transaksi sewa guna usaha diakui dengan menggunakan metode
capital lease jika memenuhi seluruh kriteria sebagai berikut:
1. Lessee memiliki hak opsi untuk membeli aktiva yang disewagunausahakan pada akhir masa sewa guna usaha dengan harga yang telah disetujui bersama pada saat dimulainya perjanjian sewa guna usaha.
2. Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh lessee ditambah dengan nilai sisa mencakup pengembalian biaya perolehan barang modal yang disewagunausahakan serta bunganya, merupakan keuntungan lessor (full payout lease).
3. Masa sewa guna usaha minimum 2 (dua) tahun.
Transaksi sewa yang tidak memenuhi salah satu kriteria tersebut di atas dibukukan dengan menggunakan metode sewa menyewa biasa (operating lease method) dan pembayaran sewa diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi dengan dasar garis lurus selama masa sewa guna usaha. Efektif tanggal 1 Januari 2008, PSAK No. 30 (Revisi 2007), “Sewa” menggantikan PSAK No. 30 (1990), “Akuntansi Sewa Guna Usaha”. Berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2007), penentuan apakah suatu perjanjian merupakan perjanjian sewa atau perjanjian yang mengandung sewa didasarkan atas substansi perjanjian pada tanggal awal sewa dan apakah pemenuhan perjanjian tergantung pada penggunaan suatu aset dan perjanjian tersebut memberikan suatu hak untuk menggunakan aset tersebut. Menurut PSAK revisi ini, sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset, diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan. Selanjutnya, suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi, jika sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.
Perusahaan sebagai lessee
1. Berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2007), dalam sewa pembiayaan, Perusahaan mengakui aset dan kewajiban dalam neraca pada awal masa sewa, sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Pembayaran sewa dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pelunasan kewajiban sewa. Beban keuangan dialokasikan pada setiap periode selama masa sewa, sehingga menghasilkan tingkat suku bunga periodik yang konstan atas saldo kewajiban. Rental kontinjen dibebankan pada periode terjadinya. Beban keuangan dicatat dalam laporan laba rugi. Aset sewaan (disajikan sebagai bagian aset tetap) disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara umur manfaat aset sewaan dan periode masa sewa, jika tidak ada kepastian yang memadai bahwa Perusahaan akan mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa.
2. Dalam sewa operasi, Perusahaan mengakui pembayaran sewa sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis) selama masa sewa.
Perusahaan sebagai lessor
Dalam sewa menyewa biasa, Perusahaan mengakui aset untuk sewa operasi di neraca sesuai sifat aset tersebut. Biaya langsung awal sehubungan proses negosiasi sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat dari aset sewaan dan diakui sebagai beban selama masa sewa dengan dasar yang sama dengan pendapatan sewa. Rental kontinjen, apabila ada, diakui sebagai pendapatan pada periode terjadinya. Pendapatan sewa operasi diakui sebagai pendapatan atas dasar garis lurus selama masa sewa.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) k. Sewa (lanjutan)
Pada saat penerapan PSAK revisi ini, Perusahaan memilih untuk menerapkan PSAK revisi ini secara prospektif. Perusahaan menentukan saldo yang terkait dengan transaksi sewa pembiayaan yang sudah ada sebelum tanggal 1 Januari 2008 telah tepat. Seluruh perjanjian yang ada pada awal periodesajian,dievaluasiolehPerusahaanuntukmenentukanklasifikasi mereka berdasarkan PSAK revisi ini. Jika memenuhi kriteria sebagai sewa pembiayaan, dan jika Perusahaan bertindak sebagai
lessee, maka Perusahaan akan mengakui aset dan kewajiban sewa pembiayaan, seolah-olah
kebijakan akuntansi yang baru telah berlaku sejak tanggal 1 Januari 2007 (awal periode sajian), terhadap semua perjanjian yang mengandung unsur sewa yang telah ada pada tanggal awal periode sajian tersebut.
Penerapan PSAK revisi ini tidak menimbulkan dampak terhadap laporan keuangan Perusahaan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.
l. Biaya Ditangguhkan
Biaya yangtimbul sehubungandenganbiayaperolehan pirantilunakditangguhkan dan diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus selama 5 (lima) tahun, sedangkan biaya yang timbul sehubungan dengan perolehan izin usaha diamortisasi menggunakan metode garis lurus selama masa manfaatnya.
Biaya-biaya sehubungan dengan penawaran umum perdana saham Perusahaan ditangguhkan dan akan dikurangkan dengan tambahan modal disetor yang timbul dari selisih antara harga penawaran umum perdana dengan nilai nominal saham.
m. Penghasilan Ditangguhkan
Penghasilan sewa gondola dan partisipasi promosi dari para pemasok yang telah diterima di muka dan belum diakui sebagai penghasilan, ditangguhkan dan disajikan sebagai bagian dari akun “Penghasilan Diterima di Muka” dalam neraca dan diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus selama jangka waktu sewa gondola dan partisipasi promosi.
Penghasilan waralaba terdiri dari imbalan waralaba awal dan imbalan waralaba lanjutan. Imbalan waralaba awal diterima di muka dan diamortisasi selama jangka waktu pemberian hak eksklusif waralaba, yaitu 5 (lima) tahun. Imbalan waralaba awal yang belum diakui disajikan sebagai bagian dari akun “Penghasilan Diterima di Muka” dalam neraca. Imbalan waralaba lanjutan merupakan penghasilan yang diterima sebagai kontribusi pewaralaba atas kegiatan pemasaran dan administrasi waralaba. Imbalan waralaba lanjutan diakui pada saat terjadinya.
n. Tambahan modal disetor - bersih
Tambahan modal disetor – bersih terdiri dari agio saham dikurangi dengan biaya emisi saham.
o. Pengakuan Penghasilan dan Beban
Penjualan bersih adalah penghasilan yang diperoleh dari penjualan produk dan jasa termasuk amortisasi atas penghasilan tangguhan dari kontrak atas kegiatan promosi (Catatan 2m), setelah dikurangi retur, potongan penjualan, pajak penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai. Penghasilan diakui pada saat penyerahan barang dagangan kepada pelanggan.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) p. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing
Transaksi dalam mata uang asing dicatat ke dalam Rupiah berdasarkan kurs yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal neraca, aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah berdasarkan kurs tengah transaksi terakhir Bank Indonesia pada tanggal yang bersangkutan. Laba atau rugi kurs yang terjadi dikreditkan atau dibebankan pada usaha tahun berjalan.
Pada tanggal 30 September 2009 dan 2008, nilai tukar yang digunakan masing-masing adalah sebesar Rp9.681 (Rupiah penuh) dan Rp9.343 (Rupiah penuh) untuk AS$1.
q. Pajak Penghasilan
Beban pajak tahun berjalan ditetapkan berdasarkan taksiran laba kena pajak tahun berjalan. Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan diakui atas perbedaan temporer antara aktiva dan kewajiban untuk tujuan komersial dan untuk tujuan perpajakan pada setiap tanggal pelaporan. Manfaat pajak di masa mendatang, seperti saldo rugi fiskal yang belum digunakan, diakui sejauh besar kemungkinan realisasi atas manfaat pajak tersebut.
Pajak tangguhan dihitung dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal neraca. Perubahan nilai tercatat aktiva dan kewajiban pajak tangguhan yang disebabkan oleh perubahan tarif pajak dibebankan pada tahun berjalan, kecuali untuk transaksi-transaksi yang sebelumnya telah langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas.
Perubahan terhadap kewajiban perpajakan diakui pada saat hasil ketetapan diterima atau, jika Perusahaan mengajukan keberatan, pada saat keputusan atas keberatan tersebut telah ditetapkan.
r. Kewajiban Diestimasi atas Imbalan Kerja Karyawan
Perusahaan menerapkan PSAK No. 24 (Revisi 2004), “Imbalan Kerja” yang mengatur akuntansi dan pengungkapan atas imbalan kerja karyawan. Kewajiban diestimasi atas imbalan kerja karyawan dihitung sesuai dengan Undang-undang No. 13/2003 tanggal 25 Maret 2003 tentang “Ketenagakerjaan” (“UU No. 13/2003”). Berdasarkan UU No. 13/2003 tersebut, Perusahaan diharuskan membayar imbalankerjakaryawan jika kondisi tertentu dalam UU No. 13/2003 tersebut terpenuhi. Dalam PSAK No. 24 (Revisi 2004), biaya untuk penyediaan imbalan kerja berdasarkan UU No. 13/2003 ditentukan dengan menggunakan metode penilaian aktuaria “Projected Unit Credit”.
Keuntungan dan kerugian aktuarial diakui sebagai pendapatan atau beban apabila akumulasi bersih dari keuntungan dan kerugian aktuarial yang belum diakui pada akhir periode pelaporan sebelumnya melebihi10%darinilaikinikewajibanimbalanpastipadatanggaltersebut.Keuntungan dan kerugian aktuarialinidiakui selama perkiraan rata-rata sisa masa kerja karyawan. Selanjutnya, biayajasalalu yang timbul dari penerapansuatu program imbalan pasti atau perubahan-perubahan dalam hutang imbalan kerja dari program yang sudah ada diamortisasi sampai imbalan tersebut telah menjadi hak karyawan.
s. Pelaporan Segmen
Perusahaan mengklasifikasikan pelaporan segmen sebagai berikut:
(i) Segmen geografis (primer), dimana kegiatan usaha Perusahaan dibagi berdasarkan lokasi
Distribution Centre (“DC”).
(ii) Segmen usaha (sekunder), dimana kegiatan usaha Perusahaan dibagi berdasarkan produk yang dijual, yaitu produk makanan dan bukan makanan.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)
t. Laba Bersih per Saham Dasar (“LPS”)
LPS dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar pada tahun yang bersangkutan. Rata-rata tertimbang jumlah saham yang beredar untuk tanggal-tanggal 30 September 2009 dan 2008 masing-masing berjumlah 3.414.178.179 dan 3.088.600.000 saham.
u. Penggunaan Estimasi
Penyusunan laporan keuangan sesuai prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemenPerusahaanuntukmembuat estimasi danasumsi terhadapjumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Oleh karena adanya ketidakpastian yang melekat dalam membuat estimasi, maka dari itu, terdapat kemungkinan hasil aktual yang akan dilaporkan pada periode yang akan datang berbeda dengan jumlah yang diestimasi tersebut.
v. Revisi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
Berikut ini ikhtisar revisi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (“PSAK”) yang telah diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia tetapi belum efektif pada tahun 2008:
1. PSAK No. 50 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan”, berisi persyaratan penyajian dari instrumen keuangan dan pengidentifikasian informasi yang harus diungkapkan. Persyaratan penyajian tersebut diterapkan terhadap klasifikasi instrumen keuangan, dari perspektif penerbit, dalam aset keuangan, kewajiban keuangan, dan instrumen ekuitas; pengklasifikasian yang terkait dengan suku bunga, dividen, kerugian dan keuntungan, dan keadaan dimana aset keuangan dan kewajiban keuangan akan saling hapus. Pernyataan ini mensyaratkan pengungkapan, antara lain, informasi mengenai faktor yang mempengaruhi jumlah, waktu dan tingkat kepastian arus kas masa datang yang terkait dengan instrumen keuangan dan kebijakan akuntansi yang diterapkan untuk instrumen tersebut. PSAK No. 50 (Revisi2006) inimenggantikanPSAKNo. 50,“AkuntasiInvestasiEfek Tertentu” dan diterapkan secara prospektif untuk periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009 (yang selanjutnya direvisi menjadi pada atau setelah tanggal 1 Januari 2010). Penerapan lebih dini diperkenankan dan harus diungkapkan.
2. PSAK No. 55 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”, mengatur prinsip-prinsip dasar pengakuan dan pengukuran aset keuangan, kewajiban keuangan, dan kontrak pembelian dan penjualan item non-keuangan. Pernyataan ini, antara lain, memberikan definisi dan karakteristik terhadap derivatif, kategori dari instrumen keuangan, pengakuan dan pengukuran, akuntansi lindung nilai dan penetapan dari hubungan lindung nilai. PSAK No. 55 (Revisi 2006) ini menggantikan PSAK No. 55, “Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai”, dan diterapkan secara prospektif untuk laporan keuangan yang mencakup periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009 (yang selanjutnya direvisi menjadi pada atau setelah tanggal 1 Januari 2010). Penerapan lebih dini diperkenankan dan harus diungkapkan.
Perusahaan sedang mengevaluasi dampak dari PSAK revisi No. 50 dan No. 55 tersebut dan belum menentukan dampaknya terhadap laporan keuangannya.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (Lanjutan)
v. Revisi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (Lanjutan)
3. PSAK No. 14 (Revisi 2008), “Persediaan” mengatur perlakuan akuntansi untuk persediaan, dan menggantikan PSAK No. 14 (1994). PSAK revisi ini menyediakan panduan dalam menentukan biaya persediaan dan pengakuan selanjutnya sebagai beban, termasuk setiap penurunan menjadi nilai realisasi neto, dan juga memberikan panduan rumus biaya yang digunakan untuk menentukan biaya persediaan. PSAK revisi ini berlaku untuk laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009. Perusahaan belum melakukanestimasiatasdampak penerapan PSAK revisi tersebut terhadap laporan keuangan.
3. KAS DAN SETARA KAS
Akun ini terdiri dari:
2009 2008
Kas
Rupiah 68.326 117.123
Dolar Amerika Serikat (Catatan 22) (AS$118.063 pada tahun 2009 dan
AS$86.220 pada tahun 2008) 1.143 806
Bank - pihak ketiga Rupiah
PT Bank Central Asia Tbk 61.112 47.624
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 1.806 1.895
Citibank N.A., Jakarta 244 554
PT Bank Permata Tbk 460 102
PT Bank Mega Tbk 438 115
PT Bank Danamon Indonesia Tbk - 4
Jumlah kas dan bank 133.529 168.223
Setara kas - pihak ketiga
Deposito berjangka - Rupiah
PT Bank Central Asia Tbk 35.350 -
PT Bank Danamon Indonesia Tbk - -
PT Bank Mega Tbk - -
BTPN 25.000 -
Bank Capital 10.000 -
Jumlah setara kas 70.350 -
Jumlah 203.879 168.223
Suku bunga deposito berjangka berkisar antara 6,00% sampai dengan 15,00% pada tanggal 30 September 2009 dan berkisar antara 6,00% sampai dengan 8,50% pada tanggal 30 September 2008.
4. PIUTANG USAHA
Akun ini merupakan tagihan kepada pihak hubungan istimewa dan pewaralaba atas penjualan barang dagangan dan kepada pemasok atas penghasilan sewa gondola dan partisipasi promosi sebagai berikut:
2009 2008
Pihak hubungan istimewa (Catatan 18) 21.915 35.317
Pihak ketiga 202.340 226.128
Jumlah 224.255 261.445
Analisa umur piutang usaha berdasarkan tanggal jatuh tempo adalah sebagai berikut:
2009 2008
Pihak hubungan istimewa:
Lancar 21.915 35.317 Pihak ketiga: Lancar 122.279 121.671 1 - 30 hari 72.025 100.060 31 - 60 hari 6.633 2.862 61 - 90 hari 1.269 1.451
Lebih dari 90 hari 134 84
Jumlah piutang usaha - pihak ketiga 202.340 226.128
Jumlah 224.255 261.445
Berdasarkan hasil penelaahan terhadap kemungkinan tidak tertagihnya piutang masing-masing pelanggan pada akhir periode, manajemen Perusahaan berkeyakinan bahwa seluruh piutang tersebut dapat ditagih, oleh karenanya, Perusahaan tidak membentuk penyisihan piutang ragu-ragu.
5. PERSEDIAAN - BERSIH
Akun ini terdiri dari:
2009 2008 Makanan 480.337 467.818 Bukan makanan 291.317 214.448 Jumlah (Catatan 16) 771.654 682.266
Penyisihan persediaan usang dan hilang (7.746) (3.997)
Persediaan - bersih 763.908 678.269
5. PERSEDIAAN – BERSIH (Lanjutan)
Mutasi penyisihan persediaan usang dan hilang adalah sebagai berikut:
2009 2008
Saldo awal tahun 2.134 820
Penyisihan tahun berjalan 16.145 12.235
Penghapusan persediaan (10.534) (9.058)
Saldo akhir 7.746 3.997
Berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan persediaan pada akhir periode, manajemen berkeyakinan bahwa jumlah penyisihan persediaan usang dan hilang cukup untuk menutup kemungkinan kerugian yang mungkin timbul.
Pada tanggal 30 September 2009, persediaan telah diasuransikan terhadap risiko kerugian akibat kerusuhan, kebakaran, pencurian dan risiko lainnya berdasarkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan sebesar Rp975,4 miliar. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian dari risiko-risiko tersebut.
Pada tanggal 30 September 2009 dan 2008, persediaan dengan jumlah maksimum masing-masing sebesar Rp545 miliar dan Rp245 miliar digunakan sebagai jaminan atas hutang bank jangka pendek dari PT Bank Central Asia Tbk (Catatan 8).
6. BIAYA SEWA DIBAYAR DI MUKA
Perusahaan mengadakan beberapa perjanjian sewa bangunan untuk periode 12 (dua belas) bulan sampai dengan 120 (seratus dua puluh) bulan untuk beberapa toko dan bangunan yang telah dibayar di muka. Sewa tersebut akan berakhir pada berbagai tanggal antara tahun 2009 sampai dengan tahun 2022 dan beberapa perjanjian tersebut dapat diperbaharui pada saat berakhirnya masa sewa.
Rincian nilai biaya sewa dibayar di muka - jangka panjang adalah sebagai berikut:
2009 2008
Nilai biaya sewa dibayar di muka 337.733 260.197
Dikurangi bagian lancar 76.678 58.944
Bagian jangka panjang 261.055 201.253
Amortisasi sewa yang dibebankan pada beban usaha adalah sebagai berikut (Catatan 17):
2009 2008
Beban penjualan 55.305 45.652
Beban umum dan administrasi 635 1.198
Jumlah 55.940 46.850
7. ASET TETAP
Rincian aset tetap adalah sebagai berikut:
2009
Penambahan/ Pengurangan/
Saldo Awal Reklasifikasi Reklasifikasi Saldo Akhir
Biaya Perolehan Kepemilikan Langsung
Tanah 138.197 57.313 43.730 151.780
Bangunan dan prasarana 443.598 302.369 160.609 585.358
Peralatan dan inventaris 482.365 395.914 285.922 592.357
Kendaraan 76.838 36.422 25.239 88.021 Jumlah 1.140.998 792.018 515.500 1.417.516 Aset Sewaan Kendaraan 13.652 2.735 4.530 11.857
Aset dalam Penyelesaian
Bangunan 57.906 11.360 69.266 -
Jumlah Biaya Perolehan 1.212.556 806.113 589.296 1.429.373
Akumulasi Penyusutan Kepemilikan Langsung
Bangunan dan prasarana 121.855 72.687 26.716 167.826
Peralatan dan inventaris 222.558 107.053 46.667 282.944
Kendaraan 55.536 14.103 8.600 61.039 Jumlah 399.949 193.843 81.983 511.809 Aset Sewaan Kendaraan 4.516 2.454 1.756 5.214
Jumlah Akumulasi Penyusutan 404.465 196.297 83.739 517.023
Nilai Buku 808.091 609.816 505.557 912.350
Rincian aset tetap adalah sebagai berikut:
2008
Penambahan/ Pengurangan/
Saldo Awal Reklasifikasi Reklasifikasi Saldo Akhir
Biaya Perolehan Kepemilikan Langsung
Tanah 25.757 113.759 1.321 138.195
Bangunan dan prasarana 262.949 168.688 64.961 366.676
Peralatan dan inventaris 359.493 194.970 124.787 429.676
Kendaraan 61.135 29.480 17.030 73.585 Jumlah 709.334 506.897 208.099 1.008.132 Aset Sewaan Kendaraan 18.840 4.289 9.158 13.971
Bangunan dalam Penyelesaian - 66.396 - 66.396
Jumlah Biaya Perolehan 728.174 577.582 217.257 1.088.499
Akumulasi Penyusutan Kepemilikan Langsung
Bangunan dan prasarana 76.403 40.184 7.450 109.137
Peralatan dan inventaris 159.071 63.638 17.454 205.255
Kendaraan 44.122 15.372 6.576 52.918
7. ASET TETAP (Lanjutan) Aset Sewaan
Kendaraan 6.007 2.650 4.612 4.045
Jumlah Akumulasi Penyusutan 285.603 121.844 36.092 371.355
Nilai Buku 442.571 455.738 181.165 717.144
a. Beban penyusutan yang dibebankan pada beban usaha adalah sebagai berikut (Catatan 17):
2009 2008
Beban penjualan 112.591 82.808
Beban umum dan administrasi 20.396 14.499
Jumlah 132.987 97.307
b. Laba penjualan aset tetap - bersih adalah sebagai berikut:
2009 2008
Hasil penjualan 14.038 15.521
Nilai buku bersih (6.119) (4.557)
Laba penjualan aset tetap - bersih 7.919 10.964
c. Pada tanggal 30 September 2009, aset tetap, kecuali tanah, telah diasuransikan terhadap risiko kerugian akibat kerusuhan, kebakaran, pencurian dan risiko lainnya berdasarkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan sebesar Rp2,11 triliun. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian dari risiko-risiko tersebut. d. Aset sewaan digunakan sebagai jaminan atas hutang sewa pembiayaan (Catatan 12).
e. Padatanggal30September 2009dan 2008, aset tetap tertentu milik Perusahaan dengan nilai buku bersih masing-masing sebesar Rp329,93 miliar dan Rp204,30 miliar digunakan sebagai jaminan atas hutang bank dari PT Bank Central Asia Tbk (Catatan 8 dan 11).
8. HUTANG BANK JANGKA PENDEK
Akun ini merupakan hutang bank jangka pendek yang diperoleh dari PT Bank Central Asia Tbk (“BCA”) dengan rincian sebagai berikut:
2009 2008
Time loan - 45.000
Time loan insidentil - 100.000
Jumlah - 145.000
Pada tanggal 18 Oktober 2006, Perusahaan memperoleh pinjaman berupa fasilitas cerukan dan time
loan revolving dari BCA dengan jumlah maksimum kredit masing-masing sebesar Rp20 miliar dan
Rp30 miliar untuk membiayai modal kerja Perusahaan. Pada tanggal 30 Maret 2007, BCA menyetujui untuk menambah jumlah maksimum kredit dari fasilitas-fasilitas ini masing-masing menjadi sebesar Rp50 miliar.
8. HUTANG BANK JANGKA PENDEK (Lanjutan)
Berdasarkan Akta Notaris Frans Elsius Muliawan, S.H., No. 70 tanggal 15 Agustus 2008, fasilitas-fasilitas pinjaman tersebut telah diperpanjang sampai dengan tanggal 18 Oktober 2009 dan dikenakan bunga sebesar bunga Sertifikat Bank Indonesia (“SBI”) berjangka waktu 1 (satu) bulan ditambah 1,75% per tahun. Pada tanggal 30 September 2009 dan 2008, pinjaman ini dijamin dengan aset tetap tertentu milik Perusahaan dengan nilai buku bersih masing-masing sebesar Rp212,33 miliardanRp83,96 miliar (Catatan 7).
Pada tanggal 26 Oktober 2007, Perusahaan menandatangani perjanjian kredit baru dengan BCA untuk mendapatkan 2 (dua) fasilitas pinjaman yang terdiri dari fasilitas time loan dan time loan insidentil dengan jumlah maksimum kredit masing-masing sebesar Rp150 miliar dan Rp120 miliar. Fasilitas ini digunakan untuk membiayai modal kerja Perusahaan. Fasilitas time loan telah dilunasi oleh Perusahaan pada tanggal 25 April 2008. Fasilitas time loan insidentil telah dilunasi oleh Perusahaan pada tanggal 23 Januari 2009. Fasilitas time loan insidentil berakhir pada tanggal 26 Januari 2009.
Sebagaimana telah diperbaharui dengan perubahan perjanjian kredit yang diaktakan dalam Akta Notaris Frans Elsius Muliawan, S.H., No. 1 tanggal 4 November 2008, Perusahaan harus memperoleh persetujuan tertulis dari BCA sebelum melakukan beberapa transaksi, antara lain, sebagai berikut:
- Memperoleh pinjaman uang atau kredit baru dari pihak lain, kecuali pinjaman tersebut tidak menyebabkan debt to equity ratio melebihi 2 (dua) kali
- Meminjamkan uang, termasuk tetapi tidak terbatas kepada perusahaan afiliasinya, kecuali dalam rangka menjalankan usaha sehari-hari
- Melakukan transaksi dengan seseorang atau sesuatu pihak, termasuk tetapi tidak terbatas dengan perusahaan afiliasinya, dengan cara yang berbeda atau di luar praktek dan kebiasaan yang ada - Melakukan investasi, penyertaan atau membuka usaha baru selain usaha yang telah ada
- Menjual atau melepaskan harta tidak bergerak atau harta kekayaan utama dalam menjalankan usahanya, kecuali dalam rangka menjalankan usaha sehari-hari
- Melakukan peleburan, penggabungan, pengambilalihan atau pembubaran
- Mengubah status kelembagaan, Anggaran Dasar untuk penurunan modal dasar, ditempatkan dan disetor penuh serta susunan para pemegang saham.
Perusahaan juga wajib melaksanakan beberapa hal, antara lain, sebagai berikut:
- Mempertahankan kepemilikan mayoritas Djoko Susanto (Presiden Komisaris) pada Perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung.
- Membentuk, memelihara dan mempertahankan dari waktu ke waktu rasio keuangan Perusahaan yang akan ditinjau kembali setiap tahun, sebagai berikut:
1) Rasio antara pendapatan sebelum dikurangi biaya bunga, pajak dan depresiasi terhadap jumlah kewajiban bunga (EBITD to Interest Ratio) tidak kurang dari 3 (tiga) kali.
2) Rasio antara jumlah hutang lancar dan tidak lancar termasuk hutang kepada bank terhadap jumlah modal (Debt to Equity Ratio) tidak boleh lebih dari 1,5 (satu setengah) kali.
Pada tanggal 19 Februari 2008, Perusahaan menerima surat dari BCA No. 10065/GBK/2008 mengenai
waiver atas tidak terpenuhinya rasio antara jumlah aktiva lancar terhadap kewajiban lancar (current ratio)
pada tanggal 31 Desember 2007.
Berdasarkan perubahan perjanjian kredit yang diaktakan dalam Akta Notaris Frans Elsius Muliawan, S.H., No. 69, No. 70 dan No. 71 tanggal 15 Agustus 2008, BCA setuju untuk menghapus hal yang wajib
8. HUTANG BANK JANGKA PENDEK (Lanjutan)
Padatanggal 30April2008, Perusahaanmemperoleh fasilitaskreditbarudari BCAberupafasilitastime loan dengan jumlah maksimum kredit sebesar Rp45 miliar untuk membiayai modal kerja Perusahaan.
Fasilitas ini dikenakan bunga sebesar 10,0% per tahun. Fasilitas time loan ini dan time loan insidentil dijamin dengan persediaan milik Perusahaan dengan jumlah maksimum sebesar Rp145 miliar.
Berdasarkan perubahan perjanjian kredit yang diaktakan dalam Akta Notaris Frans Elsius Muliawan, S.H., No. 71 tanggal 15 Agustus 2008, BCA setuju untuk:
1. Menambah jumlah maksimum kredit fasilitas time loan dari Rp45 miliar menjadi sebesar Rp95 miliar. 2. Memperpanjang jangka waktu penggunaan fasilitas time loan sampai dengan tanggal 18 Oktober
2009.
3. Memberikan tambahan fasilitas cerukan sebesar Rp50 miliar dan berlaku sampai dengan tanggal 18 Oktober 2009.
4. Perubahan suku bunga atas fasilitas time loan insidentil dan time loan sebesar suku bunga SBI berjangka waktu 1 (satu) bulan ditambah 1,75% per tahun.
Berdasarkan perubahan perjanjian kredit yang diaktakan dalam Akta Notaris Frans Elsius Muliawan, S.H., No. 1 tanggal 4 November 2008, Perusahaan memperoleh tambahan pinjaman berupa fasilitas time loan
revolving 2 dari BCA sebesar Rp100 miliar dan menggabungkan semua fasilitas pinjaman jangka pendek
(fasilitas cerukan sebesar Rp100 miliar, time loan revolving 1 sebesar Rp145 miliar dan time loan insidentil sebesar Rp100 miliar) dan jangka panjang yang diperoleh Perusahaan dari bank yangsama, danperubahansuku bungaatasseluruh fasilitas pinjaman yang diberikan menjadi sebesar suku bunga SBI berjangka waktu 1 (satu) bulan ditambah 3,0% per tahun. Fasilitas tambahan ini digunakan untuk membiayai modal kerja Perusahaan dan dikenakan bunga sebesar 13,5% per tahun dan akan berakhir pada tanggal 18 Oktober 2009. Pada tanggal 31 Desember 2008, fasilitas cerukan tidak digunakan oleh Perusahaan.
Berdasarkan perubahan perjanjian kredit yang diaktakan dalam akta notaris Frans Elsius Muliawan SH., No 17 tanggal 21 April 2009:
Perusahaan memperoleh tambahan fasilitas Time Loan Revolving II dari BCA sebesar Rp200 miliar (dari Rp150 miliar) menjadi Rp350 miliar;
Perusahaan menurunkan jumlah plafon fasilitas kredit Lokal sebesar Rp50 miliar (dari Rp100 miliar) menjadi Rp50 miliar;
Perubahan suku bunga atas seluruh fasilitas pinjaman yang diberikan menjadi sebesar Prime Rate BCA – 1,5% per tahun;
Perusahaan menerima surat No. 10985/GBK/2009 pada tanggal 12 September 2009 sehubungan dengan perpanjangan fasilitas kredit lokal dan time loan revolving terhitung sejak tanggal 18 Oktober 2009 dan berakhir pada tanggal 18 Januari 2010.
Berdasarkan perubahan perjanjian kredit yang diaktakan dalam akta notaris Frans Elsius Muliawan SH., No. 17 tanggal 21 April 2009, perubahan suku bunga atas seluruh fasilitas pinjaman yang diberikan menjadi sebesar Prime Rate BCA – 1,5% per tahun.
Berdasarkan surat No. 10871/GBK/2009 pada tanggal 16 September 2009 mengenai perubahaan suku bunga atas seluruh fasilitas pinjaman menjadi floating atau mengambang efektif per tanggal 25 September 2009.
Penambahan jaminan berupa tanah dan bangunan yang berlokasi di kawasan industri Jababeka II Cikarang dan Jalan Raya Singosari - Lawang Malang.
Berdasarkan Akta Notaris Frans Elsius Muliawan SH., No. 18 tanggal 21 April 2009, persediaan milik Perusahaan yang dijaminkan Perusahaan meningkat dari Rp395 miliar menjadi sebesar Rp545 miliar (catatan 5).
8. HUTANG BANK JANGKA PENDEK (Lanjutan)
Pada tanggal 28 April 2009, perusahaan menerima surat No. 10280/GBK/2009 dari BCA mengenai waiver perubahan susunan pemegang saham oleh perusahaan dan menambah pemegang saham baru yaitu Argo Volantis Pte Ltd (“Argo”).
Jumlah beban bunga sebesar Rp22,01 miliar dan Rp16,23 milyar pada tanggal-tanggal 30 September 2009 dan 2008 disajikan sebagai bagian dari akun “Penghasilan (Beban) Lain-lain - Beban Keuangan” dalam laporan laba rugi.
9. HUTANG USAHA
Akun ini merupakan hutang atas pembelian barang dagang dalam mata uang Rupiah dengan rincian sebagai berikut:
2009 2008
Pihak hubungan istimewa (Catatan 18) 10.821 8.305
Pihak ketiga:
PT Indomarco Adi Prima 68.409 75.577
PT Unilever Indonesia Tbk 68.082 50.089
PT Tigaraksa Satria Tbk 67.563 52.838
PT Coca Cola Distribution Indonesia 49.868 41.090
PT Arta Boga Cemerlang 40.760 26.656
PT Enseval Putera Mega Trading Tbk 36.756 23.981
PT Frisian Flag Indonesia 28.130 37.529
PT Nestle Indonesia 26.481 42.280
PT Tirta Investama 24.250 14.714
Lain-lain (masing-masing di bawah Rp20 miliar) 966.722 800.664
Jumlah hutang usaha pihak ketiga 1.377.021 1.165.418
Jumlah hutang usaha 1.387.842 1.173.723
Analisa umur hutang usaha berdasarkan tanggal penerimaan barang adalah sebagai berikut:
2009 2008
Pihak hubungan istimewa:
Lancar 10.747 8.167
1 - 30 hari 21 66
31 - 60 hari 17 21
61 - 90 hari 5 4
Lebih dari 90 hari 31 47
Jumlah hutang usaha pihak hubungan istimewa 10.821 8.305
9. HUTANG USAHA (Lanjutan) Pihak ketiga: Lancar 1.332.939 1.127.871 1 - 30 hari 14.317 10.126 31 - 60 hari 6.083 4.600 61 - 90 hari 5.883 6.211
Lebih dari 90 hari 17.799 16.610
Jumlah hutang usaha pihak ketiga 1.377.021 1.165.418
Jumlah hutang usaha 1.387.842 1.173.723
10. PERPAJAKAN
a. Hutang pajak terdiri dari:
2009 2008 Pajak penghasilan: Pasal 21 3.098 3.037 Pasal 23 331 835 Pasal 25 - - Pasal 29 13.487 - Pasal 4(2) 1.832 1.335
Pajak Pertambahan Nilai 38.474 4.886
Jumlah 57.222 10.093
b. Manfaat (beban) pajak penghasilan badan:
2009 2008
Tahun berjalan (18.533) -
Tangguhan (2.005) 1.675
Manfaat (beban) pajak penghasilan badan (20.538) 1.675
c. Rekonsiliasi antara laba sebelum pajak penghasilan badan seperti yang disajikan dalam laporan laba rugi dengan penghasilan kena pajak untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 September 2009 dan 2008 adalah sebagai berikut:
2009 2008
Laba sebelum pajak penghasilan badan seperti
yang disajikan dalam laporan laba rugi 132.509 110.070 Beda temporer:
Beban kesejahteraan karyawan 12.435 9.737
Penyusutan aset sewa guna usaha 1.887 2.471
Penyisihan atas persediaan usang dan hilang - -
Laba penjualan aset tetap 1.364 1.540
Bunga hutang sewa guna usaha - -
Penyusutan (5.605) (17.195)
Pembayaran sewa guna usaha (2,919) (3.053)
Amortisasi biaya sewa dibayar di muka - 916
Beda temporer - bersih 7.162 (5.584)
10. PERPAJAKAN (Lanjutan)
Beda tetap:
Pajak, perizinan dan sumbangan (762) 6.837
Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan 3.022 5.365
Beban bunga yang tidak dapat dikurangkan - -
Beban (penghasilan) yang pajaknya bersifat final:
Sewa tempat (137.042) (115.513)
Bunga deposito dan jasa giro (7.816) (2.710)
Lain-lain 770 1.074
Beda tetap - bersih (141.828) (104.947)
Penghasilan kena pajak (2.157) (461)
Akumulasi rugi fiskal awal tahun - (8.866) Koreksi akumulasi rugi fiskal akibat
diterimanya Surat Ketetapan Pajak
untuk pajak penghasilan badan - -
Penghasilan kena pajak (akumulasi rugi fiskal) (2.157) (9.327)
d. Perhitungan hutang pajak penghasilan (tagihan pajak penghasilan) adalah sebagai berikut:
2009 2008
Peghasilan kena pajak - dibulatkan - -
Beban pajak penghasilan badan - tahun berjalan - -
Dikurangi pajak penghasilan dibayar di muka:
Pasal 23 14.516 14.046
Pasal 25 - 3.986
Jumlah pajak penghasilan dibayar di muka 14.516 18.032
Hutang pajak penghasilan - Pasal 29
(tagihan pajak penghasilan) (14.516) (18.032)
e. Rincian taksiran tagihan pajak penghasilan adalah sebagai berikut:
2009 2008
Taksiran tagihan pajak penghasilan:
2009 14.516 - 2008 - 18.032 2007 - - Jumlah 14.516 18.032
10. PERPAJAKAN (Lanjutan)
f. Perhitungan manfaat (beban) pajak penghasilan tangguhan - bersih adalah sebagai berikut:
2009 2008
Manfaat (beban) pajak penghasilan tangguhan - efek beda temporer pada tarif pajak maksimum:
Beban kesejahteraan karyawan 3.481 2.921
Penyisihan persediaan usang dan hilang - -
Penyusutan dan laba penjualan aset tetap (1.187) (4.697)
Amortisasi biaya sewa dibayar di muka - 275
Bunga hutang sewa guna usaha (289) (174)
Manfaat (beban) pajak penghasilan
tangguhan - bersih 2.005 (1.675)
g. Rekonsiliasi antara laba sebelum pajak penghasilan badan yang dihitung dengan menggunakan tarif pajakyangberlakudengan manfaat (beban) pajak penghasilan badan adalah sebagai berikut:
2009 2008
Laba sebelum pajak penghasilan badan 132.509 110.070
Beban pajak penghasilan dengan
tarif pajak yang berlaku 37.103 33.021
Pengaruh pajak atas beda tetap:
Beban (penghasilan) yang pajaknya bersifat final:
Sewa tempat (38.371) (34.654)
Bunga deposito dan jasa giro (2.189) (813)
Pajak, perizinan dan sumbangan (213) 2.051
Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan 846 1.610
Beban bunga yang tidak dapat dikurangkan - -
Lain-lain 215 322
Penyesuaian aktiva pajak tangguhan - -
Pengaruh penurunan tarif pajak -
Jumlah (2.609) 1.537
Pengaruh pajak atas laba fiskal
yang tidak dapat direalisasi 604 138
Manfaat (beban) pajak penghasilan badan (2.005) 1.675
h. Aktiva (kewajiban) pajak tangguhan pada tanggal 30 September 2009 dan 2008 adalah sebagai berikut:
2009 2008
Aktiva pajak tangguhan:
Kewajiban diestimasi atas imbalan kerja karyawan 8.186 6.508
Penyisihan persediaan usang dan hilang 597 246
Biaya dibayar di muka - 887
10. PERPAJAKAN (Lanjutan)
Kewajiban pajak tangguhan:
Aset tetap (11.718) (4.634)
Sewa guna usaha (2.457) 1.256
Jumlah kewajiban pajak tangguhan (14.175) (3.378)
Aktiva (kewajiban) pajak tangguhan - bersih (5.392) 4.263
Pada periode bulan-bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009, perusahaan memperoleh beberapa Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) untuk tahun pajak 2007 atas pajak penghasilan PPh 21, 23 dan 4(2) dengan jumlah keseluruhan sebesar Rp101,37 juta.
11. HUTANG BANK JANGKA PANJANG
Pada tanggal 30 April 2008, Perusahaan memperoleh pinjaman berupa fasilitas kredit investasi dari PT Bank Central Asia Tbk (“BCA”) dengan jumlah maksimum sebesar Rp105,77 miliar. Fasilitas pinjaman ini digunakan untuk refinancing pembelian tanah dan bangunan di Jl. M.H. Thamrin No. 9, Tangerang. Pinjaman ini semula dikenakan bunga sebesar 10,5% per tahun yang telah diubah dengan perubahan perjanjian kredit yang diaktakan dalam Akta Notaris Frans Elsius Muliawan, S.H., No. 1 tanggal 4 November 2008 menjadi sebesar suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (“SBI”) berjangka waktu 1 (satu) bulan ditambah 3,0% per tahun.
Berdasarkan perubahan perjanjian kredit yang diaktakan dalam akta notaris Frans Elsius Muliawan SH., No. 17 tanggal 21 April 2009, perubahan suku bunga atas seluruh fasilitas pinjaman yang diberikan menjadi sebesar Prime Rate BCA – 1,5% per tahun.
Berdasarkan surat No. 10871/GBK/2009 pada tanggal 16 September 2009 mengenai perubahaan suku bunga atas seluruh fasilitas pinjaman menjadi floating atau mengambang efektif per tanggal 25 September 2009.
Pembayaran pinjaman ini dilakukan secara bulanan dimulai dari tanggal 2 Desember 2008 sampai dengan tanggal 30 Oktober 2011 dengan jadwal pembayaran sebagai berikut:
Jumlah Pembayaran Jumlah
Tahun Angsuran Pokok Fasilitas (%)
2009 8.814 11,54 2010 35.256 46,15 2011 32.319 42,31 Jumlah 76.389 100,00
Dikurangi bagian yang jatuh tempo
dalam waktu satu tahun 35.256 46,15
Bagian jangka panjang 41.132 53,85
11. HUTANG BANK JANGKA PANJANG (Lanjutan)
Pada tanggal 30 September 2009 dan 2008, pinjaman ini dijamin dengan tanah dan bangunan yang bersangkutan dengan nilai buku bersih sebesar Rp117,60 miliar dan Rp120,34 miliar (Catatan 7).
Berdasarkan perjanjian pinjaman, Perusahaan harus memperoleh persetujuan tertulis dari BCA sebelum melakukan beberapa transaksi tertentu dan wajib melaksanakan beberapa hal tertentu sebagaimana diatur juga dalam perjanjian pinjaman jangka pendek dari bank yang sama (Catatan 8).
Beban bunga sebesar Rp8,60 miliar disajikan sebagai bagian dari akun “Penghasilan (Beban) Lain-lain - Beban Keuangan” dalam laporan laba rugi pada tanggal 30 September 2009.
12. HUTANG SEWA PEMBIAYAAN
Perusahaan mengadakan beberapa perjanjian sewa pembiayaan untuk kendaraan dengan PT Dipo Star Finance dan PT Clipan Finance Indonesia Tbk dengan jangka waktu selama 3 (tiga) tahun. Pada tanggal 30 September 2009 dan 2008, pembayaran sewa minimum pada masa yang akan datang berdasarkan perjanjian-perjanjian sewa pembiayaan tersebut adalah sebagai berikut:
2009 2008
Sampai dengan satu tahun 702 1.047
Lebih dari satu tahun sampai lima tahun 2.223 5.201
Jumlah 2.925 6.248
Dikurangi beban bunga yang belum jatuh tempo 293 593
Nilai sekarang atas pembayaran sewa minimum 2.632 5.655
Dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam
waktu satu tahun 1.919 3.684
Bagian jangka panjang 713 1.971
Hutang sewa pembiayaan dijamin dengan aset sewaan yang bersangkutan (Catatan 7). Perjanjian sewa pembiayaan ini membatasi Perusahaan, antara lain, dalam melakukan penjualan dan pemindahan hak atas aset sewaan.
13. MODAL SAHAM
Berdasarkan Akta Notaris Frans Elsius Muliawan SH.,No 6 tanggal 03 April 2009 mengenai persetujuan perubahan anggaran dasar dalam Rapat Umum Pemegang Saham sehubungan dengan telah dilakukan penawaran umum perdana sebanyak 343.177.000 atau sebesar 10% dari saham yang ditempatkan dimana saat yang bersamaan PT Cakrawala Mulia Prima (“CMP”), pemegang saham Perseroan, telah mengkonversi hutangnya kepada Argo Volantis Pte., Ltd. (“Argo”), Singapura menjadi 1.013.061.000 saham Perseroan. Setelah transaksi tersebut, susunan pemegang saham dan kepemilikannya adalah sebagai berikut:
Jumlah Saham
Ditempatkan dan Persentase
Pemegang Saham Disetor Penuh Kepemilikan Jumlah
PT Sigmantara Alfindo 1.853.160.000 54,00 185.316
Argo Volantis Pte. Ltd 1.013.061.000 29,52 101.306
PT Cakrawala Mulia Prima 222.379.000 6,48 22.238
Masyarakat 343.177.000 10,00 34.318
Jumlah 3.431.777.000 100,00 343.178
13. MODAL SAHAM (Lanjutan)
Susunan kepemilikan saham Perusahaan pada tanggal 30 September 2008 adalah sbb: Jumlah Saham
Ditempatkan dan Persentase
Pemegang Saham Disetor Penuh Kepemilikan Jumlah
PT Sigmantara Alfindo 1.853.160.000 60,00 185.316
PT Cakrawala Mulia Prima 1.235.440.000 40,00 123.544
Jumlah 3.088.600.000 100,00 308.860
Berdasarkan RUPSLB yang diadakan pada tanggal 19 Maret 2008 yang diaktakan dalam Akta Notaris Frans Elsius Muliawan, S.H., No. 20 pada tanggal yang sama, para pemegang saham Perusahaan menyetujui:
1. Peningkatan modal dasar Perusahaan dari Rp540 miliar menjadi sebesar Rp1,20 triliun.
2. Perubahan seluruh ketentuan Anggaran Dasar Perusahaan untuk disesuaikan dengan berlakunya Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang “Perseroan Terbatas”.
Perusahaan telah memenuhi persyaratan modal disetor minimum sehubungan dengan peningkatan modal dasar Perusahaan.
Perubahan anggaran dasar tersebut telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-15412.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 28 Maret 2008.
14. DIVIDEN KAS
Berdasarkan keputusan rapat umum pemegang saham tahunan yang diaktakan dalam akta notaris Herry Sosiawan, S.H., No. 1136 tanggal 26 Juni 2009, pemegang saham menyetujui pembagian dividen kas sebesar Rp32,95 miliar, yang diambil dari saldo laba sampai dengan tahun buku 31 Desember 2008. Persetujuan penetapan penggunaan keuntungan tahun buku 2008 sebagai berikut:
i. Penyisihan dana cadangan senilai Rp1 milyar.
ii. Pembayaran dividen tunai Rp32,95 milyar atas 3.431.777.000 saham yang telah dikeluarkan perusahaan atau Rp9,6 per saham.
iii. Sisa laba bersih Rp98,81 milyar akan dicatat sebagai laba ditahan
15. PENJUALAN BERSIH
Rincian penjualan bersih berdasarkan jenis persediaan adalah sebagai berikut:
2009 2008 Makanan 5.170.481 4.268.251 Bukan makanan 2.418.371 1.807.472 Jumlah 7.588.852 6.075.723