29
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Sejarah Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin (Kopkar SMB) merupakan salah satu koperasi bergerak dibidang usaha jasa dan simpan pinjam. Kopkar SMB beralamat di Jalan Jenderal Sudirman No. 1 Komplek Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Koperasi ini mulanya didirikan pada tahun 1984 dengan jumlah 20 anggota yang memiliki tujuan untuk mensejahterakan anggotanya dengan No Badan Hukum: 1688/BH/IX/ Tgl 17-April-1985 yang disahkan oleh Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil. Dan ada perubahan pada tahun 1996 dengan No Akta Perubahan: 458/BH/KWK.16K/X/1996 Tgl 17-Oktober-1996.
Koperasi ini memiliki anggota yang berasal dari seluruh karyawan, guru-guru dan honorer yang termasuk ke dalam keanggotaan di Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Pada tahun 2015 Kopkar SMB memiliki sebanyak 191 anggota dan pada tahun 2016 koperasi mengalami penurunan jumlah anggota menjadi 188 anggota sedangkan pada tahun 2017 koperasi mengalami kenaikan menjadi 212 anggota. Keanggotaan koperasi ini bersifat sukarela dimana seluruh anggota dapat masuk ataupun keluar dari keanggotaan Kopkar SMB tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.
2. Struktur Organisasi Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Untuk mencapai keberhasilan sebuah koperasi memerlukan sebuah organisasi, dimana organisasi adalah suatu keanggotaan yang sudah tersusun dimana anggota bertujuan sama untuk mencapai satu tujuan. Oleh karena itu keberhasilan sangat bergantung pada organisasi. Di dalam
30
organisasi terdapat pembagian tugas yang jelas dalam pekerjaan yang digambarkan dalam suatu susunan struktur organisasi.
Struktur organisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah organisasi, karena dari struktur organisasi suatu badan dapat dinilai sejauh mana wewenang dan tanggung jawab anggota dalam mengelola serta menjalankan berbagai fungsi usaha. Dengan struktur organisasi yang jelas maka fungsi dan tugas manajemen harus mampu bekerjasama dan mengkoordinasikan seluruh karyawan dan anggota yang berada di bawah kendalinya.
Adapun Struktur Organisasi Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin dapat dilihat pada bagan 4.1 berikut :
Bagan 4.1 Struktur Organisasi Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin PENGURUS WAKIL KETUA Drs.H.M.Bayani SEKRETARIS H.Nasrullah, S.Ag, M.Pd WAKIL SEKRETARIS Aintayati, M.Pd RAPAT ANGGOTA KETUA
Dr.H.Abd.Khair Amrullah, S.Sos.I, M.Pd.I
PENGAWAS H.M. Idris Riadi BENDAHARA H.M.Sufyan Helmi MANAGER UU LAIN-LAIN MANAGER UU SPBU MANAGER UUSP
32
3. Uraian Tugas Pada Struktur Organisasi Kepengurusan
Dari bagan struktur organisasi kepengurusan Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin terlihat tugas dari masing–masing jabatan adapun uraian tugas - tugas sebagai berikut :
a. Rapat anggota
Rapat anggota merupakan Rapat Anggota yang dilaksanakan sewaktu–waktu untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan koerasi seperti rencana kerja kedepan, jumlah anggaran belanja dan pelunasan hutang usaha. Rapat anggota tahunan bermaksud untuk menyampaikan pertanggungjawaban tentang hasil pelaksanaan kerja selama periode tahun buku dan bertujuan untuk menyampaikan rencana kerja dan rencana anggaran pendapatan serta belanja periode tahun buku berikutnya sebagai pedoman pelaksanaan kerja oleh pengurus koperasi.
b. Pengawas
Pengawas melakukan pengawasan terhadap kinerja koperasi dengan melakukan kegiatan pengawasan dalam bidang kelembagaan, pelaksanaan ketentuan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, menganalisa peraturan serta mengawasi pengelolaan usaha.
c. Pengurus
Pengurus koperasi merupakan pemegang kuasa rapat. Untuk pertama kali susunan nama pengurus koperasi dicantumkan dalam akta pendirian. Jumlah pengurus koperasi disesuaikan dengan kebutuan organisasi dimana komposisi tugas dan kewajiban pengurus di Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin sebagai berikut: 1) Ketua
Ketua berfungsi sebagai pengurus selaku pimpinan, mengkoordinasikan kegiatan seluruh anggota pengurus, menangani tugas pengurus yang berhalangan, memimpin rapat, mewakili koperasi didalam dan diluar pengadilan, berwenang melakukan segala kegiatan sesuai dengan keputusan Rapat Anggota, Rapat
Gabungandan Parat Pengurus dalam mengambil keputusan tentang hal-hal terkait, menandatangani surat-surat bersama Sekretaris serta surat-surat berharga bersama Bendahara, bertanggungjawab pada Rapat Anggota serta memerintahkan kepada pengurus lain untuk melaksanakan tugas-tugas lain.
2) Wakil ketua
Wakil ketua berfungsi mengarahkan, membina dan membimbing anggota, mengevaluasi kinerja manager dan karyawan, mengevaluasi pentahapan pinjaman, mengevaluasi nilai kontrak pengadaan sarana-prasarana, mengawasi pekerjaan sarana dan prasarana yang sedang dilaksanakan, menerima konsultasi dari pihak manapun demi kemajuan organisasi serta melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.
3) Sekretaris
Sekretaris berfungsi melakukan pembinaan dan pengembangan dibidang kesekretariatan keanggotaan dan pendidikan, berwenang menentukan kebijaksanaan dan melakukan segala perbuatan yang berhubungan dengan bidangnya sesuai keputusan rapat anggota, menandatangani surat bersama ketua serta melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.
4) Wakil sekretaris
Wakil Sekretaris berfungsi melaksanakan administrasi kepegawaian umum, menyeleksi surat-surat masuk untuk disampaikan kepasa pimpinan, mengetik dan mengedit surat-surat keluar dan mengarahkan distribusinya, merencanakan dan merealisasikan serta memelihara barang inventaris dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.
5) Bendahara
Bendahara berfungsi mengelola keuangan seperti menerima, menyimpan dan melakukan pembayaran, melaksanakan administrasi keuangan dan pembukuan, berwenang menentukan
34
kebijakan dan melakukan segala perbuatan yang berhubungan dengan bidangnya, menandatangani surat-surat berharga bersama unsur ketua, bertanggungjawab kepada rapat anggota lengkap melalui ketua, dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpian.
d. Manager
Manager koperasi adalah mereka yang ditugaskan untuk mengembangkan koperasi secara efisien dan professional dimana manager membantu dalam memberikan usulan kepada pengurus dalam menyusun perencanaan kerja serta merumuskan pola pelaksanaan kebijaksanaan pengurus secara efektif dan efisien dan membantu pengurus dalam menyusun uraian tugas bawahannya, dimana manager Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin terbagi menjadi tiga yaitu manager unit usaha SPBU dimana manager di unit ini hanya mengkoordinasikan usaha SPBU saja, kemudian ada manager unin Simpa Pinjam dimana manager ini hanya mengkoordinasikan usaha yang berkaitan dengan simpan pinjam, dan ada manager unit usaha lain-lain dimana tugas manager di unit ini hanya mengkoordinasikan usaha diluar SPBU dan simpan pinjam contohnya usaha jasa penggemukan sapi.
e. Unit usaha
Unit usaha yang dilakukan Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah simpan pinjam, jasa dan pekerjaan yang lainnya seperti usaha SPBU dan jasa penggemukan sapi.
4. Jenis Kegiatan Usaha Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Untuk mencapai tujuan koperasi maka Koperasi Karyawan Sabial Muhtadin Banjarmasin menyelenggarakan usaha yang berkaitan langsung dengan kepentingan anggotanya, adapun jenis kegiatan usaha sebagai berikut :
a. Simpan pinjam
Simpan pinjam adalah unit usaha yang digunakan anggota untuk menyimpan maupun meminjam uang. Melalui unit ini anggota dapat secara langsung melakukan peminjaman uang maupun menyimpan uang melalui simpanan sukarela sesuai dengan syarat dan ketentua yang berlaku.
b. Jasa
Kegiatan jasa pada koperasi ini bermacam-macam diantaranya jasa ternak sapi dan penggemukan sapi, serta bekerjasama dengan jasa SPBU.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana kondisi keuangan Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin perlu dilakukan analisis untuk mengetahui perkembangan keuangan koperasi, apakah koperasi mengalami peningkatan atau penurunan.
Berikut ini adalah laporan keuangan Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin berupa Neraca dan Laporan Hasil Usaha Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin pada tahun 2014 sampai dengan 2017.
Tabel 4.1 Neraca Per 1 Januari s.d 31 Desember 2014, 2015, 2016 dan 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Keterangan Tahun 2014 2015 2016 2017 (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas 462.120.274 175.288.240 27.290.120 33.616.475
Bank Syariah BNI 1.288.240 513.098.108 700.168.240 1.050.073.240 Piutang Simpan Pinjam 377.050.000 225.150.000 270.450.000 262.700.000 Piutang Pembiayaan 957.224.000 1.117.236.000 1.033.250.000 1.035.154.600 Piutang Lain - Lain 5.892.137 - - - Piutang Usaha Kerjasama - - 50.000.000 50.000.000
36 Piutang Tak Tertagih - 16.000.000 14.000.000 Pajak dibayar dimuka 7.950.000 4.915.439 - - Jumlah Aktiva Lancar (1) 1.811.524.651 2.053.687.787 2.097.158.360 2.445.544.315 INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Pada SPBU Sabilal Muhtadin - - 175.000.000 145.000.000 Jumlah Investasi Jangka Panjang (2) - - - - AKTIVA TETAP Inventaris Kantor 784.500 90.000 6.990.000 6.990.000 Peralatan Wartel (2 KBU) 9.500.000 - - - Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap 10.271.500 87.000 1.467.000 2.847.000
Nilai Buku Tetap
(3) 13.000 3.000 5.523.000 4.143.000 TOTAL AKTIVA (4) (1+2+3) 1.811.537.651 2.053.690.787 2.277.681.360 2.594.687.315 PASIVA KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Dana Pendidikan 51.298.256 62.038.115 84.622.454 109.119.086 Dana Sosial 12.268.097 13.198.526 17.040.696 22.289.012 Dana Pemb. Daerah Kerja 17.037.674 25.918.103 37.310.273 47.596.989 Dana Pengurus 537.547 1.059.265 627.943 721.207 Dana Karyawan 16.559.845 14.520.704 405.043 301.675 Simpanan Sukarela 66.316.500 97.518.500 64.530.470 68.863.500 Simpanan Hari Raya 278.460.000 321.485.000 380.695.000 436.935.000 Simpanan SHU 223.400.036 242.480.545 258.445.129 304.530.329 Utang Dengan Pihak Ke III 100.000.000 - - - Hutang Pajak - - 59.449 118.388 Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (5) 765.877.955 778.218.758 843.736.457 990.475.186 KEKAYAAN BERSIH Simpanan Pokok 9.150.000 9.550.000 9.400.000 10.600.000 Simpanan Wajib 432.885.000 503.182.000 554.706.000 650.886.000 Cadangan 229.344.519 282.627.096 354.843.263 429.233.159 Lanjutan
37 Donasi 19.063.000 19.063.000 19.063.000 19.063.000 SHU Tahun Berjalan 355.217.177 461.049.933 495.932.640 494.429.970 Jumlah Kekayaan Bersih (6) 1.045.659.696 1.275.472.029 1.433.944.903 1.604.212.129 TOTAL VASSIVA (5+6) 1.811.537.651 2.053.690.787 2.277.681.360 2.594.687.315 Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis,2019)
Tabel 4.2 Sisa Hasil Usaha (SHU) Untuk Periode 2014 s/d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Keterangan Tahun 2014 2015 2016 2017 (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) PENDAPATAN Jasa Siimpan Pinjam 83.452.500 99.007.500 80.032.500 69.337.500 Jasa Kredit Pembiayaan 167.911.000 240.693.000 295.809.000 322.998.000 Bagi Hasil Pengelolaan SPBU 166.410.559 184.684.497 193.633.667 174.307.726 Bagi Hasil Penggemukan Sapi 5.532.300 11.930.000 9.947.500 9.500.000 Pendapatan Lain – lain - - - - JUMLAH PENDAPATAN (1) 423.306.359 536.314.997 579.422.667 576.143.226 BEBAN USAHA : Transport Pengurus 9.000.000 9.000.000 12.600.000 12.600.000 Transport Pengawas 1.200.000 1.200.000 1.600.000 1.600.000 Paket Lebaran 25.950.000 38.000.000 38.200.000 42.800.000 Biaya RAT 4.651.900 4.621.000 5.825.500 5.530.000 Transport Peserta RAT 2.580.000 2.320.000 3.650.000 3.425.000 Biaya Perizinan 100.000 500.000 288.505 95.000 Biaya Potocopy 147.000 - 33.750 200.000 Biaya Pemeliharaan Komputer 235.000 - - - Konsumsi Rapat/Tamu 127.000 200.000 120.000 113.000
Ongkos Kirim Surat 22.000 - - -
Pembinaan Koperasi 300.000 700.000 450.000 450.000 JUMLAH BEBAN USAHA (2) 44.312.900 56.541.000 62.767.755 66.813.000 Laba/Rugi Usaha (3) (1-2) 378.993.459 479.773.997 516.654.912 509.330.226 PENDAPATAN Lanjutan
38 dan BEBAN LAIN-LAIN Pendapatan Lain - - - - Penghapusan Piutang Tak Tertagih - 2.000.000 2.000.000 2.000.000 Penghapusan Inventaris - 10.000 1.380.000 1.380.000 Bantuan / Zakat 12.343.218 13.114.064 11.400.000 10.944.113 Jumlah Pendapatan
dan Beban
Lain-Lain (4) 12.343.218 15.124.064 14.780.000 14.324.113 SHU SEBELUM BUNGA dan PAJAK (5) (3-4) 366.650.241 464.649.933 501.874.912 495.006.113 Beban Bunga 7.200.000 3.600.000 - - SHU Sebelum Pajak 359.450.241 461.049.933 501.874.912 495.006.113 Pajak Penghasilan 4.233.064 5.363.150 5.942.272 576.143
SHU Setelah Pajak 355.217.177 455.686.783 495.932.640 494.429.970 Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Berdasarkan data di atas maka penulis mencoba menghitung Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Aktivitas, dan Rasio Profitabilitas Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin periode 2014 sampai dengan 2017 agar mengetahui koperasi mengalami kemunduran atau kemajuan, Perhitungan Rasio sebagai berikut :
1. Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas merupakan rasio yang berfungsi untuk menunjukan kemampuan koperasi dalam membayar hutang pada saat jatuh tempo atau mengukur seberapa liquid kas yang tersedia untuk membayar kewajiban yang segera jatuh tempo. Dengan kata lain rasio likuiditas berfungsi untuk menunjukan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang sudah jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar perusahaan (likuiditas badan usaha) maupun didalam perusahaan (likuiditas perusahaan). Caranya adalah dengan membandingkan komponen yang ada dineraca, yaitu total aktiva lancar dengan total passiva lancar (utang angka pendek).
Lanjutan Lanjutan
Jenis-jenis rasio likuiditas yang dapat di hitung oleh penulis dari data yang di dapat adalah Rasio Lancar (current Ratio), Rasio Kas (Cash Ratio), Rasio Perputaran Kas, adapun perhitungannya sebagai berikut :
a. Rasio lancar (current Ratio)
Rasio Lancar (current Ratio) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Perhitungan rasio lancar dilakukan dengan cara membandingkan antara total aktiva lancar dengan total utang lancar, adapun rumus untuk menghitung rasio lancar yaitu :
Current Ratio = Aktiva Lancar (Current assets) Utang Lancar (Current liabilitas)
Tabel 4.3 Perhitungan Current Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun Total Aktiva Lancar ( Rp )
Total Utang lancar ( Rp ) Current Ratio 2014 1.811.524.651 765.877.955 2,36 2015 2.053.687.787 778.218.758 2,63 2016 2.097.158.360 843.736.457 2,48 2017 2.445.544.315 990.475.186 2,46
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari perhitungan tahun 2014 di atas Current Ratio sebesar 2,36 kali yang artinya aktiva lancar sebanyak 2,36 kali utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp2,36 aktiva lancar. Tahun 2015 current ratio mengalami kenaikan sebanyak 0,27 kali dari tahun 2014 sebesar 2,36 kali menjadi 2,63 kali yang artinya aktiva lancar sebesar 2,63 kali utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp2,63 aktiva lancar. Penurunan rasio tahun 2015 disebabkan oleh naiknya aktiva lancar dari Rp1.811.524.651,00 menjadi
40
Rp2.053.687.787,00 yang tidak sebesar kenaikan utang lancar yang sebelumnya sebesar Rp765.877.955,00 menjadi Rp778.218.758,00.
Tahun 2016 current ratio mengalami penurunan 0,15 kali dari tahun 2015 sebesar 2,63 kali menjadi 2,48 kali, yang artinya aktiva lancar sebesar 2,48 kali utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp2,48 aktiva lancar. Penurunan disebabkan oleh naiknya hutang lancar dari Rp778.218.758,00 menjadi Rp843.736.457,00 yang lebih besar dibandingkan kenaikan aktiva lancar yang sebelumnya sebesar Rp2.053.687.787,00 menjadi Rp2.097.158.360,00. Pada tahun 2017 current ratio mengalami sedikit penurunan sebanyak 0,02 kali dari tahun 2016 sebesar 2,48 kali menjadi 2,46 kali, yang berarti aktiva lancar sebanyak 2,46 kali utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp2,46 aktiva lancar. Terjadinya penurunan tersebut disebabkan oleh naiknya aktiva lancar dari Rp2.097.158.360,00 menjadi Rp2.445.544.315,00 dan ketika naiknya utang lancar yang lebih besar dari kenaikan aktiva lancar yaitu dari Rp843.736.457,00 menjadi Rp990.475.186,00.
Berdasarkan perhitungan Current Ratio diatas dapat disimpulkan perhitungan tersebut dengan grafik 4.1 berikut ini :
Grafik 4.1 Perkembangan Curren Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik diatas menunjukan bahwa Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Mampu untuk melunasi utang jangka pendeknya pada saat ditagih dengan menggunakan kas atau setara kas yang ada meski kinerja koperasi dari tahun ke tahun mengalami penurunan dalam hal membayar utang yang segera jatuh tempo.
b. Rasio kas (Cash Ratio)
Rasio kas atau Cash Ratio digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukan dari tersedianya dana kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan di Bank yang dapat ditarik setiap saat. Dapat dikatakan rasio ini menunukan kemampuan sesungguhnya bagi perusahaan untuk membayar utang-utang jangka pendeknya.
Adapun rumus untuk menghitung Rasio Kas adalah sebagai berikut:
Cash ratio = Kas + Bank Current liabilitas 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2014 2015 2016 2017 2,36 2.63 2.48 2.46 Ka li Tahun (2)
42
Tabel 4.4 Perhitungan Cash Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun Kas ( Rp) Bank (Rp)
Total Utang Lancar (Rp) Cash Ratio % 2014 462.120.274 1.288.240 765.877.955 0,60 60% 2015 175.288.240 513.098.108 778.218.758 0,88 88% 2016 27.290.120 700.168.240 843.736.457 0,86 86% 2017 33.616.475 1.050.073.240 990.475.186 1,09 109% Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari perhitungan diatas cash ratio tahun 2014 sebesar 0,60 kali atau 60%, artinya jumlah kas atau setara kas sebanyak 0,60 utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp0,60 kas atau setara kas. Tahun 2015 cash ratio mengalami kenaikan sebesar 0,28 kali atau 28% dari tahun 2014 sebesar 0,60 kali atau 60% menjadi 0,88 kali atau 88%. Artinya jumlah kas atau setara kas sebanyak 0,88 utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp0,88 kas atau setara kas. Kenaikan di atas disebabkan oleh turunnya kas dari Rp462.120.274,00 menjadi Rp175.288.240,00. Kas di bank yang mengalami kenaikan dari Rp1.288.240,00 menjadi Rp513.098.108,00 hutang lancar juga mengalami kenaikan dari Rp765.877.955,00 menjadi Rp778.218.758,00.
Tahun 2016 cash ratio mengalami sedikit penurunan sebesar 0,02 kali atau 2% dari tahun 2015 sebesar 0,88 kali atau 88% menjadi 0,86 kali atau 86% artinya jumlah kas atau setara kas sebanyak 0,86 hutang lancar atau setiap Rp1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp0,86 kas atau setara kas. Terjadinya penurunan pada tahun 2016 disebabkan oleh turunnya kas dari Rp175.288.240,00 menjadi Rp27.290.120,00. Kas di bank mengalami kenaikan dari Rp513.098.108,00 menjadi Rp700.168.240,00 dan hutang lancar juga mengalami kenaikan dari Rp778.218.758,00 menjadi Rp843.736.457,00. Tahun 2017 cash ratio mengalami kenaikan sebanyak 0,23 kali atau 23% dari tahun 2016 sebesar 0,86 kali atau 86% menjadi 1,09 kali atau 109% artinya jumlah
kas atau setara kas sebesar 1,09 utang lancar atau setiap Rp1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp1,09 kas atau setara kas. Kenaikan tersebut disebabkan naiknya jumlah kas dari Rp27.290.120,00 menjadi Rp33.616.475,00. Dan naiknya kas di bank dari Rp700.168.240,00 menjadi Rp1.050.073.240,00 serta hutang lancar juga mengalami sedikit kenaikan dari Rp843.736.457,00 menjadi Rp990.475.186,00.
Berdasarkan perhitungan rasio kas atau cash ratio di atas dapat disimpulkan perhitungan tersebut dalam bentuk grafik 4.2 sebagai berikut:
Grafik 4.2 Perkembangan Cash Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin cukup mampu membayar hutang jangka pendeknya karena kas atau setara kas yang tersedia cukup mampu umtuk membiayai hutang jangka pendeknya.
0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 2014 2015 2016 2017 60% 88% 86% 109% Per se nta se Tahun
44
c. Rasio perputaran kas (Cas Turn Over)
Rasio perputaran kas berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan. Dengan kata lain rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan atau utang dan biaya-biaya lainnya
Adapun rumus yang dapat digunakan untuk menghitung perputaran kas sebagai berikut :
Rasio perputaran kas = Pendapatan bersih
Total aktiva lancar - Total utang lancar
Tabel 4.5 Perhitungan Modal Kerja Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Tahun Aktiva Lancar
( Rp)
Hutang Lancar ( Rp)
Modal Kerja Bersih ( RP ) 2014 1.811.524.651 765.877.955 1.045.646.696 2015 2.053.687.787 778.218.758 1.275.469.029 2016 2.097.158.360 843.736.457 1.253.421.903 2017 2.445.544.315 990.475.186 1.455.069.129 Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Tabel 4.6 Perhitungan Perputaran Kas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Tahun Pendapatan
Bersih (Rp)
Modal Kerja Bersih (Rp) Perputaran Kas % 2014 423.306.359 1.045.646.696 0,40 40% 2015 536.314.997 1.275.469.029 0,42 42% 2016 579.422.667 1.253.421.903 0,46 46% 2017 576.143.226 1.455.069.129 0,39 39%
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari hasil perhitungan di atas diperoleh rasio perputaran kas tahun 2014 sebesar 0,40 kali atau 40% artinya tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan
pendapatan tahun 2014 sebanyak 0,40 kali atau 40% modal kerja. Perputaran kas tahun 2015 mengalami kenaikan sebanyak 2% dari tahun sebelumnya sebesar 0,40 kali atau 40% menjadi 0,42 kali atau 42%, artinya tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan jumlah pendapatan sebesar 0,42 kali atau 42% modal kerja. Terjadinya kenaikan disebabkan oleh naiknya pendapatan di tahun 2015 dari Rp423.306.359,00 menjadi Rp536.314.997,00 dan modal kerja bersih juga mengalami kenaikan dari Rp1.045.646.696,00 menjadi Rp1.275.469.029,00.
Tahun 2016 perputaran kas mengalami kenaikan sebanyak 4% dari tahun 2015 sebesar 42% menjadi 46% artinya tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan pendapatan sebanyak 0,46 kali. Kenaikan tersebut disebabkan naiknya pendapatan tahun 2016 dari Rp536.314.997,00 menjadi Rp579.422.667,00 dan modal kerja mengalami sedikit penurunan sebesar Rp1.275.469.029,00 menjadi Rp1.253.421.903,00.
Perputaran kas tahun 2017 mengalami penurunan sebanyak 0,7 kali atau 7% dari tahun 2016 sebesar 0,46 kali atau 46% menjadi 0,39 kali atau 39% artinya tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan pendapatan sebanyak 0,39 kali atau 39% modal kerja. Penurunan tersebut disebabkan oleh turunnya pendapatan sebesar Rp579.422.667,00 menjadi Rp576.143.226,00 sebaliknya modal kerja mengalami kenaikan dari Rp1.253.421.903,00 menjadi Rp1.455.069.129,00.
Berdasarkan perhitungan perputaran kas diatas dapat di simpulkan dalam bentuk grafik 4.3 sebagai berikut :
46
Grafik 4.3 Perkembangan Perputaran Kas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik menunjukan bahwa Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin mampu membayar tagihan dan biaya lainnya dengan modal kerja yang dimilikinya.
Berdasarkan perhitungan rasio likuiditas yang dapat dihitung menggunakan metode Rasio Lancar (current Ratio), Rasio Kas (Cash Ratio) dan Rasio Perputaran Kas dapat dilihat pada tabel 4.7 dan grafik 4.4 dan 4.4 berikut :
Tabel 4.7 Perkembangan Rasio Likuiditas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
No Jenis Rasio 2014 2015 2016 2017
1 CurrentRatio 2,36 2,63 2,48 2,46
2 Cash Ratio 60% 88% 86% 109%
3 Rasio Perputaran Kas 40% 42% 46% 39%
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019) 34% 36% 38% 40% 42% 44% 46% 2014 2015 2016 2017 40% 42% 46% 39% Per se nta se Tahun
Grafik 4.4 Perkembangan Rasio Likuiditas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik rasio likuiditas diatas menunjukan bahwa koperasi mampu membayar kewajibannya kepada pihak luar Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin meskipun setiap tahunnya mengalami turun naik tidak menentu.
2. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas atau leverage ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam arti luas rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apa bila koperasi dibubarkan atau (dilikuidasi).
Adapun jenis rasio solvabilitas yang dapat digunakan penulis untuk menganalisis laporan keuangan Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 2014 2015 2016 2017 2.36 2.63 2.48 2.46 60% 88% 86% 109% 40% 42% 46% 39% Per se nt as e Tahun
48
Banjarmasin adalah Debt to Asset Ratio (Debt Ratio), Debt to Equity Ratio dan Times Interest Earned.
a. Debt to asset ratio (Debt ratio)
Debt to asset ratio (Debt ratio) merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Dengan kata lain, seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.
Adapun rumus yang dapat digunakan untuk menghitung Debt to Asset Ratio (Debt ratio) adalah sebagai berikut :
Debt to asset ratio = Total debt Total assets
Tabel 4.8 Perhitungan Debt Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun Total Hutang (Rp) Total Aktiva (Rp) Debt Ratio % 2014 765.877.955 1.811.537.651 0,42 42% 2015 778.218.758 2.053.690.787 0,37 37% 2016 843.736.457 2.277.681.360 0,37 37% 2017 990.475.186 2.594.687.315 0,38 38%
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari perhitungan diatas diketahui Debt Ratio tahun 2014 sebesar 0,42 kali atau 42% aktiva koperasi dibiayai dengan hutang. Perbandingan hutang atas aktiva pada tahun 2014 adalah 0,42 : 1 yang berarti setiap Rp0,42 kali jumlah hutang dijamin oleh Rp1,00 aktiva. Tahun 2015 Debt Ratio mengalami penurunan sebesar 0,05 kali atau 5% dari tahun 2014 yaitu sebesar 0,42 kali atau 42% menjadi 0,37 kali atau 37%. Perbandingan hutang atas aktiva tahun 2015 adalah 0,37 : 1 yang berarti setiap Rp 0,37 jumlah hutang dijamin oleh Rp1,00 aktiva. Kenaikan tersebut di sebabkan oleh naiknya hutang dari Rp765.877.955,00menjadi
Rp778.218.758,00 lebih besar kenaikan aktiva dari Rp1.811.537.651,00 menjadi Rp2.053.690.787,00.
Tahun 2016 Debt Ratio tidak mengalami kenaikan maupun penurunan berjumlah 0,37 kali atau 37%. Pada tahun 2017 Debt Ratio mengalami sedikit kenaikan yaitu sebesar 0,01 kali atau 1% dari tahun 2016 yaitu sebesar 0,37 kali atau 37% menjadi 0,38 kali atau 38%. Perbandingan hutang atas aktiva pada tahun 2017 adalah 0,38 : 1 artinya setiap Rp0,38 kali hutang dijamin oleh Rp1,00 aktiva. Kenaikan tersebut disebabkan oleh naiknya hutang dari Rp843.736.457,00 menjadi Rp990.475.186,00 yang sedikit lebih besar jumlahnya dibandingkan naiknya aktiva dari Rp2.277.681.360,00 menjadi Rp2.594.687.315,00.
Berdasarkan perhitungan debt ratio di atas dapat disimpulkan perhitungan dalam bentuk grafik 4.5 sebagai berikut :
Grafik 4. 5 Perkembangan Debt Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
34% 35% 36% 37% 38% 39% 40% 41% 42% 2014 2015 2016 2017 42% 37% 37% 38% P erse ntase Tahun
50
Dari grafik diatas menunjukan bahwa Debt to asset ratio mengalami kenaikan setiap tahunnya, artinya terdapat kenaikan aktiva maupun utang, meskipun kenaikan aktiva tidak sebanyak kenaikan utang, dan pendanaan dengan utang semakin banyak, maka semakin sulit bagi koperasi untuk memperoleh tambahan pinjaman karena dikwatirkan koperasi tidak mampu menutupi utang-utangnya dengan aktiva yang dimiliki.
b. Debt to equity ratio
Debt To Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas caranya dengan membandingkan antara seluruh utang dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berfungsi untuk mengetahui modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.
Adapun rumus yang dapat digunakan untuk menghitung Debt To Equity Ratio adalah sebagai berikut :
Debt to equity ratio = Total utang Ekuitas
Tabel 4.9 Perhitungan Debt to equity ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun Total Hutang ( Rp ) Total Ekuitas ( Rp) Debt to equity ratio % 2014 765.877.955 1.045.659.696 0,73 73% 2015 778.218.758 1.275.472.029 0,61 61% 2016 843.736.457 1.433.944.903 0,58 58% 2017 990.475.186 1.604.212.129 0,61 61%
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari hasil perhitugan diatas diperoleh nilai debt to equity ratio tahun 2014 sebesar 0,73. Perbandingan utang atas ekuitas pada tahun 2014 adalah 0,73 :1 artinya setiap Rp0,73 jumlah utang dijamin oleh Rp1,00 ekuitas. Nilai debt to equity ratio tahu 2015 mengalami penurunan
sebesar 12% dari tahun 2014 seesar 73% menjadi 61%. Perbandingan hutang atas ekuitas pada tahun 2015 adalah 0,61 : 1 artinya setiap Rp0,61 jumlah hutang dijamin oleh Rp1,00 ekuitas. Terjadinya kenaikan disebabkan oleh naiknya hutang dari Rp765.877.955,00 menjadi Rp778.218.758,00 serta ekuitas juga mengalami kenaikan dari Rp1.045.659.696,00 menjadi Rp1.275.472.029,00.
Sedangkan nilai debt to equity ratio tahun 2016 mengalami penurunan sebanyak 3% dari tahun 2015 sebesar 61% menjadi 58%. Perbandingan hutang atas ekuitas pada tahun 2016 adalah 0,58 : 1 artinya setiap Rp0,58 jumlah uang dijamin oleh Rp1,00 ekuitas. Terjadinya penurunan di sebab kan oleh lebih banyak naiknya jumlah ekuitas dibandingkan naiknya jumlah utang dimana jumlah ekuitas dari Rp1.275.472.029,00 menjadi Rp1.433.944.903,00 sedangkan jumlah utang dari Rp778.218.758,00 menjadi Rp843.736.457,00. Sedangkan debt to equity ratio tahun 2017 mengalami kenaikan sebanyak 3% dari tahun 2016 sebesar 58% menjadi 61%. Perbandingan utang atas modal pada tahun 2017 adalah 0,61 : artinya setiap Rp0,61 jumlah hutang dijamin oleh Rp1,00 ekuitass. Terjadinya kenaikan disebabkan oleh naiknya total hutang dari Rp843.736.457,00 menjadi Rp990.475.186,00 sedangkan total ekuitas juga mengalami kenaikan dari Rp1.433.944.903,00 menjadi Rp1.604.212.129,00.
Berdasarkan perhitungan debt to equity ratio di atas maka dapat dilihat dalam grafik 4.6 berikut ini :
52
Grafik 4.6 Perkembangan Debt To Equity Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik diatas menunjukan bahwa debt to equity ratio mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh naik turunnya total ekuitas dan total utang.
c.
Times interest earnedTimes Interest Earned merupakan rasio untuk mencari jumlah kali perolehan bunga. Jumlah kali perolehan bunga merupakan rasio untuk mengukur sejauh mana pendapatan dapat menurun tanpa membuat perusahaan merasa malu karena tidak mampu membayar biaya bunga tahunannya.
Rumus yang dapat digunakan untuk menghitung Times Interest Earned adalah sebagai berikut :
Times interest earned = EBIT
Biaya Bunga (interest) 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 2014 2015 2016 2017 73% 61% 58% 61% P erse ntase Tahun (6)
Tabel 4.10 Perhitungan Times Interest Earned Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun EBIT (Rp) Biaya Bunga (Rp) Times Interest Earned 2014 366.650.241 7.200.000 50,92 2015 464.649.933 3.600.000 129,06 2016 501.874.912 - - 2017 495.006.113 - -
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari hasil perhitungan Times Interest Earned di atas pada tahun 2014 sebanyak 50,92 kali atau dengan kata lain, biaya bunga dapat ditutup 50,92 kali dari laba sebelum bunga dan pajak. Tahun 2015 sebanyak 129,06 kali atau dengan kata lain biaya bunga dapat ditutup 129,06 kali laba sebelum bunga dan pajak. Sedangkan untuk tahun 2016 dan 2017 koperasi tidak memiliki biaya bunga.
Berdasarkan perhitungan Times Interest Earned di atas maka dapat dilihat dalaam grafik 4.7 berikut ini :
Grafik 4.7 Perkembangan Times Interest Earned Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019) 0 20 40 60 80 100 120 140 2014 2015 2016 2017 50.92 129.06 0 0 K ali Tahun
54
Dari grafik 4.7 menunjukan Times Interest Earned dari tahun 2014 ke tahun 2015 mengalami kenaikan yang cukup besar keadaan ini menunjukan semakin besar kemungkinan koperasi dapat membayar bunga pinjaman. Sedangkan pada tahun 2016 dan 2017 koperasi tidak memiliki biaya bunga.
Berdasarkan perhitungan rasio solvabilitas di atas perkembangan Debt to Asset Ratio (Debt Ratio), Debt to Equity Ratio dan Times Interest Earneddapat dilihat pada tabel 4.11 dan grafik 4.8 berikut :
Tabel 4.11 Perkembangan Rasio Solvabilitas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
No Jenis Ratio 2014 2015 2016 2017
1 Debt to Asset Ratio 42% 37% 37% 38%
2 Debt to Equity Ratio 73% 61% 58% 61%
3 Times Interest Earned 50,92 129,06 - - Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Grafik 4.8 Perkembangan Rasio Solvabilitas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019) 0% 2000% 4000% 6000% 8000% 10000% 12000% 14000% 2014 2015 2016 2017 42%73% 37% 37% 38% 61% 58% 61% 50.92 129.06 0 0 P erse n tas e Tahun
Dari grafik diatas menunjukan rasio solvabilitas untuk Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin cukup stabil dalam memenuhi kewajibannya, dimana dari grafik ini menunjukan bahwa Debt to asset ratio mengalami kenaikan setiap tahunnya, artinya pendanaan dengan utang semakin banyak, akan tetapi kenaikan tidak terlalu banyak, sedangkan debt to equity ratio mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh naik turunnya total ekuitas dan total utang, akan tetapi perbedaan tahun ketahunnya hanya sedikit. Sedangkan Times Interest Earned dari tahun 2014 ke tahun 2015 mengalami kenaikan yang cukup besar keadaan ini menunjukan semakin besar kemungkinan koperasi dapat membayar bunga pinjaman.
3. Rasio Aktivitas
Rasio Aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas koperasi dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. atau dapat pula dikatakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas pemanfaatan sumber daya koperasi.
Jenis rasio yang digunakan penulis dalam menghitung analisis laporan keuangan dengan metode Rasio Aktivitas adalah perputaran piutang (Receivable Turn Over), perputaran modal kerja (working capital turn over), perputaran aktiva tetap (fixed assets turn over), dan perputaran aktiva (total assets turn over).
a. Perputaran piutang (receivable turn over)
Perputaran piutang merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode.
Rumus yang dapat digunakan untuk menghitung perputaran piutang yaitu :
Receivable turn over = Pendapatan
56
Untuk menghitung rata-rata penagihan piutang (days of receivsble) dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Days of receivable = Jumah hari dalam 1 tahun Perputaran piutang
Perhitungan perputaran piutang Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banarmasin untuk periode 2014 s.d 2017 dapat dilihat dari tabel 4.11 berikut :
Tabl 4.12 Perhitungan Perputaran Piutang Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun Pendapatan (Rp) Piutang (Rp) Perputaran Piutang 2014 423.306.359 1.340.166.137 0,31 2015 536.314.997 1.360.386.000 0,39 2016 579.422.667 1.369.700.000 0,42 2017 576.143.226 1.361.854.600 0,42
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Perhitungan Days Of Receivable Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin untuk periode 2014 s.d 2017 dapat dilihat dari tabel 4.13 berikut:
Tabl 4.13 Perhitungan Days Of Receivable Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Tahun Jumlah Hari
(a) Perputaran Piutang (b) Days Of Receivable 2014 365 0,31 1.177 Hari 2015 365 0,39 935 Hari 2016 365 0,42 869 Hari 2017 365 0,42 869 Hari
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Berdasarkan hasil perhitungan perputaran piutang di Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin tahun 2014 sebanyak 0,31 kali, sedangkan Days Of Receivable sebanyak 1.177 hari. Artinya perputaran piutang untuk tahun 2014 adalah 0,31 kali dibandingkan pendapatan dalam waktu 1.177 hari. Pada tahun 2015 perputaran piutang mengalami kenaikan sebanyak 0,08 kali dari tahun 2014 yaitu dari 0,31 kali menjadi 0,39 dan Days Of Receivable sebanyak 935 hari. Artinya perputaran piutang untuk tahun 2015 adalah 0,39 kali dibandingkan pendapatan dalam waktu 935 hari. kenaikan ini terjadi karena naiknya jumlah pendapatan lebih besar dari kenaikan jumlah piutang dimana pendapatan dari Rp423.306.359,00 menjadi Rp536.314.997,00 dan pendapatan dari Rp1.340.166.137,00 menjadi Rp1.360.386.000,00.
Tahun 2016 perputaran piutang mengalami kenaikan sebesar 0,03 kali dari tahun 2015 yaitu dari 0,39 kali menjadi 0,42 sedangkan Days Of Receivable sebanyak 869 hari. Artinya perputaran piutang untuk tahun 2016 adalah 0,42 kali dibandingkan pendapatan dalam waktu 869 hari. Kenaikan ini disebabkan oleh naiknya jumlah pendapatan lebih tinggi dari jumlah piutang yaitu dari Rp536.314.997,00 menjadi Rp579.422.667,00 dan piutang sebesar Rp1.360.386.000,00 menjadi Rp1.369.700.000,00. Sedangkan tahun 2017 perputaran piutang tidak mengalami kenaikan maupun penurunan yaitu tetap memiliki nilai 0,42, ini terjadi karena pendapatan dan piutang mengalami penurunan yang hampir sama banyaknya yaitu dari Rp579.422.667,00 menjadi Rp576.143.226,00 sedangkan piutang dari Rp1.369.700.000,00 menjadi Rp1.361.854.600,00.
Berdasarkan perhitungan perputaran piutang diatas dapat disimpulkan dengan grafik 4.9 berikut :
58
Grafik 4.9 Perkembangan Perputaran Piutang Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik di atas menunjukan perputaran piutang dari tahun ketahun mengalami kenaikan ini terjadi karena modal kerja yang ditanamkan dalam piutang semakin rendah dan tentunya kondisi ini sangat baik bagi koperasi.
b. Perputaran modal kerja (working capital turn over)
Perputaran modal kerja merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja perusahaan selama periode tertentu. Artinya seberapa banyak modal kerja berputar selama satu periode. Rasio ini digunakan dengan cara membandingkan antara pendapatan dengan modal kerja.
Adapun rumus yang dapat digunakan untuk menghitung perputaran modal kerja sebagai berikut :
Perputaran moda kerja = Pendapatan bersih Modal kerja 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 2014 2015 2016 2017 0.31 0.39 0.42 0.42 Ka li Tahun (9)
Tabel 4.14 Perhitungan Perputaran Modal Kerja Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun Pendapatan (Rp) Modal Kerja (Rp) Perputaran Modal Kerja 2014 423.306.359 1.811.524.651 0,23 2015 536.314.997 2.053.687.787 0,26 2016 579.422.667 2.097.158.360 0,27 2017 576.143.226 2.445.544.315 0,23
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari perhitungan diatas menunjukan bahwa perputaran modal kerja Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin pada tahun 2014 sebesar 0,23 kali yang artinya setiap Rp1,00 modal kerja dapat menghasilkan 0,23 pendapatan. Tahun 2015 perputaran modal kerja mengalami kenaikan sebesar 0,03 kali dari tahun 2014 yaitu dari 0,23 kali menjadi 0,26 kali yang artinya setiap Rp1,00 modal kerja dapat menghasilkan 0,26 pendapatan. Kenaikan ini terjadi karena pendapatan mengalami kenaikan dari Rp423.306.359,00menjadi Rp536.314.997,00 dan modal kerja juga mengalami kenaikan dari Rp1.811.524.651,00 menjadi Rp2.053.687.787,00.
Tahun 2016 perputaran modal kerja mengalami sedikit kenaikan dari tahun 2015 yaitu dari 0,26 kali menjadi 0,27 kali yang artinya setiap Rp1,00 modal kerja dapat menghasilkan 0,27 pendapatan. Kenaikan ini disebabkan oleh naiknya pendapatan dan modal kerja yang tidak terlalu banyak naiknya di mana pendapatan sebanyak Rp579.422.667,00 menjadi Rp579.422.667,00 dan modal kerja sebesar Rp2.053.687.787,00 menjadi Rp2.097.158.360,00.
Tahun 2017 perputaran modal kerja mengalami penurunan sebesar 0,04 kali dari tahun 2016 yaitu dari 0,27 kali menjadi 0,23 kali yang artinya setiap Rp1,00 modal kerja dapat menghasilkan 0,23 pendapatan. Penurunan ini di sebabkan oleh menurunnya pendapatan dari Rp579.422.667,00 menjadi Rp576.143.226,00. Dan modal kerja
60
mengalami kenaikan dari Rp2.097.158.360,00 menjadi Rp2.445.544.315,00.
Berdasarkan perhitungan perputaran modal kerja diatas dapat disimpulkan perhitungan tersebut dengan grafik 4.10 berikut :
Grafik 4.10 Perkembangan Perputaran Modal Kerja Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik diatas menunjukan perputaran modal kerja yang rendah ini karena koperasi sedang mengalami kelebihan modal kerja, hal ini disebabkan karena rendahnya perputaran piutang atau saldo kas yang cukup besar.
c. Perputaran aktiva tetap (fixed assets turn over)
Fixed assets turn over atau sering disebut perputaran aktiva tetap merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode. Atau dengan kata lain rasio ini di gunakan untuk mengukur apakah koperasi sudah menggunakan kapasitas aktiva tetap sepenuhnya atau belum.
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 2014 2015 2016 2017 0.23 0.26 0.27 0.23 K al i Tahun
Adapun rumus yang dapat digunakan untuk menghitung Perputaran Aktiva Tetap (fixed assets turn over) sebagai berikut :
Fixed asset turn over = Pendapatan Total aktiva tetap
Tabel 4. 15 Perhitungan Perputaran Aktiva TetapTahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun Pendapatan (Rp)
Total Aktiva Tetaap (Rp) Perputaran Aktiva tetap 2014 423.306.359 13.000 32.562 2015 536.314.997 3.000 178.771 2016 579.422.667 5.523.000 104,91 2017 576.143.226 4.143.000 139,06
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari perhitungan perputaran aktiva tetap Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin di atas pada tahun 2014 memperoleh nilai sebesar 32.562 kali yang artinya jumlah pendapatan sebanyak 32.562 kali aktiva tetap atau setiap Rp1,00 aktiva tetap menghasilkan Rp32.562 pendapatan. Tahun 2015 mengalami kenaikan sebanyak 146.209 kali dari tahun 2014 sebesar 32.562 kali menjadi 178.771 kali yang artinya jumlah pendapatan sebanyak 178.771 kali aktiva tetap atau setiap Rp1,00 aktiva tetap Menghasilkan Rp Rp178.771 pendapatan. Terjadinya kenaikan disebabkan oleh naiknya pendapatan dari Rp423.306.359,00 menjadi Rp536.314.997,00 dan aktiva tetap mengalami penurunan dari Rp13.000,00 menjadi Rp3.000,00.
Pada tahun 2016 mengalami penurunan sebanyak 178.666,09 kali dari tahun sebelumnya 178.771 kali menjadi 104,91 kali yang artinya jumlah pendapatan sebanyak 104,91 kali aktiva tetap atau setiap Rp1,00 aktiva tetap dijamin oleh Rp104,91 pendapatan. Terjadinya penurunan disebabkan oleh naiknya pendapatan dari Rp536.314.997,00 menjadi Rp579.422.667,00 dan aktiva tetap juga mengalami kenaikan yang cukup
62
besar yaitu Rp3.000 menjadi Rp5.523.000. tahun 2017 mengalami kenaikan sebanyak 34,15 kali dari tahun sebelumnya sebesar 104,91 kali menjadi 139,06 kali yang artinya jumlah pendapatan sebanyak 139,06 kali aktiva tetap atau setiap Rp1,00 aktiva tetap menghasilkan Rp139,06 pendapatan. Terjadinya kenaikan disebabkan oleh turunnya pendapatan dari Rp579.422.667,00 menjadi Rp576.143.226,00 dan aktiva tetap juga mengalami penurunan sebesar Rp5.523.000,00 menjadi Rp4.143.000,00.
Berdasarkan perhitungan perputaran aktiva tetap diatas dapat disimpulkan perhitungan dalam bentuk grafik 4.11 berikut ini :
Grafik 4.11 Perkembangan Perputaran Aktiva Tetap tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik diatas menunjukan perubahan perputaran aktiva tetap yang cukup banyak yang disebabkan oleh aktiva tetap dari tahun ke tahun mengalami kenaikan.
d. Perputaran total aktiva (total assets turn over)
Total Assets Turn Over atau sering di sebut perputaran aktiva tetap adalah rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva
0 50,000 100,000 150,000 200,000 2014 2015 2016 2017 32,562 178771 104.91 139.06 Ka li Tahun
yang dimiliki koperasi serta untuk mengukur berapa jumlah pendapatan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva.
Rumus yang dapat digunakan untuk menghitung Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turn Over) sebagai berikut :
Total assets turn over = Pendapatan Total aktiva
Tabel 4.16 Perhitungan Perputaran Total Aktiva Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun Pendapatan (Rp) Total Aktiva (Rp) Perputaran Aktiva 2014 423.306.359 1.811.537.651 0,23 2015 536.314.997 2.053.690.787 0,26 2016 579.422.667 2.277.681.360 0,25 2017 576.143.226 2.594.687.315 0,22
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari perhitungan diatas tahun 2014 memperoleh nilai sebesar 0,23 kali yang artinya jumlah pendapatan sebanyak 0,23 kali aktiva atau setiap Rp1,00 aktiva menghasilkan Rp0,23 pendapatan. Tahun 2015 mengalami kenaikan sebesar 0,03 kali dari tahun 2014 sebesar 0,23 kali menjadi 0,26 kali yang artinya jumlah pendapatan sebanyak 0,26 kali aktiva atau setiap Rp1,00 aktiva menghasilkan Rp0,26 pendapatan. Terjadinya kenaikan disebabkan oleh naiknya pendapatan dari Rp423.306.359,00 menjadi Rp536.314.997,00 dan aktiva juga mengalami kenaikan dari Rp1.811.537.651,00 menjadi Rp2.053.690.787,00.
tahun 2016 mengalami penurunan sebanyak 0,01 kali dari tahun sebelumnya sebesar 0,26 kali menjadi 0,25 kali yang artinya jumlah pendapatan sebanyak 0,25 kali aktiva tetap atau setiap Rp1,00 aktiva tetap menghasilkan Rp0,25 pendapatan. Terjadinya penurunan disebabkan oleh naiknya pendapatan dari Rp536.314.997,00 menjadi Rp579.422.667,00 dan aktiva juga mengalami kenaikan dari Rp2.053.690.787,00 menjadi Rp2.277.681.360,00. Dan tahun 2017
64
mengalami penurunan sebanyak 0,03 kali dari tahun 2016 sebesar 0,25 kali menjadi 0,22 kali. Terjadinya penurunan di sebabkan oleh turunnya pendapatan dari Rp579.422.667,00 menjadi Rp576.143.226,00 dan aktiva mengalami kenaikan sebesar Rp2.277.681.360,00 menjadi Rp2.594.687.315,00.
Berdasarkan perhitungan perputaran total aktiva di atas maka dapat disimpulkan dalam bentuk grafik 4.12 berikut ini :
Grafik 4.12 Perkembangan Perputaran Total Aktiva Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik diatas menunjukan perputaran total aktiva mengalami fluktuasi yang disebabkan oleh total aktiva dari tahun ke tahun mengalami kenaikan.
Berdasarkan perhitungan rasio aktivitas diatas perkembangan perputaran modal kejra (Working Capital Turn Over), perputaran aktiva tetap (fixed assets turn over), perputaran total aktiva (total assets turn over) dapat dilihat pada tabel 4.17 dan grafik 4.13 berikut :
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 2014 2015 2016 2017 0.23 0.26 0.25 0.22 K al i Tahun
Tabel 4.17 Perkembangan Rasio Aktivitas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
No Jenis Ratio 2014 2015 2016 2017
1 Perputaran Piutang 0,31 0,39 0,42 0,42
2 perputaran modal kejra 0,23 0,26 0,27 0,23 3 perputaran aktiva tetap 32.562 178.771 104,91 139,06 4 Perputaran total aktiva 0,23 0,26 0,25 0,22 Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Grafik 4.13 Perkembangan Rasio Aktivitas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa rasio perputaran piutang semakin naik dan perputaran modal kerja dan perputaran total aktiva cukup stabil, sedangkan perputaran aktiva tetap mengalami fluktuasi yang cukup tinggi kenaikannya di tahun 2015.
0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 160000 180000 2014 2015 2016 2017 0.31 0.39 0.42 0.42 0.23 0.26 0.27 0.23 32,562 178,771 104.91 139.06 0.23 0.26 0.25 0.22 Kali Tahun
Perputaran Piutang Perputaran Modal Kerja
66
4. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu koperasi. Hal ini ditunjukan oleh laba yang dihasilkan dari pendapatan. Intinnya rasio ini menunjukan efisiensi koperasi. Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan cara menggunakan perbandingan antara berbagai komponen yang ada dilaporan keuangan, terutama laporan keuangan neraca dan laba rugi.
Jenis-jenis rasio profitabilitas yang digunakan penulis untuk menganalisis laporan keuangan Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin, yaitu : Hasil Pengembalian Investasi (Return on Investment / ROI), dan Hasil Pengembalian Ekuitas (Return on Equity / ROE).
a. Hasil pengembalian investasi (return on investment / ROI)
Return on Investment merupakan rasio yang menunjukan hasil atas jumlah aktiva yang digunakan dalam koperasi. ROI juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya.
Rumus yang dapat digunakan untuk menghitung Hasil Pengembalian Investasi (Return on Investment / ROI) adalah :
Return on investment (ROI) = Earning after interest and tax Total aset
Tabel 4.18 Perhitungan Hasil Pengembalian Investasi Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun SHU Setelah Pajak (Rp) Total Aset (Rp) ROI 100% 2014 355.217.177 1.811.537.651 0,19 19% 2015 455.686.783 2.053.690.787 0,22 22% 2016 495.932.640 2.277.681.360 0,21 21% 2017 494.429.970 2.594.687.315 0,19 19%
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari perhitungan Return on Investment tahun 2014 menunjukan bahwa tingkat pengembalian investasi yang diperoleh sebesar 0,19 kali atau 19%. Pada tahun 2015 mengalami kenaikan sebanyak 0,03 kali atau 3% dari tahun 2014 sebesar 0,19 kali atau 19% menjadi 0,22 kali atau 22% . kenaikan ini terjadi karena naiknya sisa hasil usaha setelah pajak dari Rp355.217.177,00 menjadi Rp455.686.783,00 dan aset juga mengalami kenaikan dari Rp1.811.537.651,00 menjadi Rp2.053.690.787,00.
Pada tahun 2016 mengalami sedikit penurunan yaitu sebanyak 0,01 kali atau 1% dari tahun 2015 sebesar 0,22 kali atau 22% menjadi 0,21 kali atau 21%. Penurunan ini terjadi karena naiknya sisa hasil usaha setelah pajak dari Rp455.686.783,00 menjadi Rp495.932.640,00 dan aset juga mengalami kenaikan dari Rp2.053.690.787,00 menjadi Rp2.277.681.360,00. Tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 0,02 kali atau 2% dari tahun 2016 sebesar 0,21 kali atau 21% menjadi 0,19 kali atau 19%. Kenaikan ini terjadi karena turunnya sisa hasil usaha setelah pajak dari Rp495.932.640,00 menjadi Rp494.429.970,00 sedangkan aset mengalami kenaikan dari Rp2.277.681.360,00 menjadi Rp2.594.687.315,00.
Berdasarkan perhitungan hasil pengembalian investasi diatas dapat disimpulkan perhitungan tersebut dalam bentuk grafik 4.14 berikut ini :
68
Grafik 4.14 Perkembangan Hasil Pengembalian Investasi Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik diatas menunjukan bahwa pengambilan investasi Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin dari tahun ketahun mengalami kenaikan dan penurunan yang disebabkan oleh naiknya total aset disetiap tahunnya.
b. Hasil pengembalian ekuitas (return on equity / ROE)
Hasil Pengembalian Ekuitas atau Return on Equity merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini semakin baik.
Rumus yang dapat digunakan untuk menghitung hasil pengembalian ekuitas sebagai berikut :
Return on equity (ROE) = Earning after interest and tax Equity 10% 12% 14% 16% 18% 20% 22% 24% 2014 2015 2016 2017 19% 22% 21% 19% P erse ntase Tahun (13)
Tabel 4.19 Perhitungan Hasil Pengembalian Ekuitas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Tahun
SHU Setelah Pajak (Rp) Total Ekuitas (Rp) ROI % 2014 355.217.177 1.045.659.696 0,33 33% 2015 455.686.783 1.275.472.029 0,35 35% 2016 495.932.640 1.433.944.903 0,34 34% 2017 494.429.970 1.604.212.129 0,30 30%
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Perhitungan Return on Equity tahun 2014 menunjukan bahwa tingkat pengembalian investasi yang diperoleh sebesar 33%. Pada tahun 2015 menunjukan bahwa tingkat pengembalian investasi mengalami kenaikan sebanyak 0,02 kali atau 2% dari tahun 2014 sebesar 0,33 kali atau 33% menjadi 0,35 kali atau 35%. Kenaikan ini terjadi karena naiknya sisa hasil usaha setelah pajak dari Rp355.217.177,00 menjadi Rp455.686.783,00 dan ekuitas juga mengalami kenaikan dari Rp1.045.659.696,00 menjadi Rp1.275.472.029,00.
Tahun 2016 menunjukan bahwa tingkat pengembalian investasi mengalami penurunan sebanyak 0,01 kali atau 1% dari tahun 2015 sebesar 0,35 kali atau 35% menjadi 0,34 kali atau 34% penurunan ini disebabkan karena naiknya sisa hasil usaha setelah pajak tidak sebanyak kenaikan ekuitas di mana sisa hasil usaha sesudah pajak dari Rp455.686.783,00 menjadi Rp495.932.640,00 sedangkan kenaikan ekuitas dari Rp1.275.472.029,00 menjadi Rp1.433.944.903,00. Tahun 2017 menunjukan bahwa tingkat pengembalian investasi mengalami penurunan sebanya 0,04 kali atau 4% dari tahun 2016 sebesar 0,34 kali atau 34% menjadi 0,30 kali atau 30%. Penurunan ini terjadi karena turunnya sisa hasil usaha setelah pajak dari Rp495.932.640,00 menjadi Rp494.429.970,00 dan ekuitas mengalami kenaikan dari Rp1.433.944.903,00 menjadi Rp1.604.212.129,00.
Berdasarkan perhitungan hasil pengembalian investasi diatas dapat disimpulkan perhitungan tersebut dengan grafik 4.15 berikut ini :
70
Grafik 4.15 Perkembangan Hasil Pengembalian Ekuitas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik diatas menunjukan bahwa pengembalian ekuitas dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dan penurunan yang di sebabkan oleh sisa hasil usaha setelah pajak dan ekuitas Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin tidak menentu kenaikan dan penurunan setiap tahunnya.
Berdasarkan perhitungan rasio profitabilitas di atas perkembangn Hasil Pengembalian Investasi (Return on Investment / ROI), dan Hasil Pengembalian Ekuitas (Return on Equity / ROE) dapat di lihat pada tabel 4.20 dan grafik 4.16 berikut :
Tabel 4.20 Perkembangan Rasio Profitabilitas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
No Jenis Rasio 2014 2015 2016 2017
1. Hasil Pengembalian Investasi 19% 22% 21% 19%
2. Hasil Pengembalian Ekuitas 33% 35% 34% 30%
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019) 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 2014 2015 2016 2017 33% 35% 34% 30% P erse ntase Tahun
Grafik 4.16 Perkembangan Rasio Profitabilitas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa hasil pengembalian investasi Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin mengalami kenaikan dan penurunan yang disebabkan oleh naiknya total aset disetiap tahunnya dan hasil pengembalian ekuitas kenaikan dan penurunan yang di sebabkan oleh sisa hasil usaha setelah pajak dan ekuitas Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin tidak menentu kenaikan dan penurunan setiap tahunnya.
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 2014 2015 2016 2017 19% 22% 21% 19% 33% 35% 34% 30% P erse ntase Tahun