Januari 2014
invest in
Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia
Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia
Invest in remarkable indonesia indonesia
Invest in
Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia
Invest in remarkable indonesia indonesia
Invest in Invest in
Invest in
able indonesia Invest
© 2013 by Indonesia Investment Coordinating Board. All rights reserved Oleh Direktur Wilayah IV
DAFTAR ISI
I. KEBIJAKAN PELAYANAN ADMINISTRASI PENANAMAN MODAL
II. SASARAN PERBAIKAN UNTUK MENINGKATKAN KEMUDAHAN BERUSAHA III. KUALIFIKASI PELAYANAN TERPADU SATU PINTU
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
3
Kebijakan Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
1. UU No. 32 Tahun 2004 Pemerintah Daerah > Pasal 13 Ayat (1) huruf n dan Pasal 14 Ayat (1) huruf m
Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah : pelayanan administrasi penanaman modal 2. UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal > Pasal 25
Perusahaan penanaman modal yang akan melakukan kegiatan usaha wajib memperoleh izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan dari instansi yang memiliki kewenangan, kecuali ditentukan lain dalam undang‐undang diperoleh melalui pelayanan terpadu satu pintu.
3. Peraturan Pemerintah No. 96 Tahun 2012 tentang Pelaksana Undang Undang 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik > Pasal 15
Ayat (1) Sistem pelayanan terpadu satu pintu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf a dilakukan dengan cara memadukan beberapa jenis pelayanan untuk menyelenggarakan pelayanan secara terintegrasi dalam satu kesatuan proses dimulai dan tahap permohonan sampai dengan tahap penyelesaian produk pelayanan melalui satu pintu.
Ayat (2) Penyelenggaraan sistem pelayanan terpadu satu pintu wajib dilaksanakan untuk jenis pelayanan perizinan dan nonperizinan bidang penanaman modal.
Pemerintah Pusat
UU No. 25 Tahun 2007 > Pasal 28 Ayat (1)
Dalam rangka koordinasi pelaksanaan kebijakan dan pelayanan penanaman modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut : J. mengoordinasi dan melaksanakan pelayanan terpadu satu pintu Pemerintah Daerah Perpres No. 27 Tahun 2009 Pasal 11 Ayat (1) : Penyelenggaraan PTSP di bidang Penanaman Modal oleh pemerintah provinsi dilaksanakan oleh PDPPM
Pasal 12 Ayat (1) : Penyelenggaraan PTSP di bidang Penanaman Modal oleh pemerintah kabupaten/kota dilaksanakan oleh PDKPM BKPM PDPPM Prov PDKPM/PPTSP Kabupaten/Kota
Kebijakan Investasi
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
5 SURAT EDARAN BERSAMA MENTERI DALAM NEGERI, MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN
REFORMASI BIROKRASI DAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NO 570/3727A/SJ 15 SEP 2010
Penyelenggara fungsi PTSP bidang Penanaman Modal
PROVINSI KABUPATEN/ KOTA
PDPPM
P PTSP
PPTSP
Kab
PPTSP
Kota
• Pelayanan didukung Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE)
BKPM memberikan sosialisasi dan asistensi kepada aparatur penyelenggara fungsi PTSP, memberikan Diklat pelayanan perizinan dan nonperizinan dan melakukan penilaian dan
evaluasi penyelenggaraan fungsi PTSP
NSPK SOP
IT
PELAYANAN PENANAMAN MODAL
1. Gubernur menetapkan PDPPM sbg Penyelenggara fungsiPTSP‐PM
2. Gubernur melimpahkan kewenangan perizinan dan nonperizinan kepada PDPPM
3. Gubernur menetapkan PDPPM sebagai pelaksana SPIPISE 4. Bagi P PTSP Prov yang telah terbentuk mendapatkan
pelimpahan wewenang pelayanan penanaman modal dan pelaksana SPIPISE
1. Bupati/Walikota melimpahkan kewenangan perizinan dan nonperizinan kepada PPTSP Kab/Kota
2. Bupati/Walikota menetapkan PPTSP Kab/Kota sebagai pelaksana SPIPISE
Agenda Rapat :
Rapat Koordinasi Penyederhanaan Perizinan Investasi
Arahan Menko Perekonomian dalam rapat rakor :
1. Perlu kerja keras dalam menyelesaikan permasalhan
perizinan yang menyangkut kewenangan instansi pusat dan daerah;
2. Segera dibentuk dan dikoordinasikan tim terpadu yang berisi K/L terkait yang telah ada segera diperkuat dan dalam satu minggu bekerja untuk diusulkan dalam rakor Menko
Perekonomian;
3. Perizinan dapat disederhanakan tanpa kita harus kehilangan kontrol;
4. Sambil melimpahkan kewenangan investasi kepada PTSP governance-nya harus dijaga dan proses perizinan tetap harus dipangkas. Peraturan yang tidak logis harus dipangkas (sudah ada UU 25/2007);
5. Tim bidang penanaman modal untuk menangani percepatan penyederhanaan perizinan ini segera dibentuk dengan Ketua adalah Menko Perekonomian dan Mendagri sebagai Wakil Ketua.
6. Bestpractise adalah sesedikit mungkin perizinan. Semua aturan perizinan yang dikeluarkan tanpa diatur UU/peraturan di atasnya harus dipangkas terlebih dahulu.
Tanggal 27 Juni 2013 di Ruang Rapat Graha Sawala, Kemenko Perekonomian
Peserta rapat/perwakilan
- Menko Perekonomian - Menko Polhukam (diwakili) - Menko Kesra (diwakili) - Mendagri (diwakili) - Kepala Bappenas- Kementrian terkait dengan Penanaman Modal - Setkab (diwakili) - Kapolri (diwakili) - Kepala BPS - Kepala BKPM (diwakili) - Kepala BPN (diwakili) - Kepala BNP2TKI (diwakili) - Kepala SKK Migas
- Sekretaris Kemenko Perekonomian
- Plt Deputi III Kemenko Perekonomian
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
7
Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal (PTSP‐PM)
Pelayanan Terpadu Satu Pintu, yang selanjutnya disingkat PTSP adalah kegiatan
penyelenggaraan suatu Perizinan dan Nonperizinan yang mendapat pendelegasian atau
pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan Perizinan
dan Nonperizinan yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai
dengan tahap terbitnya dokumen yang dilakukan dalam satu tempat. Peraturan Presiden
No. 27 Tahun 2009 tentang PTSP di bidang PM
Kebijakan Investasi
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)
Memotong prosedur birokrasi Mempercepat proses perizinan
Meningkatkan dan menyederhanakan prosedur investasi Mengurangi biaya administrasi
Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE)
Mempermudah proses pelacakan (tracking) perizinan Integrasi dalam pemrosesan data dan informasi
Perangkat Daerah Penyelenggara PTSP di Bidang Penanaman Modal
Pasal 14 Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi
muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi
Perpres 27/2009 PTSP Di Bidang Penanaman Modal. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 UU No. 25/2007 tentang Penanaman Modal
Peraturan Daerah
Ayat (2) Pasal 26 Pelayanan terpadu satu pintu dilakukan oleh lembaga atau instansi yang
berwenang di bidang penanaman modal yang mendapat pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan perizinan dan non perizinan di tingkat pusat atau lembaga atau instansi yang berwenang mengeluarkan perizinan dan nonperizinan di provinsi atau kabupaten/kota
UU No. 12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang‐Undang
Pasal 22 Ayat (5) Perumpunan urusan yang diwadahi dalam bentuk badan, kantor,
inspektorat, dan rumah sakit, terdiri dari: f bidang penanaman modal
Pasal 2 Ayat 1 Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah ditetapkan dengan peraturan daerah dengan berpedoman pada peraturan pemerintah ini
Pasal 11 Ayat (1) Penyelenggaraan PTSP di bidang Penanaman Modal oleh pemerintah
provinsi dilaksanakan oleh PDPPM
Pasal 12 Ayat (1) Penyelenggaraan PTSP di bidang Penanaman Modal oleh pemerintah
kabupaten/kota dilaksanakan oleh PDKPM
Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (3) Undang‐Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Pasal 30 ayat (9) Undang‐Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota
Pelayanan Terpadu Satu Pintu, yang selanjutnya disingkat PTSP adalah kegiatan penyelenggaraan suatu Perizinan dan Nonperizinan yang mendapat pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan Perizinan dan Nonperizinan yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya dokumen yang dilakukan dalam satu tempat.
Peraturan Presiden No. 27 Tahun 2009 tentang PTSP di bidang PM
PTSP
Permohonan
Proses
Izin/non-izin
Peraturan Gubernur/Bupati/ Walikota Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Pendelegasian Wewenang Ayat (3) Pasal 2 PP 41/2007
Pendelegasian Wewenang adalah
penyerahan tugas, hak, kewajiban, dan pertanggungjawaban Perizinan dan Nonperizinan, termasuk
penandatanganannya atas nama pemberi wewenang, oleh:
a. Menteri Teknis/Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) kepada Kepala BKPM;
b. Gubernur kepada kepala PDPPM; atau
c. Bupati/Walikota kepada kepala PDKPM
Perkembangan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal (PTSP‐PM)
Sampai dengan November 2013*
NO. DAERAH JUMLAH PENYELENGGARAAN PTSP SPIPISE PENDELEGASIAN BAGI YANG SUDAH TERBENTUK URUSAN PENANAMAN MODAL BAGI PTSP YANG TELAH TERBENTUK TAHUN SURVEY IMPLEMENTASI PEMANFAATAN BAGI YANG SUDAH IMPLEMENTASI
TERBENTUK BELUM ADA TIDAK SUDAH BELUM PENUH SEBAGIAN BELUM GABUNG PISAH 2012 2013
1 PROVINSI 34 33 1 33 1 28 5 28 3 2 24 9 33 0 2 KABUPATEN 412 336 76 126 286 60 66 150 175 11 183 153 170 229 3 KOTA 102 93 9 41 61 27 14 47 38 8 27 66 62 36 4 KPBPB 4 3 1 3 1 3 0 3 0 0 0 3 3 1 552 465 87 203 349 118 85 228 216 21 234 231 268 266
Kebijakan Investasi
* Atas dasar survei ke lapangan yang dilakukan Tahun 2012 dan 2013 Catatan:
1. Dari 552 daerah Provinsi, Kabupaten, Kota: a. 465 daerah telah membentuk PTSP‐PM:
1) 444 PTSP‐PM telah mendapatkan pendelegasian kewenangan Gubernur/Bupati/Walikota:
31 Provinsi 325 Kabupaten 85 Kota
3 KPBPB
2) 21 daerah belum mendapatkan pendelegasian kewenangan Gubernur/Bupati/Walikota, masih bersifat “kantor pos”
b. 87 daerah belum membentuk PTSP‐PM: 1) 1 Provinsi
2) 76 Kabupaten 3) 9 Kota
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
11
Perkembangan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal (PTSP‐PM)
2. Terdapat “perbedaan” dalam penerapan penyelenggaraan PTSP‐PM di masing‐masing daerah: a) 234 Instansi Penyelenggara PTSP‐PM sudah menyatu dengan urusan penanaman modal:
24 Provinsi 183 Kabupaten 27 Kota
b) 231 Instansi Penyelenggaa PTSP‐PM yang terpisah dengan urusan penanaman modal:
9 Provinsi 153 Kabupaten 66 Kota
3 KPBPB
3. Adanya 2 instansi yang mengurusi bidang penanaman modal di daerah (instansi penanaman modal dan instansi PTSP)
Akan membingungkan investor dan dapat menimbulkan ketidakpastian pelayanan kepada investor
Perkembangan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Provinsi Aceh
NO. DAERAH JUMLAH PENYELENGGARAAN PTSP SPIPISE PENDELEGASIAN BAGI YANG SUDAH TERBENTUK URUSAN PENANAMAN MODAL BAGI PTSP YANG TELAH TERBENTUK TAHUN SURVEY IMPLEMENTASI PEMANFAATAN BAGI YANG SUDAH IMPLEMENTASI
TERBENTUK BELUM ADA TIDAK SUDAH BELUM PENUH SEBAGIAN BELUM GABUNG PISAH 2012 2013
1 PROVINSI 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1 1 0
2 KABUPATEN 18 18 0 5 13 2 3 13 5 0 7 11 2 16
3 KOTA 6 5 1 1 4 1 0 1 4 0 1 4 2 3
25 24 1 7 17 4 3 15 9 0 8 16 5 19
Kebijakan Investasi
Catatan : terdapat 1 (satu) daerah pemekaran yang baru per tanggal 8 Juli 2013 dan belum dikualifikasi sd 2013
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
13
Sasaran Perbaikan Untuk Meningkatkan Kemudahan Berusaha :
Terutama bagi UKM di Indonesia
1. Memulai Usaha (Starting a Business)
2. Penyambungan Tenaga Listrik (Getting Electricity)
3. Pembayaran Pajak dan Premi Asuransi (Paying Taxes and Insurance Premium) 4. Penyelesaian Perkara Perdata Perjanjian (Enforcing Contract)
5. Penyelesaian Perkara Kepailitan (Resolving Insolvency)
6. Pencatatan Kepemilikan Hak Atas Tanah dan Bangunan (Registering Property) 7. Perizinan Terkait Pendirian Bangunan (Dealing with Construction Permits) 8. Perolehan Kredit (Getting Credit)
Penyederhanaan pada Prosedur, Waktu, dan
Biaya Kemudahaan Berusaha
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
15
Rencana Aksi Peningkatan Kemudahan Berusaha
1. Memulai Usaha (Starting a Business)
Penerbitan PP dan Perpres mengenai pendaftaran tenaga kerja dan program jaminan sosial yang memuat penyederhanaan proses menjadi secara simultan 1 hari kerja, dari semula pendaftaran tenaga kerja selama 14 hari dan pendaftaran kepesertaan Jamsostek selama 7 hari.
Penerbitan Permendag yang mengatur penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) di PTSP dapat dilakukan 3 hari secara simultan, dari semula selama 15 hari.
Penerbitan Perda tentang PTSP dan pelimpahan kewenangan dari Gubernur DKI Jakarta kepada Kepala PTSP. Revisi UU Perseroan Terbatas dalam rangka peniadaan persyaratan modal dasar dan modal disetor.
RUU Badan Usaha di luar PT dan Koperasi.
2. Penyambungan Tenaga Listrik (Getting Electricity)
Penerbitan Ketentuan Menteri ESDM yang mengatur tata cara penyambungan tenaga listrik sebagai turunan PP Nomor 14 Tahun 2012 dan PP Nomor 62 Tahun 2012 yang mencakup simplifikasi prosedur penyambungan tenaga listrik.
Penerbitan Perdirut PT. PLN (Persero) mengenai tata cara penyambungan listrik dengan waktu 5, 15, atau 40 hari*)dari semula selama 88 hari, dengan biaya sambungan Rp. 775/VA dan Uang Jaminan Langganan (UJL) Rp.
154/VA untuk industri dan Rp. 165/VA untuk bisnis.
3. Pembayaran Pajak dan Premi Asuransi (Paying Taxes and Insurance Premium)
Penerbitan Perdirjen Pajak mengenai sistem pelaporan pajak secara online dengan penegasan tidak perlu menyampaikan berkas/laporan hardcopy.
Penyederhanaan prosedur pembayaran program jaminan sosial yang terdiri dari: jaminan hari tua, jaminan kematian, jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kesehatan.
Rencana Aksi Peningkatan Kemudahan Berusaha
4. Penyelesaian Perkara Perdata Perjanjian (Enforcing Contract)
Kajian mengenai Penyelesaian Perkara Perdata Ringan (Small Claim Court) sebagai bahan penyusunan PERMA.
Naskah Akademis RUU Hukum Acara Perdata.
5. Penyelesaian Perkara Kepailitan (Resolving Insolvency)
Kesesuaian implementasi dalam prosedur, biaya dan waktu untuk proses kepailitan dengan peraturan yang berlaku.
6. Pencatatan Kepemilikan Hak Atas Tanah dan Bangunan (Registering Property)
Penerbitan Peraturan Kepala BPN mengenai tata cara pencatatan properti/ balik nama kepemilikan tanah (sertifikat) yang memuat penyederhanaan prosedur, waktu dan biaya.
7. Perizinan Terkait Pendirian Bangunan (Dealing with Construction Permits)
Perbaikan prosedur pengurusan, waktu, dan biaya untuk pelimpahan kewenangan penerbitan IMB dari Gubernur DKI Jakarta kepada Kepala PTSP.
Percepatan waktu penyambungan layanan air minum PT. PAM Jaya menjadi 3 hari dari semula selama 8 hari. Percepatan waktu penyambungan layanan telepon
8. Perolehan Kredit (Getting Credit)
Peraturan pelaksanaan dari Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/I/PBI/2013 tentang Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan.
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
17
Sektor‐Sektor Prioritas Yang Didorong Bagi Penanaman Modal
1. SEKTOR YANG MEMBERIKAN NILAI TAMBAH (VALUE ADDED) / HILIRISASI UNTUK PRODUK PERTAMBANGAN, PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN
fokus pengembangan: peningkatan nilai tambah
contoh: industri smelter, industri pengolahan lanjutan cpo, pengolahan lanjutan kakao, karet, cpo, rumput laut, dan perikanan
2. SEKTOR SUBSTITUSI IMPOR BARANG MODAL DAN BAHAN BAKU UNTUK INDUSTRI
fokus pengembangan: mengatasi defisit transaksi berjalan dan mengisi kekosongan pohon industri (sektor sektor yang belum ada di indonesia) contoh: industri besi dan baja, industri komponen otomotif, industri kimia dasar dan industri permesinan
3. SEKTOR SUBSTITUSI IMPOR BARANG KONSUMSI
Fokus pengembangan: mengatasi defisit transaksi berjalan dan mengurangi ketergantungan impor terhadap barang yang dikonsumsi tinggi oleh masyarakat Indonesia
Contoh: Industri Makanan dan Minuman (makanan olahan), Industri Peralatan Rumah Tangga, Industri Oil Refinery (BBM, Pelumas)
4. SEKTOR-SEKTOR INDUSTRI YANG TREND KONSUMSI DALAM NEGERI MENINGKAT
Fokus Pengembangan: Mendukung pertumbuhan infrastruktur dan residential di Indonesia Contoh: Industri semen, bahan bangunan
5. SEKTOR-SEKTOR YANG BERORIENTASI EKSPOR DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN BAKU DAN BARANG MODAL IMPOR YANG RELATIF KECIL.
Fokus Pengembangan:mengatasi defisit transaksi berjalan, Transfer teknologi, peningkatan ekspor produk final (bukan raw material) dengan kualitas tinggi
Contoh: Industri tekstil dan alas kaki, Elektronik, Permesinan, Poduk kertas dan plastik, Furnitur
6. SEKTOR-SEKTOR INFRASTRUKTUR YANG PEMBANGUNANNYA DIDORONG OLEH PEMERINTAH (TERMASUK MELALUI POLA KPS)
Fokus Pengembangan: Peningkatan konektivitas untuk meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia dan penurunan biaya logistik Indonesia
Contoh: renewable energy (energi baru dan terbarukan), pembangunan jalan tol, pelabuhan udara dan laut, penyediaan air minum, pengolahan sampah dan pembangunan rel kereta api
7. SEKTOR PARIWISATA DAN INDUSTRI KREATIF
Fokus Pengembangan: Pengembangan 16 daerah destinasi utama Indonesia dan meningkatkan kunjungan wisatawan asing dan domestik ke Indonesia (peningkatan devisa negara)
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 19 Self Assessment Penilaian Penetapan Kualifikasi
Perpres 27 / 2009
Perka BKPM 6 /2011
BKPM melakukan penetapan kualifikasi PTSP di bidang Penanaman Modal di daerah (Pasal 5 ayat 4)Hasil kualifikasi ditetapkan dengan Keputusan Kepala BKPM PTSP PDPPM atau PPTSP provinsi, PTSP PDKPM atau PPTSP, kabupaten/ kota, PTSP KPBPB dan PTSP KEK
• Kinerja, Kewenangan, Integritas, Soliditas, • Kesinambungan (Sustainability), • Tanggung Gugat (Akuntabilitas), • Tanggung Jawab (Responsibility),
ASPEK
KELEMBAGAAN
• Otomasi Layanan, Komposisi Ruangan, Sarana Kerja, Media InformasiASPEK SARANA
DAN
PRASARANA
• Kompetensi Penanaman Modal, • Kompetensi, Pengeloaan • Pengalaman, Pengelolaan LayananASPEK SUMBER
DAYA MANUSIA
TOLOK UKUR
PTSP DI
BIDANG
PENANAMAN
MODAL
SUMBER DAYA MANUSIA YANG PROFESIONAL DAN MEMILIKI KOMPETENSI YANG HANDAL, TEMPAT, SARANA DAN PRASARANA KERJA, DAN MEDIA INFORMASI, MEKANISME KERJA DALAM BENTUK PETUNJUK PELAKSANAAN PTSP PM YANG JELAS, MUDAH DIPAHAMI DAN MUDAH DIAKSES OLEH PENANAM MODAL LAYANAN PENGADUAN (HELP DESK) PENANAM MODAL DAN SPIPISESTANDAR KUALIFIKASI PTSP BIDANG PENANAMAN MODAL
Pasal 5 Ayat (2) Perpres 27/2009 Perka BKPM 6/2011
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
21
Dibentuk oleh
Kepala BKPM
Ketua
Pejabat Eselon I BKPM yang membidangi Pengendalian
Pelaksanaan Penanaman Modal
Anggota
Wakil dari Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara, Departemen Dalam Negeri, BKPM, dan instansi
terkait lainnya
Tim Teknis
Dibentuk oleh Ketua Tim Penilai:
Diketuai oleh Pejabat Eselon II BKPM
Anggota perwakilan dari dari Kementerian Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kementerian
Dalam Negeri, BKPM dan instansi terkait lainnya.
Tim Teknis Penilai PTSP di bidang penanaman modal dalam melaksanakan sebagian tugas
dapat dibantu pihak ketiga sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
22
Catt: *) Dalam hal perbaikan untuk memenuhi standar kualifikasi PTSP telah dilakukan, PDPPM atau PDKPM dapat melakukan kembali penilaian mandiri (self assesment) dan menyampaikan hasil penilaian tersebut kepada BKPM.
Bintang 4 (Nilai 90‐ 100) Bintang 3 (Nilai 80 – 89) Bintang 2 (Nilai 70 – 79) Bintang 1 (Nilai 60 – 69) Nilai 60 – 100 (sudah mencapai standar kualifikasi persyaratan dasar)
Nilai 0 - 59 (belum mencapai standar kualifikasi persyaratan dasar) Pedoman dan Lembar Penilaian Self Assesment *) Oleh PDPPM/ PDKPM
Verifikasi hasil self
assesment
Tim Penilai Lembar Verifikasi Penilaian Mandiri Belum Terkualifikasi (Nilai 0 – 59)Bintang 1 Bintang 2 Bintang 3 Bintang 4
Pedoman dan Lembar Penilaian Belum Terkualifikasi Penetapan Peringkat Kualifikasi
Perkembangan Terakhir Kualifikasi PTSP-PM
Perkembangan Terakhir Kualifikasi PTSP-PM
Kualifikasi Bintang 3 Bintang 2 Bintang 1 Belum Terkualifikasi Belum Terbentuk Provinsi ‐ 2 8 23 1 34 Kabupaten 1 24 53 261 73 412 Kota ‐ 11 16 66 9 102 Kawasan Bebas ‐ ‐ 3 ‐ 1 4 Jumlah 552
Kualifikasi PTSP sampai dengan tahun 2013
Catt: Pada tahun 2014 BKPM akan kembali mengkualifikasi kepada seluruh penyelenggara PTSP Provinsi, Kabupaten dan Kota se Indonesia
PENYELENGGARA PTSP PROVINSI JAWA TIMUR
Nama Instansi
: Badan Penanaman Modal Provinsi Jawa Timur
Nama Kepala Instansi
: Ir. Warno Harisasono, M. Eng
Alamat UPT
: Jl Pahlawan 116, Surabaya
Dasar Pembentukan
: Perda No. 10 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja
Inspektorat, Badan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis
Daerah Provinsi Jawa Timur
Pendelegasian
: Pergub No.77 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pelayanan
Perizinan Terpadu
Urusan Penanaman Modal : Sudah menyatu
Hasil Kualifikasi 2012
: Bintang 2
Implementasi SPIPISE
: Tahun 2011
Prestasi
: Peringkat Pertama Penyelenggara PTSP Terbaik Tahun 2012
PENYELENGGARA PTSP PROVINSI DI YOGYAKARTA
Nama Instansi
: Badan Kerjasama dan Penanaman Modal Provinsi DI Yogyakarta
Nama Kepala Instansi
: Drs. D. Supratikto
Alamat Gerai P2T
: Komplek Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta 55213
Dasar Pembentukan
: Perda Provinsi DIY nomor 7 tahun 2008 tentang Organisasi dan
Tatakerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah,Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja ‐
Pendelegasian
: PERGUB NO.36 TH 2011 tentang perubahan atas peraturan
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 36 Tahun 2010
Tentang penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu
Urusan Penanaman Modal : Sudah menyatu
Implementasi SPIPISE
: Tahun 2010
Prestasi
: Hasil Survey Bank Dunia dan IFC (International Finance Corporation)
sebagai kota yang paling mudah untuk berinvestasi di Indonesia
TERIMA KASIH
Invest in...
© 2013 by Indonesia Investment Coordinating Board. All rights reserved
CONTACT US
BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL (BKPM)
Jl. Jend. Gatot Subroto No. 44, Jakarta 12190 P.O. Box 3186, Indonesia
P : +62 21 5252008 ext 2712, 2821, 2831, 2841 F : +62 21 5202046