BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Traumatologi
Traumatologi berasal dari kata trauma dan logos. Trauma berarti kekerasan atas jaringan tubuh yang masih hidup, sedang logos berarti ilmu. Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan yang dimaksud dengan luka adalah suatu keadaan ketidak senambungan jaringan tubuh akibat kekerasan.1
2.2. Penyebab Trauma
Kekerasan yang mengenai tubuh seseorang dapat menimbulkan efek pada fisik maupun psikisnya yang jika diperiksa dapat diketahui jenis penyebabnya, yaitu benda-benda mekanik, benda-benda fisik, kombinasi benda mekanik dan fisik, dan zat-zat kimia korosif. Dalam ilmu perlukaan dikenal trauma tumpul dan trauma tajam.
2.3. Trauma Tajam
Trauma tajam adalah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada permukaan tubuh oleh benda-benda tajam. Ciri-ciri umum dari luka benda tajam adalah1 :
a. Garis batas luka biasanya teratur, tepinya rata, dan sudutnya runcing.
b. Jika disambung akan mejadi rapat karena benda tersebut hanya memisahkan, tidak menghancurkan jaringan dan membentuk garis lurus dari sedikit lengkung.
c. Tidak ada jembatan jaringan.
d. Daerah di sekitar garis batas luka tidak ada memar. Sebab kematian pada luka tajam
a. Kerusakan organ vital b. Emboli udara
c. Aspirasi darah d. Sepsis / infeksi
Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau luka sayat (vulnus
schissum), luka tusuk (vulnus ictum), dan luka bacok (vulnus caesum).1
1. Luka sayat (vulnus schissum)
Luka sayat adalah luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka karena alat ditekan pada kulit dengan kekuatan relatif ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit. Komplikasi fatal dari luka iris yang paling sering terjadi adalah perdarahan sepsis. Luka sayat pada kasus bunuh diri paling sering terjadi di kerongkongan, pergelangan tangan dan, lengan bawah sisi fleksor. Seseorang biasanya memegang senjata dengan tangan kanannya dan
memulai irisan dari sisi kiri ke sisi kanan, atau mungkin dia mengiris dari sisi kanan leher ke depan dan ke bawah. Seseorang yang kidal akan mengiris dirinya dengan cara yang sama, pada umumnya memulai irisan dari sisi kanan leher. Ciri luka sayat adalah :
- pinggir luka rata - sudut luka tajam - rambut ikut terpotong - jembatan jaringan tidak ada
- biasanya mengenai kulit, otot, pembuluh darah, tidak sampai tulang.
Luka sayat pada bunuh diri :2
Lokalisasi luka pada daerah tubuh yang dapat dicapai korban sendiri yaitu leher, pergelangan tangan, lekuk siku, lekuk lutut, pelipatan paha
ditemukan “Luka Iris Percobaan”
Tidak ditemukan “Luka Tangkisan”
Pakaian disingkirkan dahulu (tidak ikut robek)
Luka sayat pada pembunuhan : 2
Sebenarnya sukar membunuh seseorang dengan irisan, kecuali kalau fisik korban jauh lebih lemah dari pelaku atau korban dalam keadaan/dibuat tidak berdaya
Luka di sembarang tempat, juga pada daerah tubuh yang tidak mungkin dicapai tangan korban sendiri
Ditemukan luka tangkisan/tanda perlawanan
Pakaian ikut koyak akibat senjata tajam tersebut
Pada luka sayat karena bunuh diri biasanya ditandai dengan adanya luka percobaan, namun tanda ini tidak menyingkirkan kemungkinan adanya pembunuhan. Luka perlawanan
juga dapat ditemukan pada tangan dan pada permukaan ekstensor lengan pada luka yang disebabkan oleh pembunuhan.
2. Luka tusuk (vulnus ictum)
Luka tusuk adalah luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada permukaan tubuh. Efek yang terjadi pada luka tusuk tergantung dari lokasinya pada tubuh. Luka dapat terjadi pada dada, abdomen tulang belakang, leher, kepala dan ekstremitas. Contohnya pisau dan bayonet. Ciri-ciri luka tusuk (misalnya senjata pisau / bayonet) adalah :
- tepi luka rata
- dalam luka lebih besar dari panjang luka - sudut luka tajam
- sisi tumpul pisau menyebabkan sudut luka kurang tajam - sering ada memar / echymosis di sekitarnya
Luka tusukan biasanya lebih dalam (melalui kulit dan masuk ke dalam tubuh) daripada yang lebar (pada permukaan kulit), seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah.
Pada luka tusuk, sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebabnya, apakah berupa pisau bermata satu atau bermata dua. Bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul, berarti benda penyebabnya adalah benda tajam bermata satu. Bila kedua sudut luka lancip, luka tersebut dapat diakibatkan oleh benda tajam bermata dua.3
Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam penyebabnya, demikian pula panjang saluran luka biasanya tidak menunjukkan panjang benda tajam tersebut. Hal ini disebabkan oleh faktor elastisitas jaringan dan gerakan korban.1
Umumnya luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri, atau kecelakaan memiliki ciri-ciri berikut1 :
Pembunuhan Bunuh diri Kecelakaan
Lokasi luka Sembarang Terpilih Terpapar
Jumlah luka Banyak Banyak Tunggal/banyak
Pakaian Terkena Tidak terkena Terkena
Luka tangkis Ada Tidak ada Tidak ada
Luka percobaan Tidak ada Ada Tidak ada
Cedera sekunder Mungkin ada Tidak ada Mungkin ada
Karakteristik luka tusuk antara lain :
Panjang dan kedalaman luka
Pada luka tusuk, panjang luka pada kulit dapat sama, lebih kecil ataupun lebih besar dibandingkan dengan lebar pisau. Kebanyakan luka tusuk akan menganga bukan karena sifat benda yang masuk tetapi sebagai akibat elastisitas dari kulit. Pada bagian tertentu pada tubuh, dimana terdapat dasar berupa tulang atau serat otot, luka itu mungkin nampak berbentuk seperti kurva. Panjang luka penting diukur dengan cara merapatkan kedua tepi luka sebab itu akan mewakili lebar alat. Panjang luka di permukaan kulit tampak lebih kecil dari lebar alat, apalagi bila luka melintang terhadap otot. Jika luka masuk dan keluar melalui alur yang sama maka lebar luka sama dengan lebar alat. Namun, sering yang terjadi lebar luka melebihi lebar
alat kerena tarikan ke samping waktu menusuk dan waktu menarik. Demikian juga bila alat/pisau yang masuk kejaringan dengan posisi yang miring.4
Pemakaian istilah ‘luka penetrasi’ ditunjukkan untuk menjelaskan dimana dalaman luka yang diakibatkan oleh benda itu melebihi lebar luka yang tampak pada permukaan kulit. Dalamnya luka sulit ditentukan pada daerah tanpa tulang seperti di daerah abdomen oleh karena elastisitas dinding perut tersebut. Panjang saluran luka atau kedalaman luka dapat mengindikasikan panjang minimum dari senjata yang digunakan, jika bagian pangkal senjata masuk kedalam tubuh. Umumnya dalam luka lebih pendek dari panjang senjata, karena jarang ditusukan sampai ke pangkal senjata.4
Bentuk Luka
Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi bentuk luka, yaitu bentuk dan ukuran senjata yang digunakan, arah dorongan, gerakan senjata pada luka, gerakan korban yang ditusuk, dan keadaan elastisitas kulit. Bentuk luka merupakan gambaran yang penting dari luka tusuk karena hal itu akan sangat membantu dalam membedakan berbagai jenis senjata yang mungkin telah dikumpulkan oleh polisi dan dibawa untuk diperiksa. Daerah tepi luka dapat memberikan informasi ketajaman senjata yang digunakan. Senjata yang tumpul misalnya akan membuat tepi luka mengalami abrasi. Pinggir luka dapat menunjukan bagian yang tajam (sudut lancip) dan tumpul (sudut tumpul) dari pisau berpinggir tajam satu sisi. Pisau dengan kedua sisi tajam akan menghasilkan luka dengan dua pinggir tajam. 5
Bentuk luka juga tergantung seberapa banyak bagian pisau (senjata) yang masuk ke dalam tubuh, oleh karena itu penting mengetahui berbagai kemungkinan bentuk senjata yang digunakan.
Beberapa pola luka yang dapat ditemukan seperti6 :
- Tusukan masuk, yang kemudian dikeluarkan sebagian, dan kemudian ditusukkan kembali melalui saluran yang berbeda. Pada keadaan tersebut luka tidak sesuai dengan gambaran biasanya dan lebih dari satu saluran dapat ditemui pada jaringan yang lebih dalam maupun pada organ.
Luka tusuk senjata bermata dua.
Luka tusuk senjata bermata satu.
- Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan kulit seperti ekor. - Tusukan masuk kemuadian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain, sehingga saluran
luka menjadi lebih luas. Luka luar yang terlihat juga lebih luas dibandingkan dengan lebar senjata yang digunakan.
- Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam sebagai landasan sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar pada bagian superfisial. Luka luar lebih besar dibandingkan lebar senjata yang digunakan. - Tusukan diputar saat masuk, keluar, maupun keduanya. Sudut luka berbentuk ireguler
dan besar.
3. Luka bacok (vulnus caesum)
Luka bacok disebabkan oleh kombinasi luka akibat kekerasan benda tumpul dan kekerasan benda tajam yang dihasilkan oleh benda tajam yang dipegang dengan kecepatan masuk yang sangat kuat. Benda yang digunakan sering merupakan benda berat dan bergerak dengan kecepatan tinggi kecepatan atau dengan percepatan sudut yang signifikan. Karena jumlah yang lebih besar dari kekuatan, luka bacok memiliki tampilan dari kedua cedera senjata tajam dan tumpul. Dengan demikian, luka bacok sering memiliki lecet dan memar marginal, dan kadang-kadang laserasi, seperti yang digambarkan di bawah ini.2
Luka bacok adalah luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang cukup besar. Contohnya pedang, clurit, dan kapak. Ciri luka bacok adalah : 2
- luka biasanya besar. - pinggir luka rata. - sudut luka tajam.
- hampir selalu menimbulkan kerusakan pada tulang, dapat memutuskan bagian tubuh yang terkena bacokan.
- kadang-kadang pada tepi luka terdapat memar, aberasi Cara Kematian pada luka bacok :
Pembunuhan (terbanyak)
Kecelakaan
Perbedaan antara trauma tumpul dan trauma tajam. 3
No .
trauma Tumpul tajam
1. Bentuk luka
tidak teratur Teratur 2. Tepi luka Tidak rata Rata 3. Jembatan
jaringan
ada Tidak ada
4. rambut Tidak ikut terpotong
Ikut terpotong 5. Dasar luka Tidak teratur Berupa garis atau
titik 6. Sekitar
luka
Ada luka Lecet atau memar
Tidak ada luka lain
1. Bagian Kedokteran Forensik Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu Kedokteran
Forensik edisi pertama. Jakarta: Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 1997
2. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997
3. Satyo, Alfred C. 2006. Aspek medikolegalluka pada forensik klinik. Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 y No. 4 y Desember 2006.
4. James-payne J, Vanezis P. Sharp and cutting Edge Wounds. Encyclopedia of Forensic and Legal Medicine; Elsevier academic Press. 2005
5. Anonim. Assessing Stab Wounds - Type of Weapon Involved. Available from : URL: http://www. forensicmed.co.uk
6. Amir, Amri. Trauma Mekanik. Dalam. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua Medan: Percetakan Ramadhan. 2005
7. Sofwan. D. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman bagi dokter dan penegak hukum. Semarang.: Balai Penerbit universitas Diponegoro. 2004
8. Budiyanto. A. Widiatmika W, Sudiono,S.T Winardi, Hertian S, Sampurna B, et al.
Ilmu Kedokteran Forensik. 12th ed. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas