Ari Hardianto Raharjo, 2016
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan era globalisasi saat ini pendidikan sangatlah penting untuk penyesuaian dengan perkembangan zaman. Pendidikan merupakan suatu hal yang harus diprioritaskan dengan kepentingan-kepentingan yang lain demi kemajuan bangsa ini. Sesuai pentingnya keguanaan pendidikan pada saat ini maka pendidikan dapat diartikan sebagai proses mendidik, mengarahkan lalu memotivasi individu agar tumbuh berkembang sesuai dengan tahapan perkembangan usia yang ditempuhnya. Pendidikan bertujuan merubah individu agar beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, memiliki pengetahuan dan keterampilan, memiliki kesehatan jasmani dan rohani, memiliki kepribadian yang mantap, mandiri dan memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakat dan bangsa. Buku Landasan Pendidikan (2011, hlm. 26) dalam Undang-Undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003 menyatakan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan Pendidikan adalah proses mengembangkan kemampuan individu menjadi individu-individu yang kreatif, berdaya, dan dapat menemukan sesuatu yang baru dalam dirinya agar dapat mengetahui lingkungan di sekitarnya pada akhirnya mampu mengatasi sesuatu yang akan terjadi.
Pendidikan mempunyai bermacam-macam bidang pembelajaran salah satunya bidang aktivitas jasmani yang dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan jasmani yang mencangkup menggerakan badan termasuk berloncat,
melompat, berjalan kaki, berlari, melempar, menangkap, tiarap, dan berbagai gerak dasar lain yang dilakukan secara sengaja dengan situasi sadar dan mempunyai tujuan. Pendidikan jasmani adalah suatu proses mendidik melalui kegiatan jasmani, olahraga dan permainan untuk mencapai pendidikan.
Pendidikan jasmani merupakan suatu proses pembentukan dan
pengembangan aspek yang dimiliki siswa terkait dengan aspek psikomotor, afektif dan kognitif. Menurut Jesse Feiring Williams (dalam : Freeman, 2001) “pendidikan jasmani adalah sejumlah aktivitas jasmani manusiawi yang terpilih sehingga dilaksanakan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan”. Pengertian ini didukung oleh adanya pemahaman Abduljabar (2011, hlm. 5) bahwa:
Manakala pikiran (mental) dan tubuh disebut sebagai dua unsur yang terpisah, pendidikan jasmani yang menekankan pendidikan fisika. Melalui pemahaman sisi kealamiahan fitrah manusia ketika sisi keutuhan individu adalah suatu fakta yang tidak dapat dipungkiri, pendidikan jasmani diartikan sebagai pendidikan fisikal. Pemahaman ini menunjukan bahwa pendidikan jasmani juga terkait dengan respons emosional, hubungan personal, prilaku kelompok, pembelajaran mental, intelektul, emosional, dan estetika. (hlm. 5)
Berdasarkan definisi yang didukung oleh pemahaman diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani adalah proses yang dilakukan secara sadar karena mempunyai tujuan yang diinginkan untuk merubah karakter individu melalui aspek psikomotor, kognitif dan afektif yang di kembangkan dan dilakukan dalam proses kegiatannya.
Pendidikan Jasmani yang diterapkan disetiap sekolah mempunyai berbagai macam materi yang diajarkan yaitu permainan yang dikelompokan kedalam bola besar, bola kecil, atletik, aktivitas aquatik, aktivitas ritmik, dll. Dalam kurikulum 2013, permainan sepakbola telah dijadikan salah satu aktivitas pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, yaitu dalam kelompok aktivitas permainan bola besar. Di dalam kelompok aktivitas permainan bola besar terdapat juga beberapa cabang olahraga lain yaitu, bola basket dan bola voli. Aktivitas permainan sepakbola
Ari Hardianto Raharjo, 2016
selain mengembangkan kegiatan bermain para siswa, juga di dalam permainan itu sendiri terdapat nilai-nilai untuk mengembangkan pembentukan kepribadian yang positif. Oleh karena itu, permainan sepakbola dapat di jadikan sarana pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Seperti, mengembangkan aspek fisik, mental, emosional, dan intelektual para siswa. Namun demikian, permainan sepakbola berpotensi juga untuk mengembangkan hal-hal yang negatif pada diri siswa. Seperti, berbuat curang, berprilaku tidak sportif, menyakiti diri sendiri dan orang lain. Agar siswa tidak melakukan hal yang negatif dan agar tujuan pembelajaran tercapai, maka peran guru profesional sangat penting. Buku professional Guru (2012, hlm. 12) Dalam UU RI No.14 (2005) tentang guru dan dosen, menjelaskan bahwa
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sedangkan profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Dengan pengertian di atas guru profesional yaitu seorang pendidik yang bisa menjadi fasilitator, pemimpin dalam kegiatan belajar mengajar, sebagai ujung tombak dalam kegiatan pembelajaran sehingga adanya interaksi guru dan siswa dalam sebuah proses pembelajaran menuju perkembangan kreativitas dan pemahaman yang menghasilkan kualitas yang baik.
Dalam kehidupan sehari-hari makhluk hidup di muka bumi ini tidak ada yang belum pernah melakukan aktivitas bermain bahkan tidak hanya manusia yang melakukan aktivitas bermain, makhluk hidup lain di bumi ini seperti hewan dapat melakukan aktivitas bermain. Bentuk tingkatan kehidupan mengalami aspek bermain, pada dasarnya mahkluk hidup dimuka bumi ini sangat senang bermain dan dimulai kehidupannya dengan melakukan aktivitas bermain. Bermain adalah melakukan aktivitas jasmani yang
dilakukan dengan rasa senang. Bermain dapat dilakukan dengan suka rela atas dasar rasa senang. Bermain dengan rasa senang menumbuhkan aktivitas yang dilakukan secara spontan. Agar bermain dengan baik perlu berlatih, kadang-kadang memerlukan kerja sama dengan teman, menghormati lawan, mengetahui kemampuan teman, patuh pada peraturan, dan mengetahui kemampuan diri sendiri. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa bermain merupakan kegiatan yang sangat digemari seluruh manusia yang tujuannya untuk menumbuhkan rasa senang, gembira juga riang, tidak ada batasan mengenai bermain karena siapapun dapat melakukannya.
Sepakbola merupakan olahraga yang sangat popular di setiap Negara dikatakan olahraga popular kerana hampir di setiap kalangan manusia menggemari olahraga yang satu ini. Cara melakukan olahraga sepakbola yaitu dengan jalan membawa bola kesana-kemari untuk diperebutkan, tujuannya untuk memasukan bola ke dalam gawang lawan dan mempertahankan gawang sendiri agar tidak kemasukan bola oleh lawan. Cara bermain sepakbola harus mempunyai regu, masing-masing regu terdiri dari 11 orang. Permainan ini memerlukan kerjasama antar pemain untuk memenangkan pertandingan. Untuk menjalin kerjasama yang baik diperlukan pengertian antar pemain satu sama lain, hal ini harus dilakukan dalam bentuk penyerangan maupun pertahanan, suatu kerjasama terdapat dalam sistem formasi. Formasi dalam suatu permainan sepakbola adalah cara penempatan posisi pemain, serta pembagian tugas pemain untuk dapat mencetak gol ke gawang lawan. Dalam buku Kemendikbud RI (2014, hlm. 5) menjelaskan bahwa:
Sepakbola merupakan permainan beregu yang masing-masing terdiri dari sebelas pemain. Bermain sepakbola dapat dilakukan dengan cara menyepak kian-kemari untuk diperebutkan di antara pemain-pemain yang mempunyai tujuan untuk memasukan bola ke dalam gawang lawan dan mempertahankan gawang sendiri agar tidak kemasukan bola oleh lawan. Permainan sepakbola dimainkan dalam dua babak (2x45 menit) dengan waktu istirahat 10 menit di antara dua babak tersebut.
Ari Hardianto Raharjo, 2016
Berdasarkan definisi di atas, sepakbola adalah olahraga yang mebutuhkan regu atau kelompok untuk memainkannya karena dalam sepakbola memerlukan kerjasama kelompok untuk mencapai strategi dan ruang gerak setiap pemain dengan posisi yang berbeda-beda dan bertujuan mencetak gol ke gawang lawan dan mempertahankan gawangnya agar tidak kemasukan oleh lawan. Sejarah tentang terbentuknya badan persatuan dinegara Indonesia dan di luar negeri dalam www.pssi-football.com (22.07 WIB) menyatakan bahwa:
Sejarah tentang terbentuknya asosiasi resmi dalam lingkup sepakbola dunia terjadi Pada tanggal 20 Oktober 1863, didirikan sebuah badan yang disebut English Football Assosiation. Kemudian tanggal 8 Desember 1863 lahirlah peraturan permainan sepak bola modern yang disusun oleh badan tersebut yang dalam perkembangannya mengalami perubahan. Atas inisiatif Guerin (Prancis) pada tanggal 21 Mei 1904, berdirilah federasi sepak bola internasional dengan nama
Federation International de Football Association (FIFA). Pada tanggal
14 April 1930 dibentuk persatua sepakbola semua Indonesia (PSSI) di Yogyakarta dengan dukungan semua bond-bond. Pengurus PSSI pertama kali di ketuai oleh Ir. Soeratin Sosrosoegondo.
Sebelum siswa mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana proses permainan sepakbola, siswa dituntut untuk paham tentang bermain sepakbola, seperti mengerti akan teori-teori dan tindakan akan bermain sepakbola. Oleh sebab itu dalam hal ini siswa tidak hanya harus mengerti tentang aktivitas teknik dasar permainan sepakbola yang didalamnya berisi; aktivitas teknik menendang bola yang merupakan salah satu gerakan yang sering dilakukan dalam permainan sepak bola, aktivitas teknik menahan bola yang merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam permainan sepakbola gerakan ini kebalikan dari gerakan teknik menendang bola, bentuk-bentuk aktivitas menendang dan menahan bola, aktivitas teknik menggiring bola yang merupakan gerakan menendang bola secara terputus-putus dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengan kaki dan dilakukan secara perlahan-lahan.
Siswa juga harus diberi informasi mengenai peraturan dan strategi bermain sepakbola dengan diberikan butir pertanyaan melalui soal latihan. Sehingga siswa lebih kaya pengetahuannya. Pemahaman dalam permainan sepakbola bukan hanya belajar motorik saja, melainkan belajar juga kognitifnya. emosinya, dan sosial siswa. Terkait pada belajar sosialnya karena dalam permasalahan bermain yang diberikan guru, siswa diharuskan bekerjasama tidak boleh main tubruk atau adu fisik secara sengaja.
Pemahaman adalah suatu pengetahuan yang dimiliki individu dan individu tersebut dapat menjelaskan dan mengartikan tentang pengetahuannya yang pernah di terima sebelumnya. Suharsimi (2007) menyatakan bahwa :
Pemahaman (comprehension) adalah bagaimana seseorang
mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberi contoh, menuliskan kembali dan memperkirakan. Menurut kamus lengkap bahasa Indonesia pemahaman adalah sesuatu hal yang kita pahami dan kita mengerti dengan benar.Pemahaman mencangkup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Pemahaman termasuk dalam salah satu bagian dari aspek kognitif karena pemahaman tingkat berfikir lebih tinggi. (Dalam www.duniapelajar.com pada pukul 20.34 WIB)
Berdasarkan pendapat diatas pemahaman merupakan pengetahuan yang dimiliki siswa dan siswa tersebut dapat menyampaikan pengetahuan yang dia miliki bahkan dapat mencontohkan pengetahuan yang dia miliki dengan caranya sendiri.
Pemahaman bermain sepakbola adalah pengetahuan tentang aturan dan tata cara permainan yang dikuasai oleh individu lalu individu tersebut bisa menjelaskan dan mempraktekan bahkan memberikan contoh kemudian dapat mengajarkan kepada individu yang lain dan kepada kelompoknya mengenai aktivitas olahraga sepakbola. Pemahaman bermain sepakbola merupakan dasar untuk mengetahui bagaimana cara bermain sepakbola, peraturan yang ada dalam kegiatan bermain dan pengaruh yang didapat ketika sudah melakukan permainan.
Ari Hardianto Raharjo, 2016
Pemahaman dapat menjadi satu pengertian yang baru apabila sudah dipahami serta diterima lalu dioleh otak. Hal ini sesuai dengan pendapat Soekanto (2006, hlm. 26) menyatakan bahwa “pemahaman diperoleh melalui kenyataan atau fakta dengan cara melihat, mendengar, melakukan sendiri, melalui alat komunikasi seperti misalnya membaca buku, melihat kejadian sebenarnya dan mengalami sendiri hal yang sebenarnya”. Maka dapat diartikan pemahaman bermain sepakbola bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang dapat dipahami mengenai berbagai macam hal yang terkandung dalam sebuah permainan sepakbola. Dalam situasi ini guru harus bisa memberi pengarahan, koreksi, saran, latihan yang tepat agar anak didiknya berkembang lebih baik dan dapat mencapai kedewasaan yang diharapkan. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa pemahaman bermain siswa akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan baik.
Fakta permasalahan yang terjadi dalam hasil observasi dan wawancara guru penjas SMPN 45 Bandung, pada saat pembelajaran pendidikan jasmani berlangsung materi ajar sepakbola siswa hanya menginginkan bermain kepada inti permainan saja. Jika pembelajaran berlangsung siswa melakukan tugas geraknya hanya yang di instruksikan oleh gurunya saja maka dari itu pemikiran siswa terkadang sulit untuk dikembangkan atau siswa tidak dapat mengembangkan pemikiran intelektualnya. Ditambah proses pelaksanaan pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat memecahkan sebuah solusi agar dalam pembelajaran permainan sepakbola tidak terjadi sebuah dampak yang tidak membuat jenuh saat pada proses pelaksanaan pembelajarannya. seperti fakta yang tercantum dalam baris diatas seringkali pembelajaran berpusat kepada pendidik, siswa-siswi melakukan tugas geraknya hanya bila di instruksikan sesuai oleh pendidik dan tidak menunjukan semangat dalam melaksanakan pembelajaran permainan sepakbola dikarenakan kreatifitas guru dalam mengajar kurang mendorong siswa-siswa untuk lebih senang dalam melakukan permainan sepakbola. Permasalahan tersebut berdampak kepada kurang fokusnya siswa-siswi dalam melaksanakan kegiatan sehingga tujuan pembelajaran terabaikan.
Dalam suatu aktivitas belajar mengajar guru harus menentukan perencanaan pembelajaran terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran. Perencanaan tersebut mencangkup kepada melihat kurikulum dan silabus yang akan diajarkan, menyampaikan materi dengan strategi mengajar, gaya mengajar, metode pembelajaran, model pembelajaran, penilaian hingga evaluasi. Maka dari itu penulis ingin memperdalam mengenai model pembelajaran karena menentukan model pembelajaran salah satu hal terpenting dalam suatu perencanaan pembelajaran. Sesuai dengan pentingnya kegunaannya model pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu kerangka sistematis yang dirancang untuk lebih mudah mengajarkan dan menggambarkan proses aktivitas belajar mengajar. Model pembelajaran dalam penjas terdapat beberapa model salah satunya yaitu model pembelajaran inkuiri dan pengertian model pembelajaran inkuiri adalah guru memberikan tugas dengan masalah yang ada dalam bentuk pertanyaan lalu siswa harus bisa menyelesaikan masalah tesebut dengan caranya sendiri. Sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memahami konsep dan memecahkan masalah. Menurut Juliantine, dkk (2013, hlm. 83) bahwa :
Model pembelajaran inkuiri diciptakan oleh Suchman pada tahun 1962, dengan alasan ingin memberikan perhatian menyelidiki secara independen namun dalam suatu cara yang teratur. Ia menginginkan agar siswa menanyakan mengapa sesuatu peristiwa itu terjadi, memperoleh dan mengolah data secara logis, dan agar siswa mengembangkan strategi intelektual mereka untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Dalam pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan artinya dalam pembelajaran ini menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar. Dalam pemaparan di atas maka dapat disimpulkan model pembelajaran inkuiri merupakan seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik di arahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan sehingga dapat menumbuhkan sikap percaya diri, dan peran
Ari Hardianto Raharjo, 2016
pendidik sebagai fasilitator sekaligus motivator melainkan bukan sebagai sumber belajar. Mengapa model pembelajaran inkuiri diterapkan dalam pembelajaran karena dalam model ini mengutamakan siswa untuk dapat berfikir sendiri. Ketika kita menemukan sesuatu yang kita cari sendiri, daya ingat kita akan lebih melekat dibandingkan tahu dari orang lain. Dalam model pembelajaran inkuiri diterapkan untuk mengembangkan pemahaman bermain dalam permainan sepakbola didukung dengan kebijakan kurikulum 2013 yaitu menekankan agar peserta didik menjadi subjek belajar, peserta didik tidak hanya berperan menerima pelajaran melalui penjelasan dari pendidik tetapi mereka harus berperan menemukan sendiri inti dari materi pelajaran tersebut. Proses menemukan merupakan hal yang jarang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan mutu belajar guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan, bertanya, mengajukan pendapat dan dugaan-dugaan yang dibayangkan dalam pikirannya pada akhirnya dapat menyimpulkan sendiri. Melihat penjelasannya mengenai model pembelajaran inkuiri dapat membentuk siswa untuk mengembangkan pemahaman bermain melalui kreatifitasnya. Hubungan model pembelajaran inkuiri dalam upaya mengembangkan pemahaman siswa dilihat dari definisi model inkuiri yang berkaitan dengan cara menemukan dan dapat membentuk siswa berfikir sendiri.
Hubungan upaya mengembangkan pemahaman bermain siswa melalui penerapan model pembelajaran inkuiri juga dapat diperkuat dengan cara pelaksanaannya saat penerapkan model inkuiri yang memiliki unsur kegiatannya melakukan pengamatan, dapat bertanya, mengajukan dugaan-dugaan, mengumpulkan data dan dapat menyimpulkan sendiri, dengan cara seperti itu pemikiran siswa dapat berkembang dalam berbagai situasi yang dihadapinya bahkan dalam pemahaman bermain dalam permainan sepakbola.
Melihat definisi dan langkah pembelajaran model inkuiri yang telah diuraikan maka peneliti mengharapkan agar dapat meningkatkan kreativitas siswa dan mengembangkan kemampuan intelektual dalam pelaksanaan
pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. Sejauh ini belum ada penelitian yang mengangkat model pembelajaran inkuiri pengaruhnya terhadap pengembangan pemahaman bermain untuk itu penulis mengambil semah-sentral penelitian ini apakah terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri untuk mengembangkan pemahaman bermain siswa dalam permainan sepakbola.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut diatas penulis dapat mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1. Kurangnya pemahaman siswa dalam pemahaman bermain pada pembelajaran aktivitas permainan sepakbola.
2. Kurang dikembangkannya pemahaman bermain siswa pada saat pembelajaran aktivitas permainan sepakbola.
3. Pemahaman bermain siswa pada aktivitas pembelajaran sepakbola dapat dikembangkan dengan model pembelajaran inkuiri.
4. Dengan model pembelajaran inkuiri dapat memicu siswa untuk mengembangkan pemahaman bermainya karena model pembelajaran inkuiri syarat untuk perkembangan pemahaman siswa.
5. Penerapan model pembelajaran inkuiri diharapkan dapat mengembangkan pemahaman bermain siswa dalam aktivitas permainan sepakbola.
C. Batasan Masalah
Pembatasan penelitian sangat diperlukan dalam setiap penelitian agar masalah yang diteliti lebih terarah. Untuk mempermudah masalah yang diteliti, maka batasan masalah penelitian ini adalah penggunaan model pembelajran inkuiri upaya mengembangkan pemahaman bermain siswa dalam permainan sepakbola dan pelaksanaannya melakukan aktivitas permainan sepakbola menggunakan pola strategi permainan sepakbola. Penelitian hanya di lakukan pada siswa kelas VII E SMPN 45 Bandung karena kegiatan perubahan harus dilakukan kepada tingkatan yang paling
Ari Hardianto Raharjo, 2016
rendah agar suasana belajar untuk kedepannya terbiasa menjadi lebih baik. Pada saat proses pelaksanaan pembelajaran berlangsung dapat tercapai tujuan pembelajarannya.
1. Model Pembelajaran Inkuiri
Terdapat ketidak seimbangan proses pembelajaran yang menekankan pendidik sebagai sumber belajar untuk meningkatkan mutu belajar, proses aktivitas permainan sepakbola menggunakan model pembelajaran inkuiri menjadi cara untuk meningkatkan mutu belajar, karena dalam proses pembelajaran inkuiri menekankan kepada proses menemukan secara individu, siswa harus dapat menemukan suatu permasalahan yang dihadapkannya dengan caranya sendiri, oleh sebab itu pembelajaran harus berpusat kepada siswa agar mutu belajar dapat meningkat. Hal ini diperkuat oleh juliantine, dkk (2013, hlm. 84) menyatakan bahwa “sejak tahun 1960-an telah terjadi perubahan yang sangat besar, dimana dominasi guru sudah mulai berpindah tangan ke siswa. Maksudnya model pembelajarannya sudah didasarkan kepada pemecahan masalah dan juga diarahkan untuk mengembangkan intelektual siswa”.
2. Permainan Sepakbola
Sucipto, dkk (2000, hlm. 7) menyatakan bahwa “sepakbola merupakan permainan beregu, masing-masing regu terdiri dari sebelas pemain, dan salah satunya penjaga gawang”. Permainan ini hampir seluruhnya dimainkan menggunkan kaki kecuali penjaga gawang yang diperbolehkan menggunakan lengannya didaerahnya sendiri. Pernyataan ini senada dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Handoko (Solihin, 2011) sebagai berikut :
Sepakbola adalah permainan yang dilakukan dengan jalan menyepak bola, dengan tujuan untuk memasukan bola ke gawang lawan dan mempertahankan gawang tersebut agar tidak kemasukan bola oleh lawan. Di dalam memainkan bola setiap pemain diperbolehkan menggunakan seluruh anggota badan kecuali tangan
dan lengan. Hanya penjaga gawang yang diperbolehkan menggunakan kaki dan tangan.
3. Pengertian Pemahaman
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pemahaman adalah sesuatu hal yang kita pahami dan kita mengerti dengan benar. Arikunto menyatakan bahwa “pemahaman (comprehension) adalah bagaimana seseorang mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, meberikan contoh, menulis kembali, dan memperkirakan”. Dengan pemahaman siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan sederhana diantara fakta-fakta atau konsep.
Sedangkan menurut Bloom yang dikemukakan oleh Kuswana (2012, hlm. 67) bahwa “pemahaman adalah suatu keterampilan atau kemampuan intelektual yang menjadi tuntutan siswa dihadapkan pada komunikasi yang bertujuan untuk mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat menggunakan ide yang terkandung didalamnya”. Berdasarkan pemaparan diatas tujuan pemahaman siswa diharapkan dapat mengubah komunikasi dalam pikirannya atau tanggapan terbuka untuk bentuk paralel dan lebih bermakna. Menurut Bloom yang dikemukakan oleh Kuswana (2012, hlm. 69) bahwa:
ada tiga jenis perilaku pemahaman yang pertama terjemahkan suatu pengertian yang berarti bahwa seseoran dapat mengkomunikasikan kedalam bahasa lain, istilah lain atau bentuk lain. Kedua merupakan perilaku interpretasi yang melibatkan
kominakasi sebagai konfigurasi pemahaman ide yang
memungkinkan memerlukan penataan ide-ide kedalam konfigurasi baru dalam pikiran individu. Ketiga perilaku ekstrapolasi mencangkup pemikiran atau prediksi yang dilandasi oleh pemahaman kecenderungan atau kondisi yang dijelaskan dalam komunikasi.
Ari Hardianto Raharjo, 2016
Maka dapat diartikan pemahaman merupakan suatu hal baru yang diperoleh melalui bentuk komunikasi dan dapat dipaparkan kembali dalam bentuk lain bahkan dijelaskan oleh bahasanya sendiri tetapi maknanya tetap tdan harus lebih jelas.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut maka dapat di rumuskan permasalahannya adalah apakah penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman bermain siswa pada permainan sepakbola?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut diatas maka penulis dapat merumuskan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran inkuiri dapat mengembangkan pemahaman bermain siswa dalam aktivitas permainan sepakbola.
F. Manfaat Penelitian
Dari uraian diatas, maka penulis dapat mengemukakan tentang manfaat penelitian yang penulis lakukan, diantaranya sebagai berikut :
1. Secara Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan sebagai sumber informasi dalam pengembangan model-model pembelajaran pendidikan jasmani dalam kurikulum 2013 terutama model pembelajaran inkuiri (inquiry).
b. Meningkatkan dan memperluas serta memanfaatkan keterampilan serta menambah pengalaman dan wawasan.
2. Secara Praktis
a. Bagi siswa, penelitian ini diharapkan selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri dapatmembuat siswa paham, aktif dan siswa lebih kreatif.
b. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan kepada guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, guna menerapkan model
pembelajaran inkuiri dalam menciptakan pemahaman bermain dalam permainan sepakbola.
c. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat menambah ilmu pengetahuan tentang model-model pembelajaran pendidikan jasmani dalam kurikulum 2013, yaitu mengenai penerapan model pembelajaran inkuiri pada pemahaman bermain dalam permainan sepakbola.
G. Struktur Organisasi Skripsi
Untuk penulisan dari setiap BAB dan bagian BAB dalam skripsi ini, agar tidak keluar dari batasan struktur organisasi, maka dibuat struktur organisasi BAB pertama hingga BAB terakhir, sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN memuat pendahuluan yang terdiri atas latar belakang permasalahan upaya mengembangkan pemahaman bermain siswa dalam aktivitas permainan sepakbola kelas VII E SMPN 45 Bandung. Latar belakang tersebut menjelaskan pokok-pokok permasalahan yang akan diteliti. Selain latar belakang masalah adapun penjelasan identifikasi masalah sebagai ringkasan permasalahan yang terjadi di lapangan. Setelah itu, latar belakang masalah dan identifikasi masalah akan dikembangkan menjadi rumusan masalah yang dapat menghasilkan tujuan masalah dan manfaat penelitian.
BAB II KAJIAN PUSTAKAN, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESI TINDAKAN memuat kajian pustaka, teori ini menjelaskan hubungan dengan variabel y. Menjelaskan kerangka berfikir yang didalamnya terdapat penjelasan sebab-akibat variabel x dengan variabel y atau sebaliknya sesuai dari kajian pustaka, dan terakhir menjelaskan tentang hipotesis tindakan yang menjelaskan tentang dugaan sementara yang telah terumuskan dalam kerangka berfikir menjadi sebuah pernyataan penelitian yang kebenarannya sudah teruji secara teoritis.
Ari Hardianto Raharjo, 2016
BAB III METODE PENELITIAN, memuat metode penelitian, diantaranya menjelaskan tentang tujuan operasional penelitian, metode penelitian, perencanaan penelitian, pelaksanaan tindakan, refleksi sampai perencanaan kedua.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN, memuat hasil dan pembahasan penelitian yang menjelaskan deskripsi dan hasil penelitian yang mencangkup gambaran situasi pembelajaran dilengkapi dengan dokumentasi, dan terakhir menjelaskan deskripsi data hasil penelitian.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN, memuat simpulan dan saran, atas penafsiran peneliti terhadap hasil temuan. Bab ini pun memuat jawaban dan rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya dalam bab I, yang terakhir menjelaskan saran.