HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Pejawaran
Kecamatan Pejawaran merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Banjarnegara dengan ketinggian wilayahnya 1 320 m di atas permukaan laut. Luas wilayah Kecamatan Pejawaran adalah 52,3 Km2. Secara geografis batas wilayah Kecamatan Pejawaran berbatasan dengan Kecamatan Batur sebelah utara, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Pagentan, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Wanayasa.
Jumlah penduduk di Kecamatan Pejawaran yaitu sebanyak 41 829 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 21 056 jiwa dan perempuan sebanyak 20 773 jiwa. Berdasarkan kepadatan penduduknya, Kecamatan Pejawaran rata-rata kepadatannya sebesar 801 jiwa/km2. Rata-rata kepadatan penduduk ini dipengaruhi oleh keadaan geografi wilayah yang bergunung-gunung. Hal ini juga dipengaruhi oleh luas lahan yang digunakan untuk pertanian dan perkebunan lebih banyak dibandingkan untuk pemukiman.
Ditinjau dari segi agama, mayoritas masyarakat Kecamatan Pejawaran beragama Islam. Tempat peribadatan terdiri dari masjid dan langgar. Jumlah masjid yang ada sebanyak 69 buah dan langgar sebanyak 85 buah. Di Kecamatan Pejawaran tidak terdapat tempat peribadatan yang lain.
Dari segi pendidikan, baik berdasarkan penyediaan sarana dan prasarana maupun berdasarkan tingkat pendidikan masyarakatnya di Kecamatan Pejawaran masih cukup rendah. Hal ini dapat dilihat masih belum tersedianya sekolah di setiap desa dan belum memiliki Sekolah Menengah Umum/sederajat. Hanya terdapat 5 buah sekolah TK dan SMP/sederajat dalam satu kecamatan. Akan tetapi untuk sekolah SD/sederajat sudah tersedia di seluruh desa dengan total 39 buah sekolah. Berdasarkan tingkat pendidikan penduduknya, Kecamatan Pejawaran yang paling banyak adalah tamat SD/sederajat, yaitu sebanyak 16 827 orang. Jumlah penduduk yang tamat SMP/sederajat sebanyak 2 554 orang dan tamat SMA/sederajat sebanyak 1100 orang. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin sedikit pula jumlah penduduk yang memiliki tingkat pendidikan tinggi tersebut. Pada tingkat pendidikan Perguruan Tinggi atau Akademi hanya terdapat 297 orang (0,8%) dalam satu kecamatan. Apabila
ditinjau dari banyaknya penduduk yang buta aksara, di Kecamatan Pejawaran masih cukup banyak. Terdapat 1 806 (4,7%) orang yang masih buta aksara dengan usia antara 15 – 44 tahun.
Penduduk di Kecamatan Pejawaran secara umum memiliki mata pencaharian sebagai petani, buruh tani, dan pedagang. Komposisi terbesar adalah memiliki mata pencaharian sebagai petani dengan jumlah sebanyak 21 312 jiwa. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Banyaknya penduduk Kecamatan Pejawaran menurut mata pencaharian
No Desa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Kalilunjar 676 156 22 12 12 2 1 12 19 2 Biting 975 322 6 12 5 2 5 9 39 3 Tlahap 779 411 23 25 1 2 4 4 21 4 Darmayasa 2 112 1 102 25 52 7 10 11 2 3 5 Pejawaran 2 026 1 070 5 15 2 2 14 4 46 6 Pegundungan 972 281 6 10 1 1 2 4 3 7 Beji 543 258 9 1 1 - 3 5 6 8 Semangkung 860 223 4 2 2 - 5 4 18 9 Condong campur 1 411 576 14 45 4 10 8 2 11 10 Gempol 1 528 644 12 46 5 19 9 6 15 11 Sidengok 1 641 533 14 25 3 6 11 5 18 12 Ratamba 1 082 546 6 34 2 21 14 5 19 13 Penusupan 1 652 1 126 16 156 4 12 19 9 21 14 Giritirta 1 553 421 11 26 3 10 4 4 4 15 Karangsari 1 361 677 15 21 4 3 4 4 8 16 sarwodadi 866 608 14 28 5 4 7 20 10 17 grogol 1 275 585 17 40 1 12 9 4 28 Total 21 312 9 539 219 550 62 116 130 103 289
Catatan : 1=petani, 2= buruh tani, 3= buruh bangunan, 4= pedagang, 5= jasa sosial, 6= angkutan, 7= pns, 8= pensiunan, 9= lain-lain
Sumber: Kecamatan Pejawaran dalam angka tahun 2007(diolah)
Daerah di Kecamatan Pejawaran memiliki rata-rata curah hujan yang cukup tinggi yaitu 187,8 mm pertahun dengan rata-rata hari hujan selama 16 hari pertahun. Keadaan ini secara umum mempengaruhi jenis lahan di Kecamatan Pejawaran seperti padi sawah, padi ladang, jagung, dan ubi kayu. Jenis lahan untuk jenis ubi kayu memiliki rata-rata produksi yang paling tinggi yaitu 103,6 kw/Ha (Tabel 3).
Tabel 3 Jenis lahan di Kecamatan Pejawaran
No Jenis lahan Luas lahan(Ha) Produksi(kw) Rata-rata (kw/Ha)
1 Padi sawah 19,8 395,0 20,0
2 Padi ladang 13,0 1 811,0 13,5
3 Jagung 3 02,0 52 266,0 17,3
4 Ubi kayu 324,0 33 573,0 103,6
Kecamatan Pejawaran mempunyai produksi sayur-sayuran yang cukup tinggi. Produksi kentang, sawi, dan kobis merupakan jenis sayuran yang jumlah produksinya cukup banyak diantara jenis sayuran yang diproduksi lainnya. Untuk jenis kentang banyaknya produksi pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 663 ton dari tahun sebelumnya. Hal serupa juga terjadi pada produksi sayur kobis yang mengalami penurunan sebanyak 26 ton pada tahun 2007. Kenaikan jumlah produksi sayuran yang cukup stabil adalah jenis sayuran sawi. Pada tahun 2006, produksi sayuran sawi sebesar 207 ton dan mengalami kenaikan sebesar 0,7 ton di tahun 2007 (Tabel 4).
Tabel 4 Banyaknya produksi sayur-sayuran di Kecamatan Pejawaran
No Jenis sayur-sayuran Banyaknya produksi (ton)
2006 2007 1 Bawang daun 42,9 87,0 2 Cabe 44,0 47,0 3 Kacang-kacangan 44,3 38,0 4 Terong 19,2 20,1 5 Kentang 2 541,0 1 878,0 6 Bayam 27,0 115,0 7 Kobis 895,0 869,0 8 Sawi 270,0 270,7 9 Wortel 280,0 60,0 10 Buncis 78,0 78,0 11 Tomat 67,2 33,0
Sumber: Kecamatan Pejawaran dalam angka tahun 2007(diolah)
Jenis buah-buahan yang terdapat di Kecamatan Pejawaran umumnya adalah jeruk, pepaya, pisang, jambu dan nangka. Produksi terbesar adalah buah nangka, yaitu sebesar 310,2 ton pada tahun 2007 dan mengalami kenaikan sebesar 1,9 ton dari tahun sebelumnya. Komoditas yang kedua adalah buah pisang. Produksi pada tahun 2009 147,3 ton. Pada tahun 2007, mengalami kenaikan produksi sebesar 5,2 ton (Tabel 5).
Tabel 5 Banyaknya produksi buah-buahan di Kecamatan Pejawaran
No Jenis buah-buahan Banyaknya produksi (ton)
2006 2007 1 Jeruk 0,4 1,1 2 Pepaya 7,5 7,3 3 Pisang 147,3 152,5 4 Jambu 2,1 2,1 5 Nangka 308,2 310,2
Kecamatan Punggelan
Kecamatan Punggelan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Banjarnegara. Secara geografis kecamatan ini memiliki ketinggian 279 m di atas permukaan laut dengan luas wilayah 102,9 km2. Sebelah utara dari Kecamatan Punggelan berbatasan dengan Kecamatan Pandanarum dan Kecamatan Kalibening, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Wanadadi dan Kecamatan Rakit, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Banjarmangu dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga. Jarak dari ibukota kecamatan Punggelan ke ibu kota kabupaten Banjarnegara sekitar 14,5 km.
Jumlah penduduk Kecamatan Punggelan adalah sebanyak 70 877 jiwa. Apabila dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tidak berbeda jauh dengan jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan. Penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 35 544 jiwa dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 35 333 jiwa. Rata-rata Kepadatan penduduk di Kecamatan Punggelan sebesar 689 jiwa/km2. Hal ini dipengaruhi oleh lebih banyaknya lahan yang digunakan untuk sawah dan perkebunan dari pada untuk pemukiman.
Dilihat dari segi agama, mayoritas penduduk di Kecamatan Punggelan beragama Islam. Ada juga yang beragama selain Islam, yaitu agama kristen dan katolik dengan jumlah 20 orang. Sarana peribadatan yang terdapat di Kecamatan Punggelan hanya terdiri dari masjid dan mushola. Jumlah sarana peribadatan di seluruh Kecamatan Punggelan adalah 126 masjid dan 293 untuk mushola.
Ditinjau dari segi pendidikan, Kecamatan Punggelan memiliki beberapa sarana pendidikan yang cukup banyak. Sarana pendidikan untuk TK/sederajat di kecamatan ini sebanyak 63 buah sekolah, sedangkan untuk sarana pendidikan SD/sederajat sebanyak 70 buah sekolah yang tersebar disetiap desa. Akan tetapi, sarana pendidikan SMP/sederajat hanya terdapat 8 buah sekolah dan 1 buah SMA/sederajat dalam satu kecamatan. Berdasarkan tingkat pendidikannya, jumlah lulusan yang terbanyak adalah tamat SD/sederajat dengan jumlah lulusan sebanyak 27 815 orang. Semakin tinggi tingkat pendidikan, jumlah lulusannya juga semakin sedikit. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk yang tamat SMP/sederajat sebanyak 8 839 orang, tamat SMA/sederajat sebanyak 4 710 orang dan semakin berkurang pada tingkat Perguruan Tinggi dan Akademi yaitu sebanyak 932 orang.
Rata-rata penduduk Kecamatan Punggelan yang berusia 10 tahun ke atas memiliki mata pencaharian sebagai petani, buruh tani, buruh bangunan dan pedagang. Mata pencaharian yang paling banyak adalah sebagai petani dengan jumlah penduduk sebanyak 16 907 jiwa. Ada juga yang berkerja sebagai buruh tani sebanyak 7 349 jiwa. Sebaran penduduk Kecamatan Punggelan menurut mata pencaharian disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Banyaknya penduduk Kecamatan Punggelan menurut mata pencaharian No Desa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Sambong 580 501 107 52 - 15 32 18 1 841 2 Tribuana 874 266 289 216 - 2 55 57 1 014 3 Sawangan 403 251 89 28 8 32 39 18 1 211 4 Sidarata 1 224 82 77 149 9 18 23 13 957 5 Badakarya 456 1 578 156 162 - 236 87 54 493 6 Bondolharjo 824 705 144 285 - 20 59 30 2 194 7 Punggelan 2 109 192 81 486 430 121 74 23 976 8 Karangsari 1 204 450 149 65 - 5 18 11 810 9 Kecepit 262 387 200 23 31 10 95 29 3 060 10 Danakerta 730 564 251 82 14 31 30 26 1 852 11 Klapa 437 56 59 38 - 10 12 4 1 641 12 Jembangan 578 317 271 183 - 9 17 6 2 381 13 Purwasana 942 74 71 67 - 1 9 9 1 522 14 Petuguran 1 800 248 46 26 - 14 18 16 1 765 15 Tanjungtirta 1 336 668 282 220 8 - 14 14 393 16 Mlaya 1 145 12 35 85 38 4 5 2 423 17 tlaga 2 003 998 35 20 - 7 9 3 602 Total 16 907 7 349 2 342 2 187 538 535 596 333 23 135
Catatan : 1=petani, 2= buruh tani, 3= buruh bangunan, 4= pedagang, 5= jasa sosial, 6= angkutan, 7= pns, 8= pensiunan, 9= lain-lain
Sumber: Kecamatan Punggelan dalam angka tahun 2007(diolah)
Daerah di Kecamatan Punggelan ini mempunyai curah hujan rata-rata 296 mm pertahun. Sebagian tanah di wilayah ini adalah bergelombang dan berbukit dan sebagian besar merupakan tanah kering. Secara umum produktivitas lahan di Kecamatan Punggelan adalah padi sawah, padi lahan, jagung dan ubi kayu. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Produktivitas lahan di Kecamatan Punggelan
No Produktivitas lahan Luas lahan(Ha) Produksi(kw) Rata-rata (kw/Ha)
1. Padi sawah 1 920,5 101 789,7 53,0
2. Padi ladang 8,0 257,9 32,2
3 Jagung 41,7 3 039,0 72,9
4 Ubi kayu 2 034,6 352 776,0 173,4
Sumber: Kecamatan Punggelan dalam angka tahun 2007(diolah)
Sayur-sayuran yang umumnya diproduksi di Kecamatan Punggelan adalah cabe, kacang-kacangan, bayam dan petai. Hampir semua jenis sayuran
ini mengalami kenaikan jumlah produksi dari tahun sebelumnya. Kenaikan terbesar terjadi pada komoditas petai, yaitu sebesar 39,1 ton. Sementara itu, komoditas yang tidak mengalami kenaikan adalah cabe (Tabel 8).
Tabel 8 Banyaknya produksi sayur-sayuran di Kecamatan Punggelan
No Sayur-sayuran Banyaknya produksi (ton)
2006 2007
1 Cabe 1,5 1,5
2 Kacang-kacangan 1,4 1,9
3 Bayam 0,4 1,7
4 Petai 96,3 135,4
Sumber: Kecamatan Punggelan dalam angka tahun 2007(diolah)
Produksi buah-buahan di Kecamatan cukup bervariasi. Diantaranya adalah buah pepaya, durian, pisang, rambutan, salak, duku, jambu-jambuan, dan nangka. Jumlah produksi buah-buahan terbesar pada tahun 2007 adalah nangka, duku, dan durian. Hampir seluruh komoditas buah-buahan ini mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Kenaikan yang terbesar adalah produksi buah nangka. Kenaikan yang terjadi sekitar 35,0 ton. Kenaikan terkecil hanya sebesar 0,2 ton pada buah salak, sedangkan komoditas yang tidak mengalami kenaikan adalah buah pepaya dimana produksinya sebesar 3,0 ton (Tabel 9).
Tabel 9 Banyaknya produksi buah-buahan di Kecamatan Punggelan
No Buah-buahan Banyaknya produksi (ton)
2006 2007 1 Pepaya 3,0 3,0 2 Durian 25,2 35,7 3 Pisang 4,8 5,2 4 Rambutan 8,3 12,7 5 Salak 3,7 3,9 6 Duku 127,3 145,6 7 Jambu-jambuan 1,2 1,9 8 Nangka 297,3 332,3
Sumber: Kecamatan Punggelan dalam angka tahun 2007(diolah)
Karakteristik Keluarga Besar Keluarga
Keluarga adalah satuan terkecil dari masyarakat yang sekurang-kurangnya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Besar keluarga dalam penelitian ini menunjukkan banyaknya anggota keluarga dalam satu keluarga. Besar keluarga menurut BKKBN dikategorikan mejadi tiga, yaitu keluarga kecil, sedang dan besar. Keluarga kecil yaitu keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga kurang dari sama dengan empat orang. Sedangkan keluarga sedang adalah
keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga lima sampai tujuh orang dan keluarga besar yaitu keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga lebih dari sama dengan delapan orang.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui besar keluarga contoh berkisar antara dua sampai 12 orang dalam satu keluarga. Pada kedua wilayah penelitian tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam besar keluarga (p-value=0,866). Lebih dari separuh contoh (59,3%) termasuk dalam kategori keluarga kecil dengan jumlah anggota keluarga kurang dari sama dengan empat. Bila dilihat berdasarkan wilayah, Kecamatan Pejawaran (58,0%) dan Kecamatan Punggelan (60,7%) juga merupakan keluarga kecil. Rata-rata jumlah anggota keluarga di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan adalah lima orang. Menurut Hurlock (1999), semakin besar keluarga diduga semakin sedikit waktu dan perhatian yang ibu berikan kepada anak karena harus berbagi dengan anggota keluarga lainnya. Sebaliknya pada keluarga kecil memungkinkan bagi ibu untuk merawat dan mengurus anak-anaknya dengan lebih baik dan telaten. Sebaran keluarga berdasarkan besar keluarga dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Sebaran keluarga berdasarkan besar keluarga
Besar Keluarga (orang) Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Kecil (≤ 4) 87 58,0 91 60,7 178 59,3 Sedang (5-7) 56 37,3 54 36,0 110 36,7 Besar (≥ 8) 7 4,7 5 3,3 12 4,0 Total 150 100 150 100 300 100 Rata-rata± Sd 4,7 ± 1,4 4,5 ± 1,4 4,6 ± 1,4
Usia Suami dan Contoh
Hurlock (1999) berpendapat bahwa tingkat usia dapat mempengaruhi cara berpikir, bertindak dan emosi seseorang. Seseorang yang mempunyai usia lebih dewasa relatif lebih stabil emosinya dibandingkan dengan orang yang mempunyai usia lebih muda. Usia orangtua akan berpengaruh terhadap kualitas pengasuhan anaknya. Usia biasanya akan mempengaruhi kesiapan seseorang untuk melalui tahapan-tahapan dalam kehidupan. Menurut Hastuti (2007), hal ini berhubungan dengan kestabilan dan kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi.
Pada penelitian ini seluruh suami contoh berusia diatas 20 tahun dengan usia termuda 21 tahun dan usia tertua 56 tahun. Berdasarkan hasil penelitian
diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam hal usia suami contoh antara Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,932). Sebaran usia suami contoh memperlihatkan bahwa sebagian besar suami contoh berada pada selang usia 21 sampai 40 tahun (81,4%). Pada Kecamatan Pejawaran sebanyak 81,6 persen suami contoh berusia 21 sampai 40 tahun. dan Kecamatan Punggelan sebanyak 81,1 persen suami contoh berusia 21 sampai 40 tahun. Dapat dilihat pada Tabel 11 bahwa rata-rata usia suami contoh hampir sama, untuk Kecamatan Pejawaran yaitu 34,7 tahun, sedangkan Kecamatan Punggelan yaitu 34,8 tahun. Sebaran suami contoh berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Sebaran suami contoh berdasarkan usia
Kelompok Usia (tahun)
Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % ≤20 0 0,0 0 0,0 0 0.0 21-40 120 81,6 120 81,1 240 81,4 41-60 27 18,4 28 18,9 55 18,6 Total 147 100 148 100 295 100 Rata-rata±Sd 34,7± 7,3 34,8 ± 7,4 34,7 ± 7,3
Rentang usia contoh antara 19 sampai 58 tahun. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara Kecamatan Pejawaran dan Punggelan dalam hal usia contoh (p-value=0,646). Sebaran usia contoh memperlihatkan bahwa sebagian besar contoh berada pada selang usia 21 sampai 40 tahun (86,0%). Pada Kecamatan Pejawaran sebanyak 84,7 persen contoh berusia 21 sampai 40 tahun dan Kecamatan Punggelan sebanyak 87,3 persen contoh berusia 21 sampai 40 tahun. Dapat dilihat pada Tabel 12 bahwa rata-rata usia contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan hampir sama yaitu sekitar 30 tahun. Sebaran contoh berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Sebaran contoh berdasarkan usia
Kelompok Usia (tahun)
Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % ≤ 20 7 4,7 6 4,0 13 4,3 21-40 127 84,7 131 87,3 258 86,0 41-60 16 10,7 13 8,7 29 9,7 Total 150 100,0 150 100,0 300 100,0 Rata-rata±Sd 29,9 ± 6,6 30,0 ± 7,1 30,0 ± 6,8
Pengelompokan perkembangan manusia menurut Papalia dan Olds (1986) adalah usia remaja (12-20 tahun), usia dewasa muda (21-40 tahun), usia dewasa madya (41-65 tahun) dan usia dewasa akhir (≥ 66 tahun). Berdasarkan teori Papalia dan Olds (1986) sebagian besar suami contoh di Kecamatan Pejawaran (81,6%) dan Kecamatan Punggelan (81,1%) serta contoh di Kecamatan Pejawaran (84,7%) dan Kecamatan Punggelan (87,3%) termasuk kedalam kelompok usia dewasa muda. Kelompok usia tersebut merupakan kelompok usia produktif, dimana pada usia ini memiliki produktivitas tinggi.
Tingkat Pendidikan Suami dan Contoh
Pendidikan memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan kualitas seseorang. Dalam pengasuhan anak, pendidikan orangtua terutama pendidikan ibu penting diperhatikan dan turut menentukan dalam pengasuhan anak. Hastuti (2007) mengemukakan bahwa pendidikan dapat membentuk kematangan berpikir seseorang, baik pendidikan formal maupun non formal, pengalaman berorganisasi, akses kepada buku dan media massa yang dapat membentuk kematangan berpikir seseorang yang akan membentuk perilakunya saat berinteraksi dengan anak.
Pendidikan suami dan contoh dikelompokan berdasarkan tingkat pendidikan yang ditempuh oleh suami dan contoh pada pendidikan formal, yaitu tidak sekolah, tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP/sederajat, tamat SMA/sederajat dan perguruan tinggi. Tabel 13 memperlihatkan tingkat pendidikan dari suami contoh. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara Kecamatan Pejawaran dan Punggelan dalam lama pendidikan suami contoh (p-value=0,000). Dari tabel tersebut terlihat bahwa lebih dari separuh suami contoh (60,3%) mempunyai pendidikan hanya sampai tingkat sekolah dasar/sederajat dengan rata-rata lama pendidikan 6,4 tahun. Pada Kecamatan Pejawaran sebanyak 69,4 persen mempunyai pendidikan hanya sampai tingkat sekolah dasar/sederajat dengan rata-rata lama pendidikan 5,7 tahun dan Kecamatan Punggelan sebanyak 51,4 persen mempunyai pendidikan hanya sampai tingkat sekolah dasar/sederajat dengan rata-rata lama pendidikan 7,1 tahun. Hanya sedikit (3,4%) suami contoh yang berasal dari Kecamatan Pejawaran dan 15,5 persen suami contoh yang berasal dari Kecamatan Punggelan telah mengikuti pendidikan diatas sembilan tahun.
Mengacu kepada batas tingkat pendidikan dasar sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah, maka lama pendidikan yang ditempuh oleh
sebagian besar suami contoh di Kecamatan Pejawaran (96,9%) dan di Kecamatan Punggelan (84,5%) adalah kurang dari sama dengan sembilan tahun. Hal ini berarti bahwa rata-rata pendidikan yang ditempuh suami contoh termasuk dalam pendidikan rendah.
Tabel 13 Sebaran suami contoh berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Tidak sekolah 9 6,1 5 3,4 14 4,7 Tidak tamat SD 23 15,6 19 12,8 42 14,2 SD/sederajat 102 69,4 76 51,4 178 60,3 SMP/sederajat 8 5,4 26 17,6 34 11,5 SMA/sederajat 3 2,0 16 10,8 19 6,4 Perguruan Tinggi 2 1,4 6 4,1 8 2,7 Total 150 100,0 150 100,0 300 100,0
Kategori Lama Pendidikan
≤ 9 tahun 142 96,6 125 84,5 267 90,5
≥ 10 tahun 5 3,4 23 15,5 28 9,5
Total 147 100 148 100 295 100
Rata-rata±Sd 5,7±2,4 7,1±3,2 6,4±2,9
Berdasarkan rata-rata lama pendidikan contoh, contoh dari kedua wilayah memiliki rata-rata pendidikan lebih dari sama dengan enam tahun, artinya sebagian besar contoh dapat menyelesaikan pendidikan dasar mereka (Sekolah Dasar). Contoh yang berasal dari Kecamatan Punggelan mempunyai rata-rata lama pendidikan lebih tinggi (7,6) dibandingkan contoh yang berasal dari Kecamatan Pejawaran (6,0). Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan disajikan dalam Tabel 14.
Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan
Tingkat Pendidikan Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Tidak sekolah 6 4,0 1 0,7 7 2,3 Tidak tamat SD 12 8,0 16 10,7 28 9,3 SD/sederajat 113 75,3 73 48,7 186 62,0 SMP/sederajat 18 12,0 38 25,3 56 18,7 SMA/sederajat 1 0,7 16 10,7 17 5,7 Perguruan Tinggi 0 0,0 6 4,0 6 2,0 Total 150 100,0 150 100,0 300 100,0
Kategori Lama Pendidikan
≤ 9 tahun 149 99,3 128 85,3 277 92,3
≥ 10 tahun 1 0,7 22 14,7 23 7,7
Total 150 100 150 100 300 100
Berdasaran hasil penelitian diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara Kecamatan Pejawaran dan Punggelan dalam lama pendidikan contoh (p-value=0,000). Sebanyak 75,3 persen di Kecamatan Pejawaran dan sebanyak 48,7 persen di Kecamatan Punggelan mempunyai pendidikan hanya sampai tingkat sekolah dasar/sederajat.
Pekerjaan Suami dan Contoh
Pekerjaan yang ditekuni sangat beraneka ragam. Tidak ada suami contoh yang tidak bekerja. Petani adalah pekerjaan yang mayoritas ditekuni oleh suami contoh yaitu sebanyak 52,9 persen. Jenis pekerjaan suami contoh di Kecamatan Punggelan lebih beragam daripada Kecamatan Pejawaran. Berdasarkan Tabel 15 dapat dilihat bahwa hampir seluruh suami contoh (80,3%) di Kecamatan Pejawaran bekerja sebagai petani. Pekerjaan suami contoh yang terbanyak kedua adalah sebagai buruh petani (10,9%). Sisanya bekerja sebagai buruh bangunan, pedagang, sopir, guru, dan wirausaha. Pekerjaan suami contoh di kecamatan Punggelan yang paling banyak ditekuni adalah sebagai petani, yaitu sebanyak 38 orang (25,7%). Diikuti oleh pekerjaan sebagi buruh tani dengan jumlah 36 orang (24,3 %). Sebaran pekerjaan suami contoh disajikan dalam Tabel 15.
Tabel 15 Sebaran suami contoh berdasarkan pekerjaan
Jenis Pekerjaan Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Petani 118 80,3 38 25,7 156 52,9 Buruh tani 16 10,9 36 24,3 52 17,6 Buruh bangunan/industry 2 1,4 13 8,8 15 5,1 Pedagang 5 3,4 19 12,8 24 8,1 Sopir 2 1,4 7 4,7 9 3,1 Guru 3 2,0 5 3,4 8 2,7 Tukang ojek 0 0,0 7 4,7 7 2,4 Wirausaha 1 0,7 10 6,8 11 3,7 Penjaga toko 0 0,0 3 2,0 3 1,0 Karyawan sekolah 0 0,0 2 1,4 2 0,7 Perangkat desa 0 0,0 2 1,4 2 0,7 Security 0 0,0 1 0,7 1 0,3 Karyawan swasta 0 0,0 3 2,0 3 1,0 PNS 0 0,0 2 1,4 2 0,7 Total 147 100 148 100 295 100
Tingginya persentase pekerjaan sebagai petani (80,3%) di Kecamatan Pejawaran menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di Kecamatan Pejawaran bermata pencaharian sebagai petani bila dibandingkan dengan
Kecamatan Punggelan yang hanya 25,7 persen. Hal ini didukung juga oleh perbedaan keadaan geografis di dua kecamatan tersebut. Jika dikaitkan dengan tingkat pendidikan suami contoh yang tergolong rendah, terlihat bahwa sebagian besar dari suami contoh memiliki pekerjaan utama yang tergolong rendah. Hal ini berarti bahwa sebagian besar pekerjaan suami contoh hanya membutuhkan keterampilan fisik bukan pekerjaan dari bidang akademisi.
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 16, diketahui bahwa lebih dari separuh contoh berstatus sebagai ibu bekerja (54,3%). Lebih dari separuh contoh di Kecamatan Pejawaran (59,3%) bekerja sebagai petani dan sisanya bekerja sebagai buruh tani, buruh bangunan, pedagang dan guru. Adapun sebanyak 22,7 persen contoh di Kecamatan Pejawaran berstatus tidak bekerja. Pada Kecamatan Punggelan sebanyak 68,7 persen contoh berstatus tidak bekerja. Pekerjaan terbanyak yang ditekuni contoh di Kecamatan Punggelan adalah sebagai buruh bangunan/industri sebanyak 8,0 persen.
Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan
Jenis Pekerjaan Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Tidak bekerja 34 22,7 103 68,7 137 45,7 Petani 89 59,3 9 6 98 32,7 Buruh tani 21 14 5 3,3 26 8,7 Buruh bangunan/industry 3 2 12 8 15 5 Pedagang 2 1,3 7 4,7 9 3 Guru 1 0,7 5 3,3 6 2 Wirausaha 0 0 4 2,7 4 1,3 Penjaga toko 0 0 1 0,6 1 0,3 Karyawan sekolah 0 0 1 0,6 1 0,3 PNS 0 0 1 0,6 1 0,3 PRT 0 0 2 1,3 2 0,7 Total 150 100 150 100 300 100
Status Ekonomi Keluarga
Pola pengeluaran keluarga diasumsikan mampu menggambarkan kemampuan ekonomi dari keluarga, sehingga tinggi rendahnya pengeluaran dapat memberi petunjuk akan tinggi rendahnya ekonomi dari suatu keluarga (Anonim 1993). Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara Kecamatan Pejawaran dan Punggelan dalam pengeluaran keluarga (p-value=0,632). Pengeluaran keluarga per kapita per bulan dilihat berdasarkan garis kemiskinan Kabupaten Banjarnegara. Berdasarkan garis kemiskinan Kabupaten Banjarnegara tahun 2008 sebesar Rp.
146 531.00, kedua kecamatan termasuk ke dalam kategori keluarga miskin. Pada Kecamatan Pejawaran dan Kecamatan Punggelan keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan masing-masing yaitu 88,0 persen dan 83,3 persen. Sebaran status ekonomi keluarga berdasarkan garis kemiskinan disajikan dalam Tabel 17.
Tabel 17 Sebaran keluarga berdasarkan status ekonomi keluarga Status Ekonomi Keluarga Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Miskin (≤146 531) 132 88,0 125 83,3 257 85,7 Tidak miksin (>146 531) 18 12,0 25 16,7 43 14,3 Total 150 100 150 100 150 100 Karakteristik Anak Usia Anak
Kategori usia anak di kelompokan menjadi tiga, yaitu anak dengan usia 24 sampai 36 bulan, usia 37 sampai 48 bulan, dan 49 sampai 60 bulan. Berdasarkan hasil penelitian, pada kedua wilayah penelitian tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam hal usia anak (p-value=0,068). Sebaran usia anak memperlihatkan bahwa persentase tertinggi anak (37,0%) berada pada selang usia 24 sampai 36 bulan. Jika dilihat berdasarkan wilayah penelitian maka persentase tertinggi usia anak di Kecamatan Pejawaran (38,0%) berada pada selang usia 24 sampai 36 bulan dan 37 sampai 48 bulan, sedangkan di Kecamatan Punggelan (36,0%) berada pada selang usia 24 sampai 36 bulan. Sebaran anak contoh dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18 Sebaran anak contoh berdasarkan usia
Usian Anak (bulan)
Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % 24-36 57 38,0 54 36,0 111 37,0 37-48 57 38,0 48 32,0 105 35,0 49-60 36 24,0 48 32,0 84 28,0 Total 150 100,0 150 100,0 300 100,0 Rata-rata ± SD 40,1 ± 9,8 42,1± 10,6 41,1 ± 10,2
Jenis Kelamin Anak
Hasil penelitian pada Tabel 19 menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak contoh (55,0%) adalah berjenis kelamin perempuan, sedangkan sisanya (45,0%) berjenis kelamin laki-laki. Kondisi yang sama jika dilihat berdasarkan
wilayah penelitian, yaitu lebih dari separuh anak contoh di Kecamatan Pejawaran (52,7%) dan Punggelan (57,3%) adalah berjenis kelamin perempuan.
Tabel 19 Sebaran anak contoh berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin Anak
Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Laki-laki 71 47,3 64 42,7 135 45,0 Perempuan 79 52,7 86 57,3 165 55,0 Total 150 100,0 150 100,0 300 100,0 Beban Kerja Ukuran Obyektif
Waktu merupakan sumberdaya selain sumberdaya manusia dan materi yang digunakan oleh keluarga untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Waktu dikelola sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Guhardja, Puspitawati, Hartoyo dan Hastuti 1992).
Alokasi waktu contoh dalam penelitian ini meliputi tujuh kegiatan yaitu, kegiatan produktif, kegiatan domestik, kegiatan pribadi, kegiatan istirahat, kegiatan sosial pendidikan, kegiatan antara, dan kegiatan pengasuhan. Kegiatan produktif pada penelitian ini adalah kegiatan yang menghasilkan uang untuk menambah pendapatan keluarga. Tabel 20 menunjukkan bahwa secara keseluruhan untuk kegiatan produktif rata-rata waktu kegiatannya sebesar 2,9 jam/hari. Bila dilihat berdasarkan wilayah penelitian maka untuk Kecamatan Pejawaran alokasi waktu kegiatan produktif lebih lama yaitu 4,2 jam/hari jika dibandingkan dengan Kecamatan Punggelan yang hanya 1,6 jam/hari. Namun berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu untuk kegiatan produktif antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,066).
Kegiatan domestik yang berkaitan dengan kegiatan rumah tangga mulai dari bersih-bersih rumah, mencuci pakaian dan memasak, rata-rata alokasi waktu untuk kegiatannya adalah 3,3 jam/hari. Alokasi waktu untuk kegiatan domestik di Kecamatan Pejawaran lebih sedikit yaitu hanya 2,7 jam/hari jika dibandingkan dengan Kecamatan Punggelan yang mencapai 3,9 jam/hari (Tabel 20). Hal ini karena contoh di Kecamatan Pejawaran mayoritas berstatus sebagai ibu bekerja sehingga pekerjaan domestik ini banyak didelegasikan kepada anggota keluarga yang lain. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa terdapat perbedaan yang
nyata dalam alokasi waktu untuk kegiatan domestik antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,000).
Kegiatan pribadi memiliki proporsi terbesar yaitu rata-rata 10,0 jam/hari. Kegiatan pribadi ini meliputi kegiatan makan, minum, beribadah (sholat dan membaca Al-Qur’an) dan tidur. Di Kecamatan Pejawaran, rata-rata alokasi waktu untuk kegiatan pribadi adalah 9,9 jam/hari, dan di Kecamatan Punggelan adalah 10,1 jam/hari. Besarnya waktu yang diluangkan untuk kegiatan pribadi disebabkan karena waktu pribadi lebih banyak digunakan untuk aktivitas tidur. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu untuk kegiatan pribadi antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,307).
Kegiatan istirahat seperti nonton TV, mengobrol, duduk santai, tidur-tiduran santai dan lain-lain memiliki alokasi waktu rata-rata 2,7 jam/hari. Rata-rata lama waktu untuk kegiatan istirahat pada Kecamatan Pejawaran adalah 2,8 jam/hari dan pada Kecamatan Punggelan 2,6 jam/hari. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu untuk kegiatan istirahat antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,632).
Kegiatan sosial pendidikan dan kegiatan antara memiliki proporsi waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan kegiatan lainnya. Kegiatan sosial pendidikan seperti acara pengajian, mengunjungi tetangga, membaca buku, pergi ke acara hajatan, membantu tetangga di acara hajatan (rewang) dan lain-lain memiliki rata waktu hanya 0,8 jam/hari. Di Kecamatan Pejawaran, rata-rata alokasi waktu untuk kegiatan sosial penddikan adalah 0,8 jam/hari dan Kecamatan Punggelan adalah 0,9 jam/hari. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu untuk kegiatan sosial pendidikan antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,345).
Alokasi waktu kegiatan antara adalah alokasi waktu yang digunakan selama perjalanan ke tempat kerja (work related time). Secara keseluruhan kegiatan antara memiliki rata-rata waktu yaitu 0,7 jam/hari. Di Kecamatan Pejawaran, rata-rata alokasi waktu untuk waktu antara adalah 1,0 jam/hari dan Kecamatan Punggelan 0,4 jam/hari. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan dalam hal alokasi waktu untuk kegiatan antara (p-value=0,001).
Kegiatan pengasuhan meliputi tujuh kegiatan yaitu kegiatan memberi makan anak, keluar rumah bersama anak, memandikan, keramas dan gunting kuku anak, bermain dengan anak, menemani anak belajar, mengerjakan pekerjaan rumah sambil mengawasi anak, serta menidurkan anak. Secara keseluruhan rata-rata alokasi waktu untuk kegiatan pengasuhan adalah 3,5 jam/hari. Rata-rata alokasi waktu pengasuhan untuk Kecamatan Pejawaran adalah 2,6 jam/hari, sedangkan Kecamatan Punggelan 4,3 jam/hari. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu untuk kegiatan pengasuhan antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,020). Statistik deskriptif alokasi kegiatan contoh selama 24 jam disajikan pada Tabel 20.
Tabel 20 Statistik deskriptif alokasi kegiatan waktu contoh selama 24 jam
Kegiatan
Kecamatan
Total
Pejawaran Punggelan
Rata-rata SD Rata-rata SD Rata-rata SD
(jam) (jam) (jam)
Produktif 4,3 2,9 1,6 2,7 2,9 3,1 Domestik 2,7 1,2 3,9 2,0 3,3 1,8 Pribadi 9,9 2,0 10,1 1,7 10,0 1,8 Istirahat 2,8 2,1 2,6 1,9 2,7 2,0 Sosial Pendidikan 0,8 1,8 0,9 2,0 0,8 1,9 Antara 1,0 1,0 0,4 0,6 0,7 0,9 Pengasuhan 2,6 2,2 4,3 2,8 3,5 2,7 Ukuran Subyektif
Beban kerja secara subyektif diukur menggunakan persepsi contoh terhadap beban kerja. Persepsi ini menggambarkan pernyataan contoh terhadap pekerjaan yang dilakukan, yang dikategorikan menjadi tidak berat, biasa dan berat. Pada lampiran 4 terlihat bahwa secara keseluruhan pekerjaan yang dianggap tidak berat oleh contoh adalah kegiatan Posyandu atau PKK, yaitu sebesar 81,6 persen, pekerjaan yang dianggap biasa adalah membersihkan rumah, dalam hal ini kegiatan menyapu (57,7%), dan pekerjaan yang berat adalah perawatan bagi anak yang sakit (75,3%). Jika dilihat per kecamatan maka untuk Kecamatan Pejawaran persentase tertinggi untuk pekerjaan yang dianggap tidak berat adalah kegiatan Posyandu atau PKK (79,9%), pekerjaan yang dianggap biasa adalah membersihkan rumah (57,3%) dan memasak makanan (57,3%), serta pekerjaan yang dianggap berat adalah perawatan bagi anak yang sakit (68,7%). Pada Kecamatan Punggelan persentase tertinggi untuk pekerjaan yang dianggap tidak berat adalah kegiatan Posyandu atau PKK
(83,3%), pekerjaan yang dianggap biasa adalah memasak makanan (59,3%) dan pekerjaan yang dianggap berat adalah perawatan bagi anak yang sakit (82,0%). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan dalam hal beban kerja subyektif (p-value=0,094).
Beban kerja subyektif dikelompokkan menjadi tiga kelompok menggunakan sebaran normal. Berdasarkan Tabel 21, secara keseluruhan hasil pengkategorian beban kerja subyektif menunjukkan bahwa hampir seluruh contoh (92,3%) tergolong memiliki beban kerja subyektif ringan, karena memiliki tenaga yang membantu baik dari anak, suami, saudara maupun ibu atau ibu mertua. Kondisi yang sama jika dilihat berdasarkan wilayah, yaitu hampir seluruh contoh di Kecamatan Pejawaran (91,3%) dan Punggelan (93,3%) memiliki beban kerja subyektif ringan.
Tabel 21 Sebaran contoh berdasarkan kategori persepsi terhadap beban kerja subyektif Persepsi (%) Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Ringan (≤ 60) 137 91,3 140 93,3 277 92,3 Sedang (60,01-80) 12 8,0 9 6,0 21 7,0 Berat (≥ 80,01) 1 0,7 1 0,7 2 0,7 Total 150 100,0 150 100,0 300 100,0
Untuk mengukur persepsi contoh ditanyakan pendapat contoh mengenai pekerjaan sehari-harinya, yaitu meliputi pekerjaan yang paling memberatkan dan alasannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh contoh (99,0%) menyatakan terdapat pekerjaan yang dianggap paling memberatkan dan hanya satu persen contoh yang menyatakan tidak ada pekerjaan yang dianggap paling memberatkan.
Secara keseluruhan persentase tertinggi pekerjaan yang dianggap paling memberatkan adalah perawatan anak sakit (38,7%). Namun jika dilihat berdasarkan kecamatan, untuk Kecamatan Pejawaran pekerjaan yang paling dianggap memberatkan adalah mencari nafkah sebesar (44,7%), sedangkan untuk Kecamatan Punggelan jenis pekerjaan yang dianggap paling memberatkan adalah perawatan anak sakit (51,3%). Perbedaan ini karena sebagian besar contoh di Kecamatan Pejawaran berstatus sebagai ibu bekerja dengan mata pencaharian terbesar sebagai petani.
Jenis pekerjaan urutan kedua yang dianggap paling memberatkan contoh adalah mencari nafkah (30,7%). Jika dilihat berdasarkan kecamatan, untuk Kecamatan Pejawaran pekerjaan mencari nafkah adalah jenis pekerjaan yang dianggap paling memberatkan dengan persentase terbesar (44,7%), sedangkan untuk Kecamatan Punggelan pekerjaan mencari nafkah (16,7%) menempati urutan ketiga setelah pekerjaan mencuci pakaian (19,3%). Pekerjaan lainnya adalah mencuci pakaian sebesar 17,7 persen. Sebaran responden dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan yang paling memberatkan
Jenis Pekerjaan Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Tidak Ada 1 0,7 2 1,3 3 1,0 Ada: 149 99,3 148 98,7 297 99,0
Perawatan fisik anak 3 2,0 3 2,0 6 2,0
Perawatan anak yang sakit 39 26,0 77 51,3 116 38,7
Bermain dengan anak 5 3,3 0 0,0 5 1,7
Membersihkan rumah (menyapu) 1 0,7 5 3,3 6 2,0
Mencuci Pakaian 24 16,0 29 19,3 53 17,7
Memasak Makanan 1 0,7 4 2,7 5 1,7
Belanja 1 0,7 3 2,0 4 1,3
Mencari Nafkah 67 44,7 25 16,7 92 30,7
Kegiatan PKK/Posyandu 1 0,7 0 0,0 1 0,3
Kegiatan Gotong royong 2 1,3 1 0,7 3 1,0
Kombinasi 5 3,3 1 0,7 6 2,0
Total 150 100 150 100 300 100
Berdasarkan pekerjaan yang paling memberatkan diatas diperoleh alasan yang beragam. Hampir seluruh contoh (99%) memberikan alasan dan hanya satu persen tidak memberikan jawaban, dikarenakan tidak merasa ada pekerjaan yang memberatkan. Jawaban alasan dikelompokkan menjadi delapan alasan, yaitu, pekerjaan tersebut dianggap menjadi beban pikiran, capek karena bekerja sebagai pencari nafkah, jarak yang jauh, jumlahnya banyak, masalah anak, pekerjaan berat, tanggungjawab yang besar dan lainnya. Jawaban terbanyak dari alasan pekerjaan yang dianggap paling memberatkan adalah dikarenakan pekerjaan tersebut berat (25,3%). Urutan alasan kedua adalah capek karena bekerja sebagai pencari nafkah (21,9%). Sebaran responden menurut alasan pekerjaan yang paling memberatkan ditunjukkan pada Tabel 23.
Tabel 23 Sebaran contoh beradasarkan alasan pekerjaan yang memberatkan Alasan Contoh Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Tidak Berat 1 0,7 2 1,3 3 1,0
Berat dengan alasan: 149 99,3 148 98,7 297 99,0
Beban pikiran 9 6,0 28 18,9 37 12,5
Capek karena bekerja 27 18,1 38 25,7 65 21,9
Jaraknya jauh 14 9,4 8 5,4 22 7,4 Jumlahnya banyak 19 12,8 22 14,9 41 13,8 Masalah anak 37 24,8 4 2,7 9 3,0 Pekerjaan berat 26 17,4 38 25,7 75 25,3 Tanggungjawab besar 12 8,1 5 3,4 31 10,4 Lainnya 5 3,4 3 2,0 15 5,1
Tidak memberi alasan 0 0,0 2 1,4 2 0,7
Total 150 100 150 100 300 100
Dukungan Sosial
Dukungan sosial adalah bantuan dalam pemenuhan kebutuhan untuk kesejahteraan. Dukungan sosial dapat memberikan kekuatan dan dapat mengurangi kesulitan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Kualitas dukungan sosial yang tinggi akan mempengaruhi kesehatan fisik dan mental yang semakin tinggi pula (Tati 2004). Dukungan yang diukur pada penelitian ini mencakup dukungan sosial suami, dukungan kerabat/keluarga luas, dan dukungan sosial tetangga/masyarakat.
Dukungan sosial dari suami, kerabat/keluarga luas, tetangga/masyarakat menggambarkan bantuan baik dalam bentuk dukungan emosional (sikap penuh pengertian, perhatian), dukungan instrumental maupun dukungan informasi yang diberikan kepada contoh yang dapat memberikan kekuatan dan mengurangi konsekuensi negatif akibat adanya beban kerja yang dialami ibu sebagai orang yang memegang peranan penting dalam mengelola rumah tangga dan pengasuhan anak. Dukungan sosial diukur dengan menggunakan 15 item pertanyaan dan didapatkan jawaban yang cukup beragam.
Hasil penelitian (Lampiran 5) memperlihatkan bahwa secara keseluruhan dukungan sosial yang sering diberikan suami kepada contoh dalam bentuk dukungan emosional berupa suami memperlihatkan perasaan cintanya (85,1%). Jika dilihat berdasarkan wilayah penelitian, baik Kecamatan Pejawaran (84,4%)
maupun Punggelan (85,8%) mempunyai jawaban yang sama yaitu dalam bentuk dukungan emosional (suami memperlihatkan perasaan cintanya).
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa secara keseluruhan dukungan sosial yang sering diberikan kerabat/keluarga luas kepada contoh adalah bergotong royong/saling tolong menolong (82,7%) dan bantuan pengasuhan anak (69,0%). Bantuan lain berupa dukungan finansial (bantuan keuangan ketika mengalami kesulitan) relatif lebih kecil diterima contoh bila dibandingkan dengan bantuan instrumental lain seperti gotong royong/tolong menolong, berbagi kesulitan/musibah dan bantuan pengasuhan anak (Lampiran 5). Menurut Sarafino (1996) dalam Tati (2004) bahwa dukungan instrumental yang dapat diberikan langsung berupa bantuan finansial, bantuan dalam mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, pinjaman barang, dan tenaga. Berdasarkan pendapat tersebut maka contoh dalam penelitian ini sudah memperoleh dukungan instrumental cukup baik dari kerabat/keluarga luas meskipun bantuan finansial yang diterima contoh relatif kecil. Hal ini karena kerabat/keluarga luas memiliki karakteritik ekonomi yang hampir sama dengan contoh. Sebanyak 60,7 persen contoh sering merasa memberikan ataupun sebaliknya mendapat bantuan informasi berupa pemberian solusi, masukan dan nasehat atas permasalahan yang menimpa.
Dukungan tetangga/masyarakat yang dirasakan tinggi oleh semua contoh dalam bentuk dukungan emosi berupa merasa mudah mendapat dukungan dari teman (77,0%) dan rasa bersahabat hidup bertetangga di lingkungan tempat tinggal (74,7%). Dukungan tetangga/masyarakat yang tergolong rendah adalah dalam hal mendapatkan bantuan dalam keadaan darurat dari orang yang tidak/kurang dikenal (49,0%).
Berdasarkan Tabel 24 dapat dilihat bahwa persentase terbesar contoh (42,3%) memiliki dukungan sosial kuat, sedangkan contoh yang memiliki dukungan yang kurang kuat dan sangat kuat masing-masing sebesar 25,0 persen dan 32,7 persen. Jika dilihat berdasarkan wilayah penelitian, persentase terbesar contoh (40,7%) yang berasal dari Kecamatan Pejawaran memiliki dukungan sosial kuat dan sebanyak 30,7 persen contoh memiliki dukungan sosial kurang kuat, sedangkan untuk Kecamatan Punggelan persentase terbesar contoh (44,0%) memiliki dukungan sosial kuat dan sebanyak 36,7 persen contoh memiliki dukungan sosial sangat kuat. Berdasarkan hasil uji beda diketahui
bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam dukungan sosial antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,518).
Tabel 24 Sebaran contoh berdasarkan kategori dukungan sosial Kategori Dukungan Sosial (%) Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Kurang Kuat (≤ 60) 46 30,7 29 19,3 75 25,0 Kuat (60,01-80) 61 40,7 66 44,0 127 42,3 Sangat Kuat (≥80,01) 43 28,7 55 36,7 98 32,7 Total 150 100 150 100 300 100
Alokasi Waktu Pengasuhan
Perhatian orangtua terhadap anaknya seringkali dihubungkan dengan curahan waktu yang tersedia untuk berhubungan dengan anaknya. Alokasi waktu untuk pengasuhan merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui kualitas pengasuhan anak. Semakin lama waktu contoh bersama anak, maka anak akan merasa semakin aman dan tercipta ikatan yang lebih kuat antara contoh dan anak. Pada contoh dengan status bekerja diduga adanya kecenderungan rendahnya alokasi waktu pengasuhan karena sebagian waktu untuk pengasuhan digunakan untuk menambah pendapatan keluarga dengan bekerja.
Alokasi waktu pengasuhan anak dalam penelitian ini merupakan jumlah total waktu contoh bersama anak dalam satu hari untuk tujuh kegiatan pengasuhan, yaitu menemani anak belajar, keluar rumah bersama anak, memberi makan anak, memandikan, keramas gunting kuku dan mendandani anak, bermain dengan anak, menidurkan anak, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengawasi anak. Rata-rata alokasi waktu pengasuhan anak dalam sehari secara keseluruhan adalah 3,5 jam per hari.
Berdasarkan Tabel 25, secara keseluruhan untuk kegiatan menemani anak belajar rata-rata waktu kegiatannya sebesar 0,1 jam/hari. Jika dilihat berdasarkan wilayah penelitian maka untuk contoh di Kecamatan Pejawaran alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan menemani anak belajar yaitu 0,1 jam/hari dan Kecamatan Punggelan 0,2 jam/hari. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan menemani anak belajar antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,000).
Secara keseluruhan kegiatan keluar rumah bersama anak, seperti mengajak anak berbelanja ke warung atau pasar memiliki rata-rata waktu yaitu 0,4 jam/hari. Besar rata-rata alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan keluar rumah bersama anak Kecamatan Pejawaran adalah 0,5 jam/hari dan Kecamatan Punggelan adalah 0,3 jam/hari. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan dalam hal alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan keluar rumah bersaman anak (p value=0,009).
Kegiatan pengsuhan berupa kegiatan memberi makan anak memiliki rata-rata alokasi waktu untuk kegiatannya adalah 0,4 jam/hari. Jika dilihat berdasarkan kecamatan, maka rata-rata alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan memberi makan anak di Kecamatan Pejawaran sebesar 0,2 jam/hari, sedangkan Kecamatan Punggelan sebesar 0,7 jam/hari. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu untuk kegiatan memberi makan anak antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,000).
Kegiatan memandikan, keramas, gunting kuku dan mendandani anak memiliki rata-rata waktu sebesar 0,4 jam/hari. Rata-rata alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan memandikan, keramas, gunting kuku dan mendandani anak di Kecamatan Pejawaran sebesar 0,3 jam/hari dan Kecamatan Punggelan sebesar 0,5 jam/hari. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan memandikan, keramas, gunting kuku dan mendandani anak antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,006).
Kegiatan bermain dengan anak memiliki proporsi terbesar yaitu rata-rata 1,5 jam/hari. Besar rata-rata alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan bermain dengan anak di Kecamatan Pejawaran adalah 1,2 jam/hari dan Kecamatan Punggelan adalah 1,9 jam/hari. Jika dilihat dari segi kualitas, maka kegiatan bermain dengan anak ini masih jauh dari kualitas yang diharapkan. Pada umumnya contoh mengisi kegiatan bermain dengan anak dengan kegiatan menonton televisi atau bermain ke tetangga. Hal ini diduga karena rendahnya pendidikan dan pengetahuan contoh, sehingga kurang mendapat informasi tentang pengasuhan anak yang baik. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu pengasuhan untuk
kegiatan bermain dengan anak antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,095).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan dalam hal alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan tidur bersama anak/menidurkan anak (p-value=0,006). Secara keseluruhan kegiatan tidur bersama anak/menidurkan anak memiliki rata-rata waktu yaitu 0,5 jam/hari. Besar rata-rata alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan tidur bersama anak/menidurkan anak contoh di Kecamatan Punggelan adalah 0,3 jam/hari dan Kecamatan Punggelan adalah 0,7 jam/hari.
Kegiatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengawasi anak memiliki rata-rata 0,1 jam/hari. Besar rata-rata alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengawasi anak contoh di Kecamatan Pejawaran adalah 0,0 jam/hari dan Kecamatan Punggelan adalah 0,1 jam/hari. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu pengasuhan untuk kegiatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengawasi anak antara contoh di Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,159). Statistik dasar kegiatan pengasuhan selama 24 jam dapat dilihat pada Tabel 25.
Tabel 25 Statistik dasar kegiatan pengasuhan selama 24 jam
Kegiatan Kecamatan Total Pejawaran Punggelan Rata-rata Sd (jam) Rata-rata Sd (jam) Rata-rata Sd (jam)
(jam) (jam) (jam)
Menemani belajar 0,1 0,3 0,2 0,5 0,1 0,4
Keluar rumah bersama anak 0,5 1,1 0,3 0,8 0,4 0,9
Memberi makan 0,2 0,3 0,7 0,7 0,4 0,6
Memandikan, keramas, gunting
kuku dan mendandani 0,3 0,2 0,5 0,3 0,4 0,3
Bermain dengan anak 1,2 1,8 1,9 2,1 1,5 2,0
Menidurkan 0,3 0,8 0,7 0,8 0,5 0,9
Mengerjakan pekerjaan RT sambil
mengawasi anak 0,0 0,3 0,1 0,5 0,1 0,4
Total 2,6 4,3 3,5
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pengasuhan yang memiliki proporsi terbesar adalah bermain dengan anak (1,5 jam/ hari) dan menidurkan anak (0,5 jam/ hari). Namun, jika data tersebut dilihat berdasarkan wilayah penelitian maka setiap kecamatan memiliki proporsi kegiatan pengasuhan yang
berbeda. Pada Kecamatan Pejawaran proporsi terbesar adalah bermain dengan anak (1,2 jam/hari) dan keluar rumah bersama anak (0,5 jam/hari) sedangkan proporsi terbesar untuk Kecamatan Punggelan adalah bermain dengan anak (1,9 jam/hari) dan memberi makan anak (0,7 jam/hari), serta tidur bersama anak/menidurkan anak (0,7 jam/hari).
Alokasi waktu contoh secara keseluruhan untuk pengasuhan adalah 3,5 jam/hari. Apabila hasil ini dibandingkan dengan hasil penelitian Melfia (1998), Meirita (2000) dan Sake (2003), maka hasil tersebut memiliki nilai yang lebih rendah. Hasil penelitian Melfia (1998) menunjukkan bahwa rata-rata alokasi waktu ibu untuk pengasuhan adalah 4,8 jam/hari. Meirita (2000) mendapatkan hasil 5,7 jam/hari dan Sake (2003) mendapatkan hasil 4,6 jam/hari. Namun jika hasil penelitian ini dibandingkan dengan hasil penelitian Paolisso (1994) didaerah pedesaan Nepal (32 menit/12 jam) serta Blau, Guilkey, dan Popkin (1996) di daerah pedesaan Kenya (36 menit/hari untuk ibu yang tidak menyusui dan 63 menit/hari untuk ibu yang menyusui) yang diacu dalam Hastui (2007) maka hasilnya jauh lebih tinggi.
Perbedaan besarnya alokasi waktu pengasuhan antara Kecamatan Pejawaran (2,6 jam/hari) dan Kecamatan Punggelan (4,3 jam/hari) disebabkan oleh sebagian besar contoh (77,3%) di Kecamatan Pejawaran berstatus sebagai ibu bekerja dan hanya 31,3 persen contoh di Kecamatan Punggelan yang berstatus sebagai ibu bekerja. Menurut Meirita (2000) kecenderungan rendahnya alokasi waktu pengasuhan anak pada ibu bekerja dikarenakan sebagian waktu pengasuhan digunakan untuk menambah pendapatan keluarga dengan bekerja. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata dalam alokasi waktu untuk kegiatan pengasuhan antara Kecamatan Pejawaran dan Punggelan (p-value=0,020).
Hasil penelitian pada Tabel 26 menunjukkan bahwa persentase terbesar contoh (55,3%) berada pada waktu pengasuhan kategori rendah (waktu pengasuhan ≤ 3,0 jam/hari) dan sebanyak 23,0 persen contoh berada pada kategori sedang (waktu pengasuhan 3,1 – 5,0 jam/hari) serta terdapat 21,7 persen contoh berada pada kategori tinggi (waktu pengasuhan ≥ 5,1 jam/hari). Jika dilihat berdasarkan wilayah penelitian, maka untuk Kecamatan Pejawaran dan Punggelan persentase terbesarnya masing-masing sebesar 70,7 persen dan 40,0 persen sama-sama berada pada waktu pengasuhan kategori rendah. Selain itu, persentase waktu pengasuhan kategori tinggi untuk Kecamatan Punggelan
lebih banyak (30,7%) jika dibandingkan Kecamatan Pejawaran (12,7%). Hal ini diduga disebabkan lebih dari separuh contoh (68,7%) di Kecamatan Pungggelan berstatus sebagai ibu tidak bekerja (ibu rumah tangga) sehingga alokasi waktu untuk kegiatan pengasuhan akan semakin lama.
Tabel 26 Sebaran contoh berdasarkan kategori alokasi waktu pengasuhan Kategori Alokasi
Waktu Pengasuhan (jam)
Kecamatan Total Pejawaran Punggelan n % n % n % Rendah ( ≤ 3,0) 106 70,7 60 40,0 166 55,3 Sedang (3,1 – 5,0) 25 16,7 44 29,3 69 23,0 Tinggi (≥ 5,1) 19 12,7 46 30,7 65 21,7 Total 150 100 150 100 300 100
Hubungan Antar Variabel
Hubungan Karakteristik Keluarga dan Karakteristik Anak dengan Beban Kerja Subyektif.
Besar Keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase skor beban kerja subyektif memiliki kecenderungan yang semakin meningkat dengan bertambah besarnya anggota keluarga (Tabel 27). Keluarga kecil atau yang memiliki jumlah anggota kurang dari sama dengan empat memiliki rata-rata persentase skor beban kerja subyektif lebih rendah (37,6) dibandingkan keluarga sedang (38,5) dan besar (41,3). Hal ini diduga semakin banyak anggota keluarga maka beban kerja ibu untuk kegiatan produktif, domestik dan pengasuhan akan semakin berat. Hasil uji korelasi Spearman, menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara besar keluarga dengan beban kerja subyektif (r= 0,048; p= 0,407).
Tabel 27 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga dan beban kerja subyektif
Besar Keluarga
Beban Kerja Subyektif
Rata-rata persentase skor Ringan Sedang Berat
% % %
Kecil (≤ 4 orang) 91,01 8,4 0,6 37,6±17,2
Sedang (5-7 orang) 95,45 3,6 0,9 38,5±15,4
Besar (≥ 8 orang) 83,33 16,7 0,0 41,3±19,2 r-koefisien (p-value) 0,048 (0,407)
Usia Contoh. Hasil penelitian menunjukkan persentase skor beban kerja subyektif memiliki kecenderungan yang semakin meningkat dengan bertambahnya usia contoh. Rata-rata persentase skor beban kerja subyektif
yang terendah terdapat pada kelompok usia contoh kurang dari sama dengan 20 tahun. Berdasarkan Tabel 28, beban kerja subyektif paling tinggi berada pada kelompok contoh yang berusia antara 41 sampai 60 tahun. Hasil uji korelasi Spearman memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia contoh dengan beban kerja subyektif (r= 0,108; p= 0,061). Sebaran beban kerja subyektif menurut usia contoh secara lebih lengkap disajikan pada Tabel 28.
Tabel 28 Sebaran contoh berdasarkan usia dan beban kerja subyektif
Usia Ibu
Beban Kerja Subyektif
Rata-rata persentase skor
Ringan Sedang Berat
% % %
≤ 20 100,0 0,0 0,0 32,7±11,8
21-40 92,6 7,0 0,4 38,1±16,1
41-60 86,2 10,3 3,4 39,8±22,1
r-koefisien (p-value) 0,108 (0,061)
Lama Pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa contoh dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki persentase skor rata-rata beban kerja subyektif yang lebih rendah dan sebaliknya, contoh dengan pendidikan rendah menunjukan persentase skor rata-rata beban kerja subyektif tinggi (Tabel 29). Hasil uji korelasi Spearman memperlihatkan hubungan negatif dan signifikan antara lama pendidikan contoh dengan beban kerja subyektif (r= -0,124; p= 0,032). Artinya, semakin tinggi pendidikan contoh, maka beban kerja subyektifnya akan semakin ringan. Begitupula sebaliknya, semakin rendah pendidikan contoh maka beban kerja subyektifnya akan semakin berat. Contoh dengan pendidikan yang rendah sebagian besar memiliki pekerjaan utama sebagai petani dan buruh tani. Hal ini berarti bahwa sebagian besar pekerjaan contoh hanya membutuhkan keterampilan fisik bukan pekerjaan dari bidang akademisi. Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Yulianis et al. (2003) bahwa beban kerja berat hanya di temukan pada ibu yang berpendidikan rendah dan tidak dijumpai pada ibu yang berpendidikan tinggi. Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Julia (1989) diacu dalam Yulianis et al. (2003) bahwa perempuan yang berpendidikan lebih tinggi umumnya mempunyai persepsi lebih besar daripada yang berpendidikan rendah. Sebaran beban kerja subyektif menurut lama pendidikan contoh secara lebih lengkap disajikan pada Tabel 29.
Tabel 29 Sebaran contoh berdasarkan lama pendidikan dan beban kerja subyektif
Lama Pendidikan Ibu
Beban Kerja Subyektif
Rata-rata persentase skor Ringan Sedang Berat
% % %
≤ 9 tahun 92,1 7,2 0,7 38,7±16,7
≥ 10 tahun 95,7 4,3 0,0 30,9±13,9
r-koefisien (p-value) -0,124 (0,032)
Status Kerja Contoh. Tabel 30 menunjukkan bahwa persentase skor rata-rata beban kerja subjektif pada contoh yang tidak bekerja ternyata lebih tinggi (39,1) daripada persentase skor beban kerja subyektif pada contoh yang bekerja (36,8). Hal ini sesuai dengan pernyataan Brooks (2001) bahwa perempuan yang bekerja mereka merasa dihargai karena berkontribusi terhadap keluarga dari segi pemenuhan kebutuhan materi sehingga mempunyai kebahagiaan tersendiri yang tidak dirasakan oleh perempuan yang tidak bekerja. Berdasarkan uji Chi Square tidak terlihat hubungan signifikan antara status kerja ibu dengan beban kerja subjektif (p=0,135).
Tabel 30 Sebaran contoh berdasarkan status kerja dan beban kerja subyektif
Status Kerja Ibu
Beban Kerja Subyektif
Rata-rata persentase skor Ringan Sedang Berat
% % %
Tidak Bekerja 93,4 6,6 0,0 39,1±17,8
Bekerja 91,4 7,4 1,2 36,8±14,9
(p-value) 0,135
Status Ekonomi Keluarga. Hasil penelitian pada Tabel 31 menunjukkan bahwa rata-rata persentase skor beban kerja subyektif terlihat semakin menurun seiring dengan meningkatnya status ekonomi keluarga. Hal ini didukung dengan hasil uji korelasi Spearman yang memperlihatkan hubungan negatif dan signifikan antara status ekonomi keluarga dengan beban kerja subyektif (r= -0,150; p= 0,009). Artinya semakin meningkat status ekonomi keluarga maka beban kerja subyektifnya akan semakin ringan, begitupula sebaliknya semakin rendah status ekonomi keluarga maka beban kerja subyektifnya akan semakin berat.
Keluarga tidak miskin memiliki rata-rata persentase skor beban kerja subyektif yang lebih rendah daripada keluarga miskin (36,2%). Hal ini ini diduga karena dalam keluarga dengan status ekonomi tinggi, contoh sudah tidak perlu direpotkan untuk bekerja pada sektor non formal untuk menambah tambahan
penghasilan keluarga. Secara lebih jelas, sebaran beban kerja subyektif menurut status sosial ekonomi keluarga dapat dilihat pada Tabel 31.
Tabel 31 Sebaran contoh berdasarkan status ekonomi keluarga dan beban kerja subyektif
Status Ekonomi Keluarga
Beban Kerja Subyektif
Rata-rata persentase skor Ringan Sedang Berat
% % %
Miskin (≤146 531) 91,8 7,8 0,4 38,4±16,7 Tidak miksin (>146 531) 95,3 2,3 2,3 36,2±16,2
r-koefisien (p-value) -0,150 (0,009)
Usia Anak. Hasil penelitian pada Tabel 32 memperlihatkan rata-rata persentase skor beban kerja subyektif memiliki kecenderungan yang semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia anak (Tabel 32). Contoh dengan anak berusia 24 sampai 36 bulan memiliki rata-rata skor beban kerja subyektif lebih tinggi (39,5) dibandingkan usia diatasnya. Hal ini disebabkan karena pada anak yang berusia lebih kecil masih memerlukan perhatian dan kasih sayang ibu yang lebih banyak karena anak belum mandiri dan masih sangat membutuhkan bantuan ibu sebagai pengasuh utama. Berbeda dengan anak yang sudah berusia lebih besar, anak akan semakin mandiri dan mempunyai jaringan sosial lebih luas sehingga ketergantungan dengan sosok pengasuh utama yaitu ibu akan mulai berkurang. Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman tidak memperlihatkan hubungan antara usia anak dengan beban kerja subyektif (r= -0,047; p= 0,419).
Tabel 32 Sebaran contoh berdasarkan usia anak dan beban kerja subyektif
Usia Anak
Beban Kerja Subyektif
Rata-rata persentase skor
Ringan Sedang Berat
% % %
24-36 89,2 9,9 0,9 39,5±17,3
37-48 93,3 5,7 1,0 38,5±16,7
49-60 95,2 4,8 0,0 35,7±15,4
r-koefisien (p-value) -0,047 (0,419)
Hubungan Dukungan Sosial dengan Beban Kerja Subyektif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diberika kepada contoh maka rata-rata persentase skor beban kerja subyektif semakin rendah (Tabel 33) . Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara dukungan sosial dengan beban kerja subyektif (r= -0,249; p= 0,000). Hal ini berarti, ketika pemberian dukungan
sosial oleh suami, keluarga, teman, tetangga hingga masyarakat rendah, maka beban kerja subyektif yang dirasakan oleh contoh akan semakin berat. Sebaliknya, apabila dukungan sosial yang diberikan tinggi, maka beban kerja subyektif akan semakin ringan. Safarino (1996) dalam Tati (2004) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan yang diterima individu dari orang lain, baik sebagai individu perorangan atau kelompok. Kualitas dukungan sosial yang tinggi akan mempengaruhi kesehatan fisik dan mental yang semakin tinggi pula. Dukungan sosial yang diberikan kepada contoh berupa kehidupan bermasyarakat yang memberikan rasa aman, kesediaan meminjamkan uang atau barang ketika keluarga dalam kesulitan, pertolongan yang datang ketika keluarga dalam kesulitan, berbagi dan bertukar pikiran ketika ada masalah, serta bantuan pengasuhan anak dirasa dapat memberikan kenyamanan, menurunkan stres, dan mengurangi perasaan negatif (Brooks 2001).
Tabel 33 Sebaran contoh berdasarkan dukungan sosial dan beban kerja subyektif
Dukungan Sosial
Beban Kerja Subyektif
Rata-rata persentase skor Ringan Sedang Berat
% % %
Kurang Kuat (≤ 60) 84,0 14,7 1,3 44±16,7 Kuat (61-80) 96,1 3,1 0,8 37,2±16,1 Sangat Kuat (≥81) 93,9 6,1 0,0 34,6±16,1 r-koefisien (p-value) -0,249 (0,000)
Hubungan Karakteristik Keluarga dan Karakteristik Anak dengan Alokasi Waktu Pengasuhan
Besar Keluarga. Berdasarkan hasil penelitian, terjadi ketidakkonsistenan hasil pada besar keluarga sedang dan besar. Contoh dengan jumlah anggota keluarga besar ternyata memiliki rata-rata jam alokasi waktu pengasuhan yang lebih tinggi dibandingkan contoh dengan besar anggota keluarga sedang yaitu 3,9 jam/hari. Ketidakkonsistenan itu diduga karena adanya faktor-faktor lain yang berhubungan dengan alokasi waktu pengasuhan. Pada keluarga dengan jumlah anggota keluarga yang besar, diduga contoh bisa mendelegasikan tugas-tugas lain misalnya tugas domestiknya kepada anggota keluarga, sehingga contoh bisa mempunyai alokasi waktu yang lebih lama untuk pengasuhan. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak ada hubungan antara besar keluarga dengan alokasi waktu pengasuhan (r= -0,097; p= 0,094).
Tabel 34 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga dan alokasi waktu pengasuhan
Besar Keluarga (orang)
Alokasi Waktu Pengasuhan
Rata-rata jam Rendah Sedang Tinggi
% % %
Kecil (≤ 4) 78,7 19,7 1,7 3,2±2,3
Sedang ( 5-7) 78,2 20,9 0,9 2,9±2,6
Besar (≥ 8) 75,0 16,7 8,3 3,9±4,2
r-koefisien (p-value) 0,097 (0,094)
Usia Contoh. Hasil penelitian pada Tabel 35 menunjukkan bahwa rata-rata jam alokasi waktu pengasuhan memiliki kecenderungan yang semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia contoh. Berdasarkan uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara usia contoh dengan alokasi waktu pengasuhan (r= -0,149; p= 0,010), artinya semakin bertambah usia contoh maka alokasi waktu pengasuhan anak semakin berkurang. Hal yang sama ditemukan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Meirita (2000) yang mengemukakan bahwa terdapat hubungan negatif antara usia contoh dengan alokasi waktu pengasuhan.
Tabel 35 Sebaran contoh berdasarkan usia dan alokasi waktu pengasuhan.
Usia Contoh
Alokasi Waktu Pengasuhan
Rata-rata jam Rendah Sedang Tinggi
% % %
≤ 20 61,5 38,5 0,0 4,2±2,4
21-40 79,8 18,6 1,6 3,1±2,5
41-60 72,4 24,1 3,4 3,1±2,8
r-koefisien (p value) -0,149 (0,010)
Lama Pendidikan. Contoh dengan pendidikan lebih dari sama dengan 10 tahun memiliki jam rata-rata alokasi waktu pengasuhan yang lebih tinggi (4,3 jam/hari) dibandingkan dengan contoh yang berpendidikan kurang dari sama dengan sembilan tahun (3,1 jam/hari). Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara lama pendidikan dengan alokasi waktu pengasuhan (r= 0,167; p= 0,004). Keadaan ini berarti semakin tinggi pendidikan contoh, maka alokasi waktu pengasuhan juga tinggi. Hal ini selaras dengan pernyatan Engel et al. (1997) bahwa tingginya pendidikan orangtua menyebabkan orangtua dapat mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan dalam pengasuhan anak. Hasil penelitian Hartoyo dan Hastuti (2004) di Kabupaten Indramayu mengemukakan hasil yang sama yang memperlihatkan perbedaan
cara pengasuhan yang diberikan keluarga nelayan berpendidikan rendah dengan yang berpendidikan tinggi. Mereka yang berpendidikan lebih tinggi dan relatif lebih kaya memberikan stimulasi yang lebih baik kepada anak, memiliki alokasi waktu yang relatif lebih banyak dengan anak dan berinteraksi lebih sering. Sebaran rata-rata jam alokasi waktu pengasuhan menurut lama pendidikan contoh secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 36.
Tabel 36 Sebaran contoh berdasarkan lama pendidikan dan alokasi waktu pengasuhan
Lama Pendidikan Ibu
Alokasi Waktu Pengasuhan
Rata-rata jam Rendah Sedang Tinggi
% % %
≤ 9 tahun 79,8 18,4 1,8 3,1 ± 2,5
≥ 10 tahun 60,9 39,1 0,0 4,3 ± 2,3
r-koefisien (p-value) 0,167 (0,004)
Status Kerja. Hasil penelitian menunjukkan hubungan variabel status kerja contoh dengan alokasi waktu pengasuhan. Pada status kerja contoh bekerja, rata-rata jam alokasi waktu pengasuhan lebih rendah (2,4 jam/hari) bila dibandingkan dengan status contoh tidak bekerja (4,1 jam/hari). Kondisi ini menunjukkan adanya hubungan antara status kerja ibu dengan alokasi waktu pengasuhan yang diberikan kepada anak. Berdasarkan uji Chi Square terlihat hubungan signifikan antara status kerja contoh dengan alokasi waktu pengasuhan (p= 0,015), artinya banyaknya waktu yang dicurahkan contoh pada kegiatan pengasuhan sangat ditentukan oleh status bekerja contoh diluar rumah. Monks et al. (1991) dalam Meirita (2000) berpendapat bahwa ibu yang bekerja akan memiliki waktu yang lebih sedikit untuk kegiatan rumah tangga seperti menyiapkan makan anak, memberi makan anak atau interaksi lain dengan anak. Sebaran rata-rata jam alokasi waktu pengasuhan menurut status kerja contoh secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 37.
Tabel 37 Sebaran contoh berdasarkan status kerja dan alokasi waktu pengasuhan
Status Kerja Ibu
Alokasi Waktu Pengasuhan Rata-rata jam
Rendah Sedang Tinggi
% % %
Tidak bekerja 65,0 33,6 1,5 4,1±2,5
Bekerja 89,6 8,6 1,8 2,4±2,5
(p-value) 0,015
Status Ekonomi Keluarga. Hasil penelitian pada Tabel 38 menunjukkan bahwa rata-rata jam alokasi waktu pengasuhan terlihat semakin menurun seiring