• Tidak ada hasil yang ditemukan

Draf Pedoman Pembelajaran Bahasa Jawa Kurikulum 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Draf Pedoman Pembelajaran Bahasa Jawa Kurikulum 2013"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Draf

Pedoman Pembelajaran Bahasa Jawa Kurikulum 2013

I. Pendahuluan

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU No 20/2013). Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Kurikulum 2013 menggariskan pencapaian tujuan berdasarkan Permendikbud No 54/2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan, isi dan bahan ajar berdasarkan Permendikbud No 64/2013 tentang standar isi, Permendikbud No 67/68/69/70 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SD/SMP/SMA/SMK serta Permendikbud No 71/2013 tentang buku teks pelajaran. Pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran Kurikulum 2013 diatur dalam Permendikbud No 65/2013 tentang Standar Proses, Permendibud No 66/2013 tentang Standar Penilaian, Permendikbud No 81A tentang Implementasi Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 memenuhi kedua dimensi tersebut.

Kurikulum 2013 Muatan Lokal Bahasa Jawa telah disahkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Nomor 423.5/14995 tentang Kurikulum Mata Pelajaran Muatan Lokal Bahasa Jawa untuk Jenjang Pendidikan SD/SDLB/MI; SMP/SMPLB/MTs; SMA/SMALB/MA/SMK Negeri dan Swasta di Provinsi Jawa Tengah tertanggal 4 Juni 2014.Kurikulum tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan tantangan internal dan eksternal.

Tantangan internal kurikulum 2013 bahasa Jawa terkait dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Sementara, tantangan eksternal yang dihadapi kurikulum 2013 bahasa Jawa terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan kemajuan teknologi, informasi perkembangan pendidikan di tingkat nasional dan internasional. Arus globalisasi akan menggeser pola hidup dan budaya masyarakat Jawa.

(2)

Bila hal ini tidak ditangani secara tepat boleh jadi masyarakat Jawa tinggal nama tanpa kepribadian.

Berkaitan dengan keberadaan kurikulum 2013 bahasa Jawa yang harus diterapkan, maka dibutuhkan panduanyang dapat digunakan guru untuk melakukan proses pembelajarandi sekolah. Panduan ini berisi tentang pokok-pokok praktis pembelajaran dan penilaian bahasa Jawa.

II. Karakteristik Mulok Bahasa Jawa

Kurikulum 2013 Muatan Lokal Bahasa Jawa dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir, baik secara makro (jagad gedhe) dan secara mikro (jagad

cilik). Penyempurnaan pola pikir secara makro mengacu pada perubahan pola pikir yang

mengarah pada hal-hal berikut: (1) pembelajaran berpusat pada peserta didik; (2) pembelajaran interaktif; (3) pola pembelajaran jejaring; (4) pola pembelajaran aktif dengan pendekatan sains; (5) pola belajar berbasis tim; (6) pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat multimedia; (7) pola pembelajaran berbasis kebutuhan peserta didik; (8) pola pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines); dan (9) pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran kritis.

Pola pemikiran secara mikro (jagad cilik) mengacu pada (1) pola pembelajaran bahasa Jawa mengarah pada pembentuk kepribadian dan penguat jatidiri masyarakat Jawa yang tercermin pada pocapan, patrap, dan polatan; (2) pembelajaran bahasa Jawa sebagai upaya pengolahan kearifan budaya lokal untuk didayagunakan dalam pembangunan budaya nasional, watak, dan karakter bangsa; (3) pembelajaran bahasa Jawa sebagai penjaga dan pemelihara kelestarian bahasa, sastra, dan aksara Jawa; (4) pembelajaran bahasa Jawa sebagai upaya penyelarasan pemakaian bahasa, sastra, dan aksara Jawa agar sejalan dengan perkembangan bahasa Jawa (nut ing jaman kalakone); (5) pembelajaran bahasa Jawa sebagai proses pembiasaan penggunaan bahasa Jawa yang laras, leresdan trepdalam berkomunikasi dan berinteraksi sehari-hari di dalam keluarga dan masyarakat sesuai dengan kaidah, etika, dan norma yang berlaku; (6) pembelajaran bahasa Jawa memiliki ciri sebagai pembawa dan pengembang budaya Jawa.

Penguatan materi dilakukan dengan memperhatikan (1) penggunaan bahasa Jawa ragam ngoko dan krama dengan mempertimbangkan keberadaan dialek masing-masing daerah. Materi kebahasan yang berkaitan dengan unggah-ungguh tidak disajikan secara khusus pada aspek pengetahuan (KI-3). Hal ini dikawatirkan unggah-ungguhhanya

(3)

berhenti pada tataran pengetahuan padahal yang diharapkan unggah-ungguh basa sebagai sebuah action sebagai manifestasi kesantunan berbahasa yang menjadi bagian dari sikap sosial (KI-2) yang tercermin dalam penggunaan bahasa sehari-hari yang diajarkan melalui keteladanan dan pembiasaan pada setiap kesempatan baik itu dalam proses pembelajaran di dalam kelas, maupun di luar kelas. (2) pemanfaatan sastra Jawa modern sebagai hasil karya sastra Jawa baik yang berupa sastra tulis maupun sastra lisan (geguritan, crita cekak, critasambung, novel, drama, film dan sebagainya) yang berkembang untuk pembentukan karakter yang njawani, (3) pemanfaatan sastra klasik baik lisan maupun tulis (sastra piwulang, babad, legenda, tembang, nyanyian rakyat,

tembang dolanan, cerita, mitos, dongeng, sastra wayang dan sebagainya) untuk

penguatan jatidiri, dan (4) aksara Jawa sebagai pemertahananjatidiri.

Pengimplementasian Kurikulum 2013 Mulok Bahasa Jawa bertujuan agar peserta didik memiliki kompetensi sebagai berikut: (1) menjaga dan memelihara kelestarian bahasa, sastra, dan aksara Jawa sehingga menjadi faktor penting untuk peneguhan jatidiri daerah; (2) menyelaraskan fungsi bahasa, sastra, dan aksara Jawa dalam kehidupan masyarakat sejalan dengan arah pembinaan bahasa Indonesia; (3) mengenali nilai-nilai estetika, etika, moral dan spiritual yang terkandung dalam budaya Jawa untuk didayagunakan sebagai upaya pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional; dan (4) mendayagunakan bahasa, sastra, dan aksara Jawa sebagai wahana untuk pembangunan karakter dan budi pekerti.

Arah pembelajaran bahasa Jawa, adalah untuk (1) menyelaraskan keberadaan bahasa, sastra, dan aksara Jawa sebagai unsur kebudayaan Jawa untuk mewujudkan keadaan masyarakat yang lebih berbudaya dan (2) menggali nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa, sastra, dan aksara Jawa, sebagai bahan masukan untuk pembangunan karakter dan ketahanan budaya.

Strategi kebijakan pelindungan, pembinaan, dan pengembangan bahasa, sastra, dan aksara Jawa dilaksanakan melalui upaya di lingkungan pendidikan formal, meliputi: (1) menyusun dan menyempurnakan kurikulum bahasa dan sastra Jawa sesuai dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat; (2) menyediakan dan mengangkat guru mulok bahasa Jawa profesional (bersertifikat) sesuai dengan strata pendidikannya; (3) meningkatkan kualitas guru mulok bahasa Jawa yang profesional melalui pendidikan dan pelatihan; (4) menyediakan bahan ajar, buku pelajaran, buku bacaan, dan media pembelajaran bahasa Jawa; (5) meningkatkan kegiatan apresiasi dan kompetisi mengenai penulisan dan penggunaan bahasa, sastra, dan aksara Jawa; (6)

(4)

melakukan kegiatan penelitian dan pengajian terhadap bahasa, sastra, dan aksara Jawa; dan (7) meningkatkan perhatian dan dukungan terhadap kegiatan transkripsi, dan transliterasi naskah-naskah sastra Jawa yang memiliki nilai-nilai unggul.

III. Strategi Pembelajaran Bahasa Jawa

Pembelajaran pada Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatan berbasis proses keilmuan. Pendekatan saintifik dapat menggunakan beberapa strategi seperti pembelajaran kontekstual. Model pembelajaran merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memiliki nama, ciri, sintak, pengaturan, dan budaya misalnya discovery learning, project-based learning, problem-based learning, inquiry

learning.

Kurikulum 2013 menggunakan modus pembelajaran langsung (direct instructional) dan tidak langsung (indirect instructional).

Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan pengetahuan peserta didik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP.Dalam pembelajaran langsung peserta didik melakukan kegiatan mengamati,

menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan

mengkomunikasikan.Pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan langsung, yang disebut dengan dampak pembelajaran

(instructionaleffect).

Pendekatan saintifik meliputi lima pengalaman belajarsebagaimana tercantum dalam tabel berikut.

Tabel 1: Deskripsi Langkah Pembelajaran

Langkah Pembelajaran Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar Mengamati

(observing)

Mengamati dengan indra (membaca, mendengar,

menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya) dengan atau tanpa alat

Perhatian pada waktu mengamati suatu objek/membaca suatu tulisan/mendengar suatu penjelasan, catatan yang dibuat tentang yang diamati, kesabaran, waktu

(5)

Langkah Pembelajaran Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar (on task) yang digunakan untuk mengamati

Menanya (questioning) Membuat dan mengajukan pertanyaan, tanya jawab, berdiskusi

tentang informasi yang belum dipahami, informasi tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai klarifikasi.

Jenis, kualitas, dan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta didik (pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, dan hipotetik)

Mengumpulkan informasi

(experimenting)

Mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi, mendemonstrasi-kan, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara sumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/

menambahi/mengembangkan

Jumlah dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan, kelengkapan informasi, validitas informasi yang dikumpulkan, dan instrumen/alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Menalar/Mengasosiasi (associating)

Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membuat kategori, mengasosiasi atau

menghubungkan

fenomena/informasi yang terkait dalam rangka

menemukan suatu pola, dan menyimpulkan.

Mengembangkan

interpretasi, argumentasi dan simpulan mengenai keterkaitan informasi dari dua fakta/konsep,

interpretasi, argumentasi dan simpulan mengenai keterkaitan lebih dari dua fakta/konsep/teori, mensintesis dan argumentasi serta

simpulan keterkaitan antar berbagai jenis fakta-fakta/

(6)

Langkah Pembelajaran Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar konsep/teori/pendapat; mengembangkan

interpretasi, struktur baru, argumentasi, dan simpulan yang menunjukkan

hubungan fakta/konsep/ teori dari dua sumber atau lebih yang tidak

bertentangan; mengembangkan

interpretasi, struktur baru, argumentasi dan simpulan dari konsep/teori/pendapat yang berbeda dari berbagai jenis sumber.

Mengomunikasikan

(communicating)

Menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis; dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan.

Menyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multi media dan lain-lain.

Pembelajaran tidak langsung adalah pembelajaran yang terjadi selama proses pembelajaran langsung yang dikondisikan menghasilkan dampak pengiring (nurturant

effect). Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap

yang terkandung dalam KI-1 dan KI-2. Hal ini berbeda dengan pengetahuan tentang nilai dan sikap yang dilakukan dalam proses pembelajaran langsung oleh mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Pengembangan nilai dan sikap sebagai proses pengembangan moral dan perilaku, dilakukan oleh seluruh mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan

(7)

yang terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran Kurikulum 2013, semua kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler baik yang terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat (luar sekolah) dalam rangka mengembangkan moral dan perilaku yang terkait dengan nilai dan sikap.

Lebih lanjut dengan pembelajaran tidak langsung, diharapkan dapat menciptakan kondisi pembelajaran KI-3 dan KI-4 dalam upaya menumbuhkan dan menguatkan terbentuknya kepribadian yang njawani yang termanifestasikan melalui keterbiasaan (otomatisasi) pocapan, polatan, dan patrap yang njawani (KI-2 dan KI- 3). Sementara itu pendekatan berbasis keilmuan atau saintifik dalam pelaksanaannya berpadu dan dengan mempertimbangkan kontekstual, komunikatif, fungsional-normatif.Dalam hal ini kontekstual dimaknai secara subsatansial materi pembelajaran berada dalam cakupan konteks yang sesuai baik secara cultural, social maupun psykologis peserta didik.Sedangkan komunikatif mengacu pada materi bahasa yang memiliki keberterimaan tinggi (komunikatif). Fungsional-normatif dimaknai bahwa materi pembelajaran adalah bahasa (Jawa) yang secara fungsional memang dipergunakan oleh masarakat (bahasa Jawa yang nut ing jaman kalakone, bukan bahasa Jawa yang

kaya duk ing nguni) dengan mempertimbangkan norma bahasa Jawa dalam konteks

pemakaiannya sebagai hal paling esensial memposisikan bahasa Jawa sebagai bahasa peninggalan budaya leluhur yang adiluhung.

A. Strategi Pembelajaran Langsung

Tahapan Pembelajaran Langsung adalah sebagai berikut. 1. Perencanaan

Tahap pertama dalam pembelajaran yaitu perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

a. Hakikat RPP

RPP merupakan rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pembelajaran atau tema tertentu yang mengacu pada silabus. RPP mencakup: (1) data sekolah/madrasah, mata pelajaran, dan kelas/semester; (2) materi pembelajaran; (3) alokasi waktu; (4) KI, KD, indikator pencapaian kompetensi; (5) deskripsi materi pembelajaran; (6)

(8)

kegiatan pembelajaran; (7) penilaian; dan (8) media/alat, bahan, dan sumber belajar.

Setiap guru di setiap satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP untuk kelas di mana guru tersebut mengajar (guru kelas) di SD dan untuk guru mata pelajaran yang diampunya untuk guru SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Pengembangan RPP dilakukan sebelum awal semester atau awal tahun pelajaran dimulai, namun perlu diperbaharui sebelum pembelajaran dilaksanakan.

Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau berkelompok di sekolah/madrasah dikoordinasi, difasilitasi, dan disupervisi oleh kepala sekolah/madrasah.

Pengembangan RPP dapat juga dilakukan oleh guru secara berkelompok antarsekolah atau antarwilayah dikoordinasi, difasilitasi, dan disupervisi oleh dinas pendidikan atau kantor kementerian agama setempat.

b. Prinsip Penyusunan RPP

1) Setiap RPP harus secara utuh memuat kompetensi sikap spiritual (KD dari KI-1), sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari KI-3), dan keterampilan (KD dari KI-4).

2) Satu RPP dapat dilaksanakan dalam satu kali atau lebih dari satu kali pertemuan.

3) Memperhatikan perbedaan individu peserta didik.

RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

4) Berpusat pada peserta didik.

Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar, menggunakan pendekatan saintifik meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

(9)

Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.

6) Memberikan umpan balik dan tindak lanjut pembelajaran.

RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remidi.

7) Memiliki keterkaitan dan keterpaduan antar kompetensi dan/atau antar muatan.

RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

8) Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.

RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

c. Komponen dan Sistematika RPP

Komponen-komponen RPP secara operasional diwujudkan dalam bentuk format berikut ini.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : Mata pelajaran : Kelas/Semester : Materi Pembelajaran : Alokasi Waktu :

(10)

A. Kompetensi Inti (KI) B. Kompetensi Dasar 1. KD pada KI-1 2. KD pada KI-2 3. KD pada KI-3 4. KD pada KI-3

C. Indikator Pencapaian Kompetensi*) 1. Indikator KD pada KI-1

2. Indikator KD pada KI-2 3. Indikator KD pada KI-3 4. Indikator KD pada KI-4

D. Deskripsi Materi Pembelajaran (dapat berupa rincian, uraian, atau penjelasan materi pembelajaran)

E. Kegiatan Pembelajaran 1. Pertemuan Pertama: (...JP) a. Kegiatan Pendahuluan b. Kegiatan Inti**)  Mengamati  Menanya  Mengumpulkan informasi  Menalar  Mengomunikasikan c. Kegiatan Penutup 2. Pertemuan Kedua: (...JP) a. Kegiatan Pendahuluan b. Kegiatan Inti**)  Mengamati  Menanya  Mengumpulkan informasi  Menalar  Mengomunikasikan c. Kegiatan Penutup

(11)

3. Pertemuan seterusnya. F. Penilaian

1. Teknik penilaian

2. Instrumen penilaian dan pedoman penskoran a. Pertemuan Pertama

b. Pertemuan Kedua c. Pertemuan seterusnya

G. Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar 1. Media/alat

2. Bahan

3. Sumber Belajar

*) Pada setiap KD dikembangkan indikator atau penanda.Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-1 dan KI-2 dirumuskan dalam bentuk perilaku umum yang bermuatan nilai dan sikap yang gejalanya dapat diamati. Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-3 dan KI-4 dirumuskan dalam bentuk perilaku spesifik yang dapat diamati dan terukur.

**) Pada kegiatan inti, kelima pengalaman belajar tidak harus muncul seluruhnya dalam satu pertemuan tetapi dapat dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, tergantung cakupan muatan pembelajaran. d. Langkah Penyusunan RPP

1) Pengkajian Silabus

Pengkajian terhadap silabus meliputi: (1) KI dan KD; (2) materi pembelajaran; (3) kegiatan pembelajaran; (4) penilaian; (5) alokasi waktu; dan (6) sumber belajar.

2) Perumusan indikator pencapaian KD pada KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4; 3) Deskripi Materi Pembelajaran

Langkah ini dapat berupa merinci, menjabarkan, menguraikan, dan mengidentifikasi materi pembelajaran dengan memperhatikan prinsip penyusunan RPP.

4) Penjabaran Kegiatan Pembelajaran

Menjabarkan kegiatan pembelajaran yang ada pada silabus dalam bentuk yang lebih operasional berupa pendekatan saintifik disesuaikan

(12)

dengan kondisi peserta didik dan satuan pendidikan termasuk penggunaan media, alat, bahan, dan sumber belajar.

5) Penentuan Alokasi Waktu

Menentukan alokasi waktu untuk setiap pertemuan berdasarkan alokasi waktu pada silabus, selanjutnya dibagi ke dalam kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.

6) Pengembangan Penilaian

Menentukan lingkup, teknik, dan instrumen penilaian, serta membuat pedoman penskoran.

7) Menentukan Media, Alat, Bahan, dan Sumber Belajar

Penentuan media, alat, bahan, dan sumber belajar disesuaikan dengan yang telah ditetapkan dalam langkah penjabaran kegiatan pembelajaran.

2. Proses Pembelajaran a. Kegiatan Pendahuluan

1) Guru mengucapkan salam berbahasa Jawa sesuai kondisi dan direspon oleh siswa, misalnya: sugeng enjing, para siswa

2) Siswa merespon salam guru menggunakan bahasa Jawa yang santun, misalnya : sugeng enjing, Bu

3) Membangun suasana pembelajaran yang njawani dan menyenangkan yang berorientasi pada materi pembelajaran. Misalnya tema pariwisata, anak diajak nembang “Prau Layar”.

4) Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari yang njawani.

b. Kegiatan Inti

Dalam proses pembelajaran,

 Guru menggunakan pendekatan saintifik yang disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran bahasa Jawa dengan mengkondisikan pada aspek sosial budaya peserta didik yang njawani.

 Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan proses mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan materi pembelajaran.

c. Kegiatan Penutup Guru bersama peserta didik melakukan:

(13)

1. Membuat rangkuman/simpulan pelajaran menggunakan bahasa Jawa yang santun.

2. Merefleksikan materi pembelajaran yang sudah disampaikan menggunakan bahasa Jawa yang santun.

3. Memberikan motivasi sebagai umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran dengan menumbuhkembangkan penggunaan bahasa Jawa yang santun dan berperilaku njawani.

Guru mengucapkan salam penutup dengan bahasa Jawa yang santun sesuai dengan kondisi.

1.1. Pembelajaran Tak Langsung

Dalam setiap kegiatan, guru harus memperhatikan perkembangan sikap peserta didik yang njawanipada kompetensi dasar dari KI-1 dan KI-2 antara lain mensyukuri anugerah Tuhan berupa bahasa Jawa dengan cara bersikap bangga dan percaya diri dalam berbahasa Jawa secara santun.

2. Penilaian Pembelajaran Bahasa Jawa 2.1 Penilaian Pembelajaran Langsung

a. Tes Tertulis

Tes tulis adalah tes yang soal dan jawabannya tertulis berupa pilihan ganda, isian, benar-salah, menjodohkan, dan uraian.

No. Penilaian Waktu

1 Ulangan Harian Setiap akhir pembelajaran suatu KD 2 Ujian Tengah Semester Pada minggu 7 suatu semester 3 Ujian Akhir Semester Pada akhir suatu semester 4 Ujian Tingkat Kompetensi Akhir kelas II, IV, VIII, dan XI

5 Ujian Sekolah Pada akhir tahun belajar Satuan Pendidikan 6 Penilaian Proses Dilaksanakan selama proses pembelajaran

sepanjang tahun ajaran

7 Penilaian Diri Dilaksanakan pada akhir setiap semester

(14)

Tes lisan berupa pertanyaan- pertanyaan yang diberikan guru secara ucap (oral) sehingga peserta didik merespon pertanyaan tersebut secara ucap juga, sehingga menimbulkan keberanian. Jawaban dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf yang diucapkan.

c. Portofolio

Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya peserta didik secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus menerus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan dinamika pengalaman belajar dan kemampuan belajar peserta didik melalui sekumpulan karyanya, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/literatur, laporan penelitian, sinopsis dan karya nyata individu peserta didik yang diperoleh dari pengalaman.

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan penilaian portofolio.

a) Peserta didik merasa memiliki portofolio sendiri.

b) Tentukan bersama hasil kerja apa yang akan dikumpulkan.

c) Kumpulkan dan simpan hasil kerja peserta didik dalam 1 map atau folder. d) Beri tanggal pembuatan.

e) Tentukan kriteria untuk menilai hasil kerja peserta didik. f) Minta peserta didik untuk menilai hasil kerja mereka secara

berkesinambungan.

g) Bagi yang kurang beri kesempatan perbaiki karyanya, tentukan jangka waktunya.

h) Bila perlu, jadwalkan pertemuan dengan orang tua.

(15)

Mata Pelajaran : Bahasa Jawa

Alokasi Waktu :

Sampel yang dikumpulkan :

Nama Peserta didik : _________ Kelas :_________

No Kompetensi

Dasar Periode

Aspek yang dinilai

Keterangan/Catatan Tata bahasa Kosa kata Kelengkapan gagasan Sistematika penulisan 1. Menulis karangan deskriptif tentang peristiwa budaya 30/7 10/8 dst. 2. Membuat teks dialog 1/9 30/9 10/10 dst. Hhh d. Unjuk Kerja

Penilaian unjuk kerja yaitu dengan cara mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktik membaca geguritan, pidato bahasa Jawa, membaca berita, presentasi, dan bermain peran.

Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan instrumen sebagai berikut:

a) Daftar cek

Dengan menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai.

(16)

Contoh: Format instrumen penilaian praktik membaca geguritan

Nama Peserta

Didik

Aspek yang dinilai

Wirasa Wicara Wiraga Wirama

Ya

Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak

Andi Boby Cicih Dimas

...

Keterangan: diisi dengan tanda tik (√) e. Produk

Contoh Penilaian Produk (Proyek)

Mata Pelajaran : Bahasa Jawa

Nama Proyek : Membuat Sandiwara “Klething Kuning” Nama Peserta Didik : ____________________Kelas :________

NO ASPEK *

SKOR 1 2 3 4 1. Proses persiapan membuat judul

Sandiwara

2. Proses Pembuatan

a. membuat skenario sandiwara b. Menentukan tokoh sandiwara c. menyiapkan kostum

3. Hasil Produk : Pementasan sandiwara a. Wiraga

(17)

b. Wirama c. Wirasa d. Wicara TOTAL SKOR

* Aspek yang dinilai disesuaikan dengan jenis produk yang dibuat ** Skor diberikan tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban

yang diberikan. Semakin lengkap dan tepat jawaban, semakin tinggi perolehan skor.

2.2 Penilaian Pembelajaran Tak Langsung a. Observasi

Penilaian observasi merupakan penilaian yang di lakukan oleh guru di luar pembelajaran. Contoh penilaian observasi:

Contoh:Format pengamatan sikap berbahasa Jawa

No Nama

Aspek perilaku yang dinilai

Skor Keterangan Mengguna-kan bahasa Jawa Santun berbahasa Jawa Polatan yang njawani Patrap yang njawani 1. Andi 3 4 3 2 12 2. Rini 3. .... Catatan:

Kolom aspek perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut. 1 = kurang bila tidak pernah menunjukkan perilaku yang dimaksud

2 = cukup bila kadang-kadang menunjukkan perilaku yang dimaksud 3 = baik bila sering menunjukkan perilaku yang dimaksud

(18)

Format di atas dapat digunakan untuk mengukur aspek sikap lainnya dengan menyesuaikan aspek perilaku yang ingin diamati.

b. Penilaian Diri

Penilaian diri digunakan untuk memberikan penguatan (reinforcement) terhadap kemajuan proses belajar peserta didik. Penilaian diri berperan penting bersamaan dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru ke peserta didik yang didasarkan pada konsep belajar mandiri (indepedent

learning).

Untuk menghilangkan kecenderungan peserta didik menilai diri terlalu tinggi dan subyektif, penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Untuk itu penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.

a) Menjelaskan kepada peserta didik tujuan penilaian diri. b) Menentukan kompetensi yang akan dinilai.

c) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan.

d) Merumuskan format penilaian, dapat berupa daftar tanda cek, atau skala penilaian.

Contoh: Format penilaian diri untuk aspek sikap

Partisipasi Dalam Diskusi Kelompok Nama : --- Nama-nama anggota kelompok : --- Kegiatan kelompok : ---

Isilah pernyataan berikut dengan jujur. Untuk No. 1 s.d. 6, tulislah huruf A,B,C, atau D didepan tiap pernyataan:

A : selalu C : kadang-kadang

B : sering D : jarang

1.--- Selama proses belajar mengajar mapel bahasa Jawa saya menggunakan bahasa Jawa.

2.--- Saya menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi pada hari kewajiban berbahasa Jawa

(19)

berbahasa 4.--- dst.

---

Pada dasarnya teknik penilaian diri ini tidak hanya untuk aspek sikap, tetapi juga dapat digunakan untuk menilai kompetensi dalam aspek keterampilan dan pengetahuan

c. Penilaian Teman Sejawat

Penilaian sejawat atau antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Bentuk penilaian ini, dilakukan oleh peserta didik dengan cara berkelompok minimal 5-10 orang. Satu peserta didik menilai empat hingga sembilan peserta didik yang lain. Instrumen yang digunakan berupa lembar pengamatan antarpeserta didik. Format yang digunakan untuk penilaian sejawat dapat menggunakan format seperti contoh pada penilaian diri.

Contoh: Format penilaian sejawat

Nama Penilai : ……… No. Absen : …… Nama Teman yang Dinilai: ……… No. Absen : ……

Kelas/Semester : ………

NO PERNYATAAN SKALA

1 2 3 4

1

Teman saya menggunakan bahasa Jawaselama proses belajar mengajar mapel bahasa Jawa.

2

Teman saya menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi pada hari wajib berbahasa Jawayang telah ditentukan

3 Dst.

d. Catatan:

e. Kolom Aspek perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut.

(20)

f. 1 = kurang bila tidak pernah menunjukkan perilaku yang dimaksud g. 2 = cukup bila kadang-kadang menunjukkan perilaku yang dimaksud h. 3 = baik bila sering menunjukkan perilaku yang dimaksud

i. 4 = sangat baik bila selalu menunjukkan perilaku yang dimaksud d. Jurnal

Jurnal merupakan rekaman catatan guru dan/atau tenaga kependidikan di lingkungan sekolah tentang sikap dan perilaku positif atau negatif, di luar proses pembelajaran mata pelajaran.

Contoh: Format penilaian melalui jurnal JURNAL

Nama :... Kelas :...

(21)

TIM PERUMUS 1. Ketua :

 Nurisman, S.Pd. : SMP Negeri 1 Kedungwuni Kab. Pekalongan

2. Sekretaris :

 Tintin Anggraeni, S.Pd.SD : SD Negeri 2 Leteh Kab. Rembang 3. Anggota :

 Yuni Tri Sumani, S.Pd. : SMP Negeri 3 Tuntang Kab. Semarang

 Kasiriyadi, S.Pd. : SMP Negeri 1 Sumberlawang Kab. Sragen

 Lina Handayani, S.Pd. : SMP Negeri 3 Bae Kab. Kudus

 Nur Sangadah, S.Pd. : SMP Negeri 1 Kebumen

 Nartam, S.Pd.SD : SD Negeri 2 Pabuwaran Kab. Banyumas

 Lailatul Amaniyah, S.Pd.I : SD Negeri Bandongan 3 Kab. Magelang

 Giyanto, S.Pd. : SD Negeri Randulanang Kab. Klaten

 Supiatun, S.Pd.SD : SD Negeri Sawojajar 02 Kec. Wonosari Kab.

Brebes

 Drs. Prasetyo : SMP Negeri 1 Bukateja, Purbalingga

 Sutini, S.Pd.SD : SDN 02 Lambur Kab. Pekalongan

Gambar

Tabel 1:  Deskripsi Langkah Pembelajaran

Referensi

Dokumen terkait

Bakteri asam laktat merupakan contoh mikroorganisme yang menguntungkan dan memiliki peranan penting dalam industri pangan, karena berperan aktif dalam proses

Pencemaran udara dari pada pabrik gula berupa asap dan debu, yang dapat. menyebabkan sejumlah penyakit pernafasan seperti infeksi saluran

Kebiijakan Pemerintah mengeluarkan Perda No. 10 tahun 1956 tentang pemberantasan pelacuran di jalanan dalam Kota Besar Semarang dan penutupan rumah tempat pelacuran

adalah dengan merumuskan tingkat bagi hasil deposito atau equivalent rate yang dapat bersaing dengan suku bunga deposito perbankan konvensional guna meningkatkan

Deskripsi : Materi memuat uraian atau contoh yang menjelaskan keterkaitan antara materi dengan kehidupan sehari-hari. Tidak ada materi yang menjelaskan keterkaitan dengan

[r]

Pasien kulit dan kelamin yang dirujuk yang sesuai dengan kompetensi(dalam %) Berdasarkan hasil penelitian lima Puskesmas yang dijadikan studi kasusu periode 1 Januari 2012

Frolis Labiro, 462010030, Hubungan Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres dengan Kualitas Tidur pada Mahasiswi Perokok di Universitas Kristen Satya Wacana, Skripsi, Fakultas