• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETIKA DAN PROFESIONALISME AKUNTAN INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ETIKA DAN PROFESIONALISME AKUNTAN INDONESIA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

106

Dosen Fakultas Ekonomi Prodi Akuntansi Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi [email protected]

ABSTRAKSI

Kode Etik Akuntan di Indonesia terdiri dari berbagai kode etik, standart dan undang-undang yang dikeluarkan oleh Dewan standart baik IAI dan pemerintah. Tapi meskipun begitu , kode etik hanya menjadi pedoman etika secara keseluruhan akibat dari semua ini adalah etika melakukan praktek professional dan dihadapkan dengan beberapa isu-isu etis, berbagai kasus pelanggaran etika professional yang mulai dari kasus Enron dan kemudian melanjutkan kasus Madoff, dan Satyam yang terjadi setelah berlakunya SOX menunjukkan bahwa hal ini tidak cukup hanya untuk kode etik dan hukum. Disini penulis menerapkan etika professional di Indonesia untuk meningkatkan profesionalisme akuntan, mengingat tantangan untuk profesi di masa depan.

Kata kunci: Kode Etik, Profesional Etik, dan Profesionalisme Akuntan

ABSTRACT

Accountant code of ethics in Indonesia consists of various code of ethics, standard and laws issued by the council either standard, IAI and government. But despite all that, the code of ethics only becomes ethical guidelines as a whole. The consequence of all this is that when professionals do the practice and are faced with some ethical issues. Various cases of violation of professional ethics that starts from the Enron case and then continue on the Madoff case, and Satyam that occurred after the enactment of SOX indicates that it is not enough just to code of ethics and the law. Here the author applying professional ethics in Indonesia in order to improve the professionalism of accountants, given the challenge to the profession in the future. Keywords: Codes of ethics, Professional Ethics, Professionalism of Accountants

1. PENDAHULUAN

Dalam menjalankan suatu profesi,seseorang atau individu maupun kelompok diatur oleh suatu kode etik. Kode etik dibuat dan dirancang untuk mencegah adanya pelanggaranatau kecurangan dalam hal ini bisa dikategorikansebagai korupsi di sektor pemerintahanmaupun swasta.

Akuntan sebagai suatu profesi juga mempunyai kode etik akuntan dalam menjalankan pekerjaannya. Dimana kode etik akuntan yaitu norma perilaku yang mengatur hubunganantara akuntan dengan para klien, antara akuntan dengan sejawatnya, dan antara profesi dengan masyarakat. Kode etik akuntan di Indonesia terdiri dari berbagai kode etik, standar dan undang-undang baik yang dikeluarkan oleh dewan standar, IAI maupun pemerintah. Namun

terlepas dari semua itu, kode etik hanya menjadi garis pedoman etika secara keseluruhan (Poulfelt, 1997). Konsekuensi dari semua ini adalah bahwa ketika pelaku profesi melakukan prakteknya dan dihadapkan dengan beberapa masalah etika.

Bercermin pada kasus Enron, sebuah perusahaan raksasa di AS yang melakukan skandal yang menghebohkan dunia karena berkolusi dengan KAP Arthur Andersen, kecaman masyarakat terhadap profesi auditor mengalir dengan derasnya. Kepercayaan mayarakat AS khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya terhadap profesi di bidang jasa publik ini semakin merosot. Hal ini juga ditunjukkan dengan menurunnya jumlah mahasiswa jurusan Akuntansi di AS. Rekayasa informasi yang dilakukan oleh pihak manajemen Enron dengan

(2)

dibantu auditornya dari KAP Arthur Andersen telah merugikan pihak investor. Akibatnya, kedua perusahaan besar ini harus gulung tikar. Sehingga masyarakat pun beranggapan bahwa profesi auditor adalah profesi yang tercela karena telah melakukan pembodohan dan kebohongan terhadap publik. Dimana perilaku tidak etis dan tidak bermartabat yang dilakukan oleh KAP Arthur Andersen ini tidak hanya merugikan para investor saja, namun juga berdampak negatif pada auditor yang pernah bekerja di KAP tersebut.

Para auditor ini mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan baru di KAP lainnya. Kemudian muncullah Sarbanex Oxley Act (SOX) 2002, yang kemudian mengatur secara ketat profesi akuntan dan fungsi serta peran auditor, juga mengetatkan pengawasan terhadap semua pemangku kepentingan pasar modal (Tuanakotta, 2007:265).

Di Indonesia sendiri juga mengadopsi aturan SOX tersebut dan terjadi perubahan KMK 359/2003 Tentang Perubahan KMK 423/2002, dimana KMK 423/2002 Tentang Jasa Akuntan Publik tersebut juga dirubah menjadi PMK No 17/2008. Selain itu dikeluarkan juga Rancangan Undang-Undang Kantor Akuntan Publik dimana didalamnya perilaku etika diatur pada Pasal 32 ayat (3) dan (6), Pasal 34 ayat (1) Pasal 36, Pasal 37 dan Pasal 38 serta sanksi yang cukup berat bagi auditor apabila melanggar. Rancangan UU KAP ini, memunculkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Di satu sisi bahwa UU KAP ini akan memberikan suatu ketegasan hukum bagi auditor/ akuntan yang melanggar kode etiknya, sedangkan di sisi lain UU KAP diyakini akan menghambat pelaksanaan tanggung jawab akuntan dan seakan-akan reputasi akuntan menjadi buruk karena disamakan dengan ”penjahat”. Selain itu dikhawatirkan peran profesi akuntan akan semakin menipis dikarenakan ketakutan seseorang untuk menjadi seorang akuntan.

Di Indonesia banyak sekali kasus-kasus serupa mengenai

pelanggaran etika profesi yang terjadi. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sudah cukup sering menemukan kecurangan yang dilakukan oleh KAP- KAP dan telah memberi sanksi pada KAP yang terbukti melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kode etik maupun standar yang berlaku. Namun kemudian apakah hal tersebut sudah cukup untuk mencegah kasus-kasus pelanggaran etika profesi akuntan kembali terjadi. Hal inilah yang menjadi tantangan besar bagi para auditor masa depan untuk bekerja sesuai dengan etika profesi dan standar yang telah ditetapkan di tengah persaingan yang semakin ketat dalam industri jasa ini.

Pada artikel ini, penulis mengangkat permasalahan kasus pelanggaran kode etik dan etika pasca diberlakukan SOX, dan mengaitkan dengan penerapan etika profesi akuntan diharapkan dapat bermanfaat bagi

peningkatan profesionalisme kerja akuntan Indonesia khususnya, di masa mendatang.

2. PEMBAHASAN

2.1 Etika Profesi, Kode etik dan Peranannya

Pembahasan mengenai etika tidak terlepas dari pembahasan mengenai moral. Etika merupakan sebuah disiplin ilmu yang berkaitan dengan penilaian moral, kebaikan atau keburukan perilaku, kebenaran atau kesalahan suatu tindakan (White L.P and L.W. Lam, 2000).

Mengutip pendapat Karl Barth, Madjid (1992:466) mengungkapkan bahwa etika (ethos) adalah sebanding dengan moral (mos), dimana keduanya merupakan filsafat tentang adat kebiasaan (sitten). Sebagaimana dinyatakan Socrates bahwa yang dimaksud dengan tindakan etis adalah tindakan yang didasarkan pada nilainilai kebenaran. Benar dari sisi cara, teknik, prosedur, maupun dari sisi tujuan yang akan dicapai. Dalam praktik hidup sehari-hari, teoritis di bidang etika menjelaskan bahwa dalam kenyataannya, ada dua pendekatan mengenai etika ini, yaitu pendekatan

(3)

deontological dan pendekatan teleological. Pada pendekatan deon tological, perhatian dan fokus perilaku dan tindakan manusia lebih pada bagaimana orang melakukan usaha (ikhtiar) dengan sebaikbaiknya dan mendasarkan pada nilai-nilai kebenaran untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, pada pendekatan teleological, perhatian dan fokus perilaku dan tindakan manusia lebih pada bagaimana mencapai tujuan dengan sebaik- baiknya, dengan kurang memperhatikan apakah cara, teknik, ataupun prosedur yang dilakukan benar atau salah.

Merujuk pada klasifikasi profesi secara umum, maka salah satu ciri yang membedakan profesi-profesi yang ada adalah etika professional yang dijadikan sebagai standar pekerjaan bagi para anggotanya. Etika profesional diperlukan oleh setiap profesi khususnya bagi profesi yang membutuhkan kepercayaan dari masyarakat, seperi profesi auditor. Masyarakat akan menghargai profesi yang menerapkan standar mutu yang tinggi dalam pelaksanaan pekerjaannya. Berbicara mengenai etika, kita dapat merujuk pada pernyataan seorang filsuf sekaligus ahli matematika Yunani yang tidak lain adalah murid Aristoteles, yaitu Socrates. Menurut Socrates yang dimaksud dengan tindakan etis adalah tindakan yang didasarkan pada nilai-nilai kebenaran. Benar dari sisi cara, teknik, prosedur prosedur, maupun dari sisi tujuan yang akan dicapai. Profesi merupakan suatu pekerjaan yang dibangun dengan mendasarkan pada sifatsifat tertentu, dimana sifat-sifat ini harus secara utuh dan integratif melekat pada profesi tersebut.

Sementara itu, disebutkan dalam Mathews & Perrera (1991; 281-282) dalam Ludigdo (2007:54), terdapat beberapa keuntungan dari adanya kode etik ini. Pertama, para profesional akan lebih sadar tentang aspek moral dari pekerjaannya. Dengan adanya kode etik para profesional akan bertindak dengan kesadaran sebagaimana yang dituntut dalam kode etik. Sekaligus akan terdapat kesadaran bahwa di dalam pekerjaannya terdapat dimensi moralitas yang harus dipenuhinya. Kedua, kode etik berfungsi

sebagai acuan yang dapat diakses secara lebih mudah. Dengan fungsi ini kode etik akan dapat mengarahkan manajer untuk selalu memelihara perhatiannya terhadap etika. Ketiga, ide-ide abstrak dari kode etik akan ditranslasikan ke dalam istilah yang konkret dan dapat diaplikasikan ke segala situasi. Bagaimanapun kode etik merupakan panduan normatif, oleh karenanya tidak mudah untuk menghindar dari sifatnya yang abstrak. Namun demikian kode etik tentu dapat ditranslasikan ke dalam bahasa yang lebih mudah untuk dipahami anggota profesi, serta dengan mudah pula dapat diplikasikan pada situasi-situasi tertentu. Keempat, anggota sebagai suatu keseluruhan, akan bertindak dalam cara yang lebih standar pada garis profesi. Keragaman pandangan atas nilai moral yang didasari oleh berbagai latar belakang diri anggota akan tidak menguntungkan bagi pencapaian kinerja tertinggi dari sebuah profesi. Kelima, menjadi suatu standar pengetahuan untuk menilai perilaku anggota dan kebijakan profesi. Kode etik sebagai pedoman perilaku profesional hadir untuk ditaati. Dengan perangkat standar ini, bagi siapapun lebih mudah untuk menilai berbagai perilaku anggota dan sekaligus kebijakan asosiasi profesi. Keenam, anggota akan menjadi dapat lebih baik menilai kinerja dirinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa kode etik dapat sekaligus dijadikan bahan instropeksi diri bagi kalangan anggota profesi, setidaknya sebelum dinilai oleh pihak lain atas kinerja moral profesionalnya. Ketujuh, profesi dapat membuat anggotanya dan juga publik sadar sepenuhnya atas kebijakan-kebijakan etisnya. Sebagaimana telah disebutkan bahwa profesi akuntan sangat mengandalkan keberadaannya pada kepercayaan yang diberikan oleh publik. Dengan adanya kode etik, kepercayaan public akan selalu terjaga dengan selalu menghargai integritas profesi dan kedelapan, anggota dapat menjustifikasi perilakunya jika dikritik. Ini penting untuk menghindari ketidakpastian penilaian di masyarakat atas perilaku professional anggota.

(4)

Di dalam aplikasinya, kode etik merupakan pedoman etika yang paling populer di kebanyakan organisasi. Kode etik organisasi (perusahaan) disusun dengan memperhatikan baik untuk memenuhi kepentingan pihak intern maupun pihak ekstern. Memperhatikan kepentingan ini seharusnya suatu rumusan kode etik merefleksikan standar moral universal. Standar moral universal tersebut menurut Schwartz (2001) dalam Ludigdo (2005) meliputi:

a.Trustworthiness (meliputi honesty, integrity,reliability, dan loyalty),

b.Respect (meliputi perhatian ata perlindungan hak azasi manusia), c.Responsibility (meliputi jug

accountability),

d. Fairness (meliputi penghindaran dari sifat tidak memihak, dan mempromosikan persamaan),

e.Caring (meliputi penghindaran atas tindakan- tindakan yang merugikan dan tidak perlu), dan

f. Citizenship (meliputi penghormatan atas hukum dan perlindungan lingkungan).

Dinyatakan dalam kode etik yang berkaitan dengan masalah prinsip bahwa auditor harus menjaga, menjunjung, dan menjalankan nilai-nilai kebenaran dan moralitas, seperti bertanggungjawab (responsibilities), berintegritas (integrity), bertindak secara objektif (objectivity) dan menjaga independensinya terhadap kepentingan berbagai pihak (independence), dan hati-hati dalam menjalankan profesi (due care). Dengan adanya kode etik anggota dapat dengan lebih mudah menjelaskan mengapa perilakuperilaku tertentu dijalankan.

2.2 Prinsip Etika Bagi

Profesionalisme Akuntan di Indonesia

Etika profesi akuntan di Indonesia diaplikasikan dalam bentuk kode etik, yang mana struktur kode etik ini meliputi prinsip etika, aturan etika dan interpretasi aturan etika. Prinsip etika memberikan kerangka dasar bagi aturan etika, yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota. Prinsip etika terdiri dari delapan prinsip yaitu:

tanggung jawab profesi, kepentingan publik, integritas, objektifitas, kompetensi dan kehati-hatian professional, kerahasiaan, perilaku profesional, dan standar teknis. Dari teori etika, profesi pemeriksa (auditor) diatur dalam sebuah aturan yang disebut sebagai kode etik profesi akuntan. Dalam kode etik profesi akuntan ini diatur berbagai masalah, baik masalah prinsip yang harus melekat pada diri auditor, maupun standar teknis pemeriksaan yang juga harus diikuti oleh auditor, juga bagaimana ketiga pihak melakukan komunikasi atau interaksi.

Etika aditor yang dalam SPAP (1994) yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) disebut sebagai norma akuntan menjadi patokan resmi para auditor Indonesia dalam berpraktek. Norma-norma dalam SPAP tersebut yang menjadi acuan dalam penentuan tiga standar utama dalam pekerjaan auditor kita, antara lain :

1. Auditor harus memiliki keahlian teknis, independen dalam sikap mental serta kemahiran profesional dengan cermat dan seksama;

2. Auditor wajib menemukan ketidakberesan, kecurangan, manipulasi dalam suatu pengauditan.

Hal yang paling ditekankan dalam SPAP adalah betapa esensialnya kepentingan publik yang harus dilindungi serta sifat independensi dan kejujuran seorang auditor dalam berprofesi. Namun, sulit untuk menentukan fungsi dan etika pengauditan yang secara teknik dapat mendeteksi jika ada penyelewengan pada sistem pemerintahan baik untuk penyusunan anggaran maupun aktivitas keuangan lainnya. Herawaty dan Susanto (2008) menyatakan bahwa profesionalisme menjadi syarat utama bagi orang yang bekerja sebagai akuntan publik. Gambaran seseorang yang professional dalam profesi dicerminkan dalam lima dimensi profesionalisme, yaitu pertama, pengabdian pada profesi dicerminkan dari dedikasi dengan menggunakan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki serta keteguhan untuk tetap melaksanakan pekerjaan meskipun

(5)

imbalan ekstrinsik kurang. Sikap ini adalah ekspresi dari pencurahan diri yang total terhadap pekerjaan. Kedua, kewajiban sosial adalah suatu pandangan tentang pentingnya peranan profesi serta manfaat yang diperoleh baik masyarakat maupun kalangan profesional lainnya karena adanya pekerjaan tersebut. Ketiga, kemandirian dimaksudkan sebagai suatu pandangan bahwa seorang yang profesional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain (pemerintah, klien dan mereka yang bukan anggota profesi). Setiap ada campur tangan dari luar dianggap sebagai hambatan kemandirian secara profesional. Keempat, keyakinan terhadap profesi adalah suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang menilai apakah suatu pekerjaan yang dilakukan profesional atau tidak adalah rekan sesama profesi, bukan pihak luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan tersebut. Kelima, hubungan dengan sesama profesi adalah dengan menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk di dalamnya organisasi formal dan kelompok kolega informal sebagai ide utama dalam melaksanakan pekerjaan.

Apabila nilai-nilai masyarakatnya berbeda, maka tentu nilai-nilai kehidupannya pun akan berbeda. Oleh karenanya menjadi mungkin jika kode etik akuntan di Indonesia tidak dapat menjadi panduan yang compatible, dan sekedar sebagai simbol tak bermakna bagi kalangan

profesional akuntan. Bagaimanapun keberadaan etika profesi seharusnya dapat dijadikan panduan bagi kalangan profesi dalam menghadapi suatu dilema (Ludigdo, 2006).

2.3 REGULASI KETAT SEBAGAI

TANTANGAN PROFESIONALISME

AKUNTAN

Agar dapat bersaing dalam industry keahlian dan kepercayaan ini, reformasi di segala bidang yang saat ini sedang terjadi di Indonesia juga diikuti oleh organisasi profesi akuntan Indonesia, IAI. Hal ini dipicu oleh adanya tuntutan akuntabilitas dan

profesionalisme Akuntan Indonesia agar memiliki daya saing yang tinggi di era global. Hal ini mendorong pemerintah Indonesia untuk memberlakukan suatu regulasi yang lebih ketat terhadap auditor dan manajemen perusahaan. Regulasi ini telah diterapkan oleh regulator di Indonesia bahkan hingga mempersiapkan Rancangan Undang-Undang Akuntan Publik yang hingga saat ini masih menuai respon pro–kontra dari berbagai kalangan.Regulasi yang semakin ketat inilah yang nantinya akan menjadi tantangan terberat bagi auditor masa depan untuk bekerja dengan lebih profesional.

Akuntan Publik dalam Keputusan Menteri No. 17/2008, yang dimaksud dengan Akuntan Publik adalah Akuntan yang telah memperoleh izin dari Menteri untuk memberikan jasa sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri ini. Seseorang baru dapat menjadi Akuntan Publik jika telah melewati proses pendidikan dan sertifikasi terlebih dahulu. Pendidikan yang disyaratkan untuk dapat menjadi seorang Akuntan Publik adalah sarjana Strata-1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi yang kemudian dilanjutkan dengan Pendidikan Profesi Akuntan (PPAk). Sementara itu, untuk proses sertifikasi diwajibkan untuk lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP). Setelah menjadi Akuntan Publik pun pendidikan masih tetap dilanjutkan dengan Pendidikan Profesi Berkelanjutan (PPL) serta kursus dan pelatihan di KAP masing-masing.

Regulasi yang diterapkan terhadap auditor Indonesia saat ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Regulasi oleh Pemerintah, antara lain: a. Gelar Akuntan (UU No. 34 tahun

1954);

b. Penyelenggaraan pendidikan profesi (KepmenNo. 179/U/2001); c. Register Negara (Kepmen No.

331/-KMK/017/1999);

d. Pemberian jasa (Kepmen No.426/KMK.06/2002, No. 359/KMK.06/-2003, PMK No 17/2008);

e. Undang-Undang Akuntan Publik (Rancangan);

(6)

f. Regulasi oleh Badan Pemerintah lain, seperti otoritas pasar modal, Bank Sentraldan lain-lain.

2. Regulasi oleh Organisasi Profesi Akuntan, antara lain:

a. Standar Akuntansi; b. Standar Audit;

c. Kode Etik Profesi (IFAC Code of Ethics, Kode Etik IAI, Kode Etik IAPI, Kode Etik IAMI, Kode Etik KASP).

d. Sarbanex Oxley Act (SOX) 2002, tujuan dikeluarkan SOX, yakni: 1) membuat Manajemen bertanggung jawab; 2) memperkuat pengungkapan (disclosure); 3) melakukan review yang teratur (oleh SEC); dan 4)

membuat akuntan

bertanggungjawab.

Pengawasan kepatuhan dan penilaian pelaksanaan kode etik serta SPAP oleh akuntan publik dilaksanakan oleh Badan Pengawas Profesi di tingkat Kompartemen Akuntan Publik dan Dewan Pertimbangan Profesi di tingkat IAI. Fungsi dari Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik ini secara garis besar adalah mengawasi kepatuhan dan melakukan penilaian pelaksanaan Kode Etik Akuntan Indonesia dan SPAP oleh akuntan publik. Badan ini juga menangani pengaduan dari masyarakat menyangkut pelanggaran akuntan publik terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia atau SPAP. Kemudian jika menemukan pelanggaran Kode Etik Akuntan Indonesia SPAP, Badan ini berwenang untuk menetapkan sanksi kepada akuntan publik yang melanggar. Selain itu Badan ini juga dapat mengajukan usul dan saran mengenai pengembangan kode etik akuntan kepada Komite Kode Etik.

Dengan semakin ketatnya regulasi terhadap profesi Akuntan Publik, maka semakin berat pula tantangan bagi para Auditor untuk dapat bekerja dengan daya saing yang tinggi. Dengan demikian, yang dapat dilakukan oleh para Auditor masa depan dalam menghadapi persaingan di tengah regulasi yang semakin ketat adalah bekerja dengan lebih profesional,

beretika, bermartabat dan menjadikan SPAP sebagai rambu-rambu dalam melaksanakan profesi audit. Hal ini dilakukan alasannya:

a. Regulasi penting untuk melindungi masyarakat pengguna jasa Auditor; b. Profesi Auditor dimanapun dan

kapanpun selalu dipenuhi dengan regulasi;

c. Kompetensi dan integritas adalah cara yang tepat untuk mengatasi persaingan dan regulasi.

3. KESIMPULAN

Kasus Enron yang melibatkan KAP Arhur Andersen merupakan salah satu contoh kasus pelanggaran etika profesi Auditor yang terjadi di Amerika Serikat, sebuah negara yang memiliki perangkat Undang-undang bisnis dan pasar modal yang lebih lengkap. Dengan adanya kasus tersebut memunculkan Sarbanex Oxley Act (SOX) 2002. Hal ini jugalah yang mendorong pemerintah Indonesia untuk menyusun regulasi yang lebih ketat terhadap profesi Auditor/Akuntan Publik. Regulasi yang ketat ini tidak lain bertujuan untuk memberikan perlindungan baik terhadap penyedia jasa audit (Auditor) maupun manajemen perusahaan pengguna jasa audit (Auditee). Dengan semakin ketatnya regulasi yang diterapkan terhadap Auditor, maka tantangan profesionalisme auditor masa depan menjadi semakin berat. Auditor diberi tanggung jawab yang lebih besar untuk melaksanakan tugasnya dengan lebih profesional, beretika, bermartabat dan tidak melanggar ketentuan-ketentuan audit yang telahditetapkan dalam SPAP. Setelah adanya SOX, bukan berarti kasus skandal terhenti. Akuntan kembali tercoreng nama dan reputasinya ketika mencuat kasus Madoff, Mini madoff dan Satyam. Maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya berbagai kode etik maupun standar serta RUU yang dibuat dalam rangka mencapai tujuan profesionalisme tersebut, belumlah cukup. Kode etik yang diadopsi dari negara lain memungkinkan adanya perbedaan dalam pemahaman. Jika nilai-nilai masyarakatnya berbeda, sudah

(7)

tentu nilai-nilai kehidupannya pun akan berbeda. Sehingga memungkinkan jika kode etik akuntan di Indonesia tidak dapat menjadi panduan yang compatible, dan sekedar sebagai simbol tak bermakna bagi kalangan professional akuntan. Namun keberadaan etika profesi tetap dapat dijadikan panduan bagi kalangan profesi dalam menghadapi suatu dilema.

Adapun langkah selanjutnya yang dapat diambil oleh para pelaku profesional, dalam menyikapi kasus pelanggaran etika profesi ini adalah kesadaran untuk mematuhi kode etik tersebut dan dengan memperhatikan dan mengembangkan potensi emosionalitas (EQ) dan spiritualitas (SQ) bagi auditor dan pelaku profesional lainnya.

Pada akhirnya etika profesi yang adanya penguatan personalitas diharapkan akan dapat meningkatkan profesionalisme akuntan Indonesia dimasa mendatang yang penuh dengan tantangan.

DAFTAR PUSTAKA

Brooks, Leonard J. 2000, Business & Professional Ethics for Directors, Executives,& Accountants. SouthWestern College Publishing

Desriani, Rahmi. 1993. Persepsi Akuntan Publik Terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia. Universitas Gajah Mada.

Duska, Ronald F. and B. S. Duska. 2005. Accounting Ethics. Blackwell Publishing.

Http://www.vibiznews.com/Kasus Fraud Terbesar di Dunia Madoff, Satu Lagi Kegagalan Regulator. 2 April 2009

Http://www.google.com/Bursa Saham India Diguncang Skandal Satyam. 29 Maret 2009

Http://www.google.com/RegulasiKetatse bagai Tantangan Auditor di Masa Depan. 25 April 2009.

IAI, Kode Etik Akuntan Indonesia. 1998. Prosiding Kongres VIII IAI

IFAC Ethics Committe. 2005. IFAC Code Of Ethics for Professional

Accountants. International Federation of Accountants.

Ludigdo, Unti. 2005. Mengembangkan Etika di Kantor Akuntan Publik: Sebuah Perspektif untuk Mendorong Perwujudan Good Governance. Makalah dalam Konferensi Nasional Akuntansi “Peran Akuntan dalam Membangun Good Corporate Governance”di Universitas Trisakti, 24 September 2005.

Ludigdo, Unti. 2006. Strukturasi Praktik Etika di Kantor Akuntan Publik: Sebuah Studi Interpretif. Simposium Nasional Akuntansi 6. Padang.

Ludigdo, Unti. 2007. Paradoks Etika Akuntan. Edisi Pertama. Pustaka Pelajar,Yogyakarta.

Machfoedz, M. dan Unti Ludigdo. 1999. Persepsi Akuntan dan Mahasiswa tentang Etika Bisnis, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 2. No.1 .Hal 1-19.

Madjid, Nurcholish, 1992. Ajaran Nilai Etis Dalam Kitab Suci dan Relevansinya Bagi Kehidupan Modern. Yayasan Wakaf Paramadina. Jakarta.

Mulyadi. 2002. Auditing. Edisi keenam. Penerbit Salemba Empat. Jakarta Poulfelt, Flemming. 1997. Ethics for

Management Consultants. Bussiness Ethics: A Europan Review. Vol. 6. No.2. pp 65-71. Sihwahjoeni dan M. Gudono. 2000.

Persepsi Akuntan terhadap Kode Etik Akuntan. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol.3, No. 2, Juli 2000. Hal. 168-184.

Referensi

Dokumen terkait

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kajian lama waktu fermentasi terhadap aktivitas anti-bakteri dan antioksidan black garlic sehingga dapat

Memahami sejarah dan semangat komitmen para pendiri negara dalam merumuskan dan menetapkan Pancasila sebagai dasar negara.

Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Problem Posing dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran gaya dalam mata pelajaran

Aplikasi Sistem Informasi Penggajian Karyawan ini dapat digunakan untuk membantu kinerja Manajemen Waroeng Spesial Sambal “SS” yang berkepentingan dalam pengolah data

(skirt pile) dan dianggap terpancang dengan tumpuan.fixed. • Type brace yang digunakan adalah K-bracing. );;> Hasil analisa pada geladak tidak ditinjau, yang ditinjau

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor sosial ekonomi dengan loyalitas konsumen di Pasar Tradisional Ampel, Kabupaten Boyolali.. Jenis

Sedangkan sumber daya manusia adalah individu yang berperan penting dalam menggerakan suatu organisasi atau perusahaan karena itu mereka harus terus dilatih dan

PowerPoint 2007 sehingga terbiasa bekerja dengan berbagai lingkungan tampilan yang akan berguna meningkatkan keahlian dalam