BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Studi Pendahuluan
Penelitian ini dilakukan oleh peneliti terhadap empat orang subjek penelitian, empat subjek tersebut peneliti peroleh dari hasil wawancara yang dilakukan dengan wali kelas III, Sekolah Dasar Negeri 3 Ambulu, melalui observasi lapangan yang sudah dilakukan. Berdasarkan wawancara dan hasil observasi yang dilakukan, maka akan dilakukan treatmen berupa Konseling Individu terhadap empat subjek penelitian yang ditengarai memiliki Inteligensi rendah dan mengalami Slow Learner berdasarkan informasi dari wali kelas. Ke empat anak yang menjadi subjek penelitian menghadapi kondisi yang berbeda- beda antara satu dengan yang lainnya, ada yang yang berada pada kondisi anak belum lancar membaca, kemudian ada pula anak yang secara kosa kata memang menguasai.
Namun dibeberapa kata yang dianggap susah dan jarang didengar maka akan mengalami kesulitan dalam pelafalanya, dan yang paling utama adalah mereka susah melafalkan bahkan memahami apa itu yang disebut huruf nasal, contohnya seperti (ng, ny, ngg, nj, nc). Kondisi tersebut terjadi bukan hanya karena memiliki IQ rendah, melainkan ada beberapa hal yang menjadi latar belakangnya, seperti di lingkungan sekolah, ketika kegiatan belajar mengajar dilakukan beberapa hal tidak diperhatikan. Dalam hal ini adalah, kebersihan ruang kelas, kemudian fasilitas yang memadai serta pendekatan dan metode pembelajaran yang diberikan oleh guru terhadap siswanya. Mengingat dalam satu kelas tidak semua anak memiliki intelligensi yang sama antara satu dengan yang lainya.
Selain itu keadaan lingkungan sosial dalam keluarganaya pun menjadi andil dalam beberapa hal yang menjadi latar belakang permasalahan. Perlu dipahami pula, bahwa pendampingan dan pengawasan dari keluarga adalah satu hal yang sangat berpengaruh. Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan terhadap anak Slow Leraner di SD Negereri 3 Ambulu, maka ada beberapa Indikator yang
dijadikan peneliti sebagai acuan dalam melihat Slow Learner, Menurut Reddy, dkk (2006) dalam Purwatiningtyas (2014: 20-21) menyebutkan bahwa:
1) Keterbatasan kognitif
Secara kognitif anak mendapatkan nilai yang berbeda dengan anak yang tidak mengalami Slow Learner.
2) Memori atau daya ingat rendah
Anak akan mengalami kesulitan dalam hal mengingat, mereka mampu mengingat namun terbatas dan tidak semua hal diingat secara gamblang, terkecali ketika mereka mengingat sesuatu ada hal lain yang menjadi penunjang dalam proses mengingatnya.
3) Gangguan dan kurang konsentrasi
Dalam hal ini, anak-anak yang mengalami Slow Learner mereka akan susah untuk berkonsentrasi, karena mereka cenderung aktif, artinya tidak mau hanya diam ditempat, ketika dipaksa diam di tempat lama kelamaan mereka akan merasa bosan, dan sasaranya adalah mereka mengganggu yang ada disekelilingnya, baik temanya maupun benda- benda yang ada disekelilingnya.
4) Ketidak mampuan mengungkapkan ide.
Hal ini biasa dialami oleh anak-anak yang mengalami Slow Learner, kesulitan dalam hal mengungkapkan ide disebabkan karena anak merasa dirinya tidak mampu, apapun yang diungkapkan olehnya takut disalahkan dan ditertawakan oleh teman-teman yang lainya.
4. 2 Hasil Penelitian 4.2.1 Deskripsi Data A-B-A
Pada Penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian Experimental dengan desain penelitiannya adalah A-B-A, peneliti melakukan pengamatan tiga kali kondisi yang setiap kondisi memiliki sesi waktu yang berbeda antara satu dengan yang lainya. Ketiga kondisi tersebut adalah, Baseline (A1) – Intervensi (B) – Baseline (A2). Hal tersebut dilakukan guna melihat
apakah ada perubahan antar kondisi satu dengan kondisi yang lainya dengan melihat kenaikan angka yang didapatkan oleh subjek setiap sesinya.
Dalam penelitian ini pula, yang dicantumkan dalam deskripsi penelitian hanyalah berkenaan dengan huruf nasalnya saja. Karena pada penelitian kali ini, subjek telah dianggap mampu dalam hal kelancaran membaca dan kelancaran menulisnya. Selain itu juga subjek telah mampu melafalkan beberapa kosa kata serta paham akan huruf Alfabetnya, namun dalam hal pemahaman dan pelafalan huruf nasalnya subjek merasa kesulitan. Jadi yang kemudian menjadi fokus perhatian peneliti hanyalah huruf nasalnya saja. Di bawah ini adalah deskripsi data yang diperoleh oleh penliti dalam hal pelafalan huruf nasal dari empat subjek yang diteliti.
1. Subjek HA
a. Kondisi Baseline (A1)
Tabel 11. Kondisi Baseline Kemampuan Membaca Huruf Nasal Pada Subjek (HA)
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal
yang dibaca benar Skor
1 Sabtu, 5 Mei 2018 0 0%
2 Senin, 7 Mei 2018 0 0%
3 Rabu, 9 Mei 2018 1 10%
4 Jumat, 11 Mei 2018 2 20%
5 Senin, 14 Mei 2018 1 10%
6 Rabu, 16 Mei 2018 2 20%
7 Jumat, 18 Mei 2018 3 30%
Pada tahap Baseline atau A1, terlihat pada tabel di atas bahwa data yang menggambarkan AH memiliki nilai dalam kemampuan membaca huruf nasal yang dibaca benar dan lancar, namun dengan nilai tidak stabil dalam setiap sesinya, terkadang naik namun turun dihari berikutnya. Kondisi Baseline (A1) ini dilakukan sebanyak tujuh kali yaitu, 0%, 0%, 1%, 20%, 10%, 20%, 30%. Data ini membuktikan bahwa data tidak stabil, pengamatan pada kondisi ini dihentikan pada sesi ke tujuh karena pada
kondisi ini dua sesi terakhir yang dilakukan menunjukan kestabilan data, walaupun di tengah-tengah sesi terkadang mengalami kenaikan.
b. Kondisi Intervensi (B)
Tabel 12. Kondisi Intervensi Kemampuan Membaca Huruf Nasal Pada Subjek (HA).
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal yang
dibaca benar Skor
8 Senin, 21 Mei 2018 2 20%
9 Rabu, 23 Mei 2018 3 30%
10 Jumat, 25 Mei 2018 4 40%
11 Senin, 28 Mei 2018 5 50%
12 Rabu, 30 Mei 2018 5 50%
13 Jumat, 1 Juni 2018 6 60%
14 Senin, 4 Juni 2018 6 60%
Pada kondisi Intervensi, HA mengalami kenaikan dalam membaca huruf nasal yang benar dan lancar seperti (ng, ny, ngg, nc, nj,) dan menuliskanya kembali. Pada kondisi ini, dilakukan sebanyak tujuh sesi perlakuan yang diberikan eneliti terhadap subjek yaitu dengan hasil 20%, 30%, 40%, 50%, 50%, 60%, 60%. Pada kondisi ini memang terlihat grafik tidak stabil dengan garis mendatar, namun stabil dengan mengalami kenaikan dan garis grafik menuju ke atas.
Data ini, membuktikan pada kondisi Intervensi anak mengalami kenaikan nilai dalam membaca kata yang benar, kelancaran membaca, mengucapkan huruf nasal serta lancar dalam menuliskanya kembali.
Pengamatan Intervensi dihentikan pada hari ke tujuh, dikarenakan pada hari ketujuh anak menunjukan kenaikan secara signifikan dan menunjukan garis grafik ke atas.
c. Kondisi Baseline (A2).
Tabel 13. Kondisi Baseline (A2) Kemampuan Membaca Huruf Nasal pada Subjek (HA).
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal yang
dibaca benar Skor
15 Rabu, 6 Juni 2018 6 60%
16 Jumat, 8 Juni2018 7 70%
17 Senin, 11 Juni2018 8 80%
18 Rabu, 13 Juni 2018 8 80%
19 Senin, 18 Juni 2018 8 80%
Pada kondisi Baseline (A2), nilai yang didapat naik secara signifikan dibanding dengan kondisi- kondisi sebelumnya yang sudah dilakukan, jika pada kondisi sebelumnya dilakukan selama kurun waktu tujuh hari, maka pada kondisi ini hanya dilakukan selama lima hari, yaitu 60%, 70%, 80%, 80%, 80%. Sesi ini dihentikan pada hari kelima dikarenakan pada kondisi akhir ini subjek menunjukan kenaikan secara signifikan dan gars grafik yang ditunjukan adalah ke atas dan stabil pada posisi 80%. Dari ketiga kondisi yang sudah diberikan peneliti kepada subjek, didapatkanlah data yang menunjukan bahwa setiap kondisi dan setiap sesi yang dilewati adalah mengalami kenaikan dan stabil, jika ketiga kondisi tersebut digambarkan dalam bentuk grafik, maka akan tergambar seperti di bawah ini:
Grafik 3. Kemampuan Anak Membaca Huruf Nasal, Pada Kondisi Baseline (A1)- Intervensi (B)- Baseline (A2) Pada Subjek Penelitian (HA).
Grafik di atas menunjukan bahwa, setiap kondisi yang dilakukan memiliki perbedaan. Pada kondisi A1 (garis biru) hanya dilakukan sebanyak tujuh kali sesi sebelum dilakukan Intervensi, yang mana dalam setiap sesinya memiliki nilai yang berbeda dan nilai tertinggi yang dicapai dalam kondisi pertama adalah 30%. Pada kondisi selanjutnya yaitu kondisi Intervensi (Garis merah) menunjukan adanya peningkatan secara signifikan dibanding dengan kondisi sebelumnya, pada kondisi ini juga dilakukan pertemuan sebanyak tujuh kali. Pada kondisi terakihr yaitu Baseline (A2), hanya dilakukan lima kali pertemuan, karena pada kondisi ini anak sudah dianggap bisa mengikuti dan sudah mengalami kenaikan nilai dari yang sebelumnya.
d. Analisis Data Terhadap subjek terhadap (HA) 1) Analisis dalam Kondisi
Langkah 1
Pada grafik dengan menggunakan desain A-B-A maka kondisi ditulis seperti di bawah ini:
Tabel 14. Kondisi subjek (HA)
Kondisi A1 B A2
Kondisi merupakan kode dari penelitian SSR (Single Subject Reasrch), kode 1 untuk Baseline (A) pertama dan kedua, sedangkan B untuk Intervesi.
Langkah 2
Tabel 15. Panjang Kondisi subjek (HA)
Kondisi A1 B A2
1. Panjang Kondisi
7 sesi 7 sesi 5 sesi
Panjang interval ini menunjukan sesi pada setiap kondisi pada Baseline A1, Intervensi B1 dan Baseline A2. 7 Sesi untuk baseline A1, 7 sesi untik Intervensi, dan 5 sesi untuk Baseline A2.
Langkah 3
Mengestimasi kecenderungan arah dengan menggunakan metode belah dua (Split-middle).
Tabel 16. Estimasi Kecenderunga Arah subjek (HA)
Kondisi A1 B A2
2. Estimasi Kecenderungan Arah
(+) (+) (+)
Arah trendnya cenderung naik, pada fase intervensi pun arah garisnya naik, sedangkan pada fase baseline A2 arah trendnya juga naik ke atas, walaupun kenaikanya sedikit.
Langkah 4
Menentukan kecenderungan stabilitas pada fase Baseline A1, dalam hal ini menggunkan kriteria stabilitasnya 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 30 x 0,15 = 4,5 (Rentang stabilitas)
Mean level A1: 0 + 0 + 10 + 20 +10 + 20 + 30 =90 Mean Level 90 :7 = 12,85
Menentukan batas atas dengan cara :
Mean level + setengah rentang stabilitas = 12,85 + 2,25 =15,1
Menentukan batas bawah dengan cara :
Mean level – setengah rentang stabilitas = 12,85 – 2,25 = 10,6
Menghitung presentase data poin pada kondisi baseline A1 yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 7 : 7 = 100% (1 x 100 =100%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 7 dari banyaknya point adalah 7 maka stabilitasnya diketahui 100%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase baseline A1 adalah 100%, maka diperoleh hasil stabil.
Fase Intervensi B
Menentukan Kecenderungan pada intervensi B, dalam hal ini menggunakan kriteria 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 60 x 0,15 = 9 (Rentang stabilitas)
Mean level dalam intervensi: 20 + 30 + 40 +50 + 50 + 60 + 60 = 310 Mean level = 310 : 7 = 44,28
Menentukan Batas atas dengan cara :
mean level + setengah rentang stabilitas = 44, 28 +4,5 =48,78
Menentukan Batas bawah dengan cara:
mean level – setengah rentang stabilitas = 44,28 – 4,5 = 39,78
Menghitung presentase data poin pada kondisi Intervensi B yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 7 : 7 = 100% (1 x 100 =100%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 7 dari banyaknya point adalah 7 maka stabilitasnya diketahui 100%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase Intervensi B adalah 100%, maka diperoleh hasil stabil.
Fase Baseline A2
Menentukan Kecenderungan pada Baseline A2, dalam hal ini menggunakan kriteria 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 80 x 0,15 = 12 (Rentang stabilitas)
Mean level dalam intervensi: 60 + 70 + 80 +80 + 80 = 370 Mean level = 370 : 5 = 74
Menentukan Batas atas dengan cara :
mean level + setengah rentang stabilitas = 74 + 6 =80
Menentukan Batas bawah dengan cara:
mean level – setengah rentang stabilitas =74 – 6 = 68
Menghitung presentase data poin pada kondisi Baseline A2 yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 3 : 5 = 0,6 (0,6 x 100 = 60%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 3 dari banyaknya point adalah 5 maka stabilitasnya diketahui 60%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase Baeline A2 adalah 60%, maka diperoleh hasil Tidak stabil (Variabel).
Langkah 5
Menentukan kecenderungan jejak data, hal ini sama dengan kecenderungan arah di atas. Oleh karena itu hasil kecenderungan jejak sama dengan kecenderungan arah.
Tabel 17. Kecenderungan jejak subjek (HA)
Kondisi A1 B A2
4.
Kecenderungan jejak
(+) (+) (+)
Dengan memperlihatkan kecenderungan jejak di atas maka diketahui bahwa Baseline A1 arah trenya adalah mnaik ke atas. Pada fase intervensi (B) arah trendnya pun naik ke ata, dan pada fase Baseline A2 arah trendnya juga naik ke atas, meskipun kenaikan tersebut tidak sama dengan kondisi intervensi, namun karena pada kondisi baseline A1 mengalami kenaikan, maka pada fase baseline A1 ditulis (+), artinya tidak terjadi penurunan, namun dominan kenaikanya. Sama halnya dengan dua konsdisi lainya, yaitu kondisi Intervensi (B) dan baseline A2, karena ketiganya mengalami kenaikan, maka ditulis (+), karena tidak mengalami penurunan.
Langkah 6
Menentukan level stabilitas dan rentang: sebagaimana telah dihitung di atas bahwa fase Baseline A1 datanya adalah stabil, adapun rentangnya adalah 0-30. Pada fase intervensi B datanya stabil juga dengan rentang antara 20-60. Sedangkan pada fase Baseline A2 datanya adalah variabel atau tidak stabil, dengan rentang antara 60-80.
Tabel 18. Level stabilitas dan rentang subjek (HA)
Kondisi A1 B A2
5. Level stabilitas dan rentang Stabil 0-30
Stabil 20-60
Variabel 60-80 Pada sesi ke tujuh belas atau sesi ke tiga pada kondisi Baseline A2, subjek (HA) mengalami kenaikan angka pada posisi 80%, dimana angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan dua kondisi sebelumnya, yaitu pada kondisi Baseline A1 dengan kondisi Intervensi B. Hal ini terjadi karena subjek belum mendapatkan intervensi dari pihak lain sebelumya.
Langkah 7
Menentukan level perubahan dengan cara menanai data pertama (hari ke-1) dan data terakhir (hari ke 7) pada fase Baseline A1. Hitung selisih antara kedua data dan tentukan arahnya naik atau menurun dan beri tanda (+) jika membaik, (-) jika memburuk, (=) jika tidak ada perubahan.
Baseline A1.
Tabel 19. Presentase stabilitas Baseline A1 subjek (HA)
Data besar (Hari ke-7) – Data Kecil (hari ke- 1) = Presetase stabilitas 30 – 0 = 30 (+)
Intervensi B.
Tabel 20. Presentase stabilitas Intervensi B subjek (HA) Data besar (Hari ke-14) – Data Kecil (hari ke- 8) = Presetase
stabilitas 60 – 20 = 40 (+) Baseline A2.
Tabel 21. Presentase stabilitas Baseline A2 subjek (HA) Data besar (Hari ke-19) – Data Kecil (hari ke- 15) = Presetase
stabilitas 80 – 60 = 20 (+)
Dengan demikian, level perbahan data dapat ditulis seperti di bawah ini:
Tabel 22. level perubahan subjek (HA)
Kondisi A1 B A2
6. Level Perubahan
30-0 (+30)
60-20 (+40)
80-60 (+20)
Tabel di atas menunjukan bahwa fase Intervensi B dan juga fase Baseline A2 mengalami perbahan yang membaik. Hal ini dapat dilihat dari selisih yang ditunjukan bernilai positi.
Tabel 23. Rangkuman Hasil Analisis Visual dalam Kondisi
Kondisi A1 B A2
Panjang Kondisi 7 sesi 7 sesi 5 sesi
Estimasi
Kecenderungan
Arah (+) (+) (+)
Kecenderungan stabil (Presentase)
100%
stabil
100%
stabil
60%
Variabel Estimasi
Kecenderungan Arah / jarak data
(+) (+) (+)
Rentang Data Stabil
0%- 30% Stabil
20% - 60 % Variabel 60- 80
Level Perubahan 30% - 0% =
30% (+) 60% - 20% =
40% (+) 80% - 60% = 20% (+) Dari pemaparan di atas data subjek (HA) dapat diambil kesimpulan bahwa, subjek (HA) memiliki analisis visual dalam kondisi seagai berikut:
Analisis dalam kondisi (HA), grafik kemampuan anak membaca huruf nasal pada Baseline A1 mengalami perubahan, namun tidak secara signifikan, hanya mengalami perubahan dari angka 0% sampai dengan 30% saja. Namun setelah dilakukan Intervensi B berupa pendekatan konseling secara indvidual maka ada taget behvior tersebut mengalami kenaikan kembali yaitu pada angka 20%-60%. Begitu pula fase Baseline A2, yaitu fase dimana intervensi telah dihentikan, pada fase tersebut juga mengalami kenaikan yaitu pada angka 60%-80%. Estimasi kecenderungan arah arah pada baseline A1 naik ke atas, pada kondisi
intervensi B pun demikian naik ke atas dan kondisi baseline A2 pun mengalami hal serupa, yaitu naik ke atas.
Kecenderungan stabilitas pada baseline A1 dikatakan stanbil sebab presentasenya berada pada angka 100%, begitu pula pada kondisi Intervensi B tingkat stabilitasnya dikatakan stabil, karena angkanya menunjuk kepada angka 100%. Sedangkan pada kondisi ke tiga, yaitu kodisi Baseline A2 tikatakan mengalami ketidak stabilan atau variabel, karena presentase yang didapat pada kondisi ini hanya berada pada agka 60% saja, dan itu masih di bawah kriteria data yang dikatakan sebagai data yang stabil. Kecenderungan stabilitas ini memakan pedoman jika presentase stabilitasnya sebesar 85% - 90%, maka dikatakan stabil, jika berada di bawahna maka termasuk kedalam kriteria variabel atau tidak stabil (Sunanto, Juang dkk. 2005: 110).
Jejak data pada baseline A1 mengalami kenaikan, dengan garis naik ke atas, pada kondisi Intervensi B pun hal serupa kembali dialami, yaitu dengan adanya kenaikan pada jejak data dalam kondisi Intervensi.
Yang terakhir adalah jejak data pada kondisi Baseline A2, yang mengalami hal sama dengan kondisi-kondisi sebeumnya, yaitu dengan mengalami kenaikan pada jejak data dalam kondisi Baseline A2.
Level Stailitas pada Baseline A1, mengalami kesetabilan dengan level dan rentang datanya berada pada angka 0%-30%. Sedangkan pada kondisi Intervensi B pun mengalami kesetabilan dengan level dan rentang datanya berada pada angka 20%-60%, dan pada kondisi terakhir yaitu pada kondisi Baseine A2 ini data megalami ketidak stabilan atau (variabel) yaitu pada level dan rentang 60% - 80%. Dari data-datayang sudah disebutkan di atas, maka terlihat pula level perubahan dari setiap kondisi, dan dari kondisi Baseline A1- Intervensi B- sampai dengan Baseline A2, level perubahanya adalah mengarah kepada positif (+).
2) Analisis Antak Kodisi
Kegiatan awal untuk menganalisis antar kondisi adalah memasukan kode kondisi, yaitu kondisi 1 Baseline A1, Kondisi Intervensi B1, dan kondisi Baseline A2.
Langkah 1
Tabel 24. perbandingan kondisi Subjek (HA)
Perbandingan Kondisi B1/A1/A2
(2:1:3)
Menentukan Jumlah variabel yang diubah pada data rekaan variabel yang akan diubah dari kondsi Baseline A1 ke Intervensi B1 dan Baseline A2 adalah 1, maka formatnya diisi sebagai berikut:
Perbandingan Kondisi B1/A1/A2
1. Jumlah Variabel yang diubah
1
Jumlah Variabel yang diubah dalam penelitian ini adalah 1 Variabel, yakni Kelancaran membaca huruf nasal.
Langhah 2
Menentukan perubahan kecenderungan arah dengan mengambil data pada analisis dalam kondisi di atas, maka formatnya adalah :
Tabel 25. Perubahan kecenderungan arah pada subjek (HA)
Perbandingan Koordinasi B1/A1/A2
2. Perubahan Kecenderungan
arah (+) (+) (+)
Setelah ditentukan arah trendnya maka ditulis kembali dengan perbandingan kondisi, yaitu (+) pada kondisi Intervensi B1 dan Baseline A2, sedangkan pada Baseline A2 juga mendapatkan kenaikan (+).
Langkah 3
Menentukan perubahan kecenderugan stabilitas : kecenderungan pada fase Baseline A1, Intervensi B1 dan juga Baseline A2 pada rangkuman analisis dalam kondisi dan memasukan pada format.
Tabel 26. Perubahan kecenderunan perubahan stabilitas Subjek (HA)
Perbandingan Koordinasi B1/A1/A2
3. Perubahan Kecenderungan
Stabilitas Stabil ke stabil ke Variabel
Setelah diketahui bahwa kecenderungan stabilitas pada fase Baseline A1 dan Intervensi B mencapai 85%-90%, maka dikatakan Stabil.
Sedangkan pada fase Baseline A2 kecenderungan stabilitasnya adalah Variabel atau tidak stabil.
Langkah 4
Tabel 27. Perubahan Leve subjek (HA) Perbandingan
Kondisi
A1/B1 B1/A2
4. Perubahan Level
(1:2) (30%-20%)
(10%)
(2:3) (60%-60%)
(0%)
Menentukan level perubahan dengan cara : menentukan data point pada kondisi Baseline A1 sesi terakhir (30%) dan kondisi pertama pada Intervensi B yaitu (20%) dan hitung selisihnya (30%-20%) maka dieroleh (10%). Sedangkan pada kondisi Intervensi B1 pada sesi terakhir adalah (60%) dan kondisi Baseline A2 sesi pertama dalah (60%), maka selisihnya diperoleh (0%).
Langkah 5
Menentukan Overlap pada kondisi Baseline A1 degan Intervensi B dan juga Baseline A2 dengan cara:
Melihat kembali batas bawah dan atas pada kondisi Baseline A1
Kondisi Intervensi B yang berada pada rentang kondisi Baseline A1 adalah 3
Perolehan angka pada langkah (b) dibagi dengan data poin dalam kondisi intervensi B (7) kemudian dikalikan 100, maka hasilnya adalah (3:7) x 100= 42,85%
Kondisi Baseline A2 yang berada pada rentang Intervensi B adalah 4
Perolehan angka pada langkah (b) dibagi dengan data point dalam kondisi Baseline A2 (5), kemdian dikalikan 100, maka hasilnya adalah (4:5) x 100 = 80 %.
Semakin kecil Overlap maka semakin baik pengaruh intervensi terhadap target behavior. Komponen analisis antar kondisi di atas jika digambarkan dalam rangkuman tabel maka akan terlihat seperti di bawah ini:
Tabel 28. Rangkuman Hasil Analisis Data Antar Kondisi Perbandingan
Kondisi A1: B: A2 Jumlah Variabel yang
Berubah
1
Perubahan
Kecenderungan Arah
(+) (+) (+)
Perubahan Kecenderungan Sabilitas
Stabil + ke Stabil + ke Variabel +
Level Perubahan
Level
Perubahan Pada Kondisi B/A1
Level
Perubahan Pada Kondisi B/A2
30% - 20% = 10%
60% - 60% = 0%
Presenase Overlap menunjukan
Kondisi B terhadap kondisi A1.
Kondisi B terhadap Kondisi A2.
(3:7) x 100= 42,85%
(4:5) x 100 = 80 %
Dari tabel di atas dapat disimpulkan dari analisis antar kondisi dari subjek (HA) adalah sebagai berikut:
a) Perubahan kecenderungan arah pada kelancaran membaca huruf nasal subjek (HA) menuju perubahan yang positif.
b) perubahan kecenderungan stabilitas pada baseline A1 tetap mengalami kenaikan, begitu pula pada intervensi B sama-sama mengalami kenaikan dan dianggap stabil karena berada pada angka 100%, sama halnya dengan kondisi Baseline A1. Ketiganya mengalami kenaikan yang sama walaupun tidak secara signifikan, namun pada kondisi Baseline A2 walapun mengalami kenaikan tapi dianggap tidak stabil, karena datanya menunjukan hanya berada pada posisi 60% saja.
c) Perubahan level juga terjadi pada kondisi A1 ke B1, namun mengalami penurunan pada kondisi B1 ke A2.
d) Presentase Overlap cukup buuk yaitu 42,85% dan 80%. Presentase Overlap dikatakan bruk karena semakin kecil presentasenya maka semakin baik.
2. Subek RI a. Baseline (A1)
Tabel 29. Kondisi Baseline Kemampuan Membaca Huruf Nasal Pada Subjek (RI)
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal yang
dibaca benar Skor
1 Sabtu, 5 Mei 2018 0 0%
2 Senin, 7 Mei 2018 0 0%
3 Rabu, 9 Mei 2018 1 10%
4 Jumat, 11 Mei 2018 0 0%
5 Senin, 14 Mei 2018 1 10%
6 Rabu, 16 Mei 2018 2 20%
7 Jumat, 18 Mei 2018 2 20%
Tabel di atas, merupakan suatu pengamatn pada kondisi Baseline (A1), sebelum dilakukan intervensi pada Subjek penelitian (RI). Dari data tabel di Atas terlihat bahwa RI ini sempat mengalami kesulitan dalam hal pemahaman huruf nasal dalam beberapa kalimat, bisa dilihat bahwa ada nilai sebesar 0% yang menandakan bahwa RI tidak memahami huruf nasal tersebut, namun dihari berikutnya RI menunjukan perubahan disesi ke enam dan tujuh dengan mendapatkan nilai sebesar 20%. Kondisi Baseline ini dilakukan sebanyak tujuh sesi, karena pada sesi ke enam dan tujuh sudah mengalami kesetabilan.
b. Intervensi (B)
Tabel 30. Kondisi Intervensi Kemampuan Membaca Huruf Nasal Pada Subjek (RI).
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal yang
dibaca benar Skor
8 Senin, 21 Mei 2018 2 20%
9 Rabu, 23 Mei 2018 3 30%
10 Jumat, 25 Mei 2018 4 40%
11 Senin, 28 Mei 2018 5 50%
12 Rabu, 30 Mei 2018 5 50%
13 Jumat, 1 Juni 2018 6 60%
14 Sabtu, 2 Juni 2018 7 70%
15 Senin, 4 Juni 2018 7 70%
Pada kondisi intervensi dilakukan sebanyak delapan sesi pertemuan, dengan data yang didapatkan adalah 20%, 30%, 40%, 50%, 50%. 60%, 70%, 70%, dan diberhentikan pada sesi pertemuan ke 16. Pada kondisi ini, nilai tertinggi diperoleh sebesar 70%, di sini terlihat bahwa anak mampu mengikuti dan memahami huruf nasal seperti (ng, ny, ngg, nc, nj) yang dipelajarinya, walaupun sedikit lebih lama dibandingkan dengan teman-teman lainya.
c. Baseline (A2)
Tabel 31. Kondisi Baseline (A2) Kemampuan Membaca Huruf Nasal pada Subjek (RI).
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal yang
dibaca benar Skor
16 Rabu, 6 Juni 2018 8 80%
17 Jumat, 8 Juni2018 7 70%
18 Senin, 11 Juni2018 9 90%
29 Rabu, 13 Juni 2018 9 90%
20 Senin, 18 Juni 2018 9 90%
Sedangkan pada kondisi Baseline (A2), setelah Intervensi yang dilakukan selama lima sesi pengamatan, data yang diperoleh adalah 80%, 70%, 90%, 90%, 90%. Pada kondisi ini hanya dilakukan lima sesi pertemuan, karena pada sesi tiga hari terakhir anak menunjukan nilai yang stabil dan signifikan yaitu 90%, maka perlaukan secara otomatis dapat dihentikan. Dari tiga kondisi yang sudah dilakukan di atas, jika digambarkan dalam grafik, maka akan terlihat seperti di bawah ini:
Grafik 4. Kemampuan Anak Membaca Huruf Nasal, Pada Kondisi Baseline (A1)- Intervensi (B)- Baseline (A2) Pada Subjek Penelitian (RI).
Pada grafik di atas, menunjkan bahwa terjadi perubahan pada setiap kondisi. Seperti pada kondisi A1 subjek RI mengalami ketidak stabilan nilai yang didapat, nilai tertinggi yang didapatkan RI hanyalah 20% saja, pada kondisi ini dilakukan sebanyak tujuh kali pertemuan.
Kondisi ke dua adalah kondisi Intervensi, kondisi ini dilakukan sebanyak delapan kali, berbeda dengan subjek sebelumnya. Karena RI memang sedikit mengalami kesulitan pada saat Intervensi maka pada tahap ini dilakukan lebih lama, dan nilai tertinggi yang didapatkan RI pada tahap ini adalah 70%. Tahap terakhir adalah tahap Baseline (A2), pada tahap ini dilakukan sebanyak tujuh sesi dengan nilai tertinggi adalah 90% dan itu sudah stabil sengan hari sebelumnya.
d. Analisis Data tehadap Subjek (RI) 1) Analisis dalam Kondisi
Langkah 1
Pada grafik dengan menggunakan desain A-B-A maka kondisi ditulis Tabel 32. Kondisi subjek (RI)
Kondisi A1 B A2
Kondisi merupakan kode dari penelitian SSR (Single Subject Reasrch), kode 1 untuk Baseline (A) pertama dan kedua, sedangkan B untuk Intervesi.
Langkah 2
Tabel 33. Panjang Kondisi subjek (RI)
Kondisi A1 B A2
1. Panjang Kondisi
7 sesi 8 sesi 5 sesi
Panjang interval ini menunjukan sesi pada setiap kondisi pada Baseline A1, Intervensi B1 dan Baseline A2. 7 Sesi untuk baseline A1, 8 sesi untik Intervensi, dan 5 sesi untuk Baseline A2.
Langkah 3
Mengestimasi kecenderungan arah dengan menggunakan metode belah dua (Split-middle).
Tabel 34. Estimasi Kecenderungan Arah subjek (RI)
Kondisi A1 B A2
2. Estimasi Kecenderungan Arah
(=) (+) (+)
Arah trendnya cenderung naik, pada fase intervensi pun arah garisnya naik, sedangkan pada fase baseline A2 arah trendnya juga naik ke atas, walaupun kenaikanya sedikit.
Langkah 4
Menentukan kecenderungan stabilitas pada fase Baseline A1, dalam hal ini menggunkan kriteria stabilitasnya 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 20 x 0,15 = 3 (Rentang stabilitas)
Mean level A1: 0 + 0 + 10 + 0 +10 + 20 + 20 =60 Mean Level 60 :7 = 8,58
Menentukan batas atas dengan cara :
Mean level + setengah rentang stabilitas = 8, 58+ 1,5 = 10,08
Menentukan batas bawah dengan cara :
Mean level – setengah rentang stabilitas =8,58– 1,5 = 7,08
Menghitung presentase data poin pada kondisi baseline A1 yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 6 : 7 = 100% (0,85 x 100 =85%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 6 dari banyaknya point adalah 7 maka stabilitasnya diketahui 85%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase baseline A1 adalah 85%, maka diperoleh hasil stabil.
Fase Intervensi B
Menentukan Kecenderungan pada intervensi B, dalam hal ini menggunakan kriteria 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 70 x 0,15 = 10,5 (Rentang stabilitas)
Mean level dalam intervensi: 20 + 30 + 40 +50 + 50 + 60 + 70 +80 = 400
Mean level = 400 : 8 = 50
Menentukan Batas atas dengan cara :
mean level + setengah rentang stabilitas = 50 + 5,25 = 55, 25
Menentukan Batas bawah dengan cara:
mean level – setengah rentang stabilitas = 50 – 5,25 = 44,75
Menghitung presentase data poin pada kondisi Intervensi B yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 7 : 8 = 0,87% (0,87 x 100 = 87,5%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 7 dari banyaknya point adalah 8 maka stabilitasnya diketahui 87,5%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase Intervensi B adalah 87,5%, maka diperoleh hasil stabil.
Fase Baseline A2
Menentukan Kecenderungan pada Baseline A2, dalam hal ini menggunakan kriteria 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 90 x 0,15 = 13,5 (Rentang stabilitas)
Mean level dalam intervensi: 80 + 70 + 90 +90 + 90 = 420 Mean level = 420 : 5= 84
Menentukan Batas atas dengan cara :
mean level + setengah rentang stabilitas = 84 + 6,75= 90,75
Menentukan Batas bawah dengan cara:
mean level – setengah rentang stabilitas = 84 – 6,75 = 77,25
Menghitung presentase data poin pada kondisi Baseline A2 yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 3: 5 = 0,6 (0,6 x 100 = 60%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 3 dari banyaknya point adalah 5 maka stabilitasnya diketahui 60%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan
stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase Baeline A2 adalah 60%, maka diperoleh hasil Tidak stabil (Variabel).
Langkah 5
Menentukan kecenderungan jejak data, hal ini sama dengan kecenderungan arah di atas. Oleh karena itu hasil kecenderungan jejak sama dengan kecenderungan arah.
Tabel 35. Kecenderungan jejak subjek (RI)
Kondisi A1 B A2
4.
Kecenderungan jejak
(=) (+) (+)
Dengan memperlihatkan kecenderungan jejak di atas maka diketahui bahwa Baseline A1 arah trenya adalah stabil. Pada fase intervensi (B) arah trendnya pun naik ke atas, dan pada fase Baseline A2 arah trendnya juga naik ke atas, meskipun kenaikan tersebut tidak sama dengan kondisi intervensi, namun karena pada kondisi baseline A1 mengalami kesetabilan, maka pada fase baseline A1 ditulis (=), artinya tidak terjadi penurunan, namun tidak dominan pula kenaikanya. Sama halnya dengan dua konsdisi lainya, yaitu kondisi Intervensi (B) dan baseline A2, karena ketiganya mengalami kenaikan, maka ditulis (+), karena tidak mengalami penurunan.
Langkah 6
Menentukan level stabilitas dan rentang: sebagaimana telah dihitung di atas bahwa fase Baseline A1 datanya adalah stabil, adapun rentangnya adalah 0-20. Pada fase intervensi B datanya stabil juga dengan rentang
antara 20-60. Sedangkan pada fase Baseline A2 datanya adalah variabel atau tidak stabil, dengan rentang antara 80-90.
Tabel 36. Level stabilitas dan rentang subjek (RI)
Kondisi A1 B A2
5. Level stabilitas dan rentang
Stabil 0-20
Stabil 20-80
Variabel 80-90
Pada sesi ke sembilan belas atau sesi ke tiga pada kondisi Baseline A2, subjek (RI) mengalami kenaikan angka pada posisi 90%, dimana angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan dua kondisi sebelumnya, yaitu pada kondisi Baseline A1 dengan kondisi Intervensi B. Hal ini terjadi karena subjek belum mendapatkan intervensi dari pihak lain sebelumya.
Langkah 7
Menentukan level perubahan dengan cara menanai data pertama (hari ke- 1) dan data terakhir (hari ke 7) pada fase Baseline A1. Hitung selisih antara kedua data dan tentukan arahnya naik atau menurun dan beri tanda (+) jika membaik, (-) jika memburuk, (=) jika tidak ada perubahan.
Baseline A1.
Tabel 37. Presentase stabilitas Baseline A1 subjek (HA)
Data besar (Hari ke-7) – Data Kecil (hari ke- 1) = Presetase stabilitas 20 – 0 = 20 (=)
Intervensi B.
Tabel 38. Presentase stabilitas Intervensi B subjek (HA)
Data besar (Hari ke-16) – Data Kecil (hari ke- 8) = Presetase stabilitas 70 – 20 = 50 (+)
Baseline A2.
Tabel 39. Presentase stabilitas Baseline A2 subjek (HA)
Data besar (Hari ke-21) – Data Kecil (hari ke- 17) = Presetase stabilitas 90 – 80 = 10 (+)
Dengan demikian, level perbahan data dapat ditulis seperti di bawah ini:
Tabel 40. level perubahan subjek (HA)
Kondisi A1 B A2
6. Level Perubahan
20-0 (=20)
70-20 (+50)
90-80 (+10)
Tabel di atas menunjukan bahwa fase Intervensi B dan juga fase Baseline A2 mengalami perubahan yang membaik. Hal ini dapat dilihat dari selisih yang ditunjukan bernilai positif.
Tabel 41. Rangkuman Hasil Analisis Visual dalam Kondisi
Kondisi A1 B A2
Panjang Kondisi 7 sesi 8 sesi 5 sesi
Estimasi
Kecenderungan
Arah (=) (+) (+)
Kecenderungan stabil
(Presentase)
85%
stabil 87,5%
stabil 60%
Variabel Estimasi
Kecenderungan Arah / jarak data
(=) (+) (+)
Rentang Data Stabil 0%- 20%
Stabil 20% – 70%
Variabel 90% – 80%
Level Perubahan 20% - 0% = 20% (=)
70% - 20% = 50% (+)
90% - 80% = 10% (+)
Dari pemaparan di atas data subjek (RI) dapat diambil kesimpulan bahwa, subjek (RI) memiliki analisis visual dalam kondisi seagai berikut:
Analisis dalam kondisi (RI), grafik kemampuan anak membaca huruf nasal pada Baseline A1 mengalami perubahan, namun tidak secara signifikan, hanya mengalami perubahan dari angka 0% sampai dengan 20% saja. Namun setelah dilakukan Intervensi B berupa pendekatan konseling secara indvidual maka ada taget behavior tersebut mengalami kenaikan kembali yaitu pada angka 20%-70%. Begitu pula fase Baseline A2, yaitu fase dimana intervensi telah dihentikan, pada fase tersebut juga mengalami kenaikan yaitu pada angka 80%-90%. Estimasi kecenderungan arah arah pada baseline A1 naik ke atas namun stabil, pada kondisi intervensi B pun demikian naik ke atas dan kondisi baseline A2 pun mengalami hal serupa, yaitu naik ke atas.
Kecenderungan stabilitas pada baseline A1 dikatakan stanbil sebab presentasenya berada pada angka 85%, begitu pula pada kondisi Intervensi B tingkat stabilitasnya dikatakan stabil, karena angkanya menunjuk kepada angka 87,5%. Sedangkan pada kondisi ke tiga, yaitu kodisi Baseline A2 tikatakan mengalami ketidak stabilan atau variabel, karena presentase yang didapat pada kondisi ini hanya berada pada agka 60% saja, dan itu masih di bawah kriteria data yang dikatakan sebagai data yang stabil. Kecenderungan stabilitas ini memakan pedoman jika presentase stabilitasnya sebesar 85% - 90%, maka dikatakan stabil, jika berada di bawahna maka termasuk kedalam kriteria variabel atau tidak stabil (Sunanto, Juang dkk. 2005: 110).
Jejak data pada baseline A1 mengalami kesabilan namun mengalami kenaikan, dengan garis naik ke atas, pada kondisi Intervensi B pun hal serupa kembali dialami, yaitu dengan adanya kenaikan pada jejak data dalam kondisi Intervensi. Yang terakhir adalah jejak data pada kondisi Baseline A2, yang mengalami hal sama dengan kondisi-kondisi sebeumnya, yaitu dengan mengalami kenaikan pada jejak data dalam kondisi Baseline A2.
Level Stailitas pada Baseline A1, mengalami kesetabilan dengan level dan rentang datanya berada pada angka 0%-20%. Sedangkan pada kondisi Intervensi B pun mengalami kesetabilan dengan level dan rentang datanya berada pada angka 20%-70%, dan pada kondisi terakhir yaitu pada kondisi Baseine A2 ini data megalami ketidak stabilan atau (variabel) yaitu pada level dan rentang 80% - 90%. Dari data-datayang sudah disebutkan di atas, maka terlihat pula level perubahan dari setiap kondisi, dan dari kondisi Baseline A1- Intervensi B- sampai dengan Baseline A2, level perubahanya adalah mengarah kepada positif (+).
2) Analisis Antar Kodisi
Kegiatan awal untuk menganalisis antar kondisi adalah memasukan kode kondisi, yaitu kondisi 1 Baseline A1, Kondisi Intervensi B1, dan kondisi Baseline A2.
Langkah 1
Tabel 42. perbandingan kondisi Subjek (RI)
Perbandingan Kondisi B1/A1/A2
(2:1:3)
Menentukan Jumlah variabel yang diubah pada data rekaan variabel yang akan diubah dari kondsi Baseline A1 ke Intervensi B1 dan Baseline A2 adalah 1, maka formatnya diisi sebagai berikut:
Perbandingan Kondisi B1/A1/A2
1. Jumlah Variabel yang diubah
1
Jumlah Variabel yang diubah dalam penelitian ini adalah 1 Variabel, yakni Kelancaran membaca huruf nasal.
Langhah 2
Menentukan perubahan kecenderungan arah dengan mengambil data pada analisis dalam kondisi di atas, maka formatnya adalah :
Tabel 43. Perubahan kecenderungan arah pada subjek (RI)
Perbandingan Koordinasi B1/A1/A2
2. Perubahan Kecenderungan
arah (=) (+) (+)
Setelah ditentukan arah trendnya maka ditulis kembali dengan perbandingan kondisi, yaitu (+) pada kondisi Intervensi B1 dan Baseline A2, sedangkan pada Baseline A2 juga mendapatkan kenaikan (+).
Langkah 3
Menentukan perubahan kecenderugan stabilitas : kecenderungan pada fase Baseline A1, Intervensi B1 dan juga Baseline A2 pada rangkuman analisis dalam kondisi dan memasukan pada format.
Tabel 44. Perubahan kecenderunan perubahan stabilitas Subjek (RI)
Perbandingan Koordinasi B1/A1/A2
3. Perubahan Kecenderungan Stabilitas
Stabil ke stabil ke Variabel
Setelah diketahui bahwa kecenderungan stabilitas pada fase Baseline A1 dan Intervensi B mencapai 85%-90%, maka dikatakan Stabil. Sedangkan pada fase Baseline A2 kecenderungan stabilitasnya adalah Variabel atau tidak stabil.
Langkah 4
Tabel 45. Perubahan Level subjek (HA) Perbandingan
Kondisi
A1/B1 B1/A2
4. Perubahan Level
(1:2) (20%-20%)
(0%)
(2:3) (70%-80%)
(-10%)
Menentukan level perubahan dengan cara : menentukan data point pada kondisi Baseline A1 sesi terakhir (20%) dan kondisi pertama pada Intervensi B yaitu (20%) dan hitung selisihnya (20%-20%) maka dieroleh (0%). Sedangkan pada kondisi Intervensi B1 pada sesi terakhir adalah (70%) dan kondisi Baseline A2 sesi pertama dalah (80%), maka selisihnya diperoleh (-10%).
Langkah 5
Menentukan Overlap pada kondisi Baseline A1 degan Intervensi B danjuga Baseline A2 dengan cara:
a. Melihat kembali batas bawah dan atas pada kondisi Baseline A1 b. Kondisi Intervensi B yang berada pada rentang kondisi Baseline A1
adalah 5
c. Perolehan angka pada langkah (b) dibagi dengan data poin dalam kondisi intervensi B (8) kemudian dikalikan 100, maka hasilnya adalah (5:8) x 100= 62,5%
d. Kondisi Baseline A2 yang berada pada rentang Intervensi B adalah 5.
e. Perolehan angka pada langkah (b) dibagi dengan data point dalam kondisi Baseline A2 (5), kemdian dikalikan 100, maka hasilnya adalah (5:5) x 100 = 100 %
Semakin kecil Overlap maka semakin baik pengaruh intervensi terhadap target behavior. Komponen analisis antar kondisi di atas jika digambarkan dalam rangkuman tabel maka akan terlihat seperti di bawah ini:
Tabel 46. Rangkuman Hasil Analisis Data Antar Kondisi Perbandingan
Kondisi A1: B: A2
Jumlah Variabel yang
berubah 1
Perubahan
Kecenderungan Arah
(=) (+) (+)
Perubahan
Kecenderungan Sabilitas Stabil ke Stabil ke Variabel Level Perubahan
Level Perubahan Pada Kondisi B/A1
Level Perubahan Pada Kondisi B/A2
(20%-20%) = (0%)
(70%-80%) = (-10%)
Presenase Overlap menunjukan
Kondisi B terhadap kondisi A1.
Kondisi B terhadap Kondisi A2.
(5:8) x 100= 62,5%
(5:5) x 100 = 100 %
Dari tabel di atas dapat disimpulkan dari analisis antar kondisi dari subjek (RI) adalah sebagai berikut:
Perubahan kecenderungan arah pada kelancaran membaca huruf nasal subjek (RI) menuju perubahan yang positif. perubahan kecenderungan stabilitas pada baseline A1 tetap mengalami kesetabilan namun mengalami kenaikan dengan posisi angka berada pada 85%, begitu pula pada intervensi B sama-sama mengalami kenaikan dan dianggap stabil karena berada pada angka 87,5%, sama halnya dengan kondisi Baseline A1.
Ketiganya mengalami kenaikan yang sama walaupun tidak secara signifikan, namun pada kondisi Baseline A2 walapun mengalami kenaikan tapi dianggap tidak stabil, karena datanya menunjukan hanya berada pada posisi 60% saja. Perubahan level juga terjadi pada kondisi A1 ke B1, namun mengalami penurunan pada kondisi B1 ke A2. Presentase Overlap cukup buuk yaitu 62,5%dan 100%. Presentase Overlap dikatakan bruk karena semakin kecil presentasenya maka semakin baik.
3. Subjek A a. Baseline (A1)
Tabel 47. Kondisi Baseline Kemampuan Membaca Huruf Nasal Pada Subjek (A)
No Hari / tanggal Jumlah kata yang dibaca
benar Skor
1 Sabtu, 5 Mei 2018 0 0%
2 Senin, 7 Mei 2018 0 0%
3 Rabu, 9 Mei 2018 1 10%
4 Jumat, 11 Mei 2018 2 20%
5 Senin, 14 Mei 2018 2 20%
6 Rabu, 16 Mei 2018 2 20%
7 Jumat, 18 Mei 2018 2 20%
Pada subjek A, kondisi Baseline (A1) dilakukan sebanyak tujuh sesi, sedangkan setiap sesi memiliki nilai yang berbeda dalam pelafalan huruf nasal yang tergabung dalam beberapa kara yang sudah disediakan, A ini memiliki nilai tertinggi pada kondisi ini dicapai pada sesi ke empat sampai ke tujuh, dengan besar nilai 20%. Pada kondisi ini anak-anak mendapatkan nilai yang relatif lebih kecil, dikarenakan pada kondisi ini anak masih belum mendapatkan Intervensi dari pihak lain, artinya masih murni belum ada sentuhan apapun.
b. Intervensi
Tabel 48. Kondisi Intervensi Kemampuan Membaca Huruf Nasal Pada Subjek (A).
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal yang
dibaca benar Skor
8 Senin, 21 Mei 2018 3 30%
9 Rabu, 23 Mei 2018 5 50%
10 Jumat, 25 Mei 2018 6 60%
11 Senin, 28 Mei 2018 6 60%
12 Jumat, 1 Juni 2018 8 80%
13 Sabtu, 2 Juni 2018 9 90%
14 Senin, 4 Juni 2018 9 90%
Kondisi selanjutnya adalah kondisi Intervensi, pada kondisi ini A mengalami kenaikan nulai yang tadinya hanya 20% itu sudah termasuk ke dalam nilai tertinggi, namun berbeda pada kondisi Intervensi. Pada kondisi ini A mendapatkan nilai 90% sebagai nilai tertinggi yang dicapainya, dan nilai terkecil adalah 30%. Pada kondisi ini, A diberikan perlakuan sebanyak tujuh sesi dengan nilai masing–masing adalah 30%, 50%, 60%, 60%, 80%, 80%, 90%, 90%.
c. Baseline (B2)
Tabel 49. Kondisi Baseline (A2) Kemampuan Membaca Huruf Nasal pada Subjek (A).
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal yang
dibaca benar Skor
15 Rabu, 6 Juni 2018 8 80%
16 Jumat, 8 Juni2018 9 90%
17 Senin, 11 Juni2018 9 90%
18 Rabu, 13 Juni 2018 9 90%
19 Senin, 18 Juni 2018 9 90%
Kondisi yang terakhir atau Baseline (A2) dilakukan sebanyak lima kali, dengan rata-rata nilai yang dicapai adalah 90%, dan itu menjadi nilai tertinggi yang dicapai secara stabil dibandingkan dengan teman-teman yang lainya, walaupun memang tidak mendapat nilai 100%, namun berada diangka 90% sudah merupakan pencapaian yang sempurna untuk anak- anak yang mengalami Slow Learner. Hasil yang dicapai dalam tiga kondisi di atas, jika digambarkan dengan menggnakan grafik, maka akan terlihat seperti di bawah ini:
Grafik 5. Kemampuan Anak Membaca Huruf Nasal, Pada Kondisi Baseline (A1)- Intervensi- Baseline (A2) Pada Subjek Penelitian (A).
Dari grafik di atas, dapat dijelaskan bahwa setiap sesi dalam kondisi ang dilakukan mengalami kenaikan yang berbeda pada A. Seperti pada kondisi Baseline (A1), anak baru mengalami kesetabilan dimulai pada sesi ke empat sampai dengan sesi ke tujuh, yaitu berada pada angka 20%.
Kondisi selanjutnya adalah kondisi Intervensi yang dilakukan oleh A, pada kondisi Intervensi A mengalami kenaikan yang signifikan, artinya nilai yang didapat setiap sesinya mengalami kenaikan diantaranya adalah, 30%, 50%, 60%, 60%, 80%, 80%, 90%, 90%. Sesi dalam kondisi ini dilakukan sebanyak delapan kali pertemuan dan dihetikan pada haru ke delapan.
Kondisi yang terakhir adalah kondisi Baseline (A2), pada kondisi ini hanya
dilakukan lima kali sesi, dan angka tertinggi dicapai pada angka 90%, di tahap ini lah A mengalami kesetabilan dalam kondisinya.
d. Analisis Data terhadap subjek (A) 1) Analisis dalam Kondisi
Langkah 1
Pada grafik dengan menggunakan desain A-B-A maka kondisi ditulis Tabel 50. Kondisi subjek (A)
Kondisi A1 B A2
Kondisi merupakan kode dari penelitian SSR (Single Subject Reasrch), kode 1 untuk Baseline (A) pertama dan kedua, sedangkan B untuk Intervesi.
Langkah 2
Tabel 51. Panjang Kondisi subjek (A)
Kondisi A1 B A2
1. Panjang Kondisi
7 sesi 7 sesi 5 sesi
Panjang interval ini menunjukan sesi pada setiap kondisi pada Baseline A1, Intervensi B1 dan Baseline A2. 7 Sesi untuk baseline A1, 8 sesi untuk Intervensi, dan 5 sesi untuk Baseline A2.
Langkah 3
Mengestimasi kecenderungan arah dengan menggunakan metode belah dua (Split-middle).
Tabel 52. Estimasi Kecenderunga Arah subjek (A)
Kondisi A1 B A2
2. Estimasi Kecenderungan Arah
(=) (+) (+)
Arah trendnya cenderung stabil, pada fase intervensi pun arah garisnya naik, sedangkan pada fase baseline A2 arah trendnya juga naik ke atas, walaupun pergerakanya sedikit.
Langkah 4
Menentukan kecenderungan stabilitas pada fase Baseline A1, dalam hal ini menggunkan kriteria stabilitasnya 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 20 x 0,15 = 3 (Rentang stabilitas)
Mean level A1: 0 + 0 + 10 + 20 +20 + 20 + 20 = 90 Mean Level 90 :7 = 12,85
Menentukan batas atas dengan cara :
Mean level + setengah rentang stabilitas = 12,85+ 1,5 = 14,35
Menentukan batas bawah dengan cara :
Mean level – setengah rentang stabilitas = 12,85– 1,5 = 11,35
Menghitung presentase data poin pada kondisi baseline A1 yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 4 : 7 = 0,57% (0,57 x 100 =57,14%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point
dalam rentang 4 dari banyaknya point adalah 7 maka stabilitasnya diketahui 57,14%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase baseline A1 adalah 57,14,%, maka diperoleh hasil Tidak stabil (Vriabel).
Fase Intervensi B
Menentukan Kecenderungan pada intervensi B, dalam hal ini menggunakan kriteria 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 90 x 0,15 = 13,5 (Rentang stabilitas)
Mean level dalam intervensi: 30 + 50 + 60 +60 + 80 + 90 +90 = 460 Mean level = 460 : 7 = 65,71
Menentukan Batas atas dengan cara :
mean level + setengah rentang stabilitas = 65,71 + 6,75 = 72,46
Menentukan Batas bawah dengan cara:
mean level – setengah rentang stabilitas =65,71– 6,75 = 58,96
Menghitung presentase data poin pada kondisi Intervensi B yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 7 : 7 = 1% (1 x 100 = 100%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 7 dari banyaknya point adalah 8 maka stabilitasnya diketahui 100%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena
hasil perhitungan untuk fase Intervensi B adalah 100%, maka diperoleh hasil stabil.
Fase Baseline A2
Menentukan Kecenderungan pada Baseline A2, dalam hal ini menggunakan kriteria 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 90 x 0,15 = 13,5 (Rentang stabilitas)
Mean level dalam intervensi: 80 + 90 + 90 +90 + 90 = 440 Mean level = 440 : 5= 88
Menentukan Batas atas dengan cara :
mean level + setengah rentang stabilitas = 88 + 6,75= 94, 75
Menentukan Batas bawah dengan cara:
mean level – setengah rentang stabilitas = 88 – 6,75 = 81,25
Menghitung presentase data poin pada kondisi Baseline A2 yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 1: 5 = 0,2 (0,6 x 100 = 20%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 1 dari banyaknya point adalah 5 maka stabilitasnya diketahui 20%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase Baeline A2 adalah 20%, maka diperoleh hasil Tidak stabil (Variabel).
Langkah 5
Menentukan kecenderungan jejak data, hal ini sama dengan kecenderungan arah di atas. Oleh karena itu hasil kecenderungan jejak sama dengan kecenderungan arah.
Tabel 53. Kecenderungan jejak subjek (A)
Kondisi A1 B A2
4.
Kecenderungan jejak
(=) (+) (+)
Dengan memperlihatkan kecenderungan jejak di atas maka diketahui bahwa Baseline A1 arah trenya adalah stabil. Pada fase intervensi (B) arah trendnya pun naik ke atas, dan pada fase Baseline A2 arah trendnya juga naik ke atas, meskipun kenaikan tersebut tidak sama dengan kondisi intervensi, namun karena pada kondisi baseline A1 mengalami kesetabilan, maka pada fase baseline A1 ditulis (=), artinya tidak terjadi penurunan, namun tidak dominan pula kenaikanya. Sama halnya dengan dua konsdisi lainya, yaitu kondisi Intervensi (B) dan baseline A2, karena ketiganya mengalami kenaikan, maka ditulis (+), karena tidak mengalami penurunan.
Langkah 6
Menentukan level stabilitas dan rentang: sebagaimana telah dihitung di atas bahwa fase Baseline A1 datanya adalah tidak stabil (Variabel), adapun rentangnya adalah 0-20. Pada fase intervensi B datanya stabil juga dengan rentang antara 30-90. Sedangkan pada fase Baseline A2 datanya adalah variabel atau tidak stabil, dengan rentang antara 80-90.
Tabel 54. Level stabilitas dan rentang subjek (RI)
Kondisi A1 B A2
5. Level stabilitas Variabel Stabil Variabel
dan rentang
0-20
30-80
80-90 Pada sesi ke delapan belas atau sesi ke dua pada kondisi Baseline A2, subjek (A) mengalami kenaikan angka pada posisi 90%, dimana angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan dua kondisi sebelumnya, yaitu pada kondisi Baseline A1 dengan kondisi Intervensi B. Hal ini terjadi karena subjek belum mendapatkan intervensi dari pihak lain sebelumya.
Langkah 7
Menentukan level perubahan dengan cara menanai data pertama (hari ke-1) dan data terakhir (hari ke 7) pada fase Baseline A1. Hitung selisih antara kedua data dan tentukan arahnya naik atau menurun dan beri tanda (+) jika membaik, (-) jika memburuk, (=) jika tidak ada perubahan.
Baseline A1.
Tabel 55. Presentase stabilitas Baseline A1 subjek (A)
Data besar (Hari ke-3) – Data Kecil (hari ke- 1) = Presetase stabilitas 20 – 0 = 20 +)
Intervensi B.
Tabel 56. Presentase stabilitas Intervensi B subjek (HA)
Data besar (Hari ke-13) – Data Kecil (hari ke- 8) = Presetase stabilitas 90 – 30 = 60 (+)
Baseline A2.
Tabel 57. Presentase stabilitas Baseline A2 subjek (HA)
Data besar (Hari ke-18) – Data Kecil (hari ke- 17) = Presetase stabilitas 90 – 80 = 10 (=)
Dengan demikian, level perbahan data dapat ditulis seperti di bawah ini:
Tabel 58. level perubahan subjek (A)
Kondisi A1 B A2
6. Level Perubahan
20-0 (+20)
90-30 (+50)
90-80 (=10)
Tabel di atas menunjukan bahwa fase Intervensi B dan juga fase Baseline A2 mengalami perubahan yang membaik. Hal ini dapat dilihat dari selisih yang ditunjukan bernilai positif.
Tabel 59. Rangkuman Hasil Analisis Visual dalam Kondisi
Kondisi A1 B A2
Panjang Kondisi 7 sesi 7 sesi 5 sesi
Estimasi
Kecenderungan
Arah (+) (+) (=)
Kecenderungan stabil
(Presentase)
57,14%
Variabel
100%
stabil
20%
Variabel Estimasi
Kecenderungan Arah / jarak data
(+) (+) (=)
Rentang Data Variabel
0%- 20% Stabil
30% – 70% Variabel 90% – 80%
Level Perubahan 20% - 0% =
20% (+) 70% - 30% =
50% (+) 90% - 80% = 10% (=)
pemaparan di atas data subjek (A) dapat diambil kesimpulan bahwa, subjek (A) memiliki analisis visual dalam kondisi seagai berikut:
Analisis dalam kondisi (A), grafik kemampuan anak membaca huruf nasal pada Baseline A1 mengalami perubahan, namun tidak secara signifikan, hanya mengalami perubahan dari angka 0% sampai dengan 20% saja. Namun setelah dilakukan Intervensi B berupa pendekatan konseling secara indvidual maka ada taget behavior tersebut mengalami kenaikan kembali yaitu pada angka 30%-70%. Begitu pula fase Baseline A2, yaitu fase dimana intervensi telah dihentikan, pada fase tersebut juga mengalami kenaikan yaitu pada angka 80%-90%. Estimasi kecenderungan arah arah pada baseline A1 naik ke atas namun stabil, pada kondisi intervensi B pun demikian naik ke atas dan kondisi baseline A2 pun mengalami, kesetabilan dengan arah garisnya adalah mendatar.
Kecenderungan stabilitas pada baseline A1 dikatakan Tidak stabil (Variabel)l sebab presentasenya berada pada angka 57,14%, begitu pula pada kondisi Intervensi B tingkat stabilitasnya dikatakan stabil, karena angkanya menunjuk kepada angka 100%. Sedangkan pada kondisi ke tiga, yaitu kodisi Baseline A2 tikatakan mengalami ketidak stabilan atau variabel, karena presentase yang didapat pada kondisi ini hanya berada pada agka 20% saja, dan itu masih di bawah kriteria data yang dikatakan sebagai data yang stabil. Kecenderungan stabilitas ini memakan pedoman jika presentase stabilitasnya sebesar 85% - 90%, maka dikatakan stabil, jika berada di bawahna maka termasuk kedalam kriteria variabel atau tidak stabil (Sunanto, Juang dkk. 2005: 110).
Jejak data pada baseline A1 mengalami kesabilan namun mengalami kenaikan, dengan garis naik ke atas, pada kondisi Intervensi B pun hal serupa kembali dialami, yaitu dengan adanya kenaikan pada jejak data dalam kondisi Intervensi. Yang terakhir adalah jejak data pada kondisi Baseline A2, yaitu dengan mengalami kenaikan namun mendatar, artinya mengalami kenaikan angka, namun lebih mendominsi mendatarnya pada jejak data dalam kondisi Baseline A2.
Level Stailitas pada Baseline A1, mengalami ketidak setabilan (Variabel) dengan level dan rentang datanya berada pada angka 0%-20%.
Sedangkan pada kondisi Intervensi B pun mengalami kesetabilan dengan level dan rentang datanya berada pada angka 30%-70%, dan pada kondisi terakhir yaitu pada kondisi Baseine A2 ini data megalami ketidak stabilan atau (variabel) yaitu pada level dan rentang 80% - 90%. Dari data- datayang sudah disebutkan di atas, maka terlihat pula level perubahan dari setiap kondisi, dan dari kondisi Baseline A1- Intervensi B- sampai dengan Baseline A2, level perubahanya adalah mengarah kepada positif (+).
2) Analisis Antar Kodisi
Kegiatan awal untuk menganalisis antar kondisi adalah memasukan kode kondisi, yaitu kondisi 1 Baseline A1, Kondisi Intervensi B1, dan kondisi Baseline A2.
Langkah 1
Tabel 60. perbandingan kondisi Subjek (A)
Perbandingan Kondisi B1/A1/A2
(2:1:3)
Menentukan Jumlah variabel yang diubah pada data rekaan variabel yang akan diubah dari kondsi Baseline A1 ke Intervensi B1 dan Baseline A2 adalah 1, maka formatnya diisi sebagai berikut:
Perbandingan Kondisi B1/A1/A2
1. Jumlah Variabel yang diubah
1
Jumlah Variabel yang diubah dalam penelitian ini adalah 1 Variabel, yakni Kelancaran membaca huruf nasal.
Langhah 2
Menentukan perubahan kecenderungan arah dengan mengambil data pada analisis dalam kondisi di atas, maka formatnya adalah :
Tabel 61. Perubahan kecenderungan arah pada subjek (A)
Perbandingan Koordinasi B1/A1/A2
2. Perubahan Kecenderungan
arah (+) (+) (=)
Setelah ditentukan arah trendnya maka ditulis kembali dengan perbandingan kondisi, yaitu (+) pada kondisi Intervensi B1 dan Baseline A1, sedangkan pada Baseline A2 mengalami kenaikan namun mendatar (=).
Langkah 3
Menentukan perubahan kecenderugan stabilitas : kecenderungan pada fase Baseline A1, Intervensi B1 dan juga Baseline A2 pada rangkuman analisis dalam kondisi dan memasukan pada format.
Tabel 62. Perubahan kecenderunan perubahan stabilitas Subjek (A)
Perbandingan Koordinasi B1/A1/A2
3. Perubahan Kecenderungan Stabilitas
Variabel ke stabil ke Variabel
Setelah diketahui bahwa kecenderungan stabilitas pada fase Baseline A1 dan Baseline A2 tidak mencapai angka 85%-90%, maka hal ini dikatakan tidak Stabil (Variabel). Sedangkan pada fase Intervensi B kecenderungan stabilitasnya adalah stabil karena mencapai angka 85%-90%.
Langkah 4
Tabel 63. Perubahan Leve subjek (A) Perbandingan
Kondisi
A1/B1 B1/A2
4. Perubahan
Level (1:2)
(20%-30%) (-10%)
(2:3) (90%-80%)
(10%)
Menentukan level perubahan dengan cara : menentukan data point pada kondisi Baseline A1 sesi terakhir (20%) dan kondisi pertama pada Intervensi B yaitu (30%) dan hitung selisihnya (20%-30%) maka dieroleh (-10%). Sedangkan pada kondisi Intervensi B1 pada sesi terakhir adalah (90%) dan kondisi Baseline A2 sesi pertama dalah (80%), maka selisihnya diperoleh (10%).
Langkah 5
Menentukan Overlap pada kondisi Baseline A1 degan Intervensi B dan juga Baseline A2 dengan cara:
a. Melihat kembali batas bawah dan atas pada kondisi Baseline A1
b. Kondisi Intervensi B yang berada pada rentang kondisi Baseline A1 adalah 4
c. Perolehan angka pada langkah (b) dibagi dengan data poin dalam kondisi intervensi B (7) kemudian dikalikan 100, maka hasilnya adalah (4:7) x 100= 57%
d. Kondisi Baseline A2 yang berada pada rentang Intervensi B adalah 5
e. Perolehan angka pada langkah (b) dibagi dengan data point dalam kondisi Baseline A2 (5), kemdian dikalikan 100, maka hasilnya adalah (5:5) x 100 = 100 %
Semakin kecil Overlap maka semakin baik pengaruh intervensi terhadap target behavior. Komponen analisis antar kondisi di atas jika digambarkan dalam rangkuman tabel maka akan terlihat seperti di bawah ini:
Tabel 64. Rangkuman Hasil Analisis Data Antar Kondisi Perbandingan
Kondisi A1: B: A2
Jumlah Variabel yang Berubah
1
Perubahan
Kecenderungan Arah
(+) (+) (=)
Perubahan Kecenderungan Sabilitas
Variabel ke Stabil ke Stabil
Level Perubahan
Level
Perubahan Pada Kondisi B/A1
Level
Perubahan Pada Kondisi B/A2
(20%-30%) =(-10%)
(90%-80%) = (10%) Presenase Overlap
menunjukan
Kondisi B terhadap kondisi A1.
Kondisi B terhadap Kondisi A2.
(4:7) x 100= 57%
(5:5) x 100 = 100 %
Dari tabel di atas dapat disimpulkan dari analisis antar kondisi dari subjek (A) adalah sebagai berikut:
)a Perubahan kecenderungan arah pada kelancaran membaca huruf nasal subjek (A) menuju perubahan yang positif.
)b perubahan kecenderungan stabilitas pada baseline A1 tetap mengalami kesetabilan namun mengalami kenaikan dengan posisi angka berada pada 57,14% namun karena angkaya dibawah 85%-90% maka dianggap tidak stabil (Variabel), begitu pula pada intervensi B sama-sama mengalami kenaikan dan dianggap stabil karena berada pada angka 100%, sama halnya dengan kondisi Baseline A1. Ketiganya mengalami kenaikan yang sama walaupun tidak secara signifikan, namun pada kondisi Baseline A2 walapun mengalami kenaikan tapi dianggap tidak stabil, karena datanya menunjukan hanya berada pada posisi 20% saja.
)c Perubahan level juga terjadi pada kondisi A1 ke B1, namun mengalami penurunan pada kondisi B1 ke A2.
)d Presentase Overlap cukup buuk yaitu 57%dan 100%. Presentase Overlap dikatakan bruk karena semakin kecil presentasenya maka semakin baik.
4. Subjek MP
a. Kondisi Baseline (A1)
Tabel 65. Kondisi Baseline Kemampuan Membaca Huruf Nasal Pada Subjek (MP)
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal
yang dibaca benar Skor
1 Sabtu, 5 Mei 2018 1 10%
2 Senin, 7 Mei 2018 3 30%
3 Rabu, 9 Mei 2018 2 20%
4 Jumat, 11 Mei 2018 2 20%
5 Senin, 14 Mei 2018 2 20%
6 Rabu, 16 Mei 2018 2 20%
Subjek yang terakhir adalah subjek bernama MP, pada kondisi Baseline (A1) hanya dilakukan enam kali sesi, karena memang pada sesi
ke tiga sampai dengan enam, MP menunjukan nilai yang stabil yaitu berada paa angka 20% dan hal itu sudah dianggap cukup oleh peneliti untuk melihat sejauh mana kemampuan yang dimiliki oleh MP pada kondisi Baseline (A1) ini.
b. Kondisi Intervensi(B)
Tabel 66. Kondisi Intervensi Kemampuan Membaca Huruf Nasal Pada Subjek (MP).
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal yang
dibaca benar Skor
7 Senin, 21 Mei 2018 2 20%
8 Rabu, 23 Mei 2018 3 30%
9 Jumat, 25 Mei 2018 3 30%
10 Senin, 28 Mei 2018 2 20%
11 Rabu, 30 Mei 2018 3 30%
12 Jumat, 1 Juni 2018 3 30%
Tabel di atas menunjukan kepada data yang didapat oleh peneliti ketika melakukan penelitian kepada subjek MP, pada kondisi ini sesi diberhentikan pada sesi ke tiga belas, karena pada sesi tersebut anak dianggap sudah cukup untuk mendapatkan Intervensi karena dua hari terakhir pada kondisi Intervensi anak mendapatkan angka 30% dan itu sudah dianggap cukup untuk melihat kemampuan anak dalam melafalkan huruf nasal.