• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PENULISAN DAN PRESENTASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TEKNIK PENULISAN DAN PRESENTASI"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK PENULISAN DAN

PRESENTASI

Oleh :

Edy Sriyono

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS JANABADRA

YOGYAKARTA

2011

(2)

KATA PENGANTAR

Buku bacaan yang berisi lengkap mengenai seluk beluk penelitian yaitu mulai dari metodologi penelitian, persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian, tata cara penulisan, sampai kepada teknik penulisan dan teknik presentasi masih sangat jarang dijumpai.

Buku Teknik Penulisan dan Presentasi ini disusun untuk memenuhi maksud tersebut di atas dan untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaan para mahasiswa khususnya dan para pembaca umumnya yang tertarik dengan cara-cara menulis dan mempresentasikan karya-karya ilmiah.

Buku ini diharapkan dapat membantu memberikan gambaran kepada para mahasiswa dan para pembaca yang ingin mempelajari dasar-dasar metodologi penelitian beserta teknik penulisan dan presentasi.

Tentunya buku ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis, untuk keperluan perbaikan buku ini selanjutnya.

Yogyakarta, Nopember 2011 Penulis,

(3)

DAFTAR ISI

1. PENDAHULUAN ... 1- 1 1.1. Pengertian Ilmu Pengetahuan dan Penelitian ... 1- 1 1.2. Metodologi Penelitian ... 1- 2 1.3. Tujuan Penelitian ... 1- 3 1.4. Jenis-jenis Penelitian ... 1- 4 1.5. Keluaran Penelitian ... 1- 7 1.6. Motivasi Dalam Penelitian ... 1- 8 1.7. Cara Pendekatan Untuk Mendapatkan Ilmu Pengetahuan Yang Benar 1- 8 1.8. Batasan Ilmiah ... 1-10 1.9. Syarat Peneliti ... 1-13 1.10. Hambatan Penelitian ... 1-13 1.11. Syarat Topik Penelitian ... 1-14 1.12. Proses Penelitian ... 1-15 1.13. Etika Penulis ... 1-17 2. PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN ... 2- 1 2.1. Pemilihan Bidang Penelitian ... 2- 1 2.2. Latar Belakang Masalah ... 2- 2 2.3. Ciri-ciri Masalah Yang Baik ... 2- 3 2.4. Identifikasi Masalah dan Sumber Untuk Memperoleh Masalah ... 2- 3 2.5. Cara Merumuskan Masalah ... 2- 4 2.6. Kesulitan Merumuskan Masalah ... 2- 5 2.7. Menetapkan Maksud, Tujuan, dan Manfaat Penelitian ... 2- 6 2.8. Pembatasan Masalah ... 2- 8 3. KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN TERDAHULU ... 3- 1 3.1. Kajian Teori/Penelusuran Kepustakaan ... 3- 1 3.2. Manfaat Studi Pustaka ... 3- 2 3.3. Ciri Utama Studi Kepustakaan ... 3- 3 3.4. Kajian Penelitian Terdahulu ... 3- 5 3.5. Penelitian Pendahuluan ... 3- 5 4. PERUMUSAN HIPOTESIS ... 4- 1

(4)

4.1. Pengertian Hipotesis ... 4- 1 4.2. Hubungan Antar Variabel ... 4- 2 4.3. Jenis-jenis Hipotesis ... 4- 2 4.4. Penelitian Tanpa Hipotesis ... 4- 4 5. DESAIN PENELITIAN ... 5- 1 5.1. Apa itu Desain Penelitian ... 5- 1 5.2. Isi Desain Penelitian ... 5- 1 5.3. Jenis-jenis Desain Penelitian ... 5- 4 5.4. Penelitian Kualitatif ... 5- 4 5.5. Penelitian Eksperimen/Percobaan ... 5- 7 5.6. Pemodelan ... 5-12 6. PROPOSAL PENELITIAN ... 6- 1 6.1. Bagian Awal ... 6- 2 6.2. Bagian Utama ... 6- 4 6.3. Bagian Akhir ... 6- 7 7. PENGUMPULAN DATA ... 7- 1 7.1. Data ... 7- 1 7.2. Detail Kegiatan Pada Persiapan ... 7- 1 7.3. Identifikasi, Klasifikasi, dan Pemberian Definisi Variabel ... 7- 2 7.4. Pemilihan dan Pengembangan Alat Pengambilan Data ... 7- 3 7.5. Populasi dan Sampel ... 7- 4 7.6. Beberapa Teknik Pengumpulan Data ... 7- 6 8. ANALISIS DATA DAN INTERPRETASI ... 8- 1 8.1. Analisis Data ... 8- 1 8.2. Interpretasi Hasil Analisis ... 8- 2 9. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 9- 1 9.1. Bagaimana Menulis Kesimpulan ... 9- 1 9.2. Implikasi Hasil Penelitian ... 9- 1 9.3. Saran-saran ... 9- 1 10. TEKNIK PENULISAN ………... 10- 1

10.1. Tata Cara Penulisan ... 10- 1 10.2. Penulisan Laporan Hasil Penelitian ... 10-10

(5)

10.3. Penulisan Artikel Ilmiah Pada Jurnal ... 10-15 10.4. Penulisan Makalah Seminar ... 10-17 11. TEKNIK PRESENTASI ………... 11- 1 11.1. Tujuan ………... 11- 1

11.2. Durasi ………... 11- 1

11.3. Mempersiapkan Materi ... 11- 2 11.4. Mempersiapkan Bahan-bahan Visual ... 11- 3 11.5. Melakukan Analisis Terhadap Audiens ... 11- 4 11.6. Memikirkan Cara Yang Menarik ... 11- 4 11.7. Mengasah Kemampuan Verbal dan Non-Verbal ... 11- 5 11.8. Presentasi ………... 11- 6

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(6)

1. PENDAHULUAN

1.1. Pengertian Ilmu Pengetahuan dan Penelitian

Adanya ilmu pengetahuan berawal dari rasa kagum dan hasrat ingin tahu manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Kagum terhadap lingkungan sekitarnya, kagum terhadap alam semesta, dan sebagainya, yang kemudian

menimbulkan hasrat ingin tahu untuk mencari jawaban tentang “apa”, “mengapa”, “bagaimana”, dan sebagainya terhadap lingkungan, alam semesta, atau yang lainnya

tersebut. Manusia memang dibekali dengan hasrat ingin tahu, dan hasrat ingin tahu ini sudah ada sejak masih kanak-kanak. Sebagai contoh misalnya, jika seorang anak yang baru bisa tengkurap kemudian diberi suatu benda di depannya, maka ia akan berusaha keras untuk meraih benda tersebut sampai dapat terpegang hanya sekedar untuk memenuhi hasrat ingin tahunya tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan seperti : “ini apa” dan “itu apa” sudah muncul sejak masih kanak-kanak. Kemudian pertanyaan tersebut berkembang menjadi

pertanyaan-pertanyaan seperti: “mengapa begini” dan “mengapa begitu” dan selanjutnya

berkembang lagi menjadi pertanyaan-pertanyaan seperti: “bagaimana hal itu dapat

terjadi”, “bagaimana cara memecahkannya” dan sebagainya.

Dengan berbekal rasa kagum dan hasrat ingin tahunya, manusia berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas dan jawabannya merupakan ilmu pengetahuan, yang kemudian setelah ilmu pengetahuan itu diuji kebenarannya maka akan menjadi ilmu pengetahuan yang benar.

Dengan demikian ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang sudah diuji kebenarannya dan dipadukan secara harmonik dalam suatu bangunan yang teratur sehingga merupakan sesuatu yang mempunyai nilai yang umum (Hadi, 2002).

Kemudian untuk menjawab pertanyaan: Apakah penelitian itu?, berikut ini disampaikan beberapa definisi dari pengertian penelitian.

1. Penelitian merupakan aktivitas ilmiah yang dimaksudkan untuk mengembangkan dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan (Supriharyono, 2004).

(7)

Gambar 1.1. Siklus penelitian

Penelitian merupakan “alat” fisik maupun mental yang dipakai untuk

memecahkan persoalan-persoalan yang timbul. Orang yang meneliti disebut peneliti. Alat yang digunakan untuk mempertajam dan mengarahkan penelitian disebut model.

2. Penelitian adalah penyelidikan secara hati-hati atau penyelidikan khusus untuk meneliti kenyataan-kenyataan baru dalam cabang ilmu pengetahuan apa saja

(Advance Learner’s Dictionary, 1952).

3. Penelitian adalah usaha sistematis untuk memperoleh ilmu pengetahuan baru (Redman dan Mory, 1923 dalam Suripin dan Wibowo, 2004).

4. Penelitian dapat didefinisikan sebagai mencari teori, menguji teori, atau menyelesaikan masalah.

5. Penelitian dalam bahasa umum adalah usaha untuk mencari ilmu pengetahuan.

1.2. Metodologi Penelitian

Agar supaya dapat melaksanakan penelitian dengan baik diperlukan adanya metodologi penelitian. Berikut ini disampaikan beberapa definisi dari metodologi penelitian.

1. Metodologi penelitian adalah cara untuk menyelesaikan masalah-masalah penelitian secara sistematik.

2. Metodologi penelitian mempelajari bagaimana penelian dikerjakan secara ilmiah. 3. Metodologi penelitian mengungkapkan tidak hanya metode penelitian tetapi juga

mempertimbangkan logika yang melatarbelakangi metode-metode yang digunakan dan menerangkan mengapa menggunakan metode tertentu dan mengapa tidak menggunakan yang lainnya, dan juga hasil-hasil penelitian mampu

Permasalahan Perlu dipecahkan How

(8)

dievaluasi baik oleh peneliti sendiri maupun oleh yang lainnya.

1.3. Tujuan Penelitian

Menurut Yuwono (1996) dan Suryabrata (1998), penelitian yang berbobot tinggi, pada umumnya mempunyai tujuan sebagai berikut ini.

1. Diskriptif

Penelitian mempunyai tujuan menggambarkan secara jelas dan cermat hal-hal yang dipersoalkan.

2. Menerangkan

Penelitian mempunyai tujuan menerangkan kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa-peristiwa.

3. Menyusun teori

Penelitian mempunyai tujuan mencari dan merumuskan hukum-hukum atau tata-tata mengenai hubungan antara kondisi yang satu dan kondisi yang lain atau hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain.

4. Prediksi

Penelitian mempunyai tujuan membuat prediksi (ramalan), estimasi, dan proyeksi mengenai peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi atau gejala-gejala yang bakal muncul.

5. Pengendalian dan pemecahan masalah

Penelitian mempunyai tujuan mendapatkan cara dalam rangka mengendalikan peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala atau pemecahan yang terdapat di masyarakat.

6. Inovasi dan pengembangan

Penelitian mempunyai tujuan mendapatkan sesuatu yang baru baik terobosan ataupun patent, pengembangan ilmu dasar/pengetahuan ataupun teknologi untuk kebutuhan umat manusia.

Beberapa penulis juga mengungkapkan pendapatnya bahwa tujuan penelitian sebagai berikut ini.

1. Untuk mengungkapkan/menemukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan melalui aplikasi prosedur ilmiah.

(9)

2. Untuk mendapatkan kebenaran yang tersembunyi dan kebenaran yang belum terungkap.

3. Untuk memperoleh kebiasaan terhadap sebuah phenomena atau untuk mendapatkan pengetahuan baru yang lebih dalam.

4. Untuk menggambarkan secara akurat terhadap karakteristik-karakteristik dari fakta individu, situasi atau kelompok.

5. Untuk menentukan frekuensi sesuatu yang terjadi pada kelompoknya dengan kelompok yang lain.

6. Untuk menguji hipotesis dari hubungan sebab akibat diantara variabel-variabel yang diteliti.

1.4. Jenis-jenis Penelitian

Hadi (2002) menggolongkan jenis penelitian menurut bidang, tempat, pemakaian, tujuan umum, taraf, dan pendekatannya sebagai berikut ini.

1. Menurut bidangnya : a. Penelitian pendidikan b. Penelitian sejarah c. Penelitian bahasa d. Penelitian ilmu teknik e. Penelitian ilmu biologi f. Penelitian ekonomi g. Dan sebagainya 2. Menurut tempatnya :

a. Penelitian laboratorium

Penelitian dilaksanakan di laboratorium, misalnya pembuatan model fisik, pembuatan model matematik, pengujian/pengetesan bahan bangunan, pembuatan alat, dan sebagainya.

b. Penelitian perpustakaan

Penelitian dilaksanakan dengan cara mengkaji jurnal-jurnal dan hasil-hasil penelitian terdahulu serta buku-buku ilmiah yang ada di perpustakaan yang ada kaitannya dengan topik penelitian yang sedang dilaksanakan.

(10)

Penelitian dilaksanakan dengan cara mengumpulkan dan menganalisis data-data atau informasi-informasi yang diperoleh di lapangan, misalnya sensus penduduk, survey lalu lintas, dan sebagainya.

3. Menurut pemakaiannya :

a. Penelitian murni (pure research)

Penelitian murni bertujuan untuk mendapatkan teori baku, model teoritis, bahkan hipotesis dari phenomena yang bersangkutan. Hasilnya dapat terdiri dari rumusan matematik bagi persoalan yang diteliti berdasarkan teori bersangkutan, serta teknik perhitungan atau penyelesaian yang tepat. Teknik ini dapat bersifat analitik/aljabar ataupun numerik.

b. Penelitian terpakai (applied research)

Penelitian terpakai bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan atau informasi tentang suatu sistem melalui aplikasi hasil penelitian, misalnya penerapan teknologi tepat guna, penggunaan bahan/material lokal/setempat, dan sebagainya.

4. Menurut tujuan umumnya : a. Penelitian eksploratif

Penelitian eksploratif biasanya dilakukan untuk melakukan eksploratif mengenai suatu topik penelitian yang belum banyak mendapat perhatian. Misalnya penelitian untuk mengkaji dampak globalisasi pada perkembangan perkotaan atau permukiman pada umumnya di negara berkembang seperti Indonesia.

b. Penelitian developmental

Penelitian developmental bertujuan untuk melakukan pengembangan atau peningkatan terhadap suatu sistem yang telah atau pernah dibuat.

c. Penelitian verifikatif

Penelitian verikatif bertujuan untuk melakukan pemeriksaan atau penelitian tentang benar tidaknya suatu permasalahan yang sedang diteliti.

5. Menurut tarafnya : a. Penelitian deskriptif

Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan suatu phenomena tertentu, dalam hal ini tugas peneliti (researcher) adalah melakukan observasi

(11)

dan kemudian menjelaskan hasil observasi tersebut. Misalnya penelitian mengenai sensus penduduk, karena tujuan umum suatu sensus penduduk adalah untuk menggambarkan berbagai karakteristik kependudukan secermat dan setepat mungkin. Biasanya yang merupakan masalah dalam penelitian deskriptif adalah kualitas diskripsi tersebut, serta generalisasi penelitian tersebut.

b. Penelitian inferensial

Penelitian inferensial bertujuan untuk mengambil kesimpulan dari permasalahan yang sedang diteliti.

6. Menurut pendekatannya atau dimensi waktunya : a. Penelitian longitudinal

Penelitian longitudinal ini mencakup periode pengamatan yang cukup panjang. Penelitian ini terdiri atas tiga jenis penelitian yaitu : (1) Studi kecenderungan (Trends studies) dengan menggunakan populasi yang sama untuk suatu kurun waktu tertentu, misalnya perbandingan menurut hasil sensus 1962; 1971; 1980; dan 1990. (2) Studi kelompok (Cohort studies) dengan menggunakan sub-populasi (cohorts) selama kurun waktu tertentu, misalnya studi tentang sikap suatu kelompok penduduk yang berumur 15-20 tahun pada tahun 1980 dan kemudian diikuti dengan studi yang sama untuk penduduk yang berumur 20-25 tahun pada tahun 1985. (3) Studi panel (Panel studies) yang pada dasarnya sama dengan trend dan cohort studies namun kelompok yang dijadikan bahan observasi bersifat tetap. Sudah barang tentu studi seperti ini sangat dipengaruhi oleh sampling mortality, yaitu hilangnya unit-unit observasi yang mungkin dikarenakan meninggal dunia atau tidak diketahui lagi keberadaannya.

b. Penelitian cross-sectional

Penelitian cross-sectional melibatkan beberapa aspek pada saat yang sama. Misalnya melihat hubungan kenaikan pendapatan per kapita dengan perkembangan industri, pertanian dan lainnya.

Penelitian juga dapat dikelompokan berdasarkan tingkatannya, pola berpikir, dan tujuannya (Supriharyono, 2004).

(12)

a. Penelitian dasar b. Penelitian terapan

c. Penelitian pengembangan 2. Berdasarkan Pola Berpikir:

a. Penelitian induktif, terbuka/khusus-umum b. Penelitian deduktif, umum-khusus

3. Berdasarkan Tujuannya:

a. Penelitian eksperimen, untuk mengetahui ada tidaknya suatu perlakuan b. Penelitian evaluasi, yaitu penelitian yang dilakukan untuk menentukan

kebijakan

c. Penelitian deskriptif, hanya menggambarkan “apa adanya” tentang sesuatu variabel

d. Penelitian historis, merupakan penelaahan dokumen masa lampau secara sistematis

1.5. Keluaran Penelitian

Berikut ini disampaikan beberapa hasil atau keluaran dari adanya sebuah penelitian:

1. Invention (penemuan baru)

Hasil penelitian berupa teori-teori atau penemuan-penemuan yang benar-benar baru/up to date dan belum pernah ada sebelumnya.

2. Discovery (pengungkapan)

Hasil penelitian mengungkap phenomena-phenomena yang dapat terjadi dari suatu penelitian.

3. Innovation (perbaikan)

Hasil penelitian berupa perbaikan dari teori-teori atau penemuan-penemuan yang terdahulu atau yang pernah ada sebelumnya.

4. Improvement (peningkatan)

Hasil penelitian berupa peningkatan kemampuan/kinerja dari teori-teori atau penemuan-penemuan yang terdahulu atau yang pernah ada sebelumnya.

(13)

Hasil penelitian berupa teori atau penemuan yang dapat langsung diterapkan di lapangan. Biasanya berupa teknologi terapan.

1.6. Motivasi Dalam Penelitian

Berikut ini disampaikan beberapa motivasi dari seseorang yang melaksanakan penelitian:

1. Keinginan untuk mendapatkan tambahan penghasilan atau keuntungan.

2. Keinginan untuk mengemukakan tantangan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang belum terpecahkan.

3. Keinginan untuk mendapatkan kesenangan intelektual dari mengerjakan beberapa pekerjaan kreatif atau untuk memenuhi hasrat/rasa ingin tahu.

4. Keinginan untuk melayani masyarakat dan kepentingan negara. 5. Keinginan untuk mendapat kehormatan atau hadiah nobel. 6. Keinginan untuk memenuhi persyaratan naik pangkat.

1.7. Cara Pendekatan Untuk Mendapatkan Ilmu Pengetahuan Yang Benar

Suryabrata (1998) menyebutkan bahwa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar, dapat ditempuh melalui dua cara pendekatan sebagai berikut ini.

1. Pendekatan Non Ilmiah

Pendekatan non ilmiah dilakukan dengan : a. Akal sehat

Pengetahuan yang diperoleh dengan akal sehat didasarkan atas hasil pemikiran abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus dengan dalil-dalil hipotesis dan teoritis untuk menunjukkan peristiwa yang benar.

Misalnya : matahari beredar mengelilingi bumi karena matahari terbit dari timur lalu terbenam di barat, kemudian unsur dasar pembentuk kayu adalah tanah; api; dan udara karena bila kayu dibakar akan berubah menjadi api; udara; dan abu (tanah).

Cara pendekatan seperti ini banyak digunakan oleh orang awam dan seringkali terbantahkan oleh penemuan secara ilmiah.

(14)

Pengetahuan yang diperoleh dengan prasangka berasal dari suatu anggapan benar padahal baru merupakan kemungkinan benar atau kadang-kadang malah tidak mungkin benar.

Misalnya, orang percaya bahwa hujan dapat turun dari surga sampai ke bumi melalui jendela-jendela yang ada di langit.

Dengan prasangka, orang sering mengambil keputusan yang keliru. Prasangka hanya berguna untuk mencari kemungkinan suatu kebenaran.

c. Pendekatan intuitif

Pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan intuitif didasarkan atas suatu pendapat seseorang yang diangkat dari perbendaharaan pengetahuannya terdahulu melalui suatu proses yang tak disadari, jadi seolah-olah begitu saja muncul pendapat itu tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Misalnya, seorang astrolog sering menggunakan intuisinya dalam memberikan ramalan nasib seseorang.

Cara pendekatan seperti ini sukar dipercaya, namun sering juga masuk akal tetapi belum tentu cocok dengan kenyataan.

d. Penemuan kebetulan dan coba-coba

Pengetahuan yang diperoleh secara kebetulan, tanpa direncana, dan tidak pasti. Penemuan secara kebetulan kadangkala sangat berguna, misalnya penemuan seorang penderita malaria pada kolam berisi air pahit yang berasal dari kulit pohon kina yang tumbang ke dalam parit, yang kemudian dengan meminum air tersebut penyakit malarianya menjadi hilang/sembuh.

Pengetahuan yang diperoleh dengan coba-coba (trial and error) atau untung-untungan umumnya terjadi secara kebetulan yang didasarkan atas serangkaian percobaan tanpa kesadaran akan pemecahan masalah tertentu. Misalnya, dengan cara coba-coba seekor kera dalam sebuah kerangkeng akhirnya dapat juga meraih pisang dengan menggunakan tongkat (percobaan Kohler, psikolog Jerman).

Cara pendekatan seperti ini jelas tidak efisien untuk mencari kebenaran. e. Pendapat otoritas ilmiah dan pikiran kritis

Pengetahuan yang diperoleh berasal dari pendapat orang-orang yang biasanya telah menempuh pendidikan formal tertinggi atau yang mempunyai

(15)

pengalaman kerja ilmiah dalam sesuatu bidang cukup banyak. Pendapat-pendapat mereka sering diterima orang tanpa diuji, karena dipandang benar. Pendapat otoritas ilmiah tidak selamanya benar, karena pendapat tersebut tidak berasal dari penelitian, melainkan hanya didasarkan atas pemikiran logis saja. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara-cara pendekatan non ilmiah tersebut di atas termasuk golongan pengetahuan yang tidak ilmiah.

2. Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah dilakukan dengan : a. Melalui penemuan ilmiah

Pengetahuan yang diperoleh dibangun di atas teori tertentu atau dengan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.

b. Sistematik

Pengetahuan itu tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, satu dengan yang lain saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh.

c. Terkontrol atas data empiris

Pengetahuan yang diperoleh dapat membuktikan kebenaran yang obyektif sesuai dengan obyeknya, yang dibuktikan berdasarkan data empiris.

d. Hasil penelitian terbuka untuk diuji

Kebenaran pengetahuan yang diperoleh terbuka untuk diuji oleh siapa saja yang menghendaki untuk mengujinya sehingga kebenarannya menjadi berlaku umum.

Dengan demikian pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja, tetapi semua orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten. Misalnya, bila ada orang menggunakan teleskop/teropong Galileo, maka ia akan memperoleh pengetahuan yang sama bahwa : ada 4 buah bulan yang mengelilingi planet Yupiter; di bulan ada gunung-gunung dan bintik hitam; dan ada cincin yang mengelilingi planet Saturnus.

1.8. Batasan Ilmiah

(16)

yang benar sebagai berikut ini (Hadi, 2002). 1. Menjumpai suatu permasalahan

Adanya suatu permasalahan yang hendak diteliti. Hakekat daripada permasalahan adalah adanya ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan.

2. Mendudukkan dan memberi batasan terhadap permasalahan

Permasalahan itu kemudian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan : apa, siapa, dimana, mengapa, kapan, bagaimana, dan sebagainya tentang obyek yang diteliti. Selain itu, permasalahan itu harus jelas pula batas-batasnya serta dikenal faktor-faktor yang mempengaruhinya.

3. Mengajukan hipotesis atau hipotesis-hipotesis

Mengajukan suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jawaban untuk memecahkan permasalahan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang ingin dijawab.

4. Menerangkan hipotesis-hipotesis yang telah diajukan

Menerangkan hipotesis tersebut dengan dukungan pengetahuan yang ada atau yang relevan.

5. Mengetes hipotesis dengan fakta-fakta

Mengumpulkan dan menguji fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.

6. Menarik kesimpulan

Hipotesis yang diterima dapat disimpulkan akan menjadi suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah dan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan.

Dengan memperhatikan cara pendekatan dan langkah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui suatu proses/siklus penelitian yang dapat diilustrasikan sebagai lingkaran ilmu pengetahuan (the wheel of science) berikut ini (Umar, 1997).

(17)

Teori

INDUKSI DEDUKSI

Generalisasi Hipotesis

Empiris

Observasi

Gambar 1.2. Lingkaran ilmu pengetahuan

Dengan landasan suatu teori mengenai suatu aspek dalam phenomena alam, sesungguhnya dapat dibuat suatu hipotesis atau dugaan-dugaan awal dari suatu penelitian. Selanjutnya dapat dilakukan observasi yang menghasilkan data empiris untuk menguji hipotesis tersebut. Berdasarkan data empiris yang dikumpulkan dan dianalisis maka dapat dilakukan generalisasi, yang kemudian merupakan masukan kembali kepada teori yang dipergunakan. Dari hal tersebut mungkin memberi kesimpulan bahwa : teori yang dipakai tersebut memang masih dapat digunakan untuk menjelaskan phenomena alam yang sedang diobservasi, sudah tidak sesuai lagi, atau perlu mengalami modifikasi lagi. Tentu saja variasi-variasi yang akan diperoleh dalam penelitian akan sangat luas dan bergantung pula pada kondisi-kondisi lokal (setempat).

Dengan demikian sesungguhnya penelitian adalah bagian yang sangat esensial dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain ilmu pengetahuan hanya akan berkembang bila ada penelitian. Dengan demikian lingkaran ilmu pengetahuan ini sesungguhnya juga menggambarkan bagaimana ilmu pengetahuan itu bisa diperoleh (epistemologi).

Pada dasarnya ada dua sistem logika yang dapat dipakai untuk menarik kesimpulan, yaitu cara deduksi dan cara induksi. Cara deduksi (deduktif) adalah dimulai dengan perumusan suatu hipotesis, yang selanjutnya dikonfirmasikan berdasarkan hasil observasi. Sebaliknya cara induksi, berawal dari suatu observasi yang kemudian disimpulkan menjadi generalisasi. Kedua cara ini sesungguhnya tidaklah bersifat kompetitif, melainkan saling melengkapi satu dengan lainnya.

(18)

upaya untuk menguji (test) suatu teori, sedangkan model induktif menekankan penyusunan suatu teori berdasarkan analisis (hasil observasi).

1.9. Syarat Peneliti

Yuwono (1996) mengemukakan bahwa dalam melaksanakan penelitiannya, peneliti harus memenuhi syarat sebagai berikut ini.

1. Kompeten

Secara teknik menguasai dan mampu menyelenggarakan penelitian secara ilmiah serta meneliti pada bidang yang diketahui ada keseimbangan dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

2. Obyektif

Berani mengungkapkan apa adanya tapi harus bijaksana dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat serta tidak mencampuradukkan antara pendapat sendiri dan kenyataan.

3. Jujur

Jujur dalam kegiatan penelitian secara keseluruhan (data, hasil, penelitian terdahulu) serta mengendalikan diri untuk tidak menyelundupkan keinginan-keinginan sendiri ke dalam fakta-fakta.

4. Faktual

Terbuka dalam mengungkap hasil penelitian berdasar fakta atau bukti yang ditemukan (tidak bekerja tanpa fakta-fakta).

5. Terbuka

Mengungkap hasil penelitian secara apa adanya, dengan memberikan bukti-bukti dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk menguji kebenaran hasil penelitiannya.

6. Disiplin

Disiplin dalam menjalankan program penelitian sehingga tujuan penelitian dapat tercapai secara efektif dan efisien.

1.10. Hambatan Penelitian

Hambatan yang biasanya dijumpai oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian sebagai berikut ini (Yuwono, 1996).

(19)

1. Sulit memilih materi penelitian

Kesulitan di dalam memilih materi penelitian pada umumnya disebabkan oleh kurangnya wawasan tentang penelitian, terbatasnya bahan bacaan atau literatur, dan jarangnya menghadiri/mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah.

2. Cakupan materi penelitian kurang jelas kapan selesai ?

Topik penelitian yang terlalu umum, tidak spesifik, dan kurang fokus dapat mengakibatkan kurang jelasnya kapan penelitian tersebut akan selesai/berakhir. 3. Kurang berani mengemukakan pendapat

Beberapa peneliti sangat berhati-hati dalam mengemukakan pendapat apalagi jika menyangkut masalah etika, moral, dan pertimbangan dampaknya terhadap masyarakat. Hal ini juga seringkali menjadikan hambatan tersendiri.

4. Sulit mendapatkan dana

Penelitian sudah pasti memerlukan dana, bahkan kadangkala memerlukan dana yang cukup besar. Keterbatasan tersedianya dana dan kesulitan mendapatkan dana bantuan juga seringkali dapat menimbulkan hambatan dalam melaksanakan penelitian.

5. Fasilitas penelitian kurang

Penelitian yang hendak dilaksanakan seringkali juga kurang didukung oleh tersedianya fasilitas dan peralatan laboratorium.

1.11. Syarat Topik Penelitian

Didalam melaksanakan penelitian, hendaknya sebuah topik penelitian dipilih sehingga memenuhi syarat sebagai berikut ini (Yuwono, 1996).

1. Topik dalam jangkauan

a. Kemampuan, kecakapan dan latar belakang mencukupi b. Biaya tersedia

c. Waktu cukup (pengumpulan data, analisis, perumusan hasil dan penulisan) 2. Data tersedia cukup

a. Kepustakaan tersedia

b. Teknik pengumpulan data dikuasai

c. Fasilitas dan peralatan tersedia (laboratorium) 3. Penting untuk diteliti

(20)

a. Memberi sumbangan yang berarti terhadap iptek (bukan duplikasi) b. Bermanfaat bagi perkembangan bangsa dan negara

c. Bermanfaat bagi institusi atau kelompok peneliti 4. Menarik untuk dibahas

a. Memberi dorongan semangat pada peneliti

b. Ada hadiah dibalik penelitian tersebut (paten, dana yang besar)

1.12. Proses Penelitian

Gambar 1.3. merupakan bagan alir dari suatu proses penelitian yang terdiri dari beberapa langkah utama peneltian yaitu :

1. Mendefinisikan masalah penelitian.

2. Meninjau konsep-konsep dan teori-teori yang ada serta meninjau penemuan-penemuan penelitian sebelumnya.

3. Merumuskan hipotesis

4. Desain penelitian (termasuk penentuan sampel) 5. Mengumpulkan data

6. Menganalisis data

(21)

Gambar 1.3. Bagan alir proses penelitian

Sedangkan Yuwono (1996) dan Umar (1997) menyebutkan bahwa agar didalam melaksanakan penelitian dapat mengikuti prosedur yang sistematik dan runtut, maka ada proses yang harus dilalui yaitu sebagai berikut ini.

1. Persiapan

a. Pemilihan bidang penelitian

b. Identifikasi, memilih, dan merumuskan masalah c. Menetapkan tujuan dan sasaran penelitian d. Penelusuran kepustakaan

Meninjau Konsep-konsep dan

Teori-teori

Meninjau Penemuan-penemuan Penelitian

sebelumnya Mendefinisikan Masalah Penelitian

Merumuskan Hipotesis

Desain Penelitian (termasuk penentuan sampel)

Mengumpulkan Data (Mengolah)

Menganalisis Data (pengujian hipotesis jika ada)

(22)

e. Merumuskan dan mengemukakan hipotesis f. Merancang cara pengumpulan data/informasi g. Penulisan usulan penelitian

2. Pelaksanaan

a. Detail kegiatan pada persiapan

b. Identifikasi, klasifikasi dan pemberian definisi variabel c. Pemilihan dan pengembangan alat pengambilan data d. Penyusunan rancangan penelitian

e. Penentuan sampel

f. Pengumpulan data/informasi

g. Menyusun, mengolah, dan menganalisis data/informasi h. Interpretasi hasil analisis

3. Penyebaran hasil penelitian

a. Penulisan laporan hasil penelitian (disimpan di perpustakaan) b. Penulisan artikel ilmiah pada jurnal

c. Seminar hasil penelitian

1.13. Etika Penulis

Menurut Rifai (1995), didalam membuat karya ilmiah dan kemudian menerbitkannya, penulis harus berpegang pada kode etik sebagai berikut ini.

1. Penulis dituntut untuk menjunjung tinggi posisi terhormatnya sebagai orang terpelajar, dengan jalan menjaga kebenaran hakiki, manfaat dan makna informasi yang akan disebarluaskannya sehingga tidak menyesatkan orang lain. 2. Penulis dengan penuh kesungguhan mengupayakan tulisan yang disajikannya

tidak merupakan bahan yang menyusahkan untuk dibaca karena ditulisnya secara tepat, singkat, dan jelas.

3. Penulis harus memperhatikan kepentingan penerbit yang mendanai penerbitan, sehingga keringkasan dan kepadatan tulisan mendasari penyiapan naskah sebab hal itu berarti penekanan terhadap biaya percetakan.

4. Penulis berkepentingan bahwa naskah yang dipersiapkannya diterbitkan dan disebarluaskan, dan untuk itu menyadari sepenuhnya keperluan adanya bantuan penyunting sebagai jembatan penghubung dengan pembacanya.

(23)

5. Penulis hanya akan mengajukan naskah yang dipersiapkan seteliti-telitinya sesuai dengan format yang dibakukan, dan dengan cermat akan mengikuti petunjuk kepada pengarang yang digariskan penyunting yang menjaga ketaatasasan penampilan media komunikasi yang diasuhnya.

6. Penulis berkewajiban tanggap terhadap usul dan saran penyunting sehingga segera mengembalikan naskah yang harus diperbaiki dan direvisinya agar tujuan memajukan ilmu dan teknologi dapat tercapai secepatnya.

7. Penulis mutlak selalu bersikap jujur kepada dirinya dan jujur kepada umum sehingga ia tidak akan menutupi kelemahan atau memperbesar kelebihan hasil yang dicapainya.

8. Penulis berkewajiban menjunjung tinggi hak, pendapat, atau temuan orang lain sehingga selalu menjauhi perbuatan tercela seperti mengambil ide dan gagasan orang lain yang belum diumumkan serta diaku sebagai gagasannya sendiri. 9. Sehubungan dengan adanya hak cipta kepengarangan dan hak kepemilikan

intelektual, penulis senantiasa bertekad tidak akan melakukan plagiat, baik plagiat atas tulisannya sendiri maupun plagiat berdasarkan tulisan orang lain. 10. Penulis mengetahui sepenuhnya bahwa mengutip pernyataan atau pendapat

orang lain dengan secara jelas menyebutkan sumbernya tidaklah merupakan perbuatan tercela.

11. Penulis menyadari bahwa dengan mengirimkan naskah untuk diterbitkan, ia memberikan kepada penerbit hak tunggal untuk menerbitkan, menyebarluaskan dan memperdagangkan hasilnya, sehingga ia tidak akan mengirimkan naskah serupa kepada penerbit lain untuk maksud yang sama.

12. Penulis bertanggung jawab terhadap semua kesalahan isi terbitan dan menanggung segala bentuk hukuman jika secara hukum terbukti bahwa isi terbitan tadi melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

13. Untuk kepentingan umum, penulis berkewajiban merevisi atau mempersiapkan edisi baru karyanya jika diminta oleh penerbit.

14. Penulis mempunyai tugas mulia untuk membantu penerbit mencari penyandang dana tambahan, dan menggalakkan promosi terbitan hasil karyanya.

(24)

2.

PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN

2.1. Pemilihan Bidang Penelitian

Dalam menetapkan obyek penelitian, tentu saja harus mempertimbangkan latar belakang bidang peneliti, agar supaya penelitian tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Sedangkan dalam memilih bidang penelitian yang akan dijadikan obyek penelitian tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagaimana dijelaskan berikut ini (Hadi, 2002).

1. Latar belakang pengetahuan peneliti

a. Peneliti harus mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap permasalahan-permasalahan yang akan diteliti.

b. Mempunyai pengetahuan yang cukup pula terhadap hal-hal lain yang erat hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan.

c. Mengenal batas-batas daripada permasalahan-permasalahan yang penting yang akan diteliti dari permasalahan-permasalahan lain yang tidak termasuk dalam ruang lingkup penelitiannya.

d. Dapat mengemukakan hipotesis-hipotesis. 2. Ketersediaan data

a. Mengetahui betul jenis data apa yang dibutuhkan.

b. Tahu dengan pasti darimana data tersebut akan dikumpulkan atau diperoleh. c. Dapat menentukan metode yang akan digunakan untuk mengumpulkan data. d. Mengetahui prosedur pengumpulan data dengan metode tersebut.

3. Sampling

a. Dapat menunjukkan dengan tepat berapa luas wilayah generalisasi yang diinginkan.

b. Dapat menunjukkan dengan benar disertai dengan alasan tentang teknik-teknik sampling yang akan digunakan.

4. Maksud dan tujuan

a. Dapat memberikan alasan yang cukup tentang arti dan atau manfaat teoritik maupun praktek daripada hasil penelitiannya.

(25)

b. Dapat memberikan gambaran sekedarnya apa implikasi-implikasi atau konsekuensi-konsekuensi daripada penelitiannya dalam kaitannya dengan penerimaan atau penolakan hipotesis-hipotesis yang hendak diteliti.

5. Teknik analisis

Dapat mengemukakan dengan seksama prosedur dan teknik analisis terhadap data yang telah dikumpulkan.

2.2. Latar Belakang Masalah

Penelitian berawal dari adanya masalah, masalah dapat berbentuk ketiadaan informasi mengenai sesuatu hal, kelangkaan/ketiadaan cara-cara atau alat-alat yang diinginkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain masalah juga dapat dilihat sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan maksud atau harapan, atau sesuatu yang diharapkan tidak atau sebaliknya harus terjadi, atau sesuatu yang tidak/belum diketahui baik sesuai maupun tidak dengan yang dimaksud atau diharapkan oleh calon peneliti (Triatmadja R., 1996).

Latar belakang masalah menggambarkan permasalahan yang ada yang didukung dengan data/fakta/referensi dan argumentasi (critical thinking) yang cukup dan disajikan secara logis sehingga benar-benar menunjukkan road map penelitian pada topik yang diteliti dan menunjukkan hal-hal yang akan dilakukan untuk mengisi kesenjangan (filling the gap). Secara prinsip isi bagian ini mengantar pada ditemukannya masalah yang akan diteliti, keutamaannya, dan manfaat/benefetnya.

Isi latar belakang masalah harus diusahakan menyesuaikan/mengacu dan fokus pada hal-hal yang relevan (closely relevan) pada topik dan sekitar faktor atau variabel penelitian. Usahakan untuk tidak melebar/meluas pada uraian yang tidak ada hubungannya dengan topik, faktor, atau variabel penelitian.

Inti dari latar belakang masalah adalah penjelasan secara detail tentang masih perlunya dilakukan penelitian sesuai dengan judul yang telah ditentukan. Dengan kata lain, latar belakang masalah menyatakan secara jelas gambaran kondisi ilmiah sampai saat ini dari judul penelitian bahwa memang secara relevan masih perlu dilakukan dengan didukung dengan data/fakta/referensi yang cukup.

(26)

2.3. Ciri-ciri Masalah Yang Baik

Sevilla C.G. et al (1993) menyebutkan bahwa karakteristik masalah yang baik adalah sebagai berikut ini.

1. Topik atau judul yang dipilih menarik.

2. Pemecahan masalah benar-benar bermanfaat bagi orang-orang dalam lapangan pekerjaan atau bidang tertentu.

3. Masalah harus merupakan hal baru.

4. Harus mengundang rancangan yang lebih kompleks. 5. Harus dapat diselesaikan sesuai waktu yang diinginkan. 6. Tidak bertentangan dengan etika atau moral.

2.4. Identifikasi Masalah dan Sumber Untuk Memperoleh Masalah

Masalah di sekitar topik penelitian perlu dikemukakan detail dan seteliti mungkin yang terkait dengan topik, faktor, dan veriabel penelitian secara logis dan rasional.

Identifikasi masalah yaitu mengidentifikasikan phenomena yang bersangkutan atau yang akan diteliti. Untuk melatih ketrampilan dalam menemukan dan mengidentifikasi masalah dapat dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut ini (Sevilla C.G. et al, 1993).

1. Membaca sebanyak-banyaknya literatur yang berhubungan dengan bidang kita dan bersikap kritislah terhadap apa yang kita baca.

2. Menghadiri kuliah atau ceramah-ceramah profesional.

3. Mengadakan pengamatan dari dekat situasi atau kejadian-kejadian di sekitar kita. 4. Memikirkan kemungkinan penelitian dengan topik-topik atau pelajaran yang kita

dapati waktu kuliah.

5. Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian.

6. Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat hasil atau penemuan yang diperoleh.

7. Menyusun penelitian-penelitian dengan penekanan pada isi dan metodologinya. 8. Mengunjungi berbagai perpustakaan untuk memperoleh topik yang dapat diteliti. 9. Berlangganan jurnal atau majalah yang berhubungan dengan bidang kita.

(27)

2.5. Cara Merumuskan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang, maka masalah perlu dirumuskan secara definitif untuk menekankan (memfokuskan) pada permasalahan yang akan diteliti dan biasanya dapat (dan tidak terbatas hanya) menggunakan kalimat pertanyaan, contoh:

 Bagaimana perbedaan metode A dengan metode B?

 Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara profesionalitas dan pengetahuan manajemen secara simultan terhadap kinerja karyawan?

 Bagaimana hubungan gelombang laut dengan garis pantai?

 Apa pengaruh erosi lahan dengan daya dukung lingkungan?

 Bagaimana kondisi tikungan/belokan sungai sebelum dan sesudah banjir?

 Bagaimana pola arus dan kondisi sedimen di muara sungai?

 Apa ada hubungan struktur bangunan dengan jenis-jenis tanah?

 Bagaimana pengaruh Indeks Plastis terhadap kelongsoran tanah?

 Apakah ada hubungan signifikan antara kondisi hidraulik sungai dengan struktur tanah pada proses kegagalan tebing?

 Bagaimana pengaruh morphologi sungai terhadap satuan wilayah pantai?

 Bagaimana relasi antara defraksi gelombang dan reklamasi pantai terhadap peningkatan banjir di kawasan pantai?

 Faktor-faktor dominan apa saja yang mempengaruhi penurunan tanah?

 Bagaimana pengaruh peninggian jalan terhadap sistem drainasi lingkungan? Berikut ini disampaikan beberapa cara untuk merumuskan masalah penelitian yang baik.

1. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. 2. Rumusan hendaklah jelas dan padat.

3. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah. 4. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesis.

5. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian

Berikut ini disampaikan contoh daripada permasalahan yang ada di pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dimanfaatkan untuk pengembangan lahan tambak udang.

(28)

Permasalahan yang sering terjadi pada sistem pengambilan air laut di kawasan pantai berpasir untuk keperluan tambak adalah :

a. Rusaknya bangunan pengambilan akibat terhantam gelombang yang cukup besar. Apabila bangunan dibuat cukup kuat maka biayanya relatif cukup mahal. b. Kandungan pasir yang cukup banyak, karena biasanya pada daerah yang diambil air lautnya masih termasuk pada daerah surft zone, dimana pada daerah ini merupakan daerah transpor sedimen.

c. Permasalahan erosi akan muncul bilamana pembangunan/pembuatan bangunan pengambilan air laut mengganggu stabilitas garis pantai.

Setelah tahap identifikasi masalah dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah tahap perumusan masalah. Selalu harus diingat bahwa sesuatu masalah yang ditemukan mungkin saja hanya suatu sub masalah dari suatu masalah yang lebih besar.

Masalah yang telah disepakati bersama biasanya (tidak selalu) dirumuskan dalam bentuk pertanyaan : apa, mengapa, bagaimana, dan sebagainya.

Berikut ini disampaikan contoh daripada rumusan masalah.

Bagaimanakah cara membuat/mengembangkan konstruksi/bangunan pengambilan air laut di kawasan pantai berpasir untuk keperluan tambak.

2.6. Kesulitan Merumuskan Masalah

Berikut ini disampaikan beberapa kesulitan dalam merumuskan masalah penelitian yang sering dijumpai.

1. Tidak semua masalah di lapangan dapat diuji secara empiris.

2. Tidak ada pengetahuan atau tidak diketahui sumber atau tempat mencari masalah-masalah.

3. Kadang kala si peneliti dihadapkan pada banyak sekali masalah penelitian, dan si peneliti tidak dapat memilih masalah mana yang lebih baik untuk dipecahkan. 4. Adanya masalah cukup menarik, tetapi data yang diperlukan untuk memecahkan

masalah tersebut sulit diperoleh, serta peneliti tidak tahu kegunaan spesifik yang ada di kepalanya dalam memilih masalah.

(29)

2.7. Menetapkan Maksud, Tujuan, dan Manfaat Penelitian

Setelah perumusan masalah dapat diselesaikan, maka pada dasarnya para peneliti telah dapat pula mengidentifikasikan beberapa variabel bebas serta ukuran keberhasilan yang akan diteliti, sehingga tujuan dan sasaran penelitian dapat diformulasikan secara lebih operasional (biasanya dinyatakan secara deklaratif).

Maksud penelitian diuraikan secara umum (global). Dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai purpose. Sedangkan tujuan adalah perincian detail dari apa

yang dituliskan dalam “maksud”.

Tujuan penelitian dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai objective. Tujuan penelitian dirumuskan selaras dengan masalah, karena suatu penelitian dikatakan berhasil apabila mampu menjawab masalah atau mencapai tujuannya. Cara yang paling mudah adalah dengan menghilangkan kata tanya (apa, bagaimana, dll) di dalam masalah penelitian, contoh:

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan hubungan atau perbedaan (dll.) antara variabel x1, variabel x2, ..., variabel xn.

Usahakan tujuan penelitian sama banyaknya dengan masalah penelitian. Tujuan (objective) penelitian merupakan rincian dari maksud (purpose) yang sudah dinyatakan. Sebagai contoh dari uraian rinci “maksud penelitian” terdapat beberapa

tujuan (misalkan ada lima tujuan). Maka “lima” tujuan ini yang harus dikaji, diteliti,

dianalisis, dicari hasilnya, dan disimpulkan. Artinya pada semua uraian bab-bab berikut harus selalu terikat (sticked) kepada upaya menjawab dan mencapai tujuan ini. Usahakan tujuan dinyatakan dengan kalimat yang bersifat langsung (straight forward).

Manfaat penelitian menguraikan mengenai keuntungan dan manfaat serta implikasi benefet yang logis bisa dicapai atau yang dapat diperoleh dengan adanya penelitian ini. Harus dikaitkan dengan latar belakang, masalah, dan tujuan penelitian. Secara prinsip terdapat 2 point dari manfaat penelitian, yaitu :

a. Point 1

Manfaat penelitian untuk: 1. Ilmu Pengetahuan 2. Masyarakat 3. Obyek Penelitian

(30)

b. Point 2

Manfaat penelitian secara: 1. Teoritis

2. Praktis

Dalam beberapa hal, manfaat penelitian dapat juga mencakup point 1 dan

point 2. Sebaiknya tidak merumuskan manfaat untuk “Peneliti”, seperti: Penelitian ini

adalah untuk menyusun skripsi dalam rangka mencapai gelar sarjana.

Selanjutnya judul penelitian juga segera dapat diformulasikan dengan baik. Berikut ini disampaikan contoh untuk menetapkan maksud, tujuan dan manfaat penelitian.

Penelitian ini mempunyai maksud, tujuan jangka pendek, tujuan jangka panjang, dan manfaat yang ingin dicapai sebagai berikut ini.

a. Maksud Penelitian

Adapun maksud yang ingin dicapai dari hasil penelitian ini adalah : Mendapatkan sistem pengambilan air laut yang relatif murah.

Mendapatkan sistem pengambilan air laut yang ramah lingkungan, aman dari gempuran gelombang, dan kualitas air asin yang memadai untuk keperluan tambak.

Operasional sistem pengambilan air laut yang sederhana dan mudah. b. Tujuan Jangka Pendek

Tujuan jangka pendek diadakannya penelitian ini adalah untuk menolong masyarakat petambak, terutama yang berada pada pantai berpasir dengan gelombang yang cukup ganas. Pembangunan pengambilan air laut secara terbuka yang saat ini dibuat sangat riskan terhadap gempuran gelombang.

c. Tujuan Jangka Panjang

Tujuan jangka panjang diadakannya penelitian ini adalah mengembangkan teknologi sumur resapan berjari di kawasan pantai berpasir di seluruh Indonesia d. Manfaat Penelitian

Penelitian ini nantinya diharapkan akan memberikan manfaat yang signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, melengkapi penelitian sistem pipa berpori bawah tanah sebelumnya, menjadikan sistem sumur kolektor berjari

(31)

mampu memberikan debit pengambilan air laut yang memadai, dan menarik minat berbagai pihak untuk mendukung pengembangan teknologi alternatif yang relatif murah dan ramah lingkungan ini.

Dengan penelitian ini diharapkan debit pengambilan yang dihasilkan menjadi lebih besar dibandingkan dengan sumur gali. Keberhasilan penelitian ini juga akan memberikan harapan bahwa teknologi sistem sumur kolektor berjari dapat diaplikasikan di pantai berpasir di seluruh Indonesia.

2.8. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dimaksudkan untuk memberikan batasan (ruang lingkup) dari penelitian supaya lebih terfokus dalam mencapai tujuan penelitian dengan memperhatikan keutuhan dan validitas hasil penelitian tersebut.

Dari identifikasi masalah yang cukup banyak di dalam identifikasi masalah tersebut, perlu difokuskan bahwa penelitian dibatasi hanya mengungkapkan beberapa variabel (yang ada di dalam identifikasi masalah). Jangan membatasi masalah pada obyek/lokasi penelitian, karena hal ini dibahas dalam uraian tentang populasi/sample. Di dalam bab ini juga tidak perlu memuat jadwal penelitian. Jadwal hanya dibuat dalam proposal saja.

Berikut ini disampaikan contoh untuk menetapkan pembatasan masalah penelitian.

Berdasarkan hasil identifikasi masalah, maka penelitian ini dibatasi hanya pada penelitian eksperimen di laboratorium saja. Dengan mengingat kondisi tersebut di atas maka pada penelitian ini akan dilakukan pembatasan sebagai berikut.

1. Phenomena alam yang ada di lapangan tidak secara utuh dimodelkan di laboratorium dengan model fisik hidraulik melainkan hanya dengan membuat eksperimen fisik di laboratorium untuk mendapatkan rumus empirik.

2. Penelitian di laboratorium dilaksanakan dengan menggunakan air tawar sehingga perbedaan antara viskositas air tawar dan viskositas air asin diabaikan. 3. Kemiringan tanah diabaikan sehingga permukaan tanah dianggap rata.

4. Koefisien permeabilitas tanah dianggap tetap dan merata sehingga hanya ada satu angka koefisien permeabilitas yang mewakili berdasarkan penelitian laboratorium.

(32)

5. Aliran air yang terjadi pada eksperimen hanya berdasarkan pengaruh gravitasi. 6. Aliran air yang terjadi pada eksperimen dianggap berada pada kondisi aliran

(33)

3. KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN TERDAHULU

3.1. Kajian Teori/Penelusuran Kepustakaan

Setelah masalah penelitian dapat dirumuskan, maka membaca pustaka yang relevan, untuk mencari dukungan teori, baik teori yang mendukung maupun teori yang menolak (memperlemah) masalah.

Apabila terdapat dukungan teori, maka masalah yang telah dirumuskan perlu diteliti, belum ada/banyak temuan yang diperoleh dari penelitian lain, maka penelitian dapat diteruskan.

Apabila tidak ada dukungan teori yang jelas, maka sebaiknya penelitian diurungkan.

Kajian teori mendeskripsikan secara logis perkembangan penelitian dan ilmu pengetahuan yang up to date dan menggambarkan posisi terdepan (state of the art) dari topik yang sangat relevan dengan topik penelitian dan dikaji secara komprehensip. Maksud dari pendeskripsian adalah untuk menjelaskan keterkaitan secara ilmiah (logical thinking) dari aspek-aspek yang akan diisi (filling the gap) dari penelitian ini.

Kajian teori dapat diarahkan pada teori-teori baik yang sudah ada (sudah mapan) maupun teori yang akan dikembangkan oleh peneliti dalam rangka bisa filling the gap dan yang sesuai dengan tujuan penelitiannya.

Kajian teori dapat dikembangkan secara lebih detail dan komprehensip dengan mengacu pada uraian yang terdapat di dalam proposal dan bisa dengan melakukan penyesuaian dengan perkembangan-perkembangan yang dijumpai/yang dilakukan selama pelaksanaan penelitian.

Definisi tentang teori yang akan dipakai diuraikan secara rinci. Dimungkinkan lebih dari satu definisi dari suatu pengertian dari berbagai sumber, dibahas, dan penggunaannya dijelaskan, serta paham atau definisi mana yang akan secara konsisten dipakai penulis.

Teori yang ditulis adalah bisa tentang variabel penelitian satu per satu misalnya variabel x1, x2, dst. Uraikan masing-masing variabel x1 itu apa, x2 itu apa selengkap-lengkapnya dengan mengutip dari berbagai sumber, tanpa batas halaman. Jangan menguraikan hal-hal yang tidak terkait.

(34)

Uraian setiap variabel mengemukakan secara teoritis antara lain tentang: pengertian, jenis, dan teori-teori lainnya, sebagai variabel penelitian. Perlu dijelaskan pula persamaan-persamaan yang akan dipakai sebagai dasar analisis.

Pada bagian akhir uraian tentang satu variabel perlu dikemukakan dimensi dan indikatornya yang diperoleh dari uraian teori di atasnya. Dimensi dan indikator merupakan acuan yang diperlukan dalam menetapkan data/informasi yang akan dihimpun melalui pembuatan instrumen penelitian (antara lain kuesioner).

Menurut Umar F. (1997), tahap ini sangat penting mendapat perhatian, karena pada dasarnya jawaban ilmiah teoritik sementara terhadap masalah penelitian akan dicoba ditelusuri dengan penalaran deduktif dalam tahap ini.

Buku-buku baku, ensiklopedia, jurnal/jurnal ilmiah, serta hasil-hasil penelitian yang diterbitkan atau tidak, akan merupakan sumber utama pencarian jawaban teoritik tersebut, yang biasanya dikompilasikan di perguruan tinggi yang bersangkutan.

Dalam tahap ini pula beberapa variabel bebas yang telah diidentifikasikan mulai diformulasikan hubungan atau kaitannya dengan variabel tidak bebas (bila hubungannya sebab akibat) secara lebih jelas. Bahkan sebenarnya hipotesis yang akan diformulasikan biasanya dikaitkan dengan keterkaitan variabel-variabel tidak bebas tersebut. Selain itu batas-batas kualitatif variabel bebas yang dicoba dapat ditentukan dari pustaka, pengalaman/fakta nyata atau secara perhitungan teoritik.

Dalam penelitian yang tidak merumuskan hipotesis seperti penelitian deskriptif, peneliti biasanya sudah berbekal harapan akan menemukan informasi tertentu yang akan mengisi kerangka sistematika yang sudah disiapkan sebagai ganti hipotesis.

3.2. Manfaat Studi Pustaka

Penelitian memerlukan library research (studi pustaka) dan field research (riset lapangan + laboratorium).

Penelusuran pustaka diperlukan untuk menyiapkan kerangka penelitian (research design), memanfaatkan sumber perpustakaan guna memperoleh data penelitiannya, dan untuk membatasi kegiatannya,

Riset yang profesional memakai kombinasi antara riset pustaka dengan riset lapangan/laboratorium.

(35)

Studi pustaka diperlukan karena tiga alasan:

1. Persoalan penelitian, sering hanya dijawab dari penelitian pustaka, tak mungkin diperoleh data dari riset lapangan (misalnya riset sejarah).

2. Studi pustaka diperlukan untuk studi pendahuluan (preliminary research), guna memahami lebih dalam gejala baru yang tengah berkembang di lapangan/di masyarakat.

3. Data pustaka tetap meyakinkan/andal untuk menjawab persoalan penelitian yang sangat kaya untuk riset ilmiah, karena:

 Banyak informasi/data empirik yang dikumpulkan orang lain antara lain berupa laporan hasil penelitian, laporan, buku-buku di perpustakaan.

 Sering data lapangan tidak cukup signifikan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang akan dilakukan.

 Riset pustaka merupakan rangkaian kegiatan berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.

3.3. Ciri Utama Studi Kepustakaan

1. Peneliti langsung berhadapan dengan data angka dan bukan dengan pengetahuan langsung dari lapangan.

2. Data pustaka bersifat “siap pakai”, peneliti tak usah pergi kemana-mana dan cukup berhadapan dengan bahan sumber yang sudah tersedia di perpustakaan. 3. Data pustaka umumnya data sekunder, terima data dari tangan kedua, bukan asli

dari tangan pertama di lapangan. Sumber pustaka sering mengandung bias (prasangka), karena pandangan pembuatnya sangat dominan.

4. Data pustaka kondisinya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Peneliti berhadapan dengan informasi statik, tetap, kapanpun data tidak akan berubah, merupakan data mati yang tersimpan dalam rekaman:

 Teks

 Gambar

 Film

 Angka

(36)

 dll.

5. Koleksi perpustakaan.

Perpustakaan ibarat kamus, berisi bermacam-macam informasi antara lain:

 Buku (cetak/karya grafis)

 Jurnal

 Majalah

 Koran

 Laporan

 Dokumen (belum/sudah diterbitkan)

 Kaset

 Video film (mikro film, mirofis, disket, pita magnetik, kelongsong elektronik (catride).

6. Sistem klarifikasi perpustakaan yang umum didasarkan kelompok bidang disiplin ilmu, yaitu sistem Dewey (Dewey Decimal Classification System), membagi menjadi 10 kelompok utama yang dirinci secara desimal, menjadi 1000 kategori dari nomor 000 s/d 999. No. Pengelompokan 000 Karya Umum 100 Filsafat 200 Agama 300 Pengetahuan Sosial 400 Pengetahuan 500 Pengetahuan Murni 600 Pengetahuan Praktis/Teknologi 700 Kesenian 800 Kesusasteraan

900 Sejarah, Geografi, dan Biologi

Masing-masing kelompok utama tersebut masih dirinci lagi

 Alat Bantu Bibliografi

 Buku-buku referensi, antara lain: kamus, ensiklopedi, buku-buku indeks, buku bibliografi berisi informasi aspek teretentu, buku tahunan/laporan dari

(37)

lembaga lain, buku atlas/peta, buku direktori (nama, alamat orang/organisasi/lembaga + kegiatannya), kamus biografi, koleksi khusus

 Bibliografi buku-buku teks

 Indeks jurnal ilmiah

 Indeks buletin dan majalah

 Indeks surat kabar, tabloid

 Indeks dokumen

 Indeks manuskrip (naskah yang belum diterbitkan)

 Sumber lain

3.4. Kajian Penelitian Terdahulu

Kajian penelitian terdahulu dimaksudkan untuk menyajikan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan dan ada kaitannya dengan penelitian-penelitian yang akan dilakukan. Penelitian-penelitian yang sudah dilakukan inilah yang digunakan sebagai pijakan baik metoda maupun hasil penelitiannya.

Dengan kajian penelitian terdahulu yang baik, akan terlihat celah-celah bagian mana yang perlu dilakukan penelitian dan bagian mana yang tidak perlu, dan juga keaslian penelitian dapat terlihat.

Oleh karena itu, kajian penelitian terdahahulu diharapkan diperoleh dari jurnal-jurnal terbaru atau dari proseding seminar, sehingga selang waktunya tidak terlalu jauh.

3.5. Penelitian Pendahuluan

Disamping Kajian Teori/Pustaka, maka seorang peneliti disarankan untuk melakukan/melaksanakan Kajian/Penelitian Pendahuluan, yaitu pengumpulan data sementara.

Bagaimana apabila data yang diperlukan ternyata tidak diperoleh/didapatkan ? Apakah penelitian menjadi gagal atau berganti topik penelitian.

3.6. Penulisan di Daftar Pustaka 1. Bila sumber berupa buku

(38)

a. Penulis dari satu orang

1) Mengambil dari satu buku

Bellman, R.E., 1957, Dynamic Programming, Princeton University Press, Princeton, New Jersey, xxv+342p.

2) Mengambil dari salah satu paper di dalam buku

Bagnold, R.A., 1966, “An Approach to the Sediment transport Problem

from General Physics”, USGS Professional Paper No. 422-I, Washington D.C., pp. 201-221.

b. Penulis dari dua orang

Simons, D.B. and Senturk, F., 1992, “Sediment Transport Technology – Water and Sediment Dynamics”, Water Resources Publications, Littleton, Colorado, pp. 122-128.

c. Penulis lebih dari dua orang

1) Mengambil dari salah satu paper di dalam buku

Culbertson, J.K., Scott, C.H., and Bennett, J.P., 1972, “Summary of

Alluvial-Channel Data from Rio Grande Conveyance Channel, New Mexico, 1965-69”, USGS Professional Paper No. 562-J, Washington D.C., 96p.

2) Mengambil dari satu buku penuh

Ayyub, B., Gupta, M.M., and Kanal, L.K., 1992, Analysis and Management of Uncertainty : Theory and Applications, North-Holland, Amsterdam, xviii+428p.

2. Bila sumber berupa paper dari suatu jurnal a. Penulis dari satu orang

Askew, A.J., 1974a, “Optimum Reservoir Operating Policies and the Imposition of a Reliability Constraint”, Water resources Research, Vol. 10,

(39)

No. 1, pp. 51-56.

Askew, A.J., 1974b, “Chance-Constrained Dynamic Programming and the Optimization of Water Resources Systems”, Water resources Research, Vol.

10, No. 6, pp. 1099-1106.

b. Penulis dari dua orang

Ackers, P., and White, W.R., 1973, “Sediment Transport: New Approach and Analysis”, Journal of Hydraulic Division, ASCE, Vol. 99, No. HY11: pp.

2041-2060.

Ackers, P., and White, W.R., 1980, “Bed Material Transport: a Theory for Total Load and Its Verification”, Proceeding of the International Symposium

On River Sedimentation, edited By the Chinese Society of Hydraulic Eng., Vol. I, pp. 27-34, Beijing.

c. Penulis lebih dari dua orang

Wang, Zhaoyin, Lin, Bingnan, Nestmann, F., 1997, “Prospect and New Problems of Sediment Research”, International of Journal of Sediment

Research, USGS, Vol. 12, No. 1, pp. 1-15.

Hanscom, M.L., Lafond, L., Lasdon, and Pronovost, G., 1980, “Modelling of

Resolution for the Medium Term Energy Generation Planning Problem for a Large Hydro-Electric System”, Management Science, Vo. 26, No. 7, pp. 659-668.

3.7. Penulisan Notasi

Penulisan notasi, untuk kata-kata dalam bahasa asing (bahasa Inggris) ditulis miring.

ρ kerapatan air

ω fall velocity

γ specific weight of water

τci critical shear stress for sediment size di

(40)

4. PERUMUSAN HIPOTESIS

4.1. Pengertian Hipotesis

Hipotesis berasal dari kata Hipo yang berarti di bawah dan Tesis yang berarti kebenaran. Hipotesis berarti di bawah kebenaran. Kebenaran yang masih berada di bawah (belum tentu benar), masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Sebagaimana diketahui bahwa untuk dapat memecahankan masalah diperlukan adanya ujian secara ilmiah. Hasil penelitian dapat mengarah pada hubungan antara dua atau lebih variabel. Penelitian dengan satu variabel merupakan penelitian tanpa hipotesis.

Setelah tahap penelusuran kepustakaan selesai, maka tahap selanjutnyaen adalah memperkirakan (prediction) hasil yang akan dicapai dari suatu penelitian dengan cara merumuskan dan mengemukakan hipotesis. Sevilla C.G. et al (1993) menjelaskan bahwa hipotesis adalah :

1. Penjelasan sementara tentang suatu tingkah laku, gejala-gejala, atau kejadian tertentu yang telah terjadi atau yang akan terjadi (Gay, 1976).

2. Harapan yang dinyatakan oleh peneliti mengenai hubungan antara variabel-variabel di dalam masalah penelitian, jadi hipotesis adalah pernyataan masalah yang paling spesifik.

3. Pernyataan yang dapat diuji mengenai hubungan potensial antara dua atau lebih variabel (McGuigan, 1978).

Karakteristik hipotesis yang baik adalah : 1. Dapat diteliti.

2. Menunjukkan hubungan antara variabel-variabel. 3. Harus dapat diuji.

4. Harus mengikuti temuan-temuan terdahulu. Fungsi hipotesis adalah :

1. Membimbing pikiran peneliti dalam memulai penelitian. 2. Menentukan tahapan atau prosedur penelitian.

3. Membantu menetapkan format dalam menyajikan, menganalisis, dan menafsirkan data hasil penelitian.

Menurut Umar F. (1997), biasanya kegiatan penelitian untuk menguji hipotesis, yang dirumuskan berdasarkan teori-teori dan temuan-temuan terdahulu.

(41)

Dengan demikian sebenarnya hipotesis ilmiah ini sudah merupakan jawaban sementara, sehingga dikemukakan dalam bentuk jawaban atau pemecahan masalah, bukan dalam bentuk pertanyaan seperti bentuk ungkapan masalah.

Hipotesis ilmiah telah mengandung kebenaran pada tingkat teoritis atau sering disebut juga sebagai kebenaran konstruktif (construct validity) atau kebenaran logik (logical validity). Hipotesis dapat timbul pada mulanya berupa hipotesis intuitif, tanpa dukungan kepustakaan, yang kalau sudah mendapat dukungan teori-teori, konsep-konsep atau temuan-temuan terdahulu akan menjadi suatu hipotesis ilmiah.

Dalam suatu penelitian dapat dikemukakan satu atau lebih hipotesis, tergantung luas atau tidaknya masalah yang diteliti, yang penting dalam mengemukakan hipotesis, dijelaskan alasan-alasan dalam pemilihan hipotesis tersebut. Hipotesis biasanya berkaitan dengan variabel-variabel yang telah diidentifikasikan.

Dalam penelitian dasar yang deskriptif atau observatif, biasanya tidak dikemukakan hipotesis, tetapi lebih memusatkan perhatian pada penyusunan kerangka sistematis yang pada tingkat empirik akan diisi dengan informasi-informasi yang berhasil disimpulkan.

4.2. Hubungan Antar Variabel

Beberapa jenis hubungan antar variabel dapat dijelaskan sebagai berikut ini. 1. Hubungan sejajar tidak timbal balik misal : Hubungan antara kemampuan

mahasiswa terhadap mata kuliah matematika dan fisika.

2. Hubungan sejajar timbal balik, misal : Hubungan antara kekayaan dan kelancaran usaha.

3. Hubungan sebab akibat tidak timbal balik, misal : Hubungan antara pembukaan hutan dan banjir. Pembukaan hutan merupakan variabel bebas (independent variable) dan banjir merupakan variabel terikat (dependent variable). Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dinyatakan sebagai hubungan pengaruh.

4.3. Jenis-jenis Hipotesis

Berdasarkan ketiga jenis hubungan antar variabel tersebut, ada tiga jenis hipotesis untuk dua variabel, yaitu :

(42)

1. Hipotesis tentang hubungan dua variabel sejajar.

2. Hipotesis tentang hubungan dua variabel sebab-akibat timbal balik atau hipotesis saling pengaruh.

3. Hipotesis tentang hubungan dua variabel sebab-akibat tidak timbal balik atau hipotesis pengaruh.

Ditinjau dari operasi rumusan ketiga hubungan di atas, dikenal dua jenis rumusan hipotesis, yaitu :

1. Hipotesis nol (H0).

2. Hipotesis alternatif/hipotesis kerja.

Hipotesis nol (H0), menyatakan ketidak adanya hubungan antara variabel, misal :

Tidak ada hubungan antara kemampuan mahasiswa terhadap mata kuliah matematika dengan mata kuliah fisika.

Tidak ada hubungan sebab-akibat timbal balik (saling pengaruh) antara tingkat kekayaan dengan kelancaran berusaha.

Tidak ada hubungan sebab-akibat (pengaruh) antara luasnya pembukaan hutan dengan kejadian banjir.

Hipotesis alternatif/hipotesis kerja (H1), menyatakan adanya hubungan antar variabel. Dibedakan atas dua macam, yaitu :

 Hipotesis terarah, contoh :

o Tingkat kekayaan berpengaruh terhadap kelancaran bearusaha

o Kelancaran berusaha berpengaruh terhadap tingkat kekayaan.

 Hipotesis tidak terarah, contoh :

o Ada pengaruh tingkat kekayaan terhadap keberhasilan berusaha.

o Ada pengaruh keberhasilan berusaha terhadap tingkat kekayaan Ditinjau dari lingkupnya, hipotesis dibedakan menjadi :

1. Hipotesis mayor. 2. Hipotesis minor. Hipotesis mayor :

Hipotesis mengenai kaitan keseluruhan variabel dan seluruh subyek penelitian, contoh:

(43)

Laju sedimentasi dipengaruhi jumlah curah hujan, diameter sedimen, kecepatan arus, pasang surut (lebih dari dua variabel).

Hipotesis minor :

Hipotesis mengenai kaitan sebagian dari variabel, atau pecahan dari hipotesis mayor, contoh :

Banyaknya fraksi halus, silt dan clay, berpengaruh terhadap laju sedimentasi (dua variabel).

Laju sedimentasi dipengaruhi oleh jumlah curah hujan, diameter sedimen, dan arus pasang surut (lebih dari dua variabel).

4.4. Penelitian Tanpa Hipotesis

Dalam penelitian teknik, hipotesis tidak harus ada, meskipun kalau dipaksakan juga masih bisa diberikan hipotesis secara umum. Hal ini disebabkan karena dalam bidang teknik penelitian tidak harus menghubungkan dua atau lebih variabel, tetapi dapat menciptakan, meningkatkan, verifikasi, dan validasi alat (tools) atau menemukan kelemahan tools, baik perangkat lunak maupun perangkat keras (Triatmadja R., 1996).

Selain itu, penelitian tanpa hipotesis antara lain adalah :

 Penelitian Deskriptif

 Penelitian Historis

 Penelitian Filosofis

 Penelitian Pelacakan

 Penelitian Evaluasi

(44)

5.

DESAIN PENELITIAN

5.1. Apa itu Desain Penelitian

Desain penelitian adalah penyusunan kondisi-kondisi untuk pengumpulan dan analisis data dalam arti bahwa tujuan untuk menggabung relevansi untuk kegunaan penelitian dengan ekonomi dalam prosedur.

Agar pelaksanaan percobaan berlangsung secara efektif dan efisien serta data yang diperoleh mengandung kesalahan (error) yang minimum, biasanya diperlukan suatu desain/rancangan tertentu. Desain penelitian disusun berdasarkan variabel-variabel yang telah diidentifikasi serta oleh hipotesis yang akan diuji kebenarannya.

Sejak hipotesis dikemukakan, variabel-variabel bebas yang akan diteliti sudah harus ditentukan. Biasanya pengaruh variabel bebas ini akan diukur responnya terhadap variabel tidak bebas. Malahan dalam beberapa kasus model hubungan matematiknya secara teoritik sudah ditetapkan, dan ingin dicari besaran-besaran tertentu dalam hubungan tersebut. Pada umumnya desain penelitian juga merupakan desain terhadap analisis data dan desain terhadap penentuan sampel.

5.2. Isi Desain Penelitian

Desain penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai keseluruhan proses atau prosedur penelitian yang ditempuh untuk memberikan jaminan bahwa hasil yang diperoleh bersifat obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah dalam rangka untuk mencapai tujuan penelitian. Uraiannya meliputi minimal:

 Metode penelitian

 Populasi dan sampel penelitian

 Instrumen penelitian

 Skenario penelitian

 Rencana analisis data

Gambar

Gambar 1.1. Siklus penelitian
Gambar 1.2. Lingkaran ilmu pengetahuan
Gambar 1.3. Bagan alir proses penelitian
Gambar 5.2. Proses model fisikFenomenafisik PemecahanmasalahmodelsekaligusprototipePenyusunanprogramFormulasimatematikPenyelesaiannumerikMasalah padamodelPemecahan masalahpada modelPemecahan masalahpada prototipeMasalah yang ada
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian adalah dengan melihat pola sebaran pengunjung sehingga dapat dilihat bagaimana fasilitas pendukung dapat menjadi salah satu obyek pasif ataupun

Sehubungan komputer memiliki sebuah server pada jalur 2 yang memiliki protokol SSH dan dapat mengakses internet maka komputer tersebut dapat mengakses internet

PROGRAM STUDI KEAHLIAN: KEUANGAN KOMPETENSI KEAHLIAN: AKUNTANSI.. JUDUL BUKU:

Pembangunan Perumahan sebesar Rp6,2 triliun (CDMI, 2012). Laporan keuangan merupakan informasi yang penting bagi calon investor karena dari laporan keuangan inilah

[r]

Words painting merupakan istilah atau teknik komposisi yang digunakan untuk mengerksperikan kata dalam syair lagu dengan perlakuan melodi atau pola ritme tertentu.. Sebagian

Judul Skripsi : Peningkatan Pemahaman Konsep Sistem Pemerintahan Tingkat Pusat Melalui Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Catatan : Bangunan Ruko Tersebut lebih tinggi dari jalan ± 20 Cm. Selaku Penyetuju Spek Bangunan Selaku