1.1 GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
Penelitian ini akan membahas secara ringkas tentang gambaran umum Instansi POLRI, dan analisis isi surat kabar mengenai pemberitaan penembakan para anggota POLRI.
4.1 GAMBARAN UMUM POLRI
4.1.1 SEJARAH SINGKAT POLRI
LAHIR, tumbuh dan berkembangnya Polri tidak lepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia sejak Proklamasi. Kemerdekaan Indonesia, Polri telah dihadapkan pada tugas-tugas yang unik dan kompleks. Selain menata keamanan dan ketertiban masyarakat di masa perang, Polri juga terlibat langsung dalam pertempuran melawan penjajah dan berbagai opersai militer bersama-sama satuan angkatan bersenjata yang lain. Kondisi seperti ini dilakukan oleh Polri karena Polri lahir sebagai satu-satunya satuan bersenjata yang relatif lebih lengkap. Hanya empat hari setelah kemerdekaan, tepatnya tanggal 21 Agustus 1945, secara tegas pasukan polisi segera memproklamirkan diri sebagai Pasukan Polisi Republik Indonesia dipimpin oleh Inspektur Kelas I (Letnan Satu) Polisi Mochammad Jassin di Surabaya, langkah awal yang dilakukan selain mengadakan pembersihan dan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang yang kalah perang, juga membangkitkan semangat moral dan patriotik seluruh rakyat maupun satuan-satuan bersenjata yang sedang dilanda depresi dan kekalahan perang yang panjang. Tanggal 29 September 1945 tentara Sekutu yang didalamnya juga terdapat ribuan tentara Belanda menyerbu Indonesia dengan dalih ingin melucuti tentara Jepang. Pada kenyataannya pasukan sekutu tersebut justru ingin membantu Belanda menjajah kembali Indonesia. Oleh karena itu perang antara sekutu dengan pasukan Indonesiapun terjadi dimana-mana.
Klimaksnya terjadi pada tanggal 10 Nopember 1945, yang dikenal sebagai "Pertempuran Surabaya". Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai hari Pahlawan secara Nasional yang setiap tahun diperingati oleh bangsa Indonesia Pertempuran 10 Nopember 1945.di Surabaya menjadi sangat penting dalam sejarah Indonesia, bukan hanya karena ribuan rakyat Indonesia gugur, tetapi lebih dari itu karena semangat heroiknya mampu menggetarkan dunia dan PBB akan eksistensi bangsa dan negara Indonesia di mata dunia. Andil pasukan Polisi dalam mengobarkan semangat perlawanan rakyat ketika itupun sangat besar.alam menciptakan keamanan dan ketertiban didalam negeri, Polri juga sudan banyak disibukkan oleh berbagai operasi militer, penumpasan pemberontakan dari DI & TII, PRRI, PKI RMS RAM dan G 30 S/PKI serta berbagai penumpasan GPK. Dalam perkembangan paling akhir dalam kepolisian yang semakin modern dan global, Polri bukan hanya mengurusi keamanan dan ketertiban di dalam negeri, akan tetapi juga terlibat dalam masalah-masalah keamanan dan ketertiban regional maupun internasional, sebagaimana yang di tempuh oleh kebijakan PBB yang telah meminta pasukan-pasukan polisi, termasuk Indonesia, untuk ikut aktif dalam berbagai operasi kepolisian, misalnya di Namibia (Afrika Selatan) dan di Kamboja (Asia).
4.1.2 VISI DAN MISI POLRI
VISI POLRI : Polri yang mampu menjadi pelindung Pengayom dan Pelayan
Masyarakat yang selalu dekat dan bersama-sama masyarakat, serta sebagai penegak hukum yang profesional dan proposional yang selalu menjunjung tinggi supermasi hukum dan hak azasi manusia, Pemelihara keamanan dan ketertiban serta mewujudkan keamanan dalam negeri dalam suatu kehidupan nasional yang demokratis dan masyarakat yang sejahtera.
MISI POLRI : Berdasarkan uraian Visi sebagaimana tersebut di atas,
Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat (meliputi aspek security, surety, safety dan peace) sehingga masyarakat bebas dari gangguan fisik maupun psikis.
Memberikan bimbingan kepada masyarakat melalui upaya preemtif dan preventif yang dapat meningkatkan kesadaran dan kekuatan serta kepatuhan hukum masyarakat (Law abiding Citizenship).
Menegakkan hukum secara profesional dan proporsional dengan menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak azasi manusia menuju kepada adanya kepastian hukum dan rasa keadilan.
Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dengan tetap memperhatikan norma - norma dan nilai - nilai yang berlaku dalam bingkai integritas wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mengelola sumber daya manusia Polri secara profesional dalam mencapai tujuan Polri yaitu terwujudnya keamanan dalam negeri sehingga dapat mendorong meningkatnya gairah kerja guna mencapai kesejahteraan masyarakat
Meningkatkan upaya konsolidasi kedalam (internal Polri) sebagai upaya menyamakan Visi dan Misi Polri kedepan.
Memelihara soliditas institusi Polri dari berbagai pengaruh external yang sangat merugikan organisasi.
Melanjutkan operasi pemulihan keamanan di beberapa wilayah konflik guna menjamin keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Meningkatkan kesadaran hukum dan kesadaran berbangsa dari masyarakat yang berbhineka tunggal ika.
Sasaran : Dalam rangka mewujudkan Visi dan Misi Polri pada kurun waktu tahun 2000 - 2004 yang akan datang ditetapkan sasaran yang hendak dicapai adalah :
Bidang Kamtibmas
Tercapainya situasi Kamtibmas yang kondosif bagi penyelenggaraan pembangunan nasional.
Terciptanya suatu proses penegakan hukum yang konsisten dan berkeadilan, bebas KKN dan menjunjung tinggi hak azasi manusia.
Terwujudnya aparat penegak hukum yang memiliki integritas dan kemampuan profesional yang tinggi serta mampu bertindak tegas adil dan berwibawa. Kesadaran hukum dan kepatuhan hukum masyarakat yang meningkat yang terwujud dalam bentuk partisipasi aktif dan dinamis masyarakat terhadap upaya Binkamtibmas yang semakin tinggi.
Kinerja Polri yang lebih profesional dan proporsional dengan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi sehingga disegani dan mendapat dukungan kuat dari masyarakat untuk mewujudkan lingkungan kehidupan yang lebih aman dan tertib.
Bidang Keamanan Dalam Negeri
Tercapainya kerukunan antar umat beragama dalam kerangka interaksi sosial yang intensif serta tumbuhnya kesadaran berbangsa guna menjamin keutuhan bangsa yang ber Bhineka Tunggal Ika.
Tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Filosofi: Disimak dari kandungan nilai Pancasila dan Tribrata secara filosofi memuat nilai-nilai kepolisian sebagai abdi utama, sebagai warga negara teladan dan wajib menjaga ketertiban pribadi rakyat.
4.1.3. LOGO POLRI
Lambang Polisi bernama Rastra Sewakottama yang berarti "Polri adalah Abdi Utama dari pada Nusa dan Bangsa." Sebutan itu adalah Brata pertama dari Tri Brata yang diikrarkan sebagai pedoman hidup Polri sejak 1 Juli 1954.
Polri yang tumbuh dan berkembang dari rakyat, untuk rakyat, memang harus berinisiatif dan bertindak sebagai abdi sekaligus pelindung dan pengayom rakyat. Harus jauh dari tindak dan sikap sebagai "penguasa". Ternyata prinsip- ini sejalan dengan paham kepolisian di semua Negara yang disebut new modern police
philosophy, "Vigilant Quiescant" (kami berjaga sepanjang waktu agar masyarakat
tentram).
Prinsip itu diwujudkan dalam bentuk logo dengan rincian makna sbb: Perisai bermakna pelindung rakyat dan negara.
Tiang dan nyala obor bermakna penegasan tugas Polri, disamping memberi sesuluh atau penerangan juga bermakna penyadaran hati nurani masyarakat agar selalu sadar akan perlunya kondisi kamtibmas yang mantap.
Pancaran obor yang berjumlah 17 dengan 8 sudut pancar berlapis 4 tiang dan 5 penyangga bermakna 17 Agustus 1945, hari Proklamasi Kemerdekaaan yang berarti Polri berperan langsung pada proses kemerdekaan dan sekaligus pernyataan bahwa Polri tak pernah lepas dari perjuangan bangsa dan negara.
Tangkai padi dan kapas menggambarkan cita-cita bangsa menuju kehidupan adil dan makmur, sedangkan 29 daun kapas dengan 9 putik dan 45 butir padi merupakan suatu pernyataan tanggal pelantikan Kapolri pertama 29 September 1945 yang dijabat oleh Jenderal Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo.
3 Bintang di atas logo bermakna Tri Brata adalah pedoman hidup Polri. Sedangkan warna hitam dan kuning adalah warna legendaris Polri.
Warna hitam adalah lambang keabadian dan sikap tenang mantap yang bermakna harapan agar Polri selalu tidak goyah dalam situasi dan kondisi apapun; tenang, memiliki stabilitas nasional yang tinggi dan prima agar dapat selalu berpikir jernih, bersih, dan tepat dalam mengambil keputusan.1
1.2 HASIL PENELITIAN
Dalam bab ini penulis akan membahas dan menguraikan hasil penelitian yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Untuk mengetahui pencitraan institusi Polri pasca kasus penembakan yang hingga kini belum ada ujung pangkalnya.
Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik analisis isi. Metode deskriptif bertujuan melukiskan secara sistematis fakta dan karaktersitik populasi secara faktual dan cermat. Sedangkan untuk lebih sistematis, penulis menganalisis dengan menggunakan empat metodologis, yaitu:
A. Data penelitian. B. uji reliabilitas.
C. Deskripsi hasil penelitian D. Pembahasan hasil penelitian
Penelitian berdasarkan analisis isi berita di Harian Umum Kompas sebagai berikut:
A. Data Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah pemberitaan kasus penembakan pada anggota Polri pada Harian Umum Kompas periode bulan September 2013, berjumlah 3 judul berita. Dan menggunakan teknik analisis isi kalimat.
Data tersebut adalah data penelitian yang akan dinilai oleh para pengkoding, untuk mengetahui apakah berita – berita tersebut sudah memenuhi unsur nilai berita.
B. Uji Reliabilitas
Dalam penjabaran hasil penelitian tersebut, dapat diawali dengan menguji reliabilitas pelaku koding, kemudian hasil yang memadai akan di deskripsikan dalam sebuah analisis. Analisis deskriptis inilah yang mampu mengukur dan mengetahui isi
berita kasus penembakan anggota kepolisian di tinjau dari segi nilai berita yang mencakup apakah pemberitaan tersebut positif, negatif atau netral.
Berikut akan di jelaskan data-data yang di peroleh berdasarkan hasil pengkodingan yang di lakukan oleh Dr. Farid Hamid Umarella (Dosen Fikom mata kuliah Riset PR), Drs. Marwan Mahmudi (Sekprodi Fikom) dan Melati Puji Hastuti (Peneliti). Untuk lebih jelasnya berikut adalah hasil analisis data yang di lakukan peneliti.
Tabel 3 : Berita 1
Judul berita 1 : Teror Hantui Penegak Hukum Tanggal Berita : 12 September 2013
No. Pernyataan Positif Netral Negatif 1 kalimat “Peristiwa penembakan terhadap sejumlah
petugas kepolisian yang terjadi belakangan ini tidak hanya meresahkan warga tetapi juga kalangan
penegak hukum.” Dapat menunjukkan citra kepolisian akibat kasus penembakan.”
1 2 0
2 Kalimat “Penegak hukum merupakan simbol Negara didalam menegakkan kedaulatan hukum. Oleh karena itu, Negara tidak boleh kalah atau pun
terlihat lemah.” Dapat menunjukkan citra kepolisian akibat kasus penembakan.
3 0 0
3 Kalimat “Penembakan ini memberikan pesan terang benderang kepada public bahwa kita berada
dalam darurat keamanan dan menghadirkan keresahan sosial.” Dapat menunjukkan citra
kepolisian akibat kasus penembakan.
1 1 1
TOTAL 5 3 1
CR = 2 1 2 N N M CR = 5 5 3 . 2 CR = 106 CR = 0,6
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus reliabilitas koder formula Holsti, menunjukan bahwa Reliabilitas Positif untuk berita 1 sebesar 0,6.
Untuk menghitung Reliabilitas Netral digunakan rumus : CR = 2 1 2 N N M CR = 3 3 3 . 2 CR = 6 6 CR = 1
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus reliabilitas koder formula Holsti, menunjukan bahwa Reliabilitas Netral untuk berita 1 sebesar 1.
Untuk menghitung Reliabilitas Negatif digunakan rumus : CR = 2 1 2 N N M CR = 1 1 3 . 2
CR = 2 6 CR = 3
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus reliabilitas koder formula Holsti, menunjukan bahwa Reliabilitas Negatif untuk berita 1 sebesar 3.
Tabel 4 : Berita 2
Judul Berita 2 : Penyerangan Aparat Anomali, Tak Muncul Gerakan Bela Polisi
Tanggal Berita : 16 September 2013
No. Pernyataan Positif Netral Negatif 1 Kalimat “Berbagai kasus kekerasan dengan senjata
api telah memakan korban dari aparat Negara, dalam hal ini anggota kepolisian.” Dapat menunjukkan citra kepolisian akibat kasus
penembakan.
0 1 2
2 Kalimat yang “Tingkatkan kegiatan intelijen Polri. Seharusnya bisa mengendus kecenderungan adanya kegiatan memukul Polri. Aparat intelijen kita cukup
terdidik untuk masuk sarang laba laba.” Dapat menunjukkan citra kepolisian akibat kasus
penembakan
2 0 1
3 Kalimat “Polisi dalam menganalisis situasi jangan terlalu sering mengobral opini bahwa semua itu
dilakukan oleh kelompok teroris.” Dapat menunjukkan citra kepolisian akibat kasus
penembakan
0 2 1
TOTAL 2 3 4
CR = 2 1 2 N N M CR = 2 2 3 . 2 CR = 4 6 CR = 1,5
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus reliabilitas koder formula Holsti, menunjukan bahwa Reliabilitas Positif untuk berita 2 sebesar 1,5
Untuk menghitung Reliabilitas Netral digunakan rumus : CR = 2 1 2 N N M CR = 3 3 3 . 2 CR = 6 6 CR = 1
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus reliabilitas koder formula Holsti, menunjukan bahwa Reliabilitas Netral untuk berita 2 sebesar 1.
CR = 2 1 2 N N M CR = 4 4 3 . 2 CR = 8 6 CR = 0,75
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus reliabilitas koder formula Holsti, menunjukan bahwa Reliabilitas Negatif untuk berita 2 sebesar 0,75.
Tabel 5 : Berita 3
Judul Berita 3 :Polisi jadi korban kekerasan Tanggal Berita : 12 September 2013
No. Pernyataan Positif Netral Negatif
1 Kalimat “Rangkaian kekerasan dan kejahatan yang
mengancam polisi mengundang keprihatinan dan keresahan luas.” Dapat menunjukkan citra
kepolisian akibat kasus penembakan
1 2 0
2 Kalimat “Upaya mengusut tuntas rangkaian
serangan kepada anggota kepolisian juga dimaksudkan untuk mencegah berbagai spekulasi yang hanya memperkeruh suasana, menyuburkan rasa curiga dan prasangka.” Dapat menunjukkan
citra kepolisian akibat kasus penembakan
1 2 0
3 Kalimat “Kepolisian dituntut terus membenahi diri
untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang cenderung turun.” Dapat menunjukkan citra
kepolisian akibat kasus penembakan
2 0 1
Untuk menghitung Reliabilitas Positif digunakan rumus : CR = 2 1 2 N N M CR = 4 4 3 . 2 CR = 8 6 CR = 0,75
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus reliabilitas koder formula Holsti, menunjukan bahwa Reliabilitas Positif untuk berita 3 sebesar 0,75.
Untuk menghitung Reliabilitas Netral digunakan rumus : CR = 2 1 2 N N M CR = 4 4 3 . 2 CR = 8 6 CR = 0,75
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus reliabilitas koder formula Holsti, menunjukan bahwa Reliabilitas Netral untuk berita 3 sebesar 0,75
CR = 2 1 2 N N M CR = 1 1 3 . 2 CR = 2 6 CR = 3
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus reliabilitas koder formula Holsti, menunjukan bahwa Reliabilitas Negatif untuk berita 1 sebesar 3.
Tabel. 1
No. Item Nilai
1 Positif 0,6 + 1,5 + 0,75 = 2,85 2 Negatif 3 + 0,75 + 3 = 6,75 3 Netral 1 + 1 + 0,75 = 2,75
Total 12,35
Nilai Rata - rata Positif : 2,85 : 3 = 0,95 Nilai Rata – rata Netral : 2,75 : 3 = 0,91 Nilai Rata – rata Negatif : 6,75 : 3 = 2,25
Komposit Reliabilitas = 1 ( 1)( ) ) ( XAntarJuri n XAntarJuri N
Komposit Reliabilitas Positif :
) 95 , 0 ( 2 1 95 , 0 3 X = 9 , 2 85 , 2 = 0,982
Komposit Reliabilitas Netral : ) 91 , 0 ( 2 1 91 , 0 3 X = 82 , 2 73 , 2 = 0,968
Komposit Reliabilitas Negatif :
) 25 , 2 ( 2 1 25 , 2 3 X = 5 , 5 75 , 6 = 1,22 Tabel 4 Prosentase Citra N =3,14
No. Citra Koefisien Reliabilitas Prosentase 1 Positif 0,98 31,2 % 2 Netral 0,96 30,6 % 3 Negatif 1,2 38,2% Total 3,14 100 % P = N X100% F Positif : 14 , 3 98 , 0 X100% = 0,312 X 100% = 31,2 % Netral : 14 , 3 96 , 0 X 100% = 0,306 X 100% = 30,6% Negatif : 14 , 3 2 ,1 X 100% = 0,382 X 100% = 38,2 %
C. Deskripsi Hasil Penelitian
Dengan demikian citra yang paling dominan dari ketiga berita yang terdapat di Harian Umum Kompas adalah citra negatif dengan hasil prosentase 38,2% berdasarkan hasil perhitungan coding sheet dari ketiga orang coder.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Setelah peneliti melakukan penghitungan reliabilitas dan prosentase kepada 3 coder terhadap citra yang ingin ditunjukkan melalui berita. Selanjutnya akan dibahas mengenai kalimat atau kata – kata yang mengandung citra negatif dari berita di dalam Harian Umum Kompas.
1. Berita 1 Kalimat 1: “Peristiwa penembakan terhadap sejumlah petugas kepolisian yang terjadi belakangan ini tidak hanya meresahkan warga
tetapi juga kalangan penegak hukum.”
2. Berita 1 Kalimat 2 : “Penegak hukum merupakan simbol Negara didalam menegakkan kedaulatan hukum. Oleh karena itu, Negara tidak boleh
kalah atau pun terlihat lemah.”
3. Berita 1 Kalimat 3 : “Penembakan ini memberikan pesan terang benderang kepada publik bahwa kita berada dalam darurat
keamanan dan menghadirkan keresahan sosial.”
Kalimat diatas menunjukkan bahwa kasus penembakan bukan hanya menimbulkan keresahan di masyarakat tetapi juga di kalangan penegak hukum yang seharusnya bisa menjadi pelindung dan pengayom masyarakat. Apabila penegak hukum saja merasa resah dan tidak nyaman bagaimana dengan masyarakat. Dan muncul pertanyaan di masyarakat kemanakah masyarakat meminta perlindungan dan rasa aman.
1. Berita 2 Kalimat 1 : “Berbagai kasus kekerasan dengan senjata api
telah memakan korban dari aparat Negara, dalam hal ini anggota
kepolisian.”
2. Berita 2 Kalimat 2 : “Tingkatkan kegiatan intelijen Polri. Seharusnya bisa mengendus kecenderungan adanya kegiatan memukul Polri. Aparat intelijen kita cukup terdidik untuk masuk sarang laba laba.”
3. Berita 2 Kalimat 3 : “Polisi dalam menganalisis situasi jangan terlalu
sering mengobral opini bahwa semua itu dilakukan oleh kelompok
teroris.”
Kalimat diatas menunjukkan bahwa kinerja Kepolisian RI masih mempunyai banyak kekurangan. Polri hendaknya selalu mawas diri dengan segala sikap, tingkah laku maupun aturan dari para anggotanya dan dari Polri itu sendiri.
1. Berita 3 Kalimat 1 : “Rangkaian kekerasan dan kejahatan yang mengancam polisi mengundang keprihatinan dan keresahan luas.”
2. Berita 3 Kalimat 2 : Kalimat “Upaya mengusut tuntas rangkaian serangan kepada anggota kepolisian juga dimaksudkan untuk mencegah berbagai
spekulasi yang hanya memperkeruh suasana, menyuburkan rasa curiga dan
prasangka.”
3. Berita 3 Kalimat 3 : “Kepolisian dituntut terus membenahi diri untuk
mengembalikan kepercayaan masyarakat yang cenderung turun. “
Kalimat diatas menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat dengan Polri semakin menurun.
Dari hasil coding ketiga coder diatas, dapat disimpulkan bahwa citra Polri dari ketiga berita di Harian Umum Kompas adalah negative.
Namun menurut peneliti, terdapat juga kalimat positif yang menunjukkan kinerja Polri menuju kearah yang lebih baik. Yaitu terdapat dalam berita 2 kalimat 2 dimana disitu terdapat kalimat : Aparat intelijen kita cukup terdidik untuk masuk sarang
laba laba. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya Polri cukup mampu
untuk menangani kasus penembakan tersebut. Hanya saja Polri harus tetap fokus dan dalam menjalankan setiap tugasnya.
Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam berita SKH Kompas terdapat 38,2% citra negatif, 30,6% citra yang netral dan 31,2% citra positif. Berita yang ada di dalam SKH Kompas objektif dan sistematis.