Kata Pengantar ... i
Ringkasan Eksekutif ... iii
Daftar Isi ... vi
Daftar Tabel ... viii
Daftar Gambar ... x
Daftar Lampiran ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Maksud dan Tujuan ... 1
1.3. Sejarah Singkat Kota Sabang ... 2
1.4. Gambaran Umum Kondisi Daerah ... 4
1.4.1. Aspek Geografi ... 4
1.4.2. Aspek Demografi ... 8
1.4.3. Aspek Kesejahteraan Masyarakat ... 9
1.5. Struktur Organisasi ... 15
1.6. Tugas dan Wewenang ... 16
1.7. Kondisi SDM Pemerintah Kota Sabang ... 22
1.8. Dasar Hukum Penyusunan ... 24
1.9. Sistematika Penyajian ... 26
BAB II PERENCANAAN KINERJA ... 27
2.1. Manajemen Kinerja ... 27
2.1.1. Perencanaan ... 27
2.1.2. Pelaksanaan ... 29
2.1.3. Monitoring dan Evaluasi ... 29
2.1.4. Pelaporan dan Reviu ... 30
2.2. Road Map Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota Sabang Tahun 2007 - 2027 ... 30
2.2.1. Visi dan Misi ... 31
2.3.2. Misi ... 51
2.3.3. Tujuan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2013 - 2017 ... 52
2.3.4. Strategi Pembangunan Tahun 2013 - 2017 ... 55
2.3.5. Prioritas Pembangunan Tahun 2013 - 2017 ... 57
2.4. Rencana Kerja Pembangunan Kota Sabang Tahun 2015 ... 59
2.4.1. Tema Pembangunan dan Arah Kebijakan Tahun 2015 ... 59
2.4.2. Arah Kebijakan Pemerintah Kota Sabang Tahun 2015 ... 61
2.4.3. Rencana Kinerja Tahunan Pemerintah Kota Sabang Tahun 2015 .... 61
2.4.4. Perjanjian Kinerja Pemerintah Kota Sabang Tahun 2015... 67
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 68
3.1. Pengukuran Capaian Kinerja ... 69
3.2. Analisis dan Evaluasi Capaian Kinerja ... 74
3.3. Evaluasi Capaian Kinerja terhadap Target RPJMK Sabang ... 126
3.4. Realisasi Anggaran ... 131
3.5. Capaian Kinerja Lainnya ... 133
Tabel 1.1 Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk ... 8
Tabel 1.2 Perkembangan Makro Ekonomi ... 10
Tabel 1.3 Distribusi Keadaan Tingkat Kemiskinan ... 14
Tabel 1.4 Keadaan Indeks Pembangunan Manusia ... 15
Tabel 1.5 Jumlah PNS di Kota Sabang Menurut Jenjang Pendidikan ... 24
Tabel 2.1 Hubungan Visi, Misi dan Tujuan, Sasaran Pembangunan ... 52
Tabel 2.2 Sasaran Strategis Pemerintah Kota Sabang ... 58
Tabel 2.3 Rencana Kinerja Tahun 2015 ... 62
Tabel 3.1 Skala Nilai Peringkat Kinerja ... 68
Tabel 3.2 Pengukuran Kinerja Pemerintah Kota Sabang Tahun 2015... 69
Tabel 3.3 Capaian Kinerja Meningkatnya Pemahaman dan Pengamalan Keagamaan oleh Masyarakat ... 74
Tabel 3.4 Pelanggaran Qanun Syariat Islam Tahun 2015 ... 76
Tabel 3.5 Pertumbuhan Penerimaan Zakat, Infaq dan Shadaqah ... 76
Tabel 3.6 Capaian Kinerja Meningkatnya Kerukunan Antar Umat Beragama ... 77
Tabel 3.7 Capaian Kinerja Meningkatnya Kualitas Pendidikan bagi Siswa dan Tenaga Kependidikan ... 79
Tabel 3.8 Capaian Kinerja Meningkatnya Kualitas Pendidikan Masyarakat ... ... 86
Tabel 3.9 Capaian Kinerja Meningkatnya Aksesibilitas Wilayah Antara Gampong dengan Kota Kecamatan, Antar Kota Kecamatan dan Antara Kota Kecamatan dengan Pusat Kota Sabang ... 88
Tabel 3.10 Indikator Proporsi Panjang Jaringan Jalan dalam Kondisi Baik ... 89
Tabel 3.11 Capaian Kinerja Meningkatnya Penyediaan dan Pelayanan Distribusi Air Bersih yang Memenuhi Standar Kesehatan dan Memaksimalkan Pemanfaatan sumber-sumber Air bagi Kebutuhan Masyarakat ... 90
Tabel 3.12 Capaian Kinerja Terwujudnya Kota Wisata yang Aman, Bersih, Sehat dan Ramah Lingkungan ... 91
Tabel 3.15 Persentase Kontribusi PAD terhadap Total Pendapatan Daerah ... 94
Tabel 3.16 Capaian Kinerja Meningkatnya Kesempatan Kerja ... 95
Tabel 3.17 Tingkat Pengangguran Terbuka ... 96
Tabel 3.18 Capaian Kinerja Meningkatnya Kualitas Kesehatan ... 96
Tabel 3.19 Capaian Kinerja Meningkatnya Kualitas Kesehatan Masyarakat ... 98
Tabel 3.20 Persentase Balita Gizi Buruk ... 98
Tabel 3.21 Capaian Kinerja Kapasitas PUG dan Terlaksananya Perencanaan Penganggaran yang Responsif Gender ... 101
Tabel 3.22 Capaian Terciptanya Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan dan Perlindungan terhadap Anak ... 103
Tabel 3.23 Capaian Kinerja Meningkatnya Kebersihan Kota ... 105
Tabel 3.24 Capaian Kinerja Terlaksananya Penataan Ruang Wilayah ... 106
Tabel 3.25 Capaian Kinerja Tersedianya Ruang Terbuka Hijau... 107
Tabel 3.26 Capaian Kinerja Tersedianya Rumah Layak Huni bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah ... 108
Tabel 3.27 Capaian Kinerja Meningkatnya Kondisi Keamanan dan ketertiban Masyarakat .... 109
Tabel 3.28 Jumlah Kasus Kriminal Tahun 2011-2015... 110
Tabel 3.29 Capaian Kinerja Meningkatnya Kegiatan Keolahragaan dalam Masyarakat ... 111
Tabel 3.30 Capaian Kinerja Meningkatnya Perlindungan Sosial bagi Masyarakat Miskin ... 112
Tabel 3.31 Capaian Kinerja Meningkatnya Kegiatan Seni dan Kebudayaan Daerah ... 114
Tabel 3.32 Capaian Kinerja Berkembangnya Destinasi Pariwisata Sabang yang Maju ... 115
Tabel 3.33 Capaian Kinerja Tata Kelola Pemerintahan yang Baik ... 117
Tabel 3.34 Daftar SKPK Pengguna Aplikasi E-Office ... 124
Tabel 3.35 Capaian Kinerja Terwujudnya Keterpaduan dan Efektifitas Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang... 126
Tabel 3.36 Target dan Capaian Kinerja RPJMK Sabang 2013-2017 Pada Tahun Ke-Tiga (Tahun 2015) ... 127
Lampiran I Perjanjian Kinerja Tahun 2015 ... 139
Lampiran II Program dan Anggaran Tahun 2015 ... 142
Lampiran III Bagan Struktur Organisasi Pemerintah Kota Sabang ... 148
Gambar 1.1 Peta Administrasi Sabang ... 4
Gambar 1.2 Jenis Penggunaan Lahan di Kota Sabang ... ... 6
Gambar 1.3 Klas Penggunaan Lahan ... 6
Gambar 1.4 Pertumbuhan PDRB ADHK ... 9
Gambar 1.5 Nilai PDRB Perkapita ADHB ... 11
Gambar 1.6 Index Harga Implisit PDRB Menurut Pengeluaran ... 13
Gambar 1.7 Jumlah PNS di Kota Sabang Menurut Golongan ... 23
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas izinNya Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Kota Sabang Tahun 2015 telah dapat tersusun dengan baik. LKIP disusun dalam rangka mewujudkan Good Governence Kota Sabang yang merupakan wujud pertanggungjawaban terhadap Visi, Misi Tujuan, Sasaran, Program dan Kegiatan Instansi Pemerintah setiap tahunnya.
Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) ini merupakan implementasi dari Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, PERPRES tersebut yang mewajibkan setiap Instansi Pemerintah, Negara sebagai unsur penyelenggara pemerintah berkewajiban menyampaikan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah kepada Presiden melalui Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Penyusunan LKIP ini mengacu dan berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
LKIP merupakan media pertanggungjawaban yang dibuat secara periodik, memuat informasi yang dibutuhkan oleh pihak yang memberi amanah atau pihak yang mendelegasikan wewenang. Materi LKIP mengandung analisis pencapaian sasaran yang ditetapkan dalam Renstra untuk tahun yang bersangkutan. Selain dari itu LKIP berfungsi sebagai sarana bagi Pemerintah Kota untuk menyampaikan keterangan pertanggungjawaban kinerja kepada seluruh stakeholders dan masyarakat, sebagai sarana evaluasi atas pencapaian kinerja, dan sebagai upaya untuk memperbaiki kinerja kedepan yang telah ditetapkan.
Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kota Sabang ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah kota dan pihak terkait lainnya sehingga dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pencapaian kinerja Pemerintah Kota Sabang dapat lebih ditingkatkan.
Sabang, Maret 2016 WALIKOTA SABANG,
pemerintah untuk mendorong tata kelola pemerintahan yang baik, dimana, instansi pemerintah melaporkan kinerjanya dalam memberikan pelayanan publik. Proses penilaian yang terukur ini juga menjadi bagian dari skema pembelajaran bagi organisasi pemerintah untuk terus meningkatkan kapasitas kelembagaan sehingga kinerjanya bisa terus ditingkatkan.
Qanun Kota Sabang Nomor 3 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Sabang Tahun 2013-2017, dengan Visi “Terwujudnya Masyarakat Sabang yang Maju, Mempunyai Hak Dasar, Mandiri, Sejahtera dalam Pola Hidup Rukun yang Berdasarkan Moral Keagamaan”, diwujudkan melalui beragam Misi yang kemudian dijabarkan ke dalam Tujuan dan Sasaran yang akan dicapai.
Berkaitan hal tersebut, pada tahun 2015 Pemerintah Kota Sabang telah mengalokasikan balanja daerah sebesar Rp. 663.907.446.008,80,- terealisasi sebesar Rp.604.582.498.998,- atau 91,06%, anggaran tersebut berupa Belanja Tidak Langsung sebesar Rp.271.001.239.281,80,- terealisasi sebesar Rp.257.259.868.377,-atau 94,93% dan Belanja Langsung Rp.392.906.206.727,- dan teralisasi sebesar Rp.347.322.630.621,- atau 88,40%. Anggaran tersebut guna membiayai 156 program pembangunan dan pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) maupun analisis kinerja berdasarkan Tujuan dan Sasaran yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2015 terdiri dari 25 (dua puluh lima) Sasaran Strategis dengan 49 (empat puluh sembilan) Indikator Kinerja Utama (IKU). Secara umum capaian kinerja Sasaran Strategis adalah, 15 (lima belas) Sasaran Strategis dengan kualifikasi Sangat Baik, 7 (tujuh) Sasaran Strategis dengan kualifikasi Tinggi, dan 3 (tiga) Sasaran Strategis dengan kualifikasi Sedang.
Berdasarkan hasil pengukuran rata-rata tingkat capaian pada Sasaran Strategis sebanyak 15 (lima belas) Sasaran Strategis dengan kualifikasi “Sangat
4. Meningkatnya Kualitas Pendidikan Masyarakat;
5. Meningkatanya Aksesibilitas Wilayah Antara Gampong dengan Kota Kecamatan, Antar Kota Kecamatan dan Antara Kota Kecamatan dengan Pusat Kota;
6. Meningkatnya Penyediaan dan Pelayanan Distribusi Air Bersih yang Memenuhi Standar Kesehatan dan Memaksimalkan Pemanfaatan sumber-sumber Air bagi Kebutuhan Masyarakat;
7. Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah; 8. Meningkatnya Kualitas Kesehatan; 9. Meningkatnya Kesehatan Masyarakat;
10. Memperkuat Kapasitas PUG dan Terlaksananya Perencanaan Penganggaran yang Responsif Gender;
11. Terciptanya Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan dan Perlindungan terhadap Anak;
12. Meningkatnya Kebersihan Kota;
13. Meningkatnya Kegiatan Keolahragaan Dalam Masyarakat; 14. Tata Kelola Pemerintahan yang Baik; dan
15. Jumlah Program pembangunan yang dilakukan bersama antara BPKS dan Pemko Sabang yang mendukung program pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang.
Sasaran Strategis dengan kualifikasi "Tinggi" (capaian 76 ≥ 90%) terdiri atas; 1. Terwujudnya Kota Wisata yang Aman, Bersih, Sehat dan Ramah Lingkungan; 2. Meningkatnya Pelayanan Energi Listrik kepada Masyarakat dan kepada Dunia
Usaha;
3. Terlaksananya Penataan Ruang Wilayah; 4. Tersedianya Ruang Terbuka Hijau;
5. Tersedianya Rumah Layak Huni bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah; 6. Meningkatnya Perlindungan Sosial bagi Masyarakat Miskin; dan
1. Meningkatnya Kesempatan Kerja;
2. Meningkatnya Kondisi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat; dan 3. Meningkatnya Kegiatan Seni dan Kebudayaan Daerah.
Secara umum telah berhasil dicapai, sebagai bukti pendukung keberhasilan peningkatan pencapaian kinerja dalam pelaksanaan pemerintah dan pembangunan selama Tahun 2015, Pemerintah Kota Sabang menerima 4 penghargaan atas prestasinya dalam berbagai bidang pembangunan dan pemerintahan, sebagai berikut:
1. Penghargaan R-KKP3K Award 2015 dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia;
2. Penghargaan Adi Bakti Bina Bahari 2015 dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia;
3. Penghargaan Opini Wajar tanpa Pengecualian (WTP) tahun 2014 dari BPK Republik Indonesia; dan
4. Penghargaan Government Award Tahun 2015 dari Sindo Weekly 2015.
Hasil evaluasi capaian kinerja sebagai bagian dari perbaikan kinerja pemerintah daerah yang menjadi tujuan dari Penyusunan Laporan Kinerja, hasil evaluasi capaian kinerja ini juga penting dipergunakan oleh instansi di lingkungan Pemerintah Kota Sabang untuk perbaikan perencanaan dan pelaksanaan program/kegiatan di tahun yang akan datang. Dengan demikian, upaya perbaikan kinerja dan pelayanan publik untuk peningkatan kesejahteraan rakyat akan dapat dicapai.
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pemerintah Kota Sabang dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kota Praja Sabang dengan mengubah Undang-Undang Nomor Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara.
Kota Sabang merupakan bagian dari Pemerintah Aceh sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang dipimpin oleh seorang Walikota.
Pemerintahan Kota Sabang adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kota dan Dewan Perwakilan Rakyat Kota Sabang sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing.
Sebagai bentuk komitmen yang mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas, maka Pemerintah Kota Sabang memandang perlu untuk menyampaikan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah kepada pemangku kepentingan.
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Laporan Kinerja Instansi Pemerintah merupakan bentuk transparansi dan akuntabilitas dari pelaksanaan tugas dan fungsi yang dipercayakan kepada setiap instansi pemerintah atas penggunaan anggaran. Hal terpenting yang diperlukan dalam penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah adalah pengukuran kinerja dan evaluasi serta pengungkapan (disclosure) secara memadai hasil analisis terhadap pengukuran kinerja. Adapun tujuan dari penyusunan laporan kinerja adalah sebagai berikut: 1. Memberikan informasi kinerja yang terukur kepada pemberi mandat
atas kinerja yang telah dan seharusnya dicapai.
2. Sebagai upaya perbaikan berkesinambungan bagi instansi pemerintah Kota Sabang untuk meningkatkan kinerjanya.
1.3 SEJARAH SINGKAT KOTA SABANG
Sebelum perang dunia II, Sabang menjadi kota pelabuhan terpenting di Asia Tenggara. Pelabuhan Sabang pada masa itu bernama Kolen Station yang dibangun oleh Belanda sejak tahun 1881. Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah Vrij
Haven dan dikelola Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station,
selanjutnya dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij. Perang Dunia II ikut memengaruhi kondisi Sabang dimana pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibom pesawat Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian terpaksa ditutup.
Pada awal awal kemerdekaan, Sabang menjadi pusat pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wewenang penuh dari pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertahanan RIS Nomor 9/MP/50. Semua aset pelabuhan Sabang Maatschaappij dibeli Pemerintah Indonesia. Lalu pada tahun 1965 Sabang menjadi Kotapraja sebagaimana ditetapkan dengan UU Nomor 10 Tahun 1965 tentang
Pembentukan Kota Praja Sabang dengan mengubah Undang-Undang Nomor Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara.
Setelah dibentuk menjadi Kotapraja, gagasan untuk kembali menjadikan Sabang sebagai pusat pelabuhan kembali muncul. Formalisasinya adalah dengan diterbitkan Undang Undang Nomor 3 Tahun 1970 tentang Perdagangan Bebas Sabang. Namun kemudian, pada tahun 1985, status Sabang sebagai pelabuhan bebas ditutup dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1985 Tentang Pencabutan Undang-Undang -Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1970 tentang Pembentukan Daerah Perdagangan Bebas Dengan Pelabuhan Bebas Sabang.
Pada tahun 1993 dibentuk Kerja Sama Ekonomi Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) yang membuat Sabang sangat strategis dalam pengembangan ekonomi di kawasan Asia Selatan. Pada tahun 1997 di Pantai Gapang, Sabang, berlangsung Jambore Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang diprakarsai BPPT. Fokus kajian ingin mengembangkan kembali Sabang. Pada tahun 1998 Kota Sabang dan Kecamatan Pulo Aceh dijadikan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) yang bersamaan dengan KAPET lainnya, Peresmian dilakukan oleh Presiden BJ Habibie dengan Keppres Nomor 171 tahun 1998 Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Sabang. Era baru untuk Sabang dimulai pada tahun 2000, dimana terjadi Pencanangan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid di Sabang, dengan diterbitkannya Inpres Nomor 2 tahun 2000 tentang Pembangunan Pulau Sabang Menjadi Daerah Perdagangan dan Pelabuhan Bebas. Dan kemudian diterbitkannya Peraturan Pemerintah pengganti Undang Nomor 2 tahun 2000 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang. Peraturan ini kemudian disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang. Peresmian Sabang sebagai
Gambar 1.1 Peta Administrasi Sabang
kawasan perdangangan bebas dan pelabuhan bebas oleh wakil Presiden RI Megawati Sukarno Putri pada tanggal 22 Desember 2000.
1.4 GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
1.4.1 Aspek Geografi
1) Luas dan batas wilayah Administrasi Luas wilayah Kota Sabang
adalah 12.213,97 Ha, yang meliputi Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rubiah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo, yang terletak pada garis 05o46’28” LU– 05o54’28”LU dan 95o13’02” BT – 95o22’36” BT dengan batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka, b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Andaman, c. Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Andaman, dan d. Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka
Secara administratif, Kota Sabang terdiri dari 2 (dua) kecamatan dan 18 (delapan belas) gampong yang masing-masing kecamatan memiliki luas sebagai berikut: (1) Kecamatan Sukakarya 6.131,85 Ha (50,20%); dan (2) Kecamatan Sukajaya 6.082,12 Ha (49,80%)
2) Topografi
Secara umum Kota Sabang berada pada ketinggian 28 m di atas permukaan air laut (dpl). Kondisi morfologinya didominasi oleh pergunungan, yakni sekitar 48,17 % dari luas kawasan keseluruhan. Sedangkan secara lebih rinci topografi Kota Sabang meliputi dataran
1,01%, Landai 6,03%, bergelombang 31,70 %, bergunung 48,17%, sangat curam 14,10 %.
3) Geologi
Kondisi geologi Kota Sabang secara umum terbagi menjadi 2 (dua) sub bagian dimana diantara 2 sub bagian tersebut kondisinya sangat berbeda, dan pada umumnya terbentuk dari hasil letusan gunung berapi yang terdiri dari tufa andesit. Formasi batuan Kota Sabang terdiri dari batuan vulkanis seluas 97,71% dari luas wilayah dan endapan aluvial 0,86%.
4) Hidrologi
Sumber daya air di Kota Sabang terdiri dari air permukaan, air tanah dan mata air. Sungai-sungai yang terdapat di Pulau Weh umumnya memiliki ukuran relatif kecil dan pendek.
Meskipun Kota Sabang memiliki beberapa sumber air bersih, namun debitnya yang relatif kecil dan topografi pulau Weh yang bergelombang menyebabkan tidak semua wilayah di Kota Sabang mendapatkan pelayanan air bersih dari PDAM Tirta Aneuk Laot.
5) Klimatologi
Secara umum iklim di Kota Sabang termasuk ke dalam iklim tropis. Hal ini dipengaruhi karena letaknya yang berada di sekitar garis khatulistiwa. Curah hujan tahunan Kota Sabang berjumlah di atas 2000 mm, dengan tingkat curah hujan sedikit terjadi perbedaan antara wilayah pantai dengan wilayah berbukit dan bergunung. Berdasarkan Klasifikasi Schmidt dan Fergusson, tipe curah hujan Kota Sabang termasuk kelas B (basah). Temperatur rata-rata di Kota Sabang adalah sekitar 26oC dengan temperatur maksimum 31oC dan temperatur minimumnya 20oC.
6) Penggunaan Lahan
Kota Sabang berdasarkan hasil pengolahan data pada Peta Pemanfaatan Ruang Atlas Pesisir, dominan penggunaan lahannya
adalah kawasan lindung, hal ini didukung oleh bentuk topografi Kota Sabang yang dominan berbukit-bukit dengan tutupan vegetasinya adalah jenis hutan hujan tropis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Gambar 1.2
Jenis Penggunaan Lahan di Kota Sabang
Sumber: Peta Pemanfaatan Ruang Atlas Pesisir
Hampir 65% pengunaan lahan di Kota Sabang tergolong dalam kawasan Lindung dengan tutupan yang paling dominan adalah Kawasan Hutan Lindung Seluas 2.493,34 Ha dan yang paling kecil adalah Kawasan Penghijauan seluas 227,26 Ha. Hanya
35% dari luas daratan Kota Sabang pengunaan lahannya tergolong kedalam kawasan budidaya, dengan tutupan dominan adalah kawasan pertanian dan perkebunan, sedangkan untuk kawasan perikanan budi daya darat merupakan tutupan lahan yang terkecil hanya seluas 10.48 Ha.
Gambar 1.3 Klas Penggunaan Lahan
7) Potensi Willayah
Bervariasinya kondisi topografi menjadikan Kota Sabang memiliki panorama alam yang sangat indah. Wilayahnya memiliki alokasi pemetaan kegiatan yang sangat bervariasi sehingga cocok untuk pengembangan agrowisata, pertanian, perikanan, industri, maritim dan pariwisata. Dari keenam sektor tersebut, hanya sektor pariwisata sudah mulai berkembang secara signifikan dan berdayahasil yang menonjol dibandingkan dengan sektor lainnya. Sektor ini kedepannya sangat menjanjikan, dengan target pasar utamanya adalah turis nasional dan internasional. Dalam tata ruang Kota Sabang, Pemerintah Kota Sabang menuangkan arahan kebijakan pengembangan wilayahnya kedalam bentuk rencana pemanfaatan ruang, dimana baru 35% ruang untuk kawasan pariwisata dan 73% hutan wisata telah dimanfaatkan. Masih banyak kemungkinan potensi sektor pariwisata yang dapat dikembangkan kedepannya, karena masih tersedia peruntukan lahan sebesar 65% untuk pariwisata. Ditinjau dari distribusi peruntukan lahan yang dituangkan dalam tata Ruang Kota Sabang, arahan pengembangan lahannya lebih dominan diperuntukan untuk kawasan pertanian dan perkebunan serta kawasan perkotaan dan rencana kota baru, dengan tingkat pemanfaatanya untuk kawasan pertanian dan perkebunan telah mencapai 100%, sedangkan kawasan kota dan kota baru masih dibawah 10%, hal ini mengindikasikan potensi pengembangan yang masih terbuka lebar di Kota Sabang dalam bidang pengembangan kawasan perkotaan, baik itu untuk penyediaan sarana dan prasarana di kawasan perkotaan juga untuk aktivitas perdagangan dan jasa. Selanjutnya Peruntukan lahan untuk kawasan pemukiman, kawasan penghijauan, perikanan, industri menduduki perikat ke dua terluas dengan potensi pengembangannya masih terdapat 90% peluang pengembangannya kedepan.
1.4.2 Aspek Demografi (Kependudukan)
Pertumbuhan jumlah penduduk Kota Sabang tahun 2015 sebesar 1,45% yaitu dari 32.729 jiwa pada tahun 2014 menjadi 33.215 jiwa pada tahun 2015 dengan kepadatan penduduk sekitar 272 jiwa/km2. Penduduk Kota Sabang pada tahun 2015 terdiri dari 16.819 laki-laki dan 16.396 perempuan, sehingga hasil jenis kelamin sebesar 102 yang artinya bahwa pada tahun 2015 penduduk laki-laki di kota sabang hampir sama dibandingkan dengan penduduk perempuan, atau dapat dikatakan bahwa setiap 100 penduduk Kota Sabang yang berjenis kelamin perempuan terdapat 102 penduduk yang berjenis laki-laki.
Tabel 1.1
Jumlah menurut jenis kelamin, Rasio, Laju pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk Kota Sabang
Tahun Penduduk Jumlah Penduduk ( Jiwa ) Rasio Jenis Kelamin Laju Pertumbuhan Penduduk ( % ) Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) Laki-laki Perempu an 2011 15.775 15.539 31.314 101 1,33 257 2012 16.015 15.807 31.822 101 1.62 261 2013 16.209 16.006 32.215 101 1,23 263 2014 16.713 16.026 32.739 104 1,63 268 2015 16.819 16.396 33.215 102 1,45 272
Sumber: BPS Kota Sabang Tahun 2016
Faktor yang mempengaruhi perubahan jumlah penduduk adalah kelahiran, kematian dan migrasi/perpindahan penduduk itu sendiri. Tahun 2014 di Kota Sabang terdapat 136 kelahiran yang tercatat pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Sabang.
Sedangkan jumlah kematian yang tercatat sebanyak 232 jiwa. Bukan hanya pribumi, di Sabang banyak terdapat warga asing yang menetap atau tinggal sementara. Terbukti sebanyak 80 warga asing
pada tahun 2013 dan meningkat menjadi 108 warga asing memperpanjang visanya pada tahun 2014.
1.4.3 Aspek Kesejahteraan Masyarakat
Gambaran keadaan kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dalam lima tahun terakhir dilihat dari angka Pertumbuhan PDRB, PDRB Per Kapita, Laju Inflasi, Laju Pertumbuhan Ekonomi, dan Tingkat Kemiskinan, Indeks Pembangunan Manusia.
a. Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian Kota Sabang dalam selama kurun waktu tahun 2010 s.d 2014 yang ditunjukkan dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mengalami kemajuan, hal ini menunjukkan kinerja semakin membaik dengan ditandai meningkatnya nilai PDRB setiap tahunnya, baik Atas Dasar Harga Berlaku maupun Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2010.
Tahun 2010 nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Sabang Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Tahun 2010 sebesar Rp.745.858,8 juta meningkat menjadi Rp.874.583,3 juta pada tahun 2014, atau meningkat sebesar 17,26 persen.
Gambar 1.4
Produk Domestik Regional Bruto (miliar rupiah) dan pertumbuhan PDRB ADHK 2010, Tahun 2010-2014
Sumber: BPS Sabang, 2015
Jika dilihat dari setiap sektor, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Sabang Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) menurut Lapangan Usaha tahun 2010, sektor konstruksi mengalami pertumbuhan tertinggi pada tahun 2011-2013, sedangkan pada tahun 2014 sektor penyedia akomodasi dan makan minum merupakan sektor yang mengalami pertumbuhan tertingi yaitu sebesar 6,73 persen.
Pada Tahun 2014 nilai dan konstribusi sektor dalam PDRB Tahun 2014 terbesar berasal dari sektor konstruksi yaitu sebesar 28,8 persen (Tabel 1.2). Hal ini dipicu oleh kemajuan pembangunan infrastruktur dalam rangka persiapan pelabuhan bebas sabang,di ikuti oleh sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib memiliki yang memiliki kontribusi sebesar 16,6 persen, dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor memiliki kontribusi sebesar yaitu sebesar 14,9 persen (perdagangan besar dan eceran bukan sepeda motor atau mobil 13,17 persen dan sisanya disumbang oleh perdagangan besar dan reparasi Mobil dan sepeda motor sebesar 1,71 persen)
745,86 774,47 806,88 841,01 874,58 3,84 4,18 4,23 3,99 2010 2011 2012 2013 2014 3,40 3,80 4,20 4,60 0 250 500 750 PDRB pertumbuhan PDRB
Tabel 1.2.
Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Kota Sabang Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, 2010─2014
Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 7,7 7,7 7,6 7,6 7,6
B Pertambangan dan Penggalian 1,3 1,2 1,2 1,1 1,2
C Industri Pengolahan 2,6 2,6 2,6 2,6 2,6
D Pengadaan Listrik dan Gas 0,3 0,2 0,2 0,2 0,2
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang 0,1 0,1 0,1 0,1 0,2
F Konstruksi 26,1 27,5 28,3 28,7 28,8
G Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 15,5 15,3 15,0 14,9 14,9
H Transportasi dan Pergudangan 3,9 3,9 3,9 3,9 3,9
I Penyediaan Akomodasi dan Makan
Minum 2,9 2,9 2,9 3,0 3,2
J Informasi dan Komunikasi 2,1 2,0 2,0 2,0 2,0
K Jasa Keuangan dan Asuransi 2,4 2,4 2,5 2,5 2,6
L Real Estat 4,2 4,1 4,1 4,0 4,0
M,N Jasa Perusahaan 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3
O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
dan Jaminan Sosial Wajib 17,5 17,0 16,9 16,8 16,6
P Jasa Pendidikan 4,4 4,2 4,1 4,0 4,0
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 6,8 6,6 6,5 6,4 6,4
R,S,T
,U Jasa lainnya 1,8 1,8 1,7 1,6 1,6
Produk Domestik Regional Bruto 100 100 100 100 100
* Angka sementara ** Angka sangat sementara Sumber: BPS Sabang, 2015.
b. PDRB Per Kapita
Nilai PDRB Perkapita ADHB Kota Sabang mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,48 juta rupiah dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Pada tahun 2011, PDRB Perkapita naik menjadi 25,65 Juta Rupiah; tahun 2012 naik menjadi 26,94 juta rupiah; tahun 2013 menjadi 38,59 juta rupiah hingga tahun 2014 meningkat menjadi 30,06 juta rupiah (Gambar 1.5).
Sumber: BPS Sabang, 2015
Berdasarkan nilai diatas, dapat dijelaskan bahwa setiap satu orang penduduk Kota Sabang dapat menciptakan PDRB atau nilai tambah sebesar 30,06 juta pada tahun 2014. Peningkatan yang terjadi setiap tahun menjelaskan bahwa adanya peningkatan kemampuan Kota Sabang dalam menciptakan PDRB.
c. Laju Inflasi Kota Sabang
Inflasi merupakan perubahan tingkat harga (barang dan jasa) umum yang terjadi secara terus menerus. Inflasi yang tinggi tingkatnya tidak akan menggalakkan perkembangan ekonomi. Biaya yang terus menerus naik menyebabkan kegiatan ekonomi sangat tidak menguntungkan. Inflasi berdampak secara umum pada kegiatan ekonomi negara yang lebih lanjut berdampak pada pengangguran. Selain itu juga menimbulkan efek-efek kepada individu masyarakat diantaranya adalah menurunkan pendapatan riil masyarakat berpendapatan tetap, mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang dan memperburuk pembagian kekayaan.
Di Kota Sabang, inflasi dapat dihitung menggunakan proxy indeks implisit dari PDRB harga berlaku dan harga konstan dikarenakan tidak tersedianya data Indeks Harga Konsumen. Indeks implisit merupakan rasio perbandingan antara PDRB ADHB dengan PDRB
1.5
2010 2011 2012 2013 2014 24,14 25,65 26,94
28,59 30,06
Gambar 1.5
ADHK 2010. Karena digunakan sebagai tahun dasar baru, indeks implisit PDRB tahun 2010 bernilai 100. Ini menunjukkan bahwa nilai PDRB ADHB sama dengan nilai PDRB ADHK di tahun 2010. Indeks implisit ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun searah dengan kenaikan harga. Dengan menggunakan tahun dasar 2010, indeks implisit PDRB di tahun 2011 naik menjadi 103,72. Kemudian pada tahun 2012 menjadi 106,24 hingga mencapai 112,53 pada tahun 2014. Indeks ini menggambarkan besarnya kenaikan harga yang terjadi pada tahun berjalan dibandingkan dengan tahun dasar 2010. Yang berarti, pada tahun 2014 terjadi kenaikan harga sebesar 12,53 persen dari harga-harga pada tahun 2010.
Gambar 1.6
Index Harga Implisit PDRB Menurut Pengeluaran
Sumber: BPS Kota Sabang
d. Tingkat Kemiskinan
Pengukuran derajat kesejahteraan rakyat dilihat dari tingkat kemiskinan mencakup jumlah dan persentase penduduk miskin, indeks kedalaman (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) dan aspek Garis Kemiskinan (ketimpangan pendapatan) Kota Sabang bergerak lambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya anggaran belanja Kota Sabang. Artinya dalam lima tahun terakhir pembangunan Kota Sabang belum mendorong
100 103,72 106,24 109,52 112,53 2010 2011 2012 2013 2014 Nilai
perubahan signifikan dalam mengurangi ketimpangan pendapatan masyarakat.
Tabel berikut menunjukkan fakta bahwa kesenjangan sosial yang terjadi disebabkan karena ketimpangan pendapatan rakyat semakin dalam.
Tabel 1.3
Distribusi Keadaan Tingkat Kemiskinan
Tahun Jlh Pend Miskin dlm 1000 Persentase Penduduk Miskin Indeks kedalaman P1 Indeks keparahan P2 Garis Kemiskinan (Rp/kap/bln) 2010 6.7 21.68 4.36 1.40 401.18 2011 6.7 21.31 3.91 1.03 438.111 2012 6,5 20,51 3,91 1,17 443.848 2013 5,9 18,30 4,06 1,20 451.218 2014 5.59 17.02 3.96 1.23 457.242 Sumber: BPS 2015.
Pada tahun 2014 garis kemiskinan berada pada Rp. 457.242 meningkat dari tahun sebelumnya yaitu Rp. 451.218. Hal ini menunjukkan bahwa selama Tahun 2014 penduduk Kota sabang untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya membutuhkan biaya Rp. 457.242 selama sebulan.
Untuk indeks kedalaman kemiskinan (p1) Kota Sabang pada tahun 2014 mencapai 3.96 menurun bila dibandingkan dengan tahun 2013
yang mencapai 4,06. Angka Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menunjukkan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap batas kemiskinan, di mana semakin tinggi nilai indeks ini maka semakin besar rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, atau dengan kata lain semakin tinggi nilai indeks kedalaman kemiskinan menunjukkan kehidupan ekonomi penduduk miskin semakin terpuruk. Sementara angka keparahan kemiskinan (P2) pada tahun 2014 menunjukkan angka 1,23 meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin itu sendiri, dan dapat juga digunakan untuk mengetahui intensitas kemiskinan. Semakin tinggi angka indeks ini maka sebaran pengeluaran diantara penduduk miskin itu semakin timpang dan sebaliknya.
e. Indeks Pembangunan Manusia
Angka IPM Kota Sabang hanya mengalami sedikit peningkatan dari 77,23 pada tahun 2013 menjadi 77,53 pada tahun 2014. Lambatnya kenaikan IPM ini dapat dipahami mengingat dampak dari lambatnya peningkatan investasi disektor kesehatan dan pendidikan, khususnya terhadap indikator penyusun IPM terlihat secara nyata dalam jangka panjang.
Berikut dapat kita lihat keadaan dan atau indikator Pembangunan Manusia di Kota Sabang:
Tabel 1.4
Keadaan Indeks Pembangunan Manusia
TAHUN 2010 2011 2012 2013 2014
Angka Melek Huruf (%) 98,99 99,08 99,09 99,14 99,18
Rata-rata Lama
Angka Harapan Hidup 71,02 71,30 71,59 71,89 72,01
Pengeluaran\Perkapita
(Rp) 627.350 631.100 634.220 636.220 638.190
IPM 75,98 76,47 76,88 77,23 77,53
Sumber: BPS Kota Sabang, Tahun 2015.
1.5
STRUKTUR ORGANISASI
Struktur Pemerintah Kota Sabang terdiri atas: 1) Walikota dan Wakil Walikota
2) Sekretariat Daerah 3) Inspektorat
4) Sekretariat DPRK
5) Dinas Daerah, terdiri atas 14 Satuan Kerja
6) Lembaga Teknis Daerah, terdiri atas 10 Satuan Kerja
7) Sekretariat Lembaga Keistimewaan dan Dewan Pengurus KORPRI 8) Kecamatan, terdiri atas 2 (dua) Satuan Kerja.
1.5
TUGAS DAN WEWENANG
1.6.1 Walikota
Walikota mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut: 1) memimpin penyelenggaraan pemerintahan berdasarkan
kebijakan yang ditetapkan bersama antara walikota dan DPRK
2) mengajukan rancangan qanun;
3) menetapkan qanun yang telah mendapat persetujuan bersama antara walikota dan DPRK;
4) menyusun dan mengajukan rancangan qanun tentang APBA kepada DPRA dan APBK kepada DPRK untuk dibahas, disetujui, dan ditetapkan bersama;
5) melaksanakan dan mengoordinasikan pelaksanaan syari’at Islam secara menyeluruh;
6) memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban mengenai penyelenggaraan pemerintahan kepada DPRK; 7) memberikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Aceh
kepada Pemerintah;
8) memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan kota kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah;
9) menyampaikan informasi penyelenggaraan Pemerintahan kota kepada masyarakat;
10) mengupayakan terlaksananya kewenangan pemerintahan; 11) mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan dan
dapat menguasakan kepada pihak lain sebagai kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan
12) melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
1.6.2 Sekretariat Daerah
Sekretariat daerah mempunyai tugas dan kewajiban membantu Walikota dalam menyusun kebijakan dan mengoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah.
Sekretariat daerah dalam melaksanakan tugas dan kewajiban dengan menyelenggarakan fungsi:
1) penyusunan kebijakan pemerintahan kota;
2) pengoordinasian pelaksanaan tugas dinas daerah dan lembaga teknis daerah di lingkungan Pemerintah Kota;
3) pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan pemerintahan kota;
4) pembinaan administrasi dan aparatur pemerintahan kota; dan 5) pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai
Sekretariat daerah dipimpin oleh sekretaris daerah dan Sekretaris Daerah berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota.
1.6.3 Inspektorat
Inspektorat merupakan unsur pengawas penyelenggaraan pemerintahan daerah. Inspektorat mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota, pelaksanaan pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan desa dan pelaksanaan urusan pemerintahan desa.
Inspektorat dalam melaksanakan tugas dengan menyelenggarakan fungsi:
1) perencanaan program pengawasan; 2) perumusan kebijakan dan fasilitasi;
3) pengawasan; dan pemeriksaan, pengusutan, pengujian dan 4) penilaian tugas pengawasan.
Inspektorat dipimpin oleh inspektur. Inspektur dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab langsung kepada Walikota dan secara teknis administratif mendapat pembinaan dari Sekretaris daerah.
1.6.4 Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK)
Sekretariat DPRK mempunyai tugas menyelenggarakan administrasi kesekretariatan, administrasi keuangan, mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRK, dan menyediakan serta mengoordinasikan tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRK sesuai dengan kemampuan keuangan daerah.
Sekretariat DPRK dalam melaksanakan tugas dengan menyelenggarakan fungsi:
1) penyelenggaraan administrasi kesekretariatan DPRK; 2) penyelenggaraan administrasi keuangan DPRK; 3) penyelenggaraan rapat-rapat DPRK; dan
4) penyediaan dan pengoordinasian tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRK.
Sekretariat DPRK dipimpin oleh Sekretaris Dewan, Sekretaris Dewan secara teknis operasional berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRK dan secara administratif bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.
1.6.5 Dinas Daerah
Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah. Dinas daerah mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Dinas Daerah dalam melaksanakan tugas dengan menyelenggarakan fungsi:
1) perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya; 2) penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum
sesuai dengan lingkup tugasnya;
3) pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya; dan
4) pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Dinas Daerah dipimpin oleh Kepala Dinas, Kepala Dinas berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.
1.6.6 Lembaga Teknis Daerah
Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah. Lembaga teknis daerah mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik.
Lembaga teknis daerah dalam melaksanakan tugas dengan menyelenggarakan fungsi:
1) Pelaksanaan urusan ketatausahaan lembaga teknis daerah; 2) Penyusunan Rencana Kerja Tahunan, Jangka Menengah dan
Panjang pada Lembaga Teknis Daerah;
3) Perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya; 4) Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintah kota
sesuai dengan lingkup tugasnya;
5) Pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya; dan
6) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Lembaga Teknis Daerah berbentuk Badan dipimpin oleh Kepala Badan, yang berbentuk kantor dipimpin oleh Kepala Kantor, yang berbentuk Satuan dipimpin oleh Kepala Satuan dan yang berbentuk Rumah Sakit dipimpin oleh Direktur, berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.
1.6.7 Sekretariat Lembaga Keistimewaan dan Dewan Pengurus KORPRI
1.6.7.1 Sekretariat Lembaga Keistimewaan Kota Sabang. Sekretariat Lembaga Keistimewaan Kota Sabang terdiri dari:
1. Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU); 2. Sekretariat Majelis Adat Aceh (MAA);
3. Sekretariat Majelis Pendidikan Daerah (MPD); dan 4. Sekretariat Baitul Mal Kota (BMK).
Sekretariat Lembaga Keistimewaan mempunyai tugas memberikan pelayanan administratif kepada Lembaga. Sekretariat Lembaga Keistimewaan dalam melaksanakan tugas dengan menyelenggarakan fungsi:
1) Penyusunan program Sekretariat;
2) Pelaksanaan fasilitasi penyiapan program Sekretariat;
3) Pelaksanaan fasilitasi dan pemberian pelayanan teknis Sekretariat;
4) Pengelolaan administrasi keuangan, kepegawaian, perlengkapan, rumah tangga dan ketatausahaan di lingkungan Sekretariat;
5) Penyiapan penyelenggaraan persidangan, membuat risalah rapat-rapat dan kegiatan kehumasan yang diselenggarakan oleh Seketariat;
6) Pelaksanaan koordinasi dengan instansi dan/atau lembaga terkait lainnya dalam rangka mendukung tugas pokok dan fungsi Sekretariat; dan
7) Pelaksanaan tugas-tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh Pimpinan Lembaga dan Walikota melalui Sekretaris Daerah.
Sekretariat Lembaga Keistimewaan dipimpin oleh seorang Kepala Sekretariat yang secara fungsional bertanggung jawab kepada Pimpinan Lembaga dan secara administratif kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.
1.6.7.2. Sekretariat Dewan Pengurus KORPRI
Sekretariat Dewan Pengurus KORPRI mempunyai tugas melaksanakan dukungan teknis operasional dan administratif pada Pengurus KORPRI dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, serta pembinaan terhadap seluruh unsur dalam lingkungan Sekretariat Pengurus KORPRI. Sekretariat Pengurus KORPRI dalam melaksanakan tugas dengan menyelenggarakan fungsi:
1) Penyelenggaraan pengelolaan administrasi umum dan kerja sama;
2) Penyelenggaraan kegiatan pembinaan olahraga, seni, budaya, mental dan rohani;
3) Penyelenggaraan kegiatan usaha dan bantuan sosial;
4) Pengoordinasian dan fasilitasi penyelenggaraan Sekretariat Pengurus KORPRI; dan
5) Pelaksanaan tugas-tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh Sekretaris Daerah dan Ketua Dewan Pengurus KORPRI.
Sekretaris yang secara operasional bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus KORPRI dan secara administratif bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. Sekretariat Dewan Pengurus KORPRI dipimpin oleh seorang sekretaris yang secara operasional bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus KORPRI dan secara administratif bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.
1.6.8 Kecamatan
Kecamatan merupakan wilayah kerja camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota. Camat mempunyai tugas melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. Camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan meliputi:
1) mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat; 2) mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan
3) mengkoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundang undangan;
4) mengoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum;
5) mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan;
6) membina penyelenggaraan mukim dan pemerintahan gampong; dan
7) melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan gampong.
Camat berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.
Bagan Struktur Organisasi Pemerintah Kota Sabang dapat dilihat pada Lampiran III.
1.7
KONDISI SDM PEMERINTAH KOTA SABANG
Sumber daya manusia penyelenggara Pemerintah Kota Sabang per 31 Desember 2015 sebanyak 2.714 orang, kondisi ini sesuai dengan Pendataan Ulang PNS secara Elektronik (PUPNS) terhadap PNS di 34 SKPK Sabang, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 1.298 orang dan perempuan sebanyak 1.416 orang. Dari jumlah 2.714 orang Rincian pegawai menurut golongan digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1.7
Sumber: BKPP Kota Sabang Tahun 2015 R i n c i a n p e g a w a i m e
nurut jenjang pendidikan digambarkan sebagai berikut:
Tabel 1.5
Jumlah PNS di Kota Sabang Menurut Jenjang Pendidikan
No Jenjang
Pendidikan Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 SD 20 - 20 2 SLTP 64 4 71 3 SLTA 474 333 807 4 D1 3 5 8 5 D2 37 153 190 6 D3 103 243 346 7 S1/D4 531 645 1.176 8 S2 66 30 96 Jumlah 2.714 404 1407 858 45
Jumlah Pegawai Berdasarkan Gol
gol IV Gol III Gol II Gol I
Sumber: BKPP Kota Sabang tahun 2015
1.8
DASAR HUKUM PENYUSUNANDasar hukum penyusunan Laporan Kinerja Pemerintah Kota Sabang didasarkan pada:
1) Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; 2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kota
Praja Sabang dengan mengubah Undang-Undang Nomor Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara;
3) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;
4) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah; 5) Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah;
6) Qanun Kota Sabang Nomor 3 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRK Sabang;
7) Qanun Kota Sabang Nomor 4 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Dinas-Dinas Kota Sabang;
8) Qanun Kota Sabang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Sabang;
9) Qanun Kota Sabang Nomor 6 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kecamatan Dalam Kota Sabang;
10) Qanun Kota Sabang Nomor 7 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Lembaga Keistimewaan Kota Sabang;
11) Qanun Kota Sabang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Rencana Kerja Pembangunan Jangka Panjang Kota Sabang 2007 – 2027;
12) Qanun Kota Sabang Nomor 6 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Sabang 2012 – 2032;
13) Qanun Kota Sabang Nomor 3 Tahun 2013 tentang Rencana Kerja Pembangunan Jangka Menengah Kota Sabang 2013 – 2017;
14) Peraturan Walikota Sabang Nomor 25 Tahun 2014 tentang Indikator Kinerja Utama Pemerintah Kota Sabang Tahun 2013-2017;
15) Peraturan Walikota Sabang Nomor 17 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Sabang Nomor 10 Tahun 2014 Tentang Rencana Kerja Pemerintah Kota Sabang Tahun 2015; dan 16) Peraturan Walikota Sabang Nomor 13 Tahun 2015 tentang Rencana
Kerja Pemerintah Kota Sabang Tahun 2016.
1.9
SISTEMATIKA PENYAJIAN
Sistematika penyajian Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kota Sabang Tahun 2015 adalah sebagai berikut:
I. PENDAHULUAN
Menjelaskan secara ringkas latar belakang, Struktur, tugas dan wewenang, dasar hukum, dan sistematika penyajian.
II. PERENCANAAN KINERJA
Menjelaskan Manajemen Kinerja, Road Map Rencana Jangka Pembangunan Jangka Panjang Kota Sabang Tahun 2007 – 2027, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Sabang 2013 -2017, Rencana Kerja Pembangunan Kota Sabang Tahun 2015, Peta Strategi dan Perjanjian Kinerja Tahun 2015.
III. AKUNTABILITAS KINERJA 3.1. Pengukuran Capaian Kinerja
Menjelaskan setiap capaian sasaran strategis pada setiap perspektif yang tertuang pada peta strategis dan kinerja lainnya;
3.2. Evaluasi Capaian Kinerja Terhadap Target RPJM
Memandingkan antara realisasi capaian kinerja Tahun 2014 dan Tahun 2015 dengan target RPJM Kota Sabang;
3.3. Realisasi Anggaran
Menjelaskan realisasi anggaran yang telah digunakan untuk mewujudkan capaian Kinerja sesuai dengan dokumen perjanjian kinerja.
IV. PENUTUP
Menjelaskan kesimpulan atas Laporan Kinerja Pemerintah Kota Sabang Tahun 2015.
PERENCANAAN KINERJA
2.1 Manajemen Kinerja
Manajemen kinerja sebagai sebuah paradigma baru dalam Pemerintah Kota Sabang, diartikan sebagai suatu proses. Proses yang dimaksud adalah proses perumusan tujuan yang disertai dengan ukuran kinerja (performance measurement) dari tujuan tersebut. Asumsi yang digunakan tentang manajemen kinerja adalah suatu program yang dijalankan atau dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan, sehingga dengan memonitor pelaksanaan program tersebut keefektifan penggunaan sumberdaya dapat dilihat. Manajemen kinerja digunakan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, meningkatkan kualitas dan meningkatkan akuntabilitas Pemerintah Kota Sabang.
Manajemen kinerja Pemerintah Kota Sabang diarahkan pada pengintegrasian berbagai fungsi manajemen sehingga semua Satua Kerja Perangka Kota mengetahui dan termotivasi untuk berpartisipasi dalam mencapai tujuan Pemerintah Kota Sabang.
Manajemen kinerja Pemerintah Kota Sabang meliputi tahapan: perencanaan, pelaksanaan/implementasi, monitoring dan evaluasi, pelaporan dan revieu. Kejelasan rencana akan mempermudah pemilihan strategi dan pelaksanaan program dan kegiatan. Sedangkan proses monitoring, evaluasi yang terencana, jelas, terbuka dan melibatkan partisipasi semua pihak dalam organisasi akan memudahkan proses perbaikan, baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan, tindak lanjut dan pelaporannya.
2.1.1 Perencanaan
Proses perencanaan pembangunan Kota Sabang mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang meliputi:
a. Penyusunan dan Penetapan Rencana Kerja Pemerintah Kota (RKPK), RKPK Tahun 2015 disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Sabang Tahun 2013 - 2017, capaian kinerja tahun sebelumnya, serta isu-isu strategis, berikut dengan permasalahan untuk segera ditangani pada tahun 2015.
b. Penetapan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun 2015.
Setelah RKPK ditetapkan dengan Peraturan Walikota Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pembangunan Kota Sabang Tahun 2015, selanjutnya disusun dan ditetapkan KUA dan PPAS TA 2015 antara Walikota dan DPRK dalam bentuk Nota Kesepahaman.
c. Penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA) SKPK Tahun 2015
Nota Kesepahaman KUA dan PPAS Tahun Anggaran 2015 disampaikan melalui surat edaran Walikota Sabang kepada para Kepala SKPK untuk pedoman menyusun RKA SKPK Tahun Anggaran 2015.
d. Penyusunan, Pembahasan dan Penetapan APBK Tahun Anggaran 2015
Berdasarkan RKA SKPK, Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota Sabang Tahun Anggaran 2015
untuk selanjutnya dibahas dan disetujui bersama DPRK, dan setelah dievaluasi dan disetujui oleh Gubernur Aceh selanjutnya ditetapkan sebagai Qanun Kota Sabang.
Selanjutnya ditetapkan Peraturan Walikota Sabang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penjabaran APBK Sabang Tahun Anggaran 2015 sebagai pedoman menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) SKPK, yang kemudian disahkan oleh Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah dan Sekretaris Daerah Kota Sabang.
e. Perencanaan Kinerja
Berdasarkan DPA TA 2015, setiap SKPK menyusun Dokumen Perjanjian Kinerja yang ditandatangani antara masing-masing kepala SKPK dengan Walikota. Berdasarkan Dokumen dimaksud Walikota Sabang menetapkan Dokumen Perjanjian Kinerja untuk tingkat Kota.
Dokumen Perjanjian Kinerja Tingkat Kota berisi sasaran, Indikator Kinerja Utama (IKU) dan target kinerja. Penentuan IKU ditingkat Kota disusun berdasarkan IKU setiap SKPK terkait. Hal ini dilakukakan untuk memastikan strategi dan indikator tingkat Kota bersesuaian (in line) dengan strategi dan indikator dari masing-masing SKPK.
2.1.2
Pelaksanaan
Berdasarkan DPA SKPK dan Perjanjian Kinerja, para Kepala SKPK melaksanakan program dan kegiatan sesuai jadwal yang direncanakan dalam satu tahun anggaran 2015.
2.1.3
Monitoring dan Evaluasi
Untuk memastikan pencapaian kinerja tercapai, Pemerintah Kota Sabang melakukan monitoring dan evaluasi. Monitoring ini dilakukan dalam proses pelaksanaan anggaran untuk
memastikan setiap rencana telah dilaksanakan, mengindentifikasi permasalahan dan menerapkan serangkaian solusi untuk mengatasi setiap permasalahan yang timbul.
Monitoring dan Evaluasi dilaksanakan oleh Bidang Penelitian, Evaluasi dan Pengendalian Bappeda Kota Sabang bersama Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah.
2.1.4
Pelaporan dan Revieu
Pelaporan kinerja pada Pemerintah Kota Sabang dilakukan secara berjenjang - bottom up. Dimulai dari SKPK sampai ke tingkat Pemerintah Kota. Pelaporan kinerja memuat informasi-informasi kinerja yang meliputi: indikator kinerja, target kinerja, pencapaian kinerja dan penjelasan atas target kinerja yang tidak tercapai, serta rencana tindak yang akan dilakukan di periode berikutnya.
Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah di tingkat Pemerintah Kota dilakukan oleh Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kota Sabang dengan mengkoordinasi Bagian dan Satuan Kerja terkait. Reviu atas Laporan Kinerja Pemerintah Kota Sabang dilakukan oleh Inspektorat Kota Sabang, sebagai lembaga pengawasan intern Pemerintah. Penyusunan dan Reviu Laporan Kinerja disusun berdasarkan Permen PAN dan RB Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja.
2.2 Road Map Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota
Sabang Tahun 2007-2027
Sesuai dengan amanah Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Kota Sabang
telah menyusun Road Map Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Sabang 2007-2027 sebagai dokumen perencanan pembangunan yang lebih taktis dan komprehensif.
RPJPD Kota Sabang Tahun 2007-2027 mempunyai visi dan misi, arah kebijakan dan tahapan pembangunan jangka panjang yang dibagi dalam 5 (lima) tahap RPJM Kota Sabang.
2.2.1 Visi dan Misi
Visi Pembangunan Kota Sabang 2007-2027 adalah: “Kota Sabang Yang Maju, Sejahtera, Beriman, serta Pemerintahan Yang Baik dan Berwibawa”.
Visi pembangunan tersebut menginginkan adanya suatu perubahan pada kondisi kotanya, perubahan terhadap kondisi masyarakatnya serta perubahan terhadap kondisi pemerintahannya.
Makna yang terkandung dalam visi ini adalah: a. Maju, dimaksudkan:
- Ditinjau dari perkembangan ekonomi, yaitu meningkatnya kemakmuran daerah yang tercermin pada meningkatnya pendapatan. Berkembangnya jasa perdagangan bebas dan pelabuhan bebas yang memiliki keunggulan pengembangan perekonomian di sektor jasa perdagangan dan kepelabuhanan, perikanan laut, pariwisata, dan industri bagi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
- Ditinjau dari indikator sosial, yaitu meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat akan terindikasi melalui kemampuan sumber daya manusia, wawasan yang jauh kedepan, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Meningkatnya peran serta masyarakat secara nyata dan efektif dalam segela aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial dan politik.
- Ditinjau dari fisik dan prasarana wilayah, yaitu tersedianya sarana dan prasarana wilayah perkotaan yang lengkap dan bermutu yang bertaraf internasional serta berwawasan lingkungan sehingga terciptanya kota yang modern, bersih, indah dan nyaman.
b. Sejahtera, dimaksudkan dengan meningkatnya kehidupan masyarakat yang layak, berkeadilan, tertib, dan damainya kehidupan masyarakat, tertanggulanginya masalah kemiskinan dan pengangguran, kualitas tingkat kesehatan, serta terpenuhinya kebutuhan prasarana dan sarana dasar dan ekonomi.
c. Aman, dimaksudkan dengan tegaknya hukum yang adil dalam masyarakat, terwujudnya kedamaian, terhindarnya masyarakat dari berbagai ancaman baik dari dalam maupun dari luar daerah, serta terhindarnya masyarakat dari bencana.
d. Beriman, diartikan bahwa masyarakat Kota Sabang, dalam menjalani hidupnya dengan berbagai kegiatan sehari-hari tetap tunduk, taat, dan patuh kepada perintah dan larangan Allah SWT, melalui pengamalan dan pelaksanaan syariat Islam secara kaffah.
e. Pemerintahan yang baik dan berwibawa, dimaksudkan kepemerintahan yang baik dengan mengupayakan terbentuknya pemerintahan yang demokratis, bebas KKN, transparan, akuntabel, efisien, efektif, partisipatif, dan mengupayakan kemandirian pengelolaan sumber daya yang memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat.
Untuk mencapai Visi pembangunan Kota Sabang tersebut, ditempuh melalui Misi pembangunan sebagai berikut:
a. Memajukan perekonomian daerahdengan memanfaatkan kebijakan pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, yaitu:
Pembangunan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui fasilitasi kebutuhan dasar, pemberdayaan kelompok usaha dan masyarakat, penataan dan pembinaan sektor informal lainnya, serta upaya menjaga ketahanan pangan.
Mendorong percepatan pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang melalui penyediaan infrasrtuktur ekonomi yang mendorong percepatan pengembangan sektor jasa kepelabuhanan, perindustrian dan perdagangan, kepariwisataan, perikanan. b. Mewujudkan kota yang bersih, indah, tertib dan aman
dengan sarana dan prasarana perkotaan yang bertaraf
internasional dan berwawasan lingkungan, adalah
pembangunan diarahkan kepada penciptaan kota yang, bersih, indah, tertib dan aman. Kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana perkotaan/wilayah akan terus ditingkatkan untuk dapat mengarah kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat dan terciptanya kota bertaraf internasional dengan tetap memperhatikan konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan sehingga terciptanya Kota Sabang yang maju, modern, asri dan nyaman.
c. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang beriman danberketerampilan, adalah pembangunan yang diarahkan kepada peningkatankualitas sumber daya manusia dengan pengembangan iptek yang berlandaskan pada pengamalan syariat Islam agar masyarakat Kota Sabang memiliki tingkat pendidikan dan derajat kesehatan yang tinggi dengan tetap
memiliki kadar keimanan disertai keterampilan yang tinggi sehingga mampu menjadi masyarakat mandiri dan bertaqwa kepada Allah SWT.
d. Mewujudkan pemerintahan yang mampu mendengar, bekerja dan amanah untuk terciptanya tata pemerintahan yang baik, adalah penyelenggaraan pemerintahan diarahkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (transparan, akuntabel, partisipatif), meningkatkan profesionalisme dan spiritualitas aparatur pemerintah daerah, membangun jaringan kerjasama dengan pihak lainuntuk peningkatan kemampuan daerah dan pengelolaan sumber daya dengan mengimplementasikan UU Nomor 11 tentang Pemerintahan Aceh, sehingga mampu memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat disertai penegakan supremasi hukum dan hak azasi manusia.
2.2.2 Fokus Area Tahapan RPJPD Kota Sabang
Untuk mewujudkan tujuan pembangunan jangka panjang Kota Sabang dalam kurun waktu 20 tahun kedepan, ditetapkan fokus area tahapan-tahapan sesuai periode rencana jangka menengah (lima tahun) yaitu sebanyak 4 (empat) tahapan sesuai dengan perkembangan kondisi, kemampuan sumber daya dan skala prioritas. Kebijakan setiap tahapan harus berkelanjutan agar dapat tercapainya visi pembangunan Kota Sabang 20 tahun mendatang.
Fokus area pada masing-masing tahapan adalah: A. Tahapan ke 1 (2007-2012)
1. Pembangunan Ekonomi
a. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan berkurangnya masyarakat miskin melalui fasilitasi kebutuhan dasar, pemberdayaan kelompok usaha dan masyarakat, pembinaan usaha sektor informal secara proporsional dan modern.
b. Terwujudnya ketahanan pangan melalui upaya intensifikasi usaha pertanian, khususnya pertanian tanaman pangan dan holtikultura, dan peningkatan produk perikanan.
c. Meningkatnya jumlah kunjungan wisata ke Kota Sabang sehingga meningkatnya usaha pariwisata masyarakat.
d. Terbangunnya fasilitas utama Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang sebagai pelabuhan utama (hub port) yang fungsinya sebagai pelabuhan impor-ekspor (internasional) dan juga sebagai pelabuhan alih kapal (transhipment) nasional sesuai dengan amanat UU Nomor 37 Tahun 2000 dan UU Nomor 11 Tahun 2006. e. Berjalannya aktifitas pelabuhan dan perdagangan walaupun masih
skala kecil.
f. Terbangunnya Pelabuhan Perikanan Rakyat dan Modern sebagai upaya mewujudkan kegiatan ekspor melalui Kawasan Perdagangan Bebas Sabang.
g. Tersedianya kecukupan sumber daya energi listrik yang menunjang investasi.
2. Pembangunan Sarana dan Prasarana Sasaran kebijakan yang ingin dicapai adalah:
a. Terealisasinya proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami di Kota Sabang secara baik.
b. Meningkatnya kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana wilayah:
- meningkatnya kualitas prasarana jalan dan jembatan (jalan lingkar pulau Weh, jalan kawasan industri dan pelabuhan, jalan kota dan jalan lingkungan);
- meningkatnya ketersediaan sumber air baku (danau Aneuk Laot, embung Paya Seunara, Embung Pria Laot dan sumber lainnya, prasarana dan sarana layanan air bersih dan meningkatnya cakupan distribusi air bersih;
- terbangunnya sarana dan prasarana sistem pengelolaan air limbah dan persampahan (drainase, TPA dan IPLT).
c. Terwujudnya sistem sarana transportasi darat termasuk pelabuhan penyeberangan yang lancar, efisien dan aman.
d. Terlaksananya perencanaan penataan ruang dan pertanahan secara secara optimal dan terpadu.
e. Meningkatnya kualitas perumahan dan permukiman masyarakat, khususnya rumah masyarakat dhuafa dan resetlement.
f. Meningkatnya penataan kota sebagai upaya menciptakan kota yang bersih, indah, tertib dan aman dengan sarana dan prasarana perkotaan lainnya yang berkualitas dan berwawasan lingkungan dengan menjaga kawasan hutan.
3. Pembangunan Pendidikan
Sasaran kebijakan yang ingin dicapai adalah:
a. Meningkatnya kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana pendidikan pada semua jenjang pendidikan;
b. Meningkatnya dan meluasnya pendidikan anak usia dini dalam rangka mengembangkan sikap, nilai-nilai, pengetahuan dan daya cipta;
c. Meningkatnya kualitas tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi dan inovasi dalam pengembangan pembelajaran yang berstandar nasional maupun global;
d. Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan dasar dan menengah menuju wajib belajar 12 tahun;
e. Meningkatnya penyelenggaraan pendidikan kejuruan, formal dan non-formal (teknologi informasi, maritim, otomotif/ industri, energi, pariwisata, dll);
f. Meningkatnya penyelenggaraan pendidikan dayah/pesantren (sarana dan prasarana, tenaga kependidikan dan pemberdayaan santri);
g. Terlaksananya tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik penyelenggaraan pendidikan Kota Sabang.
4. Pembangunan Kesehatan
Sasaran kebijakan yang ingin dicapai adalah:
a. Meningkatnya prasarana dan sarana Rumah Sakit Umum dan Puskemas/Pustu;
b. Meningkatnya akses pelayanan kesehatan masyarakat melalui pembiayan kesehatan gratis/jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu;
c. Terbebasnya Kota Sabang dari penyakit malaria.
5. Pembangunan Pemerintahan Umum
Sasaran kebijakan yang ingin dicapai adalah:
a. Terwujudnya struktur organisasi pemerintah yang efisien dan efektif sehingga terwujudnya pelayanan yang prima;
b. Terlaksananya pelayanan perijinan investasi melalui penyederhanaan sistem dan prosedur melalui pelayanan satu atap (satu pintu);
c. Meningkatnya kualitas perencanaan dan hasil pembangunan; d. Meningkatnya kemandirian pemerintahan dalam pengelolaan
sumber daya melalui implementasi UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh;
e. Terlaksananya penegakan supremasi hukum agar lebih menjamin terciptanya kepastian hukum, keadilan dan kebenaran, serta menghargai dan menjunjung tinggi hak asasi manusia;
f. Meningkatnya pemahaman dan pelaksanaan Syari’at Islam dan hukum adat serta nilai-nilai budaya daerah sebagai untuk mewujudkan terciptanya kesadaran hukum masyarakat;
g. Terwujudnya netralitas birokrasi dalam kehidupan politik dan meningkatnya hubungan kemitraan yang baik, harmonis, dan sinergis dengan Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK), MPU, lembaga Adat, masyarakat, LSM dan lembaga non pemerintah sesuai dengan kewenangan, peran dan fungsi yang dimiliki;
h. Meningkatnya penyelenggaraan pemerintahan bawahan (kecamatan, kelurahan/gampong), demokratis, dinamis dan bertanggung jawab;
i. Meningkatkan kualitas dan profesionalisme aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat ;
j. Meningkatnya kesejahteraan PNS melalui pola renumerasi berbasis sistem kinerja baik individual maupun instansi;
k. Meningkatnya peran serta masyarakat yang optimal dalam penentuan kebijakan publik, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan daerah melalui mekanisme yang sah; l. Penataan sistem administrasi kependudukan yang mengarah
pada peningkatan pelayanan, kualitas data dan informasi kependudukan;
m.Meningkatnya sarana dan prasarana teknologi informasi termasuk pengembangan e-government dalam penyelenggaraan pemerintahan yang transparan, pelayanan masyarakat, dan pengembangan potensi daerah;
6. Pembangunan Agama dan Sosial Budaya Sasaran kebijakan yang ingin dicapai adalah: