• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Studi literatur

2.1.1. Tradisi Kirab Kebo Bule di Keraton Surakarta Hadiningrat

Suatu kajian sejarah kebudayaan dapat menyoroti keseluruhan perkembangan kebudayaan di suatu daerah atau negara, namun dapat juga secara khusus memberikan sorotan terhadap satu aspek sejarah kebudayaan ataupun salah satu komponen kebudayaan. Komponen suatu budaya adalah apa yang disebut juga sebagai unsur kebudayaan, seperti sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, sistem perekonomian, sistem komunikasi, sistem organisasi sosial. Suatu sejarah budaya yang menyeluruh akan memberikan paparan mengenai perkembangan budaya dengan segala unsur (Sedyawati, 2006:325).

Dalam kerangka luas kajian kebudayaan, masalah estetika sudah jelas merupakan salah satu dari aspek atau unsur kebudayaan. Kesenian beserta nilai-nilai estetikanya merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Tidak hanya kebudayaan diluar negeri, di negara Indonesia yang sering disebut sebagai negara maritim juga memiliki kebudayaan yang sangat melimpah. Bahkan dunia juga sudah mengetahui dan mengakui mengenai ragam budaya Indonesia dan bangunan-bangunan peninggalan bersejarah yang sudah mendunia.

Menurut buku dari Koentjaraningrat budaya berasal dari kata “budhayah” sebagai bentuk jamak dari “buddhi” (Sansekerta) yang berarti “akal”. Kebudayaan Indonesia telah lama menjadi fokus perhatian negara. Di bawah pemerintahan kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan pemerintahan sendiri. Kebijakan budaya telah berupaya untuk mendefinisikan dan mendimensikan sebuah versi budaya yang terkait dengan bahasa, sejarah, aliansi, dan tujuan negara. Seiring meningkatnya sumber daya yang menyebar diseluruh Indonesia (Jones, 2015:21).

(2)

8

Dalam buku Koentjaraningrat yang berjudul “kebudayaan, mentalitet, dan pembangunan” menjelaskan dengan ulasan yang khas dan bermutu dari setiap suku Bangsa, asal bisa mengidentifikasi diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional. Artinya bahwa puncak-puncak kebudayaan daerah atau kebudayaan suku bangsa yang bermutu tinggi dan menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia bila ditampilkan untuk mewakili negara (Nation). Dalam hal ini juga berlaku untuk kesenian lain dari suku yang berada di Indonesia. Dengan beribu gugus kepulauan, beraneka ragam kekayaan serta keunikan kebudayaan, menjadikan masyarakat Indonesia yang hidup di berbagai kepulauan itu mempunyai ciri dan coraknya masing – masing. Hal tersebut membawa akibat pada adanya perbedaan latar belakang, kebudayaan, corak kehidupan, dan termasuk juga pola pemikiran masyarakat. Kenyataan ini menyebabkan Indonesia terdiri dari masyarakat yang berbeda latar budaya, etnik, agama yang merupakan kekayaan nasional dengan kata lain biasa dikaitkan dengan masyarakat “multicultural” (Jones, 2015:22).

Sepanjang sejarah Indonesia terdapat sejumlah kerajaan yang terbentuk diatas atau satuan-satuan masyarakat etnik yang pembentukannya terjadi pada masa prasejarah (Sedyawati, 2006:316). Kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat - istiadat, dan kebiasaan lain (Ratna, 2005:30). Kebudayaan Jawa dapat dipilah dalam tiga hal seperti sistem upcara daur hidup dan sistem upacara daur waktu, adat pergaulan, dan kesenian (Sedyawati, 2006:429). Berbicara kearifan lokal (local wisdom), akan menjadikan suatu hal yang bertentangan tatkala terdapat hal – hal atau ritual – ritual yang dalam kepercayaan agama merupakan suatu hal yang bertentangan dengan nilai – nilai luhur dari ajaran agama. Akan tetapi demi mencari keseimbangan dalam kehidupan, orang – orang yang menjalaninya menganggap kearifan lokal ini merupakan wujud untuk menciptakan kedamaian, keselarasan dengan alam, dan kebahagiaan dalam masyarakat (http://sabdalangit.wordpress.com / 201.isu / more-1631 diakses pada tanggal 7 Desember 2015 pada pukul 11.34WIB).

(3)

9

Malam Satu Suro merupakan salah satu ritus tahunan yang hampir setiap tahun dirayakan oleh sebagian masyarakat Jawa, khususnya pada masyarakat Jawa yang berada di daerah Yogyakarta, Surakarta, dan Solo. Malam Satu Suro merupakan suatu pergantian tahun pada penanggalan Kalender Jawa. Sama halnya dengan tahun baru pada umat Islam yang dimulai dengan tanggal 1 Muharram tahun Hijriah atau sama halnya dengan tahun baru Masehi yang dimulai pada tanggal 1 Januari Tahun Masehi (http: //alihidayat.blog.ugm.ac.id /2010/11/02/tradisi-malam-1-suro-di-surakarta/ diakses pada tanggal 7 Desember 2015 pada pukul 11.39WIB).

Menurut Gusti Pangeran Haryo Puger (Adik kandung raja Keraton Surakarta Hadiningrat) Satu Suro adalah awal tahun Muharam, tahun Islam yang dengan tradisi ritual Jawa kuno. Kraton Mataram menerima dan mengembangkan ide transkulturasi terutama sejak Sultan Agung. Satu suro menjadi bagian penting dari sebuah siklus kehidupan manusia. Dengan menandai bergantinya Naga Dina dan Naga Tahun, yakni berubahnya sifat dan karakter kosmis, berserta dunia gaib, yang secara langsung diyakini mempengaruhi kehidupan manusia dibumi. Wujud dari perilaku eling dan waspada salah satunya dengan cara menjalankan ritual malem Satu Suro. Pada saat datangnya malam tahun baru, orang harus melakukan mesu diri (melakukan laku spiritual) dengan berkosentrasi pada penguasaan diri (mawas diri) selama semalam suntuk. Dalam situasi yang khusyuk tersebut, diri orang Jawa melebur ke dalam dunia yang tengah berubah. Memanjatkan kepada Yang Maha Agung doa dan permohonan serta rasa syukur terhadap berkah dan hidayah yang selama ini diterimanya. Dalam kesempatan ini, seseorang membaca perubahan yang akan terjadi di tahun mendatang. Petunjuk akan apa yang terjadi pada masa depan sangat penting bagi orang Jawa, terutama untuk menyikapi Naga Taun dan mengantisipasi bencana dan menyiapkan berkah yang mungkin bisa diberikan kepadanya.

Menurut Gusti Pangeran Haryo Puger (Adik kandung raja Keraton Surakarta Hadiningrat) pada jaman dahulu malam satu suro di Keraton Surakarta Hadiningrat dilakukan untuk memperingati upacara tasyakuran atas

(4)

10

keberhasilan Sultan Agung dalam mengambil alih kerajaan Majapahit dari penjajah. Pada tahun 1743 raja pertama Keraton Kartosuro melakukan pemberontakan atas penjajahan kaum Cina, kemudian pada tahun 1745 pindah ke desa Solo. Pada tahun tersebut sinuwun raja pertama merupakan raja terakhir dari kerajaan Keraton Kartosuro. Kemudian Sinuwun Pakubuhono ke II bertahta kembali, dan melakukan upacara Wilujengan Naggari Maesolawung untuk mamperingati keberhasilan Sinuwun Pakubuhono pertama. Pada saat Sinuwun Pakubuhono ke II melakukan upacara Wilujengan Naggari Maesolawung. Bupati Ponorogo memberi hadiah yaitu berupa Kebo Bule. Sinuwun Pakubuhono ke II menyembelih Kebo Bule dalam peringatan wilujengan. Pada masa bertahtanya Sinuwun Pakubuhono ke X acara Wilujengan Naggari Maesolawung dilakukan dengan cara mengitari balowarti dengan acara kirab pusaka Kyai Slamet yang di ikuti oleh Kebo Bule atau biasa disebut Kebo Kyai Slamet. Kirab malam Satu Suro adalah medan gaib yang dipercaya mampu mendatangkan berkah. Apa saja yang diperoleh dari Keraton, baik berupa percikan air dari jamasan pusaka, kotoran kerbau bule yang menjadi cucuk lampah, atau apa saja lambang-lambang yang diterima setiap orang yang datang ngalap berkah malam acara kirab berlangsung.

Menurut Kanjeng Winarno (Humas Keraton Surakarta Hadiningrat) Semenjak itulah Kebo Bule dinamakan Kebo Kyai Slamet. Pada bertahtanya Sinuwun Pakubuhono XI acara kirab pusaka tersebut vacum, karena pada masa itu terjadi penjajahan Jepang. Kemudian pada pemerintahan Sinuwun Pakubuhono XII acara kirab pusaka di adakan kembali sampai saat ini.

Ritual tahunan malam Satu Suro pernah mengalami kemunduran. Kebudayaan lokal tampaknya pelan – pelan mengalami ancaman yang mengarah pada kepunahan. Para generasi muda tidak lagi memahami kebudayaannya sehingga dapat mengarah pada lunturnya identitas dan kehilangan karakter. Pemahaman dan minat terhadap aksara, seni, adat – istiadat, mengalami kemunduran. Hampir tidak ada lagi generasi muda yang mengetahui dan memahami aksara, seni, dan adat – istiadat warisan leluhurnya padahal hal itu mengandung nilai budaya berupa kearifan lokal.

(5)

11

Menurut Gusti Pangeran Haryo Puger (Adik kandung raja Keraton Surakarta Hadiningrat) setiap malam satu muharam atau terkenal malam Satu Suro, maka Keraton Solo akan menggelar ritual Jamas dan Kirab Pusaka Keraton, ikut serta juga dalam acara kirab tersebut beberapa ekor Kebo Bule yang biasa di juluki dengan nama Kebo Kyai Slamet. Acara kirab pusaka ini berangkat dari Keraton Solo tepat pada jam 12 malam dan mengelilingi beberapa jalan protokol di kota Solo dengan di iringi oleh punggawa istana dan para pasukan istana. Upacara ini di gelar untuk menghormati dan sekaligus memperingati bulan Suro (Muharam).

Kegiatan Kirab ini hingga sekarang selalu menjadi salah satu momentum yang paling meriah di kota Solo, bahkan dari luar kota dan para turis asing sangat antusias mengikuti acara tradisional tersebut. Apabila upacara kirab yang diikutkan di dalamnya Kebo Kyai Slamet tersebut benar benar sangat di tunggu oleh masyarakat. Acara yang sudah menjadi kegiatan rutin Keraton Surakarta Hadiningrat, selainkan menampilkan mitos dan legenda kebo Kyai Slamet, juga bermacam-macam keris dan Tosan Aji Istan lainnya yang di arak keliling dengan sebuah prosesi upacara spiritual dan kental sekali dengan budaya Jawa (http://forum.detik.com/malam-satu-suro-t98782. html?t=98782 diakses pada 13 Desember 2015 pukul 21.48WIB).

Penulis data – data dari beberapa narasumber bahwa Kebo Bule itu dulunya memang dibiarkan hidup secara bebas, bergerak dari alun-alun Kidul sampai ke berbagai penjuru dan pelosok kota. Menurut Gusti Puger, masyarakat pernah ada yang melihatnya sampai di Ponorogo Jawa Timur yang jaraknya lebih dari 100 km dari Keraton, di Wonogiri dan kota-kota lain. Akan tetapi Kebo Bule sangatlah unik, karena pada saat Keraton Surakarta Hadiningrat memiliki acara yang berkaitan dengan Kebo Bule pasti hewan itu balik dengan sendirinya dan berada di halaman kraton. Penulis sendiri sangat tertarik dengan cerita unik mengenai Kebo Bule tersebut, karena rasa penasaran selalu muncul di masyarakat. Untuk mendapatkan data yang valid mengenai Kebo Bule tersebut maka penulis berusaha mencari data dan mengobservasi langsung Kebo Bule yang dimiliki Keraton Surakarta Hadiningrat.

(6)

12 2.1.2. Dokumenter

Film dapat dibedakan menjadi dua yaitu film fiksi dan film non-fiksi. Film fiksi merupakan film yang dibuat berdasarkan imajinasi manusia, dengan kata lain film ini tidak didasarkan pada kejadian nyata. Sedangkan film non-fiksi adalah film yang dibuat berdasarkan pada kejadian nyata atau benar-benar terjadi kemudian dimasukkan unsur-unsur sinematografi dengan penambahan efek-efek tertentu seperti efek suara, ilustrasi musik, cahaya, angle kamera, skenario atau naskah yang memikat sebagai daya tarik film non-fiksi tersebut.

Awalnya hanya ada dua tipe film non-fiksi, yaitu film aktual dan film dokumentasi (bukan dokumenter). Film faktual masih dapat kita lihat saat menyimak siaran berita televisi. Sedangkan film dokumentasi adalah tayangan video atau rekaman upacara-upacara lain. Dokumenter adalah perkembangan dari konsep film non-fiksi. Selain mengandung fakta, dokumenter juga mengandung subyektifitas pembuatnya. Artinya, apa yang kita rekam berdasarkan fakta yang ada, namun dalam penyajiannya kita juga memasukkan pemikiran-pemikiran, ide-ide kita dan sudut pandang idealisme kita (Fajar, 2007:33). Ciri-ciri dokumenter adalah sebagai berikut :

1. Adanya data-data berupa tanggal. 2. Berbentuk peristiwa.

3. Adanya tokoh-tokoh dan semua unsur yang terkandung didalamnnya. 4. Bersifat faktual dan benar-benar ada.

5. Berbentuk non-fiksi.

Video dokumenter merupakan satu produk audio visual yang menceritakan

suatu fenomena keseharian. Fenomena tersebut cukup pantas diangkat menjadi perenungan bagi penonton. Materi documenter dapat berupa cerita tentang keprihatinan sosial, pengalaman dan pergaulan hidup yang memberikan inspirasi dan pergulatan hidup bagi penonton ,atau kilas balik dan kupasan tentang peristiwa yang pernah terjadi dana ada kaitannya dengan masa sekarang(Brata,2007:2)

(7)

13

Video dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi pendidikan

dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Intinya, video dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin(Javandalasta.2011:2)

Kunci utama dalam video dokumenter merupakan penyajian fakta. Video dokumenter berhubungan dengan tokoh,peristiwa dan lokasi yang nyata.Video dokumenter merupakan peristiwa merekam peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi tidak menciptakan suatu kejadian.

Dalam membuat video dokumenter terdapat criteria dimana video tersebut bagus atau tidak. Berikut ini kriteria video documenter yang bisa dikatakan bagus:

1.Merupakan para pelaku yang sesungguhnya 2.Tidak memiliki tokoh protagonist dan antagonis 3.Struktur film sederhana

4.Film berisi kenyataan atau fakta bukan rekaya

a) Bentuk Video Dokumenter

1.Dokumenter berdasarkan stock shoot

“Program documenter yang berdasarkan stock shoot ini tinggal menyusun daftar shoot yang diperlukan dan mencarinya di perpustakaan. Kekurangan shoot tertentu dengan mudah diupayakan dengan pengambilan baru”(Sutisno,1993:27) 2.Dokumenter yang didramatisir

“Format ini lebih sesuai menggunakan model screenplay teatrikal kerena aspek visual dan aureal dapat diketahui sebelumnya dan dapat direncanakan seperti halnya sebuah drama yang disutradarai”.

3.Dokumenter Model Instruksional

“Jenis format ini termasuk documenter yang sebenarnya shooting-nya tidak dapat direncanakan cepat sebelumnya”. Video dokumenter jenis ini banyak dirancang khusus untuk mengajari penonton bagaimana melakuakan berbagai macam hal yang mereka ingin lakukan.

(8)

14 b) Unsur-unsur Video dokumenter

Di dalam Video dokumenter terdapat dua unsur utama yaitu: 1.Gambar(Visual)

Gambar yang diambil berdasarkan peristiwa tertentu. Orang-orang yang direkam dalam video tersebut, benar-benar ada dan pernah ada, bukan sebagai pameran yang menggantikan seseorang dalam video tersebut.

2.Kata-kata (Verbal)

Kata-kata dalam video documenter berasal dari penuturan langsung dari subyek yang menjadi tokoh dalam video documenter tersebut. Katakata yang dilontarkan biasanya berupa kesaksian atas sejarah maupun peristiwa tertentu. Namun kata-kata tersebut juga berasal narrator atau narasumber untuk menggambarkan peristiwa maupun memberikan keterangan tertentu pada tempat-tempat yang direkam dalam gambar(http://informatika.web.id/pengertian-dan-bentuk-video-dokumenter)

2.1.3. KAMERAMEN

Menurut Gunawan dalam bukunya yang berjudul Proses Produksi Acara Televisi,salah satu yang menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah tayangan program audio visual baik film maupun televisi adalah ketika program tersebut dikemas secara menarik dan enak ditonton. Kolaborasi dari aspek teknis sinematografi dan isi pesan yang disampaikan dalam sebuah tayangan merupakan faktor penentu sebuah tayangan dikatakan menarik atau tidak.

Kamera film atau video yang kita kenal sekarang ini, didominasi oleh kamera dengan lensa tunggal atau single lens camera. Pada era 1970, kamera film dilengkapi dengan minimal tiga lensa. Masing-masing lensa memiliki ukuran sendiri yaitu lensa lebar (wide), lensa normal dan lensa sudut sempit (tele) untuk pengambilan gambar berukuran kecil atau detail pada obyek (Semedhi, 2011:34).

(9)

15

Dalam produksi film juru kamera sangatlah penting dalam hal pengambilan gambar. Dalam pembuatan film kamera merupakan alat yang sangat vital untuk digunakan. Karena tanpa adanya kamera tidaklah mungkin seorang juru kamera menghasilkan sebuah gambar visual. Dalam pembuatan sebuah karya film kamera dipayungi dalam sebuah wadah yang kemudian menangani para kameraman yang disebut “Departemen Kamera”. Departemen Kamera atau tim kerja dalam produksi film terbagi dalam departemen-departemen(Effendi,2008:58) seperti berikut ini :

1. Departemen produksi yang dikepalai oleh produser.

2. Departemen penyutradaraan yang dikepalai oleh sutradara. 3. Departemen kamera yang dikepalai oleh penata fotografi.

4. Departemen artistik yang dikepalai oleh desaigner produksi atau penata artistik.

5. Departemen suara yang dikepalai oleh penata suara. 6. Departemen editor yang dikepalai oleh penata gambar.

Setiap departemen memiliki tugas masing-masing dalam setiap produksi film. Dengan demikian Departemen kamera memiliki peran yang sangat besar dalam sebuah produksi film. Pengertian Departemen kamera sendiri adalah departemen yang bertanggung jawab penuh dalam pengambilan gambar dan memuat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk sebuah

motion pictures (Effendi, 2008:130).

Departemen kamera dikepalai oleh penata fotografi atau biasa disebut dengan D.O.P (Director of Photography). Seorang D.O.P (Director of

Photography) adalah seorang seniman yang melukis dengan cahaya. Biasanya

D.O.P (Director of Photography) harus peka terhadap komposisi dan semua aspek teknik dalam pengambilan gambar ( http://dikiumbara.wordpress.com /category /sinematografi diakses pada 22 Desember 2015 pukul 20.54WIB).

Pada tayangan sebuah film bisa dilihat gambar bergerak dalam berbagai variasi. Kamera gambar bergerak atau movie yang kita ketahui diantaranya adalah kamera film dan kamera digital video.

(10)

16

1. Kamera film digolongkan berdasarkan ukuran film yang dijadikan media rekam, antara lain adalah :

a. Kamera film 8 mm.

b. Kamera film 16 mm (untuk tayangan televisi). c. Kamera film 35 mm (untuk layar lebar).

d. Kamera film 70 mm (untuk film layar lebar cinemascope). e. Kamera film IMAX.

2. Kamera video digolongkan berdasarkan kepada merk, dengan format masing-masing, yaitu :

a. Kamera video Betamax (Sony).

b. Kamera video VHS dan SVHS (Panasonic). c. Kamera video betacam (Sony dan Ikegami). d. Handcam DV.

e. Handycam mini DV.

f. Kamera video DV dan mini DV. g. Kamera video DVD dan memory.

Kamera studio adalah kamera yang digunakan untuk pengambilan gambar didalam studio yang ditandai dengan LCD atau layar monitor diatas badan kamera sebagai panduan juru kamera ketika mengambil gambar (Semedhi, 2008:40).

Dalam pengambilan sebuah gambar video kameraman harus mengetahui komposisi gambar. Komposisi gambar adalah cara untuk meletakkan objek gambar di dalam layar sehingga gambar tampak menarik, menonjol, dan bisa mendukung alur cerita (Semedhi, 2008:41). Juru kamera harus mengetahui 3 komposisi gambar dasar antara lain :

1. Intersection of Thirds (Rule of Thirds).

Kita sebagai manusia dianugerahi kemampuan pandang yang cukup baik, yang dihasilkan oleh kedua mata kita yang diletakkan secara sejajar yang berfungsi sebagai lensa penangkap gambar.

(11)

17 2. Golden Mean Area.

Cara membuat komposisi yang baik, khususnya untuk pengambilan gambar besar atau close up. Gambar close up yang dimaksud adalah gambar yang ditonjolkan ekspresi atau detail muka seseorang atau benda-benda berukuran kecil.

3. Diagonal Depth

Salah satu panduan untuk pengambilan gambar long shoot atau gambar yang melebar dan lebih luas. Juru kamera hendaknya mempertimbangkan gambar long shoot dan unsur-unsur diagonal sebagai komponen gambarnya.

Biasanya juru kamera menerapkan tiga komposisi diatas sebagai pengambilan gambar video sesuai standart. Dari ketiga komposisi tadi kemudian berkembang lagi menjadi beberapa komposisi yang biasa dipakai sampai saat ini (Semedhi, 2008:44-47).

D.O.P (Director of Photography) bertanggung jawab menyiapkan detail-detail pra-produksi, mengkoordinasikan kegiatan staf juru kamera dalam pengambilan gambar video, mengatur blocking kamera dan pada set acara, memilih shoot yang tepat ketika acara berlangsung (dalam produksi

multi-camera), dan mengawasi proses pasca produksi.

Biasanya juru kamera pada film dokumenter harus memahami proses pelaksanaan produksi yang terbagi dalam 3 tahapan yaitu Pra Produksi, Produksi dan Paska Produksi.

1 Pra Produksi

a. Riset atau observasi di lapangan

Meliputi melihat suasana dan kondisi lokasi, penentuan sudut pengambilan gambar, dan memikirkan angle yang akan dipakai dalam pembuatan sebuah film dokumenter.

b. Pemilihan kerabat kerja

Pemilihan ini sesuai dengan bidang masing-masing dan tanggung jawab masing-masing crew.

(12)

18 c. Pemilihan lokasi

Mencari lokasi syuting yang sesuai dengan adegan didalam cerita atau naskah yang sudah ada dan sudah di observasi.

d. Perencanaan produksi

Sebelum melaksanakan syuting, D.O.P (Director of Photography) harus mempersiapkan daftar angle pada obyek yang terlebih dahulu diambil gambarnya.

e. Memeriksa peralatan

Memeriksa peralatan adalah penting. Dengan demikian kita akan mengetahui peralatan mana yang rusak namun bisa digunakan, peralatan mana yang siap pakai atau peralatan apa saja yang perlu ditambah dalam pengambilan gambar saat syuting.

f. Meninjau ulang lokasi shooting

Memeriksa ulang keadaan tempat syuting sebaiknya dilakukan satu hari sebelum proses syuting berlangsung, agar dapat menyiapkan peralatan seperlunya untuk syuting di tempat itu dan mengatur penyimpanan alat.

2 Produksi

Dalam proses produksi, seluruh kru mempersiapkan dan melakukan pengecekan alat yang digunakan dalam proses produksi. Seperti kamera yang digunakan penggunakan lighting dan audio. Setelah itu melakukan pengambilan gambar sesuai dengan shooting list.

Secara standar terdapat 3 tipe shot yaitu Long Shoot (LS),Medium Shoot (MS) dan Close Up (CU) .

a) LONG SHOOT (LS) : Shot jarak jauh untuk memperlihatkan hubungan subjek dengan latar belakangnya, umumnya dipakai untuk memberikan orientasi atau establishing shoot. Bisa juga sebagai shoot untuk menimbulkan suasana yang memperlihatkan arah, tujuan dan maksud dari suatu gerakan.

(13)

19

Yang masuk dalam kelompok LS antara lain Extreme Long Shoot (XLS/ELS), Long Shoot (LS), Medium Long Shoot/Full Shoot (MLS/FS).

1) Extreme Long Shoot

Gambar suasana tidak mempunyai batasan ukuran, sedangkan objek hampir tidak terlihat. Untuk pengambilan subjek yang sangat jauh, subjek itu sendiri sudah hampir tidak kelihatan, karena lebih mengutamakan latar belakang untuk memberikan informasi tempatnya. Shoot ini menggunakan lensa bersudut lebar dan biasanya diambil dari suatu ketinggian.

2) Long Shoot

Gambar suasana dimana batasan objek sepertiga dari gambar, latar belakang lebih dominan. Shoot ini untuk memperlihatkan hubungan subjek dengan latar belakangnya, umumnya dipakai untuk memberikan orientasi atau establishing shoot.

3) Full Shoot

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai ujung kaki, sementara latar belakang masih menjadi bagian dari frame.

b) MEDIUM SHOOT (MS) : Objek orang yang diambil dengan MS akan tampak dari kepala sampai kira-kira ke pinggang. Shot ini menjembatani antara LS dengan CU.

Yang masuk dalam kelompok MS antara lain Medium Shoot (MS),

Knee Shoot (KS). 1) Medium Shoot

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai pinggang.

2) Knee Shoot

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai lutut, latar belakang masih dalam bagian frame.

(14)

20

c) CLOSE UP (CU) : Jarak kamera yang mengambil bagian suatu objek, sub-objek. Atau bisa diartikan Shoot penekanan untuk mengundang perhatian terhadap suatu aspek dari subjek. Dalam kaitannya subjek adalah manusia, maka shot pada bagian wajah saja, tangan saja, dada saja, atau kaki saja. Shot ini mudah menimbulkan reaksi, dan tanggapan.

Yang termasuk dalam kelompok CU antara lain Medium Close Up (MCU), Close Up (CU), Big Close Up (BCU), Very Close Up (VCU),

Extreme Close Up (XCU/ECU). 1) Medium Close Up

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai dengan dada.

2) Close Up

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai pundak.

3) Big Close Up

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai dengan dagu.

4) Very Close Up

Gambar objek dimana batasan objek mulai dahi/antara pelipis dengan rambut sampai dagu.

5) Extreme Close Up

Gambar detail sebagian anggota tubuh objek, juga bisa untuk memperlihatkan benda kecil dari dekat atau memperlihatkan bagian yang diperbesar dari sebuah benda atau bagian manusia, misalnya tangan, hidung, mata, telinga.

Bahasa pergerakan kamera terbagi dalam dua kategori : Kamera Diam (Still) dan Kamera Bergerak (Move).

KAMERA DIAM/STILL : bagian mounting diam, yang bergerak hanya lensa dan camera head.

(15)

21

1.ZOOM : pergerakan elemen-elemen lensa sehingga mempengaruhi adanya perubahan sudut pandang (view of angle) dan ukuran gambar (picture size).

i. ZOOM IN (ZI) : teknik pengambilan gambar dengan pergerakan lensa dari wide angle lens/gambar yang luas menuju narrow angle

lens/gambar yang lebih sempit ke satu objek. Gambar objek

menjadi besar dan seakan-akan datang mendekat ke penonton dengan latarbelakang sedikit kabur/soft focus/out focus/blur.

Tujuan : memperlihatkan dalam suasana ini terdapat objek yang dinilai penting.

ii. ZOOM OUT (ZO) : teknik pengambilan gambar dengan pergerakan lensa dari narrow angle lens/gambar sempit menuju

wide angle lens/gambar yang lebih luas dengan objek yang sama.

Gambar objek menjadi kecil seakan menjauhi penonton dengan latar belakang menjadi jelas/in focus.

Tujuan : memperlihatkan objek utama berada didalam suasana tersebut.

b) BERGERAK/MOVE : semua bagian kamera, lensa camera

head-mounting ikut bergerak.

1.TRACKING : pengambilan gambar dengan pergerakan seluruh badan kamera pada bidang horisontal mendekati/menjauhi objek tanpa pergerakan lensa, sehingga mempengaruhi adanya perubahan sudut pandang (view of angle) dan ukuran gambar (picture size).

i.TRACK IN : kamera bergerak perlahan menuju atau mendekati objek. Makna psikologis gambar : adanya rasa ketegangan pada objek yang akan dituju, meningkatkan pusat perhatian dan rasa ingin tahu, memberi kesan penonton seolah-olah bergerak ke arah objek utama, background menjadi out focus/blur.

ii.TRACK OUT : kamera bergerak perlahan menjauhi objek. Makna

(16)

22

ketegangan/rasa ingin tahu, ada kelegaan pada objek utama, memberi kesan penonton seolah-olah bergerak menjauhi objek utama, background menjadi in focus.

2.PANORAMA (PAN) : pergerakan kamera pada bidang horisontal atau

kamera menoleh (dari kiri ke kanan atau sebaliknya) sesuai kecepatan yang diinginkan, kamera tetap pada porosnya.

Tujuan : untuk mengikuti arah gerakan objek ke kiri (Pan Left) atau ke kanan (Pan Right), menunjukkan panorama atau pemandangan di sekitar lokasi (sebelah kiri/kanan), menghubungkan satu unsur gambar yang terkait dengan unsur gambar lainnya.

i.PAN LEFT : kamera bergerak menoleh ke kiri dari objek utama. ii.PAN RIGHT : kamera bergerak ke kanan objek utama.

3.TILT : pergerakan kamera pada bidang vertikal (dari atas ke bawah

atau sebaliknya) atau kamera menunduk-mendongak, kamera tetap pada porosnya.

i. TILT UP : kamera bergerak mendongak. Tujuan untuk menunjukkan

ketinggian atau bagian tertinggi dari suatu unsur gambar, adanya rasa keingintahuan apa yang ada kemudian, menghubungkan unsur gambar yang satu dengan yang lain dari bawah ke atas, memvisualisasikan panorama di atas objek utama.

ii. TILT DOWN : kamera bergerak menunduk. Tujuan : untuk

menunjukkan bagian terendah dari suatu objek atau menunjukkan keberadaan objek dibawah, menghubungkan unsur gambar terkait dari atas ke bawah, menunjukkan panorama di bawah objek utama.

3.Paska Produksi

Setelah melakukan produksi memasuki tahap paska produksi yang terdiri dari back up file proses syuting ,editing on line ,editing off line, proses dubbing, mixing audio video. Berikut tahapan proses editing :

(17)

23 a) Capture

Proses Capture berguna untuk memindahkan hasil rekaman yang disimpan dalam kaset MiniDV dari kamera ke dalam komputer untuk dijadikan sebuah file dengan format video.

b)Rough Cut

File-file hasil capture dan clip hasil impor masih merupakan

potongan-potongan kasar yang masih harus dilakukan pemilihan atau penyortiran final untuk membuat suatu cerita.

(18)

24

Sutradara)Salah satu yang menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah tayangan program audio visual baik film maupun televisi adalah ketika program tersebut dikemas secara menarik dan enak ditonton. Kolaborasi dari aspek teknis, sinematografi dan isi pensan yang disampaikan dalam sebuah tayangan merupakan faktor penentu sebuah tayangan dikatakan menarik atau tidak.

Menurut kamus film, seorang yang memegang tanggung jawab tertinggi terhadap aspek kreatif baik yang bersifat penafsiran maupun teknik pada pembuatan film. Disamping mengatur permainan dalam akting dan dialog, dia juga menetapkan posisi kamera, suara, prinsip penataan cahaya serta segala bumbu yang mempunyai efek dalam penciptaan film secara utuh.

Pengetahuan dasar yang disyaratkan untuk menguasai pengetahuan pengarah acara atau sutradara adalah seorang pengarah acara (sutradara) harus memahami tipe suatu program, menguasai manajemen produksi, mendalami sinematografi, mampu menggunakan peralatan produksi dan dapat menterjemahkan gagasan kedalam eksekusi sebuah program acara.

Sutradara merupakan jantungnya sebuah acara karena sangat bertanggung jawab terhadap hasil akhir acara itu ,baik secara audio (suara) maupun visual (gambar) Sutradara juga disebut sebagai pencipta karena ia menciptakan sebuah ide dalam bentuk tulisan menjadi bentuk gambar atau visual (Dennis, 2008: 2).

Tuntutan dari seorang sutradara adalah harus kreatif. Maksudnya kreatif , bisa melahirkan ide-ide cemerlang. Sebagai seorang pemimpin, sutradara dituntut untuk mengetahui dan memahami bidang lain yang digeluti para crew

(19)

25

dalam tim produksinya. Sutradara harus mengerti hal-hal yang berkaitan dengan cerita, kamera, lighting, suara dan segala yang berhubungan dengan proses produksi. Sutradara juga harus bisa berkomunikasi secara baik dengan para crew yang ada dalam tim produksi. Tugas sutradara adalah menciptakan sebuah karya yang menarik dari ide yang dicetuskan atau yang diberikan penulis naskah.

Menurut Dennis dalam bukunya yang berjudul sutradara, terdapat 6 jenis sutradara yaitu sutradara film,sutradara televisi,sutradara dokumenter,sutradara iklan ,sutradara video klip,sutradara profil perusahaan. Menurut Naratama, menjadi seorang sutradara harus memiliki modal sebagai berikut :

1. Leadership ( jiwa kepemimpinan)

Sesuai dengan tugas dan wewenangnya sebagai orang yang paling bertanggung jawab pada sebuah karya produksi film atau televisi atau dokumenter, seorang sutradara harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat dan mampu mengkoordinasikan proses kerja dari seluruh tim atau crew produksi. Jiwa kepemimpinan ini harus disertai dengan kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda-beda dalam setiap produksi.

2. Imajinasi Kreatif

Untuk mencapai titik tertinggi dalam penciptaan sebuah karya, sutradara harus memiliki kemampuan berimajinasi dengan kreatif, instan dan inovatif. Daya imajinasi kreatif ini didapat dari kepekaan atas rasa seni artistik dalam melihat warna, bentuk , karakter, komposisi hingga bahasa fiksi yang muncul dilingkungan sekitarnya.

3. Penggila Dunia Fiksi

Dunia penyutradaraan erat kaitannya dengan dunia penciptaan, dimana karya-karya yang diproduksi adalah karya-karya yang diciptakan.

4. Berjiwa Petualang

Karena tantangan dalam setiap pembuatan produksi film selalu berbeda setiap waktu , maka sutradara harus memiliki jiwa petualang. 5. Wawasan dan Pengetahuan

(20)

26

Sutradara harus punya wawasan dan pengetahuan luas seperti tentang sejarah dokumenter, sejarah televisi, sistem penyiaran dan komunikasi massa.

6. Berani menghadapi tantangan Deadline

Pengarah Acara bertanggung jawab menyiapkan detail-detail pra-produksi, mengokordinasikan kegiatan staf produksi dan on-camera

talent (pengisi acara yang tampil didepan kamera), mengatur blocking

kamera dan pemain atau talent pada set acara, memilih shot yang tepat ketika acara berlangsung (dalam produksi multi-camera), dan mengawasi proses pasca produksi. Disamping itu seorang Pengarah Acara bertugas membentuk kru/kerabat kerja dan pengisi acara menjadi sebuah tim dan mengarahkan hasil kerja setiap orang yang terlibat.

Seorang sutradara dokumenter harus memahami proses pelaksanaan produksi yang terbagi dalam 3 tahapan yaitu Pra Produksi, Produksi dan Pasca Produksi.

3 Pra Produksi

g. Riset atau observasi di lapangan

Meliputi pencarian data–data , metode pengumpulan data, studi pustaka, danijin produksi.

h. Persiapan naskah atau skenario

Dalam proses ini dibuat suatu alur cerita yang diinginkan oleh sutradara sebagai penyusun naskah untuk kemudian dibuat filmnya.

i. Pemilihan kerabat kerja

Pemilihan ini sesuai dengan bidang masing-masing dan tanggung jawab masing-masing crew.

j. Pemilihan narasumber

Mencari narasumber yang dapat memahami materi dan detail jawabanya ketika memberikan penjelasan.

(21)

27

Mencari lokasi syuting yang sesuai dengan adegan didalam cerita atau naskah yang sudah ada dan sudah di observasi.

l. Perencanaan produksi

Sebelum melaksanakan syuting, kita harus mempersiapkan daftar jadwal obyek yang terlebih dahulu diambil gambarnya. m. Memeriksa peralatan

Memeriksa peralatan adalah penting. Dengan demikian kita akan mengetahui peralatan mana yang rusak namun bisa digunakan, peralatan mana yang siap pakai atau peralatan apa saja yang perlu ditambah.

n. Meninjau ulang lokasi shoting

Memeriksa ulang keadaan tempat syuting sebaiknya dilakukan satu hari sebelum proses syuting berlangsung, agar dapat menyiapkan peralatan seperlunya untuk syuting di tempat itu dan mengatur penyimpanan alat serta mencari pos untuk kru beristirahat.

o. Perhitungan anggaran

Perhitungan anggaran perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah dana yang diperlukan syuting dari awal hingga akhir. Mulai dari pengeluaran untuk konsumsi, biaya akomodasi dan keperluan lainya.

4 Produksi

Dalam proses produksi, seluruh kru mempersiapkan dan melakukan pengecekan alat yang digunakan dalam proses produksi. Seperti kamera yang digunakan, penggunakan lighting, dan audio. Setelah itu melakukan pengambilan gambar sesuai dengan shoting list.

Secara standart terdapat 3 tipe shot yaitu Long Shot (LS), Medium

Shot (MS) dan Close Up (CU) .

1) Long Shot (LS) : Shot jarak jauh untuk memperlihatkan hubungan

(22)

28

memberikan orientasi atau establishing shot. Bisa juga sebagai shot untuk menimbulkan suasana yang memperlihatkan arah, tujuan dan maksud dari suatu gerakan. Yang masuk dalam kelompok LS antara lain Extreme Long Shot (XLS/ELS), Long Shot (LS),

Medium Long Shot atau Full Shot (MLS/FS).

4) Extreme Long Shot

Gambar suasana tidak mempunyai batasan ukuran, sedangkan objek hampir tidak terlihat. Untuk pengambilan subjek yang sangat jauh, subjek itu sendiri sudah hampir tidak kelihatan, karena lebih mengutamakan latar belakang untuk memberikan informasi tempatnya. Shot ini menggunakan lensa bersudut lebar dan biasanya diambil dari suatu ketinggian.

5) Long Shot

Gambar suasana dimana batasan objek sepertiga dari gambar, latar belakang lebih dominan. Shot ini untuk memperlihatkan hubungan subjek dengan latar belakangnya, umumnya dipakai untuk memberikan orientasi atau

establishing shot. 6) Full Shot

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai ujung kaki, sementara latar belakang masih menjadi bagian dari frame.

2) Medium Shot (MS) : Objek orang yang diambil dengan MS akan

tampak dari kepala sampai kira-kira ke pinggang. Shot ini menjembatani antara LS dengan CU. Yang masuk dalam kelompok MS antara lain Medium Shot (MS), Knee Shot (KS).

a. Medium Shot

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai pinggang.

(23)

29

b. Knee Shot

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai lutut, latar belakang masih dalam bagian frame.

3) Close Up (CU) : Jarak kamera yang mengambil bagian suatu objek,

sub-objek. Atau bisa diartikan Shot penekanan untuk mengundang perhatian terhadap suatu aspek dari subjek. Dalam kaitannya subjek adalah manusia, maka shot pada bagian wajah saja, tangan saja, dada saja, atau kaki saja. Shot ini mudah menimbulkan reaksi, dan tanggapan. Yang termasuk dalam kelompok CU antara lain

Medium Close Up (MCU), Close Up (CU), Big Close Up (BCU), Very Close Up (VCU), Extreme Close Up (XCU/ECU).

1) Medium Close Up

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai dengan dada.

2) Close Up

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai pundak.

3) Big Close Up

Gambar objek dimana batasan objek mulai ujung kepala sampai dengan dagu.

4) Very Close Up

Gambar objek dimana batasan objek mulai dahi atau antara pelipis dengan rambut sampai dagu.

5) Extreme Close Up

Gambar detail sebagian anggota tubuh objek, juga bisa untuk memperlihatkan benda kecil dari dekat atau memperlihatkan bagian yang diperbesar dari sebuah benda atau bagian manusia, misalnya tangan, hidung, mata, telinga.

Bahasa pergerakan kamera terbagi dalam dua kategori : Kamera Diam (Still) dan Kamera Bergerak (Move).

(24)

30

1. Kamera diam atau STILL : bagian mounting diam, yang

bergerak hanya lensa dan camera head. 1) Zoom

pergerakan elemen-elemen lensa sehingga mempengaruhi adanya perubahan sudut pandang (view of

angle) dan ukuran gambar (picture size).

i. Zoom in (ZI) : teknik pengambilan gambar dengan pergerakan lensa dari wide angle lens/gambar yang luas menuju narrow angle lens/gambar yang lebih sempit ke satu objek. Gambar objek menjadi besar dan seakan-akan datang mendekat ke penonton dengan latarbelakang sedikit kabur atau soft focus atau out

focus atau blur. Tujuan : memperlihatkan dalam

suasana ini terdapat objek yang dinilai penting.

ii. Zoom out (ZO) : teknik pengambilan gambar dengan pergerakan lensa dari narrow angle lens atau gambar sempit menuju wide angle lens atau gambar yang lebih luas dengan objek yang sama. Gambar objek menjadi kecil seakan menjauhi penonton dengan latar belakang menjadi jelas atau in focus. Tujuan : memperlihatkan objek utama berada didalam suasana tersebut.

2. Kamera bergerak atau MOVE : semua bagian kamera, lensa camera head-mounting ikut bergerak.

a. Tracking : pengambilan gambar dengan pergerakan seluruh badan kamera pada bidang horisontal mendekati atau menjauhi objek tanpa pergerakan lensa, sehingga mempengaruhi adanya perubahan sudut pandang (view of

angle) dan ukuran gambar (picture size).

i. Track in : kamera bergerak perlahan menuju atau mendekati objek. Makna psikologis gambar : adanya

(25)

31

rasa ketegangan pada objek yang akan dituju, meningkatkan pusat perhatian dan rasa ingin tahu, memberi kesan penonton seolah-olah bergerak ke arah objek utama, background menjadi out

focus/blur.

ii. Track out : kamera bergerak perlahan menjauhi objek. Makna psikologis gambar : mengurangi titik perhatian dan mengurangi ketegangan/rasa ingin tahu, ada kelegaan pada objek utama, memberi kesan penonton seolah-olah bergerak menjauhi objek utama, background menjadi in focus.

b. Panorama (PAN) : pergerakan kamera pada bidang horisontal atau kamera menoleh (dari kiri ke kanan atau sebaliknya) sesuai kecepatan yang diinginkan, kamera tetap pada porosnya. Tujuan : untuk mengikuti arah gerakan objek ke kiri (Pan Left) atau ke kanan (Pan Right), menunjukkan panorama atau pemandangan di sekitar lokasi (sebelah kiri/kanan), menghubungkan satu unsur gambar yang terkait dengan unsur gambar lainnya.

i. Pan left : kamera bergerak menoleh ke kiri dari objek utama.

ii. Pan right : kamera bergerak ke kanan objek utama.

c. Tilt : pergerakan kamera pada bidang vertikal (dari atas ke bawah atau sebaliknya) atau kamera menunduk-mendongak, kamera tetap pada porosnya.

i. Tilt up : kamera bergerak mendongak. Tujuan: untuk menunjukkan ketinggian atau bagian tertinggi dari suatu unsur gambar, adanya rasa keingintahuan apa yang ada kemudian, menghubungkan unsur

(26)

32

gambar yang satu dengan yang lain dari bawah ke atas, memvisualisasikan panorama di atas objek utama.

ii. Tilt down : kamera bergerak menunduk. Tujuan : untuk menunjukkan bagian terendah dari suatu objek atau menunjukkan keberadaan objek dibawah, menghubungkan unsur gambar terkait dari atas ke bawah, menunjukkan panorama di bawah objek utama.

5 Pasca Produksi

Setelah melakukan produksi memasuki tahap paska produksi yang terdiri dari back up file proses syuting , editing on line, editing off line, proses dubbing, mixing audio video. Berikut tahapan proses editing :

b) Capture

Proses Capture berguna untuk memindahkan hasil rekaman yang disimpan dalam kaset MiniDV dari kamera ke dalam komputer untuk dijadikan sebuah file dengan format video.

c) Rough Cut

File-file hasil capture dan clip hasil impor masih merupakan

potongan-potongan kasar yang masih harus dilakukan pemilihan atau penyortiran final untuk membuat suatu cerita.

Referensi

Dokumen terkait

Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada penderita saja, melainkan juga pada orang tuanya. Mengapa demikian? Siapapun orangnya

Yamaha Agung Motor Semarang dalam proses order picking menggunakan strategi S­Shape, yaitu dengan menyisir seluruh gudang penyimpanan untuk mengambil barang yang telah dipesan

PRAKTIK KERJA LAPANG MANAJEMEN KUALITAS AIR PADA BUDIDAYA UDANG VANAMEI (Litopenaeus vannamei) DI PT. SURYA WINDU KARTIKA DESA BOMO KECAMATAN.. ROGOJAMPI

Penelitian yang dilakukan bersifat Research and Development (R&D), dengan tahapan penelitian adalah mengembangkan bahan ajar melalui pengayaan materi,

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, jenis penelitiannya adalah penelitian Quasi Experimental (eksperimen semu) dengan desain penelitian Non Equivalent

Table matrik ini untuk !etiap pa!angan kriteria-kriteria, ukuran Table matrik ini untuk !etiap pa!angan kriteria-kriteria, ukuran kuantitati dan kualitati dari eek yang

Sebaliknya individu yang memiliki tingkat pe- ngetahuan tentang agama yang rendah akan melakukan perilaku seks bebas tanpa berpikir panjang terlebih dahulu sehingga

DESKRIPSI UNIT : Unit ini menjelaskan pengetahuan dan kemampuan aplikasi perawatan badan dalam spa dengan tehnik merempahi tubuh and gerakan untuk mengangkat sel- sel kulit