41
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1. Asal Usul Kejadia Daerah Buol
Menurut keyakinan masyarakat Buol yang bersumber dari tradisi lisan yang dituturkan dan diwariskan dari generasi ke generasi, bahwa asal mula kejadian tanah Buol berkaitan erat dengan pelayaran Nabi Nuh a.s di zaman dahulu kala. Sebelum itu Daerah Buol belum ada, semuanya masih berupa lautan luas.
Pada suatu ketika di tengah lautan kapal Nabi Nuh a.s melakukan putaran (manuver) sebanyak tiga kali kemudian meneruskan pelayarannya. Di lokasi kapal tempat melakukan manuver tersebut terjadi gelombang besar disertai buih air laut yang sangat banyak, buih air laut tersebut lama kelamaan mengering bersamaan dengan air banjir besar di zaman Nabi Nuh a.s yang telah menenggelamkam bumi manusia yaitu kaum yang telah ingkar kepada Allah S.W.T, dan utusannya Nabi Nuh a.s. Setelah air laut tersebut surut kembali, maka muncullah pulau-pulau, daratan, lembah dan gunung-gunung.
Mengalami proses alam yang lama, lengkap dengan kehidupan flora dan fauna, maka tempat tersebut menjadi negeri yang kemudian hari diberi nama “Bwuolyo” yaitu dari asal kata Bwulya yang artinya Buih. Menurut orang Belanda
42
kata Bwuolyo ditulis menjadi Bwuool, (Buwol) kemudian berubah menjadi Boeol dan terakhir yang disesuaikan dengan ejaan baru yang disempurnahkan menjadi “Buol” (dalam A. Rahim Samad, 2000 : 6-7).
4.1.2. Sejarah Singkat Kabupaten Buol
Menurut Nasarudin Mangge sebelum Daerah Buol menjadi salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah, Daerah Buol masih bergabung dan merupakan bagian dari wilayah Toli-toli yaitu dikenal dengan Kabupaten Buol Toli-toli. Kabupaten ini merupakan salah satu dari ke empat kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah yang terbentuk pada tahun 1960 berdasarkan Undang-undang No. 29 Tahun 1959, yang merupakan gabungan dari dua wilayah yaitu Daerah Buol dan Daerah Toli-toli. Dengan perkembangan zaman Derah Buol memekarkan diri dari Toli-toli dan menjadi satu kabupaten sendiri. Kabupaten Buol dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 51 Tahun 1999 yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Buol Toli-toli dan diresmikan pada tanggal 27 November tahun 1999 atas nama Mentri Dalam Negeri yaitu Gubernur H.B Paliudju. Ir. Abdul Karim Mbouw dilantik di Jakarta sebagai Pejabat Bupati Buol pertama pada tanggal 12 Oktober tahun 1999 (wawancara, tanggal 29 Maret 2013).
4.1.3. Keadaan Geografis Kabupaten Buol 1. Letak Geografis
Buol adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang beribukota di Kecamatan Biau/Kota Buol. Wilayah Kabupaten Buol berada di bagian
43
utara Provinsi Sulawesi Tengah dengan letak wilayah antara 0,35° – 1,20° LU dan 120,12° – 122,09° BT. Di samping itu, wilayah Kabupaten Buol terletak di sebelah Timur Kabupaten Toli-toli dan terletak di sebelah utara wilayah Provinsi Sulawesi Tengah, sebagian wilayahnya berbatasan langsung dengan pantai yang menyebabkan Kabupaten Buol beriklim panas, dengan rata-rata curah hujan yaitu 99,75 mm dengan maksimal curah hujan pada bulan Februari di Kecamatan Bokat.
Kabupaten Buol mempunyai batas-batas wilayah administrasi adalah sebagai berikut :
- Sebelah Utara --- Dengan Laut Sulawesi sekaligus Negara Fhilipina - Sebelah Selatan --- Dengan Provinsi Gorontalo dan Parigi Moutong - Sebelah Timur --- Dengan Provinsi Gorontalo
- Sebelah Barat --- Dengan Kabupaten Toli-toli
Menurut Maryan G. Mailili bahwa BUOL adalah merupakan singkatan dari sebuah nama batas-batas wilayah Kabupaten Buol yaitu antara Provinsi Gorontalo di sebelah Timur, dan Kabupaten Toli-toli di sebelah Barat. Karena Buol mempunyai nama Desa Umu yang terletak di sebelah Timur dan berbatasan langsung dengan Provinsi Gorontalo, Kemudian Buol juga mempunya nama Desa Lakuan yang terletak di sebelah Barat sekaligus berbatasan langsung dengan Kabupaten Toli-toli, maka dari itu BUOL dikenal sebagai Bujur Umu Ordinat Lakuan. Istilah ini muncul dalam fikiran masyarakat untuk menunjukan batas-batas wilayah Kabupaten Buol dari timur ke barat (wawancara tanggal 24 Maret 2013).
44 2. Luas Wilayah
Kabupaten Buol mempunyai luas wilayah ± 4.043, 57 Km², dan memiliki 11 (sebelas) kecamatan yaitu Kecamatan Paleleh, Paleleh Barat, Gadung, Bunobogu, Bokat, Bukal, Biau, Momunu, Tiloan, Karamat, dan Lakea.
Untuk lebih jelas mengetahui luas wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Buol, yaitu dengan melihat tabel 1.1. berikut :
Tabel 1.1.
Presentase Luas Kecamatan yang ada di Kabupaten Buol.
No Kecamatan Luas (Km²) Presentase (%)
1 Paleleh 386,19 Km² 9,55 % 2 Paleleh Barat 200,68 Km² 4,96 % 3 Gadung 160,38 Km² 3,97 % 4 Bunobogu 327,15 Km² 8,09 % 5 Bokat 196,10 Km² 4,85 % 6 Bukal 355,52 Km² 8,79 % 7 Biau 217,80 Km² 5,39 % 8 Momunu 400,40 Km² 9,90 % 9 Tiloan 1.437,70 Km² 35,55 % 10 Karamat 153,10 Km² 3,79 % 11 Lakea 208,55 Km² 5,16 % Kabupaten Buol 4.043,57 Km² 100,00 % Hasil estimasi tahun 2010.
45 4.1.4. Keadaan Demografis
1. Keadaan Penduduk
Berdasarkan estimasi, pada tahun 2011 penduduk Kabupaten Buol mencapai 134.776 jiwa, terdiri dari 69.290 jiwa laki-laki dan 65.486 jiwa perempuan. Penduduk yang terbanyak berada di Kecamatan Biau. Kabupaten Buol dengan luas wilayah 4.043,57 km² memilki kepadatan penduduk 33,3 jiwa/km². Apabila dengan melihat penyebaran penduduk pada tingkat kecamatan, wilayah yang merupakan kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Biau yaitu 129 jiwa/km², dan Kecamatan yang kepadatan penduduknya sangat rendah adalah Kecamatan Tiloan yaitu 7 jiwa/km².
Rasio jenis kelamin di Kabupaten Buol tahun 2011 adalah sebesar 105,81 yang berarti secara rata-rata bila disuatu wilayah di Kabupaten Buol terdapat 100 penduduk perempuan, maka di wilayah itu juga terdapat 106 penduduk laki-laki atau dengan kata lain jumlah penduduk laki-laki lebih banyak 5,8 % dari penduduk perempuan.
Komposisi atau struktur umur penduduk di Kabupaten Buol menunjukan bahwa terdapat 55.469 penduduk usia tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas), dan 79.307 penduduk usia produktif (15-64 tahun).
Untuk lebih jelas mengetahui lajunya pertumbukan penduduk Kabupaten Buol yaitu dengan melihat tabel 1.1. berikut :
46 Tabel.1.1.
Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Buol Tahun 2011
No Kecamatan Jumlah Penduduk
Laju Pertumbuhan Penduduk (%) 2000 2010 2011 2010-2011 1 Paleleh 13.759 11.323 11.533 1,84 % 2 Paleleh Barat 5.375 5.475 1,84 % 3 Gadung 11.337 11.546 1,83 % 4 Bunobogu 16.610 8.814 8.977 1,83 % 5 Bokat 21.012 12.609 12.841 1,82 % 6 Bukal 13.485 13.734 1,83 % 7 Biau 27.567 28.078 1,84 % 8 Momunu 19.276 13.869 14.125 1,83 % 9 Tiloan 9.955 10.139 1,83 % 10 Karamat 8.296 8.449 1,84 % 11 Lakea 27.348 9.700 9.879 1,83 % Jumlah 98.005 132.330 134.776 1,83 % Hasil estimasi berdasarkan data penduduk tahun 2011
Sumber : Bagian tata pemerintahan Kantor Bupati Buol
2. Agama
Kabupaten Buol adalam merupakan daerah yang didiami oleh berbagai macam suku bangsa dengan memeluk agama yang berbeda-beda. Berdasarkan agama yang dipeluknya bahwa 93,84 % penduduk yang ada di Kabupaten Buol memeluk Agama Islam, 1,23 % penduduk memeluk Agama Kristen, 2,62 % penduduk
47
memeluk Agama Katolik, 2,10 % memeluk Agama Hindu dan 0,21 % penduduk memeluk Agama Budha. Meskipun penduduk yang ada di Kabupaten Buol sangat heterogen, namun kerukunan hidup antar agama selalu dijaga dan terjalin dengan baik.
3. Suku
Negara Indonesia adalah Negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan didiami berbagai macam suku, ras dan etnik yang membuat bangsa Indonesia kaya akan budaya. Walaupun demikian, Bangsa Indonesia tetap satu yang diikat dalam suatu simbol yaitu Bhineka Tunggal Ika yang dalam arti meskipun berbeda-beda (suku, ras, etnik dan agama) rakyat Indonesia tetap satu.
Kabupaten Buol adalah salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah yang mempunyai bahasa, budaya dan adat istiadat sendiri yang merupakan ciri khas dari Daerah Buol, namun demikian Kabupaten Buol telah didiami oleh berbagai macam suku yang memperkaya budaya Daerah Buol. Suku-suku yang telah mendiami Daerah Buol antara lain Suku Buol, Gorontalo, Bualemo, Toli-toli, Kaili, Mandar, Bugis, Banjar, Jawa, Manado, Kaidipang, Bolangitang, Mongondow, Arab, Cina, dan Suku Bangsa Mindanao (Fhilipina).
48 4.2. Sajian Data
4.2.1. Perubahan Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Buol
Masyarakat Buol adalah masyarakat yang mempunyai bahasa, budaya dan adat istiadat sendiri yang sampai sekarang ini masih terpelihara dan selalu digunakan oleh masyarakat Buol sebagai satu kesatuan untuk mempersatukan masyarakat Buol.
Kehidupan sosial budaya masyarakat Buol sebelumnya masih sangat premitif dan tradisional, hubungan-hubungan dalam masyarakat sangat bersifat kekeluargaan dan terjalin dengan baik. Budaya-budaya dan tradisi dalam masyarakat sangat dijunjung tinggi dan dipertahankan oleh semua masyarakat, namun dengan perkembangan zaman dan majunya IPTEK telah membawa berbagai macam perubahan dalah kehidupan sosial budaya masyarakat.
1. Perubahan Sosial
Menurut Samsudin Lasau kehidupan sosial masyarakat Buol masih sangat sederhana. Masyarakat yang ingin pergi belanja di pasar Buol harus berjalan kaki karena pada saat itu masih sangat terbatas alat transportasi seperti motor atau mobil. Kendaraan yang digunakan masyarakat sebagai alat transportasi adalah gerobak yang ditarik oleh sapi (wawancara, tanggal 23 Maret 2013).
Menurut Maryam G. Mailili hubungan kekerabatan dalam keluarga masih sangat terjalin erat, saling menghargai, hormat-menghormati, dan tidak boleh memanggil nama kepada orang yang lebih tua. Masyarakat melakukan Silaturahmi dengan pejabat di saat hari lebaran, yaitu diadakan kunjungan dari
49
masing-masing distrik (kecamatan) dengan menggunakan rebana, kemudian diterima oleh Madika (Raja) (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
Menurut Hasan Ta’asar “kehidupan sosial masyarakat Buol masih sangat sederhana dan bersifat premitif, seluruh pekerjaan selalu dilakukan dengan tenaga manusia” (wawancara, tanggal 26 Maret 2013).
Menurut Nasarudin Mangge kehidupan sosial masyarakat Buol sangat bersifat kekeluargaan dan selalu menghormati orang yang lebih tua. Masyarakat selalu mengutamakan sikap gotong royong, dan selalu sopan santun kepada orang lain. Dalam membangun sebuah rumah seperti rumah patok (Rumah yang terbuat dari patok ) mereka selalu bersama-sama dan saling membantu, bahkan ada salah satu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yaitu arisan membangung rumah yang dilakukan setiap bulan. Pada kegiatan arisan membangun rumah tersebut yang dilakukan setiap bulan, masyarakat terlebih dahulu melakukan Bokidu (musyawarah) untuk memutuskan siapa yang menjadi Itoy Kalreja (orang yang dituakan) dalam pekerjaan untuk membangun rumah tersebut. Itoy Kalreja (orang yang dituakan) akan memilih satu orang dari anggota-anggotanya kepada siapa yang pertama dibangun rumah, dengan melihat kondisi dan kehidupannya (wawancara, tanggal 29 Maret 2013).
Menurut Aisyah Entu “kehidupan sosial masyarakat pada saat itu sangat sederhana sekali, hubungan-hubungan dalam masyarakat terlajin dengan baik” (wawancara, tanggal 02 April 2013).
Menurut Sufu Tahura “kehidupan masyarakat Buol sangat memprihatinkan, masyarakat belum mengenal ilmu teknologi, sumber daya manusia masih sangat
50
terbatas, namun hubungan dalam masyarakat sangat dijaga dan bersifat kekeluargaan, sifat sopan santun sangat di junjung tinggi” (wawancara, tanggal 04 April 2013).
Menurut Ibrahim Turungku “hubungan dalam masyarakat sangat tejalin dengan baik dan bersifat kekeluargaan, namun kehidupan masyarakat pada saat itu masih di bawah pengaruh kekuasaan Belanda” (wawancara, tanggal 09 April 2013).
Kehidupan sosial masyarakat Buol setelah bergabung dengan Toli-toli dan membentuk satu Kabupaten mulai berubah, hal ini dijelaskan oleh beberapa orang tokoh masyarakat Buol adalah sebagai berikut :
Menurut Samsudin Lasau setelah wilaya Buol bergabung dengan Toli-toli dan menjadi satu kabupaten, kehidupan sosial masyarakat sudah mulai berkembang. Dulu alat transportasi yang digunakan oleh masyarakat adalah gerobak yang ditarik oleh sapi, namun sekarang sudah ada yang menggunakan sepeda, motor dan mobil meskipun masih terbatas. Masyarakat yang selesai memanen padi sekarang sebagian sudah menggunakan mesin penggiling padi. Pelayanan dalam masyarakat masih sangat terbatas, karena seluruh bidang pemerintahan masih berpusat di Toli-toli (wawancara, tanggal 23 Maret 2013).
Menurut Maryam G. Mailili kehidupan sosial masyarakat Buol sudah mulai berkembang. Masyarakat sudah mulai tersentuh oleh modernisasi dan mengenal perkembangan ilmu teknologi yang membuat masyarakat berfikir ingin berubah sesuai perkembangan zaman. Majunya teknologi dan ilmu pengetahuan membuat masyarakat berubah, dulu masyarakat masih menulis di batu tulis, kemudian di kertas dan bahkan sudah ada mesin ketik (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
51
Menurut Hasan Ta’asar “setelah terbentuknya Kabupaten Buol Toli-toli hingga Kabupaten Buol kehidupan sosial masyarakat mulai ada perubahan, masyarakat sudah mengenal ilmu teknologi, sifat individual mulai ada pada masyarakat” (wawancara, 26 Maret 2013).
Menurut Nasarudin Mangge “kehidupan sosial masyarakat Buol sudah mulai ada perkembangan, masyarakat sudah mengenal ilmu teknologi, alat transportasi sudah mulai ada seperti sepeda, motor, dan mobil meskipun masing sangat kurang” (wawancara, 29 Maret 2013).
Menurut Aisya Entu “setelah terbentuknya kabupaten Buol Toli-toli sampai dengan terbentuknya Kabupaten Buol, etika dan moral masyarakat mulai berkurang, mereka sudah kurang menghormati orang yang lebih tua” (wawancara, tanggal 02 April 2013).
Pada tahun 1999, wilayah Buol dimekarkan dari Kabupaten Buol Toli-toli dan menjadi satu Kabupetan yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah. Setelah terbentunya Kabupaten Buol kehidupan sosial masyarakat semakin meningkat.
Menurut Samsudin Lasau kehidupan sosial masyarakat Buol mulai berkembang mengikuti perkebangan zaman. Biasanya mereka mengerjakan sesuatu bersama-sama, namun sekarang sudah lebih bersifat individual karena mereka sudah mengenal ilmu teknologi dan lebih banyak menggunakan tenaga mesin (wawancara, tanggal 23 Maret 2013).
Menurut Maryam G. Mailili kehidupan sosial masyarakat Buol semakin berkembang, masyarakat sudah mengenal kemajuan ilmu pengetahuan dan
52
teknologi, seperti ATM, HP, Internet, Facebook mesin ketik Komputer dan Laptop. Masuknya masyarakat trans dan suku-suku lain di Daerah Buol membuat masyarakat Buol mulai tersingkirkan dari jalur utama sebagai penduduk asli Buol. Adanya persaingan sehat antara masyarakat asli Buol dengan suku-suku lain. Gaya hidup masyarakat Buol sudah modern (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
a. Bidang Pemerintahan
Sekitar tahun 1901 wilayah Buol sudah berstatus Afdeling, merupakan salah satu Afdeling dari residensi Manado yang sejak tahun 1858 berdiri sendiri lepas dari Gubernur Maluku, namun tetap masih di bawah kekuasaan Hindia Belanda..
Menurut Maryam G. Mailili, masyarakat Buol sudah memiliki sistem pemerintahan sendiri, yaitu mengakui seorang Raja sebagai Kepala Pemerintahan. Masyarakat Buol menyebut Raja adalah “Madika”, Raja tersebut bertugas untuk menjalankan perintah dan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Hidia Belanda, namun demikian dengan perkembangan zaman sistem pemerintahan berubah menjadi sebuah KPN (Kepala Pemerintahan Negeri) dengan mengguakan sistem pemerintahan Trias Politika, yang system pemerintahanya terdiri dari :
a. Kepala Pemerintahan (Eksekutif) atau Bubato b. Dewan Adat ( Legislatif) atau Bokidu Lripu c. Bidang Hukum (Yudikatif) atau Ukum d. Bidang Agama atau Moputih/rebi e. Pengacara (Juru Bicara) atau Pabisara f. Panglima (Pengawal Kerajaan) atau Palrima g. Syah Bandar (Kapten Laut) atau Kapitalyau
53 h. Wakil raja atau Jogugu
i. Sekertaris Kerajaan atau Jurutulri j. Pendidik atau Tilo ni Guru
Wilayah Buol terbagi dalam 5 (lima) distrik, yaitu distrik Paleleh, distrik Bunobogu, distrik Bokat, distrik Momunu dan distrik Biau (wawancara tanggal 24 Maret 2013).
Menurut Nasarudin Mangge bahwa sebelum Indonesia merdeka Buol sudah mempunyai pemerintahan sendiri yaitu seorang Raja yang diseebut “Madika”, selain itu, masyarakat Buol juga mempunyai sebuah “Bokidu” yaitu lembaga atau tempat untuk melakukan suatu musyawarah. Bentuk pemerintahan yang ada pada masyarakat Buol mempunyai struktur pemerintahan, yang terdiri dari yaitu :
a. Madika yaitu Raja
b. Jogugu yaitu Bidang Hukum
c. Moputih yaitu Bidang Agama
d. Kapitalyau yaitu Kapten Laut
Wilayah Buol terdiri darii 4 (empat) balak, yaitu balak Talaki, balak Bunobogu, balak Kantanan, dan balak Tongon, kemudian berubah menjadi distrik yang terdiri dari distrik Paleleh, distrik Bunobogu, distrik Bokat dan distrik Biau. Setelah pada tahun 1964 terbentuk distrik Momunu yang merupakan pemekaran dari distrik Biau (wawancara, tanggal 29 Maret 2013). Menurut Aisyah Entu “dulu masyarakat Buol menganggap Madika (Raja) sebagai kepala pemerintahan” (wawancara, 02 April 2013).
Menurut Ibrahim Turungku “masyarakat Buol sudah mempunyai pemerintahan sendiri yang kepala pemerintahannya adalah seorang Madika (Raja)
54
yang diakui dan dihormati oleh seluruh masyarakat Buol” (wawancara, tanggal 09 April 2013).
Raja-raja yang memerintah Buol pada saat itu adalah :
1. Datu Alam Turungku (Raja ke-29) dengan Gelar “Ti pasumen”, memerintah (± 1899 – 1914 M) yang berkedudukan di Kasanang.
Pada masa pemerintahan Datu Alam Turungku, Belanda menjankan wajib kerja Rodi (Heerendienst) yaitu pada tahun 1903. Dengan demikian sudah dua macam kewajiban yang berat dibebankan kepada rakyat, yaitu pajak dan kerja rodi, yang membuat kehidupan rakyat bertambah susah. Di pihak lain, belum ada usaha-usaha Belanda untuk memajukan rakyat, semua usaha-usaha Belanda adalah hanya untuk kepentingan semata. Namun demikian, pemerintah Hindia Belanda memberikan hadia kepada Raja Datu Alam Turungku yaitu berupa “Pasment”. Pasment ialah hiasan yang dilapisi emas dan dililitkan pada songkok Raja, maka dari itu Beliau di beri Gelar “ Ti Pasument “.
Pada tahun 1911 Beliau jatuh gering dan menjadi gila, tetapi sembuh kembali. Pada tanggal 20 November 1912, Assistent Resident Gorontalo menulis surat kepada Resident Manado yang mengusulkan perubahan dalam pemerintahan Buol. Pada tanggal 22 November 1912 Raja Datu Alam Turungku menandatangani Korte Verklaring. Usul itu telah disetujui oleh Resident Manado dalam surat keputusannya pada tanggal 1 April 1914, yaitu mengenai surat yang berlaku sejak mulai dari
55
tanggal 1 Januari 1913, isi surat keputusan tersebut telah merubah sistem pemerintahan menurut adat istiadat Buol yaitu :
a. Badan musyawarah Bokidu sebagai lembaga legislatif dihapuskan
b. Jabatan-jabatan Presiden/Raja, Jogugu (wakil Raja), Ukum (bidang hukum), Kapitalyau (Kapten Laut), dan lain-lain jabatan di bawahnya dihapuskan. c. Distrik-distrik disederhanakan, dari lima distrik menjadi tiga distrik, yaitu
distrik Momunu masuk distrik Biau dan distrik Paleleh masuk distrik Bunobogu.
Dari perubahan tersebut, di pusat pemerintahan hanya ada Raja, dan di tingkat distrik hanya ada Marsaoleh yang masing-masing dibantu oleh Jurutulri (sekertaris), namun di tingkat kampung tetap, yaitu Kepala Kampung, Jurutulri (sekertaris) dan Mayor.
Mengetahui Raja Datu Alam Turungku (Raja Buol) dalam keadaan tidak waras, maka Raja Bolaang Itang yang bernama Ram Suit Pontoh (Keturunan Bangsawan Buol), memajukan keras/permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi Raja Buol dan permohonannya diterima. Raja Bolaang Itang berencana setelah menjadi Raja, Beliau akan membangun Ibu Kota kerajaan yang berlokasi diantara Desa Lokodidi dan Desa Lokodoka yaitu di Tabamuang/Desa Matinan. Usaha Ram Suit Pontoh tersebut ditantang keras oleh H. Ahmad Turungku yang waktu itu sebagai Marsaoleh Biau. H. Ahmad Turungku berpendirian bahwa sebagai putra dari Datu Alam Turungku (Raja Buol), Beliau berhak menjadi Raja
56
Buol. Mendapat reaksi tersebut Belanda membatalkan persetuannya, dan mengembalikan Ram Suit Pontoh ke Bolaang Itang. Pada tahun 1914 H. Ahmad Turungku menggantikan Datu Alam Turungku sebagai Raja Buol.
2. H. Ahmad Turungku (Raja ke-30) memerintah (± 1914 – 1947 M) berkedudukan di Roji atau Bendar kemudian di Leok.
Raja H. Ahmad Turungku diangkat pada tahun 1914 dan dinobatkan secara adat yang dalam bahasa Buol “Ni Tongouk” yaitu pada tahun 1916. Beliau adalah seorang Raja yang keras kemauan, disiplindan menjamin keamanan rakyar serta kerajaan dari semua gangguan. Beliau menandatangani Korte Verkling pada tanggal 20 November 1915, pemerintahannya mendapat penilaian yang baik dari Belanda dan mendapat penghargaan yaitu :
a. Pada tahun 1929 mendapat hadiah “Kepala Tongkat Emas”
b. Pada tanggal 17 Februari diberikan penghargaan “Bintang Emas Besar” c. Pada tanggal 10 Agustus 1941 diberikan penghargaan “Bintang Emas Kecil”
Beliau diberikan penghargaan tersebut oleh Belanda setelah menjalani dinas Raja selama 25 tahun. Raja H. Ahmad Turungku membangun istana yang cukup megah di Roji yang disebut “Kumalrigu Sirap” atau Istana Atap Sirap, nama Roji yang mulai berlaku tahun 1830 yang diberi nama oleh Pertugis tersebut kemudian direbut oleh Belanda, dan masih tetap digunakan sebagai nama Ibu Kota Kerajaan Buol sampai tahun 1930. Setelah itu, Roji berubah menjadi nama “Bendar” yang berarti Kota.
57
Pada masa pemerintahan H. Ahmad Turungku, Kota Leok dibangun dan dijadikan pusat pemerintahan atas usul Controleur Rookmake dan Waiswisz yaitu pada tahun 1930.
Sekitar tahun 1940 nama Bendar sudah jarang dipakai, masyarakat sudah menyebutnya Buol, karena nama Buol adalah meliputi seluruh wilayah Kerajaan Buol. Dengan demikian, Istana Raja Kumalrigu Sirap (Istanah atap sirap) yang baru dingun tahun 1924 dipindahkan ke Leok.
Beberapa istana yang cukup megah yang dibangun oleh Raja-raja dari Dynasti Mokoapat adalah :
a. Kumalrigu Kasanangano “Istana Kesenangan” dibangun di atas bukit antara Desa Kali dan Desa Kulango sekarang.
b. Kumalrigu Mopanggato “Istana Tinggi“ di Roji yang kemudian bernama Bendar
c. Kumalrigu Seng “Istana Atap Seng” terletak di Bendar d. Kumalrigu Sirapo “ Istana Atap Sirap” terletak di Leok e. Kumalrigu Palreleh “Istana Paleleh” terletak di Paleleh
Istana-istana yang sebelumnya telah dibangun oleh Raja-raja tersebut sebagai salah satu bukti peninggalan sejarah, telah rusak dan pada akhirnya ambruk/hancur dan menyatu dengan tanah, yang tersisa sekarang tinggal puing-puing dari bangunan istana tersebut.
58
Raja H. Ahmad Turungku memerintah sampai zaman Jepang dengan jabatan sebagaiSuco, dan zaman NICA dengan jabatan sebagai HPB (Hoofd Van Plastsckijke
Bestuvr) dan mengakhiri tugasnya (pensiun) pada bulan Mei tahun 1947. H. Ahmad
Turungku kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Muhammad Aminullah Turungku, beliau adalah salah seorang Raja Buol yang lama memerintah yaitu ± 33 tahun ( dalam A. Rahim Samad, 2000 : 1- 4)
Pada tahun 1960 wilayah Buol bergabung dengan wilayah Toli-toli dan membentuk salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah yang bernama Kabupaten Buol Toli-toli, yang dibentuk berdasarkan undang-undang No. 29 tahun 1959.
Berkembangnya zaman dan majunya ilmu teknologi telah membawa perubahan dalam berbagai bidang kehidupan dalam masyarakat seperti bidang pemerintahan. Sistem Pemerintahan yang ada pada masyarakat sudah berbentuk Presiden sebagai kepala pemerintahan di wilayah Ibu Kota Negara, seorang Gubernur di wilayah Ibu Kota Provinsi dan seorang Bupati di wilayah Ibu Kota Kabupaten. Sebelum sistem pemerintahan berubah menjadi seorang Presiden sebagai Kepala Negara, sistem pemerintahan masih berbentu Kerajaan yaitu seorang Madika (Raja) sebagai Kepala Pemerintahan yang menjalankan peraturan-peraturan dari pemerintah Hindia Belanda, Karena sebelum Negara Indonesia merdeka, masyarakat masih di bawah pengaruh dan jajahan Hindia Belanda.
59
Menurut Maryam G. Mailili setelah terbentuknya Kabupaten Buol Toli-toli, seluruh pemerintahan berkedudukan di wilayah Toli-toli, yaitu antara lain Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dinas Jawatan lainnya. Kabupaten Buol toli terdiri dari 11 (sebelas) kecamatan, antara lain di wilayah Toli-toli terdiri dari enam kecamatan, yaitu Kecamatan Toli-Toli-toli Utara, Galang, Baolan, Dondo, Dampal Utara dan Dampal Selatan. Kemudian di wilayah Buol terdiri dari lima kecamatan, yaitu Kecamatan Paleleh, Bunobogu, Bokat, Momunu dan Biau (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
Seluruh pemerintahan berdudukan di wilayah Toli-toli yang merupakan pusat kabupeten menyebabkan kehidupan sosial budaya masyarakat sangat sulit dalam berbagai pelayanan dan merasa termarjinalkan.
Menurut Nasarudin Mangge setelah wilaya Buol bergabung dengan Toli-toli, seluruh pembangunan berpusat di wilayah Ibu Kota Kabupaten yaitu di Toli-toli, dan wilayah Buol belum ada pembangunan. Maka dari itu, masyarakat Buol merasa dianak tirikan, dan mengirim beberapa orang delegasi dari masyarakat Buol untuk menghadap Bupati Buol Toli-toli, namun aspirasi masyarakat Buol hanya di tampung dan tidak ada realisasi untuk melaksanakan pembangunan di wilayah Buol. Melihat tidak adanya realisasi pembangun tersebut, timbul pemikiran-pemikiran dari masyarakat yang ada di wilayah Buol dan di rantau, seperti di Makasar, di Palu, di Jakarta dan di Gorontalo, untuk melaksanakan simpesium/dialog yang berjudul “Buol Hari Ini dan Kedepan”. Dengan adanya simpesium tersebut, hampir seluruh masyarakat Buol hadir pada acara seminar untuk bersama-sama memikirkan apakah Buol hanya tetap begini dan selamanya tidak ada perubahan, kemudian muncullah ide dari masyarakat Buol yang ada di rantau, seperti Abdul. Karim Hanggi, Ir. Karim Mbouw, Samsudin Salakea, Samsudin Intam, Ibrahim Timumun mereka berembuk di Palu, isi dari rembukan tersebut
60
adalah “mo kumbulyopo kito tandanilyo tilro bwuolyo” (mari kita berkumpul semua orang Buol) baik yang ada di wilayah Buol maupun di rantau. Dari hasil remukan tersebut, muncullah TAWAB (Temu Akrab Warga Buol). Melalui TAWAB itulah, timbul ide perjuangan menuntut pembentukan kabupaten yang terjadi pada tahun 1997. Dengan adanya suatu TAWAB melahirkan sebuah IKIB (Ikatan Keluarga Indonesia Buol), salah satu program IKIB adalah menuntut pemekaran wilayah Buol menjadi kabupaten. Pada tahun 1999 wilayah Buol menjadi kabupaten yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Buol Toli-toli, Kabupaten Buol dimekarkan bersdarakan Undang-undang No. 51 tahun 1999, dan disahkan pada tanggal 16 September tahun 1999 dan diresmikan pada tanggal 27 November tahun 1999, atas nama Mentri Dalam Negeri yaitu Gubernur H.B Paliudju. Ir. Abdul Karim Mbouw dilantik di Jakarta sebagai Pejabat Bupati Buol pertama pada tanggal 12 Oktober tahun 1999 (wawancara, tanggal 29 Maret 2013).
Pada tahun 1999 wilayah Buol dimekarkan dari kabupaten Buol Toli-toli dan membentuk salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah. Pembentukan Kabupaten Buol tersebut mengakibatkan berbagai macam perubahan dalam pola kehidupan sosial budaya masyarakat Buol.
Menurut Samsudin Lasau “setelah tebentuknya Kabupaten Buol, pemerintahan sudah berpusat di Kabupaten Buol. Pelayanan dalam masyarakat sudah sangat mudah. Lembaga-lembaga hukum sudah mulai lengkap” (wawancara, tanggal 23 Maret 2013).
Menurut Maryam G. Mailili masyarakat Buol sudah mempunyai pemerintahan sendiri dan berpusat di Kabupaten Buol. Terbukanya peluang besar bagi anak dan masyarakat Buol untuk mengabdi kepada daerahnya
61
sendiri. Lembaga pemerintahan sudah mulai lengkap dan berpusat di Kabupaten Buol, terkecuali Kodim/Kramil yang belum ada dan masih terdapat di Toli-toli. Wilayah Buol terdiri dari 11 (sebelas) kecamatan yaitu, Kecamatan Paleleh, Paleleh Barat, Gadung, Bunobogu, Bokat, Bukal, Momunu, Tiloan, Biau, Karamat dan Lakea (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
Menurut Hasan Ta’asar “Terbentuknya Kabupaten Buol Toli-toli hingga menjadi Kabupaten Buol, sangat memberikan perubahan dalam masyarakat, pemerintahan-pemerintahan pada waktu itu sudah mulai ada untuk melayani masyarakat” (wawancara, tanggal 26 Maret 2013).
Menurut Nasarudin Mangge setelah tebentuknya Kabupaten Buol pada tahun 1999, keadaan Daerah Buol sangat memprihatinkan, karena fasilitas pemerintahannya belum ada, namun demikian, seluruh lembaga hukum telah berpusat di Kabupaten Buol dan mempunyai kepala pemerintahan sendiri untuk mengatur Daerah Buol. Kabupaten Buol belum mempunyai Kodim/kramil. Masyarakat sudah mudah mendapatkan pelayanan dari pemerintah. Ir. Abdul Karim Mbouw ditunjuk sebagai Pejabat Bupati Buol pertama melalui keputusan Mentri Dalam Negeri pada tanggal 12 Oktober tahun 1999. Karena sakit, beliau meninggal Dunia pada tanggal 10 Februari tahun 2000. Dengan demikian, melalui surat Mentri Dalam Negeri telah ditunjuk dan dipercayai Drs. Abdul. Karim Hanggi sebagai Pejabat Bupati Buol yang ke II dan menjabat sampai dengan tahun 2007, kemudian dilanjutkan oleh H. Amran Batalipu yang menjabat sampai dengan tahun 2012 (wawancara, tanggal 29 Maret 2013).
62
Menurut Aisyah Entu “dengan terbentuknya Kabupaten Buol, masyarakat dapat beraktivitas lebih baik dan mempunyai pemerintahan sendiri” (wawancara, tanggal 02 April 2013).
Menurut Sufu Tahura “Daerah Buol sebelum menjadi kabupaten,
pemerintahannya masih berbentuk kerajaan, setelah daerah Buol bergabung dengan Toli-toli dan menjadi satu kabupaten sendiri, pemerintahannya sudah berbentuk presiden dan Buol sudah mempunyai pemerintahan sendiri” (wawancara, tanggal 04 April 2013).
Menurut Ibrahim Turungku “tebentuknya Daerah Buol memberikan suatu kehidupan yang baik bagi masyarakat. Karena Buol sudah memiliki pemerintahan sendiri dan seluruh lembaga pemerintahan sudah berpusat di Kabupaten Buol” (wawancara, tanggal 09 April 2013).
b. Bidang Pendidikan
Pendidikan yang ada pada masyarakat Buol sebelumnya masih sangat rendah, hal ini disebabkan kurangnya fasilitas pendidikan, biaya pendidikan sangat tinggi, tenaga-tenaga pendidik masih sangat kurang sehingga menyebabkan kurangnya Sumber Daya Manusia.
Menurut Maryam G. Mailili bahwa di Desa, hanya terdapat satu sekolah yang dikenal dengan Sekolah Rakyat (SR) dan hanya sampai kelas 3 (tiga). Anak perempuan tidak di izinkan untuk bersekolah. Setiap anak sekolah yang bertemu dengan siapa saja selalu mengucapkan salam, karena sangat takut kepada guru dan selalu menghormati orang yang lebih tua. Masyarakat jelata
63
yang ingin bersekolah hanya bisa sampai dengan kelas tiga dan tidak bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Selain dari golongan Bangsawan atau Raja tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, karena biaya pendidikan yang sangat mahal. Alat tulis menulis yang digunakan oleh anak sekolah adalah berupa batu tulis dengan menggunakan kalam, setelah pelajaran berikutnya, tulisan tersebut harus dihapus untuk menulis pelajaran berikutnya, karena pada saat itu belum ada terdapat buku ataupun kertas yang bisa digunakan sebagai alat tulis menulis. Tenaga pendidik di Sekolah Rakyat terdiri dari tenaga honorer yang diambil dari sekolah-sekolah lain, dan lulusan dari SLTP yang dianggap mampuh untuk mengajar. Seluruh siswa SR yang telah mengikuti ujian akhir, tes dan jawabannya akan di periksa di Rayon Gorontalo. Setiap siswa yang pergi ke sekolah harus berangkat sebelum matahari terbit atau masih gelap, dan berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh dengan membawa Ngongod yaitu sebuah daun kelapa kering yang sudah diikat sedemikian rupa kemudian dibakar dengan api untuk digunakan sebagai penerang jalan menuju sekolah. Karena pada saat itu, belum ada kendaraan dan alat transportasi masih sangat terbatas (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
Menurut Hasan Ta’asar “pendidikan masyarakat Buol sebelum menjadi kabupaten Buol Toli-toli masih sangat rendah, karena masyarakat tidak diberikan kebebasan untuk bersekolah dan biaya pendidikan sangat mahal” (wawancara, tanggal 26 Maret 2013).
Senada dengan Nasarudin Mangge anak-anak yang bisa bersekolah hanyalah merupakan anak dari golongan Bangsawan, karena biaya pendidikan sangat tinggi. Rakyat yang bukan dari golongan Bangsawan atau Raja, hanya diberikan kebebasan untuk mendapatkan pendidikan sampai dengan kelas 3, namun demikian, masyarakat Buol yang memiliki prestasi dalam pendidikan,
64
akan diberikan beasiswa oleh pemerintah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Seperti Usman Binoor yang menjadi seorang duta besar di wilayah Buol, karena Beliau adalah orang Buol yang pertama melanjutkan pendidikan di Negara Amerika (wawancara, tanggal 29 Maret 2013).
Terbentuknya Kabupaten Buol Toli-toli Pada tahun 1960, telah memberikan pengaruh terhadapa masyarakat. Pendidikan yang ada mulai berkembang, masyarakat mempunyai kebebasan untuk bersekolah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana termasuk dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 maka dibutuhkan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, terlebih-lebih dalam rangka menyukseskan progran wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Pada Tahun 2011 jumlah sekolah Taman Kanak-kanak (TK) sebanyak 82 buah dengan murid sebanyak 4.650 orang. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yang berjumlah 3.123 orang. Rasio antara murid dan Guru TK Tahun 2011 di Kabupaten Buol adalah 12,1.
Untuk lebih jelas mengetahui jumlah sekolah, murid, dan guru taman kanak-kanak dengan melihat tabel 1.1.
Tabel. 1.1.
Keadaan Sekolah, Kelas, Murid, dan Guru Taman Kanak-kanak dan Rasio Murid terhadap Guru
65
Ratio of Pupils at Teachers Tahun / Years 2011
No Kecamatan Sekolah Kelas Murid Guru
Rasio Murid Terhadap Guru 1 Lakea 6 12 418 52 8,0 2 Biau 17 34 859 106 8,1 3 Karamat 2 4 125 8 15,6 4 Momunu 9 18 417 23 18,1 5 Tiloan 10 20 706 16 44,1 6 Bokat 11 22 537 46 11,7 7 Bukal 8 16 543 31 17,5 8 Bunobogu 4 8 223 28 8,0 9 Gadung 5 10 194 20 9,7 10 Paleleh 8 16 347 32 10,8 11 Paleleh Barat 2 4 103 7 14,7 Buol, 2011 82 164 4.650 369 12,1
Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buol
Source : Education, Youth and Sports Service of Buol Regency
Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) terdapat 177 unit sekolah yang terdiri dari 163 unit sekolah Negeri, 3 unit sekolah Swasta, dan 11 unit Min/Mis. Jumlah SD terbanyak terdapat di Kecamatan Biau sebanyak 29 unit. Jumlah murid SD yang tercatat pada Tahun 2011 adalah 24.049 orang. Jumlah guru SD pada tahun 2011 sebanyak 1.352.
66
Untuk lebih jelas mengetahui jumlah Sekolah Dasar menurut statusnya dengan melihat tabel 1.2.
Tabel. 1.2.
Keadaan Sekolah Dasar Menurut Statusnya Table Number of Primary Schools by Status
Tahun / Years 2011 No Kecamatan Districts Negeri/ Public Swasta/ Private Min/Mis/ Islamic School Jumlah Total 1 Lakea 8 - 2 10 2 Biau 24 1 4 29 3 Karamat 10 - 1 11 4 Momunu 20 - - 20 5 Tiloan 13 - - 13 6 Bokat 19 - - 19 7 Bukal 15 2 2 19 8 Bunobogu 14 - 1 15 9 Gadung 14 - - 14 10 Paleleh 16 - 1 17 11 Paleleh Barat 10 - - 10 Buol, 2011 163 3 11 177
Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buol
67
Pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdapat 50 sekolah Negeri dan terdapat 9 sekolah Swasta. Jumlah guru SMP pada tahun 2011 sebanyak 362 orang dan jumlah murid SMP pada tahun 2011 sebanyak 6.714 yang tersebar di 11 wilayah kecamatan. Pada Tahun 2011 terdapat 13 Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 7 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jumlah murid Sekolah lanjutan tingkat atas (SMA dan SMK) sebanyak 6.105 orang dengan jumlah guru sebanyak 281 orang.
Untuk lebih jelas mengetahu jumlah Sekolah, Guru dan Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri dan Swasta menurut kecamatan, dengan melihat tabel 1.3 dan tabel 1.4.
Tabel. 1.3.
Keadaan Sekolah, Guru dan Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri menurut Kecamatan
Table Number of Schools, Teachers and Students at Public Junior High Schools by District Tahun / Years 2011 No Kecamatan Districts Sekolah Schools Murid Students Guru PNS Guru GKD Rasio Murid ThdpGuru Ratio of Students at Teachers 1 Lakea 3 412 11 6 24,2 2 Biau 3 1 200 72 13 14,1 3 Karamat 4 397 20 6 15,3 4 Momunu 4 659 24 2 25,3
68 5 Tiloan 3 422 21 5 16,2 6 Bokat 5 628 29 6 17,9 7 Bukal 7 839 24 3 31,1 8 Bunobogu 5 417 27 7 12,3 9 Gadung 5 524 16 4 26,2 10 Paleleh 5 503 29 10 12,9 11 Paleleh Barat 4 306 17 2 16,1 Buol , 2011 50 6. 307 290 64 18,6
Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buol
Source : Education, Youth and Sports Service of Buol Regency
Tabel. 1.4.
Keadaan Sekolah, Guru dan Murid Sekolah Menengah Pertama (SMP) Swasta menurut Kecamatan
Table Number of Schools, Teachers and Students at Private Junior High Schools by District Tahun / Years 2011 No Kecamatan Districts Sekolah Schools Murid Students Guru PNS Guru GKD Rasio Murid ThdpGuru Ratio of Students at Teachers 1 Lakea 2 179 3 1 44,75 2 Biau 1 50 - 2 12,5 3 Karamat - - - - - 4 Momunu 1 48 4 - 12 5 Tiloan - - - - -
69 6 Bokat 3 272 9 3 22,67 7 Bukal - - - - - 8 Bunobogu 1 46 4 - 11,5 9 Gadung - - - - - 10 Paleleh 1 66 4 - 16,5 11 Paleleh Barat - - - - - Buol , 2011 9 661 24 6 20,65
Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buol
Source : Education, Youth and Sports Service of Buol Regency
Menurut Samsudin Lasau setelah terbentuknya Kabupaten Buol Toli-toli hingga sampai terbentuknya Kabupaten Buol sebagai salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah, pendidikan yang ada pada masyarakat Buol sudah ada peningkatan. Sekolah-sekolah yang ada di Buol sudah mulai banyak, dan tenaga pendidik semakin bertambah” (wawancara, tanggal 23 maret 2013).
Menurut Maryam G. Mailili setelah terbentuknya Kabupaten Buol Toli-toli, sekolah SMA tidak ada di Buol, hanya ada di Toli-toli, namun sekolah yang ada di Buol hanyalah SMK dan SGA/SPG tetapi di Toli-toli tidak ada, kemudian berkembang di wilayah Buol dan Toli-toli semuanya sudah ada sekolah SMA, SMK, SPG, dan tenaga pendidik masih sangat kurang. Sekolah yang ada di wilayah Buol menggunakan tenaga honorer yang diambil dari sekolah lain dan lulusan dari SLTP maupun SLTA yang dianggap mampu untuk mengajar. Kemudian ada juga pengangkatan honor Daerah Kabupaten Buol Toli-toli. Di wilayah Buol hanya terdapat satu SLTP, fasilitas pendidikan masih sangat kurang sekali dan biaya pendidikan sangat tinggi. Masyarakat Buol yang mempunyai prestasi jarang diberikan penghargaan atau
70
beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah terbentuknya Kabupaten Buol pada tahun 1999, lembaga pendidikan semakin bertambah seperti TK, SD, SLTP, SLTA bahkan Kabupaten Buol sudah mempunyai Perguruan Tinggi sendiri yaitu STISIPOL, dan cabang-cabang perguruan tinggi yang dari Toli-toli maupun Palu. Sarana dan prasarana pendidikan sudah disiapkan oleh pemerintah. Adanya program pendidikan gratis bagi masyarakat Buol, yang menarik perhatian masyarakat dari daerah-daerah lain seperti Toli-toli, Gorontalo dan Palu untuk bersekolah di Kabupaten Buol. Masyarakat Buol yang bersekolah di luar daerah dalam rangka penyelesaian study S1, S2, dan S3 mendapatkan bantuan pendidikan dari pemerintah. Tenaga pendidik sudah mulai bertambah dan Sumber Daya Manusia semakin berkembang pengetahuannya seperti penggunaan Hp, internet, dan Facebook (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
Menurut Nasarudin Mangge terbentuknya Kabupaten Buol Toli-toli, pendidikan di wilayah Buol mulai berkembang, adanya kebebasan untuk bersekolah namun biaya pendidikan masih sangat tinggi, sekolah-sekolah dan tenaga pendidik yang ada pada saat itu masih sangat kurang sekali. Setelah terbentuknya Kabupaten Buol, pendidkan sudah lebih meningkat, fasilitas-fasilitas sekolah sudah sangat memadai. Tenaga pendidik merupakan putra putri Daerah Buol sendiri, banyak masyarakat Buol yang bersekolah di luar daerah seperti Gorontalo, Toli-toli, Palu, Makasar, Manado, dan Yogyakarta, bahkan di Kabupaten Buol sudah ada Perguruan Tinggi yang merupakan cabang dari daera-daerah lain. Masyarakat Buol sudah bisa merasakan pendidikan sesuai dengan keinginannya (wawancara, tanggal 29 Maret 2013).
Menurut Ibrahim Turungku “setelah terbentuknya Kabupaten Buol, pendidikan semakin berkembang, masyarakat Buol sudah bisa merasakan pendidikan
71
seperti masyarakat yang ada di daerah-daerah lain” (wawancara, tanggal 09 April 2013).
c. Bidang Hukum
Hukum merupakan sesuatu yang mengikat dan mengatur segala tingkah laku masyarakat sesuai dengan peraturan yang sudah berlaku dalam masyarakat. Lembaga hukum yang ada pada masyarakat sebelumnya masih kurang, namun demikian, kehidupan sosial budaya masyarakat selalu aman dan terjaga, karena sudah terdapat aturan-aturan dari pemerintah yang harus dipatuhi oleh seluruh masyarakat, dan adanya kesadaran dari seluruh masyarakat tentang peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah.
Menurut Maryam G. Mailili lembaga hukum yang dapat melayani masyarakat hanya terdiri dari cabang Kejaksaan Negeri, dan Polsek/kepolisian. Belum ada terdapat pengadilan, dan lembaga bantuan hukum, namun demikian, masyarakat tetap menjaga dan mematuhi aturan hukum. Terbentuknya Kabupaten Buol Toli-toli, lembaga hukum yang ada di wilayah Buol sudah mulai lengkap meskipun masih berpusat di Toli-toli, pada saat itu belum ada Kodim/Kramil hanya ada di Toli-toli.. Masyarakat Buol sangat mematuhi peraturan yang berlaku. Setelah terbentuknya Kabupaten Buol, lembaga hukum sudah ada di Kabupaten Buol, seperti Polsek/Polres, Kejaksaan dan Jawatan-jawatan hukum lainnya, terkecuali TNI (Kodim/Kramil) yang belum ada di Kabupaten Buol (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
Menurut Nasarudin Mangge “setelah terbentuknya Kabupaten Buol Toli-toli lembaga hukum yang ada pada masyarakat sudah mulai lengkap, meskipun belum ada Kodim/Kramil. Semua lembaga hukum yang ada di wilayah Buol masih berpusat
72
di Toli-toli, setelah terbentunya Kabupaten Buol, masyarakat sudah memiliki lembaga hukum sendiri yang berpusat di Kota Buol, namun tetap saja belum ada Kodim/Kramil” (wawancara, tanggal 29 Maret 2013).
2. Perubahan Budaya
Dalam kehidupan masyarakat pasti memiliki berbagai macama ragam budaya yang merupakan ciri khas daerah tersebut, yang selalu dipertahankana serta dilestarikan dari generasi ke generasi. Seperti halnya Daerah Buol yang memiliki berbagai macam budaya dan tradisi, salah satunya adalah budaya gotong royong yang dikenal dengan motalyo (kerja sama) dan di Daerah Gorontalo dikenal dengan huyula (kerja sama).
2.1.Gotong Royong
Perkembangan zaman dan majunya IPTEK telah membawa berbagai macam perubahan khususnya bagi masyarakat Buol. Salah satu contoh adalah budaya gotong royong yang ada pada masyarakat telah berubah dan jarang lagi dilakukan, sebelumnya budaya gotong royong sangat kental dan selalu dilaksanakan oleh seluruh masyarakat. Misalnya ketika salah satu warga membangun rumah, masyarakat disekitar berbondong-bondong membantu untuk membangun rumah tersebut. Selain itu, dahulu ketika seorang warga akan membuka lahan perkebunan, warga yang lain akan ikut membantu warga tersebut dengan suka rela. Pada keadaan sekarang, hal seperti ini sudah tidak tampak lagi pada masyarakat, yang ada hanyalah ketika seorang warga membuka lahan baru, maka warga tersebut harus menyediakan modal
73
cukup untuk membayar orang yang akan membantunya, masyarakat lebih bersifat individual dan sebagian sudah menggunakan tenaga mesin yang dianggap lebih modern dan praktis. Di Daerah Buol gotong royong dikenal dengan “Motalyo”, dalam bahasa Buol.
Menurut Samsudin Lasau setelah wilaya Buol bergabung dengan Toli-toli dan menjadi satu kabupaten, kehidupan sosial budaya masyarakat sudah mulai berkembang. Budaya-budaya yang ada pada masyarakat sudah mulai terkikis dan hilang, karena diakibatkan oleh masuknya pengaruh dan budaya-budaya Barat dalam masyarakat, salah satu contoh adalah budaya gotong royong, masyarakat sudah mulai jarang melakukannya. Biasanya mereka mengerjakan sesuatu bersama-sama, namun sekarang sudah lebih bersifat individual karena mereka sudah mengenal ilmu teknologi dan lebih banyak menggunakan tenaga mesin, seperti traktor (wawancara, tanggal 23 Maret 2013).
Menurut Maryam G. Mailili budaya gotong royong yang ada pada masyarakat Buol telah berubah, sebelumnya budaya motalyo (kerja sama) masih sangat kental dan masyarakat selalu melaksanakannya. Salah satu contoh adalah apabila ada seorang warga yang sedang mopayat gua (memaras kebun) setiap warga yang melihatnya akan ikut membantu untuk memaras kebun tersebut dengan sukarela, namun sekarang apabila ada seorang warga ingin membuka lahan pertanian mereka harus menyedian modal yang cukup untuk membayar kepada warga yang ingin membantunya. Setiap pekerjaan sudah mulai dikerjakan sendiri-sendiri karena tidak adalagi warga yang rela dan ikhlas membantu tanpa mengharapkan sebuah imbalan atau gaji (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
Menurut Hasan Ta’asar terbentuknya Kabupaten Buol Toli-toli sampai dengan Kabupaten Buol sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi
74
Tengah, sebelumnya kehidupan gotong royong selalu dilaksanakan dalam setiap pekerjaan, namun sekarang kehidupan gotong royong sudah tidak ada lagi dilaksanakan, masyarakat lebih banyak menggunakan tenaga mesin daripada tenaga manusia seperti mesin traktor (mesin pembajak sawah) (wawancara, tanggal 26 Maret 2013).
Menurut Nasarudin Mangge kehidupan budaya masyarakat Buol sebelum mengenal IPTEK masih sangat bersifat kekeluargaan dan selalu mengutamakan sikap gotong royong, dalam hal membangun sebuah rumah seperti rumah patok (Rumah yang terbuat dari patok ) mereka selalu bersama-sama dan saling membantu, bahkan ada salah satu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yaitu arisan membangung rumah yang dilakukan setiap bulan. Pada kegiatan arisan membangun rumah tersebut yang dilakukan setiap bulan, masyarakat terlebih dahulu melakukan Bokidu (musyawarah) untuk memutuskan siapa yang menjadi Itoy Kalreja (orang yang dituakan) dalam pekerjaan untuk membangun rumah tersebut. Itoy Kalreja (orang yang dituakan) akan memilih satu orang dari anggota-anggotanya kepada siapa yang pertama dibangun rumah, dengan melihat kondisi dan kehidupannya, namun pada keadaan sekarang kegiatan gotong royong seperti itu sudah tidak tampak lagi pada masyarakat, yang ada hanyalah warga yang ingin membangun rumah atau membuka lahan pertanaian harus menyediakan modal yang cukup untuk membayar warga atau memberikan upah dalam pakerjaan tersebut. Lripu molrelremitan, pamalrenda mogagandian, hukum agu adat tetap (kabupaten/kota berpindah-pindah tempat, pemerintah berganti-ganti, namun hukum dan adat tetap). Meskipun budaya gotong royong atau motalyo (kerja sama) sudah mulai hilang dalam masyarakat Buol, hukum dan adat masih tetap dipertahankan dan dilestarikan (wawancara, tanggal 29 Maret 2013).
75
Menurut Aisyah Entu budaya motalyo (kerja sama) sudah jarang terlihat dalam masyarakat Buol, mereka ingin bekerja dan membantu warga yang lain biasanya karena ada faktor seperti masih ada hubungan keluarga atau merasa berhutang jasa, sehingga mereka membantu warga tersebut. Selain itu mereka tidak mau membantu tanpa adanya suatu imbalan atau perintah dari orang yang berwenang (wawancara, tanggal 02 April 2013).
Menurut Sufu Tahura pada awalnya masyarakat selalu melakukan pekerjaan bersama-sama, baik itu pekerjaan yang sulit maupun yang mudah, setiap orang yang melihat seseorang melakukan pekerjaan, mereka ikut membantu pekerjaan tersebut tanpa mengharapkan sebuah imbalan, namun dengan majunya zaman dan terbentuknya Kabupaten Buol, keadaan seperti itu sudah tudak tampak lagi, mereka sudah bersifat individual dan harus mendapatkan sebuah imbalan berupa gaji untuk membantu warga yang sedang bekerja (wawancara, tanggal 04 April 2013).
Menurut Ibrahim Turungku masyarakat Buol mempunyai suatu budaya gotong royong yang biasa dikenal dengan motalyo (kerja sama). Budaya ini sebelumnya sangat dilaksanakan dan tejalin dengan baik serta bersifat kekeluargaan. Tejadinya suatu perubahan zaman dan majunya IPTEK membuat budaya tersebut mulai hilang, warga lebih suka bekerja sendiri-sendiri dengan menggunakan tenaga mesin yang dianggap lebih cepat. Mereka sudah tidak memperhatikan budaya gotong royong lagi, mereka ingin membantu dengan ketentuan harus ada sebuah imbalan berupa gaji (wawancara, tanggal 09 April 2013).
76
4.2.2. Dampak Perubahan Sosial Budaya Terhadap Kehidupan Masyarakat Setiap perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat akan memberikan suatu dampak, baik dampak yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif.
a. Dampak Negatif
Menurut Samsudin Lasau majunya zaman dan berkembangnya ilmu teknologi membawa perubahan dan dampak terhadap kehidupan masyarakat baik dampak negatif maupun dampak positif, setelah Daerah Buol bergabung dengan Toli-toli dan kemudian menjadi satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah dampak negatifnya adalah, budaya-budaya masyarakat sudah mulai terkikis dan hilang, salah satu contohnya adalah budaya gotong royong yng sebelumnya sangat dipertahankan dan dilaksanakana, sekarang sudah mulai hilang dalam masyarakat. Selain itu, Permainan-permainan tradisional sebagai salah satu tradisi dan budaya seperti gasing yang menandakan waktunya menanam padi, dan permainan layang-layang yang menandakan musim panen padi, sekarang sudah tidak ada lagi (wawancara, tanggal 23 Maret 2013).
Menurut Maryam G. Mailili dampak negatif dari perubahan sosial budaya dalam masyarakat Buol adalah dengan majunya ilmu teknologi membuat masyarakat Buol mudah terpengaruh dan mengikuti gaya hidup dan budaya-budaya asing/barat. Etika dan moral dalam masyarakat mulai berkurang, Budaya gotong royong sudah mulai jarang dilakukan oleh masyarakat. Budaya-budaya asli dalam masyarakat sudah mulai hilang dan terkikis oleh budaya-budaya asing. Masyarakat lebih suka berbahasa asing (inggris) dari pada berbahasa daerah sendiri (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
77
Menurut Hasan Ta’asar dampak negatif dari perubahan sosal budaya terhadapa masyarakat adalah, masyarakat lebih bersifat individual dan budaya gotong royong jarang dilaksanakan oleh masyarakat, etika dan moral mulai berkurang. Warga yang ingin melakukan pekerjaan selalu sendiri dan apabila ingin dibantu oleh warga yang lain, warga tersebut harus menyediakan modal yang cukup sebagai gaji kepada mereka yang telah membantu (wawancara, tanggal 26 Mare 2013).
Menurut Nasarudin Mangge dampak negatif dari perubahan sosial budaya terhadap masyarakat Buol adalah masyarakat mulai bersifat individual, sifat gotong royong dan motalyo (kerja sama) sudah tidak nampak pada masyarakat. Sifat hormat menghormati terhadap orang yang lebih tua sudah mulai berkurang. Anak sekolah yang bertemu dengan siapa saja sudah tidak ada mengucapkan salam. Masyarakat lebih suka memakai musik-musik modern dari pada musik tradisional Daerah Buol sendiri. Budaya-budaya masyarakat Buol sudah mulai dilupakan dan jarang dilaksanakan lagi (wawancara, tanggal 29 Maret 2013).
Menurut Aisyah Entu “dampak negatif dari perubahan tersebut, masyarakat sudah jarang melakukan kegiatan motalyo (kerja sama) mereka sudah lebih bersifat individual, budaya-budaya yang dulu semakin hilang” (wawancara, tanggal 02 April 2013).
Menurut Sufu Tahura “dampak negatif dari perubahan kehidupan sosial budaya terhadapa masyarakat adalah etika dan moral mulai berkurang, sifat saling bantu-membantu jarang lagi dilakukan, Budaya-budaya serta tradisi dalam masyarakat mulai terlupakan” (wawancara. Tanggal 04 2013).
78
Menurut Ibrahim Turungku masyarakat sudah modern sehingga gaya hidup sudah berubah mengikuti perkembangan zaman. Dampak negatif dari perubahan tersebut adalah, masyarakat sudah lebih bersifat individual dan sudah jarang menghormati orang yang lebih tua. Setiap pekerjaan selalu dilakukan sendiri-sendiri, hubungan kekeluargaan dalam masyarakat mulai hilang (wawancara, tanggal 09 April 2013).
b. Dampak Positif
Menurut Samsudin Lasau majunya zaman dan berkembangnya ilmu teknologi telah merubah kehidupan sosial budaya dalam masyarakat Buol dan memberikan suatu dampak yang positif. Salah satu contoh adalah masyarakat dulu masih berjalan kaki puluhan kilometer, bahkan ada yang naik perahu untuk menuju sekolah atau pergi kepasar, sekarang sudah bisa naik motor dan naik mobil. Masyarakat yang dulunya masih menumbuk padi sekarang sudah menggunakan mesin penggiling padi. Masyarakat yang bekerja untuk membajak sawah dengan menggunakan pacul sekarang sudah menggunakan mesin traktor (mesin pembajak sawah). Budaya-budaya masyarakat sudah bisa dikembangkan melalui musik modern. Pembangunan-pembangunan mulai ada diwilayah Buol. Terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat Buol (wawancara, tanggal 23 Maret 2013).
Menurut Maryam G. Mailili dampak positif dari perubahan sosial budaya terhadap masyarakat Buol seperti terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat Buol, majunya zaman dan ilmu teknologi membawa kehidupan masyarakat lebih baik dan mengenal teknologi. Salah satu contoh adalah masyarakat sudah bisa mengenal Hp, internet, facebook, ATM, mesin ketik komputer/laptop. Masuknya masyarakat trans dan suku-suku lain di Daerah Buol membuat masyarakat menjadi lebih aktif dan semangat untuk bekerja.
79
Komunikasi dan pelayanan dalam masyarakat sudah lebih mudah, alat transportasi sudah lebih maju dan sangat banyak sperti sepeda motor, mobil, kapal laut bahkan Daerah Buol sudah ada lapangan udara (bandara pesawat) sendiri. Masyarakat Buol sudah bisa mengetahui perkembangan dan informasi yang berada di wilayah lain. Budaya-budaya masyarakat Buol bisa dikembangkan dengan musik-musik modern. Masyarakat Buol sudah mempunyai kesempatan untuk mngadakan festifal lomba ketingkat Provinsi dan Nasional, serta masyarakat sudah mengadakan pendataan BCB (Benda Cagar Budaya) yang ada di Kabupaten Buol seperti, budaya-budaya peninggalan sejarah, kuburan kramat, dan istanah Raja Buol (Rumah Adat) (wawancara, tanggal 24 Maret 2013).
Menurut Hasan Ta’asar perubahan sosial budaya dapat memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat, seperti mereka sudah bersifat lebih modern, dan mengenal ilmu teknologi, pekerjaan yang dulunya dilakukan bersama-saman dan memerlukan tenaga yang banyak sekarang sudah menggunakan tenaga mesin yang dianggap lebih cepat dan praktis, seperti dari tenaga manusia dengan menggunakan pacul sekarang mereka sudah menggunakan mesin traktor (mesin pembajak sawah) (wawancara, tanggal 26 Maret 2013).
Menurut Nasarudin Mangge dengan berkembangnya kehidupan sosial budaya masyarakat Buol dapat memberikan pengaruh dan dampak positif seperti, masyarakat sudah mempunyai pemerintahan sendiri, pelayanan dalam masyarakat sudah lebih mudah, adanya kebebasan untuk bersekolah dan beraktifitas, kehidupan masyarakat lebih meningkat dari sebelumnya, dengan majunya ilmu teknologi budaya-budaya masyarakat Buol dapat di iklankan atau diperkenalkan kepada masyarakat yang berada di daerah-daerah lain melalui media seperti Koran Tv, facebook, internet (wawancara, tanggal 29 Maret 2013).
80
Menurut Aisya Entu “dampak positif dari perubahan tersebut, kehidupan masyarakat sudah lebih baik dan meningkat dari sebelumnya, masuknya budaya-budaya asing telah memperkaya budaya-budaya yang ada pada masyarakat” (wawancara, tanggal 02 April 2013).
Menurut Sufu Tahura “dampak positif dari perubahan-perubahan tersebut adalah kehidupan masyarakat lebih baik dan semakin meningkat, pengetahuan masyarakat bertambah. Budaya-budaya dan tradisi masyarakat dapat dipersatukan dengan budaya-budaya asing” (wawancara, tanggal 04 April 2013).
Menurut Ibrahim Turungku dampak positif dari perubahan sosial budaya adalah kehidupan masyarakat lebih maju/modern dan sudah bisa mengenal ilmu teknologi. Masuknya suku-suku lain dan budaya-budaya asing di Kabupaten Buol membawa masyarakat untuk lebih bersemangat bekerja dan memperkayah budaya yang ada di Kabupaten Buol (wawancara, tanggal 09 April 2013).
4.3. Pokok-Pokok Temuan
4.3.1. Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Buol
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Buol Provinsi Sulawesi Tengah, peneliti menemukan berbagai macam permasalahan antara lain :
1. Kurangnya kesadaran dan perhatian masyarakat terhadapa hukum/peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Contohnya, hukum/peraturan-peraturan dalam rambu-rambu lalu lintas, meskipun sudah menyala lampu warnah
81
merah yang bertanda berhenti, mereka masih tetap terus melarikan kendaraan. Selain itu, kurangnya perhatian masyarakat untuk memakai hlem dalam mengemudi kendaraan beroda dua/motor
2. Etika dan moral dalam masyarakat mulai berkurang, sebelumnya mereka selalu mengucapkan salam dan menghormati orang yang lebih tua, namun pada keadaan sekarang, mereka sudah tidak memperhatikannya lagi dan sudah memanggil nama kepada orang yang lebih tua.
3. Sebelum masyarakat Buol mengenal IPTEK kehidupan sosial budaya masyarakat masih sangat premitif dan bersifat kekeluargaan, budaya gotong royong selalu dilaksanakan oleh masyarakat, namun pada keadaan sekarang sudah mulai berubah, kehidupan masyarakat sudah modern, mereka sudah lebih bersifat induvidual, budaya gotong royong sudah hilang dalam masyarakat.
4.4. Pembahasan
4.4.1. Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Buol 1. Perubahan Sosial
.Masyarakat Buol adalah masyarakat yang mempunyai bahasa, budaya dan adat istiadat sendiri yang sampai sekarang ini masih dipertahankan dan selalu digunakan oleh masyarakat sebagai satu kesatuan untuk mempersatukan masyarakat Buol.
82
Kehidupan Sosial masyarakat Buol sebelumnya masih sangat premitif, tradisional, dan sangat bersifat kekeluargaan. Rakyat pada umumnya hidup dalam keadaan tertekan karena adanya pajak, kerja rodi yang dijalankan atas perintah Rajanya masing-masing. Dalam kenyataanya Raja-raja hanya pelaksana dari kekuasaan Belanda.
Belanda melalui aparat pemerintahannya di daerah memerintahkan kepada raja-rajanya supaya mengarahkan rakyatnya memenuhi perintah dalam pemungutan pajak, kerja rodi dan sebagainya. Dari segi kewajiban rakyat dituntut untuk memenuhinya, tapi pada segi hak, rakyat dibatasi karena Belanda takut kalau rakyat berpendidikan kelak nanti akan membahayakan kedudukannya. Karena itu rakyat harus tetap bodoh dan ketaatan kepada Raja harus tetap dipupuk dan ditanamkan baik-baik agar bisa mencapai tujuannya untuk mengeksploitasi rakyat bagi kepentingan penjajah melalui Rajanya masing-masing.
Dengan datangnya pengaruh partai potik dan organisasi pergerakan lainnya, maka tokoh-tokoh pergerakan mulai menyadari rakyat akan harga dirinya dan ditimbulkan kesadarannya untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan tanah air. Kebencian pada penjajah menjadi salah satu penyebab banyak rakyat Buol meninggalkan daerahnya pergi merantau.
Terbukanya jaringan jalan raya antara satu kota dengan kota lainnya, menyebabkan mobilitas dalam bidang ekonomi menjadi lebih mudah, pergaulan antara orang dari kampung yang satu dengan kampung lainnya menjadi baik. Seiring
83
dengan adanya jalan tersebut dan suatu perkawinan menimbulkan rasa persaudaraan yang erat dan sering mengadakan suatu perjanjian kerja sama dalam hal-hal tertentu, yang sebelumnya orang pergi dari satu tempat ke tempat yang lain berjalan kaki dengan memilkul barang-barang, maka seiring berjalannya waktu mereka sudah menggunakan kuda sebagai alat pengangkut dan kemudian berganti dengan gerobak yang ditarik oleh kerbau atau sapi.
Perdagangan yang tadinya tukar menukar barang, berubah menggunakan mata uang sebagai alat tukar/mengukur nilai suatu benda. Mata uang yang digunakan sebelumnya adalah mata uang yang dibuat dari logam dengan berbagai macam tinggi nilai tukarnya. Kemudian berganti uang logam yang di dalamnya tergambar ayam, dalam baha Buol doi manuk, lalu berganti dengan uang logam baru yang dicetak oleh pemerintah Hindia Belanda.
Masyarakat Buol mempunyai satu organisasi sosial yaitu organisasi arisan membangun rumah.. Pada kegiatan arisan membangun rumah tersebut yang dilakukan setiap bulan, masyarakat terlebih dahulu melakukan Bokidu (musyawarah) untuk memutuskan siapa yang menjadi Itoy Kalreja (orang yang dituakan) dalam pekerjaan untuk membangun rumah tersebut. Itoy Kalreja (orang yang dituakan) kemuudian akan memilih satu orang dari anggota-anggotanya kepada siapa yang pertama dan berhak untuk dibangunkan rumah, dengan melihat kondisi dan kehidupannya sehari-hari.
84
Kehidupan sosial masyarakat Buol setelah bergabung dengan Toli-toli dan membentuk satu Kabupaten mulai berubah. Alat transportasi yang digunakan oleh masyarakat sebelumnya adalah perahu dan gerobak yang ditarik oleh sapi, sekarang sudah menggunakan sepeda, motor dan mobil meskipun masih terbatas. Salah satu contoh, masyarakat yang selesai memanen padi sekarang sebagian sudah menggunakan mesin penggiling padi.
Pelayanan dalam masyarakat masih sangat sulit, karena seluruh bidang pemerintahan masih berpusat di Toli-toli. Majunya teknologi dan ilmu pengetahuan membuat masyarakat berubah. Masyarakat sudah mulai tersentuh oleh modernisasi dan mengenal perkembangan ilmu teknologi yang membuat masyarakat berfikir ingin berubah sesuai perkembangan zaman. Majunya teknologi dan ilmu pengetahuan membawa pengaruh yang sangat besar terhadapa masyarakat, sebelum masyarakat tersentuh oleh modernisasi, dalam hal pendidikan masyarakat masih menulis di batu tulis, kemudian berkembang dan sudah menulis menggunakan kertas dan bahkan sudah ada mesin ketik.
Kehidupan sosial masyarakat Buol setelah terbentuknya Kabupaten Buol pada tahun 1999 semakin meningkat mengikuti perkebangan zaman.. Masyarakat telah mengenal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti ATM, HP, Internet, Facebook mesin ketik Komputer dan Laptop. Masuknya masyarakat trans dan suku-suku lain di Daerah Buol menyebabkan terjadinya sebuah persaingan antar masyarakat pribumi dan masyarakat trans.
85
Dalam masyarakat nilai etika, moral, sopan santun dan hormat-menghormati mulai berkurang. Gaya hidup masyarakat semakin modern, karena terpengaruh dan mengikuti budaya-budaya asing/barat. Alat musik tradisional seperti rebana, gambus, dan kulintang, sudah jarang digunakan. Masyarakat lebih suka menggunakan musik modern seperti alat musik electon, dan band.
Menurut Soerjono Soekanto (1982 : 261) merumuskan perubahan sosial adalah “segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatau masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok dalam masyarakat”.
Menurut Kingsley Davis (dalam M. Zaini Hasan dkk, 1996 : 85) mengatakan bahwa “perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat” seperti :
a. Bidang Pemerintahan
Sekitar tahun 1901 wilayah Buol sudah berstatus Afdeling, merupakan salah satu Afdeling dari residensi Manado yang sejak tahun 1858 berdiri sendiri lepas dari Gubernur Maluku. Di samping itu, masyarakat sudah mempunyai sebuah pemerintahan sendiri yang kepala pemerintahannya adalah seorang Madika (Raja), kemudian dengan berkembangnya suatu zaman sistem pemerintahan tersebut berubah menjadi sebuah KPN (Kepala Pemerintahan Negeri) dan memakai sebuah sistem pemerintahan Trias Politika yang sistem pemerintahanya terdiri dari :
86
a. Kepala Pemerintahan (Eksekutif) atau Bubato b. Dewan Adat ( Legislatif) atau Bokidu Lripu c. Bidang Hukum (Yudikatif) atau Ukum d. Bidang Agama atau Moputih/rebi e. Pengacara (Juru Bicara) atau Pabisara f. Panglima (Pengawal Kerajaan) atau Palrima g. Syah Bandar (Kapten Laut) atau Kapitalyau h. Wakil raja atau Jugugu
i. Sekertaris Kerajaan atau Jurutulri j. Pendidik atau Tilo Ni Guru
Wilayah Buol terdiri dari 4 (empat) balak, yaitu balak Talaki, balak Bunobogu, balak Kantanan, dan balak Tongon, kemudian berubah menjadi distrik yang terdiri dari 5 (lima) yaitu distrik Paleleh, distrik Bunobogu, distrik Bokat dan distrik Biau. Setelah pada tahun 1964 terbentuk distrik Momunu yang merupakan pemekaran dari distrik Biau.
Raja-raja yang memerintah Buol mulai dari Raja Lahadung sudah menandatangani perjanjian dengan pemerintah Hindia Belanda, baik yang namanya Lange Verklaring maupun Korte Verklaring. Dengan demikian kekuasaan dan kedaulatan sudah berada di tangan Gubernur, sedangkan Raja sekedar menjalankan perintah dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Untuk menjalankan sistem pemerintahan, masyarakat Buol mempunya badan