Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 1 PENGARUH KESEIMBANGAN ENERGI-PROTEIN DALAM RANSUM
TERHADAP KUALITAS SEMEN ITIK RAMBON
EFFECT OFENERGY-PROTEIN BALANCEINFEED RATIONS ON SEMEN QUALITY OF RAMBON DUCK
Dian Yusmeidianty* , Nurcholidah Solihati, Siti Wahyuni Universitas Padjadjaran
*Alumni Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian tentang pengaruh keseimbangan energi-protein dalam ransum terhadap kualitas semen itik Rambondilaksanakan pada bulan Januari 2015 diLocal Ducks Breeding Station dan Laboratorium Reproduksi Ternak dan Inseminasia Buatan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keseimbangan energi-protein dalam ransum terhadap kualitas semen itik Rambon. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semen segar itik Rambon, NaCl fisiologis, pewarna eosin dan alkohol. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan yaitu P1 =(EM 3000 kkal/kg, Protein 20%), P2 =(EM 3000 kkal/kg, Protein 16%), P3 = (EM 3000 kkal/kg, Protein 13,5%), P4 = (EM 2700 kkal/kg, Protein 20%), P5 = (EM 2700 kkal/kg, Protein 16%) dan P6 = (EM 2700 kkal/kg, Protein 13,5%) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan energi-protein dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kualitas semen itik Rambon baik terhadap motilitas maupun abnormalitasnya. Perlakuan dengan keseimbangan energi 2700 kkal dan protein 13,5% memberikan pengaruh paling baik diantara perlakuan lainnya.
Kata kunci : kualitas semen, energi-protein, itik Rambon
ABSTRACT
Research on effect of the energy-protein balance in feed rations on semen quality of Rambonduck was held on January 2015 at in Local Ducks Breeding Station and Laboratory of AnimalReproductionandArtificialInsemination Faculty of Animal Husbandry, University of Padjadjaran.The purpose of research was to find out about effect of the energy-protein balance in feed rations on semen quality of Rambonduck. Materials usedinthis research werefreshsemenof Rambon duck, physiologicalNaCl, dyeeosinandalcohol.This research was conducted with experimental methods. The design used was Completely Randominzed Design (CDR) with six treatments consisted of P1 =(EM 3000 kcal/kg, Protein 20%), P2 =(EM 3000 kcal/kg, Protein 16%), P3 = (EM 3000 kcal/kg, Protein 13,5%), P4 = (EM 2700 kcal/kg, Protein 20%), P5 = (EM 2700 kcal/kg /kg, Protein 16%) dan P6 = (EM 2700 kcal/kg, Protein 13,5%) with three replications. The results showthatenergy-protein balancein diet significantly(P <0.05) affectedmotilityandabnormality ofRambonducksemen. Treatment with Energy 2700 kcal/kg /kg and Protein 13,5% provide the excellent effect than other treatments. Keywords : semen quality, energy-protein, Rambon duck
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 2 PENDAHULUAN
Itik Rambon merupakan itik lokal Indonesia yang banyak dipelihara di Jawa Barat terutama daerah Cirebon. Itik Rambon telah diternakkan secara turun temurun merupakan itik petelur yang potensial. Itik ini memiliki keunggulan konsumsi pakan rendah dan ukuran telur sedang. Ciri umum itik ini adalah postur tubuh sedang dan bulu berwarna coklat atau tutul coklat agak jelas. Paruh berwarna hitam, kulit berwarna putih dan sisik kaki (shank) berwarna hitam (Setioko dkk., 2005). Itik ini telah ditetapkan sebagai Sumber Daya Genetik (SDG) Hewan asli Indonesia dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 700/Kpts/PD. 410/2/2013 tanggal 13 Februari 2013 tentang Penetapan Rumpun Itik Rambon (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, 2014).
Produktivitas seekor ternak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan seperti tatalaksana pemberian ransum yang menyangkut nutrisi yang terkandung di dalamya. Ransum terdiri dari berbagai komponen nutrisi yang berguna untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, aktivitas, produksi dan reproduksi. Komponen dalam ransum yang sangat diperlukan diantaranya energi dan protein.
Itik Rambon merupakan plasma nutfah asli Indonesia, namun hingga saat ini penelitian yang berhubungan dengan itik Rambon masih sangat minim, sehingga informasi mengenai itik Rambon
secara spesifik masih sangat sulit ditemukan. Minimnya informasi juga menyulitkan peternak untuk mengetahui susunan ransum yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dan keperluan produksi ternak. Begitu pula dengan hubungan antara ransum dengan fisiologi reproduksi, dalam hal ini kualitas semen yang dihasilkan oleh itik jantan masih belum banyak diketahui berapa keseimbangan energi-protein yang optimal untuk mendapatkan kualitas semen yang optimal pula.
Berdasarkan penelitian sejenis pada jenis ternak lain adanya perubahan kualitas ransum berdampak pada kualitas semen yang dihasilkan, namun penelitian mengenai pengaruh keseimbangan energi-protein terhadap kualitas semen itik masih belum banyak dilakukan. Penilaian terhadap kualitas semen yang dihasilkan oleh ternak dilakukan secara secara makroskopis dan mikroskopis. Salah satu faktor yang paling menentukan dalam penilaian kualitas semen adalah motilitas dan abnormalitas spermatozoa. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti pengaruh level energi-protein dalam ransum terhadap kualitas semen Itik Rambon.
BAHAN DAN METODE Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu semen itik, pewarna eosin, alcohol, NaCl Fisiologis 0,9% dan NaCl 3%. Semen yang digunakan pada
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 3 penelitian ini dikeluarkan dari Itik
Rambon jantan umur sembilan bulan. Itik ditempatkan ke dalam kandang secara koloni sesuai perlakuan. Ransum yang diberikan sama sejak DOD hingga dewasa, sehingga tidak dibedakan menurut kebutuhan pada setiap fase pertumbuhan itik.
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu set penampung semen atau alat hisap, tempat ransum dan air minum, mikroskop, objek glass dan cover glass, pipet, batang pengaduk,
pembakar bunsen, counter, tissue, satu set haemocytometer dan pH paper.
Ransum Penelitian
Bahan pakan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian terdiri atas jagung, dedak padi, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, tepung tulang, minyak kelapa dan premix, dengan keseimbangan energi-protein ransum. Bahan pakan penyusun ransum tersebut dibuat dalam bentuk mash.
Tabel 1. Kandungan Gizi Ransum Penelitian
Perlakuan P1 P2 P3 P4 P5 P6 ... (%) ... PK* 19,64 15,84 13,87 19,62 14,96 13,35 LK 5,93 6,44 6,80 5,54 5,84 6,64 SK 3,83 3,75 3,51 5,09 5,16 4,90 Ca 1,03 1,03 1,05 1,05 1,05 1,04 P 0,61 0,61 0,62 0,62 0,62 0,62 Lysin 1,17 0,88 0,70 1,19 0,87 0,73 Met+Cys 0,78 0,66 0,59 0,80 0,67 0,62 EM (kkal/kg)* 2938 3041 2959 2707 2781 2726
Keterangan : 1. Hasil Perhitungan
2. *Hasil Analisis Lab. Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran
P1 = perlakuan 1 P2 = perlakuan 2 P3 = perlakuan 3
P4 = perlakuan 4 P5 = perlakuan 5 P6 = perlakuan 6
Metode Penelitian
Rangkaian penelitian ini dilaksanakan dalam enam tahap, yaitu :
Tahap Persiapan; sebelum melakukan penampungan, alat-alat yang digunakan harus dalam keadaan bersih dan steril serta suhunya sama dengan suhu sperma. Untuk itu, perlu dilakukan sterilisasi alat untuk mencegah hal-hal yang dapat
menyebabkan terjadinya kontaminasi dengan bakteri yang dapat menurunkan kualitas sperma. Alat-alat yang sudah disterilisasi kemudian dikemas dengan aluminium foil dan disimpan pada suhu 370C sebelum digunakan.
Tahap Penampungan Semen; semen ditampung dengan menggunakan alat penampung semen yang dilakukan pada
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 4 pagi hari pukul 07.00 WIB sampai selesai.
Penampungan dan analisis semen dilakukan langsung di Local Ducks Breeding Station.
Tahap Evaluasi Semen; Evaluasi semen dilakukan dengan pengamatan makroskopis meliputi pengamatan terhadap warna, konsistensi, pH dan volume yang dapat diamati langsung setelah semen ditampung. Sementara pengamatan mikroskopis meliputi pengamatan terhadap motilitas dan abnormalitas spermatozoa.
Parameter yang Diamati
1. Motilitas, pengukurannya dilakukan dengan menggunakan pipet haemocytometer. Motilitas spermatozoa dilakukan dengan menghitung spermatozoa total dikurangi spermatozoa mati lalu dikali 100%. Perhitungan spermatozoa yang mati dilakukan dengan cara semen dihisap sampai tanda 0,5 kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis 0,9% sebanyak 200 kali dengan cara menghisap NaCl fisiologis 0,9% sampai tanda 101. Pipet haemocytometer digerakkan membentuk angka delapan agar homogen selama 2-3 menit. Kemudian satu tetes ditempatkan pada gelas penutup pada kamar hitung Neubauer, dan diamati dibawah mikroskop dalam lima arah kamar hitung secara diagonal. Prosedur perhitungan konsentrasi sperma total sama dengan
prosedur perhitungan spermatozoa yang mati, perbedaannya yaitu mengganti NaCl fisiologis 0,9% dengan NaCl 3%.
Perhitungan spermatozoa yang mati (Y)
atau
Y x 10 juta sel spermatozoa
Perhitungan konsentrasi spermatozoa total (X)
atau
Y x 10 juta sel spermatozoa Perhitungan motilitas spermatozoa
(X–Y) x 10juta sel sperma per mL
Motilitas (%) =
2. Abnormalitas Semen, pengukurannya dilakukan dengan cara menggunakan preparat ulas yang kemudian diamati dibawah mikroskop. Preparat ulas dibuat dengan cara mencampurkan cairan eosin dengan perbandingan 1:3 diatas objek gelas. Campuran tersebut diaduk menggunakan objek gelas lainnya yang membentuk posisi sudut lancip, untuk mendapatkan selapis semen yang telah diwarnai setipis mungkin. Lalu difiksasi atau dikeringkan dengan api bunsen yang hasilnya preparat siap diamati. Penghitungan abnormalitas semen dilakukan di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 x 10 dari luas pandang
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 5 200 sel spermatozoa yang diamati.
Penghitungannya meliputi keadaan-keadaan spermatozoa yang mempunyai morfologi yang abnormal yang meliputi kepala bengkak, kepala rusak, ekor patah dan ekor putus.
Abnormalitas(%)=
Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas enam perlakuan keseimbangan energi-protein yang berbeda, dengan tiga kali ulangan pada tiap-tiap perlakuan.Perlakuan yang dilakukan pada penelitian yaitu: P1 = EM 3000 kkal/kg, Protein 20% P2 = EM 3000 kkal/kg, Protein 16% P3 = EM 3000 kkal/kg, Protein 13,5% P4 = EM 2700 kkal/kg, Protein 20% P5 = EM 2700 kkal/kg, Protein 16% P6 = EM 2700 kkal/kg, Protein 13,5%
Guna mengetahui adanya pengaruh perlakuan, data dianalisis dengan menggunakan sidik ragam. Apabila dari hasil sidik ragam terdapat perbedaan pengaruh perlakuan, maka dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan, untuk mengetahui perbedaan dari tiap perlakuan. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh keseimbangan energi-protein dalam ransum terhadap kualitas semen itik Rambon dievaluasi dengan melakukan penilaian makroskopis dan penilaian mikroskopis. Penilaian makroskopis dan mikroskopis langsung dievaluasi setelah semen dikeluarkan dari tubuh itik Rambon jantan dengan cara pengurutan.
1. Penilaian Makroskopis
Penilaian makroskopis semen itik Rambon pada penelitian ini disajikan dalam Tabel 2 yang terdiri dari rata-rata volume (mL), warna, bau, konsistensi dan pH.
Tabel 2. Penilaian Makroskopis Semen Itik Rambon
Perlakuan Penilaian Makroskopis
Volume (mL) Warna Bau Konsistensi pH
P1 0,10 Putih Khas Semen Sedikit cair 7
P2 0,08 Putih Khas Semen Kental 7
P3 0,05 Putih Khas Semen Kental 7
P4 0,08 Putih Khas Semen Kental 7
P5 0,08 Putih Khas Semen Kental 7
P6 0,12 Putih Khas Semen Kental 7
Volume
Volume semen rata-rata pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2. Volume yang didapat pada setiap
penampungan berkisar 0,5-0,15 mL.Volume semen rata-rata terbanyak yakni pada perlakuan P6 (energi 2700 kkal/kg dan protein 13,5%) sebesar
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 6 0,12mL dengan kisaran volume 0,05-0,15
mL. Selanjutnya volume semen rata-rata terbesar kedua yakni pada perlakuan P1 (energi 3000 kkal/kg dan protein 20%) sebesar 0,10 mL, perlakuan P2 (energi 3000 kkal/kg dan energi 16%), perlakuan P4 (energi 2700 kkal/kg dan energi 20%), dan perlakuan P5 (energi 2700 kkal/kg dan energi 16%) memiliki volume semen rata-rata 0,08 mL dengan kisaran volume semen yang diejakulasikan pada setiap penampungan antara 0.05-0,1 mL. Volume semen rata-rata terkecil yakni pada perlakuan P3 energi 3000 kkal/kg dan protein 13,5% sebesar 0,05 mL. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan ransum yang dengan keseimbangan energi-protein yang berbeda pada masing-masing perlakuan berpengaruh terhadap volume semen itik Rambon. Walaupun perlakuan P6 (energi 3000 kkal/kg dan energi 13,5%) merupakan keseimbangan paling kecil dalam penelitian ini, namun masih mencukupi kebutuhan ternak jantan sehingga menghasilkan volume rata-rata terbesar diantara perlakuan lainnya. Seluruh perlakuan mempunyai rata-rata volume semen per ejakulat yang relatif tidak berbeda. Kemungkinan hal ini disebabkan selain karena itik yang diambil semennya berasal dari bangsa dan umur yang sama, asupan nutrisi esensial itik pada perlakuan keseimbangan energi-protein dalam ransum sudah mencukupi untuk menunjang volume semen yang baik.
Warna
Pemeriksaan warna semen dilakukan secara makroskopis dan hasilnya tersaji pada Tabel 2. Seluruh perlakuan mempunyai rata-rata warna yang sama yaitu putih. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian ransum dengan keseimbangan energi-protein yang berbeda tidak berpengaruh terhadap warna semen. Rataan warna semen yang sama pada semua perlakuan yaitu putih menunjukkan ciri semen yang baik. Hasil penelitian ini sesuai dengan Toelihere (1993) yang menyatakan bahwa semen unggas berwarna putih. Semakin keruh biasanya jumlah spermatozoa semakin banyak. Semen yang berwarna merah gelap sampai merah muda menandakan adanya darah segar dalam jumlah yang berbeda dan berasal dari saluran kelamin. Warna kecoklatan menunjukkan adanya darah yang telah mengalami dekomposisi. Warna kehijauan menunjukkan kontaminasi dengan feces (Feradis, 2010). Bau
Pemeriksaan bau semen itik Rambon dilakukan secara makroskopis dan hasilnya tersaji pada Tabel 2. Seluruh perlakuan mempunyai rata-rata bau semen yang sama yaitu bau khas dari semen itik. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian ransum dengan keseimbangan energi-protein yang berbeda tidak berpengaruh terhadap bau semen.
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 7 Konsistensi
Konsistensi semen setiap perlakuan keseimbangan energi-protein tersaji pada Tabel 2. Seluruh perlakuan mempunyai konsistensi yang relatif tidak berbeda yaitu kental kecuali pada perlakuan 1 yakni energi 3000 kkal/kg dan protein 20% dengan konsistensi semen yang sedikit cair. Konsistensi semen yang sedikit cair karena plasma semen yang tercampur dengan spermatozoa sehingga menyebabkan konsistensi menjadi cair. Warna bersama konsistensi semen menentukan konsentrasi spermatozoa, bila semen kental dan berwarna putih maka konsentrasi spermatozoa tinggi dan jika spermatozoa encer dan berwarna bening maka hal ini menunjukkan konsentrasi semen yang rendah (Toelihere, 1981). pH
Derajat keasaman (pH) sangat mempengaruhi daya hidup spermatozoa. Derajat keasaman (pH) sperma bervariasi tergantung spesies ternak. Toelihere (1993) menyatakan bahwa derajat keasaman atau pH sangat mempengaruhi daya hidup spermatozoa. pH sperma dalam penelitian ini adalah 7 yang tersaji pada Tabel 2. Hal ini sesuai dengan
Supriyatna dkk (2005) pH semen unggas adalah 7 – 8. Berdasarkan hal tersebut pemberian ransum dengan keseimbangan energi-protein yang berbeda tidak berpengaruh terhadap pH semen itik Rambon.
2. Penilaian Mikroskopis Motilitas Spermatozoa
Penilaian motilitas spermatozoa itik Rambon yang diberikan ransum dengan keseimbangan energi-protein yang berbeda disajikan pada Tabel 3. Persentase motilitas spermatozoa tertinggi diperoleh dari perlakuan P6 dengan keseimbangan energi 2700 kkal/kg dan protein 13,5% yaitu sebesar 96,29%. Selanjutnya motilitas terkecil yakni pada perlakuan P1 dengan keseimbangan energi 3000 kkal/kg dan protein 20% sebesar 59,54%. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa keseimbangan energi-protein dalam ransum memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap motilitas spermatozoa itik Rambon. Perbedaan antar perlakuan diketahui dengan melakukan Hasil Uji Jarak Berganda Duncan yang disajikan dalam Tabel 4.
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 8 Tabel 3. Motilitas SpermatozoaItik Rambon
Ulangan Perlakuan Total
P1 P2 P3 P4 P5 P6 ...%... 1 57,50 89,32 94,70 90,20 85,44 96,87 2 64,86 93,33 92,86 96,67 93,25 94,79 3 56,25 92,97 93,82 93,41 91,73 97,21 Rata-rata 59,54 91,87 93,79 93,42 90,14 96,29 ∑x 178,61 275,62 281,38 280,27 270,41 288,87 1.575,17 Tabel 4. Uji Duncan Motilitas Spermatozoa Itik Rambon
Ket: huruf berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (Pb<0,05) Berdasarkan hasil Uji Jarak
Berganda Duncan, motilitas spermatozoa itik Rambon yang mendapat perlakuan P2, P3, P4 dan P6 nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan yang mendapat perlakuan P1, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan P5. Motilitas yang dihasilkan oleh perlakuan P5 menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Perlakuan P1 menghasilkan motilitas yang nyata (P<0,05) lebih rendah dibanding perlakuan P2, P3, P4 dan P6 namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan P5. Perlakuan P1 menghasilkan persentase motilitas sebesar 59,54% lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya, kemungkinan dipengaruhi oleh semen yang mengandung plasma lebih banyak
dibandingkan dengan semen pada perlakuan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari konsentrasi semen yang lebih encer dibandingkan dengan perlakuan P2, P3, P4, P5, dan P6.
Motilitas spermatozoa merupakan gerakan spermatozoa lurus ke depan, aktif, lincah dan memiliki irama getar yang teratur (Wahyuningtyas dkk., 2012). Faktor yang mempengaruhi motilitas spermatozoa antara lain umur spermatozoa, energi ATP, bagian-bagian agen yang aktif, kandungan cairan dan stimulasi inhibisi (Hafez, 2000).
Jika ransum yang dikonsumsi tinggi kandungan energinya maka seharusnya persentase motilitas spermatozoa lebih tinggi dibandingkan ternak yang mengkonsumsi ransum dengan energi
Perlakuan Rataan
Motilitas per Ejakulat (%) Sign 0,05
P6 96,29 a P3 93,79 a P4 93,42 a P2 91,87 a P5 90,14 ab P1 59,54 b
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 9 rendah. Hal ini berbeda dengan penelitian
ini, itik pada perlakuan P1 yang diberi ransum dengan energi 3000 kkal dan protein 20% berdasarkan litelatur mendapatkan persentase motililitas yang tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya justru mendapatkan persentase motilitas terendah dibandingkan perlakuan yang lain. Berdasarkan pengamatan secara makroskopis konsistensi semen pada perlakuan P1 lebih cair dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Selain itu plasma semen pada perlakuan P1 lebih dominan dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Soeparna dan Solihati (2014) menyatakan bahwa plasma semen mengandung bahan-bahan penyangga dan makanan sebagai sumber energi bagi spermatozoa baik yang didapatkan secara langsung (fruktosa dan sorbitol) maupun
secara tidak langsung
(gliserilfosforilkholin). Berdasarkan hal tersebut kemungkinan energi yang didapat dari ransum lebih banyak dipergunakan oleh plasma semen daripada spermatozoa. Hafez (2000) menyatakan bahwa persentase motilitas spermatozoa normal yaitu antara 70-90%, ditambahkan oleh Mossa (2006) persentase motilitas itik Peking 88,64 % dan Wahyuningtyas dkk. (2012) persentase motilitas itik Mojosari 77,6%. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menggambarkan bahwa
keseimbangan energi-protein dalam ransum mempengaruhi motilitas spermatozoa itik Rambon. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ghonim dkk. (2010) bahwa perbedaan level energi dan protein tidak memberikan pengaruh terhadap motilitas semen itik Domyati. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena bangsa ternak, umur dan habitat yang berbeda. Abnormalitas Spermatozoa
Penilaian abnormalitas spermatozoa itik Rambon yang diberikan ransum dengan keseimbangan energi-protein yang berbeda disajikan Tabel 5. Berdasarkan hasil analisis data persentase abnormalitas spermatozoa rata-rata didapatkan hasil tertinggi yakni pada perlakuan P6 dengan keseimbangan energi 2700 kkal/kg dan protein 13,5% sebesar 11%. Selanjutnya abnormalitas spermatozoa terkecil yakni pada perlakuan P2 dengan keseimbangan energi 3000 kkal/kg dan protein 16,5% sebesar 5,5%. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa keseimbangan energi-protein dalam ransum memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap abnormalitas spermatozoa itik Rambon. Perbedaan antar perlakuan diketahui dengan melakukan Hasil Uji Jarak Berganda Duncan yang disajikan dalam Tabel 6.
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 10 Tabel 5. Abnormalitas Spermatozoa Itik Rambon
Ulangan Perlakuan Total
P1 P2 P3 P4 P5 P6 ...%... 1 7,00 6,00 9,50 6,50 7,00 10,00 2 10,50 4,00 9,00 6,00 6,00 12,00 3 5,00 6,50 6,50 7,00 7,00 12,00 Rata-rata 7,50 5,50 8,33 6,50 6,67 11,33 ∑x 22,50 16,50 25,00 19,50 20,00 34,00 137,50
Tabel 6. Uji Duncan Abnormalitas Spermatozoa Itik Rambon
Ket: huruf berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan abnormalitas spermatozoa itik Rambon yang mendapat perlakuan P6 nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan yang mendapat perlakuan P1, P2, P4, dan P5, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan P3. Abnormalitas yang dihasilkan oleh perlakuan P3 berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan P2, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1, P4, P5 dan P6. Perlakuan P1, P4, dan P5 menghasilkan abnormalitas yang berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan P6 namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan P2 dan P3. Perlakuan P2 menghasilkan abnormalitasyang berbeda nyata (P<0,05) lebih rendah dibanding perlakuan P3 dan P6, namun
tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1, P4 dan P5.
Penyimpangan morfologik dari struktur spermatozoa yang normal dipandang sebagai abnormalitas spermatozoa. Pada umumnya abnormalitas pada spermatozoa terjadi pada kepala atau ekor (Lestari dan Ismudiono, 2014).
Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menggambarkan bahwa keseimbangan energi-proteindalam ransum mempengaruhi abnormalitas spermatozoa itik Rambon. Persentase abnormalitas spermatozoa semuanya kurang dari 20%, hal ini sesuai dengan pendapat Hafez (2000) yang menyatakan bahwa abnormalitas spermatozoa yang baik yaitu
Perlakuan Persentase
Abnormalitas per Ejakulat (%) Sign 0,05
P6 11,00 a P3 8,33 ab P1 7,50 bc P5 6,67 bc P4 6,50 bc P2 5,50 c
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 11 kurang dari 20% sehingga dapat dikatakan
bahwa semen itik Rambon telah memenuhi syarat kualitas semen yang baik. Hal ini sejalan dengan Toelihere (1993) tentang abnormalitas semen yang layak digunakan untuk inseminasi tidak lebih dari 20%. Menurut Mossa (2006) menyatakan bahwa persentase abnormalitas semen itik Peking sebesar 15,2 % dan Wahyuningtyas dkk. (2012) persentase abnormalitas itik Mojosari 13,96%. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penilitian yang dilakukan oleh Ghonim dkk. (2010) bahwa perbedaan level energi dan protein memberikan pengaruh terhadap abnormalitas semen itik Domyati.
Energi dan protein dalam ransum yang dikonsumsi oleh ternak jantan erat kaitannya dengan regulasi hormonal dalam spermatozoa. Itik pada perlakuan yang diberi ransum dengan energi 2700 kkal dan protei 13,5% kemungkinan sudah mencukupi kebutuhan nutrisi tubuhnya akan energi dan protein selama kurun waktu penelitian. Kekurangan nutrisi pada ternak dalam waktu singkat tidak akan berpengaruh terhadap hidupnya, namun ada kekhawatiran jika konsumsi ransum yang diberikan tidak memenuhi kebutuhan hidup pokok, produksi dan reproduksi itik dalam jangka panjang akan menimbulkan hal yang merugikan terhadap itik tersebut.
KESIMPULAN
Keseimbangan energi-protein dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kualitas semen itik Rambon. Perlakuan dengan keseimbangan energi 2700 kkal dan protein 13,5% memberikan pengaruh paling baik dari semua perlakuan berdasarkan persentase motilitas dan abnormalitas spermatozoa. Walaupun perlakuan tersebut menghasilkan persentase abnormalitas yang terbesar diantara semua perlakuan, namun persentase abnormalitasnya masih kurang dari 20% sehingga masih dikatakan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung
Ghonim, A.I.A., A. L. Awad, K. Elkloub, dan M.El. Moustafa. 2010. Effect of Feeding Different Levels of Energy and Crude Protein on Semen Quality and Fertility of Domyati Ducks. Egypt. Poult. Sci. Vol (30) (Ii): (583-600)
Hafez, E. S. E. 2000. Semen Evaluation in Reproduction In Farm Animals. 7th edition. Lippincott Wiliams and Wilkins. Maryland, USA.
Lestari, T.D dan Ismudiono. 2014. Ilmu Reproduksi Ternak. Airlangga University Press. Surabaya
Mossa, R. K. 2006. Characterization Of Iraqi Local Drake Ejaculate And The Effect Of Frequency Of Collection In Sperm Quality. Bas. J. Vet. Res, Vol. 5, No. 2. Departement of Animal Production College of Agriculture. Basrah University.
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 12 Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peternakan. 2014. Itik Rambon, Itik Lokal dari Cirebon. http://peternakan.litbang.pertanian. go.id/index.php?option=
comcontent&view=article&id=458 7:itik-rambon-itik-lokal-dari-cirebon (Diakses pada 24 September 2014)
Setioko, A.R. 1981. The effect of frequency of collection and semen characteristics of fertility of pekin drake semen. Thesis. Departement of Animal Sciences and Production University of Western Australia
Supriyanta, E. U. Amomarsono dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta
Toelihere, M.R. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa. Bandung ________. 1979. Fisiologi Reproduksi
pada Ternak. Angkasa. Bandung Wahyuningtyas, F. A, E. Sudjarwo, S.
Wahyuningsih. 2012. Pengaruh Penambahan Tepung Kulit Manggis (Garcinia Mangostana L.) pada Ransum Pakan Terhadap Kualitas Semen Itik Mojosari. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 13 LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING DAN PERNYATAAN PENULIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:
Nama : Dian Yusmeidianty NPM : 200110110047
Judul Artikel : Pengaruh Keseimbangan Energi-Protein dalam Ransum terhadap Kualitas Semen Itik Rambon
Menyatakan bahwa artikel ini merupakan hasil penelitian penulis, data dan tulisan ini bukan hasil karya orang lain, ditulis dengan kaidah-kaidah ilmiah dan belum pernah dipublikasikan. Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya, tanpa tekanan dari pihak manapun. Penulis bersedia menanggung konsekuensi hukum apabila ditemukan kesalahan dalam pernyatan ini.
Dibuat di Jatinangor, Juni 2015 Penulis,
(Dian Yusmeidianty)
Mengetahui,
Pembimbing Utama,
(Dr. Nurcholidah Solihati, S.Pt., M.Si.) Pembimbing Anggota,