• Tidak ada hasil yang ditemukan

GENTLE BIRTH VOLUME 3 NO.2 JUL-DES 2020 ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GENTLE BIRTH VOLUME 3 NO.2 JUL-DES 2020 ISSN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Efektivitas Senam Lansia terhadap Penurunan Tingkat Insomnia di Poskesdes Hutasoit Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan

EFFECTIVENES OF ELDERLY GYMNASTIC AGAINST DECREASED INSOMNIA LEVELS IN HUTASOIT I POSKESDES LINTONGNIHUTA DISTRICT HUMBANG DISTRICT

HASUNDUTAN

Sri Juliani 1, Nurrahmaton2, Dewi Sartika 3 1,2,3

Dosen D4 Kebidanan, Fakultas Farmasi dan Kesehatan Institut Kesehatan Helvetia, Medan Indonesia

Abstrak

Pendahuluan: Insomnia adalah salah satu gangguan tidur dimana seseorang merasa sulit untuk memulai tidur. Masalah insomnia pada lansia dapat diatasi dengan mempertahankan kesehatan lansia berupa pola hidup sehat, diantaranya dengan melakukan senam lansia. Tujuan: untuk mengetahui apakah ada Pengaruh Senam Lansia Terhadap Tingkat Insomnia pada Lansia di Poskesdes Hutasoit I Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2019. Metode: Penelitian ini menggunakan Jenis Penelitian Quast-eksperiment Test and Post Test

Nonequivalent control Group . Pengambilan sampel dilakukan secara Non Probability Sampling

dengan teknik Purposive Sampling, Populasi dalam penelitian ini sebanyak 81 orang dan jumlah sampel 32 responden. 16 kelompok perlakuan dan 16 kelompok Kontrol. Data dianalisis dengan menggunakan Uji Wilcoxon Rank Rest. Hasil: Diperoleh pada kelompok perlakuan p = .006 < .05 sehingga Ha diterima Ho ditolak maka ada pengaruh senam lansia terhadap tingkat insomnia pada lansia. sedangkan pada kelompok control diperoleh nilai p = 1.000 >.05 sehingga Ha ditolak Ho diterima maka senam lansia tidak berpengaruh terhadap tingkat Insomnia pada lansia sebelum dan sesudah dilakukan Senam. Kesimpulan: ada pengaruh yang signifikan antara senam lansia terhadap penurunan tingkat insomnia di Poskesdes Hutasoit I Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

Kata Kunci : Senam, lansia, insomnia

Abstract

Introduction:Insomnia is a sleep disorder where a person finds it difficult to start

sleeping.The problem of insomnia in the enderly can be overcome by maintaining the health of the elderly in the form of a healthylifestyle, including by doing elderly gymnastics. Objective : To determine whether there was an effect of enderly exercise on the level of insomnia in the elderly.Method: The type of research used Quast-eksperimental test and post test nonequivalent control group.Sampling was done by non probability sampling with purposive sampling technique, the population in this study were 81 people and the number of samples was 32 respondents. 16 treatment groups and 16 control groups.Data were analyze using the Wilcoxon Rank Rest test.Result:Obtained in the treatment group p= .006 < .05 so Ha is accepted and Ho is rejected then there is the influence of elderly exercise on the level of insomnia in the elderly before and after gymnastics.Conclution:there is a significant influence between the enderly gymnastic against decreased insomnia levels in Hutasoit I Sub-district Lintongnihuta District Humbang.

Keywords : Gymnastic, elderly, insomnia

Alamat Korespondensi : Sri Juliani, Institut Kesehatan Helvetia Medan, Hp.081362081048 Email: [email protected]

(2)

PENDAHULUAN

Setiap manusia akan mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dari bayi sampai menjadi tua. Masa tua merupakan masa dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Lansia atau lanjut usia adalah periode dimana manusia telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi. Selain itu lansia juga masa dimana seseorang akan mengalami kemunduran dengan sejalannya waktu.

Lansia adalah tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia dan ditandai oleh gagalnya seseorang untuk mempertahankan keseimbangan kesehatan dan kondisi stress fisiologisnya. Proses penuaan yang terjadi pada lansia ditandai dengan adanya kemunduran biologis yang terlihat sebagai gejala-gejala kemunduran fisik, antara lain kulit mulai mengendur, timbul keriput, rambut beruban, gigi mulai ompong, pendengaran dan penglihatan berkurang, mudah lelah, gerakan menjadi lamban dan kurang lincah(1).

Proporsi lansia di dunia diperkirakan mencapai 22 persen dari penduduk dunia atau sekitar 2 miliar pada tahun 2020, sekitar 80% lansia hidup di negara berkembang. Rata-rata usia harapan hidup di negara-negara kawasan Asia Tenggara adalah 70 tahun, sedangkan di Indonesia termasuk cukup tinggi yaitu 71 tahun. Jumlah penduduk di 11 negara anggota WHO kawasan Asia Tenggara yang berusia di atas 60 tahun berjumlah 142 juta orang dan diperkirakan

akan terus meningkat hingga 3 kali lipat di tahun 2050. Sedangkan Jumlah lansia di seluruh dunia dapat mencapai jumlah 1 miliar orang dalam kurun 10 tahun mendatang. Pertumbuhan penduduk usia lanjut (lansia) di dunia yang semakin meningkat tersebut diperkirakan akan menjadi masalah baru bagi dunia kesehatan(2).

Word Health Organization kurang lebih

18% penduduk dunia pad meningkat setiap tahunnya dengan keluhan yang sedemikian hebat sehingga menyebabkan tekanan jiwa bagi penderitanya. Pada saat ini diperkirakan 1 dari 3 orang mengalami insomnia. Nilai ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan penyakit lainnya. Prevalensi insomnia di indonesia sekitar 10%. Artinya kurang lebih 28 juta dari total 238 juta penduduk indonesia menderita insomnia(3).

Menurut PP No. 43 tahun 2004, lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun (enam puluh) tahun ke atas. Lansia sendiri merupakan proses universal yang terjadi dari saat ketika seseorang lahir ke dunia. Populasi lansia di dunia dari tahun ke tahun semakin meningkat bahkan pertambahan lansia menjadi yang paling mendominasi apabila dibandingkan dengan pertambahan pp[ulasi penduduk pada kelompok usia lainnya. Data

Word Population Prospects The 2015 Revision,

pada tahun 2015 ada 901.000.000 orang berusia 60 tahun atau lebih yang terdiri dari atas 12% dari jumlah populasi global. Pada tahun 2015 dan 2030, jumlah orang berusia 30 tahun atau lebih diproyeksikan akan tumbuh sekitar 56% dari 901 juta menjadi 1,4 milyar dan pada tahun 2050 populasi lansia diproyeksikan lebih dari 2

(3)

kali lipat di tahun 2015 yaitu mencapai 2,1 milyar(4).

Berdasarkan data proyeksi penduduk, diperkirakan tahun 2017 terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%). Diprediksi jumlah penduduk lansia tahun 2020 (27,08 juta), tahun 2025 (33,69 juta), tahun 2030 (40,95 juta) dan tahun 2035 (48,19 juta)(5). Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah penduduk lanjut usia di atas 60 tahun di Provinsi Sumatera Utara mengalami peningkatan dari sebesar 76.770 jiwa pada tahun 2010 menjadi sebesar 79.400 jiwa lansia pada tahun 2011, sementara pada tahun 2012 jumlah lansia sebesar 82.450 jiwa dan pada tahun 2013 jumlah lansia meningkat menjadi 86.000 jiwa dan pada tahun 2014 jumlah lansia 90.020 jiwa(6).

Berdasarkan Data Dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Humbang Hasundutan, Jumlah penduduk Humbang Hasundutan pada tahun 2017 sebesar 186.694 Jiwa dengan laki-laki sebanyak 93.992 Jiwa dan Perempuan sebanyak 92.072 Jiwa. Jumlah Penduduk tertinggi di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan adalah di Kecamatan Doloksanggul dengan jumlah penduduk sebanyak 48.894 jiwa dan terendah di Kecamatan Sijamapolang sebanyak 5.435 jiwa(7).

Proses degeneratif pada lansia ini menyebabkan waktu tidur efektif semakin berkurang, sehingga tidak mencapai kualitas tidur yang adekuat. Proses degeneratif akan menurunkan produksi hormon, khususnya hormon yang disekresi pada malam hari, sehingga menyebabkan lansia tidak mengantuk dan sulit memulai tidur. Selain faktor proses

degeneratif pada lansia terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kualitas tidur lansia tidak adekuat, antara lain faktor eksternal seperti obat- obatan, kondisi lingkungan (udara dalam ruangan, suara, pencahayaan kamar). Sedangkan untuk faktor internal meliputi psikologis (kecemasan, depresi, stress) dan fisiologis yang meliputi gangguan siklus tidur akibat penyakit misalnya nyeri. Faktor internal lain yang berhubungan dengan kualitas tidur lansia yaitu kecemasan. Hal ini yang menyebabkan lansia mengalami insomnia. Insomnia adalah salah satu gangguan tidur dimana seseorang merasa sulit untuk memulai tidur(8).

Gangguan tidur yang terjadi yaitu lamanya waktu tidur atau kuantitas tidur yang tidak sesuai. Selain itu gangguan tidur yang terjadi berhubungan dengan kualitas tidur seperti tidur yang tidak efektif. Di dunia, angka prevalensi insomnia pada lansia diperkirakan sebesar 13-47% dengan proporsi sekitar 50-70% terjadi pada usia diatas 65 tahun. Di Indonesia, angka prevalensi insomnia pada lansia sekitar 67%. Masalah yang muncul pada lansia yang mengalami insomnia yaitu kesulitaan untuk tidur, sering terbangun lebih awal, sakit kepala di siang hari, kesulitan berkonsentrasi, dan mudah marah. Dampak yang lebih luas akan terlihat depresi, insomnia juga berkontribusi pada saat mengerjakan pekerjaan rumah maupun berkendara, serta aktivitas sehari-hari dapat terganggu(8).

Masalah yang sering muncul ketika seorang lansia kurang tidur maka lansia akan mengalami perasaan bingung, curiga, hilangnya produktivitas kerja, serta menurunya imunitas. Kurang tidur menyebabkan masalah pada

(4)

kualitas hidup lansia, memperburuk penyakit yang mendasarinya, mengubah perilaku, suasana hati menjadi negatif, mengakibatkan kecelakaan, seperti terjatuh, serta kecelakaan dalam rumah tangga. Insomnia juga dapat meyebabkan kematian pada lansia. Gangguan tidur menyerang 50% orang yang berusia 65 tahun atau lebih yang tinggal dirumah dan 66% orang yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang(8).

Keluhan-keluhan tentang masalah tidur menduduki peringkat tinggi diantara masalah- masalah yang berhubungan dengan lanut usia. Oleh karena itu masalah terkait tidur pada lansia penting untuk menjadi perhatian. Pada lansia, kualitas tidur pada malam hari mengalami penurunan menjadi sekitar 70-80% sedikit efektif dari usia dewasa. Tidur sangat penting bagi manusia karena merupakan suatu proses otak yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat berfungsi dengan baik. Masalah tidur yang dialami seseorang dapat mengganggu aktivitas sehari-harinya, bahkan dapat juga mengancam jiwa baik secara langsung (misalnya insomnia yang bersifat keturunan dan fatal serta apnea tidur obstruktif) maupun secara tidak langsung misalnya kecelakaan akibat gangguan tidur. Umur, pola tidur, status kesehatan dapat mempengaruhi tidur. Apabila dibandingkan dengan tidur subyek dengan usia muda, tidur lansia kurang dalam, sering terbangun, dan tidurnya tidak efektif. Perubahan pola tidur membawa dampak secara keseluruhan terhadap kualitas dan kuantitas tidur serta istirahat pada lansia. Beberapa keluhan mengenai kualitas tidur dapat berhubungan dengan proses penuaan

alami, bisa juga sebagai kombinasi dari perubahan karena faktor pada usia lanjut(3).

Hal-hal yang sering timbul karena insomnia, antara lain dampak ringan dan berat. Salah satu dampak ringan dari insomnia yaitu lansia mengalami mengantuk yang berlebihan saat pagi hari, lansia akan mengalami kelelahan sehingga aktivitas yang dilakukan lansia pun terbatas. Sedangkan untuk dampak yang berat pada lansia yang mengalami insomnia adalah berdampak buruk pada kesehatan, karena dapat menyebabkan kerentanan terhadap penyakit, sakit jantung, resiko terkena kanker lebih tinggi pada seseorang yang lama tidurnya lebih dari 9 jam atau kurang dari 6 jam perhari bila dibandingkan dengan seseorang yang lama tidurnya antara 7-8 jam per hari serta dapat menyebabkan kematian(9).

Untuk itu, masalah insomnia pada lansia dapat diatasi dengan mempertahankan kesehatan lansia berupa pola hidup sehat, diantaranya dengan melakukan senam lansia. Senam lansia adalah olahraga ringan yang mudah dilakukan tidak memberatkan, yang dapat diterapkan pada lansia. Senam lansia akan membantu tubuh lansia agar tetap bugar dan segar, karena dengan senam lansia mampu melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja secara optimal, dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran didalam tubuh(9).

Senam lansia dapat merangsang penurunan aktivitas saraf simpatis dan peningkatan aktivitas para simpatis yang berpengaruh pada penurunan hormone adrenalin, norepinefrin dan katekolamin, serta vasodilatasi pada pembuluh darah yang

(5)

mengakibatkan transport oksigen ke seluruh tubuh terutama otak lancar, sehingga dapat menurunkan tekanan darah dan nadi menjadi normal. Pada kondisi ini akan meningkatkan relaksasi lansia. Selain itu sekresi melatonin yang optimal dan pengaruh beta endhorphin akan membantu peningkatan pemenuhan kebutuhan tidur lansia(10).

Insomnia merupakan salah satu gangguan utama dalam memulai dari mempertahankan tidur di kalangan lansia. Insomnia didefinisikan sebagai suatu keluhan tentang kurangnya kualitas tidur yang disebabkan oleh satu dari sulit memasuki tidur, sering terbangun malam kemudian kesulitan untuk kembali tidur,bangun terlalu pagi, dan tidur yang tidak nyenyak. Olah raga terbukti memperbaiki kualitas tidur pada lanjut usia. Salah satu jenis olahraga yang bisa dilakukan pada lansia yaitu senam bugar lansia.Senam bugar lansia disamping memiliki dampak positif terhadap peningkatan fungsi organ tubuh juga berpengaruh dalam meningkatkan imunitas dalam tubuh manusia setelah latihan teratur.Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Taat Sumedi dengan judul “Pengaruh Senam Lansia Terhadap Penurunan Skala Insomnia Di Panti Wredha Dewanata Cilacap tahun 2017”,menunjukkan bahwa dalam penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan

antara Senam Lansia Terhadap Penurunan Skala

Insomnia. Dalam hal ini Senam lansia bisa memberikan perasaan rileks dan kenyamanan saat tidur sehingga kualitas tidur meningkat. Dengan berolahraga terbukti memperbaiki kualitas tidur pada lanjut usia(11).

Salah satu olahraga yang dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan tidur adalah dengan senam lansia secara rutin. Frekuensi latihan yang berguna untuk mempertahankan dan memperbaiki kesegaran jasmani. Latihan fisik atau olahraga tertentu dapat bermanfaat untuk mengatasi gangguan pemenuhan kebutuhan tidur. Hal ini sesuai

dengan hasil penelitian sebelumnya yang

dilakukan oleh Jefri Mahardika yang berjudul “Hubungan Keteraturan Mengikuti Senam Lansia Dan Kebutuhan Tidur Lansia di UPT PSLU Pasuruan At Babat Lamongan 2015”, menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara keteraturan senam lansia dengan pemenuhan kebutuhan tidur lansia. Dalam hal ini senam dapat Meningkatkan Kualitas Tidur Pada Lansia.Senam lansia merangsang penurunan aktivitas saraf simpatis dan peningkatan saraf parasimpatis yang berpengaruh pada penurunan hormone adrenalin, norepinefin dan katekolamin serta vasodilatasi pada pembuluh darah yang mengakibatkan transport oksigen ke seluruh tubuh terutama otak lancar sehingga dapat menurunkan tekanan darah dan nadi menjadi normal. Pada kondisi ini akan meningkatkan relaksasi lansia (12).

Olahraga yang dilakukan secara teratur

dapat memperbaiki kualitas tidur pada

lansia.Aktivitas Fisik yang bermanfaat untuk kesehatan lansia sebaiknya memenuhi kriteria FITT

(Frequency, Intensity, time, type).Frekuensi adalah seberapa sering aktivitas dilakukan, berapa kali dalam satu minggu.Intensitasadalah

seberapa keras aktivitas dilakukan.Waktu

(6)

aktivitas dilakukan dalam suatu pertemuan, sedangkan jenis aktivias adalah jenis-jenis aktivitas fisik yang dilakukan. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zubaidah Rohmawati yang berjudul “Korelasi Antara Frekuensi Senam Lansia Dengan Kualitas Tidur Pada Lanjut Usia Di Panti Social Tresna Wedha Unit Budi Luhur Bantul Yogiakarta 2016”, menunjukkan bahwa dalam penelitian ini terdapat korelasi dan signifikan antara korelasi frekuensi senam lansia dengan kualitas tidur lansia. Dalam hal ini senam lansia dapat dijadikan pengobatan alternatif untuk menurunkan tingkat insomnia(9).

Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan peneliti di Poskesdes Hutasoit I pada tanggal 3 maret 2019 jumlah keseluruhan lansia di Poskesdes Hutasoit I sebanyak 81 Orang dengan

laki-laki sebanyak 21 orang dan perempuan sebanyak 60 orang.Ibu yang mengalami insomnia sebanyak 33 orang. Setelah dilakukan wawancara pada 6 orang lansia, keluhan- keluhan yang paling sering dialami ialah susah tidur pada malam hari, terbangun pada malam hari dan sulit untuk tidur kembali dan ada juga yang mengatakan bangun terlalu pagi. Mereka mengatakan badan menjadi pegal-pegal, mudah lelah, rasa ngantuk yang luar biasa pada siang hari, lansia juga mengatakan bahwa salah satu penyebab sulit tidurnya adalah adanya nyeri yang dialami pada punggungnya.

Dari 6 orang lansia tersebut 4 orang diantaranya mengatakan selalu hadir setiap kali diadakan kelas lansia terutama saat kegiatan senam lansia yang diadakan 3 kali seminggu yaitu pada hari selasa, jumat dan minggu pagi.

Mereka mulai rutin mengikuti kelas lansia sejak < 1 tahun terakhir dan keluhan- keluhan mereka tersebut mulai berkurang. Lansia yang sebelumnya sering terbangun pada malam hari sekarang sudah jarang terbangun tengah malam hari, ibu yang semula akan terbangun jika mendengar suara-suara kecil pada malam hari kemudian tidak bisa kembali tidur, saat ini sudah bisa kembali tidur dengan nyenyak. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Senam Lansia Terhadap Tingkat Insomnia Pada Lansia di Poskesdes Hutasoit I Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2019”.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada bulan februari-mei di Poskesdes Hutasoit I kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan. Dengan teknik pengambilan sampel secara

purpose sampling yaitu teknik pengambilan

sampel berdasarkan kriteria yang telah ditentukan peneliti sebanyak 32 responden terdiri atas 16 case dan 16 control(14).

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quast-eksperiment

Test and Post Test Nonequivalent control Group

yaitu jenis penelitian yang menguji coba sesuatu intervensi pada sekelompok subyek dengan atau tanpa kelompok pembanding. Jenis dan metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Data primer diperoleh dengan menggunakan pembagian kuesioner pada kelompok control dan perlakuan sebelum dilakukan senam. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari badan/institusi yang mengumpulkan data. Dat

(7)

sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari data rekam medik poskesdes hutasoit I Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan. Analisa univarat adalah teknik analisa data dengan menyederhanakan atau memudahkan interpretasi data ke dalam bentuk penyajian baik tekstular maupun tabular menurut variabel yang diteliti. Analisa data ini dilakukan untuk memperoleh distribusi frekuensi dan presentase dari setiap variabel yang diteliti. Analisa data dilakukan dengan cara deskriptif, yaitu melihat presentase data yang terkumpul dan disajikan dalam tabel-tabel distribusi frekuensi, kemudian dilakukan

pembahasan.

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat pengaruh antara variabel independen dan variabel dependent. Variabel yang dianalisa antara lain, pengaruh senam lansia terhadap tingkat insomnia. Untuk menguji pengaruh variabel penelitian tersebut dilakukan uji statistik Wilcoxon Rank Test.

HASIL

Hasil penelitian yang di lakukan oleh peneliti mengenai pengaruh senam lansia terhadap tingkat insomnia di poskesdes hutasoit I Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2019.

Tabel 1.

Distribusi Frekuensi Tingkat Insomnia Sebelum dilakukan Senam Lansia

Tingkat Insomnia Kontrol Perlakuan

f % f %

Tidak Ada Insomnia 0 0 0 0

Insomnia Ringan 1 6,3 2 12,5

Insomnia Sedang 3 18,8 5 31,3

Insomnia Berat 12 75,0 9 56,3

Total 16 100 16 100

Berdasarkan hasil pre-test diketahui bahwa Tingkat Insomnia pada Lansia Sebelum Dilakukan Senam Lansia pada Kelompok Perlakuan adalah tingkat Insomnia Berat sebanyak 9 responden (56,3%), tingkat Insomnia Sedang sebanyak 5 orang (31,3%) dan tingkat Insomnia Ringan sebanyak 2 orang (12,5%). Sedangkan pada Kelompok Kontrol

Tingkat Insomnia Berat Sebanyak 12 orang (75,0%), tingkat Insomnia Sedang sebanyak 3 orang (18,8%) dan tingkat Insomnia Ringan sebanyak 1 orang (6,3%). Dapat dilihat bahwa umumnya Tingkat Insomnia pada Responden yang mengalami Insomnia sebelum dilakukan senam adalah sama dengan tingkat insomnia berat.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Insomnia Sesudah dilakukan Senam Lansia

Tingkat Insomnia Kontrol Perlakuan

f % f %

Tidak Ada Insomnia 0 0 0 0

Insomnia Ringan 1 6,3 10 62,5

Insomnia Sedang 3 18,8 5 31,3

Insomnia Berat 12 75,0 1 6,3

(8)

Berdasarkan tabel 2 setelah dilakukan Senam Lansia selama 2 minggu, dan dilakukan

post-test diketahui bahwa tingkat Insomnia pada

Lansia Terbanyak pada kelompok perlakuan menjadi tingkat Insomnia Ringan sebanyak 10 responden (62,5%), Tingkat Insomnia Sedang sebanyak 5 orang (31,3%) dan Tingkat Insomnia Berat sebanyak 1 orang (6,3%). Sedangkan Tingkat Insomnia terbanyak pada kelompok

Analisis bivariat digunakan untuk melihat apakah ada Pengaruh Senam Lansia

terhadap Tingkat Insomnia

pada Lansia sebelum dan sesudah dilakukan

kontrol yaitu Tingkat Insomnia Berat sebanyak 12 orang (75,0%), Tingkat insomnia Sedang sebanyak 3 orang (18,8%) dan Tingkat Insomnia Ringan sebanyak 1 orang (6,3%). Bila dilihat dari jawaban pre-test dan post-test tingkat Insomnia pada Lansia tampak terjadi penurunan pada kelompok Perlakuan sesudah dilakukan Senam Lansia.

Analisa Bivariat

Senam Lansia. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank Test.

Tabel 3. Pengaruh Senam Lansia terhadap tingkat Insomnia pada Lansia Kelompok Kontrol Perlakuan Sig. Pre-Post Z 1.000 0.000b 0.006 -2.769a

Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa pada kelompok Lansia yang diberikan Perlakuan didapatkan nilai p = 0.006 yang berarti p = < 0.05. Sedangkan pada Lansia kelompok Kontrol didapatkan nilai p = 1.000 yang berarti p = > 0.05. Dapat disimpulkan bahwa ada Pengaruh Senam Lansia terhadap tingkat Insomnia sebelum dan sesudah dilakukan Senam Pada Kelompok Perlakuan di Poskesdes Hutasoit I Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2019.

PEMBAHASAN

Tingkat Insomnia pada Lansia sebelum (Pretest) dilakukan senam Lansia pada kelompok Kontrol dan Perlakuan

Berdasarkan hasil pre-test diketahui bahwa tingkat insomnia pada lansia sebelum

dilakukan senam lansia pada insomnia berat sebanyak 9 responden (56,3%), tingkat insomnia sedang sebanyak 5 orang (31,3%) dan tingkat insomnia ringan sebanyak 2 orang (12,5%). Sedangkan pada kelompok kontrol tingkat insomnia berat sebanyak 12 orang (75,0%), tingkat insomnia sedang sebanyak 3 orang (18,8%) dan tingkat insomnia ringan sebanyak 1 orang (6,3%).

Insomnia merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang hanya sebentar atau susah tidur. Insomnia adalah gangguan tidur yang kesulitan untuk tidur atau mempertahankan tidur pada malam hari(26). Gangguan tidur yang terjadi yaitu lamanya waktu tidur atau kuantitas tidur yang tidak sesuai. Selain itu gangguan tidur

(9)

yang terjadi berhubungan dengan kualitas tidur seperti tidur yang tidak efektif.

Menurut asumsi peneliti dari hasil penelitian sebelum dilakukan senam pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan diketahui bahwa pada umumnya tingkat insomnia yang dialami oleh kedua kelompok adalah sma yaitu tingkat insomnia berat.

Hal ini disebabkan karena belum adanya intervensi berupa senam pada kelompok sehingga tingkat insomnia pada kedua kelompok tersebut sama. Salah satu olahraga yang dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan tidur adalah olahraga. kardiovaskular seperti olahraga senam lansia. Olahraga senam lansia secara teratur akan menjaga keseimbangan homeostasis tubuh dan membawa rasa nyaman, senang, dan bahagia. Dalam kondisi tersebut lansia tidur lebih nyenyak. Dengan demikian terjadi peningkatan kualitas pemenuhan kebutuhan tidur(15).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ernauli Meliyana, bahwa ada pengaruh senam lansia terhadap tingkat insomnia pada lansia, peneliti tersebut mengatakan bahwa tingginya tingkat insomnia pada lansia disebabkan pola tidur atau jadwal tidur yang kurang baik, jauh dari keluarga dan emosional yang tidak seimbang. Keadaan seperti ini membuat lansia merasa terbuang oleh keluarga dan merasa kurang perhatian dari keluarga, hal seperti inilah yang dapat menyebabkan lansia stress dan mengalami kesulitan untuk tidur karena keadaan diri tidak rileks(11).

Perubahan kualitas tidur pada lanjut usia disebabkan oleh kemampuan fisik lansia yang semakin menurun. Beberapa factor yang dapat menyebabkan insomnia pada lansia antara lain

lingkungan, psikologis, stress, penyakit dan gaya hidup.

Tingkat Insomnia pada Lansia setelah (Post- test) dilakukan senam Lansia pada kelompok Kontrol dan Perlakuan

Berdasarkan hasil post-test diketahui bahwa Tingkat Insomnia pada Lansia Setelah Dilakukan Senam Lansia pada Kelompok Perlakuan selama 2 minggu dan dilakukan post-

test diketahui bahwa tingkat Insomnia pada

Lansia Terbanyak pada kelompok perlakuan menjadi tingkat Insomnia Ringan sebanyak 10 responden (62,5%), Tingkat Insomnia Sedang sebanyak 5 orang (31,3%) dan Tingkat Insomnia Berat sebanyak 1 orang (6,3%). Sedangkan tingkat Tingkat Insomnia terbanyak pada kelompok kontrol yaitu tingkat Insomnia Berat sebanyak 12 orang (75,0%), tingkat insomnia sedang sebanyak 3 orang (18,8%) dan tingkat Insomnia Ringan sebanyak 1 orang (6,3%).

Senam lansia adalah suatu bentuk latihan fisik yang memberikan pengaruh baik terhadap

tingkat kemampuan fisik manusia, bila

dilaksanakan dengan baik dan benar. Senam atau latihan fisik sering diidentifikasikan sebagai suatu kegiatan yang meliputi aktifitas fisik yang teratur dalam jangka waktu dan intensitas tertentu. Senam lansia merupakan olahraga ringan, mudah dan aman dilakukan. Senam lansia ini sudah memiliki standar gerakan dan diakui untuk dilakukan pada lansia(16). Menurut Daniel M. Landers mengatakan bahwa cukup dengan menggerakkan tubuh selama 10 menit setiap hari kesehatan mental akan meningkat cepat. Selain itu daya pikir akan bertambah jernih dan yang menggembirakan dapat

(10)

mengurangi ketegangan (stress) serta perasaan menjadi lebih riang (14).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ethyca Sari, bahwa ada pengaruh senam lansia terhadap tingkat insomnia pada lansia, adanya perubahan tingkat insomnia kearah yang lebih baik setelah dilakukan senam lansia sehingga secara perlahan senam lansia akan digunakan para responden sebagai terapi alternative non farmakologi dalam menurunkan tingkat insomnia yang mereka alami.(13)

Menurut asumsi peneliti dari hasil penelitian setelah dilakukan senam pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan diketahui bahwa terjadi penurunan Tingkat Insomnia pada kelompok Perlakuan sesudah dilakukan Senam Lansia. Hal ini karena responden benar-benar melakukan serangkaian intervensi dengan baik, maka manfaat senam lansia secara langsung didapatkan oleh responden. Antusiasme responden mengikuti senam lansia yang yang dilaksanakan selama 2 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu diikuti secara teratur dari awal hingga akhir pelaksanaan senam. Penurunan derajat insomnia ini juga dikarenakan karena adanya efek dari perlakuan senam yang bisa memberikan rileks dan kenyamanan saat tidur sehingga kualitas tidur meningkat.

Senam lansia dapat merangsang penurunan aktivitas saraf simpatis dan peningkatan aktivitas para simpatis yang berpengaruh pada penurunan hormone adrenalin, norepinefrin dan katekolamin, serta vasodilatasi pada pembuluh darah yang mengakibatkan transport oksigen ke seluruh tubuh terutama otak lancar, sehingga dapat

menurunkan tekanan darah dan nadi menjadi normal. Pada kondisi ini akan meningkatkan relaksasi lansia. Selain itu sekresi melatonin yang optimal dan pengaruh beta endhorphin akan membantu peningkatan pemenuhan kebutuhan tidur lansia(10).

Menurut William P. Morgan olahraga dapat menurunkan stress karena disaat jantung bekerja pada saat berolahraga, maka secara otomatis konsentrasi pikiran tidak akan terfokus pada urusan pekerjaan lagi. Selain dapat mengalihkan pikiran, olahraga yang rutin dapat meningkatkan ketahanan kardiovaskular, sehingga nantinya dapat bersikap tidak terlalu berlebihan dalam menyikapi suatu masalah. Olahraga terbukti manjur dalam meningkatkan hormone penumbuh rasa bahagia dalam otak, seperti adrenalin, serotonin, dopamine dan endorphin yang merupakan pembunuh nomor satu penyakit hati(16).

Pengaruh Senam Lansia terhadap Tingkat Insomnia pada Lansia

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon

signed rank test menunjukkan nilai asymp-sign (2 tailed) 0.006 < 0,05 sehingga dapat diketahui

bahwa senam lansia berpengaruh terhadap tingkat Insomnia pada lansia sebelum dan sesudah dilakukan Senam. Sedangkan pada kelompok Kontrol diketahui nilai asymp-sign (2

tailed) 1.000 > 0,05 sehingga dapat diketahui

bahwa senam lansia tidak berpengaruh terhadap tingkat Insomnia pada lansia sebelum dan sesudah dilakukan Senam.

Olahraga terbukti memperbaiki kualitas tidur pada lanjut usia. Dengan berolahraga

(11)

diharapkan dapat tidur lebih cepat, lebih jarang terbangun dan tidur lebih dalam(16). Senam Lansia adalah aktivitas olahraga ringan dilakukan oleh Lansia serta tidak memberatkan. Aktivitas olahraga ini akan membantu tubuh lansia agar tetap bugar dan tetap segar, karena senam lansia ini mampu melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja secara optimal dan mampu membantu menghilangkan radikal bebas yang berkaitan dalam tubuh. Senam lansia merangsang penurunan aktivitas saraf simpatis dan peningkatan aktivitas parasimpatis yang berpengaruh pada penurunan hormone adrenalin, norepinefrin dan katekolamin serta vasodilatasi pada pembuluh darah yang mengakibatkan transfor oksigen ke seluruh tubuh terutama otak menjadi lancar sehingga dapat menurunkan tekanan darah dan nadi menjadi normal. Pada kondisi ini akan meningkatkan relaksasi Lansia. selain itu, sekresi melatonin yang optimal dan pengaruh beta endorphin dan membantu peningkatan pemenuhan kebutuhan tidur lansia(19).

Menurut asumsi peneliti ada pengaruh senam lansia terhadap penurunan tingkat insomnia pada saat sebelum dilakukan senam didapatkan dari 16 responden, diantaranya 2 responden mengalami penurunan tingkat insomnia yaitu dari tingkat insomnia ringan menjadi insomnia sedang. Hal ini dikarenakan responden kurang serius pada saat melakukan senam, lansia tidak melakukan senam sesuai dengan gerakan – gerakan yang ada pada senam lansia tersebut. Dari 16 responden tersebut didapatkan 3 responden berada pada tingkat insomnia yang menetap yaitu 2 responden pada tingkat insomnia sedang dan 1 responden pada

tingkat insomnia berat. Hal ini dikarenakan responden sudah melakukan senam dengan baik tetapi responden memiliki beban pikiran sehingga walaupun responden telah melakukan senam dengan baik tingkat insomnia responden menetap, tidak mengalami perubahan. Dari 16 responden tersebut didapatkan lansia yang mengalami peningkatan tingkat insomnia sebanyak 11 responden, yaitu 7 responden dari insomnia berat menjadi insomnia ringan, 3 responden dari tingkat insomnia sedang menjadi insomnia ringan dan 1 responden mengalami peningkatan tingkat insomnia dari insomnia berat ke tingkat insomnia menjadi insomnia sedang. Hal ini diketahui bahwa efektifitas senam lansia sangat mempengaruhi tingkat insomnia pada lansia, terlebih senam dilakukan sesuai prosedur yang terdiri dari gerakan pemanasan, inti dan pendinginan. Senam dilakukan dalam waktu 2 minggu dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu karena idealnya pelaksanaan senam lansia adalah 2-3 kali dalam seminggu sehingga akan memberikan dampak yang baik bagi tubuh. Sehingga lansia dapat tidur dengan baik dan terjadi penurunan tingkat insomnia pada lansia.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Famelia Yurintika, bahwa ada pengaruh senam lansia terhadap kualitas tidur pada lansia yang insomnia, peneliti mengatakan senam dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia hal ini karena responden benar-benar melakukan serangkaian intervensi dengan baik, maka manfaat senam secara langsung didapatkan oleh responden(9).

Hal ini sejalan dengan teori kuntaraf, senam bugar untuk lanjut usia sebaiknya dilakukan selama 2 sampai 3 kali perminggu

(12)

dalam waktu berselang karena hari lain digunakan untuk istirahat agar tubuh memiliki kesempatan melakukan recovery (pemulihan) tenaga. Senam bugar lansia dapat dilakukan selama 30 menit. Senam lansia yang dilakukan 6 sampai 7 kali perminggu atau tiap hari tidak dianjurkan karena tubuh memerlukan pemulihan yang cukup untuk menjaga kesegaran fisik sebelum melakukan senam, lansia tidak boleh dalam keadaan lapar ataupun terlalu kenyang selain itu senam sebaiknya dilakukan pada pagi hari(19).

Hal ini sesuai dengan yang dilakukan oleh peneliti, senam dilaksanakan selama 2 minggu dengan frekuensi 3x seminggu yaitu pada hari selasa, jumat dan minggu pagi. Sehingga tingkat insomnia pada lansia mengalami penurunan. Senam dapat memunculkan keadaan tenang dan rileks pada lansia sehingga membuat lansia dapat beristirahat dan tertidur.

KESIMPULAN

Ada pengaruh senam lansia terhadap tingkat insomnia pada lansia di Poskesdes Hutasoit I dengan nilai p = 0.006 yang berarti p = < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga ada pengaruh senam lansia terhadap penurunan tingkat insomnia pada lansia di Poskesdes Hutasoit I Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2019.

SARAN

1. Diharapkan lansia yang berada di wilayah poskesdes hutasoit I ikutserta dalam mengikuti senam lansia dalam mencegah terjadinya insomnia pada lansia.

2. Bidan desa diharapkan dapat menggerakkan lansia dengan memberikan penyuluhan kepada lansia tentang manfaat senam lansia sehingga lansia ikut berpartisipasi aktif dalam kelas lansia terutama pada saat dilaksanakannya senam lansia.

3. Bagi Institusi Pendidikan diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai dokumentasi di perpustakaan dan bahan bacaan bagi mahasiswa kebidanan tentang pengaruh senam lansia terhadap tingkat Insomnia pada Lansia.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian selanjutnya dengan mengembangkan variabel-variabel lain yang lebih mendukung agar mendapatkan hasil yang lebih baik.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada bidan B. Silaban yang telah mengijinkan untuk mengadakan penelitian di Poskesdes Hutasoit I yang berjudul tentang Pengaruh Senam Lansia Terhadap Tingkat Insomnia Pada Lansia. Serta kepada seluruh responden yang telah bersedia menjadi responden untuk saya observasi.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

1. Isamas. Prevalensi Lansia di Dunia. 2014; Available from: isamas54.blogspot.co m

2. Kemenkes. Indofatin Pusat Data dan Informa si Kesehatan RI Situasi dan Analisis Usia Lanjut. Kemenkes RI [Internet]. 2016; Available from: www.pusdatin.kemkes.go.id 3. M.A Zainaro. Pemeriksaan, Perawatan dan

Senam Lansia. Kreat Pengabdi Kpd masyarakiat. 2014;1.

4. Riyandi S, Dkk. Kebutuhan Dasar Manusia Aktivitas Istirahat Diagnosis Nanda. I. Yogiakarta: Gosyen Publishing; 2015.

5. RI K.Situasi Lansia Di Indonesia Tahun 2017 [Internet]. Jakarta Selatan; 2017. Available from: www.depkes.go.id

6. Syapitri H. Puskesmas Rantang Medan Program Studi Ners Universitas Sari Mutiara. Keperawatan [Internet]. 2014; Available from: e-journal.sari-mutiara.ac.id

7. Dinas Kesehatan Humbang Hasundutan. Prof il Kesehatan Humbang Hasundutan. 2017; Available from: www.depkes.go.id

8. Priyoto. NIC dalam Keperawatan Gerontik. Lestari P puji, editor. Jakarta Selatan: Salemba Medika; 2016.

9. Yurintika F. Pengaruh Senam Lansia Terhadap Kualitas Tidur Pada Lansia Yang Insomnia Tahun 2015. JOM [Internet]. 2015;2. Available from: digilib.unisayogya.a c.id

10. Sutanto Priyo Hastono. Analisis Data pada Bidang Kesehatan. 1st ed. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada; 2016.

11. Meliana E. Pengaruh Senam Lansia terhada p Tingkat Insomnia pada Lansia di Yayasan Bina Bhakti Sasana Tresnawherda Caritas B ekasi. Malahayati Nurs J [Internet]. 2019;1. Available from: ejurnalmalahayati.ac.id 12. Syofian Siregar. Statistik Parametrik Untuk

Penelitian Kuantitatif. 1st ed. Fandy Hutari, editor. Jakarta: PT. Bumi Aksara; 2016. 13. Sumedi T, Wahyudi, Kuswati A. Pengaruh

Senam Lansia Terhadap Penurunan Skala Insomnia Pada Lansia di Panti Wredha Dewanata Cilacap. J Keperawatan Soedirman

[Internet]. 2016;5(1). Available from: jks.fikes.unsoed.ac.id

14. Padila. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. 1st ed. 1SNA1, editor. Yogiakarta: Nuha Medika; 2016.

15. Abdul Muhit D. Pendidikan Keperawatan

Gerontik. 2nd ed. Siyoto S, editor. Bekasi: PT. Grafiti Press; 2015. 1 p.

16. Sharma T. Senam Kebugaran Usia Lanjut. 2014; Available from: trieeanjaali.blogspot.c om

17. A. Hidayat, dkk. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. 2nd ed. A. Susila, editor. Jakarta Selatan: Salemba Medika; 2015.

18. A. Prayitno. Gangguan Pola Tidur pada Kelompok Usia Lanjut dan Penatalaksanaan nya. Ilmu Kesehat Jiwa [Internet]. 2015;21. Available from: https://s3.amazonaws.com 19. Rohmawati Z. Korelasi Antara Frekuensi

Senam Lansia dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia di Panti Sosial Tresna Werdha Unit Budi Luhur Bantul Yogyakarta. Progr Stud Ilmu Keperawatan Sekol Tinggi Ilmu Kesehat ’Aisyiyah Yogyakarta [Internet].201 4; Available from: digilib.unisayogya.ac.id

Referensi

Dokumen terkait

Karena pada MI Muhammadiyah 2 Kedung Banteng sering menggunakan metode ceramah pada pelajaran IPA materi suhu dan energi panas maka guru dan siswa memiliki banyak kendala,

b) Mensosialisikan produk tahap awal untuk mendapatkan timbal balik. Memberikan penjelasan penggunaan dan manfaat penggunaan aplikasi kepada para pegawai di Bagian Anggaran dan

Dalam  hal  pembentukan  personal  leadership  siswa,  penting  sekali  keberadaan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal, kedua pendekatan  kecerdasan 

 Perilaku Manajemen yang semakin profesional Pemilihan tools HIRARC (Hazard Identification Risk Assesment and Risk Control) digunakan untuk mengidentifikasi risiko

Masjid sebagai tempat beribadah dan tempat berkumpul umat muslim tentunya memiliki dana yang tidak bisa dikatakan sedikit untuk dikelola dengan maksimal sehingga pemanfaatan

Tokoh cerita (Character), menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (2007: 165) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama, yang oleh pembaca

Buku Statistik Dinas Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2015 ini merupakan Data dan Informasi yang dituangkan dalam Tabel Permenhut

Terkait dengan upaya peningkatan pengetahuan kader mengenai kesehatan gigi dan mulut balita, perlu dikaji lebih lanjut pengaruh pelatihan dengan metode collaborative