• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

1

Perkembangan teknologi informasi telah memungkinkan pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan cermat. Penggunaan komputer telah berkembang, dari sekedar pengolahan data ataupun penyajian informasi, menjadi mampu untuk menyediakan pilihan sebagai pendukung pengambilan keputusan yang dapat dilakukan oleh manajemen. Hal tersebut dimungkinkan berkat adanya perkembangan teknologi perangkat keras, yang diiringi oleh perkembangan perangkat lunak, dan proses keputusan kedalamnya. Integrasi dari perangkat keras, perangkat lunak, dan proses keputusan tersebut menghasilkan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang memungkinkan pengguna untuk melakukan pengambilan keputusan dengan lebih cepat dan cermat. Sumber kerumitan masalah pengambilan keputusan bukan hanya ketidakpastian atau ketidaksempurnaan informasi. Penyebab lainnya adalah faktor yang berpengaruh terhadap pilihan-pilihan yang ada, beragamnya kriteria pemilihan, dan jika pengambilan keputusan lebih dari satu pilihan.

Sistem pendukung keputusan pemilihan program studi adalah suatu sistem yang dirancang untuk menghasilkan informasi yang dapat membantu pengambilan keputusan dalam proses pemilihan program studi yang menggunakan data dan model untuk memecahkan masalah yang bersifat tidak terstruktur. Persoalan pengambilan keputusan, pada dasarnya adalah bentuk pemilihan dari berbagai alternatif tindakan yang mungkin dipilih yang prosesnya melalui mekanisme tertentu dengan harapan akan menghasilkan sebuah keputusan yang terbaik.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan kerumitan yang dihadapi para siswa SMA saat hendak memilih program studi apa yang akan diambil pada saat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Para siswa dihadapkan pada berbagai macam pertimbangan dan pilihan yang cukup rumit.

(2)

Pertimbangan dari pihak siswa sendiri misalnya bidang studi yang paling ia kuasai, minat siswa, cita-cita, nilai akademik, dan lingkungan pergaulan. Sedangkan pertimbangan yang datang dari sisi orang tua misalnya biaya pendidikan dan harapan orang tua terhadap anaknya. Beragam pertimbangan tersebut membuat siswa kesulitan dalam mengambil keputusan, hingga akhirnya tidak sedikit siswa yang mengambil keputusan, hingga akhirnya tidak sedikit siswa yang mengambil keputusan dalam memilih perguruan tinggi berdasarkan perasaan, ajakan teman, dan ambisi orang tua saja, padahal semuanya itu tidak bisa dipakai sebagai tolak ukur yang tepat.

Jika sumber kerumitan itu adalah kesulitan menentukan persamaan antara kriteria dengan nilai siswa, maka profile matching merupakan teknik untuk membantu penyelesaian masalah ini. Profile matching tidak saja digunakan untuk menentukan prioritas pilihan-pilihan dengan banyak kriteria, tetapi penerapannya telah meluas sebagai model alternatif untuk menyelesaikan bermacam-macam masalah. Keunggulan profile matching adalah terbentuknya gap atau kompetensi dari selisih nilai siswa dan kriteria sehingga proses perhitungan didasarkan pada kompetensi siswa yang sebenarnya.

Di SMA Negeri 9 Semarang, para siswa biasanya berkonsultasi dengan guru Bimbingan Konseling terlebih dahulu, untuk mendapatkan informasi mengenai program studi mana yang sesuai dengan kemampuan mereka. Guru yang bersangkutan memberikan pengarahan dan gambaran bagi siswa tersebut berdasarkan kemampuannya, baik secara akademik maupun non akademik. Dan untuk mengambil keputusannya diserahkan kembali ke siswa yang bersangkutan.

Untuk mendapatkan keputusan yang bertanggung jawab maka akan dibuat suatu program bantu sistem dalam mendukung pengambilan keputusan, dimana sistem yang akan dibuat lebih bersifat untuk membantu para siswa dalam pengambilan keputusan dan bukan mendikte atau bahkan memaksa untuk mengikuti keputusan yang dibuat oleh sistem tersebut, maka penulis mencoba membuat suatu sistem dan memberi judul pada tugas

(3)

akhir ini dengan judul “SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PROGRAM STUDI PERGURUAN TINGGI PADA SMA NEGERI 9 SEMARANG.”

1.2 Perumusan Masalah

Melihat latar belakang di atas maka di perlukan suatu sistem yang dapat digunakan untuk membantu mendukung keputusan yaitu Bagaimana merancang aplikasi sistem pendukung keputuasan dalam permasalahan pemilihan program studi pada perguruan tinggi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan utama, yaitu memilih program studi yang paling sesuai berdasarkan kemampuan eksakta, kemampuan non eksakta dan hasil akademik bagi siswa yang bersangkutan.

1.3 Batasan Masalah

Agar tidak menyimpang dari tujuan penyusunan tugas akhir ini, maka terlebih dahulu penulis menyajikan lingkup permasalahan yang akan dibahas, yaitu:

1. Kriteria terdiri dari rata-rata nilai Eksakta, rata-rata nilai non eksakta serta Kompetensi Siswa.

2. Pilihan terdiri dari semua program studi.

1.4 Tujuan Penelitian

Mengingat dari permasalahan yang dihadapi, dapat ditentukan tujuan yang hendak di capai yaitu untuk mendapatkan keputusan yang bertanggung jawab dengan sistem pendukung keputusan, dimana sistem yang akan dibuat lebih bersifat untuk membantu para siswa dalam pengambilan keputusan dan bukan mendikte atau bahkan memaksa untuk mengikuti keputusan yang dibuat oleh sistem tersebut.

(4)

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang didapat dari penyusunan Tugas Akhir ini adalah:

1.5.1 Bagi Penulis

1. Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman penulis dalam hal pembuatan sistem pendukung keputusan khususnya dalam hal pemilihan program studi di perguruan tinggi dengan metode

profile matching

2. Dengan menyusun tugas akhir ini, penulis dapat mengembangkan bahasa pemograman yang telah diperoleh dalam perkuliahan

1.5.2 Bagi Akademik

1. Dapat menjadi salah satu dokumen untuk melihat sejauh mana mahasiswa dapat menyerap ilmu yang telah didapat selama mengikuti kuliah.

2. Dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai masalah dan metode yang sama.

1.5.3 Bagi Sekolah

Sebagai bahan referensi untuk penggunaan software sistem pendukung keputusan pemilihan program studi.

(5)

5

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Pendukung Keputusan (Decission Support System) 2.1.1 Pengertian Sistem Pendukung Keputusan

Sistem Pendukung Keputusan adalah sistem informasi yang membantu untuk mengidentifikasi kesempatan pengambilan keputusan atau menyediakan informasi untuk membantu pengambilan keputusan. Pada dasarnya sistem pendukung keputusan hampir sama dengan SIM karena menggunakan basis data sebagai sumber data. Sistem pendukung keputusan bermula dari SIM karena menekankan pada fungsi mendukung pembuat keputusan diseluruh tahap-tahapnya, meskipun keputusan aktual tetap wewenang eksklusif pembuat keputusan.[1]

Sistem pendukung keputusan lebih ditujukan untuk mendukung manajemen dalam melakukan pekerjaan yang bersifat analitis dalam situasi yang kurang terstruktur dan dengan kriteria yang kurang jelas. Sistem pendukung keputusan tidak dimaksudkan untuk mengotomatisasikan keputusan, tetapi menyuguhkan perangkat interaktif yang memungkinkan pengambilan keputusan untuk melakukan berbagai analisa, untuk melakukan analisa menggunakan model-model yang tersedia.

2.1.2 Kedudukan SPK dalam Sistem Informasi

Decision Support System (DSS) adalah kelas dari sistem

informasi terkomputerisasi yang mendukung aktivitas pengambilan keputusan. DSS adalah interaktif berbasis komputer sistem dan subsitem dimaksudkan untuk membantu pengambil keputusan menggunakan teknologi komunikasi, data, dokumen,pengetahuan dan / atau model proses keputusan untuk menyelesaikan tugas.

(6)

dari sistem mainframe tidak fleksibel, untuk PC terisolasi alat, untuk client /server data dippers, dan sekarang untuk kinerja tinggi dan perusahaan ekstensible dukungan keputusan-aplikasi, sering melibatkan organisasi intranet. Pada saat yang sama, hubungan antara departement TI dan pengguna telah berkembang dari badan ke koperasi.

Payung besar sistem pendukung keputusan (DSS) telah lama menyediakan tempat pengumpulan selamat datang bagi anada yang ingin membangun perangkat aplikasi perangkat lunak yang didasarkan pada model campuran, analisis data, dan antarmuka. DSS menarik praktisi, akdemisi dan mahasiswa dari berbagai bidang termasuk sistem informasi, riset operasi / ilmu manajemen, ilmu komputer, psikologi dan displin bisnis lainnya.

2.1.3 Jenis Keputusan

Keputusan – keputusan yang dibuat pada dasarnya dikelompokkan antara lain :

1. Keputusan Terprogram

Keputusan ini bersifat berulang dan rutin, sedemikian hingga suatu prosedur pasti telah dibuat untuk menanganinya sehingga keputusan tersebut tidak perlu diperlakukan de novo (sebagai sesuatu yang baru) tiap kali terjadi.

2. Keputusan Tak Terprogram

Keputusan ini bersifat baru, tidak terstruktur dan jarang konsekuen. Tidak ada metode yang pasti untuk menangani masalah ini karena belum ada sebelumnya atau karena sifat dan struktur persisnya tak terlihat atau rumit atau karena begitu pentingnya sehingga memerlukan perlakuan yang sangat khusus.

(7)

Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sistem pendukung keputusan bukan merupakan alat pengambil keputusan, melainkan merupakan sistem yang membantu pengambil keputusan dengan melengkapi informasi dari data yang telah diolah dengan releven dan diperlukan untuk membuat keputusan tentang suatu masalah dengan lebih cepat dan akurat. Sehingga sistem ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengambilan keputusan dalam proses pembuatan keputusan.

2.1.4 Tahapan Pengambilan Keputusan

Pada dasarnya pengambilan keputusan terdiri dari 4 tahapan yaitu :

1. Intelligence

Tahapan ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses, dan diuji dalam rangka mengidentifikasi masalah.

2. Design

Tahapan ini merupakan proses menemukan, mengembangkan dan menganalisis alternatif tindakan yang bisa dilakukan. Tahapan ini meliputi proses untuk mengerti masalah, meurunkan solusi, dan menguji kelayakan solusi

3. Choice

Pada tahapan ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian diimplemetasikan dalam proses pengambilan keputusan.

(8)

Gambar 2.1 : Tahapan Pengambilan Keputusan. [2]

Berdasarkan pada keempat tahap di atas, jelas bahwa Pengolahan Data Elektronik (PDE) dan SIM mempunyai kontribusi dalam fase Intelligence, sedangkan IM/OR berperan penting dalam fase Choice. Tidak tampak pendukung yang berarti pada tahap Design, walaupun pada kenyataannya fase ini merupakan salah satu kontribusi dasar dari suatu Sistem Pendukung Keputusan.

2.1.5 Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan

Karakteristik sistem Pendukung Keputusan adalah : [3]

1. Mendukung untuk pengambil keputusan, terutama pada situasi semi terstruktur dan terstruktur., dengan menyertakan penilaian manusia dan informasi terkomputerisasi. Masalah – masalah tersebut tidak dapat dipecahkan (atau tidak dapat dipecahkan dengan praktis/mudah) oleh sistem komputer lain atau metode alat kuantitatif standart.

2. Mendukung untuk semua manajerial dan eksekutif puncak sampai manjer lini.

(9)

3. Mendukung individu dan kelompok. Masalah kurang terstruktur sering memerlukan keterlibatan individu dari departement dan tingkat organisasional yang berbeda atau bahkan dari organisasi lain. SPK mendukung tim virtual melalui alat – alat web kolaboratif.

4. Mendukung untuk keputusan yang independen dan atau

sequential. Keputusan dapat dibuat satu kali, beberapa kali, atau

berulang ( dalam interval sama).

5. Mendukung di semua fase proses pengambil keputusan :

Intelliegence, design,choice, dan impelementasi.

6. Mendukung diberbagai proses dan gaya pengambil keputusan. 7. Adaktif sepanjang waktu. Pengambilan keputusan seharusnya

relatif, dapat menghadapi berbagai perubahan kondisi secara tepat, dan mengadaptasikan SPK untuk memenuhi perubahan tersebut. SPK bersifat fleksibel dan karena itu pengguna dapat menambahkan, menghapus, menggabungkan, mengubah atau menyusun kembali elemen – elemen dasar. SPK juga fleksibel dalam hal dapat dimodifikasi untuk memecahkan masalah lain yang sejenis.

8. Pengguna merasa seperti di rumah. Ramah pengguna, kapabilitas grafis yang sangat kuat, dan antar muka mesin – mesin interaktif dengan satu bahasa alami dapat sangat meningkatkan keefektivan SPK. Kebanyakan aplikasi SPK yang baru menggunakan antarmuka berbasis web.

9. Peningkatan terhadap keefektivan pengambil keputusan (akurasi,

timelines, kualitas) ketimbang pada efisiensinya (biaya

pengambilan keputusan). Ketika SPK disebarkan, pengambilan keputusan sering membutuhkan waktu lebih lama, namun keputusan lebih baik.

10. Kontrol penuh oleh pengambil keputusan terhadap semua langkah proses pengambil keputusan dalam memcahkan suatu

(10)

masalah. SPK secara khusus menekankan untuk mendukung pengambilan keputusan, bukan menggantikan.

11. Pengguna akhir dapat mengembangkan dan memodifikasi sendiri sistem sederhana. Sistem yang lebih besar dapat dibangun dengan bantuan ahli sistem informasi. Piranti lunak Online

Analytical Processing (OLAP) dalam kaitannya dengan data ware house membolehkan pengguna untuk membangun SPK

yang cukup besar dan kompleks.

12. Biasanya model – model digunakan untuk menganalisis situasi pengambil keputusan. Kapabilitas pemodelan memungkinkan eksperimen dengan berbagai strategi berbeda di bawah konfigurasi yang berbeda. Sebenarnya, model – model membuat suatu SPK berbeda dari kebanyakan SPK.

13. Akses disediakan untuk berbagai sumber data, format, dan tipe, mulai dari Geeographic Information System (GIS). Sampai sistem berorientasi objek.

14. Dapat dilakukan sebagai alat stand alone yang digunakan oleh seorang pengambil keputusan pada satu lokasi atau disistribusikan di satu organisasi keseluruhan dan dbeberapa organisasi sepanjang rantai persediaan. Dapat diintegrasikan dengan SPK lain dan atau aplikasi lain, dan didistribusikan secara internal dan eksternal menggunakan networking dan teknologi web.

Karakteristik dan kapabilitas kunci dari SPK tersebut membolehkan pengambil keputusan untuk membuat keputusan lebih baik dan lebih konsisten pada satu cara yang dibatasi waktu. Kemampuan tersebut disediakan oleh berbagai komponen utama SPK.

(11)

2.1.6 Tujuan Sistem Pendukung Keputusan

Tujuan dari Sistem Pendukung Keputusan antara lain:[3]

1. Membantu manajer dalam pengambilan keputusan atas masalah semi terstruktur.

2. Memberikan dukungan atas pertimbangan manajer dan bukannya di maksudkan untuk menggantikan fungsi manajer 3. Meningkatkan efektivitas keputusan yang di ambil manajer

lebih daripada perbaikan efisiensinya

4. Kecepatan komputasi. Komputer memungkinkan para pengambil keputusan untuk melakukan banyak komputasi secara cepat dengan biaya yang rendah

5. Peningkatan produktivitas. Membangun suatu kelompok pengambil keputusan, terutama para pakar, bisa sangat mahal. Pendukung terkomputerisasi bisa mengurangi ukuran kelompok dan memungkinkan para anggotanya untuk berada di berbagai lokasi yang berbeda-beda (menghemat biaya perjalanan). Selain itu, produktivitas staf pendukung (misalnya analisis keuangan dan hukum) bisa di tingkatkan. Produktivitas juga bisa di tingkatkan menggunakan peralatan optimasi yang menentukan cara terbaik untuk menjalankan sebuah bisnis 6. Dukungan kualitas. Komputer bisa meningkatkan kualitas

keputusan yang di buat. Sebagai contoh, semakin banyak data yang di akses, makin banyak juga alernatif yang bisa di evaluasi. Analisis resiko bisa di lakukan dengan cepat dan pandangan dari para pakar (beberapa dari mereka berada di lokasi yang jauh) bisa dikumpulkan dengan cepat dan dengan biaya yang lebih rendah. Keahlian bahkan bisa di ambil langsung dari sebuah sistem computer melalui metode kecerdasan tiruan. Dengan computer, para pengambil keputusan bisa melakukan simulasi yang kompleks, memeriksa

(12)

banyak scenario yang memungkinkan, dan menilai berbagai pengaruh secara cepat dan ekonomis. Semua kapabilitas tersebut mengarah kepada keputusan yang lebih baik.

7. Berdaya saing. Manajemen dan pemberdayaan sumber daya perusahaan. Tekanan persaingan menyebabkan tugas pengambilan keputusan menjadi sulit. Persaingan di dasarkan tidak hanya pada harga, tetapi juga pada kualitas, kecepatan, kustomasi produk, dan dukungan pelanggan. Organisasi harus mampu secara sering dan cepat mengubah mode operasi, merekayasa ulang proses dan struktur, memberdayakan karyawan, serta berinovasi. Teknologi pengambilan keputusan bisa menciptakan pemberdayaan yang signifikan dengan cara memperbolehkan seseorang untuk membuat keputusan yang baik secara cepat, bahkan jika mereka memiliki pengetahuan yang kurang

8. Mengatasi keterbatasan kognitif dalam pemrosesan dan penyimpanan.

2.1.7 Manfaat Sistem Pendukung Keputusan

Manfaat Sistem Pendukung Keputusan : [4]

1. SPK memperluas kemampuan pengambil keputusan memproses data / informasi bagi pemakai.

2. SPK membantu pengambil keputusan untuk memecahkan masalah terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur.

3. SPK dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan.

4. Walaupun suatu SPK, mungkin saja tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh pengambil keputusan, namun ia dapat menjadi stimulan bagi pengambil keputusan dalam

(13)

memahami persoalan, karena mampu menyajikan berbagai alternatif pemecahan.

2.1.8 Keterbatasan Sistem Pendukung Keputusan

Setiap sistem teknologi pasti memiliki kelebihan dan keterbatasannya, sedangkan keterbatasan sistem pendukung keputusan yaitu :

1. Ada beberapa kemampuan manajemen dan bakat manusia yang tidak dapat dimodelkan, sehingga model yang ada dalam sistem tidak semuanya mencerminkan persoalan sebenarnya.

Misalnya : kemampuan manusia untuk mengambil keputusan tidak hanya dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki, tapi juga dari saran orang-orang disekitarnya. 2. Kemampuan suatu SPK terbatas pada perbendaharaan

pengetahuan yang dimilikinya (pengetahuan dasar serta model dasar). Masudnya bahwa sistem pendukung keputusan hanya bisa menyelesaikan masalah sesuai data masukan yang diprogram dalam sistem itu.

3. Proses-proses yang dapat dilakukan SPK biasanya juga tergantung pada perangkat lunak yang digunakan.

4. SPK tidak memiliki kemampuan intuisi seperti yang dimiliki manusia. Sistem ini dirancang hanyalah untuk membantu pengambil keputusan dalam melaksanakan tugasnya sehingga ada permasalahan yang tidak bisa dikerjakan oleh sistem pendukung keputusan dan harus dikerjaka manusia.

(14)

2.1.9 Metode Profile Matching

2.1.9.1 Pengertian Profile Matching

Profile matching merupakan suatu proses yang sangat

penting dalam manajemen rencana SDM (sumber daya manusia) dimana terlebih dahulu ditentukan kompetensi yang diperlukan setiap program studi. Kompetensi atau kemampuan tersebut haruslah dapat dipenuhi oleh setiap siswa. [5]

Dalam proses profile matching secara garis besar merupakan proses membandingkan antara kompetensi setiap program studi ke dalam kompetensi siswa sehingga dapat diketahui perbedaan kompetensinya (disebut juga gap), semakin kecil gap yang dihasilkan maka bobot nilainya semakin besar yang berarti memiliki peluang lebih besar untuk prioritas program studi tertentu diberikan kepada seorang siswa. Adapun sistem program yang dibuat adalah

software profile matching yang berfungsi sebagai alat bantu

untuk mempercepat proses matching antara profil program studi dengan profil setiap siswa sehingga dapat memperoleh informasi lebih cepat, baik untuk mengetahui gap kompetensi antara program studi dengan siswa maupun dalam pemilihan program studi yang paling sesuai.

2.1.9.2Penentuan Ranking Setiap Program Studi

Dalam penentuan peringkat (ranking) nilai yang diperlukan untuk setiap siswa, seperti telah dijelaskan secara mendetail pada sebelumnya, bahwa terdapat aspek yang menentukan, adalah sebagai berikut :

(15)

a. Rata-Rata Nilai Eksakta

Rata – rata nilai eksakta adalahnilai dari pelajaran eksakta (hitung-hitungan) seperti matematika, kimia, fisika, biologi.

b. Rata-Rata Nilai Non Eksakta

Rata – rata Nilai Non Eksakta adalah nilai dari pelajaran non eksakta (umum) seperti agama, ips (ilmu pengetahuan sosial), bahasa indonesia, bahasa inggris.

c. Kompetensi Siswa

kompetensi siswa merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai – nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir, dan bertindak seorang siswa.

2.1.9.3Proses Perhitungan Pemetaan Gap Kompetensi

Yang dimaksud dengan gap disini adalah beda antara profil program studi dengan profil siswa atau dapat ditunjukkan pada rumus di bawah ini.

Keterangan :

GAP merupakan perbedaan kompetensi antara profile siswa dengan profile program studi

2.1.9.4Pembobotan Selisih GAP

Setelah didapatkan tiap gap dari masing-masing siswa maka tiap-tiap profil diberi bobot nilai dengan patokan tabel bobot nilai gap. Seperti bisa dilihat pada tabel berikut

(16)

Tabel 2.1 : Tabel Pembobotan

Sumber : [5]

2.1.9.5Perhitungan Core dan Secondary Factor

Core factor merupakan aspek yang paling menonjol atau yang paling

dibutuhkan oleh suatu posisi yang diperkirakan dapat menghasilkan kinerja yang optimal. Rumus perhitungan Core Factor di bawah ini :

Keterangan :

NCT : Nilai rata – rata core factor teknikal NC : Jumlah total nilai Core Factor IC : Jumlah item Core Factor

Bobot : Bobot dari Gap setelah dikonversikan pada table GAP

Secondary Factor merupakan item – item selain yang ada pada

faktor utama (core factor). Sedangkan untuk perhitungan secondary factor dapat ditunjukkan pada rumus di bawah ini :

(17)

Keterangan :

NST : Nilai rata – rata secondary factor teknikal NS : Jumlah total nilai secondary factor IS : Jumlah item secondary factor

2.1.9.6Perhitungan Nilai Total Aspek

Dari hasil perhitungan tiap aspek diatas kemudian dihitung nilai total berdasar nilai dari core dan secondary factor yang diperkirakan berpengaruh terhadap kinerja tiap-tiap profil. Contoh perhitungan dapat dilihat pada rumus di bawah ini :

Keterangan :

NCT : Nilai rata-rata core factor teknikal NST : Nilai rata-rata secondary factor teknikal NT : Nilai Teknikal (aspek teknikal)

2.2 Pengembangan Sistem (Developing System)

Pengembangan sistem atau sistem development dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang ada. Sebuah sistem lama yang perlu diperbaiki atau diganti disebabkan beberapa hal yaitu sebagai berikut: [5]

1. Adanya permasalahan-permasalahan yang timbul dari sistem lama. Permasalahan yang timbul dapat berupa:

(18)

a. Ketidakberesan

Ketidakberesan dalam sistem yang lama menyebabkan sistem yang lama tidak dapat beroperasi sesuai dengan yang diharapkan sehingga dapat menimbulkan masalah yaitu :

 Kecurangan disengaja yang akan menyebabkan tidak amannya harta kekayaan dan kebenaran dari data kurang terjamin.

 Kesalahan yang tidak disengaja juga dapat menyebabkan kebenaran dari data tidak terjamin.

 Luas tidak efisiennya operasi. b. Pertumbuhan Perusahaan

Pertumbuhan perusahaan yang menyebabkan harus disusun sistem baru.Pertumbuhan tersebut diantaranya adalah kebutuhan informasi yang semakin luas dan volume pengolahan data yang semakin menningkat.

2. Untuk meraih kesempatan-kesempatan

Teknologi informasi telah berkembang dengan pesatnya baik hardware maupun software dan teknologi komunikasi telah begitu cepat berkembang.Semua organisasi mulai merasa bahwa teknologi ini perlu digunakan untuk meningkatkan penyediaan informasi sehingga dapat mendukung dalam proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen.

3. Adanya Instruksi

Penyusunan sistem baru dapat juga terjadi karena adanya intruksi dari atasan ( pimpinan) atau pihak luar,contohnya peraturan pemerintah.

(19)

2.2.1 Metode Pengembangan Sistem

Pengembangan sistem yang dipakai adalah Waterfall. Model pendekatan ini dilakukan secara rinci dan direncanakan dengan baik. Tahapan yang dilakukan dalam pendekatan adalah :

1. Requirement Spesification, dimana pada tahap ini dilakukan pemahaman tingkat awal terhadap database. Database dirancang pada tahap Enterprise (tahap awal, seperti cakupan konten secara umum, gambaran umum data, diagram hubungan antar entitas (secara major/umum dan tidak detil), deskripsi masing-masing entitas, dan aturan/rule)

2. Architectural Design, dimana pada tahap ini dilakukan pendefinisian kebutuhan spesifik sebuah proyek (mengacu pada pemahaman awal). Database dirancang dalam bentuk pemodelan secara konseptual seperti penentuan jenis EER diagram, dan ER diagram.

3. Coding, merupakan proses penganalisaan model data secara mendetil. Analisis ini mengindentifikasi semua data-data proyek yang akan diolah . Rancangan database dapat berupa pendefinisian semua atribut, pendataan kategori data, gambaran hubungan antar entitas, dan penentuan hubungan antar entitas, serta penentuan masing-masing ketetapan/aturan kelompok data.

4. Integrasi and Testing. Desain pemodelan data konseptual yang harus diubah menjadi pemodelan data logika. Dimana data ini akan diimplementasikan ke dalam database (model data logika). Pada proses transformasi ini dapat terjadi kombinasi dan pengintegrasian model data konseptual menjadi model data logika. Keadaan ini memungkinkan terjadinya proses penambahan informasi yang dibutuhkan selama dilakukannya perubahan desain

(20)

model data logika. Dalam aplikasinya, pada tahap inilah proses normalisasi database dilakukan.

5. Training and Implementation

Desain ini melibatkan semua aspek fisik teknologi database, seperti program, perangkat keras, sistem operasi dan jaringan komunikasi data.

6. Operation and Maintenance.

Pada tahap ini, desainer/perancang melakukan uji coba terhadap database. Ujicoba meliputi instalasi software database, pelatihan untuk users, uji coba users, pencetakan dan tampilan hasil dan lain sebagainya.

Gambar 2.2 : Bagan Sistem Pengembangan Sistem dengan Waterfall Sumber : [10] Requirement Spesification Architectural Design Coding Integritasi & Testing Training & Implementasi Operasi & Maintenance

(21)

2.3 Desain Sistem

2.3.1 Pengertian Desain Sistem

Desain sistem menggambarkan bagaimana sistem dibentuk yang dapat berupa penggambaran, perencanaan, dan pembuatan sketsa dari beberapa elemen yang terpisah kedalam kesatuan yang utuh dan berfungsi, termasuk menyangkut mengkonfigurasi dari komponen-komponen perangkat lunak dan perangkat keras dari suatu sistem.[6]

Desain sistem akan memberikan gambaran yang jelas mengenai rancangan bangun sistem yang akan dikembangkan, serta untuk mengetahui kebutuhan data dan informasi yang diperlukan beserta aliran data tersebut.

Desain sistem harus berguna, mudah dipahami dan mudah digunakan serta harus efektif dan efisien untuk dapat mendukung pengolahan transaksi, pelaporan manajemen dan mendukung keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen, termasuk tugas-tugas yang laiannya yang tidak dilakukan oleh komputer.

2.3.2 Tujuan Desain Sistem

Desain sistem dibuat adalah dengan maksud atau tujuan untuk:[6] 1. Untuk lebih memahami alur sebuah sistem.

2. Memenuhi kebutuhan kepada pemakai sistem.

3. Memberikan gambaran yang jelas dan rancang bangun yang lengkap kepada programmer dan ahli teknik lainnya yang terlibat didalamnya.

2.3.3 Alat Bantu Desain Model Sistem

Desain model sistem merupakan suatu tahap dimana diperlukan suatu keahlian perencanaan untuk elemen-elemen komputer yang akan menggunakan sistem baru dan bertujuan untuk mendesain sistem yang baru yang dapat menyelesaikan segala permasalahan.[6]

(22)

2.3.3.1 Bagan Alir Data /Data Flow Diagram (DFD)

Bagan alir data adalah suatu model yang menggambarkan aliran data dan proses untuk mengolah data dalam suatu sistem. Simbol-simbol yang digunakan dalam

Data Flow Diagram (DFD) adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2 : Simbol-simbol DFD

Nama Simbol Simbol

Proses

Digunakan untuk menunjukkan transformasi dan masukan menjadi keluaran, dalam hal ini sejumlah masukan dapat menjadi hanya satu keluaran ataupun sebaliknya.

Aliran Data

Digunakan untuk menggambarkan gerakan paket data atau informasi dari satu bagian kebagian lain dari sistem dimana penyimpangan mewakili bakal penyimpanan data.

Tempat Penyimpanan atau Arsip

Entitas External (Terminator)

Melambangkan orang atau kelompok orang (misalnya organisasi diluar sistem, grup, departemen, perusahaan, perusahaan pemerintah) yang meru-pakan asal data atau tujuan informasi.

Sumber :[6]

Diagram arus data itu sendiri dibagi menjadi 2 bagian yaitu: 1. Data Flow Diagram (DFD)Context

Merupakan alat untuk menjelaskan struktur analisa. Pendekatan ini mencoba untuk menggambarkan sistem pertama kali secara garis besar. (Top Level)

(23)

memecah-mecahnya menjadi bagian yang lebih terinci, yang disebut dengan lower level. Dan yang pertama kali digambar adalah level yang teratas (Top Level) sehingga disebut Diagram

Context.[6]

2. Data Flow Diagram (DFD) Level

Setelah context diagram dirancang kemudian akan digambar dengan lebih terinci lagi yang disebut Over View

Diagram (level 0). Tiap-tiap proses di over view diagram

akan digambar secara lebih terinci lagi dan disebut dengan level 1, dan kemudian diteruskan ke level berikutnya sampai tiap-tiap proses tidsak dapat digambar lagi lebih terinci.[6]

2.4 Desain Basis Data

Alat Bantu Desain Basis Data yang digunakan dalam perancangan basis data antara lain :

2.4.1 Diagram Hubungan Entitas (Entity Relationship Diagram)

ERD (Entity Relationship Diagram) berisi komponen-komponen himpunan Entitas dan himpunan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang mempresentasikan seluruh fakta dari “dunia nyata” yang kita tinjau. ERD (Entity Relationship Diagram) menggunakan sejumlah notasi dan simbol untuk menggambarkan struktur dan hubungan antar data. [7]. Simbol-simbol yang digunakan adalah:

(24)

Tabel 2.3: Simbol- simbol ERD

Nama Simbol Simbol

Entity

Suatu obyek yang dapat diidentifikasikan dalam lingkungan pemakai, suatu yang penting bagi user dalam konteks sistem yang dibuat, disimbolkan dengan segi empat.

Atribut

Entity mempunyai elemen yang disebut atribut dan berfungsi mendeskripsikan karakter entity, disimbolkan dengan lingkaran lonjong.

Garis/Link

Sebagai penghubung antara himpunan entitas dan himpunan entitas dengan atributnya.

Hubungan

Menggambarkan relasi antar entitas

Sumber : [7]

2.4.2 Derajat Relasi atau Kardinalitas

Derajat relasi merupakan jumlah maksimum entitas yang dapat berelasi dengan entitas pada himpunan entitas lain dari sejumlah kemungkinan banyaknya hubungan antar entitas tersebut. Kardinalitas relasi merujuk kepada hubungan maksimum yang terjadi dari himpunan entitas yang satu ke himpunan entitas yang lain dan begitu sebaliknya.[7]

Kardinalitas relasi yang terjadi diantara himpunan entitas dapat berupa:

(25)

1. Satu ke Satu (One to One )

Yang berarti setiap entitas pada himpunan entitas A berhubungan paling banyak satu entitas pada himpunan entitas B, dan begitu juga sebaliknya.

Gambar 2.3: Kardinalitas Satu-ke-Satu Sumber : [7]

2. Satu ke Banyak (One to Many)

Setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas B, tetapi tidak sebaliknya.

Gambar 2.4: Kardinalitas Satu-ke-Banyak. Sumber : [7]

3. Banyak ke Banyak (Many to many)

Yang berarti setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas B, dan begitu juga sebaliknya dimana setiap entitas pada

entitas 1 entitas 2 entitas 3 entitas 4 A entitas 1 entitas 2 entitas 3 entitas 4 B entitas 1 entitas 2 entitas 3 A entitas 1 entitas 2 entitas 3 entitas 4 B entitas 5

(26)

himpunan entitas B dapat berhubungan dengan banyak pada himpunan entitas A.

Gambar 2.5: Kardinalitas banyak-ke-banyak. Sumber : [7]

2.4.3 Normalisasi

Proses Normalisasi merupakan suatu proses dimana elemen-elemen data dikelompokkan menjadi tabel-tabel, dimana dalam tabel tersebut terdapat entity-entity dan relasi antar entity. [7]

Komponen-komponen dalam normalisasi yaitu:

1. Entity, merupakan konsep informasi yang terekam meliputi orang, kejadian dan tempat.

2. Field / Atribut, merupakansesuatu yang mewakili entity. 3. Data Value, merupakan isi data yang merupakan informasi

yang tersimpan dalam setiap atribut.

4. Record, merupakan kumpulan atribut yang saling berkaitan satu dengan yang lain dan menginformasikan suatu entity secara lengkap.

5. Field Kunci, merupakan satu field yang terdapat dalam satu file yang menjadi kunci dan mewakili record, field kunci mempunyai peranan yang sangat penting karena merupakan penentu dalam pencarian suatu record data. 6. Candidate Key (Kunci Kandidat/Kunci Calon)

entitas 1 entitas 2 entitas 3 entitas 4 A entitas 1 entitas 2 entitas 3 entitas 4 B

(27)

Suatu atribut atau satu set minimal atribut yang mengidentifikasikan secara unik suatu kejadian spesifik dari entity. Jika satu kunci kandidat berisi lebih dari satu atribut, maka biasanya disebut composite key (kunci campuran/gabungan).

Contoh :

File siswa berisi atribut : 1) NIS

2) Nama 3) Alamat

Maka kunci kandidatnya :

1) NIS, karena tidak mungkin ganda.

2) Nama, sering dipakai dalam pencarian namun tidak dapat dikatakan kunci karena sering terjadi kesamaan nama (kembar).

3) Sedangkan Alamat bukan kunci (tidak mungkin dijadikan sebagai kunci).

1. Primary Key (Kunci Primer)

Suatu atribut atau satu set minimal atribut yang tidak hanya mengidentifikasi secara unik suatu kejadian spesifik, tetapi juga dapat mewakili setiap kejadian dari suatu entity. Setiap kunci kandidat mempunyai peluang menjadi setiap kejadian dari suatu entity. Setiap kunci kandidat mempunyai peluang menjadi primary key, tetapi sebaiknya dipilih satu angka saja yang dapat mewakili secara menyeluruh terhadap entity yang ada.

Contoh : NIM, karena tidak mungkin ganda dan mewakili secara menyeluruh terhadap entity siswa. Dan setiap mahasiswa selalu mempunyai NIS. 2. Alternate Key (Kunci Alternatif)

(28)

Kunci kandidat yang tidak dipakai sebagai primary key. Seringkali dijadikan sebagai kunci alternatif pengurutan dalam laporan.

3. Foreign Key (Kunci Tamu)

Satu atribut atau satu set atribut yang melengkapi satu relationship (hubungan) yang menunjukkan ke induknya. Kunci tamu ditempatkan pada entity anak dan sama dengan primary key induk yang direalisasikan.

Ada tahap-tahap dalam Normalisasi yaitu:[7] 1. Bentuk Tidak Normal (Unnormalized form)

Merupakan bentuk diman semua data dikumpulkan apa adanya tanpa mengikuti aturan-aturan tertentu, bisa jadi data yang dikumpulkan akan tidak lengkap dan terjadi duplikat data.

2. Bentuk Normal Pertama (1 NF / First Normal Form) Merupakan suatu bentuk dimana data yang dikumpulkan menjadi satu field yang sifatnya tidak berulang dan tiap field hanya mempunyai satu pengertian.

3. Bentuk Normal Kedua (2 NF / Second Normal Form) Merupakan suatu bentuk dimana harus memenuhi syarat yaitu sudah memenuhi kriteria sebagai bentuk normal pertama serta field bukan kunci tergantung secara fungsi. 4. Bentuk normal ketiga (3 NF / Third Normal Form)

Merupakan suatu bentuk dimana harus memenuhi syarat yaitu sudah memenuhi kriteria sebagai bentuk normal kedua serta field bukan kunci tergantung secara fungsi pada kunci primer.

(29)

2.4.4 Kamus Data (Data Dictionary)

Kamus data adalah fakta tentang data dan kebutuhan-kebutuhan informasi dari suatu sistem informasi.Dengan demikian kamus data dapat mendefinisikan data yang mengalir di sistem dengan lengkap. Kamus data dibuat berdasarkan arus data yang ada dan DFD (Data Flow

Document). Untuk mendefinisikan struktur data yang ada di

kamus data biasanya digunakan notasi-notasi yang menunjukkan informasi-informasi tambahan. Notasi-notasi yang dimaksud berbentuk:[7]

Tabel 2.4: Notasi Kamus Data

Notasi Arti

=

Terdiri dari, mendefinisikan, diuraikan menjadi, artinya.

+ Dan (And)

[ ]

Salah satu dari (memilih salah satu dari elemen-elemen data di dalam kurung bracket ini)

Pemisah sejumlah alternatif pilihan antara simbol [ ]

N { } m

Iterasi elemen data di dalam kurung brace beriterasi mulai minimum n kali dan maksimum m kali.

(30)

( ) parenthesis sifatnya optional, dapat ada dan dapat tidak ada.

*

Keterangan setelah tanda ini adalah komentar.

Sumber : [7]

2.5 Perguruan Tinggi

2.5.1 Pengertian Perguruan Tinggi

Perguruan Tinggi yang disebut dalam Peraturan PemerintahNo.30 th 1990, yaitu organisasi satuan pendidikan, yang menyelenggarakan pendidikan di jenjang pendidikan tinggi, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.[8]

2.5.2 Fungsi Perguruan Tinggi

Fungsi-fungsi utama Perguruan Tinggi adalah :[8]

1. Membina kualitas hasil dan kinerja Perguruan Tinggi, agar dapat memberikan sumbangan yang nyata kepada perkembangan IPOLEKSOSBUD dimasyarakat. Untuk dapat melaksanakan pembinaan kualitas yang baik, secara periodik Perguruan Tinggi menyelenggarakan evaluasi-diri yang melibatkan semua Unit Akademik Dasar. Evaluasi-diri sewajarnya dianggap sebagai perangkat manajemen Perguruan Tinggi yang utama, karena setiap pengambilan keputusan harus dapat mengacu pada hasil evaluasi-diri.

2. Merencanakan pengembangan Perguruan Tinggi menghadapi perkembangan di masyarakat. Rencana Strategis menjangkau waktu pengembangan 10 tahun, seyogyanya dapat dibuat oleh Perguruan Tinggi. Dari Rencana Strategis tersebut, dapat dijabarkan Rencana Operasional Lima Tahunan dan Rencana Operasional Tahunan, dan yang terakhir ini mengkaitkan pada

(31)

Memorandum Program Koordinatif Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, dalam arti bahwa bagian-bagian Rencana Operasional Tahunan yang memerlukan anggaran pembangunan, dapat diajukan sebagai Daftar Isian Proyek.

3. Mengupayakan tersedianya sumberdaya untuk menyelenggarakan tugas-tugas fungsional dan rencana perkembangan Perguruan Tinggi.

4. Menyelenggarakan pola manajemen Perguruan Tinggi, yang dilandasi Paradigma Penataan Sistem Pendidikan Tinggi, dengan sasaran utama adanya suasana akademik yang kondusif untuk pelaksanaan kegiatan fungsional pendidikan tinggi.

2.6 Program Studi

2.6.1 Pengertian Program Studi

Program Studi sebagai kesatuan rencana belajar yang digunakan untuk pedoman penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan atas dasar suatu kurikulum serta ditujukan agar siswa dapat menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai dengan sasaran kurikulum [9]

2.6.2 Hakekat Dibukanya Program Studi

Program studi baru perlu dibuka dengan tujuan: [9]

1. Jawaban terhadap tuntutan jaman ke depan yang berlandaskan pada permintaan pasar kerja (market driven) dan atau hasil perenungan terhadap visi keilmuan (scientific vision).

2. Ditujukan untuk menghasilkan lulusan agar memiliki kompetensi dalam bidang ilmu tertentu (spesifik) agar sesuai dengan ketetapan dan sesuai dengan jenjang pendidikan yang telah ditentukan oleh Jurusan atau Fakultas.

2.6.3 Kriteria Penilaian Program Studi [9]

1. Diarahkan kepada visi, misi, tujuan dan sasaran Program Studi 2. Kinerja Program Studi dalam segala komponennya

(32)

3. Sasaran dan tujuan menjadi dasar kinerja untuk menyelenggarakan suatu Program Studi tertentu.

(33)

33

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Obyek Penelitian

Obyek Penelitian dalam penyusunan tugas akhir ini adalah SMA NEGERI 9 SEMARANG.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Dalam usaha untuk mendapatkan data-data yang benar sehingga tercapai maksud dan tujuan penyusun Tugas Akhir ini, Penulis menggunakan metode pengumpulan data dari jenis data dengan cara sebagai berikut :

A. Data Primer

Data Primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dapat dilakukan melalui wawancara secara langsung dengan guru bimbingan konseling.

Data primer dapat berupa : 1. Data Program Studi 2. Data Siswa

3. Data Peminatan Program Studi B. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung yang dapat berupa catatan-catatan, laporan-laporan tertulis, dokumen-dokumen dan makalah-makalah serta daftar pustaka. Data Sekunder dapat diperoleh berupa :

1. Alamat Web 2. Buku Literatur

(34)

3.3 Metode Pengumpulan Data

Dalam penyusunan tugas akhir ini perlu adanya suatu metode tertentu yang akan digunakan dalam pengumpulan basis data yang diperoleh dengan cara sebagai berikut :

a. Survey

Yaitu dengan meminta data peminatan program studi secara langsung kepada pihak sekolah melalui guru bimbingan konseling. b. Wawancara

Dengan melakukan wawancara seputar masalah yang berhubungan dengan pemilihan program studi. Diantaranya berupa pertanyaan :

1. Kriteria-kriteria apa yang harus dipenuhi dalam penentuan program studi

2. Jenis-jenis program studi apa saja yang terdaftar. c. Studi Pustaka

Yaitu suatu penelahan kepustakaan guna menegakkan landasan teoritis penelitian yang akan dilakukan. Secara garis besar, sumber bacaan dapat dibagi menjadi dua yaitu acuan umum terutama terdapat pada buku – buku penunjang yang ada hubunganya dan acuan khusus yang berupa laopran hasil penelitian.

(35)

3.4 Metode Pengembangan Sistem

Proses pengembangan sistem yang dipakai adalah Waterfall. Model pendekatan ini dilakukan secara rinci dan direncanakan dengan baik. Tahapan yang dilakukan dalam pendekatan adalah :

Gambar 3.1 : Bagan Sistem Pengembangan Sistem dengan Waterfall Sumber : [10]

1. Requirment Spesification

Merupakan tahap awal dilakukan dengan cara mengidentifikasi analisa permasalahan.

2. Architectural Design

Merupakan tahap perancangan sistem, untuk meningkatkan sistem lama. Requirement Spesification Architectural Design Coding Integritasi & Testing Training & Implementasi Operasi & Maintenance

(36)

3. Coding

Merupakan pengaplikasian rancangan sistem ke dalam bahasa pemrograman.

4. Integrasi and Testing

Merupakan tahap penggabungan materi sistem lama dengan aplikasi baru yang dihasilkan.

5. Training and Implementation

Merupakan tahap pemasangan aplikasi ke obyek yang memerlukan

6. Operation and Maintenance

Merupakan tahap perawatan sistem guna pengembangan sistem yang berkelanjutan.

3.5 Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah Metode Kualitatif Merupakan serangkaian observasi dimana tiap observasi yang terdapat dalam sample tergolong pada salah satu dari kelas-kelas yang ekslusif secara bersama-sama dan yang kemungkinan tidak dapat dinyatakan dalam angka-angka. Data-data yang telah diperoleh diolah dengan cara merancang basis data secara terperinci agar diperoleh alternative pemecahan masalah alat-alat yang digunakan, misalnya :

a. Kamus Data (Data Dictionary)

Merupakan gambaran dari seluruh atribut yang ada dan diambil secara langsung dari formulir atau slip yang ada pada obyek penelitian, misalnya data jenis program studi, data siswa, data pemilihan program studi dan lainya.

(37)

b. ERD (Entity Relationaship Diagram)

Merupakan diagram yang menunjukkan hubungan antara entitas-entitas yang ada dalam suatu hubungan entitas-entitas tentang apa data itu berbicara

3.6 Rencana Implementasi Sistem

Rencana implementasi sistem dilakukan untuk menyelesaikan desain basis data yang ada dalam dokumen yang disetujui, maka perusahaan akan mulai menggunakan basis data baru.

3.6.1 Instalasi Software

Instalasi software dilakukan setelah instalasi hardware selesai dilakukan. Software yang diperlukan antara lain sebagai berikut :

1. Sistem Operasi Windows XP atau Windows 7 2. MySql

(38)

38

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Umum Sekolah

4.1.1 Sejarah Singkat SMA NEGERI 9 SEMARANG

SMA 9 Semarang didirikan tahun pelajaran 1981/1982 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor : 0219/O/1981, tanggal 14 Juli 1981 yang ditanda tangani oleh Sekretaris Jenderal Soetanto Wirjoprasonto tentang pembukaan sekolah baru, maka secara resmi berdirilah SMA Negeri 9 Semarang.

Diawal berdirinya, SMA Negeri 9 Semarang diampu oleh 15 orang guru dengan Kepala Sekolah yang pertama adalah bapak R. Soemarman. Terdiri dari kelas satu sebanyak 3 kelas bergabung dengan SMA Negeri 4 yang beralamat di Jl. Karang Rejo Raya Banyumanik. Karena terbatasnya ruang kelas, maka 3 kelas SMA Negeri 9 tersebut harus masuk siang.

Pada tanggal 1 Februari 1982 selesailah pembangunan tahap awal 6 ruang kelas baru di Jl. Cemara Raya Pedalangan Banyumanik. Tanggal 30 Januari 1982 keluarlah Surat Keputusan Kepala SMA Negeri 9 Semarang nomor : 045 /I03.4 SMA 9. 016 H 1982 tentang pemindahan kegiatan belajar mengajar SMA Negeri 9 Semarang dari SMA Negeri 4 ke gedung SMA N 9 yang baru.

Sampai sekarang pembangunan sarana kegiatan belajar mengajar terus bertambah. Dari tahun 1982 yang hanya terdiri dari 6 ruang kelas, SMA Negeri 9 sekarang sudah memiliki sarana cukup memadai, terdiri dari :

1. Ruang kelas : 24 kelas 2. Ruang Laboratorium :

a. 1 lab. Fisika b. 1 lab. Kimia c. 1 lab. Biologi d. 1 lab. Bahasa

(39)

e. 2 lab. Komputer

3. Ruang lain : ruang guru, ruang multimedia, ruan kepala dan wakil kepala, kantor TU, perpustakaan, ruang BP/BK, OSIS, Mushola, Aula, kantin, UKS dan koperasi.

Sejak berdiri SMA Negeri 9 dipimpin oleh beberapa kepala sekolah, yaitu :

1. Drs. Soebandi, menjabat dari tahun 1981 – 1982 2. R. Soemarman, menjabat dari tahun 1982 – 1989 3. Drs. Mudjiman, menjabat dari tahun 1989 – 1992 4. Eryono, BA, menjabat dari tahun 1992 – 1998

5. Dra. Sutji Aryani, MPd, menjabat dari tahun 1998 – 2003 6. Dra. Hj. Sri Nurwati, MPd, menjabat dari tahun 2003 – 2005 7. Slamet Panca Mulyadi, MPd, menjabat dari tahun 2005 –

2009

8. Drs. Nasikhun,M.Pd dari 2009-2012. 9. Drs. Wiharto dari 2012-sekarang.

(40)

4.1.2 Struktur Organisasi

Struktur Organisasi menunjukan adanya hubungan antara komponen-komponen yang ada, sehingga jelas adanya kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing sesuai fungsi dan tugas pokoknya. Struktur anggota dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

STRUKTUR ORGANISASI SMA NEGERI 9 SEMARANG

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Sekolah SMA Negeri 9 Semarang KOMITE SEKOLAH KEPALA SEKOLAH KAUR TATA USAHA WAKASEK KURIKULUM WAKASEK KESISWAAN WAKASEK SARPRA WAKASEK HUMAS Koordinator Guru Mapel (MGMP) WALI KELAS Guru Mapel Guru BK Tenaga Kependidikan Lainnya SISWA

(41)

4.1.3 Job Description

1. Kepala Sekolah

Kepala sekolah sebagai orang yang dipercaya memimpin institusi terdepan berkewajiban melakukan semua kebijakan Departemen Pendidikan dan mampu menjabarkannya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Kepala sekolah bertanggung jawab keluar dan ke dalam atas keseluruhan pengelolaan sekolah.Semua kegiatan yang dilakukan harus berdasarkan kepada ketentuan yang berlaku.

a. Kepala Sekolah sebagai Edukator

Kepala Sekolah harus mampu membina, mendidik, dan melatih semua guru dan personil sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing dalam usaha memberikan tambahan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman maupun perubahan sikap yang lebih positif terhadap pelaksanaan tugas.

b. Kepala Sekolah sebagai Manager

Kepala Sekolah mampu membagi habis semua tugas kepada guru dan personil sesuai tingkat pengetahuan dan kemampuan masing-masing.Kepala Sekolah mampu memimbing semua personil agar mampu melaksanakan tugas seoptimal mungkin secara efektif dan efisien.Kepala Sekolah sanggup mengontrol jalannya pelaksanaan tugas sesuai fungsi dan program yang sudah direncanakan.

c. Kepala Sekolah sebagai Administrator

Kepala Sekolah harus mampu mendayagunakan sumber daya yang ada, baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya sarana dan prasarana.

(42)

d. Kepala Sekolah sebagai Supervisor

Kepala Sekolah harus memiliki pengetahuan, kemampuan berpendidikan dan berpengalaman dan mampu bertindak selaku mitra kerja dalam usaha membantu guru dan personil untuk mengembangkan profesinya melalui kegiatan efektif.

2. Komite Sekolah

Bertugas mengawasi sekaligus mengupayakan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan.Komite sekolah bekerjasama dengan kepala sekolah dalam hal kordinasi kemajuan financial dari sekolah.Komite sekolah terbentuk dari elemen-elemen yang berkaitan erat dengan lingkungan sekolah.

3. Tata Usaha

Kepala Tata Usaha Sekolah bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Menyusun program tata usaha sekolah b. Mengelola keungan sekolah

c. Mengurus administrasi keuangan dan siswa

d. Membina dan mengembangkan karir pegawai tata usaha

e. Menyusun administrasi perlengkapan sekolah f. Menyusun dan menyajikan data / statistic sekolah g. Mengkoordinasikan dan melaksanakan 6K

h. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan pengurusan ketatausahaan secara berkala.

4. Wakil Kepala Bidang Kurikulum

a. Penyusunan program tahunan b. Perencanaan kelas

(43)

c. Penyusunan jadwal kelas d. Penyusunan satuan pelajaran e. KBM dan pembinaannya f. Semesteran

g. Kulikuler h. Ekstrakuliler

i. Pengelolaan nilai semester j. Rapat-rapat Guru dan Wali Kelas k. Pembagian Raport akhir semester l. Pengelolaan Nilai Semester m. Kegiatan MGMP

n. Pembagian Kelas II o. Pengelolaan Nilai UN

p. Pengabsahaan STTB dan lainnya. q. Perencanaan Praktikum di labolatorium r. Perencanaan Penyusunan karya tulis s. Mengusulkan Guru Teladan

5. Wakil Kepala Bidang Kesiswaan

a. Penerimaan Siswa Baru

b. Perencanaan Masa Orientasi Sekolah bagi siswa kelas 1 baru

c. Penyususnan kelas d. Ekstrakulikuler e. Pembinaan OSIS

f. Perencanaan dan Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah g. Mutasi Siswa

h. Pengisian Buku Induk i. Pembinaaan Pramuka

j. Pembinaan dan pengembangan UKS

k. Pemantapan wawasan wiyata mandala dan 7 K l. Presensi siswa

(44)

m. Pelaksanaan upacara bendera setiap minggu

pertama,tanggal 17 agustus dan Hari Besar Nasional

6. Wakil Kepala bidang Sarana dan Prasarana

a. Pengadaan Ruangan / local

b. Pengadaan perlengkapan administrasi sekolah c. Pemeliharaan dan pengembangan perpustakaan

sekolah d. Laboratorium e. Rehabilitas sekolah

f. Rehabilitas dan pengadaan alat-alat kantor dan kelas g. Inventaris Tropy dan piagam

7. Wakil Kepala Bidang Humas

a. Kerjasama dengan komite sekolah b. Penyelenggaraan rapat komite sekolah c. Kerjasama antar sekolah

d. Peringatan Hari Besar Nasional dan Agama e. Penelusuran Lulusan

f. Karya Wisata

g. Kerjasama dengan instansi lain diluar Depdikbud h. Pesantren Kilat

i. Notulen Rapat

j. Monitoring Guru dan karyawan

8. Guru

Guru bertanggung jawab kepada sekolah dan mempunyai tugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.

Tugas dan tanggung jawab seorang guru meliputi : a. Membuat perangkat program pengajaran

1. AMP

2. Program Tahunan / Semester 3. Program Satuan Pengajaran

(45)

4. Program Rencana Pengajaran 5. Program Mingguan Guru 6. LKS

b. Melaksanakan Kegiatan Pembelajaran

c. Melaksanakan kegiatan penilaian proses belajar,ulangan harian,ulangan umum,ujian akhir

d. Melaksanakan analisis hasil ualangan harian

e. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan

f. Mengisi daftar nilai siswa g. Mengisi daftar nilai siswa

h. Melaksanakan kegiatan membimbing ( pengimbasan pengetahuan ) kepada guru lain dalam kegiatan proses belajar mengajar

i. Membuat alat pelajaran / alat peraga

j. Menumbuhkembangkan sikap menghargai karya seni k. Melaksanakan tugas tertentu disekolah

l. Mengadakan pengembangan program pengajaran yang menjadi tanggung jawabnya

m. Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar siswa n. Mengisi dan menelitii daftar hadir siswa sebelum

memulai pelajaran

o. Mengatur kebersihan ruang kelas dan ruang praktikum p. Mengumpulkan dan menghitung angka kredit untuk

kenaikan pangkat

9. Siswa

a. Merupakan anak didik yang melakulkan kegiatan belajar disekolah

b. Mentaati peraturan yang ada dalam sekolah c. Belajar dengan baik dan benar

(46)

d. Patuh dan taat kepada kepala sekolah, guru, dan karyawan

e. Mandapat fasilitas belajar dan beasiswa

4.1.4 Narasi Prosedur

1. Guru BK menyerahkan data Program studi ke siswa, selanjutnya siswa mengisi data kuesioner.

2. Data profil nilai yang diisi beserta data siswa diserahkan ke administrator, untuk selanjutnya administrator melakukan analisa, sedangkan data program studi diarsip oleh siswa.

3. Setelah dianalisa selanjutnya dihasilkan data hasil analisa dan daftar program studi yang sesuai. Data siswa, Data profil nilai dan data hasil analisa diarsip oleh administrator, sedangkan daftar program studi yang sesuai diserahkan ke siswa.

4. Lalu Adsministrator membuat laporan siswa dan laporan hasil program studi diserahkan Guru BK untuk diarsip.

(47)

4.1.5 Flow Of Document Pemilihan Program Studi

Gambar 4.2 : Flow Of Document Pemilihan Program Studi Sumber : SMA Negeri 9 Semarang

GURU BK SISWA ADMINISTRATOR

Data Program studi Data Program studi Data Siswa Data Program studi Data Siswa Data Isian profil nilai a Isi Data profil nilai

Hasil analisa

Daft rogram studi yg sesuai c c c Laporan Siswa b c Lakukan analisa a Data Siswa Data Isian profil nilsi Data Siswa Data Isian profil nilai Daftar Program studi yg sesuai Buat laporan Siswa Data Siswa Laporan Siswa c Buat laporan Progdi yang sesuai

b Daftar Program studi yg sesuai Laporan Progdi yg sesuai c d d d c Laporan Progdi yang sesuai d c

(48)

4.2 Analisis Sistem

Dalam menghasilkan suatu sistem yang diinginkan dan tepat perlu adanya suatu analisisa dan desain sistem yang jauh lebih baik dari sebelumnya, analisis sistem mempunyai peranan dan fungsi untuk mengidentifikasikan masalah, menentukan sasaran yang harus dicapai dalam memenuhi kebutuhan, memilih alternatif metode pemecahan masalah yang paling tepat serta merencanakan dan merancang sistem, dalam tahap – tahap analisis sistem yang akan penulis gunakan adalah sebagai berikut :

4.2.1 Identifikasi Masalah dan Sumber Masalah

4.2.1.1 Identifikasi Masalah

Kerumitan yang dihadapi para siswa SMA saat hendak memilih program studi apa yang akan diambil pada saat melanjutkan pendidikannya diperguruan tinggi. Para siswa dihadapkan pada berbagai macam pertimbangan dan pilihan yang cukup rumit. Pertimbangan dari pihak siswa sendiri misalnya bidang studi yang paling ia kuasai,minat siswa,cita-cita,nilai akademik,dan lingkungan pergaulan.Sedangkan pertimbangan yang datang dari sisi orang tua misalnya biaya pendidikan dan harapan orang tua terhadap anaknya.Beragam pertimbangan tersebut membuat siswa bingung dalam mengambil keputusan,hingga akhirnya tidak sedikit siswa yang mengambil keputusan dalam memilih perguruan tinggi berdasarkan perasaan, ajakan teman dan ambisi orang tua saja, padahal semuanya itu tidak bisa dipakai sebagai tolak ukur yang tepat.

4.2.1.2 Identifikasi Kebutuhan Manfaat

Adanya pengembangan sistem baru ini mempunyai manfaat yang sangat besar, antara lain :

(49)

1. Dapat membantu para siswa dengan memberikan alternatif-alternatif terbaik dalam menentukan program studi mana yang sesuai bagi mereka.

2. Para siswa dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal untuk mencapai cita-citanya.

3. Para orang tua dapat mengetahui gambaran seberapa besar alokasi yang harus mereka keluarkan untuk membiayai studi anaknya.Sekolah yang bersangkutan mempunyai nilai lebih dari sekolah lain denkgan adanya sistem baru.

4.2.2 Unsur-unsur yang dipertimbangkan dalam Memilih program Studi Pada Perguruan Tinggi

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika memilih proram studi dalam sebuah perguruan tinggi,diantaranya adalah reputasi perguruan tinggi,biaya,lokasi perguruan tinggi,dan beberapa kriteria lain yang menunjang nilai lebih sebuah perguruan tinggi. Dari sini dapat diketahui, permasalahan ada adalah merancang sistem pendukung keputusan pemilihan program studi di perguruan tinggi bagi para siswa SMA yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Setelah menentukan permasalahan yang ada,langkah selanjutnya adalah menentukan kriteria.Kriteria yang dibuat merupakan rincian dari persoalan optimasi pemilihan program studi.Untuk menentukan kriteria tersebut,maka dilakukan survei di SMA.

Hasil survei yang diperoleh dari SMA, kriteria yang mempengaruhi antara lain:

a) Kemampuan Eksakta

Kemampuan yang dimiliki siswa dalam mata pelajaran yang berdasarkan ketepatan dan kecermatan dalam metode

(50)

penelitian dan analisis. Dengan tingginya nilai rata-rata kemampuan eksakta maka siswa cenderung akan lebih memilih program studi berbasis eksakta.

Skala nilai eksakta mempunyai daftar sebagai berikut: 1. Skala 1, jika Nilai eksakta < = 75

2. Skala 2, jika Nilai eksakta >75 s.d 80 3. Skala 3, jika Nilai eksakta >80 s.d 85 4. Skala 4, jika Nilai eksakta >85 s.d 90 5. Skala 5, jika Nilai eksakta > 90 s.d 100

b) Kemampuan Non Eksakta

Kemampuan yang dimiliki siswa diluar mata pelajaran yang berdasarkan ketepatan dan kecermatan dalam metode penelitian dan analisis. Kemampuan Non Eksakta digunakan untuk memperkuat kepercayaan diri para siswa dalam memilih program studi. Dengan tingginya nilai rata-rata kemampuan non eksakta maka siswa cenderung akan lebih memilih program studi berbasis eksakta.

Skala nilai eksakta mempunyai daftar sebagai berikut: 1. Skala 1, jika Nilai non eksakta < = 75

2. Skala 2, jika Nilai non eksakta >75 s.d 80 3. Skala 3, jika Nilai non eksakta >80 s.d 85 4. Skala 4, jika Nilai non eksakta >85 s.d 90 5. Skala 5, jika Nilai non eksakta > 90 s.d 100

c) Kompetensi

Kompetensi adalah ukuran / kemampuan siswa yang dimiliki oleh siswa dalam suatu bidang tertentu, dalam menunjang kemampuan akademis.

(51)

Skala nilai kompetensi mempunyai daftar sebagai berikut: 1. Skala 1, jika Nilai kompetensi < = 75

2. Skala 2, jika Nilai kompetensi > 75 s.d 80 3. Skala 3, jika Nilai kompetensi > 80 s.d 85 4. Skala 4, jika Nilai kompetensi > 85 s.d 90 5. Skala 5, jika Nilai kompetensi > 90 s.d 100

Gambar 4.3 : Kriteria Pemilihan Program Studi pada Perguruan Tinggi

4.2.3 Jenis-jenis Program Studi Dalam Perguruan Tinggi

Jenis program studi yang ada pada tiap-tiap perguruan tinggi sangatlah banyak, untuk memperolehnya perlu literatur yang menunjang, termasuk diantaranya dari internet maupun buku pedoman masuk perguruan tinggi (UNPTN).Jenis-jenis yang ada antara lain :

1. Pendidikan

Merupakan program studi yang diambil yang nantinya setelah lulus akan diterapkan langsung dalam dunia pendidikan atau belajar mengajar. Yang termasuk program pendidikan antara lain :

a. Pendidikan Eksakta

1) Pendidikan Ilmu Matematika 2) Pendidikan Ilmu Fisika 3) Pendidikan Ilmu Kimia 4) Pendidikan Ilmu Biologi

Pemilihan Program Studi di Perguruan Tinggi Kemampuan Eksakta Kemampuan

Non Eksakta Kompetensi siswa

(52)

5) Pendidikan Ilmu Elektronika 6) Pendidikan Ilmu Sipil

b. Pendidikan Sosial

1) Pendidikan Ilmu Sosial politik 2) Pendidikan Ilmu Kewarganegaraan 3) Pendidikan Ilmu Sosial dan Budaya 4) Pendidikan Ilmu Sejarah

5) Pendidikan Ilmu Geografi c. Pendidikan Ekonomi

1) Pendidikan Ilmu Ekonomi Dasar 2) Pendidikan Ilmu Ekonomi Manajemen d. Pendidikan Teknik

1) Pendidikan Teknik Elektro 2) Pendidikan Teknik Geodasi 3) Pendidikan Teknik Informatika 4) Pendidikan Teknik Komputer 5) Pendidikan Teknik Sipil 6) Pendidikan Teknik Kimia 7) Pendidikan Teknik Nuklir 8) Pendidikan Teknik Kelautan 9) Pendidikan Teknik Nautika 10) Pendidikan Teknik Planologi 11) Pendidikan Teknik Makanan

12) Pendidikan Teknik Makanan Hewan 2. Non Pendidikan

Merupakan jenis program studi yang nantinya setelah lulus aplikasinya untuk selain bidang pendidikan.

a. Eksata

1) Metematika 2) Fisika

(53)

3) Kimia 4) Biologi 5) Elektronika 6) Sipil 7) Arsitek b. Sosial 1) Sosial Politik 2) Kewarganegaraan 3) Sosial dan Budaya 4) Sejarah dan Arkeologi 5) Geografi 6) Platonomi c. Ekonomi 1) Ekonomi Dasar 2) Manajemen 3) Akuntansi d. Teknik 1) Teknik Elektro 2) Teknik Geodasi 3) Teknik informatika 4) Teknik komputer 5) Teknik Sipil 6) Teknik Kimia 7) Teknik Nuklir 8) Teknik Kelautan 9) Teknik Nautika 10) Teknik Planologi 11) Teknik Makanan

12) Teknik Makanan Hewan e. Kesehatan

(54)

2) Kedoktearan Hewan 3) Kedokteran Umum 4) Kedokteran Masyarakat

f. Ilmu Agama

1) Ilmu Agama Islam 2) Ilmu Agama Kristen 3) Ilmu Agama Budha 4) Ilmu Agama hindu g. Ilmu Sosial Politik

1) Administrasi Niaga 2) Administrasi pemerintahan 3) Administrasi Masyarakat h. Psokologi 1) Psikologi pendidikan 2) Psikologi Perusahaan 3) Psikologi Organisasi 4) Psikologi Klinis 5) Psikologi umum 6) Psikologi Perkembangan i. BioTeknologi 1) Bioteknologi Industri 2) Bioteknologi Informatika 3) Bioteknologi Medis 4) Bioteknologi Lingkungan j. Sastra 1) Sastra Indonesia 2) Sastra Jawa 3) Sastra Inggris 4) Sastra Jepang 5) Sastra Belanda

(55)

6) Sastra Jerman

4.3 Perhitungan Profile Matching Untuk Pemilihan Program Studi

a. Skala Nilai Eksakta

Skala nilai eksakta mempunyai daftar sebagai berikut: 1. Skala 1, jika Nilai eksakta < = 75

2. Skala 2, jika Nilai eksakta >75 s.d 80 3. Skala 3, jika Nilai eksakta >80 s.d 85 4. Skala 4, jika Nilai eksakta >85 s.d 90 5. Skala 5, jika Nilai eksakta > 90 s.d 100 b. Skala Nilai Non Eksakta

Skala nilai non eksakta mempunyai daftar sebagai berikut: 1. Skala 1, jika Nilai non eksakta < = 75

2. Skala 2, jika Nilai non eksakta >75 s.d 80 3. Skala 3, jika Nilai non eksakta >80 s.d 85 4. Skala 4, jika Nilai non eksakta >85 s.d 90 5. Skala 5, jika Nilai non eksakta > 90 s.d 100 c. Skala Nilai Kompetensi

Skala nilai kompetensi mempunyai daftar sebagai berikut: 1. Skala 1, jika Nilai kompetensi < = 75

2. Skala 2, jika Nilai kompetensi >75 s.d 80 3. Skala 3, jika Nilai kompetensi > 80 s.d 85 4. Skala 4, jika Nilai kompetensi > 85 s.d 90 5. Skala 5, jika Nilai kompetensi > 90 s.d 100

(56)

2. Variabel Dalam Penilaian

Tabel 4.1 : Tabel Nilai Profile dari Kriteria

No. Aspek Nilai Profile

1 Nilai Non eksakta 2

2 Nilai eksakta 2

3 Nilai Kompetensi 3

3. Proses Perhitungan Pemetaan Gap Kompetensi

a. Pemetaan GAP untuk kriteria nilai eksakta

Tabel 4.2 : Pengelompokan GAP untuk kriteria nilai eksakta

NIS NAMA Kode Item Gap Profile Siswa 101 Hesti 3 102 Fahza 4 103 Reza 2 Profile Pemilihan Progdi 2 GAP 101 Hesti 1 102 Fahza 2 103 Reza 0

(57)

Skala nilai eksakta mempunyai daftar sebagai berikut: - Skala 1, jika Nilai eksakta < = 75

- Skala 2, jika Nilai eksakta >75 s.d 80 - Skala 3, jika Nilai eksakta >80 s.d 85 - Skala 4, jika Nilai eksakta >85 s.d 90 - Skala 5, jika Nilai eksakta > 90 s.d 100

b. Pemetaan GAP untuk kriteria non eksakta

Tabel 4.3 : Pengelompokan GAP untuk kriteria non eksakta

NIS NAMA Kode Item Gap Profile Siswa 101 Hesti 2 102 Fahza 3 103 Reza 5 Profile Pemilihan Progdi 2 GAP 101 Hesti 0 102 Fahza 1 103 Reza 3

Skala nilai non eksakta mempunyai daftar sebagai berikut: - Skala 1, jika Nilai non eksakta <= 75

- Skala 2, jika Nilai non eksakta >75 s.d 80 - Skala 3, jika Nilai non eksakta >80 s.d 85 - Skala 4, jika Nilai non eksakta >85 s.d 90 - Skala 5, jika Nilai non eksakta > 90 s.d 100

(58)

c. Pemetaan GAP untuk Kriteria Nilai Kompetensi

Tabel 4.4 : Pengelompokan GAP untuk kriteria Nilai Kompetensi

NIS NAMA Kode Item Gap Profile Siswa 101 Hesti 3 102 Fahza 5 103 Reza 4 Profile Pemilihan Progdi 3 GAP 101 Hesti 0 102 Fahza 2 103 Reza 1

Skala nilai kompetensi mempunyai daftar sebagai berikut: - Skala 1, jika Nilai kompetensi < = 75

- Skala 2, jika Nilai kompetensi >75 s.d 80 - Skala 3, jika Nilai kompetensi > 80 s.d 85 - Skala 4, jika Nilai kompetensi > 85 s.d 90 - Skala 5, jika Nilai kompetensi > 90 s.d 100

Gambar

Tabel 2.1  : Tabel Pembobotan
Gambar 2.2 : Bagan Sistem Pengembangan Sistem dengan Waterfall  Sumber : [10] Requirement Spesification Architectural Design Coding  Integritasi &amp; Testing  Training &amp;  Implementasi  Operasi &amp;  Maintenance
Tabel 2.2 : Simbol-simbol  DFD
Tabel 2.3: Simbol- simbol  ERD
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada konsentrasi HaNPV Isolat Yogyakarta 2 x 106PIBs/ml sudah efektif untuk pengendalian ulat Helicoverpa armigera.. (prosentase

1 (satu) lembar fotokopi Surat Ganti Nama (apabila nama di akte kelahiran tidak sama dengan nama yang tercantum di raport/ijazah) 2 (dua) lembar fotokopi Ijazah/STTB –

Aplikasi BNP dan NT-proBNP yang telah banyak diakui hingga saat ini adalah untuk menegakkan diagnosis gagal jantung sebagai penyebab utama pada kondisi dimana keluhan

Tingkat risiko bencana banjir di Desa Tangguh Bencana Kecamatan Mojolaban terdapat variasi kelas yaitu: Desa Tegalmade adalah rendah, di Desa Laban tergolong sedang, dan

Masyarakat di Kelurahan Karang Tengah, Sragen lebih memilih memijatkan bayi ke dukun bayi karena memang biaya yang relatif lebih murah, dan bisa di bayar

Data Pendaftaran Kursus utk semakan penerimaan K/Soalan Pep Mac 2016 diserahkan kpd BPA (Parameter

Contoh Bapak Sujak, salah seorang pengemudi line G mengatakan, bahwa dirinya belum bisa menurunkan tarif angkutan karena setoran ke pemilik angkutan tidak turun. Pemilik

Adanya hubungan antara orientasi dominasi sosial dengan kekerasan dalam pacaran juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Garthe, Smith, Gregory,