• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOLOKIUM SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOLOKIUM SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

0

KOLOKIUM SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

N a m a

: MUMUH MULYANA

N R P

: H251100061

Program Studi

: ILMU MANAJEMEN

Judul Penelitian

: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBENTUK INTENSI

BERWIRAUSAHA SERTA PENGARUHNYA TERHADAP

PERILAKU DAN KINERJA PEDAGANG KAKI LIMA

DI KOTA BOGOR

Dosen Pembimbing

: DR. IR. MA’MUN SARMA, MS., MEC.

PROF. DR. IR. WILSON H. LIMBONG, MS.

Hari/Tanggal

: RABU, 28 MARET 2012

Waktu

: 08.00 – 09.00 WIB

Tempat

: KAMPUS IPB DRAMAGA BOGOR

(2)

1

PENDAHULUAN

Wirausaha kecil merupakan usaha rakyat yang telah menunjukkan keterandalannya dan memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan usaha menengah dan besar (Sapar, 2006) yang mampu menyerap tenaga kerja dan mampu berkontribusi mengurangi angka pengangguran. Wirausaha kecil bersifat luwes dalam usaha maupun kemampuan sumber daya manusianya, berperan sebagai penyedia barang-barang dengan harga relatif murah, memiliki efisiensi dan fleksibilitas usaha yang tinggi, serta keuntungan dapat diraih dalam waktu yang relatif pendek. Kelemahannya adalah Wirausaha kecil kurang memiliki kemampuan manajerial dalam pengembangan usaha. Sehingga wirausaha kecil hanya mampu survive (bertahan untuk hidup).

Kota Bogor sebagai kota satelit yang terakses langsung dengan ibukota negara, memiliki banyak pedagang kaki lima sebagai pelaku wirausaha kecil. Salah satunya adalah di Kawasan Jalan Suryakencana Bogor, sebagai sebuah kawasan yang padat dengan Pedagang Kaki Lima yang telah memberikan kontribusi nyata terhadap geliat perkembangan perekonomian Kota Bogor. Usaha mereka dijalankan hanya dengan mengandalkan intuisi dan peluang bisnis yang ada. Bahkan tidak jarang, usaha mandiri tersebut dijalankan sebagai kelanjutan dari bisnis yang sebelumnya telah dijalankan orangtua atau keluarganya. Sehingga hampir tidak terdapat “sentuhan” manajerial yang mumpuni dalam operasionalisasinya. Usaha mandiri dijalankan seolah penuh dengan ketidaksengajaan dan tidak adanya rencana. Bahkan sebagian pedagang menyatakan pilihan mereka untuk berwirausaha adalah untuk menghindari status pengangguran dan tidak memiliki penghasilan. Berjalannya dan atau berhasilnya usaha para pedagang kaki lima di kawasan tersebut sangat dipengaruhi oleh adanya intensi atau minat berwirausaha (entrepreneurial intention) untuk menjalankan usaha masing-masing pedagang kaki lima.

Intensi berwirausaha (entrepreneurial intentions) menurut Katz dan Gartner (Indarti & Rostiani, 2008) yaitu proses pencarian informasi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembentukan suatu usaha. Seseorang dengan intensi untuk memulai usaha akan memiliki keyakinan diri (efikasi diri), kesiapan dan kemajuan yang lebih baik dalam usaha yang dijalankan dibandingkan seseorang tanpa intensi untuk memulai usaha. Seperti yang dinyatakan oleh Krueger dan Carsrud (Indarti & Rostiani, 2008), intensi telah terbukti menjadi prediktor yang terbaik bagi perilaku kewirausahaan. Oleh karena itu, intensi dapat dijadikan sebagai pendekatan dasar yang masuk akal untuk memahami siapa-siapa yang akan menjadi wirausaha (Choo dan Wong dalam Indarti & Rostiani, 2008). Wijaya (2008), memberikan gambaran yang jelas dalam hasil penelitiannya, bahwa intensi berwirausaha berkontribusi nyata terhadap perilaku berwirausaha para pedagang kecil / UKM.

Pedagang kaki lima tidak akan bertahan untuk tetap berwirausaha, jika tidak memiliki minat berwirausaha, mengingat hambatan dan tantangannya yang begitu besar. Pedagang kaki lima yang memiliki minat berwirausaha yang kuat, jika memiliki kegagalan pada satu jenis usaha tertentu maka ia tidak menyerah dan berhenti begitu saja, namun ia akan tetap berwirausaha dengan mencoba dan berusaha pada jenis usaha yang lainnya.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya intensi berwirausaha para pedagang kaki lima. Penelitian ini ingin mencoba menguraikan dan mengukur tingkat hubungan di antara faktor-faktor tersebut dengan intensi berwirausaha. Di samping itu, akan dianalisis pula keterkaitan intensi berwirausaha dengan kinerja dan perilaku pedagang kaki lima.

Perumusan Masalah

Pedagang Kaki Lima telah menjadi bagian dari perilaku konsumen dalam berbelanja untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Terdapat banyak potensi dan alasan yang mendasari pedagang kaki lima untuk tetap bertahan dan berwirausaha. Alasan utamanya adalah adanya potensi kawasan dan potensi konsumen.

Fakta menunjukkan bahwa sebagian pedagang kaki lima di Kawasan Jalan Suryakencana Bogor merupakan pedagang kaki lima yang telah berwirausaha lebih dari sepuluh tahun dengan jenis usaha/dagangan yang sama sejak awal berdirinya sampai dengan sekarang. Sebagian lagi merupakan

(3)

2 pedagang kaki lima yang sudah lama berwirausaha namun mengalami perubahan produk yang dijualnya akibat mengalami kegagalan dengan produk yang awal. Sebagian lagi merupakan pedagang baru yang mencoba dan berusaha untuk meraup keuntungan dan kesuksesan dengan berwirausaha di kawasan jalan Suryakencana. Beberapa pedagang kaki lima yang biasanya ditemui oleh pelanggannya, sekarang sudah tidak beroperasi lagi.

Satu faktor yang membuat bertahannya para pedagang kaki lima dengan usahanya di kawasan jalan Suryakencana lebih banyak didasari adanya minat berwirausaha yang kuat pada diri mereka. Lemahnya Intensi Berwirausaha membuat para pedagang kaki lima tidak mempertahankan usahanya, bahkan tidak mau berganti kepada produk lainnya. Sehingga menjadi penting, untuk mengetahui faktor-faktor yang membentuk intensi berwirausaha di kalangan pedagang kaki lima dan mengidentifikasi faktor yang dominan mempengaruhinya. Faktor-faktor yang diperkirakan berpengaruh terhadap intensi berwirausaha para pedagang kaki lima adalah aspek demografis, kepribadian dan lingkungan eksternal.

Maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana karakteristik individu dan hubungannya terhadap intensi berwirausaha para pedagang kaki lima?

2. Faktor-faktor apa saja yang dominan membentuk intensi berwirausaha para pedagang kaki lima? 3. Bagaimana hubungan intensi berwirausaha dengan kinerja kewirausahaan para pedagang kaki lima? 4. Bagaimana hubungan intensi berwirausaha dengan perilaku berwirausaha para pedagang kaki lima?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi karakteristik individu dan mengetahui hubungannya dengan intensi berwirausaha pedagang kaki lima.

2. Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan membentuk intensi berwirausaha pedagang kaki lima.

3. Mengkaji hubungan antara intensi berwirausaha dengan kinerja pedagang kaki lima. 4. Mengkaji hubungan intensi berwirausaha dengan perilaku pedagang kaki lima.

TINJAUAN PUSTAKA Kewirausahaan dan Wirausaha

Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa dan bersahaja dalam berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya (Amin, 2008). Kewirausahaan mempelajari tentang nilai, kemampuan, dan perilaku seseorang dalam berkreasi dan berinovasi, oleh sebab itu objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan (ability) seseorang yang diwujudkan dalam bentuk prilaku (Suryana, 2001).

Kepribadian

Fromm dalam Alma (2005) menyatakan bahwa kepribadian adalah keseluruhan kualitas psikis seseorang yang diwarisinya dan membuat orang tersebut menjadi unik dan berbeda dengan yang lainnya. Keunikan inilah yang menjadikan kepribadian sebagai variabel yang sering digunakan untuk menggambarkan diri individu yang berbeda dengan individu lainnya. Cuningham dalam Riyanti (2003: 30) yang melakukan wawancara terhadap 178 wirausaha dan manajer profesional Singapura menyatakan bahwa kepribadian merupakan salah satu faktor penyebab keberhasilan usaha. Pentingnya kepribadian bagi seorang wirausaha juga didukung oleh Miner dalam Riyanti (2003: 13) yang menyatakan bahwa tipe kepribadian sangat menentukan bidang usaha apa yang bakal mendatangkan kesuksesan dalam kewirausahaan.

Kebutuhan Akan Prestasi

McClelland adalah yang pertama kali mengenalkan Konsep kebutuhan akan prestasi (Alma, 2006). Kebutuhan akan prestasi merujuk pada keinginan seseorang terhadap prestasi yang tinggi, penguasaan keahlian, pengendalian atau standar yang tinggi. McClelland pun menyatakan bahwa orang yang

(4)

3 memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi berbeda dengan para penjudi/gamblers atau pengambil resiko/risk takers. Orang-orang dengan kebutuhan prestasi yang tinggi menetapkan tujuan yang bisa dicapai yang dapat mereka pengaruhi dengan usahanya sendiri.

Efikasi Diri

Bandura dalam Chowdhury (2009) menyatakan bahwa efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk melakukan sesuatu pekerjaan dan mendapatkan prestasi tertentu. Bandura pun menyatakan bahwa efikasi diri akan menentukan cara seseorang untuk berpikir, bertindak dan memotivasi diri mereka menghadapi kesulitan dan permasalahan. Sukses atau gagalnya seseorang ketika melakukan tugas tertentu ditentukan oleh efikasi dirinya. Orang yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan bisa menghadapi kegagalan dan hambatan yang mereka hadapi, stabil emosinya, bersikap dan memiliki internal locus of control yang tinggi. Betz dan Hacket dalam Indarti et al. (2008) menyatakan bahwa efikasi diri akan karir seseorang dapat menjadi faktor penting dalam penentuan apakah minat kewirausahaan seseorang sudah terbentuk pada tahapan awal seseorang memulai karirnya. Lebih lanjut Betz dan Hacket menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat efikasi diri seseorang pada kewirausahaan di masa-masa awal seseorang dalam berkarir, semakin kuat minat kewirausahaan yang dimilikinya.

Demografi

Demografi menjadi bagian tidak terpisahkan dalam pembahasan tentang pemasaran. Bogue menyatakan bahwa demografi adalah ilmu yang mempelajari secara statistika dan matematika tentang besar, komposisi, dan distribusi penduduk serta perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya 5 komponen demografi yaitu kelahiran, kematian, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial (Yasin, 2007). Barclay menyatakan bahwa demografi adalah ilmu yang memberikan gambaran yang menarik dari penduduk yang digambarkan secara statistika. Demografi mempelajari tingkah laku keseluruhan dan bukan tingkah laku perorangan (Yasin, 2007).

Lingkungan Eksternal

Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Minat dapat berubah-ubah tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhinya di antaranya adalah faktor lingkungan. Menurut Lupiyoadi (2007: 12) faktor lingkungan yang mempengaruhi minat meliputi lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat. Indarti et al. (2008) menyatakan ada tiga faktor lingkungan yang mempengaruhi wirausaha sukses yakni ketersediaan informasi, akses kepada modal dan kepemilikan jaringan sosial.

Ketersediaan Informasi Kewirausahaan

Informasi merupakan data yang telah diolah dan dibentuk ke dalam format yang bermanfaat bagi manusia. Informasi mempunyai peranan yang sangat penting di dalam kewirausahaan sebagaimana pentingnya informasi dalam bidang-bidang lainnya. Minat kewirausahaan bisa muncul dan berkembang jika terdapat informasi yang memadai yakni keberhasilan sebuah usaha, peluang usaha, pasar yang tersedia, dukungan pemerintah dan badan-badan yang berhubungan dengan kewirausahaan, dukungan dari perguruan tinggi berupa pelatihan dan pendidikan tentang kewirausahaan.

Akses Kepada Modal

Modal merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk memulai usaha. Kristiansen dalam Indarti et al. (2008) menyatakan bahwa akses kepada modal menjadi salah satu penentu kesuksesan suatu usaha. Menurut Indarti et al. (2008) akses kepada modal merupakan hambatan klasik terutama dalam memulai usaha-usaha baru, setidaknya terjadi di negara-negara berkembang dengan dukungan lembaga-lembaga penyedia keuangan yang tidak begitu kuat.

Kepemilikan Jaringan Sosial

Jaringan Sosial menjadi hal tak terpisahkan dalam proses berwirausaha. Membentuk jaringan sosial dapat diartikan sebagai proses dua arah di mana dua orang atau lebih melakukan proses pertukaran informasi dan sumber daya untuk saling mendukung kegiatan masing-masing. Dengan membentuk jaringan sosial maka semua kesempatan bisnis yang ada, permasalahan modal kerja, teknologi produksi, informasi bisnis, investasi, perubahan kebijakan dan peraturan, dan lain-lain dapat dibagi sehingga usaha akan lebih efektif dan efisien dan mengurangi resiko usaha.

(5)

4

Intensi Berwirausaha

Hurlock dalam Riyanti (2003) menjelaskan bahwa minat adalah sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang ingin dilakukan bila seseorang bebas memilih. Ketika seseorang menilai bahwa sesuatu akan bermanfaat, maka akan terbentuk minat yang kemudian hal tersebut akan mendatangkan kepuasan. Ketika kepuasan menurun maka minatnya juga akan menurun sehingga minat tidak bersifat permanen, tetapi bersifat sementara atau dapat berubah-ubah. Dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan intensi berwirausaha adalah kecenderungan atau ketertarikan seseorang untuk melakukan kegiatan kewirausahaan dengan senang hati dan dengan keberanian mengambil resiko.

Perilaku Berwirausaha

Perilaku berwirausaha yaitu tindakan individu yang ditunjukkan dengan keputusan berwirausaha. Perilaku berwirausaha diukur dengan skala perilaku berwirausaha yang diadaptasi dari model perilaku Azjen (2008) dengan indikator tindakan nyata telah menjalankan usaha, keputusan berwirausaha, dan penyataan dukungan pengembangan usaha yang ada. Menurut Buchari Alma (2000 : 25), Perilaku kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan resiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi. Sedangkan menurut Setyawan Joe (1993 : 19), Perilaku kewirausahaan adalah himpunan tindakan manusia dalam situasi berupaya menciptakan nilai tambah dari peluang bisnis mengambil resiko sebanding peluang tersebut, dan dengan keterampilan manajemen, mengarahkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mewujudkan suatu proyek usaha menjadi kenyataan sehingga memberikan hasil yang diidamkan.

Kinerja Kewirausahaan

Kinerja perusahaan menurut Ferdinand (2000) merupakan konstruk yang umum digunakan untuk mengukur dampak dari strategi perusahaan. Masalah pengukuran kinerja menjadi permasalahan dan perdebatan klasik. Hal ini bisa dipahami karean sebagai sebuah konstruk, kinerja bersifat multidimensi dimana di dalamnya termuat beragam tujuan dan tipe organisasi (Bhargava, Dubelaar & Ramaswami, 1994).

Ferdinand (2000) menyatakan bahwa kinerja kewirausahaan yang baik dinyatakan dalam

tiga besaran utama nilai: penjualan, pertumbuhan penjualan dan porsi pasar yang pada akhirnya

bermuara pada keuntungan usaha. Nilai penjualan menunjukkan berapa rupiah/berapa unit

produk yang terjual, sedangkan pertumbuhan penjualan menunjukkan berapa besar kenaikan

penjualan produk yang sama dibandingkan satuan waktu tertentu. Porsi pasar menunjukkan

seberapa besar kontribusi produk yang ditangani menguasai pasar produk sejenis dibanding para

pesaingnya.

Hasil Penelitian Terdahulu

Konsep-konsep yang terdapat pada penelitian mengenai pengaruh faktor personal dan lingkungan terhadap minat berwirausaha ini bersumber dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Tabel 1 Hasil Penelitian Terdahulu dan perbedaannya dengan Penelitian ini No Peneliti, Tahun dan

Judul

Masalah dan Metode

Penelitian Temuan Penelitian

Konsep yang dirujuk untuk tesis ini

Perbedaan dengan Penelitian ini 1 Nurul Indarti dan

Rokhima Rostiani Tahun 2002-2006 Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi Perbandingan Antara Indonesia, Jepang dan Norwegia Membandingkan implikasi dari perbedaan konteks ekonomi dan budaya terhadap intensi kewirausahaan para mahasiswa di tiga negara (Indonesia, Jepang dan Norwegia) Analisis Regresi Berganda

kebutuhan akan prestasi tidak berpengaruh terhadap minat kewirausahaan mahasiswa, efikasi diri mempengaruhi minat kewirausahaan mahasiswa Indonesia dan Norwegia tetapi tidak pada mahasiswa Jepang,

kesiapan instrumen atau lingkungan hanya mempengaruhi minat kewirausahaan mahasiswa Norwegia,

jender dan usia tidak mempunyai pengaruh terhadap minat kewirausahaan mahasiswa ketiga negara,

latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis tidak mempunyai pengaruh terhadap minat kewirausahaan mahasiswa Indonesia dan Jepang,

pengalaman kerja mempengaruhi minat kewirausahaan pada mahasiswa Norwegia, tetapi tidak mempunyai pengaruh terhadap mahasiswa Indonesia dan Jepang.

Kebutuhan akan Prestasi Efikasi Diri Akses Modal Jaringan Sosial Akses terhadap Informasi

Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi berganda, sedangkna penulis menggunakan SEM dalam menganalisis hasil penelitian. Memasukkan variabel Demografi untuk dianalisis dalam keterkaitannya dengan variabel minat berwirausaha

Memunculkan variabel Lingkungan sebagai variabel moderating dalam mengukur keterkaitan variabel akses modal, jaringan sosial dan akses informasi dengan variabel minat berwirausaha

Memperluas instrumen variabel minat berwirausaha

(6)

5 Tabel 1 (lanjutan)

No Peneliti, Tahun dan Judul

Masalah dan Metode

Penelitian Temuan Penelitian

Konsep yang dirujuk untuk tesis ini

Perbedaan dengan Penelitian ini 2 Morello Tahun 2003 Entrepreneurial Intentions of Undergraduates at ESPOL in Equador Intensi Wirausaha di Kalangan Mahasiswa Sarjana di ESPOL Equador Mengukur Hubungan faktor-faktor demografi terhadap minat berwirausaha Analisis Korelasi

mahasiswa yang memiliki orang tua sebagai pengusaha memiliki minat kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki orang tua yang berprofesi sebagai pengusaha,

minat kewirausahaan mahasiswa ekonomi berbeda dengan minat kewirausahaan mahasiswa teknik dan teknologi, mahasiswa teknik memiliki minat kewirausahaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan mahasiswa ekonomi, mahasiswa yang bekerja memiliki minat kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak bekerja,

usia akademis tidak mempunyai korelasi dengan minat kewirausahaan mahasiswa.

Faktor Demografi Minat Berwirausaha

Penelitian ini menggunakan alat analisis korelasi, sedangkan penulis menggunakan SEM dalam menganalisis hasil penelitian. Penelitian ini hanya menguji dan mengukur variabel demografis, sedangkan penulis memperluas dengan menambahkan variabel lingkungan dan kepribadian yang mempengaruhi variabel minat berwirausaha (entrepreneurship intentions)

Penelitian ini menggunakan teknologi dan kondisi pekerjaan sebagai instrumen yang diteliti, sedangkan penulis tidak memasukkannya. 3 Setiyorini Mamik Tahun 2009 Pengaruh Faktor Personal dan Lingkungan Terhadap Keinginan Berwirausaha Mengukur tingkat pengaruh faktor-faktor Personal dan Faktor Demografi terhadap keinginan berwirausaha di kalangan mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta Analisis Regresi Berganda

efikasi diri mahasiswa UNS Surakarta adalah moderat,

mahasiswa memiliki motivasi berprestasi yang tinggi dan locus of control yang moderat,

akses terhadap modal yang rendah, kemampuan mengakses informasi yang moderat dan

kepemilikan hubungan sosial yang moderat Dari uji R2 diperoleh kesimpulan bahwa faktor personal dan lingkungan dapat menjelaskan minat kewirausahaan mahasiswa Universitas Sebelas Maret sebesar 44%, sisanya sebesar 56% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti.

Secara umum minat kewirausahaan mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta yang diteliti adalah moderat.

Faktor Lingkungan Faktor Personal Faktor Demografi Minat Berwirausaha

Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi berganda, sedangkan penulis menggunakan PLS dalam menganalisis hasil penelitian.

4 Anuradha Basu dan Meghna Virick Tahun 2009 Assessing Entrepreneurial Intentions Amongst Students Mengukur Intensi Wirausaha di Kalangan Siswa di Universitas San Jose State Mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi minat berwirausaha para mahasiswa dari berbagai fakultas Analisis Regresi Berganda

pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif terhadap minat kewirausahaan, mahasiswa yang memiliki ayah yang bekerja sendiri (self employed) mempunyai sikap yang lebih positif terhadap kewirausahaan,

mahasiswa yang memiliki pengalaman berwirausaha memiliki sikap yang lebih positif terhadap kewirausahaan.

Faktor Demografi Minat Berwirausaha

Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi berganda, sedangkan penulis menggunakan PLS dalam menganalisis hasil penelitian.

Penelitian ini hanya menguji dan mengukur variabel demografis, sedangkan penulis memperluas dengan menambahkan variabel lingkungan dan kepribadian yang mempengaruhi variabel minat berwirausaha

Secara umum, tesis ini membahas lebih luas dibandingkan dengan penelitian tersebut

Kerangka Pemikiran

Jalal dalam Napitupulu (2009) mengatakan bahwa tingginya angka pengangguran pada lulusan perguruan tinggi menunjukkan proses pendidikan di perguruan tinggi kurang menyentuh persoalan-persoalan nyata di dalam masyarakat. Fakta menunjukkan bahwa para pelaku usaha kecil lebih banyak berasal dari lulusan sekolah menengah (SMP dan SMA). Tidak sedikit bisnis mereka berjalan seadanya. Pengangguran dapat dikurangi dengan semakin banyaknya pelaku wirausaha.

McClelland dalam Ciputra (2008) menyatakan bahwa agar suatu negara bisa menjadi makmur dibutuhkan minimum 2% jumlah wirausaha dari total jumlah penduduknya. Amerika Serikat pada tahun 2007 telah memiliki 11,5% jumlah wirausaha, Singapura telah memiliki 7,2% wirausaha sampai pada tahun 2005 sementara Indonesia diperkirakan hanya memiliki 0,18% wirausaha atau sekitar 440.000 orang dari yang seharusnya berjumlah 4,4 juta orang. Oswari (2005) menyatakan bahwa kurangnya jumlah wirausaha di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor yakni kurangnya pengetahuan tentang

(7)

6 kewirausahaan, etos kerja yang kurang menghargai kerja keras, cepat merasa puas dengan hasil kerja yang telah dicapai, pengaruh penjajahan negara asing yang terlalu lama terhadap rakyat Indonesia dan kondisi ekonomi yang buruk. Untuk dapat berwirausaha dibutuhkan intensi atau minat berwirausaha. Intensi yang kuat akan membuat pelaku wirausaha bertahan dengan kegiatan berwirausahanya.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk meneliti variabel-variabel yang bisa meningkatkan minat berwirausaha. Indarti et al. (2008) menyatakan bahwa minat kewirausahaan dipengaruhi oleh sejumlah faktor yakni kepribadian, lingkungan atau kesiapan instrumen dan demografis. Scarborough dan Zimmerer (1993) menyatakan bahwa kepribadian merupakan salah satu hal yang dimiliki wirausaha sukses. Pentingnya variabel kepribadian juga didukung oleh Scriber dalam Alma (2001) yang menyatakan bahwa keberhasilan seseorang yang ditentukan oleh pendidikan formal hanya sebesar 15% dan selebihnya (85%) ditentukan oleh sikap mental atau kepribadian orang tersebut.

Muhyi (2007) menyatakan bahwa kepribadian yang mempengaruhi kewirausahaan adalah motif berprestasi, komitmen, nilai-nilai kepribadian, pendidikan dan pengalaman. Crant dalam Saud et al. (2009) menemukan bahwa minat kewirausahaan dipengaruhi oleh variabel demografis seperti jender, tingkat pendidikan dan orang tua yang memiliki bisnis. Pentingnya variabel demografis juga ditunjukkan oleh Mazzarol et al. yang menyatakan bahwa variabel jender, umur, pendidikan dan pengalaman bekerja seseorang berpengaruh terhadap keinginannya untuk menjadi seorang wirausaha. Muhyi (2007) menyatakan bahwa variabel lingkungan mempengaruhi minat kewirausahaan, dari faktor lingkungan ini yang mempengaruhi faktor lingkungan adalah peluang, model peran dan aktivitas. Pengaruh kepemilikan jaringan sosial terhadap minat kewirausahaan ditunjukkan oleh Mazzarol et al. dalam Indarti et al. (2008). Dari berbagai hasil penelitian dan pendapat para ahli di atas terlihat bahwa intensi kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor personal dan lingkungan. Faktor Personal dimaksud meliputi faktor kepribadian dan faktor demografis.

Gambar 1. Kerangka Berpikir Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka dibuat hipotesis sebagai berikut: 1. Karakteristik Individu berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha.

2. Demografi, Kepribadian dan Lingkungan berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha. 3. Intensi Berwirausaha berpengaruh positif terhadap Kinerja Pedagang Kaki Lima.

4. Intensi Berwirausaha berpengaruh positif terhaadp perilaku Pedagang Kaki Lima.

DEMOGRAFIS

KEPRIBADIAN

LINGKUNGAN

Intensi Berwirausaha Kebutuhan Akan Prestasi

Efikasi Diri Ketersediaan Informasi Kewirausahaan Kepemilikan Jaringan Sosial Akses pada Modal ε ε ε Kinerja Kewirausahaan Perilaku Berwirausaha

(8)

7

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Kota Bogor dengan menetapkan Pedagang Kaki Lima di Kawasan Jalan Suryakencana sebagai responden. Lokasi penelitian ini dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa Kawasan Suryakencana merupakan kawasan yang memiliki potensi tinggi untuk berwirausaha dan telah banyak pedagang kaki lima yang berwirausaha di kawasan ini dengan rata-rata masa usaha melebihi sepuluh tahun serta merupakan kawasan bisnis dengan tingkat perputaran dana yang sangat tinggi di Kota Bogor.

Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari sumber data dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Data sekunder diperoleh melalui studi dokumentasi dengan mempelajari data-data yang berasal dari BPS, Pemerintah Kota Bogor, instansi terkait dan websitenya.

Populasi penelitian ini adalah seluruh Pedagang Kaki Lima di Sepanjang Jalan Suryakencana Kota Bogor yang berjumlah 112 pedagang (data 10 Maret 2012). Pedagang Kaki Lima dimaksud merupakan pedagang makanan, pedagang minuman, pedagang perabot dan pedagang mainan. Untuk keperluan in-depth study, dipilih 10 orang konsumen dengan metode insidental sampling dengan tetap memastikan bahwa mereka sedang atau pernah berbelanja pada pedagang kaki lima di kawasan Suryakencana Bogor.

Operasionalisasi Variabel

Tabel 2 Operasionalisasi Variabel Penelitian

No Variabel Variabel Manifest (Indikator) Rujukan

1 Kebutuhan Akan Prestasi P1 P2 P3 P4 P5 Menyukai tantangan

Bisa mengambil pelajaran dari kegagalan Tidak suka mencari kambing hitam Berorientasi sukses

Kreatif

Mclelland (Alma 2006); Oosterbeek (2008); Faisol (Mudjiarto, 2006); Scapinello (Indarti, 2008);

2 Efikasi Diri E1

E2 E3 E4

Kepercayaan akan kemampuan diri sendiri Mampu mencapai cita-cita

Mampu mencapai prestasi tinggi

Mampu mencapai prestasi seperti orang lain

Bandura (1977); Chowdhury (2009); Cromi (Indarti, 2008); Betz and Hacket (Indarti, 2008); Oosterbeek (2008); 3 Kepribadian K1 K2 K3 K4 K5 Bertanggung jawab Mampu mengambil resiko Keyakinan besar bisa sukses Mampu menghadapi hambatan Mampu menghadapi kritik

Fromm (Alma, 2005); Scarborough and Zimmerer (Suryana, 2006); Cuningham (Riyanti, 2003); Harris (Suryana, 2006); Miner (Riyanto, 2003); Stoltz (Riyanti, 2003); 4 Demografi D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7 D8

Pengetahuan dan pendidikan Kewirausahaan sebagai pondasi

Manfaat pengetahuan dan pendidikan kewirausahaan

Pengalaman kerja Pengalaman usaha sendiri

Pengalaman menjalankan usaha keluarga Etnisitas / Faktor Keturunan

Usia

Jender / Jenis Kelamin

Bogue (Yasin, 2007); Barclay (Yasin, 2007); Riyanti (2003); Mazzarol (Indarti, 2008); Crant (Saud, 2009); Shapero (Basu, 2009); Sinha (Indarti, 2008); Jones (2009); Charney (2000); Reitan (Frazier, 2009).

5 Ketersediaan Informasi Kewirausahaan I1 I2 I3 I4 Akses informasi Informasi bisnis

Pelatihan, seminar dan kuliah kewirausahaan Informasi positif tentang kewirausahaan

Mujianto (2009); Muhyi (2007) 6 Kepemilikan Jaringan Sosial J1 J2 J3 J4

Pergaulan yang luas Suka berteman/bergaul

Menjadi anggota perkumpulan atau organisasi

Jaringan sosial yang luas

Mazzarol (Indarti et al., 2008); Gregoier et al. (Gadar dan Yunus, 2009); Gadar dan Yunus (2009); Rosenblatt, de Mik, Anderson dan Johnson (Greeve, 2003); McClelland (Muhandri, 2002); Crant (Saud et al, 2009); Mathews dan Moser (Cotleur, 2009); Davidson and Honig (Marshall, 2005); Staw (Riyanti, 2003); Duchesneau (Riyanti, 2003); Aldrich dan Zimmer (Greeve, 2003); Hansen (Greeve, 2003); Chrisman, Chua dan Steier (Marshall, 2005)

7 Akses kepada Modal A1 A2 A3 A4

Relasi yang baik dengan pemilik modal Pengetahuan tentang sumber modal Memiliki modal sendiri

Pengetahuan cara mendapatkan modal

Kristiansen (Indarti et al., 2008); Indarti et al. (2008); Kasmir (2007); Manurung (2008)

(9)

8 Tabel 2 Operasionalisasi Variabel Penelitian (lanjutan)

No Variabel Variabel Manifest (Indikator) Rujukan

8 Lingkungan Eksternal L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 Lingkungan sekeliling Lingkungan keluarga Dukungan teman-teman Lingkungan pergaulan usaha Lingkungan masyarakat Kondisi Perekonomian Kebijakan Pemerintah

Lupiyoadi (2007); Indart et al (2008); Dewanti (2008); Mazzarol et al (Saud, 2009); Zimmerer (2004)

9 Intensi Berwirausaha M1 M2 M3 M4 M5 Senang berwirausaha Ingin penghasilan yang tinggi Ingin bisa mengatur waktu dan diri sendiri

Suka membuat sesuatu untuk Dijual

Suka Kegiatan Menjual Sesuatu

Tarmudji (2006); Hurlock (Riyanti, 2003); Crow & Crow (Yuwono, 2008); Masrun (Yuwono et al., 2008); Wirasasmita (Suryana, 2006); Mudjiarto et al. (2005); Zimmerer (2004). 10 Kinerja Kewirausahaan F1 F2 F3 Volume Penjualan Pertumbuhan Penjualan Porsi Pangsa Pasar.

Menon, Bharadwaj dan Howell, (1996); Hart and Banbury, (1994); Naman and Slevin, (1993), Mardiyanto (2002) 11 Perilaku Berwirausaha B1 B2 B3

Tindakan Nyata telah menjalankan bisnis Keputusan Berwirausaha

Pernyataan Dukungan pengembangan Usaha yang Ada

Crow & Crow (Yuwono, 2008); Masrun (Yuwono et al., 2008); Wirasasmita (Suryana, 2006); Mudjiarto et al. (2005); Zimmerer (2004).

Ajzen (2008), Toni Wijaya (2008).

Pengolahan dan Analisis Data

Untuk menganalisis data digunakan pendekatan Partial Least Square (PLS). PLS adalah model persamaan Structural Equation Model (SEM) yaitu suatu teknik modeling statistika yang merupakan kombinasi dari analisis principal component, analisis regresi dan analisis path.

Tujuan PLS adalah membantu peneliti untuk mendapatkan nilai variabel laten untuk tujuan prediksi. PLS merupakan metode analisis yang powerfull, karena tidak didasarkan pada banyak asumsi. Misalnya, data harus terdistribusi normal, sampel tidak harus besar. Selain dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori, PLS juga dapat digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antar variabel laten. PLS dapat sekaligus menganalisis konstruk yang dibentuk dengan indikator reflektif dan formatif. Model formalnya mendefinisikan variabel laten adalah linear agregat dari indikator-indikatornya. Weight estimate untuk menciptakan komponen skor variable laten didapat berdasarkan bagaimana inner model (model struktural yang menghubungkan antar variabel laten) dan outer model (model pengukuran yaitu hubungan antara indikator dengan konstruknya) dispesifikasi. Hasilnya adalah residual variance dari variabel dependen.

Software untuk menganalisis SEM component based PLS pertama kali dikembangkan oleh Jan-Bernd Lohmoller under DOS dan disebut LVPLS versi 1.8 (Latent Variable Partial Least Squares.) Kemudian software tersebut dikembangkan oleh beberapa ahli setelahnya. Di University of Hamburg Jerman dikembangkan pula software PLS yang diberi nama SMARTPLS versi 2.0 M yang digunakan dalam mengolah data pada penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ajzen, I., 2008. Attitudes and Attitude Change. Psychology Press: WD Crano eds

Amin, Tunggal, Wijaya, 2008. Pengantar Kewirausahaan, Edisi Revisi, Penerbit Harvarindo, Jakarta.

Bandura, Albert, 1977. Self-Efficacy: Toward a Unifying Theroy of Behavioral Change, Phsycological Review, 84 (2), 191 - 215.

Basu, Anurudha and Meghna Virick, 2009. Assessing Entrepreneurial Intentions Amongst Students: A Comparative Study, San Jose State University. http://nciia.org.

Chang, Yuan Chieh, Ming Huei Chen and Phil. Y.Yang, Factors Influencing Academic Entrepreneurship: The Case of Taiwan, Yuan-Ze University and National Chi Nan University, Taiwan

(10)

9

Charney, Alberta, dan Gary D. Libecap, 2000. The Impact of Entrepreneurship Education: An Evaluation of the Berger Entrepreneurship Program at the University of Arizona, 1985-1999, University of Arizona Tucson, Arizona.

Chowdhury, Sanjib, 2009. Gender Difference and The Formation of Entrepreneurial Self efficacy. Michigan. Ciputra, 2008. Quantum Leap: Bagaimana Entrepreneurship Dapat Mengubah Masa Depan Anda dan Masa Depan

Bangsa, Cetakan Pertama, Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

Coutleur, Catherine Ashley dan Sandra King, 2009. Parental and Gender Influences on Entrepreneurial Intentions, Motivations and Attitudes, Frostburg State University dan California State Polytechnic University,. http://usasbe.org.

Ferdinan, 2006, Structural Equation Modeling dalam Penelitian manajemen, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Friedman, Howard S. dan Miriam W. Schustack, 2008. Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern, Alih Bahasa: Benedictine Widyasinta, Edisi Ketiga, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Frazier, Barbara J. dan Linda S. Niehm, Predicting The Entrepreneurial Intentions Of Non-Business Majors: A Preliminary Investigation, Western Michigan University dan Iowa State University.

Gadar, Kamisan dan Nek Kamal Yeop Yunus, 2009. The Influence of Personality and Socio-Economic Factors on Female Enterpreneurship Motivations in Malaysia, International Review of Business Research Papers, January, 5 (1), 149 - 162

Greve, Arentdan Janet W. Salaff, 2003. Social Networks and Entrepreneurship, Entrepreneurship, Theory & Practice, 28(1): 1-22.

Hisrich, Robert D., Michael P.Peters dan Dean A. Shepherd, 2008. Kewirausahaan, Edisi 7, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Ghozali, Imam. 2008. Structural Equation Modeling Metode Alternatif dengan Partial Least Square Edisi 2, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Indarti, Nurul dan Rokhima Rostianti, 2008. Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi Perbandingan Antara Indonesia, Jepang dan Norwegia, Ekonomika dan Bisnis Indonesia, Oktober, 23 No. 4.

Jones, Colin dan Jack English, 2009. A Contemporary Approach to Entrepreneurship Education. Kasmir, 2007. Kewirausahaan, Edisi 1, Penerbit PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Kolbre, Ene, Toomas Piliste dan Urve Venesaar, Students. Attitudes and Intentions toward Entrepreneurship at Tallinn University of Technology, TUTWPE No 154.

Lupiyoadi, Rambat, 2007. Entrepreneurship From Mindset To Strategy, Cetakan Ketiga, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Manurung, Adler Haymans, 2008. Modal untuk Bisnis UKM, Cetakan Kedua, Penerbit PT Kompas Media Nusantara, Jakarta.

Mardiyanto, Agus. 2002. Studi Mengenai Kreativitas Program dan Kinerja Pemasaran. Jurnal Sains Pemasaran Indonesia, Vol. 1 No. 1 Mei 2002. Center for Marketing Studies MM FE Universitas Diponegoro, Semarang. Marshall, Maria I. dan Whitney N. Oliver, 2005. The Effects of Human, Financial, and Social Capital on the

Entrepreneurial Process for Entrepreneurs in Indiana, Allied Social Science Associations Annual Meeting, Philadelphia, Pennsylvania.

Meredith, Geoffrey G, 2002. Kewirausahaan: Teori dan Praktek, PPM, Jakarta.

Morello, Virginia Lasio, Dirk Deschoolmeester dan Elizabeth Arteaga Garcia, 2003. Entrepreneurial Intention of Undergraduates at ESPOL in Equador, CICYT-ESPOL.

Mudjiarto dan Aliaras Wahid, 2006. Membangun Karakter dan Kepribadian Kewirausahaan, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Penerbit Graha Ilmu dan UIEU University Press, Yogyakarta dan Jakarta.

Oosterbeek, Hessel, Mirjam C. Van Praag dan Auke Ijsselstein, 2008. The Impact of Entrepreneurship Education On Entrepreneurship Competencies and Intentions. TI 2008-038/3, Tinbergen Institute dan University of Amsterdam http://www.economist.ne.

Ranto, Basuki, 2007. Korelasi antara Motivasi, Knowledge of Entrepreneurship dan Indpendensi dan The Entrepreneur’s Performance pada Kawasan Industri Kecil. Jurnal Usahawan No. 10 Tahun XXXVI Oktober 2007.

Riyanti, Benedicta Prihatin Dwi, 2003. Kewirausahaan Dipandang dari Sudut Pandang Psikologi Kepribadian, Cetakan Pertama, Penerbit PT Grasindo, Jakarta.

Sapar, 2006. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Kewirausahaan Pedagang Kaki Lima. Institut Pertanian Bogor,

(11)

10

Saud, Mohammad Basir dan Mohd Noor Sharrif, 2009. An Attitude Approach to the Prediction of Entrepreneurship on Students at Institution of Higher Learning in Malaysia, International Journal of Business and Management July, 4 (4), 129 . 135.

Setiyorini, Mamik, 2009. Pengaruh Faktor Personal dan Lingkungan terhadap Keinginan Berwirausaha. Universitas Sebelas Maret Surakarta

Shastri, Rajesh Kumar, Surendra Kumar dan Murad Ali, 2009. Entrepreneurship Orientation Among Indian Professional Students. Journal of Economics and Internatioanl Finance Vol.1(3), pp 085-087, August 2009. Siswoyo, H. Bambang Banu, 2009. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan di Kalangan Dosen dan Mahasiswa, Jurnal

Ekonomi Bisnis, Tahun 14 No 2, Juli.

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Cetakan Keempat, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Sunyoto, Danang, 2009. Analisis Regresi dan Uji Hipotesis, Cetakan Pertama, Penerbit Medpress, Yogyakarta. Suryana, 2006. Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses, Edisi Ketiga, Penerbit Salemba,

Jakarta.

Tarmudji, Tarsis, 1996. Prinsip-prinsip Kewirausahaan, Liberti, Yogyakarta.

Tjakrawerdaya, Subijakto. 1997. Gambaran Koperasi dan Usaha Kecil Menengah pada Abad 21. Disampaikan pada Seminar Nasional Modal Ventura 22 Maret 1997. Jakarta

Verheul, Ingrid, Roy Thurik dan Isabel Grilo, 2009. Explaining Preferences and Actual Involvement in Self-Employment: New Insights into the Role of Gender. Erasmus Research Institute of Management, Holland. Wijaya, Tony, 2008. Kajian Model Empiris Perilaku Berwirausaha UKM DIY dan Jawa Tengah, Jurnal Manajemen

dan Kewirausahaan, September, 10 (2), 93 . 104.

Yohnson, 2003. Peranan Universitas dalam Memotivasi Sarjana Menjadi Young Entrepreneurs, Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, 5 (2), September, 97 . 111.

Yuwono, Susatyo dan Partini, 2008. Pengaruh Pelatihan Kewirausahaan Terhadap Tumbuhnya Minat Berwirausaha, Jurnal Penelitian Humaniora, Vol 9 No 2, Agustus, 119 - 127

Zimmerer, Thomas W. dan Norman Scarborough, 2004. Pengantar Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Kecil, Gramedia, Jakarta.

Gambar

Tabel 1 Hasil Penelitian Terdahulu dan perbedaannya dengan Penelitian ini
Gambar 1. Kerangka Berpikir
Tabel 2 Operasionalisasi Variabel Penelitian
Tabel 2 Operasionalisasi Variabel Penelitian (lanjutan)

Referensi

Dokumen terkait

Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus. Menurut peraturan Tata Gereja dan Tata Laksana GKSBS, bahwa seorang calon Pendeta wajib mengikuti Pembimbingan agar dapat

Pada sampul luar ditulis nama paket pekerjaan, nama dan alamat peserta, serta ditujukan kepada Tim Pengadaan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Direksi, Komisaris,

Bagi negara yang mengandalkan sektor pajak sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan akan menghadapi masalah besar jika para wajib pajak (WP) nya masih sering

Sedangkan pendekatan sistem yang lebih menekankan pada elemen atau komponen mendefinisikan sistem sebagai kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai

Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora

Pendidikan Islam yang di dalamnya terdapat konsep utama yaitu mengenal keberadaan Allah akan mampu mengembalikan manusia pada hubungan primordialnya dengan Tuhan

Menuurut Sakarnadi pada tahun 2014, terdapat tahapan kemampuan berjalan pada bayi, yaitu merambat (dimana bayi akan memegang perabot rumah dan mengangkat badannya hingga

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pasien dalam meningkatkan. keberhasilan terapi DM