P P A T K
AML
NEWS
Clipping Service
Anti Money Laundering
29
Juli
2011
Indeks
1. PPATK : Ada 144 Laporan Transaksi Nazaruddin
2. PPATK Temukan 1600 Transaksi Keuangan Terkait Korupsi
3. Bank Jangan Takut Laporkan Rekening Pejabat
4. Suap Wisma Atlet
Jaksa tolak keberatan Rosa dan El Idris
5. Dugaan Korupsi
Empat puluh empat anggota DPR Papua Barat jadi tersangka
6. Sidang Tipikor
Mantan Sesmenko Kesra dituntut 6 tahun
7. Dugaan Suap
Penyidik Pidsus Periksa Sekda Kolaka
8. Korupsi APBD Langkat
Syamsul Arifin dituntut 5 tahun penjara
9. Korupsi Alkes Flu Burung
KPK sita Rp 200 juta dari Emir Muis
10. Korupsi Flu Burung
Eks Sekretaris Menko Kesra dituntut 6 thaun penjara
Vivanews.comPPATK: Ada 144 Laporan Transaksi Nazaruddin
"Perusahaannya itu lebih dari 150, jumlahnya banyak sekali," kata Ketua PPATK Yunus Husein
VIVAnews - Pusat Pelaporan Transaksi Keuangan (PPATK) menyatakan untuk mengungkap tuntas aliran dana terkait kasus mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin, tidak bisa hanya mengandalkan pihaknya saja. Pasalnya, segala transaksi tidak selalu melalui sistim keuangan industri perbankan.
"Transaksi kan tidak melulu melalui bank. Kalau saya kasih anda uang tunai kan tidak lewat bank. Siapa yang tahu? Hanya berdua yang tahu kan," kata Kepala PPATK, Yunus Husein, di sela acara penandatanganan MoU Kerjasama Kajian Anti Pencucian Uang Indonesia di Gedung BI, Jakarta, Jumat 29 Juli 2011.
Sejauh ini yang diketahui pihaknya, lanjut Yunus, laporan aliran dana Nazaruddin sebanyak 144 buah. Dan, sebagian besar laporan tersebut menuju ke perusahaan. "Perusahaannya itu lebih dari 150, jumlahnya banyak sekali. Jadi yang atas nama orang (pribadi) itu hanya beberapa, sekitar 10-an," imbuhnya.
Oleh sebab itu untuk mengungkap tuntas aliran dana ini, tambahnya, pihak berwajib haruslah menanyakan langsung kepada pihak-pihak terkait dalam hal ini Nazaruddin dan juga para saksi. Atau cara lainnya ialah dengan melihat dari alat bantuk
elektronik yang terdapat pada lokasi transaksi.
"Yang tunai-tunai tanya orangnya, tanya saksi-saksinya. Mungkin ada rekaman CCTV segala macem lah peralatannya. Karena tidak lewat sistem industri perbankan," katanya.
Dalam berbagai kesempatan kepada VIVAnews.com, Nazaruddin membantah keras menerima uang dari proyek apapun. Dia menyebut sejumlah orang sengaja
menjebaknya dan mengorbankannya.
Detik.com
PPATK Temukan 1.600 Transaksi Keuangan Terkait Korupsi
Jakarta - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah menerima 78.000 laporan transaksi mencurigakan terkait Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) sejak tahun 2002 hingga saat ini. Dari jumlah itu, sebanyak 1.600 dari laporan tersebut berhubungan dengan korupsi.
"Kita terima 74 ribu laporan sejak 2002. Jika dilihat hampir 30 laporan per harinya," kata Kepala PPATK Yunus Husein di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (29/07/2011).
Dikatakan Yunus, sebanyak 1.600 laporan tersebut diindikasikan menggunakan 'memutarkan' uang hasil korupsi. "Sebanyak itu juga menggunakan data palsu. Jadi identitasnya palsu semua," tuturnya.
Lebih jauh Yunus meminta seluruh bank dan jasa keuangan untuk selalu melaporkan kepada PPATK terkait apapun yang mencurigakan di rekening setiap orang. Tidak pandang bulu, Yunus meminta bank berani untuk melaporkannya walaupun pejabat sekalipun.
"Jadi kita minta bank lapor. Kan bank ada hak ini dan jadi kewajiban bagi seluruh bank untuk melaporkannya. Tidak usah takut walau rekening pejabat sekalipun," jelas Yunus.
Ditempat yang sama Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad mengatakan isu pencucian uang memang sudah menjadi isu global yang di G-20.
"Kita harus aware dengan pencucian uang karena berimplikasi sangat luas. Ini perlu diwaspadai karena menyangkut kepercayaan sebuah negara," katanya.
Menurut Muliaman, bank sendiri yang menampung seluruh dana nasabah kebanyakan harus mampu berkoordinasi dan bekerjasama dengan PPATK.
"BI terus mendorong bank untuk bekerjasama dengan PPATK. Bank wajib melaporkan transaksi mencurigakan dengan segera," tukasnya.
Pusat Kajian Anti Pencucian Uang
Bank Indonesia (BI), Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan
Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) membentuk Pusat Kajian Anti Pencucian Uang Indonesia. Pendirian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam penanganan kasus dan permasalahan terkait pencucian uang dan pencegahan terorisme.
"Kerjasama ini merupakan wujud keseriusan BI dan PPATK mencegah praktek pencucian uang di Indonesia terutana perbankan," ujar Muliaman.
Ditambahkan Muliaman, dengan adanya peran FHUI sebagau akademisi akan nenjadi penting untuk menjaga kesinambungan Strategi Nasional yang dicanangkan
pemerintah.
Naskah kerjasama ini disusun dengan pertimbangan kepentingan nasional yang telah disusun dalam Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme yang disepakati bersama.
"Diharapkan stabilitas perekonomian dan integritas sistem keuangan dapat terjaga dengan baik, melalui koordinasi yang erat antara berbagai lembaga/instansi terkait," tambahnya.
Nantinya, sambung Muliaman Pusat Kajian Anti Pencucian Uang akan berada di Gedung FHUI di Depok. Diharapkan seluruh masyarakat dan instansi dapat terbantukan terkait seluruh isu mengenai pencucian uang.
(dru/qom) Vivanews.com Jumat, 29 Juli 2011 PPATK:
Bank Jangan Takut Laporkan Rekening Pejabat
"PPATK menerima 75 ribu laporan sejak 2002. Jika dilihat hampir 30 laporan per hari.
VIVAnews- Industri perbankan dan jasa keuangan diminta berani melaporkan transaksi keuangan mencurigakan kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Laporan mencurigakan itu termasuk milik pejabat.
"Kan bank ada hak ini dan kewajiban bagi seluruh bank untuk melaporkannya. Tidak usah takut walau rekening pejabat sekalipun," kata Kepala PPATK, Yunus Husein, di acara penandatanganan MoU Kajian Anti Pencucian Uang Indonesia di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat 29 Juli 2011.
transaksi mencurigakan terkait tindak pidana pencucian uang (TPPU). Dari jumlah laporan itu tercatat sebanyak 1.600 berhubungan dengan korupsi.
"Kami terima 75.000 laporan sejak 2002. Jika dilihat hampir 30 laporan per harinya," kata Yunus.
Dari 1.600 laporan itu, terindikasi praktik pencucian uang yang menggunakan dana hasil korupsi untuk menghilangkan jejak. Pelaku menggunakan data palsu."Jadi indentitasnya palsu semua," kata Yunus. (ren)
• VIVAnews
Cetak.kompas.com kamis, 28 Juli 2011 SUAP WISMA ATLET
Jaksa Tolak Keberatan Rosa dan El Idris
Jakarta, Kompas - Jaksa penuntut umum menolak keberatan terdakwa Mindo Rosalina Manulang dan Mohammad El Idris pada sidang terpisah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (27/7). Selanjutnya, jaksa meminta majelis hakim melanjutkan persidangan perkara suap wisma atlet SEA Games Palembang. ”Menolak keberatan yang diajukan tim kuasa hukum, menetapkan surat dakwaan telah memenuhi syarat formal dan materiil,” kata Jaksa Agus Salim saat membacakan tanggapan atas eksepsi terdakwa Rosalina atau biasa dipanggil Rosa, Direktur
Pemasaran PT Anak Negeri.
Dalam sidang terpisah, hal senada disampaikan Jaksa Rachmat Supriady saat membacakan tanggapan atas eksepsi terdakwa El Idris, Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah. ”Surat dakwaan telah disusun dengan cermat, tempat dan waktu sudah jelas,” kata Rachmat.
Dalam eksepsinya, Rosalina mempertanyakan soal identitasnya yang disebut sebagai marketing PT Anak Negeri; uraian dakwaan tidak cermat; mencantumkan nama Muhammad Nazaruddin dalam dakwaan, sementara yang bersangkutan belum pernah diperiksa; dan tindakan bersama-sama melakukan penyuapan.
Menurut jaksa, semua yang disampaikan tim kuasa hukum terdakwa Rosalina itu tidak benar dan perlu dibantah. Soal identitas tersangka, misalnya, jaksa menyebut, saat sidang hal itu sudah ditanyakan majelis hakim dan dibenarkan terdakwa. Soal anggapan ketidakcermatan yang diajukan kuasa hukum, jaksa menyatakan, dakwaan
telah menguraikan dengan jelas dan cermat. Dakwaan sudah menggambarkan peristiwa dan perbuatan pidana yang didakwakan.
”Penggambaran hal-hal yang bersifat detail itu nanti akan dilihat dalam pembuktian, tidak perlu dibeberkan dalam di surat dakwaan,” kata Agus.
Dalam sidang dengan terdakwa El Idris, jaksa menyatakan, surat dakwaan telah disusun dengan cermat. Jaksa juga menilai dakwaan sudah jelas. Mengenai peranan masing-masing seperti yang disebut dalam dakwaan akan dibuktikan di
persidangan.
Rosalina dan El Idris ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama Sekretaris Kemenpora Wafid Muharam pada April lalu. Dalam penangkapan itu, KPK menyita tiga lembar cek senilai Rp 3,2 miliar yang diduga suap terkait pembangunan wisma atlet SEA Games di Palembang. Dalam kasus korupsi pembangunan wisma atlet, KPK juga menetapkan anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Nazaruddin, sebagai tersangka. (RAY)
Cetak.kompas.com kamis, 28 Juli 2011 DUGAAN KORUPSI
44 Anggota DPR Papua Barat Jadi Tersangka
Manokwari, Kompas - Kejaksaan Tinggi Negeri Papua menetapkan 44 anggota DPR Papua Barat periode 2009-2014 menjadi tersangka kasus dugaan korupsi
penyalahgunaan uang negara senilai Rp 22 miliar. Dana yang seharusnya untuk kepentingan Pemerintah Provinsi Papua Barat malah dipakai untuk kepentingan pribadi.
Kepala Kejaksaan Negeri Manokwari Paryono, Rabu (27/7), mengatakan, pihaknya bersama Kejati Papua sedang menangani kasus korupsi yang melibatkan 44 anggota DPR Papua Barat. Mereka diduga menggunakan uang dari perusahaan daerah milik pemerintah provinsi untuk kepentingan pribadi. Total dana yang digunakan dari dua tahun anggaran, 2010 dan 2011, adalah Rp 22 miliar.
”Seperti dinyatakan oleh Pak Kajati, 44 anggota Dewan sudah ditetapkan jadi tersangka. Tapi untuk dapat dimintai keterangan, Kejati Papua masih menunggu surat izin dari Menteri Dalam Negeri,” kata Paryono.
Dana yang dimaksud adalah dana APBD yang dialokasikan ke perusahaan daerah milik pemprov tahun 2010 dan 2011. Karena dananya menganggur dan belum digunakan untuk pembelian aset akhirnya Dewan mengajukan peminjaman. Hingga kini, sudah ada lima saksi yang dimintai keterangan, dari direksi perusahaan daerah serta pejabat pemerintahan provinsi.
Di tempat terpisah, sejumlah anggota Dewan Papua Barat mengaku terkejut mendengar kabar itu. Anggota Komisi C, Yance Yomaki, keberatan dengan pernyataan Kajati Papua Leo RT Panjaitan yang menyebutkan 44 anggota Dewan sebagai tersangka korupsi. Selama ini dia dan anggota Dewan lainnya belum pernah dipanggil atau dimintai keterangan oleh kejaksaan terkait tuduhan semua anggota Dewan terlibat korupsi.
Dia mengakui, tahun 2010, Ketua DPR PB Yosep Johan Auri memberi pinjaman kepada sejumlah anggota Dewan untuk biaya pembangunan rumah anggota Dewan. Saat itu, banyak anggota Dewan dari kabupaten di luar Manokwari yang belum memiliki rumah di Manokwari. Dana itu tidak diketahui asalnya.
Diancam 20 tahun
Sementara itu, setelah dua tahun diusut akhirnya Bupati Aceh Utara Ilyas A Hamid, Rabu, mulai disidang sebagai terdakwa dalam perkara dugaan korupsi kas daerah Kabupaten Aceh Utara dengan kerugian negara Rp 220 miliar di Pengadilan Negeri Banda Aceh.
Selain Ilyas, PN Banda Aceh juga mulai menyidangkan Wakil Bupati Aceh Utara
Syarifuddin dalam perkara sama. Meskipun sudah berstatus terdakwa, kedua pejabat itu belum ditahan. Bahkan, keduanya kini kembali mencalonkan diri secara terpisah sebagai Bupati Aceh Utara periode 2012-2017 dalam pilkada 2011.
Ilyas dan Syarifuddin diancam hukuman penjara maksimal 20 tahun. Menurut jaksa Soufnir Chibro, keduanya diadili dalam kasus pembobolan kas daerah yang
didepositokan di Bank Mandiri Cabang Jelambar, Jakarta Barat. (THT/HAN) Suarakarya-online.com
Rabu, 27 Juli 2011 SIDANG TIPIKOR
Mantan Sesmenko Kesra Dituntut 6 Tahun
JAKARTA (Suara Karya): Mantan Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Sesmenko Kesra) Sutedjo Juwono dituntut jaksa penuntut umum pada Komisi
Pemberantasan Korupsi (JPU KPK) agar dijatuhi hukuman pidana penjara selama enam tahun.
Tuntutan itu disampaikan JPU KPK dipimpin Muhammad Rum di hadapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang diketuai Tjokorda Rai Suamba, kemarin (27/7).
"Terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi sesuai dengan Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 KUHP," kata Rum saat membacakan nota tuntutannya.
Selain pidana penjara, Sutedjo juga harus membayar denda Rp 300 juta yang bisa diganti dengan hukuman kurungan selama empat bulan. Sutedjo juga harus mengganti kerugian keuangan negara Rp 5 miliar.
Uang yang merupakan pemberian PT Bersaudara itu sudah diserahkan Sutedjo kepada penyidik KPK sebelum sidang dilaksanakan.
Dalam pertimbangannya, JPU menilai Sutedjo telah menunjuk PT Bersaudara sebagai rekanan pengadaan alat kesehatan penanggulangan wabah flu burung pada 2006 tanpa rekomendasi menteri.
Pada persidangan lainnya, Pengadilan Tipikor juga mendengarkan tuntutan terhadap Gubernur Sumatera Utara nonaktif Syamsul Arifin.
JPU menuntut Syamsul agar dihukum penjara selama lima tahun dan denda Rp 500 juta yang bisa diganti dengan hukuman kurungan selama enam bulan.
JPU menilai Syamsul terbukti bersalah melakukan korupsi uang APBD Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Langkat ketika dirinya masih menjabat bupati daerah itu. "Menuntut majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan menghukum terdakwa selama lima tahun penjara," ujar JPU Muhibuddin di
persidangan.
Syamsul dinilai terbukti melanggar dakwaan primer yaitu Pasal 2 ayat 1 dan dakwaan subsidair yaitu Pasal 3 UU Pemberantasan Korupsi Nomor 20 tahun 2001 junto Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.
Persidangan pembacaan tuntutan terhadap Syamsul terbilang cukup singkat, yaitu hanya 30 menit. Penuntut Umum sesuai perintah Majelis Hakim yang diketuai Tjokorda Rae Suamba tidak membacakan seluruh isi tuntutan yang tebalnya mencapai 1.726 halaman, melainkan hanya hal yang dianggap penting saja. Permintaan mempersingkat persidangan tersebut setelah majelis hakim mempertimbangkan kondisi kesehatan Syamsul yang belum pulih benar dari penyakit jantung.
Dokter Sutrisno yang mendampingi Syamsul menyatakan bahwa terdakwa paling lama hanya sanggup mengikuti sidang selama satu jam.
Dalam uraiannya, Penuntut Umum menjelaskan, terdakwa telah menggunakan uang kas daerah Pemkab Langkat tahun anggaran 2000-2007 untuk kepentingan pribadi orang lain dan keluarganya yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 98,7 miliar.
"Terdakwa terbukti melakukan kesalahan, ada kesengajaan terdakwa berkehendak menggunakan kas daerah untuk kepentingan pribadi, orang lain dan keluarganya. Bahwa menggunakan kas daerah untuk kepentingan pribadi tidak dianggarakan," ujar Muhibuddin.
Terdakwa memerintahkan anak buahnya di Pemkab Langkat untuk mengeluarkan uang kas daerah selama periode 2000-2007. Uang itu lalu dibagi-bagikan kepada pihak lain seperti beberapa perusahaan dan 43 anggota DPRD yang berupa sebuah mobil.
Terhadap Syamsul juga dikenakan wajib membayar kerugian keuangan negara sebesar Rp 8,4 miliar yang merupakan hasil pengurangan dari total kerugian negara Rp 98,7 miliar dikurangi uang yang sudah dikembalikan sebesar Rp 90 miliar, dimana Rp 80 miliar di antaranya merupakan pengembalian dari terdakwa.
Adapun hal-hal yang memberatkan yang menjadi pertimbangan terhadap Syamsul yaitu perbuatan Syamsul dianggap tidak mendukung upaya pemerintah dalam memberantas korupsi dan selaku kepala daerah tidak memberi contoh yang baik. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa dianggap kooperatif sehingga tidak menyulitkan pemeriksaan maupun persidangan dan juga karena sudah
mengembalikan uang hasil korupsi tersebut. (Nefan Kristiono) Suarakarya-online.com
Rabu, 27 Juli 2011 DUGAAN SUAP
Penyidik Pidsus Periksa Sekda Kolaka
JAKARTA (Suara Karya): Penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Selasa, memeriksa Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Kolaka, Ahmad Syafei, sebagai saksi untuk tersangka Bupati Kolaka, Sulawesi Tenggara, Buhari Matta. Pemeriksaan dilakukan terkait perkara dugaan penyalahgunaan jabatan dalam mengeluarkan surat izin kuasa pertambangan (KP) di areal Kawasan Konservasi Taman Wisata Laut, Pulau Lemo dengan tidak menggunakan izin dari Menteri Kehutanan.
"Pemeriksaan terhadap Sekda Pemkab Kolaka itu berlangsung sejak Selasa (26/7) pagi," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Noor Rachmad.
Ia mengatakan, tim penyidik Pidsus yang memeriksa sekda tersebut dipimpin oleh Jaksa Sigit.
Sebelumnya, Noor Rachmad mengatakan, Kejagung menetapkan pula rekanan dalam proyek tersebut sebagai tersangka, yakni AS.
Dijelaskan, penetapan tersangka terhadap Bupati Kolaka itu karena diduga telah menerima suap dari rekanan untuk izin pertambangan sebesar Rp 5 miliar.
Kasus itu sendiri bermula saat dikeluarkannya surat izin KP untuk biji nikel di areal kawasan konservasi di Pulau Lemo oleh PT Inti Jaya atas dasar surat bernomor 146 Tahun 2007 tertanggal 28 Juni 2008 yang dikeluarkan oleh Bupati Kolaka.
Izin KP itu sendiri tidak berlandaskan izin dari Menteri Kehutanan hingga kebijakan dengan mengeluarkan surat izin tersebut dinilai inkonstitusional.
KP yang dikeluarkan Buhari sempat mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat dan pemerhati lingkungan sejak 2008. Penolakan itu didasarkan atas status Pulau Lemo karena masuk kawasan hutan konservasi.
Namun, status kawasan hutan konservasi tidak menghentikan penambangan. Sambil menunggu izin pinjam yang diusulkan ke Menteri Kehutanan yang saat itu dijabat MS Kaban, pengerukan nikel terus dilakukan.
Melalui surat Nomor : S. 510/MENHUT-VII/2007 tanggal 7 Agustus 2007, Kaban akhirnya menjawab surat usulan pinjam pakai Buhari Matta Nomor 522/1417 tanggal 7 Mei 2007. Menhut menyatakan menolak adanya aktivitas penambangan di Pulau Lemo.
Sementara itu, Direktur Penyidikan pada Jampidsus Jasman Panjaitan menyatakan pihaknya segera menetapkan tersangka dalam kasus dugaan korupsi dalam
penyewaan pesawat MA-60 PT Merpati Nusantara Airlines. Penetapan tersangka akan dilakukan setelah tim penyidik melakukan ekspos (gelar perkara). (Jimmy Radjah) Detik.com
Selasa, 26 Juli 2011 Korupsi APBD Langkat
Syamsul Arifin Dituntut 5 Tahun Penjara
Jakarta - Mantan Bupati Langkat, Syamsul Arifin dituntut 5 tahun penjara oleh
APBD Kabupaten Langkat, Sumut.
"Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi," ujar jaksa Risma Ansyari di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (26/7/2011).
Berkas tuntutan Syamsul luar biasa tebalnya, 1726 halaman, itu pun belum termasuk lampiran. Namun jumlah itu dipangkas oleh majelis hakim yang diketuai oleh
Tjokorda Rae Suamba.
Sebelum sidang dimulai, Tjokorda berkonsultasi lebih dulu dengan dokter yang menemani Syamsul. Dokter menyarankan supaya sidang berlangsung singkat, kurang dari 1 jam. Seperti yang diketahui, Syamsul memang masih sakit. Selain hukuman pidana, Syamsul juga diharuskan membayar denda Rp 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Ia juga harus membayar uang pengganti Rp 8,21 miliar. Jika tidak sanggup membayarnya, bisa diganti dengan kurungan selama 3 tahun penjara.
Syamsul dianggap terbukti melanggar Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 Undang-Undang No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 kesatu jo Pasal 65 KUHP ayat 1.
Selain menuntut Syamsul, Jaksa KPK juga menuntut 37 eks anggota DPRD Langkat untuk mengembalikan penerimaan mobil dari Syamsul yang jika diuangkan berubah menjadi Rp 153,4 juta.
(mok/gun) Detik.com
Selasa, 26 Juli 2011 Korupsi Alkes Flu Burung
KPK Sita Rp 200 Juta dari Emir Moeis
Jakarta - Mantan Ketua Komisi XI DPR Emir Moeis disebut menerima uang Rp 200 juta dari terdakwa kasus korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) flu burung tahun 2006 di Kemenko Kesra, Soetedjo Yuwono. Diam-diam Emir sudah mengembalikan duit itu kepada KPK.
"Disita dari Izedrik Emir Moeis, tanggal 23 November 2010 yaitu uang tunai Rp 200 juta," kata jaksa M Rum.
Rum mengatakan itu saat pembacaan tuntutan untuk Soetedjo di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (26/7/2011).
Selain Emir, dalam dakwaan Soetedjo, anggota Panitia Anggaran (Panggar) DPR yang juga kecipratan adalah Imam Supardi (Rp 390 juta), Ahmad Hafiz Zamawi (Rp 390 juta), dan Rudianto Tjen (Rp 350 juta). Ikut menerima pula Hasanudin Said (Rp 150 juta), Musfihin Dahlan (Rp 160 juta) dan Mariani Baramuli (Rp 25 juta).
Imam telah mengembalikan kepada KPK tanggal 1 November 2010 sebesar Rp 390 juta.
Tim jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memaparkan bahwa Soetedjo menerima uang senilai Rp 6 miliar dalam bentuk Mandiri Travellers Cheque (MTC) dari Direktur Keuangan PT Bersaudara, M Riza Husni sekitar bulan Desember 2006. Cek diterima mantan bawahan Menkokesra Aburizal Bakrie itu setelah PT Bersaudara ditunjuk sebagai penyedia alat-alat kesehatan untuk penanggulangan flu burung. Cek selanjutnya dialirkan Soetedjo kepada anggota Panitia Anggaran DPR RI. Kasus ini berawal saat Direktur Utama PT Bersaudara, Daan Ahmadi meminta Soetedjo agar perusahaannya dilibatkan dalam pengadaan alat kesehatan di Kemenko Kesra. Kemudian tanggal 3 Oktober 2006, Soetedjo mengajukan
permohonan kepada Panitia Anggaran DPR RI untuk merevisi APBN-P tahun 2006 dengan menambahkan pengadaan alat kesehatan untuk pengendalian penyakit menular flu burung sebesar Rp 100 miliar.
Permohonan itu ditindaklanjuti dengan terbitnya revisi ke VIII DIPA Nomor 0094.0./069-03/-2006 pada November 2006. Revisi DIPA ikut mengalokasikan anggaran untuk pengadaan peralatan rumah sakit dan obat flu burung sebanyak Rp 100 miliar.
Sidang akan dilanjutkan 9 Agustus mendatang dengan agenda pembacaan pledoi dari Soetedjo dan kuasa hukumnya.
(mok/gun) Detik.com
Selasa, 26 Juli 2011 Korupsi Flu Burung
Eks Sekretaris Menko Kesra Dituntut 6 Tahun Penjara
Jakarta - Soetedjo Yuwono dituntut hukuman penjara selama enam tahun. Mantan Seskretaris Menko Kesra era Aburizal Bakrie ini dianggap terbukti bersalah dalam
penanganan flu burung.
"Seluruh unsur dari pasal yang didakwakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi," ujar penuntut umum pada KPK, Andi Suharlis saat membacakan tuntutannya di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (26/7/2011).
Selain hukuman badan, Soetedjo juga dituntut membayar uang denda Rp 300 juta subsidair empat bulan kurungan. Soetedjo juga seharusnya membayar uang pengganti sebesar Rp 5 miliar. Namun karena dalam proses penyidikan ia sudah membayar kepada KPK, Soetedjo jadi tak perlu lagi membayar.
"Terdakwa tidak lagi dibebani kewajiban untuk membayar uang pengganti," ujar jaksa M Rum.
Soetedjo dianggap terbukti melanggar pasal 2 ayat 1 UU Pemberantasan Tipikor. Hal yang memberatkan, Soetedjo melakukan korupsi saat pemerintah tengah gencar-gencarnya memberantas korupsi.
Menurut Jaksa, Soetedjo memang telah mempunyai niat untuk melakukan
penunjukan langsung dalam pengadaan alkes. Soetedjo membuat surat rekomendasi penunjukan langsung untuk PT Bersaudara dengan mengatasnamakan Menko Kesra. PT Bersaudara sendiri ternyata hanya menyediakan 6 jenis alat kesehatan, sedangkan selebihnya di sub kontrakan ke 6 perusahaan lainnya.
Pengadaan ini memperkaya PT Bersaudara Rp 36,25 milar, Soetedjo Rp 5 miliar, pihak lain dalam bentuk MTC Rp 1,665 miliar, dalam bentuk rupioah Rp 359,4 juta, dalam bentuk dollar Amerika US$ 10.500, anak kandung Soetedjo (Boge Rony Suryono) Rp 975 juta, Thomas Paulus Rp 975 juta.
(mok/lrn)